Kamis, 05 Maret 2015

[Movie] Ode to My Father (2014)


국제시장 (Gukjesijang)
Ode to My Father

(2014 - CJ Entertaiment)

Directed by J.K. Youn
Written by Park Su-jin, J.K. Youn
Produced by Sangzik Lee, J.K. Youn
Cast: Hwang Jung-min, Yunjin Kim, Oh Dal-su, Jung Ji-young, Jang Young-nam, Ra Mi-ran, Kim Seul-ki, Jung Yun-ho


Film Korea terbaru, Ode to My Father karya sutradara J.K. Youn (Haeundae, Sex Is Zero) diniatkan sebagai media yang menuturkan peristiwa-peristiwa bersejarah di Korea Selatan dengan cara yang mudah diserap. Sebagai penggerak cerita, dipakailah seorang tokoh fiktif yang harus berjuang melewati peristiwa-peristiwa besar dari tahun 1950-an sampai 1980-an. Sebuah upaya yang menarik yang didukung dengan kelengkapan teknis yang luar biasa, walaupun pada akhirnya terlihat terlalu berusaha untuk terkesan "besar".

Film dengan judul asli Gukjesijang (Gukje Market) ini dibuka dengan kemunculan sosok pria manula bernama Yoon Deok-soo (Hwang Jung-min, dalam makeup effects yang sangat bagus). Ia mengelola sebuah kios di pasar internasional Gukje di kota Busan, dan ia terkenal galak. Bersama istrinya, Young-ja (Yunjin Kim), Deok-soo mengenang kembali perjalanan hidupnya sampai beranak-cucu di masa kini.

Deok-soo bukanlah asli Busan, sebab ia berasal dari Hungnam, wilayah yang sekarang berada di bawah kekuasaan Korea Utara. Deok-soo sendiri mengungsi dari sana tepat ketika perang pecah di tahun 1951, dengan menaiki kapal perang AS bersama ibu (Jang Young-nam) dan dua adiknya. Sayang, di tengah chaos pengungsian, ia terpisah dari ayah (Jung Jin-young) dan adik perempuan pertamanya, Mak-soon. Deok-soo kemudian memulai hidup baru di Busan berkat bantuan bibinya (Ra Mi-ran) di kawasan Gukje. Sesuai pesan sang ayah, Deok-soo jadi tulang punggung keluarga, sekuat tenaga berusaha meningkatkan taraf hidup keluarganya, hingga terpaksa menunda kuliah.

Dalam usahanya tersebut, Deok-soo kemudian ikut dalam program pengiriman tenaga kerja tambang ke Jerman, mewarisi toko dari bibinya, sampai ikut jadi kontraktor di tengah perang Vietnam. Ia juga akhirnya membina rumah tangga bersama Young-ja yang ditemuinya di Jerman. Namun, ia masih belum bisa melupakan bahwa ia masih punya ayah dan adik yang tak diketahui rimbanya. Lewat sebuah program tali kasih massal, Deok-soo pun mencoba menemukan keduanya.

Sebenarnya, sangat mudah untuk terpikat dengan Ode to My Father. Film ini sudah diformulasikan untuk dapat jadi tontonan yang menghibur sekaligus menyentuh banyak orang secara emosional. Dari tawa hingga sedih disampaikan bergantian di film ini dengan rapi—dan mungkin menggelitik bagi penonton Korea karena dimasukkannya unsur dan tokoh sejarah yang terkenal di sana sini. Babak demi babak cerita juga dirancang sedemikian rupa sehingga mudah diikuti. Ditambah lagi kemasan dan nilai produksinya yang sangat tinggi.

Hal itu mungkin memang bisa diduga dari J.K. Youn yang pernah menggarap film bencana tsunami, Haeundae (2009). Adegan-adegan seperti pengungsian Hungnam, pekerjaan di tambang batu bara, dan reka ulang lapangan tempat pencarian anggota keluarga yang hilang adalah contoh nyata besarnya skala film ini. Mulai dari tata artistik, kostum, sinematografi, visual effects, hingga makeup effects digarap dengan sangat serius dan jelas-jelas mahal.

Meski demikian, saking hebatnya unsur-unsur teknis tadi, sampai-sampai berhasil mengkamuflase bahwa film ini sebenarnya punya inkonsistensi dalam cerita. Sesungguhnya, lumayan butuh waktu untuk menyimpulkan apa inti besar dari film ini. Ditilik dari judul aslinya, film ini mungkin ingin dijadikan tribute bagi para pengungsi Perang Korea yang banyak bermukim di kawasan pasar Gukje. Dalam perspektif tersebut, film ini menjalankannya dengan baik. Apakah tokoh Deok-soo benar-benar bisa mewakili, itu perlu diteliti lagi.

Tetapi, kebingungan timbul ketika judul internasionalnya diputuskan Ode to My Father, yang kira-kira berarti sebuah penghormatan bagi ayah. Masalahnya, topik "keayahan" itu hanya muncul di bagian awal dan di bagian akhir saja. Sementara, semua adegan di antaranya nyaris tidak disinggung lagi. Ketika topik keayahan itu muncul lagi di penghujung film, terkesan ada pemaksaan dan tempelan saja. Seakan segala tetes keringat, darah, dan air mata Deok-soo sebelumnya tidak cukup untuk membuat film ini jadi dramatis dan menyentuh, sehingga perlu dimasukkan lagi topik yang sempat terlupakan selama dua jam sebelumnya.

Problem tersebut juga mungkin diakibatkan konsentrasi film ini lebih kepada menampilkan adegan-adegan spektakuler di setiap babaknya. Adegan akbar pengungsian Hungnam memang menggugah. Namun, ketika ditambahkan lagi kecelakaan di tambang batu bara bawah tanah Jerman, lalu ditambah lagi pengeboman dan perang gerilya di Vietnam, seolah-olah tokoh Deok-soo tidak diizinkan pergi ke suatu tempat jika tanpa terjadi sesuatu yang dahsyat. Bukannya tidak boleh, tetapi mungkin akan lebih berdampak kalau ternyata itu memang kisah nyata. Karena ini fiksi, timbul kesan terlalu berambisi untuk memasukkan adegan-adegan seheboh mungkin.

Untunglah, meski hampir tertutupi oleh semua itu, film ini tidak melupakan unsur emosional dari cerita dan tokohnya. Karakterisasi Deok-soo dibangun dengan baik sehingga mudah menarik simpati penonton, demikian pula tokoh Young-ja, dan sahabat Deok-soo sejak kecil, Dal-goo (Oh Dal-su). Unsur ini berfungsi dengan sangat baik ketika sampai pada peristiwa pamungkas Deok-soo ikut program tali kasih yang disiarkan di TV dan menimbulkan suasana haru yang optimal.

Jadi, dengan mahalnya nilai produksi dan hebohnya adegan-adegan yang ditampilkan, setidaknya film ini tidak lalai terhadap hati. Inilah yang membuat Ode to My Father jadi sebuah sajian yang tidak sia-sia, sekaligus sangat menghibur. Terlepas dari beberapa inkonsistensinya, film ini tetap sebuah penghormatan yang cukup baik bagi mereka yang telah berjuang keras untuk sintas dan membangun hidup yang lebih baik melewati berbagai kesulitan.





My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar