Minggu, 30 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2018

Menyusun kategori album adalah yang paling sulit buat gw, terutama disebabkan pola mendengarkan musik yang kini lebih sering dengerin lagu per lagu, atau malah kalau dengerin di aplikasi streaming sering kesela iklan (qarna qu mizcheen...) atau nggak sengaja klik shuffle =P. Jadinya memang tidak terlalu banyak album yang gw kulik secara mendalam, sehingga prasyarat untuk bikin senarai akhir tahun gw longgarkan: asal enak ya masuk kandidat. Silakan dicek hasilnya di bawah ini.






My Top 10 Albums of 2018



10. Best Hit AKG 2 (2012-2018)
ASIAN KUNG-FU GENERATION

Semacam mandat dari diri sendiri, kalau band terfavorit ngerilis sesuatu yang didukung dong, hehe. Album ini mewakili paruh kedua dari 15 tahun mereka masuk major label, berisi lagu-lagu yang mereka rilis sejak tahun 2012, baik berupa single maupun lagu andalan di album-album. Album ini juga bisa jadi kisi-kisi arah musik AKG yang tidak lagi serba kenceng, dan lucunya rangkaian lagu-lagu yang ada di sini seolah ditakdirkan untuk dijadikan satu album seperti ini.






9. ALL TIME BEST ~Fukumimi 20th Anniversary ~
Fukumimi

Awalnya Fukumimi itu proyek kolaborasi antara Kyoko, Masayoshi Yamazaki, dan Suga Shikao, yang saat itu di bawah satu manajemen bernama Office Augusta. Gw rasa mereka juga nggak expect kalau nama Fukumimi akan lanjut sampai 20 tahun dengan lagu-lagu baru dari tahun ke tahun, dan "personel" yang bertambah, yakni artis-artis junior mereka di manajemen tersebut, sebut saja Chitose Hajime, Sukima Switch, Hata Motohiro, Yu Sakai, hingga Seiya Matsumuro. Biarpun sudah punya nama sendiri-sendiri, setiap mereka ngumpul di Fukumimi adalah momen yang menyenangkan bagi pendengarnya. Dan, album ini adalah perayaan atas perjalanan unik tersebut.






8. STARTING OVER
Yu Takahashi

Kalau boleh sotoy menginterpretasikan judulnya, album ini ingin membawa Takahashi seolah belum pernah bikin album sebelumnya. Tidak ada bagian yang terasa ambisius--kecuali jumlah track-nya yang ada 16 biji semuanya terasa segar dengan karakter khas doi berkisah tentang keseharian dengan kalimat-kalimat panjang tapi muat dalam sekian bar nada-nada yang catchy. Pun album ini seakan ada pembabakannya, ada yang kenceng, ada yang 'serius', ballad, hingga yang rada bercanda. Album Takahashi yang paling bisa gw nikmati sejak album perdananya.






7. Know.
Jason Mraz

Sekalipun belum lagi menghasilkan lagu hit yang signifikan banget, mendengarkan sekian lagu Mraz dalam sekali waktu amatlah menyenangkan. Ada familiarity yang terpancar dari lagu-lagunya, tetapi nggak jadi membosankan. Lagu-lagu nyantai dengan lirik yang mudah dipahami, dinyanyikan dengan sepenuh hati, you just can't refuse.






6.
Andrea Bocelli
Selera musik gw terkadang sangat random =D, ini salah satu buktinya. Di luar sana keberadaan album ini menjadi event tersendiri karena merupakan album pertama Bocelli yang berisi lagu-lagu baru (bukan cover), sejak album orisinal terakhirnya di tahun 2004. Tadinya gw menghampiri album ini karena penasaran dengan beberapa kolaborasi vokalnya--ada Ed Sheeran, Dua Lipa, dan Josh Groban, namun gw end-up mendengarkan seisi album yang dirangkai apik dan dikemas dalam aransemen musik klasik--or "traditional pop"--yang flawless paripurna. Bravo.






5. Hatsukoi
Utada Hikaru

Judul album ini artinya "cinta pertama", tetapi kayaknya sih nggak ada kaitannya sama lagu "First Love"-nya Utada yang terkenal buanget di sini. Bisa jadi artinya lebih kepada ini sebagai album pertama doi di bawah label baru, Sony's Epic Records. Yang bisa gw tangkap dari album ini adalah kesan Utada lagi 'genit' dengan permainan nada-nada yang catchy, dan komposisi musik yang lebih banyak live instruments, dan overall lebih terdengar optimistis. Nggak sertamerta jadi ceria sih, tapi yah lebih nyantailah. Dan, kalau mau dikait-kaitin sama masa-masa lagu "First Love", album ini seperti ingin mengedepankan lagi style R&B Utada yang mengangkat namanya dulu.






4. City Lights
Seiya Matsumuro

Matsumuro seringkali mengingatkan gw pada beberapa artis J-Pop lainnya, dari pembawaan vokal yang all-out dan berornamen seperti Fumido (not many Japanese vocalist can do this, IMHO), hingga kemasan pop-rock, dan kadang groove, yang agak throwback gaya Southern All Stars, tapi dalam versi artis solo. Album ini pun menunjukkan bahwa Matsumuro adalah artis yang (sekarang atau nantinya) patut diperhitungkan. Pemilihan nada, penekanan instrumen, hingga permainan kord yang berani, membuktikan kualitas musikalitasnya, dan masih dalam jalur pop.






3. Staying at Tamara's
George Ezra

Musik asyik dan lirik rapi jadi senjata Ezra di album keduanya ini. Gayanya bisa dibilang masih tradisional, folk-pop-rock yang sound-nya "Inggris" banget, namun doi nggak membiarkan suara bundar dan berat-nya itu menimbulkan kesan malas-malasan. Album yang ringkas, padat, berenergi, dengan rupa-rupa tempo dan topik.






2. Merakit
Yura Yunita

Di ranah komersial Yura memang terangkat berkat lagu-lagu ballad yang selow, namun kehadiran album ini menjadi perkenalan kembali gambaran lebih lengkap tentang range Yura--walau sebenarnya sudah pernah diperlihatkan di album pertamanya yang menurut gw lebih eksperimental. Di sini ia tidak hanya menghanyutkan dalam lagu pop ballad, tetapi juga fasih ketika dibungkus musik R&B, Broadway jazz, dan soul. Gw juga lebih merasa "deket" dengan musiknya berkat lirik-lirik yang lugas tapi dalam dan nada-nada yang lebih catchy. Oh, dan suara khas Yura yang memang nggak ada KW-nya. Album ini bukan hanya enjoyable, tetapi juga bikin respek pada sang artis dan segenap kerabat kerjanya =).











1. The Greatest Showman (soundtrack)
various artists

Sekalipun filmnya belum menembus daftar film musikal terfavorit gw sepanjang masa (sulit kayaknya), gw tetap wajib merayakan bagian terbaik dari The Greatest Showman, yaitu lagu-lagunya. Jika ngeh, film ini memang menampilkan serangkaian lagu pop modern sekalipun latar cerita filmnya tuh sekitar awal abad ke-20, konon sih mau menggambarkan visi P.T. Barnum sang tokoh utama yang lebih maju dari zamannya. Tetapi, gw lihat pemilihan ini juga berfungsi mendekatkan penonton sekarang pada ceritanya, I mean, apakah "Never Enough" dampaknya akan sebesar itu apabila benar-benar dibikin dalam komposisi klasik seriosa? Anyway, terlepas dari statusnya yang terkait dengan film, album ini adalah sekumpulan lagu pop enak yang dirangkai dan dikomposisikan secara cermat sehingga begitu mudah diterima kuping awam sekalipun, which is kind of the whole point.



Jumat, 28 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2018 (Japan)

Yeah, masih bennner gw dengerin J-Pop. Dipikir-pikir kasihan juga bahwa J-Pop tidak pernah benar-benar jadi tren di sini, padahal industri pop Jepanglah yang pertama kali dijuluki dengan inisial nama negara yang didempet dengan kata 'pop' =D. Gw tetap insist itu salah mereka sendiri yang nggak ambil kesempatan ketika punya crowd terbatas tapi kuat di awal era 2000-an dulu. Tetapi, gw juga nggak lelah mengampanyekan bahwa menemukan lagu-lagu J-Pop sekarang--yang legal--su dekat sudah lebih mudah, terutama dengan adanya YouTube dan Spotify/Apple Music/iTunes. Jadi, wahai anak-anak Jejepangan, baik angkatan dulu maupun yang baru-baru, silakan diikulik-kulik lagi lho.

So, anyway, hasil rangkuman lagu-lagu Jepang berkesan tahun 2018 adalah gabungan dari artis kesukaan gw a.k.a. yang itu-itu aja ^_^', ke yang benar-benar baru, ke yang konon saat ini sedang naik daun di Jepang. Silakan dicicipi...




My Top 10 Songs of 2018 (Japan)


10. "生者のマーチ (Seija no March)" – ASIAN KUNG-FU GENERATION

Not necessarily a single, lebih merupakan sebuah lagu pelengkap dalam album best of kedua mereka. Meski bukan yang pertama kali digunakan, mode slow-down dari AKG di lagu ini menurut gw adalah salah satu yang paling berhasil. Nggak sertamerta eksperimental namun tetap dewasa.








9. "贈る言葉 (Okuru kotoba)" – GReeeeN

Musik GReeeeN mungkin tidak berubah banyak, tetapi mungkin karena gw udah lama nggak mengikuti rilisan mereka, lagu ini jadi terdengar menyenangkan. Sebuah ballad dalam tradisi "Ai Uta" dan "Kiseki", rangkaian melodi yang gampang nyantol di kuping dibalut tempo medium yang membuatnya terdengar nyaman. Oh, kita masih belum tahu muka-muka personelnya ya?








8. "Kohakuiro no namida" – Miwa Sasagawa  ("琥珀色の涙" - 笹川美和)

Gw kurang tahu ini siapa, tetapi lagunya nyelip di antara playlist yang gw dengarkan di Spotify, dan gw langsung mengenali gaya aransemennya yang nggak mungkin bukan Keiichi Tomita (MISIA's "Everything", Mika Nakashima's "Will", Ken Hirai's "Canvas", among others). Dan, itulah alasan utama lagunya bisa nongkrong di senarai gw, hehe. Secara keseluruhan lagunya begitu syahdu, dengan kompleksitas kord dan instrumen khas Tomita dan ada unsur jazznya sedikit, mengiringi vokal lembut mendayu-dayu Sasagawa.








7. "Arigatou" – Yu Takahashi  ("ありがとう" - 高橋 優)

Semacam mendapat energi baru, setelah beberapa rilisan belakangan Takahashi agak ambisius dalam susunan nada dan aransemennya. Lagu ini seperti kembali ke karakter dan kemampuannya yang paling istimewa, yaitu liriknya yang panjang-panjang dipasangkan pada nada-nada yang tidak ribet namun mampu menonjolkan dinamika emosi saat dinyanyikan.








6. "Lemon" –  米津 玄師 (Kenshi Yonezu)

Yonezu dalam tahun-tahun ini meraih popularitas yang makin menanjak di blantika J-Pop, mungkin berkat warna suaranya yang cukup khas dan gaya bernyanyinya yang lugas. Namun, jangan lupa bahwa dia juga menghasilkan lagu-lagu yang mudah mengena. Lagu pop-rock ballad yang ini mewakili sisi yang lebih kalem dari Yonezu, tetapi itu pun nggak kalem-kalem banget--speed nyanyiannya masih cepet dan jangkauan nadanya masih lebar, semacam ada cerita dramatis nan tragis ingin disampaikan di dalamnya, walaupun gw juga nggak tahu pasti apa, hehe *kemudian cari terjemahannya*.








5. "Hana" – Hata Motohiro  ("花" - 秦 基博)

Udah tahu 'kan kalau Hata itu piawai bikin lagu-lagu yang lembut dan menghangatkan. Lagu barunya ini mungkin bukan berada di level lagu-lagu doi yang populer sebelumnya, tapi perkawinan antara petikan gitar dan irama yang kalem dengan suara tajam Hata menimbulkan kehangatan yang luar biasa saat didengarkan.








4. "Kitto ai wa fukouhei" – Seiya Matsumuro  ("きっと愛は不公平" - 松室 政哉)

Ini bukan melanjutkan pola kecenderungan gw untuk menyukai karya dari artis-artis berkacamata =D. Lagu ini nyaris bisa diabaikan karena sekilas bentuknya "hanya" love ballad biasa, tetapi rupanya menawarkan rasa berbeda lewat pilihan melodi dan kord yang cukup unexpected. Vokal Matsumuro yang tipis dan rada fragile itu pun menambah "tusukan" lagu ini. Formula standar dengan seasoning berbeda yang hasilnya tetap enak.








3. "Anata" – Utada Hikaru  ("あなた" - 宇多田ヒカル)

Agak kembali kembali pada roots awal gw tahu Utada, lagu ini memasukkan unsur R&B dan groove yang asik bener, bisa banget bikin angguk-angguk, dan kembali menonjolkan ketulusan dalam vokal rapuhnya. Well, seperti biasa, di antara nada-nada manis lagu Utada selalu saja digabung dengan nada-nada dan kord minor yang sepertinya memang nggak bisa lepas dari karakternya.








2. "Gifts" – Superfly

Superfly kalau lagi "bener", as in nggak terlalu berusaha kenceng-kencengan tarikan rock n roll, bisa menghasilkan karya yang menggetarkan. Kalau nggak salah lagu ini dirancang untuk jadi lagu utama (wajib?) dalam festival paduan suara SMP yang diselenggarakan NHK (kayak dulu "Tegami"-nya Angela Aki (2009)), tetapi sebagai lagu pop-rock dengan lirik inspiratip pun sedap didengar dan terasa grand berkat dinamika komposisi nada dan aransemen dari yang soft sampai yang all-power.














1. "Stand By You" –  Official髭男dism (Official Hige-Dandism)

Temuan baru yang entah datang dari mana, lagu ini begitu mudahnya merasuk di ingatan sejak pertama kali dengar. Dibawakan ceria dalam kemasan pop-funk yang groovy, tetapi dengan penataan nada yang dikasih twist nyelendro ala Jepang. Hasilnya begitu yang rancak, terasa fresh, dan memancing untuk ikutan bersenandung, termasuk yang nggak ngerti bahasa Jepang karena chorus-nya lumayan mudah ditangkap dan banyak vocables ho uwo uwo-nya =D. You see, perpaduan yang agak antik tapi hasilnya tetap pop kayak gini adalah alasan untuk terus mendengarkan J-Pop.







Kamis, 27 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2018 (Indonesia)

Mari bergeser ke blantika musik negeri sendiri. More often than not gw bertemu dengan lagu-lagu ini lewat layanan streami--Spotify *sebut merk aja daripada ribet*, karena kita tahu sendiri ada kecenderungan lagu Indonesia itu bisa dirilisnya sekarang tapi baru nge-hit-nya setahun kemudian =P, jadi si Spotify dan layanan sejenis inilah yang jadi andalan gw mencari lagu-lagu lokal terbaru sesuai dengan kalender, bukan terbaru karena baru denger. Sebuah era yang aneh jika kalian seperti gw yang pernah melewati zaman ketika pendengar hanya bisa pasif menanti umpan dari media, para penyanyi hanya bisa andalkan promo di media massa yang slotnya terbatas, dan tingkat kepopuleran diukur dari banyaknya kaset terjual serta seberapa sering lagunya diputar di radio dan tampil di TV, yang itupun bisa saja karena "titipan" ehehehe.

Anyway, maaf ngelantur, tetapi berikut senarai 10 lagu dari artis Indonesia paling cihuy buat gw dalam satu tahun belakangan ini.



My Top 10 Songs of 2018 (Indonesia)


10. "Skin to Skin" – Monica Karina feat. Dipha Barus

Monica sebelumnya dikenal sebagai pengisi vokal dalam lagu EDM (electronic dance music, kali aja ada yang belum tahu) "Money Honey" milik Dipha Barus yang nge-hit dan menang karya produksi terbaik (record of the year?) di AMI Awards itu. Kali ini di-reverse, Monica mengeluarkan single miliknya tapi tetap dibantu Dipha Barus. Bedanya? Well, bisa dibilang yang kali ini memang lebih menonjolkan vokalnya Monica yang smooth, dan aransemennya lebih chill-chill groovy gitu.









9. "Waktu" – Endank Soekamti

Lagu ini kayak mudah nyantol di kuping gw sambil memunculkan pemikiran, bahwa di pertengahan 2000-an sampai awal 2010-an lagu pop-punk anthemic seperti ini pasti akan laku sekali, as in bakal sering di-cover sama band anak-anak SMP/SMA =D. Bahwa lagu ini muncul saat ini juga nggak menurunkan tingkat kenikmatannya sih. Mengusung lirik yang "bijak", lagu ini dibawakan dalam tempo medium namun masih bisa memancarkan energinya.








8. "Tunggu Apa Lagi" – Lalahuta

Tentu saja selalu ada tempat untuk lagu pop jazzy di senarai gw, karena ini semacam pertanda si artisnya peduli dengan skill. Kali ini lagunya datang dari band Lalahuta (gw hanya bisa gw kenali dari drummer-nya pernah di home band acara The Comment di NET), bersama producing team Lale Ilman Nino yang belakangan lagi laris banget. Sekilas lagu ini seperti throwback pada bunyi-bunyi band pop-jazz 1980-an Indonesia, ya nggak apa-apa juga, yang penting lagunya terasa sejuk dengan pilihan nada dan instrumennya.








7. "Coconut" – Project Pop

Hakikat paling hakiki buat Project Pop adalah menghasilkan lagu-lagu yang menggembirakan umat, dan lagu terbaru mereka ini bukan pengecualian. Secara lirik lagu ini memang se-random judulnya, tetapi ada comedic timing yang asyik sehingga menambah keceriaan yang sebenarnya sudah lebih dahulu dikerjakan oleh melodi dan musiknya. That's right, salah satu yang membuat mereka masih jadi band komedi terbaik Indonesia adalah karena they actually make good music.








6. "Guna Manusia" – Barasuara

Lama juga menanti rilisan baru band rock puitis ini ((rock puitis)). Sebagaimana gaya mereka yang gw sukai dulu, Barasuara menghadirkan lagu dengan campuran berbagai style yang asimetris--kali ini ada semacam nuansa 1980's, dan juga dengan lirik yang nggak kalah mengusik soal posisi kita sebagai manusia di jagat alam ini *tsaah*. Cakeplah.








5. "Tolong" – Budi Doremi

Mungkin sebagian dari kita nggak menganggap serius Budi Doremi--probably because of the name, sehingga mungkin telah mengabaikan bahwa ada sisi soulful dari nyanyiannya. Sisi itu yang kemudian paling kelihatan di lagu ballad ini. Agak formulaik sih lagunya, tetapi dari gaya bernyanyi Budi serta aksen musiknya yang of course pakai ukulele, lagu yang berisiko menye-menye ini jadi terkesan lebih hangat.








4. "We" – Endah N Rhesa

Endah N Rhesa can rock. Itulah anggapan gw setelah mendengarkan lagu ini. Masih dengan instrumen minimalis gitar dan bass, kali ini dibantu dengan beberapa loop digital, diberi aksen terompet, dan lebih banyak vokal background, menjadikannya salah satu lagu paling dinamis dan exciting dari duo suami-istri ini. Plus, gw juga membayangkan lagu ini bisa bikin penonton sangat partisipatif bila dibawakan live.








3. "Harus Bahagia" – Yura Yunita

Menurut gw lagu ini dikemas dengan sempurna. Singkat, padat, message-nya jelas, dan aransemennya top-notch. Vokal berkarakter nan lincah Yura diiringi dengan musik ala Motown 60-70-an lengkap dengan brass section, bass yang dinamis, plus sahut-sahutan sama background vocals yang menambah suasana ceria, centil, dan, err, bikin bahagia.








2. "Heaven" – Afgan, Isyana Sarasvati, Rendy Pandugo

Akhirnya bisa juga Afgan masuk senarai gw, untungnya itu karena berkolaborasi dengan dua vokalis berbakat lain yang memang gw lebih sukai. Lagunya sendiri sangat adult contemporary radio, atau sering dibilang "easy listening", namun harmoni dari ketiga orang ini bisa benar-benar uplift pesona melodi dan iramanya, pun dengan pemorsian yang tepat lagunya seakan merasuk sukma *halah*. Gw senang dengan kolaborasi rekaman macam ini, yang tetap memasukkan ciri khas masing-masing artisnya tetapi nggak ada yang terlalu showy, dan nggak perlu berpanjang-panjang. Cantik.













1. "Film Favorit" – Sheila on 7

Kayaknya udah lama banget sejak terakhir gw menemukan lagu Sheila On 7 yang bener-bener gw suka. Lagu ini sejak awal memang seolah mengundang penasaran, dari pemilihan judul, cerita yang mau diujarkan, sampai bunyi-bunyian yang dipakai dalam musiknya. Gw merasa dalam lagu ini masih karakternya So7 yang simpel-simpel berisi, tetapi dengan melodi, sound, dan aransemen yang masih relevan untuk zaman sekarang tanpa menghilangkan karakter itu. Jadi, entah selera gw yang ketuaan (So7 debut rekaman hampir 20 tahun yang lalu lho), atau emang dasar lagunya enak banget aja.






Rabu, 26 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2018 (International)

Akhir tahun pastinya jadi periode "menyibukkan diri sendiri" karena senantiasa terpancing untuk bikin konten kilas balik =D. Bahkan sekalipun frekuensi blogging gw menurun, tentu saja gw nggak mau melewatkan bikin senarai akhir tahun sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Mumpung hari liburnya agak banyak nih hehe.

Belum berubah dari yang sudah-sudah, gw akan membuat senarai 10 butir secara urutan mundur dari lagu dan film yang paling gw sukai atau favorit atau paling berkesan dalam satu tahun belakangan ini. 

Sebagai pembuka, gw akan mulai dengan top 10 lagu internasional, yang adalah lagu-lagu non-Indonesia dan non-Jepang (iyah, gw masih akan bikin kategori Jepang ;)). Dalam memeras item-item di kategori musik supaya jadinya cuma 10, gw membuat beberapa prasyarat sederhana, yaitu bukan lagu cover (sorry Sabrina), satu artis hanya satu lagu kecuali duet atau featured dengan artis lain, dan lagunya terbit dalam periode November 2017-November 2018 (walau kadang gw agak cheating sih ehe), baik dalam bentuk single maupun termasuk dalam album. Sederhana bukan? =P

Baik, sodara-sodari, tuan dan puan, bung dan nona, broer dan sus, berikut senarai tahunan pertama gw untuk 2018.





My Top 10 Songs of 2018 (International)

10. "Wild Love" – James Bay

Mas-mas "Let It Go" (2015) ini tampaknya lagi senang bergaul dengan efek digital, tapi masih membawakan nuansa urban soul/R&B yang menonjolkan kekuatan vokalnya. Dengan rupa-rupa bunyinya, lagu yang satu ini terdengar begitu groovy dan--well--sensual. Sangat radio-friendly =P.







9. "Make Me Feel" – Janelle Monaé

Kelincahan Janelle sebagai penyanyi dan performer rupanya bisa kawin dengan musik pop/funk mirip-mirip Prince yang dituangkan dalam lagu ini. Lagu yang enak didengarkan sambil jejogedan, semarak dengan dinamika beat dan permainan beberapa instrumen yang asyik, walau lirik rada provokatif--but aren't they all these days =/.







8. "Love Scenario" – iKON

Salah satu take-away gw dari perhelatan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang kebanggaan kita itu adalah saat upacara penutupan menemukan lagu K-Pop yang bisa gw nikmati sebagai "lagu" ketimbang sebagai "show", yang dibawakan oleh sekelompok boyband yang nggak gw kenal sebelumnya. Nggak se-riuh-elektronika lagu-lagu sebangsanya yang sering gw dengar di sana-sini, nggak terlalu ngikut formula lagu pop/R&B/hiphop zaman sekarang, hampir nggak ada pembeda antara segmen melodi dan segmen rap, has an actual chorus, dan vokal-vokalnya yang cenderung nyantai itu terasa refreshing. Sangat nyaman di kuping, tanpa gw harus mengidolakan artisnya.







7. "Born To Be Yours" – Kygo & Imagine Dragons

Blantika musik mainstream emang lagi nggak bisa kabur dari namanya EDM (electronic dance music, kali ada yang belum tahu), apalagi para DJ/music producer ini lagi sering menggandeng artis-artis top untuk ngisi vokal lagu-lagu mereka. Tapi dalam kasus Imagine Dragons yang memang dari sononya warna musiknya ireguler, kolaborasi dengan Kygo ini sangat make sense. Di luar interlude-nya yang EDM banget, lagunya juga mirip seperti bunyi alternative rock-nya Imagine Dragons dalam versi lebih cerah dan optimis.








6. "Paradise" – George Ezra

Mas-mas "Budapest" (2013) bersuara beratbener ini tampak ingin all out dalam single yang ini. Tak hanya iramanya yang upbeat dan gitar-nya yang cukup kenceng--walau tetap bersandar di gaya folk, vokalnya juga berkelana dari nada rendah hingga falcetto hingga shouting. Pembawaan yang enerjik membuat lagu yang sudah catchy ini jadi makin seru.







5. "Always Remember Us This Way" – Lady Gaga

Jika sosok Ally dalam film A Star Is Born beneran ada di dunia nyata dan semua lagu dalam film ini dirilis ke pasaran, gw rasa gw akan easily memilih lagu yang ini sebagai favorit --disusul oleh "Heal Me", don't judge me. Lagu balada sederhana, walau agak senapas sama "Million Reasons"-nya Gaga, buat gw yang ini melodik, lebih "tuntas", dan lebih emosional.







4. "Happier" – Marshmello ft. Bastille

Satu lagi kolaborasi EDM dan band pop-rock yang hasilnya menyatu dan menyenangkan. Membalut liriknya yang sedih adalah irama ringan dan nada-nada yang lincah, ditegaskan oleh warna suara dan artikulasi si Dan Smith yang beraksen Inggris medok itu. Lagunya mah tetep sedih, tapi pembawaannya yang cerah malah bikin mood agak segeran.







3. "2002" – Anne-Marie

Awalnya lagu ini terdengar pecicilan, sebenarnya ya memang lucu aja. Anne-Marie dibantu Ed Sheeran memadukan musik pop yang asyik tanpa banyak mikir, dan gongnya tentu pada padupadan penggalan lirik lagu-lagu hits akhir 90-an/awal 2000-an dalam chorus-nya. Mungkin bagi banyak pihak lagu ini ganggu, buat gw lagu ini memang layak bercokol di ingatan dengan mudahnya.







2. "This Is Me" – Keala Settle & The Greatest Showman Ensemble

Strangely, lagu ini justru lebih powerful ketika nggak digandeng sama adegan filmnya ^_^;. Perkenalan terhadap lagu ini mungkin terbantu sama trailer The Greatest Showman yang sudah beredar beberapa bulan sebelum film-nya (dan versi single-nya) akhir tahun 2017, tapi mampu bertahan di playlist gw (dan, come on, di playlist elo juga 'kan?) selama filmnya edar bahkan jauh setelahnya. Selain melodinya catchy sekali dan iramanya menghentak, vokal garang Keala Settle seakan mampu memerintahkan pendengarnya untuk nyanyi bersama, minimal bagian background vocals-nya =P. Anthem motivasi self-worth yang kemungkinan besar nggak akan berhenti dinyanyikan orang-orang--terutama di kontes nyanyi dan karaoke--dalam beberapa tahun ke depan.












1. "If Only" – Andrea Bocelli ft. Dua Lipa

Ternyata sebenarnya kita bisa juga kabur dari EDM =D. Penyanyi tenor klasik-pop Italia panutan guru-guru vokal, Andrea Bocelli mampu hadir with a tender bang lewat lagu-lagu dan album barunya. Single yang satu ini menarik perhatian gw karena kok tiba-tiba ada si Dua Lipa--penyanyi yang vokal beratnya agak sulit dibayangkan bersanding dengan vokal gaya klasik. Namun, hasilnya adalah perpaduan dua *no pun intended* warna suara khas, yang mengalun dari nada-nada rendah nan lembut, sampai tembakan nada-nada tinggi yang nyaring. Belum lagi mereka diiringi oleh musik full orchestra yang sinematik, bikin merinding.

Sedikit keterangan bahwa lagu ini aslinya ditulis dalam bahasa Italia, "Qualcosa piu dell'Oro" dengan versi Andrea dewekan--tetep di beberapa bagian dibantu oleh background vocal wanita, namun akhirnya yang masuk album adalah versi bilingual bareng Dua Lipa, yang menurut kuping gw yang sangat pop mainstream ini lebih appealing sih, hehe. Lumayanlah buat tambahan katalog lagu duet anak-anak sekolah musik selain "The Prayer" dan "When You Believe" yekan...









Rabu, 05 Desember 2018

My Movie Picks of November 2018

November telah berlalu, saatnya bikin rapor film paling berkesan bagi gw dari yang gw tonton sepanjang bulan tersebut. Niat menggalakkan diri untuk menonton lebih banyak film sepertinya masih belum bisa diimplementasikan maksimal, namun untunglah bulan ini bisa menemukan yang sangat berkesan.





1. One Cut of the Dead
(2018 - Asmik Ace/ENBU Seminar)
dir. Shin-ichiro Ueda
Cast: Takayuki Hamatsu, Yuzuki Akiyama, Kazuaki Nagaya, Harumi Syuhama, Manabu Hosoi, Hiroshi Ichihara, Shuntaro Yamazaki, Mao, Shin-ichiro Osawa, Yoshiko Takehara


Ketika syuting film zombi di tempat yang konon angker, para pemain dan kru malah didatangi zombi betulan. Gw masih bimbang mau melabelkan film ini sebagai bedon atau justru jenius, karena premis di atas bukanlah gambaran tepat untuk film komedi zombi ini--and I'll say nothing further hehe. Yang jelas impresi film ini bakal membekas cukup lama di gw. Pengecohannya itu lho. Di sini kita bisa lihat hal yang kayaknya random ternyata dibuat dengan perhitungan dan ketelitian luar biasa, dan hasilnya adalah hiburan tingkat tinggi. Gw mungkin bukan pemuja perfilman Jepang tapi when they make something good, it's usually unlike any other, dan ini salah satu buktinya.
My score: 8/10






2. Widows
(2018 - 20th Century Fox)
dir. Steve McQueen
Cast: Viola Davis, Michelle Rodriguez, Elizabeth Debicki, Cynthia Erivo, Liam Neeson, Colin Farrel, Daniel Kaluuya, Brian Tyree Henry, Robert Duvall, Jacki Weaver, Carrie Coon, Garret Dillahunt, Lucas Haas


Walau berangkat dari premis kisah sekelompok orang membuat rencana perampokan, yang udah berulang-ulang kali diangkat, film ini rupanya memberi berbagai lapisan-lapisan yang membuatnya tidak biasa-biasa. Film ini mampu mencakupkan tema kriminal dengan isu gender, politik, ras, tapi nggak sekadar tempelan, dan tanpa harus mengorbankan laju penuturannya. Bagian 'laga'-nya memang nggak sebanyak dramanya, namun buat gw sih nggak sampai menjemukan karena dramanya itu bernas dan penting. And look at that cast.
My score: 7,5/10






3. The Nutcracker and the Four Realms
(2018 - Disney)
dir. Lasse Hallström, Joe Johnston
Cast: Mackenzie Foy, Keira Knightley, Morgan Freeman, Hellen Mirren, Jayden Fowora-Knight, Matthew Macadyen, Eugenio Derbez, Richard E. Grant


Butuh waktu cukup lama bagi Disney untuk bikin film fairy tale yang digarap dengan desain produksi practical yang semegah ini. Gw seneng banget mengamati rancang set, kostum, riasan, serta desain karakternya yang sangat elaborate, kelihatan banget mahal dan kerja kerasnya yang nggak bergantung sama animasi CGI semata *uhuk Alice in Wonderland uhuk*, serba klasik gitulah. Itu bahkan sudah lebih dari cukup mengompensasi ceritanya yang bisa dibilang safe saja dan cenderung ngulang formula film-film Disney yang sudah-sudah. Shot (dominantly) on film!
My score: 7/10






4. Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur
(2018 - Soraya Intercine Films)
dir. Rocky Soraya, Anggy Umbara
Cast: Luna Maya, Herjunot Ali, Teuku Rifnu Wikana, Alex Abbad, Verdi Solaiman, Kiki Narendra, Oppie Kumis, Asri Welas, Ence Bagus


Kekuatan terbesar film ini sebenarnya terletak pada nostalgia...namun bagi gw yang nonton film-film Suzzanna hanya di TV dan kayaknya nggak pernah secara utuh, nostalgia mungkin hanya works sebagian saja--walau tetep sih melihat Luna Maya dengan cara bicara dan gestur klasik Suzzanna adalah hiburan hakiki =). Justru yang menarik buat gw adalah arah film ini untuk bikin si tokoh Suzzanna sebagai hantu pendendam tapi tetap protagonis, dan itu bisa disampaikan dengan baik. Filmnya memang nggak tergolong seram dan beberapa titik terasa off, namun dengan konsep serta kemasannya yang proper, film ini jelas jauh dari kategori tercela.
My score: 7/10


Selasa, 13 November 2018

My Movie Picks of October 2018

Kalau nyari blockbusters, Oktober itu memang bulan sepoi-sepoi saja. Namun, buat bagi para peminat film, bulan tersebut justru dihiasi line-up yang bikin bergairah, karena nggak melulu kenceng-kencengan ledakan atau sekuel/prekuel/reboot/remake/reimagine/ricarica dan sebangsanya. Nah, bagaimana hasilnya, beginilah rapor dari gw untuk Oktober 2018.





1. Bad Times at the El Royale
(2018 - 20th Century Fox)
dir. Drew Goddard
Cast: Jeff Bridges, Chris Hemsworth, Jon Hamm, Dakota Johnson, Cynthia Erivo, Cailee Spaeny, Lewis Pullman, Shea Wingham, Xavier Dolan, Nick Offerman



Meleburkan premis "sekelompok orang nggak saling kenal terjebak di satu tempat" dengan berbagai unsur yang biasanya hanya muat di satu film masing-masing, dari konspirasi, kriminal, sekte sesat, sampai ke blantika musik. Mirip-mirip konsep bertutur serial Lost, kayaknya si Goddard lagi agak pamer sama kemampuan meramu cerita, plus keterampilan presentasi audio visual yang berkelas (dan shot on film!), tapi ya memang filmnya berhasil ngebawa gw untuk ngikutin terus ragam misteri dari karakter-karakternya yang akhirnya "tumpah" semua di hotel El Royale. Walau nggak se-mindblowing The Cabin in the Woods-nya Goddard beberapa tahun lalu, film ini masih sama menghiburnya, terutama dengan bumbu dark comedy-nya.
My score: 7,5/10





2. Smallfoot
(2018 - Warner Bros./Warner Animation Group)
dir. Karey Kirkpatrick
Cast: Channing Tatum, Zendaya, James Corden, Common, Danny DeVito, LeBron James, Gina Rodriguez, Yara Shahidi


Film ini memainkan perspektif makhluk mitos yeti atau bigfoot, dengan memutarbalikkan bahwa manusialah yang merupakan "makhluk mitos" bagi para yeti =). Secara visual film ini menurut gw kurang appealing ya, terutama di desain karakter. Pun sebagai musikal animasi, lagu-lagunya kurang nempel. Namun, film ini punya amunisi di komedi slapstick ala Looney Tunes yang sukses bikin gw ketawa kenceng, serta pada tema eksistensialisme serta etika yang lumayan bikin cerita film ini lebih berbobot dari yang dikira.
My score: 7,5/10





3. First Man
(2018 - Universal)
dir. Damien Chazelle
Cast: Ryan Gosling, Claire Foy, Jason Clarke, Kyle Chandler, Corey Stoll, Patrick Fugit, Ciarán Hinds, Pablo Schreiber, Olivia Hamilton


Karena tahunya Chazelle itu yang bikin Whiplash dan La La Land, film ini memberi kesan doi lagi ganti perseneling. Menceritakan tentang Neil Armstrong, seorang tokoh nyata dan dikenal oleh begitu banyak orang di dunia, Chazelle lebih memilih menjabarkan ganjalan batin sang astronot ketimbang kisah "sukses/inspiratif/patriotis" dari satu momen kebanggaan Amerika dalam sejarah. Makanya, di saat langkah-langkah proyek pendaratan ke bulan ditampilkan dengan cukup detail, nuansa yang keluar sepanjang film tuh selalu sendu, beda dengan dua film Chazelle sebelumnya yang "bergejolak". Tuturannya sih baik, dan justru mungkin paling mendekati gambaran pribadi Armstrong yang memang dikenal modest dan tertutup, tapi ya gw agak kaget aja sih si Chazelle bikin filmnya dengan gaya begini.
My score: 7,5/10





4. A Star Is Born
(2018 - Warner Bros.)
dir. Bradley Cooper
Cast: Lady Gaga, Bradley Cooper, Sam Elliott, Rafi Gavron, Andrew Dice Clay, Anthony Ramos, Ron Rifkin


Remake ke-sekian dari kisah sepasang seniman mengarungi cinta dan karier di industri hiburan, ketika yang satu mengorbitkan yang lain sampai jadi lebih sukses dan belakangan bikin hubungan merenggang. Yang pasti, penyesuaian dengan kondisi kekiniannya oke, lagu-lagunya emang beneran bisa jadi hits di dunia nyata (dan sebagai soundtrack ternyata memang jadi hits di dunia nyata), dan tentu saja motornya adalah performa mantap dari para aktornya. Agak kendor iramanya seiring filmnya berjalan dari pertengahan, tapi the idea bahwa film ini ada sebagai remake tapi bisa tetap relevan, apalagi dengan lagu-lagunya yang memorable, dan ini adalah debut film panjang Cooper sebagai sutradara, akan membuat film ini masuk dalam memori sebagai karya yang impresif.
My score: 7/10





5. Bohemian Rhapsody
(2018 - 20th Century Fox)
dir. Bryan Singer
Cast: Rami Malek, Lucy Boynton, Gwilym Lee, Joseph Mazzello, Ben Hardy, Aidan Gillen, Allen Leech, Tom Hollander, Mike Myers


Separuh daya tarik film ini adalah lagu-lagu band Queen yang ditaruh pada konteks terhadap karier mereka--tumbuh di era 1990-an membuat gw masih kena sama musik Queen, walau mungkin cuma yang radio hits aja hehe. Dari situ aja, film ini udah pasti dapat predikat menghibur, ditambah lagi penanganan visualnya yang apik. Hanya saja sebagai sebuah biografi tokoh dan band-nya, gw kurang bisa menangkap apa pegangan utama yang ingin diceritakan, semua seakan ingin diutarakan tapi  harus se-light mungkin dalam waktu terbatas, jadinya nggak ada yang bener-bener nancep. Efeknya, sekeren-kerennya reka ulang show Queen di acara panggung Live Aid di akhir film ini, gw nggak bisa merasakan signifikansi emosional event itu terhadap ceritanya.
My score: 7/10





6. Dear Nathan: Hello Salma
(2018 - Rapi Film)
dir. Indra Gunawan
Cast: Jefri Nichol, Amanda Rawles, Susan Sameh, Devano Danendra, Karina Suwandi, Gito Gilas, Surya Saputra, Diandra Agatha, Rendi Jhon


On paper, topik-topik yang diangkat di film ini lebih membumi dan penting daripada Dear Nathan pertama. Tokoh-tokoh kita digambarkan dalam proses lulus SMA ke kuliah, lalu berbenturan dengan persoalan keluarga yang juga terkait erat dengan urusan pendidikan dan cinta. Nggak terlalu nghayal disko lagilah. Namun, apakah itu membuat film ini lebih baik dari yang pertama, gw nggak bisa mengiyakan. Yang gw lihat alurnya masih dibuat muter-muter juga, mungkin karena overwhelmed sama topik-topiknya sendiri. Malah charm-nya sedikit menurun oleh satu-dua tokoh baru yang penampilannya nggak imbang dengan yang lain. Tapi, kalau mau fair, ini adalah follow-up yang cukup pantas bagi film pertamanya, yang buat gw masih jadi salah satu film roman remaja dengan penggarapan terbaik dalam beberapa tahun ini.
My score: 7/10



Senin, 08 Oktober 2018

My Movie Picks of September 2018

Secara pribadi September kemarin bukan bulan yang semarak dalam hal menonton film buat gw, namun untungnya masih berhasil menemukan yang berkesan. Tiga doang sih, tapi ya okelah, hehe.



1. Aruna & Lidahnya
(2018 - Palari Films)
Dir. Edwin
Cast: Dian Sastrowardoyo, Oka Antara, Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid, Ayu Azhari, Deddy Mahendra Desta


Ada perasaan senang setelah kelar nonton film ini, sesuatu yang tidak benar-benar gw persiapkan ketika akan menyaksikan sebuah film arahan Edwin--yang setahu gw lebih sering berkutat di ranah yang lebih edgy dan simbolik, bahkan Posesif tahun lalu juga masih berasa begitu. His latest commercial attempt ini terlihat sebagai hasil kolaborasi dan kompromi yang pas antara menghantarkan cerita jalan-jalan dan pertemanan antar-adult yang ringan penuh canda ria yang kadang konyol dan absurd, sekaligus tetap terasa kedewasaannya. Overall feeling tersebut juga lumayan sukses mengalihkan gw dari ganjalan-ganjalan kecil tentang apa sih sebenernya kerjaan Aruna serta teori konspirasi yang agak terlalu berat buat dijadikan  "hanya" kisah pendamping.
My score: 8/10






2. Crazy Rich Asians
(2018 - Warner Bros.)
Dir. Jon M. Chu
Cast: Constance Wu, Henry Golding, Michelle Yeoh, Gemma Chan, Awkwafina, Ken Jeong, Chris Pang, Sonoya Mizuno, Lisa Lu, Nico Santos, Jing Lusi, Pierre Png, Jimmy O. Yang, Tan Kheng Hua


Potensi menjadi kisah receh ala telenovela Meksiko atau sekadar Meteor Garden versi Hollywood sanggup dipatahkan. Walau dengan premis dasar hubungan cinta yang terhalang keluarga besar, kompleksitas karakternya berhasil memberikan sudut pandang tersendiri--terutama dari tokoh utama ceweknya yang Chinese-American sehingga duduk konfliknya jelas bukanlah karena perbedaan ekonomi. Apakah merepresentasikan kaum jetset berdarah Asia yang otentik? Entahlah. Yang pasti, film komedi romantis ini begitu lancar bercerita, ritmenya asyik, dan sukses memunculkan makna "crazy rich" dan "Asian" dalam suatu persembahan yang terintegrasi, bukan cuma hiasan atau lucu-lucuan doang.
My score: 7,5/10






3. Something in Between
(2018 - Screenplay Films)
Dir. Asep Kusdinar
Cast: Jefri Nichol, Amanda Rawles, Junior Liem, Slamet Rahardjo, Yayu Unru, Naufal Samudra, Febby Rastanty, Amara, Dolly Martin, Djenar Maesa Ayu, Surya Saputra, Denira Wiraguna


Bagi yang masih sabar berharap bahwa kali aja Screenplay Films bisa menghasilkan film drama romantis remaja yang actually 'nggenah', harapan itu semakin nyata ketika Something in Between rilis di bioskop September kemarin. Iya, film ini paling mendekati harapan itu. Tak lagi dijejali dialog-dialog ajaib-maunya-puitis-bawa-bawa-Tuhan, ataupun 'twist' daur ulang dari sekian ratus opera sabun semisal amnesia, kembaran rahasia, sakit-sakit stadium empat ke atas, salah sangka bikin depresi bertahun-tahun, dsb. Film yang ini berjalan sebagaimana roman remaja 'seharusnya', dengan kadar manis, haru, dan lucu secukupnya. Bagian terajaib dari film ini pun masih acceptable, karena memang bermain di ranah fantasy romance. Dengan masih ada kekurangan sana-sini, gw berani bilang ini film roman Screenplay terbaik sejauh ini =).
My score: 7/10



Minggu, 16 September 2018

My Movie Picks of August 2018

Ketika tahu line-up bulan Agustus, gw ada feeling bahwa ini akan jadi bulan yang baik bagi penggemar film seperti gw. Well, walau pada akhirnya tidak sebanyak yang diharapkan, ternyata memang muncul judul-judul yang cukup meninggalkan kesan kuat, bukan hanya paling "bener" di bulan periode bersangkutan semata.




1. Sebelum Iblis Menjemput
(2018 - Sky Media)
Dir. Timo Tjahjanto
Cast: Chelsea Islan, Pevita Pearce, Samo Rafael, Karina Suwandi, Ray Sahetapy, Hadijah Shahab, Kinaryosih, Ruth Marini


Dari sekian upaya "horor premium" yang dirilis tahun ini, film ini buat gw punya paket lengkap. Seram iya, kejam iya, seru iya, kualitas visual dan audio bagus iya banget, plus jalan cerita yang nggak ribet tapi rapih susunannya. Malah, sebenarnya misteri film ini kayak udah diberesin di paruh awal, sisanya tinggal "pesta horor"-nya aja...yang ternyata gw bisa enjoy entah kenapa. Apapun kompromi yang dilakukan antara sineas yang notabene one-half of the Mo Brothers bersama para produser dari Screenplay Films =), yang pasti hasil akhirnya memuaskan buat gw yang bukan penggemar horor ini.
My score: 8/10





2. Christopher Robin
(2018 - Disney)
Dir. Marc Forster
Cast: Ewan McGregor, Hayley Atwell, Jim Cummings, Bronte Carmichael, Mark Gatiss, Brad Garrett, Nick Mohammed, Peter Capaldi, Sophie Okonedo, Toby Jones


Hype film ini agak adem ya, padahal setelah menonton, menurut gw ini salah satu film keluarga live action keluaran Disney terbaik di era sekarang. Film ini bisa dibilang kelanjutan dari kisah-kisah Winnie the Pooh versi Disney, terutama saat si bocah Christopher Robin sudah dewasa dan bekeluarga, dan dihadapkan pada ribetnya tekanan dunia "nyata". Selipan filosofis dan kalimat-kalimat yang sederhana tapi aww-so-deep masih dipertahankan, namun yang mengesankan gw adalah atmosfernya yang hangat dan memancarkan energi positif. Nggak memakai warna-warna terlalu cerah mencolok, nggak terlalu berusaha melawak, tapi nggak terlalu sendu haru biru juga. Pas banget.
My score: 8/10





3. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
(2018 - Lifelike Pictures/Fox International Productions)
Dir. Angga Dwimas Sasongko
Cast: Vino G. Bastian, Yayan Ruhian, Sherina Munaf, Fariz Alfarazi, Ruth Marini, Marsha Timothy, Aghniny Haque, Yusuf Mahardika, Dwi Sasono, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Marcella Zalianty, Andi /rif, Dian Sidik


Adalah salah satu film Indonesia paling dinantikan tahun ini terutama sebagai "pertaruhan" sampai mana perfilman kita bisa menghasilkan sebuah blockbuster yang layak. Dan buat gw, film ini layak. Upaya keras dalam meng-assemble segala aspek produksi film ini terbayar. Departemen artisik, suara dan visual, plus musiknya gw paling suka banget. Gw pun suka dengan cara film ini dibawa sebagai "cerita silat" yang biasa dikenal: dari pertikaian guru-murid persilatan, ke ilmu meringankan tubuh, ke huru-hara di warung makan, sampai ke sosok-sosok yang tiba-tiba datang dan pergi sesuka hatimu hoo kejamnya dikau, tampak klise tapi dimasukkin aja semua di sini tanpa ditahan-tahan, toh itu yang bikin seru. Gw cuma berharap humornya bisa lebih gesit, tapi apa yang ditampilkan sudah cukup dalam rangka menghibur, terlebih bagian kelahinya yang punya porsi mengenyangkan. Satu lagi, mungkin ini film Indonesia dengan product placement paling alus sepanjang masa hehehe.
My score: 7,5/10





4. Searching
(2018 - Sony Pictures)
Dir. Aneesh Chaganty
Cast: John Cho, Debra Messing, Michelle La, Joseph Lee, Sara Sohn


Setelah gaya found footage banyak dipakai, kini mulai muncul gaya bercerita baru yang lumayan kekinian, yaitu (seolah-olah) lewat display layar komputer. Secara yekan komputer sekarang bisa video, bisa nelepon, dan segala informasi bisa tersimpan atau dicari secara digital. Searching menggunakan medium tersebut untuk bercerita--quite appropriately--tentang seorang ayah mencari putri remajanya yang hilang tanpa kabar, dan berujung pada dugaan tindak kriminal. Di luar gayanya yang sangat atraktif, bukan itu yang bikin film ini berhasil. Melainkan karena film ini tetap mampu bercerita dengan baik, nilai-nilai dramatisnya tetap muncul walau penataan adegannya nggak "sinematis".
My score: 7,5/10





5. The Meg
(2018 - Warner Bros.)
Dir. Jon Turtletaub
Cast: Jason Statham, Li Bingbing, Rainn Wilson, Cliff Curtis, Winston Chao, Ruby Rose, Sophia Cai, Page Kennedy, Robert Taylor, Ólafur Darri Ólafsson, Jessica McNamee


The Meg adalah film yang seyogianya disantap tanpa perlu mind the details karena sejak kalimat premisnya saja sudah lebih mirip wahana 4-dimensi daripada film cerita. Hiu raksasa purba ternyata masih ada dan muncul lagi ke permukaan di masa kini dan mulai meneror, ini adalah resep untuk membuat rangkaian adegan seru-seruan dan kaget-kagetan yang, well, menyenangkan. Model-model film yang bakal sering dapat rating oke tiap tayang di TV nasional.
My score: 7/10





6. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta
(2018 - Mooryati Soedibyo Cinema)
Dir. Hanung Bramantyo
Cast: Ario Bayu, Adinia Wirasti, Marthino Lio, Putri Marino, Deddy Sutomo, Anindya Putri, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Christine Hakim, Hans de Kraker, Asmara Abigail, Rukman Rosadi, Meriam Bellina


Bikin film sejarah Indonesia itu 1. nggak murah, 2. nggak mudah risetnya, dan 3. nggak mudah bikin untuk bisa dinikmati sebagai tontonan khalayak. Sultan Agung adalah film biografi sejarah kesekian yang dihasilkan Hanung and the gang, dan menurut gw secara konsep film ini yang paling akomodatif terhadap berbagai kepentingan. Bukan cuma pelajaran sejarah, film ini memasukkan unsur mythical, unsur agama, hingga unsur laga, baik itu peperangan maupun laga persilatan,  dan pemilihan aktor yang mumpuni bikin filmnya terasa manusiawi. Secara cerita juga lebih terstruktur, jadi panjangnya durasi dengan pelbagai dramatisasi pun tetap bisa pahamlah arahnya ke mana. Bagian paling bagus buat gw adalah pas babak pertama soal tahta kerajaan Mataram, sayang makin ke belakang secara naratif kayak banyak yang ke-skip saking banyak hal terjadi. Tapi, overall film ini masuk sebagai film sejarah yang cukup amanlah.
My score: 7/10





7. Kafir
(2018 - Starvision)
Dir. Azhar Kinoi Lubis
Cast: Putri Ayudya, Sujiwo Tejo, Indah Permatasari, Rangga Azof, Nadya Arina, Nova Eliza, Slamet Ambari, Oce Permatasari, Laksmi Notokusumo


Dari look-nya, ada harapan bahwa Kafir layak disandingkan di antara film-film "horor premium" Indonesia yang belakangan banyak muncul. Harapan itu lumayan terpenuhi...paling tidak sebelum menginjak bagian penyelesaiannya. Gw cukup suka bahwa film ini bermain di kisah seputar pelet dan santet dengan cara yang berkelas dan emosional, walau menurut gw untuk menjadi "horor" yang menyeramkan atau memilukan film ini masih agak malu-malu nggak tega gitu. Cuma semua itu jadi terhempas ketika diselesaikan dengan, let's say, kayak pembuatnya nggak kepikiran cara yang lebih kreatif selain the villain explains everything in annoying laughs. Bagaimanapun, gw tetap menghargai Kafir sebagai kelanjutan contoh film horor Indonesia masa kini yang diproduksi dengan baik, dan niat baik.
My score: 7/10


Rabu, 08 Agustus 2018

My Movie Picks of July 2018

Lanjut ke bulan selanjutnya, sepertinya gw lagi dalam fase ketika mood sedang sulit untuk di-uplift dengan menonton film-film terbaru. Dan, iya, gw percaya menilai bagus tidaknya sebuah film kadang tergantung juga pada situasi diri saat itu. Di "ampas" masa liburan kayak bulan Juli ini gw cukup berharap sama beberapa rilisan bioskop, tetapi akhirnya jadi sering cari "pelarian" ke film-film lama yang belum gw tonton via home video. Inti curhatan tadi sebenarnya hanyalah jangan terlalu kaget sama rekapan gw untuk bulan Juli ini, hehe. Semoga yang di bulan baru lebih exciting lah ya.






1. Gone Girl
(2014 - 20th Century Fox)
Dir. David Fincher
Cast: Ben Affleck, Rosamund Pike, Carrie Coon, Tyler Perry, Kim Dickens, Patrick Fugit, Neil Patrick Harris, Missy Pyle, Emily Ratajkowski, Casey Wilson, Sela Ward


Dan akhirnya kesampaian juga menonton film yang sangat hype pada masanya ini--tapi batal rilis di bioskop Indonesia konon gegara yang punya film nggak mau filmnya ada yang dipotong/disunting demi sensor secuil pun. Gayanya sang sutradara seperti biasa seakan mengalir saja tanpa kehebohan, tetapi menyaksikan adegan demi adegan tanpa mampu teralihkan, serta munculnya ketegangan dan keresahan di adegan yang "kayak nggak ada apa-apa", membuktikan ada keahlian yang dilakukan tak kasatmata. Memadukan kisah kriminal dengan drama rumah tangga namun tidak jatuh jadi opera sabun, ide liar sang pemilik cerita sukses disajikan sebagai film yang begitu memikat, dihiasi dialog-dialog witty dan akting berkelas yang membuatnya tidak sesuram kedengarannya.
My score: 8/10





2. Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
(2017 - Fox Searchlight)
Dir. Matthew McDonagh
Cast: Frances McDormand, Sam Rockwell, Woody Harrelson, Caleb Landry Jones, Peter Dinklage, Lucas Hedges, Abbie Cornish, John Hawkes, Željko Ivanek


Meski dipicu oleh sebuah kasus kriminal tak terselesaikan--hingga ibu sang korban kukuh menuntut keadilan, film ini rupanya ingin lebih mengupas karakter-karakternya yang bisa dibilang terjebak dalam keadaan, ataupun terjebak oleh keputusan mereka sendiri. Kalau disarikan ceritanya agak sedih karena berisi tokoh-tokoh bernasib tragis, tapi untungnya film ini menyajikannya dengan dark humour, dialog ngocol, dan pilihan-pilihan adegan yang menghentak.
My score: 7,5/10





3. Mission: Impossible - Fallout
(2018 - Paramount)
Dir. Christopher McQuarrie
Cast: Tom Cruise, Henry Cavill, Rebecca Ferguson, Simon Pegg, Ving Rhames, Alec Baldwin, Angela Bassett, Sean Harris, Vanessa Kirby, Michelle Monaghan, Wes Bentley


Franchise Mission: Impossible *iya, ada titik dua di tengah* sepertinya mau memakemkan gaya penuturan action spionase yang nggak banyak ngomong tapi berbicara lewat situasi, satu hal yang sukses besar di episode sebelumnya, Mission: Impossible - Rogue Nation (2015). Fallout sendiri gw tangkap seperti semacam rangkuman berbagai elemen lima film sebelumnya, entah itu pengulangan tema, setting, hingga pengulangan karakter dari film sebelumnya yang gw sangka udah beres eh rupanya ceritanya ini lanjutan langsung dari Rogue Nation jadinya muncul lagi, hehe. Meski Fallout tetap seru banget, gw merasa Rogue Nation, yang dalam memori gw masih lebih fresh, masih jadi favorit pribadi. Ya daripada M:I-2, ye 'kan =p.
My score: 7,5/10





4. Ant-Man and the Wasp
(2018 - Marvel Studios)
Dir. Peyton Reed
Cast: Paul Rudd, Evangeline Lilly, Michael Douglas, Michelle Pfeiffer, Laurence Fishburne, Walton Goggins, Hannah John-Kamen, Michael Peña, Judy Greer, Bobby Cannavale, Abby Ryder Forston.


Kalau ditimbang-timbang dengan film-film Marvel lainnya, Ant-Man (2015) adalah yang paling nggak dibebankan dengan misi menyelamatkan seluruh jagat raya, sehingga munculnya pun appropriately lebih ceria, ringan, dan paling menyenangkan. Sekuel-nya ini menurut gw masih dengan pembawaan yang sama, bahkan kini dengan jalan cerita yang lebih tidak klise, dan masih sama lucunya. Namun, sisi lain dari kesamaan tersebut adalah jadinya film ini nggak terasa sesegar kemunculan pertamanya. Untunglah kehadiran mbak Evangeline sebagai The Wasp memang exciting, hehe *penggemar sejak Lost*.
My score: 7/10





5. Buffalo Boys
(2018 - Infinite Studios/ Screenplay Infinite Films)
Dir. Mike Wiluan
Cast: Ario Bayu, Yoshi Sudarso, Pevita Pearce, Tyo Pakusadewo, Reinout Bussemaker, Happy Salma, Daniel Adnan, Mikha Tambayong, Donny Damara, El Manik, Zack Lee, Sunny Pang, Alex Abbad, Mark 'Conan' Stevens


Okay, apakah ini film terbaik di luar sana? Bukan. Akan tetapi, sebagai sebuah laga fantasi, film ini tetap sebuah "ke-ngaco-an" yang menyenangkan, mewujudnyatakan imajinasi tentang petualangan ala wild west yang dimuat-muatin dalam setting Indonesia zaman kolonial. Upaya keras dalam memproduksi film ini terlihat jelas: adegan-adegan laganya keren, look-nya mahal berasa nonton film luar negeri, Sudarso sukses berbahasa Indonesia tanpa aksen aneh-aneh, dan yang paling gw salut adalah para aktor elit Indonesia di sini berhasil mengujarkan lines mereka dengan artikulatif dan beremosi sekalipun susunan kalimatnya ketahuan banget asalnya ditulis tidak dalam bahasa Indonesia. Gw perlu taruh film ini di senarai, karena harus diingat lagi bahwasanya Indonesia bisa banget memproduksi (atau ko-produksi) film berskala mancanegara seperti ini...tinggal masalah mau (kasih modal) atau nggak =D.
My score: 7/10




Minggu, 08 Juli 2018

My Movie Picks of June 2018

Balik lagi ke rutinitas nonton yang agak normal, bulan Juni kemarin film-film yang gw tonton beraneka ragam, tapi saat direkap hasilnya lumayan mengejutkan, hehe. Mari...



1. Hereditary
(2018 - A24)
Dir. Ari Aster
Cast: Toni Collette, Gabriel Byrne, Alex Wolff, Milly Shapiro, Ann Dowd, Mallory Bechtel


Buat gw yang nggak demen horor, syarat film horor yang bagus itu cukup berat. Pertama harus punya cerita oke, kedua harus beneran serem. Hereditary termasuk yang memenuhi kedua syarat itu, sekalipun dengan metode yang sedikit beda. Kisah tentang keluarga yang menyimpan misteri selepas wafatnya si nenek, baik itu misteri hubungan antarmereka yang kompleks maupun misteri kutukan supranatural yang memperparah itu semua. Menurut gw ini adalah horor ilmu hitam yang melebur dengan thriller psikologis, tampil dengan penataan adegan yang bernilai artistik tersendiri dan performa akting yang hebat. Cuma ya bagian-bagian seremnya cenderung stres-bikin-pengen-ngomong-kasar sih ketimbang model kaget-jadi-bikin-ketawa-rame-rame.
My score: 7,5/10





2. Incredibles 2
(2018 - Disney/Pixar)
Dir. Brad Bird
Cast: Craig T. Nelson, Holly Hunter, Bob Odenkirk, Catherine Keener, Sarah Vowell, Huckleberry Milner, Eli Fucile, Samuel L. Jackson, Sophia Bush, Brad Bird, Isabella Rossellini


Melanjutkan petualangan seru keluarga Parr yang punya kekuatan super di tengah masyarakat yang melarang aktivitas superhero. Film kedua ini makin menekankan pada benturan kepentingan keluarga vs menjadi pahlawan bagi dunia. Tetap seru, lucu, lincah, enak dilihat, walau gw merasa ceritanya jadi agak penuh dan terlalu panjang, dan intrik penjahatnya juga predictable
My score: 7/10





3. Jurassic World: Fallen Kingdom
(2018 - Universal)
Dir. J.A. Bayona
Cast: Chris Pratt, Bryce Dallas Howard, Rafe Spall, Justice Smith, Daniella Pineda, James Cromwell, Isabella Sermon, Geraldine Chaplin, Toby Jones, B.D. Wong, Jeff Goldblum


Sebagai yang termasuk suka sama Jurassic World (2015), gw sebenarnya nggak expect banyak dari sekuelnya ini. Dan, well, ternyata hasilnya memang nggak segelegar yang sebelumnya, apalagi di paruh kedua ruang ceritanya dipersempit. Cuma, aksi dinosaurusnya tetap oke, world building-nya semakin mantap, dan hint mengenai arah cerita di sekuel selanjutnya cukup bikin penasaran. Oh, adegan favorit tentu saja yang (seolah) satu take di dalam ruang sempit  mirip Children of Men (2006) versi bawah air =D.
My score: 7/10





4. Kulari ke Pantai
(2018 - Miles Film)
Dir. Riri Riza
Cast: Maisha Kanna, Lil'li Latisha, Marsha Timothy, Suku_Dani, Ibnu Jamil, Lukman Sardi, Karina Suwandi, M. Adhiyat, Varun Tanjdung, Dodit Mulyanto, Fadlan Rizal, Ligwina Hananto

Gw suka pada tone film ini yang agak realis, bisa bikin relate sama karakter-karakternya yang gampang ditemui di kenyataan sekarang. Ini bukan anak baik vs anak jahat, tapi konflik yang timbul karena beda kebiasaan dan beda lingkungan saat traveling bersama. Cuma mungkin saking realisnya—walau tetap ceria dan enak disaksikan, bawaan filmnya jadi terlalu santai dan…apa ya…kayak nggak terlalu penting banget untuk diikutin. Mungkin bakal lebih megang kalau durasinya agak di-trim dan konfliknya dipertajam?
My score: 7/10





5. Hostiles
(2017 - Entertainment Studios/Waypoint Entertainment/Bloom)
Dir. Scott Cooper
Cast: Christian Bale, Rosamund Pike, Wes Studi, Ben Foster, Rory Cochrane, Jesse Plemons, Stephen Lang, David Midthunder, Adam Beach, Q'orianka Kilcher, Xavier Horsechief, Tanaya Beatty, Timothée Chalamet, Peter Mullan, Ryan Bingham


Mungkin bukan film pertama yang ingin mengangkat bahwa kaum pendatang vs native di Amerika sana bukan sesederhana baik vs jahat seperti dalam film-film koboi kebanyakan. Ritmenya cenerung mendayu-dayu, namun memberi tonjolan emosi dari para aktornya yang keren-keren, serta lumayan bisa meng-highlight tentang makna 'hostile' di tengah indahnya wild west. Gambarnya cakep sangat.
My score: 7/10





6. Insya Allah Sah 2
(2018 - MD Pictures)
Dir. Anggy Umbara & Bounty Umbara
Cast: Pandji Pragiwaksono, Donny Alamsyah, Luna Maya, Nirina Zubir, Tata Ginting, Ray Sahetapy, Dewi Yull, Miller Khan, Meriam Bellina, Tarsan


'Mengejutkan' adalah kata yang tepat untuk menggambarkan. Ceritanya yang absurd bisa gw ikutin tanpa banyak komplain dari awal sampai akhir. Tujuannya jelas, lajunya asyik. Mungkin halangan terbesarnya adalah pada banyaknya lelucon yang miss. Walau nggak seheboh film-film Umbara bros. yang gw tahu, ternyata film ini tetap bisa memberikan hiburan yang cukup. Dan, bisa jadi ini film bernilai Islami paling accessible dan menyenangkan yang pernah rilis di Indonesia dalam waktu-waktu ini.
My score: 7/10