Selasa, 30 Mei 2017

[Movie] Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)

Mengenai sikap gw terhadap film-film Marvel Studios, gw nggak bisa dibilang nge-fan, tetapi juga nggak benci. Udah lebih dari selusin film-film Marvel gw tonton, menurut gw secara keseluruhan, well, okay, tapi tingkat kenikmatannya fluktuatif. Guardians of the Galaxy (2014) termasuk yang paling bisa gw nikmati, mungkin karena kisahnya nggak melulu "superhero", tapi lebih ke petualangan dengan sentuhan komedi oddball, visual lebih berwarna, dan hiasan lagu-lagu retro. Wajar dong kalau gw agak berharap setidaknya Guardians of the Galaxy Vol. 2 paling nggak bisa menyamai yang pertama. Filmnya masih menggunakan bahan-bahan relatif sama dengan yang pertama, ya termasuk tone komedi dan musik 70's-nya, dan perkenalan planet-planet dan alien-alien baru dengan ciri khas masing-masing. Bedanya, sekarang lebih ramai karakter, dan ceritanya lebih ingin mendekatkan penonton dengan sisi personal karakter-karakternya, terutama soal relasi mereka dengan "keluarga" masing-masing.

Di atas kertas, itu gabungan yang bagus, dan gw yakin itu works untuk banyak orang. Tapi, buat gw formula yang dipakai di Vol. 2 membuatnya: 1. kepanjangan, dan 2. kelebaran. Maksud baik untuk menggali lebih dalam karakternya malah kesannya membuat mereka terpencar-pencar, dan memang sejak awal tidak ada misi atau purpose tertentu yang harus mereka capai bersama, sehingga sendi-sendi ceritanya sesekali terasa longgar. Beruntung film ini masih dikemas dengan haha-hihi seperti film pertamanya, rancangan adegan-adegan laganya boleh, ada beberapa gag nggak penting tapi masih bikin ketawa, dan karakter-karakter utamanya masih menyenangkan. Cuma, karena bagian-bagian itu sudah dicapai sebelumnya di film pertama, freshness-nya agak berkurang aja sih di sini.



Guardians of the Galaxy Vol. 2
(2017 - Marvel Studios)

Written & Directed by James Gunn
Produced by Kevin Feige
Cast: Chris Pratt, Zoe Saldana, Dave Bautista, Bradley Cooper, Vin Diesel, Kurt Russell, Michael Rooker, Karen Gillan, Pom Klementieff, Elizabeth Debicki, Chris Sullivan, Sean Gunn, Sylvester Stallone
My score: 6,5/10

Minggu, 28 Mei 2017

[Movie] Kartini (2017)

Raden Ajeng Kartini adalah pahlawan nasional Indonesia paling terkenal, namun gw merasa bahwa beliau tidak pernah diperkenalkan secara komprehensif, termasuk dalam buku-buku sejarah. Selalu pokoknya dia bangsawati Jawa zaman kolonial yang bikin sekolah buat anak-anak pribumi, udah. Well, beliau identik juga dengan ide emansipasi wanita, tetapi apakah semua orang benar-benar tahu itu artinya apa, sampai-sampai perayaan Hari Kartini malah bikin lomba pakai baju daerah yang nggak ada kaitannya sama sekali? Dalam lautan gagasan-gagasan kurang lengkap itulah, gw senang dengan keberadaan film Kartini. Sederhana aja, baru lewat film ini gw diajak untuk "mengenal" apa dan siapa itu Kartini. Di zaman penjajahan Belanda, Kartini hidup di lingkungan yang mungkin dianggap lebih beruntung, kaya, punya akses pendidikan. Dan, ia memanfaatkan privilage itu untuk berkarya--membuat artikel budaya, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, dan transfer ilmu ke kaumnya sendiri. Bahwa sesungguhnya perjuangannya bukan melawan Belanda (yang ironically justru sangat membantunya dalam meraih cita-cita), melainkan melawan lingkungan rumahnya sendiri, tradisi-tradisi dan pemikiran-pemikiran yang membatasi terobosan-terobosan baik yang dilakukannya, hanya karena dia perempuan.

Di luar itu, film Kartini juga berfungsi baik sebagai sebuah film sejarah dengan dramatisasinya. Ya jelas selain nilai produksi apik dan jajaran pemain kelas wahid, visi film ini dalam menggambarkan Kartini yang rebel dan kaya imajinasi menurut gw sangat menarik. Itu bikin filmnya terasa hidup dan relatable untuk ditonton zaman sekarang--bukan soal otentik secara sejarah, melainkan interpretasi emosi yang riil. Konteks sejarah. sosial, dan budayanya juga bisa dikedepankan dengan mulus sehingga menyaksikannya jadi berasa utuh. Ada humor dan ada haru, sesuatu yang tak heran bila melihat nama Hanung Bramantyo selaku sutradara tapi, percaya deh, di sini beda sekali sensasinya. Somehow lebih tulus, tepat porsi, nggak serba bombastis, dan lebih kena dalam berbagai sisi. Gw berani bilang, ini film Hanung yang paling gw nikmati, tanpa komplain sedikit pun.


Kartini
(2017 - Legacy Pictures/Screenplay Films)

Directed by Hanung Bramantyo
Written by Bagus Bramanti, Hanung Bramantyo
Produced by Robert Ronny
Cast: Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Acha Septriasa, Ayushita Nugraha, Djenar Maesa Ayu, Denny Sumargo, Giras Basuwondo, Nova Eliza, Rukman Rosadi, Dwi Sasono, Reza Rahadian, Rudy Wowor, Hans De Kraker, Barbara van Kooten, Rebecca Reijman
My score: 8/10

Sabtu, 27 Mei 2017

[Movie] Fast & Furious 8 (2017)

Seri Fast & Furious begitu mengesankan karena berawal lumayan sederhana dan hampir kolaps di tengah jalan, sampai akhirnya bangkit dan bahkan jadi favorit warga dunia, yah dibilang terhitung sejak Fast Five (2011). Seri ini survive dan semakin sukses dengan menawarkan aksi laga kejar-kejaran mobil ditambah pemilihan pemain/casting yang makin ke sini makin berkilau. Dengan Fast & Furious 8, seri ini membuktikan sudah menemukan jalurnya. Durasi 2 jam 15 menitan terdiri dari 5-6 adegan laga heboh berkaitan dengan mobil--salah satunya yang dijuluki "make it rain" gw suka banget, dan di antaranya diselipkan cerita seorang mastermind yang ingin menguasai dunia (obviously) digabung dengan opera sabun tentang famili (bukan rumah makan Padang), yang sebenarnya nggak perlu terlalu dihiraukan karena toh, biar kata ada upaya permainan emosi dengan "penyanderaan psikologis" dan pengkhianatan, udah pada tahulah pada akhirnya semua akan baik-baik saja.

Nah, mungkin itu yang menjadikan sensasi nonton film kedelapan ini nggak istimewa-istimewa amat, rasanya bak rutinitas saja, sama halnya kalau ngikutin serial TV Amerika zaman dulu--sekarang juga ada sih--yang sudah terpola setiap episodenya, cuma ini versi (dua kali) lebih panjang aja durasinya. Biar begitu, gw sih tetap enjoy adegan-adegan laganya, humor-humornya juga kece, penampilan Charlize Theron dan Helen Mirren juga memikat. Pokoknya film yang menghibur dan "safe" untuk bisa lanjut ke sekuel selanjutnya.


Fast & Furious 8
a.k.a. The Fate of the Furious
(2017 - Universal)

Directed by F. Gary Gray
Written by Chris Morgan
Based on the characters created by Gary Scott Thompson
Produced by Neil H. Moritz, Vin Diesel, Michael Fottrell, Chris Morgan
Cast: Vin Diesel, Dwayne Johnson, Charlize Theron, Michelle Rodriguez, Jason Statham, Tyrese Gibson, Chris 'Ludacris' Bridges, Nathalie Emmanuel, Kurt Russell, Scott Eastwood, Elsa Pataky, Kristofer Hivju, Luke Evans, Helen Mirren
My score: 7/10

Just a little change...

Well, quite big change, actually. Kalau diperhatikan blog ini sekarang jarang banget update-nya, terhitung dalam dua bulan belakangan. Apakah gw mulai lesu dalam nge-blog, muak, jenuh, bosan di rumah lagi sendirian papa sibuk mama arisan? Kalau pertanyaan itu, jawabannya antara ya dan tidak. Jenuh dan bosan--sekalipun almh Nike Ardilla bilang bosan mungkin itu sifatmu--sebenarnya tidak. Gw masih nonton film sebanyak biasanya, gw pun pengen banget menuliskan review setiap film yang gw tonton di bioskop untuk diposting di blog ini. Akan tetapi, bagian yang mungkin benar adalah 'lesu'-nya. Kenapa? Karena gw sekarang sudah punya pekerjaan baru yang jadi alokasi utama waktu dan tenaga gw, sehingga energinya agak berkurang untuk melakukan hobi lama gw ini. I mean, ini sebenarnya fase yang berulang, dalam delapan tahun gw nge-blog, setiap gw masuk ke pekerjaan baru pasti nge-blognya tersendat. Dan, don't get me wrong, kerjaan gw sekarang sebenarnya sangat mendukung kecintaan gw sama film, cuma ya soal waktu dan energi itu harus gw banyak curahkan ke profesi, dan, setidaknya sampai sekarang, gw masih belum bisa manage dengan baik.

Untuk itu, gw sedang mencoba nge-blog dengan pendekatan baru, supaya blog ini tetap hidup, supaya gw tetap bisa menyalurkan suara gw dengan cara ini. Dengan waktu yang ada, gw ternyata nggak sanggup untuk me-review semua film yang gw tonton, sehingga gw memutuskan hanya akan menerbitkan review judul-judul pilihan, preferably yang gw memang suka--karena yang paling males untuk di-review adalah yang nggak bagus tapi nggak jelek juga, kemungkinan yang model ginilah yang terpaksa gw skip review-nya. Jujur, gw sudah coba itu dalam review-review terakhir, tetapi, bisa dilihat sendiri, akhirnya gw cuma sanggup menerbitkan review sejumlah hitungan jari sebelah tangan.

Karena itu, gw akan mencoba membuat format baru, yang mungkin cukup kontroversial *halah*. Most likely, gw akan mencoba menuliskan review judul-judul film pilihan itu secara singkat--contoh mungkin seperti satu butir review di rubrik Rapid Film Review yang selama ini gw pakai untuk review film-film lama. Enaknya, di zaman smartphone dan wi-fi ini, bacanya jadi nggak terlalu panjang sehingga nggak memakan batere. Nah, efek sampingnya, isinya jadi nggak semendalam dan nggak mungkin akan sengalor-ngidul yang gw ingini. Namun, buat gw itu lebih baik daripada nothingI've always thought I need this, I still do, dan gw senang bahwa tulisan-tulisan gw ada yang baca dan menanggapi, gw nggak bisa menelantarkan perasaan-perasaan itu begitu saja. Yah, namanya hidup nggak bisalah dapat semua-mua, ya nggak?

Mau nggak mau memang musti ada perubahan, seperti yang musti terjadi di album ketiga sampai ketujuh-nya Linkin Park. Gw berharap lewat pendekatan baru ini Ajirenji tetap bisa jalan, malah siapa tahu jadi meningkat suatu saat nanti. Dicoba dulu ajalah ya....