Senin, 31 Desember 2012

Year-End Note: My Top 10 Films of 2012

Sampailah kita pada penghujung tahun dan sampailah juga pada catatan akhir tahun 2012 bagian terakhir, yaitu 10 film terfavorit gw. Tahun 2012 juga kembali menjadi tahun yang apik bagi pecinta film, baik bagi film-film dunia maupun film Indonesia. Untuk film Indonesia udah gw bahas kemarin, sedangkan untuk perfilman dunia terutama Hollywood juga banyak yang untung besar...yet they are still whining about piracy. Nah, kesepuluh judul yang akan gw gelar berikut ini tentu saja tidak berdasarkan pendapat orang lain atau masyarakat, itulah fungsi kata "my" di depan judul postingan ini. 10 film ini adalah yang paling gw suka, yang menurut gw memang paling pantas diingat, paling membekas di hati dan pikiran, atau dengan kata lain paling mengesankan selama tahun 2012—ini juga tidak tergantung besarnya ponten yang gw telah berikan. Supaya tidak egois-egois amat, gw membatasi film-film yang bisa masuk dalam daftar ini adalah yang dirilis resmi di Indonesia dalam kurun waktu 1 Januari sampai 31 Desember 2012, entah itu film bioskop (tidak tergantung tahun rilis di negara aslinya) ataupun yang gagal masuk bioskop tapi udah premier di DVD. So, sudah siap lihat senarai-nya? Silahkan...




10. The Hunger Games
Gary Ross
Cara film ini memaparkan sebuah dunia baru dan segala aturannya serta pada permainan maut yang mempermainkan nyawa anak-anak remaja patut diacungi jempol, bahkan bisa beriringan dengan sindiran sosial yang cukup mengena. Tambahkan itu dengan penceritaan yang tak menjemukan, pemilihan pemeran yang sangat baik, serta semangat indie yang tetap terjaga dalam sebuah setting yang besar, The Hunger Games sepatutnya diingat sebagai salah satu "penanda" sinema 2012.





9. Life of Pi
Ang Lee
Ang Lee sudah terbukti sebagai penutur cerita yang baik dan cerdas, dan untuk kali ini ia melengkapinya keindahan visual dan kecanggihan teknologi 3-dimensi. Hasilnya adalah sebuah sajian sinematik yang indah dan pemakaian 3D yang tak percuma dalam menampilkan pengalaman-pengalaman spiritual yang mungkin terlalu elok untuk dapat benar-benar terjadi. Film dengan tema besar dalam skala besar pula, namun dapat disampaikan dengan tuturan yang mudah dicerna dan juga emosional.
Review




8. Hugo
Martin Scorsese
Film yang tak hanya berkesan karena kelengkapan teknis-nya yang luar biasa. Melalui kisah tentang anak sebatang kara yang berpetualang menyelidiki tentang benda-benda misterius yang ditemukannya, Hugo nyatanya adalah re-discovery tentang cinta mula-mula terhadap dunia sinema. Diceritakan secara "polos" dari sudut pandang anak-anak, film ini menyimpan keajaiban tersendiri tanpa harus memakai ilmu sihir. Keajaiban itu namanya "hati".
Review




7. The Ides of March
George Clooney
Film ini berkesan karena membuat gw lebih paham tentang sistem pemilihan presiden di Amerika yang agak ribet itu. Tapi film ini juga mengajarkan bahwa politik itu kotor, saking kotornya ia bisa mengubah jati diri seseorang. Ditulis dengan naskah yang lihai serta parade aktor-aktor berbakat, The Ides of March adalah film drama politik yang begitu mengikat perhatian dari awal hingga akhir.
Review





6. Mata Tertutup
Garin Nugroho
Tidak mungkin tidak menempatkan film ini di daftar akhir tahun. Efeknya begitu "menganggu", bagaimana bisa anak-anak muda terjerat masuk dalam organisasi makar, bahkan yang terbilang cerdas dan kritis sekalipun? Bagaimana bisa organisasi ini meyakinkan pengikutnya mengakui kaidah agama versi mereka yang jelas-jelas ekstrim bahkan out-of-context? Kenapa hal-hal ini bisa sampai terjadi di negeri kita? Garin Nugroho memaparkan itu secara gamblang dan jelas, minim simbol, tetapi semua itu tanpa meninggalkan gaya artistik khasnya, yang bisa indah, janggal, ataupun emosional.
Review





5. Prometheus
Ridley Scott
Film yang digerakkan oleh pertanyaan demi pertanyaan, tapi akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab dengan jelas, biasanya akan menjengkelkan. Tetapi rasanya apa yang ditanyakan dalam Prometheus memang pada dasarnya tidak bisa dijawab segera. Sekelompok manusia berusaha "menemui" makhluk-makhluk yang diperkirakan sebagai penciptanya lewat segala kemampuan yang dimiliki (ilmu pengetahuan dan teknologi), tetapi nyatanya alam semesta terlalu besar bagi kemampuan nalar manusia. Entah bagi penonton lain, tetapi bagi gw film sci-fi thriller futuristik dengan kisah yang katanya satu dimensi dengan seri Alien ini mengelola pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang jati dari manusia itu dengan baik, menantang, dan disajikan dalam penceritaan rapi serta visual keren.
Review





4. Wreck-It Ralph
Rich Moore
Tak cukup dengan konsep yang orisinil dan kualitas visual yang sangat baik, Wreck-It Ralph juga berhasil dengan pengisahannya yang seru, jenaka, dan manis. Penokohannya luar biasa dan mudah sekali untuk dicintai penonton, dan setiap mereka diberi dialog-dialog brilian. Ini adalah film petualangan yang mengandung nilai kasih sayang dan persahabatan yang kental layaknya film-film animasi Disney, namun kini dengan gaya yang lebih kekinian, tidak terjebak pada gaya-gaya klasik yang klise. Penggambaran dunia video game, dari yang lawas hingga termutakhirnya terkonsep dan tersampaikan dengan baik, dan pasti ada kegirangan setiap tokoh-tokoh video game terkenal numpang lewat.
Review





3. The Dark Knight Rises
Christopher Nolan
The Batman in full circle. Chris Nolan berhasil menyelesaikan apa yang telah ia mulai dengan sangat baik, bahkan sangat menggelegar, and I love it. Adegan-adegan aksinya tak kalah hebat dari dua film sebelumnya (Batman Begins dan The Dark Knight), tokoh-tokoh barunya dibangun dan tampil dengan sangat berkesan, rencana jahat sang musuh juga memberikan urgency dengan skala yang besar. Bahkan film ini jadi lebih menyenangkan karena (akhirnya) ada selipan humor yang cukup menceriakan. Tak mungkin tak puas dari penutup The Dark Knight Trilogy ini, 2 jam 45 menit dan gw tanpa komplain.
Review





2. The Artist
Michel Hazanavicius
Pengalaman menontonnya sebagai film bisu hitam putih tentu menimbulkan sensasi tersendiri. Akan tetapi yang lebih membuat film ini berkesan adalah kisahnya yang begitu manis dan menggugah. Ada kemerosotan, di sisi lain ada kejayaan. Dari dua sisi ini hadirlah respek dan juga cinta, meski harus terhalang oleh keangkuhan. Menyenangkan sekali menyaksikan film ini, cara bercerita dan juga akting setiap aktornya membuat film bergaya lama (banget) ini tetap mudah dipahami oleh penonton zaman sekarang. You just can't help smiling at the end...and long after the film ended.
Review











1. Rayya, Cahaya di Atas Cahaya
Viva Westi
Gw nggak pernah se-excited ini terhadap film Indonesia sejak Kala. Ini adalah film yang tak hanya cantik, namun juga memiliki apa yang gw cari dari sebuah film. Rayya punya naskah yang elok, akting meyakinkan, tata adegan yang efektif dan puitis tapi masuk akal, tata teknis yang sangat baik (sinematografi, editing, suara, musik), pengisahan yang asyik, serta tutupan yang memuaskan. Sebuah kisah perjalanan yang dewasa, yang tak menggebu-gebu tetapi berhasil masuk ke relung hati, disampaikan dengan dialog-dialog puitis tetapi diucapkan dengan keyakinan. Belum lagi peristiwa demi peristiwa yang ditemui dua tokoh utama kita selama perjalanan yang juga memperkaya kemanusiaan kita. Terlepas dari sepinya penonton saat diputar di bioskop, dan sepinya juga penghargaan yang diterimanya, Rayya jelas pantas dan layak dan semestinya mendapat perhatian lebih. Bagi gw, ini salah satu film terbaik Indonesia, dan tentu saja terfavorit tahun 2012 ini.
Review





Demikianlah rangkaian Year-End Note tahun 2012 gw. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa lagi, dan selamat tahun baru =).



Lihat juga:
My Top 10 Songs of 2012: International, Indonesia, Japan
My Top 10 Albums of 2012
[Special] 2012, A Good Year for Indonesian Films

Minggu, 30 Desember 2012

Year-End Note [Special]: 2012, A Good Year for Indonesian Films

Judul postingan ini bukan main-main. Bukan pula nasionalisme semu. I mean, gw tuh tidak termasuk orang yang selalu excited setiap ada film Indonesia yang beredar di bioskop, walaupun dibilang anti juga enggak *ih parah banget kalo anti, situ oke banget?*. Gw biasanya hanya tertarik pada beberapa film Indonesia setiap tahun, alasannya menurut gw sebagian besar film-film kita belum memiliki production value dan cerita yang cukup menarik gw untuk menontonnya di bioskop. Jadinya yang gw tonton rata-rata cuma 2-3 judul per tahun, yang gw paling yakin pasti bagus/gw suka, dan biasanya juga film-film Indonesia yang masuk dalam daftar 10 film terfavorit tahunan gw paling 1 judul atau tidak sama sekali.

Tahun 2012 rupanya menjadi tahun yang festive bagi perfilman Indonesia. Bukan soal banyaknya produksi, bukan juga sekadar banyaknya film Indonesia yang ikut dalam festival-festival internasional yang really matters, tetapi sepertinya film-film kita yang berkualitas baik pada "janjian" ngumpul dirilis pada satu tahun ini, melebihi tahun-tahun mana pun seumur hidup gw. Alhasil gw sendiri telah memecahkan rekor menonton film Indonesia di bioskop sebanyak 19 judul di tahun 2012 ini, belum termasuk 2 film klasik (Lewat Djam Malam, dan Roro Mendut di Kineforum), dan secara keseluruhan gw merasa puas terhadap lebih dari separuhnya. Untuk itulah gw merasa perlu membuat catatan khusus untuk film Indonesia di akhir tahun ini, sebagai semacam "monumen", 2012 ini perlu gw (dan kita semua) ingat sebagai tahun yang baik untuk perfilman Indonesia.

Rekor pribadi: 24 kali ke bioskop buat nonton film Indonesia di tahun 2012

Situasi dan kondisi ini mungkin juga banyak yang tak menyadarinya. Gw tahu masih ada saja orang yang lebih baik nonton film jelek-tapi-yang-penting-luar-negeri daripada film bagus-tapi-dari-Indonesia-iyuh, you know, orang-orang yang ngakunya sih heartbroken karena sekalinya pernah nonton film Indonesia malah dikecewakan (dikira film Indonesia sama kayak laki-laki, semua sama aja =pp). Seandainya mereka melihat dengan lebih clear, betapa banyak ragam tema dan daya tarik film Indonesia selama setahun ini, bahkan yang laris sekalipun (ingat bahwa "laris" belum tentu tanda "bagus") tetap punya kualitas produksi yang baik. Ini adalah tahun yang membuat pemikiran maklum ("maklum film Indonesia jadi masih titik titik titik") yang senantiasa ada dalam penilaian gw terhadap film kita sedikit demi sedikit terkikis.

Berikut ini gw akan memberi apresiasi, special mention lah, terhadap film-film Indonesia yang paling baik, bagus atau setidaknya berkesan bagi gw sepanjang tahun 2012. Ada total ada 10 judul, gw urutkan secara alfabetis, dan bisa jadi salah satu (atau lebih?) bisa masuk dalam dalam top 10 film gw nanti. Ini tidak ada hubungannya sama laris atau tidak, karena sekali lagi, inilah film-film yang memiliki nilai-nilai dan kualitas keseluruhan, serta kesan yang memuaskan menurut pandangan gw (jadi itu jawaban bagi yang nanya soal Perahu Kertas, 5 cm., Habibie & Ainun, atau Nenek Gayung =p). Tolong, teman-teman yang belum berkesempatan menontonnya, berilah perhatian pada film-film berikut ini. Jika mendengar film-film berikut diputar di suatu tempat atau ada di rental, tontonlah.

Sabtu, 29 Desember 2012

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2012

Menentukan album favorit dalam setahun tentu butuh effort yang lebih. Kalo gw sih pengennya udah dengerin setiap album itu secara utuh dan berulang-ulang dalam berbagai keadaan (di kamar, di mobil, di portable music player/handphone dsb) sehingga gw makin familiar, makin paham, dan kalo bisa sih makin hapal, tentu saja jika gw tidak merasa bosan. Nah album-album yang nggak bikin bosen itulah yang layak masuk top 10 akhir tahun. Cukup memalukan memang buat gw, banyak artis dan album-album yang bikin gw tertarik tetapi kondisi keuangan terlalu sering tidak sanggup mengimbangi *alesan*, sehingga pembelian CD fisik tidak banyak gw lakukan, malahan separuh item dari top 10 album tahun 2012 ini gw dapatkan secara...emm..."melawan keserakahan kapitalisme" *pembenaran sok politis =P*. Ah sudahlah, yang penting kan apresiasinya. Apapun bentuknya, daftar berikut adalah bentuk apresiasi gw terhadap album-album yang sudah menemani dan meramaikan playlist gw selama setahun ini.





10. Kono Koe - Yu Takahashi ( この声 - 高橋 優)
Warner Music Japan
Jika dibandingkan album debutnya yang sangat sangat mengesankan (runner-up di top 10 album gw tahun lalu), album kedua Yu Takahashi ini emang terbilang gagal menyamai meskipun secara struktur justru ingin menyamai. Nevertheless, I still like it. Lagu-lagu yang dituangkan Takahashi dalam album ini tetap asyik dinikmati satu demi satu, selalu ada sesuatu yang membuat lagu-lagu itu menarik, dan setidaknya ia tidak keluar dari karakter sebagai penyanyi-pengarang lagu yang senantiasa passionate, apa adanya, dan tak terbeban dalam bernyanyi.
Review






9. Love Is a Four Letter Word - Jason Mraz
Atlantic/Warner Music Group
Jason Mraz kini sudah sampai pada level ingin memberikan lebih dari sekadar lagu-lagu enak pada pendengarnya. Album terbarunya ini dikonsep sebagai pesan cinta, sehingga berisi lagu-lagu yang becerita tentang berbagai macam bentuk cinta. Dari cinta romantis, cinta keluarga, hingga cinta kemanusiaan. Dibungkus dalam musik yang lebih dewasa tapi tidak berat, dan Mraz tidak secerewet sebelumnya, Love sukses dalam menyampaikan pesannya itu.
Review






8. BEST HIT AKG - ASIAN KUNG-FU GENERATION
Ki/oon Records/Sony Music Japan
Album ini hanya memuat 17 lagu dari AKG. Jelas tidak lengkap, namun siasat memasukkan lagu-lagu yang benar-benar unggul setidaknya berhasil membuat album ini sangat enjoyable, dan sangat representatif terhadap perjalanan musik mereka. Seusai judulnya, hanya lagu-lagu yang dianggap "hit" yang ada di dalamnya, yang tentu saja mengandung kesepakatan dari band dan label serta mempertimbangkan respon pendengar terhadap setiap lagu yang mereka rilis. Alhasil, sekalipun ada beberapa lagu kesukaan fans (atau AKG-nya sendiri) yang gagal masuk di album ini, lagu-lagu yang berhasil masuk sudah pasti adalah kesukaan semua. Sebuah album yang juga sangat cocok bagi yang baru suka AKG, atau sudah lama tertarik sama AKG tapi belum pernah dapet album-albumnya.





7. Do As Infinity X - Do As Infinity
Avex Trax
Semenjak reuni di tahun 2009 (dan minus pendirinya, Dai Nagao), Do As Infinity menurut gw tidak seasyik dulu sebelum bubar di tahun 2005. Namun, album terbaru mereka akhirnya menjadi remedy yang pantas. Ini album studio kesepuluh, diberi judul X (yang adalah angka romawi untuk 10, tentu saja), dan mereka berani tidak mengeluarkan single lepas sebelum rilis album ini. Mungkin itu sebabnya, materi dalam album ini terasa pure dan solid, tanpa terdengar ada yang dipaksakan. Album yang membawa kembali excitement khas Do As Infinity di masa kejayaan dengan lagu-lagu pop-rock sangat catchy berenergi, seakan memanggil kembali para fans lama untuk menyayangi Do As Infinity lagi. It worked.







6. Night Visions - Imagine Dragons
Interscope/Universal Music Group
Band Amerika yang terdengar ke-Eropa-Eropa-an, Imagine Dragons ini, dibilang unik banget enggak, tapi dibilang asyik iya. Mengusung musik rock alternatif macam The Killers dengan tambahan bunyi-bunyian elektronik, setidaknya dalam full-album perdana mereka ini cukup membuktikan mereka punya cukup banyak stok sound yang berbeda satu lagu dengan lagu lainnya. Dari folk sampai dubstep, dari etnik hingga yang rock ballad, diramu menjadi lagu-lagu yang mudah dinikmati, jauh dari kesan aneh. Kecenderungan mereka mengandalkan beat dan seringnya rame-rame nyanyi chorus mungkin membuat mereka cukup berbeda dari band rock modern umumnya. Belum sempurna, tetapi cukup menjanjikan, sukses menunjukkan identitas, dan satu lagi: suara vokalisnya keren.
Review







5. Babel - Mumford & Sons
Island/Universal Music Group
Hal yang aneh dari Mumford & Sons dan album terbarunya ini adalah bahwa sesungguhnya penataan nada lagu serta aransemennya gitu-gitu doang, namun bisa-bisanya tidak memuat (gw) bosan. Kesegaran musik yang diusung band asal UK ini, yakni rock-in-folk, musik pop pake instrumen folk *ini ngarang-ngarangnya gw aja sih*, masih tetap terasa segar dalam album keduanya ini. Begitu solid dan energi yang terpancar dari tiap-tiap track dari awal hingga akhir seperti tak pernah pudar, di dalam lagu yang slow sekalipun. Instrumennya unplugged tapi hentakannya tetap dahsyat layaknya band rock dengan instrumen listrik. Keren lah pokoknya.







4. The Lumineers - The Lumineers
Dualtone Records
Selain lagu "Ho Hey" yang jadi salah satu favorit gw tahun 2012 ini, The Lumineers rupanya masih punya 10 lagu lain yang siap merebut arah pendengaran dan menarik hati dalam album debutnya ini. Musik trio dua cowok satu cewek ini memang folk alternatif *ada ya?*, tapi memang jika dibandingkan Mumford & Sons misalnya, The Lumineers ini cenderung lebih tradisional dan sederhana meskipun tidak alergi terhadap instrumen (gitar) listrik. Lagu-lagu dengan lirik-lirik penuh kisah dinyanyikan dengan sincere dan terasa intim dengan pendengarnya, dihiasi permainan instrumen-instrumen yang keluar-masuknya diatur dengan sangat pas. Banyak lagu yang seakan ngajak nyanyi bareng atau joget/tepok tangan bareng, diimbangi juga dengan lagu-lagu lirih dan emosional. Sebuah pengalaman mendengarkan musik yang cukup berbeda dan tetap mengasyikkan.







3. Yang Terbaik - Ari Lasso
Aquarius Musikindo
I was also quite surprised ternyata gw menikmati album ini lebih dari yang gw kira. Sebuah peningkatan/perbaikan yang sangat signifikan dari album Ari Lasso sebelumnya (yang sama-sama kompilasi "best of"). Dipilih yang benar-benar lagu terbaik dan terpopuler, dengan jumlah track lebih banyak, hit demi hit dijajarkan rapi yang diapit 3 karya terbarunya, disusun sedemikian rupa sehingga tidak muncul perasaan bosan. Hal yang sangat kecil seperti sangat singkatnya/nyaris tiada jeda kosong di setiap pergantian track rupanya berpengaruh besar akan kenikmatan mendengarnya. Pasang CD ini di kamar atau mobil Anda dan mulailah sesi karaoke non-stop. Album ini mungkin satu-satunya yang dijual di KFC yang emang gw pengen beli secara sadar tanpa terpaksa.






2. Some Nights - Fun.
Fueled By Ramen/Warner Music Group
Setelah 2-3 kali mendengarnya, gw udah tahu pasti bahwa album ini bakal jadi salah satu penghuni daftar akhir tahun gw. Perpaduan rock alternatif dengan sentuhan hiphop dan elektronikanya benar-benar pas diolah dalam karya yang menyegarkan, unik dan asyik. Padahal secara struktur, lagu-lagu dalam album ini mungkin kebanyakan lirik dan entah liriknya ngomongin apa juga, tapi daya tarik Fun. terlalu kuat sehingga dapat menutupi ketidakumuman sound mereka. Aransemen yang berkarakter di tiap lagunya, pembawaan yang dramatis dari vokalisnya, penyusunan track yang bikin tak sanggup dihentikan atau dilongkap. Exciting adalah gambaran yang cukup tepat. It really is fun.












1. Living Things - Linkin Park
Warner Bros. Records/Warner Music Group
Masih ada ini band? Masih dong. Malahan, Living Things bagaikan seberkas sinar di antara awan mendung *aiiih*. Setelah dua rilisan album yang sendu, gelap, dan seperti "bukan Linkin Park", album kelima mereka ini akhirnya dapat memuaskan apa yang selalu gw nantikan dalam karya LP, yaitu agar mereka kembali menghentak maksimal. Kali ini LP merangkum apa yang sudah pernah mereka karyakan sebelumnya, baik yang berdistorsi kencang (album pertama dan kedua) maupun yang lebih melodik (album ketiga dan keempat) menjadi Living Things ini, yang seperti versi dewasa dari musik mereka selama ini. Tidak lagi berat sebelah di techno, sekarang perkawinan hard rock-hiphop-techno-nya makin mesra, dan terutama distorsi serta dentuman low-frequency-nya (bass maupun bass-drum) kembali mencuat. Gw sangat bisa menikmati album ini tanpa banyak mikir dari awal sampe akhir (yang lagi-lagi durasinya di bawah 40 menit saja), lagu yang kenceng dan (ternyata ada juga) yang lebih slow-nya disusun apik, track demi track berjalan mulus, dan tak jarang gw mendengarkannya dua putaran berturut-turut (apalagi kalo macet di jalan *curhat*) tanpa merasa gerah, wong enak kok. Penempatan di nomer 1 tahun 2012 versi gw ini mungkin karena fanatisme, tetapi memang seharusnyalah setiap fan menyambut album ini dengan sukacita, dan memutarnya dengan volume suara kencang. Love it.

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2012 (Japan)

Yes, I'm still in love with J-Pop, and I think I will always be. Terlepas merajalelanya pop mainstream Korea dan terlalu banyaknya musik dugem yang terdengar seragam dari negeri-negeri bule, kecintaan gw pada musik pop Jepang tidak akan musnah begitu saja. J-Pop sempat jadi penyemangat gw untuk lebih mencintai musik, karena banyaknya variasi dan alternatif yang sebelumnya luput dari perhatian gw, dan sekarang hanya inilah yang me-maintain gw untuk ingat bahasa Jepang yang telah gw pelajari selama beberapa tahun. Ah, jadi curhat, hehe.

Baiklah, dunia J-Pop saat ini baru berasa kenanya perubahan industri musik yang sudah terjadi lama di luar negara itu, yakni lesunya penjualan musik format fisik, kecuali bagi grup-grup idola macam AKB48 dan kawan-kawan serta setiap produk dari Johnny's Agency (karena mereka yang dijual adalah image orangnya, musik nomer sekian). Akibatnya, nggak banyak musisi baru yang bisa mencuat, dan musisi lama kayaknya jadi kurang semangat berkreasi. Untungnya, nemu juga 10 lagu keluaran 2012 yang tetap bertahan jadi favorit gw meski agak susah payah, and here they are...





10. "LOVE & LIVE LETTER" - FUKUMIMI (福耳)
Walaupun kurang yakin sama makna dari judulnya, lagu ini adalah satu lagi persembahan asik dari Fukumimi, yang tak lain adalah kolaborasi musisi-musisi yang bernaung dalam manajemen Office Augusta, termasuk artis favorit gw, Hata Motohiro. Dengan melodi dan irama yang medium dinamis, rupanya lagu yang ditulis oleh Sakai Yu (yang nyanyi duluan) ini pas-pas saja dengan karakter-karakter rekan lainnya, dan kayaknya sih ini pertama kalinya Fukumimi memberi kesempatan semua artisnya untuk unjuk vokal secara bergilir dalam satu lagu (kecuali si drummer dan si produser, hehe).






9. "Nichiyoubi" ("日曜日") - back number
Dengan karakter yang masih "biasa sih tapi kok enak", back number merilis single yang enak sekali dengan belokan nada yang cukup berbeda dari rilisan sebelumnya. Lagu ini lebih terkesan ceria dan aransemennya pun dibuat ringkas namun memiliki berbagai perubahan di setiap part yang menambah keasyikan mendengarnya. Sentuhan string section dan piano melengkapi lagu manis ini sehingga semakin fresh.







8. "Beautiful World" - LOVE PSYCHEDELICO
Hal yang paling mudah dikenali dari duo pop/rock-n-roll ini adalah liriknya yang campur Jepang-Inggris seenak jidat (untung pelafalannya bagus). Suara vokal dari Kumi pun senantiasa terdengar nyaris off-key, namun itu sudah jadi karakternya. Mungkin terdengar terlalu kebarat-baratan, tapi itulah ciri khas mereka, tak terkecuali dalam lagu indah ini. Dengan sentuhan gitar akustik nyaring, lagu ini begitu menenangkan hati tanpa ada momen lemas.







7. "Time Machine" - GIRLS' GENERATION a.k.a. SNSD a.k.a. Shoujo Jidai (少女時代)
Satu-satunya produk K-Pop yang nyelusup ke daftar dengar-dengaran gw, nampaknya gw emang lebih prefer ke rilisan Girls' Generation di Jepang. Image mereka di dunia J-Pop memang sedikit berbeda, mereka lebih sering menyanyikan lagu-lagu dansa-dansi yang catchy dan sederhana, menyesuaikan selera setempat. Lagu ini adalah satu dari sedikit rilisan J-Pop mereka yang tidak ada jogetnya, sedikit mengingatkan pada lagu-lagu slow menghentak buatan Ryan Tedder, syahdu tapi tidak menyeret, dan aransemen vokal kesembilan gadis ini sangat rapi. Bisa dibilang ini adalah lagu Jepang orisinal dari Girls' Generation yang paling gw suka.







6. "Konya wa karasawagi" - Tokyo Incidents a.k.a. Tokyo Jihen ("今夜はから騒ぎ" - 東京事変)
Semacam lagu perpisahan dari band yang baru saja bubar tahun ini, adalah lagu pertama dari mini-album sekaligus karya album terakhir (non-kompilasi) dari Tokyo Jihen, color bars. Tetap unik dan ganjil sebagaimana sudah menempel pada citra Shiina Ringo dkk ini, tapi memang terdengar kalem, lebih banyak popnya daripada jazz atau rock, dan kali ini porsi para personel pria dalam mengisi vokal ditambah secara signifikan. Still a wonderful work from a great band, yang anehnya menunjukkan kesatuan mereka meski setelah ini mereka bubar jalan.







5. "Sun Shower" - Kaela Kimura (木村カエラ)
Kaela ini semakin pandai saja dalam memilih musisi untuk diajak kolaborasi, atau memang dia punya selera musik yang oke, atau produsernya yang pinter milihin. Yang mana pun itu, lagu ini adalah sebuah balada yang terdengar puitis baik dari cara bernyanyi maupun bunyi musiknya: dentingan gitar, drum lembut, hingga melodi-melodi indah dari string section. Sejuuuk banget. Kaela semakin memantapkan posisinya di dunia musik, tidak terjebak pada lagu pop yang pasaran dan sok imut, ia malah asik menggabungkan persona pop-nya dengan musik-musik alternatif. Dan sekali lagi, ia berhasil.







4. "Sotsugyou" - Yu Takahashi ("卒業" - 高橋 優)
Masih dalam karakternya menulis lagu dengan all out dan tulus, lagu ini mungkin terdengar paling rapih. Takahashi tetap bercerita (kali ini tentang perpisahan, karena dirilis deket-deket musim kelulusan sekolah) tetap lebih kalem, tidak terlalu cerewet, lebih terkontrol, vokalnya pun tidak terlalu digeber, kecuali bagian menjelang akhir. Meskipun begitu, irama medium rupanya tidak menyurutkan energi yang senantiasa memancar dari lagu-lagu Takahashi. Sebuah karya menyegarkan, seakan membuat gw pengen duduk dan mendengarkan Takahashi bercerita apa pun yang dia ceritakan tak peduli batasan bahasa.







3. "End Roll" - Hata Motohiro ("エンドロール" - 秦 基博)
Seperti ada pola bahwa Hata Motohiro akan mengeluarkan single enak setelah merilis single-single yang sebatas oke saja. Melanjutkan hoki dalam perilisan awal tahun (kayak "Asa ga kuru mae ni" dan "Ai"), lagu yang judulnya bermakna credit title ini menjadi satu lagi lagu yang mengakomodasi kemampuan dan kekerenan vokal Hata, sekaligus menampilkan kemahirannya dalam menciptakan melodi-melodi cantik dan lirik-lirik yang terangkai rapi, yang jujur saja tidak banyak terpancar dalam beberapa rilisan-rilisan lainnya. Gw memang cenderung suka Hata dalam lagu-lagu slow, tetapi, sungguh, ini lagu yang indah. Kesatuan vokal serak Hata dengan gitar dan juga sentuhan bunyi flute membangun suasana yang...wuih.







2. "Kokuhaku" - Ken Hirai ("告白" - 平井 堅)
Ken Hirai tak hanya bisa ber-ballad ria, ia sering juga menelurkan lagu-lagu yang nge-beat. Tapi, biasanya gw nggak suka lagu-lagu kencengnya doi. Lagu yang judulnya bermakna "confession" ini ("pernyataan cinta"...mungkin) sepertinya jadi titik balik. Salah satu lagu tersingkat durasinya dari Hirai, namun begitu kokoh dengan melodi-melodi yang minor dalam range yang lebar (dari rendah ke tinggi), dan semakin dramatis dengan aransemen yang semarak, terutama dominannya permainan cepat string section-nya yang mengingatkan gw pada musik-musik di film Moulin Rouge!, klasik-klasik gimana gitu. Rilisan terbaik Hirai setelah sekian lama.

http://www.jpopsuki.tv/media/flashcomm?action=mediaview&context=embeded&id=272












1. "Soredewa, mata ashita" ("それでは、また明日") 
- ASIAN KUNG-FU GENERATION
Oke, ini sih tak perlu ditanya lagi. You know me, gw adalah fan berat band ini, dan lagu ini adalah karya TERbaik mereka setelah beberapa rilisan sebelumnya banyak bereksperimen. Lewat lagu yang juga jadi theme song film bioskop Naruto terbaru ini, AKG sedikit back to basics, ringkas, agak keras, dan ada permainan melodi "lucu" dari bass dan gitar. Musiknya memang menunjukkan kedewasaan, distorsinya soft, tetapi energinya tetap full. Rangkaian nadanya belum pernah terdengar dalam karya-karya AKG sebelumnya, begitu fresh, baik verse, chorus, maupun bridge-nya dirangkai asik, sangat catchy, sekaligus sangat mudah dicerna karena sesungguhnya sederhana. Sekali lagi membuktikan, memang AKG itu paling baik dalam karya yang tidak terbebani dengan keribetan dan eksperimen (meski eksperimen itu tidak jelek juga), yang simpel tapi nendang, yang punya nilai komersial sekaligus memuat bobot bermusik yang seimbang, misalnya saja pada single "Kimi no Machi Made" yang adalah karya AKG terfavorit gw. "Soredewa, mata ashita" ini come really close behind that song.






Lihat juga:
My Top 10 Songs of 2012: International, Indonesia
My Top 10 Albums of 2012
[Special] 2012, A Good Year for Indonesian Films
My Top 10 Films of 2012

Kamis, 27 Desember 2012

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2012 (Indonesia)

Setelah lagu-lagu internasional, sekarang giliran 10 lagu Indonesia paling gw suka di tahun 2012. Tahun ini, di tengah so-called masa suram (penjualan) musik Indonesia, nyatanya ada berbagai hits lokal yang sangat sangat populer dan disenandungkan banyak orang. Tentu saja, semua hits itu nggak akan gw masukkin di sini, hehehe. Cobalah mengerti bahwa ada yang harus terpisah jadi separuh aku hingga berwujud butiran debu. Boleh dong ah belagak hipster sekali-sekali. Lagu-lagu yang gw rangkum jadi favorit selama setahun ini adalah yang berhasil survive dari airplay berulang-ulang tanpa bikin gw eneg dan pengen banting radio. Yang di atas itu, udah gugur semua. Sekarang tinggal lagu-lagu yang mungkin tidak terlalu banyak dikenal khalayak tetapi sebenarnya pantas mendapat perhatian lebih. Kalau Anda sama sekali nggak pernah denger  atau bahkan tahu bahwa lagu-lagu ini pernah beredar dalam kurun satu tahun terakhir, well, frekuensi radio ada banyak lho, cobalah dijelajah.




10. "Amazing You" - Abdul and the Coffee Theory
Lagu santai sederhana dari Abdul dkk ini berhasil memenangkan telinga gw. Padahal lagu-lagu mereka dulu juga nggak jauh-jauh dari ini, tapi entah karena santainya melodi dan tulusnya lirik, atau aransemen agak jazzy yang bikin adem, lagu ini yang paling nggak membosankan buat gw. And seriously, Abdul itu tampangnya kayak sodaraan sama Vidi Aldiano.





9. "Never Give Up" - Rock N Roll Mafia featuring Kafin Sulthan Reviera
Jarang sekali gw suka musik-musik elektronika, apalagi yang dari negeri sendiri. Tetapi lagu ini memberi nuansa yang tidak terlalu segmented. Ada disko-disko klasiknya dikit yang sanggup menggoyangkan apapun bagian tubuh yang bisa digoyang. Liriknya sih sepatah katapun gw nggak nangkep, tapi ya sudahlah nikmati saja rangkaian bunyi-bunyian digital yang tidak asal-asalan ini. 





8. "Kisah Kita" - Ari Lasso
Biasa dengan pop dan rock, kini Ari Lasso mencoba mengadopsi musik reggae dalam lagu terbarunya ini. Nuansa santai khas reggae agak kontras dengan vokal lirih dari Mas Ari, tambah kontras lagi dengan lirik yang jleb jleb, tapi hasil akhirnya begitu menyenangkan dan tetap enak dinikmati.





7. "Syalala" - Soulvibe
Selalu saja ada alasan gw untuk nggak menyukai Soulvibe seperti warna dan gaya vokal kedua vokalisnya, namun selalu ada celah ketika band pop-jazz ini bisa mengeluarkan lagu yang tak hanya dirangkai rapi tapi juga catchy. Lagu yang ini tidak terlalu rumit, liriknya juga nggak revolusioner amat, namun aransemen musiknya mantap dan menghentak. Oke banget lah lagu ini. Sekali lagi, dengan refrain yang sangat mudah nyantol. Awas keracunan =).





6. "Yang Penting Asyik" - Dewi Sandra
Dewi Sandra mungkin sudah gila. Ketika banyak musisi lokal ingin jadi kebule-bulean, Dewi yang sudah dari sononya kebule-bulean malah meng-embrace salah satu musik khas dalam negeri bernama Java north-coast electronic dance music alias dangdut koplo Pantura. Masih ada unsur hiphop yang jadi bawaan lama Dewi, tetapi tak dipungkiri, unsur dangdut koplo-nya tidak bercanda, bener-bener otentik minus lirik-lirik bombastis. Mungkin dianggap "kampungan" sehingga gw nggak pernah denger lagu ini diputar di radio-radio segmen umum, but I think ini salah satu lagu Indonesia terbaik tahun ini, sedikit banyak karena keberaniannya ambil risiko. Yang penting haseeek....





5. "I Love You" - Ammir
Sebagai lagu tema film Hello Goodbye, lagu ini tampak inferior jika dibandingkan dengan tembang satu lagi yang dibawakan penyanyi Korea. Namun jangan kira yang dari negeri sendiri kalah kualitas. Salah besar. Lagu ini punya nada yang mudah menyusup ke telinga dan lirik yang manis tidak pasaran, menimbulkan nuansa romantis yang nggak menye-menye, agak-agak pop Skandinavia gimana gitu. Menurut malah gw lagu ini jauh lebih keren daripada yang impor itu.





4. "Curi-Curi" - HiVi!
Band yang ABG bangeutz ini tidak berhasil menarik perhatian gw pada lagu-lagu andalan sebelumnya, tapi mereka ternyata punya sebuah amunisi untuk, well, mencuri hati saya. "Curi-curi" adalah contoh lagu biasa yang ditata asyik, mulai dari permainan lirik yang diulang-ulang, aransemen yang ringan dan menyegarkan, serta aransemen vokal yang cukup menarik, bahwa keempat personelnya berganti-gantian dan berbalas-balasan mengisi vokal seperti layaknya boy/girlband grup vokal. Oh, katanya lagu ini diciptakan Nino 'RAN', which explains a lot about this tune.





3. "Cinta dan Sayang" - Matthew Sayersz
Jangan tertipu dulu sama namanya yang bule, Matthew adalah orang Indonesia asli yang selama ini menjadi salah satu vokalis Barry Likumahua Project. Lagu "Cinta dan Sayang" adalah bukti bahwa dengan potensi vokal yang "kelas berat", Matthew juga sanggup menjiwai lagu yang ringan dan santai ini tanpa harus bermanuver vokal secara berlebihan. A very cute song.





2. "Liburan Indie" - Endah N Rhesa
Endah N Rhesa merekam lagu berbahasa Indonesia adalah sebuah kelangkaan. But when they do, they nail it. Lagu ini membuktikan bahwa duo akustik suami-istri ini juga pandai berkisah lewat lirik berbahasa Indonesia dalam musik khas mereka. Ceritanya lagi santai, dan mereka menemukan band-band independen favorit mereka di setiap media yang mereka temukan. Unik dan keren, dan sepertinya layak jadi katalog artis-artis berbakat negeri ini yang disebutkan dalam liriknya satu per satu. One of a kind.











1. "Tak Pernah Padam" - Sandhy Sondoro
Di pembukaan gw menyinggung bahwa lagu yang gw masukkan di sini sekalipun sering diputar di radio-radio/media lainnya adalah yang nggak bikin eneg. Lagu Sandhy Sondoro ini adalah satu-satunya yang lolos. Pertama denger awal-awal tahun gw tahu lagu ini akan masuk top 10 tahunan gw, namun kerennya lagu cinta yang mengandalkan melodi indah seperti lagu-lagu tahun 1990-an ini tidak pernah membuat gw menolak mendengarkannya setiap diputar di radio, kenikmatan kala mendengarkannya, emm, tak pernah padam. Sebuah karya yang bagus dan dibawakan dengan vulnerability, sesuatu yang jarang gw denger dari Sandhy yang menurut gw lebih sering kayak "ngebentak" dengan improvisasi vokalnya itu. An everfresh work from a very talented artist.







Lihat juga:
My Top 10 Songs of 2012: International, Japan
My Top 10 Albums of 2012
[Special] 2012, A Good Year for Indonesian Films
My Top 10 Films of 2012

Rabu, 26 Desember 2012

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2012 (International)

Hello, hello, sudah di penghujung tahun 2012 nih. Sesuai tradisi blog ini, maka mulai hari ini sampai hari terakhir tahun ini nanti gw akan memposting Top 10 lagu, album, dan film yang menurut gw paling berkesan dan paling gw suka tahun ini. Dan khusus tahun ini (walaupun mudah-mudahan tahun-tahun depan juga bisa), akan ada postingan tambahan soal film. Apa itu? Aaaaada deh, tunggu aja ya =).

Kita akan mulai dengan 10 lagu yang paling gw senangi tahun 2012, seperti biasa akan gw bagi jadi tiga kategori: internasional, Indonesia, dan J-Pop. Untuk yang pertama, mari simak 10 lagu internasional paling top versi gw taun 2012 ini, dalam hitungan mundur:




10. "Troublemaker" - Olly Murs featuring Flo Rida
Agak-agak Maroon 5 edisi lama dengan bunyi-bunyian funk-nya, lagu ini terdengar asik dengan vokal ringan tapi kokoh dari Olly dan sentuhan sing-rap dari Flo Rida ternyata memberi variasi yang oke juga. Balada tentang jatuh cinta pada orang yang salah tapi malah bikin semangat.





9. "Girl On Fire (Inferno Version)" - Alicia Keys featuring Nicky Minaj
Awal-awal denger agak-agak heran mbak Alicia pascakawin dan brojol ini mengeluarkan single yang terdengar sederhana ini. Tapi lama kelamaan, penghayatannya makin terasa meski dengan nada dan instrumen yang nggak terlalu rame, tetep rancak. Versi Inferno dengan Nicky Minaj ini lebih banyak menonjolkan sampel drumnya sehingga ada kesan intim gimana gitu. Bukan sama Minaj-nya sih, serem amat.





8. "She's So Mean" - Matchbox Twenty
Band yang akhirnya mau bersatu dan bermusik lagi meski sekarang tinggal berempat. Nggak masalah, Matchbox kembali with a bang karena "She's So Mean" ini mengingatkan mengapa mereka dulu sempat jadi salah satu band pop-rock Amerika tenar banget. Liriknya keren, nadanya catchy, vokal dan artikulasi khas Rob Thomas tetap yahud, tapi musik mereka tetap terasa current.





7. "In My Remains" - Linkin Park
Ini adalah lagu dari album Living Things yang menurut gw harusnya jadi single andalannya. Lagu yang menurut gw Linkin Park banget, seakan berteriak "we're baaaack!" seperti pada masa-masa album pertama dan kedua. Singkat padat, menghentak dengan melodi cantik, menampilkan vokal Chester baik versi santai maupun kasar, dan bagian bridge yang bagaikan mantera siap dinyanyikan bersama-sama di saat konser. "Like an army, falling, one by one by one..."





6. "Payphone" - Maroon 5 featuring Wiz Khalifa
Maroon 5 selalu bisa menelurkan setidaknya satu lagu hit di setiap rilisan album. Lagu ini semakin meninggalkan ciri mereka di awal yang campur pop-funk-R&B, sekarang malah semakin pop saja dengan tambahan profanity. Kangen sih sama Maroon 5 yang lama, tapi siapa bisa tahan keasyikan setiap nada dan irama lagu Telkom ini =P.





5. "Some Nights" - Fun.
Bingung mau milih antara "Some Nights" atau "We Are Young", akhirnya gw pilih lagu yang telah sukses membuat gw tertarik untuk kenal Fun. lebih jauh. Lagu yang unik (sebagaimana banyak lagu-lagu Fun. lainnya) karena liriknya yang cerewet dan gaya nyanyi Nate Ruess yang Freddy Mercury-ish, dramatis-dramatis gimana gitu, plus ada unsur drum ala marching band yang lama-lama ngajak jingkrak-jingkrak, dan juga ngajak ikutan berseru "ouwoo!". Cuma di sini saja gw nggak keganggu sama auto-tune.





4. "Safe & Sound" - Taylor Swift & The Civil Wars
Lagu yang membuat gw stay di end credit film The Hunger Games, saking syahdu dengan melodi yang lirih dan deting dawai gitar yang menggema *tsaah*. Lagu folk-country yang ditulis dan dibawakan dengan indah sekali dan akan sulit ditiru. Gw tidak pernah suka Taylor Swift, tapi ini jadi pengecualian...well, sebenarnya gw yakin yang bikin bagus tuh The Civil Wars-nya =p.





3. "93 Million Miles" - Jason Mraz
Gw selalu suka gaya Mraz yang bercerita sambil bernyanyi. Dan untuk kali ini, ia semakin kalem dan selalu bernyanyi dalam melodi yang tak kalah asik, dengan lirik yang semakin ringkas namun mengena. Musiknya pun jadi semakin dewasa dan semakin memberi kelegaan kala mendengarnya. Lagu ini jadi terfavorit gw dari album teranyar Mraz tahun ini.





2. "It's Time" - Imagine Dragons
Suka terutama karena chorus-nya catchy. Terus suka karena ada suara mandolin yang bikin lucu, meskipun musik band ini rock agak elektronik gitu. Terus makin suka karena suara vokalnya Dan Reynolds yang fragile tapi mantap dan berkarakter. Makin suka lagi karena tahapan aransemennya yang makin ke belakang makin terasa grand. Makin didenger makin keren. Ah, it's almost my most favorite of the year. Almost.










1. "Ho Hey" - The Lumineers
Ho! Lagu yang gw temukan karena iseng pengen tahu siapa aja yang lagi hits di USA sanah. Hey! Malah kepincut muterin terus di YouTube, lagu folk yang manis dan menyenangkan. Ho! Lagunya cuma 2 menit setengah tapi terasa full dan malah bikin nagih, nggak mungkin muter cuma satu kali. Hey! Liriknya yang sederhana tapi bermakna dalem tentang kasih tak sampai, tidak terasa lebih atau kurang. Ho! Melodinya juga sederhana tapi gampang banget diikutin dan... Hey! Ngajak tepuk tangan dan hentak kaki banget. One, two, three...I belong with you, you belong with me, you're my sweetheart...






Lihat juga:

My Top 10 Songs of 2012: IndonesiaJapan
My Top 10 Albums of 2012
[Special] 2012, A Good Year for Indonesian Films
My Top 10 Films of 2012

[Movie] Habibie & Ainun (2012)


Habibie & Ainun
(2012 - MD Pictures)

Directed by Faozan Rizal
Screenplay by Ginatri S. Noer, Ifan Adriansyah Ismail
Based on the book "Habibie & Ainun" by Bacharuddin Jusuf Habibie
Produced by Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi
Cast: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Ratna Riantiarno, Vita Mariana Barrazza, Mike Lucock, Hanung Bramantyo, Tio Pakusadewo, Bayu Oktara


Sutradara people's favorite, Hanung Bramantyo kini makin gemar memberi kesempatan para apprentice-nya untuk membuat film. Kini giliran sinematografer langganannya, Faozan Rizal menyutradarai film panjang perdananya, bahkan langsung menangani film besar dan mahal, tentang kehidupan mantan presiden Republik Indonesia, B.J. Habibie dan istrinya, Hasri Ainun. Ini tentu bukan proyek main-main, apalagi salah satu tokoh yang namanya ada di judulnya itu sampai sekarang masih hidup dan masih dikenal oleh nyaris semua warga negara Indonesia. Lebih pressure lagi, kisah yang diangkat sudah dikenal banyak orang dalam bentuk buku yang laris terjual dan sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Habibie & Ainun sendiri diangkat dari sebuah buku yang (katanya sih) ditulis oleh Pak Habibie sendiri, sebagai bentuk kenangan akan Ibu Ainun yang meninggal dunia tahun 2010 lalu. Ini adalah dramatisasi kisah perjalanan cinta selama pemimpin bangsa dan istri yang dicintainya hingga maut memisahkan. So there's your spoiler...

Rudi Habibie (Reza Rahadian) dan Ainun (Bunga Citra Lestari) dulunya satu SMA di Bandung, berkesempatan bertemu kembali kala Lebaran, ketika Rudi (yang adalah kependekan dari Bacharuddin, huruf B di nama B.J. Habibie, in case you're wondering) sedang cuti kuliah S2 di Jerman karena sakit TBC, dan ketika Ainun yang seorang dokter di rumahnya sedang...menjahit. Dua orang berpendidikan tinggi ini pun akhirnya menikah, dan berdua menjalani hidup sebagai perantau di Jerman agar Rudi bisa menyelesaikan pendidikan sampai S3 bidang teknik (makanya di namanya ada gelar "Ing." yang artinya ingeneur, bukan ing ngarso sung tulodo). Melewati suka duka sampai beranak dua, dan Ainun pun sudah bekerja sebagai dokter di sana, Rudi akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk mengembangkan bidang teknik, utamanya pesawat terbang, sebagaimana janjinya pada Ainun, yaitu membuatkan truk terbang. Sempat ditolak selama masa pemerintahan Soekarno, Rudi akhirnya mendapat dukungan dari rezim Presiden Soeharto, bahkan sampai duduk di kursi pemerintahan sebagai Menteri Riset dan Teknologi, Wakil Presiden, hingga Presiden menggantikan posisi Soeharto yang lengser tahun 1998. Di masa-masa inilah tantangan semakin berat terutama bagi rumah tangga Rudi dan Ainun, dari kebiasaan Rudi yang memprioritaskan pekerjaan, hingga "gangguan" dari luar. Namun cinta mereka tetap teguh, Ainun selalu setia mendampingi Rudi saat senang (penerbangan perdana N-250 Gatotokoco) dan susah (satu tahun jadi Presiden R.I.), dan ketika semua itu berakhir, giliran Rudi yang berjanji akan terus bersama Ainun sebagai pengganti waktu-waktu sibuknya di pemerintahan.

Menurut kredit, isi film ini juga disupervisi oleh Pak Habibie, jadi buku dan kemudian filmnya bisa dibilang sebuah otobiografi. Tentu saja, kelemahan dari model ini adalah pasti ada titik-titik yang terdistorsi oleh kenangan si pencerita yang juga si pelaku cerita, tapi setidaknya dalam film Habibie & Ainun ini tidak terlalu terasa demikian. Penekanan terhadap hubungan Habibie dan Ainun di balik layar publik nyatanya cukup enak diikuti dan, yah, meskipun ada momen-momen yang bisa saja dicurigai sebagai "pencitraan", tetapi dieksekusi rapi sehingga cukup smooth dan bahkan menghibur. Bagusnya dari film ini adalah memberi informasi yang cukup tentang siapa dan bagaimana itu Rudi Habibie dan sepak terjang karirnya sebagai latar belakang hubungan kasihnya dengan Ainun. Tapi agak sayang, gw tidak mendapat informasi yang cukup tentang Ainun, yang katanya cerdas dan kritis, yang di film ini hanya ada di ucapan, bukan ditunjukkan. Juga agak one-dimentional, karena perselisihan terbesar mereka di film ini hanya saat Rudi enggan disuruh tidur dan Ainun kunci pintu kamar dari dalam. Bisa dimaklumi sebenarnya, tadi disinggung bahwa film ini semacam otobiografi dari kenangan si empunya cerita, jadi jika beliau hanya mau menceritakan sedemikian, ya nggak bisa diapa-apain juga. Toh jadinya film ini patut mendapat pujian karena tidak melebih-lebihkan, yang adalah kelebihan terpenting dari keseluruhan film ini.

Salah satu unsur terpenting dari kisah tentang tokoh nyata adalah aktor. Di sini, gw mendapatkan performa yang cukup baik dari para aktornya, bahkan orang-orang Jerman-nya pada pinter banget ngomong bahasa Jerman (...). Sebagai tokoh utama kisah ini, Reza dan BCL tampil dengan emosi yang wajar dan cukup meyakinan. Tetapi, Reza tidak berhasil mengubah prejudice gw bahwa dia salah casting sebagai B.J. Habibie, apalagi yang sampai umurnya 70-an. He's a good actor, tapi peniruan tutur dan behaviour lebay khas Pak Habibie (coba katakan "teknologi" dengan cara 'tehk-noo-lo-hi') yang dilakukannya nggak membuat gw yakin bahwa tokoh Rudi yang dimainkannya memang begitu adanya. Di mata gw, dia masih terlihat "terlalu niru" orang lain, sorot matanya kurang yakin...dan tubuhnya terlalu tinggi. Bukan terlalu tinggi sebagai Habibie, tetapi terlalu tinggi dan well-shaped untuk berperilaku seperti Habibie *ampun pak*. I'm just not convinced, maaf. Bukan selamanya salah Reza sih, mungkin salah satu "misstep" dari film ini adalah menampilkan footage yang ada Habibie aslinya di tengah-tengah film. No, no, no, no, kalau ingin penonton percaya bahwa Reza adalah Habibie, jangan sekali-kali tampilkan Habibie asli di tengah-tengah, nggak continue kale. Anyway, ada satu aktor yang menurut gw performanya paling menarik, yaitu Vita Mariana Barrazza, sebagai dr. Arlis, teman dekat Ainun, yang dalam screentime yang sedikit mampu mengeluarkan ketulusan dan emosi yang pas. 

Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang lumayan kunci di atas, sesungguhnya Habibie & Ainun kembali membuktikan bahwa Indonesia sanggup membuat film dengan nilai produksi yang tinggi dan enak ditonton di bioskop. Sinematografinya bagus, efek visualnya lumayan, dan desain produksinya sangat niat dan sukses dalam menggambarkan zaman demi zaman...sebelum dinodai oleh produk-produk sponsor yang bisa eksis lintas waktu itu. Tapi, still, film ini enak dilihat...KECUALI pada bidang special make-up. Now, this one is very disturbing. Segala sesuatu di film ini tampak mahal kecuali bidang make-up yang belum maksimal dalam menggambarkan efek transisi Rudi dan Ainun dari umur 20-an hingga 70-an (!). Aktor-aktor kita tampak sama saja...kurang efek "tua" di leher dan tangan. Untuk sebuah produksi yang tampak mahal, entah kenapa bidang yang juga vital ini malah kayak dapet dana sisa-sisa.

Gw kayaknya harus stop karena kok kesannya gw kebanyakan menunjukkan nilai-nilai kurang film ini, hehe. Sebaliknya, menurut gw Habibie & Ainun adalah sebuah film yang masih layak tonton dan lumayan dapat menutupi kelemahan-kelemahannya dengan aliran cerita yang lancar dan tetap memikat hingga akhir, menghibur dengan manisnya percikan cinta sejati dari dua insan itu, bahkan sukses melaksanakan beberapa momen haru. Gw seneng nontonya, meski dengan berbagai permakluman. Masalahnya adalah, dengan makin banyaknya film Indonesia yang diproduksi serius dan berkualitas bagus, apakah gw masih harus "maklum" terus-terusan?




My score: 7,5/10

Minggu, 23 Desember 2012

[Movie] The Hobbit: An Unexpected Journey (2012)


The Hobbit: An Unexpected Journey
(2012 - Warner Bros./New Line Cinema/MGM)

Directed by Peter Jackson
Screenplay by Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson, Guillermo del Toro
Based on the novel "The Hobbit" by J.R.R. Tolkien
Produced by Carolynne Cunningham, Zane Weiner, Fran Walsh, Peter Jackson
Cast: Ian McKellen, Martin Freeman, Richard Armitage, Ken Stott, James Nesbitt, Ian Holm, Hugo Weaving, Cate Blanchett, Christopher Lee, Andy Serkis, Elijah Wood, Manu Bennett, Barry Humphries


Sebelum menerbitkan seri The Lord of the Rings yang sangat laris, penulis Inggris J.R.R. Tolkien telah menerbitkan sebuah buku cerita yang ada di semesta Middle-Earth yang sama, The Hobbit pada tahun 1937. Menurut informasi yang gw dapet (Wiki =p) The Hobbit adalah kisah fantasi untuk anak-anak, tentang petualangan seorang hobbit pemberani, Bilbo Baggins, yang turut dalam usaha kaum kurcaci (dwarves) merebut kembali kerajaan mereka yang diduduki oleh naga, Smaug. Hanya ada satu buku The Hobbit, tetapi entah dipengaruhi kuasa apa, Peter Jackson akan membuat versi filmnya menjadi 3 film, An Unexpected Journey ini film pertama, padahal sebelumnya dia sudah sukses bikin 3 seri The Lord of the Rings hanya dalam 3 film. Kuasa duit mungkin? *sokpolos* 

Pada suatu hari yang tenang di Bag End, wilayah pemukiman para hobbit (manusia yang ukuran tubuhnya kayak anak kecil), penyihir Gandalf the Grey (Ian McKellen) mendatangi Bilbo Baggins muda (Martin Freeman) yang adalah putra hobbit kenalannya. Gandalf menawarkan petualangan pada Bilbo, yang dengan tegas ditolak. Kenal banget juga enggak, pake ngajak-ngajak, serem amat ini kakek-kakek. Anyway, Gandalf tak kehilangan akal, ia membuat sebuah tanda di pintu rumah Bilbo sehingga di malam harinya, Bilbo didatangi 13 orang kurcaci (manusia yang tubuhnya pendek) tak dikenal yang kelaparan, dimpimpin oleh Thorin (Richard Armitage) yang adalah putra mahkota dari kerajaan kurcaci Erebor. Ke-13 kurcaci ini ternyata sedang berusaha merebut kembali kerajaan mereka yang diserang dan diduduki seekor naga bernama Smaug, yang mengakibatkan seluruh warga kerajaan itu terserak ke mana-mana. Gandalf ingin membantu mereka, dan berharap Bilbo mau ikut karena dianggap akan berguna. Dengan sedikit persuasi, Bilbo pun ikut berangkat bersama Gandalf dan ke-13 kurcaci menuju Lonely Mountain, demi mengusir Smaug. Tentu saja, karena ini film petualangan dan masih film pertama, petualangan mereka akan banyak rintangan, terutama dari kaum orc (manusia jelek =p) yang punya dendam pribadi terhadap Thorin.

Sekadar informasi, tadinya Peter Jackson terlibat dalam proyek ini hanya sebagai produser dan penulis naskah. Penyutradaraan, dan mungkin juga beberapa desain visual, akan diserahkan pada Guillermo del Toro yang sebelumnya sukses dengan film-film bertema fantasi (Pan's Labyrinth, Hellboy). Namun karena ada masalah administrasi atau apalah, proyek The Hobbit ini nggak maju-maju, del Toro memutuskan mundur agar dapat bisa move on ke proyek-proyek selanjutnya, sehingga akhirnya The Hobbit pun kembali ditangani Peter Jackson (namun naskahnya tetap menggunakan yang turut ditulis del Toro). Padahal gw pikir bakal seru kalo tetep del Toro jadi terlibat, ia punya kreasi visual keren dan sense of humor yang baik, bisa memberi sentuhan berbeda dari The Lord of the Rings. Tapi toh apa mau dikata. Peter Jackson sendiri kembali menunjukkan kemampuannya dalam menyajikan tontonan yang apik, meskipun gw tetep kurang suka sama kebiasaannya mempanjang-panjangkan adegan terutama adegan laga, sehingga jadilah An Unexpected Journey ini durasinya 2 jam 45 menitan *beuh*. Tetapi, tidak terlalu membosankan juga, petualangan demi petualangannya cukup mengasyikan meski harus melewati prolog yang saking detilnya sampe makan waktu. Keindahan dan kecanggihan visualnya tidak perlu diragukan, mungkin skalanya saja yang lebih kecil daripada The Lord of the Rings. 

The Hobbit ini memang di atas kertas lebih sederhana daripada The Lord of the Rings, lebih ringan, toh materi aslinya ditargetkan buat anak-anak. Kita juga bisa melihat lebih banyak humor di film ini, mungkin inilah "sisa-sisa" sentuhan del Toro, selain mungkin juga desain orc yang lebih artistik dan nggak seseram di Rings (segitu pengennya del Toro tetep garap The Hobbit, hehe). Jika berharap film ini akan semenggelegar dan sekompleks Rings, jelas itu harapan yang meleset. Memang ada tokoh-tokoh yang kita kenal di Rings, ada Gandalf, Elron (Hugo Weaving), Saruman (Christopher Lee), Galadriel (Cate Blanchett), juga Bilbo tua (Ian Holm) dan Frodo (Elijah Wood) sebagai pencerita, bahkan Gollum (Andy Serkis), tapi mereka hanya sebagai pelengkap saja. Just sit and enjoy petualangan Bilbo dkk yang tak kalah menegangkan dan mengasyikkan dengan caranya sendiri, pun dibantu dengan casting yang baik (Martin Freeman tampak nyaman sebagai Bilbo). Menurut gw sih film ini bisa lah diperpendek durasinya, lebih ringkas, bahkan lebih lucu, tapi yang ini udah cukup oke kok. 

Ngomong-ngomong, The Hobbit: An Unexpected Journey ini juga jadi semacam uji coba penggunaan kamera high-frame rate, yaitu kecepatan gambar per detik-nya lebih tinggi dari film biasa, kali ini 48 frame-per-second (dua kali film biasa), sehingga jika ditayangkan dengan format yang sama, gambarnya tampak lebih halus. Gw sendiri menyaksikannya dalam format tersebut dan 3-dimensi. Gambarnya emang jadi halus banget...nyaris seperti sinetron di TV. Mungkin akan banyak yang tak biasa dengan ini, tapi menurut gw sendiri nggak terlalu masalah, toh Jackson sudah memperlengkapi segalanya (dari make-up, kostum, dan animasi efek visual) agar tampil pas dalam format tersebut. Agak janggal sih, jadi kurang "film" gimana gitu, tapi nggak masalah. Lagi pula untuk The Hobbit: An Unexpected Journey ini rasanya penonton akan lebih terserap pada ceritanya ketimbang format tampilannya. Film yang oke itu adalah yang bisa dinikmati dalam format apa pun =).



My score: 7,5/10

Sabtu, 22 Desember 2012

[Movie] 5 cm. (2012)


5 cm.
(2012 - Soraya Intercine Films)

Directed by Rizal Mantovani
Screenplay by Sunil Soraya, Hilman Mutasi
Based on the novel by Donny Dirghantoro
Produced by Ram Soraya, Sunil Soraya
Cast: Herjunot Ali, Fedi Nuril, Raline Shah, Denny Sumargo, Igor Saykoji, Pevita Pearce, Didi Petet, Rima Melati Adams, Anugerah Prahasta, Firrina Sinatrya


Sedikit meleset dari ekspektasi, gw nggak mengira bahwa 5 cm. adalah komedi. Gw belum pernah bersentuhan dengan novelnya yang laris itu, jadi sebelum ini nggak punya bayangan bahwa cerita dan tokoh-tokohnya punya aspek komedi yang mengelitik dan cukup made-sense. Film ini dibuka dengan perkenalan yang kocak tentang lima sahabat karib dalam suka dan duka dengan sifat masing-masing, dan memang sangat dikedepankan bagian yang bodoh dan bodornya. Pun itu berlanjut dengan adanya efek kartun "malaikat dan iblis" di sisi kanan dan kiri salah satu tokohnya. Wow, gw pikir, ini bakal jadi film yang menyenangkan. Lalu ketika film ini sampai pada bagian yang (harusnya) seru di Bromo, rupanya film ini menikung sangat tajam menjadi sebuah tontonan yang banyak bicara, membuat kadar menyenangkannya berangsur-angsur jadi tawar.

5 sahabat karib itu adalah Zafran (Herjunot Ali), Genta (Fedi Nuril), Riani (Raline Shah), Arial (Denny Sumargo), dan Ian (Igor Saykoji). Mereka begitu dekat tak terpisahkan sehingga pada suatu waktu, mereka memutuskan untuk mencoba tidak bertemu ataupun saling kontak selama beberapa bulan, memberi kesempatan masing-masing untuk berkembang secara mandiri, sampai pada suatu hari tertentu, kelimanya berkumpul untuk merayakan pertemuan mereka kembali. Kedengaran iseng, tapi nyatanya hanya dalam 3 bulan saja dirasa sangat berat bagi mereka masing-masing. Meski demikian, perubahan memang terjadi: Genta dan Riani tetap bisa berkembang dalam karir masing-masing meski tidak saling bekerja sama, Arial yang akhirnya berani kenalan dan pacaran sama seorang cewek (Firrina Sinatrya), Ian yang menyelesaikan skripsinya, dan Zafran...well, kecuali Zafran yang gitu-gitu aja. Tiba waktunya, "reuni" mereka diatur oleh Genta, berangkatlah kelimanya plus bintang tamu Dinda (Pevita Pearce), adik Arial yang selama ini ditaksir Zafran, untuk bersama-sama jalan wisata alam ke Bromo, Jawa Timur...mendaki sampai puncak gunung Semeru a.k.a. Mahameru.

Motivasi perjalanan mereka mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera *jadi nyanyi* anggap saja iseng belaka, wisata bareng-bareng sahabat ke tempat yang belum pernah dan tidak biasa didatangi bukanlah hal yang aneh, apalagi bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI dan ada upacara bendera di puncak itu. "Lucu juga kali yah", mungkin itu yang ada di pikiran mereka. Tahu sih ke puncak Semeru itu bahaya dan taruhannya nyawa (dan si Genta-nya udah tahu tapi baru bilang setelah udah hampir nyampe tempatnya...=|), tapi ya udah ayuk berangkat ajalah, yang penting seperti Jin dan Jun, selalu bersama...walaupun ada bintang tamu juga yang bukan bagian dari 5 sahabat, tapi yaudah sih, terserah mereka lah. 

Seperti gw singgung di awal, 5 cm. di paruh awal menawarkan penceritaan dan tokoh-tokoh yang menyenangkan, tidak terlalu lincah tetapi masih lancar. Gw masih bisa relate dan terbahak atas dialog dan situasi yang ada. Gw suka dengan ketidakraguan dialognya menyebut merek seperti Indomie yang menambah kealamiahan (tapi ingat, ini hanya berlaku untuk Indomie, menggantikannya dengan merek lain akan tetap terasa maksa). Tapi ketika mereka sampai di Bromo, mereka seperti kerasukan roh entah apa tepat setelah Genta bilang "Dapet salam dari Indonesia," tokoh-tokoh utama kita kemudian mulai berbicara dalam bahasa-bahasa yang selama ini kita tidak tahu mereka bisa, seperti ending episode serial tokusatsu/super sentai yang memberi kesempatan masing-masing ranger untuk melemparkan kalimat "insipiratif". It's so weird and awkward, dan entah mengapa, setelah bagian ini arah film jadi beda jauh dari bagian sebelumnya, seperti bukan film yang sama. Patah banget. Tadinya soal persahabatan kenapa tiba-tiba buntutnya jadi soal cinta tanah air. Apa hubungannya? Kapan dihubungkannya? Apa tujuannya? Apakah selama ini Genta tidak menganggap teman-temannya tidak nasionalis sehingga perlu di-"inisiasi" di atas gunung bahkan pake ada yang cedera hampir mati? Ini nggak masalah jika dianggap semacam bonus reward dari pendakian mereka, selain mempererat persahabatan juga jadi makin cinta sama negeri. Problemnya, persoalan cinta tanah air yang entah akarnya ada di mana itu pembahasannya panjang banget bahkan sampe ke narasi akhir yang begitu panjang lebar sampe gw nggak nangkep satu patah katapun.

Di luar itu, serta logika-logika kecil lain yang dipaksa untuk diabaikan, harus diakui bahwa 5 cm. ini akan disukai banyak orang, bahkan mungkin beberapa orang menganggap "kata-kata inspiratif"-nya itu membuat film ini jadi dianggap "penting" (padahal...). Animo terhadap film ini memang sesuai, kelarisannya tidaklah suatu hal yang mengherankan. Novelnya termasuk sangat laris, dan promo filmnya pun tidak tiba-tiba (posternya udah beredar di internet di kuartal pertama/kedua tahun ini). Menyaksikannya, gw pun mengakui bahwa film ini tidak digarap sembarang. 5 cm. ini punya nilai produksi yang tinggi, terutama untuk ukuran film yang pop, semua ditata dengan serius dan apik. Dari segi gambar, peralihan dari gemerlap ibukota ke panorama luar biasa di Bromo tergolong mantap, apalagi tangkapan sinematografi Yudi Datau dan timnya yang keren sangat, mengulangi kesuksesan kinerjanya di Denias Senandung di Atas Awan, bahkan bisa didaulat sebagai "pemain terbaik" dari film 5 cm. ini, melebihi permainan para aktornya yang tidaklah istimewa-istimewa amat.  5 cm. bisa digolongkan sebagai film yang "film" banget, menghibur dan appealing ke banyak orang, lucu terutama di bagian paruh awal, apalagi dibintangi aktor-aktor rupawan—ya, pasti juga ada saja orang yang menganggap Saykoji itu attractive, don't judge. Bagian Bromonya mungkin tidak menghibur dengan cara yang sama dengan bagian awalnya, tetapi pemandangan alam puncak tertinggi di pulau Jawa itu tetaplah sebuah hiburan yang dapat menutupi kekurangan di titik lain. Film yang menyenangkan, dan buat gw, tidak perlu dianggap lebih dari itu.



My score: 7/10

Selasa, 18 Desember 2012

Piala Maya 2012

Bermula dari akun twitter komunitas pecinta film Indonesia (@film_indonesia), tahun 2012 ini terwujudlah satu lagi ajang penghargaan bagi insan-insan perfilman nasional, Piala Maya. Konsep penghargaan ini adalah apresiasi terhadap film-film Indonesia dari para pecintanya di dunia maya, lalu mewujudkannya dalam dunia nyata. Proses seleksi dan penentuan pemenang Piala Maya tetap dilakukan lewat media komunikasi internet, tapi predikat dan pialanya tidaklah maya belaka, melainkan diberikan betulan kepada yang berhak.

Very nice design isn't it?

Proses penilaiannya pun unik, kalo gw bilang kayak perpaduan Golden Globe, Online Film Critics Society dan People's Choice Awards *jiee*, karena penentuan nominasi dan pemenang dilakukan oleh Komite Pemilih yang terdiri atas 100 orang dari berbagai profesi, baik itu pekerja film, pekerja seni lainnya, wartawan/insan media, kritikus film, akademisi, mahasiswa, atau blogger pembahas film seperti gw ini (dan puji Tuhan gw diundang menjadi salah satu dari 100 orang Komite Pemilih itu, thank you ya =)), yang benar-benar telah menonton film Indonesia di bioskop-bioskop karena niat, bukan sekadar karena syarat.  Hasilnya, sebuah penghargaan yang lebih obyektif karena—mengutip dari Jajang C. Noer di malam penganugerahan Piala Maya pada 15 Desember 2012 di The Bridge Function Rooms, Aston Rasuna, Jakarta lalu, penilaiannya tidak memiliki kriteria-kriteria yang spesifik, lebih bebas. Gak harus yang begini atau yang begitu, gak ada titipan ini itu, yang penting produksi anak bangsa yang berkualitas.

Tak hanya membagikan piala, Piala Maya 2012 ini juga telah mengadakan rangkaian acara Pekan Film bertempat di SAE Institute fX lifestyle X'nter Jakarta, dalam waktu lebih kurang satu minggu memutarkan film-film Indonesia pilihan, termasuk yang beberapa nomine Piala Maya, plus beberapa di antaranya ada diskusi dengan filmmaker-nya. Sebagai layaknya sebuah festival, tetapi semuanya diselenggarakan secara sederhana, namanya juga ajang independen yang belum punya pendana tetap, bahkan acara malam penganugerahannya jauh lebih sederhana daripada pensi anak SMA zaman sekarang. Namun yang gw saksikan sendiri adalah semangat dan antusiasme orang-orang yang datang untuk sama-sama mengapresiasi film Indonesia dengan tulus ikhlas. Respon para pekerja film yang hadir dalam acara penganugerahan pun positif, sehingga di tengah berbagai keterbatasan teknis, Piala Maya tetap terasa legit dan berarti. Full of love lah.

Selain independen, Piala Maya bisa juga dikatakan penghargaan film nasional yang paling komplet kategorinya, bahkan ada tata rias, tata kostum, efek visual, serta yang selalu terabaikan, desain poster, juga penghargaan untuk film omnibus (film panjang yang terdiri atas kumpulan film pendek). Total ada 27 kategori dalam perhelatan perdana Piala Maya ini, dan film Lovely Man karya Teddy Soeriaatmadja menjadi pemborong terbesar dengan 4 piala. Jadi siapa sajakah peraih Piala Maya 2012 yang mendapat gelar Terpilih? Yang pasti, gw jamin, hasilnya paling memuaskan di antara semua penghargaan lainnya tahun ini. Jujur, bukan iklan. Mari buktikan...