Selasa, 02 Oktober 2012

[Movie] A Separation (2011)


جدایی نادر از سیمی (Jodái-e Náder az Simin)
A Separation
a.k.a. Nader and Simin, a Separation
(2011 - Asghar Fahradi Production/Filmiran/Memento Films International/Sony Pictures Classics)

Produced, Written and Directed by Asghar Farhadi
Cast: Peyman Mohaadi, Leila Hatami, Sareh Bayat, Shahab Hosseini, Sarina Farhadi, Ali-Asghar Shahbazi, Kimia Hosseini, Merila Zare'i, Babak Karimi, Shirin Yazdanbakhsh


Inilah pertama kalinya gw menyaksikan film dari Iran, asli dalam bahasa Persia (bukan Arab lho ya). Padahal, meskipun negaranya sering di-sensi-in sama USA dan konco-konconya, serta terkesan (atau ter"stigma") negaranya "nggak bebas", dalam beberapa dekade terakhir bidang perfilman Iran justru memiliki tempat terhormat di dunia internasional. Khusus A Separation karya Asghar Farhadi ini menjadi sebuah fenomena sinema dunia, yang memenangi penghargaan di nyaris semua festival film yang diikutinya sepanjang tahun 2011 (termasuk festival film Berlin dan Asian Film Awards), hingga puncaknya menjadi film Iran pertama yang meraih piala Oscar. Anyway, karena merupakan film Iran pertama yang gw pernah tonton, A Separation sedikit banyak adalah eye-opener buat gw. Setelah sebelumnya hanya mengetahui tentang republik Islam (Syiah) ini dari berita-berita, tayangan National Geographic dan film Persepolis, kini saatnya melihat satu sisi kehidupan bangsa Iran dari sudut pandang orang Iran sendiri.

Perselisihan Simin (Leila Hatami) yang sudah siap pindah ke luar Iran dengan Nader (Peyman Mohaadi) sang suami yang berkeras untuk tetap bertahan demi merawat ayahnya (Ali-Ashgar Shahbazi) yang menderita Alzheimer, membawa mereka kepada tahap pengajuan cerai. Pengadilan belum mengesahkan permohonan cerai Simin karena dianggap alasannya nggak penting, namun Simin memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya, sedangkan meski sudah diajak Simin, putri mereka, Termeh (Sarina Farhadi) memutuskan untuk stay sama Nader dan sang kakek. Karena Nader harus kerja, Termeh sekolah, dan Simin udah "minggat", maka harus ada yang mengurus si kakek di siang hari. Dipekerjakanlah Razieh (Sareh Bayat), adik ipar kenalannya Simin. Di hari pertama, Razieh yang rupanya sedang hamil muda merasa tak sanggup dengan pekerjaannya, namun pada Nader ia mengusulkan suaminya, Hojjat (Shahab Hosseini) untuk menggantikannya. Tetapi, pada akhirnya Razieh-lah yang selalu datang "menggantikan" suaminya. Akibat suatu peristiwa, Razieh dipecat oleh Nader karena dianggap tidak bertanggung jawab dalam kerjaannya. Tidak disangka, tindakan itu malah menyeret keluarga yang sedang pecah ini ke permasalahan yang lebih pelik, ketika Nader dituntut oleh Hojjat ke ranah hukum untuk hal yang tidak dilakukannya.

Oke, kisah sudah jatuh tertimpa tangga kelindes becak semacam ini mungkin tak pelak menjadi bahan favorit sinetron atau telenovela. Memang, gw sendiri melihat A Separation sebagai sebuah kisah keluarga yang melankolis, menggetarkan emosi, namun nyatanya kemasannya sendiri tidak terjebak pada umbar kemalangan dan kesedihan menye-menye dengan musik mendayu-dayu yang memerintahkan penonton "ayo  nangis! Nangis!". Pendekatan Asghar Farhadi di sini justru lebih realis, bahkan musik latar pun nyaris tidak ada. Tak berhenti si situ, A Separation adalah juga sebuah film yang memuat berbagai informasi hanya lewat satu konflik utama, dalam hal ini berbicara tentang negeri Iran. Lewat perceraian dan tuntutan hukum, gw bisa menyaksikan tentang budaya, masyarakat, adat dan kebiasaan, pendidikan, dan hukum dari plot dan karakter yang dimunculkan di sini tanpa harus ngalor-ngidul kemana-mana. Semuanya terintegrasi dalam satu tuturan utuh.

Gw bisa menyaksikan perbedaan ketentuan pakaian laki-laki dan wanita (juga perbedaan pakaian wanita biasa seperti Razieh, dengan yang lebih berpikiran bebas seperti Simin), bahkan cara berpakaian itu dipergunakan dalam plot. Gw bisa melihat keterikatan kuat orang sana pada hukum agama dalam kehidupan sehari-hari, yang juga dipergunakan sebagai salah satu kunci plot utama. Hingga ke hal-hal kecil, seperti lebih banyaknya istilah-istilah bahasa Prancis digunakan ketimbang Inggris (setidaknya pada kelas sosial Nader dan Simin), berkeliaran mobil produksi Prancis dan Korea, ada Nescafe, pokoknya yang menunjukkan bahwa Iran pun adalah negara yang modern dan bukannya terisolasi, meskipun kontras dengan kerasnya hukuman terhadap perkara-perkara yang, well, mungkin kalau di negeri kita bisa diselesaikan dengan musyawarah mufakat berasas kekeluargaan *yea rite =p*. Mungkin itu sebabnya pengadilan digambarkan rame kayak pasar karena banyaknya perkara semacam itu yang diajukan di sana, who knows.

A Separation tak hanya berkonflik pelik, bermuatan lokal sekaligus informatif bagi penonton non-Iran, namun naskah dan pengisahannya pun begitu solid. Segala detil dan momen pasti berkaitan dengan detil-detil dan momen-momen selanjutnya. Keahlian Fahradi dalam menabrakkan beban masing-masing tokoh dalam sebuah konflik patut diacungi jempol, tidak ada yang dibuat-buat atau tiba-tiba karena semua sudah diperhitungkan, apalagi disajikan dengan begitu intens, yang didukung oleh sisi teknis kelas wahid dan  performa para aktor yang luar biasa, wajar dan berisi (kredit tebal buat Peyman Moaadi dan Shahab Hosseini). Intensitas itu juga gw rasa akibat sisi kemanusiaan yang sangat dikedepankan ketimbang hal-hal lainnya. Meski memang sedikit banyak memuat tentang situasi di sebuah sudut Iran, film ini tidak menggambarkan enak atau susahnya hidup di Iran, tidak juga menyatakan dukungan atau perlawanan terhadap budaya dan hukum yang berlaku. Mungkin unsur-unsur itu memang ada (dan sangat halus disematkan, sangat halus hingga bisa lolos sensor pemerintahannya), tapi of all things film ini adalah tentang manusia yang tinggal di dalamnya, tentang pilihan-pilihan yang diambil serta konsekuensinya. Tidak ada yang protagonis dan antagonis, karena semua tokoh di sini punya kebaikan dan kesalahan masing-masing, membuat gw jadi sulit untuk menjatuhkan vonis siapa biang kerok dari rangkaian kejadian malang yang menimpa Nader, Simin, Razieh dan keluarga mereka masing-masing. 

Jelas sudah bagaimana bisa film ini memperoleh taburan pujian di mana-mana. A Separation adalah sebuah karya yang masterful, teliti dalam segala bidang, menggugah hati tanpa harus cengeng. Contoh film drama emosional yang baik dan benar, and even more.



My score: 8,5/10

2 komentar:

  1. Balasan
    1. iyah, itu menegaskan bahwa film ini memang membiarkan penonton yg men-judge sendiri segala sesuatunya =)

      Hapus