Selasa, 29 Maret 2011

[Movie] Another Year (2010)


Another Year
(2010 - Focus Features/UK Film Council)

Written and Directed by Mike Leigh
Produced by Georgina Lowe
Cast: Jim Broadbent, Leslie Manville, Ruth Sheen, Oliver Maltman, Peter Wight, David Bradley, Martin Savage, Karina Fernandez, Imelda Staunton


Sebagai pembuka, gw harus memberanikan diri untuk bilang: I'm not going to pretend that I like this film, hehe. Yah, sebagai seorang awam yg amat jarang mengkonsumsi sinema yg menjurus ke art-house, Another Year memang langsung, sejak awal, bukan "film gw banget" lah istilahnya (nah trus yg "gw banget" tuh yg kayak apa? *mikir* *bingung* *ah sudahlah*). Udah diwanti-wanti sih, dari ulasan2 yg beredar, terutama dari blog2 tetangga, bahwa film ini memang bukan film drama seperti yg ada kebanyakan. Malah bisa dibilang ini film drama yang tanpa "drama", bahkan "cerita" nya pun kayak nggak ada. Nah lho.

Akan tetapi mungkin di situlah letak keistimewaan Another Year karya Mike Leigh ini. Film ini tidak bercerita, tapi "ngobrol" ngalor ngidul sehari-hari sekitar kehidupan pasangan yg lumayan lansia, Tom (Jim Broadbent) dan Gerri (Ruth Sheen) di London—yes, Tom and Gerri =D—dalam rentang satu tahun dan disekat oleh 4 segmen sesuai musim (semi, panas, gugur, dingin). Penonton hanya diajak untuk menilik dan mengamati secara dekat kehidupan sehari-hari Tom dan Gerri lewat interaksi dengan orang2 sekitarnya yg diwakili beberapa hari (2-3 hari) di setiap musimnya. "Sehari-hari" di sini dalam arti kata sesungguhnya, yang secara kasat mata tidak ada sama sekali peristiwa yg spesial. Tetapi ibarat berkunjung ke rumah orang lalu cerita2 banyak, baik soal diri sendiri ataupun ngomongin si itu dan si anu, "sehari-hari" yang tampak flat pun nyatanya tetap menyimpan "drama" bukan? Seperti itulah Another Year, dibalik obrolan dan kegiatan yg biasa2, sekecil dan setersembunyi apapun, ada "drama" yang tersirat.

Tom dan Gerri bisa jadi adalah model keluarga sakinah yang begitu mapan dan bersahaja, belum lagi mereka adalah orang2 yg baik dan hangat. Mereka rukun, kompak, dan bahagia luar dalam, serta sering berkebun bersama *aaww so sweet*. Di sekitar mereka ada si putra tunggal, Joe (Oliver Maltman) yang sudah mandiri sebagai pengacara di kota, lalu ada Mary (Leslie Manville) rekan kerja Gerri di rumah sakit yang kerap diundang pasangan ini ke rumah untuk sekedar makan dan cerita2. Anggaplah segmen pertama "spring" adalah perkenalan, penonton diperkenalkan pada Gerri, Tom, Joe, serta Mary yang akan muncul di semua segmen. Mungkin Mary adalah yg paling terlihat menonjol sepanjang film, dengan perilakunya yang ceriwis dan penampilan yang "niat" di usianya yg hampir setua Tom dan Gerri—tapi masih dalam tahap wajar, lebay2 normal lah *apaseh*. Dari banyaknya lontaran kata dari mulutnya—dan banyak maunya ^_^;, gampang terlihat si tante gemar minum ini menggunakan kecerewetannya sebagai bentuk penyangkalan atas hidupnya yg begitu2 saja di usia menuju senja (gw menganggap kemunculan tokoh Janet yg diperankan Imelda Staunton di awal juga mengisyaratkan ini), yang jauh dari citra sempurna keluarga kecil sejahtera milik Tom dan Gerri.

Sekali lagi, film ini bukan berisi "drama" yang seakan berusaha membenturkan karakter2 di dalamnya, malahan yang ada karakter2 di sini saling meredam. Tom dan Gerri juga Joe selalu siap sedia mendengarkan dan memberi saran pada Mary tanpa harus ragu menyatakan pendapat mereka yang sejujurnya, seperti udah biasa aja...but would it be remain the same within a year? Well, sudah kadung tau tentang Tom, Gerri, Mary, dan Joe, dan kemudian tau bahwa film ini "tanpa plot" hingga musim keempat, yang ada di benak gw adalah kekepoan a.k.a. usil pengen tau apakah yang akan berubah dalam setahun ini, terhadap orang2 ini. Bagaimana setelah Joe akhirnya punya pacar, dan bagaimana pula ketika kerabat dekat Tom ada yang meninggal dunia? Toh tetap saja sebenarnya ada drama2 kecil dalam kehidupan adem ayem Tom dan Gerri, hanya mereka menghadapinya dengan tidak meledak-ledak. Sekali lagi, kontras dengan Mary yang kehidupannya justru didramatisir oleh dirinya sendiri, entah dengan membeli mobil tua ataupun pake2 acara kesengsem sama Joe =D.

Another Year bagi gw adalah film tentang keseharian, keseharian yang nyata bahkan lebih nyata daripada acara realiti di televisi—yang dipaksa musti ada dramatisasi apapun bentuknya. Film ini pun keseluruhannya tampak biasa, dengan menampilkan kegiatan2 biasa, isi obrolan biasa, cara berbicara yg biasa, aktor2 bertampang biasa, pengambilan gambar pun biasa, tapi justru yang "tampak biasa" ini yg berkontribusi besar dalam memberi efek believable dan relatable pada setiap adegan yang muncul. Ini juga tentunya berkaitan dengan para aktornya yang luar biasa sekaligus bersahaja menghidupi peran mereka sealami dan seleluasa mungkin dengan menanggalkan jauh2 yang namanya dramatisasi. Gw seperti berada satu ruangan di sebuah rumah dengan mereka yang sedang berbicara, sit beauty a.k.a. duduk manis dan turut serta sebagai pendengar yang baik akan hal apapun yang mereka bicarakan (dasar kepo =P), merasakan simpati, kelucuan sekaligus kecanggungan situasinya, secara riil. Nah, saking alaminya, sebagaimana obrolan di dunia nyata kita, kedetilan, pelebaran topik serta lamanya pembicaraan jadi seakan "tak terkendali" (jadi inget gw waktu kecil ikut ortu bertamu ke rumah orang, meski jadi tau berbagai informasi yg seharusnya gw gak perlu tau, tapi panjang gelllaa ngobrolnya ampe nggak pulang2 dan itu teh udah diisi ulang =_="), dan gw tetap tak kuasa untuk "mempercepat" atau mempersempit arah pembicaraan, apalagi di segmen "winter" yang bernuansa sendu, wedeh, ngundang banget nih—ngundang ngantuk, hehe.

Singkatnya, apakah Another Year film yang bagus? Ya. Bukankah membosankan? Ya, memang. Dan, apakah saya suka? Emm...gimana yah..? ^_^;. Secara keseluruhan gw menangkap keistimewaan film ini yang gayanya agak berbeda dengan film2 yg pernah gw tonton, namun proses menontonnya butuh perjuangan dan ketahanan diri *halah*, dan tidak selalu gw menikmatinya, but at least film ini gak bikin kesal lah, lagian pembicaraan2nya menarik. Apalagi kayaknya gw menangkap salah satu hal menarik yg terkandung antara hubungan judul dan filmnya, bahwa rentang setahun di kisah film ini sebenarnya hanyalah satu tahun di antara tahun demi tahun kehidupan dari tokoh2 kita, namun jangka waktu yang sepele itu tetap saja membawa perubahan, baik perkembangan atau malah kemunduran. Bisa jadi kecil sekali sampai tidak dirasa, tetapi tidak insignifikan. Bukankah kehidupan kita juga demikian? *sok bijak dan interaktif =P*



My score: 7,5/10


Senin, 21 Maret 2011

POLLING: Lagu Jepang Terpopuler di Indonesia

Haihai. Entah kesambet apa, beberapa waktu yg lalu terbesit ide di benak gw yang berangkat dari sebuah pertanyaan yang begitu mendasar dan hakiki: apa sih lagu Jepang yang paling terkenal di Indonesia? Huehuehue. Well, sebagai penggemar musik Jepang, tentu saja gw punya perhatian khusus dalam mengikuti perkembangan J-Pop sekaligus berusaha mengetahui dan memperbaharui khazanah dengan banyak mendengarkan lagu2 dari negeri itu. Namun gw keinget, lagu2 Jepang pun ada kalanya keluar dari batas "milik" komunitas pecinta Jejepangan. Meski bisa dihitung dengan jari, tak dipungkiri ada beberapa lagu Jepang yang sempat mencicipi tingkat popularitas yang sejajar dengan lagu "barat" dan Indonesia, baik lewat airplay di radio (*ehem* Sonora *ehem*) maupun berbagai media di televisi nasional (sinetron atau serial animasi Jepang).

Dengan paragraf di atas sebagai dasar pemikiran (=P), gw pun mencoba melemparkan beberapa pilihan lagu yang "sepertinya" pernah populer--atau setidaknya sering diperdengarkan--di masyarakat Indonesia secara relatif luas. Gw ingin memastikan apa benar lagu2 ini sukses terpatri di hati setiap pendengarnya di Indonesia *euleuh euleuh kata2nya*, dan lagu mana yang paling dikenal oleh orang2 Indonesia. Ini cuma "penelitian" kecil2an sih, gw pun gak bisa mengendalikan sampel mana yg harus gw ambil *serius amat*, namun gw dengan kerendahan hati mengundang partisipasi dari teman2 semua untuk mengisi polling yang ada di samping kanan halaman blog Ajirenji Mindstream Reviews ini (di bawah kop blog)--kalo perlu ajak juga teman2, adik, kakak, ayah, ibu, aa, teteh, encang, encing, enyak, babe Anda untuk ikutan, hehe.

Gw mengajukan 9 butir lagu Jepang secara "agak" random alias ngasal saja (^_^;) yang bisa dipilih. Ini sudah hasil saringan bahwasanya lagu2 tersebut adalah lagu pop murni yang dapat berdiri sendiri, tidak keliatan banget berafiliasi langsung dengan tie-upnya (contoh lagu2 tema Saint Seiya dan Ksatria Baja Hitam yang memasukkan judul serialnya di dalam lirik lagu), dan bukan lagu yang di Indonesia lebih populer dalam versi alih bahasanya (contoh lagu tema Doraemon dan Tokyo Love Story, atau "Gaining Through Losing" nya Ken Hirai yang lebih populer versi F4 nya).

And the contenders are (alphabetical):

"First Love" - Utada Hikaru

"Fukai Mori" - Do As Infinity

"Haruka Kanata" - ASIAN KUNG-FU GENERATION

"I For You" - Luna Sea

"Kokoro no Tomo" - Mayumi Itsuwa

"La La La Love Song" - Toshinobu Kubota

"Sobakasu" - Judy And Mary

"Stay Away" - L'Arc~en~Ciel

"True Love" - Fumiya Fujii


Btw, Anda dapat memilih lebih dari satu lagu yang memang Anda tahu lho--bukan hanya yg Anda suka saja, tapi juga yang Anda ingat pernah dengar ketika membaca judulnya. Sekali lagi silahkan pilih di kotak polling di bagian kanan atas (di bawah kop) blog ini.

Polling ditutup tanggal 1 Mei 2011 pukul 10:00 WIB, dan hasilnya akan gw rangkum...err...setelahnya (nggak brani janji hehehe).

Dengan segala hormat, mohon kesediaannya ya. Silahkan... m(_"_)m

~~~~~

SILAHKAN LIHAT HASIL POLLINGNYA DI SINI ^_^ v

Minggu, 13 Maret 2011

[Movie] The Social Network (2010)


The Social Network
(2010 – Columbia)

Directed by David Fincher
Screenplay by Aaron Sorkin
Based on the book “The Accidental Billionaires” by Ben Mezrich
Produced by Scott Rudin, Dana Brunetti, Michael de Luca, Ceán Chaffin
Cast: Jesse Eisenberg, Andrew Garfield, Justin Timberlake, Armie Hammer, Max Minghella, Rooney Mara, Brenda Song, Rashida Jones, John Getz


The Social Network adalah film soal Facebook. Iya, situs jejaring sosial tersohor itu. Tapi segera coret kalimat pertama tadi ini, karena ternyata film The Social Network dibangun atas sebuah isu menarik—kecil, secuil, agak tersembunyi, tapi menarikdibalik kesuksesan Facebook yang fenomenal. Tak lama setelah Facebook.com mulai tersebar luas dan punya pemodal besar sekitar 2004-2005, Mark Zuckerberg (Jesse Eisenberg) sang kreator menghadapi 2 tuntutan hukum sekaligus. Yang pertama adalah tuntutan pencurian kekayaan intelektual, atau gampangnya: nyolong ide, yg diajukan oleh saudara kembar Cameron dan Tyler Winklevoss (Armie Hammer) serta Divya Narendra (Max Minghella). Mark dituntut telah mencuri konsep dari ketiga mahasiswa “elit” Universitas Harvard ini untuk membuat sebuah situs jejaring sosial eksklusif Harvard. Yang kedua adalah tuntutan penipuan atas kepemilikan Facebook.com dari Eduardo Saverin (Andrew Garfield), yang adalah pemodal paling awal dalam meluncurkan situs ini. Ironisnya, Eduardo adalah sahabat paling dekat dari Mark semasa kuliah, dan bisa dibilang seperjuangan dalam membuat Facebook.

Cerita pada paragraf barusan gw tarik secara semena-mena sebagai fakta sejarah, karena memang kenyataannya Mark Zuckerberg aslinya harus menghadapi dua tuntutan perdata itu. Selanjutnya, gw memutuskan bahwa hanya itu saja fakta sejarah yang ada dalam film The Social Network ini, karena sisanya adalah pengembangan dari sang pembuat film, dramatisasi, yang belum tentu akurat, maka dengan begitu gw bisa leluasa menanggapi The Social Network sebagai sebuah film cerita, bukan sebuah acara current affair di CNBC. The Social Network memang megawali ceritanya seperti kisah cikal bakal dan perkembangan Facebook (konon motivasi Mark Zuckerberg membuat Facebook tidak seperti gambaran di film ini...and there's no such person as Erica Albright (Rooney Mara)), namun itu adalah bagian flashback dari pembicaraan di 2 pertemuan perdata (kalo 2 pihak bertikai didampingi pengacara saling bertemu untuk membahas kasus tanpa hakim, bukan sidang kan namanya?), dan ternyata itu adalah cara dari naskahnya sembari menggiring penonton untuk menelaah sendiri duduk perkaranya, apa yang terjadi sehingga Mark bisa dihantam dua tuntutan serius sekaligus. What could have possibly gone wrong behind the process of something so phenomenal and cool? *jieeh bahasa Inggrisnya satu kalimat penuh ni yee* =_= v

Di luar rangkaian proses "jadinya" Facebook
yang ditata secara apik dengan ritme ciamik, baik sebagai situs maupun bisnis, setelah menyaksikan film ini secara keseluruhan, satu hal yang menjadi perhatian gw adalah kentalnya penggambaran hubungan persahabatan Mark dan Eduardo yang sangat riilwalau akhirnya kandas sih, sampe nuntut gitu. Mark begitu berhasrat membuat Facebook ini, dan ia hanya mau membuatnya bersama sahabatnya sendiri yang ia percayai. Dan, meski bukan menggeluti bidang komputer, Eduardo selalu suportif terhadap Mark dan proyeknya ini, termasuk dalam hal pendanaan. Eduardo bahkan sangat sabar dan santai menghadapi Mark yang orangnya "kayak gitu"—emm, tipe2 nerd yang lugas dan nyinyir ^_^;. Tetapi, ketika Mark menggandeng kreator situs unduh musik Napster, Sean Parker (Justin Timberlake), persahabatan mereka pun tiba pada tahap uji. Mark antusias dengan ide2 Parker, lain hal dengan Eduardo yg sejak awal tidak suka dengan perangainya. Tapi, Parker yg punya banyak koneksi penting, memberi Mark kesempatan membuat Facebook mendunia, menjangkau lebih banyak orang dan lebih inovatif, dengan mengubahnya dari sekedar "asyik" menjadi bisnis milyaran dolar. Entah sengaja atau tidak, lewat proses ini, lambat laun Mark dan Parker seakan menjauhkan keterlibatan Eduardo dalam Facebook. Demi bisnis, tentu ini tak masalah, karena Eduardo memang tidak terlibat secara teknis, pun masih terbilang culun di dunia bisnis informatika ini. Tetapi bagi persahabatan, ini jelas menyakitkan.

Meski tidak ditekankan secara jelas, satu kata yang menggambarkan kesan gw terhadap The Social Network adalah: betrayal. Mark membangkang dari "kesepakatan" dan "komitmen"nya dengan kembar Winklevoss dan Narendra. Ia pun seperti tidak mencegah kerugian yang dialami Eduardo seiring semakin besarnya Facebook. Akan tetapi, jika dipikir-pikir, melihat Facebook sebagaimana sekarang ini, digunakan bahkan bermanfaat bagi ratusan juta orang di seluruh dunia, apakah gw serta merta berani menghakimi bahwa "pengkhianatan" Mark itu for the wrong reason?
Kembar Winklevoss dan Narendra bukanlah yang pertama menggagas situs jejaring sosial online di dunia ini, toh mereka cuma punya ide sebatas "eksklusif Harvard". Dan Eduardo, meskipun terlihat didzalimi, face it, sejak Facebook pindah markas ke California kontribusinya memang nyaris tidak ada. But still, it hurts. A lot. Setiap pihak ada plus-minusnya. Jadi, jujur gw nggak sanggup berpihak sama siapapun di film ini. Siapa gue? =P

The Social Network gw nilai sebagai film yang bagus, namun bukan karena kata orang bagus atau banyaknya penghargaan yang diterimanya (di luar Oscar yg "cuma" dapet 3 =I). Film ini tampil dengan tata adegan dan karakterisasi yang believable namun lincah tanpa dibuat-buat, gambarnya adem dan sedap dipandang, aktingnya mantaps to the tapss (all thumbs up buat Jesse Eisenberg dan Andrew Garfield), tata musiknya beda dan menggugah, membungkus naskah yang dibangun dan disusun rapi penuh dialog cerdas dan sesekali jenaka. Film ini memang harusnya datar, namun emosi yang dihadirkan
—paduan dari segala bidang, berimpact begitu nyata sehingga, buat gw at least, sama sekali nggak membosankan. Namun lebih dari itu, The Social Network sukses bikin gw peduli bahkan menghayati apa yang terjadi di dalamnyaterbukti gw bikin 4 paragraf hanya buat bahas ceritanya aja =D, padahal gw sendiri nggak ada tuh pengalaman2 seperti yang dialami tokoh2 di film ini, tapi entah kenapa demikianlah efek yang gw rasakan. Salah satu contohnya, miris juga ketika Eduardo tau Sean Parker cari investor di Los Angeles, ia bilang "Why did he set up meetings?", padahal di New York ia mengusahakan susah payah hal yang sama (tanpa hasil), tapi Mark menembaknya dengan sarkas "Oh, how's it going so far?". Jleb...

The Social Network, terlepas dari "Facebook" sebagai gimmicknya, adalah drama manusia. Facebook hanyalah latar belakangnya (gw inget bagian tentang "Wall" dan "Tagging" yang cuman sekelabat aja disinggungya), tapi "bintang" dari film ini adalah manusia2 di sekitar penciptaan jejaring sosial terpopuler saat ini, yang terlepas dari keakuratan filmnya, pada dasarnya juga mengalami apa yang dialami manusia kebanyakan. Hasrat untuk jadi yang terbaik, atau sekedar berarti, yang kadang harus diwarnai dengan sakit hati. Ini film yang (anehnya) menyentuh tanpa harus terjebak melankoli. And that's good =).




My score: 8/10

[Album] Utada Hikaru - Utada Hikaru SINGLE COLLECTION VOL. 2


宇多田ヒカル Utada Hikaru – Utada Hikaru SINGLE COLLECTION VOL. 2
(2010 – EMI Music Japan)

Tracklist:
Disc 1:
1. Prisoner Of Love
2. Stay Gold
3. HEART STATION
4. Kiss & Cry
5. Beautiful World
6. Flavor Of Life – Ballad Version –
7. ぼくはくま Boku wa Kuma
8. This Is Love
9. Keep Tryin’
10. Passion
11. Be My Last
12. 誰かの願いが叶うころ Dareka no Negai ga Kanau koro
13. Beautiful World – PLANiTb Acoustica Mix –
Disc 2:
1. 嵐の女神 Arashi no Megami
2. Show Me Love (Not A Dream)
3. Goodbye Happiness
4. Hymne á l’amour ~愛のアンセム~ Ai no Anthem
5. Can’t Wait ‘Til Christmas


Utada Hikaru jelas adalah salah satu artis terbesar Jepang generasi sekarang. Di Indonesia sendiri Utada Hikaru adalah mungkin satu2nya artis Jepang yang setiap albumnya senantiasa konsisten dijual di toko2 kaset, meski kebanyakan dari kita masih aja stuck di lagu “First Love” yang udah berumur lebih dari satu dekade itu ^_^;. Di Jepang sendiri, album pertamanya saja, First Love, adalah album dengan penjualan tertinggi sepanjang masa (7,6 jutaan keping !), belum lagi penjualannya di luar Jepang (sebagian besar di Asia). Terbukti pula, Utada bukan hanya sukses sesaat, karena meskipun tidak seproduktif artis J-Pop kebanyakan, rilisan2nya setelah itu pun mendulang sukses selalu, baik di negerinya maupun di luar. Tahun 2010 adalah tahun yang penting bagi penyanyi WN Amerika Serikat ini. Selain menelurkan album kompilasi SINGLE COLLECTION VOL. 2 ini, di tahun itu pula ia memutuskan untuk rehat sampai waktu yang tak ditentukan, jadi ceritanya doi mau menandakan rehatnya itu secara istimewa lewat album tersebut. Eh, belum lagi ada “drama” ketika perusahaan rekaman Utada sebagai artis internasional (yg rilisan berbahasa Inggris) turut merilis album Utada The Best yang konon mendapat penolakan keras dari si artis sendiri. Jelas bukan tahun yang “tenang” bagi mbak Utada, hehe.

Anyway, yang kita bahas kali ini adalah album SINGLE COLLECTION VOL.2 yang merangkum rilisan single Jepang Utada Hikaru dari tahun 2004 (“Dareka no Negai ga Kanau koro”) hingga tahun 2008 (“Prisoner Of Love”) total ada 12 lagu (ditambah versi remix dari single “Beautiful World”) plus 5 lagu baru, agak berbeda dari yang VOL. 1 (2004) yang hanya berisi lagu2 yang sudah pernah dirilis saja. Tadinya sih gw gak terlalu berharap banyak sama album ini, mengingat gw juga bukan termasuk fan Utada—suka sih sama sebagian lagu yg ada di album ini, tapi nggak pernah suka album2nya yang banyak eksperimen—dan mengira ini akan jadi just another “the best of” album, tenyata nggak lho! Gw cukup terkejut ketika selesai mendengarkan album ini, ternyata single2 lama yang disusun menurut tanggal rilis secara terbalik ini dan lagu2 barunya bisa dirangkai menjadi satu album yang solid. Meskipun ada beberapa lagu yang tadinya gw nggak suka, yaitu “Beautiful World” (lagu tema film Evangelion 1.0) dan “Passion” (lagu tema game Kingdom Hearts II), ternyata jadi bisa gw nikmati juga karena album ini. Buang jauh2 bayangan bunyi2an “aneh” Utada sebelumnya, karena album kompilasi ini benar2 berisi lagu2 yang dapat dinikmati oleh kalangan luas.

Jika ada yang membedakan karakter musik Utada yang bisa dinilai dari lagu2nya, maka Utada rupanya sudah lumayan menjauh dari warna R&B yang tadinya diusung ketika awal2 muncul. Bila menggunakan album ini sebagai cermin, bisa dilihat sejak pertengahan dekade kemarin Utada seperti membentuk karakter musiknya sendiri, tetep pop sih, namun banyak menggunakan elemen digital kental tapi tidak agresif, dengan lirik dan melodi unik, plus diwarnai dengan vokal Utada yang khas dan kian menghipnotis. Dalam disc 1, sebagian lagu yang ada menggunakan instrumen mesin yang kerap menimbulkan kesan mengawang-awang enak *heh?* misalnya, “HEART STATION”, “Stay Gold”, “Kiss & Cry”, “Keep Tryin’” dan lagu “anak2” “Boku wa Kuma”. Namun, ada juga yang menggunakan instrumen “hidup” yang menggugah emosi, contoh “Flavor Of Life” (yang suka Boys Over Flowers/Hana Yori Dango/Meteor Garden versi Jepang pasti kenal lagu ini), “Be My Last”, dan “Dareka no Negai ga Kanau Koro” (yang pernah nonton film Casshern pasti pernah denger lagu ini). Untuk yang disc pertama, lagu terfavorit harus gw sematkan pada “Prisoner Of Love” (lagu tema sinetron Last Friends) yang menurut gw adalah single terbaik Utada semenjak “First Love”, juga pada versi remix—emm, versi pake instrumen non-digital, akustik plus plus lah—dari “Beautiful World” di track 13, namun overall, gw suka banget sama aliran lagu2 di disc pertama ini, enak beut.

Disc ke-2 yang berisi 5 lagu terbaru Utada juga tidaklah mengengecewakan. Bunyi2annya tidak jauh berbeda dengan yang disc 1 sehingga nggak terlalu ngejomplang waktu dengernya. Sebagian besar lagunya berbentuk pop yang catchy, entah itu “Goodbye Happiness” yang jadi single andalan album ini, yang bernuansa ceria, “Arashi no Megami” yang mellow, “Show Me Love” (lagu tema film Ashita no Joe/Tomorrow's Joe) berupa ballad yg agak menggelegar, serta lagu manis bernuansa Natal “Can’t Wait ‘Til Christmas” (fyi, album ini dirilis menjelang bulan Desember). Hanya ada satu track yang tergolong eksperimental, yaitu lagu milik Edith Piaf, “Hymne á l’amour” yang dibuat versi Utada, lengkap dengan tambahan lirik bahasa Jepang, dengan balutan jazz yang sangat enerjik. Lagu inilah yang paling menarik gw, karena meskipun eksperimental, tapi tidak terkesan “aneh” tapi malah sangat keren, the best track of the disc lah.

Maka secara keseluruhan, Utada Hikaru SINGLE COLLECTION VOL.2, walau sebagian besar “cuma” lagu2 yang udah pernah dirilis, adalah album yang bagus dan layak dikoleksi baik oleh penggemar mbak Utada (of course), penggemar J-Pop, maupun penggemar musik pada umumnya. Karakter khas Utada sebagai seorang artis (singer plus songwriter) terepresentasi dengan baik lewat album ini. Kayaknya inilah album “the best” terbaik dari artis J-Pop yang pernah gw denger, malah bisa jadi salah satu album “the best” terbaik yang pernah gw denger dari artis manapun. Very solid, no boring moment, and seriously worth your money.



My score: 8,5/10

宇多田ヒカル Utada Hikaru


Previews courtesy of Utada Hikaru official account on YouTube

Goodbye Happiness



Prisoner Of Love



HEART STATION



Flavor Of Life – Ballad Version –



Keep Tryin'



Be My Last



誰かの願いが叶うころ Dareka no Negai ga Kanau koro



Sabtu, 12 Maret 2011

[Album] Maroon 5 - Hands All Over


Maroon 5 – Hands All Over
(2010 – A&M/Octone Records/Universal Music)

Tracklist:
1. Misery
2. Give A Little More
3. Stutter
4. Don’t Know Nothing
5. Never Gonna Leave This Bed
6. I Can’t Lie
7. Hands All Over
8. How
9. Get Back In My Life
10. Just A Feeling
11. Runaway
12. Out Of Goodbyes (with Lady Antebellum)
13. Crazy Little Thing Called Love (Acoustic) [Bonus Track]


Maroon 5 telanjur jadi salah satu band kesukaan gw sejak album pertamanya, Songs About Jane (2002) yang juga jadi salah satu album favorit gw sampe sekarang. Album keduanya, It Won’t Be Soon Before Long (2007) juga nggak mengecewakan amat meski album pertamanya masih jauh lebih oke mnurut gw. Hands All Over adalah album ketiga mereka yang kali ini seluruhnya di”urus” sama produser Robert John “Mutt” Lange…yang sejak gw liat nama ini terus mendengar album ini secara keseluruhan gw kok bayanginnya Maroon 5 kali ini mirip Shania Twain XD.

But before we get to that, gw menilai Maroon 5 di album ketiganya ini seperti ingin memberi lagu2 baru, yang tetep asik2, namun tetap dalam koridor musik “ala Maroon 5”. Dalam bahasa negatifnya, musiknya sendiri tidak berbeda atau berkembang dari yang gw denger di karya2 merek sebelumnya. Single andalan “Misery” pun kalo dipikir-pikir mirip “This Love” tapi versi lincah. Hanya saja, kestatisan musik mereka bukan berarti menjatuhkan nilai kenikmatan mendengarkan keseluruhan album Hands All Over ini. Menurun iya, tapi it’s not bad at all kok. Malahan, gw menangkap bahwa Maroon 5 kali ini lebih kental unsur pop diantara warna musik mereka yg biasanya pop-rock-funk ini.

Tadi gw singgung gw merasa musik Maroon 5 di album ini agak mirip Shania Twain? Apalagi kalo membaca bahwa ada lagu “Out Of Goodbyes” yang berkolaborasi dengan band country Lady Antebellum? Well, gak segitunya sih. Lagian produser “Mutt” Lange bukanlah ekslusif ngurusin musik country saja sebenarnya. Cuman, gw cukup merasakan campur tangan Lange dalam aransemen lagu2 di Maroon 5 kali ini (yaiyalah), terutama di lagu yang berirama medium dan cepat, mulai dari permainan drum, sampe belokan nada yang dinamis dan lantang di keyboard dan bass, yang mengingatkan gw pada keterlibatan Lange dalam album2 hitnya Shania Twain. Jika ada hal baru di dari Maroon 5 lewat album ini, ya itu dia—tapi “hal baru” itu pun ternyata udah sering gw denger. Untungnya sih ini nggak menghilangkan karakter Maroon 5 yang selama ini dikenal. Permainan mereka tetap rapih dan enerjik, vokal khas Adam Levine pun masih enak sekali didengarkan.

Dari 12 track “asli”—nggak termasuk bonus track, yang gw suka selain “Misery” yang memang selalu sukses bikin goyang2 itu, adalah “Never Gonna Leave This Bed” yang bernuansa power-pop ballad ala Amerika, juga “Stutter” yang lebih medium-beat, “I Can’t Lie” yang mengedepankan beat funk yg oke, serta yang paling favorit adalah “Just A Feeling”, lagu yang slow namun cukup emosional. Track2 lain bukan favorit tapi nggak bisa dibilang menyebalkan juga, rangkaian lagu demi lagunya lumayan enjoyable, kelihatan sekali lagu2nya dibuat secatchy mungkin, hanya saja tidak sebegitu kuat meninggalkan jejak berarti di dalam memori *aih bahasanya*. Itulah yang menyebabkan album ini, bagi gw, belum bisa mengungguli karya Maroon 5 sebelum2nya, alih-alih disebut istimewa. Namun, Hands All Over bukan karya yang tidak bisa dinikmati sama sekali. Yang penggemar akan masih memaklumi, yang bukan penggemar pun rasanya akan tetap ikut larut dalam keasyikan khas Maroon 5 yang ditawarkan dalam album ini. Maroon 5 banget deh. Ini band masih jadi salah satu band favorit gw yang punya karakter tersendiri, baik dari musik, vokal, maupun kecenderungan bikin video2 klip yang rada ehem ehem, hahaha.



My score: 7/10


Maroon 5


Previews courtesy of Maroon 5 official channel on YouTube

Misery



Give A Little More



Never Gonna Leave This Bed



Minggu, 06 Maret 2011

My Top 25 International Songs of the 2000's

Udah masuk tahun 2011, tapi gw masih ingin mendaftar hal2 yang paling berkesan dari dekade 2000-2009, atau dalam bahasa gw “duaribuan” (kalo dekade sekarang gw namain “duaribubelasan” *biarin*). Sebagai kelanjutan dari daftar serupa tentang lagu2 J-Pop dan lagu2 Indonesia, kini saatnya gw perkenalkan kembali 25 lagu internasional keluaran dekade 2000-an yang paling berkesan buat gw. Judul “internasional” di sini sesungguhnya merujuk pada yang di luar Indonesia dan Jepang (karena udah ada kategorinya sendiri), jadi bisa dari dan dalam bahasa mana saja, meskipun memang karena “iklim” radio/televisi kita pada umumnya, lebih banyak lagu yang dari Amerika Serikat atau Inggris saja yg gw tau selama ini.

Sebagaimana senarai2 terdahulu, gw membuat pemeringkatan 25 lagu di bawah nanti dalam urutan terbaik dari yang favorit...emmm, yak, begitu *gakjelas*. Gw memastikan lagu2 ini adalah lagu yang setiap kali dengar akan gw nikmati dan hayati sekali, serta membawa gw kembali ke dekadenya *halah* (maklum, dekade 2000-an adalah masa pertumbuhan saiah, hehehe), ataupun yg kemungkinan lagunya gw pasti inget meski hanya mendengar judul lagunya saja, yang paling “berkarakter” deh. Secara general, ternyata gw emang punya kuping agak Melayu yang suka lagu2 slow dan easy listening. Jangan heran pula kalau ternyata banyak lagu2 mainstream a.k.a. pasaran mengisi daftar ini, karena gw hanya konsumen biasa yang memang budak mainstream, hehe. Eh, tapi mainstream2 juga gw pilih2 dong, apalagi ini konteksnya dalam jangka waktu 10 tahun, gw pada akhirnya nggak malu untuk menggulirkan daftar ini.

So, mari kita berangkat menuju My Top 25 International Songs of The 2000’s, plus ada previewnya buat reminder =).