Senin, 25 Juni 2012

[Movie] Brave (2012)


Brave
(2012 - Disney/Pixar)

Directed by Mark Andrews, Brenda Chapman
Story by Brenda Chapman
Screenplay by Mark Andrews, Steve Purcell, Brenda Chapman, Irene Mecchi
Produced by Katherine Sarafian
Cast: Kelly Macdonald, Emma Thompson, Billy Connolly, Julie Walters, Robbie Coltrane, Kevin McKidd, Craig Ferguson


Pixar itu studio animasi lambang karya bermutu. Mendengar nama Pixar tentu akan teringat karya-karya mantaf macam trilogi Toy Story, Finding Nemo, The Incredibles, Ratatouille dan WALL-E. "Deretan mahakarya" kalo kata para pemerhati film. Tapi, kalo dari gw pribadi, kesempurnaan bukanlah milik Pixar, toh studio yang senantiasa kreatif dan inovatif dalam cerita dan teknik animasi ini pernah bikin film-film yang, yah, bagus dan menyenangkan tapi nggak mahakarya juga, macam A Bug's Life, Cars, bahkan gw juga nggak segitunya memuja Monsters Inc. dan Up. Brave bisa dibilang termasuk yang deretan yah-bagus-aja-nggak-pake-banget. Padahal Brave lumayan diharapkan jadi karya yang bersejarah, sebagai film Pixar pertama yang berlatar masa lalu, pertama yang menampilkan perempuan sebagai tokoh utama—seorang putri pula, serta pertama kalinya melibatkan seorang wanita di kursi sutradara (walau konon cuman separuh jalan saja). Instead, Brave ini tidak terlalu beda jauh dengan kisah-kisah petualangan ala animasi Disney yang diberi polesan ritme dan keunggulan visual khas Pixar.

Di sebuah kerajaan kuno di tanah Skotlandia, hiduplah putri Merida (Kelly Macdonald), anak pertama dari Raja Fergus (Billy Connolly) dan Permaisuri Elinor (Emma Thompson). Karena usianya sudah dianggap tepat, Permaisuri Elinor mengundang ketiga klan sekutu kerajaan untuk melamar Merida. Masalahnya Merida adalah seorang putri yang tomboi, kegemarannya adalah main di hutan naik kuda sambil memanah, ia membenci segala pelajaran keputrian yang saban hari diajarkan oleh sang bunda. Merida tentu saja menolak soal lamaran ini, apalagi ketiga calon putra yang melamarnya malah kalah "laki" dari dirinya dalam hal keterampilan berperang. Akan tetapi, Elinor tetap keukeuh menikahkan Merida sebagaimana seharusnya seorang putri raja. Keras kepala lawan keras kepala, Merida memutuskan untuk "menenangkan diri" di hutan, hingga akhirnya sampai di sebuah pondok yang dihuni seorang penyihir (Julie Walters). Merida pun meminta tolong penyihir itu berbuat sesuatu agar ibunya bisa berubah pikiran dan tidak jadi menikahkannya. Dapet sih ramuan dari penyihir, tapi efek langsungnya bukan mengubah pikiran Elinor, tapi malah mengubah Elinor jadi ^%#&@%$.

Gw sih tadinya nggak tau persis Brave ini ceritanya apa, yang pasti ada semacam warrior princess, tapi nggak tau konfliknya apa sampai akhirnya gw nonton sendiri. Film ini pada akhirnya menitikberatkan kisahnya pada clash antara ibu dan anak perempuan yang berlawanan keinginan, dan tentu saja berbagai peristiwa dalam film adalah cara bagaimana mereka dapat saling mengerti dan akhirnya berdamai...dan karena ini kartun jadi ya sah saja cara mengakurkan putri dan mamanya itu rada ekstrim. Hmm, entah mengulang ide film Brother Bear atau Freaky Friday merupakan keputusan cemerlang, tetapi setidaknya rangkaian peristiwa yang ditawarkan Brave lumayan seru dan mengundang tawa juga dengan humornya yang childish dan rada kasar itu. Film ini jadi sedikit beda karena tidak ada romansa, tidak ada pihak yang betul-betul antagonis, atau ending serba lucky seperti putri-putri di dunia Disney. Sebagaimana ditekankan di narasi awal, film ini lebih menyorot tentang tentang pencarian jati diri, dengan harapan dapat memberi amanah pada penontonnya agar nggak terlampau pasrah dalam hidup dan lebih bersemangat lagi menggali potensi diri, namun sebelumnya berdamai dengan orang-orang terdekat sangatlah diperlukan.

Dari segi gambar dan animasi tentu saja Brave tidak mengecewakan. Meskipun warnanya tidak terlalu ramai,  penggambaran hutan dan padang rumput berbatu Skotlandia serta desain karakternya masih sangat menarik (perhatikan warna kain kotak-kotak kilt milik keempat klan yang berbeda-beda =)). Special mention harus diberikan pada animasi rambut kriwil merah Merida yang senantiasa berkibar indah dan lucu, great job. Pembawaan pengisi suara yang cukup otentik dengan aksen khas Skotlandia pun memberi nyawa bagi karakter-karakternya. Pokoknya secara teknis, juga ritme penceritaannya, serta dihiasi musik yang baik, film ini beres.

Namun harus tetap gw akui, Brave tidaklah sangat mengesankan. Beberapa unsur cerita yang tidak terlalu orisinil serta kurang mampunya film ini menyentuh sanubari cukup dalam membuat Brave belum bisa masuk dalam deretan karya-karya Pixar yang kelas elit. Akan tetapi, Brave masih sangat layak tonton. Brave ini lebih seperti film animasi Disney dengan perlakuan Pixar. Film ini tidak menampilkan kedalaman filosofi atau subteks yang gimanaaa gitu, tetapi hanya sebatas nilai-nilai kekeluargaan, which of course sama sekali tidaklah jelek atau salah. Tetap menyenangkan kok.



My score: 7/10

Sabtu, 23 Juni 2012

[Movie] Lewat Djam Malam (1954)


Lewat Djam Malam
(1954 - Perfini/Persari/World Cinema Foundation/Sinematek)

Directed by Usmar Ismail
Written by Asrul Sani
Produced by Usmar Ismail, Djamaluddin Malik
Cast: A.N. Claff, Dhalia, Netty Herawati, Bambang Hermanto, Awaludin, Rd. Ismail, Aedy Moward, A. Hadi, Titien Sumarni


Rentang waktu dalam film ini hanya sekitar 24 jam saja di kota Bandung, mengikuti perjalanan Iskandar (A.N. Claff), seorang mantan pejuang kemerdekaan yang baru memutuskan keluar dari ketentaraan, mencoba menjalani kehidupan sipil, berniat memulai kehidupan baru agar layak bagi Norma (Netty Herawati), tunangannya. Ayah Norma (A. Hadi) mengajak Iskandar ke kantor gubernuran (a.k.a. Gedung Sate) agar diberi pekerjaan oleh kenalannya. Akan tetapi, karena pembawaannya yang keras dan kurangnya keahlian paperwork, bahkan belum sampai separuh hari, Iskandar berhenti kerja. Lantas Iskandar berkeliling kota melacak kembali kawan-kawan seperjuangan dulu: Gafar (Awaludin) yang telah jadi kontraktor yang banyak proyek, Gunawan (Rd. Ismail) yang memimpin perusahaan sendiri, lalu Puja (Bambang Hermanto) yang nggak punya kerjaan khusus selain sebagai centeng/germo bagi Laila (Dhalia). Iskandar sesungguhnya masih terhantui beban masa lalu, masa-masa ketika ia menjadi algojo sekian nyawa atas nama kemerdekaan. Pertemuan dengan kawan-kawan lama diharapkan bisa menuntaskan itu sehingga ia dapat menyongsong masa depan baru. Namun, mungkin Iskandar belum siap menghadapi kebenaran di balik segala tindakannya di masa lalu itu.

Berita tentang restorasi atau perbaikan mutu terhadap hardcopy film Lewat Djam Malam (utamanya untuk kepentingan arsip) sudah pernah gw dengar di internet sejak tahun lalu, bahkan sempat juga dikabarkan progresnya di perhelatan FFI 2011 lalu. Berita ini tentu menyejukkan bagi kita bangsa Indonesia, bangsa yang tidak terkenal baik dalam merawat dan melestarikan apapun. Film yang meraih predikat Film Terbaik pada gelaran FFI perdana (1955) ini bisa "diselamatkan" sehingga jika diperlukan dapat dipertontonkan dalam kualitas yang lebih yahud, yah at least gores-goresannya bisa berkurang. Kita perlu berterimakasih kepada pihak-pihak yang telah bekerja untuk upaya ini, baik kepada Sinematek (lembaga yang mengarsipkan film-film nasional), Yayasan Konfiden, dan Kineforum Dewan Kesenian Jakarta, maupun kepada lembaga asing yang (justru) menggagas dan mendanai restorasi ini, yaitu National Museum of Singapore serta World Cinema Foundation, sehingga setelah segala proses restorasinya yang dikerjakan di Italia ini, film Lewat Djam Malam kembali punya kualitas audio-visual mendekati aslinya saat pertama diputar dulu (sebelum gambarnya serba tergores dan mbleot-mbleot audionya), bahkan sudah di-convert ke format D-Cinema. "Kemana peran pemerintah RI?" pasti Anda bertanya. Gini ya bok, minta pemerintah kita bikin sekolah gratis yang layak aja butuh waktu selama-lamanya, gimana ngurusin (apalagi mendanai) urusan film, bidang yang "belum dianggap" penting ini? Jadi ya sudah, tak perlu capek-capek disayangkan atau marah-marah, syukuri saja dulu, filmnya tetap milik kita kok.

Kabar menggembirakan pula bahwa Lewat Djam Malam yang sudah direstorasi ini kemudian dipertontonkan ke publik. Awalnya diputar pada salah satu segmen dari perhelatan Festival Film Internasional Cannes (Prancis) 2012 ini *bangga, Cannes gitu loh*, kini film ini dapat disaksikan di bioskop nasional dalam masa pemutaran terbatas. Gw pun nggak mau melewatkan kesempatan ini, menonton film yang katanya salah satu adikarya dari pelopor sinema Indonesia, Usmar Ismail ini di layar besar, apalagi yang sudah direstorasi. Penasaran juga mengapa banyak pihak menilai ini sebuah film yang penting, khususnya untuk bangsa Indonesia. Tetapi dalam ulasan ini gw berusaha tidak memeriksa pandangan setiap pihak yang menganggapnya demikian, gw di sini hanya akan meresponi sebagai penonton seperti biasanya.

Menonton film produksi tahun 1950-an tentu harus dalam mindset permakluman, maklum saja kalau gambarnya hitam putih dalam rasio bujur sangkar, akting yang "sangat sandiwara", editing yang kaku (kalau kasar mungkin saja karena dalam proses restorasi ada frame-frame yang bener-bener rusak jadi harus dieliminasi, atau memang simply hilang), adegan malam hari yang disyut di siang hari (tapi nggak pake lampu biar keliatan gelap), atau penggunaan bahasa yang tentu saja agak berbeda dengan yang kita gunakan sekarang. It's not like the film is the cast and crew's first experience or anything, namun memang begitulah dahulu film dibuat. Terlepas dari itu, Lewat Djam Malam adalah tontonan yang dapat dinikmati semua orang. Formulanya komplit, ada soal cinta, ada nyanyi dan tarinya (yang sesuai konteks, karena bukan musikal), ada sedikit kejar-kejaran dan tembak-tembakan, ada drama dan komedi, dan ada unsur seksualitas juga (tentu saja dalam batas sangat sopan, apalagi untuk penonton era internet sekarang ini). Namun yang luar biasanya seluruh aspek itu dirangkai dengan tepat guna dan solid dalam cerita dan naskah yang disusun Asrul Sani ini, setiap detil tidak ada yang mubazir, termasuk latar pemberlakuan jam malam itu. Pun mulus sekali film ini menggunakan bingung galau gundah gulana Iskandar dalam memulai kehidupan baru untuk mencatat situasi masyarakat secara representatif, yang ternyata tak terbatas pada zaman baru merdeka saja, lewat deretan karakternya yang punya set-up masing-masing.

Iskandar pada masanya adalah pejuang, profesi yang dihormati rakyat, namun ketika zaman sudah berubah, ia harus mulai dari nol. Norma dan keluarganya adalah perwakilan golongan terpelajar dan berada, saking beradanya sampai membuat saudara Norma, Adlin (Aedy Moward) tidak merasa perlu cepat-cepat lulus sekolah tinggi, life is fine. Gafar adalah perwakilan paling lancar menghadapi perubahan, salah satu caranya melupakan masa lalu, termasuk melupakan teman-teman yang menurutnya tidak cocok lagi dengannya. Gunawan adalah perwakilan yang mempergunakan latar belakangnya sebagai pejuang (dan komandan sebuah satuan) untuk mencapai posisi tinggi, meskipun caranya juga mencakup mencelakai orang lain. Secara kontras, Puja adalah yang terpinggirkan, akhirnya berkutat di underworld sambil main-main dan berharap menang lotere, lama kelamaan ia seperti sudah kebal dengan hidup susah dan tidak menganggap serius mimpi hidup sejahtera. Sedangkan Laila, yang kehilangan suami saat masa perang, menjalani profesinya dengan "santai" namun masih memegang teguh mimpinya, walaupun hanya dimanifestasikan dalam guntingan kliping dari majalah, berharap pria yang mencintainya kelak akan membelikan benda-benda yang ia contohkan. Iskandar, dan kita, menyaksikan bahwa setelah "merdeka" pun tak setiap impian bisa tercapai, bahkan terlalu jauh seakan tak akan tercapai.

Lewat Djam Malam memang berbicara banyak melalui segelintir karakter, dan itulah yang membuatnya istimewa. Caranya menggambarkan ketidaksiapan orang-orang seperti Iskandar dalam menghadapi dunia yang tak disangka tak lebih mudah, entah itu akibat gegar tatanan sosial, hukum, ekonomi, maupun beban pribadi, buat gw luar biasa. Film ini ditata sedemikian rupa agar tetap berpijak pada konflik batin karakternya, sehingga tidak terasa berjarak dengan penonton. Meskipun banyak terselip kritik sosial yang verbal (yang anehnya masih sangat relevan sampe sekarang), film ini tidak terasa pretensius. Sebuah film yang berbobot tetapi dapat dikemas dengan cara menghibur—walaupun kalau ditonton sama anak sekarang letak "lucu"-nya mungkin agak beda: Gunawan yang membuang rokok atau menumpu satu kaki di kursi saat ucapannya makin intens, modus godaan Laila lewat berbagai pose provokatif dan kebiasaannya break into a song secara tiba-tiba *bihihik*, atau pandangan orang kantoran yang sinis dan orang di pasar malam  yang terpukau terhadap Iskandar yang bekas pejuang. Tetapi secara konteks, itu tidaklah salah, ada maksudnya. Eh, gw malah lebih notice penempatan iklannya, mulai dari tinta Quink sampai Djamu Djago =D.

Menurut gw, banyak yang bisa didapat dari menonton Lewat Djam Malam sekarang. Tidak harus yang berat-berat tentang gambaran kehidupan bangsa Indonesia dan sebagainya, tetapi bisa juga sebagai nostalgia—terutama melihat suasana kota Bandung dulu, bisa juga sebagai suvenir bagaimana para pendahulu kita berkarya, yang meski dengan keterbatasan teknologi masa itu, tetapi dengan benar menitikberatkan kualitas sebuah film pada yang terpenting: cerita.



My score: 8/10

Sabtu, 16 Juni 2012

My Top 10 "BLEACH" TV Anime Theme Songs

Sebagai oknum yang sempat rajin nonton anime "Bleach" semasa kuliah, gw baru tau loh kalo serial anime yang tayang di Jepang sejak tahun 2004 ini baru saja ditamatkan pada akhir Maret 2012 lalu. Heeee...padahal cerita di komiknya masih berlanjut. O well, entah ada pengaruhnya atau enggak, beberapa minggu ini gw kembali tertarik untuk meneruskan pembacaan komik "Bleach" yang sempat terhenti 2 tahunan lalu entah karena apa. Jadi, lagi lumayan demam lagi nih sama "Bleach" yang gw sangat sukai desain karakter dan karakterisasinya ini, sampe akhirnya gw pun terdorong bikin postingan blog yang berhubungan sama kisah kreasi manga-ka Tite Kubo ini (bacanya: tai-to ku-bo, gayak pisan =.=).

Kali ini gw akan membahas dan membuat senarai mengenai lagu-lagu tema dari serial animenya, itu loh, lagu-lagu yang mengiringi opening dan closing title tiap episodenya. Tidak seperti serial animasi di negara lain (baca: Amerikah) yang biasanya dilengkapi "lagu tema yang harus menyebut judul film dalam lirik lagunya secara kekanak-kanakan", serial anime di Jepang, terutama yang mainstream, seringkali menjadi media promosi artis-artis pop yang lagunya "dititip" di bagian opening dan closing title. Yep, lagu-lagunya tuh lagu "betulan" yang sebenarnya dapat berdiri sendiri, nggak harus berhubungan dengan isi filmnya, bahkan belum tentu diciptakan khusus untuk filmnya. Entah siapa yang memulainya, sepengetahuan gw dulu serial anime "Rurouni Kenshin" sudah melakukan ini, "membiarkan" beberapa slot opening dan closing title-nya untuk diisi oleh lagu dari artis-artis "sekuler" alias bukan dari dunia musik-khusus-anime. Contoh lain yang paling terkenal antara lain "Naruto", "Detective Conan", dan "Fullmetal Alchemist", yang sama seperti "Bleach" serinya sangat panjang sehingga lagu-lagu opening dan closing-nya kerap berganti-ganti.


Lagu-lagu opening dan closing serial "Bleach" seluruhnya adalah milik artis-artis yang label-nya di-induk-i oleh Sony Music Japan (sama kayak "Naruto" dan "Fullmetal Alchemist"), baik artis baru (saat itu) maupun yang sudah senior. Hingga serial animenya berakhir di episode 366 dalam rentang tayang 7½ tahun, terhitung ada 15 lagu untuk opening dan 30 lagu untuk closing. Hitungannya, satu opening song itu usia tayangnya kira kira 6 bulan (lebih kurang 25 episode), sedangkan untuk closing song 3 bulan (lebih kurang 12 episode). Jadi total ada 45 lagu (silahkan lihat di wiki ini untuk tahu selengkapnya). Terus terang salah satu faktor yang dulu sempat membuat gw betah nonton serial "Bleach" adalah lagu-lagu temanya yang sebagian besar memang enak menurut selera gw. Malah kayaknya gw perlu berterimakasih pada serial "Bleach" yang telah turut membantu memperluas khazanah per-J-Pop-an gw, karena ada beberapa artis yang tadinya gw nggak tau jadi kenal gara-gara anime ini.

Kalau menurut gw, pilihan lagu tema "Bleach" memang terbilang menarik, mungkin paling menarik daripada anime-anime lainnya yang gw tahu. Dari yang pop, rock, alternative, ballad, hip-hop, R&B, bahkan reggae, musik-musik yang asik deh, yang bila didengarkan nggak bikin malu dianggap kekanak-kanakan karena memang lagu-lagunya adalah lagu-lagu serius yang jauh dari kesan itu. Nah, mumpung serialnya sudah ditamatkan (sementara?), lumayan sah lah kalau gw membuat senarai lagu tema "Bleach" terfavorit gw dari 45 lagu yang ada, baik itu dari opening maupun closing dari serial televisinya (tidak termasuk yang movie), gw ambil 10 teratas. Kriterianya ya preference saja, yang paling catchy, yang paling nggak ngebosesin, yang paling asik musiknya, namun yang pasti penilaiannya lebih berat ke lagu versi utuhnya, bukan lagu versi pendek yang tampil di animenya, karena gw menilainya sebagai lagu mandiri. Mungkin gw udah nggak nonton animenya sejak episode 210, tapi gw masih tetep bisa denger lagu-lagu temanya, jadi sudah cukup fair, nggak ada alasan lagi "suka karena terbiasa". Kalo ternyata gak ada lagu-lagu yang lebih baru di 10 teratas, ya itu masalah selera, bukan karena gw blum pernah denger *alesan*.

Baiklah, berikut 10 lagu tema serial anime "Bleach" terfavorit gw. Bankai!!

Senin, 11 Juni 2012

Nonton di Gandaria XXI IMAX (3D): Prometheus

Bagaikan gayung bersambut, doa gw di postingan norak sehabis nonton Star Trek di Teater IMAX Keong Emas tiga tahun lalu rupanya terkabul tahun 2012 ini. Telah dibuka sebuah teater IMAX untuk film-film komersil, dan bahkan kali ini sudah dilengkapi teknologi 3-Dimensi bila filmnya dalam format tersebut. Praise The Almighty!! Teater IMAX baru yang di-manage sama jaringan bioskop terbesar negeri, XXI ini berlokasi di sebuah mal berjudul Gandaria City yang berada di kota Jakarta Selatan, provinsi DKI Jakarta (yaiyalah), satu jalan dengan Mal Pondok Indah cuman lebih ke utara 2,5-an kilometer, atau sekitar 20-an km dari sesepuhnya, teater IMAX Keong Emas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Teater baru ini cukup menghebohkan warga Jakarta dan sekitarnya, sebagian karena sudah lama menanti teater komersial dengan teknologi IMAX yang sudah duluan ada di negara-negara tetangga, sebagian lagi yang karena kepo aja kali, biasalah orang Indonesia =P. Film perdana yang ditayangkan adalah The Avengers yang menghebohkan itu sampe untuk nonton di IMAX ini selalu antre dan penuh selama berminggu-minggu, menyebabkan Dark Shadows versi IMAX gak jadi diputar di sini, haha. Lagipula harga yang ditawarkan masih terbilang terjangkau, ada firasat ini cuma harga promosi tapi ya berharap aja harga ini berlangsung lama *komatkamit*. 


Mengikuti prinsip kaum hipsters, bahwasanya yang terlalu mainstream itu nggak keren, maka gw nggak langsung nyoba Gandaria XXI IMAX waktu baru buka. Namun akhirnya pecah telor juga bulan Juni gw menyaksikan film dalam format IMAX 3D di sini, yaitu film Prometheus, untungnya tidak terlalu ramai untuk jam pertama di hari Senin, meskipun sudah masuk masa liburan sekolah atau masa masuk-sekolah-tapi-nggak-ngapa-ngapain-jadi-bisa-pulang-cepet, lagipula Prometheus adalah film dengan rating Dewasa (yang juga berarti tidak akan ada "sensor manual" untuk adegan-adegan anuan kayak yang gw alami di Keong Emas =P). Untuk filmnya sendiri udah gw bahas dalam review tersendiri sehabis gw nonton pertama kali di bioskop biasa, namun yang pasti pemandangan-pemandangan stunning dan adegan-adegan dahsyat dari film ini semakin menggetarkan ketika disaksikan dalam format layar besar IMAX ber-3-dimensi ini. Anyway, kali ini gw mau sedikit bikin laporan tentang kesan gw menonton di bioskop IMAX baru ini, dalam IMAX 3D pulak, khikhihi *norak*.

Karena gw udah pengalaman nonton di teater IMAX Keong Emas yang layarnya gede, as in GEDHE banget, kesan pertama gw waktu masuk dan liat studio Gandaria XXI IMAX ini adalah...kok kecil ya layarnya ^_^;. Setelah cari-cari info, ternyata emang ukuran layar di Gandaria IMAX, yang sudah disesuaikan dengan rasio layar film bioskop pada umumnya (layar lebar 16:9, kalo di Keong Emas itu full screen kayak TV), panjang dan lebarnya masing-masing beda 10-an meter dari yang di Keong Emas, which is bisa dikatakan ya kayak separuhnya aja. Tapi ya sudahlah, toh masih lebih besar daripada layar bioskop biasa. Kecuali soal ukuran layar (dan kapasitas yang nggak terlalu banyak, cuma 300-an bangku), Gandaria IMAX ini memang punya kualitas movie-viewing experience yang berbeda dari layar bioskop biasa: posisi duduk stadion (dari sudut manapun pandangan nggak akan terhalang), kedekatan posisi duduk dengan layar yang berasa "di-depan-muka-loe-banget", dan yang terpenting kejernihan gambar yang luar biasa. Ditambah lagi, teater IMAX ini punya tata suara yang sangat-sangat mumpuni (sub-woofer-nya deg deg serrr enak ^_^) serta desain bangku khas XXI yang nyaman, hal-hal yang tidak dimiliki oleh sesepuhnya di Keong Emas TMII yang suaranya agak cempreng dan kursinya bikin pegel karena gak menyangga kepala.


Sedangkan untuk 3D-nya, mungkin layar sebesar inilah yang paling enak untuk menyaksikan tayangan 3D, trailer IMAX 3D nya berasa banget di sini =D. Kalau biasanya gw merasa kacamata 3D seakan memperkecil ukuran gambar, maka di layar besar dan dekat seperti ini gambarnya tetap mengecil tapi tetap terlihat besar *eh gimana?*. Kacamata yang digunakan lebih ringan dan besar daripada kacamata 3D yang ada di selama ini (baik XXI/21 maupun Blitz), dan lumayan nggak ganggu bagi penonton yang memang udah berkacamata seperti gw, cuma pengaitnya agak bikin nyeri di kedua kuping bagian atas, tapi mungkin juga gw yang salah cara makenya. Nice indeed, tetapi gw tampaknya lebih menantikan film format IMAX yang tidak 3D biar maksimal pengalaman menontonnya dan ukuran layarnya nggak terdegradasi kacamata 3D. 

Overall, Gandaria XXI IMAX ini bolehlah jadi salah satu attraction yang oke di Jakarta. Gw sih berharap ada lebih banyak lagi teater IMAX di Indonesia, di Bali mungkin? atau Bekasi? (biar deket rumah =P). Mungkin hadirnya IMAX komersil ini juga bisa memancing pengurus IMAX di Taman Mini agar sedikit berbenah diri, semisal memperbaharui tata suaranya dan bangkunya, dan yang penting kemudahan dan keterbukaan informasi film-film yang ditayangkan supaya nggak perlu repot-repot musti nelpon dulu, dan juga dapat menarik lebih banyak orang nggak cuma musim liburan doang. Jangan mau kalah dong! *menyemangati*. Saya sambut teater baru berteknologi IMAX ini dengan tangan terbuka.....tapi emang gak bisa ya layarnya digedein lagi? *tetep*


Gandaria XXI IMAX
Gandaria City Mall Lt. 2
Harga tiket per orang:
Rp 50.000,- (Senin-Kamis)
Rp 75.000,- (Jumat, hari sebelum tanggal merah)
Rp 100.000,- (Sabtu, Minggu, hari tanggal merah)
Parkir Mall: Rp 2.000,- per jam
Trivia: banyak pilihan tempat makan yang oke, well it's in a shopping mall after all...
Informasi lengkap http://www.21cineplex.com/imax


Related articles:
Star Trek di Teater IMAX Keong Emas TMII
Nonton Star Trek (lagi!!) di Teater IMAX Keong Emas TMII (Lagi!!!)

Jumat, 08 Juni 2012

[Movie] Soegija (2012)


Soegija
(2012 - Puskat Pictures)

Directed by Garin Nugroho
Written by Armantono, Garin Nugroho
Produced by Djaduk Ferianto, Murti Hadi Wijayanyo SJ, Tri Giovanni
Cast: Nirwan Dewanto, Annisa Hertami, Wouter Zweers, Wouter Braaf, Nobuyuki Suzuki, Olga Lydia, Butet Kertaradjasa, Henky Soelaiman, Andrea Reva, Rukman Rossadi


Tak jauh sejak rilis umum film Mata Tertutup bulan Maret kemarin, Garin Nugroho kembali merilis film berjudul Soegija (bacanya: su-gi-yo) yang diprakarsai sebuah rumah produksi berbasis Katolik di Jogjakarta. Ada kesan bahwa Garin cukup senang membuat film "titipan" dari lembaga-lembaga tertentu semisal The Mirror Never Lies dari WWF dan Pemda Kabupaten Wakatobi, dan Mata Tertutup dari Maarif Institute, bukan tak mungkin nanti kita bakal dengar Garin bikin film yang digagas PSSI atau Moeryati Soedibyo. Nggak salah sih, toh selama ini hasilnya tidak mengecewakan dan tetap menunjukkan kualitas artistik film betulan. Anyway, meski diprakarsai lembaga berlatar Katolik dan konon mendapat dana yang digalang dari umat Katolik (bukan dari sponsor), Soegija rupanya bukanlah film propaganda apalagi tentang agama, bukan juga film biografi. Secara keseluruhan, Soegija lebih tepat disebut sebagai film sejarah tentang situasi bangsa dan negara Indonesia sebelum hingga sesudah kemerdekaan, yang diceritakan melalui keberadaan tokoh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, uskup pribumi pertama di tanah Nusantara, beserta orang-orang di sekitarnya. Di titik ini, gw merasa judul Soegija agak-agak mengecoh kalau tidak mau disebut nggak tepat, karena film ini bukan hanya tentang beliau, kecuali "sugiya" itu ada makna tertentu dalam bahasa Jawa, kulo ora mudeng.

Film diawali pada tahun 1940 saat persiapan penahbisan Romo Soegija (Nirwan Dewanto) menjadi uskup (semacam pemimpin gereja-gereja di wilayah/propinsi) di sebuah gereja di Semarang. It's a big deal karena beliau akan menjadi uskup pertama yang orang pribumi di wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Kita diperkenalkan kepada dua tokoh yang ikut dalam kepanitiaan acara penahbisan: Mariyem (Annisa Hertami), seorang lulusan sekolah keperawatan, dan Lantip (Rukman Rossadi, ini yang pernah jadi pemimpin NII di Mata Tertutup =D) yang aktif dalam kegiatan kepemudaan nasionalis. Acara itu juga dihadiri wartawan Belanda, Hendrick (Wouter Braaf), yang berteman dengan seorang tentara Belanda yang rasis, Robert (Wouter Zweers). Di tempat lain, ada Ling Ling (Andrea Reva), gadis Tionghoa cilik yang dekat dengan ibu (Olga Lydia) dan engkongnya (Henky Soelaiman) yang warungnya jadi pemasok soto untuk acara penahbisan Romo Soegija. Tak lama, si engkong kedatangan seorang pria Jepang misterius (Nobuyuki Suzuki) yang mendapat pesan bertuliskan dua huruf kanji "Krisis" dari istrinya di rumah. So there you go, tokoh-tokoh inilah yang akan kita lihat keadaannya sepanjang gejolak perubahan situasi negeri, dari kedatangan tentara Jepang, kemerdekaan, masuknya lagi tentara Belanda dan Sekutunya, pemindahan ibukota ke Jogjakarta, agresi militer Belanda, sampai akhirnya pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia oleh Belanda di tahun 1949.

Sebuah film Soegija yang tidak completely bercerita tentang Soegija adalah keanehan. Gw yang sebelumnya tidak tahu apa-apa tentang Uskup Soegija, setelah menonton Soegija juga sepertinya hanya dapat informasi secukupnya saja, hanya terlihat gambaran pribadinya yang humble dan teguh, lalu beberapa kutipan-kutipan yang terlalu textbook. Bentuk sepak terjangnya dalam mendukung kemerdekaan RI yang membuatnya dinobatkan sebagai salah satu pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno pun tidak dijelaskan dengan pasti. Sangat sedikit yang bisa didapat dari film ini tentang teladan Uskup Soegija. Padahal, Uskup Soegija ini berpotensi sangat menarik untuk diceritakan secara lebih dramatis, posisinya unik sebagai seorang uskup yang dihormati umatnya yang kaum pribumi sekaligus oleh kaum asing, dan bagaimana beliau menggunakannya dalam mengusahakan perdamaian. Entah dengan pertimbangan apa, pendekatan yang dipilih Garin dkk justru lebih ke keadaan di sekitar Uskup Soegija, dan menampilkan sangat sedikit pengaruh Uskup Soegija terhadap keadaan sekitarnya itu. Cerita film ini tidak lebih dari menggambarkan situasi dan keadaan bangsa Indonesia selama gejolak kemerdekaan dengan Uskup Soegija beserta tokoh-tokoh sekitarnya (katanya fiksi) dalam lingkup personal sebagai alat penceritanya. Hmm, press release-nya sih juga berdalih film ini bukan biografi Soegija tetapi tentang "kemanusiaan"...yang membuat pembahasan kita kembali ke masalah kenapa judulnya Soegija =_=.

Tetapi bila melepaskan itu semua, Soegija tetaplah sebuah film yang apik. Gw akhirnya menyerah dan menikmati film ini sebagai mana adanya, yaitu gambaran perubahan demi perubahan yang terjadi di negeri kita saat itu. Soal diskriminasi pada zaman Belanda, kekejaman pasukan Jepang, ketidakteraturan situasi selepas proklamasi kemerdekaan, sentimen ras, gerakan gerilya, semua diperagakan cukup jelas (meski banyak yang digambarkan lewat dialog). Kita sudah pernah dengar tentang situasi sejarahnya dalam pelajaran sejarah di sekolah, dan film ini pun seperti mengulang teks buku sejarah itu, namun dari sisi tokoh-tokoh yang menerima efeknya ketimbang tentang pelaku sejarah. Misalnya, kita melihat dilema Mariyem dan Hendrick (in case you wondering, mereka bisa lolos dari sweeping dan sebagainya mungkin karena masing-masing adalah perawat dan wartawan), yang tampak punya benih-benih cinta namun pertentangan bangsa mereka masing-masing kerap menjadi pemicu selisih pendapat. Atau Ling Ling yang bingung kenapa ibunya pergi saat pasukan Jepang datang dan toko engkongnya selalu kena penjarahan. Film ini lebih seperti penuturan sejarah nasional dari sisi berbeda, sebuah dimensi lain dari sekedar huruf-huruf dan foto-foto, yang lebih riil dan membumi. 

Pada beberapa liputan, Garin mengaku sudah merasa cukup bereksperimen dengan simbol-simbol dalam film-film sebelumnya, dan Soegija menandai kembalinya beliau membuat film "normal". Well, one does not simply make something "normal" if that one's name is Garin Nugroho. Film senormal apapun pasti akan meninggalkan signature seorang Garin, terutama dalam tata adegan, semisal sebagian besar adegan diambil tanpa cut, atau momen personal ketika melakukan sesuatu (makan, mandiin mayat, merokok, niru-niru gerak kereta api, dan tentu saja bernyanyi, Garin loves singing scenes) namun tampak pikiran sedang gundah gulana dan kemudian meledak dalam bentuk luapan emosi. Meski tidak selalu berhubungan langsung dengan benang merahnya (bila memang ada =P), seakan setiap adegan itu punya cerita sendiri-sendiri, namun harus diakui ada nilai estetis tersendiri sekaligus menggugah secara emosional dalam setiap momen-momen yang diperlihatkan. Yang sedikit mengecewakan adalah performa para principle actors-nya yang tidak seprima yang diharapkan, entah itu terlalu teatrikal atau terlalu kaku. Palingan cuma Wouter Braaf, Suzuki, dan Butet Kertaradjasa yang tampak nyaman. Nirwan Dewanto sebagai Uskup Soegija sebenarnya tampak sempurna namun gesturnya saat berbicara tampak kaku sekali, entahlah.

Tetapi bagaimanapun, Soegija menjadi bukti Garin bisa cukup bertanggung jawab dalam mengelola biaya produksi yang besar, bahkan konon merupakan filmnya yang termahal. Look film ini luar biasa serius dan otentik, tata rancang produksi, kostum, sinematografi, tata suara dan musik, penggunaan aktor dan bahasa yang sesuai konteks, semuanya berpadu sempurna dalam menggambarkan zamannya. Sayangnya film ini tampaknya tidak memberi efek cengkeraman yang lebih, masih kalah kuat bila dibandingkan Mata Tertutup yang lebih berani meski lebih irit budget-nya. Tapi nggak masalah, niat baik dan citarasa artistik khas Garin bizzarely masih menarik disimak. Soegija adalah sebuah galeri gambar bergerak tentang keadaan bangsa kita dahulu, tidak seluruhnya memuaskan buat gw, tidak semua bisa dicerna nalar, namun setidaknya cukup ampuh dalam menyegarkan ingatan tentang sejarah kemerdekaan bangsa yang didapat dan dipertahankan dengan susah payah itu.




My score: 7,5/10

Kamis, 07 Juni 2012

[Movie] Prometheus (2012)


Prometheus
(2012 - 20th Century Fox)

Directed by Ridley Scott
Written by Jon Spaihts, Damon Lindelof
Produced by Ridley Scott, Tony Scott, David Giler, Walter Hill
Cast: Noomi Rapace, Michael Fassbender, Charlize Theron, Logan Marshall-Green, Idris Elba, Guy Pearce, Sean Harris, Rafe Spall, Kate Dickie, Emun Elliott, Benedict Wong


Prometheus adalah proyek yang manipulatif secara pemasaran. Pas diumumkan rencana pembuatannya, katanya ini prekuel film horor ruang angkasa 1979, Alien (karya Ridley Scott juga). Tapi ternyata tidak pernah dikonfirmasi dari yang punya film bahwa ini prekuel atau sekuel atau buat ulang (remake) atau mulai-ulang (reboot) atau puter-mati (spin-off =P), ataupun sama sekali ada hubungannya dengan seri Alien. Intinya mereka mau bilang "nonton aja sendiri nanti biar tau. oke terima kasih ya (meninggalkan ruang konferensi pers)". Prett lah. Anyway untuk lebih jelasnya: yes, ini ada hubungannya dengan Alien. Hubungan seperti apa? Entahlah, gw sendiri gak pernah nonton seri Alien, maklum nggak suka horor (ngeri dan jijik liat aliennya yang grotesque dan berlendir-lendir cincau itu, hii *bergelinjanggeli*), tapi bagi yang udah nonton seri Alien pasti kenal sama beberapa bentuk benda-benda, ruang, dan makhluk-makhluk yang ada. Gw sendiri akan membahas Prometheus tanpa mengaitkannya dengan Alien, karena tanpa terkait Alien pun film ini sudah lebih dari cukup untuk berdiri sendiri.

Nama Prometheus diambil dari mitologi Yunani, seorang titan (makhluk immortal yang bukan dewa) yang tersohor karena mencuri api dari dewa Zeus dan memberikannya pada manusia sekaligus memulai peradaban, lalu ia dihukum dengan dirantai dalam sebuah batu karang, dan setiap hari seekor elang akan nyosor memakan hatinya, berulang kali untuk selama-lamanya. Prometheus adalah simbol tindakan ingin menyamai kuasa ilahi yang kemudian menerima "upah"-nya. Jadi apabila dalam film ini kapal ekspedisi luar angkasanya diberi nama Prometheus yang kemudian jadi judul filmnya, kita mungkin akan bisa meraba apa yang bakalan terjadi. Tahun 2090-an, perusahaan Weyland pimpinan Peter Weyland (Guy Pearce) men-sponsori sebuah ekspedisi luar angkasa berdasarkan temuan sepasang doktor, Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (Logan Marshall-Green), bahwa dalam banyak gambar-gambar peradaban kuno terdapat gambar susunan rasi bintang yang persis sama, padahal peradaban-peradaban tersebut secara historis dan etnologis tidak saling berhubungan. Setelah diteliti, dalam susunan rasi bintnag itu terdapat bintang yang menyerupai matahari, ada sebuah planet yang memiliki sebuah satelit/bulan, dan satelit/bulan itu disinyalir dapat menopang kehidupan makhluk hidup. Mungkin bila datang ke sana, kali ini mereka dapat menemukan jawaban di balik rahasia asal muasal keberadaan bumi dan manusia. Ya, di satelit itu mereka menemukan sebuah struktur yang jelas tidak alami (karena bentuknya lurus), namun bukannya menemukan jawaban, di sana malah muncul lebih banyak pertanyaan...dan kematian...*efektawaneneklampir*.

Sama seperti para tokoh di dalamnya, penonton juga dibiarkan tidak mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari 120-an menit film Prometheus ini. Seriously, you won't get any. Dari "what is this" sampe "what happened" cuma diberi hint lalu musti kita interpretasi sendiri. Mengapa? Karena begitulah hidup. Dibalik setiap jawaban pasti ada pertanyaan lagi, apalagi pertanyaan semendasar "dari mana asal kita" yang jawabannya di muka bumi ini saja bervariasi tergantung siapa yang jawab. Segampang itukah kita akhirnya menemukan jawaban, semisal dalam semesta film Prometheus ini, bahwa pencipta kita ternyata makhluk luar angkasa nun jauh di sana? Kalau memang bener terus mau ngapain? Di sinilah letak keistimewaan Prometheus. Di luar visualisasi cantik nan mencekam serta hadirnya nuansa horor didukung efek-efek visual mumpuni, Prometheus mungkin terasa film yang "nggak selesai" karena kurangnya jawaban yang diberikan, namun yang lebih kentara dari film ini adalah caranya yang incredible dalam mewakili umat manusia ketika mencari jawaban itu.

Gw awali dari Shaw dan Holloway, sepasang ilmuwan yang menjalin kasih tetapi memiliki prinsip agak berbeda. Holloway adalah tipe "mata kepala", semua hal pasti ada penjelasannya, jadi ketika mereka menemukan mayat makhluk asing yang konon menciptakan manusia, ya udah lepaskan segala yang tadinya hanya "dipercaya", yuk pulang. Sedangkan Shaw, kayaknya pernah ikut kelas filsafat nih, terus bertanya meski sudah ada buktinya, semisal kalau manusia berasal dari makhluk asing, makhluk asing ini berasal dari siapa? Lalu ada Meredith Vickers (Charlize Theron) yang mewakili Weyland, yang begitu mementingkan kelancaran dan keselamatan misi sampai tampak begitu dingin dan kurang manusiawi, ia tidak ambil pusing tentang penelitian dan "kepercayaan" Shaw-Holloway, ia hanya peduli menjaga propertinya dan dirinya sendiri. Yang unik datang dari tokoh manusia buatan (istilahnya 'android', mungkin udah seri "giant 5-level rainbow wedding cake" ini =P) bernama David (Michael Fassbender), yang paling tahan banting karena dia bukan manusia betulan. Gw melihat penempatan David ini seperti refleksi tentang manusia juga, ia diciptakan untuk membantu manusia tanpa harus dikendalikan. Meski tidak punya keinginan, ia tetap punya rasa penasaran sebagai syarat untuk self-learning (tanpa diajari), dan kadang kepenasaranan itu berbahaya dan kelewatan, tak terkecuali "mencobai" kaum penciptanya, tapi ya mau gimana dia kan nggak punya hati nurani jadi rasa bersalah pun tidak ada. 

Kenapa dari tadi gw nggak ngebahas soal alien-nya? Apa itu makhluk-makhluk yang tersimpan di ruang-ruang gelap yang mencelakakan para ekspeditor kita? Untuk saat ini, buat gw itu nggak sepenting makna simbolis dari plot dan karakter yang ditawarkan film ini. That's what makes a good movie, bisa bercerita dengan berbagai alat bernama teknik perfilman, namun bisa pula menggugah manusia yang menontonnya. Lumayan daring tapi Ridley Scott menyampaikannya dengan diplomatis dan nggak menghakimi atau berpihak pada satu pandangan. Dalam Prometheus, ia meletakkan berbagai macam manusia dalam sebuah set-up fiksi ilmiah yang solid sambil kayak nonjokin satu-satu dan bilang "mampus nggak ada yang bener loe semua". Inti dari gambaran ini adalah, dan gw pun setuju, alam semesta yang sekarang ini aja jauh lebih besar daripada jangkauan pikiran kita, sebesar apapun usaha dan pengorbanan yang kita lakukan demi mendapat jawaban rahasia alam semesta tidak akan pernah cukup, not even close. Jadi, nggak apa-apa kalau diteruskan, asal jangan sombong #PesanMoral.

Prometheus tampaknya berhasil sebagai film yang bukan cuma numpang merek yang udah terkenal (Alien), adegan-adegan menegangkan (aih, serem ih uler-ulerannya, atau yang gerak-gerak di dalem mata =p), beberapa aksi seru, aktor-aktor oke, atau rancang dan tata gambar yang keren dalam 3-Dimensi, melainkan juga mengundang perenungan dan refleksi terhadap diri kita sendiri. Walaupun masih timbul banyak pertanyaan-pertanyaan "kecil" macam "untuk apa manusia diciptakan", "kenapa manusia mau dimusnahkan" serta "apa yang terjadi sehingga nggak jadi dimusnahkan", terus "yang di awal film itu di Bumi bukan sih" yang hanya bisa dijawab di sekuel (atau tidak, hehe), gw tetap merasa puas sama film ini. Nggak "lengkap" tetapi cukup untuk saat ini. Btw, gw suka hint bernada "diplomatis" tentang penciptaan yang terungkap di film ini, yaitu persamaan manusia dengan si makhluk asing, yang paralel dengan kaum andorid (David) yang dibuat mirip manusia. "Menurut gambar dan rupa penciptanya", kayak pernah denger deh =)).



My score: 8/10

Senin, 04 Juni 2012

[Movie] Snow White and the Huntsman (2012)


Snow White and the Huntsman
(2012 - Universal)

Directed by Rupert Sanders
Story by Evan Daugherty
Screenplay by Evan Daugherty, John Lee Hancock, Hossein Amini
Produced by Joe Roth, Palak Patel, Sam Mercer
Cast: Kristen Stewart, Charlize Theron, Chris Hemsworth, Sam Claflin, Sam Spruell, Ian McShane, Bob Hoskins, Ray Winstone, Nick Frost, Toby Jones, Eddie Marsan, Johnny Harris, Brian Gleeson


Karena begitu tinggi tak terhingganya kreativitas para pembuat/pebisnis film di Hollywood sana, maka tahun ini penonton film sedunia disodorkan dua buah film yang menceritakan ulang sebuah dongeng rakyat Eropah terkenal, Snow White atau Putri Salju atau harusnya Putih Salju dengan pendekatan masing-masing yang dirilis dalam waktu yang berdekatan. Ada Mirror Mirror, lalu 2-3 bulan kemudian ada Snow White and the Huntsman. Tentu saja ini patut dirayakan karena jaaaaarang sekali terjadi *terus nengok ke arah VHS Deep Impact dan VCD Armageddon, eh nemu juga DVD A Bug's Life dan VCD Antz, eh terus inget tahun ini bakal ada Abraham Lincoln: Vampire Hunter dan Lincoln..., terus liat IMDB.com daftar film tentang Snow White yang bejibun =__=*. Terserah, mereka mau berkilah dengan ilmu humas termutakhir sekalipun, mau nggak mau, kedua film ini pasti akan diperbandingkan.

Sebelum menyatakan mana yang lebih bagus, gw perlu menekankan bahwa bagus-nggak-nya sebuah film itu tentu standarnya berbeda-beda, penilaian harus sesuai koridor masing-masing, sebagaimana kita nggak bisa membandingkan begitu aja Avatar vs The Sixth Sense, atau Indomie Goreng vs Nongshim Shin Ramyun, misalnya. Yang lebih penting itu kadar "enjoy"-nya masing-masing. Mirror Mirror adalah komedi silly karikatural berwarna-warni yang didn't take itself too seriously, maka gw nontonnya ya santai aja tanpa berharap yang nggak-nggak. Akibatnya, gw menikmatinya. Huntsman, on the other hand, kayak mengemis untuk ditanggapi serius, dari pendekatannya yang dark sampai tawaran laga dan efek visual yang wah, lebih mencekam, lebih seru, lebih orisinil *iyalah, mana mungkin mereka terang-terangan nyontek bentuk Dementors di Harry Potter serta desain kostum dan ruang di The Lord of the Rings atau serial "Game of Thrones" sampe ikut-ikutan syuting di Irlandia juga. Itu jelas sekali ide mereka aseli =__=*. Berbagai bentuk kampanye film ini seakan menyatakan "woi, ik pasti lebih oke daripada pesaing ik, duitnya aja banyakan ik". Okelah, maka dari itu gw akan nonton dengan pandangan serius. Hasilnya, Huntsman terjebak dalam posisi keragu-raguan: dipandang "serius" malah terlihat payah, dipandang "nggak serius" selevel Mirror Mirror pun film ini kalah enjoyable...bahkan kalah cerdas.

Ceritanya masih sama dengan yang kita pernah dengar. Ada Ratu Jahat (Charlize Theron) berilmu sihir yang terobsesi akan kecantikan bahkan menjadikannya pedoman hidup (jaman dulu belum ada Mario Teguh) mengambil alih tahta sebuah kerajaan, lalu geram dengan pernyataan cermin ajaibnya bahwa anak tirinya, Snow White (Kristen Stewart) yang baru aqil balig sedang berada di puncak chart kecantikan terkini mengalahkan Ratu (entah bagaimana proses penilaiannya, I mean, it's Stewart against Theron, seriously?). Karena itu, Ratu mendambakan Snow White dibunuh dan diambil jantungnya sebagai syarat mantra kecantikannya. Kalau merujuk judulnya, Snow White and the Huntsman seperti memberi penekanan pada tokoh Snow White dan si Pemburu (Chris Hemsworth) yang disuruh untuk memburunya di hutan gelap, yang pada perjalanannya, si Pemburu malah berbalik mendukung Snow White. Gw mulai ragu akan penekanan itu setelah ngecek si Pemburu merangkap duda galau ini nggak nongol-nongol hingga 30-an menit pertama...o well, masih ada sisa 90 menit lagi, kali aja ada perkembangan dari kedua tokoh ini....Eeeh, nggak tuh, alih-alih perkembangan, adanya perpanjangan. Apa coba alasannya mereka mampir ke sebuah kampung air selain excuse supaya Snow White bisa mandi dan kelihatan bersih di adegan-adegan selanjutnya?

Apa sih masalah gw sama film ini? Apakah sikap pro-Mirror Mirror gw membuat gw jadi hater Huntsman?Yee, nggak sik. Gw hanya menilai film ini sebagaimana koridor yang diinginkannya. Huntsman dipersiapkan sebagai film epik fantasi seru dengan penceritaan berbeda tentang Snow White. Well, film ini memang cukup "epik", desain kostumnya bagus-bagus, desain makhluk-makhluk mistisnya terbilang menarik, dan ada beberapa adegan dan gambar yang benar-benar ditata sangat cakep—berbagai transformasi sihir Ratu, peri yang keluar dari burung gagak putih, rusa putih berpose, dan gongnya di pertarungan cowok-cowok pengawal vs prajurit kristal-kristal hitam—bahkan menurut gw lebih cakep daripada Mirror Mirror. Nggak, gw nggak mau masukin adegan Ratu mandi susu yang lebih mirip mandi DanaPaint, atau adegan penyerangan istana di klimaks yang tampak lame. "Fantasi" hanya sebatas kemunculan makhluk-mahkluk gaib yang nggak terlalu penting perannya dan berbagai sihir-sihiran. "Seru" harus dicabut karena dengan durasi panjang dan laju yang yaelah-lemot-bener-kapan-nyampenya, adegan-adegan serunya yang sebenarnya ada jadi nggak keinget—maka hilanglah faktor "enjoyable" itu. Penceritaan berbeda? Menurut gw yang paling brilian hanyalah samaran Ratu waktu memberi apel beracun ke Snow White, sisanya nggak ada yang baru. Bahkan usaha Snow White memimpin perlawanan terhadap tahta Ratu itu kok terdengar familiar ya...

Evil Queen on the Iron Thro..I mean Raven Throne

Bagi gw Huntsman hanya sukses besar di nuansa, cukup untuk membuatnya watchable, agak-agak Zack Synder-y, namun nggak sukses di bagian-bagian yang penting. Kekecewaan terbesar gw adalah pada karakterisasi. Tokoh Pemburu ya gitu doang, si pangeran jodoh Snow White bernama William (Sam Claflin) ya gitu doang, adik Ratu, Finn (Sam Spruell) ya gitu doang walau udah "dipaksa" punya rahasia masa lalu dengan Pemburu, 8 kurcacinya menghibur tapi ya tersia-sia, porsinya gitu doang—iya kurcacinya ada 8, nggak langsung 7, mungkin mereka kira kita nggak peduli berapa jumlah kurcacinya sebagaimana kita nggak peduli berapa jumlah personel AKB48. Tokoh Snow White punya masa lalu rumit tapi pengembangannya sepanjang film terlalu digampangkan: bisa secara magis membuat para kurcaci lebih sehat lah, bisa bikin tanah subur lagi lah, bisa langsung ikutan perang tanpa pelatihan lah, atau pidato motivasi yang kata-katanya didn't even make sense tapi bisa menggerakkan orang-orang untuk mendukungnya (itu pasti orang-orangnya cuman liat tampang doang, kelihatan lucu jadi dukung aja, kayak voters Indonesian Idol gitu deh). Yang paling menimbulkan pertanyaan adalah kenapa hanya dia yang sanggup membunuh Ratu, apa karena dia "yang terpilih"? "Yang terpilih" itu maksudnya apa dan dari mana? Atau karena dia masuk di jajaran wanita tercantik saingan Ratu menurut majalah HoodedMirror *ngarang aja*? Jadi yang bunuh Ratu harus banget cantik gitu? Karakterisasi terbaik mungkin ada pada Sang Ratu, yang juga punya masa lalu kelam yang cukup baik menjelaskan keadaannya sekarang, yakni sakit jiwa saking terobsesi pada kecantikan. Ia punya ilmu sihir perkasa tapi sayang dibuat agak o'on juga, mbok ya kalo mau ambil jantungnya Snow White nggak usah banyak ngomong napah. Huh.

Karena karakterisasinya aja kayak gitu, gw pun jadi nggak bisa menyalahkan sepenuhnya para aktor yang terlibat karena keterbatasan, entah itu keterbatasan porsi kemunculan dari yang mainnya bagus (para kurcaci yang aktornya semua sebenarnya tidak kurcaci, Nick Frost was my fave =D), ataupun keterbatasan penjiwaan dari yang porsinya banyak (ehem Stewart, ehem Hemsworth). Penampilan Theron pun rasanya hanya berhasil di saat dia terlihat bingung dan depresi, sedangkan pada saat berteriak-teriak dia kayak lagi main sinetron murahan dengan melotot-melotot maksimal yang jelas masih kalah maksimal dari pelototan Leli Sagita, kurang dapetlah jahatnya. Eh, terus, katanya harusnya Pemburu dan Pangeran William rebutan cinta Snow White ya? Kok...emm...ah sudahlah.

Kembali ke sesuatu yang tak dapat terhindar, yaitu perbandingan dengan Mirror Mirror, kenapa tadi gw bilang Huntsman kalah cerdas? Akan saya beritahu *terTarantino*. Buat gw Mirror Mirror punya set-up karakter yang lebih jelas, bahkan bisa dibilang lebih membumi, lebih zaman sekarang, dan lebih logis. First of all, nama "Snow White" di Huntsman seakan tidak aneh di antara nama-nama normal seperti William, Greta, Magnus, dan Finn, sedangkan dalam Mirror Mirror nama itu sejak awal dicap "pretensius" =D. Snow di Mirror Mirror tidak tiba-tiba punya kemampuan bertarung, ada prosesnya, juga proses ia membuktikan dirinya dapat dipercaya memimpin rakyat melawan Ratu (coba rujuk juga proses Neo di The Matrix agar diakui sebagai "the one" =P), bukan dibuktikan hanya dengan "sihir" belaka, pun romansa dengan sang Pangeran dibangun dengan lebih baik. Jika Ratu di Huntsman baru bertindak secara represif setelah ada peristiwa-peristiwa (well, doi memang sakit jiwa, mungkin mempengaruhi intelejensianya), si Ratu bawel di Mirror Mirror bertindak lebih strategis dan pasif-agresif: Snow White dikurung tapi tetap di-pamper sehingga nggak timbul dendam, rakyat yang sengsara dibuat takut melawan bukan karena kuasa sihir semata tetapi juga karena doktrin Ratu melindungi mereka dari "makhluk liar" di hutan musim dingin kekal, kekuasaannya dipertahankan dengan memelihara hubungan dengan para bangsawan sekitar, dan mengapa ia butuh pengakuan "the fairest of them all" juga masih beralasan (konyol sih tapi ya nggak aneh). 

That's right, buat gw Mirror Mirror, yang sebenarnya bukan film bagus, lebih unggul kadar "enjoy"-nya daripada Huntsman yang berusaha terlalu keras di segala segi tapi kepeleset di poin penting yaitu naskah, editing (pacing itu bisa diberesin di editing, 'kan?), dan casting. Nilai amanah tentang kecantikan pun nggak dikembangkan, dan rada pupus, toh Snow White menghimpun pengikut caranya gak jauh beda dengan cara Ratu, gimana mau jadi panutan kalo gitu? Snow White and the Huntsman yang sok serius malah jadi konyol. Coba kalau di-set jadi film hiburan murni dengan porsi humor yang ditambah dan lajunya lebih lancar, setidaknya buatlah Snow White-nya lebih likeable, mungkin gw nggak akan seterganggu ini. Sedangkan Mirror Mirror yang agak carefree malah jadi menyenangkan, dan setidaknya memakai aktor kurcaci betulan.




My score: 5,5/10


PS: Do you know judul alternatif film ini adalah Snow White the Troll Whisperer? Nggak deing, gw cuma merujuk pada sebuah adegan nggak penting =P.

Minggu, 03 Juni 2012

My J-Pop 42

Kembali lagi kita bertemu dalam kompilasi merangkap rekomendasi lagu-lagu Jepang "teranyar" yang paling oke versi gw. Dibilang "teranyar" tentu saja kalau ukurannya dari My J-Pop 41 yang gw bikin 6 bulan yang lalu, jadi yah ada beberapa yang dibilang baru banget ya enggak juga. Salah satu akibatnya, ada aja artis yang dalam 6 bulan itu ngeluarin 2 single jadi gw harus pilih salah satu. Etapi ternyata ada yang lolos, yaitu back number yang ngeluarin 2 single berturut-turut yang enak-enak, jadi "terpaksa" gw masukkan dua-duanya dalam kompilasi yang kali ini bisa muat 18 lagu dalam bakaran CD 80 menit, (akhirnya, setelah My J-Pop 38 lalu), yeaaa.



Waktu 6 bulan itu tampaknya memang tepat agar gw dapat mengumpulkan lagu-lagu mana saja yang benar-benar bisa gw nikmati. Alhasil, gw menemukan lagu-lagu keren dari para pemain lama seperti Hata Motohiro, ASIAN KUNG-FU GENERATION, GIRLS' GENERATIONIkimonogakari, Tokyo Jihen dan Yu Takahashi. Beberapa nomer "comeback", karena udah lama gw nggak masukkin lagu mereka dalam kompilasi, hadir dari No Regret Life (gw ambil lagu favorit dari album Discovery yang mereka rilis tahun lalu) dan Ken Hirai yang menggebrak dengan nuansa musik cukup berbeda serasa film Moulin Rouge! gimanaa gitu. Tak lupa lagu-lagu dari artis-artis yang baru pertama kali masuk kompilasi gw kali ini datang dari Ms. OOJA dengan balada cintanya, Gen Hoshino dengan musik yang menjurus ke folk, serta Nao Yasuta yang mendendangkan sebuah lagu jazzy sejuk yang musiknya diciptakan dan diarahkan oleh Yoshinori Ohashi alias Ohashi Trio (ini nggak sengaja lho, gw baru tau belakangan setelah gw memasukkan single barunya Ohasi Trio).

Silahkan dicek lagu-lagunya, siapa tahu ada yang berkenan. Tapi selalu diingatkan, kalau mau punya lagunya, cari sendiri yah =).



My J-Pop vol. 42

1. No Regret Life - Clocks 
2. 秦 基博 - エンドロール  (Hata Motohiro - End Roll)
3. back number - 恋  (Koi)
4. 少女時代 (Shoujo Jidai a.k.a SNSD a.k.a. Girls' Generation) - Time Machine 
5. 大橋トリオ - フラワー  (Ohashi Trio - Flower)
6. ASIAN KUNG-FU GENERATION - 踵で愛を打ち鳴らせ (Kakato de Ai wo Uchinarase)
7. 植村花菜 - メッセージ  (Kana Uemura - Message)
8. Ms. OOJA - Be... 
9. サカナクション - 僕と花  (sakanaction - Boku to Hana)
10. いきものがかり - いつだって僕らは (Ikimonogakari - Itsudatte Bokura wa)
11. 星野 源 - フィルム  (Gen Hoshino - Film)
12. back number - 日曜日  (Nichiyoubi)
13. 安田奈央 - 真夜中のひだまり  (Nao Yasuta - Mayonaka no Hidamari)
14. THE BACK HORN - シリウス  (Sirius)
15. 高橋 優 -  卒業  (Yu Takahashi - Sotsugyou)
16. 平井 堅 - 告白 (Ken Hirai - Kokuhaku)
17. NICO Touches the Walls - 夏の大三角形 (Natsu no Dai-Sankakkei)
18. 東京事変 - 今夜はから騒ぎ (Tokyo Jihen a.k.a. Tokyo Incidents - Kon'ya wa Karasawagi)


Previews of most recommended songs

No Regret Life - Clocks



Hata Motohiro - End Roll




back number - Koi




Shoujo Jidai a.k.a SNSD a.k.a. Girls' Generation - Time Machine
(lagunya baru mulai menit 1:33 =.=")



sakanaction - Boku to Hana
(keren beut video musiknya =))



Gen Hoshino - Film



back number - Nichiyoubi



Nao Yasuta - Mayonaka no Hidamari



Ken Hirai - Kokuhaku



Sabtu, 02 Juni 2012

[Rapid Film Review] X-Men Original Trilogy

Akhirnya muncul juga niat untuk membangkitkan Rapid Film Review ini, setelah terakhir gw lakukan pada Juli 2009, hahaha. Anyway, niat ini muncul karena gw akhirnya ada waktu untuk menonton lebih banyak film, termasuk menonton ulang film-film yang udah gw tonton sebelumnya. Salah satu yang udah lama gw pengen tonton ulang adalah tiga film pertama X-Men, yang baru sempat gw lakukan baru-baru ini. Anehnya, meskipun sudah ada momen dirilisnya X-Men Origins: Wolverine dan tahun lalu X-Men: First Class, gw baru terpanggil menyaksikan lagi trilogi X-Men secara beruntun tak lama setelah dirilisnya The Avengers (sama-sama dari Marvel Comics), mungkin karena sama-sama berisi tokoh-tokoh berkekuatan super, jadinya keinget. Toh, film X-Men pertama adalah cikal bakal kesuksesan adaptasi superhero komik ke layar Hollywood, mungkin kalau X-Men nggak sukses, The Avengers juga belum bisa terlaksana sekarang *ya kali aja sih, hehe*.


Theme: X-Men Original Trilogy


X-Men 
(2000 - 20th Century Fox)
Directed by Bryan Singer
Story by Tom DeSanto, Bryan Singer
Screenplay by David Hayter
Produced by Lauren Shuler Donner, Ralph Winter
Cast: Patrick Stewart, Hugh Jackman, Ian McKellen, Anna Paquin, Halle Berry, Famke Janssen, James Marsden, Bruce Davison, Rebecca Romijn-Stamos, Ray Park, Tyler Mane

Keberadaan kaum mutan—manusia yang mengalami mutasi genetik sehingga memiliki kemampuan/kekuatan/penampilan yang istimewa—yang semakin banyak membuat warga manusia "biasa" merasa senewen dan terancam. Alhasil, berbagai tindakan diskriminatif dialami oleh kaum mutan, termasuk dengan adanya RUU registrasi mutan yang diajukan Senator Kelly (Bruce Davison) di pemerintahan Amerika Serikat, yang memicu Erik Lehnsherr/Magneto (Ian McKellen) dan mutan antek-anteknya bertekad memerdekakan kaum mutan dengan cara menghancurkan kaum manusia. Professor Charles Xavier/Professor X (Patrick Stewart), mutan ahli telepati pro-perdamaian yang berprinsip bahwa mutan dan manusia dapat hidup berdampingan, berusaha mencegah rencana Magneto itu bersama anak-anak didiknya yang dijuluki X-Men.

Konon versi layar lebar X-Men ini dibuat terburu-buru, namun ternyata berakhir sukses dengan hasil box offfice sangat memuaskan ($150-an juta, dua kali budget) dan direspon positif. Gw sebelumnya udah tau X-Men dari serial kartun yang ditayangkan RCTI dulu, sehingga cukup excited dan lumayan puas dengan hasil  karya Bryan Singer ini. Singer sebelumnya dikenal sebagai sineas yang menggarap film-film drama, namun itulah yang membuat X-Men versinya ini terasa beda dari film fantasi superhero biasa, visinya membuat dunia X-Men yang realistis dan monokromatis, bahkan mengandung tema serius tentang diskriminasi, di-set-up dan diproyeksikan dengan baik, yang tampaknya sedikit banyak mempengaruhi beberapa film adaptasi komik setelahnya (semisal DareDevil, Hulk, atau Batman Begins). Namun dampaknya adalah terbatasnya tokoh-tokoh mutan yang ditampilkan. Yang tergali lebih dalam hanya tokoh Wolverine (Hugh Jackman), Rogue (Anna Paquin) dan Magneto. Tetapi untungnya tokoh-tokoh mutan lain beserta keistimewaannya masing-masing masih ditampilkan dengan cukup mengesankan dengan porsi yang seadanya itu. Meskipun adegan-adegan aksinya nanggung, dengan cerita dan naskah yang solid dan overall menghibur, film pertama X-Men ini menurut gw adalah tetap yang terbaik dari trilogi awal film X-Men.

Main Mutants: Professor X, Magneto, Wolverine, Storm, Rogue, Cyclops, Jean Grey, Mystique, Sabretooth, Toad


My score: 7/10




X2 
(2003 - 20th Century Fox)

Directed by Bryan Singer
Story by Zak Penn, David Hayter, Bryan Singer
Screenplay by Michael Dougherty, Dan Harris, David Hayter
Produced by Lauren Shuler Donner, Ralph Winter
Cast: Patrick Stewart, Hugh Jackman, Ian McKellen, Halle Berry, Famke Janssen, Brian Cox, James Marsden, Anna Paquin, Rebecca Romijn-Stamos, Alan Cumming, Shawn Ashmore, Aaron Stanford, Kelly Hu


Presiden Amerika diserang seorang mutan di Gedung Putih, membuat Kolonel Stryker (Brian Cox) diizinkan menjalankan rencananya untuk menggerebek sekolah milik Professor Xavier (Patrick Stewart) yang berisi banyak mutan, namun rencana Stryker, yang memegang peranan atas rahasia masa lalu Wolvrine (Hugh Jackman), ternyata lebih jauh dari sekadar melokalisasi kaum mutan, yaitu memusnahkan setiap mutan di muka bumi.

Dibanding X-Men pertama, X2 menampilkan adegan-adegan aksi dan visual efek yang jauh lebih baik. Adegan Nightcrawler (Alan Cumming) menyerang Gedung Putih dan pertarungan brutal Wolverine vs Lady Deathstrike (Kelly Hu) adalah adegan-adegan aksi paling memorable dari seluruh seri X-Men. Ceritanya yang kental berbau konspirasi juga disusun dengan baik dan cerdas, banyak intrik-intrik menarik, termasuk kubu Magneto dan X-Men yang bekerja sama mencegah kelangsungan hidup mereka. Hanya saja pendalaman karakter yang ada masih belum berkembang dari film pertama, palingan cuman Wolverine yang agak lebih berkembang, inilah yang menurut gw menjegal X2 meraih status "lebih baik dari yang pertama". Lebih banyak tokoh mutan yang ditampilkan, tapi tetap saja kemunculan tokoh-tokoh baru yang "berperan" dalam cerita terbilang minim jumlah dan pengembangannya sehingga terasa kurang fair, filmnya jadi kayak film Wolverine dan Prof. X daripada film X-Men (still way better than X-Men Origins: Wolverine though =P). Emosinya masih nanggung, dan pace-nya pun rasanya masih agak terlalu lamban untuk dikatakan "seru". Namun X2 tetaplah sebuah follow-up yang baik dari sebuah "merek" yang sukses.

Main Mutants: Professor X, Magneto, Wolverine, Storm, Rogue, Cyclops, Jean Grey, Mystique, Nightcrawler, Iceman, Pyro, Lady Deathstrike, Jason 143


My score: 7/10




X-Men: The Last Stand 
(2006 - 20th Century Fox)
Directed by Brett Ratner
Written by Simon Kinberg, Zak Penn
Produced by Lauren Shuler Donner, Ralph Winter, Avi Arad
Cast: Hugh Jackman, Halle Berry, Ian McKellen, Patrick Stewart, Famke Janssen, Kelsey Grammer, Anna Paquin, Shawn Ashmore, Ellen Page, Rebecca Romijn, James Marsden, Ben Foster, Vinnie Jones, Aaron Stanford, Dania Ramirez, Daniel Cudmore, Michael Murphy, Shoreh Aghdashloo, Olivia Williams

Kaum mutan kini dapat hidup lebih leluasa karena tindakan diskriminasi sudah diminimalisir, namun bukan berarti keberadan mereka sudah diterima sepenuhnya oleh masyarakat. Seorang pengusaha, Warren Worthington II (Michael Murphy) menyatakan berhasil mengembangkan sebuah antibodi yang dapat menghilangkan "kelainan" pada mutan, dengan kata lain itu adalah "obat mutan"—yang didapat dari seorang mutan bernama Leech (Cameron Bright) yang kekuatannya adalah menghilangkan kekuatan mutan lain. Pro dan kontra di antara kaum mutan pun terjadi terhadap keberadaan obat ini. Magneto (Ian McKellen) yang paling vokal menolak, sehingga merencanakan serangan besar-besaran terhadap laboratorium Worthington bersama sekelompok gerakan mutan bawah tanah. Di luar itu, X-Men harus mengatasi Jean Grey (Famke Janssen) yang punya kepribadian lain bernama Phoenix yang memiliki kekuatan tak terbatas yang dapat membahayakan kelangsungan bumi, manusia dan mutan.

Dari drama perumpamaan kemanusiaan di dua film sebelumnya, X-Men ketiga hadir dengan pendekatan action yang lebih "popcorn movie". The Last Stand adalah sebuah usaha memuaskan harapan penggemar X-Men, dan menurut gw usaha itu patut dihargai. Action-nya lebih menggelegar, pace-nya lebih seru, lebih banyak mutan yang terlibat dalam konflik utama, dan yang paling pol sih ada parade mutan-mutan yang pamer kekuatan sekaligus dalam satu momen. Secara kualitas produksi, The Last Stand bisa dibilang yang terbaik dari seri X-Men ini, mulai dari efek visual sampai music score-nya. Namun, film ini kekurangan intensitas dan bobot cerita yang sudah terdapat dalam dua film sebelumnya, konfliknya kurang nendang. Soal karakter jangan ditanya, selain dangkal, pembagiannya kurang padu dan banyak tokoh favorit (termasuk yang baru) yang hilang aja di tengah-tengah cerita. Ini bisa disalahkan pada proses produksi yang kilat dan hengkangnya keterlibatan Bryan Singer (demi Superman Returns) sehingga nyaris tiada benang merah dengan X-Men dan X2, juga modifikasi pengembangan tokoh karena aktornya udah telanjur terikat proyek lain (James Marsden, Rebecca Romijn). Akan tetapi, meski not good enough sebagai tutupan megah sebuah trilogi, pada akhirnya The Last Stand adalah film yang cukup baik bila mengingat keadaan selama proses produksinya. Well, setidaknya nuansanya lebih berwarna, humornya lebih renyah, dan Brett Ratner tampak pandai memilih aktor-aktor yang tampil sekilas tapi punya presence yang kuat seperti Dania Ramirez, Eric Dane, dan Ken Leung. Sangat Hollywood dan sangat komik, masih menghibur lah, nggak ancur.

Main Mutants: Wolverine, Storm, Beast, Professor X, Magneto, Jean Grey/Phoenix, Rogue, Iceman, Pyro, Shadowcat, Mystique, Juggernaut, Colossus, Angel, Leech, Callisto, Multiple Man, Kid Omega, Cyclops, Archlight, Psylocke, Phat, Spike


My score: 6,5/10