Rabu, 25 Mei 2011

[Movie] 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2011)

 

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita
(2011 – Anak Negeri Film)

Written and Directed by Robby Ertanto
Produced by Intan Kieflie
Cast: Jajang C. Noer, Marcella Zalianty, Olga Lydia, Happy Salma, Intan Kieflie, Henky Solaiman, Tamara Tyasmara, Verdi Solaiman, Tizza Radia, Patty Sandya, Rangga Djoned, Tegar Satrya, Albert Halim, Achmad Zaki


7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (selanjutnya akan direfer sebagai "film ini" =P) adalah sajian tujuh fragmen dari tujuh orang wanita berbagai latar sosial (tokohnya Marcella Zalianty nggak diitung, we'll get to that later) yang saling bersinggungan dengan tokoh dokter Kartini (Jajang C. Noer), seorang dokter kandungan di sebuah RS Umum sebagai stasiunnya. Ketujuh wanita ini terhubung di ruang periksa rumah sakit. Lili (Olga Lydia) sedang mengandung besar namun sering datang ke dokter dengan memar2 di wajahnya, yang kita tau itu akibat melayani suaminya yg sadomasokis. Yanti (Happy Salma) datang periksa rutin mengingat dia adalah seorang penjaja seks pinggir jalan daerah Jakarta Kota, Jalan Hayam Wuruk kayaknya *lho terlalu spesifik kayaknya nih gw*, yang kemudian harus mendengar kabar tidak mengenakkan tentang kesehatan alat reproduksinya. Rara (Tamara Tyasmara) anak SMP ingusan labil penggemar Chupa Chups yang pertama kalinya memeriksakan diri ke dokter kandungan akibat khawatir setelah berhubungan intim dengan pacarnya yg cowok SMA. Ratna (Intan Kieflie) adalah perempuan sederhana pekerja keras yang baru hamil setelah menikah 5 tahun lamanya, ini anak pertama baginya, tapi ternyata bukan anak pertama bagi suaminya. Lastri (Tizza Radia), yang selalu datang ke dokter bersama suaminya Hadi (Verdi Solaiman) dengan kemesraan-tak-akan-cepat-berlalu, adalah seorang wanita tambun yang menantikan seorang anak untuk melengkapi kebahagiaannya. Lalu ada Ningsih (Patty Sandya), seorang wanita berwatak keras yang sudah kesekian kalinya hamil dan kini ngebet punya anak laki-laki, karena berhasrat untuk "menciptakan" laki2 yang tidak sepayah suaminya. Keenam wanita ini adalah pasien dr. Kartini, seorang wanita dengan karakter tegas namun berlaku compassionate, yang bertekad untuk membela kaum perempuan dan tidak bergantung pada laki-laki. Tak hanya jadi audiens kisah hidup pasien2nya, dr. Kartini pun harus punya "drama" dalam kehidupan pribadinya ketika dokter baru, Rohana (Marcella Zalianty, makanya dia nggak terhitung 7 wanita karena dia hanya bagian dari kisah dr. Kartini), yang muda, cerdas dan tampak ambisius yang agak menggugat ketegaran dan pandangan hidup dr. Kartini dengan cara2 yang, well, nyolot.

Dari 7 kisah yang ada, meski seperti terpisah-pisah, sebenarnya memiliki faktor kesamaan lebih dari perkara "kandungan", yaitu bahwa cerita 7 wanita ini berkaitan dengan lelakinya masing2. Tadinya gw berpikir, wah mau "menelanjangi" kebejatan kaum pria nih, karena awalnya gw sangka semuanya tentang wanita yang ditindas laki-laki, dan memang sebagian besar dari 7 wanita ini harus merasakan kepahitan dan sakit hati dalam hidupnya akibat jadi sekadar "mainan" kaum lelaki (Lili, Rara, Ratna, alasan Yanti jadi pelacur, juga Lastri). Namun pandangan itu harus gw eliminasi ketika mengingat tokoh Ningsih yang jelas malah lebih superior dari suaminya, lalu gw juga teringat bahwa sikap Ratna setelah mengetahui kekurangajaran suaminya juga bukti melawan penindasan. Pun kisah Yanti malah cenderung ke romansa dengan adanya Bambang (Rangga Djoned) si tukang ojek liaison officer alias "anjelo" a.k.a. antar-jemput-lonte nya Yanti (XD), yang bukannya menindas namun justru membela Yanti, in my opinion they are equal. Lalu film ini maunya apa?

Mungkin benar juga pandangan dr. Rohana, tidak semua perempuan adalah korban, dan jika memang menjadi "korban" belum tentu bisa langsung disalahkan pada laki-laki. Lili dan Ratna adalah contoh istri2 yg memang disakiti suami, tetapi sikap mereka dalam menghadapinya bertolak belakang. Film ini juga menyinggung apa yg juga ada di benak gw sejak lama: kalau nggak mau tekdung sebelum waktunya, kenapa gitu ceweknya mauan aja diapa-apain sama cowoknya? Mungkinkah ketertindasan itu sesunggunya sebuah pilihan? Well, berbeda dari dugaan awal gw, dan mungkin karena penulis/sutradaranya adalah cowok *hehehe*, film ini tidaklah serta merta menjadi film pembelaan kaum perempuan berbagai kelas sosial sebagai yang terus tertindas dengan menyudutkan laki2 sebagai antagonis belaka. No, karena hidup tidak sesederhana itu. Setiap kisah punya persoalan dan sebab musabab masing-masing dengan lebih menekankan pada pribadi tiap2 tokoh sebagai manusia (khususnya dari sisi perempuan), tetap terkait dengan hubungan antargender, namun  nggak melulu mengangkat "perang gender". Berbeda manusia berbeda pula kasusnya, kita harus memandang dari berbagai sudut dengan lebih bijak, nggak bisa serta-merta nge-judge dan menyamaratakan segala hal. Mungkin itu sebabnya film ini menampilkan 7 variasi kisah perempuan, dan hubungan mereka dengan para lelakinya pun beranekaragam jenisnya.

Eh, serius amat nih ^_^;. Baiklah, secara tontonan sinematik, sutradara Robby Ertanto boleh dibilang sukses dalam mengaduk rata ketujuh kisah yang ia tawarkan yang sebenarnya sangat familiar di sekitar kita, menjadi sebuah karya yang tetap relevan dan tidak terlalu membingungkan, bahkan ketika kisah2nya dimerge oleh beberapa peristiwa dan karakter sebagai "jalan tembus"nya sekalipun. Semuanya berjalan secara paralel, tetapi gw sendiri tetep bisa punya pegangan "oh si anu ceritanya begini, si itu ceritanya begitu" dan tetap bisa gw ikutin hingga akhir, kekuatan penceritaannya nggak terlalu timpang. Mixturenya pun cukup unik, walau pada dasarnya drama serius, tetapi ada saja yang agak "serem" sampe yang komedi, membuat film ini tidak terlalu membosankan, ditambah lagi dialog2 yang cerdas namun nggak mengawang-awang alih-alih terkesan mengkhotbahi. Gw pun salut dengan tata adegan yang terbilang baik, tampak natural dan blockingnya bagus tanpa terlihat palsu, apalagi pergerakan dan sudut pengambilan kameranya cakep dan mulus sekali. Soal akting gw pun perlu menjempoli semua pemeran yang tampil baik dan menjiwai tanpa harus menye-menye. Jajang C. Noer walau masih tetap terlihat "watak" dengan gaya bicaranya yang khas, tetapi auranya selalu berbeda di tiap2 film yang ia mainkan, sama halnya dengan Henky Solaiman sbg dr. Anton yg setia berPDKT santun sama dr. Kartini, dan untungnya chemistry keduanya nggak canggung. Jika boleh memilih penampilan favorit, gw akan menobatkannya pada Intan Kieflie yang sukses menularkan empati akibat ekspresi sakit hatinya yang ridiculously real.

Sebuah film yang nyaris tanpa cela? Nyaris! Gw sih masih maklum ya sama tata suara yang agak kasar, maklum filmnya bukan film mahal, tapi gw begitu terganggu sama musiknya yang antara out of place atau salah mixing, atau just plain wrong, sebab di sana sini masih terisi bunyi2an khas sinetron selain pemotongannya yang seringkali terlalu tiba2. Come on you're better than that. Bahkan kalo gw bilang tanpa musik pun film ini akan jadi lebih intens lho. Bagian pembukanya pun gw kaget, gw kira itu trailer, soalnya adegan2 yang ada muncul tiba2 dengan editing cepat tanpa ada resapan sedikit pun, bikin agak ilfeel, untung aja semakin ke sana semakin oke. Oh ya, titel beserta lagunya mending ditaro di akhir aja gimana? *ini penonton aja sok ngatur2 yang bikin pelem*. But apart from those, sebenarnya film ini masih layak tonton dan secara substansial (yang artinya adalah...? *mboh*) tidak ada yg mengganggu gw, masih bisa dinikmati kok. Tambah satu nilai untuk niat baik, kurang lagi setengah untuk bad decision on music. =)



My score: 7,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar