Senin, 31 Januari 2011

My J-Pop 39

Waduh...6 bulan ye gw gak bikin kompilasi My J-Pop, emang udah faktor U kali ya udah kurang gesit mengupdate atau mencari-cari lagu2 J-Pop terbaru dan yang cocok sama kuping gw. Alhasil, 17 lagu dalam My J-Pop nomer 39 ini bersumber dari single/lagu yang dirilis sejak pertengahan hingga akhir 2010, malu saya mengingat dulu bisa lebih update daripada itu *ambil tali dan kursi*. But anyway, gw merasa sih dengan lamanya waktu gw mengumpulkan lagu dalam susunan ini, lagu2nya juga oke berat ^_^. Beberapa lagunya udah gw bahas sebagai lagu2 J-Pop favorit gw sepanjang 2010, sisanya ada yang udah langganan seperti Kobukuro, Mika Nakashima, Monkey Majik serta Hata Motohiro, pun ada beberapa artis baru atau baru-gw-tau yang mewarnai rekomendasi gw kali ini, seperti GRAPEVINE, The ROOTLESS (dengan lagu opening serial anime One Piece), THE RICECOOKERS (bahasa Inggrisnya bagus) dan Tsubaki-ya Quartette yg katanya bakal bubar di tahun 2011 ini *walah*.

Monggo disimak kumpulan lagu2 J-Pop asik versi gw kali ini, dan sebagaimana prinsip, kalau mau lagunya, cari sendiri ya =), gw aja bisa kok dapet.


My J-Pop vol. 39

1. 少女時代 Shojo Jidai/GIRLS' GENERATION/SNSD 「Gee (Japanese ver.)」
2. TEE 「ベイビー・アイラヴユー」Baby I Love You
3. ASIAN KUNG-FU GENERATION「さよならロストジェネレイション」 Sayonara Lost Generation
4. 東京事変 「スイートスポット」 Tokyo Incidents/Tokyo Jihen - Sweet Spot
5. MONKEY MAJIK 「FOREVER」

6. FUNKY MONKEY BABYS 「あとひとつ」Ato Hitotsu


7. moumoon 「moonlight」
8. GRAPEVINE 「風の歌」 Kaze no Uta
9. ROCK’A’TRENCH 「Music Is My Soul」
10. コウクロ 「流星」 Kobukuro - Ryuusei
11. 高橋 優 「ほんとのきもちYu Takahashi - Honto no Kimochi

12. 中島美嘉 「一番綺麗な私を」 Mika Nakashima - Ichiban Kirei na Watashi wo


13. The ROOTLESS 「One Day」

14. THE RICECOOKERS 「NAMInoYUKUSAKI」


15. Superfly 「Wildflower」

16. 椿屋四重奏 「マテリアル」 Tsubaki-ya Quartette - Material


17. 秦 基博 「メトロ・フィルム」 Hata Motohiro - Metro Film


Rabu, 26 Januari 2011

AJIRENJI MINDSTREAM REVIEWS 2ND ANNIVERSARY: Stories and Facts

Duaaa tahun *isyarat tangan ala emaknya Kiki Fatmala*. Wow, nggak berasa, hehe, ungkapan standar ya. Tapi bener kok, rasanya belum selama itu gw memulai blog bejudul Ajirenji Mindstream Reviews ini. Gw aja sampe lupa "merayakan" satu tahunannya—err, kalo itu sih karena males aja hehehe. Berawal dari sekadar mengisi waktu yang (sangat) senggang kala masih cari pekerjaan, tepat pada tanggal ini dua tahun yang lalu gw mempublish sekaligus 3 entri: perkenalan, review album Hata Motohiro bertajuk ALRIGHT serta artikel My 10 Best Japanese Vocalists sebagai entri2 perdana penanda lahirnya blog iseng2 tak penting ini. Natsukashii... 



Cerita sedikit latar belakang (berhubung peringatan satu tahunnya kelewatan ^_^"), blog Ajirenji bukanlah "pengalaman" perdana gw nulis2 sesuatu yang dipublikasikan—maksudnya bukan cuman gw aja yang baca, haha. Sebelumnya gw cukup rajin nulis review2an di Friendster (skarang udah ilang arsipnya T-T) dan Facebook. Sebelum itu pun, gw pernah bikin artikel2an tentang film dan juga sepasang ulasan musik di majalah dinding SMA. Eh, ditarik lagi masa sebelumnya, ternyata jaman SMP dan SMA gw hobi mengisi  loose-leaf file 
binder gw (dulu ngehit banget kan tuh) dengan review2an film—yang sedikit banyak terpengaruh oleh gayanya majalah Cinemags dan kemudian M2 Movie Monthly =)— yang bahkan sempet gw "bagi-bagi" sama temen sekelas buat tugas bikin sinopsis Bahasa Indonesia...untung aja tugasnya dibatalin hehe *malu*. Gw sendiri sebenarnya gak merasa gemar menulis, boro2 ngaku penulis, karena orang yang gemar nulis harusnya gemar baca sebagai sumber perbendaharaan bahasa...gw nggak gemar baca =P, bahkan bisa teman2 lihat sendiri kemampuan menulis gw sangat berantakan—lebih ke arah bahasa percakapan yang gw lakukan atau dengar di sekitar. Cuman mungkin karena gw orangnya banyak diem dan kurang gaul getoh *ngaku*, menulis menjadi sarana gw untuk mengungkapkan pendapat gw tentang hal2 yang gw sukai, dalam hal ini film dan musik (terutama Japanese pop), which is really really fun

Minggu, 23 Januari 2011

[Movie] The American (2010)


The American
(2010 – Focus Features)

Directed by Anton Corbijn
Screenplay by Rowan Joffe
Based on the novel "A Very Private Gentleman" by Martin Booth
Produced by Anne Carey , George Clooney, Jill Green, Grant Heslov, Ann Wingate
Cast: George Clooney, Violante Placido, Thekla Reuten, Paolo Bonacelli, Johan Leysen


Setelah menyaksikan The American, gw pikir akan lebih tepat seandainya film ini memakai titel versi novelnya, "A Very Private Gentleman", serta mengganti pose berlari dari George Clooney di posternya. Sebab biarpun premisnya soal pembunuh bayaran yang bersembunyi, keseluruhan film ini tentang...ya..pembunuh bayaran yang bersembunyi. Sejak kapan orang sembunyi itu harus gegap gempita dan hingar bingar? Dengan pemahaman seperti itu maka sangat dimaklumi kalau film ini cenderung sunyi sepi sering sendiri, agak meleset dari kesan yg timbul dari posternya. Dari sisi negativis ini disebut datar, mboseni, dan ngantuki. Dari sisi optimistis, ini disebut tenang, kalem, dan penuh penghayatan (cailah..). Kalo gw? Hmm, harus diakui bahwa gw agak struggle untuk menahan ngantuk dari awal hingga sekitar 2/3 film, namun rupanya The American ditutup dengan elegan dan cukup membayar rasa kantuk yang melanda gw di menit2 sebelumnya.

Tokoh yg dimainkan George Clooney dipanggil sebagai Jack oleh "atasannya". Meski gak gitu jelas apa perofesinya, kayaknya sih dia seorang pembunuh bayaran di usianya yg uzur yang entah apa yg telah diperbuatnya, nyawanya terancam karena sedang diburu mafia Swedia. Jack lalu disuruh oleh Pavel (Johan Leysen) bersembunyi di pedesaan di Italia sampai masalahnya selesai. Dalam persembunyiannya di desa penggungan nan hening, Jack bergaul cukup akrab dengan pastor setempat (Paolo Bonacelli) dan PSK aduhai, Clara (Violante Placido)--ia mengaku sebagai Edward, fotografer travel lepas. Sembari itu, Jack/Edward juga disuruh membuat senjata custom-made untuk seorang pembunuh bayaran perempuan yang mengaku bernama Mathilde (Thekla Reuten).

Biarpun dengan kegiatan santai dan interaksi (minim) dengan orang2 sekitar, pada dasarnya Jack/Edward tetaplah sendirian saja. Apalagi mengingat dia sedang diburu...dan dia sendiri seseorang dengan profesi yang juga memburu orang, setiap langkahnya harus selalu dilakukan dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Alih2 menenangkan diri, kesunyian dan kesendirian justru menyimpan ancaman yang lebih berbahaya. Perasaan itulah yang timbul di benak gw ketika menyaksikan pigura demi pigura The American yang memang slow dan jarang dialog ini. Penonton disuguhkan kegiatan2 yang dilakukan Jack/Edward yang terlihat tidak penting--kecuali bagian yang melibatkan senjata dan Mathilde, bahkan udah ditambah kencan yg lumayan romantis dgn Clara, tetapi perasaan mengganjal bahwa Jack/Edward ini dalam keadaan tidak aman terus menghantui, tinggal masalah waktu aja perasaan nggak enak itu terbukti...setidaknya bagi Anda yang tahan menunggu pembuktian itu selama lebih kurang 1 jam tanpa ngantuk, hehehe.

Gw akui film ini ditulis dengan rapi dan lolos dari bolong2, serta kisah2 sampingannya mendapat porsi cukup (yang kemudian bersimpang di akhir). Paruh awal tentang karakter Jack/Edward cukup efektif dan intens, termasuk perkenalan sisi sentimentilnya yang suka sama kupu-kupu yang sukses membangun jembatan simpati pada gw sebagai penonton (he's still a human-being =)), dan intensitas itu pun tetap terjaga meskipun suasana di paruh akhirnya terkesan lebih "bahaya". Tetapi, memang sekali lagi gw menekankan bahwa cara penyampaian yang dipilih sutradara Anton Corbijn dalam film ini adalah cara adem-ayem yang seakan tanpa gejolak berarti sebagaimana mungkin seharusnya yang dirasakan Jack/Edward di persembunyiannya, yang bagi gw ibarat angin sepoi2 yang mengundang ngantuk, namun pada saat-saat yang membutuhkan suspense yaitu di setengah jam terakhir, Corbijn pun dapat menyajikannya dengan baik, perlahan tapi pasti memuncak di bagian akhir. The final scene is beautiful =).

Dengan penampilan prima George Clooney beserta dukungan pemain2 Eropa di dalamnya, juga dengan gambar2 cakep, The American sesungguhnya film yang layak tonton asalkan tidak disalahartikan. Ini bukan soal pembunuh bayaran, tapi seseorang yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran--penekanan pada orangnya, bukan pada aksinya. Namun sayangnya, meskipun persepsi gw udah diset kayak gitu (thanx to my fellow movie bloggers =)), tetep ngantuknya agak susah dikompromi, hehe. But overall, mungkin nggak terlalu memorable, namun di luar reaksi kurang ajar dari mulut gw yg nguap2, The American is actually a decent movie. Lagian, walaupun sedikit, momen2 ketika Jack/Edward menunjukkan skillnya sebagai assassin juga keren2 loch =).



My score: 7/10

Rabu, 19 Januari 2011

[Movie] Let Me In (2010)


Let Me In
(2010 - Overture Films/Icon Film)

Directed by Matt Reeves
Screenplay by Matt Reeves
Based on the film "Låt Den Rätte Komma In" (Let The Right One In) written by John Ajvide Lindqvist based on his novel
Produced by Alexander Yves Brunner, Guy East, Carl Molinder, John Nordling, Simon Oakes, Nigel Sinclair
Cast: Kodi Smit-McPhee, Chloë Grace Moretz, Elias Koteas, Richard Jenkins, Cara Buono, Dylan Minnette


Entah ada yang perhatiin atau enggak, gw jarang banget yah posting ulasan film horor. Well, alasannya memang sederhana: penakut *malu*. Atau versi rumitnya, malu ketahuan kalo gw orangnya kagetan ^_^; . Gw mau nonton film jenis apa aja, tapi yang paling gw hindari adalah horor. Kecuali kalau itu film bener2 bagus (berdasarkan rekomendasi orang lain tentu saja), gw nggak akan mau nonton horor. Males rasanya kalo gw udah ditakut-takutin dan dikaget-kagetin tapi filmnya secara keseluruhan ya gitu2 doang, like, say, Exorcist The Beginning =_=". Gw lebih suka modelnya The Sixth Sense, yang horor tapi penekanannya bukan di situ, bukan sekedar menakuti-nakuti. Dan untunglah, Let Me In ini pun memang modelnya kayak gitu: horor tapi juga fokus ke arah romansa cinta monyet ^_^".

Let Me In adalah adaptasi versi Amerika dari novel Swedia yang juga telah dibuat filmnya di sana, Let The Right One In (belum nonton). Ceritanya bertumpu pada seorang anak cowok 12 tahun, Owen (Kodi Smit-McPhee) yang sering dibully oleh teman sekelasnya di sekolah, pun tak terlalu diperhatikan di rumah, lebih sering main sendirian, yang kesengsem sama sesosok anak cewek seumurannya, Abby (Chloë Grace Moretz) yang baru pindah ke sebelah rumah kontrakannya (agak males nyebut "apartemen" ^_^;) . Sebuah kisah yang umum, kecuali bahwa si anak cewek itu sebenarnya adalah makhluk peminum darah! Cerita pun bergulir antara persahabatan dan kedekatan mereka berdua yang tentu saja ganjil, diselingi juga dengan banyaknya kejadian orang2 hilang atau tewas secara misterius di kota kecil tempat mereka tinggal, which of course we all know why.

Gw menemukan banyak hal menarik dari film yang kelam-muram jarang dialog namun tidak sendu ini. Entah bagaimana dengan versi film Swedianya yg lebih dahulu (dan terkenal), gw suka dengan cara bertutur dan mengambil gambar dari sudut pandang anak-anak yang dicoba ditampilkan dalam Let Me In ini. Malah kayaknya level ketinggian kamera (mulai sok tau deh) lebih banyak dipas-pasin sama tinggi badan anak2, dalam hal ini paling sering si pasangan tokoh utama Owen dan Abby, sehingga terkesan bahwa merekalah yang utama, bukan dari cara pandang orang dewasa yang ada di sekelilingnya (bahkan wajah ibu Owen pun nggak pernah ditampilkan jelas) yang seringkali "merendahkan" anak2. Mnurut gw cara ini cukup berhasil dalam menerjemahkan ketakutan, kegelisahan, kepenasaranan, serta innocence dari anak2 ini yang dituntut oleh naskahnya—atau mungkin novelnya. Tidak terlihat ingin "mendewasakan" (a.k.a. sok serius) apalagi menjadikannya konyol kekanak-kanakan, semua terasa—I know it's odd to say—wajar.

Dari yang gw saksikan, Let Me In ini blasteran drama romansa (pra)remaja dan horor yang tak dinyana dirangkum dengan pas menjadi tontonan yang memikat. Sektor dramanya mengikat kuat tanpa paksaan, gw bisa bersimpati pada tokoh Owen juga Abby, bahkan pada tokoh "ayah"nya Abby (Richard Jenkins), lewat interaksi, motivasi, dan emosi mereka yang made sense dan apa adanya—ehem, meski agak dibantu sama review2 yg gw baca sebelum nonton, terutama soal "ayah" Abby, ups ^_^". Sebagai contoh, segala tindakan Owen sebagai manifestasi perasaan sukanya pada Abby pun tidak berlebihan: anak remaja tanggung—di era masih belum punya handphone atau video game di rumah—kalo naksir cewek ngapain lagi kalo nggak jadi "tuyul" dompet emaknya, ngajak ceweknya ke tempat yg dia sukai yang dia anggap keren dan berharap bakal mengundang decak kagum ceweknya, mendadak "kreatif" sampe belajar kode Morse, beliin permen, dsb dsb, dan nggak banyak tanya. Sounds natural, doesn't it? =). Dan untungnya hal ini diperkuat oleh deretan akting yang believable dari semua pemerannya.

Namun hakikatnya pula Let Me In adalah film horor. Nuansa ngeri jelas tetap mengintip dan sekali-sekali muncul di sepanjang film. Keberadaan Abby yang seorang vampir senantiasa mengintimidasi gw, kapan, dimana, dan apa yang bakal dia lakukan demi "sesuap" darah...dan sektor sound sangat mendukung itu (>_<). Meski wujud "asli" Abby nggak serem2 amat (dan masih keliatan banget bantuan CGI), namun gw lumayan ter-teror dengan suasana spooky dan menegangkan yang dibangun oleh sang sutradara Matt Reeves dalam film ini. Yup, gw masih kaget2an (dan beberapa kali tutup kuping *malu*) tapi bagi gw ditakutin dan dikagetinnya gak percuma karena film ini nggak hanya berisi parade seseraman semata, tapi punya hati dengan cinta monyet yang tetap so sweet sebagai motornya—meski gw pun masih ada keraguan sama motivasi Abby untuk mau bergaul sama Owen, apa memang simply tak ingin sendiri atau yang lain...hmmm.

But basically, gw suka film ini. Selain dari kisah dan gaya penuturannya (yang lebih banyak menunjukkan daripada memberitahu secara verbal, termasuk relasi vampir dan matahari ^_^, cool), gw juga puas dengan apa yang gw lihat di layar. Sinematografinya cakep deh, banyak main close-up dan fokus sehingga terkesan lebih personal. Selain itu, gw suka banget pada tata adegan kecelakaan mobil yang diambil dari dalem mobil *awesomeness!* dan adegan klimaks yang mirip klimaks Twilight tapi versi jauh lebih keren (mungkin di film aslinya juga ada, entahlah, still, keren!). Eh, gw juga suka adegan sentuhan siku Abby dan "ayah"nya itu, brilliant! =). Baik drama romansa maupun horor, dua2anya berhasil dikawinkan di Let Me In ini, dan hasilnya ternyata cakep. Nggak menyesal rasanya biarpun udah ditakut2in sepanjang film =P.



My score 8/10

Sabtu, 15 Januari 2011

IMBlog Choice Awards 2011 Nominees

Hey-ho pembaca budiman dan budiwati, mohon doa restu nih dari kumpulan blogger pembahas film yang tersebar di penjuru Nusantara yang tergabung dalam Indonesian Movie Bloggers (IMBlog) Community untuk menggelar IMBlog Choice Awards yang pertama!!! *efeksuaratepuktanganriuhrendah*


Ya, lewat jejaring pertemanan dunia maya, para penulis blog Indonesia yang membahas film, dan si empunya blog Ajirenji ini juga ikut2an ^_^, sepakat mendirikan sebuah komunitas blogger film Indonesia yang program utamanya adalah gelaran penghargaan tahunan online untuk film yaitu IMBlog Choice Awards, baik untuk film Indonesia maupun asing, sebagai bentuk apresiasi kolektif kami terhadap bidang yang sangat kami cintai ini. Komunitas kami sendiri sekarang terdiri dari 36 anggota (pemilik blog film) yang resmi terdaftar dari sekitar 50-an penghuni mailing list yang ada—beberapa di antaranya bisa dilihat di daftar link “Sesama” di samping kanan blog ini, dan oleh anggota2 ini pula nominasi dan pemenang IMBlog Choice Awards ditentukan. The best part is, setiap pemenang IMBlog Choice Awards ini akan diberi predikat yang lain daripada yang lain: JAWARA =)…plus juga beberapa kategori2 unik lainnya.

Eh, jangan sedih, teman2 semua juga bisa berpartisipasi lho dalam gelaran ini. Anda semua boleh ikutan untuk memilih pemenang dari nominasi yang ada yang nantinya diberi perdikat TERSOHOR. Polling untuk pemenang TERSOHOR ini akan di-host oleh situs majalah film online flickmagazine yang dimulai pada tgl 20 Januari 2011, jadi silahkan dicek dan diresapi serta dihayati nominasi IMBlog Choice Awards berikut ini, dan siap2 untuk nge-vote di sini. *ayo!*

Btw, kriteria film2 dalam IMBlog Choice Awards pertama ini adalah yang ditayangkan resmi di Indonesia sepanjang tahun 2010, baik di bioskop komersil maupun festival2 film, juga film2 yang pertama kali rilis di negeri kita dalam bentuk video/DVD (biasanya film asing) yang versi layar lebarnya pertama kali dirilis resmi (di luar Indonesia) sepanjang 2009 dan 2010.

Dan…marilah kita songsong calon2 JAWARA dan TERSOHOR IMBlog Choice Awards yang pertama!!! *efeksuaratepuktanganriuhrendah* *repetisi*
Silahakan klik read more nya =)


Rabu, 12 Januari 2011

[Movie] The Tourist (2010)


The Tourist
(2010 - Columbia/GK Films)

Directed by Florian Henckel von Donnersmarck
Screenplay by Florian Henckel von Donnersmarck, Christopher McQuarrie, Julian Fellowes
Based on the film "Anthony Zimmer" written by Jérôme Salle
Produced by Gary Barber, Roger Birnbaum, Jonathan Glickman, Tim Headington, Graham King
Cast: Angelina Jolie, Johnny Depp, Paul Bettany, Steven Berkoff, Timothy Dalton, Rufus Sewell


Perlu ditekankan bahwa I have nothing against Johnny Depp, tapi seriously buat gw, ada 2 film high-profile tahun 2010 yang dibintangi sodara tak sekandung Bucek Depp ini, kok jelek semua. Setelah dibuat kesal dengan Alice In Wonderland karena membuat gw menyadari bobroknya pemahaman bahasa Inggris gw, kini The Tourist hadir dengan efek sakit kepala pada gw saking nggak ngerti apa sebenarnya makna dari banyaknya adegan panjang2 dan dipanjang-panjangin...oke mungkin juga karena gw sebelumnya udah nonton 2 film di hari yang sama saat nonton ini ^_^', but anyway, berarti The Tourist ini gagal menjadi film yang dapat menyingkirkan bahaya laten sakit kepala akibat maraton nonton di bioskop. Pertanda buruk.

The Tourist berkisah tentang seorang wanita Inggris bernama Elise (Angelina Jolie) yang dibuntuti pihak kepolisian yang mengincar kekasihnya yg bernama Alexander Pearce yang menghilang selepas nyolong duit dari gembong mafia. Pearce juga dirumorkan sudah operasi plastik (ini penjahat apa artis Korea ya?) agar tidak bisa dikenali pihak2 yg mengincarnya. Berawal di Paris, Elise yg juga tak kunjung bertemu Pearce selama 1-2 tahun belakangan itu mendapat pesan untuk berangkat ke Venesia naik kereta kilat Alta Velocita (don't ask why I know what AV train stands for =.=) , dan tak hanya itu, Elise harus mencari seseorang dengan ciri fisik mirip Pearce agar mengelabui orang2 yang membuntutinya. Elise pun nurut, dan pria kurang beruntung (or not) itu adalah seorang guru matematika asal Amerika bernama Frank Tupello (Johnny Depp). Rupanya kebersamaan Elise dan Frank tak berakhir setelah turun kereta, tapi sampe hotel *cieee suit suit*, bahkan sampe kejar-kejaran sama pihak mafia yang uangnya dicuri Pearce. Dapatkah mereka lolos? Dan apakah Elise dapat bertemu sang kekasih di kota air nan romantis ini? Lalu bagaimana dengan benih2 asmara yang berkecambah (tauge kali) di antara Elise dan Frank?

Film ini diawali dengan perkenalan yang baik, bagian intip-mengintip dan kuntit-menguntit nya cukup oke, Jolie dan Depp diperlakukan dengan fair untuk memaksimalkan kerupawanan dan kerupawatian mereka, tapi sisanya murni menjemukan! Seperti gw singgung di awal, lammmaa nya bikin pusing. Tapi yang bikin lebih senewen adalah bahwa film ini digarap oleh orang2 yang ada tag "Oscar" di nama mereka. Ada nama Julian Fellowes di penulis naskah, yang menang Oscar lewat salah satu film kesukaan gw Gosford Park. Lalu sutradara dan salah satu penulisnya Florian Henckel von Donnersmarck adalah pemilik film Jerman pemenang Oscar, The Lives of Others, plus Jolie dan Depp yang pemenang dan atau nomine ganda piala Oscar. Tetapi apa lacur *horee muncul lagi kata2 ini*, semua itu terasa sia-sia, tercermin lewat hasil akhir The Tourist yang canggung dimana-mana, sunyi, dan unsur romansa yang harusnya kental tapi nyatanya nol besar. Walau sebenarnya gw berusaha memaklumi betapa slow-nya laju film ini (gw pikir, "oh, mungkin gaya sutradaranya emang kayak gini"), eeeh, satu titik membuat tekad gw bulat untuk tidak suka film ini, yaitu ketika Frank ditinggal di bandara dan dia bergumam "but I'm in love with you.."....tetooottt, salah banget adegan ini.

Kesempurnaan wajah Depp, kecantikan ganjil Jolie, keeksotisan Venesia, serta adegan2 pengintaian yang cukup berhasil dan dialog2 yang sebenarnya lucu2 akhirnya tidak bisa menyelamatkan lesunya film ini. The Tourist dari premisnya punya potensi jadi tontonan asyik dan menyenangkan seandainya para pembuatnya, mungkin terutama sutradaranya punya selera humor yang lebih universal (Steven Soderbergh bisa tuh bikin Ocean's 12 jadi cukup menyenangkan), alih-alih jatuhnya film ini agak kehilangan arah maunya kemana. Komedi ya nggak juga, aksi kejar-kejarannya nggak berasa, percintaan juga gagal, makin lengkap dengan menampilkan adegan2 berefek nanggung atau berkesan basi. Ada sedikit twist di ujung2 tapi halah nggak cukup untuk membayar kebetean gw sepanjang nonton, wong eksekusinya biasa banget gitu. Oh well, lagi2 uang berbicara. Nama Jolie dan Depp pasti tetap menarik orang banyak untuk nonton film nggak penting ini, biarpun mereka berdua jauh dari kata serasi di atas layar. Sorry.



My score: 5/10

[Movie] Buried (2010)

  
Buried
(2010 - Lionsgate)

Directed by Rodrigo Cortés
Written by Chris Sparling
Produced by Adrián Guerra, Peter Safran
Cast: Ryan Reynolds, Ivana Miño, Robert Paterson, José Luis García Pérez


Bisa dibilang Buried ini adalah film misteri, dalam arti film ini bergerak karena ketidaktahuan—ketidaktahuan si tokoh sekaligus penontonnya, dan kalo gw ceritain plotnya sampe sedetil mungkin bakal mengurangi kenikmatan menonton—bagi yang belum nonton tentu saja. Cukup dengan satu kalimat "Paul Conroy (Ryan Reynolds), seorang sopir truk untuk sebuah perusahaan konstruksi Amerika di Irak (pasca invasi AS tahun 2003) dikubur hidup2 dalam peti ditemani sebuah BlackBerry® *lho kok iklan*", selebihnya silahkan ditonton sendiri, karena film ini dengan cukup pintar membuka halaman demi halaman tentang apa yang terjadi, siapa yang mengubur Paul, kenapa dia harus dikubur hidup2 dan dikasih BlackBerry® *iklan lagi* yang baterenya bocor, juga sekaligus sedikit demi sedikit mengekspos tentang Paul sendiri hanya dari percakapan telepon yang dilakukannya dengan beberapa orang saat berusaha minta tolong, yang uniknya hanya diambil dari sudut pandang Paul yg dikubur...ya, setingnya selama 90 menit film ini hanya cuma di dalam peti mati saja belaka.

Membosankan? Nggak tuh. Sebagaimana gw singgung, bermodalkan naskah yang cukup bagus, film ini berhasil membuka "cerita sesungguhnya" secara perlahan, mungkin juga real-time, karena semua peristiwa di layar diambil dari sudut pandang Paul dan penonton pun disuruh ikutan stuck di dalem peti mati bersama Paul. Mulai dari Paul terbangun dari pingsannya dalam kegelapan, sampe tau dia ada dimana, apa yang disaksikan dan dialami Paul sajalah yang penonton tahu. Pemainnya? Ya cuman satu orang—well ada juga sih wujud orang lain tapi dalam bentuk footage video. Namun gw perlu salut sama Ryan Reynolds yang dengan sangat baik membawakan peran "rakyat biasa" yang nggak tau apa2 tapi ditaruh di situasi yang mengancam nyawa. Kegelisahan dan kekhawatirannya, apa yang diucapkan serta keputusasaannya dimainkan dengan meyakinkan serta tidak konyol. Pokoknya  penampilan solo nya sepanjang film berkontribusi besar pada Buried keseluruhan.

Akan tetapi selain performa Reynolds, satu hal yang bikin film ini patut dipuji adalah caranya dalam menangkap gambar dari sebuah seting yang sempit dan statis menjadi tontonan yang dinamis. Sutradara Spanyol Rodrigo Cortés boleh dibilang sukses dalam menggunakan trik seting, editing dan pergerakan kamera serta pencahayaan yang terbatas (hanya cahaya korek Zippo, flourescent stick *asalkasihnama*,  dan lampu senter) sehingga membuat efek gelisah dan senewen bagi penontonnya, namun masih enak dilihat. Keren.

Buried sebagai sebuah film "kecil" memang sebuah karya yang lumayan unik dan solid, departemen teknis yang baik, aktor yang baik, naskah yang baik pula—manusiawi tapi nggak dangkal atau terlalu pretensius. Namun sayangnya, hati nurani gw telanjur menggelitik gw untuk bertanya-tanya...: emangnya sinyal internet BlackBerry®, di Irak pelosok, tahun 2006, di bawah tanah pula, segitu bagusnya ya sampe bisa unduh-unggah video secepat kilat, bahkan mungkin lebih cepat dari layanan BlackBerry® di atas tanah pusat Jakarta saat ini? =.=". Sorry, tapi itu agak ganggu...dan adegan "tamu nggak diundang" nya pun bagi gw terlalu berlebihan dan nggak penting.

Akan tetapi, Buried masih tetap sebuah film yang layak tonton dengan keunikan, ketegangan yang ditawarkan, dan penggarapannya yang kreatif yang cukuplah mengalihkan kelemahannya. Good.



My score: 7/10

NB: saya bukan afiliasi atau bahkan pengguna BlackBerry®, following a trend is not my thing *aiih* =P.

[Movie] TRON: Legacy (2010)

 

TRON: Legacy
(2010 - Walt Disney)
 
Directed by Joseph Kosinski
Story by Edward Kitsis, Adam Horowitz, Brian Klugman, Lee Sternthal
Screenplay by Edward Kitsis, Adam Horowitz
Based on the characters of "TRON" created by Steven Lisberger, Bonnie MacBird
Produced by Jeffrey Silver, Steven Lisberger, Sean Bailey
Cast: Jeff Bridges, Garrett Hedlund, Olivia Wilde, Bruce Boxleitner, Michael Sheen, James Frain


Konsep kisah TRON, sepenangkapan gw setelah nonton film TRON: Legacy ini (yg film pertamanya gw blum nonton, aku kan lahir tahun 90-an *prett*), adalah visualisasi dan dramatisasi dari impian sebagian orang untuk bisa masuk dan berada di dunia maya. Nggak tanggung2, bukan sekedar "tersambung" dan "seolah-olah" berada di dunia maya, tapi--bagaimanapun caranya--seluruh jiwa raga juga bisa masuk ke dalamnya. Entah bagaimana kisah di film pertamanya, namun sepertinya konsep yang cukup menarik inilah yang hendak diulang dalam sekuelnya ini yg diproduksi 28 tahun sesudahnya.

Alkisah Kevin Flynn (Jeff Bridges), hero di film pertama, kini menjadi seorang kreator teknologi informasi yang terkemuka lewat perusahaannya bernama Encom (depannya "e", bukan "o"), namun suatu saat ia menghilang tanpa jejak, meninggalkan sang anak Sam yang masih belum remaja, yang langsung didapuk sebagai pewaris kepemilikan Encom. Sekian tahun kemudian, Sam (Garrett Hedlund) dewasa dikejutkan oleh berita dari sahabat sang ayah, Alan Bradley (Bruce Boxleitner) yang mengatakan ia dapet pesan lewat pager (ih masih jaman?) dari "nomer" yg dahulu milik sang ayah. Diliputi rasa penasaran, Sam pun sampai di toko ding-dong lama milik sang ayah dan menemukan seperangkat komputer di balik mesin permainan Tron (yg fyi diciptakan oleh Kevin). Ketak-ketik sana sini, jreng, Sam pun berada di dunia digital yg disebut The Grid (yg fyi diciptakan juga oleh Kevin), yg gelap tapi gemerlap dengan neon2menyalanya serta dihuni oleh "program2" yg berwujud manusia membentuk sebuah peradaban.

Sam terjebak dalam arena permainan brantem2an sampe mati (sistem turnamen) melawan program-program lain dan ditonton oleh ribuan suporter...eh...program yang menganggap ini sebagai hiburan di waktu senggang, atau memang mereka udah di-"program" untuk nonton dan bersorak-sorai (kayak penonton di game sepakbola), I don't know. Sam sampe final melawan program paling tangguh, sampai akhirnya ketahuan bahwa ia adalah manusia dari dunia nyata (istilahnya user). Penguasa The Grid adalah Clu yang berwujud Kevin Flynn (dimainkan oleh Jeff Bridges juga dengan muka yang dimudain pake CGI), menantang Sam berlomba habis2an, namun tiba2 Sam diselamatkan oleh sesosok wanita berwujud Olivia Wilde (@_@) bernama Quorra dan membawanya pada...Kevin Flynn! Dari sini Sam pun bertekad membawa pulang sang ayah, namun harus mendapat tantangan dari Clu yang memanfaatkan kedatangan Sam yang membuka portal antara dunia nyata dengan The Grid untuk keluar dan menguasai dunia nyata......yea rite.

TRON: Legacy adalah film fantasi yg harus disikapi dengan prinsip "nevermind the details" ketika menonton. Ya sudahlah, logika matematika dan IPA disingkirkan dulu sejenak, namun rupanya memang dari segi cerita TRON: Legacy tidak sekeren visualnya. Poin paling positif dari naskahnya adalah sukses untuk membawa gw yang gak tahu-menahu sama film pertamanya untuk paham secukupnya dengan apa pun yang terjadi. Tapi selama kisah ini bergulir...hmm...nggak jelek sih, cuman jatuhnya jadi terlalu generik: pembaik lawan penjahat yang #overambitious ingin menguasai dunia, diwarnai kisah keluarga, pengkhianatan, pengorbanan dan the-hero-gets-the-chick, yaah, di pelm lain mah juga banyak kayak begituan. Eh, dan ada satu tokoh yang tadinya jahat tiba2 jadi baik di akhir, kok gampang amat =[. Mungkin juga karena "dibantu" oleh akting-tanpa-usaha dari semua pemainnya (Jeff Bridges yg paling bagus tapi tetep kategorinya biasa aja), gw jadi kurang terhubung secara emosional sama kisahnya. 'Oh, gitu doang' pikir gw...

But don't worry, ibarat restoran besaryang rasa makanannya nggak istimewa tapi punya desain interior dan pelayanan oke, TRON: Legacy masih layak tonton dengan tata visual yang keren (like I said before) dan pelayanan di bidang aksi yang memuaskan. Memang bagian dunia riil nya gw bilang agak membosankan, but The Grid was AWESOME! Desain visualnya memang patut dipuji, mulai dari desain ruang dan bangun, efek visual, make-up, dan terutama adalah kostum menyala-nyala itu. Dan bo'ong banget kalo ada yang bilang nggak seneng sama adegan adu cakram dan balapan motor, seru sekaleh lah pokoknya. Walaupun bagian akhir2nya tidak seseru bagian awal2nya, tapi cukuplah, tidak payah. Satu hal juga yang gw suka dari film ini adalah tata musik yang digubah duo musisi elektronika bertopeng, Daft Punk, agak mirip2 The Dark Knight/Inception tapi dengan twist digital yang terdengar keren sekali *jep ajep ajep*, sangat cocok dengan dunia digital TRON: Legacy ini.

TRON: Legacy adalah salah satu film hiburan yang tidak mencelakakan, cukup layak ditonton dalam format 3-Dimensi asal bukan pas weekend (=P), namun kayaknya akan jadi "just another visual-effect-heavy family box office flick" yang nggak terlalu istimewa dan mudah tergeser sama film2 di masa mendatang yang mungkin lebih canggih. Well, visualnya memang mengagumkan (ini termasuk Olivia Wilde =]) namun sayangnya tidak lebih. Padahal mungkin akan lebih fun jika klimaksnya juga pake permainan/perlombaan kayak di awal...



My score: 6/10

Sabtu, 08 Januari 2011

Year-End Note: My 10 Top Movies of 2010


Selamat Tahun Baru!!

Dan akhirnya, setelah mengeksten sekitar 1 minggu sejak Year-End Note 2010 terakhir (Top Albums), kelar juga mendaftar 10 film di tahun 2010 yang paling top versi saiah. Mohon maaf atas keterlambatannya, karena dari film2 yg gw tonton di tahun 2010, pas gw coba kumpulin yang mnurut gw pantas masuk senarai ini ternyata nggak sampe sepuluh (ya karena film yg gw tonton nggak banyak juga sih). Oleh sebab itu gw putuskan untuk mengambil waktu seminggu untuk meng-catch-up film2 yang tayang di tahun 2010 tapi terlewat oleh gw, dan syukurlah ternyata dari sana ada yang bisa mengisi kekurangan senarai ini.

Sedikit penjelasan, mengacu pada artikel serupa di tahun sebelumnya (dari tahun 2008 kalo di arsip notes facebook gw), gw sengaja nggak bikin pemeringkatan untuk semua daftar akhir tahun gw. Alasannya antara nggak berani dan nggak tega *halah*. Gw mungkin bisa bikin peringkat 1-2-3, tapi yang bawah2nya bakal bikin gw kebingungan sendiri, jadi yah gw berusaha adil dengan membuat daftar tanpa pemeringkatan begini. Pokoknya semuanya bagus (dikutip dari alm Pak Tino Sidin).

Khusus untuk Top Movies, gw membuat senarai 10 judul film yang dirilis sepanjang tahun 2010 yang paling berkesan, bagus, oke, keren, manteph, ajib atau semua sinonimnya, nggak harus dengan label berat "the best", tapi pokoknya yang paling meninggalkan jejak berarti dan pantas di-highlight...menurut saya. Menurut siapa? Menurut saya. Menurut Siapa? Menurut Saya. Jadi kalo nggak setuju, yeee, suka2 gw dong cyin =P. Dan btw, pada dasarnya prasyarat gw untuk "film 2010" adalah film2 yang ditayangkan secara resmi di Indonesia di layar lebar (baik bioskop komersil maupun festival--yang rilis langsung DVD nggak termasuk) sepanjang tahun 2010, yang gw udah tonton tentu saja. Meskipun belum tentu gw nontonnya lewat medium resmi itu *ehem* tapi biarlah itu jadi formalitas sehingga pilihan filmnya nggak terlalu kemana-mana, serta setidaknya film2 itu (seharusnya) dikenal juga oleh orang2 selain gw sendiri *biar nggak dianggap nghayal dan merasa gila =.=;*.

And...here they are, dalam urutan abjad, 10 film 2010 pilihan saia:



1. Green Zone
Tidak sebaik karya Paul Greengrass sebelum2nya, tapi tetap Green Zone adalah film yang sukses memacu adrenalin dengan jalinan kisah yang thought-provoking dan adegan2 aksi bikin gemes khas Greengrass, sekaligus film yang dengan berani menyindir tajam salah satu perang paling kontroversial di dekade lalu.
Review


2. How To Train Your Dragon
Baguus. Bisa2nya DreamWorks bikin animasi yang nggak berusaha terlalu keras untuk ngelawak namun justru sangat kuat di cerita dan punya hati (apa gara2 pembuat filmnya lulusan Disney? hehehe). Visual yang bagus, karakter yang lovable, pace cerita yang tepat sasaran, plus efek 3-Dimensi yang mantaph, menjadikan film 3-D pertama yang dilengkapi subtitel Indonesia ini salah satu film terbaik tahun ini.
Review


3. The Imaginarium of Doctor Parnassus
Gw suka dengan film yang punya ide2 kreatif dam imajinatif yang disampaikan dengan enak dan menarik, dan Imaginarium adalah salah satu contohnya. Meski awalnya udah wanti2 ini akan jadi film "aneh", tapi ternyata gw suka dengan apa yang gw lihat dan dengar di film nyentrik ini. Visualnya sedeng men!
Review


4. Inception
Oooh ini nih..innni nih film yang 2010 banget! Imajinatif. Keren. Seru. Cerdas. Orisinil. Bikin penasaran. Ini baru film!  Nyaris tanpa cela, dari naskah dan visualisasi brilian, akting kompak, segala hal teknis, musik...wiii...gak tau harus komentar apalagi, gw nonton 3 kali dan tetep film ini K.E.R.E.N. My favorite of the year.
Review


5. Legend of The Guardians: The Owls of Ga'Hoole
Emm, ceritanya biasa aja sih, tapi gw sampe sekarang masih terkesan dengan teknik animasi semua tokoh2 burung hantu yang ada di film ini (I'm talking about the movement and the feathers =)), pun banyak adegan2 seru (I'm talking about seru bener =)) dan gambar2 cantik di sini. Judul alternatifnya: how to make 300-ish movie watchable for kids =D.
Review


6. Minggu Pagi di Victoria Park
Jarang sekali gw punya perasaan puas ketika nonton film Indonesia, (no offense ya). Minggu Pagi di Victoria Park jelas sebuah karya terpuji. Film tentang TKI di Hong Kong ini menyajikan apa yg menurut gw seharusnya disajikan sebuah film yang baik. Ide yang segar, benang merah cerita yang jelas tapi tidak gampangan, keterkaitan emosi yang tidak mengada-ada, akting yang mumpuni, teknis yang serius (oh how I love the cinematography), dan satu hal yang jarang dimiliki film2 lain: wawasan baru. Bravo for that!
Review


7. Scott Pilgrim vs The World
Scott Pilgrim adalah spesimen film yang tampak norak namun dibuat dengan selera humor yang luar biasa tepat sehingga menjadikannya tontonan yang sangat menyegarkan. Premisnya aja udah ngawur abis (cowok naksir cewek tapi harus melangkahi dulu mayat 7 orang mantan pacar si cewek, hurufiah), so kenapa harus dibuat terlalu serius filmnya? Sutradara Edgar Wright punya cara brilian dalam menerjemahkan keasyikkan cerita absurd ala komik ke dalam sebuah film yang bikin gw ketawa2 dari awal hingga akhir dengan dialog-dialog kocak nan cerdas dan adegan2 yang well-and-insanely-crafted layaknya dunia video game =).


8. The Social Network
The Social Network bukan hikayat asal usul Facebook semata, tapi betapa gw tersentuh dengan human drama yang terpapar secara subtil sepanjang film ini. Persahabatan dan kesuksesan di satu pihak, persaingan, perseteruan, dan sakit hati di pihak lain, terjalin rapih lewat dialog2 cepat dan tepat sasaran, akting yang meyakinkan, serta penyutradaraan David Fincher yang menyegarkan mata dan ampuh mentransfer emosi para tokohnya. One of the year's best? Absolutely.


9. Toy Story 3
Gw tidak pernah menjadi fan Toy Story, namun lagi2 harus diakui bahwa Toy Story 3 menunjukkan kepiawaian para kreator di studio Pixar dalam menyajikan kisah bermutu dalam tampilan yang sama bermutunya tapi tetap sangat menghibur. Imajinasi staff Pixar yang dituangkan lewat episode pamungkas Toy Story ini benar2 tak tertandingi, gw ampe geleng2 menyaksikan bisa2nya mereka mereka-reka adegan demi adegan dunia mainan ini. That and the emotional roller coaster ride at the last 20 minutes.
Review


10. Up In The Air
Sebuah film yang gw nggak yakin intinya apa tapi gw suka dengan penceritaannya, lincah dan nggak bikin bosen namun tetap berisi. Naskahnya penuh dengan dialog-dialog yang jenaka sekaligus cerdas terutama dari saling lempar kata antara tokoh Ryan Bingham (George Clooney) yang individualistis dan Natalie (Anna Kendrick) yang pintar tapi polos. Dilengkapi akting bagus dari jajaran pemainnya, setiap momen di film ini ditata baik dan senantiasa lezat untuk disaksikan. Tapi gw masih gak yakin ini film tentang apa, hehehe.
Review




Honorable Mention: Guilty Pleasure of The Year
The Last Airbender
What? Silahkan hina gw, kalo perlu seret gw dan potong rambut palsu gw di muka umum kayak Dude Herlino di Dalam Mihrab Cinta (lho?). Saya dengan sadar dan tanpa paksaan atau ancaman mengakui bahwa film ini agak dudul dalam bercerita, dialognya aneh, nggak ada lucunya, dan menampilkan orang2 yang sedang berpura-pura jadi aktor (yup, they're that bad). Namun saya juga dengan sadar dan tanpa paksaan atau ancaman mengakui bahwa gw masih bisa menikmati film ini terutama dari segi visual dan musik. Am I the only one? Biarin! =b *balik badan*. 
Review



So there you go. Dengan ini catatan akhir tahun 2010 ditutup, dan mari menyongsong tahun 2011 dengan harapan bisa lebih banyak nonton film =). Daag.