Minggu, 12 Oktober 2014

[Movie] Haji Backpacker (2014)


Haji Backpacker
(2014 - Falcon Pictures)

Directed by Danial Rifki
Written by Danial Rifki, Jujur Prananto
Produced by Frederica
Cast: Abimana Aryasatya, Ray Sahetapy, Dewi Sandra, Laudya Cynthia Bella, Laura Basuki, Kenes Andari, H.B. Naveen, Pipik Dian Irawati, Dion Wiyoko, Dimas Argoebie


Dalam semangat gimmick "soting di luar negeri" yang lagi ngetren-ngetrennya, kita disuguhi Haji Backpacker, film petualangan spiritual di melewati 9 negara Asia dengan bintang sinetron yang lagi diidolakan dan rilis pas banget mau Lebaran Haji. Say what you want, film ini memang sarat dengan gimmick yang sangat menjual. Segalanya akan mudah jika penonton bisa dipuaskan hanya dengan semua itu, tapi namanya hidup yang nggak mungkin semudah itu. Akan ada aja orang yang menemukan ketidakpuasan bahkan kekurangan sehingga menganggap film ini tidak sebaik yang pembuatnya pikirkan. Sadly, salah satu dari golongan kedua itu adalah gw.

Jangan salah, Haji Backpacker dimulai sangat meyakinkan. Setting-nya di Bangkok, Thailand, perkenalan karakter yang cukup solid tentang seorang pemuda Indonesia bernama Mada yang hidup foya-foya gembel karena lagi marahan sama Tuhan, akting Abimana Aryasatya yang keren, pengambilan gambar pun ciamik. Lalu, keyakinan bahwa film ini bakal enak diikuti perlahan luntur ketika petualangan keliling Asia itu mau dimulai. Gw masih bisa berpegang pada inti bahwa Mada sedang "ditempa" agar bisa rekonsiliasi pada imannya, tapi detil-detil ceritanya, yang mungkin sengaja dibuat dengan prinsip "what makes a movie a movie" *apalah itu* supaya jalannya nggak datar, malah jadi ganggu nggak ketulungan. 

Gw nggak cuma bicara soal bagaimana Mada bisa sampe di China *omaigot itu bikin gw pengen cabik-cabik kerdus*, tetapi juga pada gaya film ini yang nyicil dalam menceritakan kenapa Mada marah sama Tuhan, in flashback style, yang ternyata nggak terlalu worth to wait juga pada akhirnya. Lalu ada momen yang sebenarnya menggetarkan di lokasi Iran, ternyata dimentahin sama situasi setelahnya yang seakan nggak terjadi apa-apa. Sebagai orang yang pernah mempertanyakan keadilan Tuhan, masak sih si Mada nggak mikir kalau-kalau ada orang muslim yang taat kena situasi yang sama ternyata punya nervous breakdown jadinya nggak "lolos ujian" seperti dia? Kalau memang ternyata sebenarnya Mada memikirkan itu, itu sama sekali tidak terlihat di balik adegan makan-makan dan ketawa-ketawa ceria yang mengikutinya. Dikira cuma inisiasi jurusan? Dan, kenapa dia semarah itu sama bapaknya? Mungkin itu hal yang baru bisa kita ketahui jelas nanti di versi extended-nya =p *ya kali aja ada* *lagi ngetren juga soalnya*.

Lalu, kita sampai pada presentasi visualnya....*tarik napas*. Tadi gw bilang setting Bangkok itu paling oke, bukan hanya dari cerita dan performance, tetapi treatment visual-nya juga paling bener. Gw perhatikan di bagian ini nggak centil ditambahin efek-efek ala Instagram, entah itu flare palsu biar kesannya matahari bersinar terang, ataupun efek "fatamorgana" yang kelihatan palsu juga. Di bagian lain, itu merajalela. Maksud gw, kalau gambar dan tempatnya udah bagus (dalam pengertian sinematik ya), kenapa harus ditambahin efek-efek amatir kayak gitu? Puncak ke-mengganggu-an film ini pun hadir ketika mimpi-mimpi Mada (he do that a lot in this film) yang paling penting dipresentasikan dalam animasi ala screensaver Windows. Dan berulang-ulang. Gw nggak ngerti lagi deh.

I mean, come on! Padahal film ini punya premis yang berpotensi mengaduk emosi, juga punya deretan aktor yang bermain keren, baik itu Abimana, Laudya Cynthia Bella, dan juaranya ada di Laura Basuki yang gesturnya almost perfect sebagai perempuan Tiongkok. Bahkan eksekutif produsernya Falcon Pictures, H.B. Naveen bisa memberikan performa yang mengejutkan di debut aktingnya--gw rasa sutradaranya juga kesengsem sama aktingnya sampe-sampe di adegan doi kameranya cuma ngikutin mukanya nyaris tanpa cut sekitar 5 menit. Tapi sayang, dengan segala gimmick yang wah itu, pada akhirnya direcokin oleh treatment yang kurang pas dan detil-detil yang mungkin dianggap kecil padahal tetap penting. 

Dan itu juga termasuk penulisan nama kota dan negara yang entah ngikutin kaidahnya siapa sampe kebalik gitu.



My score: 5,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar