Minggu, 30 April 2017

[Movie] Get Out (2017)


Get Out
(2017 - Universal)

Written & Directed by Jordan Peele
Produced by Jason Blum, Jordan Peele, Edward H. Hamm Jr., Sean McKittrick
Cast: Daniel Kaluuya, Allison Williams, Catherine Keener, Bradley Whitford, Caleb Landry Jones, Marcus Henderson, Betty Gabriel, Lakeith Stanfield, LilRel Howry


Kalau lihat poster dan nama produser Jason Blum, kentaranya Get Out ini pasti horor-thriller. Namun, sepertinya film ini punya "kelonggaran" dalam menentukan genre. Sutradaranya aja selama ini dikenal sebagai komedian, bikin film seram, dan menyinggung persoalan ras. Formula tersebut buat gw sudah cukup bikin penasaranuntuk menyaksikannya, nggak perlu tahu sinopsisnya lebih lanjut karena biasanya itu akan menghambarkan pengalaman nonton film beginian. Well, berita bahwa ini salah satu film horor-thriller tersukses di Amerika tahun ini juga jadi penguat alasan untuk nonton sih, pengen tahu what the fuss is about, hehe.

Chris (Daniel Kaluuya) diajak pacarnya, Rose (Allison Williams) ke rumah orang tuanya di sebuah kota kecil. Yang bikin nggak biasa, walaupun ini latarnya masa kini yang katanya sudah lebih "toleran", Chris itu berkulit hitam, dan keluarga Rose berkulit putih dan tinggalnya bukan di kota besar, wajar dong Chris sempat nanya, "Emang keluarga kamu tahu aku berkulit hitam?". Tapi, pas ketemu sih nggak kenapa-kenapa. Bahkan, ada dua orang berkulit hitam yang kerja di rumah mereka. Cuma, Chris merasakan kejanggalan pada dua orang tersebut. Mungkin gambaran termudahnya adalah mereka nggak berperilaku seperti orang berkulit hitam, atau simply nggak seperti manusia normalnya. Misteri ini ternyata akan terus mengejar Chris selama ia berada di tempat tersebut.

Berhubung gw jarang nonton horor, gw sepertinya mengerti kenapa cerita yang diangkat film ini "kena" buat penonton di Amerika sana. Ketegangan antarras di sana rupanya belum sepenuhnya hilang--bahkan saat-saat ini makin mengemuka lagi seperti berbagai kasus penembakan polisi terhadap orang-orang berkulit hitam yang masih sering dicurigai sebagai penjahat. Topik ini diolah oleh Jordan Peele menjadi bahan-bahan untuk memunculkan kejanggalan dan kengerian perilaku manusia, and took it to the extreme. Dan menurut gw penempatan-penempatannya terbilang cermat, contoh ketika Chris di-"pamer"-kan di sebuah pesta yang mengundang pandangan dan perlakuan yang aneh banget kepada Chris dari orang-orang, lama-lama jadi creepy juga, seperti menunjukkan batas tipis antara penasaran sama orang dari latar belakang "berbeda" atau menganggapnya semacam objek eksotis yang musti dikorek-korek. Kedengarannya lucu emang, tapi yang menganggap ini lucu berarti juga menganggap ngesuitin mbak-mbak yang lagi nunggu angkot di pinggir jalan itu menyenangkan. Freak.

Buat gw Get Out adalah perpaduan menarik antara topik yang penting dengan dark comedy dan juga horor-thriller. Memang sih, film ini nggak bikin ketakutan gimana gitu, melainkan lebih ke permainan misteri yang gw akui cukup menegangkan. Ketakutannya bukan pada emosi, tapi pada pikiran. Untungnya itu sama sekali nggak melunturkan nilai hiburan film ini. Dalam perjalanan ceritanya sih sempat kepikir juga ke gw bahwa beberapa ide-ide-nya itu agak terlalu khayal, namun gw masih bisa terima setelah menempatkan pada konteksnya tadi, ada statment yang ingin disampaikan dengan cara yang bisa dibilang kreatif. Film yang menarik, lajunya juga asik, ringkas, aktingnya tepat, dan disajikan dengan sangat komunikatif. Sebuah film yang bisa juga dipandang sebagai cara elegan untuk protes terhadap rasisme modern tanpa perlu berbusa-busa. 





My score: 7,5/10

Sabtu, 29 April 2017

[Movie] Night Bus (2017)


Night Bus
(2017 - Night Bus Pictures)

Directed by Emil Heradi
Screenplay by Rahabi Mandra
Produced by Darius Sintahrya, Teuku Rifnu Wikana
Cast: Teuku Rifnu Wikana, Yayu Unru, Edward Akbar, Torro Margens, Laksmi Notokusumo, Keinaya Messi Gusti, Hana Prinantina, Agus Nur Amal, Rahael Ketsia, Arya Saloka Perwira, Abdurrahman Arif, Tino Saroengallo, Alex Abbad, Tyo Pakusadewo, Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Arswendi Nasution, Egi Fadly, Ade Firman Hakim


Dalam situasi perfilman Indonesia yang kayaknya semua orang (entah kenapa) pengen bikin film dan sebagian besar ingin filmnya disukai sebanyak mungkin orang, dan itu not saying much ketika "yang disukai sebanyak mungkin orang" itu range-nya sangat-sangat terbatas, butuh nyali dan ketegaran hati untuk muncul dan membuat karya yang benar-benar berbeda. Soalnya, beda itu bisa jadi menarik, tetapi bisa juga jadi dijauhi karena dianggap asing. Semua negara sih begitu, masalahnya di Indonesia penonton film yang "mainstream" aja hitungannya masih dikit--yang terlaris sepanjang masa aja nggak sampai 3 persen jumlah penduduk tanah air, gimana yang lain. Anyway, yang ingin gw bicarakan di sini sebenarnya adalah respek gw sama keberadaan film Night Bus. Pertama-tama karena berani mengambil tema cerita dan arah penggarapan yang berbeda, yaitu drama thriller berlatar daerah konflik. Dan, yang kedua, dan terpenting, film ini digarap dengan proper.

Night Bus berkisah tentang sebuah bus antarkota di pulau (mungkin) Sumatera yang menempuh trayek malam selama 12 jam ke kota yang bernama Sampar (tentu kota fiktif). Setiap penumpang, bahkan sopir dan kernetnya, punya motivasi masing-masing untuk ke Sampar. Premis ini masih terlihat abstrak ya, sebelum akhirnya diketahui bahwa Sampar adalah sebuah kota yang sedang dilanda konflik separatisme bersenjata. Perjalanan bus ini akan selalu terhenti, baik itu oleh militer negara, milisi pemberontak, maupun orang-orang lain entah dari mana. Dan mungkin tidak semua orang akan sampai di tujuan awal mereka.

Buat gw Night Bus melakukan beberapa hal dengan baik, khususnya dari penyusunan cerita dan penuturannya. Mungkin poin yang paling menarik buat gw adalah (cukup sering gw kemukakan juga) world-building-nya. Tanpa harus ada penjelasan ke sana ke mari, film ini berhasil membangun dunianya yang mungkin nggak familier bagi penontonnya dengan cukup utuh, sembari cerita terus berjalan. Gw menangkap mungkin ini terinspirasi dari beberapa contoh yang nyata terjadi di sejarah Indonesia, seperti masa daerah operasi militer di Aceh atau Papua. Yang kemudian nyambung ke nilai menarik lainnya dari film ini, yaitu komentar tentang moralitas di tengah konflik. Somehow diperlihatkan karena konflik ini, sikap dan langkah-langkah pihak negara maupun pemberontak kayak nggak ada bedanya, sama-sama menimbulkan ketakutan dan intimidasi terutama ke rakyat sipil yang sekadar lewat via bus ini, gara-gara nggak tahu siapa berpihak ke siapa, dan siapapun akan dicurigai.

Nilai plus lainnya adalah segi pemeranan. Pemain-pemainnya banyak, nggak semuanya ternama, namun satu sama lain mampu memberikan performa yang sama-sama baik dan berdampak bagi keseluruhan cerita, apalagi ada semacam batas kabur antara mana yang baik dan yang nggak, mengingat hampir semua tokoh ini punya sisi gelap masing-masing. Paling nggak beberapa tokoh "pegangan"-nya cukup gampang dikenali. Penataan adegannya juga sanggup menimbulkan cekam yang cukup masuk akal. Dan thanks juga buat departemen editing, pemorsiannya terbilang cukup seimbang dan bener-bener ceritanya jadi "jalan". 

Gw pikir ada sih beberapa hal yang bisa saja di-trim biar durasinya lebih compact sedikit. Namun, itu sebenarnya bukan gangguan yang sangat....jika dibandingkan dengan presentasi gambarnya yang bikin gw bertanya-tanya sama pilihan artistiknya. Gw cukup salut dengan pemilihan lokasi hingga desain busnya yang cukup nyambung dengan nyawa ceritanya. Tetapi, agak disayangkan bahwa sebagian besar dari itu semua tampil, well, temaram. Iya sih judulnya ada kata "night" dan latar waktunya terjadi semalaman suntuk, tapi 'kan bisa kali dibuat lebih terang, entah dari pencahayaan atau dari coloring-nya, demi kenyamanan kita bersama. Performanya akan lebih terlihat, yang nonton juga nggak lelah memicingkan mata untuk mengatasi redupnya gambar selama nyaris dua seperempat jam. I mean, mungkin harusnya ketika ada lampu atau api, itu cahayanya dikencengin aja, sedikit nggak realistis tapi yang penting nggap redup gitu =/.

Biar demikian, untunglah *nah, selalu masih ada untungnya* kelemahan film ini terletak di teknisnya, bukan di konten dan konteksnya, ini more or less kebalikan dari sebagian besar film yang ada sekarang. Respek tetap gw berikan untuk film ini, yang berangkat dari ide dan cerita menarik, and I think I could say it's quite original, menjadi sebuah film yang dituturkan dan diperankan dengan baik.





My score: 7/10

Sabtu, 22 April 2017

[Movie] Dear Nathan (2017)


Dear Nathan
(2017 - Rapi Films)

Directed by Indra Gunawan
Screenplay by Bagus Bramanti, Gea Rexy
Based on the novel by Erisca Febriani
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Amanda Rawles, Jefri Nichol, Surya Saputra, Ayu Diah Pasha, Rayn Wijaya, Diandra Agatha, Beby Tsabina, Chicco Kurniawan, Karina Suwandi


Sebagaimana anggota penonton di luar target demografinya, mudah bagi gw untuk jatuh pada prasangka bahwa Dear Nathan adalah film alay. You know, palingan cuma anak-anak baru gede aja yang akan demen. Apalagi kalau bukan kisah cewek (yang digambarkan manis) ketemu cowok (yang digambarkan bandel) di sekolah, keduanya dengan nama-nama fancy berhubung ceritanya berdasarkan novel, muncul benih-benih cinta serta berbagai rintangan dan halangan yang harus mereka hadapi untuk cinta bertumbuh. Dan, memang, pola cerita itu masih dipakai di film ini. But "alay"? Belum tentu. Penggarapan dan taste ternyata ngaruh banget sama bagaimana hasil akhir sebuah film meski pola kisahnya daur ulang yang sudah-sudah, dan ini terbukti di Dear Nathan.

Sedikit tentang plotnya, film ini berkisah tentang hubungan Salma (Amanda Rawles) yang termasuk siswi SMA baik-baik dengan Nathan (Jefri Nichol) yang kerap bermasalah, baik di lingkungan sosial maupun di keluarganya yang ternyata menyimpan banyak tragedi. Hubungan mereka nggak sepenuhnya didukung oleh circle mereka, demikian pula diramaikan oleh (tentu saja) sosok-sosok lain yang ingin merebut hati Salma maupun Nathan.

Yang menarik adalah bagaimana kisah biasa dan terlalu familier itu bisa dituturkan tetap dengan enak dan believable. Film ini pandai memilih fokus, sekalipun packed dengan berbagai persoalan yang khas anak-anak SMA--cinta-studi dan everything in between, konflik-konflik yang dihadirkan bukan berarti harus digelontorkan segambreng biar kesannya rumit, or even diada-adain. Salah satu pilihan yang gw rasa tepat adalah biarlah karakter yang banyak masalah hanya Nathan, yang memang cukup fungsional dalam menggerakkan ceritanya, nggak perlu ditambah-tambahin dengan baggage-nya Salma--hanya secara subtle ditunjukkan dia cuma punya ibu, nggak juga perlu persoalan rebutan pacar atau bertengkar sama teman diperpanjang dengan terlalu.

Di luar itu, gw merasakan ada kombinasi yang works antara angle penuturannya yang memang dari anak SMA tentang anak SMA, dengan kedewasaan dalam memandang persoalan yang terjadi. Ini bukan cerita tentang orang dewasa dari fantasi anak SMA, atau tentang anak SMA dari ingatan terdistorsi orang dewasa, yang seringkali membuat film-film seperti ini kurang imbang hasilnya. Di satu sisi, dialog-dialog, ekspresi, interaksi, serta kegiatan keseharian yang digambarkan terbilang sangat wajar terjadi di usia-usia SMA, lagi-lagi gw harus pakai kata believable di sini, karena memang demikian. Di sisi lain, gw nggak merasakan film ini meng-indulge melankolisme bahwa persoalan cinta remaja adalah pertaruhan hidup-mati, tetapi just a period of life, karena masih ada persoalan akademik, persoalan keluarga, persoalan ekonomi, yang mungkin sama atau lebih penting. Namun, juga nggak sertamerta meredamkan unsur emosi.

Kesan paling kuat yang gw dapat adalah film ini membalikkan prasangka buruk gw sebelumnya. Nggak nyangka bahwa kualitasnya ternyata cukup matang dan sangat bertanggungjawab, terutama sebagai film drama roman remaja, nggak menghina logika, nggak alay, dan nggak nyangka bahwa gw bisa enjoy. Teknisnya juga sekilas tampak kayak sederhana tetapi masih kerasa ada upayanya, contoh dari kekompakkan warna visual dari desain produksi dan sinematografinya, nggak mencolok tapi tertata. Di antara film-film roman tentang remaja atau target penonton remaja yang gw tonton dalam tahun-tahun belakangan ini, mungkin Dear Nathan-lah yang paling nggenah.





My score: 7,5/10