Rabu, 29 Juli 2015

My J-Pop 46

Well, this is embarassing

Sudah hampir satu tahun setengah gw nggak update postingan My J-Pop--rekomendasi lagu-lagu Jepang "terbaru" versi gw, in case you're not familiar with it. Padahal pengumpulan untuk My J-Pop 46 sebenarnya sudah selesai pada akhir tahun 2014 lalu. Tetapi karena kesibukan dan perhatian yang teralihkan, gw terpaksa tidak memprioritaskan postingan ini. Jadi, saya mohon maaf bagi teman-teman yang mungkin (with a big M) menanti postingan ini, bahwa jadinya terlambat enam bulan. But worry not, tahun ini proses pengumpulan lagu-lagu Jepang yang menurut gw enak ternyata berlangsung cukup cepat, sehingga you may expect My J-Pop 47 anytime soon.



Baiklah, kembali ke My J-Pop 46. Tak berbeda dengan beberapa volume sebelumnya, isinya lumayan susah payah gw kumpulin karena pencarian lagu-lagu yang menurut gw enak agak sulit juga. Sebagian besar lagu ini tidak masuk chart teratas dari segi penjualan, mengingat di Jepang CD fisik yang masih kejual cuma yang itu-itu aja. Tapi syukurlah ada Billboard Japan yang punya chart Radio Songs, mencatat lagu-lagu apa yang sering diputar di radio-radio Jepang setiap pekannya. Tentunya lebih ada jaminan karena rata-rata akan dikurasi oleh music director masing-masing radio yang pasti punya standar kualitas tersendiri. Dari chart ini pula gw menemukan nama-nama baru yang setelah dicek ternyata lagunya enak-enak. Bukan bermaksud hipster atau apa (udahlah lagunya Jepang yang segmented pake cari artis yang aneh-aneh lagi =p), tetapi you too should give these barely discovered acts (dalam hal penjualan) a chance. Maaf ya, Oricon.

Tapi, jelas gw masih memberi ruang bagi para artis kesukaan gw yang untungnya masih menelurkan karya enak, seperti Hata Motohiro dan ASIAN KUNG-FU GENERATION. 10 di antara lagu ini udah pernah gw share sebagai 10 lagu Jepang terfavorit gw tahun 2014, tapi 8 sisanya nggak kalah seru lho. My J-Pop 46 mungkin jadi salah satu volume yang gw banggakan, yang dengan senang hati gw share buat kalian semua. Share info ya, bukan donlotan, cari sendiri itu mah weeek. So here is the playlist, and also the previews right after.


My J-Pop 46


  1. 赤い公園 - 絶対的な関係 (Akai Kouen - Zettaiteki na kankei)
  2. CZECHO NO REPUBLIC - Amazing Parade
  3. 秦 基博 - ひまわりの約束 (Hata Motohiro - Himawari no yakusoku)
  4. 東京スカパラダイスオーケストラ (Tokyo Ska Paradise Orchestra) - Wake Up! Feat. ASIAN KUNG-FU GENERATION
  5. USAGI - イマジン (Imagine)
  6. go!go!vanillas - マジック (Magic)
  7. wacci - 東京 (Tokyo)
  8. 絢香 - にじいろ (ayaka - Nijiiro)
  9. Goose house - 光るなら (Hikaru nara)
  10. スキマスイッチ - パラボラヴァ (Sukima Switch - Parabolover)
  11. 家入レオ (Leo Ieiri) - Silly
  12. WHITE JAM - ウソツキ (Usotsuki)
  13. indigo la End - 瞳に映らない (Hitomi ni utsuranai)
  14. Rake feat.BONNIE PINK - YaMeTa!!!
  15. 浜端ヨウヘイ (Yohei Hamabata) - 結 -yui- 
  16. 木村カエラ (Kaela Kimura) - TODAY IS A NEW DAY
  17. Mr.Children - 足音 ~Be Strong (Ashioto -Be Strong)
  18. I Don't Like Mondays. - Perfect Night

Preview lagu-lagunya bisa disimak di bawah ini.

Kamis, 23 Juli 2015

[Movie] Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015)


Comic 8: Casino Kings Part 1
(2015 - Falcon Pictures)

Directed by Anggy Umbara
Written by Fajar Umbara
Produced by Frederica
Cast: Arie Kriting, Babe Cabiita, Bintang Timur, Ernest Prakasa, Fico Fachriza, Ge Pamungkas, Kemal Palevi, Mongol Stres, Indro Warkop, Prisia Nasution, Sophia Latjuba, Pandji Pragiwaksono, Hannah Al Rashid, Donny Alamsyah, Boy William, Joe P Project, Dhea Ananda, Agus Kuncoro, Candil, Temon Templar, Nikita Mirzani, Agung Hercules, Yayan Ruhian, Ray Sahetapy


Kesuksesan film Comic 8 pada tahun 2014 yang menjual lebih dari 1,6 juta tiket menarik untuk disorot. Apakah laku karena unsur laganya, unsur komedinya, ceritanya, atau para pemainnya yang rata-rata sedang naik daun?

Alasannya bisa bermacam-macam, tetapi yang harus diakui film garapan Anggy Umbara itu termasuk berani menampilkan sesuatu yang jarang dipertontonkan di film Indonesia, dan terbukti disambut baik oleh penontonnya. Sekalipun berlabel "komedi", Comic 8 tidak tanggung-tanggung dalam menampilkan adegan-adegan fantastis yang perlu effort besar—misalkan tembak-tembakan dan ledak-ledakan. Mungkin bercermin dari sana, effort itu kemudian dilipatgandakan di sekuelnya, Comic 8: Casino Kings Part 1.

Casino Kings Part 1 langsung dibuka dengan adegan sejumlah stand up comedian terbangun di sebuah hutan, yang ternyata adalah sarang buaya buas. Sembari berusaha menyelamatkan diri, mereka menemukan beberapa alat dan senjata yang dapat membantu mereka lolos dari terkaman buaya. Beberapa berhasil lolos, tetapi lainnya tidak. Pertanyannya, bagaimana mereka bisa sampai di sana? Dan, mengapa tujuh orang di antara mereka yang pernah bersama-sama merampok Bank INI beberapa waktu sebelumnya (di film Comic 8 pertama) tidak lagi saling kenal?

Adegan kemudian beralih ke beberapa waktu sebelumnya, tak lama setelah kejadian perampokan Bank INI. Seorang agen Interpol asal Singapura, Cynthia (Prisia Nasution) bekerja sama dengan kepolisian lokal menangkap para tersangka—Mongol, Arie Kriting, Kemal Palevi, Ernest Prakasa, Babe Cabiita, Fico Fachriza, dan Bintang Timur, demi menyingkap identitas dan motivasi mereka. Kurangnya bukti membuat mereka dilepaskan, namun Cynthia tetap meneruskan penyelidikan tentang orang-orang ini, termasuk siapa yang menjadi pemimpin mereka.

Tetapi, penonton tentu saja sudah tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Cynthia. Orang-orang yang jadi targetnya adalah para agen rahasia khusus yang disebut Comic 8 pimpinan Indro Warkop. Dalam film sebelumnya, delapan agen Comic 8 (Mongol, Arie Kriting, Kemal Palevi, Ernest Prakasa, Babe Cabiita, Fico Fachriza, Bintang Timur, Mudy Taylor) merampok Bank INI secara bersama-sama, yang sebenarnya adalah taktik dalam meringkus seorang dokter jiwa (Pandji Pragiwaksono), dalang dari serangkaian perampokan dengan memperalat pasien-pasien rumah sakit jiwa.

Selesai dengan tugas itu, Indro menugaskan para agen Comic 8 maju ke misi selanjutnya—kali ini posisi Mudy Taylor diganti Ge Pamungkas. Kedelapan agen ini harus menyamar jadi stand up comedian, demi bisa menyusup ke jaringan perjudian terbesar di Asia. Target mereka adalah The King, sosok misterius dedengkot kerajaan judi yang belum terungkap identitasnya. Bersama rekan-rekan stand up comedian, para agen Comic 8 akhirnya berhasil berangkat ke sebuah pulau rahasia yang dikuasai The King. Namun, mereka tidak tahu The King punya rencana jahanam terhadap para tamu istimewanya ini.

Melanjutkan pola dari Comic 8 pertama, film Casino Kings Part 1 juga tidak dituturkan secara linear. Film ini terbagi dalam beberapa bab dari dua ruas waktu berbeda: dimulai dari tengah, lalu mundur ke belakang, lalu diteruskan selang seling hingga bertemu di titik akhir. Bukan semata-mata usaha sok keren, melainkan ini lebih terlihat sebagai trik dalam membangun dan menjaga excitement penonton. Mungkin terinspirasi dari pola film Kill Bill Vol. 1, film ini meletakkan adegan-adegan seru tidak berdasarkan urutan cerita, supaya lajunya tidak monoton dan penonton tetap terjaga mengikuti ceritanya—atau berusaha menyambungkan potongan-potongan ceritanya—selama 100 menit durasi filmnya. Untungnya, sekalipun polanya tak lazim, bangunan cerita Casino Kings Part 1 ini tidak terlalu sulit untuk dipahami.

Di luar itu, Casino Kings Part 1 bisa dipandang sebagai usaha menyajikan sebuah paket entertainment murni. Nilai hiburan itu bisa datang dari cerita dan karakternya, unsur laga, komedi, sampai penyajian gambarnya. Namun, film ini juga menunjukkan bahwa entertainment perlu digarap dengan serius. Ini paling kelihatan dari penggarapan desain produksi, kostum, tata rias, sinematografi, special effects dan visual effects, penataan laga, hingga tata suara yang termasuk dalam level di atas rata-rata. Kabar bahwa film ini dibuat dengan biaya mahal setidaknya sudah terbukti dari presentasinya yang mewah dan berkilap di layar lebar, beberapa level di atas Comic 8 pertama.

Selain itu, Casino Kings Part 1 juga tampil lebih bombastis dengan keputusan memasukkan puluhan karakter yang dimainkan oleh orang-orang terkenal, separuhnya adalah stand up comedian. Beberapa karakter baru yang diciptakan cukup menarik perhatian, misalnya Prisia Nasution dengan aksen Singapura sebagai Cynthia, Donny Alamsyah dan Hannah Al Rashid sebagai duo Isa dan Bella yang tangguh, hingga Sophia Latjuba berhasil membawakan perannya yang mirip dengan para pemimpin musuh di serial superhero Jepang dengan memikat.

Menampilkan para pemain terkenal—dari aktor kawakan sampai bintang YouTube—mungkin sebuah usaha agar para penggemar masing-masing pemain bisa turut mendukung kesuksesan film ini di bioskop. Akan tetapi, banyaknya karakter yang dimainkan orang-orang terkenal justru jadi problem utama film ini. Sebab, seolah-olah ada beban tanggung jawab untuk menampilkan mereka semuanya di layar, walau pada akhirnya tidak benar-benar signifikan dalam keseluruhan cerita. Ini yang membuat Casino Kings Part 1 seakan lebih panjang dan berputar-putar daripada yang seharusnya.

Salah satu bagian yang membuktikan problem itu adalah adegan tur stand up comedy yang disusupi para agen Comic 8. Bagian ini memberi waktu bagi belasan komedian beraksi bergantian. Ini jelas sebuah upaya melayani dahaga para penggemar stand up comedy dalam melihat aksi idolanya membawakan lelucon terbaiknya, bahwa keterlibatan mereka di film ini bukan sekadar numpang lewat (atau numpang tewas). Meski begitu, bagian ini juga memberi keuntungan. Adegan-adegan semacam ini tetap digarap menarik, dan sebagian penonton pasti masih bisa dibuat tertawa dan terhibur. Lagi-lagi, nilai entertainment-nya tetap muncul, paling tidak bagi mereka yang cocok dengan gaya humor para komedian ini.

Cukup disayangkan bahwa film ini harus dipecah jadi dua bagian terpisah, padahal dari Part 1 terlihat banyak bagian yang bisa dirampingkan sehingga masih mungkin dijadikan satu film utuh. Tetapi, Casino Kings Part 1 tetap sebuah awalan yang baik dengan arah cerita yang sudah jelas, tiap-tiap adegannya tetap digarap rapi, serta menimbulkan anistipasi terhadap Casino Kings Part 2 yang akan dirilis pada Februari 2016. Dengan menggabungkan laga, komedi, adventure, crime thriller, fantasi, bahkan diselipkan juga pertanyaan-pertanyaan moral sebagaimana karya-karya Anggy Umbara sebelumnya, maka Casino Kings Part 1 adalah salah satu film Indonesia dengan menu berwarna yang, minimal, berhasil membuktikan ambisinya dan mencapai tujuannya untuk menghibur penontonnya.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Ant-Man (2015)


Ant-Man
(2015 - Marvel Studios/Disney)

Directed by Peyton Reed
Screenplay by Edgar Wright, Joe Cornish, Adam McKay, Paul Rudd
Story by Edgar Wright, Joe Cornish
Based on the comic books by Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby
Produced by Kevin Feige
Cast: Paul Rudd, Michael Douglas, Evangeline Lilly, Corey Stoll, Michael Peña, Bobby Cannavale, Judy Greer, Abby Ryder Forston, Wood Harris, Tip "T.I." Harris, Martin Donovan, David Dastmalchian, Anthony Mackie, Hayley Atwell, John Slattery


Ant-Man mungkin adalah film dari Marvel Studios yang sedang diperlukan sekarang. Secara berturut-turut, film-film superhero Marvel senantiasa menyajikan cerita serba akbar—bermotif penguasaan dunia bahkan semesta, sehingga jadi terasa berulang dan nyaris menjenuhkan jika diikuti dengan seksama. Puncaknya pun terjadi di film Avengers: Age of Ultron yang dirancang serba ramai, tetapi keakbarannya ternyata tidak lebih menonjol dari film-film Marvel yang sudah ada sebelumnya.

Ant-Man hadir sebagai penyegaran. Selain karena baru pertama kali muncul di layar lebar, superhero ini memang terbilang beda dari yang sudah ada. Kekuatan supernya adalah bisa membuat tubuhnya mengecil seukuran serangga (dan kembali membesar, tentu saja), dan ia bisa berkomunikasi dengan semut. Terdengar lucu memang, dan mungkin karena itulah Marvel menugaskan sutradara Peyton Reed dan para penulis skenarionya untuk membuat pendekatan komedi untuk superhero mungil ini, walau pada akhirnya separuh film ini tetaplah berpakem pada action. Taruhannya masih keselamatan dunia, tetapi kali ini tidak secara langsung.

Film ini disusun sebagai semi-origin story, mengisahkan bagaimana seorang pencuri lihai mantan narapidana, Scott Lang (Paul Rudd) menjadi sang Ant-Man. Namun, sebenarnya dia bukanlah Ant-Man pertama. Sebelumnya, adalah Doktor Hank Pym (Michael Douglas) sang Ant-Man asli di masa Perang Dingin, sekaligus penemu formula Pym Particle yang memampukan benda dan makhluk hidup menyusut dan membesar ukurannya seketika.

Namun, ia mundur ketika tahu S.H.I.E.L.D. (organisasi keamanan yang menaungi para superhero di Marvel Cinematic Unverse) hendak meniru dan memperbanyak Pym Particle. Tahu akan risiko yang akan ditimbulkan bagi keamanan dunia—karena Ant-Man adalah sosok nyaris tak terlihat nan mematikan, Pym tak sudi menyerahkan formulanya itu kepada siapa pun.

Konflik ini pun berlanjut di masa kini, ketika mantan murid Pym, Darren Cross (Corey Stoll) ternyata telah lama mencoba menduplikasi Pym Particle, dan membuat jubah perang canggih yang disebut Yellowjacket. Masalahnya bukan pada apakah Darren akan berhasil atau tidak, tetapi kepada siapa ia akan menjual formula itu jika berhasil. Pym bergerak membuat rencana pencurian formula yang dibuat Darren dan menghancurkan data-data penelitiannya. Dan, untuk membuat segalanya berhasil, ia butuh Scott menjadi Ant-Man yang baru, walau sudah tidak banyak waktu lagi.

Jadi, bisa dilihat bahwa misi utama dalam film Ant-Man sebenarnya sederhana sekali. Ini kontras dengan berbagai lawan yang harus dihadapi para superhero Marvel yang muncul sebelumnya, yaitu ancaman yang berdampak langsung terhadap keselamatan dunia. Ant-Man menjadi lebih refreshing tidak hanya dari konflik yang diangkat, tetapi juga pendekatannya yang lebih santai dan menyenangkan.

Rancangan aksi sang Ant-Man dibuat jenaka, tapi tetap cool dan menghentak sebagaimana diharapkan dari film keluaran Marvel. Mulai dari pertama kali Scott melihat dunia dari sosoknya yang seukuran serangga, caranya menggalang kekuatan pasukan semut sebagai bala bantuan, hingga berbagai aksi pertarungan yang tampak imut dari jauh (seperti adegan kereta mainan Thomas), namun sangat seru saat dilihat lebih dekat. Pergantian angle skala "normal" dan skala serangga pun berhasil dimainkan dengan baik di film ini, dan menjadi salah satu hal yang membuat setiap aksi Ant-Man terlihat fun.

Faktor fun pun ditambah dengan karakterisasinya. Rudd terbilang berhasil membawakan tokoh Scott yang cerdas dan canggung menjadi likeable, demikian pula Douglas menunjukkan kelasnya memerankan Pym yang berdeterminasi sekaligus rapuh. Tokoh-tokoh pendukung seperti Hope (Evangeline Lilly) yang tangguh, Luis (Michael Peña) yang kocak, sampai putri Scott, Cassie (Abby Ryder Forston) yang menggemaskan juga berhasil memberi kesan yang cukup kuat.

Meski menonjolkan sisi komedi dan aksi, film ini juga tidak menyingkirkan unsur emosi, seperti tampak dari hubungan ayah dan anak dalam keluarga yang kurang sempurna, baik dari Scott maupun Pym. Unsur ini memang tidak orisinal, dan mudah saja dituding sebagai cara instan supaya tokoh-tokohnya jadi simpatik. Akan tetapi, hal ini tetap diperlukan untuk menambah dimensi dari karakternya. Lagi pula, kisah Ant-Man ini menjadi pertama kalinya sosok superhero di Marvel Cinematic Universe digambarkan juga sebagai seorang ayah (dengan anak yang masih hidup), sehingga menyebabkan segala sepak terjangnya akan membawa beban lebih personal, dan itu juga ditunjukkan di film ini.

Namun, kesan bahwa Ant-Man adalah film superhero Marvel yang unik dan berbeda ternyata tidak sepenuhnya tepat. Ketika film ini telah berusaha secara kreatif mengemas aksi heroik Ant-Man, dialog-dialog penting dan dramatis di film ini justru monoton, seperti pengulangan dari film-film superhero yang sudah ada. Seperti, tadinya satu kubu kemudian jadi berseberangan, atau upaya protagonis untuk meyakinkan si antagonis untuk tidak lakukan rencananya, semua sangat familier. Ini sedikit melunturkan kesan unik dari film ini, sebab sebagian porsinya diperlakukan sama saja dengan film-film sejenis. Atau, bisa jadi ini memang sengaja dibuat sebagai tema yang harus ada di film-film Marvel, suka atau tidak.

Ditambah lagi, sosok antagonisnya, Cross, tidak dibangun dengan ciri dan motivasi yang kuat, walau sudah dimainkan dengan upaya yang tak buruk oleh Stoll. Tidak sulit melihat Cross adalah tokoh yang jahat dan haus kejayaan, tetapi mudah juga untuk melihat bahwa dia sebenarnya bukan lawan sebanding dari Ant-Man alias Scott yang lebih tangkas. Sehingga, kehadiran Cross dan Yellowjacket-nya terkesan tidak terlalu menggigit, sekalipun tetap berfungsi menggerakkan cerita.

Biarpun begitu, dalam banyak hal Ant-Man masih memenuhi syarat-syarat sebagai film menghibur dan mudah disukai. Dengan timing yang pas antara unsur komedi, action, dan dramanya, Ant-Man tetap sebuah film yang berhasil memperkenalkan dengan baik siapa sosok Ant-Man itu. Bukan menjadikan kemampuan Ant-Man bahan tertawaan, tetapi justru menanamkan ide bahwa ia adalah superhero yang luar biasa. Boleh saja aksi Ant-Man hanya berkutat pada pertarungan di tempat-tempat kecil seperti laboratorium atau kamar di rumah, tetapi itu semua berhasil ditampilkan dengan cermat, bahkan mungkin lebih mengasyikkan daripada pola aksi skala global di film-film superhero belakangan ini.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Lamaran (2015)


Lamaran
(2015 - Rapi Film)

Directed by Monty Tiwa
Written by Cassandra Massardi
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Acha Septriasa, Reza Nangin, Arie Kriting, Sacha Stevenson, Mak Gondut, Cok Simbara, Wieke Widowati, Dwi Sasono, Mongol Stres, Tora Sudiro, Restu Sinaga, Ozzol Ramdan, Marwoto, Dharty Manulang, Eka D. Sitorus, Project Pop


Membuat sebuah film yang menarik terkadang hanya diperlukan satu konsep yang sederhana. Ini kembali dibuktikan oleh Lamaran, film terbaru dari sineas Monty Tiwa (Get Married 3 dan 4, Test Pack, Aku Kau & KUA). Film ini mengambil premis cinta terhalang perbedaan adat, sebuah hal yang sangat dekat dan sering terjadi di masyarakat Indonesia, yang kemudian dikembangkan dalam bentuk komedi. Dalam hal ini, Lamaran "menabrakkan" budaya Batak dan Sunda, yang tipologi adatnya sering dianggap bertolak belakang.

Tiar Sarigar (Acha Septriasa) adalah seorang pengacara muda berdarah Batak yang baru mendapat kasus high-profile pertamanya, dan membuatnya masuk TV. Ia juga lajang, yang berarti ia menjadi kebanggaan keluarga yang tidak boleh sembarangan dalam memilih jodoh. Namun, kasus yang ditanganinya dianggap sangat berbahaya, sehingga dua agen pengawal rahasia (Arie Kriting dan Sacha Stevenson) membuat strategi khusus menempatkan seseorang untuk terus ada bersama Tiar. Orang yang dipilih adalah Aan (Reza Nangin), resepsionis di kantor Tiar, yang harus berpura-pura menjadi pacarnya.

Persoalan ini menjadi rumit ketika Aan juga harus diperkenalkan Tiar di depan keluarga besar Sarigar. Pertama, Aan berasal dari keluarga Sunda, bukan Batak sebagaimana harapan keluarga Tiar. Kedua, Aan jujur mengaku ia seorang resepsionis, membuatnya terkesan lebih rendah levelnya dari Tiar, padahal ia seorang pria. Keluarga Sarigar serta merta tak setuju dengan hubungan mereka, kecuali memang terbukti keduanya serius akan menikah. Demi meneruskan sandiwara ini, Aan menuruti syarat-syarat adat yang diajukan untk menikahi Tiar, yang tentu saja menimbulkan masalah lagi ketika hal ini dibawa ke keluarga Aan. Gesekan keluarga berbeda adat ini pun tak terhindarkan.

Bila ditelaah, Lamaran sendiri sebenarnya tidak hanya mengangkat perbedaan adat sebagai rintangan dua tokoh utamanya. Kerumitan hubungan mereka ditambahi dengan perbedaan profesi, persepsi gender, unsur kriminal (dari kasus yang ditangani Tiar), dan yang utama adalah bahwa mereka bukan pasangan sungguhan. Unsur-unsur tersebut tentu menarik untuk dibahas dan memperkaya warna film ini. Namun, pada akhirnya benturan adat dan romansanya yang lebih menonjol di 95 menit durasinya.

Tidak terlalu masalah sebenarnya, karena kedua unsur tersebut tetap bisa menimbulkan hiburan. Siapa yang tidak gemas melihat perselisihan ibu Tiar (Lina "Mak Gondut" Marpaung) dan ibu Aan (Wieke Widowati) tentang menu makanan, hingga perbedaan cara Tiar dan Aan saat menerima telepon. Porsi komedi pun ditambah dengan kehadiran para komedian yang tengah naik daun di era internet saat ini, seperti Arie Kriting dan Sacha Stevenson yang bermain-main dengan stereotipe "orang Indonesia Timur" dan "orang bule", juga Mongol yang lagi-lagi harus keluarkan jurus lawakan bancinya.

Tetapi, yang patut untuk dipertanyakan adalah bahwa film ini menampilkan karakter-karakternya secara karikatural, seperti yang banyak digunakan di banyak sinetron atau lawakan klasik TV kita. Film ini berlatar di Jakarta, tetapi entah mengapa hampir setiap karakter di film ini diwajibkan menonjolkan kedaerahannya. Orang Batak harus berlaku "sangat Batak" (kecuali tokoh Raymond (Restu Sinaga)), orang Sunda harus "sangat Sunda", demikian seterusnya. Termasuk tokoh-tokoh LGBT juga harus menunjukkan cirinya secara spesifik demi memunculkan humor.

Untungnya, film ini masih menyelipkan humor-humor cerdas dalam beberapa dialognya dan adegannya, sehingga secara umum film ini masih akan menimbulkan tawa. Tetapi, rancangan karakter-karakter yang karikatural itu membuat mereka jadi kurang believable, dan komedi yang ditampilkan seakan sudah bisa diduga.

Ditambah lagi, walau sudah membuat semua karakter berciri spesifik berdasarkan adat, film ini seakan mengabaikan unsur yang cukup erat dengan adat, yaitu perbedaan agama. Bagian ini hanya muncul sekelumit, misalnya dari pakaian dan salam Islami dari keluarga Aan, serta bahwa keluarga Tiar makan daging anjing dan babi yang menunjukkan mereka nonmuslim—dan memang tidak ditunjukkan jelas identitas agamanya. Tetapi, isu yang tak kalah sensitif ini seakan dilesapkan begitu saja, mungkin karena tak ingin timbulkan polemik. Atau mungkin justru sebaliknya, memang sengaja dihindari tetapi "kecolongan" di hasil akhir filmnya. Apa pun itu, ini menunjukkan bahwa Lamaran sebenarnya belum terlalu berani mengangkat hubungan beda budaya dengan lebih menyeluruh, dan lebih memilih untuk membuatnya lebih ringan dan dari permukaan saja.

Yang juga dilesapkan dari cerita film ini adalah bagian kasus hukum yang ditangani Tiar, sekalipun kasus ini yang menjadi cikal bakal kedekatan Tiar dan Aan. Secara struktur cerita, bagian ini tampak mulai ditelantarkan di tengah-tengah film dengan penyelesaian yang kurang menggigit. Tetapi, sebenarnya kasus ini sudah dijauhkan dari cerita sejak sepertiga awal, ketika kedua agen rahasia Arie dan Sacha lebih sibuk mengurusi persiapan pernikahan Tiar dan Aan ketimbang 24 jam nonstop mengamankan Tiar yang konon nyawanya terancam, padahal pernikahannya pun pura-pura. Namun, mungkin demi komedi, logika seperti itu memang ingin dibelokkan.

Terlepas dari itu, Lamaran masih cukup berhasil dalam membangun unsur yang menjadi dasarnya, yaitu romansa. Konsep "dari pacar pura-pura jadi sungguh-sungguh" memang tampak klise, tetapi penataan adegan-adegan yang membangun kisah cinta Aan dan Tiar, serta pembawaan kedua pemeran utamanya yang terlihat nyaman, membuat romantisme itu tetap muncul. Toh, memang film ini dibuat sebagai sebuah kisah cinta, dengan tambahan humor di sana-sini. Pada akhirnya memang Lamaran berhasil untuk tetap setia pada tujuannya sebagai komedi romantis, sekalipun hampir tertutupi oleh ide-ide besar yang tidak tergarap dengan sempurna.




My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Rabu, 22 Juli 2015

[Movie] Mencari Hilal (2015)


Mencari Hilal
(2015 - MVP Pictures/Studio Denny JA/Dapur Film/Argi Film/Mizan Productions)

Directed by Ismail Basbeth
Written by Salman Aristo, Bagus Bramanti, Ismail Basbeth
Produced by Raam Punjabi, Hanung Bramantyo, Putut Widjanarko, Salman Aristo
Cast: Deddy Sutomo, Oka Antara, Erythrina Baskoro, Torro Margens, Gunawan Maryanto, Rukman Rosadi, Whani Darmawan


Melihat nama sutradaranya--yang cukup famous di sirkuit festival film pendek dengan model film macam-macam a.k.a. banyak yang aneh, agak "ngeri" juga ketika gw mendengar proyek film Mencari Hilal ini. Karena, Ismail Basbeth yang punya reputasi demikian bekerja sama dengan nama-nama terkenal di blantika film nasional seperti Mizan, Hanung Bramantyo, Salman Aristo, sampai Raam Punjabi (!) sebagai produsernya. Jadi semacam ada penggabungan yang kontras antara seorang sineas yang sudah punya arah artistik sendiri dengan big boys lebih banyak pengalaman di pasar mainstream. It's a bit intriguing, tapi ya gw coba aja. Alhasil, Mencari Hilal adalah salah satu film Indonesia terbaik tahun ini dan seharusnya ditonton oleh orang-orang yang sering bingung sendiri mencari *no pun intended* film Indonesia yang bagus.

Mencari Hilal disimpulkan sebagai road movie dua orang yang bertolak belakang. Cuma, jadi agak complicated karena bertolak belakangnya itu adalah yang satu mengabdi sama agama dan yang lain nggak, dan mereka adalah bapak dan anak. Pak Mahmud (Deddy Sutomo)yang setiap aspek kehidupannya sangat Islami terusik ketika mendengar isu sidang isbat Kementrian Agama yang menghabiskan dana miliaran rupiah untuk menentukan kapan tanggal Idulfitri. Pak Mahmud lalu berinsiatif melakukan tradisi kirab ke titik pengamatan hilal (bulan sabit penanda dimulainya bulan baru) sebagaimana dilakukan saat masih jadi santri dulu. Usia dan kesehatan tidak menyurutkan niatnya, tetapi putrinya Halida (Erythrina Baskoro) tak membiarkannya pergi, jika tidak ditemani oleh sang anak bungsu, Heli (Oka Antara). Pak Mahmud dan Heli sama-sama enggan, mengingat pak Mahmud more or less udah nggak anggap Heli sebagai anak lagi, dan Heli tumben-tumbenan pulang ke Jogja juga cuma karena mau perbarui paspor sebelum cabut membela lingkungan di Nicaragua.

Salah satu kekhawatiran gw terhadap film yang berbentuk road movie adalah ceritanya bakal dibiarkan ke mana-mana. Tapi, yang gw suka dari Mencari Hilal adalah fokusnya jelas dan tidak pernah lari dari sana. Plot device-nya adalah mencari tempat melihat hilal, sementara tema utamanya adalah hubungan estranged bapak-anak yang "dipaksa" untuk terus-terusan bersama. Kalaupun filmnya menampilkan beberapa kejadian di perjalanan mereka, itu nggak pernah lepas dari dua hal itu. Dalam perjalanan mereka cari alamat, nyasar, ketemu teman lama, hingga melihat polemik di sekitar mereka, itu semua berperan dalam mereka saling terbuka dan "kenalan" lagi, sekalipun belum tentu jadi semakin akur, hehe. Lewat kejadian-kejadian itu, mereka mungkin punya pandangan berbeda-beda, tetapi dalam beberapa hal bisa menemukan sesuatu yang dilakukan bersama-sama, yang sepertinya sih tidak pernah terjadi pada mereka sejak lama sekali. To me, it's emotionally compelling.

Gw juga melihat sebenarnya kesan sederhana film ini hanya dari permukaan saja. Kalau dipikir-pikir Mencari Hilal disusun dengan cukup hati-hati dan penuh pertimbangan. Pendekatan film ini memang realis, tetapi itu karena bangunan cerita yang believable, padahal semua fiktif. Misalnya, beberapa jenis aliran agama yang ditampilkan di sini terinspirasi dari ciri-ciri aliran yang ada di kehidupan nyata (khususnya di Jawa) tetapi tidak merujuk secara spesifik ke yang manapun, bahkan mungkin tukar-tukaran ciri (misalnya ciri mirip NU tapi pakai perhitungan hisab, atau ciri mirip Muhammadiyah tapi pakai hilal). Sebuah cara yang cukup smooth supaya meminimalisir risiko ada yang tersinggung *biasalah orang Indonesia*, sekaligus menunjukkan keterampilan para pembuat film ini dalam meramu gagasan yang ingin disampaikan--dalam hal ini tentang kebhinekaan. Dan, setidaknya gambaran tentang aliran agama di sini jauh lebih jelas dari Ayat-Ayat Adinda, film dari produksi dan program yang sama (Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi) yang rilis lebih dahulu, sehingga tidak timbulkan ganjalan dalam menikmati cerita film ini sekalipun disaksikan oleh bukan dari kalangan muslim.

Yang lebih menarik lagi buat gw adalah, film ini seakan berbicara dalam "dua bahasa". Penuturannya cukup jelas secara naratif, tetapi juga diperkuat dengan simbol-simbol yang subtle. Misalnya, kita udah tahu ada jarak antara Pak Mahmud dan Heli dari dialog dan gestur mereka, tapi itu juga diperkuat dari angle gambar yang memperlihatkan selalu ada gap saat mereka dalam satu frame, dan makin ke sana gap-nya makin sempit. Bukan simbol yang gimana gitu sih, tapi efektif, cantik, dan nyaris tak disadari. Yah, kalau gw gambarin secara singkat, with all due respect, film ini jadinya nggak se-puzzling karya-karya Garin Nugroho, tapi nggak se-"banal" film-filmnya Hanung. It's rather a fine mix, bisa diikuti dan menghibur penonton awam sekaligus penonton yang sok nyeni nuntut artistic value yang tinggi. Yah, menjelang penghujung film emang banyak gambar-gambar statis kayak "pelem pestipal", tapi buat gw porsinya nggak menjengkelkan, dan lagian gambar-gambarnya cakep-cakep bangeuuts. 

Mencari Hilal adalah salah satu jenis film yang managed to say about many things tanpa harus jadi pretensius, judgmental, atau wareg dengan isu dan pesan moral. Di sini ada soal keluarga, agama, ekonomi, politik, budaya, sosial, teknologi, dan sebagainya, semua terintegrasi dalam satu cerita dengan mulus. Well, buat gw pribadi bagian yang berkaitan dengan gereja dan penyelesaiannya nggak semeyakinkan bagian yang lain, tetapi minimal gw menangkap gagasannya, dan itu nggak terlalu masalah. Dengan cara yang lembut film ini berani membicarakan soal agama dalam kondisi yang lebih clear dan tidak hanya dalam satu dimensi. Contohnya, ada beberapa momen yang mungkin not for the fainted heart melibatkan Heli mengritisi para penganut agama, termasuk bapaknya sendiri, tetapi diberikan juga ruang pembuktian bahwa apa yang dijalani Pak Mahmud tidaklah pointless. Nggak ada yang paling benar sendiri. 

Gw suka dan tersentuh dengan apa yang ingin diceritakan, digarap dengan sederhana namun bernas dan tak jarang jenaka (filmnya tetap menghibur), dialog-dialog yang mengena tapi disampaikan dengan natural dan berbobot oleh para aktornya (pak Deddy is fascinating), dan penggarapan teknisnya yang sangat, sangat rapi dan cantik. Ya sayang aja kalau banyak orang menghindari film ini dengan alasan not interesting enough, padahal isunya justru paling aktual dan filmnya sendiri salah satu yang paling penting untuk ditonton saat-saat ini.





My score: 8/10

Jumat, 17 Juli 2015

[Movie] Surga yang Tak Dirindukan (2015)


Surga yang Tak Dirindukan
(2015 - MD Pictures)

Directed by Kuntz Agus
Screenplay by Alim Sudio, Team MD
Based on the novel by Asma Nadia
Produced by Manoj Punjabi
Cast: Fedi Nuril, Laudya Cynthia Bella, Raline Shah, Kemal Palevi, Tanta Ginting, Zaskia Addya Mecca, Vitta Mariana, Landung Simatupang, RAY Sitoresmi, Sandrinna Michelle


How did I get to watch this? Well, it's part of my current job. Gw memang kurang tertarik sama film yang tawarannya hanya melodrama cinta tanpa unsur yang oomph, jadi dalam situasi normal gw pasti nggak akan menonton film ini dengan kerelaan hati. Tentu, ketika berkesempatan menonton Surga yang Tak Dirindukan ini, gw tetap menyelipkan harapan bahwa film ini tidak akan mengesalkan gw sebagaimana film bergenre serupa, sekalipun temanya kali ini tentang prahara rumah tangga berpoligami. Tapi ya ternyata film ini memang bukan yang gw rindukan *tsaaaaaaaaaaahhhh*.

To be fair, to be really fair, film ini digarap dengan rapi, terutama dari segi gambar dan pengadeganan. Bisa dibilang, pengambilan gambar yang oke membuat gw masih betah menyaksikan film ini. Ada satu bagian montase tentang kehidupan Meirose (Raline Shah) di bagian awal film yang cukup keren dan efektif dengan polesan gambar dan editing-nya. Akting para pemainnya pun sesuai dengan kebutuhannya, sebab akibatnya masih nyambunglah, dan musiknya yang rada-rada nge-James-Horner juga lumayan membantu. Intinya, film ini masih enaklah untuk disaksikan secara kasat mata.

Tetapi, enaknya film ini  nggak bisa menutupi bahwa gw nggak suka sama dasar dari film ini, yaitu ceritanya. Well, bukan nggak suka, mungkin lebih nggak setuju. Gw merasa ada yang salah dengan keputusan-keputusan yang diambil sama tokoh-tokoh di sini. Kayak bodoh banget gitu. Mungkin yang paling bikin gw geleng-geleng adalah cara film ini berusaha memberikan alasan paling innocent untuk berpoligami dan meminta gw sebagai penonton untuk menerima bahwa itu mungkin dan meyakinkan. No, gw nggak pernah percaya ada alasan berpoligami yang innocent atau 'terpaksa', yang ada cuma masalah mau atau nggak. Karena itu, gw melihat alasan yang jadi pemicu segala sesuatu yang terjadi di cerita film ini agak bikin akal gw tersinggung. Satu, segampang itu mau mengucap kata nikah sama orang yang baru ketemu beberapa jam sebelumnya? Dan dua, si perempuannya lagi, hanya karena kata nikah jadi mau ditolongin? Nggak bisa gitu mau ditolong karena sadar bahwa tolong-menolong sesama manusia itu baik, tanpa harus dinikahin dulu? Bagian ini membuat gw berpikir film ini bisa jadi komedi, you know, karena komedi biasanya kan mengekspos kebodohan manusia. Mana ada  premis "nggak sengaja nambah istri" jadi melodrama? 

Pandangan gw pun menyorot bangunan karakter si suami, Pras (Fedi Nuril) ini memang nggak bikin simpati sama sekali. Terserah dia punya latar belakang sedih tragis ala-ala peserta Indonesian Idol atau "niatnya berbuat baik", tapi keputusan-keputusannya itu lho yang nggemesin. Sesimpel ini deh, kenapa kasih nama bayinya Meirose nggak nunggu Meirose siuman lalu tanya dia karena dalam sudut pandang manapun dia yang berhak? No, man, kasih nama yang agamis pun gw tetap nggak simpati sama loe, sangat inapproriate dan nggak beretika. Heck, gw udah nggak simpati sejak awal loe baru lihat si Arini (Laudya Cynthia Bella) pertama kali terus langsung video-in dia pake handphone. Freak.

Anyway, gw sempat berpikir mungkin akan lebih baik gw nggak tahu proses kenapa dan bagaimana poligaminya, kalau ternyata kayak begitu. Atau bikin aja Pras memang jatuh cinta sama orang lain lagi, itu akan lebih innocent dan penyelesaiannya bisa dibikin lebih dramatis karena lebih dilematis. Toh, film ini sebenarnya mau berfokus pada suara hati wanita yang dimadu dan si madu, yang intinya mereka not enjoying this circumstances, mungkin karena sadar semuanya berawal dari kebodohan dalam mengambil keputusan, ya gw maklum sih =p. Tetapi, di sisi lain, gw cukup respek sama konsistensi film ini dalam menyampaikan poligami itu pasti akan mendatangkan sakit hati, mau ditutup-tutupi sebagaimanapun. Banyak kata-kata (sok) puitis dan nusuk dibuat mengarah ke situ, dan pilihan ending-nya pun agak mendinganlah, apalagi kalau melihat semuanya ini dimulai dengan kebod--ah sudahlah. 

Gw mungkin memang bukan target penonton film ini, karena kelihatan sebenarnya film ini ingin membuat penontonnya yang berhati sensitif tertusuk-tusuk dan terpengaruh secara emosional seperti saat nonton sinetron atau telenovela. Well, gw juga nontonnya agak emosi sih, tapi karena melihat segala kebodohan karakternya. Eh, tapi tetep aja efeknya emosi, in a way film ini jadinya berhasil. Damn.




My score: 6/10

Sabtu, 11 Juli 2015

My Top 10 Songs Covered by Hata Motohiro

Tanpa bermaksud menjadikan blog ini sebagai situs fans Hata Motohiro, tetapi mumpung ada waktu luang dan bahannya sudah siap, gw mau menggelar senarai baru dari artis Jepang terfavorit gw saat ini itu *ini itu?*. So, gw kayaknya udah berulang kali bilang bahwa mas Hata adalah penyanyi dengan suara yang khas dan bagus sekaligus bisa menciptakan musik yang bernas dan nyaman didengar (zaman sekarang sulit menemukan formulasi yang begini, kebanyakan lebih condong ke salah satu doang). With that voice and range, Hata bisa nyanyikan almost anything, dan dibuktikan sekitar 10 tahun karier profesionalnya Hata juga cukup banyak cover lagu orang. Most of the time, they're as good as Hata's own songs, and many of them are better than the original artists, so to speak.

Bikin rekaman nge-cover lagu orang lain mungkin baru hits di Indonesia belakangan ini, tetapi di Jepang itu udah agak biasa, termasuk merilis album yang semuanya cover-an, baik cover lagu dari artis lokal sampai internasional. Tapi, Hata sendiri belum pernah officially merilis album kumpulan lagu cover-nya, selain dalam bentuk CD berjudul Covers - Hata Motohiro Sings 2007-2010, yang jadi bonus di album ketiganya, Documentary (2010), itu pun yang edisi terbatas. Nah, tapi dari situ gw menyimpulkan bahwa tak hanya Hata suaranya tetap bagus di lagu orang lain, doski juga punya kurasi lagu-lagu cover yang superkece, nggak sembarang terkenal terus di-cover *lirik sinis Sabrina*. Banyak lagu-lagu J-Pop lama yang bagus yang gw nggak tahu, jadi tahu gara-gara dinyanyikan oleh Hata. Jadi, cover-in lagu orang bukannya mengerdilkan reputasinya sebagai artis, malah makin membuktikan musikalitasnya *tsaaah*



Kalau sebelumnya gw udah bikin daftar 21 lagu Hata terbaik versi gw, sekarang gw ingin gelar 10 lagu cover-an Hata terbaik versi gw. Cover-an-nya nggak harus dari album, tapi bisa juga yang direkam untuk B-side di single, album kompilasi atau tribute untuk artis tertentu, atau "sekadar" nyanyi live di konser dan TV yang gw temukan di YouTube. Silakan.


Selasa, 07 Juli 2015

[Movie] SPL 2: A Time for Consequences (2015)


殺破狼II (Sha po lang II/Saat po long II)
SPL 2: A Time for Consequences
(2015 - Bravo Pictures/Sun Entertainment Culture/Sil-Metropole/Bona Film/Maximum Gain Kapital)

Directed by Soi Cheang
Written by Jill Yeung, Huang Ying
Produced by Wilson Yip, Paco Wong
Cast: Tony Jaa, Wu Jing, Simon Yam, Zhang Jin, Louis Koo, Unda Kunteera Thordchanng, Ken Lo, Jun Kung, Dominic Lam, Babyjohn Choi, Wilson Tsui, Philip Keung


Tidaklah berlebihan bila menyangkut film yang dibintangi aktor-aktor laga, penonton mengharapkan rangkaian aksi seru yang memacu adrenalin. Deretan nama yang ditampilkan dalam film Hong Kong, SPL 2: A Time for Consequences, pun sudah memberi isyarat itu: ada bintang laga Thailand, Tony Jaa (Ong-Bak, Tom-Yum-Goong), juga dua nama aktor Mandarin yang dikenal jago bela diri, Wu Jing (Twins Mission, Shaolin) dan Zhang Jin (The Grandmaster). Adu kelahi pamungkas antara ketiganya pasti paling dinanti-nantikan. Akan tetapi, sutradara Soi Cheang juga sanggup memberi nilai tambah dalam SPL 2, yaitu cerita yang bukan hanya sekadar pengisi waktu di antara adegan-adegan laganya.

SPL 2 mungkin tidak bisa dipandang sebagai film genre action biasa. Film ini adalah follow-up dari kesuksesan film berjudul SPL: Sha Po Lang di tahun 2005, yang dibintangi Donnie Yen dan Sammo Hung. Film tersebut dinilai sukses menyajikan gabungan aksi khas sinema Hong Kong dengan thriller kriminal modern. SPL 2 sebenarnya sama sekali tidak ada kaitan cerita maupun karakter dengan film pertamanya itu, hanya "meminjam" judulnya saja. Namun, konsep menggabungkan aksi dengan drama kriminal rupanya masih mendasari film yang baru ini. SPL 2 kini menyorot bisnis hitam perdagangan organ tubuh manusia, ditambahkan dengan aneka pertarungan fantastis khas film silat.

Polisi Hong Kong, Chan Kwok Ah (Simon Yam) memimpin penyelidikan terhadap serangkaian kasus penculikan dan pedagangan organ manusia, yang mengarah pada seorang pengusaha kaya, Hung (Louis Koo). Kesempatan meringkus Hung mulai terbuka, ketika Hung yang berjantung lemah (dan bergolongan darah langka) berniat menjadikan adiknya sendiri, Man Piu (Jun Kung) sebagai donor jantung.

Ketika Man Piu berusaha kabur, Chan menugaskan Kit (Wu Jing), anak buah sekaligus kemenakannya yang menyamar di dunia mafia, untuk membawa Man Piu ke polisi. Namun, penyamaran Kit terbongkar, ia ditangkap orang-orang Hung dan diselundupkan ke sebuah penjara di Thailand.

Di Thailand, Chai (Tony Jaa) mesti bekerja keras demi pengobatan putri kecilnya, Sa (Unda Kunteera Thordchanng) yang menderita leukemia. Donor sumsum tulang belakang yang cocok dengan Sa tak bisa dihubungi sampai sekarang, sementara obat-obatan yang dibutuhkan sangat mahal. Chai kini bekerja sebagai sipir di penjara yang dipimpin oleh Ko Chun (Zhang Jin). Chai beberapa kali melihat hal yang tak beres dengan penjara ini, terutama Ko yang menyimpan banyak rahasia. Kecurigaan itu semakin besar ketika Ko memasukkan Kit ke penjara itu. Belakangan, Kit dan Chai menemukan cara untuk saling membantu, baik itu meringkus komplotan Hung, juga menyelamatkan putri Chai.

Seperti disinggung di awal, keberadaan Tony Jaa, Wu Jing, dan Zhang Jin dalam satu film yang memosisikan mereka jadi pihak yang bertikai memang menjanjikan adegan baku hantam yang "pecah". Yang menggembirakan, SPL 2 tidak hanya bergantung pada itu. Film ini menyajikan banyak lagi adegan action yang digarap apik, baik pertarungan satu lawan satu, satu lawan banyak, banyak lawan banyak, ataupun baku tembaknya. Seolah tak ingin menyia-nyiakan talenta yang ada, sutradara dan tim penata laga film ini berusaha menyajikan adegan-adegan berteknik tinggi, sebut saja adu tembak di pelabuhan dan kekacauan di penjara—beberapa menggunakan teknik one continuous shot yang mulus. Memang ada saatnya adegan-adegan tersebut terlihat terlalu fantastis (dengan bantuan visual effects), tetapi dampaknya tetap maksimal dalam memenuhi syarat sebuah sajian aksi yang sangat menghibur.

Selain itu, cukup di luar dugaan bahwa SPL 2 tampilkan cerita yang tidak kalah menonjol dari sisi action-nya. Sekilas cerita film ini seperti terbebani dengan konflik yang jamak, mungkin bahkan terlalu ribet untuk sebuah film aksi hiburan. Namun, pada akhirnya semuanya dapat dituturkan dengan jelas, menyatu, dan ringkas. Penggambaran latar belakang serta motivasi para tokohnya disusun sedemikian rupa, sehingga berbagai adegan baku hantam dan tembak-tembakan yang dilakukan bisa beralasan kuat, bukan supaya sekadar seru saja. 

Film ini juga tidak menjadikan topik seserius perdagangan organ tubuh menjadi sisipan belaka. Topik ini tetap bisa dibawa sebagai gambaran dunia hitam yang mencekam dan keji, bukan sekadar latar belakang yang digarap main-main. Film ini pun bisa mengatur cara untuk memasukkan unsur hubungan antar keluarga di berbagai sisi, yang tidak mengganggu penuturan film ini sebagai aksi dan thriller. Entah itu cinta kasih mengharukan ayah dan anak Chai dan Sa, ataupun persaudaraan tragis antara Hung dan Man Piu, yang justru menambah lapisan hiburan dari film ini.

Makin ke belakang, SPL 2 juga sebenarnya bukan tanpa cela. Segala bentuk kebetulan di sana sini, dan stamina para tokoh yang bak manusia super membuat film ini tak lepas dari kesan "film banget" pada akhirnya. Tetapi, boleh dibilang hanya itu yang menjadi ganjalannya. Selebihnya, SPL 2 justru membuktikan bahwa untuk menyajikan sebuah tontonan laga yang menghibur bukan berarti harus mengabaikan unsur lainnya, khususnya cerita. Adegan laganya memang hebat dan cenderung brutal, tetapi semakin kuat karena direkatkan oleh cerita dan ritme yang selaras.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Minggu, 05 Juli 2015

[Movie] Terminator Genisys (2015)


Terminator Genisys
(2015 - Paramount)

Directed by Alan Taylor
Written by Laeta Kalogridis, Patrick Lussier
Based on the characters created by James Cameron, Gale Ann Hurd
Produced by David Ellison, Dana Goldberg
Cast: Arnold Schwarzenegger, Emilia Clarke, Jai Courtney, Jason Clarke, J.K. Simmons, Lee Byung-hun, Dayo Okeniyi, Matt Smith, Courtney B. Vance


Suatu hal yang sebenarnya memalukan: gw nggak pernah menyaksikan satu pun film Terminator secara utuh. Iya, tahu, film-filmnya wara-wiri bingits di TV, tapi somehow gw cuma tahu bits and pieces dari franchise ini, ingat beberapa adegan dan cuma ingat garis besarnya aja. Inilah yang mengkhawatirkan gw ketika menonton Terminator Genisys, takutnya gw nggak ngeh sama detail yang disampaikan film yang katanya sekuel tapi reboot tapi bukan ini *karepmu*. Well, untungnya gw nggak sendiri. Soalnya, yang bikin film juga kayaknya bingung filmnya mau dibikin kayak gimana.

Katanya sih filmnya mau memanfaatkan teori tentang perjalanan lintas waktu dengan membuat cerita baru di dimensi waktu alternatif, macam Star Trek versi 2009 gitu. Jadi kan seri Terminator sendiri premisnya perang antara mesin pintar bernama Skynet lawan umat manusia yang tersisa pimpinan John Connor. Lalu karena in theory mengubah masa lalu bisa menimbulkan efek ke masa depan, Skynet kirim mesin pembunuh (terminator) ke masa lalu untuk membatalkan kelahiran John, tapi John juga kirim orang namanya Kyle Reese untuk mencegah usaha Skynet itu. Kalo nggak salah di Terminator 2: Judgement Day juga premisnya sama, cuma John kirimnya robot (terminator yang diset jadi baik) instead of orang. Jadi seri ini adalah lomba kirim-mengirim orang/robot ke masa lalu untuk ubah masa depan.

Gw rasa cuma konsep lomba kirim-mengirim itu yang akhirnya ditangkep sama Genisys. Entah gimana caranya, dibuatlah film ini dengan jalan cerita dulu-duluan mencegah kelahiran John ataupun kemunculan Skynet. Film ini ngikutin perjalanan Kyle Reese (Jai Courtney) ke tahun 1984 untuk lindungi Sarah Connor (Emilia Clarke), ibuny John yang masih lajang, dari eksekusi sang terminator. Ternyata dia masuk dimensi waktu yang "salah", karena sebelumnya sudah ada terminator dikirim untuk bunuh Sarah kecil tahun 1970-an, tetapi terminator itu berhasil dibasmi si terminator T-800 yang udah diprogram jadi baik (Arnold Schwarzenegger) yang ternyata berasal dari dimensi waktu "asli" yang kemudian mempersiapkan Sarah untuk melindungi diri dari serangan terminator di masa depan dan sebagainya dan sebagainya.

Intinya Kyle nggak perlu lagi lindungi Sarah tapi ya mau gimana lagi udah telanjur ketemu dan tanpa Kyle nggak bakal ada John juga *ini "spoiler" dari film Terminator pertama*. Lalu Sarah dan si terminator yang dipanggil Pops itu siap-siap bikin misi mencegah kelahiran Skynet dengan lompat ke tahun 1997, which is tanggal kiamat nuklir yang dilakukan Skynet di dimensi waktu "asli", tapi karena satu dan lain hal yang tidak diketahui oleh siapa pun, mungkin karena yang bodoh gw atau justru yang bikin film yang begitu, kiamatnya pindah ke tahun 2017.

I mean, what the hell? Gw bener-bener butuh waktu untuk menalar tentang konsep time-travel dan dimensi waktu alternatif dan butterfly effect dan apalah, yang butuh waktunya ampe filmnya sendiri abis. Sepanjang film gw cuma berpikir ini maksudnya gimana sih? Udah mengubah masa lalu (yang Sarah masih kecil) tapi kok masih berpikir masa depan masih akan sesuai dengan dimensi waktu yang benar? Bener-bener gambling yang makan waktu. Dan bagaimana mereka bisa yakin waktu pindah ke masa depan bahwa itu di dimensi waktu yang "benar", jika sudah tahu bahwa diri mereka atau utusan Skynet bisa kapan aja dikirim ke waktu yang mana saja untuk mengubah masa lalu? Terus pemicu kiamatnya pindah 20 tahun itu apa? Dan yang menurut gw lazy writing adalah bagaimana si Kyle tiba-tiba bisa punya ingatan dari dimensi waktu yang dia tuju, hanya biar filmnya nggak terlalu sibuk mencari tahu ini itu, biar cepet. Oh yeah, don't get me started dengan kemunculan John Connor di tahun 2017 yang sama membingungkannya (atau sengaja dirahasiakan) dengan kemunculan Pops waktu Sarah masih kecil: kok bisa yakin dimensi waktunya itu versi yang itu?

Akhirnya, segala seru-seruan dan visual effects yang lumayan oke (lumayan, nggak spesial banget kalau untuk ukuran Hollywood) yang ditampilkan di layar jadi kurang kena maknanya karena perhatian gw udah "diacak-acak" sama cerita film ini yang nggak ngenakin logikanya. Hal yang tersisa yang bisa gw nikmati dari film ini adalah beberapa tata visualnya yang memang cool--khususnya adegan MRI dan semua yang melibatkan si hibrida-robot-manusia-yang-katanya-twist-tapi-udah-dibongkar-di-poster-dan-trailer, chase scene-nya yang boleh banget, perang-perangan di awal filmnya juga keren, plus beberapa humor dan homage ke film-film aslinya yang bolehlah. Tapi, ya gimana, ceritanya bikin mumet karena konsep dasar yang gegabah. 




My score 6,5/10