Kamis, 31 Mei 2012

My Top 50 Indonesian Songs of the 1990's (Part 2 of 2)

Sampailah kita pada bagian pemungkas dari senarai lagu-lagu 1990-an favorit gw. Setelah nomer 50-26 kemarin, sekarang saatnya gw bongkar lagu-lagu Indonesia keluaran tahun 1990 hingga 1999 terfavorit gw nomer 25 sampai yang puncak (maksudnya nomer 1 =P). Semakin ke atas memang lagunya semakin bikin gimanaa gitu, bikin semakin pede untuk ikutan nyanyi kalau lagunya sedang berkumandang, dan gw yakin yang demikian gak cuman gw doang *cari temen*. Oh ya, gw juga sebenarnya ingin menghaturkan terima kasih kepada sebuah radio swasta Jakarta yang frekuensinya kayak anjing Dalmatian dan namanya terdiri dari tiga huruf awal Jakarta ditambah FM, radio ini cukup sering memutar kembali lagu-lagu 1990-an yang sedikit banyak membuat gw ingat kembali lagu-lagu keren dekade itu, dan juga salah satu motivasi gw menyusun senarai ini. So, thank you very much =).


Tanpa berlama-lama lagi, berikut adalah 25 teratas lagu Indonesia 1990-an yang paling gw suka, sekaligus memberi contoh bagi generasi saat ini tentang lagu yang bagus betulan seperti apa *tua*.


Rabu, 30 Mei 2012

My Top 50 Indonesian Songs of the 1990's (Part 1 of 2)

Wake up! The 90's is over 10 years ago =D. Setelah menyenarai 50 lagu Internasional keluaran dekade 1990-1999 yang gw sukai bulan lalu, tampaknya kurang bijak bila gw menunda-nunda untuk menggelontorkan versi lagu-lagu Indonesianya. Well, inilah saatnya. Di era 90-an seinget gw, musik Indonesia memang sedang dalam masa "bertarung" dengan musik-musik impor yang lebih banyak mendominasi airwave radio dan televisi. Buktinya, tangga lagu musik international di setiap radio ada 40 per minggu, sedangkan khusus Indonesia cuman 10 =P. Namun bukan berarti musik kita kalah, malah in the end, karya-karya musisi lokal di tahun dekade 90-an jadi lebih lama bersemayam di ingatan pendengarnya. Bukan semata-mata disebabkan wadah dan persaingannya yang lebih sempit, tetapi memang mau tak mau dikaryakan sedemikian rupa agar tidak kalah berdampak dengan musik-musik luar negeri. And it worked.

Itulah sebabnya, dalam kasus lagu-lagu Indonesia, kalau ada yang menyatakan era 90-an itu lebih baik daripada sekarang, itu bukan karena yang menyatakan itu udah tua *siapaberaniberanibilanggwtua* *kepalkeduatangan*, but because it's true. Secara kualitas teknis rekaman mungkin tidak sebagus tahun 2000-an, namun di tengah pelbagai keterbatasan di era ini musisi-musisi kita masih perhatian sama melodi dan lirik yang nggak mentok di kata-kata yang itu-itu aja, bukan sekadar ikutan tren. Inilah masa ketika perusahaan rekaman menawarkan lebih banyak variasi musik yang sukses menarik minat masyarakat luas...o well, kalo ini sih emang karena saat itu belum ada teknologi bernama mp3 bajakan.


Berikut ini gw telah mengumpulkan 50 lagu Indonesia tahun 1990-an yang paling oke, paling berkesan, paling diingat, dan masih gw suka hingga sekarang, dan yang penting define a period. Sekadar mengingat, era 90-an adalah masa gw bertumbuh dari TK sampe SMP, artinya gw rada steril dari yang namanya gengsi, yang gw rasa enak ya enak aja, nggak memandang genre musik atau "kelas" =P, although you still would not find "Duh Emen" in here =|. So, tanpa berlama-lama, masih dengan prasyarat satu lagu per satu nama artis (not necessarily "per one same person" =P) dan bukan cover (sori, Yuni Shara), mari kita mulai merayakan era kegemilangan blantika musik Indonesia dengan urutan 25 terbawah lagu Indonesia 1990-an versi gw.


Senin, 28 Mei 2012

[Album] Yu Takahashi - Kono Koe


高橋 優 - この声
Yu Takahashi - Kono Koe
(2012 - Warner Music Japan)

1. 序曲 (Jokyoku/Prelude)
2. 蛍 (Hotaru)
3. 誰がために鐘は鳴る (Ta ga tame ni kane wa naru)
4. 雑踏の片隅で (Zattou no katasumi de)
5. 気ままラブソング(Kimama Love Song)
6. あなたとだから歩める道 (Anata to dakara ayumeru michi)
7. 卒業 (Sotsugyou)
8. この声 (Kono koe)
9. 一人暮らし (Hitorigurashi)
10. 誰もいない台所 (Dare mo inai daidokoro)
11. 蓋 (Futa)
12. 絶頂は今 (Zetchou wa ima)
13. セピア (Sepia)


So...hmmm....baiklah. Gw memperhatikan ada kecenderungan artis-artis membuat album kedua—atau istilah cihuy ala ulasan musik di internet: sophomore—berstruktur sama dengan album pertamanya, terutama bila album pertamanya itu menuai hasil yang menggembirakan. Susunan dan nuansa musiknya kira-kira sama, seakan ingin mengulangi kesuksesan tapi dengan lagu yang berbeda. Ada sih yang hasilnya oke-oke aja (let's say Linkin Park), namun lebih banyak yang jatuhnya kurang berkesan. Tahun lalu gw resmi menjadi penggemar singer-songwriter Jepang, Yu Takahashi akibat album (major) perdananya, Realtime Singer-Songwriter begitu mengesankan dan sampai sekarang tidak pernah membosankan, almost flawless. Dan sebagaimana flow kerja artis major label di Jepang sono, mereka nggak tunggu-tunggu lama untuk "memaksa" artisnya untuk merilis album baru, dan jadilah Kono Koe (artinya kira-kira 'this/my voice', atau 'suaraku') di tahun 2012 ini, yang menurut gw tidak selevel sama album perdananya yang luar biasa itu.

Yang gw maksud dengan struktur mirip adalah pada beberapa titik album ini nyaris serupa dengan yang dilakukan di album Realtime Singer-Songwriter. Lagu pertama berirama cepat ("Hotaru", track 1 itu prelude singkat yang nyambung ke "Hotaru"), ada lagu akustik yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari di tengah-tengah ("Hitorigurashi"), lalu ditutup dengan ballad diringi musik dominan piano dan string yang membuat kesan megah ("Sepia"). Similar, but unfortunately the songs are not as appealing as the ones in the first album. Gw perlu menekankan lagu pertama dan terakhir bagi gw merupakan biang permasalahan album Kono Koe gagal menyamai keasyikan pendahulunya. Masing-masing sih lagu yang fine, namun ketahuan sekali keberadaan "Hotaru" dan "Sepia" dirancang sebagai pengganti "Shuuen no Deep Kiss" dan "Shounen de are" versi album Kono Koe. Nggak harus begitu juga 'kan caranya, lagunya aja beda ya efeknya beda juga. Selain itu gw juga merasakan kurang asiknya variasi musik yang ditampilkan Takahashi kali ini. Separuhnya berirama medium dan agak-fast, sekilas hampir mirip-mirip sampe gw pun menyimpulkan lagu "Ta ga tame ni kane wa naru",  "Zattou no katasumi de", dan "Anata to dakara ayumeru michi" punya irama yang sama cuma beda di kecepatan menyanyikan syairnya. 

Namun sesugguhnya album ini tidaklah segitu mengecewakannya. Lagu-lagu Takahashi dalam bungkusan pop-rock-folk dan gaya tulusnya dalam menyanyikan lirik-lirik bawel dengan suara yang masih rada annoying itu masih strangely memesona dan enak didengarkan. Album ini memuat single-single yang sudah dirilis sebelumnya yang kebetulan gw juga sukai: "Ta ga tame ni kane wa naru" yang bagi gw adalah lagu yang memamerkan vokal Takahashi dengan sangat baik, mellow ballad "Dare mo inai daidokoro" yang meski agak menyeret-nyeret tapi masih menyayat-nyayat, serta "Sotsugyou" yang santai namun beranjak emosional, menjadi salah satu track terbaik album ini. Di luar itu gw suka track "Anata to dakara ayumeru michi" yang simple and sweet, "Futa" yang cerah and ceria, juga "Zetchou wa ima" yang nge-rock maksimal dan dinyanyikan penuh energi. Judul album ini ternyata terambil dari lagu "Kono koe" yang diletakkan di track 8, mengandalkan hanya gitar, harmonika dan beberapa efek eletronika kecil-kecilan, sebuah lagu sederhana nan indah nan syahdu nan menyejukkan, menjadikannya juga salah satu track terbaik album ini.

So..., no, the album is not that bad, not necessarily a "sophomore-slump", namun demikian bisa dibilang memutar Kono Koe secara utuh tidaklah se-exciting Realtime Singer-Songwriter, kurang meninggalkan impresi berarti selain bahwa ini tidak lebih dari kumpulan lagu-lagu Takahashi semata. Kalau secara musiknya saja, mungkin masalahnya hanya di susunan lagunya, semisal track 2-6 yang grafik iramanya kurang dinamis, atau betapa tidak perlunya memaksa menaruh "Sepia" di track terakhir demi "sensasi salinan" album pertama. Namun, mungkin saja ada pertimbangan lirik/tema sehingga susunannya harus seperti ini *what do I know, hehe*. Apabila Takahashi diberi sedikit lagi waktu untuk memoles lagu-lagunya biar lebih variatif, bukan mustahil album ini jadi lebih asik lagi *ngatur*. Atau bisa jadi memang Realtime Singer-Songwriter terlalu bagus sehingga sulit di-follow-up dengan hasil yang sama memuaskannya. Sedikit mengecewakan, tapi nggak apa-apa, setidaknya Takahashi masih tetap dalam karakternya yang khas: membuat lagu dan membawakannya dengan sepenuh hati, ekspresif tanpa berusaha sok keren.



My score: 7/10

高橋 優 / Yu Takahashi

Previews

Minggu, 20 Mei 2012

My Chronicle of Matt Damon

My Chronicle of... adalah fitur terbaru dari blog ini, yaitu tulisan yang khusus membahas karya-karya para pelaku film yang menjadi perhatian saya. Tulisan ini bertujuan untuk mengingat kembali film-film yang sudah saya tonton yang melibatkan pelaku film tertentu, sekaligus menggambarkan perjalanan bagaimana saya, sebagai penonton, bisa mengenal individu bersangkutan lewat karya-karyanya itu. Saya akan membahasnya dengan pendekatan orang per orang—bisa aktor, sutradara, penulis, produser, komposer, sinematografer, dan lain sebagainya dengan alasan masing-masing—serta memberi komentar atau kesan pada setiap judul film mereka yang sudah saya tonton. Oh ya, supaya sedikit lain dari yang lain, senarai film bukan disusun berdasarkan tahun produksi, tahun edar, ataupun preferensi kesukaan, melainkan dari yang saya tonton lebih dahulu (meskipun ada kemungkinan tidak akurat).

Sebagai postingan perdana, saya akan membahas aktor Matt Damon, salah seorang bintang Hollywood yang saat ini masuk dalam jajaran aktor papan atas akibat relatif sering terlibat di film-film yang terkenal. Akan tetapi, bukan itu alasan utama saya menjadikan dirinya menjadi individu film pertama yang saya bahas. Alasan yang lebih besar justru agak mengherankan, setidaknya bagi saya. Saya secara sadar tidak berpikir Damon sebagai aktor favorit, alih-alih menjadikan keterlibatannya sebagai alasan menonton sebuah film. Hingga kini sudah 17 filmnya yang sudah saya tonton, namun sebagian besar saya berniat menontonnya bukan karena faktor Damon. Kita memang punya kecenderungan untuk sengaja menonton film karena dibintangi aktor yang kita suka, bukan? Namun untuk kasus Damon, yang terjadi malah dia yang selalu muncul di film-film yang saya suka.

Matt Damon

Baiklah, saya perhatikan Damon memang patut disanjung. Sejak tampil di Courage Under Fire (1996, saya belum tonton), aktor kelahiran Boston, 8 Oktober 1970 ini mulai menarik perhatian para sineas pada paruh akhir dekade 1990-an. Namanya melesat melalui film Good Will Hunting (1997, saya belum tonton utuh) yang memberikannya nominasi Oscar untuk pemeran utama pria terbaik—ia menerima piala Oscar untuk naskah yang ditulisnya bersama sang sobat karib, Ben Affleck. Karirnya menanjak perlahan tapi pasti, Damon membuat iri banyak rekan sejawatnya karena kerap menjadi pilihan sineas ternama, mulai dari Francis Ford Coppola, Steven Spielberg, Anthony Minghella, hingga Robert Redford, kebanyakan peran utama pula. Memasuki era 2000-an, ketika namanya dikenal "hanya" sebagai "pemain film" yang bagus, Damon secara mengejutkan meraih status "bintang film" yang menjual setelah membintangi The Bourne Identity (2002), sebuah film thriller laga yang sukses secara komersial sehingga melahirkan dua film lanjutan. Membuat sosoknya sangat identik atau "terjebak" pada tokoh Jason Bourne si assassin amnesia? Tidak, Damon masih terus membuktikan dapat memerankan tokoh apa saja sesuai porsi dan konteks. Alhasil, selain dikenal sebagai bintang film terkenal, Damon masih mampu menjaga bahkan meningkatkan kemampuan aktingnya sehingga masih dapat mengerjakan proyek-proyek high-profile dari para sineas kelas wahid seperti Martin Scorsese, Clint Eastwood, Coen bersaudara, dan Steven Soderbergh.

Damon tampaknya tak perlu khawatir kekurangan proyek jika punya prestasi dan citra demikian cemerlang, dan bila melihat riwayat karyanya, Damon termasuk sangat produktif dengan paling sedikit satu film yang dibintanginya beredar setiap tahun yang rata-rata disambut hangat di pasaran. Padahal, rasanya Damon ini tidak memiliki wajah yang termasuk dalam kategori "tampan" (ini apabila contoh "standar tampan" adalah Brad Pitt atau George Clooney, lagipula ketampanan/kecantikan itu relatif), tinggi tubuhnya juga rata-rata (menurut internet 178 cm, memang terlihat lebih pendek kalau disandingkan dengan Ben Affleck yang 189 cm), namun Damon selalu berhasil meninggalkan kesan dalam setiap performanya, terlihat berkarakter dan keren, talentanyalah yang menjadi nilai jualnya. Baik peran utama maupun pendukung, drama, aksi, maupun komedi, ia dapat membawakannya dengan tepat, menggugah, dan meyakinkan tanpa harus terkesan berusaha terlalu keras. Ditambah lagi, Damon (dan mungkin agennya) tampak pandai dalam memilih proyek film, sehingga reputasinya sebagai aktor berkelas sejauh ini belum benar-benar cidera oleh keterlibatannya dalam film-film tidak penting. Ia tak takut kalau bukan peran utama, tak takut berlaku konyol, tak takut didandani jelek, tak canggung dengan dialek, ia malah selalu tampak nyaman dengan tuntutan-tuntutan itu, akibatnya penonton pun nyaman menyaksikannya, dan produser/sutradara (saya asumsikan) senang mempekerjakannya.

Setelah menyadari bahwa ia salah satu aktor yang paling banyak saya saksikan karya-karyanya, lambat laun saya mulai akui mungkin Damon memang salah satu aktor favorit saya, minimal di alam bawah sadar. Faktor premis, produksi, atau sutradara mungkin tetap jadi pertimbangan utama saya untuk mau menonton sebuah film, namun keterlibatan Damon bisa jadi memperkuat niat itu, lagipula saya tidak bosan atau terganggu dengan setiap penampilan Damon, sebuah karunia yang langka bagi seorang aktor Hollywood yang tergolong laris—namun saya tetap bertekad tidak akan menonton sebuah film hanya karena dibintangi Damon kalau filmnya memang tidak menarik minat saya. Berikut adalah film-film Matt Damon yang sudah saya tonton sekaligus perjalanan saya mengenalnya sebagai aktor, dimulai dari film Damon pertama yang saya tonton hingga yang baru-baru ini.

Rabu, 16 Mei 2012

[Movie] Dark Shadows (2012)


Dark Shadows
(2012 - Warner Bros.)

Directed by Tim Burton
Story by John August, Seth Grahame-Smith
Screenplay by Seth Grahame-Smith
Based on the television series created by Dan Curtis
Produced by Christi Dembrowski, Johnny Depp, David Kennedy, Graham King, Richard D. Zanuck
Cast: Johnny Depp, Michelle Pfeiffer, Helena Bonham Carter, Eva Green, Bella Heathcote, Jackie Earle Haley, Jonny Lee Miller, Chloë Grace Moretz, Gulliver McGrath


Sebagai bukan penggemar Tim Burton, dan meski masih belum hilang "trauma" akan Alice in Wonderland versi 2010, gw masih ada niatan juga untuk menonton Dark Shadows, sebuah komedi horor yang lagi-lagi menampilkan Johnny Depp dan Helena Bonham Carter dalam riasan aneh. Dari materi-materi promo dan premis kisahnya, kita bisa mengharapkan Dark Shadows akan menampilkan riasan, kostum dan tata artistik gelap-nyentrik-gothic khas film-film Burton. Namun bukan itu yang paling menarik minat gw, melainkan deretan pemainnya yang terbilang menjanjikan. Selain ada si pegawai tetap Depp dan Carter, ada nama-nama yang gw selalu suka performanya seperti Michelle Pfeiffer, Chloë Moretz, Eva Green dan si Rorschach, Jackie Earle Haley, ditambah lagi bintang serial "Eli Stone"/mantan lakinya Jolie, Jonny Lee Miller serta bintang tamu mbah Christopher Lee. I should've seen it coming, tetapi memang hanya hal-hal di atas saja yang akhirnya bisa gw nikmati dari Dark Shadows ini, sisanya, meh!

Diangkat dari serial televisi Amerika tahun 1960-1970-an, Dark Shadows berkisah tentang Barnabas Collins (Johnny Depp) yang pada masa hidupnya di abad ke-17 dikutuk oleh penyihir Angelique (Eva Green) menjadi vampir karena cinta tak terbalas. Dengan licik Angelique memprovokasi warga untuk menistakan Barnabas dan membuatnya dikubur hidup-hidup (ya vampir emang nggak bisa mati bukan?) di peti yang digembok. Waktu berjalan hingga sampai tahun 1972, Victoria "Vicky" Winters (Bella Heathcote)—bukan nama sebenarnya =p—memenuhi lowongan kerja untuk jadi pengasuh keluarga Collins yang kini menempati puri Collinwood, tempat tinggal Barnabas dulu. Dalam waktu bersamaan, Barnabas terbebas dari peti yang telah mengurungnya selama ratusan tahun, ia menghisap darah beberapa orang saking hausnya, dan secara refleks ia kembali Collinwood hingga bertemu dengan sanak famili Collins—tentu saja udah longkap belasan generasi darinya. Namun Barnabas hanya diizinkan membuka identitas sebagai vampir berusia ratusan tahun pada Elizabeth (Michelle Pfeiffer) yang mengelola rumah itu, sedangkan bagi penghuni yang lain—putri remaja Elizabeth, Carolyn (Chloë Grace Moretz), adik Elizabeth, Roger (Jonny Lee Miller) dan putranya, David (Gulliver McGrath), psikiater David, Dr. Julia Hoffman (Helena Bonham Carter), pengurus rumah tangga, Willie (Jackie Earle Haley) dan Bu Richardson (Ray Shirley), serta Vicky—ia diperkenalkan sebagai "sepupu jauh". Melihat keluarga Collins yang kini sedang bangkrut dalam usaha perikanan di kotanya, Barnabas pun bertekad mengembalikan kejayaan keluarganya itu (meski pake hipnotis dan sebagainya), namun masalah utamanya terletak pada perusahaan pesaing yang kini lebih dominan, karena dipimpin oleh Angel Bouchard, yang tak lain dan tak bukan adalah Angelique yang belum mati dan tetap muda tapi sudah berganti identitas. Permusuhan mereka pun berlanjut.

Dark Shadows ini diawali dengan baik, mulai dari penyampaian latar kisah Barnabas dan Angelique hingga perkenalan tokoh-tokoh "masa kini"-nya, sampai pada perkenalan perdana Barnabas di meja sarapan keluarga Collins, it's all fine. Tapi ketika cerita mulai memperkenalkan kembali Angelique, beuh, mulailah adegan demi adegannya kayak disambung pake isolasi-tape dengan agak kasar dan sekedar saja, dan ini berlangsung sampai akhir. Padahal kalau diperhatikan, potongan-potongan kisah itu menarik, mulai dari identitas Vicky, juga romansanya dengan Barnabas karena wajahnya sangat mirip dengan kekasih Barnabas dahulu, David kecil yang bisa melihat hantu, Dr. Hoffman yang penasaran dengan jati diri Barnabas, Roger yang kleptomania, atau love-hate relationship Barnabas-Angelique yang mulai menyentuh skala besar lewat persaingan dua usaha di kota kecil fiktif Collinsport itu. Tetapi nyatanya itu semua cuma sekedar ditampilkan saja, tanpa ada pendalaman yang dalam, kesinambungan yang nyambung, ataupun penjelasan yang menjelasakan. Sesengit apa persaingan usaha pengalengan ikan Collins vs Angel aja nggak ditekankan sama sekali. Apalagi pas klimkasnya, beuh....apaan sih cynnn...Namun untung saja gegar budaya Barnabas dengan kota kecil Amerika 1970-an masih disematkan dengan cukup oke.

Oh well, Dark Shadows setidaknya masih lebih baik daripada Alice in Wonderland, less confusing. Deretan cast yang gw nantikan itu pun tampil dengan baik meski sayangnya tidak "diperlakukan" dengan fair entah oleh naskah atau suntingan akhir filmnya, karakterisasinya tampak nggak rapi. Depp tampil sebagaimana diharapkan, tidak buruk atau menyebalkan, the makeup works. Pfeiffer, Moretz, Miller, Carter (yang riasannya kayak Red Queen yang belum kelar), McGrath, serta Earle Haley, aktor yang baru saja jadi favorit gw (dia aneh tapi likeable, keren) tampil baik sebagai penghuni puri Collinwood modern yang misterius dan selalu mengundang tanya...sayang sampe filmnya abis juga mereka masih mengundang tanya, ya bukan salah mereka sih. Pendatang baru asal Australia, Bella Heathcote juga cukup menarik perhatian, walau kasian dia suka ilang gitu di tengah-tengah cerita =P. Nah, gongnya, sebagai villain, Eva Green sekali lagi sukses mengumbar sex appeal yang luar biasa dalam raga molek miliknya tanpa kehilangan kewajibannya untuk berakting jadi wanita licik dan berniat jahat. Damn, she's steamy =). Sepertinya doi harus mematenkan lirikan matanya yang sesuatu banget itu. In short, sekali lagi, tampilan visual dan akting menjadi hal yang membuat Dark Shadows masih bisa dinikmati, oh musiknya juga lumayan. Tetapi, ya itu saja. Ceritanya kurang tertata enak sejak babak ke-2 (a.k.a. kemunculan konflik, jika memang ada =P), dibilang lucu ya hanya kadang-kadang. Cukup aja.



My score: 5,5/10

Sabtu, 12 Mei 2012

[Movie] Lovely Man (2012)


Lovely Man
(2012 - Karuna Pictures, Investasi Film Indonesia)

Directed by Teddy Soeriaatmadja
Written by Teddy Soeriaatmadja
Produced by Teddy Soeriaatmadja, Adiyanto Sumarjono, Indra Tamorron Musu
Cast: Donny Damara, Raihaanun, Yayu Aw Unru, Asrul Dahlan


Mendengar Donny Damara berperan sebagai waria (wanita dalam pria, kali aja ada yang nggak tahu) atau banci sebetulnya familiar. Peragawan yang hits di era 80-90-an ini pernah memainkan peran serupa di sebuah FTV berjudul kalo gak salah "Panggil Aku Puspa". Namun Lovely Man bukanlah versi film bioskop ataupun lanjutan dari FTV itu, melainkan film baru buah karya sutradara Teddy Soeriaatmadja yang juga menulis naskahnya, tentang pertemuan seorang waria dengan putrinya yang sudah lama ditinggalkannya. Sebuah premis yang sederhana tetapi langsung menarik perhatian karena penggambaran dua karakter utamanya yang ditabrakkan begitu kontras. Seakan menjadi departure dari gaya Teddy yang biasanya memenuhi filmnya dengan gambar-gambar picturesque (Banyu Biru, Ruang, Ruma Maida), Lovely Man tampak lebih gritty, lebih "indie", dan sederhana, sesederhana jalan ceritanya.

Cahaya (Raihaanun), seorang remaja putri berjilbab mengendarai kereta api sampai di Jakarta. Ia datang mencari ayahnya yang tidak pernah ditemuinya sejak kecil karena (sepengetahuannya) bekerja di Jakarta. Kita tahu bahwa ia pergi tanpa izin ibunya—diasumsikan mereka tidak tinggal di Jakarta, kali aja di Rangkasbitung atau Rengasdengklok, who knows, we can't really tell from her non-accented speech—dan kita juga tahu selain memori masa kecil yang indah dan secarik kertas bertuliskan alamat rumah susun yang diduga tempat ayahnya tinggal, Cahaya tidak tau apa-apa tentang sang ayah. Sesampai di alamat yang dituju, Cahaya tidak langsung bertemu dengan yang dicari, ayahnya sedang kerja, padahal hari sudah malam. Kaget dan galau berkecamuk, ketika Cahaya sampai di tempat kerja sang ayah yang di Jakarta dipanggil Ipuy (Donny Damara) itu, mangkal di pinggir jalan di bawah jalan layang, berpenampilan seperti wanita, menjajakan "jasa" untuk siapa saja yang lewat. Ipuy pun tak kalah kaget dan upset melihat anaknya datang menemui dirinya, namun ia juga nggak bisa mengusirnya begitu saja. Diawali dengan makan tengah malam bersama, semalaman itu Cahaya dan Ipuy, meski awalnya enggan dan canggung, mulai sedikit demi sedikit meng-catch-up apa yang tidak mereka tau dari satu sama lain selama berpisah.

Lovely Man ini memang terkesan sebagai film "kecil". Baik ruang, karakter, maupun durasinya terbilang minimalis (sejam lebih seperempat), namun kesederhanaan itu tetap menyimpan kekuatan. Naskahnya terbilang jitu dalam membagi informasi tentang kedua orang karakternya secara natural, tidak dipenuhi dialog-dialog atau situasi yang terlalu mengada-ada, tidak juga berusaha ngajarin atau membela, suatu hal yang menurut gw sangat penting untuk sebuah film yang isinya "ngobrol", bikin gw percaya dan tertarik sama apa yang mereka obrolin. Konsep mempertemukan seorang waria yang juga seorang pekerja seks komersial di kerasnya kehidupan ibukota dengan putri remaja satu-satunya yang berpenampilan alim lulusan pesantren di daerah—atau mungkin dalam pandangan masyarakat kita umumnya pendosa vs saleh— merupakan modal cerita yang punya kekayaan potensial, dan untungnya dikelola dengan baik. Apalagi, Teddy menambahkan berbagai dimensi yang membuat perkembangan obrolan ayah-anak ini menjadi lebih dalam dan tidak monoton, dramatis tetapi takarannya nggak over. Cahaya tidak hanya datang karena ingin kenal ayahnya sebelum melanjutkan hidup sebagai orang dewasa, pun ia seperti butuh shoulder to cry on atas sebuah kesalahan yang ia buat. Ipuy meski masih bertanggung jawab membiayai anak-istri, mengaku tidak merasa terpaksa hidup sebagai waria, sudah terbiasa dengan pandangan orang, serta punya sebuah rencana besar jangka panjang sehingga memicu dirinya menantantang risiko mengambil sejumlah uang dari pihak yang berbahaya.

Tak hanya itu, film ini lebih diperkuat lagi oleh penampilan Donny Damara dan Raihaanun. Dalam penampilan dua aktor ini, tidak tampak paksaan atau kepura-puraan. Pembawaan dialog dari masing-masing karakter tampak tulus, nyata dan meyakinkan, tak kuasa gw pun jadi peduli terhadap mereka. Gw melihat  setidaknya 2-3 momen emosional yang menampilkan mereka berdua begitu menyentuh luar biasa (semisal di agak awal Cahaya dicecar Ipuy sampe nangis, hiks), sebuah pencapaian akting dari Donny dan Raihaanun (panggilannya apa ya ni anak?) sekaligus pencapaian pengarahan dari Teddy Soeriaatmadja. Dari karya-karya Teddy yang gw tonton, di Lovely Man inilah Teddy akhirnya bisa memberikan perlakuan tepat pada pemeran utamanya sehingga dapat mengeluarkan kemampuan terbaik mereka (di filmnya lain yang bagus malah pemain pendukungnya). Sebuah aspek krusial yang membuat film yang sederhana ini justru jadi karya Teddy yang terbaik dan termatang menurut gw.

Gw merasa sebenarnya masih banyak yang bisa diobrolin oleh Cahaya dan Ipuy, sehingga mungkin filmnya bisa lebih panjang atau setidaknya lebih padat, kekosongan momen nggak cuma diisi sama gambar pemandangan, liat-liatan atau renung-merenung yang panjang (masih ada nih di film ini tapi yaudahlah). Akan tetapi, Lovely Man adalah sebuah "karya kecil" yang sudah cukup sebagaimana adanya. Ia menampilkan performa prima dari para aktornya,  penceritaan dan dinamika adegan yang mudah dan enak diikuti, menyentuh, menghibur dengan sejumput porsi lucunya (terutama pada karakter-karakter komunitas waria yang punya bahasa sendiri itu), dan cukup engaging secara visual. 'Kecil' dan 'sederhana' mungkin tetap jadi bayangan yang tak terpisahkan dari film ini buat gw, toh film ini hanya bercerita tentang sebuah situasi unik dan tak biasa dalam rentang waktu nggak sampe 24 jam. Namun demikian, Lovely Man tetap mengusung sebuah tema besar: cinta kasih dua insan bertalian darah tidak selalu bisa saling dekat akibat situasi dan pilihan bertindak masing-masing. Adegan pamungkasnya menegaskan tema itu. Walaupun peristiwa-peristiwa sebelumnya mengarahkan perkiraan kita pada yang enggak-enggak, sebenarnya kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya. Pertemuan Cahaya dan Ipuy sebagai ayah dan anak, sesederhana nyuciin piring atau pindahin ke kasur sekalipun, adalah momen-momen yang patut dirayakan bagi mereka berdua, apapun yang telah dan akan terjadi.




My score: 8/10

Senin, 07 Mei 2012

[Movie] The Avengers (2012)


The Avengers
(2012 - Marvel Studios/Walt Disney Studios/Paramount)

Directed by Joss Whedon
Story by Zak Penn, Joss Whedon
Screenplay by Joss Whedon
Based on the Marvel comic books by Stan Lee, Jack Kirby
Produced by Kevin Feige
Cast: Robert Downey Jr., Chris Evans, Mark Ruffalo, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Tom Hiddleston, Samuel L. Jackson, Clark Gregg, Cobie Smulders, Stellan Skarsgård


Iron Man, Hulk, Captain America, Thor. Dalam satu semesta, dalam satu film. Dimainkan oleh aktor-aktor kondang pula. Ini adalah top-of-the-food-chain dari pemasaran sebuah film Hollywood. Bersama prajurit tangguh Nick Fury, Black Widow dan Hawkeye, para superhero "mapan" ini bergabung menjadi supergroup The Avengers (konon kalo versi komik tokohnya lebih banyak lagi). Bukan, ini bukan serial spionase Inggris yang pernah difilmkan tahun 1998 dengan bintang Ralph Fiennes, Uma Thurman dan Sean Connery itu—hey, the series used the name BEFORE Marvel did. The Avengers-nya Marvel ini kalo gw boleh bilang adalah semi-sekuel dari film-film superhero Marvel yang telah beredar 4 tahun terakhir: Iron Man (2008), The Incredible Hulk (2008), Iron Man 2 (2010), Thor (2011) dan Captain America: The First Avenger (2011). Betul, Marvel sudah mempersiapkan proyek The Avengers ini sejak lama, bahkan bintang-bintang yang muncul di kelima film itu (kecuali dari The Incredible Hulk) memang sudah dipastikan akan gabung di The Avengers. Beruntunglah, semua film superhero itu sukses secara finansial dan nggak dibenci oleh kritikus, maka kesuksesan luar biasa The Avengers sudah bukan pertaruhan lagi, this film is mathematically and definitely a box office monster.

Kalo sampe para superhero berkekuatan luar biasa ngumpul, tentu ada persoalan yang sangat luar biasa yang harus diselesaikan. Tesseract, sebuah sumber energi  tak terbatas (beneran tak terbatas, nggak kayak paket mobile internet di sini) diembat dari fasilitas milik organisasi S.H.I.E.L.D oleh Loki (Tom Hiddleston) asal Asgard (nirwana dalam mitologi Norse/Skandinavia, bukan 'ASli GARuD'). Tujuannya adalah menggunakan Tesseract untuk membuka gerbang penghubung antardimensi agar bumi diserang oleh tentara alien Chitauri, karena Loki ingin bumi tunduk padanya. Dengan kekuatan "ilahi"-nya Loki bahkan berhasil menculik peneliti Tesseract, Dr. Selvig (Stellan Skarsgård) dan agen pemanah bermata super, Clint Barton a.k.a. Hawkeye (Jeremy Renner) demi terlaksananya rencana itu. Pemimpin organisasi penjaga perdamaian dunia S.H.I.E.L.D, Nick Fury (Samuel L. Jackson) terpaksa meminta bantuan beberapa "kenalan lama"-nya untuk mencari Tesseract dan melawan serangan "luar dunia" ini. Mereka adalah Tony Stark a.k.a. Iron Man (Robert Downey Jr.) si billionaire berzirah supercanggih, Steve Rogers a.k.a. Captain America (Chris Evans) si tentara super lambang patriotisme tentara Amerika berperisai indestructable, dan Dr. Bruce Banner (Mark Ruffalo) yang bisa berubah jadi makhluk hijau raksasa Hulk—meski sebenarnya tidak diharapkan, serta tak ketinggalan si mata-mata cihuy Natasha Romanoff a.k.a. Black Widow (Scarlett Johansson). Di tengah upaya mereka, datanglah dewa petir Asgard, Thor (Chris Hemsworth) yang sudi turun ke bumi demi menghentikan rencana Loki sang saudara angkat.

Bersukacitalah wahai para penggemar film, komik, ataupun penggemar hal-hal apapun yang dianggap happening, sebab The Avengers adalah film yang layak mendapatkan sambutan meriah. Ini bukan sekedar film nyari laba berlipat, namun juga memberikan hasil setimpal dari pengharapan banyak orang. Sure, ceritanya cukup lumrah untuk film semacam ini dan bahkan kita sudah bisa membayangkan gimana bagian akhirnya. Akan tetapi, proses adegan demi adegannya dibuat mengasyikkan. Ketimbang ditumpuk-sambung asal jadi, Joss Whedon (kreator film dan serial Buffy the Vampire Slayer) mengolah jalan cerita yang berintrik kuat, mulai dari "perekrutan" anggota, personality clash antar-superhero sebelum dapat benar-benar bekerja sama, niat terselubung kepemilikan Tesseract, hingga trik licik Loki dalam menggoyahkan The Avengers, semua disusun dengan sebab-akibat yang nggak asal-asalan, logis (dalam konteks dunia mereka sendiri ya) dan konsisten. Ditambah lagi ritmenya enak, susunan porsi laga dan cerita disajikan seimbang, visual yang nyaman, efek visual tepat guna, dan juga penempatan humor-humor yang tepat waktu dan sasaran.

Namun tak ada yang lebih unggul daripada perlakuan terhadap para superhero yang masing-masing sudah hebat dan terkenal ini. Selain karakterisasi yang jelas, kemunculan tokoh-tokoh ini dibuat secara adil dan beradab sehingga semua bisa tampil penting, disayangi penonton dan tidak terasa "ilang", penempatannya nggak berantakan, jeli dan takarannya tepat. Film ini menyajikan aksi-aksi superhero ternama yang tidak dieman-eman, unjuk kekuatan mereka disajikan dalam porsi maksimal dan penuh penghormatan. O yeah, perkelahian antaranggota Avenger saat mereka belum kompak adalah contoh cara penghormatan yang sangat indah terhadap kemampuan tokoh-tokoh ini, and it's very delightful to watch too. Gw yakin penggemar masing-masing superhero ini tidak akan merasa kekurangan dengan aksi dan peran mereka di sini, justru akan sorak-sorak bergembira bergembira semua, dijamin.

Nah kalau bukan penggemar (semisal gw) atau sama sekali belum pernah nonton film-film superhero individual yang ditampilkan di The Avengers? Kemungkinan besar akan tetap bisa menikmati, toh film ini seru, colorful (baik gambar maupun karakterisasi) dan menyenangkan. Bagian klimaksnya pasti akan memuaskan semua pihak. Tapi, karena film ini langsung tancep gas aja, mungkin masih ada sedikit ganjalan tentang latar belakang bagaimana tokoh-tokohnya bisa sampe di titik kemunculan mereka di film ini ataupun dialog-dialog "dapur" yang hanya mereka saja yang paham (hubungannya Bruce Banner dengan "sinar gamma", Thor bilang Dr. Selvig itu temannya, Tony Stark dan Natasha Romanoff yang saling kenal, Captain America yang bereaksi antusias soal istilah "monkey", latar belakang Loki, ataupun asal muasal Tesseract), karena itu memang tidak terangkum dalam film ini. Kalau mau tau lebih dalam dan lengkap, ya "terpaksa" harus nonton 5 film pra-Avengers yang tersebut di paragraf pertama. Atau ya udah terima jadi aja, syukur-syukur kalau memang nggak mempertanyakan. Namun di sisi lain, film ini memberi penjelasan yang cukup tentang tokoh-tokoh yang baru benar-benar "hadir" di film ini, seperti Natasha Romanoff/Black Widow dan Clint Barton/Hawkeye, sehingga mereka dapat segera disukai setara dengan tokoh-tokoh lainnya yang udah punya film sendiri.


Membicarakan The Avengers pasti hampa kalau nggak menyinggung ensemble cast yang tampil di sini. Berbekal reputasi yang terhormat, penampilan dari yang senior seperti Downey dan Sam Jackson hingga yang lebih junior Evans dan Hemsworth tiadalah bercela, mereka sukses menghidupi peran masing-masing dengan presence berarti dan karakter yang jelas. Penampilan fresh dari Jeremy Renner juga gak kalah cool, pun si "anak baru" Mark Ruffalo (yang menggantikan Edward Norton dari The Incredible Hulk) malah memberikan performa paling apik di film ini. Tetapi, karisma dingin dan manipulatif Tom Hiddleston serta Scarlett Johansson yang begitu ho-oh tetap jadi bagian favorit gw dari film ini. Intinya sih mereka semua bisa bersinergi dengan baik, dapat menarik perhatian dengan segera, menonjol pada waktunya tanpa saling menenggelamkan. Iya, loe emang ngeres kalo pas gw bilang 'menonjol' bayanginnya langsung Scarlett Johansson =p. Oh ya tak ketinggalan ada penampilan Clark Gregg sebagai Agent Coulson yang selalu lempeng tapi selalu dapat diandalkan, serta Cobie Smulders sebagai Agent Hill yang cukup manis tapi masih belum lepas dari bayang-bayang peran Robin di How I Met Your Mother (setidaknya buat gw).

The Avengers adalah contoh film besar Hollywood yang pantas sukses, ia menyenangkan, menghibur dan menggairahkan para penonton yang haus akan aksi superhero seru nan heboh apalagi superheronya satu rombongan. Sebagai puncak dari film-film individual anggota The Avengers yang telah ada sebelumnya, memang film ini yang terbaik, yang paling nendang dan komplit. Sejujurnya sih The Avengers belum outstanding buat gw, tetapi, terlepas dari kebutuhan penonton untuk mencari informasi tambahan (dari film-film anggota Avenger atau spoiler dari temen yang penggemar) agar bisa mengapresiasi secara paripurna, The Avengers tetap sebuah contoh film blockbuster modern yang baik dan benar, apalagi sebagai comic book movie. Ekspektasi tinggi dari penonton dibayar dengan sangat sesuai. Pokoknya pas. Kalau mau diibaratkan, The Avengers adalah juara kelas, anak baik yang taat pada peraturan dan kurikulum yang berlaku, menyenangkan guru dan ortu sehingga dapat nilai bagus karena mengerjakan apapun yang ditugaskan dengan baik serta tulisannya rapi dan enak dibaca. Belum tentu jadi juara sekolah, tapi jadi anak teladan dan juara di kelas unggulan sama sekali gak jelek, bukan? (buat gw juara Marvel masih Spider-Man 2, tapi dia 'kan itungannya udah alumnus *apaseh*). Kalau senang dengan kisah pahlawan super, atau senang dengan sensasi membaca komik, semenyenangkan itulah menyaksikan The Avengers.




My score: 7,5/10


NB: Ini sempat membingungkan gw, untung saja ada trivia di IMDB.com. The Avengers adalah resmi film pertama Marvel Studios yang didistribusikan oleh Walt Disney Studios (Marvel sekarang perusahaan milik Disney). Namun karena selama produksi film ini (dan nantinya Iron Man 3) hak distribusinya masih dikontrak sama Paramount Pictures, maka sebagai syarat kesepakatan transfer hak distribusi ke Disney, Paramount  masih dapet persenan hasil pendapatan filmnya dan logo Paramount tetap muncul di film maupun materi promosi lainnya (poster, trailer, dll) meskipun sebenarnya mereka nggak ngapa-ngapain dalam hal distribusi ataupun marketing. Bisa gitu yak.