Minggu, 01 Agustus 2010

[Movie] Shanghai (2010)


Shanghai
(2010 - The Weinstein Company)

Directed by Mikael Håfström
Written by Hossein Amini
Produced by Mike Medavoy, Barry Mendel, Jake Myers, Donna Gigliotti
Cast: John Cusack, Gong Li, Chow Yun-Fat, Ken Watanabe, David Morse, Franka Potente, Rinko Kikuchi, Jeffrey Dean Morgan



Shanghai hakikatnya adalah proyek ambisius, sebuah
joint venture internasional secara denotatif: sutradara Swedia, penulis keturunan Iran, sinematografer Prancis, komposer Jerman, editor dan desainer produksi Inggris, aktor2 dari Amerika, Hong Kong, Jepang, Jerman, Inggris, berseting di China syuting di Thailand dan London…campur2 layaknya penduduk kota Shanghai dalam filmnya. Shanghai ini adalah salah satu film yang memaksa gw untuk memasang ekspektasi yang besar. Dari trailernya yang menggoda lewat seting, kostum dan sinematografinya yang tampak cantik, premis yang lumayan, sampai yang terutama adalah barisan cast-nya yang sangat menggiurkan. Jika ada hal yang tampak meragukan, adalah sang sutradara yang belum dikenal terlalu luas dan belum punya track record yang kinclong untuk memancing harapan tinggi dalam menggarap film kelas internasional seperti Shanghai ini. Singkatnya Shanghai punya hampir segala bahan untuk menjadikannya sebuah karya yang baik, tapi, tapi, yang terjadi tidaklah demikian adanya.

Shanghai, China tahun 1940-an adalah miniatur dunia saat itu. Kota perdagangan internasional yang ramai, juga arena berbagai kepentingan beradu, dimana pihak2 berseberangan saat itu, Amerika-Inggris-Prancis dan Jerman-Jepang, dengan China sebagai
host-nya, berbaur di satu kota. Film ini berjalan ketika Jepang sudah menguasai China, namun tidak sepenuhnya Shanghai. Paul Soames (John Cusack) adalah seorang wartawan yang juga adalah agen intelijen AL Amerika Serikat di kancah perang dunia II. Sahabatnya, Connor (Jeffrey Dean Morgan) tewas ditembak secara misterius di distrik Jepang (ada apa dengan Morgan dan peran2 yang mati di awal film? =_=). Mengingat Connor adalah agen intel/mata-mata yang sedang dalam pengumpulan informasi, dan seandainya identitasnya itu terungkap, maka tersangkanya akan banyak sekali. Soames pun mulai menyelidikinya sedikit demi sedikit, namun di saat yang sama juga terlibat dalam lingkaran politik di kota itu lewat kedekatannya dengan Anna (Gong Li), istri dari dedengkot mafia Triad di Shanghai, Anthony Lan Ting (Chow Yun-Fat), bahkan berkenalan dengan kapten Jepang yang berkuasa di Shanghai, Tanaka (Ken Watanabe), yang bukannya tak mungkin berkaitan dengan kematian Connor.

Kalo dari segi cerita, gw sebenernya gak ada masalah. Malah naskahnya dengan baik menjelaskan suasana Shanghai jaman itu tanpa terlalu menganggu, dan keterkaitan sebab-akibat plotnya pun bisa dipertanggungjawabkan,
revelation misterinya pun jatuhnya tidak terlalu konyol—plus dialognya tidak dipaksakan selalu berbahasa Inggris, made sense lah penggunaannya. Memang benang merahnya misteri kayak detektif2an, tetapi lumayan oke juga dalam memasukkan drama dan intrik yang sebenarnya menarik. Ini sangat didukung oleh visualisasi Shanghai masa perang dunia II yang luar biasa bagusnya, terutama karena art directionnya yang mantep surantep top markotop banget dah dengan detil2nya (ternyata production designernya juga yang bikin seting Children of Men, pantesan ^_^), juga tata kostum dan sinematografi yang berkelas—bernuansa noir, mengingatkan gw sama Road To Perdition dan Kala. Penampilan aktornya sih tidak istimewa sekali, tapi sama sekali tidak buruk, tidak mencemarkan nama baik mereka, bahkan gw bilang John Cusack oke banget di sini, I can’t recall he has been this good before. Rasanya itu sudah cukup membuat film ini watchable bagi gw…but not really.

Tapi bener, sesungguhnya film ini termasuk kategori nggak rugi ditonton. Hanya saja film ini seperti tidak di-
deliver dengan semestinya. Misterinya nggak bikin penasaran2 amat, serta kurangnya intensitas dalam adegan2 yang seharusnya menjadi grafik naik mood film ini. Entah apa sektor editing bisa disalahkan (editingnya emang kurang mantep), atau musiknya yang kayak numpang lewat saja, tapi rasanya emang secara keseluruhan, perasaan “kurang” menyelimuti gw selepas nonton. Bisa jadi penataan adegannya yang memang tidak memberi impact yang berarti buat gw, terlalu generik. Harusnya filmnya nggak datar lho, wong banyak peristiwa2 yang seru kok, tapi ya tetep aja jadinya datar tuh. Klimaksnya yang "bergaya" pun jadinya agak klise kalo gak mau disebut basi.

Ada satu adegan yang cukup berkesan buat gw, sebuah adegan tanpa dialog ketika Mrs. Mueller (Franka Potente) nge-gep Soames sedang ngoprek2 kantor suaminya,
I think it’s the best scene in the film. Sayang sekali nggak ada lagi adegan2 lain yang yang sama membekasnya. Shanghai seakan jadi es campur (atau es Shanghai? =)) yang tampak cantik dan bahannya berkualitas, tapi diantar oleh pelayanan yang dingin dan tanpa senyum, could have been better. Namun untungnya secara keseluruhan film ini masih punya poin2 yang mencegahnya jadi film busuk. Dan jika memang produser eksekutif Weinstein bersaudara niat berpromosi, bisa jadi film ini nyelip di ajang Academy Awards, terutama untuk art direction, gw gak akan keberatan.



My score:
6,5/10

2 komentar:

  1. Membaca reviewnya sih, tampaknya film ini kemungkinan akan mendapat nominasi Oscar :D

    BalasHapus
  2. @Bang Mupi, saya sih berharap begitu. Art directionnya bagus banget, tapi mungkin kans di kategori lain sangat kecil, bukan film yang istimewa banget

    BalasHapus