Sabtu, 30 Juli 2011

[Movie] X-Men: First Class (2011)

X-Men: First Class
(2011 - 20th Century Fox)

Directed by Matthew Vaughan
Story by Sheldon Turner, Bryan Singer
Screenplay by Ashley Edward Miller, Zack Stenz, Jane Goldman, Matthew Vaughan
Produced by Gregory Goodman, Simon Kinberg, Lauren Shuler Donner, Bryan Singer
Cast: James McAvoy, Michael Fassbender, Kevin Bacon, Rose Byrne, Jennifer Lawrence, January Jones, Nicholas Hoult, Oliver Platt, Zoë Kravitz, Caleb Landry Jones, Edi Gathegi, Lucas Till 


Dan film terakhir yang saya sempatkan tonton di negeri tetangga setelah Harry Potter 7B dan Hanna adalah X-Men: First Class, sebuah film yang bisa disebut prekuel bagi trilogi X-Men yang rilis sekitar 2000-2006—gw berusaha tidak menganggap keberadaan X-Men Origins: Wolverine yang menurut gw kayak nggak serius itu. Gw cukup suka trilogi X-Men yang membangkitkan film2 bertema superhero komik itu—gw paling suka X2/X-Men 2, btw =) *gakadaygtanya*, mungkin juga karena gw udah cukup tertarik sejak dulu ketika versi serial animasinya tayang di RCTI. Lucu juga banyak orang berkekuatan super (dengan excuse "mutasi genetik" biar nggak terkesan terlalu mistis *padahal sama aja hehehe*) berkumpul dan memperlihatkan keahlian2nya yang berbeda-beda. Karena X-Men itu berisi banyak tokoh, maka pasti sulit menampung semua potensi kisah tokohnya dalam beberapa film saja, trilogi X-Men yg kemaren pun lebih banyak berkutat pada Wolverine, Rogue, Jean Grey dan Magneto sebagai musuhnya. X-Men: First Class sendiri mengambil kisah sebelum terbentuknya sekolah khusus anak berbakat (mutan) dan tim X-Men, dan mengkhususkan perhatian pada dua pemimpin kelompok mutan yg berlawanan, Professor X dan Magneto, yang ternyata bersahabat di "awal karir"nya.

Film ini tentang Charles Xavier dan Erik Lensherr muda sebelum nanti mereka masing2 dikenal jadi Professor X dan Magneto. Xavier (James McAvoy)—belum berkursiroda—adalah seorang peneliti spesialis mutan, kaum yang belum begitu kentara kemunculannya, padahal *diam2* bidang itu juga menyangkut dirinya yang bisa telepati, serta teman sejak kecil semacam saudara angkatnya, Raven (Jennifer Lawrence) yang bisa berubah wujud jadi siapapun—kelak jadi Mystique. Berlatar perang dingin dan lomba nuklir AS dan Uni Soviet, tak lama setelah dinyatakan lulus dari Oxford, Xavier didatangi Moira MacTaggert (Rose Byrne), seorang agen CIA yang tengah menyelidiki keterlibatan petinggi militer AS dengan pihak ketiga yang dipimpin Sebastian Shaw (Kevin Bacon) yang ternyata memakai manusia2 berkekuatan aneh—mutan—dalam aksinya. Di sisi lain, Lensherr (Michael Fassbender) sedang melacak kembali orang2 yang telah menyiksa diri dan keluarganya pada saat di kamp konsentrasi Nazi, teristimewa pada sosok Dr. Schmidt, yang tak lain adalah identitas lain dari Shaw yang memang ingin merekrut mutan2 untuk mendominasi dunia. Xavier dan Lensherr dipertemukan lewat kasus ini, bahkan mereka bahu membahu bekerja sama membantu pemerintah AS untuk menumpas Shaw—si tokoh dibalik layar yang ternyata menyuruh Uni Soviet menaruh rudal nuklir di Kuba sehingga memancing perlawanan AS demi menciptakan perang dahsyat—dengan motivasi masing2 tentunya. Xavier dan Magneto pun berusaha merekrut mutan2 sebisa mereka sebagai bentuk perlawanan terhadap Shaw yang tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan persenjataan biasa—walau mesti dididik dulu, terutama untuk mencegah peperangan besar yang mengancam kelangsungan umat manusia.

Dengan mengetengahkan cerita di atas, X-Men: First Class sebagaimana film2 X-Men lainnya memamerkan parade tokoh2 mutan lengkap dengan keahliannya. Di pihak Shaw ada si seksi Emma Frost (January Jones), yang bisa telepati dan manipulasi psikis sekaligus dapat mengubah tubuhnya jadi berlian solid, Azazel (Jason Flemyng) yang berwujud iblis jago teleportasi, dan Riptide (Álex González) yang bisa bikin puting beliung dari tubuhnya. Di pihak pemerintah AS dibawah komando MacTaggert, selain Xavier dan Lensherr serta Raven, adalah mutan2 muda yang seluruhnya baru tau kalo mereka bukan satu2nya yang punya kelainan. Ada Angel Salvadore (Zoë Kravitz) yg punya sayap capung dan bisa ngludah bola api, Sean Cassidy alias Banshee (Caleb Landry Jones) yang menghasilkan gelombang ultrasonik, Darwin (Edi Gathegi) yang bisa berubah2 struktur anatomi tergantung lingkungan, Alex Summers alias Havoc (Lucas Till) yang mengeluarkan tembakan laser dahsyat dari tubuhnya, ditambah lagi ilmuan jenius Dr. Hank McCoy (Nicholas Hoult) yang ternyata kakinya kayak primata. Karena masih muda dan labil, maka anak2 baru ini masih perlu dilatih di bawah pengawasan Xavier dan Lensherr sebelum maju "menyelamatkan dunia", masalahnya apakah mereka siap, baik secara fisik maupun psikologis, apalagi pihak yang akan mereka selamatkan belum tentu siap menerima keberadaan mereka.

Buat gw X-Men: First Class punya kualitas cerita yang setara dengan trilogi X-Men sebelumnya (sekali lagi gw tidak menghitung film Wolverine), barangkali karena keterlibatan Bryan Singer si sutradara 2 film X-Men awal. Perhatian terhadap tema diskriminasi dan dilema keberpihakan juga disampaikan dengan baik dan terbilang konsisten dengan trilogi pendahulunya (Xavier yang ingin damai dengan manusia, dan Shaw yang ingin mutan menjadi "spesies" baru penguasa dunia, serta Magneto ingin kaum mutan bersatu melawan diskriminasi). Ngomong2 trilogi X-Men sebelumnya, meski belum tentu ada di semesta yang sama, bahkan ada kemungkinan film ini adalah sebuah reboot seperti halnya Star Trek dan Batman Begins, tetapi X-Men: First Class sepertinya memang dibuat dengan timeline yang senyambung mungkin dengan trilogi X-Men asli, terbukti dari adegan pertama yang sama persis dengan adegan pembuka X-Men—atau lebih tepatnya "reka ulang" krn pemainnya beda, atau adanya cameo Hugh Jackman (Wolverine) dan Rebecca Romijn (Raven dewasa).

Banyaknya tokoh dengan keistimewaan masing2 ini rupanya tidak menjebak para pembuat film ini sehingga  menjadikannya terlalu penuh dan keteteran. Sebaliknya, sutradara Matthew Vaughan (yg sebelumnya sukses menggarap Kick-Ass) dengan jeli membagi porsi adegan dan perkenalan tokoh2 dengan rapih dan cukup fair. Antara drama, aksi, serta humornya disajikan dengan porsi yang pas sehingga enak diikuti, mungkin pengecualian pada hubungan Xavier dan MacTaggert yang agak tidak tergali. Gw menangkap ada 2 keunggulan film ini dari film pendahulunya. Pertama adalah pendekatan karakter yang lebih dalam dan berkesan, namun tetap efektif dan efisien, tidak sekedar numpang lewat—kecuali Azazel dan Riptide kayaknya. Kita benar2 bisa mengenal tokohnya, tak hanya Xavier dan Lensherr, juga Raven, McCoy yang kemudian jadi Beast, Banshee, Havoc dkk dengan lebih dekat dan lumayan mengikat secara emosional, bahkan Emma Frost dan petinggi CIA tak bernama yg dimainkan Oliver Platt pun meninggalkan kesan tersendiri. Satu hal yang perlu di-highlight adalah sense of reality pada tokoh2 ini yang tercermin pada adegan ketika mutan2 muda yg direkrut Xavier berkumpul di sebuah ruang, berkenalan, pamer kekuatan dan saling membuat nama julukan berdasarkan kekuatan mutasi mereka layaknya iseng belaka. Yah, namanya juga anak muda =D. Keunggulan kedua adalah dari intensitas adegan, terutama pada bidang laga yang menurut gw paling unggul di antara film X-Men yang pernah ada, tidak terlalu cepat ataupun lambat, serunya pun nggak nanggung—tentu saja ada harmoni dari sinematografi dan visual efek yang oke. Adegan kemarahan Lensherr kecil yang memorakporandakan besi2 ruang penyiksaan, adegan Lensherr besar balas dendam di bar Argentina, penyerangan Shaw dkk ke persembunyian Xavier dan mutan2 baru, dan tentunya perang di klimaks (yang merepresentasikan banyak hal) adalah contoh adegan2 yang digarap dengan maksimal sekaligus keren dipandang. Adegan latihan2 kekuatan mutan2 bakal calon X-Men pun menarik dan menyegarkan...ataupun ketika mereka memakai seragam kuning-biru itu =D.

Dengan demikian X-Men: First Class adalah sebuah tontonan yang sebenarnya tidak boleh dilewatkan, apalagi yang menyukai franchise X-Men, ataupun sekedar suka film aksi fantasi yang menghibur namun tidak kosong. Didukung pula oleh kasting yang baik (Jennifer Lawrence bagus, =)), film ini sebenarnya sayang kalau luput tayang dari bioskop (aargghh...politik sialaaan....!!!). Sejujurnya gw belum berani bilang ini film X-Men terbaik—sementara gw masih ada ganjalan dengan MacTaggert yang sempet "ngilang" di pertengahan, kirain dia penting... —perlu ngecek lagi untuk memastikan itu. Namun yang sudah pasti X-Men: First Class ini layak tonton, menghibur, dan tidak mempermalukan citra merk X-Men...emangnya Wolverine *tetep*.



My score: 7/10

[Movie] Hanna (2011)


Hanna
(2011 - Focus Features/Sony Pictures Releasing)

Directed by Joe Wright
Story by Seth Lochhead
Screenplay by Seth Lochhead, David Farr
Produced by Leslie Holleran, Marty Adelstein, Scott Nemes
Cast: Saoirse Ronan, Eric Bana, Cate Blanchett, Tom Hollander, Olivia Williams, Jessica Barden, Jason Flemyng


Film kedua yg gw tonton di sela2 acara rekreasi sekantor di negeri singa duyung adalah Hanna, yang ternyata memang baru dirilis di sana. Gw cukup menantikan film ini karena punya sederet nama2 penjamin seperti Eric Bana, Cate Blanchett, dan tentu saja si aktris berbakat nomine Oscar, Saoirse Ronan (kalo kata wiki, dibacanya siir-sha atau seur-sha), serta sutradara asal UK Joe Wright yang sebelumnya sukses lewat Pride and Prejudice (2005), dan Atonement (2007) yang juga dibintangi Saoirse. Resume Wright memang tampak pantas diremehkan karena bernuansa drama (meskipun nomine Oscar), tapi bagi yg udah nonton, film2 Wright jelas menyimpan keunikan tersendiri, artistik tetapi modern, tidak konvensional dalam mengeksekusi, dan cenderung suka editing gegas. Hanna adalah uji coba bagi Wright dalam mengarahkan film action, dan gw cukup penasaran bagaimana film yang musiknya diurus The Chemical Brothers ini jadinya di tangan sutradara yang telah membuat period romcom khas Inggris jadi tidak terasa kuno dan tragedi cinta berlatar perang dunia II menjadi cuantik dan keren.

Hanna (Saoirse Ronan) gadis remaja yang hidup terisolasi di padang salju hanya berdua dengan sang ayah, Erik Heller (Eric Bana). Hidupnya memang tidak biasa, karena Erik sengaja "memproduksi" Hanna menjadi seorang survivor tangguh, membekalinya dengan aneka rupa keahlian dan pengetahuan, bisa dibilang agar menjadi mesin pembunuh berdarah dingin dalam cangkang gadis muda yang polos. Dengan segala ilmu yang diberi, tujuan utama Erik "menciptakan" Hanna adalah untuk membunuh orang yang telah membunuh ibunya, orang itu adalah Marissa Weigler (Cate Blanchett), seorang agen CIA. Ketika Hanna menyatakan siap untuk terjun ke "dunia luar" maka first things first, tante Marissa nya dibunuh dulu. Dengan memancing CIA mengetahui keberadaan mereka, Hanna dan Erik berpisah jalan untuk bertemu kembali di Berlin. Erik (yang buronan CIA) menyusup secara "manual" di daratan Eropa, sedangkan Hanna membiarkan dirinya ditangkap agar dapat memancing kehadiran Marissa. Mengetahui comeback-nya Erik, Marissa langsung ikut andil mengurus kasus yang satu ini—alias menyingkirkan Erik dan Hanna dari muka bumi, termasuk mengirim Marissa palsu untuk menemui Hanna... namun betapa terkejutnya Marissa asli menyaksikan Hanna menumpas Marissa palsu dan seluruh penjaga sampai kabur dari tempat dia ditahan. Ketika misi sudah (dianggap) selesai, kini tinggal gimana caranya Hanna bisa sampe Berlin dengan selamat. Hanna yang ternyata ada di Maroko akhirnya bergabung dengan satu keluarga Inggris yang sedang keliling Eropa nak mobil van, ini sekaligus untuk pertama kalinya Hanna terjun dan mengalami kehidupan bermasyarakat yang selama ini hanya ia ketahui teorinya saja. Akan tetapi, tentu saja Marissa tidak tinggal diam, dibuatlah tim operasi gelap untuk memburu Erik dan Hanna, utamanya demi menutupi proyek uji coba gagal CIA di masa lalu yang melibatkan Erik, Marissa, dan ibunda Hanna...serta kelainan biologis pada diri Hanna.

Bernuansa "agak Eropa", film Hanna rupanya menampilkan 2 sisi yang beriringan. Di satu sisi film ini jelas sebuah kisah spionase yang agak klasik, berinti pada balas dendam dan kejar2an, berhiaskan tempat2 eksotik (Eropa dan Maroko) sebagai latar, dan adegan2 aksi yang wajib mewarnai layar. Bagian ini bagusnya tidak menjadi usang, karena di luar keunikan tokoh utamanya seorang gadis remaja jagoan bertampang innocent (dan bermata bak air di goa biru pulau Capri *halah*), film ini memiliki kekerenan dan sentuhan artistik tersendiri. Adegan2 ala spionase yang dihasilkan mirip, tapi berbeda dari yang pernah ditampilkan oleh James Bond atau Jason Bourne, atau Salt misalnya. Cukup banyak adegan2 aksi yang tertanam dengan kuat di ingatan gw. Salah satu adegan monumental film ini adalah ketika Hanna berusaha keluar dari ruang interogasi yang dipenuhi kamera CCTV. Dengan editing lincah bagian ini begitu membelalak mata, terutama saat Hanna menghancurkan kameranya satu per satu, cooool!! Satu lagu adalah one long-take shot Erik dari turun bus sampe berkelahi dengan orang2 suruhan Marissa di stasiun kereta bawah tanah. Klasik, tapi one take, man! Ada kali hampir 10 menit—sutradara Joe Wright rupanya tak hanya suka editing model cepat tepat, tetapi juga adegan2 sekali take yang panjang, balance ^_^;. Itu baru 2 contoh karena sesungguhnya masih ada beberapa lagi scene2 yang memorable bagi gw, ini adalah bukti Joe Wright bisa mengatasi tantangan membuat film aksi, dengan tetap berpegang pada gayanya sendiri, tetap seru, tampak stylish namun gak menor.

Di sisi lain, film ini juga mencoba mengangkat sisi manusia dari Hanna yang tidak pernah mengenal "peradaban" selama 16 tahun hidupnya. Bagaikan alien, interaksinya yang kaku dengan orang2 sekitar yang baru dia temui digambarkan dengan baik, semisal adegan di kamar penginapan yang ada listrik, lampu, TV, ceret listrik, shower dsb. Hanna pun jadi keliatan banget polosnya dan awkward sekaligus dipenuhi keheranan. Tentu ia senang ketika dapat berteman dengan ababil cerewet Sophie (Jessica Barden), serta kagum akan sosok ibu Sophie, Rachel (Olivia Williams), karena sepanjang hidupnya Hanna tak merasakan kehadiran manusia lain selain ayahnya, boro2 ibu apalagi teman. Belum lagi ketika di Spanyol, Sophie mengajak Hanna double date dengan dua pemuda lokal, ketika teori tentang "kencan" bertemu praktek, bagian pasti mengundang senyum penonton =D. Cuman kesenangan ini tidak sepenuhnya bisa dinikmati ketika Hanna sadar bahwa ada oknum2 yang bermaksud membahayakan jiwanya. Ia gak bisa leha2 dalam menyesuaikan diri dengan dunia yang baru ia kenal, meskipun sesungguhnya dia sangat mau. Film ini sekaligus menjadi perjalanan "aqil balig" seorang Hanna, ketika matanya terbuka melihat dunia dan berusaha untuk mengenal jati dirinya lebih lagi. Rupanya bekal keahlian dan pengetahuan sentausa tidaklah cukup untuk mengenal dunia yang sesungguhnya.

Akan tetapi, mungkin sesuatu yang dirasa kurang dari film ini adalah tidak menyatunya dua sisi tadi. Ketika aksi ya aksi, ketika drama ya drama, namun terasa kurang kawin. Aksi dan thrillnya digarap keren, dramanya pun dibuat apik dan emosional, masing2 pantas dijempoli, cuman bagi gw masih tidak padu feelnya antara satu sisi dengan yang lain. Untungnya, dengan penggarapan yang tampak dipikirkan masak2, proposi kedua sisi itu dibuat seimbang dan rapi, sehingga film ini sama sekali tidak membosankan dan tampak fine2 saja. Ada waktunya berdecak kagum, dan ada pula waktunya untuk bernapas. Rahasia2 yang terungkap dibuat tidak menjegal laju film ini. Nggak ada masalah. Kekurangan minor itupun semakin kabur ketika melihat eksekusi film ini secara teknis. Sinematografinya kerap menampilkan pigura2 cakep bahkan cenderung nyeni (God, I love the pictures, kerennya), koreografi aksinya efektif, musik yang hip, dialog bagus, dan editing mumpuni—salah satu yang mengesankan adalah ketika perkenalan tokoh Marissa yang unik, yang sangat concern pada gigi dan sepatu, hehe.

Belum lagi kalau membahasa performa aktornya yang tidak mempermalukan karir mereka. Saoirse—yang belum lama ini juga tampil di film "perjalanan" The Way Back—tampil lepas dan bernyawa sebagai Hanna, tidak hanya dari tuntutan laku fisik tetapi juga ekspresi dan emosi, bagi gw dia berhasil mengemban peran utama yang tidak mudah ini. Eric Bana sesuai dengan porsi walau tidak istimewa, begitu juga Olivia Williams dan Jessica Barden. Sedangkan Cate Blanchett memang berada dalam liga tersendiri dan tak perlu dipertanyakan kemampuannya *yaudalahya*. Sikapnya yang tampak kaku dan menyimpan ketegasan dan kekejaman laten di satu sisi, dan di sisi lain memunculkan kerapuhan. Ini agak aneh, tokoh Marissa seakan selalu "hampir tumpah" ketika membahas Hanna atau menyinggung tentang anak. Entah memang dia punya pengalaman tersendiri soal anak di masa lalu, atau jangan2 keterlibatannya dengan "Hanna" lebih dari sekedar menutupi proyek gagal CIA? I mean, like opa Roger Ebert had said, they were kind of look alike. Nampaknya itu akan tetap jadi misteri.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Hanna adalah film yang keren, gak mungkin gak keluar reaksi kekaguman sedikitnya dari aksi2 yang ditampilkan. Ceritanya mungkin nggak terlalu berat dan bisa dibilang agak berskala kecil, namun nggak berarti mengurangi bobotnya sebagai action-thriller yang layak tonton dan enjoyable. Sebuah aksi spionase yang tidak standar, agak jauh dari hingar bingar dan gegap gempita khas Hollywood, namun tetap seru dan cihuy dengan bungkusan aksi dan drama yang digarap dengan cermat, artistik dan sophisticated. Tidak wah namun tetap berkesan. I like it. Well done!



My score: 7,5/10

Selasa, 26 Juli 2011

[Movie] Harry Potter and the Deathly Hallows - Part II (2011)


Harry Potter and The Deathly Hallows - Part II
(2011 - Warner Bros.)

Directed by David Yates
Screenplay by Steve Kloves
Based on the novel by J.K. Rowling
Produced by David Heyman, David Barron
Cast: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Ralph Fiennes, Alan Rickman, Warwick Davis, Helena Bonham Carter, Maggie Smith, Tom Felton, Matthew Lewis, Julie Walters, Bonnie Wright, Jason Isaacs, Evanna Lynch, Kelly Macdonald, John Hurt, David Thewlis, Ciarán Hinds, Michael Gambon


Boleh sebut ini keberuntungan atau anugerah ilahi atau law of attraction atau apapun, namun alangkah bersyukurnya diriquh, tanpa gw minta ataupun usaha secara sadar (paling ngarep2 dikit lah), gw berkesmpatan menjalani kegiatan "outing" alias liburan bareng se-kantor gw yang ternyata tahun ini bertempat di negeri sebelah, Singapura *dancedance*. So, nope, gw bukan bela2in ke sono cuman buat ke bioskop, kelewat niat kalo itu mah...tapi tentu saja kesempatan ini tidak gw sia-siakan, thus gw berhasil meluangkan waktu untuk nonton 3 film di bioskop sana, mumpung euy =). Film pertama yang gw tonton adalah Harry Potter and The Deathly Hallows Part II bareng 2 teman gw. Lucu, kedua part film Harry Potter jilid pamungkas gw tonton tidak di tanah air dan tanpa subtitle *soook, sombooong, timpukin rame2 nyook*, dan mungkin itu sedikit banyak mempengaruhi gw untuk menikmati filmnya, mungkin juga tidak, entahlah, ya sudahlah *apa sih?*.

Karena emang tinggal bagian terakhir, plot Part II ini hanya soal Harry Potter (Daniel Radcliffe) beserta Ron (Rupert Grint) dan Hermione (Emma Watson) mencari dan menghancurkan sisa 4 Horcrux—benda2 yang menyimpan kepingan jiwa Voldermort (Ralph Fiennes) agar dapat memusnahkan sang pangeran kegelapan—termasuk masuk kembali ke sekolah sihir Hogwarts yang dikuasai Death Eaters akibat Profesor Snape (Alan Rickman) menjadi kepala sekolahnya. Maka tujuan Voldermort membunuh Harry demi memenuhi dunia dengan kegelapan, dan sebaliknya Harry untuk menghancurkan Voldermort demi membebaskan dunia dari kegelapan bermuara di sekolah Hogwarts yang tadinya magis nan permai namun kini suram dan mencekam. Sekolah sihir ini menjadi arena pertarungan Death Eaters vs Order of the Phoenix, dan duel final Voldermort vs Harry, ketika takdir keduanya bakal ditentukan, yang juga menjadi kunci masa depan dunia sihir maupun non-sihir. Kalo gw seperti memanjang-manjangkan sinopsis, itu karena gw mengikuti gaya pembuat film ini yang memanjang-manjangkan cerita jilid ke-7 hingga dipaksakan jadi 2 film terpisah ini. Uh-huh, yea.

Reaksi gw setelah film (dan seri) ini berakhir adalah: tuh 'kan, dibikin 2 part tuh cuman strategi marketing doang, sialan. Bisa lho sebenernya dipadatkan jadi satu film 3 jam-an gitu, penonton juga bakal maklum kok kalo durasi panjang, pamungkas gitu loh, The Lord of the Rings filmnya 3,5 jam aja pada nyantai...tapi ya sudahlah kalo memang itu maunya. Just like bread, money talks *halah*. Bila ditilik kembali Harry Potter and The Deathly Hallows Part I seperti dibuat sebagai ancang2 bagian penutup kisah Harry Potter ini, karena lebih banyak misteri dan drama, actionnya tidak banyak dan ketika ada jaraknya jauh antara satu dengan yang lain. Harapan gw tentu saja, Part II ini akan menggempur habis2an dengan adegan epik nan megah...weelll...ternyata nggak juga, walaupun actionnya terasa lebih banyak tapi masih ada aja bagian2 yang menurut gw lambat dan terasa dipanjang-panjangin di luar fakta bahwa film ini jadi film Harry Potter berdurasi tersingkat (2 jam lebih dikit). Alhasil dibilang menggelegar ya nggak juga, dibilang episode terbaik tentu tidak, tetapi dibilang mengecewakan, ya nggak juga.

Walau terlihat agak kering warna secara gambar, namun visualisasi film ini terbilang cukup bagus lho. Art direction yang sejak awal jadi garda terdepan seri Harry Potter bekerja maksimal, mulai dari rumah persembunyian di awal film, hingga suasana Hogwarts baru yang terlihat kaku (tangganya lurus2 dan gak gerak2 lagi). Visual effectnya pun tampil memuaskan dan tampak megah, ambilah contoh ketika Hogwarts diberi tabir pelindung, atau ketika pasukan semacam terakota mulai begerak hidup. Cukup banyak bagian2 yang menurut gw bagus secara sinematografi, yang dengan adil menunjukkan skala cerita film ini, nggak busuk lah. Pokoknya secara visual Part II udah beres. Kini tinggal pembawaan ceritanya. Adegan "perang"nya lumayan, ada momen2 yang dibuat cukup menengangkan, pun karakter2 dimunculkan sesuai dengan keperluan dan tidak terlampau sia2. Kematian beberapa karakter cukup dramatis, dan pembongkaran rahasia keterkaitan Harry dan Voldermort dibuat dengan cukup smooth. Hanya saja, seperti udah gw singgung, pacenya secara keseluruhan nggak lebih "gerak" daripada Part I, inilah yg cukup menganggu gw, karena membuat kegentingannya nggak berasa, terkikis entah kemana.

Akan tetapi Part II masih punya kekuatan yang dimiliki Part I, yaitu performa akting yang tidak memalukan. Sudah hilang sirna kekakuan Daniel Radcliffe yang harus memikul peran utama Harry Potter selama 10 tahun ini, aktor2 senior bermain baik, bahkan sepertinya ada pahlawan baru yang selama ini dicitrakan cupu dan gak pernah tampil, Neville Longbottom yang diperankan Matthew Lewis—yang jadi mirip Clive Owen ^_^;—dengan sangat baik, go Neville! Di film ini juga, gw perlu memberi pujian khusus kepada Warwick Davis yang tampil gemilang di awal film sebagai goblin pegawai bank sihir Gringotts, Griphook (dia juga memerankan Profesor Flitwick ), keren banget cara ngomong dan gayanye, menurut gw dialah penampil terbaik di Part II ini =). Kemunculan karakter2 lama tapi dengan porsi yang lebih menonjol rupanya ampuh untuk mencegah kemonotonan cerita. Bagi yang menonton 7 film sebelumnya, apalagi yang udah baca novel2nya, pasti ada perasaan senang ketika karakter yang tadinya sambil lalu jadi punya peranan penting di bagian akhir ini. Ke-familiar-an penonton pada karakter2 yang ada pun turut andil dalam menimbulkan simpati atau bahkan benci, meski kali ini mereka munculnya sekelebat saja, malah kayak cameo belaka, reaksi "eh ada dia" atau "mampus mati aja loe" pun akan tetap muncul akibat perkenalan selama sepuluh tahun terakhir itu. Jadi yang baru nonton episod ujung ini aja, selamet ye...

Dengan ini berakhirlah sudah serial Harry Potter versi layar lebar. Diakhiri dengan, well, "oke" dan "gakpapa" lewat Deathly Hallows Part II ini. Tidak sepenuhnya memberi kesan grand, mempesona atau keterkesimaan bagi gw, tidak sampai memuaskan, namun yang pasti melegakan. Gw udah menyaksikan kedelapan filmnya, ada ups and downs, diawali sebagai film anak2 ala Hollywood, lambat laun jadi semakin suram bagaikan film independen bergaya Eropa. Puncaknya bagi gw tetep di film ketiga, Prisoner of Azkaban, slumpnya di film keenam, Half-Blood Prince *dull*. Bagian terakhir ini kira2 tingkat kepuasannya hampir setara sama film pertama, cukup memenuhi ekspektasi, tidak lebih tidak kurang. Andai jadi satu film saja...



My score: 6,5/10

Rabu, 20 Juli 2011

[Movie] There Will Be Blood (2007)


There Will Be Blood
(2007 - Miramax/Paramount Vantage)

Written for the Screen and Directed by Paul Thomas Anderson
Based on the novel "Oil!" by Upton Sinclair
Produced by JoAnne Sellar, Paul Thomas Anderson, Daniel Lupi
Cast: Daniel Day-Lewis, Paul Dano, Kevin J. O'Connor, Ciarán Hinds, Dillon Freasier


There Will Be Blood adalah salah satu film yang gw anggap bagus tapi gw gak terlalu yakin bagusnya dimana, bahkan gw nggak yakin film ini soal apa sebenarnya ^_^;. Film ini jelas bukan tipe menyenangkan, kekaguman akan betapa baiknya film ini digarap secara audio visual selalu terganggu oleh ketidaknyamanan akan gelapnya tema dan nuansa yang dibawa...dan kesulitan gw untuk mencerna adegan2 sunyi dan panjang yang kerap ditampilkan. In short, not really my kind of movie. Having said that, There Will Be Blood—yang memenangkan sepasang piala Oscar untuk sinematografi dan aktor utama terbaik Daniel Day-Lewis tahun 2008—ternyata masih memberikan kesan buat gw walau hanya dengan kapasitas gw yang seorang penonton biasa, mungkin kecil dan tidak menyeluruh, namun tetap menarik dan cukup mengusik gw, akan coba gw papar di sini.

Dalam There Will Be Blood ceritanya ada seorang pengusaha minyak bumi Amerika di akhir abad ke-19—ketika tambang minyak bumi lagi booming di sana. Namanya Daniel Plainview (Daniel Day-Lewis), dia ahli dalam mengebor—minyak, bukan goyang =P—dan jago dalam tawar menawar mulai dari sewa tanah galian hingga perjanjian distribusi. Sudah berbagai titik yang dia gali dan sudah sukses lah walau masih berupa perusahaan kecil, kini dia sedang memperluas cakupannya hingga tinggal tunggu waktu saja kemakmuran menghampirinya. Film ini tentang dia, bagaimana dia memulai segalanya dari nol, berjuang benar2 seorang diri sebagai penambang emas dan perak, hingga in the end menjadi kaya raya. Namun panggung film ini berfokus pada proyeknya di sebuah desa bernama Little Boston di California. Ada apa di memangnya di sana? Tebakan gw, proyeknya yang ini yang paling iritating dan berpengaruh besar dalam hidupnya.


Coba kita lihat yang kasat mata dulu. Proyek ini datang kepada Daniel dengan cukup menarik, seorang pemuda bernama Paul Sunday (Paul Dano) memberitahukan bahwa di kampung halamannya, Little Boston, terutama tanah milik keluarganya, mengandung minyak dan tanahnya bisa disewa murah. Tak butuh waktu lama Daniel menyewa hampir seluruh tanah yang ada di sana dan memulai proyeknya. Namun beberapa peristiwa krusial terjadi selama proyek berlangsung. Malam pertama sudah ada korban tewas kecelakaan saat penggalian. Ketika titik minyak sudah bisa disedot, putra angkat Daniel, H.W. (Dillon Freasier) celaka dan kehilangan pendengarannya. Lalu ujug2 datang seorang pria bernama Henry (Kevin J. O'Connor) yang mengaku sebagai saudara sebapaknya, serta peristiwa Daniel yang dibaptis di gereja lokal, bukan oleh alasan iman, melainkan atas permintaan seorang tuan tanah demi izin melintas saluran pipa minyak. Tetapi, tak ada yang lebih krusial daripada "permusuhan"nya dengan Eli Sunday (Paul Dano juga), saudara kembar Paul Sunday yang memimpin—dan kemungkinan juga merintis—gereja lokal karismatik itu. Bagi gw peristiwa2 itu tidak tersambung sebagai plot, tetapi lebih menguatkan tentang siapa sosok Daniel itu.

Tanpa pake jalan pintas berupa narasi, film ini menunjukkan siapa Daniel lewat adegan2, lewat segala reaksi atas peristiwa2 yang ditampilkan detil. Gw kemudian menangkap, Daniel ini orang yang gigih, perpendirian kuat bahkan terlalu kuat. Ia bukan sekadar ingin kaya dan makmur, tetapi tahu betul cara mencapainya. Ia memulai segalanya dari bawah sendirian, dan itu sepertinya yang membuatnya menjadi sosok yang tidak percaya pada orang lain, dan tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi, apalagi sampai ngatur-ngatur apapun yang dia inginkan—apa yang dia capai karena usahanya sendiri, orang lain tau apa. Di lain pihak, gw juga melihat sisi Daniel yang sebenarnya butuh untuk mempercayai orang lain, butuh untuk mengasihi. Ia tidak sekedar menggunakan kepolosan wajah bocah lelaki 8 tahun demi menggolkan proyek sebagaimana dinyatakan seorang pesaingnya, namun ia juga pingin agar H.W. menjadi penerus dirinya, seseorang yang "dibentuk" agar tidak merubuhkan apa yang dia bangun—I mean, mengurus anak dari bayi sampe 8 tahun tuh butuh perhatian khusus lho, yet he took care H.W. by himself. Ia juga sebenarnya senang bisa punya orang yang punya ikatan keluarga (Henry) yang mendukungnya. Akan tetapi, kala kebutuhan interpersonal itu berbenturan dengan prinsip keakuannya yang lebih kuat, Daniel yang tadinya bukan orang yang baik, malah berubah jadi orang yang makin nggak baik. Ketulian H.W. jelas memecah konsentrasinya, dan jati diri Henry hanya berujung kekecewaan. Pada akhirnya, Daniel menjadi orang tidak hanya terdorong oleh keserakahan belaka, tetapi justru lebih banyak oleh kekecewaan demi kekecewaan yang datang tanpa henti.

Di luar itu, satu bagian paling menonjol dari film ini adalah rivalitas tak terkatakan Daniel dan Eli, yang juga digunakan sebagai klimaks cerita. Bisa jadi dalam anggapan Daniel, Eli adalah oknum paling kurang ajar sepanjang karirnya mengeruk minyak dari perut bumi. Kalau gw perhatikan, Daniel dan Eli seakan sedang dalam posisi setara: Daniel sedang memperluas pengaruhnya dalam bidang perminyakan, Eli juga berkeinginan memperluas pengaruhnya melalui pengembangan gereja Third Revelation yang dibangunnya. Misi mereka sama, hanya berbeda bidang, walaupun ternyata harus berbenturan di perkara pengeboran minyak Little Boston. Daniel tersulut untuk "mem-bully" Eli, bukan karena gerah pada persinggungan harta duniawi vs rohani, tapi lebih personal: Eli berani2nya tell-him-what-to-do (minta ada acara pemberkatan di peresmian pengeboran hari pertama—yang ternyata diabaikan Daniel, bilang bahwa kecelakaan2 yang ada karena proyek Daniel tidak diberkati Eli, dsb), because you don't tell Daniel Plainview what to do, people *hiy seyem*. Tapi mungkin juga rasa gemes Daniel disebabkan sinyal kesamaan ambisi dan dahaga power yang juga dimiliki Eli (menawar harga tinggi untuk tanahnya, minta namanya disebut untuk memberkati peresmian, juga meminta jalan utama menuju gereja, seakan nebeng tenar), terbukti, Eli tidak begitu saja terima atas perlakuan Daniel. Di akhir film pun ditunjukkan lagi kesamaan posisi mereka berdua: Daniel yang sudah punya rumah bak istana, dan Eli yang sudah terkenal berkat acara radionya, namun aura permusuhan itu belum pudar juga, bahkan meninggi. Ow, monggo saksikan pelampiasan kegemesan Daniel atas Eli yang tadinya berasa menang tapi di satu titik ketauan belangnya...


Panjang juga yah, hehe. Singkatnya sih, buat gw There Will Be Blood ini tentang seseorang yang teguh berjuang sampai tujuan, but, while in need for love, is driven by greed and disappoinments—yang dalam pertimbangan apapun bukanlah rumus yang baik untuk kesuksesan. Demikian pula sebagai konklusinya ditampilkan ironi ketika kesuksesan berbanding terbalik dengan ketenteraman jiwa. There Will Be Blood sepintas lalu akan terasa membosankan, paling hanya dipuji gambar2 dan pengadegannya yang kalem dan bersih, serta performa aktor yang mumpuni, terutama tentu saja Daniel Day-Lewis yang tampil perkasa dan dominan, hampir tak bisa dikenali, serta Paul Dano yang tak kalah hebat sebagai orang(-orang *ceritanya jamak, hehe*) yang sukses senantiasa mengundang curiga dibalik ke-letoy-annya, di luar itu yes, the film is long that at some points I wonder why in the world the editors didn't do something about it =P. Akan tetapi, There Will Be Blood bagaikan "mengebor" ingatan begitu dalam sehinggga sulit dilupakan, somehow. Tadinya gw menganggap film ini bisa jadi prekuel-nya Syriana yg bertema mirip, tentang manusia yang menghalalkan segala cara demi si minyak bumi (=duit), ternyata There Will Be Blood punya keistimewaan sendiri, keistimewaan yang agak ganjil, yang mengedepankan sisi gelap kemanusiaan akan keserakahan dari segi personal. Gw sih tidak terlalu gimana gitu sama cara film ini dipresentasikan, tetapi kepenasaranan bahwa gw harus dapet sesuatu dari film ini gak ilang2. Ini bukan film aneh, tapi yah, gitu deh, seakan terus menantang penonton untuk menggalinya lebih lagi dari berbagai aspek. Too striking to be abandoned. Ada yang mau milkshake? =D



My score: 8/10

Rabu, 13 Juli 2011

[Movie] True Grit (2010)


True Grit
(2010 – Paramount)

Written for the Screen and Directed by Joel & Ethan Coen
Based on the novel by Charles Portis
Produced by Scott Rudin, Joel Coen, Ethan Coen
Cast: Jeff Bridges, Hailee Steinfeld, Matt Damon, Josh Brolin, Barry Pepper


Denger2 bahwa True Grit adalah film garapan Coen bersaudara yang paling "normal", gw jadinya tertarik sama film koboi2an yang juga menerima banyak sekali nominasi Oscar 2011 kemaren ini—film ini juga salah satu korban awal krisis film impor di bioskop2 kita Februari-Maret lalu, padahal udah ada poster coming soon-nya, pret lah. Selama ini gwudah pernah nonton beberapa film Coen bersaudara (Fargo, O Brother Where Art Thou?, Intolerable Cruelty, The Ladykillers, No Country For Old Men) dan selalu saja merasa ada yg mengganjal sambil garuk2 kepala terhadap cara mereka bercerita, humor kering, juga pace-nya yang cenderung alon2 dan sunyi. Meskipun dengan excuse keliahian karakterisasi, akting, sinematografi dan filosofi yang terkandung (which is memang benar), tetep aja selalu ada yg rasanya aneh dan reaksi "apaan sich?" setiap nonton film mereka, maklum deh saya kan bukan penonton yg pintar2 amat, gak pernah minum tolak angin soalnya *krik*. Kembali ke True Grit, gw juga bukan termasuk penggemar film berseting "western", namun itu tadi, dengan "janji" bahwa film yg juga pernah dibuat pada tahun 1969 dengan bintang legenda film koboi, John Wayne ini akan lebih "universal" (nama Steven Spielberg di posisi produser eksekutif cukup menguatkan janji itu) dan limpahan penghargaan yg diterimanya, hayuk aja atuh.

There is nothing free except the grace of God. Demikian mungkin prinsip yang dipegang gadis 14 tahun, Mattie Ross (Hailee Steinfeld) yang hendak menuntut balas terhadap Tom Chaney (Josh Brolin) yang telah menembak mati ayahnya serta membawa kabur seekor kuda dan sepasang keping emas batangan. Dengan determinasi yang (terlalu) menggebu, Mattie berhasil menyewa marshal Reuben "Rooster" Cogburn (Jeff Bridges), orang yang dirasa paling tepat untuk memburu Chaney —hidup atau mati, bahkan ia ngikut dalam perburuan ini padahal si marshal urakan bermata satu itu udah dengan segala cara mencegahnya, ditambah lagi bergabung dengan mereka adalah seorang Texas ranger, Mr. LeBoeuf (Matt Damon) yang juga mencari Chaney yang ternyata emang penjahat kambuhan untuk kejahatannya yang lain—dan dengan nama alias lain—di wilayah Texas. Dan...yah begitulah ceritanya =D. Memang sesimpel itu. Ya oke ada lah halangan dan tantangan dalam mencari jejak Chaney, tapi ya intinya kan demikian: apakah bakal ketemu atau enggak, bagaimana ketemunya, dan apa yang Mattie dkk lakukan kalau nemu si penjahat. Sebuah kisah balas dendam yang familiar.

Film ini sedikit mengingatkan gw sama No Country For Old Men yang juga tentang kejar mengejar, tetapi True Grit ini memang lebih sederhana dengan hanya berfokus pada sudut pandang si penuntut balas: Mattie dengan dua oom2 yang mendampinginya. Meski demikian, seperti film yg gw sebut itu pula, True Grit lebih mengedepankan tokoh daripada keseruan proses pengejarannnya. Gw bilang begitu karena memang tampak sekali Coen bersaudara memberi perhatian khusus pada adegan2 yang menunjukkan watak dan relasi antar tokohnya *eh, kok jadi kayak tugas makalah sastra gini kalimatnya...oh, well*. Tokoh utamanya, sekaligus penceritanya adalah Mattie Ross, sejak awal sudah ditunjukkan bahwa dalam usianya yg tanggung, ia sudah punya pendirian yang gigih, kaku, keras dan tegas, seakan nggak hormat sama yg lebih tua, menunjukkan kedewasaan prematur akibat paksaan keadaan. Lihat saja adegan tawar menawar dengan seorang pedagang ketika ia berusaha menjual kuda2 yg diurus ayahnya padahal barangnya sedang dibawa kabur sama Chaney (!), dan diiyain aja saking si pedagang udah gerah sama ke-rese-an Mattie, =D. Begitu juga dengan adegan Rooster yang bersaksi di pengadilan, ketahuan bahwa meskipun resminya seorang penegak hukum, ia lebih sering memakai metode main tembak aja, tapi nggak merasa salah, malah banyak ngelesnya =D. Begitu juga dengan LeBoeuf yang lebih by-the-book tapi emosinya juga cepat naik, apalagi sama Mattie yang "nggak-mau-dibilangin" sama orang tua.

Menarik bagaimana tokoh demi tokoh ini muncul, bagaimana cara sutradara menanamkan dengan baik keberadaan tokoh2 tersebut pada benak penonton lewat adegan2 dan dialog2 yang mendetail, sebagaimana yang gw lihat dilakukan Coen bersaudara di film2 mereka sebelumnya—yang membuat ritme film agak lamban. It still works, though. Meski trio kita ini sepertinya bukan formula yang akur—Rooster yang gayanya santai, jorok, cerewet, tapi bisa diandalkan; LeBoeuf yang cool dan setia pada prinsip walau tak selihai Rooster dalam hal kewaspadaan; dan Mattie yang pengennya Chaney itu mati aja bagaimanapun caranya, meski kadang tak berdaya terhalang usianya yang belia—namun pada akhirnya ketiganya sukses bahu membahu dalam menumpas orang2 jahat yang kemudian muncul. Ikatan itu jadi tidak terasa muncul tiba2, tetapi memang terjalin secara natural dalam suka duka perjalanan mereka yang diwarnai "adaptasi" yang kadang mengundang tawa kering (khas Coen juga, walau nggak aneh2 amat kali ini). Apa yang menjadi tujuan misi mereka di awal menjadi tidak sepenting kepedulian penonton (gw) terhadap apa yang akan terjadi pada mereka sesudahnya. Honest. Ketika karakterisasi dan penampilan Josh Brolin sebagai Chaney dan Barry Pepper sebagai Ned Pepper (okay, pas banget namanya ^_^;), kepala geng bandit yang kemudian merekrut Chaney, tampak pas2 saja sebagai antagonis khas western, namun performa brilian dari Jeff Bridges, Matt Damon dam terutama Hailee Steinfeld (yg saat syuting film ini masih berusia 13 tahun) lah sendi vital bagi keberhasilan film ini, yang menjadi katalis perhatian dan kepedulian penonton terhadap karakter mereka (ehem, mulai belajar bikin review pake kata2 ajaib nich, hehehe).

In the other hand, pengemasan True Grit tidak melulu terpaku pada tokoh, karena aspek aksi pun tidak loyo. Klimaksnya cukup efektif dan beberapa adegan kekerasannya pun dibuat intens dan pas timingnya meski belum bisa dikatakan "seru" menurut gw. Segala yang ditampilkan di layar memang menambah kenikmatan dalam menyaksikan film ini: mulai dari kostum, make-up dan tata artistik, musik kalem yang terinspirasi lagu2 gerejawi, sampai sinematografi cantik dan bersih dari Roger Deakins. This is a finely crafted movie, tidak membosankan, tidak membingungkan, dan mungkin film Joel & Ethan Coen yang paling mudah dinikmati—kali ini gw nggak pake garuk2 kepala lagi =D. Meski demikian "normal", film ini ternyata masih memuat perenungan yang cukup dalam. Gw menyadari ketika salah seorang teman movie blogger (ehem, mention gak yah yg punya curhatsinema itu? #eh) mem-point-out bahwa film2 Coen bersaudara kerap menampilkan nilai2 karma. Well, ternyata itu muncul juga di True Grit ini—bagusnya nggak terasa menggurui, bahwa apapun motivasinya, segala tindakan pasti ada konsekuensinya, tak terkecuali pada pihak yang kita (penonton) bela. Sekali lagi, di dunia ini tidak ada yang gratis, kecuali anugerah dari Tuhan. Well-pictured indeed.




My score: 8/10

Senin, 11 Juli 2011

My J-Pop 40


Yeaay, akhirnya kelar juga mengompilasikan My J-Pop yang kali ini sudah sampe di volume ke-40. Tampaknya membuat kompilasi pribadi dalam setengah tahun sekali bakal jadi kebiasaan nih, mengingat gw-nya juga semakin tidak update perihal blantika musik Jepang, selain bahwa yang penjualan CD fisik nya masih laku ya itu lagi itu lagi *ehem, AKB, ehem, Johnny's*. Tadinya juga gw berniat mengeluarkan kompilasi ini sebelum masuk bulan Juli, tapi apa daya ada 1 lagu yg gw nantikan tapi unduhan bajakannya belum keluar2 juga pada tanggal rilisannya *ehem, AKG*, jadi ya apa boleh buat =P. Karena itu pula ke-17 lagu kali ini lebih seperti best J-Pop songs of 2011 so far, dan memang sebagian dari daftar lagu di bawah ini udah booking tempat di sepuluh besar akhir tahun nanti =).

Sedikit gambaran, muka2 lama masih mengisi kompilasi gw ini, dari ASIAN KUNG-FU GENERATION hingga Tokyo Incidents hingga Superfly, pendatang lama yang lama gak eksis di kompilasi My J-Pop juga kembali hadir seperti L'Arc~en~Ciel (baca: lark-ang-si-yel...bukan lar-ken-sil, catet!) dan YUI *mbak ini mulai dandan tampaknya*, pendatang baru pun lumayan rame: Rake, Yukie Sone, DadaD (baca: da-da-da, jangan tanya kenapa =_=) dan back number. Gw juga dengan sengaja masukin 2 single milik Yu Takahashi, yang belakangan jadi salah satu artis kegemaran gw, karena emang rasanya sayang untuk tidak memasukkan 2 lagu tersebut yang menurut gw sama istimewanya, jadi harap maklum.

Seperti sebelum2nya, gw menyertakan preview YouTube bagi lagu2 yang sangat gw rekomendasikan dan gw tetap pada prinsip TIDAK MENYEDIAKAN TAUTAN LANGSUNG UNTUK UNDUH LAGU, karena itu bisa dicari pake Google, selamat mencari, hehe. Semoga bermanfaat =).



My J-Pop vol. 40

1. 高橋 優 – 「福笑い」  Yu Takahashi - "Fukuwarai"



2. Superfly – 「Sunshine Sunshine」



3. くるり –「奇跡」  Quruli - "Kiseki"

4. Rake –「100万回の『 I Love You』」  "Hyakuman-kai no 'I Love You'"

5. ASIAN KUNG-FU GENERATION & 橋本絵莉子(from チャットモンチー) Eriko Hashimoto (from Chatmonchy) – 「All right part2」

6. 曽根由希江  Yukie Sone – 「Home」

7. FUNKY MONKEY BABYS – 「それでも信じてる」  "Soredemo Shinjiteru"

8. 秦 基博 – 「水無月」  Hata Motohiro - "Minatsuki"

9. L’Arc~en~Ciel – 「GOOD LUCK MY WAY」


10. 東京事変 – 「女の子は誰でも」  Tokyo Incidents/Tokyo Jihen - "Onna no Ko wa Daredemo"



11. 高橋 優 – 「誰がために鐘は鳴る」  Yu Takahashi - "Ta ga Tame ni Kane wa Naru"



12. YUI – 「HELLO ~Paradise Kiss~」

13. TEE – 「電話で抱きしめて」  "Denwa de Dakishimete"

14. アンジェラ・アキ–「始まりのバラード」  Angela Aki - "Hajimari no Ballad"

15. DadaD – 「Go Around」



16. 少女時代  GIRLS' GENERATION/SNSD/Shoujo Jidai – 「MR. TAXI」



17. back number – 「花束」  "Hanataba"




Kamis, 07 Juli 2011

[Album] Adele - 21


Adele - 21
(2011 - XL Recordings/Columbia)

Tracklist:
1. Rolling In The Deep
2. Rumour Has It
3. Turning Tables
4. Don't You Remember
5. Set Fire To The Rain
6. He Won't Go
7. Take It All
8. I'll Be Waiting
9. One And Only
10. Lovesong
11. Someone Like You


Adele Adkins, atau Adele tok, penyanyi wanita asal Inggris yg masih muda (kelahiran 1988) tetapi sudah menggebrak industri musik dunia dengan suara emas dan karakternya yang jelas. Gw tau Adele dari single debut "Chasing Pavements" yang fenomenal itu pada tahun 2008, single yang juga memberinya sepasang piala Grammy untuk vokal pop wanita terbaik DAN artis baru terbaik. Awalnya gw merasa oh mungkin ini satu lagi penyanyi bule yang *maaf agak rasis* trying to be black dengan vokal khas musik soul dan R&B sebagaimana dilakukan Joss Stone dan si teler Amy Winehouse—eh berbarengan Adele muncul juga Duffy yg agak sejenis. Tetapi di antara nama2 yg gw sebut, menurut gw Adele lah yang sanggup memenangkan minat kuping gw, karena vokalnya terdengar paling sungguh2, tulus dan nggak maksa *masalah selera saja*. Sayangnya gw tidak terlalu terkesan ketika mencoba mendengar album debutnya yang bertajuk 19, yang didominasi warna pop-soul akustik syahdu minimalis itu.

Untungnya, atas rekomendasi dari beberapa orang, gw masih bersedia mencoba denger album keduanya yang kali ini berjudul 21 (ini angka usia Adele ketika merekam lagu2 untuk album ini, katanya Wiki), dan kali ini gw suka, suka banget malah. Musiknya sepertinya nggak bedah jauh sama album 19 (agak lupa2 inget sih, hehe), masih berkutat pada pop, soul, R&B, ada sedikit gospel juga, dengan instrumen akustik, dan liriknya kayaknya masih sendu karena seluruh lagu di album ini bertema patah hati. Namun, sepertinya album 21 ini lebih ngepop dan lebih santai juga, pokoknya gw sangat menikmati album ini dari track awal sampai akhir. Nada2 nya lebih catchy dan aransemennya pun beragam, tetapi vokal agak serak berat nan mantap Adele masih terakomodasi dengan sangat baik. Akan tetapi, yang bikin gw salut adalah dalam nuansa musik yang berbeda-beda, karakter Adele tidak bergeser atau tenggelam, malah semakin menonjol kemampuannya dan tereskpos semestanya. Kesemua lagu ini, bahkan "Lovesong" yang cover dari The Cure, menjadi kepunyaan Adele, terima kasih kepada vokalnya yang superb itu—mungkin juga karena pengaruh mbak ini ikut ambil terlibat mencipta lagu di semua track (kecuali "Lovesong" tentu saja) =).

"Rolling In The Deep" mengawali album 21 dengan megah, lagu jeritan "galau" tidak cengeng yang melodinya mudah diingat ini telanjur populer karena selain dijadikan single utama album ini, juga sudah sering dinyanyikan ulang oleh artis lain (dan di "American Idol" dan serial "Glee"), memang lagu ini keren. Tetapi, bukan berarti "buntut2" yang mengikuti track ini jadi biasa2 saja, sebaliknya, semakin mengalir semakin ketahuan kualitas album ini nggak cuma jago di lokomotifnya doang. Track "Rumor Has It" membawa atmosfer R&B yang lebih modern dan beat-nya bikin goyang2, diikuti "Turning Tables" (my personal favorite) yg ber-nuansa "pop galau" (bahasa anak sekarang banget sich, hehe, udah gak jaman pake "emo" =P) dibarengi string section dan piano saja—kedua lagu ini ditulis bareng Ryan Tedder-nya One Republic. Nuansa instrumen minimalis kembali muncul di lagu "Take It All" dan "Someone Like You" yang mengeksplorasi maksimal sisi emosional Adele.

Sisanya ada ballad dengan aransemen lebih komplet di "Don't You Remember", nuansa R&B kalem nan groovy namun tak kalah emosional di  "He Won't Go" (2 lagu ini juga my personal favorites =)), yang agak semangat di "I'll Be Waiting", dan sentuhan gospel di "One and Only". Bahkan Adele berani memasukan "Lovesong" yang didominasi gitar akustik yang intens, dan warna khas Britpop di lagu "Set Fire ToThe Rain", both far from failure. Setiap lagu memiliki pesona tersendiri, baik dari melodi, lirik yang lirih, juga dari aransemen yang sangat rapih dan terasa soulful, bunyi2an yang digunakan nggak itu2 aja dan tidak pernah terasa salah pilihan instrumennya. Jadi meski secara lirik temanya serupa, album ini tidak lantas jadi hambar, malah lebih beraneka rasa. Baik yang instrumennya rame, maupun yang cuma 1-2, semua terasa berbobot, dan bobot ini bagi gw adalah berkat sinergi dari lagu, musik dan vokal yang sama bagusnya.

Inilah bagusnya album Adele yang baru ini. Menurut gw 21 adalah contoh album vokal yang baik, karena tidak cuma bertumpu pada bagusnya vokal, tetapi juga karena kekuatan lagu dan musik yang disajikan yang nge-boost talenta dan karakter Adele sebagai seorang artis—kalau vokal bagus lagu jelek itu nggak enak, lagu bagus vokal jelek pun agak2 gimanaa gitu, mnurut gw ya. Bagusnya lagi, kesebelas lagunya disusun dengan susunan tepat, sehingga gw nggak bosan mendengarkan album ini tanpa skip, malah nagih. Gampang sekali mendaulat album ini sebagai salah satu bakal calon terbaik tahun ini, karena setiap mendengarnya tak kuasa gw untuk turut larut dalam suara yang muncul setiap detik durasinya. Berbagai jenis ekspresi sakit hati dirangkai dalam kata2 yang smooth nan dalem, namun diramu dalam musik yang lezat sehingga tetap mengasyikan sebagaimanapun galaunya (#eaa "galau" lagi). Sebuah album yang solid dan anggun, pembuktian bahwa Adele tidak terlena pada kesuksesan yang sudah diraih pada effort perdananya, melainkan terus mengerahkan energi untuk membuat karya yang bagus. In this case, 21 adalah karya yang bagus DAN keren DAN enjoyable. Mari menggalau secara elegan...



My score: 8,5/10


Adele


Previews
Courtesy if YouTube

Rolling In The Deep


Someone Like You


Set Fire To The Rain


Turning Tables


Lovesong

Selasa, 05 Juli 2011

[Movie] Catatan Harian Si Boy (2011)


Catatan Harian Si Boy
(2011 – Tuta Media/Masima Content-Channels/700 Pictures)

Directed by Putrama Tuta
Written by Priesnanda Dwisatria, Ilya Sigma
Produced by Putrama Tuta
Cast: Ario Bayu, Carissa Puteri, Poppy Sovia, Abimana Arya, Albert Halim, Paul Foster, Tara Basro, Onky Alexander, Didi Petet


Pertama-tama gw harus membuat pernyataan resmi bahwa gw nggak inget pernah menonton satu pun waralaba (lu kate minimarket, franchise kali malih) film Catatan Si Boy yang diproduksi sampai 5 film dalam rentang 1987 sampe 1991. Mungkin pernah liat di TV tapi kayaknya cuma sambil lalu, lagian diputernya gak sesering Warkop ^_^—gw cuman inget dulu Boy pernah ceritanya jadi wartawan majalah Hai, bener gak yah? In short, gw dengan sadar mengaku tidak paham dengan hype Mas Boy yang dibintangi Onky Alexander itu yang sepertinya masih terngiang di kalangan dewasa muda Indonesia saat ini (jujur gw tau Onky Alexander hanya sewaktu do’i —jiee “do’i”—membuat heboh dengan pernikahannya yang, well, “kontroversial” itu *ketauan dari dulu penggemar gosip =P*). Tadinya gw juga nggak terlalu menantikan proyek franchise terbaru Boy yang sekarang dibubuhi kata “harian” di tengah2nya ini. Dengan aktor2 yang lebih “update” dan juga sutradara yang menggunakan merek Boy ini sebagai debutnya, promosi film ini memang lumayan gencar mulai dari di Twitter sampai Tukul, eh ditambah lagi hasil press junket yang sepertinya sukses besar, akhirnya gw lumayan terpancing untuk menonton Boy baru ini, yah itung2 dalam rangka gak mau ketinggalan jaman gitu dech, saya memang kepo.

Jika membaca review2 (yang mayoritas positif) yang beredar, Catatan Harian Si Boy ini bukan remake atau reboot atau sekuel langsung. Tokoh utama film ini bernama Satrio (Ario Bayu), lalu ada cs-annya Heri a.k.a. Moy (Albert Halim), Andi (Abimana Arya...or Satya...or Setya...mana nih yg bener?) dan Nina (Poppy Sovia)—2,5 cowok ini kerja di bengkel mobil milik Nina. Lho bukan Boy? Memang bukan. Masih ada sedikit kaitan dengan tokoh Boy-nya Onky Alexander dan kawan2nya, tetapi sosok “Mas Boy” seperti dibuat hanya sebagai MacGuffin (halaah sok bikin istilah ala kritikus =P) alias alat penggerak plot untuk tokoh2nya yang lebih muda ini beraksi. Akan tetapi, *konon* karakter2 yang muda ini juga tidak sama sekali baru, karena mereka masih punya elemen2 dari tokoh2 yang ada pada film2 Boy yang dulu, ibarat jiwanya sama tetapi beda tubuh, zaman dan latar belakang, terutama pada penokohan Satrio dan Heri yang mirip Boy dan Emon (Didi Petet). Kalo gw bilang sih Catatan Harian Si Boy sebenarnya seperti reinkarnasi sekaigus spin-off dari “legenda” Boy, dapat berdiri secara mandiri, namun juga *kayaknya* tetap menampilkan berbagai rujukan ke film2 asli Boy di sana-sini.

Okay enough with the background, secara plot gw berani katakan bahwa Catatan Harian Si Boy ini masuk kategori yang nggak istimewa amat sebenernya, not really something I’m excited about. Tentang cinta dan persahabatan anak2 muda yang hidup dalam kekerenan gaya hidup ibukota. Seperti gw singgung, unsur “Boy” dalam film ini hanya semacam excuse untuk menggulirkan kisah tentang Satrio dkk. Satrio menawarkan bantuan buat cewek cantik bernama Tasha (Carissa Puteri) mencari seseorang bernama Boy, yang buku hariannya (yang ditulis semasa masih muda pastinya) senantiasa dipegang oleh ibunya Tasha, Nuke yang kini sedang sakit keras, dengan harapan pertemuan dengan Boy dapat memperbaiki kondisi sang ibu. Motivasi Satrio mau bantuin Tasha udah jelas dong. Nah, bumbu paling medhok dari pencarian ini adalah cinta segitiga: Tasha udah punya pacar bule duplikat Darius Sinathrya, Nico (Paul Foster) yang kaya dan gagah tapi mainannya sama preman. Ya, betul, kalo ada “preman” terlibat, akan ada tindakan kekerasan atas asas kecemburuan yang tidak hanya melibatkan Satrio tapi juga harus menguji persahabatannya dengan Heri, Andi dan Nina yang ikut keseret juga.

Ceritanya nggak terlalu istimewa, lantas apakah film ini jadi film biasa aja? Wo, belum tentu. Catatan Harian Si Boy adalah yang gw sebut sebagai film yang “film banget”—nggak harus bermakna negatif lho. Film ini punya eksekusi adegan yang sangat baik dan memang terlihat “niat bikin film” mulai dari sinematografi sampai tata artistik yang sesuai dengan kepribadian film ini yang muda dan bersemangat *atau bercemungudhz?*, dinamis tetapi rapi dan enak sekali dipandang, nggak kalah kok sama The Fast and The Furious, adegan balap pembukanya keren =). Usaha sutradara Putrama Tuta di film perdananya ini tampak menjanjikan karena mampu membuat sebuah sensasi yang keren sekaligus nyaman kala menonton film ini di bioskop, nggak terlalu maksa tapi nggak minder juga. Memang segala sesuatu yang terjadi di film ini agak terkesan too cool to be true, mengingat film ini menampilkan anak2 muda ibukota yang berpenampilan keren dan bisa (dan sudah biasa) melakukan apa yang mereka inginkan seakan tanpa beban, punya teman2 asik dan mengerjakan apa yang disuka namun tetap sejahtera—mungkin ini bentuk referensi/inkarnasi dari tokoh Boy dulu yang *konon* serba sempurna, kaya, ganteng, keren, keluarga baik2, gaul, disukai kaum cewek, dan relijius—tapi tak mengapa, karena permasalahan yang digulirkan masih bisa relate ke banyak orang. Toh ini juga bukan film yang terlalu serius, lebih ke menyenangkan apalagi dibubuhi dialog2 yang segar dan sesekali jenaka, gak ada yang salah dengan itu.

Nah selain tata visual, satu lagi faktor yang membuat film ini enjoyable adalah dari tokoh2 yang ada, baik dari penokohan lewat naskah maupun permainan aktornya. Gw suka dengan bagaimana tokoh2 ini ditempatkan, diperkenalkan dan ditonjolkan secara pas dan efektif, mudah mengundang simpati dan mudah diingat. Kesemuanya bermain cukup kompak dan secara individual pun nggak malu2in. Ario Bayu dapet lah coolnya, Carissa Puteri lumayan lah dapet emosi-tanpa-histeris-nya, Albert Halim dapet lah bancinya, Poppy Sovia dapet lah tough-without-being-a-bitch nya, dan favorit gw adalah tokoh Andi yg dimainkan Abimana Arya yang tampak cuek tapi ujarannya selalu “kena” tanpa maksa atau dibuat-buat. Awesome, dude! Bahkan cameo Roy Marten pun memberi efek yang signifikan meski hanya sebentar dan tanpa kata-kata. Casting yang bagus.

Maka Catatan Harian Si Boy ini bolehlah masuk dalam jajaran film Indonesia yang layak tonton. Apakah film ini akan menimbulkan impact sebesar Boy dulu atau at least Ada Apa Dengan Cinta dekade lalu, masih perlu diuji lagi. But overall, film ini memenuhi kriteria bagus sesuai porsinya sebagai film yang menghibur tanpa asal2an. Biarpun gw masih merasakan ceritanya agak lost di beberapa poin karena lebih fokus pada pribadi tiap2 tokoh yang pacenya lebih slow, tapi gak papa dah karena nggak kedodoran ketika kembali lagi ke jalurnya. Cerita mungkin biasa aja, keseluruhannya pun belum sampai menimbulkan kesan “wow” di hati gw, namun Catatan Harian Si Boy perlu diberi kredit pada penggarapan yang sangat niat dan rapi dan sedap dipandang, apalagi dari sutradara debutan. It’s about love, friendship, and coolness, and it’s harmless. PUNGUT!!! =P




My score: 7/10

Sabtu, 02 Juli 2011

[Movie] The New World (2005)


The New World
(2005 - New Line Cinema)

Written and Directed by Terrence Malick
Produced by Sarah Green
Cast: Colin Farrell, Q'orianka Kilcher, Christopher Plummer, Christian Bale, David Thewlis, August Schellenberg


Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar ada film tentang Pocahontas? Sepertinya akan mudah teringat film animasi klasik Disney yang penuh dengan warna, tarian dan nyanyian yang muncul pada pertengahan 1990-an. The New World juga mengangkat kisah yang sama, tentang seorang gadis Indian di wilayah Virginia benua Amerika (sekarang Amerika Serikat) yang menjadi semacam jembatan antara pendatang kolonial Inggris dengan penduduk asli Amerika, sedikit banyak melibatkan hubungannya dengan Captain John Smith seorang petualang Inggris yg ikut ekspedisi membangun koloni di dunia baru itu. Kisah Pocahontas itu tercatat dalam sejarah (abad ke-17) jadi memang bukan karang2an belaka. The New World mencoba menampilkan kisah pertemuan dua dunia ini dengan lebih mendekatkan diri pada catatan2 sejarah. Perihal menyaksikan film ini perlu hati2 sama 2 hal: 1. Pocahontas versi Disney itu jauuuh banget dari fakta sejarah, jadi jangan harap ada hewan2 lucu atau pohon berbicara, atau tiba2 Pocahontas langsung bisa berbahasa Inggris =_=”; dan 2. The New World ini buatan Terrence Malick. Why? Opa Malick adalah sineas yang terkenal antik, baru bikin sedikit film, dan film2nya memang pasti dikemas dalam ciri khas nya dia dan hanya dia yang begitu. Gw sendiri baru nonton satu karyanya sebelum ini, The Thin Red Line, dulu di Indosiar (gw kayaknya masih SMP), malem2, alhasil gw ngantuk di tengah2 =P. The New World juga pernah gw saksikan di televisi (Trans TV kalo gak salah) sekitar 1-2 tahun yang lalu, malem2 juga, dan sama gw ngantuk juga =PP.


Jadi begini, cara presentasi film ala Malick memang tidak konvensional. Menilai dari The New World ini saja (krn The Thin Red Line gw udah lupa, cuma inget banyak rumput ilalang di medan perang), nontonnya tuh kayak kita lagi mimpi (pernah liat iklan Nutrilon? Nah kayaknya iklan itu terinspirasi film2 Malick deh, musik “Vorspiel” karya Richard Wagner-nya juga digunakan di film ini). Sedikit sekali adegan yang panjang, lebih sering potongan2 adegan yang singkat yang disambung-sambungin. Dialog antar tokoh pun terbilang jarang, dan filmnya sendiri menggunakan narasi puitis dari beberapa tokohnya, yang juga berfungsi sedikit menjelaskan plot dan perasaan tokoh2nya. Lebih mirip kumpulan footage dokumenter ketimbang kumpulan adegan film, namun ajaibnya gw tetap bisa ikutin plotnya. Itulah yang membawa gw kembali untuk mencoba nonton film yang sempat bikin gw ngantuk ini, karena masih terngiang-ngiang selepas menontonnya.


Sepenangkapan gw, filmnya kayak memberi poin2 peristiwa dan gw disuruh mengisi sendiri detil penyambung di antaranya =D. Pokoknya ada John Smith (Colin Farrell) sampe di tanah Virginia bareng rombongan perintis koloni dari Inggris pimpinan Captain Newport (Christopher Plummer). Mereka berinteraksi dengan penduduk lokal, suku Indian Powathan, suatu ketika ada perseteruan dan Smith ditangkap lalu hidup di tengah2 suku itu, bertemu dengan gadis muda putri kesayangan kepala suku, Pocahontas (Q'orianka Kilcher)—yang namanya tidak pernah sekalipun tersebut di film. Smith dan Pocahontas saling belajar satu dengan yang lain, dan hubungan mengarah ke asmara. Smith dilepas kembali ke koloninya dan kemudian didaulat memimpin koloni Jamestown yang sudah terbangun namun sedang kacau. Ketegangan koloni vs Indian tetap berlanjut, sehingga Smith berusaha “mengusir” Pocahontas dari kehidupannya. Pocahontas yg ketahuan membantu penduduk Jamestown (memberi asupan pangan dan memberi tau bahwa sukunya akan menyerang koloni, bisa jadi demi Smith) diusir dari sukunya, kemudian diculik oleh orang2 koloni dengan harapan kepala suku nggak akan menyerang Jamestown yang ada putrinya sendiri di dalamnya. Smith pergi untuk ekspedisi ke utara dan menyuruh orang memberitahukan Pocahontas bahwa dalam 2 bulan dia mati tenggelam. Pocahontas tentu heartbroken, but life goes on, ia tetap melanjutkan belajar cara hidup orang2 kulit putih ini di koloni Jamestown. Pocahontas kemudian bertemu dengan John Rolfe (Christian Bale), bekerja di ladang tembakaunya, kemudian dibaptis dengan nama Rebecca, dinikahi Rolfe, punya anak bernama Thomas, diundang ke Inggris untuk bertemu Raja, dan lebih heartbroken lagi ketika tau bahwa Smith masih hidup sehat waalfiat.


Itu semua poin2 pokoknya. Banyak ya. Bertele-tele? Enggak kok. Dalam durasi yang panjang (135 versi reguler, dan 172 menit versi extendednya) film ini sebenarnya tidak lambat atau muter2. Plotnya lurus. Lama, karena memang banyak yang harus diceritakan, tapi nggak lambat. Film ini tetap menyampaikan poinnya dengan pas dalam gaya yang seperti gw sebut tadi, potongan2 footage layaknya dokumentasi perjalanan—memberi kesan mengajak keterlibatan penonton di dalamnya, and it works—jadi laju film ini terbilang cepat tanpa berlama-lama di satu titik. Tapi memang, sekali lagi, film ini jarang ngomongnya. Lebih banyak memperlihatkan gerak-gerik manusia dan keindahan alam. Ini terbilang efektif mengingat tema besar dari The New World adalah 2 bangsa yang dibatasi budaya dan bahasa saling berinteraksi. Action speaks louder than words, film ini benar2 memperlihatkannya, dengan banyak memperlihatkan bahasa tubuh yang anggun, tapi kalau ditonton dalam keadaan kurang memadai (malem2, capek, atau di TV yg dipotong iklan), cara ini memang berbahaya, berbahaya bagi kesadaran, alias bikin ngantug =P.


Di luar itu, The New World bukanlah sekadar fiksionalisasi sejarah belaka, tidak hanya menyajikan cerita, tapi merupakan pengalaman menonton tersendiri. Asal tahu saja, film ini CAKEPP BANGET. Interaksi, gerak-gerik tokohnya, keindahan alamnya, peristiwa2 krusialnya, semua ditata dengan luar biasa indah dan ditangkap dengan sinematografi yang, sekali lagi, CAKKKEPPP BANGGETTT. Serba alami, halus dan mulus, pergerakan dan sudut penyorotannya sempurna. Alam liar Amerika yang masih perawan, asri, dan hijau ditangkap dengan luar biasa, dari jarak dekat, seger banget, jernih banget, cantik banget, seakan-akan lingkungan-lah bintang utamanya, para tokoh hanya bagian di dalamnya. Bolehlah yang punya usaha elektronik pake Blu-Ray film ini buat demo TV, pun bagi pemerhati fotografi pasti jingkrak2 sorak sorai bergembira kalau nonton film ini, Emanuel Lubezki gitu loh sinematografernya =). Bahasa visualnya sangat sangat kuat, nyaris flawless, pokoknya CUAAKKKKEPPP BANNNGGGGETTTTT *alright, stop it ^_^;*, pokoknya kayak mimpi deh, serasa mendapat penglihatan/penerawangan/pewahyuan.


The New World karya Terrence Malick mungkin menonjol karena stylenya, style khas Malick *konon* yang hampir menjurus ke surealis. Namun buat gw selain penceritaan kisah (dan legenda) Pocahontas dengan cara yang unik dan lain dari yang lain, The New World tetap memperhatikan sisi emosional. Hubungan romansa Pocahontas dan John Smith dan perasaan mereka masing2 mendapat porsi yang lumayan serta digunakan sebagai benang merah filmnya. Gw paham kepenasaranan mereka satu dengan yang lain, kekaguman Smith akan suku penduduk Indian setempat yang menyatu dengan alam dan keengganannya menyambung cinta Pocahontas karena akan membuat si gadis mendapat masalah di sukunya, pun gw mengerti kenapa Pocahontas bersedia dinikahi John Rolfe yang memang sangat gentleman (jauh lah sama Smith yg urakan). Juga, judul “The New World” yang bermakna ganda, bagi Smith maupun Pocahontas.


Perlu ditekankan lagi bahwa film ini bukan drama sejarah biasa, bahkan “dramatis” pun tidak. Sebagaimana banyaknya pemandangan alam di film ini, “drama”nya pun terjadi dengan alami. Hubungan John Smith dan Pocahontas pun, meski mendapat porsi yang banyak, dibuat wajar, innocent dan nggak menye-menye—toh sebenarnya nggak ada bukti sejarah bahwa mereka berdua menjalin cinta. Ini adalah film jenis tersendiri, langka, atau boleh dibilang jenis film “Terrence Malick”—oke ini agak lebay karena bank film gw belum memadai untuk komentar seperti itu, hehe. Buat gw, hasil kerja opa Malick yg konon sangat teliti, ketat, dan lama soal editing ini sama sekali tidak sia-sia (katanya metode beliau adalah syut sebanyak-banyaknya adegan, trus ntar diatur di ruang editing, bahkan ceritanya bisa agak berubah saat proses editing. Antik bener =D). The New World adalah karya yang apik, cantik, artistik, namun tidak semerta melepaskan sisi kemanusiaan dan juga penceritaan dengan caranya sendiri, sebuah film istimewa. Oh, gw udah bilang belum film ini CCCCUUAAAAKEEEEPPPP BAAANNNGGGEEETTTTT? =)




My score: 8,5/10

[Movie] ALWAYS: Sunset On Third Street (2005)


ALWAYS 三丁目の夕日 (Always - San-choume no Yuuhi)
ALWAYS: Sunset on Third Street
(2005 - Toho)

Directed by Takashi Yamazaki
Screenplay by Takashi Yamazaki, Ryouta Kosawa
Based on the comic series "San-choume no Yuuhi (Sunset on Third Street)" by Ryohei Saigan
Produced by Chikahiro Ando, Keiichiro Moriya, Nozomu Takahashi
Cast: Hidetaka Yoshioka, Shin'ichi Tsutsumi, Maki Horikita, Koyuki, Hiroko Yakushimaru, Kazuki Koshimizu, Kenta Suga, Masako Motai, Tomokazu Miura, Fumiyo Kohinata


Jika ditilik sekilas, ALWAYS Sunset on Third Street terkesan sama saja dengan film2 yang marak bermunculan di Jepang sana memasuki milenium baru, yaitu adaptasi komik dengan aktor2 terkenal, dan terlebih lagi film ini akan penuh visual efek canggih dan digarap oleh sutradara yang sebelum ini lebih dikenal menggarap film2 aksi fantasi. Dalam rumus Hollywood, ini adalah pengeruk uang tapi seringkali menelantarkan jiwa sebuah film yang disebut "cerita". Dalam rumus Jepang, kira2 serupa, lebih centil di style ketimbang isi (ehem, Casshern?). Tapi apa yang terjadi, ALWAYS kemudian gw daulat sebagai film Jepang rilisan dekade 2000-an terbaik dan paling menghibur yang pernah gw tonton, live action pada khususnya.

ALWAYS tidak bertumpu pada plot tertentu dalam 2 jam-an durasinya, tapi lebih kepada karakter2nya yang lovable. Kalo nggak salah "Sunset on Third Street"—versi komiknya sempat diterbitkan dalam bahasa Indonesia belakangan ini—memang berisi fragmen demi fragmen kehidupan sehari-hari beberapa orang yang hidup di sebuah sudut kota Tokyo pasca perang dunia sekitar 1950-an, ketika Jepang sedang membangun kehidupan warganya kembali. ALWAYS—yang kemudian akan dibuat sekuelnya tahun 2007 dan 2012 (in 3D) ini—mengambil seting mulai 1 tahun sebelum konstruksi Tokyo Tower selesai, dan berfokus pada 2 rumah yang saling berhadapan di kawasan Third Street. Yang pertama adalah rumah keluarga Suzuki sekaligus bengkel mobil bernama "Suzuki Auto", ada pak Suzuki (Shin'ichi Tsutsumi) yang emosian, Tomoe (Hiroko Yakushimaru, pernah jadi tokoh emak di sinetron "1 Litre of Tears") si ibu yang penyayang dan..err..keibuan, serta putra kecil mereka yang bandel, Ippei (Kazuki Koshimizu). Mereka menerima seorang gadis dari daerah, Mutsuko (Maki Horikita), kemudian dipanggil Roku gara2 ambiguitas huruf kanji namanya, untuk bekerja di bengkel dan tinggal bersama mereka. Yang kedua adalah "warung chiki" Chagawa yang dikelola oleh seorang "sastrawan gagal", Ryuunosuke Chagawa (Hidetaka Yoshioka) yang juga menyambung hidup sebagai penulis cerita besambung di majalah anak2 mingguan. Suatu ketika Chagawa dimintai tolong oleh seorang pemilik bar yang mantan penari klub nan cantik, Hiromi (Koyuki) untuk titip putra sesamanya penari klub yang mengaku nggak sanggup mengurusnya. Karena mabok cinta atau mabok beneran, ia menyanggupi dan kemudian harus mengurus anak pendiam dekil bernama Junnosuke (Kenta Suga) itu mulai dari sekolah sampai kebutuhan sehari-hari, padahal dirinya sendiri sebenarnya nggak suka anak2 kecil.


Hal pertama yang langsung kelihatan dari ALWAYS adalah penggarapannya yang serius dan benar2 berusaha menghadirkan suasana Tokyo 1950-an dengan bantuan desain produksi dan penggunaan CGI yang lumayan sebagai pemolesnya, dan usaha itu tidaklah sia2. Segala referensi zaman itu ditampilkan se-otentik mungkin, mulai dari kendaraan (mobil2 tua dan “bemo” nya Suzuki), sistem transportasi (trem dan kereta uap), pakaian, peralatan (radio, televisi, dan dulu lemari es itu ternyata memang lemari yg ada es nya ya ^_^), permainan anak2 dan sebagainya, memaksimalkan nilai nostalgia yang terkandung film ini. Secara teknis lainnya pun film ini menurut gw lebih superior dibandingkan film2 Jepang lain yg pernah gw tonton—yg bagi gw terlalu kaku. Sinematografinya berperan penting menampilkan gambar2 yang nyaman dan cakep serta efektif dan dinamis, gw bisa lihat ekspresi aktor2nya dengan jelas. So, secara visual, film ini dua jempol, very good.

Tapi bukan bagian itunya yang membuat gw suka film ini. Memang keseriusan visual menambah kenikmatan menonton, tetapi gw salut dengan film dengan jalan ceritanya tidak punya benang merah jelas ini menjadi tontonan yang nyaman dan lancar jaya dengan lebih menekankan pada sisi manusia dan nilai2 kekeluargaannya. Lewat tokoh2 yang diangkat, ALWAYS berjalan dengan mulus melewati 4 musim yang diisi oleh kisah2 menarik sekitar mereka. Mulai dari Suzuki yang salah sangka (atau salah baca lebih tepatnya) terhadap CVnya Roku; pemasangan perdana televisi di rumah Suzuki yang ikut ditonton semua tetangga dengan norak hebohnya; Junnosuke yang ternyata penggemar cerbung tulisan Chagawa hingga membuat fan-fiction, yang malah dijadikan Chagawa sebagai karyanya; pencarian ibu kandung Junnosuke bersama Ippei, ya pake nyasar dan nggak ada ongkos; Roku yang enggan mudik meski berkali-kali ditawarkan libur oleh suami istri Suzuki; hingga kisah asmara canggung yang tumbuh antara Chagawa dan Hiromi, serta kemunculan ayah kandung Junnosuke. Biarpun sudah dengan dukungan teknologi digital masa kini, toh kisah penghuni rumah Suzuki dan Chagawa lah yang diutamakan. Tanpa menimbulkan perasaan menganjal atau membingungkan, keseharian mereka begitu enak diikuti, diselipi humor2 situasional yang efektif, sehingga nggak terasa bahwa sebenarnya film ini nggak ada inti selain dinamika dan perubahan yang dialami tokoh2nya selama kurun waktu 1 tahun semata.


Dari sini saja sudah ketahuan bahwa sutradara Takashi Yamazaki memang membuat sebuah keputusan yang tepat. Mungkin beliau sadar bahwa kekuatan komiknya yang masih berlanjut serinya hingga sekarang ini adalah dari ceritanya, bukan dari gaya visual, bukan pula dari ide2 yang ekstrim. ALWAYS ini sebenarnya profoundly film yang sederhana dan modest, tentang keluarga, cuman kesederhanaan itu “terpaksa” dibungkus dengan pelbagai bahan pendukung (desain produksi, CGI, kostum) yang tampak mewah agar menjaga atmosfer yang otentik. Garis bawahi kata “pendukung”. Untungnya, sajian dramanya ditata dengan baik dan tidak asal2an, cukup mengejutkan bagi seorang sutradara yg resume sebelumnya tidak ada karya drama (Returner, Space Travelers, baru2 ini Space Battleship Yamato). Ada beberapa adegan yang mengesankan gw, tapi mungkin yang paling kena dan cakep adalah adegan Chagawa menyematkan cincin ke jari Hiromi...tanpa cincin =). Beruntung pula Yamazaki karena berhasil merekrut aktor2 yang tidak sembarangan. Keberhasilan adegan demi adegan film ini bagi gw tidak lepas dari performa aktor2 yang bermain baik dan kompak, terutama kelihatan dalam beberapa long-take yang dipresentasikan dengan mumpuni—buat gw Jepang memiliki aktor2 dengan disiplin jempolan terutama dalam film2 ensemble cast, mungkin setara dengan Inggris. Bahkan aktor2 ciliknya pun sangat luwes memainkan perannya. Mungkin masih terasa agak komikal namun entah kenapa, terutama Shin’ichi Tsutsumi dan Hidetaka Yoshioka yang bermain luar biasa, membuat tokoh2 mereka menjadi hidup dan tidak terasa janggal.


Bagi penikmat di luar Jepang mungkin terlalu terpaku pada film2 Jepang yang drama artistik filosofis, horor, gore, thriller sakit, samurai, anime, adaptasi anime/komik, bokep, pokoknya yang ekstrim2 dah. Padahal ternyata Jepang juga punya batu mengkilat dalam ranah film "normal", film keluarga yang menyentuh dan bersahaja meski dibalut kecanggihan teknologi sinema, dan tidak terlalu terjebak dalam keklisean. ALWAYS adalah film yang bisa ditonton siapa saja dan rasanya sih bisa dinikmati siapa saja. Kejepangannya masih terlihat dalam cara yang berbeda, tetapi semua berbaur dalam potongan2 kisah 2 "keluarga" yang jenaka dan menarik simpati penonton tanpa paksaan. Memang masih ada bagian2 yang terlalu komikal dan adegan2 wajib dalam perfilman Jepang (adegan lari dan adegan menatap matahari =.="), dan bagian ending yang kayak terlalu dramatis, namun ketika kredit film berjalan, batin gw berujar bahwa gw baru saja menyaksikan salah satu film Jepang paling memuaskan yang pernah gw tonton. Kisah sederhana dalam tampilan mewah yang dieksekusi dengan baik. Hangat, ringan, menghibur. Love it.



My score: 8/10