Rabu, 29 Januari 2014

[Movie] The Wolf of Wall Street (2013)


The Wolf of Wall Street
(2013 - Red Granite/Paramount)

Directed by Martin Scorsese
Screenplay by Terrence Winter
Based on the book by Jordan Belfort
Produced by Martin Scorsese, Leonardo DiCaprio, Joey McFarland, Emma Tillinger Koskoff, Riza Aziz
Cast: Leonardo DiCaprio, Jonah Hill, Margot Robbie, Matthew McConaughey, Kyle Chandler, Rob Reiner, Jon Bernthal, Jon Favreau, Jean Dujardin, Joanna Lumley, Cristin Milioti


Sepertinya gw memang ada masalah dengan film-film bertemakan ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan saham-saham dan pasar modal. Dari kecil gw sebenarnya penasaran dengan dunia tersebut, karena dulu ketika Bursa Efek Indonesia masih belum pakai komputer (yes, ini di 1990-an) dan sering ditampilkan di berita ekonomi di TV-TV, gw heran mereka tuh ngapain semangat banget mondar-mandir, nelpon-nelpon, nulis-nulis, dan kasih-kasih kode bahasa isyarat pakai jari entah kepada siapa, wah keliatan hectic bangetlah dulu. Unfortunately, sampai sekarang rasa penasaran itu tidak pernah tepuaskan sekalipun gw udah belajar Ekonomi di sekolah, ataupun dengan "metode menyenangkan" lewat film-film bertema ekonomi (contohnya Margin Call atau Arbitrage). Tetep sama sekali nggak ngerti.

The Wolf of Wall Street sepertinya punya cara jitu untuk mengakali orang-orang seperti gw. Caranya: nggak usah dipikirin, intinya pialangnya dapet duit banyak yang didapat dari persenan duit orang lain. Ini terdengar terlalu menyederhanakan dan jahat, tetapi itulah yang ditunjukkan dalam film ini. Dan perlu ditekankan, film ini berdasarkan kisah nyata. Well, gw tebak sih berbagai penggambaran di film ini cuma dibesar-besarkan aja, karena katanya sih tujuannya film ini jadi komedi, dark comedy lebih tepatnya, tapi emang tokoh-tokoh dan beberapa peristiwa penting dari film ini memang terjadi di Amerika sana, tepatnya di Wall Street, tempat berkumpulnya perusahaan-perusahaan saham mengeruk harta rakyat memutar uang. 

Julukan "the wolf of wall street" disematkan pada Jordan Belfort (Leonardo DiCaprio), yang dalam usianya yang baru 26 tahun di awal tahun 1990-an sudah bisa memimpin sebuah perusahaan saham yang beromzet besar, Scratton Oakmont. Film ini menyorot perjalanan karier Jordan yang pada waktu umur 22 (seperti "Si Ratu Oke" *eh ketuaan ya*) emang datang ke New York, khususnya ke Wall Street, supaya cepat kaya. Ketika krisis melanda Wall Street di tahun 1987, Jordan memulai lagi dari awal dengan menjadi pialang penny stock, saham kecil-kecil, yang pembeli sahamnya juga kebanyakan kelas pekerja. Karena kemampuan sales-nya yang luar biasa (alias jago nipu) karier Jordan bangkit lagi dengan cepat, uang yang semakin banyak, sampai membuat perusahaan saham sendiri yang lama-kelamaan juga makin besar. 

Kesuksesan ini berimbas pada gaya hidupnya yang bergelimang harta nyaris tak terkendali. Selain hobi menghamburkan uang, Jordan juga rajin mengonsumsi berbagai macam obat-obatan terlarang dan demen sewa lonte. Nggak cuma dia doang, (katanya sih) satu kantornya yang isinya ratusan orang juga rajin sewa lonte buat digilir pas jam kerja. Kegiatan dugem dan orgy jadi serutin pipis aja. Pertanyaannya, dengan praktek kantornya yang sebagian besar ilegal dan berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan, apakah Jordan akan kena getahnya? Jawabannya iya. Caranya? Ya itulah yang akan diceritakan di film ini.

Tapi untuk mencapai konklusinya, gw harus bersabar menghadapi berbagai kelakuan Jordan dan kawan-kawan yang serba hedonis dan menyebalkan, selama nyaris 3 jam. Nah, ini dia. Jika ada hal yang membuat gw terganggu dari sebuah film selain tetep nggak ngerti soal saham, adalah "komedi" yang dihasilkan dengan cara menunjukkan orang-orang menyebalkan dan bermain-main dengan jokes soal seks yang (menurut mereka) lucu, khas Amerika banget. Membuat gw mikir-mikir, kalau ini bukan film dari kisah nyata dan bukan disutradarai seorang legenda Hollywood, Martin Scorsese, film ini nggak ada bedanya sama film-film macam The Hangover. Jorok. Buat mereka sih lucu. Buat gw sih saru. Gw nggak ngerti apa yang lucu dari nontonin orang-orang high atau orgy atau dengerin orang ngomong jorok terus-terusan.

Tapi yah, katanya ini "komedi", jadi kalau agak lebay ya maklumi aja. Kalau Leonardo DiCaprio terlihat berusaha sekali untuk tampil lebay, ya maklumi saja, karena itu tuntutan dari konsep filmnya. Gw masih enjoy dengan cara Martin Scorsese menata adegan, terutama yang melibatkan banyak orang sekaligus *astradanya tokcer nih*, walaupun gw masih belum nyambung sama "selera humor"-nya doski. On the other hand, The Wolf of Wall Street bisa jadi film yang paling "jujur" dalam menggambarkan kelakuan pialang yang katanya mau ngebantu klien jadi kaya tapi malah mereka yang lebih kaya, sahamnya bodong lagi. Niatnya aja udah haram, cuma mau kaya cepet-cepet, ya dapetnya duitnya juga haram, dipakainya untuk hal-hal haram juga. Jika film ini ditujukan jadi semacam reversed psychology supaya orang-orang tidak menjadi seperti Jordan, sebagaimana tujuan klip-klip keselamatan lalu lintas buatan Polri yang selalu berakhir dengan kematian, yah film ini berhasil. Gw benci sama karakter-karakternya, dan kehidupan yang mereka jalani. Sukses. Anggap saja The Wolf of Wall Street sebagai peringatan agar lebih banyak orang memilih ekonomi syariah.




My score: 7/10

NB: tulisan ini dibuat berdasarkan yang saya tangkap dari film The Wolf of Wall Street, tanpa mengurangi rasa hormat pada profesi pialang di mana pun...sekalipun saya tetap nggak ngerti kerjaan kalian itu apa sebenarnya.

56th Grammy Awards / 2014


Perhelatan Grammy Awards ke-56 baru saja diadakan tanggal 26 Januari malam waktu sono atau 27 Januari pagi waktu sini. Tahun ini gw cukup senang karena beberapa lagu/album kesukaan gw memperoleh piala, mengalahkan lagu/album yang nggak gw suka, huahahahaha *makan tuh "Roar"*. Buktinya, banyak lagu atau artis atau album yang menang Grammy yang beririsan juga dengan daftar favorit gw di tahun 2013 kemarin. Mungkin saatnya gw gabung di The Recording Academy buat nentuin pemenang Grammy, seleranya udah cocok =p.

Dari segi acara, dengan tema "Music Unleashes Us" sebenarnya nggak terpancar-terpancar amat sih, nggak liar apa gimana gitu. Tetapi seperti biasa, ada beberapa penampilan highlight seperti kolaborasi Daft Punk *yup, Daft Punk ada di panggung acara musik live* dengan Pharrell, Nile Rodgers, dan Stevie Wonder membawakan entah berapa banyak lagu jadi satu, lalu ada mash-up "Beautiful/Brave" dari Carole King dan Sara Bareilles, penampilan flawless dari John Legend dengan "All of Me", dan favorit gw adalah kegilaan Imagine Dragons dengan rapper Kendrick Lamar melumatkan lagu "Radioactive" dengan "m.A.A.d. City". Coolness. Macklemore & Ryan Lewis juga tampil membawakan "Same Love" dengan konsep yang cukup kontroversial, yaitu meresmikan pernikahan 30-an pasangan, baik yang lawan jenis ataupun sesama jenis, di tengah-tengah lagunya. Kawin massal di Grammy, nice headline. Tapi buat gw sih agak aneh aja, apalagi di penghujung lagu ada nenek-nenek tiba-tiba muncul dan nyanyi, yang ternyata adalah Madonna. O well.

Oh iya, sesuatu yang unik dari Grammy kali ini, adalah mereka semacam sudah meng-acknowlegde video-video lagu cover version dari masyarakat di YouTube, caranya adalah menampilkan video-video tersebut di klip nominasi beberapa kategori, instead of deretan video klip penyanyi aslinya. Nah, sedikit feel good buat Indonesia, ketika dimainkan klip nominasi Best Pop Solo Vocal Performance dan ada nominasi "Mirrors" dari Justin Timberlake, yang dipasang adalah video cover dari GAC-Gamal Audrey Cantika! Yah, emang cuma sekitar 5 detik dan muka-muka mereka cuma kelihatan separoh, dan mungkin cuma kita-kita aja yang bisa point out itu video siapa, tapi ya lumayanlah.

Anyway, berikut ini beberapa pemenangnya:

Minggu, 26 Januari 2014

AJIRENJI MINDSTREAM REVIEWS 5th ANNIVERSARY + Posting Picks


Oh, wow. Hampir nggak percaya gw akan sampai pada postingan ini. But yeah, tepat pada tanggal 26 Januari 2014 ini adalah HARI ULANG TAHUN BLOG AJIRENJI MINDSTREAM REVIEWS yang KE-5! Lima, men! Lima!

*mengusap air mata*

Lima tahun itu adalah sebuah angka yang cukup besar bagi gw dalam menjalani sesuatu secara rutin, udah hampir menyamai masa SD. Masih belum bosan, walaupun jujur masih lumayan up-and-down kalau soal meng-update, hehe. Namanya juga dinamika kehidupan.

Speaking of which, gw merasa 5 tahun blog gw ini menjadi makin istimewa, karena lewat blog yang tadinya dibuat dengan iseng-iseng belaka (dan masih iseng juga sih sampe sekarang) gw bisa punya kesempatan untuk mencapai berbagai hal yang sebelumnya nggak gw sangka. Gw jadi punya banyak teman dengan interest yang sama di dunia maya, jumlah klik sampe ratusan ribu, tergabung di Piala Maya, sempet juga salah satu tulisan gw di sini dimasukkan dalam buku kompilasi ulasan film (Mata Tertutup), menjadi kontributor di situs informasi film, dan finally, gw akhirya saat ini beneran terjun sebagai film reporter, itu ya more or less karena ada blog ini. Can't be more grateful, can I? =)

Di HUT ke-5 ini maunya siiiih dibikin apa gitu yang spesial, quiz kek atau apa, tapi berhubung kesibukan melanda dan kesejahteraan masih dalam perjuangan, hal itu masih belum bisa dilakukan sekarang. Maaf ya. Tapi sebagai gantinya, gw akan menapaktilas beberapa tulisan gw di blog ini yang paling berkesan. Total ada lima tulisan yang means a lot to me personally dengan alasan masing-masing. Inilah dia *berasa judul artikel di situs berita online*.



Sabtu, 25 Januari 2014

[Movie] Kau dan Aku Cinta Indonesia (2014)


Kau dan Aku Cinta Indonesia
(2014 - Qasthalani Citra Film)

Directed by Dirmawan Hatta
Written by Husein M. Atmojo, Rusjdy S. Arifin
Produced by Mohammad Adning, Risdi A. Sulaeman
Cast: Zulfa Maharani Putri, Elang El Gibran, M. Syihab Imam, Monica Setiawan, Amel Carla, Rizqullah Maulana Daffa, Iqbal Zuhda Irsyad, Jay Wijayanto, Dian Ekowati Utomo, Titi Dibyo, Pong Hardjatmo, Denada Tambunan, Aldo Aressa, Adinda Rana Fauziah.


Gw nggak tertarik nonton film ini karena "film keluarga inspiratif", tetapi lebih karena penasaran sama sutradaranya, Dirmawan Hatta. Nama ini mungkin belum banyak dikenal, karena sebelum ini baru membuat dua film panjang, satunya belum tayang di bioskop, satunya lagi tayang di bioskop...lima hari. Tapi kalau melihat kedua karya sebelumnya, pasti bisa mengerti kenapa karya mas Dirmawan belum terekspos ke publik. Gw pernah menonton Optatissimus tahun lalu, yang mengisahkan perjalanan spiritual yang alurnya tidak runut. Gw juga sempat ngintip sebagian film panjang perdananya, Toilet Blues di JIFFest kemarin yang juga tentang perjalanan spiritual penuh simbol dan pertanyaan. Intinya, film-filmnya emang meant to be nggak laku, heuheuheu *jahat*.

Anyway, manuver yang diambil mas Dirmawan untuk film ketiganya cukup menarik, karena Kau dan Aku Cinta Indonesia adalah film dengan target keluarga, khususnya remaja. Logika sederhananya, mas Dirmawan nggak bisa memperlakukan film ini seperti Optatissimus dan Toilet Blues kalau memang mau mencapai target penontonnya. Harus diubah sedikit gayanya. And it did...well, not really. Kita bisa melihat film ini berjalan runut dari awal sampai akhir, kejadian-kejadiannya pun bisa dibilang sehari-hari banget dan maknanya lugas. Tapi gw masih menemukan adegan-adegan yang tak begitu saja mudah dipahami, baik dari dialog ataupun penataannya. Plus beberapa pemindahan antar satu adegan ke adegan lain yang kadang kayak lompat aja gitu tiba-tiba sudah terjadi. Misalnya waktu muncul dialog "aku nggak tahu salah aku apa sama kamu, tapi aku minta maaf", batin gw juga berkata "gw juga nggak tahu salah loe apa, emangnya sejak kapan dia marah sama loe?" =D, kayak gitu lah. Filmnya sih film keluarga, tapi mbingungin sih teteup =p.

Mungkin permasalahan ada pada jumlah karakter yang banyak serta konflik yang dihadapi masing-masing, ditambah permasalahan antar-mereka. Awalnya kita dikenalkan pada Cahaya (Zulfa Maharani Putri), anak Jakarta yang orang tuanya sudah cerai dan hobi menyanyinya dihalangi oleh sang mama (Dian Ekowati Utomo) yang akan tugas di Vietnam sehingga Cahaya dititipkan di Boyolali bersama eyangnya (Titi Dibyo). Yes, itu baru satu tokoh. Lalu Cahaya berkenalan dengan teman-teman satu SMP-nya, Andi (Elang El Gibran) yang ditaksir Cahaya, dan Ian (M. Syihab Imam) yang naksir Cahaya. Gw urung menuliskan latar belakang kedua tokoh cowok ini karena bakal nghabisin halaman. Eh, ternyata ada lagi yang naksir Cahaya, Ichsan (Iqbal Zuhda Irsyad) padahal lagi pacaran sama cewek paling "populer" di sekolah, Tiwi (Monica Setiawan) yang, as usual, merasa kedatangan Cahaya yang anak Jakarta mengancam ke"populer"annya. Orang Jakarta emang selalu bawa masalah ya *eh*.

Konflik seakan-akan tumplek ditumpuk jadi satu, tapi tindak lanjutnya kurang di-emphasize. Terus dibebani lagi dengan tema pelestarian budaya bangsa vs prioritas pada nilai akademis yang (harusnya) jadi unsur benang merah pemersatu setiap tokoh di film ini. Mengingat kisah film ini terinspirasi dari serial ACI - Aku Cinta Indonesia di TVRI tahun 1980-an, gw jadinya berpikir materi film ini lebih cocok jadi serial di TV juga, atau minimal miniseri. Lagian banyak banget sih konfliknya.

Tetapi on the positive light, film ini cukup berhasil dalam menghibur gw. Konflik-konflik yang dihadapi memang menumpuk, tetapi tidak terasa diada-adain. Konflik yang dituangkan sebenarnya sangat dekat dengan keseharian, entah itu orang tua yang menuntut anaknya belajar buat ujian mengesampingkan hobi/kesenangan, sekolah yang tidak mengindahkan pendidikan seni dan budaya, cinta-cinta monyet yang udah sok gede, rebutan cewek, rebutan cowok, things like that. Mungkin dialog dengan kata-kata yang sedikit terlalu dewasa membuat konflik-konflik itu tidak kelihatan realistis--apalagi hubungan Bagas (Rizqullah Maulana Daffa) dan Nanda (Amel Carla) yang ya-ampun-Tuhan-anak-anak-pitik-begini-amat-pikirannya, tapi justru itu yang bikin menghibur, jatuhnya lucu, at least buat gw ya. Gw nggak tau apakah itu emang sengaja dibikin demikian, tapi gw jadi sering banget ketawa sepanjang film melihat cinta-cintaan anak SMP dengan kata-kata nyaris mirip sinetron (tapi sedikit make-sense karena setting-nya bukan di Jakarta) seakan mereka ngerti apa yang mereka katakan, sering banget gw melontarkan "ciee ciee" terhadap tingkah polah para tokohnya di layar, haha. Ciee.

Well, setidaknya itu bisa sedikit menambal atas beberapa kekurangan dari segi penyampaian cerita yang menurut gw kurang seimbang dan overloaded itu. Saking overloaded-nya sampe-sampe plot device yang berupa lomba paduan suara jadi kayak nggak penting gitu deh. Sayang potensinya kurang dikembangkan dengan lebih fokus dan lebih rapih. Gw nggak enjoy keseluruhannya, tapi masih terhibur dengan beberapa momen di dalamnya. Lumayan lah. 




My score: 6/10

Rabu, 22 Januari 2014

[Movie] Devil's Due (2014)


Devil's Due
(2014 - 20th Century Fox)

Directed by Matt Bettinelli-Olpin, Tyler Gillett
Written by Lindsay Devlin
Produced by John Davis
Cast: Zach Gilford, Allison Miller, Sam Anderson, Roger Payano, Vanessa Ray


Yup, lagi-lagi gw nonton film horor, tentu saja di luar keinginan gw, hehe. Dan menurut gw kata "lagi-lagi" itu tidak hanya berlaku bagi gw nonton film-film horor dalam waktu yang berdekatan, tetapi kenyataan bahwa Devil's Due ini punya banyak kesamaan dengan film horor yang gw tonton sebelumnya, Paranormal Activity: The Marked Ones. Sampe gaya penuturan found-footage-nya segala. Gw bahkan nggak habis pikir gimana itu para distributor Hollywood merilis dua film dengan isi dan bentuk serupa dalam waktu berdekatan kayak gini dan masing-masing berharap sukses dan nggak dibanding-bandingkan *terus inget Deep Impact dan Armageddon*.

But anyway, gambaran singkat dari Devil's Due adalah Rosemary's Baby in found-footage style. Gambaran ini sedikit banyak sudah membongkar film ini secara luar dalam, udah jelas arahnya ke mana karena udah nggak ada lagi yang musti dirahasiakan. Kalaupun nggak tau tentang Rosemary's Baby, dari judul, poster, dan promo Devil's Due ini pun udah ketahuan isinya gimana. Film ini tentang kehamilan seorang wanita namun ternyata bayinya adalah iblis, lalu selama hamil sang ibu berkelakuan aneh dan punya kekuatan-kekuatan yang ngeri, dan ada hubungannya dengan ritual-ritual klenik oleh sekelompok orang dengan lambang-lambang khas mereka. Jadi kenapa coba harus ditonton?

That is a good question. Kenapa harus ditonton? Gw bilang sih film ini nggak harus ditonton *ngatur*. Wong udah tau ceritanya entar kayak gimana, endingnya kayak gimana. Gaya found-footage pun lama-lama jadi usang (ini sih karena terlalu berdekatan nonton film sejenis), dan beneran deh penataan kameranya saking "realistis"-nya sampe bikin gw mual dan gelegekan berulang-ulang. Atau karena pas nonton gw duduk agak depan. Atau karena emang lagi maag atau masuk angin. Apapun itu, gw merasa nggak nyaman menyaksikan film ini. Emang sih, nggak selamanya sudut pandang film ini memakai satu kamera dari satu tokoh doang, kepake juga beberapa kamera CCTV yang untungnya lebih stabil, mirip sama yang dilakukan film Chronicle. Tapi, ya kalau mau nonton harap diwanti-wanti aja bagian ininya. 

Gw pun bingung mau bilang sukanya sama film ini apa. Ceritanya terlalu familiar, terlalu jelas bahkan sebelum nonton filmnya, gambarnya nggak enak, dan sebagai film horor dia nggak serem. Ngagetin pun enggak. Apa mungkin teknik found-footage sudah tidak lagi menambah kengerian film horor? Gw nggak bisa jawab, karena bukan pemerhati horor. Atau mungkin tujuannya emang bukan supaya serem? Terserahlah. Tapi gw akui filmnya sendiri cukup pintar membawa gw untuk tetep ngikutin ceritanya sampe tahu ending-nya dibuat seperti apa. Udah bisa kira-kira tapi tetep penasaran, boleh jugalah caranya si yang bikin film.



My score: 5/10

Minggu, 19 Januari 2014

[Movie] The Secret Life of Walter Mitty (2013)


The Secret Life of Walter Mitty
(2013 - 20th Century Fox)

Directed by Ben Stiller
Screenplay and Screen Story by Steve Conrad
Based on the short story by James Thurber
Produced by Samuel Goldwyn Jr., John Goldwyn, Stuart Cornfeld, Ben Stiller
Cast: Ben Stiller, Kristen Wiig, Adam Scott, Sean Penn, Shirley MacLaine, Kathryn Hahn, Adrian Martinez, Patton Oswalt


Jika ada film yang gw hindari selain horor, maka itu adalah film yang ada Ben Stiller-nya. Gw sih merasa nggak pernah sampai bener-bener nggak suka sama individu-individu tertentu yang bikin gw nggak mau nonton filmnya, sama seperti gw nggak merasa gw nonton suatu film gara-gara ada aktor/aktris pemain favorit gw di sana. Tapi somehow gw emang cenderung menghindari film yang ada Adam Sandler atau Ben Stiller. Khususnya Stiller, mungkin karena gw masih agak "trauma" sama Zoolander yang dibintangi dan disutradarainya juga. Jangan tanya kenapa, karena gw sendiri nggak tau juga jelasnya kenapa gw kurang seneng kalau ngeliat Stiller, selain kebetulan film-filmnya dia belum ada yang gw suka. The Secret Life of Walter Mitty, naturally, nggak niat gw tonton, tapi karena di bioskop film-film yang bikin nafsu nonton tuh nggak ada tapi gw lagi pengen banget cium bau bioskop, jadilah gw memilih Walter Mitty, dengan harapan at least gambarnya bagus-bagus kayak di trailer-nya.

Walter Mitty (Ben Stiller) adalah seorang pekerja canggung dan hidupnya biasa-biasa saja, yang tak punya kesenangan selain kerja dan melamun. Dan jomblo. Kerjaannya sebenarnya nggak biasa, yaitu bertanggung jawab menerima dan memroses foto-foto yang akan dimuat di majalah Life. Tetapi, kali ini majalah Life sedang melakukan transisi dan restrukturisasi dengan ditutupnya divisi majalah cetak dan beralih ke online. Untuk edisi terakhir majalah cetaknya, fotografer terkemuka nan hipster Sean O'Connell telah memilihkan salah satu fotonya untuk menjadi sampul, lalu dititipkan kepada Walter. Tapi pas klise foto *gw kasih link Wikipedia buat yang nggak tau ini apaan* yang dikirimkan O'Connell dijembrengin, klise yang mau dijadiin sampul malah nggak ada. Masalah timbul pas bos transisi (Adam Scott) itu ternyata resek banget, dan O'Connell, saking hipster-nya sampe nggak punya rumah dan ponsel, nggak bisa dihubungi dengan mudah. Atas saran rekan kerja yang ditaksirnya, Cheryl (Kristen Wiig), Walter memberanikan diri untuk melacak O'Connell, yang berarti mengharuskan dirinya keluar dan sort-of keliling dunia.

Gw masih nggak suka Ben Stiller, tetapi film Walter Mitty ini cukup oke kalau menurut gw. Inklusi tentang sifat Walter yang terlalu enjoy dengan pekerjaannya sampe hampir lupa untuk take a break and have a little fun (a real one, bukan lamunan atau ikut-ikutan) menurut gw boleh juga ditampilkannya. Meskipun film ini basically a drama dengan sedikit penekanan pada cinta dan hubungan antar keluarga Mitty yang cukup oke, tetapi di film ini banyak dimasukkan gags canggung khas Stiller yang kadang lucu juga. Serta bener dugaan gw film ini bisa menampilkan gambar-gambar yang cakep. Masalahnya, apakah itu cukup untuk membuat film ini lebih dari sekadar gambar-gambar cakep? Mungkin, tapi buat gw sih enggak, masih terasa ada yang missing.

Rasa "kurang"-nya itu bisa jadi dari ke-kurang-nyatu-an antara cerita dengan humornya. Humor awkward a la Stiller yang kadang lucu itu seperti sekadar selingan saja, menyegarkan suasana, biar nggak bosen *uh-oh, I said the b-word*. Tapi ya gitu, kalau nggak ada humornya itu, film ini bisa jadi datar-datar saja. Oh, that's it, datar, itu mungkin masalah film ini. Padahal rancangan plot-nya lumayan bombastis, soal lamunan, soal petualangan di beberapa negara, tapi perasaan yang timbul di gw tuh malah hollow bagaikan kepadatan penduduk Greenland. Satu-satunya yang bisa mengangkat grafik mood film ini adalah kemunculan Kristen Wiig yang selalu sanggup memberi sedikit splash. Selebihnya, ya datar lagi. Dan, gw merasa gambar-gambar cakepnya tuh nggak berarti apa-apa selain gambarnya cakep. Atau, lagi-lagi, kekurang-sukaan gw karena faktor Ben Stiller, kembali ke paragraf satu. Bisa aja.

Pada dasarnya sih gw masih bisa menempatkan film ini di jajaran "boleh ditonton", karena ceritanya cukup menarik dan segala macamnya itu. Cuman tetep aja dampaknya tidak sebesar itu di gw. Dampak terbesarnya sejauh ini cuma gw jadi pengen makan Cinnabon, roti kayu manis kismis disiram gula glaze yang dimakan Walter dan Todd (Patton Oswalt) di bandara Los Angeles. Dan gw bener-bener beli roti yang lumayan mirip itu di salah satu bakery. Yummy. Udah gitu aja.




My score: 6,5/10

Selasa, 14 Januari 2014

[Movie] Paranormal Activity: The Marked Ones (2014)


Paranormal Activity: The Marked Ones
(2014 - Paramount)

Written & Directed by Christopher Landon
Produced by Oren Peli, Jason Blum
Cast: Andrew Jacobs, Jorge Diaz, Gabrielle Walsh, Carlos Pratts, Richard Cabral, Renee Victor, Gloria Sandoval, Molly Ephraim


Well, akhirnya gw ulas film horor di blog ini. Bagi yang rajin mampir pasti bisa notice bahwa blog ini jarang bahas horor, karena yang nulis juga jarang nonton horor. Film horor terakhir yang gw tonton dan ulas tuh The Cabin in the Woods lebih dari setahun lalu, yang juga nggak horor murni. Ya gimana ya, penakut nggak seneng ditakut-takutin sih. Lalu kenapa Paranormal Activity: The Marked Ones ini gw tonton? Well, karena ada hubungannya dengan kerjaan sih, jadi rada mau-nggak-mau gitu. And no, gw memang belum pernah menonton seri Paranormal Activity yang heeits banget itu. Jadi gw nggak punya modal apa-apa dalam menonton film yang katanya spin-off ini, gw cuma tahu apa yang ada di sini.

But to my surprise gw cukup bisa mengikuti jalan cerita dari The Marked Ones ini. Masih dengan model found footage ala-ala Cloverfield dan Chronicle, kisahnya berangkat dari keseharian khas anak-anak remaja yang diawali main-main dan iseng-iseng, kemudian berujung pada hal-hal klenik yang cukup membahayakan hidup mereka. What actually works dari film ini, menurut gw, adalah pilihannya untuk memakai karakter utama berlatar belakang kebudayaan Hispanik atau keturunan Amerika Latin yang tingga; di Amerika Serikat. Jika ada yang bertanya-tanya "kok mereka langsung percaya aja sama gitu-gituan?", jawabannya sesimpel bahwa mereka datang dari kebudayaan yang percaya hal-hal demikian, mirip-miriplah sama orang Indonesia. Tokoh-tokoh utama kita tidak merasa ada yang nggak masuk akal dengan hal hantu-hantuan atau ritual-ritual sihir, mereka cuma bereaksi "this is crazy, man!" karena kagum, bukan karena nggak percaya. Si pembuat filmnya gw bilang sih cukup pinter, karena ini mempermudah laju jalan ceritanya.

Nah, tapi, untuk urusan status "film horor", The Marked Ones ini, bukannya gw belagu ya, sebenarnya nggak terlalu serem. Beneran. Cuma kaget-kaget aja palingan. Bagi orang-orang yang somehow merasa ada kepuasan lahir batin jika sedang ketakutan amat sangat, pasti bakal merasa film ini melempem. Payah lah. Di sisi lain, bagi yang lebih perhatian sama cerita, The Marked Ones setidaknya punyalah sesuatu untuk diceritakan, khususnya tentang pengungkapan adanya konspirasi klenik yang mengancam dunia *tentu saja*. Mungkin nggak tuntas, tetapi gw merasa penjelasan yang ada di film ini sudah lumayan cukup....Oke baiklah "nggak tuntas"-nya itu mungkin agak nyebelin karena gw seperti harus korek-korek informasi tentang apa hubungan film ini dengan seri-seri Paranormal Activity yang utama, plus pengakhiran filmnya yang emang penonton harus tebak sendiri, atau harus dilengkapi dengan menonton seri Paranormal Activity terbaru yang "kebetulan" akan tayang beberapa bulan lagi. Tapi gw bisa lihat bahwa para kreator seri ini sedang berusaha membuat sebuah skema besar yang maunya jadi benang merah yang menyatukan semua filmnya. I don't think it's a great scheme, tapi yah setidaknya ada usahanya.

Jadi menurut gw The Marked Ones ini lumayanlah, khususnya jika diposisikan sebagai film mandiri. Kelemahannya mungkin ada di jalan cerita yang sebenarnya cukup familiar, serta horornya yang mungkin nggak serem-serem amat, dan pemilihan tata suara mendem dari sononya seakan kamera video yang katanya "baru dan bagus" itu nggak bisa stereo *aneh banget*. Gw juga nggak tahu gimana memposisikan film ini di antara film-film Paranormal Activity 1 sampe 4 plus 5 nanti, tapi mungkin karena itulah gw lebih bisa menerima film ini dengan apa adanya. Yah, sempet kepikiran juga sih itu kok kameranya dipake teru ke mana-mana walaupun udah dikejar-kejar apaan tauk. Tapi, kalau harus mikir "masuk/nggak-masuk akal" terus ya nggak jadi film lah *alasan yang malas*.



My score: 6/10

Minggu, 12 Januari 2014

[Movie] The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)


The Hobbit: The Desolation of Smaug
(2013 - New Line Cinema/Warner Bros.)

Directed by Peter Jackson
Screenplay by Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson, Guillermo del Toro
Based on the novel "The Hobbit" by J.R.R. Tolkien
Produced by Carolynne Cunningham, Zane Weiner, Fran Walsh, Peter Jackson
Cast: Ian McKellen, Martin Freeman, Richard Armitage, Benedict Cumberbatch, Luke Evans, Ken Stott, James Nesbitt, Lee Pace, Evangeline Lilly, Orlando Bloom, Stephen Fry


Honestly, gw nyaris nggak tau mau komentar apalagi terhadap trilogi The Hobbit selain "yaelah, mas, perlu banget ya dipanjang-panjangin?". Gw cukup menikmati film pertamanya, An Unexpected Journey yang berdurasi 2 jam 45 menit itu, karena lumayan banyak humornya. Kemudian kita ditawarkan gempuran banyak sekali tokoh, baik itu tokoh baru maupun "lama" (dari The Lord of the Rings) di bagian keduanya, The Desolation of Smaug. Entah mungkin ini gw aja, perasaan bahwa film kedua ini pastinya bukan awal dan bukan akhir--jadi pasti nggak ada penjelasan awal dan pasti nggak akan tuntas di akhir, membuat gw agak males untuk menggerakkan badan menonton film ini. Apalagi pas liat durasinya juga TETEUP 2 jam 40-an menit. Ya ampun, mas Pete, mas Pete...Tetapi memang seenggaknya pada bagian kedua ini perjalanan tokoh-tokoh kita emang berjalan maju, dan nyaris sampai pada tujuan awal mereka. Nyaris. 

The Desolation of Smaug melanjutkan petualangan seorang hobbit (manusia yang badannya kayak anak kecil terus) sekaligus pencuri ulung bernama Bilbo Baggins (Martin Freeman) yang menemani rombongan penyihir Gandalf the Grey (Ian McKellen) dan 14 orang dwarves (kurcaci) untuk merebut hak mereka atas kerajaan di Lonely Mountain, yang diserang dan dikuasai oleh seekor naga serakah, Smaug (Benedict Cumberbatch). Perjalanan mereka tak mudah, selain karena Peter Jackson nggak mau filmnya selesai dalam satu episode =.=, juga karena sang pemimpin kaum dwarves, Thorin (Richard Armitage) diincar oleh ras monster orc bernama Azog (Manu Bennett), atas suruhan sosok misterius yang dikenal dengan nama The Necromancer. Hingga suatu ketika di tengah perjalanan mereka yang nyaris sampai di tujuan, Gandalf memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan untuk menyelidiki tentang si Necromancer, sementara Bilbo, Thorin dkk meneruskan perjalanan sampai ke tujuan. Tetapi, sampai di tempat tujuan bukan berarti masalah selesai.

Dari segi positifnya, The Desolation of Smaug adalah kesempatan bagi para pecinta seri The Lord of the Rings menjelajahi dunia Middle-Earth dari sisi berbeda, ketika segala hal masih lebih sederhana dan tidak terlalu penuh polemik. Kita bisa lihat manusia serigala, hutan penuh laba-laba raksasa, kota manusia di atas air yang mirip suku Bajo, sampai kerajaan elf (makhluk abadi seperti peri) di tengah hutan yang jadi tempat asal pendekar elf idola di The Lord of the Rings, Legolas (Orlando Bloom). Sisi nggak enaknya, justru hal-hal tersebut memperlambat jalan ceritanya, terutama karena ada adegan-adegan laga yang, seru sih, tapi dipanjang-panjangin. Contohnya, waktu Bilbo dan para dwarves kabur dari kerajaan elf hutan pake jerigen di sungai, seakan-akan adegannya nggak boleh selesai sampe tertumpah darah dari orc paling terakhir. Capek.

Tetapi harus gw akui, Peter Jackson masih sanggup menata segala sesuatu jadi enak dipandang dengan segala desain dan efek visualnya, dan ceritanya lumayan mudah (tapi belum tentu enak) diikuti meskipun kayaknya jadi less humorous. Terkadang kecenderungan Jackson menampilkan hal nyerempet grotesque horror muncul lebih sering dari An Unexpected Journey, tetapi ya cukup serulah. Bagian penghujungnya pun ditata cukup oke sekalipun gw sadar itu bukan bagian yang klimaks banget--kan ada film ketiga, duh. Beberapa penambahan unsur cerita mungkin emang terasa bikin ribet, dan some of them nggak penting sama sekali, tetapi jika penambahan itu berwujud Evangeline Lilly sih gw nggak masalah =). Oh, how I wish it stayed as a 2-part film aja kali. Gw nggak sampai menikmati film ini sebagaimana film pertamanya, tapi setidaknya theme song "I See Fire" dari Ed Sheeran sanggup jadi penutup yang nampol.




My score: 6,5/10

Senin, 06 Januari 2014

[Movie] 47 Ronin (2013)

 

47 Ronin
(2013 - Universal)

Directed by Carl Rinsch
Screenplay by Chris Morgan, Hossein Amini
Screen Story by Chris Morgan, Walter Hamada
Produced by Chris McLeod, Pamela Abdy
Cast: Keanu Reeves, Hiroyuki Sanada, Tadanobu Asano, Rinko Kikuchi, Koh Shibasaki, Jin Akanishi, Min Tanaka, Masayoshi Haneda, Cary-Hiroyuki Tagawa, Togo Igawa


Mungkin karena ada panggilan "berdasarkan kisah klasik Jepang" yang bikin gw, seorang entah-gimana-caranya lulusan sastra Jepang, jadi berniat nge-cek film 47 Ronin versi bule ini, terlepas apa pun yang terjadi semasa proses panjang pembuatan film yang konon kacau beliau ini. Kalo dibilang familiar sama kisahnya, well, enggak =P, cuma pernah denger judulnya. Kisah 47 Ronin konon adalah kisah nyata yang kemudian menjadi legenda di Jepang sana, juga sering banget dipentaskan dalam bentuk karya fiksi bunraku (kayak wayang golek tapi versi ribet) dan kabuki (teater yang aktornya laki semua), dengan judul "Chuushin'gura", dan pastinya ada versi film juga. Gw cuma tahu ending-nya pada mati semua, because that's what happen in every single Japanese tale. Dan sekarang Anda tahu kenapa kalau anak-anak sastra Jepang kalau bikin pementasan pasti diakhiri dengan kematian. Kultur =p.

Legenda 47 Ronin konon terjadi pada zaman Shogun Tokugawa, sekitar abad ke-18, ketika Jepang masih tertutup dari dunia luar. Rounin adalah sebutan bagi samurai (prajurit) yang di-PHK, nggak punya tuan lagi untuk mengabdi. Untuk kasus 47 Ronin ini, mereka kehilangan tuan karena sang tuan disuruh seppuku (menjaga kehormatan dengan membunuh diri sendiri daripada dihukum sebagai penjahat, or something like that) oleh pemerintah karena for some unknown reason melukai seorang pejabat dari kota pemerintahan Edo (sekarang Tokyo). Ke-47 rounin ini yakin bahwa tuan mereka punya alasan dalam tindakannya, mengingat si pejabat memang orangnya resek. Beberapa tahun diasingkan dengan status rounin, Ooishi (bukan oishii ya) dan ke-46 bawahannya menyusun rencana aksi balas dendam terhadap si pejabat. Jelas tindakan mereka itu kriminal, tapi mereka sadar konsekuensinya. Usai menyelesaikan aksi, ke-47 rounin itu pun ditangkap, namun karena permintaan khalayak yang mengagumi spirit mereka dalam menjaga kehormatan sang tuan, ke-47 rounin ini diizinkan untuk melakukan seppuku layaknya samurai. Terima kasih, Wikipedia.

Film 47 Ronin sebenarnya cukup setia mengikuti poin-poin legenda tersebut, cuma dengan tambahan makhluk-makhluk gaib, tukang sihir, kisah cinta, target dendamnya bukan pejabat tetapi tuan wilayah sebelah, tokoh bule...Oke, bedanya emang banyak banget ternyata ^_^;. Yah, dari kulit luarnya juga udah keliatan sih filmnya bakal "ngacak-ngacak". Tapi, gw merasa perlu respek sama film ini karena banyak poin-poin legendanya tetap terjaga, termasuk ending-nya *eh*. Kelihatannya si sutradara sangat mengagumi Jepang sehingga tidak mau sembarang ngarang, sekalipun dari pihak studionya maunya film ini ngarang sengarang-ngarangnya dengan atmosfer mirip The Lord of the Rings-ish. Beberapa unsur tambahannya sebenarnya tetep ngarang dan unnecessary tapi masih bersumber dari ke-Jepang-an, seperti soal wujud Ten'gu, soal diskriminasi terhadap anak berdarah campuran, juga soal "Dutch Island", satu-satunya wilayah di Jepang kala itu yang boleh disinggahi oleh orang asing, dalam hal ini Belanda. Yes people, ini historically correct. Kecuali bagian raksasanya...dan mas-mas bertato yang entah apa fungsinya di film ini selain sebagai penghias poster. 

Penggunaan bahasa Inggris pun bisa gw terima, karena film ini secara konsisten me-replace semua ucapan bahasa Jepang dengan bahasa Inggris, self-dubbing. Sedang bahasa lain (Belanda misalnya) tetap bahasa lain. Nggak campur-campur. Nggak kayak film...ah sudahlah.

Tapi, meski dengan unsur-unsur tambahan yang ngarang tapi bolehlah itu, tidak membuat film ini lebih exciting dari yang seharusnya. Dari presentasi visualnya pun menurut gw sangat lame untuk ukuran film berbiaya di atas seratus juta dolar Amrik. Efek visualnya kurang halus, kostumnya pun kurang mencolok kalau memang tujuannya tidak mau terlalu otentik. Bahkan serial TV "Game of Thrones" aja masih lebih wah visualnya daripada ini. Film bioskop studio besar Hollywood nih? Pun penuturannya kayak nggak ada rasa, kering gitu. Nggak ada sedih, senang, tegang, ya begitulah. Mungkin yang bikin sedikit menghibur adalah koreografi tarung pedangnya, meskipun yang kelihatan keren cuma Hiroyuki Sanada sebagai Ooishi yang obviously sudah terbiasa dengan jenis kelahi ini.

Jika disimpulkan, susah juga untuk bilang 47 Ronin itu film bagus. Satu-satunya hal yang bisa mengangkat nilai film ini di mata gw adalah kepeduliannya terhadap nilai-nilai ke-Jepang-an yang ditunjukkan di film ini, sekalipun filmnya produksi Hollywood, dan sekalipun tambahan dan modifikasi ceritanya emang ngaco abis. Pun setidaknya film ini konsisten memakai aktor berdarah Jepang, bukan asal sipit. Nggak penting sih filmnya, tapi gw masih lumayan terhibur, terutama hiburan imajiner dalam benak gw yang sembari nonton bisa membayangkan para aktor Jepang yang umumnya susah bedain bunyi "r" dan "l" itu pasti setengah mati waktu syuting/dubbing dialog berbahasa Inggris *ya ampun jahatnya*.




My score: 6/10