Kamis, 29 September 2011

[Album] Tokyo Incidents - Daihakken



東京事変 - 大発見
Tokyo Incidents (Tokyo Jihen) - Daihakken (DISCOVERY)
(2011 - Virgin Music/EMI Music Japan)

Tracklist:
1. 天国へようこそ For The Disc (Tengoku e Youkoso For The Disc / Where's Heaven For The Disc)
2. 絶対値対相対値 (Zettaichi tai Soutaichi / Relative vs. Absolute)
3. 新しい文明開化 (Atarashii Bunmei-kaika / Brand New Civilization)
4. 電気のない都市 (Denki no Nai Toshi / City Without Electricity)
5. 海底に巣くう男 (Kaitei ni Sukuu Otoko / Regardez Moi)
6. 禁じられた遊び (Kinjirareta Asobi / Jeus Interdits)
7. ドーパミント! BPM103 (Dopa-Mint! BPM103)
8. 恐るべき大人達 (Osorubeki Otonatachi / Les Adultes Terribles)
9. 21世紀宇宙の子 (Nijuuisseiki Uchuu no Ko / Child Of The 21st Century Universe)
10.かつては男と女 (Katsute wa Otoko to Onna / Un Homme Et Une Femme)
11. 空が鳴っている (Sora ga Natteiru / Reverberation)
12. 風に肖って行け (Kaze ni Ayakatte Yuke / Go With The Wind)
13. 女の子は誰でも (Onna no Ko wa Daredemo / Fly Me To Heaven)
14. 天国へようこそFor The Tube (Tengoku e Youkoso For The Tube / Where's Heaven For The Tube)


Ada yang berbeda dari album ke-5 dari Tokyo Incidents ini. Pertama, dari susunan penulisan track-track-nya yang tidak lagi "berbentuk simetris" seperti keempat album sebelumnya. Sebagai gantinya, semua judul terdiri dari 7 karakter (termasuk tanda baca dan spasi), kecuali embel-embel tambahan di judul track 1 dan  14 serta track 7 #o# *pusing liat kanji penuh amat*. Kedua dan yang paling krusial adalah, setelah menelurkan 4 album yang keren-keren, akhirnya mereka sukses menunjukkan sisi lain dari Tokyo Incidents, yaitu mereka bisa juga bikin album yang membosankan. Padahal baru setahun yang lalu (album Sports) gw memuja-muji kemampuan 5 musisi ber-skill sedeng ini dalam menghasilkan karya yang tak berulang dan selalu exciting. Yah, kesempurnaan bukan milik manusia memang #eaa. Mungkin Daihakken adalah fase ketika Tokyo Incidents agak kurang energi (sekadar klarifikasi, ya, gw udah dengar album ini lebih dari 4 kali, sebagaimana saran dari gw sendiri perihal tata cara "mendengarkan Tokyo Incidents" =P).

Secara setelan sih musik mereka tidak ada yang berubah, rock-jazz-pop. Sesungguhnya album ini dibuka dengan meyakinkan oleh track "Tengoku e Youkoso (Where's Heaven) For The Disc" yang memasukkan unsur digital dan beat ala padang pasir (maksudnya ke-Arab-Arab-an gitu). Namun beberapa track selanjutnya kebanyakan yang gw dengar hanyalah sengauan terseret (mungkin maunya lebih lembut tapi jadinya terdengar malas) dari Shiina Ringo dan bunyi-bunyian musik yang nggak terlalu baru sehingga tidak lagi muncul excitement yang biasanya ada setiap gw denger albumnya Tokyo Incidents. Aneh sih tetep aneh, tapi kali ini "aneh"-nya kurang nikmat. Album ini seperti "nggak enak badan", nggak cihuy, bahkan untuk lagu kenceng sekalipun (contoh paling kentara adalah track "Zettaichi tai Soutaichi (Relative vs. Absolute)", "Kaitei ni Sukuu Otoko (Regardez Moi)", "Kinjirareta Asobi (Jeus Interdits)" dan single "Sora ga Natteiru (Reverberation)"), dan keberadaan 14 butir lagu turut mendukung godaan untuk bilang "kapan selesainya ini?".

Kesannnya afgan banget ya gw (maksudnya sadis *eaa* *bahasa transaksi facebook* *cek inbox sizt*), namun itu mungkin sebentuk keprihatinan gw terhadap materi yang ditawarkan Tokyo Incidents kali ini. Sesungguhnya album ini nggak jelek-jelek amat, secara kualitas sama sekali tidak terjun bebas, cuma karena ini "Tokyo Incidents gitu loh" jadi jatuhnya agak mengecewakan kalau gw nggak sampe bilang "anjrit keren banget" sambil nyengir geleng-geleng. Masih ada lah beberapa track yang gw nikmati bahkan gw suka sekali. "Denki no Nai Toshi (City Without Electricity)" adalah ballad yang keren dan langsung nempel di kuping gw, begitu juga "tribut" mereka terhadap musikal Hollywood di lagu "Onna no Ko wa Daredemo (Fly Me To Heaven)" yang megah dan mengasyikan berkat dukungan jazz orchestra kumplit. "Dopa-Mint" yang juga menyentuh jazz tradisional, serta "Osorubeki Otonatachi (Les Adultes Terribles)" yang  groovy menjadi lagu-lagu favorit gw selanjutnya. Sisanya, gw rasa  agak maksa aja, terutama di paruh akhir album ini. Nuansa musik-musik-nya memang pernah muncul dalam karya-karya sebelumnya (sangat menyayangkan lagu "21-seiki Uchuu no Ko (Child Of The 21st Century Universe)" yang terlalu mirip single "Senkou Shoujo (Put Your Camera Down)" di album Sports, sekuelnya nih ceritanya?), tetapi pengulangan bukanlah masalah utamanya, melainkan itu tadi, seperti kurang energi, kurang segar, kurang nendang, kurang gila. Bisa saja, mungkin nih, mereka ingin mencoba membuat musik yang lebih kalem. Well, sorry, hasilnya lebih ke malas daripada kalem.

Ya okelah nggak papa, Tokyo Incidents buat gw tetap artis/band hebat. Mereka sudah bikin 4 album yang rata-rata sama bagusnya, dan baru "rada kecape'an" di album ke-5, itu tetap sebuah prestasi—kan banyak tuh yang baru album ke-3 bahkan ke-2 udah loyo. Gw tetap menunggu karya mereka selanjutnya yang gw harapkan akan bangkit lagi energinya. Daihakken tidak jelek secara struktur, namun tersirat kelunglaian dalam proses kreatifnya *apa seh*. Lagu-lagunya sebagian tidak istimewa, dan gw lumayan agak menyalahkan vokal Shiina Ringo yang mayoritas, yaoloh, semangat dikit kek mbak, lemes amat. Meski demikian, rangkaian, or should I say "tabrakan" lantunan instrumen gitar-bass-keys-drum-nya masih bisa diapresiasi, sayangnya kata-kata "anjrit keren banget" itu hanya berlaku pada beberapa track dan tidak pada album secara keseluruhan. It's really not bad, but definitely their worst work. Hanya berkesan pada beberapa track, malah kesan yang lebih kuat adalah ini album Tokyo Incidents paling boring jika dijajarkan dengan diskografi hebat mereka.



My score: 6,5/10


東京事変 / Tokyo Incidents

Previews (from YouTube)

Sabtu, 24 September 2011

My Top 100 Films of the 2000's: Part 2 (no. 75-51)

Hai hai, maaf kalau agak lama. Melanjutkan daftar 100 film dekade 2000-2009 paing top versi gw, berikut akan gw gelar 25 film selanjutnya, dari posisi 75 hingga 51, sebelum nantinya kita masuk ke 50 besar. Film apa sajakah itu, mangga atuh diklik read more nya =):

Sabtu, 17 September 2011

[Movie] Rise of the Planet of the Apes (2011)


Rise of the Planet of the Apes
(2011 - 20th Century Fox)

Directed by Rupert Wyatt
Written by Rick Jaffa, Amanda Silver
Suggested by the novel "La Planète des Singes (Planet of the Apes)" by Pierre Boulle
Produced by Peter Chernin, Dylan Clark, Rick Jaffa, Amanda Silver
Cast: James Franco, Andy Serkis, Freida Pinto, John Lithgow, David Oyelowo, Brian Cox, Tom Felton, Tyler Labine


Pengetahuan seri film Planet of the Apes gw hanya sebatas berita saja, bahwa dulu ada film fiksi ilmiah cukup terkenal tentang planet yang dihuni primata berperadaban layaknya manusia modern, dengan aktor-aktor Homo sapien ditutup make-up kera, yang filmnya bersekuel-sekuel, dan...eh ternyata gw pernah nonton deing remake versi Tim Burton tahun 2001—yg Mark Wahlberg ciuman sama simpanse (Helena Bonham Carter dalam make-up sih tapi tetep aje...). Gw tadinya gak cukup yakin dengan kemunculan Rise of the Planet of the Apes (selanjutnya disebut ‘Rise’ aja ya, rempong cyin =p), abisnya Hollywood kebiasaan banget sekarang nebeng film-film yang udah jadi “merek” terkenal buat ngeraup hepeng, entah remake, sekuel, atau ribut reboot alias mulai-ulang, contohnya Batman Begins, Star Trek, X-Men: First Class (untung 3 film ini bagus), serta Rise ini. Jadi kalo Anda cek wikipedia tentang film Planet of the Apes pasti udah tau spoiler endingnya yg katanya mengejutkan itu. Nah, Rise menarik jauh ke belakang, bagaimana awalnya bisa-bisanya kaum kera (simpanse, gorila, orang utan dsb, bukan monyet lho) menjadi penguasa Bumi dan manusia jadi sedikit jumlahnya, tak beradab pula—jadi jangan heran kalo kera-keranya masih berwujud, well, kera. Akan tetapi, rupanya Rise menjadi salah satu film bioskop yang sama sekali tidak membuat rugi uang apalagi waktu sepanjang tahun 2011 ini. Siapa sangka Rise adalah film yang digarap baik dan hasilnya keren lho.

Cikal bakal "planet kera" itu ada pada eksperimen perusahaan farmasi Gen-Sys di San Francisco AS dalam menemukan obat penyakit Alzheimer (semacam penurunan fungsi/regenerasi sel otak yang menyebabkan pikun akut, or something like that *sok tau banget gw*). Dr. Will Rodman (James Franco) mengujicobakan formula ALZ-112 kepada seekor simpanse yg dipanggil Bright Eyes (Terry Notary), hasilnya menunjukkan kecerdasan yg meningkat luar biasa pada simpanse betina itu. Namun, ketika rapat dewan komisaris demi menyetujui produksi formula itu, Bright Eyes mengamuk dan memporakporandakan Gen-Sys. Direktur Gen-Sys, Steven Jacobs (David Oyelowo) memerintahkan penutupan penelitian ALZ-112, dan semua kera percobaan dimatikan. Rupanya, Bright Eyes saat itu tengah menyembuyikan dan melindungi anaknya. Rodman memutuskan membawa pulang simpanse kecil yang kemudian dinamai Caesar itu (Andy Serkis). Yang terjadi kemudian, kemampuan “super” Bright Eyes ternyata menurun pada Caesar yang menunjukkan perkembangan  luar biasa, kemampuan dan kecerdasannya menyamai manusia (tinggal berbicara saja yg nggak bisa, pake bahasa isyarat). Rodman dan sang ayah (John Lithgow) yang menderita Alzheimer merawat, membesarkan serta menganggapnya bagai keluarga, demikian pula Caesar menganggap mereka.

Masalah datang sekitar 8 tahun kemudian, ketika Caesar sudah berumur dewasa dan, mungkin akibat kemampuan otaknya yg ekstensif, mulai mencari-cari jati diri, mempertanyakan keberadaan dan posisinya di tengah-tengah keluarga dan lingkungan manusianya. Ketika Rodman mulai mengembangkan kembali obat Alzheimer dengan formula baru ALZ-113—yang lebih kuat daripada yg 112, Caesar ditangkap dinas penanggulangan hewan karena menyerang tetangga yang ngebentak papanya Rodman yg kambuh penyakitnya. Di penampungan ini (yang turut dijaga Draco Malfoy beraksen Amerika =P) Caesar "dijebloskan" dan dipertemukan dengan berbagai spesies kera yang dikurung bagai penjara. Kabur dari tempat itu jelas sudah dalam rencana Caesar, tentu saja, namun tidak hanya itu, ia juga merancang sebuah gerakan kera merdeka atas manusia yang telah mengancam dan membatasi hak hidup mereka selama ini.

Pertayaan soal plausibilitas “emang bisa kera kayak gitu?” jelas tidak relevan, namanya juga fiksi ilmiah ya bisa-bisa aja =P. Nah setelah melepas bagian itu, ada satu kata yang tepat dalam mendeskripsikan Rise: efektif. Dengan singkat dan padat, film ini berhasil dalam menonjolkan poin-poin penting sebab-akibat dalam jalan ceritanya. Memang alurnya cepat, nggak basa-basi, perpindahan rentang waktunya lompat-lompat, namun setiap adegannya dibuat se-intensif mungkin dalam memperlancar plot tanpa ada kesan terburu-buru sedikit pun, serta memberikan waktu bagi penonton untuk mencerna kisahnya dengan baik. Tak perlu panjang-panjang, tak perlu sibuk berkutat pada hal-hal dan tokoh-tokoh tak penting (tokoh-tokoh tak penting memang ada *ehem Freida Pinto* tetapi porsinya nggak mengganggu), Rise maju lancar jaya dalam menyajikan tontonan efektif yang memuat berbagai flavour, mulai dari isu kemanusiaan vs hak satwa, fiksi ilmiah, drama keluarga, hingga thriller cenderung horor (simpanse agresif itu serem lho mnurut gw), sampai tiba pada bagian action yang keren nan memacu kekaguman dan excitement. Gw suka bagaimana sutradara menjaga ritmenya. Inilah kesuksesan utama film ini, yaitu efektivitas penceritaan, baik akibat naskah yang ringkas maupun eksekusi yang baik, tidak loyo namun tidak juga lebay, pas banget.

Salah satu bukti baiknya penggarapan film ini adalah pada bagian-bagian yang tidak melibatkan manusia, yakni bagian-bagian Caesar dan kera-kera lainnya, meski tanpa dialog aktif, namun apa yang terjadi dan mereka lakukan bisa dimengerti dengan mudah, malah melibatkan penonton juga secara emosional. Caesarnya itu lho, udah lah pinter, sopan—pake celana, berakhlak pula =), dia tidak pernah berniat membunuh manusia, mungkin karena manusialah (Rodney dan keluarga) yang berjasa pada hidupnya. Berasa pengen miara juga deh...eh, gak deing, serem =P. Iya, di saat yg sama film ini sukses menggambarkan ketakutan manusia pada perilaku agresif Caesar—dan kera lainnya. Belum lagi, segala perstiwa ini adalah karena perbuatan manusia juga. Lagi-lagi melalui film kita diperingatkan, kemungkinan besar kehancuran umat manusia (sooner or later) adalah karena perbuatan manusia sendiri.

Anyway, unsur-unsur lain dalam film ini tampil sebagai pelengkap yang memadai. Visualnya lumayan, para aktor tidak ada yg istimewa tetapi tidak menciderai keseluruhan film. Kali ini tokoh-tokoh keranya masih dimainkan oleh aktor, tetapi ketimbang make-up/kostum berbulu, sekarang pake teknologi motion-capture sebagaimana yg digunakan di The Lord of The Rings pada tokoh Gollum (Andy Serkis), King Kong (Andy Serkis lagi), dan Avatar (bukan Andy Serkis =P), jadi gambar yg tampil itu animasi computer-generated yang digerakkan oleh tubuh dan raut muka aktor. Masih keliatan sih kalo itu “bo’ongan” dan gerak-geriknya juga terlalu “orang”, namun sudahlah yang penting itu mendukung ceritanya (kalo Caesar bisa dimaklumi, bisa jadi karena dia berpikir seperti orang). Gw pun menangkap detail yang cukup menarik, bahwa kera yang “berevolusi” intelektualnya warna matanya berubah, sorot matanya pun berbeda (yang ditampilkan dengan baik sekali oleh Serkis dan tim animasinya). So it’s true that someone’s intelligence is reflected through their eyes...

Rise mungkin akan terasa belum tuntas pada akhirnya, karena memang ini belum sampai pada bagian kera menaklukkan Bumi. Meski demikian, Rise tetaplah film yang memuaskan. Cerita yang kuat, visual yang cukup oke, dan terutama keseruan yang ditampilkan dengan dahsyat membuat film ini menjadi hiburan yang tak patut dilewatkan begitu saja. Kenapa di posternya ada jembatan Golden Gate? Karena adegan klimaks di situ awesome mampus, kawan =).




My score: 7,5/10

Jumat, 09 September 2011

My Top 100 Films of the 2000's: Part 1 (No. 100-76)

Sebagaimana sudah dijelaskan di pembukaan, yuk langsung mari kita mulai hitungan mundur 100 film-film keluaran sepanjang tahun 2000 hingga 2009 paling top versi saya. Kita mulai dari 25 film terbawah, nomor 100 hingga 76 =) :

My Top 100 Films of the 2000's: Foreword

Memasuki dekade 2000-an adalah masa ketika gw benar-benar memberi perhatian lebih terhadap yang namanya film. Sebelumnya sih memang sudah kenal dan nggak jarang nonton film baik di bioskop maupun video, tetapi sekitar masa yang sering disebut "milenium baru" itu, ketika gw SMP sampe lulus kuliah, gw baru mulai mencari-cari informasi mengenai filmterutama Hollywood karena paling gampang ditemukanbaik via internet, maupun lewat majalah khusus film secara rutin (majalah film pertama yg gw beli yg depannya C itu loh, waktu masih dwimingguan), gak cuma tergantung sama Cinema Cinema nya RCTI aja ^_^;. Saat itulah bisa dianggap gw memasuki fase menjadi "penggemar film", gw akhirnya tau "hobi gw" yg sesungguhnya. Gw mulai menonton lebih banyak film, jadi anggota di rental VCD, lebih sering beli VCD dan (belakangan) DVD, bahkan sampe minta dibeliin VCD player portabel buat ditonton di jalan pas mudik lintas Pantura (untung dikasih =)), bikin review-review-an, nyimpen semua tiket nonton bioskop, rutin beli majalah film dan pasang poster bonusannya di kamar, tebak-tebakan pemenang Oscar, bolos kuliah buat nonton Oscar, bela-belain ke negara tetangga buat beli DVD doang, hingga akhirnya di penghujung dekade itu (2009) gw mulai menjajaki blog ini yang sedikit banyak membahas film. Jadi dekade 2000-an yang lalu inilah gw melek film.

Karena "bertumbuh" di periode tersebut, tak heran jika film-film yang paling gw kenal adalah film-film yang dirilis tahun 2000-an ke atas. Wawasan terhadap film yang muncul sebelum itu sangat terbatas, yah tapi kalo Jurassic Park, The Lion King, The Matrix, Titanic doang mah tahu lah, I'm not that remote you know, hehehe. Beberapa film yang paling gw suka juga banyak munculnya di antara tahun 2000 hingga 2009. Nah dalam rangka memasuki dekade 2000-belasan (dijit kepala 1, udah tahun kedua nih) sebagai semacam refleksi terhadap kesukaan gw pada film pada masa-masa itu...serta meniru-niru pembahas-pembahas film lain di luar sana yang membuatnya lebih dahulu (^_^), gw akan membeberkan film-film di dekade 2000-2009 (10 tahun) yang paling berkesan buat gw, baik film Internasional (Hollywood, Eropa, Asia dst) maupun Indonesia, sebanyak 100 film. Berapa? Seratus. Berapa? Cepek. Lumayan ye ^_^.


Ternyata ngumpulin 100 film yang benar-benar berkesan dan rasanya pantas untuk duduk di peringkat 100 besar itu nggak mudah. Gw harus menaikkan kriteria bukan sekedar bagus atau suka saja, tetapi yang memorablenggak gampang dilupakan, tidak lekang waktu, pokoknya gw bangga kalo menyatakan gw menyukai film-film itu. Tapi saking gw sesungguhnya (ternyata) belum terlalu buanyak nonton film, waktu coba dikumpul, jumlah yang "pantas" itu gak sampe 100. Akhirnya gw selama hampir setahun ini berusaha menambah wawasan dengan menonton film-film keluaran 2000-2009 yang belum sempat gw tonton sebelumnya, yang kira-kira bisa masuk ke 100 besar versi gw ini, ditambah juga menonton ulang film-film yang sudah pasti masuk daftar, terutama yg nontonnya sudah agak lama, demi menyegarkan ingatan dan meyakinkan posisi peringkatnya *kucek-kucekmata*that explain may fast-growing points on Miso =D.

Sistematika penulisan senarai kali ini akan gw uraikan dalam urutan mundur, dan terbagi lima bagian yang akan diposting secara berangsur mulai September ini sampai (moga-moga) November 2011. Setiap bagian akan berisi 25 film dan sedikit komentar dari gw, kecuali pada bagian keempat akan berisi 15 film (25-11) dan bagian terakhir tentu saja 10 besar (10-1). Perlu diketahui bahwa dasar pengurutannya tidak sesulit mengumpulkan daftarnya, hehe, cuman berdasarkan preferensi pribadi saja: yang peringkatnya makin tinggi berarti lebih bagus (menurut gw), lebih gw suka, lebih berkesan, lebih membanggakan daripada yang peringkat sebelumnya (pun tidak tergantung skor filmnya kalau ternyata sudah pernah gw ulas). Selera gw nyatanya gak aneh-amat amat (tapi dibilang cemen ya nggak juga *membeladiri*), banyak sekali film populer yang masuk daftar gw, karena memang gw menganggapnya pantas. Pasti pada kenal lah judul-judulnya, selera gw emang pasaran, hihi. Film yang dianggap remeh atau tidak dikenal banyak orang tapi ternyata gw suka ada juga di dalamnya, tapi kayaknya tidak banyak. Sebaliknya, ada pula film-film yang kayaknya semua orang suka tapi gw enggak *ehem The Departed ehem*, ya gak gw masukin lah, gak suka mah gak suka aja, sori sori jek =P. Tapi bisa jadi film2 yang Anda anggap pantas masuk top 100 tapi tidak ada, mungkin juga karena gw belum nonton, it's possible =).


Sebagai keterangan tambahan, gw akan menuliskan juga di tiap judul film tahun rilis resminya, sutradaranya, beberapa aktornya, serta, dalam rangka menjadikan ini kilas balik pribadi, bagaimana gw pertama kali menontonnya =D (harusnya pake tahun juga, tapi banyak yg lupa, hehe). Oh ya untuk mencegah repetisi serta pemborosan ruang, gw juga membatasi film-film yang bersekuel/beseri, meski jikalau gw menyukai semua serinya sekalipun, gw hanya akan menempatkan salah satunya saja yang menurut gw paling top. Agak berat sih tapi ya perut keputusan saya sudah bulat. Biar adil gimana gitu deh.

Btw, MUNGKIN saja gw mengadakan kuis berhadiah bagi Anda semua penyimak blog ini, berkaitan dengan peluncuran Top 100 Films ini. MUNGKIN saja. Nanti saya kasih tahu lagi deh kalo jadi. Ini baru MUNGKIN lho. Fufufu *tertawasinisalakomikJepangterjemahan*

So, without further ado, silahkan ditilik senarai Top 100 Films of the 2000's versi saya. Mari...

Sabtu, 03 September 2011

[Movie] Rango (2011)


Rango
(2011 - Paramount/Nickelodeon Movies)

Directed by Gore Verbinski
Story by John Logan, Gore Verbinski, James Ward Byrkit
Screenplay by John Logan
Produced by Gore Verbinski, Graham King, John B. Carls, Jaqueline M. Lopez
Cast: Johnny Depp, Isla Fisher, Ned Beatty, Abigail Breslin, Bill Nighy, Alfred Molina, Harry Dean Stanton, Ray Winstone, Timothy Olyphant


Seekor bunglon kesepian dan agak delusional (Johnny Depp) yang tadinya tinggal di akuarium milik manusia mengalami kejadian lalu lintas sehingga ia harus terlempar dari mobil majikannya ke jalan...yang adalah gurun nan terik dan kering. Lewat petunjuk seekor armadillo tua (Alfred Molina), si bunglon memberanikan diri mengarungi padang pasir nan kejam hingga dapat sampai ke kota koboi Dirt demi mendapat air. Di kota lusuh itu si bunglon mengaku-ngaku bernama Rango, jago tembak dan pernah berhasil mengalahkan geng penjahat tersohor hanya dengan 1 peluru. Karena sebuah peristiwa yang (sedikit banyak) mendukung kisahnya, Rango pun akhirnya diangkat oleh walikota kura-kura (Ned Beatty) sebagai aparat penegak hukum/sheriff baru kota Dirt. Rango yang sebenarnya cuman pandai bersilat lidah ini pun harus menghadapi masalah utama kota Dirt: air. Rupanya warga Dirt sedang kesulitan air dan hanya mendapat giliran bagi2 air dari walikota setiap hari Rabu, boro2 dapat mengairi tanah ladang semisal milik kadal gurun betina Beans (Isla Fisher)—malah tanahnya ditawar walikota untuk dijual. Sial, kali ini air benar2 kering, dari keran hari Rabu itu hanya keluar lumpur. Lebih sial lagi, persediaan air di bank kota Ditrt menipis dan dirampok pula oleh gerombolan penggali tanah. Bisakah Rango menyelamatkan penduduk Dirt, mengingat dia bukan jagoan betulan?

Rango adalah proyek film cerita animasi (CGI) perdana dari Industrial Light and Magic (ILM) milik George Lucas si juragan seri Star Wars, perusahaan yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang terdepan dalam efek visual di Hollywood. Tak hanya itu, dari sutradara Gore Verbinski (Pirates of the Caribbean), penulis John Logan (Gladiator, The Aviator, Sweeney Todd) dan James Ward Byrkit dan produser2nya, pokoknya para "petinggi" proyek ini hampir tidak ada atau hanya punya seiprit pegalaman di bidang animasi. Namun, Rango bisa dibilang sebuah proyek yang cukup membanggakan bagi mereka2 ini. Secara visual film ini luar biasa bagusnya, benar2 menunjukkan kualitas kecanggihan perusahaan film sekelas ILM. Animasinya mulus banget, pemandangannya keren, angle dan lighting-nya cantik banget (lagi2 meminjam ilmu dari sinematografer kawakan Roger Deakins sebagaimana WALL-E dan How To Train Your Dragon), kesatuan gambarnya bagus, dan detil2 desain dan animasi karakter2nya, yang kesemuanya adalah hewan2 gurun, sangatlah nyata. Bisa lah jadi pesaingnya studio Animal Logic (yang juga perusahaan efek visual sama kayak ILM, dan udah duluan bikin film Happy Feet dan Legend of the Guardians) dalam meng-animate hewan2 dengan sangat bagus. Namun saking nyatanya, sampe di bulu/kulit/sisik, tokoh2 yang ada di Rango ini jadi terkesan “intimidatif” kalau gak mau disebut serem. Rango sih gak masalah, tapi penduduk Dirt yang rata2 dekil itu loh, agak2 gimanaa gitu.

Tokoh2 di film ini memang terinspirasi dari satwa penghuni gurun, terutama di Amerika sana, mulai dari sejenis tikus atau tupai, kalkun atau ayam, burung hantu (yg jadi pemain orkes mariachi, their scenes are my most favorite parts of the film =)) kodok, hingga reptilia mulai dari kadal2 yang bentuknya udah serem dari sononya, kura-kura, hingga si ular beludak yg ekornya berdesis. Iigh. Mungkin ini karena gw juga agak tidak nyaman dengan reptil atau amfibi (walau seneng makan swike =P), but seriously, walau beberapa dari mereka itu tokoh baik, tapi secara tampilan mereka jelas tidak mengundang simpati, even Beans. Padahal ada baiknya keseramannya di-tone-down dikit gitu, sorry nih ya agak diskriminasi fisik *ehem*, yang pasti perlu diperingatkan aja bagi yang gak suka sama reptil atau ular sebelum nonton film ini. Oke, tampilan *mungkin* hanya soal selera, tapi ini juga jadi berbahaya ketika gw juga merasa tidak terlalu jelas peran2 aneka satwa grotesque ini, sehingga selain Rango, Beans, walikota dan Rattlesnake Jake (Bill Nighy), udah gw gak kenal atau sekedar inget lagi sama yg lain2nya.

Di lain pihak, secara keseluruhan Rango punya konsep yang menarik, nggak terlalu standar dan memang tidak ringan2 amat. Jika Kung Fu Panda adalah film silat versi hewan, maka Rango ini film koboi versi makhluk2 gurun. Petualangan Rango dari jalan raya hingga bisa jadi pahlawan kota Dirt cukup enak dinikmati meski arah film mau ke mana ini baru ketahuan agak di tengah2, dan alih2 membuatnya seringan mungkin, film ini justru memuat nilai2 eksistensi dan jati diri terutama dari Rango yang sebenarnya gak punya nama dan untuk pertama kalinya beinteraksi dengan makhluk2 lain sepantarannya, juga soal ketamakan lewat analogi air, dialognya pun sebenernya tidaklah sederhana. Tapi nggak masalah, toh dengan kecerobohan dan mulut besar Rango hal2 itu tidak terasa terlalu membebani atau terlalu serius. Well, humor2 yg muncul mungkin gak memberi penghiburan sebegitunya, tetapi adegan2 aksinya lah yang jadi juaranya film ini. Penggarapan kejar2an seru sekali, yah sesatu yang tidak mengherankan bila mengingat sutradaranya pernah menggarap 3 film pertama Pirates of the Caribbean. 

Sekali lagi, untuk sebuah proyek film cerita animasi perdana bagi rata2 pembuatnya, Rango adalah sebuah karya yang sangat pantas diapresiasi. Ritme yang terjaga—nggak membosankan, cerita yang oke, gambar2 dan animasi yang bagus2 banget, serta adegan laganya memberi kesenangan tersendiri. Pengisi suaranya pun cukup memberi bobot pada peran masing2, Johnny Depp bahkan hampir nggak dikenali ^_^;. Banyak yang mendaulat Rango adalah calon kuat film animasi terbaik tahun ini terutama di Oscar nanti, namun untuk gw sendiri nggak bisa apresiasi sampe segitunya. Gara2 wujud karakternya yang terlalu nyeremin, serta penanaman dan pengembangan karakter yang tidak membekas, juga jalan cerita yang awalnya agak nggak jelas, membuat Rango tidak sampai dalam taraf menghibur gw secara total. Bagus sih, tapi gw cuma “cukup suka” saja. Lagian meski ini "kartun" dan ada label Nickelodeon, rasanya kok film ini bakal tidak menarik anak2 deh kayaknya, ketakutan sih iya *itu mah gw kali*. Eh, btw, gw suka lagu temanya yang dimainkan Los Lobos saat credit roll, keren. Rangoooo....Rangooo....Rrrango! =)



 My score: 7/10