Sabtu, 31 Desember 2011

Year-End Note: My Top 10 Films of 2011

Dan akhirnya gw akan menutup tahun 2011 ini dengan mengelontorkan 10 film paling top versi gw sepanjang tahun ini. Seperti gw kemukakan pada senarai tahun-tahun lalu, syarat film yang bisa masuk top 10 tidak harus yang sekedar bagus atau keren, tetapi yang punya kesan, yang favorit, yang paling gw bisa ingat dari tahun ini. Gw juga mengubah prasyarat filmnya. Jika tahun lalu film-filmnya harus pernah diputar di layar bioskop Indonesia, namun akibat tahun ini banyak film impor yang sedianya diputar di bioskop tetapi ternyata nggak jadi dengan alasan entah apaan tauk, prasyarat pun dilonggarkan. Film-film yang masuk hitungan adalah yang udah gw tonton *yaiyalah* yang dirilis bioskop Indonesia sepanjang 2011, film-film asing yang rilis 2011 yang masuk Indonesia langsung dalam bentuk home video (DVD, Blu-Ray, VCD *yaoloh masi jaman*), PLUS film-film asing 2010 yang harusnya diputar di bioskop kita 2011 tetapi batal dan akhirnya dirilis langsung ke home video *eaa ribet*.

Baiklah, tanpa berlebar-lebar lagi, mari simak 10 film paling top versi gw tahun 2011, diurutkan berdasarkan preferensi dan favoritisme pribadi, dalam hitungan mundur *banyakomong*:





10. Hanna
Dengan premis seperti anime, Hanna hadir sebagai sebuah film aksi spionase yang berbeda dari film-film aksi biasa, ditata apik, artistik, pace yang seru, keren, dan sangat-sangat watchable. Agak terseok pada kurang padunya porsi aksi dan porsi drama, namun gw tetap mengagumi film ini secara keseluruhan. Yes, termasuk musik keren dari The Chemical Brothers serta akting para aktornya yang sama sekali tidak mengecewakan.



9. Source Code
Film terbaik yang dirilis di bioskop kita selama terjadi 6 bulan macetnya impor film dari studio-studio besar, namun juga cukup membuat Source Code menjadi salah satu film paling berkesan di tahun 2011. Menonton kedua kali memang tidak seseru nonton kali pertama, namun keterpukauan gw akan film fiksi ilmiah yang singkat-padat-jelas dan berperasaan ini masih membekas. Bagaimana misteri demi misteri digulirkan tanpa bisa benar-benar diduga, hingga bagian ending yang cukup memancing diskusi. Cool, and warm movie.



8. Rise of the Planet of the Apes
Awalnya memandang dengan sinis layaknya lirikan babi terhadp prekuel seri film legendaris Planet of the Apes ini, ternyata Rise of the Planet of the Apes (tuh 'kan judulnya juga kliatan banget cuman nebeng merek, nggak kreatip) muncul mencuat, tidak hanya mematahkan keraguan, namun juga menjadi salah satu film mainstream terbaik tahun ini. Meskipun banyak yang silau sama visual efeknya, gw sendiri lebih terkesima akan gaya penceritaan yang longkap-longkap tapi efektif-efisien film ini. Nggak perlu basa-basi, nggak perlu drama nggak penting, tetapi nggak terlalu cepat juga, plot film ini dibangun dengan sangat solid menuju klimaks terkeren sepanjang tahun ini.
Review



7. True Grit
Film dari Coen bersaudara yang paling cocok sama gw, yang gw paling nyampe nalarnya, hehehe. True Grit, menampilkan kisah balas dendam berlatar belakang dunia koboi dengan meng-emphasize pada karakter yang begitu kuat. Adu dialog 3 aktor utamanya, yang bermain sangat apik, begitu menarik dan menggelitik, plotnya agak lambat tetapi tidak bertele-tele (dan tidak "aneh" seperti film-film Coen bersaudara lainnya =P). Kenikmatan menonton pun "diperparah" oleh sajian gambar-gambar cantik lewat sinematografi, seting dan kostum yang bagus, serta musik indah yang mengalun.
Review



6. Kung Fu Panda 2
Senang sekali salah satu film animasi terbaik DreamWorks tidak dihancurkan oleh sekuelnya. Kung Fu Panda 2 masih sukses mengocok perut, masih cakep gambar dan animasinya, masih keren aksinya. Semua sensasi menyenangkan yang gw bisa dapat di film pertamanya masih bisa dimunculkan dalam kisahnya yang baru (tetap tipikal film-film silat Tiongkok), sekaligus lebih deep ketika Po mencari jatidiri setelah akhirnya sadar dia nggak mirip bapaknya yang angsa *yaiyalah*.



5. Sang Penari
Tahun ini gw lebih banyak nonton film Indonesia daripada sebelumnya, dan gw rata-rata puas dengan 6 film yang gw tonton itu, namun Sang Penari adalah yang bisa dibilang paling memenuhi syarat sebagai yang paling bagus sekaligus berkesan. Film ini sangat apik dari look-nya, mulai dari sinematografi, seting-kostum, hingga performa aktor yang di atas rata-rata. Selain itu, film ini berhasil dalam meramu cerita dan pembawaannya yang relatif mudah dipahami, meleburkan latar sosial, budaya, serta politik dengan kisah cinta tragis dua muda-mudi asal sebuah desa kawasan Banyumas, Jawa Tengah ini dengan cara yang mulus tanpa prasangka.



4. The Fighter
Bukan sekadar film tinju, bukan sekadar kisah nyata, bukan sekadar kisah sukses seseorang, ini adalah film tentang keluarga. Yang gw lihat dari The Fighter adalah dinamika, suka duka, konflik dan drama sebuah keluarga yang agak kacau namun tetap kuat dalam ikatan kasih, meski caranya tidak mencerminkan itu. Secara garis besar plotnya biasa saja, seorang petinju yang nggak jago-jago amat menuju kemenangan, namun perjalanan menuju ke sana ditata sedemikian emosional, mengharukan sekaligus lincah, lucu, seru dan menghibur, membuatnya film ini tetap istimewa. Aktornya keren-keren, dan rambut saudari-saudarinya Micky Ward pada hitsss banget =D.
Review



3. Black Swan
Black Swan menjawab pertanyaan gw apakah kisah tentang pelaku seni ala komik-komik Jepang bisa difilmkan, yes it could. Perjalanan seorang balerina yang sangat terobsesi menjadi pemeran utama sendratari Swan Lake, begitu keras dan kelam hingga mempengaruhi kejiwaannya, semua digambarkan dengan sangat baik dan padu dalam film ini, tanpa ada kesan ganjil atau aneh (meskipun di atas kertas harusnya ganjil dan aneh). Kenyataan dan halusinasi diintegrasikan dengan luar biasa sekaligus sangat mencekam. Didukung sinematografi yang rapuh nan keren, akting luar biasa, serta penyutradaraan yang sangat captivating seakan tidak rela memberi ruang bernapas, film ini patut diberi gelar istimewa.
Review



2. The Tree of Life
Aduh sok nyeni banget sih gw =P. Oke, perlu gw klarifikasi. Gw sampai detik ini masih belum bisa benar-benar memutuskan apakah gw memfavoritkan atau tidak The Tree of Life ini, meskipun udah nonton 3 kali di bioskop (ciee pamer). Namun, film ini masih terus bersarang dalam ingatan gw. Gw nggak ridho menaruhnya di nomer 1, pun rasanya nggak pantas jika didepak dari senarai top 10 ini. Tidak menyenangkan, but I definitely far from hating it, I had to put it somewhere. Film ini puitis, artistik, punya hati, cuantik, berisi perenungan yang begitu dalam, di saat yang sama tidak mudah dipahami benar, sebuah pengalaman sinema yang sungguh berbeda. Susah untuk dibilang bagus atau jelek. Hanya satu kata yang paling tepat menggambarkan The Tree of Life: sesuatuk. Thanks, Syahrini.
Review






1. Contagion
Are you surprised? Me too. Bukan film hebat, jelas bukan "TERbaik", namun hatiku berkata bahwa Contagion lah film yang paling gw favoritkan tahun ini. Dari film-film yang gw tonton tahun ini, film ini yang paling memuaskan gw, paling gw bisa terima setiap sisinya, baik ide cerita, jalan cerita, karakter, gambar, gaya bercerita, akting, musik, sampe durasinya yang ringkas. Meski memuat berbagai istilah dan kinerja medis dan sains kesehatan tentang wabah maut dengan (konon) akurat, film ini berhasil membuat gw "bodoh" dan manut saja akan apa yang digulirkan, nggak perlu bingung, nggak timbul pertanyaan-pertanyaan sanggahan, bahkan relatif agak menambah pengetahuan. Menyentuh sisi sains, politik dan sosial, film ini tidak perlu berdramatisasi supaya terasa menggugah, semua tampak riil dan memang sangat mungkin terjadi (ini yang bikin serem), disajikan dalam laju yang lincah serta parade akting yang berbobot meski harus bagi-bagi porsi. Film yang nyaman ditonton sekaligus menimbulkan awareness. Menimbang semuanya itu, saya putuskan Contagion adalah film no.1 gw untuk tahun ini. A fine, solid filmmaking.




Demikianlah rangkaian senarai akhir tahun gw. Semoga bermanfaat, dan selamat menyambut tahun baru. =))


Previously: My Top 10 Albums of 2011, My Top 10 Songs of 2011 (International, Indonesia, Japan)

Jumat, 30 Desember 2011

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2011

Setelah lagu-lagu, sekarang saatnya mendaftar album-album yang gw sukai di tahun 2011. Jika lagu itu ibarat sebuah adegan, maka album adalah keseluruhan film. Maka penilaiannya bukan sekadar ada lagu apa, tetapi bagaimana ketika album itu di dengarkan dari track pertama sampai terakhir (syarat utama: nggak bosenin), jadi tidak tergantung pada satu dua lagu saja. Setiap tahun gw sebetulnya nggak terlalu banyak mendengarkan album-album, tahun ini pun hampir saja gw memutuskan cuman memuat top 7 album saja, namun akhirnya dapet juga 10 album yang gw dapat gw nikmati lebih dari 2-3 kali putaran, ada yang udah dari awal tahun, ada juga penambahan last minute (yah bisa dibilang kejar deadline, tapi ya udahlah =P). Bisa dibilang juga kategori inilah yang memotivasi gw mengubah sistem senarai akhir tahun menjadi pemeringkatan top 10, karena kesan album-album di bawah ini tidaklah setara, yang paling atas adalah yang paling markotop. Namun tenang, yang penting 10 album ini tetaplah berkesan dengan caranya sendiri-sendiri





10. R – Ohashi Trio (大橋トリオ)
Ohashi Trio merilis sepasang album bersamaan, L dan R, entah dengan tujuan apa. Setelah mendengar keduanya, gw lebih terkesan pada R yang punya sisi lebih sendu, meskipun L juga tidaklah tidak enak. Sesungguhnya, terbesit sedikit kejenuhan kala mendengarkan 10 track isi album si artis yang memainkan seluruh instrumen "trio"-nya seorang diri ini, banyak interlude dan outro yang rasanya terlalu panjang, dan vokal Ohashi juga agak bergumam kayak gayanya Indra Lesmana. Akan tetapi, pengemasan lagu-lagu yang enak dan manis nadanya dalam musik folk-jazz dengan 90% instrumen non-listrik tetaplah unik dan berkesan, gw harus menaruhnya dalam senarai ini.



9. Mind Travel – Superfly
Sempet bikin gw merengut di album keduanya, Superfly mempersembahkan album ketiga yang lebih memuaskan dan lebih enjoyable. Dengan sedikit meng-tone-down distorsi dan gebukan bertensinya (masih ada sih), namun tanpa meninggalkan konsep 60s-70s-inspired, Mind Travel dihiasi variasi yang menyenangkan, mulai dari disko, stadium rock, akustik, gospel hingga Motown. Dan vokal Shiho Ochi masih juara di sini, sanggup meng-cover semua gaya musik tersebut. 



8. Superstar (スーパースター) – back number
Gw suka banget single "Hanataba" yang jadi lagu Jepang no.1 gw tahun ini, namun gw masih agak ragu pada back number setelah sedikit mendengar single-single lainnya yang menurut gw biasa saja. Gw pun coba mendengarkan album (major) debut band ini. Benar saja, musik mereka masih terdengar pop-rock biasa saja, namun entah kenapa gw tidak bisa tidak menikmati album bertajuk Superstar ini dari awal hingga akhir. Mungkin pilihan variasi permainan instrumennya, beatnya yang asik, mungkin juga vokalnya yang mulus, atau juga aransemen mereka yang nggak ribet tapi catchy, gw belum tau pastiIni album "pop-rock biasa" paling enjoyable yang pernah gw dengar beberapa waktu belakangan ini.
Review



7. Discovery – No Regret Life
Ini dia jawaban mengapa No Regret Life tidak kedengaran selama 3 tahun-an belakangan ini, rupanya kontrak mereka dengan major label (bawahan Sony Music Japan) telah disudahi dan tahun 2011 trio post-grunge ini kembali dengan label mandiri, saking nggak lakunya (kasihan ya). Mungkin terpengaruh dengan semangat baru, album Discovery ini terdengar berenergi dan menyematkan positivisme band yang sesungguhnya berpotensi ini, meskipun tampilan musiknya tidak jauh berbeda dari karya-karya mereka sebelum ini. Untungnya juga mereka tidak sembrono dalam menggeber semangat, mereka menampilkan variasi irama di tiap-tiap lagunya yang ber-chorus maut sehingga terhindar dari kejenuhan kala mendengarkannya, kayak konser aja.
Review



6. A Tribute to KLa Project – various artists
Gw berani menyatakan dengan yakin bahwa seperti inilah sebuah album tribut seharusnya dibuat. Karya-karya besar nan apik dari KLa Project ditata ulang untuk dibawakan oleh artis-artis yang lebih muda dengan karakter masing-masing, yang akan (relatif) menyenangkan penggemar KLa dan terlebih lagi penggemar artis-artis yang membawakan lagu-lagunya di sini. Sebuah album kompilasi yang dikonsep dan dieksekusi dengan cerdas, dan yang penting: enjoyable.



5. WHITE – Angela Aki
Salah satu alasan gw suka Angela Aki adalah dia pasti punya gambaran jelas mau seperti apa karya yang dihasilkannya. WHITE sendiri memiliki konsep yang unik, 5 lagu baru dan 5 lagu cover (baik lagu orang lain maupun lagunya sendiri yang direkam ulang, baik bahasa Jepang maupun Inggris. Oh that enka cover is superb), semua dalam karakter Angela yang kuat, untuk memenuhi tema "the new you" yang diusungnya. Meskipun tidak seimpresif karya-karya sebelumnya, WHITE tetaplah sebuah perpanjangan reputasi Angela yang tidak pernah menghasilkan karya jelek hingga album ke-5 nya ini. Quality music.



4. Cerita Cinta 25 Tahun Kahitna – Kahitna
Album double disc berisi 28 lagu ini penting gw taruh di senarai ini sebagai tanda salut gw terhadap Kahitna, atas kemurahan hatinya dalam mempersembahkan hit-hit mereka tanpa ditahan-tahan dalam sebuah album. Merekalah artis Indonesia yang so far paling tidak pelit dalam hal membuat album kompilasi hits. Tak hanya soal itu, album ini juga berhasil dalam fungsinya mengingatkan kembali range musik Kahitna yang dinamis namun tetap manis didengar. Wajib punya? Of course.
Review



3. HOP3 – RAN
Dengan album ketiga ini, RAN telah membuktikan bahwa mereka adalah "hope" bagi generasi muda musik Indonesia. Kreativitas bermusik trio pop-urban ini semakin terasah. Meskipun dalam album ini musik mereka lebih mengarah ke digital, namun, alih-alih tersesat, karakter RAN malah semakin jelas. Nada-nada lincah nan catchy dibungkus dengan aransemen yang asik nan groovy, tema liriknya pun mengalami progress, menjadikan album ini sangat kompak dan menyenangkan meskipun hanya terdiri dari 9 lagu di dalamnya.



2. Realtime Singer Songwriter – Yu Takahashi 
(リアルタイム・シンガーソングライター – 高橋 優)
Terkejut adalah artis yang tadinya gw agak remehkan ternyata malah jadi gw sukai banget. Yu Takahashi gw kira akan jadi penyanyi/pencipta-lagu bergitar beraliran pop-folk-rock "berkarakter" yang hanya punya 1-2 lagu enak abis itu selesai. Siapa nyana, album debutnya, Realtime Singer Songwriter (ini catchphrase yang diciptakan oleh orang yang sama yang menciptakan slogan "No Music No Life" untuk toko kaset Tower Records) seakan menawan gw sejak didengar pertama kali, padahal denger pertama itu cuma sambil lalu pas gw mandi. Enak-enak BANGET lagu dalam album ini, dan begitu mudah dinikmati dengan variasi irama dan mood lagu-lagunya yang disusun sedemikian rupa. Bahkan gaya nyanyi Takahashi yang asal-asalan (cenderung annoying) tidak menghalangi gw menjadikan album ini salah satu yang paling sering gw puter tanpa bosan hingga sekarang. Best debut album I've heard in recent years.
Review








1. 21 – Adele
Terlepas dari galau-galauan, terlepas dari ini konon album terlaris di dunia tahun ini, yes, 21-nya Adele adalah album paling TERBAIK tahun 2011 ini. Sudah bosan nampaknya mengemukakan alasan kenapa album ini bisa disukai banyak orang, ya vokal Adele yang exceptional, ya rangkaian liriknya yang menggedor-gedor emosi, ya musik pop/soul/R&B-nya yang sangat rapi. Buat gw, simply karena tiap-tiap lagunya enak dan mudah dikenali, tanpa kecuali. Mau didengarkan berurutan ataupun random tidak masalah, gw tidak sanggup melongkap satu track pun dari album ini, tanpa bosan. Jika ada oknum-oknum yang enggan meletakkan album ini sebagai favoritnya, berarti dia hanya menyangkal karena gengsi nggak mau ikut arus *nuduh*. Bukan soal liriknya semata, tetapi keseluruhan bunyi dari album ini. Great job, mbak Adele.
Review




Next: My Top 10 Films of 2011
Previously: My Top 10 Songs of 2011 (International, Indonesia, Japan)

Kamis, 29 Desember 2011

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2011 (Japan)

Saatnya mengetahui top 10 lagu J-Pop paling berkesan buat gw sepanjang tahun 2011. Dan ya, seluruhnya sebenarnya sudah gw sebutkan dalam postingan kompilasi My J-Pop 40 dan 41, tapi di sana kan total ada 34 lagu dan nggak ada pemeringkatan, hehe, jadi saatnya kita lihat yang mana saja yang berhasil masuk 10 besar. Bisa dibilang gw puas dengan susunan top 10 gw tahun ini, walau mungkin masih ada benang merah (yang penting catchy), musik yang muncul ternyata cukup beragam, baik artis yang memang langganan kesukaan gw dari tahun ke tahun (Superfly memegang rekor sebagai satu-satunya artis yang masuk senarai gw ini setiap tahun sejak 2008) maupun artis pendatang baru. Shall we?






10. "Kidoairaku plus Ai" – Kaela Kimura ("喜怒哀楽 plus愛" – 木村カエラ)
Mengawali karir di dunia entertain...ment sebagai seorang model, Kaela Kimura tidak tanggung-tanggung ketika masuk ke dunia nyanyi. Ketimbang muncul dengan lagu-lagu pop pasaran, ia lebih memilih musik yang agak alternative-rock dan bertahan hingga sekarang. "Kidoairaku plus Ai" yang sedikit raw garage-rock (whatever that means =P) kembali menunjukkan ciri khas musik Kaela yang selalu terdengar fresh. Dengan nada-nada catchy yang dibungkus komposisi band enerjik, lagu ini semakin lama semakin bersemayam di ingatan.




9. "My Favorite Songs" – Kana Uemura (植村花菜)
Lagu curhat pengalaman pribadi memang punya appeal tersendiri, apalagi jika dirangkai dalam kata-kata dan melodi yang enak dinikmati. Setelah tahun lalu menelurkan hit mengenang sang nenek dalam judul lagu paling absurd sedunia ("Toilet no Kamisama") dengan durasi yang sama absurdnya (10 menit =.="), Kana Uemura hadir kembali, curhat tentang motivasi dan perjalanannya menjadi seorang penyanyi—gara-gara Julie Andrews di The Sound of Music—dengan durasi yang lebih bersahabat dan komposisi pop akustik yang menyegarkan, plus vokal Kana yang terdengar sincere. Sweet song.




8. "Secret Garden" – Superfly
Shiho Ochi lewat Superfly akhirnya berani menampilkan nuansa R&B/funk ala Motown dalam karyanya. "Secret Garden" bisa jadi track terfavorit gw dalam album ketiganya, Mind Travel. Terdengar santai dan adem, aransemen komplet dengan nuansa vintage-nya (petikan gitar dan saxophonenya =)) sukses menopang vokal Shiho yang di lagu ini tampil kuat lembut (bukan lemah lembut) nan empuk, dan masih bisa menjangkau semua nada.




7. "Chu Chu" – moumoon
Lagunya terlalu catchy, tetapi menjadi enjoyable karena jatuhnya tidak mengesalkan, terima kasih pada aransemen manis-fun-enerjik yang chord asik-asik, serta vokal Yuka yang memang kedengaran bisa nyanyi dan English-pronounciation yang bagus. Chu, chu, kiss me...




6. "Monster feat. Hata Motohiro" – Ohashi Trio ("モンシター feat. 秦 基博" – 大橋トリオ)
Terlepas dari interlude tengahnya yang kelamaan, track dari solois-multiinstrumentalis beraliran folk-jazz, Ohashi Trio ini gampang sekali menjaring perhatian gw. Well, pertamanya sih karena ada Hata Motohiro-nya, tetapi lagu "Monster" ini ternyata menampilkan susunan nada yang sangat mantap, bungkusan aransemennya pun ditata dengan skill yang istimewa, beat-nya itu lho kayak nanggung gimana gitu =), dan vokal Hata Motohiro pun sukses memberi icing yang lezat pada lagu ini. Adiktif.




5. "Onna no ko wa dare de mo" – Tokyo Incidents/Tokyo Jihen ("女の子は誰でも" – 東京事変)
Lagu ini terdengar "normal" bila mengetahui siapa itu Tokyo Incidents, namun dengan lagu dan komposisi yang tidak terlalu ganjil pun band ini tetap bertaji tajam. Semacam penghormatan terhadap musik jazz pada era film-film musikal klasik Hollywood, bunyi-bunyian kelas wahid Tokyo Incidents berubah "go standard" dengan iringan big band lengkap yang memberi warna klasik, megah, anggun nan menyenangkan.




4. "Endless" – sakanaction ("エンドレス" – サカナクション)
Gw tau sakanaction sudah cukup lama (cieeh sok banget), tetapi tidak terlalu tertarik karena menurut gw musik mereka terlalu ganjil dan kurang enjoyable. Tahun 2011 akhirnya muncul juga karya band techno-rock-alternative-new wave ini yang dapat diterima kuping gw, bahkan cukup untuk membuatnya masuk dalam senarai ini. Musik mereka masih terdengar ganjil—seakan ada 3 versi mixing yang dirangkai dalam satu lagu secara berurut: groove, house music, dan dance-techno sangar, tetapi semua itu worked really well dalam lagu ini, layaknya sebuah petualangan audio singkat. Melodinya sih simpel nan galau, tetapi komposisi yang mereka tampilkan di sini terdengar rapi, unik dan lebih mudah dinikmati. 




3. "Te wo Tatake" ("手をたたけ") – NICO Touches the Walls
Te wo tatake, te wo tatake. Lagu ini sangat sangat mudah untuk menjadi favorit gw. Pop-rock yang fun, bright, berenergi positif, menghentak, bersemangat, catchy. Meskipun dengan strukur lagu pop standar, tambahan strings dan brass section membuat lagu ini terdengar tidak sekadar asik saja, tetapi juga kaya. Tarikan vokal Tatsuya Mitsumura yang all out sangat pas dalam menyuarakan nada-nadanya yang bersemesta luas dan mudah diingat itu. Ayo tepuk tangan.




2. "Fukuwarai" – Yu Takahashi ("福笑い" – 高橋 優)
Yu Takahashi adalah J-Pop's next best thing bagi gw. Ia punya karakter kuat dan skill (menyanyi dan menulis lagu at least) yang mumpuni, karya-karyanya juga enak dinikmati. Lagu "Fukuwarai" adalah salah satu bukti yang menunjukkan kemampuannya itu. Sangat mudah diingat, mudah diikuti, nada-nadanya manis dan aransemennya pun cakep dan efektif. Belum lagi liriknya yang straightforward dan inspiratif yang disampaikan sepenuh hati oleh vokal Takahashi yang lepas dan (sebenarnya sih) bagus (tapi suka dicempreng-cemprengin. He doesn't know how good he is), pantes aja betah bermukim di playlist gw sejak kemunculannya di awal tahun.









1. "Hanataba" ("花束") – back number
My number 1 this year adalah sebuah balada cinta medium-beat dari sebuah band pop-rock pendatang baru. Aransemennya sederhana, ringkas, strukturnya lagunya pun cukup berbeda walau tidak baru (verse1-verse2-prechorus-chorus-bridge-chorus-verse1), namun nada, vokal, dan bunyi instrumen di masing-masing bagian itu entah kenapa terasa intim, dinamis (walau masih mellow), dan keseluruhannya dirangkai dengan indah dan menggugah—pada verse pertama cuma ada vokal, drum dan bass, keren banget inih. Lompatan nadanya enak, vokalnya clear, liriknya pun sangat lugas tanpa terlalu berpuisi-puisi ria (cocok buat yang mau belajar terjemahan, haha) sehingga menambah kesan mendalam terhadap lagu pernyataan cinta ini. Strukturnya yang tidak repetitif mungkin membuat yang mendengarnya selalu ingin dengar lagi =).






Next: My Top 10 Albums of 2011
Previously: My Top 10 Songs of 2011 (International, Indonesia)

Rabu, 28 Desember 2011

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2011 (Indonesia)

Year-End Note 2011 selanjutnya adalah lagu-lagu Indonesia. Tahun ini seperti beberapa tahun belakangan ada mungkin ratusan lagu-lagu Indonesia yang dirilis...dan sebagian besar gw nggak tau. O well, berikut adalah 10 lagu di antara sedikit yang gw dengar yang paling menyantol rasa, dari yang artisnya entah siapa hingga yang sudah go international *prett* sampe band lama format baru. Check them out...






10. "Lebih Indah" – Adera
I have no idea who he is, tetapi lantunan lagu pop dengan aransemen rapih-lengkap dan vokal enak yang gw temukan di YouTube gara-gara banyak yang bilang suka sama lagu ini di Twitter ini memang salah satu lagu paling mudah dinikmati sepanjang tahun. Petikan gitarnya asik dan liriknya nggak malu-maluin. Siapapun itu Adera yang menyanyikannya, good music will just shine.




9. "Bebas" – Stereocase feat. Sara (Un Soirée)
Kalau boleh jujur gw agak merasa terganggu sama vokalnya yang terlalu "bergaya" dan treble. Tetapi, gw amat sangat tidak terganggu dengan komposisi lagu ini. Meleburkan pop enerjik dengan sedikit funk dan lirik yang menambah semangat, "Bebas" yang asyik ini tampaknya tepat untuk membawa Stereocase lebih dikenal khalayak.




8. "Hujan Turun" – Sheila On 7
Bersyukurlah bahwa Sheila On 7, band yang sempat jadi idola hampir segenap insan manusia Nusantara pada awal 2000-an ini tetap berusaha berkarya meski formasi bandnya agak "porak-poranda". Gw mungkin agak "berhenti menggemari" mereka setelah album ke-4, namun lagu-lagu baru mereka saat ini sebenarnya tidaklah jelek sama sekali, walau mungkin belum bisa mengulangi masa kejayaan mereka dahulu. Lagu "Pasti Ku Bisa" sempat gw tag untuk jadi salah satu lagu Indonesia favorit gw tahun ini, namun kemudian muncul "Hujan Turun" yang lebih santai, lebih sederhana dan lebih "berasa". Tjakep lagu ini.




7. "Baby I’m Sorry" – Tauruz
Lagu dari duo akustik yang kredit nama-nama personilnya agak @L4y ini sekilas bernuansa John Mayer gimana gitu. Musiknya simpel, liriknya tidak terlalu istimewa, vokalnya cukup oke meski belum distinctive, namun secara keseluruhan kemasannya terasa pas dan tanpa beban, mengalir sejuk dan lancar, lalu di akhir diberi sedikit power sehingga lagu ini lolos dari kesan datar mejemukan. Lagu selingkuh tapi adem.




6. "Lelaki Dungu" – Sandy Canester
Sandy Canester ini pernah ngeluarin album nggak sih? Gw punya pegangan beberapa karyanya yang cukup memotivasi gw membeli albumnya (tapi nggak pernah nemu), selain pada warna vokalnya yang khas. "Lelaki Dungu" selain berjudul catchy, lagunya pun demikian. Nada-nada minor dan lirik galau dikemas dengan cerah dan asik, struktur nada verse-nya lebih di atas daripada chorus-nya pun menambah keunikan lagu ini. Vokal Sandy yang sebenarnya smooth pun rupanya tidak tenggelam sama irama medium-beat.




5. "Paralyzed"  –  Agnes Monica
Meskipun dengan jalan yang (sangat) tersendat, Agnes Monica akhirnya bisa menunjukkan bahwa ia mampu membuat karya yang setara kualitas internasional. Nuansa Pop R&B elektronika medhok dapat kita jumpai pada lagu ini, lengkap dengan melodi yang simpel (tidak ribet dan over the top kayak "Godai Aku Lagi" misalnya =P) serta aransemen musik modern yang juga tidak ribet namun bermassa. Liriknya (khususnya yang berbahasa Indonesia) pun dirangkai dengan apik. So, shut up, haters.




4. "Hanyalah Cinta" – Anggun
Nah sekarang kita beranjak pada artis Indonesia yang go-international betulan (sorry, Nez fans, she's just not there yet), Anggun mengerti betul bahwa pasar paling setia untuknya adalah negeri asalnya, Indonesia. Lagu "Hanyalah Cinta" meski memang dibuat oleh tim penulis mancanegara, namun versi lirik berbahasa Indonesia ini lebih cocok dengan melodinya dibandingkan versi bahasa Inggrisnya. Sangat catchy dan unik, diberi aksen mandolin yang mempermanis balada tentang cinta ini.




3. "Do Re Mi" – Budi Doremi
Ketika semua orang berusaha membuat lagu se-mellow mungkin, Budi hadir dengan nuansa lebih ceria bahkan terkesan main-main. Lagu "Do Re Mi" ini begitu ganas meracuni kuping dengan nuansa dan pemilihan chord yang mirip-mirip "I'm Yours"-nya Jason Mraz dan "The Lazy Song"-nya Bruno Mars (serta kemudian ditemukan di "Under The Misteltoe"-nya Justin Bieber, nothing is original these days), ringan dan terkesan jenaka. The lyrics somehow are a bit maksa and doesn't make sense. Tetapi jika diperhatikan dengan baik, performa seorang Budi tidaklah main-main, warna suaranya keren dan tekniknya pun asik tanpa ada kesan sok dibagus-bagusin. Vokal Budi, and I'm saying it with confidence, sukses memberi banyak nilai tambah untuk lagu ini, dari sekedar enak dan lucu menjadi sangat enjoyable.




2. "Sepeda" – RAN
Appeal RAN sebagai artis muda paling berbakat pada generasi saat ini masih terasa buat gw. Lagu "Sepeda" sedikit berbeda dari lagu-lagu mereka lainnya, terutama pada liriknya yang steril dari soal cinta. Keceriaan bersepeda pagi-pagi tercermin pada pembawaan yang fun dan aransemen yang tetap groovy, pemilihan chord-nya asik, melodi yang dinyanyikan pun sangat catchy. Good song indeed.








1. "Pujaan Hatiku" – Jikustik
Hands down, this is the most beautiful song of the year. Jikustik sempat goyah dengan hilangnya vokalis utama mereka, namun dengan menarik vokalis baru yang suaranya lebih keren, Jikustik berhasil mencuat kembali lewat lagu ini. Dengan effortless-nya lagu ini merenggut perhatian, liriknya puitis sederhana, melodinya syahdu tanpa cengeng, komposisi musik akustikanya menyejukkan luar biasa, perpaduan vokalis baru (Brian) dengan si bassist/ever-2nd-vocalist (Icha) membuatnya begitu menusuk. Sebuah lagu yang sangat Indonesia namun empunya keindahan langka. Bravo, Jikustik!











Honorable Mention: Guilty Pleasure of the Year
"Hamil Duluan" - Tuty Wibowo
O well, lagu dangdut Pantura ini memang asal-asalan dan lucu-lucuan saja. Namun siapa yang sanggup menahan goyangan ataupun tawa tiap kali mendengar lagu dengan pesan moral sangat baik ini. Gw heran banyak yang mengganggap lagu ini kampungan dan tidak mendidik. Hey, lagunya memang kampungan (obviously), tetapi lagu ini JAUH LEBIH MENDIDIK daripada "Jadikan Aku yang Kedua"-nya Astrid atau "Kekasih Gelap"-nya Ungu yang diklaim lebih bermutu itu. Masih mending dikasih tau kalo pacaran sambil tidur berduaan dan gelap-gelapan bisa hamil duluan, dasar orang-orang picik nggak tau terima kasih!





Next: My Top 10 Songs of 2011 (Japan)
Previously: My Top 10 Songs of 2011 (International)

Selasa, 27 Desember 2011

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2011 (International)

Sebentar lagi tahun baru, marilah kita mulai mendaftar apa-apa saja yang paling berkesan bagi gw sepanjang 2011, baik musik maupun film. Satu hal yang berbeda pada senarai ini, kalau tahun-tahun sebelumnya gw mengurutkan berdasarkan abjad tanpa peringkat, mulai tahun ini gw akan jadi jahat dan mengurutkan setiap kategori berdasarkan preferensi. Yup, jadi bakal ada yang nomer 10 si bontot dan nomer 1 si juara—notice that it is now a “Top 10” instead of “10 Top”? =). Walaupun masih dalam kriteria bersifat labil dan dapat berubah-ubah seiring dengan waktu, biarlah kiranya pengurutan ini menjadi gambaran saja kira-kira mana yang paling gw suka sepanjang tahun 2011 ini.

Pada postingan pertama gw akan memulai dengan lagu-lagu internasional minus Jepang. Sebetulnya referensi gw sangat terbatas pada kategori ini mengingat gw mulai jarang dengerin radio, namun sepuluh lagu keluaran 2011 berikut ini dengan mudah gw ingat, dan, hmmm, selera gw lagi-lagi pasaran sekali ya, hehe. Anyway, here goes:



10. "Last Friday Night (T.G.I.F.)" – Katy Perry
Gw tuh bukan penggemar Katy Perry, sedikit sekali lagu-lagunya yang berkesan. Pengecualian datang dari lagu ini yang, walaupun liriknya masih usil, secara keseluruhan terdengar simpel tapi asik dan penuh, bagian verse-nya yang sangat santai dieksekusi dengan baik oleh vokal Katy.



9. "Honey Bee" – Blake Shelton
Lagu ini muncul begitu saja di radio streaming yang gw dengarkan, eh langsung nemplok di ingatan gw saking catchy-nya. Dibawakan oleh penyanyi Country yang sedang tenar-tenarnya, Blake Shelton, lagu yang (masih) dangdut liriknya ini pasti bisa jadi favorit banyak orang.



8. "The World As I See It" – Jason Mraz
Tidak sesantai lagu-lagu Jason Mraz sebelum ini, lagu ini masih menyimpan kekaleman dan ke-catchy-an yang mudah dinikmati. Struktur lagunya nggak terlalu standar, liriknya sederhana namun mengena (gombalnya), simply a nice piece.



7. "As Long As We Got Love" – Javier Colon feat. Natasha Bedingfield
Pertama mendengarnya di radio lagu ini sudah merebut perhatian gw karena komposisi dan lirik yang memang seperti dibuat untuk jadi enak, diperkuat lagi oleh vokal keren dari pemenang acara The Voice, Javier Colon bersama Natasha Bedingfield, a firm love anthem dengan perpaduan vokal yang apik.




6. "Stereo Hearts" – Gym Class Heroes feat. Adam Levine
Ah, you know lah why I include this song on my list, same reason as why you would put it on yours =).



5. "Price Tag" – Jesse J feat. B.o.B
Jessie J menunjukkan kepandaiannya dalam meramu nada yang mudah diingat dan mengisinya dengan lirik-lirik inspiratif dalam kemasan musik kekinian yang enak didengar. Lagu ini adalah “Black or White”-nya 2011 *eaaa.



4. "The Lazy Song" – Bruno Mars
Satu lagi lagu dari Bruno Mars, penyanyi solo pria paling “panas” di industri musik Amerika saat ini. Tahun lalu ada dua lagu yang melibatkan dirinya yang masuk 10 besar favorit gw, tahun ini pun lagu ini mampu meracuni gw, mulai dari lirik, melodi, hingga aransemennya yang komikal.



3. "Paradise" – Coldplay
Never been a Coldplay fan, tetapi gw merasa hits yang dikeluarkan oleh band ini selalu menarik. “Paradise” tampil dengan bunyi-bunyian yang kaya, ada unsur elektronika, strings section, serta mini-choral (opo meneh iki), menghiasi basis musik pop-rock mereka menjadi istimewa. Beat-nya enak, tapi yang paling cakep adalah sinergi melodi dan chord-chord yang dipilih. Keren.



2. "Don’t You Remember" – Adele
Sulit sekali memilih satu saja lagu Adele dari album 21 yang menjadi favorit. Sedikitnya ada 3 lagu favorit gw di album best-selling itu, namun akhirnya gw putuskan untuk menaruh “Don’t You Remember” dalam Top 10 ini. Sejak detik awal bunyi petikan gitar, perlahan vokal dan segenap instrumen soul akustik itu bersuara, hingga penggalan lirik lirih di bagian akhir. Sebuah lagu emosional yang sempurna dan indah, diaransemen dengan baik serta menantang vokal Adele dengan sangat pantas.






1. "Pumped Up Kicks" – Foster The People
Vokal dengan efek digital yang bergumam, bunyi-bunyian elektronik yang dominan dan berulang, demikian juga chorusnya yang sangat catchy dan (juga) berulang, lagu ini sangat berpotensi sebagai lagu paling ganggu tahun ini. But it’s not. Inilah lagu yang paling menarik perhatian, atau lebih tepatnya “meracuni” gw semenjak gw pertama kali mendengarnya kala mereka menyanyikannya live di acara Tonight Show with Jay Leno (di sini vokalnya nggak pake efek). Seusai mendengarkan lagu ini tidak pernah beranjak keluar dari kepala hingga saat ini, meski sudah didengar berulang-ulang baik di radio maupun ngulik-ngulik YouTube. Kok bisa ya?







Honorable Mention: Guilty Pleasure of the Year
“Party Rock Anthem” – LMFAO
Nah ini baru lagu paling ganggu sepanjang tahun 2011. Menurut gw lagu ini pointless, kosong, repetitif, overrated, dan ganggu lah pokoknya. Meski begitu, toh setiap lagu ini berkumandang gw tetep angguk-angguk bahkan coba-coba menirukan gerakan kakinya. Syit.




Senin, 26 Desember 2011

[Movie] Sherlock Holmes: A Game of Shadows (2011)


Sherlock Holmes: A Game of Shadows
(2011 - Warner Bros.)

Directed by Guy Ritchie
Written by Michele Mulroney, Kieran Mulroney
Based on the characters and short stories by Sir Arthur Conan Doyle
Produced by Joel Silver, Lionel Wigram, Susan Downey, Dan Lin
Cast: Robert Downey Jr, Jude Law, Noomi Rapace, Jared Harris, Stephen Fry, Rachel McAdams, Kelly Rilley, Paul Anderson


Sukses dengan versi agak nyeleneh dari Sherlock Holmes pada tahun 2009, bukanlah hal yang mengagetkan apabila Warner Bros. membuat sekuel dari film yang untung secara finansial dan filmnya sendiri lumayan menyenangkan itu. Diberi subjudul A Game of Shadows, Sherlock Holmes 2 ini masih memasang mitra "romantis", detektif swasta Sherlock Holmes dan Dr. Watson yang dimainkan aktor Robert Downey Jr. dan Jude Law, dan masih dibawah pengarahan sutradara Guy Ritchie beserta segenap kerabat kerjanya *berita TVRI kali kerabat kerja*. Kisahnya sendiri seperti meneruskan apa yang di-tease di bagian akhir film pertama, tepatnya tokoh Prof. Moriarty, yang dalam versi literaturnya adalah musuh Holmes yang paling berat.

Beberapa bom teror terjadi di wilayah Eropa yang ditakutkan menimbulkan perang antar bangsa, namun Holmes mencium adanya skema jahat dari satu oknum yang punya agenda tersendiri dibalik segala peristiwa ini. Ia menaruh kecurigaan paling kuat pada seorang cendekiawan ternama, Prof. Moriarty (Jared Harris), apalagi setelah mengikuti sepak terjang Irene Adler (Rachel McAdams), kekasih Holmes sekaligus orang suruhan dari Moriarty, yang ketangkap basah membawa surat dan paket bom untuk seorang ilmuwan. Dengan mengikuti pelbagai petunjuk, Holmes pun bertemu dengan seorang gadis gipsi, Sim (Noomi Rapace) yang dapat membawanya kepada informasi apa yang jadi rencana Moriarty. Di saat yang sama, Dr. Watson melaksanakan pernikahan dengan Mary (Kelly Reilly), namun tetap saja Watson tidak bisa melepaskan diri dari usaha pemecahan misteri bersama Holmes, apalagi nyawa diri dan istrinya turut terancam hanya karena dia temannya Holmes.

So langsung saja, jika dibandingkan dengan film pertama, A Game of Shadows tidaklah memberikan peningkatan. Jika film pertama itu banyak berkelahinya, maka film kedua ini banyak adegan-adegan ekstrim, tembak-tembakan dan ledak-ledakan. Misterinya? Well, sama seperti film pertama, tidak terlalu dikedepankan—sebuah sisi yang mungkin akan mengecewakan fans tokoh Holmes. Jujur sebenarnya gw nggak terlalu ngerti betul detil-detil cerita dan intrik-intrik yang menghiasainya, kuramg paham apa yang dicari Holmes, gw mah iya-iya aja deh, pokoknya begitulah, abisnya disampaikan cepet banget seakan nggak penting. Bukan berarti jelek—dan ini anehnya, sama juga seperti film pertama, walaupun nggak ngeh-ngeh amat sama ceritanya, gaya enerjik Ritchie dan performa Downey dan Law yang tidak gagap dalam menampilkan kejenakaan memberikan hiburan tersendiri yang menyenangkan, gw tetap betah menatap layar dan mengikuti perjalanan kisahnya hingga akhir. Pada akhirnya film ini memang bertujuan sebagai hiburan, dan itu terbilang berhasil.

Kehadiran tokoh-tokoh baru yang dimainkan Noomi Rapace (dulu dikenal sebagai pemeran gadis gothic Lisbeth Salander dalam film Swedia, The Girl with the Dragon Tattoo) beserta komedian Stephen Fry sebagai kakak Holmes, Mycroft yang bekerja untuk kementrian luar negeri (or something like that) memberikan warna tersendiri, tokoh-tokohnya tidak menganggu dan penampilan mereka tidaklah mengecewakan. Jared Harris sebagai sang villain Moriarty juga nggak jelek sih, cuman balik lagi ke permasalahan penekanan cerita, adu intelektual Holmes vs Moriarty sama sekali tidak terlihat sengit, membuat Moriarty tidak kelihatan terlalu berbahaya, satu titik yang sangat disayangkan sekali.

Jadi A Game of Shadows mungkin setara dengan pendahulunya meski dalam cerita yang berbeda. Film ini menghibur dengan kelincahannya, celetukan-celetukan serta perilaku Holmes yang cukup mengundang tawa, kekompakan Downey dan Law, tampilan visual (art direction, kostum, sinematografi) agak gritty monokromatis yang keren sangat, musik yang asik, dan beberapa adegan-adegan seru (adegan di kereta api ke Brighton, pelarian di hutan Austria atau Jerman gitu). Kesan keseluruhan yang ditimbulkan pun (sayangnya) kurang lebih sama saja, kisah pemecahan misteri yang berpotensi seru yang kalah pamor sama unsur-unsur aksi menghibur. Namun nggak terlalu masalah, gw tetap terhibur kala menontonnya. Nggak rugi-rugi amat lah. Palingan tahun depan udah nggak inget lagi ceritanya gimana =P.



My score: 6,5/10

[Movie] Garuda di Dadaku 2 (2011)


Garuda di Dadaku 2
(2011 - SBO Films/Mizan Production)

Directed by Rudi Soedjarwo
Written by Salman Aristo
Produced by Salman Aristo, Kemal Arsjad, Shanty Harmayn
Cast: Emir Mahira, Aldo Tansani, Monica Sayangbati, Maudy Koesnaedi, Rio Dewanto, Muhammad Ali, Ramzi, Rendy Khrisna


Garuda di Dadaku tahun 2009 adalah salah satu film Indonesia pasca-revival tersukses, konon menghimpun lebih dari satu juta admissions bioskop—nggak termasuk gw karena nontonnya baru di VCD sewaan =), dan kualitasnya pun tidaklah sama sekali buruk...well, dengan beberapa kelemahan yang bisa dimaafkan lah. Dua tahun lebih kemudian tim yang lebih-kurang sama kembali menyapa penonton Indonesia dengan sekuelnya. Masih ditulis oleh Salman Aristo namun kini disutradarai oleh Rudi Soedjarwo menggantikan Ifa Isfansyah (sibuk sama Sang Penari mungkian =)), Garuda di Dadaku 2 ini sepertinya muncul dalam momentum yang tepat, setelah perhelatan SEA Games tahun ini yang cabang olah raga sepakbola-nya menjadi perhatian besar. Meskipun tetap dengan kemasan yang generally menghibur, Garuda di Dadaku 2 seperti mencoba memberi refleksi terhadap dunia sepakbola Indonesia.

Sukses Bayu (Emir Mahira) menjadi pemain tim nasional sepakbola usia 13 di film pertama bukanlah akhir yang tanpa perjuangan. Masih aktif sebagai pemain tim nasional sepakbola junior, bahkan sekarang jadi kapten tim U-15, Bayu mulai merasakan beban ketika sedikit sekali pertandingan yang bisa dimenangkan oleh timnya, pertandingan persahabatan sekalipun. Menjelang turnamen ASEAN, pengurus organisasi yang menaungi mereka memutuskan memanggil pelatih baru untuk tim U-15, seorang pria muda bernama pak Wisnu (Rio Dewanto). Dengan latihan yang lebih keras dari yang sebelum-sebelumnya, Bayu dan kawan-kawan harus kembali menyesuaikan diri demi mencapai kemenangan, termasuk hadirnya anggota tim baru, Yusuf (Muhammad Ali) yang belakangan jadi favorit masyarakat. Di saat yang bersamaan, Bayu juga harus berusaha menyeimbangkan kehidupan sekolahnya karena prestasinya di bawah rata-rata—dia banyak nggak masuk untuk latihan sepakbola—dan kali ini harus menyelesaikan tugas kelompok, trus ada perasaan ciee ciee sama murid pindahan bernama Anya (Monica Sayangbati) yang berwatak tegas. Kehadiran pacar baru sang ibu (Maudy Koesnaedi), oom Rudi (Rendy Khrisna) yang garing juga agak menyulut emosi Bayu yang agak-agak nggak terima, belum lagi persabahatannya dengan Heri (Aldo Tansani) kini penuh perselisihan, loe cuma nonton-gue yang di lapangan thingy. Dengan segala hal yang ada di pikirannya, mampukah Bayu memimpin timnya untuk memenuhi harapan meraih prestasi tertinggi?

Kisah Garuda di Dadaku 2 ini berangkat cukup jauh dari film pertamanya. Memang akan lebih mendalam jika menyaksikan film pertamanya, ketika Bayu yang gemar sepakbola harus memperjuangkan impiannya menjadi anggota timnas meski harus dihalang-halangi sang Kakek yang anti-sepakbola—kegelisahannya jadi lebih berasa, namun menonton langsung yang kedua ini juga nggak terlalu masalah sebetulnya. Tidak lagi dengan struktur standar zero-to-hero, melainkan lebih pada perjuangan untuk mempertahankan apa yang sudah didapat. Kisahnya yang mencakup tokoh Bayu baik dalam kehidupan sepakbola maupun kehidupan pribadinya boleh dibilang pas dan seimbang. Sisi-sisi reflektif yang sebagaimana gw singgung tadi hadir dan disampaikan dengan lumayan mengena. Ada keterlibatan orang partai politik dalam organisasi olah raga, ada pembongkaran titik-titik lemah timnas sepakbola kita, penonton yang “lebih jago” daripada yang main (ehem, Heri), atau bagaimanapun berartinya sepakbola bagi yang menggilainya, selalu saja ada yang menganggap itu tidak istimewa (Anya) dibandingkan tugas sekolah dan layanan kesehatan misalnya *hehehe*. Bagian-bagian ini, serta kelabilan emosi Bayu yang natural baik di lapangan maupun di rumah menjadi perekat yang baik dan menggelitik bagi penonton. Selain fokus penceritaan yang berbeda, film ini juga sukses memperbaiki kelemahan film pertamanya dalam soal penampakan produk sponsor yang sangat wajar =).

Garuda di Dadaku 2 adalah film yang boleh dibilang overall menghibur dan memuaskan, mungkin film Indonesia yang paling demikian sepanjang 2011. Tone-nya lebih gritty dan dramatis ala Rudi Soedjarwo gimana gitu, menunjukkan film ini lebih dewasa sebagaimana usia tokohnya, tetapi semangat untuk menjangkau penonton segala umur tetap dijaga, lihat saja adegan-adegan latihan anak-anak di bawah pelatih Wisnu yang sangat Kapten Tsubasa—minus penantian dua episode untuk lari ke gawang dan gol =_=”. Drama, humor, serta pertandingan-pertandingan sepakbolanya dipresentasikan dengan laju yang enjoyable dan tidak menjemukan. Meskipun fokus kisahnya terbagi-bagi, buat gw itu tidaklah mengganggu dan disampaikan dengan tidak berat di satu sisi saja.

Oh, oke, kalau boleh menyebut kelemahannya: 1. Lapangannya di situ-situ aja; 2. Tokoh Bang Dulloh (Ramzi) yang semakin tenggelam padahal dialah yang paling menonjol di film pertama; 3. Talent tim-tim lawan yang tidak terlihat seperti anak-anak dari luar negeri, terutama yang Jepang =P; 4. Rio Dewanto buka baju tanpa alasan selain fan-servicing; dan 5. Gambaran media massa yang terlalu maksa. Setahu gw se-seru-serunya pertandingan sepakbola internasional di Indonesia, media massa nggak akan pernah menggubris anak-anak umur belasan tahun alih-alih memperlakukannya bak Irfan Bachdim atau Diego Michiels, karena mereka akan lebih memilih liputan Liga Eropa yang—meski nggak ada hubungan langsung dengan bangsa Indonesia—lebih banyak peminat, correct me if I’m wrong. Akting pemain-pemainnya nggak jelek dan bermain wajar (Emir bagus emosinya), cuman entah kenapa gw merasa sebagian aktor-aktor ini ngomongnya kok jadi kayak Dian Sastro di Ada Apa Dengan Cinta?-nya Rudi Soedjarwo ya? Gw sampe berharap ada yang bakal ngomong “Basik! Madingnya udah mau terbit!” =D. O well, regardless, film ini tetaplah sebuah follow up yang baik bagi film pertamanya yang sukses itu, entertaining and heartwarming. Gw sih kayaknya lebih suka yang kedua ini =).



My score: 7,5/10

Minggu, 25 Desember 2011

[Movie] Mission: Impossible - Ghost Protocol (2011)



Mission: Impossible - Ghost Protocol
(2011 - Paramount)

Directed by Brad Bird
Written by Josh Applebaum, André Nemec
Based on the television series "Mission: Impossible" created by Bruce Geller
Produced by Tom Cruise, J.J. Abrams, Bryan Burk
Cast: Tom Cruise, Jeremy Renner, Simon Pegg, Paula Patton, Michael Nyqvist, Vladimir Mashkov, Josh Holloway, Léa Seydoux, Anil Kapoor, Tom Wilkinson


Akibat kegagalan megamankan dokumen kode aktivasi senjata nuklir, IMF menugaskan agen Jane Carter (Paula Patton) dan Benji Dunn (Simon Pegg) membebaskan agen unggul Ethan Hunt (Tom Cruise) yang tengah dipenjara di Rusia. Hunt kemudian ditugaskan memimpin tim baru, ya dua orang itu, untuk mengambil kode aktivasi senjata nuklir (lho, eh , bukan deh, berhubungan tapi bukan dokumen yang sama, au’ah) yang tersimpan di arsip militer istana Kremlin di Moskow. Malang, misi gagal dengan munculnya seorang ilmuwan gila Swedia yang sempat bekerja untuk Uni Sovyet, Kurt Hendricks (Michael Nyqvist) yang berusaha mengendalikan senjata nuklir itu untuk...emm...semacam menghancurkan beberapa tempat di dunia agar terjadi perang dan menimbulkan proses evolusi—sayangnya dia tidak mengincar Jakarta =P. Ia sudah duluan mengambil incerannya Hunt dkk, bahkan menimbulkan ledakan dahsyat yang menghancurkan kawasan Kremlin. Karena tim Hunt ada di sana, IMF Amerika dituding sebagai pelakunya. Oleh pemerintah Amerika, IMF dibekukan, dan Hunt harus bertanggung jawab, namun menteri luar negeri (Tom Wilkinson) menugaskan Ghost Protocol kepada Hunt, menghentikan dan membuktikan keterlibatan Hendricks demi mengembalikan reputasi IMF, namun misi dijalankan tanpa backing-an pemerintah sama sekali. Dengan misi ini, serta menyeret seorang analis yang rupanya jago di misi lapangan, William Brandt (Jeremy Renner), tim Hunt harus segera memulai misi barunya dari Moskow, Dubai hingga Mumbai.

“Mission: Impossible” awalnya adalah serial televisi yang ditayangkan sekitar tahun 1960-an sampai 1970-an dengan bintang utamanya alm. Peter Graves sebagai Jim Phelps (meski beliau cuman sampe musim kesekian saja), pemimpin tim kelompok agen rahasia khusus di bawah organisasi pemerintah USA bernama IMF (Impossible Missions Force, organisasi bo’ong-bo’ongan tentu saja. Kalo loe bayanginnya IMF yang "itu", serius banget sih hidup loe =P), kemudian ada versi barunya akhir 1980-an sampe 1990-an yang kembali dibintangi Peter Graves dengan pemain-pemain lain yang lebih muda. Kedua versi ini sempat ditayangkan TVRI dan RCTI (yeah, stasiun ini dulu oke banget tayangannya, sebelum ganti kepemilikan) dan menjadi tontonan favorit keluarga. Jadi siapa saja yang hidup di era 1990-an—dan punya TV—pasti familiar dengan rekaman pesan yang meledug sendiri, topeng samaran sempurna, alat komunikasi portable beserta alat-alat canggih lainnya, sampe lagu tema dan main title design dengan sumbu terbakarnya itu, yang menghiasi episode demi episode misi berbahaya yang dilakukan kelompok ini.

Versi layar lebar Mission: Impossible buat gw nggak ada yang dapat memberi impact sebagaimana yang dilakukan serial televisinya. Apalagi fatalnya adalah versi layar lebarnya terkesan hanya ajang memfasilitasi (atau justru memanfaatkan) kebintangan seorang Tom Cruise semata. Semua harus berpusat pada doski, doski, dan doski. Film pertama muncul tahun 1996 disutradarai Brian de Palma dengan nuansa yang agak dark dengan twist-twist biar seakan mau pamer “ini film besar lho” yang malah jadi mengesalkan (tokoh Jim Phelps yang jadi kesayangan pemirsa malah “dibunuh” karakternya, sial). Film kedua di tahun 2000 pun kesannya hanya cari uang saja. Dengan nuansa yang lebih terang daripada film pertama, arahan John Woo ini punya plot basi dan aksi-aksi yang keren-sih-tapi-tidak-untuk-Mission:Impossible, I mean, adu kung-fu di klimaks? Seriously? Film ketiga tahun 2006 arahan J.J. Abrams terbilang paling menghibur dan paling seru, serta paling mirip dengan nuansa serial aslinya meski dengan aksi yang lebih menggelegar dan perpaduan seimbang drama-action yang mirip serial “Alias” (ya iyalah, Abrams kan kreatornya), tapi masih kurang monumental.

But of course film keempatnya pasti dibuat, mengingat suksesnya franchise ini. Diberi judul (nggak cuma angka) Ghost Protocol, film keempat Mission:Impossible ini disutradarai oleh Brad Bird yang dikenal lewat film-film The Iron Giant, The Incredibles dan Ratatouille. Kartun semuah? Yup, film ini adalah debut film live actionnya. Meski kini demikian, rupanya Mr. Bird terbilang sukses dalam mengarahkan manusia-manusia betulan dan adegan-adegan laganya yang *surprisingly* tidak berat CGI, semua masih terlihat mekanikal dan cukup wajar. Jika ada sisa-sisa “animasi” adalah dari caranya dalam memperlihatkan adegan-adegan minim dialog dengan timing yang pas dan mudah dipahami, terutama pada bagian awal (sebelum main title sequence-nya). Dengan laju yang enak dan timbul kesan urgensinya, Ghost Protocol terbilang mudah dinikmati dan tidaklah membosankan meski dengan plot yang tidak terlalu sederhana. Oh ya, menurut gw juga Ghost Protocol adalah film M:I yang paling banyak ngebodornya, kuncen humornya memang Simon Pegg yang meneruskan perannya di M:I:III—skarang naik kelas jadi agen lapangan—namun banyak juga adegan-adegan yang nggak terlalu serius lainnya di luar dia, semisal Jeremy Renner atau Anil Kapoor.

Dengan beberapa nilai positif yang gw lihat di film ini, seperti kerjasama tim yang nggak cuma bergantung sama tokohnya Tom Cruise, adanya pihak kepolisian Rusia yang turut mengejar Hunt dkk (jadi at least mereka nggak hidup di dunianya sendiri), alat-alat yang lebih sophisticated (adegan ilusi digital di dalam Kremlin itu keren abis =)) meski banyak juga yang disfungsi =D, adegan aksi yang seru dan acceptable (yah masih agak ngarang juga sih cuman nggak ajaib-ajaib amat seperti pertarungan one on one sambil jungkir balik =P), performa aktor yang cukup—Renner keren, Cruise tetap berpose senantiasa tetapi nggak terlalu menganggu—serta gambar-gambar panorama kota Budapest, Moskow, dan Dubai yang memukau, gw tetap belum merasa Ghost Protocol akan meninggalkan kesan yang mendalam, bahkan rasanya gw masih lebih suka M:I:III. Motivasi sang villain, Hendricks agak GeJe alias gak jelas sebenarnya, dan betul-betul hanya digunakan supaya IMF ada musuhnya aja, pun fungsi dokumen nuklir yang satu dan alat-alat nuklir-nukliran lainnya disampaikan sambil lalu aja gitu. Juga gw kurang suka adegan ketika tim Hunt mempertanyakan siapa sebenarnya Brandt yang terlalu sinetron, dan juga penegasan “pesan moral” secara verbal di bagian akhir =/. Namun harus tetap diakui Ghost Protocol adalah film yang menghibur tanpa terlalu membodohi, and that’s about all.



My score: 7/10

Jumat, 23 Desember 2011

My J-Pop 41



Hello, kembali lagi dalam postingan rekomendasi lagu-lagu Jepang gw, My J-Pop yang kini memasuki edisi ke-41. Lumayan cepat daripada jeda sebelumnya, bisa jadi dikarenakan karena paruh akhir 2011 ini memang lebih banyak lagu J-Pop yang menurut gw cukup enak, namun pada akhirnya, sesuai dengan kuota CD kosong 80 menit, tetap yang bisa masuk hanya 17 track, terima kasih kepada SUKIMA SWITCH dan IKIMONOGAKARI yang lagunya makin lamaaa dan makin lamaaaa aja durasinya...meskipun emang enak-enak sih =P. Kali ini memang lebih banyak artis-artis langganan yang lagu-lagunya sudah sering gw masukkan ke My J-Pop, artis-artis yang baru pertama kali masuk jajaran ini pun sebenarnya artis-artis lama yang gw baru suka lagunya yang sekarang ini, seperti LOVE PSYCHEDELICO (one of the coolest names of a band ever =)), Kana Uemura dan sakanaction. Pada volume ini juga gw baru menemukan seorang artis folk-jazz multiinstrumental, Ohashi Trio yang dua lagunya masing-masing berkolaborasi dengan Hata Motohiro dan BONNIE PINK yang gw rasa sangat oke dan penting sehingga perlu gw taruh dua-duanya di sini.

Silahkan ditengok tracklist-nya di bawah ini, silahkan cari sendiri kalau mau lagunya (Google, it works!), dan silahkan dicek preview beberapa lagu yang highly recommended di bagian paling bawah. Happy listening.



My J-Pop vol. 41

1. 大橋トリオ – 「モンシター feat. 秦 基博」   Ohashi Trio – "Monster feat. Hata Motohiro"
2. NICO Touches the Walls – 「手をたたけ」   "Te wo tatake"
3. Do As Infinity – 「誓い」    "Chikai"
4. 高橋 優 – 「誰もいない台所」    Yu Takahashi – "Dare mo inai daidokoro"
5. 木村カエラ – 「喜怒哀楽 plus愛」    Kaela Kimura – "Kidoairaku plus Ai"
6. スキマスイッチ – 「晴れときどき曇」    Sukima Switch – "Hare tokidoki kumori"
7. Superfly – 「Secret Garden」
8. GReeeeN – 「恋文〜ラブレター〜」    "Koibumi ~Love Letter~"
9. 大橋トリオ   Ohashi Trio – 「Be There feat. BONNIE PINK」
10. FUNKY MONKEY BABYS – 「LOVE SONG」
11. LOVE PSYCHEDELICO – 「It's You」
12. いきものがかり – 「歩いていこう」    Ikimonogakari – "Aruite ikou"
13. TEE – 「愛し続けるから」    "Aishitsuzukeru kara"
14. 東京事変 – 「電気のない都市」    Tokyo Incidents/Tokyo Jihen – "Denki no nai toshi"
15. moumoon – 「Chu Chu」
16. 植村花菜    Kana Uemura – 「My Favorite Songs」
17. サカナクション – 「エンドレス」    sakanaction – "Endless"


Previews of the most recommended songs

Ohashi Trio – "Monster feat. Hata Motohiro" (short version)


NICO Touches the Walls – "Te wo tatake"


Kaela Kimura - "Kidoairaku plus Ai"


Ohashi Trio – "Be There feat. BONNIE PINK" (short version)


moumoon – "Chu Chu"


sakanaction – "Endless"

Selasa, 20 Desember 2011

[Album] A Tribute to KLa Project


Various Artists - A Tribute to KLa Project
(2011 - KLa Corp.)

Tracklist:
1. RAN - Tentang Kita
2. The Upstairs - Lantai Dansa
3. Ungu - Yogyakarta
4. Vidi Aldiano - Semoga
5. Ahmad Dhani - Terpurukku Disini
6. Violet - Bahagia Tanpamu
7. Pongki Barata - Meski T'lah Jauh
8. Babas - Sudi Turun Ke Bumi
9. MALIQ & D'Essentials - Prasangka
10. Kerispatih - Menjemput Impian


KLa Project itu salah satu band besar Indonesia. Kurang tau ya apakah salah satu paling laku atau bukan, yang pasti unit musik pop modern yang terdiri dari Katon Bagaskara (vokal), Lilo (gitar, vokal) dan Adi Adrian (piano, keyboard) ini—thus "KLa", dari inisial nama, kali aja ada yang nggak tau—punya pengaruh besar bagi industri musik Indonesia. Mereka mulai merilis karya dari akhir 1980-an dan sangat aktif menelurkan hits di sepanjang tahun 1990-an, masa-masa keemasan yang sayangnya belum bisa dibangkitkan kembali pada dekade selanjutnya, namun respek orang-orang terhadap mereka tidak pernah pudar. Lihat aja di toko-toko kaset, pasti masih ada setidaknya CD/kaset album Dekade 1988-1998 dan atau The Best of KLa milik KLa Project masih dijual di sana, bukti bahwa mereka masih punya nilai jual *analisasotoy*. Baik musik maupun lirik KLa terbilang distinctive dari yang lainnya, lirik mereka sangat nyastra, dan musik mereka tidak karatan dimakan zaman. Kecuali masalah kualitas rekaman, coba deh, lagu-lagu KLa yang dirilis 10-15 tahun yang lalu, ketika didengarkan sekarang, nggak ada rasa "lagu lama"-nya, musik KLa selalu current didengar kapanpun, ini sebuah keistimewaan yang langka.

Kini selain masih mengeluarkan album dan manggung-manggung, KLa Project sudah punya perusahaan rekaman sendiri. Album A Tribute to KLa Project adalah salah satu produknya. Lilo (tanpa Stitch) yang selama ini juga aktif sebagai produser sepertinya sadar betul akan kerinduan penikmat musik Indonesia pada karya-kaya KLa pada masa keemasannya, sehingga beliau menggagas sebuah album tribut dengan mengundang beberapa artis untuk membawakan lagi lagu-lagu KLa. An artist-approved tribute album, aye =). Artis-artisnya pun bukan anak-anak kemarin sore kayak album-album tributnya Indonesian Idol, melainkan mostly artis-artis yang sudah dan sedang dikenal yang, and I find this brilliant, punya karakter dan pasar masing-masing. Lagu-lagu yang dipililih pun bukan sekedar yang terkenal saja, tetapi juga yang dianggap paling sesuai dengan artis-artis yang membawakannya.

Hal itulah yang membuat gw salut sama A Tribute to KLa Project ini, tidak asal ambil momentum, melainkan dikonsep dan dieksekusi dengan baik dan benar. Menurut gw, lagu cover version yang baik adalah yang ketika didengarkan seakan itu lagu milik artis yang menyanyikannya, tidak seperti lagunya orang, meskipun yang dengar sudah tau itu lagu orang lain. Dalam album tribut ini, sebagian sudah demikian. Lagu "Tentang Kita" dibawakan RAN dengan karakter RAN yang pop groovy, "Terpurukku Disini" *tiba-tibagatelpengenperbaikigrammar* dibawakan Ahmad Dhani seperti karakter musiknya sekarang-sekarang ini yang dominan digital, lagu fenomenal "Yogyakarta" dibawakan Ungu yang tidak berkarakter dengan pop-rock-melankolis ala Ungu. Yang paling jempolan menurut gw adalah "Lantai Dansa" yang dibawakan The Upstairs yang new wave (rock agak campur disko) berhias synthesizer—bahkan dikasih lirik tambahan oleh sang vokalis Jimi Multazam—udah bukan kayak lagu KLa lagi, serta "Prasangka" yang dengan tepat setepat-tepatnya dibawakan MALIQ & D'Essentials yang bernuansa acid jazz asyik sebagaimana band ini telah dikenal khalayak. Mungkin karena gw juga nggak familiar dengan kedua lagu ini *buehehehe* tetapi menurut gw pencapaian dua artis ini dalam memperlakukan lagu-lagu KLa menjadi milik sendiri namun tetap dengan hormat adalah yang paling terpuji dari sepuluh track yang ada di album ini. Keren.

Sisanya terbilang aman-aman saja. Vidi Aldiano "Semoga" dalam nuansa vokal pop murni, "Menjemput Impian" oleh Kerispatih dengan vokalis-baru-yang-terlalu-berusaha-pengen-suaranya-mirip-vokalis-lama dalam musik pop yang cukup riuh dan megah, "Meski T'lah Jauh" oleh Pongki Barata si mantan-vokalis-Jikustik-yang-dulu-suaranya-mirip-vokalis-KLa bareng sang isteri, Sophie Navita dalam pop mellow standar saja, dan "Bahagia Tanpamu"—perhaps my least favourite KLa song, both this and the original versions—oleh trio/girlband vokalis-violinis asuhan perusahaan rekaman milik KLa sendiri (ciee promo ni ye), Violet dalam nuansa pop dihiasi permainan biola sepanjang lagu, track-track ini masih bisa dibilang okelah, listenable walau masih terkesan "artis-artis yang menyanyikan lagu KLa Project", tidak lebih. Jika ada yang paling mengejutkan dari album ini, mungkin adalah track "Sudi Turun Ke Bumi" yang dinyanyikan oleh seseorang bernama Babas (entah siapa, nggak kenal). Tadinya sebuah lagu pop progresif yang sangat berkarakter, kali ini dibawa ke arah yang sama sekali berbeda: modern rock! Di satu sisi bisa dibilang "kacau" dan "berkhianat" karena melodinya ada yang bergeser dan nuansanya pun jadi lebih spooky (=P), namun di sisi lain lagu ini keren juga, modern rock-nya nggak setengah-setengah dan tetap menjadikannya lagu yang sesuai dengan karakter penyanyinya. I kinda like it, though.

Secara keseluruhan gw menikmati 10 lagu KLa Project yang dibawakan artis-artis "muda" ini (apa? Ahmad Dhani nggak muda? Parah loe, dia 'kan tetep lebih muda daripada mas-mas KLa =P). Meskipun tidak bisa dibilang suka semua tracknya, itu tertutupi oleh kekaguman atas cerdasnya cara Lilo sang produser album ini untuk menarik dua pasar: penggemar KLa dan penggemar artis-artis yang memberi tribut. Album ini jelas membawa kembali nostalgia lagu-lagu lawas KLa Project yang tidak akan terlalu diprotes para penggemarnya, di saat yang sama gw rasa setiap track bisa dipasarkan dan diterima oleh masih-masing segmen penikmat artis-artis yang membawakannya: penggemar RAN pasti akan menyukai "Tentang Kita", penggemar Ungu pasti akan memuja-muja "Yogyakarta", anak-anak "indie" pasti akan respek pada rendisi enerjik "Lantai Dansa" dari The Upstairs, anak-anak ABG pasti akan mudah tersentuh sama "Semoga"-nya Vidi Aldiano, simpatisan Republik Cinta pun rasanya akan bangga atas cover "Terpurukku Disini" oleh Dhani. Strategi pemasaran lewat jaringan mini market Indomaret pun terbilang lebih masuk akal dan jujur (jaringan luas sampe ke kabupaten-kabupaten, dan belinya nggak maksa kaya paket KFC =p), bahkan diintegrasikan dengan proses kreatif. Coba lihat warna cover yang senada dengan logo Indomaret =). This might be how a tribute album should be made, tanpa tekanan dari label, tetap mempertimbangkan komersialitas serta memaksimalkannya sejak tahap kreasi, dan pastinya memberikan penghormatan yang pantas pada si empunya karya yang dibawakan. Gara-gara album ini akhirnya ada lagunya The Upstairs dan Ungu di playlist gw...



My score: 7,5/10


Previews from YouTube

A Tribute to KLa Project promo



MALIQ & D'Essentials - Prasangka

Minggu, 18 Desember 2011

[Movie] Drive (2011)


Drive
(2011 - FilmDistrict)

Directed by Nicolas Winding Refn
Screenplay by Hossein Amini
Based on the book by James Sallis
Produced by Marc Platt, Adam Siegel, Gigi Pritzker, Michel Litvak, John Palermo
Cast: Ryan Gosling, Carey Mulligan, Bryan Cranston, Albert Brooks, Oscar Isaac, Kaden Leos, Ron Perlman, Christina Hendricks


Ini underworld kota Los Angeles. Seorang pria berwujud Ryan Gosling bekerja sebagai supir stunt untuk adegan-adegan berbahaya di film-film, namun ia punya kerja freelance sampingan sebagai pengangkut perampok agar lolos dari polisi, and he's good at it. Suatu hari dia ketemu dengan tetangga apartemennya, seorang ibu muda bernama Irene (Carey Mulligan) yang punya anak bernama Benicio (Kaden Leos). Mereka saling tertarik, lagipula suami Irene sedang dipenjara, jadi yah hayuk aja menghabiskan waktu bersama. Hidup si tokohnya Gosling mulai tampak cerah, selain ketemu cemceman baru, bos di bengkelnya, Shannon (Bryan Cranston) mengajaknya untuk mulai ikut balapan dengan bantuan Bernie Rose (Albert Brooks) sebagai sponsornya. Sayang, harapan untuk hidup cerah mulai meredup setelahh suami Irene, Standard Gabriele (Oscar Isaac) bebas dan pulang ke rumah. Nggak ada masalah sih, cuman tak lama tokohnya Gosling menyaksikan Standard habis dipukuli anggota geng, yang mengancam akan "menyentuh" istri dan anaknya jika tidak mau mengerjakan sebuah perampokan. Mendengar hal itu, atas dasar kedekatannya dengan Irene dan Benicio, tokohnya Gosling ini menawarkan jasa nyupirin perampokannya Standard. What he don't know, perampokan itu bukanlah perampokan..err.. standar seperti yang dikira, malah belakangan mengincar nyawa, sekaligus membuka jati diri orang-orang yang ada di sekitarnya.

Mungkin salah gw menempatkan ekspektasi yang cukup tinggi untuk film Drive ini. Bukan soal gimana-gimana, tetapi sebagai film yang banyak yang bilang bagus, banyak dipuji kritikus, serta menang penghargaan sutradara terbaik di festival film internasional Cannes, gw membayangkan Drive ini punya sesuatuk yang berbeda, keindahan unik layaknya film-film "art", menyorot sisi lain dari sebuah premis yang biasanya hanya jadi bahan film aksi bising. Just to be clear, gw sama sekali tidak mengharapkan film ini akan jadi film aksi super kebut-kebutan ala Fast and Furious (ciee sok banget), tapi memang masih mengharapkan aksi-aksi dan penceritaan yang berbeda dari film komersial biasanya, different kind of excitement. Well yes, style film ini cukup berbeda dari film-film yang ada hubungannya dengan dengan otomotif, tetapi nggak sampe bikin gw merasa tergerak semangatnya, dan juga sayangnya tidak terlalu mengkamuflase segi ceritanya yang kok-gitu-aja-ya—gampang ketebak pasti ada mafia-mafiaan terlibat, dan rute konfliknya agak terlalu simpel.

Drive bukan film yang buruk, sama sekali tidak. Gw banyak menemukan adegan-adegan cool dengan tata gambar yang artistik dan realistik, sinematografinya banyak yang cantik (banyak, tapi tidak selalu). Adegan-adegan mengemudinya mantap, yang gory pun nggak tanggung-tanggung. Cara sutradara asal Denmark, Nicolas Winding Refn (aah, pantesan, sutradaranya Eropah =P) dalam menata dan memperlihatkan sekuen-sekuennya banyak yang menarik, semisal ketika Gosling baru keluar minimarket dan jalan ke mobil kayak nggak ada apa-apa, eh tau-tau nengok ke kiri dan jalan ke sana dan kita menemukan mobilnya Irene mogok. Atau adegan ketika Gosling menemukan Standard babak belur, awalnya pas mau parkir (dari dalam mobil) terlihat dua orang pergi dengan slow motion, eh gak lama tau-tau ada Standard bedarah-darah. Dan satu lagi adegan "kedip" di akhir *soknggakmauspoiler*. Dalam beberapa sisi sudah cukup mengukuhkan bahwa ini film yang bagus, yang tidak berusaha menjadi film action-blokbuster Hollywood (because it's not). 

Namun, meski sudah dengan setingan "awas ini film agak nyeni" pun gw tak kuasa merasa kurang sreg dan tidak puas dengan keseluruhan filmnya. Lajunya yang sudah lambat terasa lambaaat banget. Ada beberapa adegan slow motion yang oke, tetapi di luar itu pergerakan filmnya terasa nggak lebih cepat dari adegan slow motion-nya =P. Iya, tau supaya pendalaman karakternya lebih meresap (sebagaimana kita sering melihat wajah Gosling dari dekat saat nyetir supaya kontras dengan adegan akhirnya), tapi jalan kaki juga gak harus lama-lama banget 'kan (contoh orang-orang yang bakal gw salip kalo jalan di mall =_='). Gw pun merasa terganggu dengan cara film ini terlalu maksa membuat tokohnya Gosling nggak punya nama. Eits, bukan nggak punya nama tapi namanya nggak kesebut di layar bukan? Ya sih, tapi terlalu nggak make sense aja waktu Shannon cerita ke Irene gimana dia pertama ketemu si tokohnya Gosling dengan terlalu berusaha merujuk hanya dengan "him" dan "the kid", atau ketika si tokohnya Gosling ketemu dan berkenalan sama Bernie, kenalan nggak pake nama? Apa alasannya nggak nanya nama? Kalau nggak mau ada nama kenapa ada adegan perkenalan? Gayak banget loe.

Ceritanya agak klise, berlaju lambat, dan seakan tidak memperingatkan penontonnya bahwa separuh akhir film ini akan ada berbagai adegan kekerasan brutal berdarah-darah—yang harus diakui cukup ampuh membangkitkan mood, ada yang ditunjukkan frontal, ada yang tidak. Seru sih nggak segitunya, dibilang "artistik" juga buat gw rada nanggung, tetapi pendalaman emosi karakternya yang memang kayaknya dijadikan menu utama terbilang cukup berhasil lah. Gosling tampil lumayan, ia terlihat cool sebagai orang-berprofesi-supir-yang-dipaksa-nggak-bernama itu, terlepas dari tampangnya yang sayu-sayu "berkarakter" gimana gitu. Carey Mulligan yang berakting effortless membuktikan bahwa ia akan jadi aktris berkualitas, like the next Kate Winslet, tetap striking meski karakter Irene tidaklah menonjol. Penampilan mengejutkan datang dari Albert Brooks yang lebih dikenal sebagai aktor film-film komedi dan pengisi suara bapaknya Nemo di Finding Nemo, di sini malah jadi orang berwatak keras bahkan sadistik nggak ketulungan, very good indeed. Pokoknya dari segi akting tidak ada masalah. Sekali lagi Drive bukan film jelek, masalah bukan pada filmnya, masalah mungkin ada pada gw yang mengharapkan sesuatu yang lebih exciting, dan mungkin juga masalah sensor yang kasar sampe-sampe gw nggak mudeng blas adegan percakapan telepon di ruang rias stripper itu apa intinya. Tapi gw yakin bagi yang suka film ini bakalan suka banget, jangan heran suatu saat ada orang jalan pake jaket putih berbordir kalajengking kuning di punggung =P.



My score: 6,5/10