Minggu, 11 Januari 2015

[Movie] Garuda (2015)


Garuda
(2015 - Putaar Films/Sultan Sinergi Indonesia)

Written & Directed by x.Jo
Produced by H.R. Dhoni Al-Maliki Ramadhan
Cast: Rizal Al Idrus, Slamet Rahardjo, Agus Kuncoro, Alexa Key, Robby Sugara, Kia Poetri, Tya Arifin, Diaz Ardiawan, Wiwing Dirgantara, Rudy Salam, Panca Prakoso, Piet Pagau, Inzalna Balqis, Jacob Maugeri, Roy Chunonk


Bangsa Indonesia kayaknya masih mengidap kompleksitas berkepanjangan dari hegemoni penjajah. Kita seperti punya cara pandang turunan mendarahdaging bahwa apapun yang kita punya dan hasilkan tidak akan bisa mendekati, setara, atau boro-boro melebihi apa yang dipunya dan dihasilkan bangsa lain yang kita anggap kastanya lebih tinggi, let's say, yang penduduknya berkulit lebih terang. Honestly, itu sebenarnya harus diakhiri, and nobody wants that to end more than me. Khususnya di dunia film, gw pingin sekali Indonesia nggak minderan lagi untuk bermimpi besar dan menghasilkan karya yang kelas dunia. Nggak ada yang nggak mungkin.

For that, gw salut sama itikad, tekad, dan nekad dari pembuat film superhero Garuda ini. Menciptakan sosok superhero baru *wuttt? Indonesia punya superhero? mau kayak apa coba?* *itulah pemikiran hasil penjajahan*, yang belum muncul dalam iterasi apapun, dan langsung dilempar ke layar lebar. Risiko film ini terlalu banyak, mulai dari nggak laku hingga dikata-katain. Fakta bahwa para pembuatnya tetap berhasil memunculkan ini di pasaran, adalah sebuah "kelancangan" yang perlu diapresiasi. Meskipun premisnya tuh sangat biasa banget dalam dunia per-superhero-an, tapi kalau ditaruh di tengah-tengah iklim film nasional yang marak dengan kisah cinta segibanyak bersetting luar negeri, yang ditawarkan film ini seriously sebuah angin segar. Dream, believe, and make it happen indeed.

Tetapi, susah juga kalau ambisi dan impian besar itu hanya dilakukan dan diyakini oleh segelintir orang, dan berimbas pada kenyataan bahwa modal yang dimiliki tidaklah cukup. Yang gw maksud "modal" di sini bukan cuma soal duit--yang kemudian diakali dengan konsep bahwa film ini nyaris 100% pake digital backlot (jadi sebagian besar gambar adalah CGI kecuali orangnya) macam Sin City dan 300, walau gw sendiri ngelihat Garuda ini lebih mirip Casshern. Tapi juga modal skill. Yang gw maksud "skill" pun bukan cuma kemampuan membuat efek visual meyakinkan (yang sayang sekali memang masih di tingkat iklan ban ketimbang ILM), tetapi justru skill yang paling mendasar: storytelling.

Di antara segala yang (kita semua sudah tahu pasti) kurang dari film Garuda, dari akting, efek visual, hingga product placements =P, yang paling fatal adalah bagaimana film ini bercerita. Kacau. Beneran. Bahkan dengan logika film kartun pun (which is logika yang gw pakai saat nonton film semacam ini, gak boleh terlalu serius) film ini nggak masuk, nggak bisa dinikmati. Seolah-olah yang bikin tuh dipepet deadline saat editing jadi pas udah mau jadi nggak dicek lagi jalan ceritanya saling nyambung atau enggak. Bahkan nama pemain pun banyak typo. Coba gw tanya, aksi bombastis serangan alien di awal film itu buat apa? Kenapa kata-kata "kisah ini berawal" itu berada sebelum, instead of sesudah adegan itu? Jika ini origin story, kenapa kelebihan-kelebihan Garuda (dan gadget-nya) nggak diekspos? Lalu bapak-bapak bule yang melumpuhkan penjahatnya itu dari manaaaa? Saat menyaksikan ini gw berulang kali berseru di otak gw, "Man, what are you doing?!" ditujukan kepada para pembuat filmnya, saking gw nggak tega sebuah ide dan niat yang baik dinodai sendiri oleh cara penyampaian yang sangat mentah.

Yes, gw bilang ide film ini bagus. Agak comot sana-sini, tetapi ide bahwa sebuah asteroid akan menimpa bumi dan Indonesia jadi titik pertama jatuhnya, tapi Indonesia juga punya satu-satunya senjata untuk menghancurkannya itu adalah ide yang keren. Bahwa kemudian ada penjahat gila berkekuatan super yang kecewa terhadap dunia menyandera senjata itu sehingga butuh sosok seperti Garuda untuk menghalanginya, dan bahwa orang yang menciptakan penjahat itu juga orang yang kemudian menciptakan Garuda juga adalah sebuah ide yang cukup kuat untuk sebuah film superhero. Gw bisa punya sense bahwa cerita film ini disusun dengan semangat yang baik dan memang berpotensi, asalkan eksekusinya benar. Sayangnya, justru di eksekusi itulah masalahnya. Konsistensi penggunaan digital backlot-nya pun dipertanyakan. Banyak pencahayaan yang ngawur, dan--padahal udah tahu teknologinya belum se-advanced itu, ada adegan-adegan yang diambil di di set asli tapi juga diselipkan yang set digital di angle berbeda, bedanya 'kan jadi kelihatan banget. Jadinya, kelihatan maksanya.

Film ini buruk, gw setuju. Tapi sepenuhnya buruk, itu adalah pemikiran prematur. Sekali lagi gw katakan, idenya sama sekali tidak buruk. Cuma ya itu, kurang modal, kurang pengalaman, kurang kemampuan dalam mengolah dan mempresentasikannya. Alhasil, yang bekerja dengan baik dari hasil akhir Garuda hanyalah tata musik, tata suara, (beberapa) koreografi fight, dan *surprise* adegan-adegan di set asli non-digital-backlot-nya.

Bukannya pereus atau apa, tapi dengan genre yang jarang dibuat di Indonesia, gw tuh pengen banget mendukung film ini, bisa jadi IP (intelectual property) asli Indonesia baru yang mungkin bisa berumur panjang. Tapi filmnya sendiri, sebagai produk utamanya, really doesn't help. Gw nggak benci, lebih ke iba. Dengan waktu dan modal yang lebih, materi film ini bisa jadi oke. Akhirnya gw hanya berharap film ini di-remake dengan cara yang lebih benar, mungkin oleh orang-orang yang lebih "tahu film". Sayang banget kalau di-dump begitu saja. Atau, paling nggak film ini bisa jadi pembelajaran, jadi batas bawah, bahwa kalau ada film sejenis lebih jelek daripada ini, berarti itu film sampah.

Tapi harus diakui, setidaknya logonya kinda cool.




My score: 5,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar