Minggu, 24 Februari 2019

Tebak-tebakan Pemenang The 91st Oscars

Ahh...sudah tiba waktunya untuk embahnya award-award-an di dunia, The Oscars. Serius, udah tinggal hitungan jam lho dari saat postingan ini terbit. Awards season tahun ini di Hollywood sepertinya jadi salah satu yang paling banyak ulah. Bukan akibat iklim industrinya yang didorong untuk kedepankan diversity dan equal opportunity, bukan juga hanya karena calon-calon pemenangnya yang (akhirnya) sulit ditebak, melainkan terutama karena si Academy of Motion Pictures Arts & Sciences (AMPAS) yang labil banget dalam penyelenggaraannya. Pernah denger wacana penghargaan khusus "popular film" digelontorkan tahun lalu yang kemudian jadi bahan olok-olok di media sosial sehingga akhirnya dibatalin? Atau udah diumumin host Kevin Hart tapi terus nggak jadi gara-gara jejak digital-nya, dan lama banget nggak ada penggantinya akhirnya ditentukan acaranya nggak pakai host? Dan beberapa hal lainnya yang bikin kelabilan Academy lebih banyak diomongin netizen daripada ribut-ribut siapa yang layak menang hahaha.

Ya sudahlah ya, nggak bisa ditahan bahwa setiap perhelatan Oscar, para penggemar film seperti gw pasti mau ikutan nebak-nebak siapa saja yang akan mendapat piala. Seperti gw singgung tadi, tahun ini jadi yang cukup sulit ditebak karena setiap nomine ada aja catch-nya, sedikit sekali yang "pasti menang". Untuk itu, kayaknya gw akan nggak terlalu sedih apabila tebakan gw banyak salah hehe. Baiklah, berikut tebakan gw untuk para peraih piala Oscar di tahun ke-91 ini.




best picture
GREEN BOOK

Menebak kategori ini sekarang ternyata lebih memeras pikiran daripada tahun lalu. Para kritikus kayaknya banyak memberi dukungan pada Roma--yang akan sangat gw amini =). Tetapi, dari ajang-ajang yang dinilai oleh langsung para pekerja film Hollywood, yang sebagian dari mereka juga ikut nge-vote buat Oscar, punya hasil yang berbeda-beda. Di antara ajang yang terbesar, asosiasi aktor (SAG-AFTRA lewat ajang Screen Actors Guild Awards) memberi penghargaan utama pada Black Panther, asosiasi sutradara (DGA) mengganjar Roma, lalu asosiasi produser (PGA) kasih ke Green Book.

Tebakan gw pemenang Oscar nanti bisa jadi ada di antara tiga ini, tetapi ketiga film ini juga punya sisi yang memberatkan. Black Panther itu mungkin pilihan terlalu ekstrem karena status blockbuster-nya, entah Oscar sudah siap untuk ke arah sini sekarang. Roma akan jadi jagoan banyak pengamat, tetapi apakah Oscar juga ridho menganugerahkan penghargaan tertinggi untuk film yang tadinya hanya akan dirilis langsung di layanan streaming Netflix (walau akhirnya tayang di bioskop terbatas beberapa minggu sebelum muncul di Netflix supaya penuhi syarat masuk Oscar), belum lagi filmnya berbahasa non-Inggris. Green Book yang pure drama "materi Oscar banget" juga belakangan dapat banyak kecaman karena dianggap nggak tepat dalam gambarkan diskriminasi ras.

Namun, menurut gw tetap Green Book yang punya kesempatan agak paling besar, berkaca pada ajang PGA Awards yang metode pemilihannya mirip sama Oscar yaitu preferential ballot--berdasarkan pilihan terbanyak dan bobot pilihannya. Para nomine yang masing-masing banyak pro-kontra membuat pilihan nomor satunya kemungkinan akan terbagi-bagi banget, sehingga akan menguntungkan film yang lebih banyak di pilihan nomor dua atau tiga (nggak dianggap terrrbaik tapi bukan yang terbapuk juga), dan gw rasa itu akan terjadi pada Green Book. Yah namanya juga nebak.

pleasant surprise: ROMA



directing
ROMA

Ini bukan karena gw pemuja Alfonso Cuaron ya, tapi Directors Guild of America (DGA) Awards sudah bersabda ya masak gw harus menyangkal =)).



actor in a leading role
Rami Malek, BOHEMIAN RHAPSODY

Tebakan paling aman berhubung Screen Actors Guild (SAG) Awards dan bahkan British Academy Film Awards (BAFTA) memahkotai si mas keturunan Mesir ini. Bukan favorit personal gw ya, apalagi kalau menilai senioritas, saingan di kategori ini berat-berat banget. Kalau mau surprise banget ala kemenangan Adrien Brody tahun 2004 di The Pianist (yang nggak pernah menang penghargaan-penghargaan pra-Oscar), pengennya sih antara Bradley Cooper atau Christian Bale. Atau Willem Dafoe. Atau Viggo Mortensen *lah semuanya dong*.

pleasant surprise: Bradley Cooper, A STAR IS BORN



actress in a leading role
Glenn Close, THE WIFE

Pegangan tante Glenn tahun ini adalah semua ajang menominasikan dia di kategori ini, dan memenangkan sebagian besarnya. Sempet agak goyah ketika BAFTA justru memilih Olivia Colman dari The Favourite, tetapi mengingat ada unsur overdue (harusnya dari dulu sudah dapat Oscar tapi  nyatanya nggak dapet-dapet), bolehlah kali ini Oscar-nya jatuh ke mantan pemeran Cruella De Vil ini =D.



actor in a supporting role
Mahershala Ali, GREEN BOOK

Sama dengan Rami Malek tadi, yaitu SAG dan BAFTA kompakan memilih bang Ali, jadi kemungkinan besarnya Oscar bisa juga diraih. Dan lucu juga nanti di berita-berita bahwa dua pemenang Oscar tahun ini namanya bernuansa Timur Tengah =).




actress in a supporting role
Rachel Weisz, THE FAVOURITE

Inilah kategori yang paling mbingungin tahun ini selain Best Picture. Pemenang SAG Awards di kategori ini, Emily Blunt (A Quiet Place) nggak masuk nominasi Oscar. Pemenang BAFTA, Rachel Weisz (The Favourite) masuk sih, tapi di BAFTA pesaing-nya agak beda dengan yang di Oscar, dan kayaknya baru itu ajang besar yang diraihnya. Bahwa Regina King (If Beale Street Could Talk) adalah aktris yang makin dikenal prestasinya di Amerika--beberapa kali dapat Emmy Awards lewat beberapa serial TV, juga jadi kontender cukup kuat sejak didorong lewat kemenangan di ajang-ajang penghargaan kritikus film macam Golden Globe dan Critics' Choice Awards. Tapi, serius, gw bener-bener nggak ada tebakan pasti di sini, jadi akhirnya milih yang secara statistik masuk nominasi di semua ajang penghargaan itu dan pernah menang.

pleasant surprise: Amy Adams, VICE, just because




animated feature film
SPIDER-MAN: INTO THE SPIDER-VERSE

Semoga ya! Dengan banyaknya penghargaan yang diraih film ini, nyapu nyaris bersih malah, bisa benar-benar terjadi juga di Oscar. Ya tapi jangan kaget juga sih kalau akhirnya yang dapet malah Ralph Breaks the Internet atau Incredibles 2, secara kecenderungan kategori ini 'kan Disney atau Pixar gitu de...


pleasant surprise: MIRAI, udah lama anime Jepang nggak menang euy.




cinematography
A STAR IS BORN

Bold choice? Naah. Berhubung ini kategori yang paling random nominasinya, nggak mirip sama ajang-ajang pra-Oscar, jadi tebakan yang manapun sah-sah aja, hehe. 

pleasant surprise: ROMA




costume design
THE FAVOURITE

Film latar ningrat zaman dahulu kala selalu punya faktor yang menarik buat para voter Oscar. Padahal kalau mau embrace film blockbuster macam Black Panther, kategori ini buat gw adalah yang paling pantes dan paling tepat.

pleasant surprise: BLACK PANTHER




film editing
BOHEMIAN RHAPSODY

Untuk kategori yang random harus lemparkan tebakan yang random juga. Gw pribadi sih lebih rela film ini menang di kategori ini ketimbang yang lain *eh*.




makeup and hairstyling
VICE

Coba google "vice movie" lalu silakan yakinkan diri bahwa orang yang kalian lihat di foto itu adalah Christian Bale dan Amy Adams. Monggo.




original score
BLACKKKLANSMAN

Masih dalam rangka nebak-nebak buah manggis semata.




original song
"Shallow", A STAR IS BORN

Nah kalau ini kategorinya tiap tahun memang random, jadi nebak-nya seharusnya nggak perlu analisis lebih. Gw nebak "Shallow" karena paling terkenal, tapi mengingat nature kategori ini, who knows. Malah bisa jadi "I'll Fight" dari dokumenter (!) RBG yang dapat.




production design
THE FAVOURITE

Mirip sama kostum, yang latar tempo doeloe semacam punya nilai plus buat Oscar. Tapi, akan sangat senang sekali hatiku kalau Roma, notabene juga latar zaman lampau, bisa menang di sini juga.

pleasant surprise: ROMA




sound editing
FIRST MAN

Tebak manggis lagi. Gw akan taruh dua film berbeda di kategori Sound Editing dan Sound Mixing karena kemungkinan pemenang dua kategori akan sama, jadi kesempatan gw untuk nebak satu bener lebih terbuka, hehe.

pleasant surprise: ROMA




sound mixing
BOHEMIAN RHAPSODY

Film dengan unsur musik lebih sering menang di sini jadi ya sudahlah tebak ini aja di sini, tapi prinsip yang gw sebut di atas (sound editing) tetep berlaku.

pleasant surprise: ROMA




visual effects
AVENGERS: INFINITY WAR

Biar rating acara TV-nya naik nanti.

pleasant surprise: READY PLAYER ONE




adapted screenplay
BLAKKKLANSMAN

Premisnya agak konyol tapi timely dengan keadaan Amerika Serikat saat ini, jadi sepertinya voting akan condong ke sini.




original screenplay
GREEN BOOK

Mau bagaimana pun, sebelum ribut-ribut di media soal isu yang diangkat di dalamnya, Green Book adalah feel good movie yang dijagokan banyak pihak, jadi ada kemungkinan di kategori ini akan dapat.




foreign language film
ROMA (Mexico)

Yang paling banyak diungkit, kemungkinan akan paling banyak di-vote. Dan kebetulan gw juga dukung penuh film ini, hehe




documentary feature
RBG

Karena subyeknya, Hakim Agung Ruth Baden Ginsburg lagi lumayan terkenal kayaknya, jadi ini aja amannya.



documentary short
A NIGHT AT A GARDEN

Tebak aje....



animated short film
BAO

Tebbak aje...



live-action short film
SKIN

Tebbbakkk aje....



So, nggak ada salahnya tebak-tebakan dong, nanti akan kita cocokkan dengan hasilnya saat acara penganugerahan The 91st Oscars yang akan dihelat pada Senin, 25 Februari 2019 pagi WIB. Santai ajalah kalau banyak yang salah heuheu.

Jumat, 08 Februari 2019

My Movie Picks of January 2019

Yuklah mari kita mulai 2019 ini dengan postingan daftar film-film terkece yang berhasil gw tonton selama bulan Januari. Sebagaimana gw pernah jelaskan, dalam senarai bulanan gw mengumpulkan film-film paling berkesan dalam urutan preferensi, baik yang gw tonton di bioskop maupun media lain dalam bulan bersangkutan, tapi yang memang gw baru pertama kali tonton alias bukan nonton ulang. Dan, bulan Januari ternyata memunculkan judul-judul yang termasuk kuat, a good way to start the new year.






1. Roma
(2018 - Netflix/Participant Media/Esperanto Filmoj)
dir. Alfonso Cuarón
Cast: Yalitza Aparicio, Marina de Tavira, Diego Cortina Autrey, Carlos Peralta, Marco Graf, Daniela Demesa, Nancy García García, Verónica García, Fernando Grediaga, Jorge Antonio Guerrero, José Manuel Guerrero Mendoza


Melanjutkan keyakinan dan keimanan bahwa Yang Mulia Baginda Cuarón nggak pernah mengecewakan diriku, film ini hadir sebagai sebuah sajian yang lagi-lagi tampil berbeda, namun sekaligus menampilkan unsur-unsur yang pernah ditampilkan di film-film doski sebelumnya--serius, bahkan ada astronot (Gravity?) dan mainan sulap (Harry Potter? =P). Di antara kecermatan audio visual yang tiada banding, akting yang mengalir natural, dan unsur-unsur ekstrinsik *aihh* yang menopang komplet kisahnya--berlatar Meksiko 1970-an dengan gejolak politik dan sosialnya, bagian yang paling mengena buat gw justru pada sudut pandang yang dipilih. Seluruh kisah ini bertumpu pada Cleo, gadis berlatar belakang ras asli tanah Meksiko, yang kerja dan tinggal sebagai asisten rumah tangga di rumah sebuah keluarga kelas menengah di Mexico City. Tentang keseharian menjalani hidup merantau, dengan separuh--atau lebih--hidupnya diberikan untuk keluarga yang jadi majikannya itu. Biasanya, banyak kisah rumah tangga dituturkan hanya dari si majikan yang cuma ngeh hal-hal tertentu tentang kehidupan si ART--nggak usah di dalam cerita-cerita, di kehidupan nyata juga gitulah. Di film ini kayak ditukar bahwa penonton akan tahu banyak detail soal Cleo, tetapi kejadian-kejadian (yang terheboh pun) di keluarga majikannya hanya diketahui potongan-potongannya. Mau ngulik detail juga segan, karena meski akrab dan "dianggap" bagian dari keluarga, tinggal di rumah yang sama, sering berbagi ruang yang sama, bahkan sebenarnya ada kasih sayang tulus di antara mereka, tetapi pembatas antara dunia mereka akan selalu ada, dan mungkin tak akan pernah hilang. Bahwa film ini mampu menyelipkan pemikiran-pemikiran tersebut, dan banyak banget lagi pemikiran lainnya sepanjang film, tanpa nggurui "harusnya lo begini" atau "harusnya lo jangan begini", adalah bukti kinerja seorang maestro.
My score: 8,5/10






2. The Mule
(2018 - Warner Bros.)
dir. Clint Eastwood
Cast: Clint Eastwood, Bradley Cooper, Michael Peña, Dianne Wiest, Taissa Farmiga, Alison Eastwood, Laurence Fishburne, Ignacio Serricchio, Andy Garcia, Clifton Collins Jr.


Walau mungkin film-filmnya opa Eastwood nggak semuanya gw demen, tapi bersyukur bisa nonton yang satu ini di bioskop. Straightforward drama terinspirasi kisah nyata yang nggak neko-neko, namun bertutur lancar jaya, mampu memikat dari awal hingga akhir. Ini adalah pertama kali sejak 10 tahun terakhir opa Eastwood membintangi film yang disutradarainya sendiri (terakhir Gran Torino yang juga baguss), dan apa peran yang paling tepat di masa tuanya selain jadi seorang kakek-kakek pengantar narkoba selundupan, yekan =D. Sudut kriminal aparat AS vs mafia narkoba Meksiko mungkin rutin saja sih tampilannya di sini, tetapi bisa diimbangi dengan sisi tenderness yang dahsyat tentang persoalan keluarga si kakek, plus performa simpatik penuh karisma dari opa Eastwood.
My score: 8/10






3. Keluarga Cemara
(2019 - Visinema Pictures)
dir. Yandy Laurens
Cast: Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Zara JKT48, Widuri Puteri, Asri Welas, Abdurrahman Arif, Yasamin Jasem, Kafin Sulthan, Maudy Koesnaedi, Gading Marten, Ariyo Wahab


Ada dua hal yang bisa gw tarik kesimpulan dari film ini. Pertama, sebagai produk pengembangan IP (intellectual property), dalam hal ini dari seri cerita+serial TV lawas karya Arswendo Atmowiloto, film ini adalah adaptasi dan pemutakhiran yang efektif. Menghormati apa yang sudah pernah diterbitkan jauh sebelumnya, yakni kisah-kisah sederhana dari tokoh-tokoh yang sederhana, namun bisa tetap masuk dengan pola pikir zaman kini. Gw merasa nggak ada yang terlalu ujug-ujug nghayal di sini, termasuk brand placement-nya yang lumayan gede ya =P. Well, mungkin terkecuali pada upaya si skenario dalam "menutup-nutupi" nama asli Abah dan Emak, hehe. Kedua, dan yang paling matters, adalah pembangunan emosi yang luar bisa kena. Tanpa harus di-boost dengan akting histerikal ataupun musik ngegas, film ini sukses mengalir kalem, menghangatkan hati, dan sesekali menggelitik, nyelekit, hingga pada saatnya menampilkan momen-momen menonjok emosi.
My score: 8/10






4. Green Book
(2018 - Universal/Participant Media/DreamWorks Pictures/Amblin Partners)
dir. Peter Farrelly
Cast: Viggo Mortensen, Mahershala Ali, Linda Cardellini, Dimiter D. Marinov, Mike Hatton, Sebastian Maniscalco


Sari ceritanya sih agak standar, dua orang dengan latar belakang berseberangan yang dipersatukan oleh suatu keadaan dan kepentingan, dan dalam perjalanannya saling memberi pengaruh perubahan. Namun, yang bikin menarik adalah kompleksnya dua karakter yang dipertemukan di sini, apalagi dengan latar Amerika era 1960-an yang masih kental sentimen ras. Ada Tony Lip yang semacam ngikut aja apa yang ada di lingkungannya, jadi bouncer hayuk, jadi sopir hayuk, gaul sama mafia hayuk, berlaku rasis sama orang berkulit hitam ya hayuk juga, asal bisa survive. Lalu ada Dr. Don Shirley, musisi jenius (bukan nama bank ya) dan bergelar akademik tinggi, kaya, namun tetap banyak benturan sana-sini karena ia berkulit hitam. Hasilnya adalah film yang mengusung isu penting tetapi mampu menonjolkan kehangatan bahkan kejenakaan. Walau buat gw tone dan lajunya agak terlalu nyantai dan kelihatan banget "pesan moral" yang ingin ditekankan sejak awal, toh film berdasar kisah nyata ini berhasil merangkai diri jadi tontonan yang menyenangkan, apalagi dengan interaksi antara Mortensen dan Ali sebagai Tony dan Dr. Shirley yang jadi sumber energi terbesarnya.
My score: 7,5/10






5. Glass
(2019 - Universal/Buena Vista International)
dir. M. Night Shyamalan
Cast: James McAvoy, Bruce Willis, Samuel L. Jackson, Sarah Paulson, Anya Taylor-Joy, Spencer Treat Clark, Charlayne Woodard, Luke Kirby, Adam David Thompson


Jujur gw salah satu yang girang ketika pada bagian ujung film Split (2017) terungkap bahwa film itu masih terkait sama film Unbreakable (2000), dan bahwa akhirnya kedua film tersebut dibuatkan satu "sekuel gabungan" dalam Glass. Benang merah kedua film yang gw sebut di awal adalah menyorot tokoh-tokoh yang kita kenal sebagai superhero dan supervillain, tapi dalam pendekatan yang lebih realis dan kemasan genre yang berbeda-beda--Unbreakable itu drama supranatural, Split itu horor-thriller. Glass adalah rangkuman atas benang merah itu, tetapi lagi-lagi dari sisi yang nggak biasa. Gw juga nggak yakin genre yang ingin diusung di sini--apakah thriller kriminal, drama psikologis, atau murni aksi superhero, yang jelas ini semacam upaya Shyamalan "mengacak-ngacak" cara menuturkan kisah sejenis. Walau isi ceritanya nggak baru-baru amat, jujur lagi, gw tetap merasakan gembira ketika menonton ini. Gw kayak mau aja "dibodohin" sama Shyamalan dan segala twist-and-turns bertuturnya. Mungkin karena jasa para aktornya yang keren-keren (banget) mainnya, atau karena ketidakstandaran gayanya, atau mungkin karena gw, yang menganggap The Last Airbender (2010) dan After Earth (2013) masih ada nilai baiknya, memang nggak pernah benci-benci amat sama film-film Shyamalan =P.
My score: 7,5/10