Sabtu, 14 Mei 2011

[Movie] Source Code (2011)


Source Code
(2011 - Summit/Vendôme)

Directed by Duncan Jones
Written by Ben Ripley
Produced by Mark Gordon, Jordan Wynn, Philppe Rousselet
Cast: Jake Gyllenhaal, Michelle Monaghan, Vera Farmiga, Jeffrey Wright, Michael Arden


“Hollywood” yang dalam bayangan banyak orang adalah: 1. film dengan aksi2 dan visual efek keren, dan; 2. memajang bintang terkenal. Film2 seperti ini biasa nya milik studio2 besar USA yang produksi2 terbarunya memang belum ada tanda2 akan benar2 beredar di bioskop Indonesia akibat permasalahan DUIT yang lagi2 menjadikan KONSUMEN sebagai KORBAN *tarik napas* *ngeludah* *cuih* . Dengan dua unsur tadi plus tentu saja: 3. promo berlebihan yang mencitrakan hanya film2 seperti itulah yang layak tonton, sudah cukup untuk menarik minat penonton kita. Nah, karena udah lama nggak ada yang seperti itu, Source Code, sebagai film produksi Amerika tahun 2011 pertama yang beredar di Indonesia setelah 3 bulan terakhir ini, bagaikan es jeruk manis di tengah2 kekeringan akan film impor/Hollywood. Jadi gini, film2 yg memenuhi 3 unsur yg gw singgung tadi bisa saja analoginya air dingin saja, namun Source Code, yg punya 3 unsur “Hollywood” tersebut (eh, Jake Gyllenhaal tuh terkenal kan? *ragu*) meskipun dari studio kecil/independen, gw analogikan es jeruk manis, karena film ini bukan film biasa-aja-tapi-jadi-bagus-karena-nggak-ada-pilihan-lain. Honest.

Colter Stevens (Jake Gyllenhaal) tiba2 terbangun di sebuah kereta api Jabodetabek commuter menuju kota Chicago, namun bukan di dalam tubuhnya sendiri. Belum selesai kebingungannya, tiba2 kereta tersebut meledak! Colter lalu terbangun dalam sebuah ruangan tertutup dan langsung dihubungi melalui “videophone” oleh Kapten Goodwind (Vera Farmiga), bahwa Colter, yang seorang pilot AU Amerika yang (tadinya) bertugas di Afghanistan, sedang dalam tugas memasuki memori seseorang bernama Sean Fentress yang sedang pagi itu (kejadiannya sudah terjadi, btw) sedang menaiki kereta yang meledak di tengah jalan. Dalam "dunia" 8 menit terakhir memori hidup Fentress, yang disebut “source code”, Colter ditugaskan untuk mencari pelaku bom kereta itu, sebelum orang yang sama melakukan peledakan selanjutnya yang lebih besar...dengan cara Colter harus kembali ke memori yang sama berulang kali sampai pelaku bom itu ditemukan. Dengan tetap memiliki kesadaran dan ingatan pada kali2 sebelumnya, Colter pun mencoba menjalankan tugasnya tersebut di dalam source code dengan menyelidiki apapun yang ada di sekitarnya dalam waktu yang pendek2, meskipun berada ditengah ketidaktahuan akan apa yang terjadi di dunia nyata, he really had no idea, and so did I =).

Kalo boleh langsung gw memvonis, Source Code ini seru sekali. Premisnya mirip dengan serial lawas “Quantum Leap” (yang bintangnya, Scott Bakula ikut cameo jadi suara ayah Colter di film ini), namun Source Code lebih menekankan pada sisi thriller, aksi, dan misteri dengan twist2 menakjubkan sepanjang jalan—dan gw suka banget cara pengungkapan twist2nya, kayak sambil lalu tapi kena, genius. Bagusnya lagi, meski berpotensi rumit karena memang berlabel film “aksi fiksi-ilmiah”, apa yang ditampilkan sutradara Duncan Jones (anaknya penyanyi tuir David Bowie) dan penulis Ben Ripley tidak langsung membebani penonton dengan kerumitan bertele-tele. Penonton (gw) sejak awal berada pada pihak Colter yang juga gak tau apa-apa, segala hal yg terjadi di film ini pun masih misteri sebelum Colter mengetahuinya, itu memberi kesempatan bagi pembuat filmnya untuk menyelipkan penjelasan demi penjelasan sederhana bagi orang awam, termasuk penjelasan “ilmiah” yang untungnya tidak terlalu membingungkan (atau gw yg terlalu nevermind-the-details, hehe) sehingga gw dengan mudah larut dalam apa yg ditampilkan film ini, toh ceritanya tidak hanya bertumpu pada bagian fiksi-ilmiah-nya saja, tetapi pada perjuangan Colter untuk menyelesaikan misi sekaligus kembali ke kehidupannya yang semula. Ya, makna “es jeruk manis” tadi adalah bagaimana film ini mengusung cerita yang menarik dan dieksekusikan dengan baik. Bukan hanya soal keren2an visual (yang memang keren) dan aksi2an, tetapi Source Code juga memperhatikan kelelahan dan goncangan emosi Colter dalam menjalani misinya, apalagi setelah mengetahui lebih lanjut tentang apa yang terjadi pada dirinya. Pada “penambahan” arah film ini, bahwa in the end ini tentang diri Colter, gw pun masih suka, smooth. That guy deserve some happiness =).

Dipermanis oleh akting pemerannya yang kompak dan meyakinkan, yg di”kapten”-i Jake Gyllenhaal yang mulus sekali mengundang simpati penonton, Source Code sekali lagi sebuah tontonan yang memuaskan, setidaknya buat gw. Mulai dari cerita, gaya bercerita, laju filmnya, akting, visual, efek visual, musik, suara, tidak ada yang perlu dikomplain saking nyaris tanpa cela. Cara merancang situasi 8 menit di source code secara berulang pun benar2 rapi dan mengena. Pun film ini ditutup dengan cukup mengherankan tapi mengasyikan. Setelah menyentuh sisi kemanusiaan pada bagian menjelang akhirnya (yang dengan baik ditempatkan dengan pas tanpa terasa maksa), bagian akhirnya menegaskan apa yang jadi pertanyaan semua film fiksi-ilmiah: “what if?” =). Meski memang tidak original2 amat (percampuran "Quantum Leap" dan Groundhog Day dan...Harry Potter?), tetap saja Source Code perlu ditandai sebagai film yang mengasyikan tanpa membahayakan. Ada aksi menegangkan, ada ledakan (as many times as Colter entering the source code, of course =D), ada misteri, ada romansa, ada drama kemanusiaan, ada misi yang harus diselesaikan, dirangkai dialog2 yang tidak membodohi, film ini lengkap sudah menyajikan apa yang dapat memuaskan penonton yang datang ke bioskop. Apalagi, film ini bersih (nggak pake dipotong oleh sensor =P) dan durasinya cuman satu setengah jam cing =D. Like this film *jempol*.



My score: 8/10

2 komentar:

  1. Film ini film yang aku tonton setelah lama vakum ke bioskop.
    Iya, filmnya bagus. setidaknya bagiku seperti itu (itu udah cukup buat alasan nonton film. hehehe...)
    Like this film juga =)

    BalasHapus
  2. @Sulhan, *tos* keren ya filmnya. ini juga film asing pertama yang saya tonton di bioskop sejak the company men lebih dari sebulan sebelumnya, kangen sama ledak2an di bioskop =D

    BalasHapus