Kamis, 03 Februari 2011

[Movie] Biutiful (2010)


Biutiful
(2010 - Focus Features)

Directed by Alejandro González Iñárritu
Screenplay by Alejandro González Iñárritu, Armando Bo, Nicolás Giacobone
Produced by Alejandro González Iñárritu, Jon Kilik, Fernando Bovaira
Cast: Javier Bardem, Maricel Álvarez, Hanaa Bouchaib, Guillermo Estrella, Eduard Fernández, Cheikh Ndiaye, Diaryatou Daff, Taisheng Cheng, Luo Jin, Ana Wagener


Sebelum Biutiful ini, gw udah menyaksikan 2 film karya sutradara Meksiko, Alejandro González Iñárritu yaitu 21 Grams dan Babel. Gw suka sekali dengan 21 Grams yang menyampaikan cerita tentang “kesempatan kedua”nya dengan acak2an tapi tidak membingungkan, lalu gw pun memuji Babel yang memaparkan dengan elegan tentang misunderstanding antarmanusia. Dilengkapi dengan Biutiful ini, gw menangkap persamaan dari gaya penyutradaraan González Iñárritu: pertama, ia senantiasa fokus pada momen2 personal—termasuk sex dan nudity, yeah ^_^”—meski latar filmnya sendiri berhubungan dengan peristiwa yang lebih besar dan penting. Kedua: film2nya nggak bisa langsung dibilang “bagus” atau “jelek” tanpa direnungkan selama beberapa lama—atau ini emang gwnya aja yg o’on, hehe...dan ketiga: semua bernuansa murung.

Karya González Iñárritu kali ini setingnya cuman di satu tempat, Barcelona Spanyol, dan tokohnya yang utama cuman 1 orang, Uxbal yang diperankan dengan gilang-gemilang oleh Javier Bardem. Kurang murung apalagi coba kalo ceritanya tentang seorang duda cerai beranak dua yang menghitung hari sisa hidupnya akibat kanker prostat yang terlambat didiagnosa. Lalu diceritakan bahwa Uxbal ini juga paranormal yang bisa menghantar arwah agar “berangkat” dengan tenang. Namun, rupanya hidup sebagai paranormal tidak cukup untuk menghidupi dirinya dan 2 anaknya yang masih kecil2, Uxbal pun selama ini juga terjun di underworld Barcelona nan keras, yang khusus bertugas sebagai liaison officer bagi para imigran ilegal China yg dipekerjakan bikin produk KW, juga imigran ilegal Senegal yang jadi pedagang  produk2 itu. Ketika kenyataan bahwa ia akan meninggal terasa begitu berat, hal itu ditambah lagi dengan datangnya sang mantan istri, Marambra (Maricel Álvarez) yang agak ada kepribadian ganda, plus juga tertangkapnya para imigran Senegal yang cepat atau lambat akan mengancam terbongkarnya imigran2 yang lain yang diurus Uxbal.

Momen demi momen bergulir bergantian sepanjang durasi yang cukup panjang, sampai tulisan ini dipublish gw kurang paham betul film ini tentang apa *o’on continues*. Hal yang bisa gw rasakan langsung dari film ini bukanlah apa yang mau disampaikan sutradara/penulis naskahnya, tetapi efek simpati dari tokoh Uxbal. Ia tentu ingin berbuat/meninggalkan sesuatu untuk anak2nya, ia ingin tenang sebelum benar2 tidak ada lagi di dunia, namun kemalangan demi kemalangan tidak memuluskan niat itu. Adalah sang mantan istri yang belum sembuh2 amat sehingga gw juga agak segan kalau anak2 Uxbal diurus Marambra, pun usahanya untuk sebisanya menyediakan yang terbaik dan terlayak bagi para imigran gelap bukanlah hal mudah. Bardem dengan sangat tepat memunculkan ketakutan, kepedihan, kegelisahan sekaligus ketegaran dan ketegasan Uxbal menjelang ajalnya yang menyakitkan, lewat ekspresi maupun reaksi terhadap sekitarnya—bukan hanya dengan cara mencak2 kayak di sinetron. Kunci gelap dan depresifnya film Biutiful ini memang berada di tangan Bardem, dan untuk yang ini, great job.

Ah, tapi gw nggak berhenti berusaha memahami film ini. Gw pun coba menghubungkan film dengan judulnya (sama seperti cara gw coba memahami Babel). Biutiful ini memang bahasa Inggris “beautiful” tapi salah ejaan. Satu adegan kecil yang berhubungan dengan ini adalah ketika putri Uxbal bertanya padanya cara mengeja beautiful, dan Uxbal pun membantunya jadi seperti itu tulisannya. Apa yang gw tangkep adalah bahwa biutiful merupakan ungkapan yang baik, yang menyenangkan, dinyatakan dengan niat yang mulia, namun karena dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak tau cara penulisannya yang benar, maka niat mulia itu menjelma dalam wujud/tulisan yang secara “aturan” adalah salah. Katakanlah Uxbal adalah wujud kata biutiful itu, ia bukan orang jahat, ia bahkan berusaha memberikan yang terbaik bagi orang2 yang mengandalkannya, niat yang mulia, bahkan ia hampir mengabaikan penyakitnya demi itu. Namun apa mau dikata, niat itu telanjur dimanifestasikan dalam dunia hitam yang menurut perangkat buatan manusia yang disebut “hukum” adalah salah. Lalu, kalau dipikir lagi, apakah “salah” sama dengan “jahat”?

Gw stop dulu perenungannya, mungkin butuh nonton kali kedua (kalo niat, hehe) untuk lebih mendalami apa yang coba disampaikan González Iñárritu lewat karya teranyarnya ini. Di lain pihak, kisah hari2 terakhir Uxbal diterjemahkan dengan nuansa yang sama depresifnya dengan Uxbal sendiri. Terakhir gw melihat kota Barcelona dalam film karya Woody Allen, Vicky Cristina Barcelona—yg lucunya juga dibintangi Bardem, yang tampak eksotik, santai, cantik, everything seemed just fine. Namun Barcelona di Biutiful ini disorot dari sisi yang hampir tak akan pernah ditaruh di buku travelling guide, kotor, gerah, bikin senewen, bahkan sampai ke sisi2 paling kumuh kalangan imigran yang tak layak ditinggali. Sinematografinya dengan baik menangkap itu. Memang secara gambar keseluruhan agak mirip dengan film2 González Iñárritu lain yang pernah gw tonton (kameranya suka nengok2 di dalem ruangan yg relatif kecil), namun kali ini banyak sekali menampilkan close-up wajah Uxbal yang menguatkan kesan (buat gw at least) bahwa—meski terdapat subplot sana-sini yg sama2 tragis—film  ini memang tentang Uxbal...dan gw belum singgung soal penampakan arwah dan bayangan yang gerakannya delay di sekitar Uxbal =).

So is Biutiful a good movie, you asked? So far, gw nggak berani bilang. Film ini murung bikin dahi mengernyit dengan durasi sepanjang 2,5 jam (dan memang terasa panjang), jadi jelas bukan film untuk pelepas stress (loe pikir?), bahkan untuk nangis buaya pun tidak bisa. Namun yang gw berani bilang, performa prima Bardem dan penggarapan González Iñárritu senantiasa membuat gw menaruh perhatian penuh ke layar. Satu misteri yang belum gw temukan jawabannya, ada apa dengan pergantian aspect ratio layar di awal dan akhirnya yah?




My score: 7/10

NB: perhatian, tenyata panggilan sayang klub sepakbola Barcelona, Barca tidak dibaca dengan "barka" melainkan "barsa", terima kasih.

2 komentar:

  1. ‎"Ternyata, Biutiful itu adalah film curhat, film yang didedikasikan buat almarhum ayahnya. Dan ini yg membuat aku terharu."

    BalasHapus
  2. @Ali: hoo, trims sharingnya. Mungkin itu sebabnya nuansanya lebih sentimentil daripada film2 Gonzalez Inarittu sebelumnya =)

    BalasHapus