Minggu, 27 Juni 2010

NAMA DI BALIK LENSA: 5 Sinematografer Favorit Saya

Apa itu 'sinematografi'? Satu yang pasti kata ini berhubungan dengan dunia film, dan tentu siapa pun bisa mencari tahu lewat buku-buku, atau yang paling mudah, wikipedia. Saya memang bukan ahli dalam bidang ini, namun secara pribadi berusaha membuat pengertian mudah bahwa 'sinematografi' adalah 'tata kamera' (baik untuk film bioskop maupun televisi), namun saya kira pengertian yang sebenarnya tidaklah sesederhana itu. Sinematografi berkaitan erat dengan fotografi, sama-sama berhubungan dengan kamera—walau berbeda jenis, sama-sama memakai lensa sebagai bagian vital, berhubungan dengan sudut pengambilan gambar, fokus, pencahayaan, efek, dan sebagainya. Bedanya, fotografi merekam sebuah momen menjadi gambar statis, sedangkan sinematografi menghasilkan gambar bergerak. Karena kesamaan prinsip itu, tak heran bila lazimnya orang yang bertanggung jawab atas sinematografi atau sinematografer sebuah film disebut sebagai "Director of Photography", disingkat DP atau DoP (namun perlu diingat sinematografer tidak selalu mengoperasikan kamera langsung).

Apa yang kita lihat di layar saat menonton film umumnya adalah hasil dari rekam sinematografi. Apakah gambar video yang kita rekam lewat telepon genggam juga disebut sinematografi? Saya tidak berani memastikan, namun saya hanya bisa bertanya balik: apakah foto yang kita ambil sewaktu liburan atau dipasang untuk profil facebook sama dengan foto yang dihasilkan oleh fotografer profesional semisal Darwis Triadi?


Bagi saya sinematografi adalah salah satu hal yang terpenting dari sebuah film. Jelas tanpa adanya sinematografi tidak akan dihasilkan sebuah film—film bisa saja dibuat tanpa naskah, tanpa aktor, tanpa dialog, tanpa musik, atau tanpa suara, tapi wajib direkam kamera, bukan? Namun di luar itu, saya termasuk orang yang senang dipuaskan secara visual ketika menonton film. Saya suka dengan film yang menampilkan gambar-gambar yang diambil secara kreatif, unik, dan, yang terpenting (meskipun subjektif), indah. Bahkan bila tata artistik ataupun adegan yang direkam itu simpel, sinematografer yang baik pasti bisa membuatnya tetap bagus dipandang dan tersampaikan maknanya.

Tugas seorang sinematografer pada hakikatnya adalah menghasilkan rekaman gambar yang sesuai dengan visi sutradara dalam menerjemahkan naskah, entah itu lewat objek dan latar yang ditangkap, pencahayaan, pergerakan kamera, sudut pengambilan—biasa disebut angle, warna, dan banyak lagi hal lainnya. Dari sini saja, dapat dibayangkan bahwa seorang sutradara sebagai yang mengepalai proses dan hasil sebuah karya film harus hati-hati dalam memilih sinematografer, agar sesuai dengan visi dan hasil yang diinginkan, bahkan kalau bisa membawa visinya itu lebih jauh dan hasil yang lebih baik daripada yang diinginkan.

Baru-baru ini saya mencoba mencatat beberapa nama sinematografer atau director of photography yang sering saya temukan di film-film yang pernah saya tonton, kemudian saya rampingkan menjadi lima nama yang paling saya sukai hasil karyanya. Apakah mereka, sadar atau tidak, favorit Anda juga?



1. Janusz Kaminski


Saya yang lebih mengenal film-film karya sutradara Steven Spielberg sejak zaman Saving Private Ryan (1998), amat sangat familiar dengan nama sinematografer asal Polandia ini. Janusz Kaminski seperti jodoh sejati Spielberg sejak mahakarya Schindler's List (1993). Tak pelak film-film yang direkam oleh Kaminski yang pernah saya tonton hampir semuanya adalah karya Spielberg, total ada sembilan film. Pemenang sepasang piala Oscar ini memang tak pernah gagal dalam menerjemahkan visi Spielberg dalam film-film yang bervariasi temanya. Gambarnya bisa sangat muram dan realistis seperti di Schindler's List dan Saving Private Ryan, bisa terang namun misterius seperti War Of The Worlds (2005) dan A.I. Artificial Intelligence (2001), bisa lincah dan berwarna dalam Catch Me If You Can (2002) dan The Terminal(2004), bisa gelap dan sangat dinamis di Minority Report (2002), natural konvensional di The Lost World: Jurassic Park (1997), ataupun mencekam dan sendu seperti dalam Munich (2005). Tampaknya, apapun nuansa yang diinginkan—laga, drama, komedi—Kaminski pasti bisa mewujudkannya, dan umumnya dengan sangat berhasil dan enak dipandang.

Schindler's List

Selain sembilan film karya Spielberg tadi, satu lagi proyek yang melibatkan Kaminski yang pernah saya saksikan adalah film berbahasa Prancis, The Diving Bell and The Butterfly (2007) besutan Julian Schnabel. Di sini pun beliau dengan tanpa cela menampilkan serangkaian gambar yang unik dalam film yang penceritaannya juga tak biasa. Ciri karya Janusz Kaminski pun cukup tertanam dalam benak saya:
angle dinamis, sangat lincah bergerak, serta tak ragu-ragu bermain cahaya, kontras, fokus, dan kemiringan kamera, yang hampir pasti berhasil memberikan efek dramatis yang meyakinkan.

Karya Janusz Kaminski lainnya yang cukup terkenal tetapi belum saya saksikan antara lain: Jerry Maguire (1996); Amistad (1997); Indiana Jones And The Kingdom Of Crystal Skull (2008); Funny People (2009), dan sebagainya.




2. Emmanuel Lubezki


Sinematografer asal Meksiko ini bukanlah nama yang sering ditemukan di film-film yang saya tonton. Tercatat saya hanya pernah menyaksikan enam film yang melibatkannya, itu pun salah satunya The New World (2005) karya Terrence Malick, saya saksikan di televisi tidak sampai selesai. Namun, nama Emmanuel Lubezki langsung jadi favorit karena saya jatuh cinta dengan film Children Of Men (2006) karya Alfonso Cuarón. Film ini—yang merupakan salah satu film favorit saya sepanjang masa—memang luar biasa terutama secara visual, dan sudah pasti olah rekam Lubezki turut ambil bagian penting. Meski latar Children of Men ada dalam dunia fiksi yang jauh dari kesan gemerlap, namun Lubezki sangat berhasil merekam gambar dengan realistis, artistik, berintensitas tinggi, berani, tepat, dan memikat, sangat memikat.


Rupanya, dalam film-film yang lainnya Lubezki tak kalah bertaji. The New World yang bernuansa sejarah menunjukkan kemampuan Lubezki menangkap keindahan sekaligus keliaran alam dari jarak dekat, dan Lemony Snicket's A Series Of Unfortunate Events (2004) milik sutradara Brad Silberling membuktikan kepiawaiannya menangkap kecantikan dari desain artistik sebuah film fantasi yang terlihat menyatu dengan para aktornya, senada dengan yang dilakukannya dalam A Little Princess (1995) karya—lagi-lagi—Alfonso Cuarón. Lubezki memang paling sering berkolaborasi dengan Cuarón yang notabene rekan senegaranya. Selain Children Of Men dan A Little Princess, film hasil kolaborasi mereka yang pernah saya tonton adalah Great Expectations (1998) yang berjenis romansa puitis dan Y Tu Mamá También (2001), sebuah drama-komedi seputar pubertas, keduanya pun sukses menampilkan gambar-gambar mengagumkan, serta khusus untuk Y Tu Mamá También, memamerkan beberapa
angle yang mengejutkan.

Children Of Men

Dari beberapa filmnya yang saya tonton, Lubezki memang memiliki ciri yang jarang dimiliki sinematografer lain. Warna-warna yang dihasilkan cenderung terkesan gelap namun tetap tajam, cahaya serta
angle yang digunakan cenderung berani, dan pergerakan kamera yang dilakukannya sangat dinamis namun mulus dan tepat guna tanpa harus jadi memusingkan. Latar dan aktor senantiasa tampak pas proporsinya, serta pemandangan yang terlihat biasa saja dan kerap terabaikan dapat ditangkap dengan sedemikan rupa menjadi lezat disaksikan di layar lebar. Saya merasa bahwa Lubezki tengah pelan-pelan menapak menjadi salah satu sinematografer terbaik di indurstri perfilman. Setelah empat kali memperoleh nominasi Academy Awards, tinggal masalah waktu saja Lubezki akan memperoleh penghargaan prestisius itu.

Film-film Lubezki yang lain yang belum sempat saya saksikan antara lain Reality Bites (1994); A Walk In The Clouds (1995); The Birdcage (1996); Meet Joe Black (1998); Sleepy Hollow (1999); Ali (2001); The Cat In The Hat (2003); Burn After Reading (2008), dan lain-lain. Untuk tahun ini, Lubezki akan kembali bekerja sama dengan Terrence Malick dalam film Tree Of Life (2010).




3. Roger Deakins


Roger Deakins, pria kelahiran Inggris tahun 1949 ini bisa jadi salah satu sinematografer paling dicari di ranah film Hollywood maupun dunia. Dari puluhan rekam jejak karya filmnya, saya ternyata sudah menyaksikan 11 di antaranya, ditambah dua film animasi, Wall-E (2008) dan How To Train Your Dragon (2010) yang melibatkan beliau sebagai konsultan visual, sehingga menjadikan Deakins sebagai sinematografer yang paling sering saya tonton film-filmnya. Beberapa filmnya yang saya ingat betul antara lain A Beautiful Mind (2001), No Country For Old Men (2007), The Reader (2008, bagian yang melibatkan Kate Winslet saja), Doubt (2008), dan tentunya film yang kerap didapuk sebagai salah satu terbaik sepanjang masa, The Shawshank Redemption (1994).

Dari yang saya saksikan, kolaborator tetap duo sineas Coen bersaudara ini sepertinya belum pernah terlibat dalam film yang terlalu hingar bingar, umumnya bergenre drama berlaju tenang, namun gambar-gambar yang ditangkapnya bukannya tidak istimewa. Roger Deakins senantiasa menampilkan gambar yang bersih, mulus, sudut-sudut pengambilan yang kreatif, permainan fokus nan tajam, pencahayaan yang padu, pergerakan yang lembut, dan sempurna dalam menangkap ekspresi wajah aktornya. Singkatnya: indah dan tepat. Tak hanya itu, Deakins pun selama ini mengerjakan film-film yang tidak termasuk kategori tercela, sehingga seakan ada jaminan bahwa film yang melibatkan Deakins pasti layak tonton. Terbukti, film-film yang tata sinematografinya dikerjakan oleh Deakins minimal menuai tanggapan positif oleh kritikus hingga kerap masuk unggulan Academy Awards. Deakins sendiri sampai saat ini mengantongi delapan nominasi untuk kategori sinematografi meski—sayangnya—belum berkesempatan menerima piala itu satu pun.



The Shawshank Redemption

Film Roger Deakins lainnya yang pernah saya tonton antara lain: Fargo (1996); O Brother, Where Art Thou? (2000); Intolerable Cruelty (2003); House Of Sand And Fog (2003); The Ladykillers (2004); dan The Village (2005). Sedangkan film-filmnya yang terbilang terkenal namun belum saya tonton antara lain: Dead Man Walking (1995); Courage Under Fire (1996); Kundun (1997); The Big Lebowski (1998); The Hurricane (1998); The Man Who Wasn't There (2001); Jarhead (2005); In The Valley Of Elah (2007); The Assasination Of Jesse James By The Coward Robert Ford (2007); Revolutionary Road (2008); A Serious Man (2009), dan sebagainya.




4. Yadi Sugandi


Yadi Sugandi mungkin adalah salah satu sinematografer Indonesia terbaik saat ini, dan memiliki potensi yang layak dibanggakan. Yadi cukup aktif terlibat dalam film-film nasional semenjak awal kebangkitannya pada tahun 2000-an. Saya sendiri sudah menonton enam filmnya, yaitu Petualangan Sherina (2000), 3 Hari Untuk Selamanya (2007), The Photograph (2007), Under The Tree (2008), Laskar Pelangi (2008), dan baru-baru ini Minggu Pagi di Victoria Park (2010). The Photograph milih Nan T. Achnas adalah film yang membuat saya salut dengan Yadi, karena gambar yang ditampilkan bersih, nyaman dan sangat cantik di tengah kesederhanaan setingnya, bersahaja dan meyakinkan. Kekaguman saya berlanjut di Laskar Pelangi karya Riri Riza, bahwa Yadi berhasil menangkap pemandangan eksotis pulau Belitung dari berbagai sisi dengan luar biasa indah. Tak hanya lewat media film seluloid, Yadi pun tidak gagal merekam lewat format digital dalam film Under The Tree karya Garin Nugroho, setiap angle yang dipilihnya terasa artistik yang rasanya sesuai dengan visi sang sutradara yang dikenal nyeni, meski sayang presentasi gambarnya di bioskop terdegradasi oleh proses transfer dari digital ke film seluloid, sehingga terlihat buram.

The Photograph

Di luar enam film tersebut, film-film lain hasil sorotan kamera Yadi Sugandi yang belum saya simak antara lain Kuldesak (1999); Pasir Berbisik (2001); Eliana, Eliana (2002); Garasi (2006); Jatuh Cinta Lagi (2006); Koper (2006); Pesan Dari Surga (2006); dan Lost In Love (2008), dan lain-lain.




5. Robert Richardson



Awalnya saya kurang ngeh dengan nama ini, mungkin karena faktor Robert Richardson adalah nama yang sangat umum untuk orang Amerika atau Britania sana. Akan tetapi, ketika saya memeriksa filmografinya, ternyata saya sudah menonton enam buah film beliau. Saya termasuk mengagumi kinerja bapak gondrong ini dalam karya sutradara Quentin Tarantino, yaitu Kill Bill Vol. 1 (2002), Kill Bill Vol. 2 (2003), dan Inglourious Basterds (2009), serta dua karya Martin Scorsese yaitu The Aviator (2004) yang membuahkannya sebuah piala Oscar, dan yang teranyar Shutter Island (2010). Satu filmnya yang saya lupa lupa ingat adalah A Few Good Men (1992) yang beberapa kali tayang di televisi, meski seingat saya sinematografi film itu tidak semembekas film-film yang disebutkan sebelumnya. Dari yang telah saya saksikan, ciri yang menonjol dari film-film Richardson adalah angle yang kadang ekstrim dan sumber pencahayaan yang kreatif, serta menyorot detil-detil dari dekat dengan cantiknya. Mungkin itu sebabnya ia sering diajak kerja sama oleh sutradara-sutradara bervisi antik seperti Tarantino, Scorsese, dan Oliver Stone.

Inglourious Basterds

Banyak sekali film terkenal yang melibatkan Richardson namun belum sempat saya saksikan, di antaranya Platoon (1986); Wall Street (1987); Born On The Fourth Of July (1989); The Doors (1991); JFK (1991) yang membuahkan Oscar pertamanya; Natural Born Killers (1994); Casino (1995); Nixon (1995); Wag The Dog (1997); The Horse Whisperer (1998); Snow Falling On The Cedars (1999); The Good Shepherd (2006), dan sebagainya. Ditambah lagi tahun ini Richardson menjadi sinematografer untuk film yang turut mengambil lokasi syuting di Bali, Eat Pray Love (2010). Semoga saja tangkapan kameranya juga seindah pulau Dewata aslinya.




Selain lima nama di atas, berikut beberapa nama lain yang sering saya temukan dalam film-film yang saya tonton, namun sayangnya belum sampai jadi favorit saya:


-
John Seale (Dead Poets Society, The English Patient, City of Angels, The Perfect Storm, Harry Potter and The Sorcerer's Stone, Dreamcatcher, Cold Mountain dll.)
-
Dion Beebe (Equillibrium, Chicago, Collateral, Memoirs of a Geisha, Miami Vice, Nine, dll.)
-
Oliver Wood (Mighty Joe Young, Freaky Friday, Fantastic Four, The Bourne trilogy, dll.)
-
Andrew Lesnie (Babe, The Lord Of The Rings trilogy, King Kong, dll.)
-
Christopher Doyle (The Quiet American, Hero, 2046, Lady In The Water, dll.)

Hero (sinematografi oleh Christopher Doyle)


6 komentar:

  1. wajib nonton Revolutionary Road, oke bgt...

    BalasHapus
  2. @anonim, pengen nonton Revolutionary Road, tapi blum ada kesempatan ^_^;

    BalasHapus
  3. saya sering dengernya Tak Fujimoto hehe sering kerja bareng Shyamalan tuh

    BalasHapus
  4. @Fariz: ho iya, tapi film Fujimoto yang gw tonton nggak sampe 5 film: 3 filmnya Shyamalan + Silence Of The Lambs saja =)

    BalasHapus
  5. Aku suka Emmanuel Lubezki dan Roger Deakins. Mantap nih dua orang ini

    BalasHapus
  6. @gilasinema: Deakins tuh cantik, Lubezki tuh keren =) *maksudnya hasil karyanya lho*

    BalasHapus