Senin, 01 Juni 2015

[Movie] Doea Tanda Cinta (2015)


Doea Tanda Cinta
(2015 - Induk Koperasi Kartika/Benoa/Cinema Delapan)

Directed by Rick Soerafani
Screenplay by Jujur Prananto
Story by Hendra Yus, Satria Pringgodani, Hotnida Harahap
Produced by Alfani Wiryawan
Cast: Fedi Nuril, Rendy Kjaernett, Tika Bravani, Rizky Hanggono, Ernest Samudera, Ingrid Widjanarko, Albert Fakdawer, Trisa Triandesa, Kukuh Riyadi, Dimas Shimada, Tio Pakusadewo, Donny Kesuma, Aaliyah Massaid


Film Doea Tanda Cinta merupakan upaya terbaru mengangkat kehidupan anggota angkatan bersenjata Indonesia dalam sebuah sajian layar lebar, sesuatu yang cukup jarang ditemukan dalam film Indonesia, khususnya memasuki era 2000-an. Film arahan Rick Soerafani berdasarkan skenario dari Jujur Prananto ini berfokus pada dua taruna bersahabat di Akademi Militer (Akmil), yang mencintai seorang gadis yang sama. Situasi ini kemudian memengaruhi hubungan persahabatan mereka, juga berdampak saat tiba waktunya mereka menjalankan tugas negara.

Sebagai sebuah karya film, yang harus diperhatikan adalah Doea Tanda Cinta ini inisiatif dari Induk Koperasi Kartika, sebuah badan usaha yang terdiri dari para anggota TNI Angkatan Darat—kemudian menggandeng rumah produksi Cinema Delapan dan Benoa. Sehalus apa pun ungkapanya, film ini adalah sebuah upaya promosi, atau paling tidak public relation dari TNI-AD kepada khalayak. Cukup kentara bahwa film ini diniatkan menjangkau penonton generasi muda, sebagaimana terlihat dari pemilihan aktor populer Fedi Nuril dan pemeran lain yang relatif masih muda. Tidak ada salahnya, minimal film ini mengingatkan kembali bahwa di Indonesia ada sebuah profesi bernama tentara, yang mungkin bukan lagi jadi cita-cita utama anak-anak zaman sekarang.

Karena dibuat dari instansi terkait TNI-AD, selayaknyalah Doea Tanda Cinta tidak sekadar menampilkan karakter berprofesi tentara. Sumber informasi tentang kehidupan militer yang melimpah dan akurat, serta akses pada tempat dan peralatan militer yang tidak bisa dijangkau sembarang orang, harus dijadikan keunggulan utama. Untungnya, itu berhasil dimanfaatkan film ini. Doea Tanda Cinta menunjukkan berbagai sisi dari kehidupan militer, khususnya di lingkungan Akademi Militer (Akmil). Mulai ilmu yang diajarkan, kegiatan yang dijalankan, tanggung jawab yang harus diemban, juga gambaran bahwa institusi ini mempertemukan orang-orang dari berbagai penjuru Indonesia, dengan ragam motivasi dan tujuan.

Lebih dari separuh cerita film ini mengambil latar kehidupan Akmil di Magelang, Jawa Tengah. Diawali dengan dibangunnya hubungan persahabatan Bagus (Fedi Nuril) dan Mahesa (Rendy Kjaernett), lalu berlanjut dengan petemuan mereka dengan Laras (Tika Bravani). Pemilihan angle ini cukup sejalan dengan niat memperkenalkan dunia tentara kepada generasi muda, karena karakter yang masuk Akmil tentu saja masih di usia 17 s.d. 20-an (dan masih belum dicemari politik). Memang bagian akhir film ini menggambarkan tokoh-tokoh ini pada jenjang selanjutnya, tetapi relatif masih "menjual" bagi penonton muda, karena dibuat dalam adegan seru pembebasan sandera dari gerakan pengacau keamanan.

Hasil akhir Doea Tanda Cinta adalah 95 menit yang sama sekali tidak menyimpang dari maksud dan tujuan dibuatnya. Di satu sisi film ini secara detail dan natural "mempromosikan" kehidupan para taruna di Akmil. Di lain pihak film ini juga memberikan hiburan yang mudah terkoneksi dengan penonton luas, yaitu kisah persahabatan dan cinta, plus adegan perang. Belum lagi semuanya dikemas dengan kelengkapan teknis bernilai tinggi, khususnya dari penataan gambar dan suara.

Pertanyannya, mampukah itu semua membuat film ini jadi sebuah sajian yang istimewa? Jawabannya sangat relatif. Satu hal yang jelas, film ini dengan sangat baik menjalankan fungsinya sebagai film "promosi" tanpa melakukan hard-selling (terlalu kelihatan beriklan). Segala elemen di berhasil film ini ditampilkan sesuai konteks. Akan tetapi, sisi kisah persahabatan dan romansa yang sebenarnya jadi unsur penting, malah kalah karismatik dari paparan kehidupan militernya.

Salah satu titik yang lemah dari film ini adalah hubungan persahabatan Bagus dan Mahesa. Keduanya digambarkan memiliki sifat dan latar belakang yang berbeda—Bagus dari keluarga sederhana yang giat sementara Mahesa dari keluarga militer kaya yang manja. Keduanya jadi sahabat dekat karena posisi bersebelahan di barak, sama-sama meneruskan ke Angkatan Darat, dan sama-sama dari wilayah Jakarta (sehingga nyaman memakai sapaan "lo-gue").

Sayangnya, isyarat bahwa mereka punya ikatan persahabatan tidak diperdalam lagi. Persahabatan mereka tidak berbeda dari hubungan mereka dengan kawan-kawan seangkatan lain, hanya berbeda di jumlah kemunculan di layar. Akibatnya salah satu poin penting di adegan akhir—ketika Bagus melakukan aksi bak Rambo, kurang memiliki motivasi yang kuat.

Kisah cinta segitiga yang diusung film ini pun dituturkan begitu klasik, kalau tidak mau disebut klise. Bagus dan Mahesa berkenalan dengan Laras di saat yang sama, langsung jatuh cinta, kemudian sering jalan bertiga. Mahesa jadi pihak yang paling terpengaruh, karena ia lebih pushy dalam merebut cinta Laras, sementara Bagus tampak merelakan demi menjaga persahabatan dan kehormatan sesama rekan taruna. Laras juga yang memotivasi Mahesa untuk lebih rajin dan berprestasi dalam pendidikannya, sekalipun respons Laras terhadap perasaan Mahesa sejak awal sudah ragu-ragu.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari sini, malah bagian ini masih realistis. Tetapi, saking realistisnya, jadi terasa kering untuk sebuah film yang dalam materi promosinya mengedepankan kisah cinta. Hal ini disebabkan terutama si pihak ketiga tidak memberikan dinamika apa-apa, lebih banyak diwarnai saling tunggu-tungguan dan kecanggungan.

Tetapi, itu juga sebenarnya bisa disanggah, karena para taruna masih dididik secara "tradisional". Interaksi para taruna dengan luar lingkungan Akmil sangat dibatasi, mungkin baru leluasa satu minggu sekali. Diperlihatkan juga di film ini, di waktu santai atau istirahat malam pun, para taruna tidak ada yang memakai handphone. Kekakuan interaksi Bagus dan Mahesa dengan Laras jadi cukup beralasan, karena cara hidup mereka memang berbeda dari orang-orang di lingkungan lain.

Secara keseluruhan, patut diakui bahwa Doea Tanda Cinta adalah sebuah film yang dibuat dengan kualitas produksi yang baik. Niat dan tujuannya yang tidak terlalu ambisius sukses diterjemahkan menjadi tontonan yang cukup menghibur, informatif, mudah diikuti, dan tidak buang-buang waktu. Film ini pun sebenarnya layak jadi sebuah penyegar, setelah sekian lama penonton Indonesia hanya bisa menikmati film yang kental belatar militer dari luar negeri.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar