Selasa, 30 November 2010

[Album] Endah N Rhesa - Look What We've Found



Endah N Rhesa – Look What We’ve Found
(2010 – demajors)

Tracklist:
1. Monkey Song
2. Remember Me
3. Midnight Sun
4. Kou Kou The Fisherman
5. Wish You Were Here
6. Mirror Spell
7. It’s Gone
8. The King
9. Waiting
10. Tuimbe (Let’s Sing)


Satu tahunan semenjak album perdana, Nowhere To Go, duo akustik Endah N Rhesa—yang kini sudah resmi jadi suami-istri *congrats*—tak terlalu berlama-lama untuk menelurkan album kedua mereka, bertajuk Look What We’ve Found. *hehe udah mirip resensi musik standar gak nih =P*. Endah N Rhesa itu bagi gw little geniuses: 2 orang, 2 instrumen utama, produksi album sendiri saja di studio/kamar rumah sendiri, tapi dengan modal yang terlihat kecil itu—plus cinta *ciailah*—menghasilkan karya yang berkualitas wahid, dan gw yakin banyak yang setuju dengan pernyataan itu. Album perdana mereka—yang sepertinya jadi sleeper hit karena konon naik cetak beberapa kali—sudah menunjukkan kualitas musik mereka yang di atas rata2 tanpa harus membuat jarak dengan pendengarnya terutama yang awam. Di album kedua ini, deskripsinya agak terbalik: begitu ramah pada pendengar terutama yang awam tanpa menelantarkan kualitas (kok agak sama aja yah, hehe).

Menarik sekali bahwa mendengarkan Look What We’ve Found hampir nggak ada yang serupa dengan Nowhere To Go. Sama2 pop akustik sih, dan sama2 “bercerita” dalam bahasa Inggris-tak-memalukan, tapi jika Nowhere To Go banyak terpengaruh pada blues (baca: sedikit agak berat), maka Look What We’ve Found seperti bernuansa soundtrack The Lion King =), agak2 ber-Afrika sedikit. Banyak lagu2 yang lucu bikin semangat dan kepala goyang2, ada juga pelan nan indah dan megah, tapi ingat tetap konteksnya mereka cuman pake gitar akustik dan bass plus vokal Endah. Overall sih buat gw Look What We’ve Found lebih ringan, lebih asik, tapi tetap bergizi.

“Tuimbe (Let’s Sing)” yang jadi lagu promo di radio2 hanyalah salah satu lagu dari album ini yang fun and catchy. Contoh lainya adalah di “Monkey Song”, “Midnight Sun” juga “Kou Kou The Fisherman” yang memaksa kepala bergeleng dan mengundang tangan untuk bertepuk mengikuti irama. “Remember Me” dan “Waiting” pun hampir bernuansa seperti itu, cuman lebih simpel dan kalem senada dengan liriknya yang bukan bertema gembira namun optimis (kalo ini bikin pengen jentik jari). Ada pula lagu yang agak mistis di “Mirror Spell”, serta yang ketahuan banget bernuansa The Lion King, berjudul “The King” yang melodi dan aransemen vokalnya menghangatkan jiwa ^_^. Lagu slow nggak terlalu banyak tapi tak kalah bertaji. Lagu yang agak sedih “It’s Gone” dibuat dengan aransemen yang mantap dan terdengar penuh. Sedangkan track yang jadi favorit gw adalah “Wish You Were Here” yang sangat kompak dari melodi indah, permainan instrumen yang skillful dan vokal Endah yang manis namun menggugah. O dear, gw barusan bahas semua track album ini ya? =D.

Itu tandanya, ini album memang juara. Nggak ada lagu jelek, lagu2nya diurutkan dengan tepat sehingga meminggirkan rasa bosan, bahkan pengen diulang-ulang terus, serta cocok didengar kapan saja. Kekompakan, talenta dan aura positif Endah N Rhesa masih terpancar dengan kuat lewat album yang CD-nya masih seharga Rp 25.000 ini (boleh jadi Endah N Rhesa adalah musisi Indonesia paling consumer-friendly =)). “Harga” boleh cuman 25rb, tapi “nilai” nya terbukti lebih dari itu. But anyway, gw sih nggak berani bilang Look What We’ve Found lebih bagus daripada album perdana mereka, cuman yang pasti dua2nya sama2 bagus dengan caranya masing2, toh seperti gw bilang tadi, nuansanya agak berbeda. Hey look what I’ve found: sebuah album yang sangat layak dimiliki+dinikmati.



My score: 8/10
Endah N Rhesa
Previews, courtesy of YouTube

Waiting




Tuimbe (Let's Sing) - Live



Remember Me

Sabtu, 27 November 2010

[Movie] Leonie (2010)



Leonie
(2010 - Kadokawa/Hyde Park Films)

Directed by Hisako Matsui
Screenplay by Hisako Matsui, David Wiener
Inspired by the book "The Life of Isamu Noguchi: Journey without Borders" by Masayo Duus
Produced by Hisako Matsui, Ashok Armritaj, Yuki Ito, Masao Nagai
Cast: Emily Mortimer, Shido Nakamura, Christina Hendricks, Mary Kay Place, Keiko Takeshita, Takashi Kashiwabara, Masatoshi Nakamura, Jan Milligan


Leonie adalah film independen joint venture Jepang dan Amerika, yang mungkin akan jarang kedengaran selain di festival2 film atau sejenisnya. Filmnya jelas bukan soal personel Trio Kwek Kwek yang nantinya jadi jiplakan San Chai lalu telanjang di film pemenang FFI, tetapi soal seorang wanita yang adalah ibu dari salah satu perupa ternama di abad ke-20, Isamu Noguchi. Mengapa soal ibunya bukannya tentang si Isamu Noguchi nya? Film ini menjawabnya sendiri secara pelan2 dan subtle, bahwa bagaimana Isamu jadinya sebagai seorang seniman tidak pernah lepas dari peran sang ibu, Leonie yang hidupnya penuh dinamika.

Awal abad ke-20 Leonie Gilmour (Emily Mortimer) adalah salah satu mahasiswi sastra di Pennsylvania yang terbilang kritis, terlalu kritis mungkin pada zamannya. Suatu ketika Leonie melamar sebagai editor bagi karya seorang pujangga asal Jepang, Yone Noguchi (Shido Nakamura) di New York, yang tengah membuat novel perdananya dalam bahasa Inggris, “An American Diary of a Japanese Girl”. Kebersamaan mereka secara profesional bergeser ke romansa, hingga pada saat terjadi perang Russia-Jepang, Leonie mengandung, namun Yone memilih pulang ke Jepang. Perjuangan Leonie pun dimulai ketika ia memilih melahirkan dan membesarkan anaknya, seorang putra, bareng ibunya (Mary Kay Place) di California. Kembali sentimen perang anti-Asia di Amerika, serta undangan dari Yone, mendorong Leonie memberanikan diri pergi ke Jepang bersama putranya yang belum bernama itu. Tiba di Jepang, sang anak blasteran itupun diberi nama Isamu oleh Yone, dan Leonie diberi kerjaan menjadi pengajar bahasa Inggris. Di sini Leonie pun harus menghadapi kendala bahasa, perbedaan budaya, hingga kenyataan bahwa Yone sudah menikahi perempuan lain. Leonie memutuskan menghidupi diri dan putranya sendiri, di negeri asing, tanpa bergantung pada Yone (meski tetep jadi editornya dia), belum lagi ia kembali melahirkan seorang putri, Ailes yang ayahnya entah siapa. Suka duka pun tetap bergulir dalam hidup Leonie sampai ia berani mengirim Isamu yg masih belasan tahun pergi ke Amerika sendirian daripada dicatut ikut perang, dan pada akhirnya ia menyaksikan (sort of) Isamu tumbuh menjadi seorang seniman berbakat.

Menyaksikan Leonie dengan pengetahuan sangat terbatas tentang sejarah aslinya ternyata bisa dibilang baik2 saja, film ini bercerita cukup lancar tentang kehidupan Leonie dengan dramatisasi yang mudah dimengerti. Meski bermaksud mengambil sudut pandang dari Leonie Gilmour, tetapi film ini sebenarnya bercerita bagaikan bagian “early life” di halaman tentang Isamu Noguchi di Wikipedia, which was not really a bad thing. Sutradara dan co-writer Hisako Matsui memilih menggunakan perkenalan singkat dan agak non-linear tentang Leonie dan hubungannya dengan Yone Noguchi, lalu film baru berjalan layaknya biopic “normal” setelah Isamu lahir. Ya, dengan berusaha menekankan pada perjuangan hidup Leonie dan ikatannya dengan sang putra, film ini berjalan cukup straight sebagai sebuah riwayat seseorang yang benar2 pernah ada. Jelas ada penyesuaian demi kepentingan film, tapi film ini juga nggak menghakimi atau membuat kesimpulan sotoy tentang fakta yang masih rancu. Gw respek sekali dengan penggambaran hubungan Leonie dengan tiga pria Jepang murid perdananya yang dicurigai (oleh Isamu, katanya menurut biografi) sebagai ayah Ailes, ketiga-tiganya ada kecenderungan mengarah ke sana, but we never know, karena hingga Leonie tutup usia identitas ayah Ailes tidak pernah diungkapkannya.

Leonie, yang gw tonton hanya karena lagi pengen ke bioskop dengan modal dan ekspektasi minim, plus tanpa review2 awal karena filmnya baru beredar secara reguler hanya di Jepang, adalah film yang berpotensi. Kisahnya sangat menarik, ada simbol2 dan juga muatan culture gap, emansipasi dan human emotion di dalamnya, serta didukung oleh faktor teknis seperti art-direction dan sinematografi yang bagus—ada banyak gambar2 oke, serta musik sentimentil (dari Jan A.P. Kaczmareck) yang masih enak diterima di kuping, plus make-up untuk Leonie tua yang cukup meyakinkan. Akan tetapi, Leonie ternyata belumlah film yang bagus, bahkan kurang enjoyable gara2 beberapa faktor yang mengganggu, sayangnya faktor2 yang mengganggu itu cukup vital.

Pertama adalah dialog yang lame, yang mungkin akan terdengar fine2 aja kalo diucapkan di dorama Jepang, tetapi jadi aneh bila digunakan di film berbahasa Inggris, padahal sebagian (terutama si Shido Nakamura) itu dialognya after-recording/dubbing lho. Lalu beberapa adegan yang dramatisasi ala Jepang (nangis saat berpisah dan teriak “don’t go!” pas orangnya udah jalan? Puh-leez) yang mengurangi nilai believable-nya. Satu lagi yang paling fatal, adalah penampilan Emily Mortimer yang seperti menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya sebagai pemeran utama yang dominan, paling parah adalah aksen Amerikanya yang ganjil, bahkan seringkali terdengar intonasi British (karena Mortimer aseli Inggris). Ekspresi dan gesturnya oke, tetapi ketika dia buka mulut atau bersuara lewat narasi, buyarlah semua, sayang sekali. Pun adanya tokoh Umeko, mahasiswi Jepang yg satu kampus sama Leonie di Amerika yang kemudian membuka universitas untuk perempuan pertama di Jepang kayaknya nggak penting dan nggak berkaitan kuat sama keseluruhan filmnya…nambah2in durasi aje…

Nevertheless, Leonie punya hal yang menarik perhatian gw. Film ini disutradarai oleh orang Jepang, wanita. Sehingga entah sengaja atau tidak, film ini selain kembali mengangkat beberapa penggal budaya Jepang, gw juga mengendus kritik mengenai budaya patriakal di negeri itu, terutama pada zaman pra Perang Dunia II. Mungkin film Leonie menjadi alat Mastui dalam melawan sisa-sisa budaya patriakal di negerinya, apalagi terlihat pada caranya menggambarkan Yone yang manis di awal tapi belakangan jadi, well, "laki-laki", sedikit banyak karena tuntutan budaya. Untungnya, Leonie “menang” melawan itu. “Watashi wa anata no inu dewa nai” (gw bukan anjing piaraan loe) katanya, you go girl, hehehe. Kesimpulannya, Leonie could’ve been a good movie, but turned out to be “not really”..



 My score: 6/10


PS: Cerita sedikit, gw nonton ini di bioskop yang memang sepertinya khusus memutar film2 independen atau art-house di Osaka (anehnya, penontonnya cukup banyak). Sedikit shock gw, ternyata gw di suruh nunggu di lobi 10 menit sebelum jamnya, karena penonton akan dipanggil sesuai nomor urut tiket untuk masuk studio (tempat duduk bebas pilih di dalem studio)...yup, tiketnya ada nomor antreannya...ini bioskop atau bank ya? XD

Sabtu, 20 November 2010

[Movie] Harry Potter and The Deathly Hallows - Part 1 (2010)


Harry Potter and The Deathly Hallows - Part 1
(2010 - Warner Bros.)

Directed by David Yates
Screenplay by Steve Kloves
Based on the novel by J.K. Rowling
Produced by David Heyman, David Barron
Cast: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Ralph Fiennes, Alan Rickman, Robbie Coltrane, Helena Bonham Carter, Jason Isaacs, Imelda Staunton, Tom Felton, Rhys Ifans, Brendan Gleeson, Mark Williams, John Hurt, Toby Jones, Michael Gambon


Harry Potter (Daniel Radcliffe), penyihir muda yg tinggal satu tahun lagi lulus sekolah sihirnya, memutuskan untuk mangkir demi melanjutkan misi mengalahkan penyihir jahat, Voldermort (Ralph Fiennes) yang sebaliknya juga punya misi membunuh Harry Potter (adik2, kecuali nyawa kalian benar2 terancam dan harus kudu wajib mempertahankan bumi dari kehancuran, tindakan mas Harry dkk ini jangan ditiru ya, ayo sekolah =_= v). Namun, keadaan semakin berbahaya karena pengikut Voldermort yang disebut Death Eaters semakin merajalela pasca menguasai kementrian sihir, dan mereka semua diberi tugas oleh Voldermort untuk mencari Harry Potter, yang tak jarang menyeret orang2 di sekitar Harry dalam bahaya. Harry, bersama sahabat sejatinya Ron (Rupert Grint) dan Hermione (Emma Watson), harus terus mencari horcrux, benda2 dimana tersimpan kepingan jiwa Voldermort yang harus dihancurkan satupersatu agar dapat mengalahkannya, sekaligus bersembunyi dari incaran Death Eaters demi menuntaskan misi/takdirnya itu.

Sudah jelas bahwa membuat seri final dari petualangan sihir Harry Potter menjadi dua film adalah hanya strategi marketing belaka demi mendapat laba ganda, biarpun bisa aja dalihnya demi “lebih setia pada bukunya”. Yea rite. Memang The Deathly Hallows Part 1 ini terasa lebih mendetil daripada seri2 pendahulunya. Bagi pecinta bukunya—yang hasil penjualannya bisa ngasih makan rakyat Indonesia selama 2 tahun itu, hal tersebut tentu menggembirakan, harapan2 yang terungkap lewat seruan2 “ini harusnya begini, itu harusnya gak gitu, lho bagian anunya dimana” pada film2 sebelumnya bisa lebih diakomodir dalam film ini. Namun, bagi gw yang pernah baca bukunya tapi udah agak lupa (^_^;) atau mungkin yang nggak baca bukunya sama sekali (entahlah, saya tidak bisa mewakili kelompok itu), cerita di Part I ini kayak nggak maju2, mana durasinya tetep 2,5 jam pula. Semua terasa serba lambat dan suram, hampir nothing really happens. Gw ingat memang sensasi membaca bukunya juga mirip kayak begini, lammma majunya kayak angkot yg narik jam 2-3 siang. Well, itu pun jadi salah satu bukti film ini memang lebih setia pada novelnya =P, walaupun tentu ada penambahan dan pengurangan.

Namun demikian, mnurut gw, The Deathly Hallows Part 1 ini lolos dari kesalahan yang dibuat dalam The Half-Blood Prince. Seri keenam itu, seperti judulnya, “darah”nya kayak cuman separoh jadi hampir keseluruhan filmnya lemes dan bikin ngantuk. Seri 7A ini, biarpun bertone mirip dari segi cerita tapi entah kenapa nggak bikin gw ngantuk. Bagian awal film ini begitu meyakinkan dan emosional, disampaikan dengan sangat baik. Lalu sepanjang film juga ditaburkan lebih banyak ketegangan dan adegan aksi yang bikin melek. Bagaimana caranya film Harry Potter punya adegan kebut2an dan “tembak2an” yang seru kayak film perang dunia II? Film ini menjawabnya dengan adegan kejar2an di udara dan darat serta saling serang kutukan dengan tongkat sihir yang ditata seru dan cukup cihuy. Sutradara David Yates mnurut gw punya bakat di bidang action, bagian yang paling gw suka dari dua film Harry Potter yang diarahkannya sebelum ini pun pada sektor laga (Order of The Phoenix dan Half-Blood Prince) meski cuman seupil tikus porsinya.

Selain itu, film ini juga lebih berhasil dalam menyampaikan emosi tokoh2nya terutama pada ketiga tokoh utama kita. Secara mengejutkan film ini sukses di porsi dramanya. Beberapa adegan dibuat dengan muatan emosi yang cukup nyampe, dengan beberapa adegan hening yang lumayan efektif, serta dibumbui dengan humor2 terselip yang cukup menghibur (sayang lagi2 tawa tulus yang hendak meluncur dari mulut gw di dalam bioskop harus bersinggungan dengan budaya setempat—Jepang—yang anteng banget kayak kuburan Godric’s Hollow sejak lampu studio dipadamkan. Awkwaard..). Hal ini didukung performa dan chemistry pas tiga aktor utamanya, Daniel Radcliffe, Rupert Grint dan Emma Watson yang kali ini memberikan penampilan paling meyakinkan sepanjang seri Harry Potter ini, at last they can act (=_=), sehingga bagian2 yang ngomong doang atau diem2an jadi nggak terlalu menjemukan.

Mixed feeling menghampiri gw seusai menonton Deathly Hallows Part 1 ini. Di satu sisi, gw merasa bahwa pace filmnya terlalu lambat dan seharusnya bisa saja ceritanya dijadikan 1 film saja dengan durasi 3 jam-an gitu biar ketegangan dan keseruannya (dengan harapan) lebih meningkat. Pun gambar dan musiknya tidak sebagus film2 sebelumnya—meski cukup banyak mengambil gambar pemandangan alam Britania Raya, but good picture is not always about a good object, right? Tapi, di sisi lain film ini terbilang memuaskan dari porsi drama, humor dan aksi serta dari segi akting yg descent dari pemainnya meski selain trio Harry-Ron-Hermione, porsinya sedikit2 (gw bahkan suka dengan akting dari pemain tokoh samaran Harry pas menyusup ke kementrian sihir), plus ada bagian cerita asal usul Deathly Hallows yang disampaikan dalam bentuk animasi yang sangat menarik. Layaknya sinetron/telenovela/film India, film ini bikin pengen nonton terus meski ceritanya kayak nggak kemana-mana. Besar harapan bahwa bagian penutupnya pertengahan tahun depan akan lebih menggelegar, tapi untuk yang kali ini, I would say, lumayan.




My score: 6,5/10

Minggu, 14 November 2010

[Album] Linkin Park - A Thousand Suns



Linkin Park – A Thousand Suns
(2010 – Warner Bros. Records)

Tracklist:
1. The Requiem
2. The Radiance
3. Burning The Skies
4. Empty Spaces
5. When They Come For Me
6. Robot Boy
7. Jornada del Muerto
8. Waiting for the End
9. Blackout
10. Wretches and Kings
11. Wisdom, Justice, and Love
12. Iridescent
13. Fallout
14. The Catalyst
15. The Messenger


Lewat album keempatnya ini Linkin Park, band yg sempet jadi paporit gw jaman SMA, menegaskan keputusannya untuk mengambil resiko dalam melanjutkan eksistensinya di dunia musik. A Thousand Suns bukanlah album yang berisi deretan lagu2 keren dan enak sebagaimana album2 awal mereka Hybrid Theory dan Meteora, yang karena kekerenan dan keenakan musik (a.ka. gampang diterima publik) itulah Linkin Park jadi salah satu band rock generasi 2000-an yang paling populer di dunia. Dan meskipun bertema mirip, album ini juga nggak sama dengan album ketiga mereka, Minutes to Midnight, yg masih berisi deretan lagu2 meski bukan lagi bertema rage dan insecurity diri, tapi lebih kepada dukacita terhadap kehancuran bumi perlahan-lahan. A Thousand Suns adalah model album yang “satu album”, yang tiap2 tracknya berkesinambungan baik bunyi maupun liriknya, nggak boleh asal skip, serta nggak bisa didenger sambil lalu atau sambil nyetir, harus didengar secara seksama dari awal sampe akhir.

Sebagai seorang pengulas abal2, gw merasa mengulas A Thousand Suns milik Linkin Park adalah yang paling sulit, gw masih nggak bisa menggambarkan dengan baik bagaimana album ini. Linkin Park yang gw kenal sekarang benar2 mengubah cara bermusik mereka. Mereka memilih untuk tidak mengulangi “masa kejayaan”, lagu2 yang ada di album ini bisa dibilang nggak ada mirip2nya sama lagu2 mereka sebelumnya kecuali di bagian melodi mungkin. Meskipun tetap dengan konsep campursari rock-hiphop-techno, kali ini Linkin Park lebih dan LEBIH banyak bereksperimen di bagian techno nya. Dari single andalan mereka “The Catalyst” juga udah ketauan, begitulah kira2 yang ditawarkan di album ini, bukan bunyi2annya yang kayak lagu itu, cuman cara bereksperimennya seperti demikian.

Tapi di sinilah masalah “menikmati” menjadi konflik dalam batin *ih apaan sih*. Dari 15 track yang ada, hanya 9 track yang benar2 “lagu” berlirik, sisanya adalah interlude, berisi sedikit atau tanpa lirik, juga rekaman pidato2 terkenal dari J. Robert Oppenheimer, Mario Savio, dan Martin Luther King, Jr. Inilah yang mengusik gw karena rangkaian track dalam A Thousand Suns sebenarnya memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, bukan sekadar jualan lagu semata, nggak mungkin interlude yang banyak itu cuman buat iseng doang. Gw udah berusaha mendengarkan sambil baca liriknya (di album kurang jelas, bisa ke situs resmi mereka), juga liat review2 resmi dan mbak Wiki, tapi tampaknya gw masih agak kurang puas dalam memahami betul2 apa maksud 45-menit durasi A Thousand Suns ini.

Mbak Wiki bilang album ini tentang senjata nuklir (karena ada Oppenheimer yg seorang fisikawan), majalah Rolling Stone bilang album ini menggambarkan apa2 saja yang ditakutkan manusia mengenai zaman akhir. Kalo gw bilang, sejauh ini dengan hikmat dan pengetahuan terbatas, A Thousand Suns lebih mirip film tentang bencana zaman akhir/kiamat, lengkap dengan segala dinamikanya. Beginilah interpretasi gw: “The Requiem” yang berisi penggalan lirik yang juga ditemukan dalam “The Catalyst” di track 14 nanti, adalah pesan berita tentang akhir dunia dan kesudahan umat manusia, sebagai prolognya. Lalu rangkaian track2 selanjutnya adalah penyesalan karena menyadari kehancuran dipicu oleh manusia itu sendiri, usaha menyelamatkan diri, keputusasaan karena segala usaha terasa sia-sia, kemarahan dan saling menyalahkan, hingga pada satu titik pencerahan bahwa kehancuran tak mungkin dicegah atau dihindari, namun harus disambut dengan harapan instead of kekhawatiran (“The Catalyst” mengulang lirik di “The Requiem”, tapi dengan tambahan “no!”), lalu epos akhir zaman ala Linkin Park ini ditutup lewat nomer akustik “The Messenger” yang mengingatkan apa yang jadi kunci hidup manusia, “life leaves us blind, love keeps us kind”. Diawali dengan desperation, namun diakhiri dengan kelegaan. Hei Linkin Park akhirnya bisa juga bikin karya bernada optimis (frase “let go” bertebaran dimana-mana). Well, itu kalo gw, agak ngasal dan belum tentu benar, tapi yah…biarin aja lah segini dulu kemampuan gw, hehe.

Segitu ribet dan sulitnya kah album A Thousand Suns ini dicerna? Hmm, tergantung juga. Bagi yang hanya suka pada Linkin Park pra Minutes To Midnight, ini album nggak jelas. Bagi yang sudah ridho dengan apapun yg dilakukan Linkin Park, album ini jenius. Bagi yang sekadar suka musik album ini bisa jadi di antara kedua kubu tadi: interesting, beda—musiknya nggak ada yang terlalu digeber dan nuansanya beragam, “lagu”2nya tetap enak di kuping (seriously, all 9 of them), bagus secara teknis termasuk vokal Chester Bennington (yg kembali berteriak di 2 lagu “Blackout” dan “The Messenger”) dan Mike Shinoda, namun bisa jadi tak semua bisa menikmati album ini secara keseluruhan, karena menikmati “lagu”nya semata berarti hanya menikmati separuh album. Gw sendiri sih masih bisa menerima detik demi detik suara yang keluar di album A Thousand Suns ini, karena masih masuk di kuping dan nggak terlalu aneh2 banget, tapi gw nggak tau apakah gw “benar2 suka” sama album ini. Yang pasti, A Thousand Suns sama sekali bukan album yang buruk, I think it’s better than Minutes to Midnight. Linkin Park memang berubah dan berangsur tua, namun alih-alih jadi melempem, mereka tetap berjuang untuk selalu menawarkan hal2 baru bagi pendengarnya—it kinda worked though, dan itu langkah yang bagus.

Oh, btw, secara “lagu”, gw paling suka “Burning The Skies”, “When They Come For Me”, “Waiting For The End”, “The Messenger” dan “The Catalyst”. Lewat posisinya di track 14, “The Catalyst” jadi terkesan lebih megah dan anthemic lho di album ini. Lift me up, let me go…



My score: 7,5/10


NB: di track 7 “Jordana del Muerto” berisi 2 kalimat berbahasa Jepang yg dinyanyikan Mike Shinoda “mochiagete, tokihanashite”, yang artinya…”lift me up, let me go” =).

Linkin Park
Previews
courtesy of YouTube

The Catalyst



Waiting for The End

Minggu, 07 November 2010

[Movie] Y Tu Mamá También (2001)



Y Tu Mamá También
(2001 - 20th Century Fox/IFC Films/MGM)

Directed by Alfonso Cuarón
Screenplay by Alfonso Cuarón, Carlos Cuarón
Produced by Jorge Vergara, Alfonso Cuarón
Cast: Maribel Verdú, Gael García Bernal, Diego Luna, Andrés Almeida


Berseting di Mexico City, dua sohib yang baru akan masuk kuliah, Tenoch (Diego Luna) dan Julio (Gael García Bernal) baru saja ditinggal berlibur oleh pacar2 mereka. Emang dasar ababil yang bosenan dan selalu berpikiran kotor, mereka iseng2 flirting sama Luisa (Maribel Verdú), wanita Spanyol nan hot yang adalah istri kakak sepupu Tenoch, bahkan mengajaknya pergi liburan ke tempat yang mereka karang sendiri, pantai Heaven’s Mouth. Beberapa waktu kemudian rupanya Luisa menyatakan pengen ikut pada rencana liburan fiksi Tenoch dan Julio, dan dimulailah perjalanan dua remaja tengil nan sotoy dan seorang wanita dewasa yang depresi, naik mobil melintasi gunung dan lembah, kampung dan kecamatan di Meksiko, yang juga “memaksa” mereka lebih mengenal satu sama lain, baik maupun buruk.

2 kali gw nonton Y Tu Mamá También, dan dua2nya reaksi di dalam pikiran gw adalah “Gila!”, meskipun untuk alasan yang berbeda. “Gila” pertama adalah secara kasat mata. Kalo temen2 cukup sering mengunjungi blog ini, pasti inget gw pernah singgung bahwa gw suka banget gayanya Alfonso Cuarón sang sutradara, dan di film ini pun bukan pengecualian. Gila, karena visual yang keren di satu sisi dan bikin shock di sisi lain. Keren, karena kabarnya inilah pertama kalinya Cuarón secara esktensif memakai teknik one-take shot panjang (sebelum Harry Potter 3 dan Children of Men) yang didukung sinematografi jempolan dan pengarahan pemain yang luar biasa. Coba tengok adegan Tenoch-Julio pertama ngobrol sama Luisa di pesta pernikahan, juga adegan di jalan (di mobil sambil jalan) soal 10 aturan persahabatan Tenoch-Julio, lalu shot favorit gw ketika Luisa nelpon suaminya dan Tenoch-Julio lagi main meja sepakbola2an yang terpantul di jendela kaca box telepon. Naah…bikin shock karena film ini sangat “terbuka” dengan apapun yang dilakukan oleh tokoh2nya, mulai dari kencing, nyimeng, kentut di mobil, ngobrolin mesumisme sampe anu2 yang…yah…let’s say, the closest thing to bokep I ever watch, hihihi.

Gila yang kedua adalah ketika gw sadar, bahwa dibalik gambar2 keren dan adegan2 racy, film ini dengan cerdasnya menyampaikan lebih banyak hal daripada soal adu karakter di tengah sebuah perjalanan. Decak kagum gw ternyata bertambah ketika menyaksikan setiap detail sebuah road trip yang ditawarkan Cuarón berbarengan dengan obrolan dan interaksi Tenoch-Julio-Luisa. Gw diajak benar2 mengalami perjalanan mereka (berantem di jalan, nyalip truk), melihat keadaan sekeliling (ada upacara pernikahan dan pemakaman, pemeriksaan oleh aparat di tengah jalan, etc), memperhatikan hal2 dan juga orang2 yang tidak biasanya dilihat (sapi ngehalangin jalan, pengemis di warung, etc)—maklum saya juga tiap tahun road trip Pantura, jadi keinget, hehe. Juga lewat bantuan narator yang menceritakan latar tokoh dan tempat yang kadang2 terkesan ngalor ngidul, justru membuat film ini menjadi solid, karena berhasil memberi asupan informasi soal politik, budaya serta sosial di Meksiko (lewat pandangan sang penulis naskah tentu saja) yang berkaitan baik langsung maupun tidak dengan para tokoh, tanpa terlalu menggurui atau terlalu serius. Sebuah gambaran yang cukup komplet dan jauh berbeda dari kesan yang selama ini beredar lewat telenovela yang kelewat mewah itu. Lagipula, narasi yang ada sedikit banyak bisa memuaskan gw soal motivasi para tokoh, serta—pada bagian akhir filmnya—gambaran bagaimana jadinya mereka setelah perjalanan ini. Pada menonton kali kedua juga gw ngeh bahwa Tenoch dan Julio dari latar keluarga yang berbeda, bahkan mungkin bertolak belakang, terutama secara ekonomi dan status keluarga, namun ternyata kelakuan mereka ya sama aja ^_^”.

Meski dikemas lewat tata adegan dan teknis keren serta naskah yang cerdas nan renyah dan ringan, juga akting yang total (denotatif), agak sulit juga mencari inti film ini kalau hanya sekali nonton. Namun, yang gw dapet setelah nonton sih kayak kata para kritikus kebanyakan, “coming of age”. Yah, setiap orang ada cara masing2 untuk menjadi dewasa, dan mungkin bagi Tenoch dan Julio, road trip bareng Luisa adalah caranya. Sebuah perjalanan yang tanpa mereka nyana menguji persahabatan mereka, ketika mereka benar2 saling tau sama lain, sampai pada titik mereka menyadari kegilaan dan ketengilan mereka sudah melampaui batas. Pun soal Luisa yang mencoba mencari arti kebahagiaan, salah satunya melebur dengan gejolak kawula muda Tenoch dan Julio *eh, kok rancu ya bahasanya XP* setelah selama hidupnya nggak pernah merasa benar2 bebas merdeka.

Kesimpulannya, yang pasti, gw suka film ini, dan mengukuhkan Alfonso Cuarón sebagai sutradara favorit gw. Kemampuannya meramu benang merah cerita yang sederhana tapi dipenuhi dengan topping beraneka ragam bergizi tinggi yang dipresentasikan lewat penggarapan visual aduhai dan pengarahan kelas wahid. Y Tu Mamá También bisa aja disturbing bagi sebagian penontonnya lewat beberapa adegannya yg tabu (meskipun menurut gw Cuarón memakai itu buat lucu2an), tapi nggak mengaburkan bahwa film ini bagus, keren, dan somehow cerdas. Eh, gw udah bilang blum kalo gw nonton versi unrated yang adegan anu2nya frontal? =D.




My score: 8,5/10

[Movie] Speed Racer (2008)



Speed Racer
(2008 – Warner Bros.)

Written and Directed by The Wachowski Brothers
Based on the animation series “Mach GoGoGo” written by Tatsuo Yoshida
Produced by Joel Silver, Grant Hill, Andy Wachowski, Larry Wachowski
Cast: Emile Hirsch, John Goodman, Susan Sarandon, Christina Ricci, Matthew Fox, Roger Allam, Rain, Hiroyuki Sanada, Paulie Litt



Alasan gw mau nonton versi live action Amerika dari Speed Racer yg bahkan dulu gw juga nggak suka seri animasinya adalah: 1) DVD originalnya lagi sale (^_^); dan 2) Ninja Assassin yang diproduseri kakak-adik Wachowski—kreator pelopor film action modern The Matrix—adalah film yg cupu tapi gw malah menikmati, bisa jadi hal yg sama terjadi pada Speed Racer ini (^_^”). Sebenarnya dari idenya saja sudah absurd, memfilmkan seri animasi “Mach GoGoGo”atau kemudian lebih terkenal sebagai “Speed Racer” secara internasional lewat dubbing-an absurd Amerika yg juga memberi nama tak kalah absurd pada tokoh2nya (Speed Racer itu nama orang? Bah! Kalo gak salah yg versi asli Jepang nama2nya masih agak normal deh). Namun, tampaknya justru kata kunci “absurd” yang mendasari metode Wachowski Bros. dalam membuat versi live actionnya, sehingga, whether you like it or not, jadilah film Speed Racer yang begitu absurd di hampir semua segi, bahkan bisa jadi merupakan bentuk lain yang setara dengan keabsurdan seri animasinya.

Dulu waktu tayang di RCTI, gw cuman nonton “Speed Racer” sambil lalu, pokoknya tentang balapan mobil2 (terlalu) canggih di arena yang bermacam-macam, aneh dan nghayal tapi sok serius banget (dan ternyata sebagian anime Jepang memang begitu, inget “Born To Cook”?) tanpa tau maksud dan tujuannya. Sedangkan di film Speed Racer ini sedikit dijelaskan, bahwa intinya adalah usaha Speed Racer (Emile Hirsch) dkk dalam menegakkan sportivitas dengan melawan ketamakan kapitalisme yang mengikis supremasi dan kebanggaan sejati seorang juara di dunia balap....ngomong apa sih gw barusan XP…Tapi ya itulah, dalam durasi film tepat 2 jam (lalu tambah 10 menitan lagi buat kredit), penonton dibawa kesana-kemari dengan gambar2 digital penuh warna—ya sebagian besar gambarnya memang CGI kecuali orang2nya—dan berbagai peristiwa pembangkit adrenalin. Kesana-kemari dalam arti film ini menyampaikan cukup banyak cerita—terutama soal latar belakang keluarga Racer yang kayaknya mirip dengan sumber aslinya—dan juga cukup banyak tokoh dengan agak membingungkan, tidak terlalu mudah dicerna, tapi lumayan efektif sebagai alat pembenaran tiap adegan yang muncul.

Dari motivasi Speed sejak kecil untuk menjadi pembalap hebat seperti sang kakak yang telah tiada, lalu yang memecahkan rekor, rencana akan direkrut sponsor besar, sampai pada konflik utama soal usaha Speed yang bergabung dengan pembalap Jepang, Taejo Togokahn (Rain) dan pembalap misterius Racer X (Matthew Fox) membongkar mafia pengatur hasil pertandingan. Tentu saja dibumbui dengan kisah cinta, konflik keluarga dan sedikit melankolisme yang bisa dibuat jadi 26 episode anime 30 menit, namun lucunya bisa aja dirangkum nggak bolong2 di film ini. Nggak mendalam sih, cuman at least nggak terlalu cetek, sedanglah, sedada (emang kolam renang). Dan btw, gw suka dengan cara film ini mengungkap identitas Racer X, hehe.

Menurut gw sebenarnya nggak ada yang salah dengan film ini. Yang salah justru ekspektasi penonton. The Wachowski Brothers (sekarang jadi The Wachowskis saja, karena salah satunya rupanya udah berganti kelamin) telanjur terkenal sebagai pembuat film The Matrix, aksi fiksi ilmiah yang dewasa dan agak berat dicerna, dan keren, namun mengharapkan mereka berbuat hal yang sama dengan Speed Racer adalah salah besar (walau Speed Racer dibilang ringan banget juga enggak). Alih2 mereka malah membuat film kartun dengan pemain manusia. Kartun baik dari segi eksekusi cerita, akting, dialog, editing, paduan warna, kostum-artdirection-makeup, humor, dan tak ketinggalan adegan2 aksinya, yang secara kasat mata lebih mudah dinikmati penonton cilik. Tebakan gw adalah film ini agak gagal di pasaran karena penonton yang (merasa) dewasa tertipu oleh ekspektasi mereka sendiri (mungkin maunya kayak Transformers)—dan penonton cilik pun kayaknya juga telanjur nggak kenal apaan tuh Speed Racer. They didn’t get the joke, that it’s a cartoon with steriods. Coba periksa lagi, “Speed Racer” bukanlah animasi yg keren, seriously. Akan tetapi versi filmnya ini sukses menggunakan ketidakkerenan tersebut secara maksimal menjadi keseruan dalam sensasi yang berbeda tapi setara menonton sebuah tayangan animasi, terutama anime Jepang. Serba lebay, tapi seru ah.

And yes, I did enjoy Speed Racer movie. Adik berkakak Wachowski yang memang pecinta anime ini masih sanggup bikin gw kagum sama adegan aksi yang mereka rancang, tapi kali ini kagum plus ketawa2. Pun pilihan mereka untuk memilih cara norak dalam menggarap film ini harus gw puji. Malah menurut gw mereka jauh lebih berhasil daripada usaha serupa dari Jepang seperti Casshern misalnya. Sebenarnya gw juga merasakan ada kekurangan film ini, terutama kurang “hadir” -nya tokoh Speed Racer itu sendiri, Emile Hirsch juga rasanya kurang kharismatik baik dari segi tampang maupun akting untuk mengemban karakter utama yang namanya dijadiin judul. Ceritanya—memang bukan hal yang harus dihiraukan terlalu gimana juga sih—memang agak panjang dan berpontensi menjemukan, tapi agak terobati lewat tampilan gambar gemerlapan dan adegan2 ala kartun nan seru di dalam segala keabsurdannya. Gw suka banget adegan finish di balapan terakhir =). Overall, Speed Racer ini termasuk enjoyable bagi yang “ngeh” sama niat para pembuatnya, meskipun bukan film penting juga sih, hehe.



My score 6,5/10