Minggu, 30 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2018

Menyusun kategori album adalah yang paling sulit buat gw, terutama disebabkan pola mendengarkan musik yang kini lebih sering dengerin lagu per lagu, atau malah kalau dengerin di aplikasi streaming sering kesela iklan (qarna qu mizcheen...) atau nggak sengaja klik shuffle =P. Jadinya memang tidak terlalu banyak album yang gw kulik secara mendalam, sehingga prasyarat untuk bikin senarai akhir tahun gw longgarkan: asal enak ya masuk kandidat. Silakan dicek hasilnya di bawah ini.






My Top 10 Albums of 2018



10. Best Hit AKG 2 (2012-2018)
ASIAN KUNG-FU GENERATION

Semacam mandat dari diri sendiri, kalau band terfavorit ngerilis sesuatu yang didukung dong, hehe. Album ini mewakili paruh kedua dari 15 tahun mereka masuk major label, berisi lagu-lagu yang mereka rilis sejak tahun 2012, baik berupa single maupun lagu andalan di album-album. Album ini juga bisa jadi kisi-kisi arah musik AKG yang tidak lagi serba kenceng, dan lucunya rangkaian lagu-lagu yang ada di sini seolah ditakdirkan untuk dijadikan satu album seperti ini.






9. ALL TIME BEST ~Fukumimi 20th Anniversary ~
Fukumimi

Awalnya Fukumimi itu proyek kolaborasi antara Kyoko, Masayoshi Yamazaki, dan Suga Shikao, yang saat itu di bawah satu manajemen bernama Office Augusta. Gw rasa mereka juga nggak expect kalau nama Fukumimi akan lanjut sampai 20 tahun dengan lagu-lagu baru dari tahun ke tahun, dan "personel" yang bertambah, yakni artis-artis junior mereka di manajemen tersebut, sebut saja Chitose Hajime, Sukima Switch, Hata Motohiro, Yu Sakai, hingga Seiya Matsumuro. Biarpun sudah punya nama sendiri-sendiri, setiap mereka ngumpul di Fukumimi adalah momen yang menyenangkan bagi pendengarnya. Dan, album ini adalah perayaan atas perjalanan unik tersebut.






8. STARTING OVER
Yu Takahashi

Kalau boleh sotoy menginterpretasikan judulnya, album ini ingin membawa Takahashi seolah belum pernah bikin album sebelumnya. Tidak ada bagian yang terasa ambisius--kecuali jumlah track-nya yang ada 16 biji semuanya terasa segar dengan karakter khas doi berkisah tentang keseharian dengan kalimat-kalimat panjang tapi muat dalam sekian bar nada-nada yang catchy. Pun album ini seakan ada pembabakannya, ada yang kenceng, ada yang 'serius', ballad, hingga yang rada bercanda. Album Takahashi yang paling bisa gw nikmati sejak album perdananya.






7. Know.
Jason Mraz

Sekalipun belum lagi menghasilkan lagu hit yang signifikan banget, mendengarkan sekian lagu Mraz dalam sekali waktu amatlah menyenangkan. Ada familiarity yang terpancar dari lagu-lagunya, tetapi nggak jadi membosankan. Lagu-lagu nyantai dengan lirik yang mudah dipahami, dinyanyikan dengan sepenuh hati, you just can't refuse.






6.
Andrea Bocelli
Selera musik gw terkadang sangat random =D, ini salah satu buktinya. Di luar sana keberadaan album ini menjadi event tersendiri karena merupakan album pertama Bocelli yang berisi lagu-lagu baru (bukan cover), sejak album orisinal terakhirnya di tahun 2004. Tadinya gw menghampiri album ini karena penasaran dengan beberapa kolaborasi vokalnya--ada Ed Sheeran, Dua Lipa, dan Josh Groban, namun gw end-up mendengarkan seisi album yang dirangkai apik dan dikemas dalam aransemen musik klasik--or "traditional pop"--yang flawless paripurna. Bravo.






5. Hatsukoi
Utada Hikaru

Judul album ini artinya "cinta pertama", tetapi kayaknya sih nggak ada kaitannya sama lagu "First Love"-nya Utada yang terkenal buanget di sini. Bisa jadi artinya lebih kepada ini sebagai album pertama doi di bawah label baru, Sony's Epic Records. Yang bisa gw tangkap dari album ini adalah kesan Utada lagi 'genit' dengan permainan nada-nada yang catchy, dan komposisi musik yang lebih banyak live instruments, dan overall lebih terdengar optimistis. Nggak sertamerta jadi ceria sih, tapi yah lebih nyantailah. Dan, kalau mau dikait-kaitin sama masa-masa lagu "First Love", album ini seperti ingin mengedepankan lagi style R&B Utada yang mengangkat namanya dulu.






4. City Lights
Seiya Matsumuro

Matsumuro seringkali mengingatkan gw pada beberapa artis J-Pop lainnya, dari pembawaan vokal yang all-out dan berornamen seperti Fumido (not many Japanese vocalist can do this, IMHO), hingga kemasan pop-rock, dan kadang groove, yang agak throwback gaya Southern All Stars, tapi dalam versi artis solo. Album ini pun menunjukkan bahwa Matsumuro adalah artis yang (sekarang atau nantinya) patut diperhitungkan. Pemilihan nada, penekanan instrumen, hingga permainan kord yang berani, membuktikan kualitas musikalitasnya, dan masih dalam jalur pop.






3. Staying at Tamara's
George Ezra

Musik asyik dan lirik rapi jadi senjata Ezra di album keduanya ini. Gayanya bisa dibilang masih tradisional, folk-pop-rock yang sound-nya "Inggris" banget, namun doi nggak membiarkan suara bundar dan berat-nya itu menimbulkan kesan malas-malasan. Album yang ringkas, padat, berenergi, dengan rupa-rupa tempo dan topik.






2. Merakit
Yura Yunita

Di ranah komersial Yura memang terangkat berkat lagu-lagu ballad yang selow, namun kehadiran album ini menjadi perkenalan kembali gambaran lebih lengkap tentang range Yura--walau sebenarnya sudah pernah diperlihatkan di album pertamanya yang menurut gw lebih eksperimental. Di sini ia tidak hanya menghanyutkan dalam lagu pop ballad, tetapi juga fasih ketika dibungkus musik R&B, Broadway jazz, dan soul. Gw juga lebih merasa "deket" dengan musiknya berkat lirik-lirik yang lugas tapi dalam dan nada-nada yang lebih catchy. Oh, dan suara khas Yura yang memang nggak ada KW-nya. Album ini bukan hanya enjoyable, tetapi juga bikin respek pada sang artis dan segenap kerabat kerjanya =).











1. The Greatest Showman (soundtrack)
various artists

Sekalipun filmnya belum menembus daftar film musikal terfavorit gw sepanjang masa (sulit kayaknya), gw tetap wajib merayakan bagian terbaik dari The Greatest Showman, yaitu lagu-lagunya. Jika ngeh, film ini memang menampilkan serangkaian lagu pop modern sekalipun latar cerita filmnya tuh sekitar awal abad ke-20, konon sih mau menggambarkan visi P.T. Barnum sang tokoh utama yang lebih maju dari zamannya. Tetapi, gw lihat pemilihan ini juga berfungsi mendekatkan penonton sekarang pada ceritanya, I mean, apakah "Never Enough" dampaknya akan sebesar itu apabila benar-benar dibikin dalam komposisi klasik seriosa? Anyway, terlepas dari statusnya yang terkait dengan film, album ini adalah sekumpulan lagu pop enak yang dirangkai dan dikomposisikan secara cermat sehingga begitu mudah diterima kuping awam sekalipun, which is kind of the whole point.



Jumat, 28 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2018 (Japan)

Yeah, masih bennner gw dengerin J-Pop. Dipikir-pikir kasihan juga bahwa J-Pop tidak pernah benar-benar jadi tren di sini, padahal industri pop Jepanglah yang pertama kali dijuluki dengan inisial nama negara yang didempet dengan kata 'pop' =D. Gw tetap insist itu salah mereka sendiri yang nggak ambil kesempatan ketika punya crowd terbatas tapi kuat di awal era 2000-an dulu. Tetapi, gw juga nggak lelah mengampanyekan bahwa menemukan lagu-lagu J-Pop sekarang--yang legal--su dekat sudah lebih mudah, terutama dengan adanya YouTube dan Spotify/Apple Music/iTunes. Jadi, wahai anak-anak Jejepangan, baik angkatan dulu maupun yang baru-baru, silakan diikulik-kulik lagi lho.

So, anyway, hasil rangkuman lagu-lagu Jepang berkesan tahun 2018 adalah gabungan dari artis kesukaan gw a.k.a. yang itu-itu aja ^_^', ke yang benar-benar baru, ke yang konon saat ini sedang naik daun di Jepang. Silakan dicicipi...




My Top 10 Songs of 2018 (Japan)


10. "生者のマーチ (Seija no March)" – ASIAN KUNG-FU GENERATION

Not necessarily a single, lebih merupakan sebuah lagu pelengkap dalam album best of kedua mereka. Meski bukan yang pertama kali digunakan, mode slow-down dari AKG di lagu ini menurut gw adalah salah satu yang paling berhasil. Nggak sertamerta eksperimental namun tetap dewasa.








9. "贈る言葉 (Okuru kotoba)" – GReeeeN

Musik GReeeeN mungkin tidak berubah banyak, tetapi mungkin karena gw udah lama nggak mengikuti rilisan mereka, lagu ini jadi terdengar menyenangkan. Sebuah ballad dalam tradisi "Ai Uta" dan "Kiseki", rangkaian melodi yang gampang nyantol di kuping dibalut tempo medium yang membuatnya terdengar nyaman. Oh, kita masih belum tahu muka-muka personelnya ya?








8. "Kohakuiro no namida" – Miwa Sasagawa  ("琥珀色の涙" - 笹川美和)

Gw kurang tahu ini siapa, tetapi lagunya nyelip di antara playlist yang gw dengarkan di Spotify, dan gw langsung mengenali gaya aransemennya yang nggak mungkin bukan Keiichi Tomita (MISIA's "Everything", Mika Nakashima's "Will", Ken Hirai's "Canvas", among others). Dan, itulah alasan utama lagunya bisa nongkrong di senarai gw, hehe. Secara keseluruhan lagunya begitu syahdu, dengan kompleksitas kord dan instrumen khas Tomita dan ada unsur jazznya sedikit, mengiringi vokal lembut mendayu-dayu Sasagawa.








7. "Arigatou" – Yu Takahashi  ("ありがとう" - 高橋 優)

Semacam mendapat energi baru, setelah beberapa rilisan belakangan Takahashi agak ambisius dalam susunan nada dan aransemennya. Lagu ini seperti kembali ke karakter dan kemampuannya yang paling istimewa, yaitu liriknya yang panjang-panjang dipasangkan pada nada-nada yang tidak ribet namun mampu menonjolkan dinamika emosi saat dinyanyikan.








6. "Lemon" –  米津 玄師 (Kenshi Yonezu)

Yonezu dalam tahun-tahun ini meraih popularitas yang makin menanjak di blantika J-Pop, mungkin berkat warna suaranya yang cukup khas dan gaya bernyanyinya yang lugas. Namun, jangan lupa bahwa dia juga menghasilkan lagu-lagu yang mudah mengena. Lagu pop-rock ballad yang ini mewakili sisi yang lebih kalem dari Yonezu, tetapi itu pun nggak kalem-kalem banget--speed nyanyiannya masih cepet dan jangkauan nadanya masih lebar, semacam ada cerita dramatis nan tragis ingin disampaikan di dalamnya, walaupun gw juga nggak tahu pasti apa, hehe *kemudian cari terjemahannya*.








5. "Hana" – Hata Motohiro  ("花" - 秦 基博)

Udah tahu 'kan kalau Hata itu piawai bikin lagu-lagu yang lembut dan menghangatkan. Lagu barunya ini mungkin bukan berada di level lagu-lagu doi yang populer sebelumnya, tapi perkawinan antara petikan gitar dan irama yang kalem dengan suara tajam Hata menimbulkan kehangatan yang luar biasa saat didengarkan.








4. "Kitto ai wa fukouhei" – Seiya Matsumuro  ("きっと愛は不公平" - 松室 政哉)

Ini bukan melanjutkan pola kecenderungan gw untuk menyukai karya dari artis-artis berkacamata =D. Lagu ini nyaris bisa diabaikan karena sekilas bentuknya "hanya" love ballad biasa, tetapi rupanya menawarkan rasa berbeda lewat pilihan melodi dan kord yang cukup unexpected. Vokal Matsumuro yang tipis dan rada fragile itu pun menambah "tusukan" lagu ini. Formula standar dengan seasoning berbeda yang hasilnya tetap enak.








3. "Anata" – Utada Hikaru  ("あなた" - 宇多田ヒカル)

Agak kembali kembali pada roots awal gw tahu Utada, lagu ini memasukkan unsur R&B dan groove yang asik bener, bisa banget bikin angguk-angguk, dan kembali menonjolkan ketulusan dalam vokal rapuhnya. Well, seperti biasa, di antara nada-nada manis lagu Utada selalu saja digabung dengan nada-nada dan kord minor yang sepertinya memang nggak bisa lepas dari karakternya.








2. "Gifts" – Superfly

Superfly kalau lagi "bener", as in nggak terlalu berusaha kenceng-kencengan tarikan rock n roll, bisa menghasilkan karya yang menggetarkan. Kalau nggak salah lagu ini dirancang untuk jadi lagu utama (wajib?) dalam festival paduan suara SMP yang diselenggarakan NHK (kayak dulu "Tegami"-nya Angela Aki (2009)), tetapi sebagai lagu pop-rock dengan lirik inspiratip pun sedap didengar dan terasa grand berkat dinamika komposisi nada dan aransemen dari yang soft sampai yang all-power.














1. "Stand By You" –  Official髭男dism (Official Hige-Dandism)

Temuan baru yang entah datang dari mana, lagu ini begitu mudahnya merasuk di ingatan sejak pertama kali dengar. Dibawakan ceria dalam kemasan pop-funk yang groovy, tetapi dengan penataan nada yang dikasih twist nyelendro ala Jepang. Hasilnya begitu yang rancak, terasa fresh, dan memancing untuk ikutan bersenandung, termasuk yang nggak ngerti bahasa Jepang karena chorus-nya lumayan mudah ditangkap dan banyak vocables ho uwo uwo-nya =D. You see, perpaduan yang agak antik tapi hasilnya tetap pop kayak gini adalah alasan untuk terus mendengarkan J-Pop.







Kamis, 27 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2018 (Indonesia)

Mari bergeser ke blantika musik negeri sendiri. More often than not gw bertemu dengan lagu-lagu ini lewat layanan streami--Spotify *sebut merk aja daripada ribet*, karena kita tahu sendiri ada kecenderungan lagu Indonesia itu bisa dirilisnya sekarang tapi baru nge-hit-nya setahun kemudian =P, jadi si Spotify dan layanan sejenis inilah yang jadi andalan gw mencari lagu-lagu lokal terbaru sesuai dengan kalender, bukan terbaru karena baru denger. Sebuah era yang aneh jika kalian seperti gw yang pernah melewati zaman ketika pendengar hanya bisa pasif menanti umpan dari media, para penyanyi hanya bisa andalkan promo di media massa yang slotnya terbatas, dan tingkat kepopuleran diukur dari banyaknya kaset terjual serta seberapa sering lagunya diputar di radio dan tampil di TV, yang itupun bisa saja karena "titipan" ehehehe.

Anyway, maaf ngelantur, tetapi berikut senarai 10 lagu dari artis Indonesia paling cihuy buat gw dalam satu tahun belakangan ini.



My Top 10 Songs of 2018 (Indonesia)


10. "Skin to Skin" – Monica Karina feat. Dipha Barus

Monica sebelumnya dikenal sebagai pengisi vokal dalam lagu EDM (electronic dance music, kali aja ada yang belum tahu) "Money Honey" milik Dipha Barus yang nge-hit dan menang karya produksi terbaik (record of the year?) di AMI Awards itu. Kali ini di-reverse, Monica mengeluarkan single miliknya tapi tetap dibantu Dipha Barus. Bedanya? Well, bisa dibilang yang kali ini memang lebih menonjolkan vokalnya Monica yang smooth, dan aransemennya lebih chill-chill groovy gitu.









9. "Waktu" – Endank Soekamti

Lagu ini kayak mudah nyantol di kuping gw sambil memunculkan pemikiran, bahwa di pertengahan 2000-an sampai awal 2010-an lagu pop-punk anthemic seperti ini pasti akan laku sekali, as in bakal sering di-cover sama band anak-anak SMP/SMA =D. Bahwa lagu ini muncul saat ini juga nggak menurunkan tingkat kenikmatannya sih. Mengusung lirik yang "bijak", lagu ini dibawakan dalam tempo medium namun masih bisa memancarkan energinya.








8. "Tunggu Apa Lagi" – Lalahuta

Tentu saja selalu ada tempat untuk lagu pop jazzy di senarai gw, karena ini semacam pertanda si artisnya peduli dengan skill. Kali ini lagunya datang dari band Lalahuta (gw hanya bisa gw kenali dari drummer-nya pernah di home band acara The Comment di NET), bersama producing team Lale Ilman Nino yang belakangan lagi laris banget. Sekilas lagu ini seperti throwback pada bunyi-bunyi band pop-jazz 1980-an Indonesia, ya nggak apa-apa juga, yang penting lagunya terasa sejuk dengan pilihan nada dan instrumennya.








7. "Coconut" – Project Pop

Hakikat paling hakiki buat Project Pop adalah menghasilkan lagu-lagu yang menggembirakan umat, dan lagu terbaru mereka ini bukan pengecualian. Secara lirik lagu ini memang se-random judulnya, tetapi ada comedic timing yang asyik sehingga menambah keceriaan yang sebenarnya sudah lebih dahulu dikerjakan oleh melodi dan musiknya. That's right, salah satu yang membuat mereka masih jadi band komedi terbaik Indonesia adalah karena they actually make good music.








6. "Guna Manusia" – Barasuara

Lama juga menanti rilisan baru band rock puitis ini ((rock puitis)). Sebagaimana gaya mereka yang gw sukai dulu, Barasuara menghadirkan lagu dengan campuran berbagai style yang asimetris--kali ini ada semacam nuansa 1980's, dan juga dengan lirik yang nggak kalah mengusik soal posisi kita sebagai manusia di jagat alam ini *tsaah*. Cakeplah.








5. "Tolong" – Budi Doremi

Mungkin sebagian dari kita nggak menganggap serius Budi Doremi--probably because of the name, sehingga mungkin telah mengabaikan bahwa ada sisi soulful dari nyanyiannya. Sisi itu yang kemudian paling kelihatan di lagu ballad ini. Agak formulaik sih lagunya, tetapi dari gaya bernyanyi Budi serta aksen musiknya yang of course pakai ukulele, lagu yang berisiko menye-menye ini jadi terkesan lebih hangat.








4. "We" – Endah N Rhesa

Endah N Rhesa can rock. Itulah anggapan gw setelah mendengarkan lagu ini. Masih dengan instrumen minimalis gitar dan bass, kali ini dibantu dengan beberapa loop digital, diberi aksen terompet, dan lebih banyak vokal background, menjadikannya salah satu lagu paling dinamis dan exciting dari duo suami-istri ini. Plus, gw juga membayangkan lagu ini bisa bikin penonton sangat partisipatif bila dibawakan live.








3. "Harus Bahagia" – Yura Yunita

Menurut gw lagu ini dikemas dengan sempurna. Singkat, padat, message-nya jelas, dan aransemennya top-notch. Vokal berkarakter nan lincah Yura diiringi dengan musik ala Motown 60-70-an lengkap dengan brass section, bass yang dinamis, plus sahut-sahutan sama background vocals yang menambah suasana ceria, centil, dan, err, bikin bahagia.








2. "Heaven" – Afgan, Isyana Sarasvati, Rendy Pandugo

Akhirnya bisa juga Afgan masuk senarai gw, untungnya itu karena berkolaborasi dengan dua vokalis berbakat lain yang memang gw lebih sukai. Lagunya sendiri sangat adult contemporary radio, atau sering dibilang "easy listening", namun harmoni dari ketiga orang ini bisa benar-benar uplift pesona melodi dan iramanya, pun dengan pemorsian yang tepat lagunya seakan merasuk sukma *halah*. Gw senang dengan kolaborasi rekaman macam ini, yang tetap memasukkan ciri khas masing-masing artisnya tetapi nggak ada yang terlalu showy, dan nggak perlu berpanjang-panjang. Cantik.













1. "Film Favorit" – Sheila on 7

Kayaknya udah lama banget sejak terakhir gw menemukan lagu Sheila On 7 yang bener-bener gw suka. Lagu ini sejak awal memang seolah mengundang penasaran, dari pemilihan judul, cerita yang mau diujarkan, sampai bunyi-bunyian yang dipakai dalam musiknya. Gw merasa dalam lagu ini masih karakternya So7 yang simpel-simpel berisi, tetapi dengan melodi, sound, dan aransemen yang masih relevan untuk zaman sekarang tanpa menghilangkan karakter itu. Jadi, entah selera gw yang ketuaan (So7 debut rekaman hampir 20 tahun yang lalu lho), atau emang dasar lagunya enak banget aja.






Rabu, 26 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2018 (International)

Akhir tahun pastinya jadi periode "menyibukkan diri sendiri" karena senantiasa terpancing untuk bikin konten kilas balik =D. Bahkan sekalipun frekuensi blogging gw menurun, tentu saja gw nggak mau melewatkan bikin senarai akhir tahun sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Mumpung hari liburnya agak banyak nih hehe.

Belum berubah dari yang sudah-sudah, gw akan membuat senarai 10 butir secara urutan mundur dari lagu dan film yang paling gw sukai atau favorit atau paling berkesan dalam satu tahun belakangan ini. 

Sebagai pembuka, gw akan mulai dengan top 10 lagu internasional, yang adalah lagu-lagu non-Indonesia dan non-Jepang (iyah, gw masih akan bikin kategori Jepang ;)). Dalam memeras item-item di kategori musik supaya jadinya cuma 10, gw membuat beberapa prasyarat sederhana, yaitu bukan lagu cover (sorry Sabrina), satu artis hanya satu lagu kecuali duet atau featured dengan artis lain, dan lagunya terbit dalam periode November 2017-November 2018 (walau kadang gw agak cheating sih ehe), baik dalam bentuk single maupun termasuk dalam album. Sederhana bukan? =P

Baik, sodara-sodari, tuan dan puan, bung dan nona, broer dan sus, berikut senarai tahunan pertama gw untuk 2018.





My Top 10 Songs of 2018 (International)

10. "Wild Love" – James Bay

Mas-mas "Let It Go" (2015) ini tampaknya lagi senang bergaul dengan efek digital, tapi masih membawakan nuansa urban soul/R&B yang menonjolkan kekuatan vokalnya. Dengan rupa-rupa bunyinya, lagu yang satu ini terdengar begitu groovy dan--well--sensual. Sangat radio-friendly =P.







9. "Make Me Feel" – Janelle Monaé

Kelincahan Janelle sebagai penyanyi dan performer rupanya bisa kawin dengan musik pop/funk mirip-mirip Prince yang dituangkan dalam lagu ini. Lagu yang enak didengarkan sambil jejogedan, semarak dengan dinamika beat dan permainan beberapa instrumen yang asyik, walau lirik rada provokatif--but aren't they all these days =/.







8. "Love Scenario" – iKON

Salah satu take-away gw dari perhelatan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang kebanggaan kita itu adalah saat upacara penutupan menemukan lagu K-Pop yang bisa gw nikmati sebagai "lagu" ketimbang sebagai "show", yang dibawakan oleh sekelompok boyband yang nggak gw kenal sebelumnya. Nggak se-riuh-elektronika lagu-lagu sebangsanya yang sering gw dengar di sana-sini, nggak terlalu ngikut formula lagu pop/R&B/hiphop zaman sekarang, hampir nggak ada pembeda antara segmen melodi dan segmen rap, has an actual chorus, dan vokal-vokalnya yang cenderung nyantai itu terasa refreshing. Sangat nyaman di kuping, tanpa gw harus mengidolakan artisnya.







7. "Born To Be Yours" – Kygo & Imagine Dragons

Blantika musik mainstream emang lagi nggak bisa kabur dari namanya EDM (electronic dance music, kali ada yang belum tahu), apalagi para DJ/music producer ini lagi sering menggandeng artis-artis top untuk ngisi vokal lagu-lagu mereka. Tapi dalam kasus Imagine Dragons yang memang dari sononya warna musiknya ireguler, kolaborasi dengan Kygo ini sangat make sense. Di luar interlude-nya yang EDM banget, lagunya juga mirip seperti bunyi alternative rock-nya Imagine Dragons dalam versi lebih cerah dan optimis.








6. "Paradise" – George Ezra

Mas-mas "Budapest" (2013) bersuara beratbener ini tampak ingin all out dalam single yang ini. Tak hanya iramanya yang upbeat dan gitar-nya yang cukup kenceng--walau tetap bersandar di gaya folk, vokalnya juga berkelana dari nada rendah hingga falcetto hingga shouting. Pembawaan yang enerjik membuat lagu yang sudah catchy ini jadi makin seru.







5. "Always Remember Us This Way" – Lady Gaga

Jika sosok Ally dalam film A Star Is Born beneran ada di dunia nyata dan semua lagu dalam film ini dirilis ke pasaran, gw rasa gw akan easily memilih lagu yang ini sebagai favorit --disusul oleh "Heal Me", don't judge me. Lagu balada sederhana, walau agak senapas sama "Million Reasons"-nya Gaga, buat gw yang ini melodik, lebih "tuntas", dan lebih emosional.







4. "Happier" – Marshmello ft. Bastille

Satu lagi kolaborasi EDM dan band pop-rock yang hasilnya menyatu dan menyenangkan. Membalut liriknya yang sedih adalah irama ringan dan nada-nada yang lincah, ditegaskan oleh warna suara dan artikulasi si Dan Smith yang beraksen Inggris medok itu. Lagunya mah tetep sedih, tapi pembawaannya yang cerah malah bikin mood agak segeran.







3. "2002" – Anne-Marie

Awalnya lagu ini terdengar pecicilan, sebenarnya ya memang lucu aja. Anne-Marie dibantu Ed Sheeran memadukan musik pop yang asyik tanpa banyak mikir, dan gongnya tentu pada padupadan penggalan lirik lagu-lagu hits akhir 90-an/awal 2000-an dalam chorus-nya. Mungkin bagi banyak pihak lagu ini ganggu, buat gw lagu ini memang layak bercokol di ingatan dengan mudahnya.







2. "This Is Me" – Keala Settle & The Greatest Showman Ensemble

Strangely, lagu ini justru lebih powerful ketika nggak digandeng sama adegan filmnya ^_^;. Perkenalan terhadap lagu ini mungkin terbantu sama trailer The Greatest Showman yang sudah beredar beberapa bulan sebelum film-nya (dan versi single-nya) akhir tahun 2017, tapi mampu bertahan di playlist gw (dan, come on, di playlist elo juga 'kan?) selama filmnya edar bahkan jauh setelahnya. Selain melodinya catchy sekali dan iramanya menghentak, vokal garang Keala Settle seakan mampu memerintahkan pendengarnya untuk nyanyi bersama, minimal bagian background vocals-nya =P. Anthem motivasi self-worth yang kemungkinan besar nggak akan berhenti dinyanyikan orang-orang--terutama di kontes nyanyi dan karaoke--dalam beberapa tahun ke depan.












1. "If Only" – Andrea Bocelli ft. Dua Lipa

Ternyata sebenarnya kita bisa juga kabur dari EDM =D. Penyanyi tenor klasik-pop Italia panutan guru-guru vokal, Andrea Bocelli mampu hadir with a tender bang lewat lagu-lagu dan album barunya. Single yang satu ini menarik perhatian gw karena kok tiba-tiba ada si Dua Lipa--penyanyi yang vokal beratnya agak sulit dibayangkan bersanding dengan vokal gaya klasik. Namun, hasilnya adalah perpaduan dua *no pun intended* warna suara khas, yang mengalun dari nada-nada rendah nan lembut, sampai tembakan nada-nada tinggi yang nyaring. Belum lagi mereka diiringi oleh musik full orchestra yang sinematik, bikin merinding.

Sedikit keterangan bahwa lagu ini aslinya ditulis dalam bahasa Italia, "Qualcosa piu dell'Oro" dengan versi Andrea dewekan--tetep di beberapa bagian dibantu oleh background vocal wanita, namun akhirnya yang masuk album adalah versi bilingual bareng Dua Lipa, yang menurut kuping gw yang sangat pop mainstream ini lebih appealing sih, hehe. Lumayanlah buat tambahan katalog lagu duet anak-anak sekolah musik selain "The Prayer" dan "When You Believe" yekan...









Rabu, 05 Desember 2018

My Movie Picks of November 2018

November telah berlalu, saatnya bikin rapor film paling berkesan bagi gw dari yang gw tonton sepanjang bulan tersebut. Niat menggalakkan diri untuk menonton lebih banyak film sepertinya masih belum bisa diimplementasikan maksimal, namun untunglah bulan ini bisa menemukan yang sangat berkesan.





1. One Cut of the Dead
(2018 - Asmik Ace/ENBU Seminar)
dir. Shin-ichiro Ueda
Cast: Takayuki Hamatsu, Yuzuki Akiyama, Kazuaki Nagaya, Harumi Syuhama, Manabu Hosoi, Hiroshi Ichihara, Shuntaro Yamazaki, Mao, Shin-ichiro Osawa, Yoshiko Takehara


Ketika syuting film zombi di tempat yang konon angker, para pemain dan kru malah didatangi zombi betulan. Gw masih bimbang mau melabelkan film ini sebagai bedon atau justru jenius, karena premis di atas bukanlah gambaran tepat untuk film komedi zombi ini--and I'll say nothing further hehe. Yang jelas impresi film ini bakal membekas cukup lama di gw. Pengecohannya itu lho. Di sini kita bisa lihat hal yang kayaknya random ternyata dibuat dengan perhitungan dan ketelitian luar biasa, dan hasilnya adalah hiburan tingkat tinggi. Gw mungkin bukan pemuja perfilman Jepang tapi when they make something good, it's usually unlike any other, dan ini salah satu buktinya.
My score: 8/10






2. Widows
(2018 - 20th Century Fox)
dir. Steve McQueen
Cast: Viola Davis, Michelle Rodriguez, Elizabeth Debicki, Cynthia Erivo, Liam Neeson, Colin Farrel, Daniel Kaluuya, Brian Tyree Henry, Robert Duvall, Jacki Weaver, Carrie Coon, Garret Dillahunt, Lucas Haas


Walau berangkat dari premis kisah sekelompok orang membuat rencana perampokan, yang udah berulang-ulang kali diangkat, film ini rupanya memberi berbagai lapisan-lapisan yang membuatnya tidak biasa-biasa. Film ini mampu mencakupkan tema kriminal dengan isu gender, politik, ras, tapi nggak sekadar tempelan, dan tanpa harus mengorbankan laju penuturannya. Bagian 'laga'-nya memang nggak sebanyak dramanya, namun buat gw sih nggak sampai menjemukan karena dramanya itu bernas dan penting. And look at that cast.
My score: 7,5/10






3. The Nutcracker and the Four Realms
(2018 - Disney)
dir. Lasse Hallström, Joe Johnston
Cast: Mackenzie Foy, Keira Knightley, Morgan Freeman, Hellen Mirren, Jayden Fowora-Knight, Matthew Macadyen, Eugenio Derbez, Richard E. Grant


Butuh waktu cukup lama bagi Disney untuk bikin film fairy tale yang digarap dengan desain produksi practical yang semegah ini. Gw seneng banget mengamati rancang set, kostum, riasan, serta desain karakternya yang sangat elaborate, kelihatan banget mahal dan kerja kerasnya yang nggak bergantung sama animasi CGI semata *uhuk Alice in Wonderland uhuk*, serba klasik gitulah. Itu bahkan sudah lebih dari cukup mengompensasi ceritanya yang bisa dibilang safe saja dan cenderung ngulang formula film-film Disney yang sudah-sudah. Shot (dominantly) on film!
My score: 7/10






4. Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur
(2018 - Soraya Intercine Films)
dir. Rocky Soraya, Anggy Umbara
Cast: Luna Maya, Herjunot Ali, Teuku Rifnu Wikana, Alex Abbad, Verdi Solaiman, Kiki Narendra, Oppie Kumis, Asri Welas, Ence Bagus


Kekuatan terbesar film ini sebenarnya terletak pada nostalgia...namun bagi gw yang nonton film-film Suzzanna hanya di TV dan kayaknya nggak pernah secara utuh, nostalgia mungkin hanya works sebagian saja--walau tetep sih melihat Luna Maya dengan cara bicara dan gestur klasik Suzzanna adalah hiburan hakiki =). Justru yang menarik buat gw adalah arah film ini untuk bikin si tokoh Suzzanna sebagai hantu pendendam tapi tetap protagonis, dan itu bisa disampaikan dengan baik. Filmnya memang nggak tergolong seram dan beberapa titik terasa off, namun dengan konsep serta kemasannya yang proper, film ini jelas jauh dari kategori tercela.
My score: 7/10