Minggu, 30 Oktober 2011

QUIZ: My Top 100 Films of the 2000's

Gw pernah mengiming-imingi bakal bikin kuis pada Foreword senarai My Top 100 Films of the 2000's. Well, it's time, berbahagialah kalian yang telah menantikannya *ih biasa aja kale, hehe*. Gw akan mengadakan kuis berhadiah buat semua pembaca dan penyimak Ajirenji Mindstream Reviews sebagai semacam wujud terima kasih atau souvenir karena telah mampir di blog gw ini, sekaligus...emm...yah...seseruan aja. Mau?

Kalau mau tahu, hadiahnya adalah DVD resmi...bekas gw =D. Jadi ceritanya gw dalam rangka menertibkan koleksi DVD, dan ada beberapa yang gw telanjur beli ternyata nggak terlalu suka, atau gw belakangan membeli format yang lebih upgraded *ehem*. Sempat terpikir untuk menjualnya, tapi kemudian terbesit mengapa nggak dijadiin hadiah kuis saja. Dan, voila, inilah percobaan pertama gw, semoga sukses ya. 

Oke, untuk kuis ini, gw akan membagi-bagikan 3 DVD resmi dari koleksi gw dengan cuma-cuma. Biarpun sudah tidak lagi perawan, tapi gw jamin masih mantep puterannya....maksudnyaaaa, kondisinya masih bagus kok, kualitas isinya masih utuh, tidak macet-macet, ada lecet ya dikit-dikit nggak signifikan juga. Dan lagi, biarpun bekas, ketiga DVD ini memiliki nilai khusus buat gw, karena yang akan gw bagikan adalah DVD FILM 3 TERATAS DALAM SENARAI MY TOP 100 MOVIES OF THE 2000's!

Woi, film apaan? Daftarnya juga belum kelar 'kan?

Naaaah, itu dia. Jika Anda mau mendapatkan salah satu dari 3 DVD tersebut, tinggal jawab pertanyaan berikut:
TEBAKLAH JUDUL FILM POSISI TERATAS (1, 2, 3) DALAM SENARAI MY TOP 100 MOVIES OF THE 2000's.

^__^

Enak aja gw ya, hehehe. Tenang, gw akan memberikan hint:
1. Di bagian kanan bawah blog ini ada slide poster-poster film favorit gw. Lihatlah dan saringlah dengan mengambil judul-judul yang dirilis pada tahun 2000-2009, lalu eliminasi pula yang sudah disebutkan di daftar pada posisi nomer 11-100.
2. Ketiganya film berbahasa (mostly) Inggris
3. Salah satunya film musikal.

Nggak susah kok, tapi memang butuh perhatian sedikit lebih *hausperhatian*.

Gw akan mengambil 3 pemenang yang dengan benar menjawab judul-judulnya beserta urutannya. Kalau  nggak sampe 3, gw akan mengambil yang judul-judulnya benar walau urutannya kurang tepat. Masih nggak ada juga, yah cari yang mendekati deh, misalnya judulnya salah cuma catu. 

Bagaimana? Jika berminat, silahkan sampaikan jawaban disertai dengan nama jelas (bukan nama 4Lh@ee) dan alamat jelas agar nanti hadiahnya bisa sampe via layanan pos/kurir, kirimkan ke e-mail gw:
reinoezra@gmail.com
Satu orang satu e-mail aja ya. Nggak perlu pake foto karena saya bukan orang yang diskriminatif *apaseh*. (Namun mohon maaf karena untuk kali ini kuis terbuka hanya untuk orang-orang yang tinggal di teritori NKRI saja. Maaf ya m(_"_)m).

Kuis ini akan berakhir pada 12 November 2011 pukul 24:00 waktu Indonesia bagian barat (GMT +07:00 *yaelah*), karena jawabannya akan dibeberkan dalam senarai My Top 100 Films bagian terakhir/Top 10 yang rencananya akan diterbitkan 13 November 2011. Pemenang akan diumumkan setelah itu (waktu TBA, hehe).

Gw tunggu partisipasi kalian ya.
Good luck!


Untuk referensi: My Top 100 Films of the 2000's
Part 1, Part 2, Part 3, Part 4 ,

_________________________________________________________________

Quiz telah selesai, silahkan klik tautan di bawah ini untuk mengetahui pemenangnya:
WINNERS

My Top 100 Films of the 2000's: Part 4 (no. 25-11)

Kita hampir tiba di penghujung senarai 100 film keluaran 2000-2009 paling top versi gw. Pada bagian keempat ini sudah masuk kuartil terakhir, namun kali ini gw akan membatasi sampai nomer 11 saja, top 10-nya disimpan dulu, biar dramatis gimana gitu *ehehehe*. Oke, semakin ke atas urutannya, film-film yang akan gw sebut semakin punya "nilai" di hati dan ingatan gw. Sebagai pribadi yang subjektif, gw memang condong mengaburkan perbedaan antara film yang menyenangkan dengan film yang berkualitas—lagian gw tau apa soal kualitas—namun yang pasti 25 film teratas ini adalah film-film yang senantiasa membuat gw bersemangat atau at least nggak nolak untuk menontonnya lagi, serta selalu enjoy setiap kali menontonnya, walau sesedih dan sedepresif apapun temanya. So yea, bisa jadi karena filmnya memang "bagus secara kualitas", atau sekadar sangat menyenangkan gw, atau dua-duanya, yang pasti gw akan langsung bilang "yes I like that film" tanpa pikir panjang. Dan berikut adalah 25 minus 10 film dari dekade 2000-an yang paling membuat gw merasa demikian.


Sabtu, 22 Oktober 2011

[Movie] Super 8 (2011)


Super 8 
(2011 - Paramount)

Written and Directed by J.J. Abrams
Produced by Steven Spielberg, J.J. Abrams, Bryan Burk
Cast: Joel Courtney, Elle Fanning, Kyle Chandler, Ron Eldard, Noah Emmerich, Riley Griffiths, Ryan Lee


Dengan riwayat yang impresif seperti serial "Alias" dan salah satu serial televisi terbaik yang pernah gw tahu, "Lost", memproduksi Cloverfield, dan juga menyutradarai Mission: Impossible III yang sangat lumayan dan reboot Star Trek yang keren, maka nggak salah dong kalau gw memiliki prasangka baik untuk karya terbaru dari J.J. Abrams, Super 8 ini. Abrams kini harus unjuk gigi dalam karya orisinil, bukan merek waralaba seperti dua filmnya terdahulu...well, sebagai gantinya ada nama Steven Spielberg, hehe. Denger-denger, listen-listen, krungu-krungu Super 8 ini semacam tribut atas film-film fiksi ilmiah klasik Spielberg seperti E.T.-The Extra Terrestrial dan Close Encounters of the Third Kind pada era 1970-1980-an, jadi penonton akan menemukan beberapa kesamaan dalam ketiga film ini, hanya saja Super 8 punya kemasan lebih kontemporer dan tentu saja visual efek lebih maju. Dan, ya, ini film alien ^_^.

Liburan musim panas 1979 di sebuah kota kecil bernama Lillian, Joe (Joel Courtney) dan 3 temannya ikut terlibat dalam proyek film sahabatnya, Charles (Riley Griffiths) untuk ikut festival film amatiran (pake kamera film Super 8, dulu kan blum ada camcorder). Pada suatu malam anak-anak SMP ini mengajak Alice (Elle Fanning), cewek yang ditaksir Joe di sekolah untuk ikut main film zombi-zombian itu dan turut syuting di sebuah stasiun kereta api. Sengaja merekam gambar saat sebuah kereta lewat (demi "production value", hehehe *ketawa aja gw, padahal nggak ngerti juga*), terjadi sebuah kecelakaan hebat yang melululantakan seluruh gerbong kereta api serta stasiun itu dengan hebohnya. Kecelakaan yang aneh, dan lebih aneh lagi karena kemudian datang pasukan angkatan udara AS untuk "mengamankan" situs itu. Keenam anak ini selamat, tetapi tak lama kemudian timbul kejadian-kejadian aneh di kota mereka, mulai mesin mobil dan microwave hilang, anjing-anjing kabur, orang-orang hilang, hingga listrik yang mati-hidup nggak jelas (wah kalau di sini sih sering ya, udah 2011 padahal =P). Ada apa sebenarnya di kereta api itu? Gee, I wonder =D...

Dengan garis besar plot yang mudah ditemukan dalam film-film bertema serupa (ya contohnya E.T. dan Close Encounters tadi), Super 8 sebenarnya hampir just another Hollywood flick. Namun ketika saat-saat ini istilah "Hollywood flick" itu sering diterjemahkan sebagai sajian dangkal gede di efek CGI doangan, Super 8 adalah tipe Hollywood yang konotasinya lebih kolot: menghibur tanpa menciderakan, dengan kata lain film ini seru, visual fantastis, dan yang penting memiliki cerita yang baik pula. Meski bertema alien, film ini dengan bijaksana menampilkan porsi besar pada drama (remaja) yang enak dan nyaman untuk diikuti, kepenasaranan akan adanya makhluk misterius berkeliaran di kota sama excitingnya dengan penantian kita pada bagaimana perkembangan bocah-bocah ini, misalnya benih-benih cinta monyet Joe dan Alice. Inilah salah satu nilai kesuksesan film ini menjadi tontonan yang menghibur, yaitu bagaimana penonton bisa bersimpati pada tokoh-tokohnya, dan peduli dengan apa yang terjadi pada mereka. Tutur kata, tingkah polah serta interaksi para remaja tanggung yang jadi pemeran utama kisah ini ditata dengan sangat baik dan alami ditaburi kelucuan bersahaja di sana-sini. Pada bagian-bagian awal ketika mereka membuat film zombi-zombian itu sangat menarik dan menghibur (nanti di kredit penutup kita bisa lihat hasil akhir film mereka, lucu =)). Memasuki kisah utama, porsi anak-anak ini tetap yang utama dan malah semakin kuat. Bisa-bisanya mereka terus syuting saat bumi lagi gonjang ganjing gitu, menambah production value katanya, hehehe. Walaupun kemudian ada keklisean sedikit (saving the girl from the enemy's lair, and so on, and so on) tetapi setidaknya diceritakan dengan tetap berenergi dan exciting, again that’s because they made us care.

Tadi gw singgung film ini seperti "penghormatan" terhadap Steven Spielberg, antara sengaja atau tidak jadinya  sepanjang nonton ini gw menemukan beberapa aspek yang mirip-mirip dengan film-film Spielberg terdahulu. Mulai dari sepeda (inget E.T.), anak-anak dalam keadaan bahaya (inget Jurassic Park), tokoh ayah yang keluarganya nggak stabil atau nggak utuh (semua film Spielberg), bahkan bagian "memahami" alien dan adegan penutupnya pun sangat mirip sama yang bisa ditemukan di Close Encounters. Kalau dibilang gini jadinya kesannya Super 8 akan jadi kucing-salin (copycat maksudnya =P) belaka, tapi menurut gw bagaimanapun presentasi Super 8 ini tetaplah menyegarkan, tidak asal niru saja. Toh kayaknya memang disengaja, dan oom Spielberg juga sepertinya merestui *yaeyalah, wong dia produsernya* *atau jangan-jangan jadi mirip gara-gara dia =P*, malahan kemiripan-kemiripan itu menimbulkan kesenangan tersendiri apalagi bagi penonton pemerhati (belum tahap nge-fans) Spielberg, semisal gw ini. It was quite nice, actually.

Anyway, selain cerita yang ditata oke, J.J. Abrams mengemas film ini dengan visual yang jernih dan pas, serta, iya betul, masih dengan kesukaannya menampilkan flare—efek yg timbul akibat cahaya-cahaya yang ditembak langsung ke lensa kamera—dengan sengaja, tetapi ya udah lah kalo doi sukanya kayak begitu, menurut gw itu cukup menyenangkan kok, kesannya mengkilap gimana gitu. Visual efeknya pun halus dan tidak mengecewakan, mulai dari adegan kecelakaan kereta yang bombastis hingga animasi makhluk asing yang efektif—walaupun awalnya gw mengira dia mirip yang di Cloverfield (gw selalu curigaan gitu, dulu gw juga kira hewan di planet salju di Star Trek kayak yangg di Cloverfield =P). Tata adegannya tidak sembrono, mulai dari drama, komedi, suspense, hingga aksinya diramu dengan mantap. Adegan paling awalnya keren banget, dan terlihat sekali asiknya mas (bukan haji) J.J. ini dalam mengarahkan filmnya, karena pemeran-pemeran mudanya (yang sebagian besar belum terkenal) tampil dengan sangat nyaman dan menghayati, mengimbangi para pemeran dewasanya. Nah, untuk soal pemeran, perhatian pasti tertuju pada Elle Fanning (yaoloh cepet banget gedenya ya nih anak) yang tampil sangat keren, termasuk saat adegan-adegan syuting—good thing dia nggak se-overacting kakaknya, Dakota =_=. Meski demikian, Joel Courtney yang jadi pemeran paling utama juga berhasil memberi bobot berarti pada perannya, demikian juga Riley Griffiths si pembuat film cilik yang mungkin semacam representasi masa kecil oom Spielberg dan mas J.J.—who knows.

Super 8 mungkin bukan film hebat—terutama mungkin bagian klimaksnya agak kegampangan ya, tetapi tetaplah mengesankan buat gw karena caranya dalam memberi tontonan menghibur, enerjik dan menyenangkan secara keseluruhan. Aliennya bisa jadi tidak terkesan istimewa, tetapi petualangan anak-anak remaja ini dalam mengungkap misteri keanehan kota sekaligus menyelesaikan proyek film mereka (teteup) adalah sajian utama yang memikat. Aliennya kayak cuma menambah production value aja kok =D *lagi-lagi sebenarnya gw nggak tau itu artinya apa, haha*.



My score: 7/10

[Album] Angela Aki - WHITE


Angela Aki - WHITE
(2011 - Epic Records Japan/Sony Music Japan)

Tracklist:
1. 始まりのバラード (Hajimari no Ballad)
2. 津軽海峡・冬景色 (Tsugaru Kaikyou Fuyugeshiki)
3. I Have a Dream
4. フリオ (Julio)
5. My Grandfather's Clock
6. モラルの葬式 -revival- (Moral no Soushiki -revival-)
7. ふるさと~HOME (Furusato~HOME)
8. 目撃車 (Mokugekisha)
9. Honesty
10. One Family


Angela Aki hadir lagi lewat album kelimanya bertajuk WHITE, sebuah album yang terkonsep dengan cukup unik. Judulnya, menurut notes promonya, melambangkan tema "memulai hidup baru" dan "the new you which was already in you" *yah begitulah kira-kira*, maka mbak Angela berusaha merangkai lagu-lagu yang berkaitan dengan tema itu. Akan tetapi satu hal lagi yang lebih "unik" adalah bahwa proporsi album ini separuhnya lagu-lagu baru, dan separuhnya lagu-lagu cover, baik dari artis lain maupun lagu-lagu yang pernah dirilis Angela sendiri, self-cover gitu deh istilahnya. Ada sedikit keheranan kenapa harus begitu bentuk album ini, namun ketika mendengar album ini secara utuh, sebagai pendengar yang selama ini terpuaskan oleh karya-karya Angela sebelumnya, keheranan itu tertutupi oleh kenikmatan lagu demi lagu yang dihadirkan.

Sebenarnya secara musikalitas apa yang dibawakan Angela dalam album ini tidaklah benar-benar baru, piano masih mendominasi lagu-lagunya yang bernada dan berirama pop easy listening sebagaimana pernah dilakukannya sebelum ini, tetapi dengan beberapa pengecualian. Lagu bernuansa ceria "Julio" menanggalkan piano, digantikan dengan gitar dan organ. Lalu ada versi terbaru "Moral no Soushiki" (aslinya dari album kedua, TODAY) yang ditemani piano dan vokal a cappela dinamis yang menimbulkan kesan "etnik", mengingatkan gw pada yang dilakukan Björk yang pernah membuat sebuah album yang musik pengiringnya berupa vokal orang, yah tapi lagu ini gak sampe segitunya sih, hehe. Eksperimen Angela tak berhenti di sana, kali ini dia menempelkan single perdananya "HOME" (aslinya dari album pertama, Home) dengan lagu anak-anak tradisional Jepang "Furusato" yang *kayaknya* dinyanyikan oleh paduan suara remaja, ternyata nyambungnya asik juga, meski tetap membawa nuansa mengharukan seusai liriknya yang mengisahkan tentang kampung halaman.

Gw tadi udah nyebut 2 lagi self-cover, gak lengkap kalau tidak menyebut 3 lagu cover lainnya. 2 dari lagu-lagu cover tersebut berbahasa Inggris, "My Grandfather's Clock", lagu tradisional Inggris yang juga pernah dibuat versi bahasa Jepang dan dipopulerkan oleh Ken Hirai, serta lagu lawas milik Billy Joel, "Honesty", keduanya dibawakan dengan vokal Angela dan pianonya saja. Lagu cover satunya lagi, "Tsugaru Kaikyou Fuyugeshiki", juga dengan komposisi yang sama, namun perlu diketahui bahwa lagu ini aslinya adalah lagu enka (pop-tradisional Jepang, setara country kalo di AS atau kroncong/dangdut kalo di kita) terkenal milik Sayuri Ishikawa, but Angela nailed it as her own. Dibawakan dengan penjiwaan garang ala Angela dan nada-nada yang lebih pop membuat lagu ini jadi highlight paling terang album ini. Keren.

Lagu-lagu baru (yang bukan cover) sebenarnya nggak terlalu exciting menurut gw. "Hajimari no Ballad", "I Have a Dream" dan "One Family" adalah lagu-lagu yang Angela-Aki-banget, lirik-lirik inspiratif dengan aransemen kalem namun maksimal, but it's like I've heard them before. Akan tetapi lagu baru sisanya, "Julio" tadi dan "Mokugekisha" sangat menarik perhatian gw, karena Angela memilih cara berceritera lewat dua lagu ini. "Julio" yang terkesan ceria dan catchy sekali ini memuat kisah yang dalem tentang kehidupan seseorang bernama Julio yang tumbuh nggak pedean karena selalu dibilang "nggak mungkin" sama orang-orang sekitarnya, namun kemudian coba menebusnya dengan terus menyemangati anaknya yang baru lahir, Mari. Tak hanya isi ceritanya, tetapi cara merangkai kata-katanya menurut gw cerdas dan berima (Julio dan Mari yo =D). Demikian pula lagu "Mokugekisha" (artinya "witness/saksi", tapi kanji buntutnya diubah jadi huruf 'mobil' ^_^) yang mengambil sudut pandang sebuah mobil tua yang menjadi saksi bisu perubahan yang dialami pemilik-pemiliknya, now that's quite original.

Meski sekilas tampak senada dengan album-album sebelumnya, WHITE tetap menampilkan sesuatu yang baru, dan gw salut pada keberanian Angela untuk hal yang satu ini. Konsep yang ditawarkan ternyata dieksekusi dengan bertanggung jawab dan tidak mengecewakan. Akibatnya, bagi yang mengikuti karya-karyanya selama ini akan merasa sayang melewatkan yang satu ini. Meskipun masih ada yang "lagu baru gaya lama", album ini secara keseluruhan memberikan kesegaran yang berbeda dari album-album sebelumnya, untungnya kesegaran itu menyenangkan, tengoklah track "Tsugaru Kaikyou Fuyugeshiki", "Julio", dan "Moral no Soushiki -revival-" yang jadi favorit gw kali ini sebagai buktinya. Urutan lagunya pun pas menurut gw, tidak menjenuhkan dan tidak terasa kecepetan meski cuma 10 lagu. Musiknya ramah di kuping, dan (bagi yang mau memperhatikan) liriknya pun indah dan keren-keren, menginspirasi, menunjukkan kematangan Angela sebagai seorang musisi. 5 albums already and never dissapointing, bravo! =)



My score: 7,5/10


Angela Aki



Previews, courtesy of YouTube

Minggu, 16 Oktober 2011

My Top 100 Films of the 2000's: Part 3 (no. 50-26)

Halo...Lama ya? *kedip-kedip innocent* Maap, maap, kehidupan nyata yang keras tengah membebani saya selama beberapa minggu terakhir jadi nggak bisa update blog secepat mungkin, terutama yang lanjutan My Top 100 Films ini *alasan*. Anyway, pada bagian ketiga ini kita masuk pada 50 besar. Kalau gw liat daftar di bagian ini, semakin banyak film yang gw sangat nikmati meski sudah ditonton berulang kali, genre maupun bahasa/negara asalnya juga rupanya cukup variatif. Gw sih merasa seneng dan puas liat 50 besar ini (sampe no. 1 tentu saja), bagaimana dengan Anda? =)

Selasa, 04 Oktober 2011

[Movie] The Sorcerer and The White Snake (2011)


白蛇传说 (Bái Shé Chuán Shuō)
The Sorcerer and the White Snake
(2011 - Distribution Workshop/China JULI Entertainment Media)

Directed by Tony Ching Siu-Tung
Screenplay by Zhang Tan, Tsang Kan-Cheong
Produced by Chui Po Chu
Cast: Jet Li, Eva Huang, Raymond Lam, Charlene Choi, Wen Zhang


Jargon berbalasan "suamikuh" dan "istrikuh" begitu melekat pada sinetron Mandarin yang diberi judul “White Snake Legend” (terjemahan dari judul aslinya sih "The Serpentine Romance") yang pernah ditayangkan SCTV pada jam primetime pada paruh awal dekade 1990-an tak lama setelah stasiun ini “merdeka” dari RCTI. Sinetron yang—setelah diulik-ulik di internet—berasal dari Taiwan ini sangat populer, bukan hanya karena gw sekeluarga rajin nonton *hehe*, tetapi efeknya begitu luar biasa hingga sering dijumpai pernak-pernik bergambar tokoh-tokoh sinetron ini (stiker, poster, buku tulis, dll), bahkan dicomot jadi lagu anak-anak yg dinyanyikan grup Trio Laris yang beranggotakan 4 anak (ya, saya juga bingung) cewek salah satunya adalah sekarang vokalisnya Ecoutez. Yes, it was that popular, kids—dulu sesuatu baru sah dikatakan "hits" kalau sudah ada lagu anak-anaknya, contoh lain adalah "Iguana" dan "Lemon Tree", mampus gak loe. Nah, meski hanya versi itu yang fenomenal di negeri kita, di tanah bangsa China sendiri legenda siluman ular putih ini memang sangat terkenal dan sering sekali diangkat dalam media fiksi. The Sorcerer and the White Snake adalah versi teranyar produksi Hong Kong dan RRC dengan nilai jual yang lumayan nggak main-main: efek CGI melimpah dan Jet Li.

Kalau dari ceritanya tidak banyak berubah. Bai Su Zhen (Eva Huang) yang disini dipanggil Su Su namun dengan egois diganti oleh penterjemah kita jadi Xu Xu *bwehehe*, adalah siluman ular putih (makhluk gaib yang wujud aslinya hewan tetapi sakti mandraguna sehingga bisa berubah wujud jadi manusia, kira-kira begitu) yang jatuh cinta dan kemudian menikah dengan seorang pria (manusia) letoy pembuat jamu, Xu Xian (Raymond Lam, kali ini emang beneran laki yang main), hanya saja si suami tidak tahu-menahu sosok asli Su Su. Namun, sesuai judul Inggrisnya film ini juga cukup banyak menekankan pada sosok Fa Hai (Jet Li), sang biksu sakti yang bertugas membasmi siluman yang membuat kekacauan di dunia manusia. Kita akan melihat beliau berkelana unjuk keahlian untuk "meluruskan" siluman-siluman yang "menganggu" manusia, hingga pada akhirnya ia menemukan Su Su yang telah melanggar kodrat dengan menikah dengan manusia. Meski Su Su dilihat tidak jahat, bahkan membantu usaha suaminya membuat ramuan jamu yang ampuh melawan wabah yang disebabkan siluman, Fa Hai tetap pada prinsipnya harus mengembalikan Su Su ke alamnya. Tentu saja usaha ini disambut dengan perlawanan baik dari Su Su, sang suami yang gak bisa apa-apa kecuali kemauan dan cinta *eaa*, juga sang soul sister Qing Qing (Charlene Choi) si siluman ular hijau.

Maksud gw dengan kata "perlawanan" adalah pertarungan sakti sesakti-saktinya antara pihak Fa Hai dan pihak siluman yang digarap ajaib terima kasih pada teknologi CGI. Pada sebagian besar filmnya gw rasa penggunaan aura-aura dan energi-energi tenaga dalam lewat bentuk visual itu cukup berguna bagi film legenda ajaib semacam ini. Tapi pada akhirnya film ini jadinya seperti yang gw takutkan, penggunaan CGI (meskipun tetap jauh lebih bagus daripada CGI di sinetron-sinetron siluman lokal di Indosiar *yaiyalah*) nampaknya merangsang si pembuat film semakin liar tak karuan dalam menampilkan visual gaibnya, terutama di duel akhir Su Su vs Fa Hai yang over-the-top banget. Kelebaian itu mungkin berhasil untuk Kung-Fu Hustle yang komedi top to bottom, tetapi untuk film yang banyak adegan aksi yang bermotivasi cinta? Hmmm. Eh ada tambahan adegan dua orang yang saling mencinta menatap nanar, slow motion, diiringi lagu ballad dinyanyikan berbalasan oleh vokal pria dan wanita di background. Hadeuh...

Pada hasil akhirnya, film ini hanyalah untuk hiburan dan bertujuan "meramaikan kancah film Asia" + "pake CGI". Adegan-adegan aksinya cukup seru di beberapa tempat tetapi tidak cukup untuk memuaskan apalagi sampai diingat (btw gw ketinggalan pertarungan Fa Hai vs gadis salju di awal, telat *malu*). Beberapa gambar dan adegan ada sih yang lumayan bagus dilihat, ada sisi komedi yang juga lumayan (paling sering dari tokoh Qing Qing dan Neng Ren), tetapi sayangnya tidak dimaksimalkan. Padahal secara cerita film ini berpotensi. Anggaplah siluman itu kayak mutant di X-Men, film ini mengandung pertanyaan apakah adil bila semua siluman dicap membahayakan sehingga harus dibasmi padahal mereka juga punya hati dan belum tentu berbuat jahat. Adegan pertemuan awal Fa Hai dan Su Su menyinggung hal ini, adanya tokoh Neng Ren (Wen Zhang) murid Fa Hai yang jadi korban hingga berubah jadi siluman pun harusnya menguatkan hal tersebut, akan tetapi sisi lumayan kritis ini diabaikan begitu saja demi, yah itu tadi, kemewahan visual semu. Jika ada satu hal yang berhasil buat gw, adalah bahwa film ini tidak membuat gw mudah berpihak pada Fa Hai atau ular putih. Su Su memang tampak terdzalimi tetapi, hei, doi nipu suaminya gitu. Fa Hai pun tidak digambarkan "antagonis" semata, tetapi bahwa dia melakukan dengan setia apa yang menjadi tugasnya, tidak membabibuta.

Gw sebenernya pingin banget tidak membenci film ini. Selain nilai nostalgia pada legendanya, filmnya sendiri tidaklah menyebalkan, poin-poin legendanya tidak terlalu menyimpang dari yang gw ketahui. Hanya saja, film ini jelas bukan film yang bagus. Bolehlah ditonton kalo nanti tayang di TV, cukup menghibur kok, kecuali adegan klimaksnya yang terlalu ambisius itu, tetapi untuk menjadi "fenomenal" jelas materinya kurang banget. Resep fenomenal tidak melulu berdasarkan besarnya penggunaan efek visual, you know. Penampilan Jet Li tidaklah istimewa, demikian juga Eva Huang dan kawan-kawannya. Jangan harap gw akan ingat terus film ini sebagaimana gw mengingat versi sinetronnya zaman dulu itu. Btw, menampilkan adegan ciuman bawah air yang diulang 4 kali itu juga tidak membantu meningkatkan sisi romantis lho, sama sekali. Camkan itu.



My score: 5,5/10