Senin, 20 September 2010

[Movie] Sang Pencerah (2010)


Sang Pencerah
(2010 - MVP Pictures)

Written and Directed by Hanung Bramantyo
Produced by Raam Punjabi
Cast: Lukman Sardi, Zaskia Adya Mecca, Slamet Rahardjo Djarot, Agus Kuncoro, Giring Ganesha, Dennis Adhiswara, Mario Irwinsyah, Ricky Perdana, Ihsan Taroreh, Sudjiwo Tedjo, Ikranagara, Yati Surachman


Sebelum memulai review, gw kayaknya perlu mengangkat satu hal: Raam Punjabi itu menarik sekali. Produser "kawakan" negeri kita, sang dedengkot rumah produksi Multivision Plus, atau kalo bikin film labelnya jadi MVP Pictures ini bisa saja dituding sebagai perusak dunia pertelevisian Indonesia dengan sinetron2 komersil kreasinya yang memang serba berlebihan ala India dan berakting sampah itu. Namun, sepertinya sering luput dari perhatian publik bahwa pak Raam kadang eling untuk memproduksi karya2 yang agak idealis dan kualitasnya pun baik...dan memang tidak laku2 amat hehehe. Beberapa tahun belakangan pun pak Raam mulai rajin merambah layar lebar: ada model komersil semacam Kawin Kontrak atau Suami-Suami Takut Istri The Movie *go figure*, ada juga yang lebih "serius" seperti Belahan Jiwa, Selamanya, Jamila dan Sang Presiden (entry Indonesia buat kategori film berbahasa asing di Academy Awards tahun lalu), hingga terakhir Sang Pencerah ini. Ini membuktikan, bahwa pak Raam bukan cuma produser yang cari untung belaka, tapi punya sisi lain yaitu masih peduli sama film yang berpotensi mutu. Jadi, hati2 mencela Raam Punjabi, you might need him someday =).

Kenapa gw bilang gitu? Karena rasanya hanya pak Raam saat ini yang berani ngluarin duit buat film seperti Sang Pencerah, tanpa musti "nyari dana" sama sponsor2 dagang yang kadang cuman pengen sekedar masang logo di poster tanpa berbuat apa2 untuk kesuksesan filmnya. Kalo gw boleh berpura-pura jadi pak Raam, gw melihat bahwa Hanung Bramantyo, sutradara merangkap penulis naskah film ini, punya potensi membuat film yang direspek secara mutu sekaligus menarik banyak penonton seperti pada fenomena Ayat-Ayat Cinta (which, sorry to say, was a not-that-good film for me), asalkan "dibiayai" dengan sepantasnya. Sang Pencerah bisa dibilang passion project Hanung Bramantyo mengenai cikal bakal berdirinya organisasi Islam kedua terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, sekaligus dramatisasi kehidupan tokoh sejarah nasional K.H. Ahmad Dahlan. Entah apa jadinya bila proyek ini harus meminta sponsor...gw rasa malah gak ada sponsor yang mau mendukung film ini, apalagi ini film sejarah, gak komersil. Capitalism is evil. Dana pemerintah? Don't make me laugh =.='

Oke, kita sekarang fokus ke filmnya. Sang Pencerah, seperti gw singgung barusan adalah biopic tentah K.H. Ahmad Dahlan. Supaya lebih sinematik dan nggak kemana-mana, riwayat Ahmad Dahlan yang ini difokuskan pada berdirinya Muhammadiyah, jadi film diawali dengan benih2 motivasi, lalu dijejerkan beberapa momen dari hidup sang Kyai yang berkaitan dengan berdirinya Muhammadiyah di akhir film. Alkisah Yogyakarta (atau Jogjakarta sih? tentukan sikap dong plis) akhir abad ke-19, Muhammad Darwis (Ihsan Taroreh) lahir dan tumbuh di kalangan santri. Sejak remaja Darwis sudah merasakan bahwa praktek agama di sekitarnya sebenarnya sudah mengaburkan ajaran Islam yang sesungguhnya. Ia pun memutuskan pergi haji ke Mekkah sekaligus belajar agama. Sekembalinya dari Mekkah, Darwis mendapat nama baru, Ahmad Dahlan (Lukman Sardi, yang lebih medok logat Jawanya daripada saat remaja...aneh), dan singkat cerita ia berusaha menawarkan wacana baru tentang ajaran Islam, yang lebih sesuai dengan ajaran yang murni, kepada lingkungan sekitarnya. Ia pun tak ragu mendobrak kebiasaan dan pemikiran yang sempit, menggunakan ilmu pengetahuan Barat--termasuk pake meja dan kursi untuk mengajar anak2 pribumi tak mampu, mengajar agama Islam di sekolah pemerintah, serta ikut dalam organisasi pergerakan nasional (Boedi Oetomo) yang di dalamnya tak melulu berisi penganut Islam.

Tak mudah, karena tentu saja ada perlawanan, siapa lagi kalo bukan dari petinggi agama, Kyai Penghulu (Slamet Rahardjo Djarot) bahkan dari kakak ipar Dahlan, Kyai Lurah (Agus Kuncoro), kakak dari sang istri Nyai Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) yang, istilahnya, pro status-quo, yang merasa Dahlan melangkahi wibawanya sebagai pemimpin umat Islam di keraton Yogyakarta, dan menyesatkan umat dengan mengajarkan hal2 yang bertentangan dengan yang dianut selama ini. Masyarakat pun terpancing dengan menuding Dahlan, ajaran serta pengikutnya adalah kafir (btw, Belanda dan apapun yang dibuatnya juga dibilang kafir). Bahkan kekerasan pun dialami diri serta para pengikutnya. Jatuh bangun Ahmad Dahlan menegakkan apa yang diyakininya mewarnai kisah Sang Pencerah ini, sampai pada akhirnya Muhammadiyah sebagai organisasi sosial dari pengikut ajaran Ahmad Dahlan berdiri, yang berawal dari 5 orang pengurus saja.

Sebagai sebuah film sejarah, Sang Pencerah sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan, terutama dari segi visual. Terlihat sekali bahwa departemen art direction bekerja keras untuk dapat menampilkan otentisitas Yogyakarta pada zaman itu, juga close-up Ka'Bah waktu adegan haji, bahkan pake teknologi CGI untuk memantapkannya (lumayan lah..walau masih keliatan banget sih hehehe). Bangunan, kostum, properti, make up yang meyakinkan menegaskan bahwa film ini memang dibuat dengan serius. Segi plotnya pun bisa dibilang lumayan rapih dan lancar. Pengetahuan yang diberikan terbilang cukup sekaligus mendukung kepentingan cerita filmnya. Penambahan emosi sebagai syarat dramatisasi pun disematkan dengan cukup baik (gw agak miris ketika mbakyunya Dahlan datang ke puing2 Langgar). Editing yang di beberapa tempat dibuat cepat juga rasanya efisien, nggak bikin gw merasa ketinggalan. Sinematografinya agak bernuansa Ayat-Ayat Cinta, miskin warna dan suram (karena proses film lab mungkin?) tapi tetap cantik dipandang mata, mirip2 film nasional produksi lawas.Memang frase "kayak film lama" terbesit di benak gw sejak awal film ini berjalan. Pengarahan akting serta dialog2nya memang seperti homage tak (atau memang) sengaja terhadap film2 berlatar Indonesia masa lalu produksi 1960-1980-an. Terlihat teatrikal, sandiwara banget lah, sehingga kurang terkesan alami atau realistis. Namun anehnya, gaya tersebut berhasil saja untuk film sejarah seperti ini, entah kenapa, mungkin karena kita (gw deing) kurang paham dengan suasana zaman itu, jadi terima2 aja =D.

Tak heran bila film ini mudah menuai pujian, karena dibuat dengan niat yang baik, produksi yang serius, serta memuat berbagai hal yang memang channeling kepada kehidupan masyarakat Indonesia hingga saat ini. Antara pemikiran baru vs pemikiran yang sudah ada yang dirasa sudah nyaman, muda vs tua (adu pinter gimana gitu deh), juga bagaimana fanatisme membuat manusia rela menghalalkan segala tindakannya, yang tercela sekalipun. Itu dan berbagai nilai2 lain yang patut direnungkan bersama ditawarkan dengan cukup baik dan tidak terlalu (mungkin hanya 'agak') menggurui. Kebenaran hanya milik Yang Maha Kuasa, tugas manusia adalah berusaha menuju ke sana (versi lain/original semboyan Dorce ^_^).

Nah, berkaitan dengan itu pula, apakah aspek2 positif film ini mampu menutupi ketidaksempurnaan film ini? Unfortunately, not that much. Para pemainnya sih cukup solid tapi tak lebih dari itu. Lukman Sardi cukup berhasil mengemban peran utama tetapi rasanya dia bisa lebih baik lagi. Ihsan Taroreh yg memerankan versi muda Ahmad Dahlan sebenarnya baik2 saja, tetapi Lukman dan Ihsan seakan memerankan dua karakter yang berbeda karena cara membawa peran mereka sama sekali nggak ada kesinambungannya. Gw pun menyayangkan performa Zaskia Addya Mecca yang udahlah terbatas, kurang berkesan pula *jadi jangan salahkan kami kalo bilang ini hanya nepotisme belaka*. Versi muda sang Nyai pun tidak lebih baik (btw, awal cinta Ahmad Dahlan/Nyai Walidah pun generik sekali, waktu ketemu si cowok ceweknya senyam-senyum malu-tapi-mau di belakang emaknya, hadeuh). Bahkan pada suatu momen aroma komersil seakan dipaksakan masuk, dengan munculnya lengkingan suara Rossa di lagu latar yang bikin gw hampir mengucap "whoa..slow down lady, lagi nonton nih kita..". Beberapa keanehan lain yang bisa2nya gw perhatikan, seperti kemunculan extras yg berulang, kerudung Zaskia Mecca yang dipaksakan sejak awal harus menutupi rambutnya, hingga anak laki-laki Ahmad Dahlan yang tidak bertambah besar juga sejak pulang haji meski ceritanya 5 tahun udah lewat ^_^;.

Namun demikian, Sang Pencerah tetaplah sebuah pencapaian sinema Indonesia yang patut dihargai terutama dari keseriusannya, juga dari caranya bercerita tentang sejarah Islam nasional secara awam dan tanpa kesan kuat propaganda, tanpa memasang portal buat penonton yang bukan Islam. Gw juga menghargai keputusan Hanung untuk menurunkan kadar melodrama-lebai-ala-India yang mendominasi Ayat-Ayat Cinta. Musik garapan Tya Subiakto (juga menggarap AAC) pun lebih bersahaja dan lebih sesuai waktu dan tempat dengan menurunkan frekuensi kemunculannya: di AAC rata2 10-detik sekali (=_="), di sini cuman rata2 2 menit sekali, dan alunan solo violinnya mantep sekali. Dan kalo pun ada 1 hal yang bikin gw girang saking bagusnya, adalah penampilan Sudjiwo Tedjo, sebagai salah satu pakde yang sepemikiran dengan Ahmad Dahlan. Biar porsinya sangat sedikit, tapi di antara pemeran lain yang tampak teatrikal, pak Djiwo justru stood out dengan permainan natural dan amat sangat meyakinkan. Bravo! Jadi kesimpulannya, Sang Pencerah, belum spektakuler gimana gitu, tapi very watchable tentu saja. Raam Punjabi gitu loh =P.




My score: 7,5/10

Sabtu, 18 September 2010

[Movie] Revolutionary Road (2008)


Revolutionary Road
(2008 - DreamWorks)

Directed by Sam Mendes
Screenplay by Justin Haythe
Based on the novel by Richard Yates
Produced by Scott Rudin, Bobby Cohen, Sam Mendes, John Hart
Cast: Leonardo DiCaprio, Kate Winslet, Kathy Bates, Michael Shannon, Kathryn Hahn, David Harbour, Dylan Baker


Ada Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet...eh, ada Kathy Bates juga. Titanic 2? Mungkin kalo film dijual di DVD bajakan judulnya begitu (^_^;). Revolutionary Road adalah persembahan yang sangat berbeda daripada film Titanic yang mereka bintangi 11 tahun sebelumnya itu, selain bahwa mereka lebih tua tentu saja. Sedikit cek latar belakang sumber film ini, Revolutionary Road adalah sebuah novel best-seller tentang tragedi kehidupan pasangan suami istri muda Amerika dekade 1950-an. Premis "tragedi" dan nama sutradaranya, Sam Mendes yang kerap bikin film depresif (American Beauty, Road to Perdition) tadinya bikin gw ragu untuk nonton film ini—gw agak kurang menyukai film2 depresif dan tragedi. Lha kok ditonton juga? Abisnya, kata orang2 bagus (malah ada quote kritikus dipasang gede2 di cover DVDnya hehe), dan filmnya sendiri meramaikan award2an tahun 2008-2009. Gw coba aja.

Diawali dengan adegan singkat pertemuan awal Frank Wheeler (DiCaprio) dan April (Winslet), tak lama kemudian cerita masuk pada kehidupan rumah tangga mereka berdua yang agak nggak sehat, bahkan ada pertengkaran hebat di pinggir jalan sebelum judul "Revolutionary Road" muncul di layar. What a prologue. Frank dan April kini tinggal di daerah suburban, bagi orang2 sekitar mereka adalah pasangan yang harmonis dan ideal. Frank kerja kantoran di kota, April ibu rumah tangga mengurus 2 anaknya. Namun dibalik itu tersimpan duri yang lambat laun makin kerasa sakitnya bagi mereka berdua. April merasa sudah tak tahan dengan hidup "sempurna" yang mereka jalani, karena itu bukan keinginannya yang sejati, bagai terpenjara di rumah sendiri. Frank pun tersadar bahwa pekerjaan yang ia jalani sesungguhnya bukanlah yang ia inginkan, hanya penyambung hidup yang nggak membuatnya lebih bahagia. Menjalani yang tidak mereka inginkan dianggap pemicu seringnya pertengkaran. Maka April berinisiatif mereka sekeluarga pindah ke Paris, memulai hidup yang baru, melepaskan citra semu yang menempel pada "suami-istri Wheeler" selama ini.

Rencana itu tanpa ragu diceritakan oleh Frank dan April ke orang2 sekitarnya, baik ke tetangga2 maupun kolega kerja. Tentu semua orang bilang rencana itu gegabah sekali, terutama Helen Givings (Kathy Bates) sang sahabat keluarga, dan suami istri Campbell, Milly dan Shep (Kathryn Hahn dan David Harbour) tetangga sebelah. Hanya satu orang yang tampaknya tidak mencela mereka, John Givings (Michael Shannon) putra Helen yang justru didiagnosa nggak waras. Namun perjalanan menuju impian dan harapan mereka pun tidak mudah, karena mereka tetap harus menghadapi hari-hari menyebalkan yang justru nampak makin mempersulit rencana mereka, dan coba bayangkan sakit hati yang dirasakan ketika rencana/harapan/impian itu secara nyata terancam bubar jalan.

Revolutionary Road (seperti halnya The Hurt Locker) adalah film yang gw saksikan di saat yang tepat, sehingga gw merasa film ini "ngomong" sama gw. Daripada gw curhat, silahkan cek lagi sinopsisnya di paragraf ke-2, terutama bagian akhir2 ^_^. Intinya gw cukup memahami dan merasa apa yang dialami baik Frank maupun April, namun tidak semata-mata karena konektivitas pribadi, tapi karena film ini disampaikan dengan kuat (sejak adegan awal, like I told you earlier), efektif, dan tetap indah dipandang pula. Emang agak ganjil sensasinya, film yang begitu gelap dan murung temanya tapi secara pandangan mata terlihat cerah dan cantik (art direction, kostum, make-up). Mungkin memang begitu tujuannya, bahwa suami-istri Wheeler menjalani hidup yang tampak sempurna yg bikin envy orang2, yang kontras dengan keadaan hati mereka sesungguhnya yang retak, dan itu semua disempurnakan sinematografinya yang jempolan cing (oleh Roger Deakins, DoP yang karyanya paling sering gw tonton).

Ceritanya sendiri disampaikan dengan sangat baik, rapih, dan dialognya nggak mubazir, meski mungkin bahasanya agak nyastra sedikit. Biarpun begitu, pembawaan aktornya, yang dimotori penampilan perkasa DiCaprio dan Winslet, membuat bahasa2 agak tinggi itu jadi meyakinkan dan mengena. Maka Revolutionary Road keluar sebagai film yang nyaris flawless, baik dari naskah, visual, musik, akting, serta arahan Sam Mendes yang tetap bisa menularkan sinyal depresi ke gw, namun kali ini gw bisa menerimanya dengan baik dan rela, lagian at least tokohnya gak mati semua..emangnya Road To Perdition (=P). Gw gak menyangka bisa menyukai film ini, tapi itulah yang terjadi. Sebuah drama rumah tangga sekaligus tentang anak manusia yang bermakna dalam, nggak terkesan palsu, gelap sekaligus memancing renungan, dikemas secara bagus dan efektif. Untuk pertama kalinya gw suka filmnya Sam Mendes =).



My score: 8/10


NB: film ini muncul bersamaan dengan film The Reader yang dibintangi pula oleh Kate Winslet, yang memperoleh piala Oscar untuk perannya di situ. Mnurut gw, di Revolutionary Road dia sama bagusnya, tapi mungkin Academy lebih mendukung Winslet di The Reader karena di situ doi sering telanjang =b.

[Movie] The Lives of Others (2006)



Das Leben der Anderen
The Lives of Others
(2006 - Buena Vista International/Sony Pictures Classics)

Written and Directed by Florian Henckel von Donnersmarck
Produced by Max Wiedemann, Quirin Berg
Cast: Ulrich Mühe, Sebastian Koch, Martina Gedeck, Ulrich Tukur, Thomas Thieme, Hans-Uwe Bauer


Kayaknya gw nggak pernah nonton film Jerman sebelum The Lives of Others ini deh. Memenangkan piala Oscar sebagai film berbahasa asing terbaik di tahun 2007 serta rekomendasi dari beberapa blog tetangga membuat gw cukup tertarik untuk menyaksikan film ini. The Lives of Others mengambil latar masa perang dingin ketika Jerman masih terbelah, mengambil fokus, yang benar2 fokus, pada kehidupan di Jerman Timur (yang rada2 sosialis/komunis/leninis atau apapun itu) yang kerap menyelidiki dengan menyadap oknum2 tertentu yang dicurigai sebagai pembelot ke Jerman Barat (yang liberal).

Sedari awal kita diperkenalkan pada Kapten Wiesler (Ulrich Mühe) sebagai prajurit Stasi (kayak...apa yah...tentara?) yang luar biasa cakap dan dapat diandalkan dalam membongkar kasus pembelotan yang makin marak terjadi. Maka tak heran pula bila Wiesler ditunjuk oleh sang atasan, Anton Grubitz (Ulrich Tukur) untuk terjun langsung ke lapangan dalam rangka pengupingan terhadap penulis/sutradara teater terkemuka Jerman Timur, Georg Dreyman (Sebastian Koch) atas pesanan menteri kebudayaan (Thomas Thieme). Wiesler pun melaksanakan perintah dengan sangat baik, nguping dan mencatat lalu melaporkan kehidupan Georg yang tinggal bersama kekasihnya, aktris teater Christa-Maria Sieland (Martina Gedeck), terutama tentang hal2 yang mencurigakan apakah Georg ini pembelot atau bukan. Proses "pengawasan" ini pun mengharuskan Wiesler menyelami kehidupan pribadi sang seniman teater, mulai dari hubungan asmaranya hingga pergaulannya. Sejak awal memang tampak bahwa Georg ini seorang warga Jerman Timur yang setia meski banyak kawan2nya menjadi korban pemerintahan (karirnya disabotase) karena dianggap membahayakan negara. Perlahan tapi pasti, Wiesler mulai terlibat dalam kehidupan Georg, tapi tahan dulu, bukan sebagai Stasi, tapi sebagai…manusia, apalagi ia tau jelas motif dibalik perintah pengawasan Georg yang (seharusnya) bersih itu.

Plot The Lives of Others berjalan selangkah demi selangkah, agak terkesan lambat, tapi buat gw, efektif dan captivating. Tampak sederhana, tapi bukan dalam arti seadanya saja, namun lebih karena terlihat otentik dan believable, baik itu plotnya, konflik, dialog, seting, maupun karakternya. Film ini dengan tepat guna menggambarkan suasana Jerman Timur pada masanya, yang terintegrasi dengan aspek lainnya tanpa harus kasih keterangan panjang lebar. Lihat bagaimana dingin dan monotonnya suasana di sana, bangunan yang hampir seragam, pakaian pun warna tanah semua, bahkan dengan mimik dan gestur Kapten Wiesler yang seorang prajurit sempurna itu juga berhasil bikin gw sedikit banyak bisa paham bagaimana tertutup dan terkendalinya pemerintahan di sana saat itu.

Di luar itu, gw juga merasakan kuatnya karakter Kapten Wiesler yang dimainkan secara ciamik tak bercacat oleh alm.Ulrich Mühe. Secara porsi tokoh Wiesler memang nggak termasuk dominan, dialognya pun terbatas, tapi perannya tetap sangat berpengaruh. Sikap dan tingkah lakunya sangat datar dan kaku, sekaligus cerdas (dia bisa bikin penyadapan yang dilakukannya sama sekali nggak ketahuan), dengan kehidupan yang...yah...hampir gak punya kehidupan, namun ia ternyata memilih untuk berpegang teguh pada sesuatu yang lebih luhur daripada sekadar menjalani perintah atasan: keadilan. Penonton diajak melihat Wiesler, dari seorang antek pemerintahan yang strict, tergerak nuraninya ketika menyaksikan ketidakadilan di depan matanya (atau kupingya ^_^), memutuskan untuk bertindak meski ia sendiri tau konsekuensinya bagi dirinya sendiri sebagai abdi negara. Perubahan itu memang lambat laun namun tetap terasa, meskipun ekspresi muka Wiesler nggak berubah!

The Lives of Others adalah sebuah film yang sangat rapih, sangat. Hampir tidak ada celah dalam film ini, kecuali bahwa film ini tidak heboh atau overdramatic, atau tidak memberi efek decak kagum sesegera mungkin. Dengan cara tersendiri, film ini berhasil mempersembahkan cerita yang mungkin lingkupnya kecil tapi mampu berkisah banyak, menyampaikan emosi tanpa terlalu emosional, ketegangan yang lebih pada intimidatif ketimbang suspense, semua dalam sebuah karya yang solid. Gw salut juga bahwa meskipun secara screen-time lebih banyak menampilkan kehidupan Georg, tapi tetap berhasil membuat tokoh Kapten Wiesler (yang adalah tokoh utama namun pasif) mengundang simpati, seakan jadi pahlawan tanpa suara. Dia bahkan nggak pernah senyum…well, almost never *ups*. Sebuah film yang menunjukkan bahwa siapapun bisa bertindak benar atas dasar keadilan, bukan karena pamrih atau kepentingan…kalau memang mau.


My score: 8/10

Rabu, 08 September 2010

[Movie] Gosford Park (2001)


Gosford Park
(2001 - USA Films/Capitol)

Directed by Robert Altman
Screenplay by Julian Fellowes
Based on an idea by Robert Altman, Bob Balaban
Produced by Robert Altman, Bob Balaban, David Levy
Cast: Maggie Smith, Michael Gambon, Helen Mirren, Kristin Scott Thomas, Kelly Macdonald, Clive Owen, Ryan Phillippe, Jeremy Northam, Emily Watson, Eileen Atkins, Bob Balaban, Stephen Fry, Geraldine Somerville, Charles Dance, Camilla Rutherford, Tom Hollander, Derek Jacobi, Alan Bates


Gosford Park adalah sebuah parade naskah, akting dan pengarahan yang berkualitas. Bagaimana tidak, banyaknya tokoh (bener2 banyak) yang porsinya rata2 sama dengan latar belakang dan konflik yang beraneka ragam, dicampuradukkan dalam satu tempat, waktu dan peristiwa, namun berhasil disajikan menjadi tontonan yang memikat hanya dalam durasi 2 jam saja. Kok bisa? Nah itu dia keistimewaannya. Naskah yg cerdik pandai, akting yang kompak tanpa cela, dan kepiawaian sang sutradara alm. Robert Altman dalam merangkum semuanya, adalah daya tarik utama film ini.

Berseting di Inggris pasca perang dunia I (mungkin), Lord William McCordle (Michael Gambon) mengadakan acara berburu (shooting party) di lahan kediamannya yg dinamakan "Gosford Park", mengundang kerabat dan rekan2 bisnisnya. Namun di malam terakhir, tak diduga (?) Lord William terbunuh di meja kerjanya, dan setiap tamu bahkan keluarganya sendiri tak luput dari kecurigaan. Itu aja sih benang merahnya. Tetapi Gosford Park menyajikan lebih dari itu. Banyak banget sub-plot yang kalo meleng sedikit akan bikin bingung, namun anehnya penyajiannya sangat menghibur. Gosford Park menampilkan dua dunia: majikan (Upstairs) dan pelayan (Downstairs) yang masing2 punya kompleksitas tersendiri namun juga terkait bak jaring laba-laba. Awal dan akhir kisah kita merujuk pada si pelayan Scottish yg lugu Mary Maceachran (Kelly Macdonald) dan majikannya si nenek tua cerewet nan sinis Lady Constance Trentham (Maggie Smith) yang adalah bibi mertua dari Lord William. Perlahan tapi pasti penonton diperkenalkan pada setiap tokoh yang kumpul di Gosford Park dengan motivasinya masing2.

Berawal dari Lady Trentham, mulai dijabarkan hubungan Lord William dengan keluarga dan tamu2nya. Hubungan Lord William dan istirnya, Lady Sylvia (Kristin Scott Thomas) hanyalah sebatas formalitas, mungkin mereka saling benci, karena sebenarnya Lord William lebih mencintai adik Lady Sylvia, Lady Louisa (Geraldine Somerville), istri dari Lord Raymond Stockbridge (Charles Dance). Selanjutnya ada Anthony Meredith (Tom Hollander) yang (kalo gak salah) ingin mencegah Lord William membatalkan investasinya; Freddie Nesbitt (James Wilby) yang pecicilan pengen dapet kerjaan dengan cara merayu anak Lord William, Isobel (Camilla Rutherford); tak ketinggalan ada aktor Hollywood Ivor Novello (Jeremy Northam) yang berkunjung bersama seorang produser, Morris Weissman (Bob Balaban) untuk riset film terbaru.

Di "bawah", Mary yang jadi "pelayan pendatang" (bawaan tamu) jadi penghantar penonton menyelami dunia servant yang lumayan hectic. Setiap pelayanan di Gosford Park dikelola oleh head sevant yang tegas, Mrs. Wilson (Helen Mirren), kecuali untuk bagian dapur yang dikomandoi oleh head cook, Mrs. Croft, keduanya kayak dua kubu bertentangan. Mary sendiri sekamar dengan Elsie (Emily Watson) yang orangnya asik tapi entah kenapa selalu ngomong baik soal Lord William tapi ngomong jelek soal Lady Sylvia (ups). 2 pelayan pendatang lain juga hadir namun menyimpan misteri: pelayan Lord Stockbridge, Ray Parks (Clive Owen) yang kelihatannya naksir Mary, serta Henry Denton (Ryan Phillippe) bawaan Morris Weissman yg tindak tanduknya serta cara bicaranya mengundang tanda tanya. Dan sebagaimana diketahui, para pelayan ini tau lebih banyak tentang permasalahan majikan2nya daripada orang lain.

Sepintas terdengar seperti opera sabun berepisode panjang, tetapi Robert Altman yg sudah berpengalaman mengarahkan film dengan ensemble cast (banyak aktor tanpa ada yg benar2 utama) mengambil gaya yang berbeda. Nggak perlu membuat segmen2, narasi, atau mengutamakan tokoh tertentu sebagai pegangan, cerita semua dilebur secara silih berganti dan berlapis-lapis, bahkan saling timpang dalam satu timeline *kebanyakan main twitter*. Altman seakan membiarkan para aktornya "berkeliaran" dalam frame sehingga justru menciptakan suasana yg believable dan natural. Bukannya gak fokus, Gosford Park malah sukses dalam merangkai pelbagai permasalahan karakter dalam satu kesatuan lewat adegan2 dan dialog yang sangat efektif dan efisien, nggak buru-buru maupun terlalu lambat, tanpa menelantarkan benang merah plot...atau mungkin sebenarnya benang merahnya gak sepenting itu ^_^;. Setiap potong adegan dan dialog (bahkan hanya lewat satu kata) pasti mengandung maksud tertentu, dan mungkin saja baru benar2 dipahami setelah menonton beberapa kali, which is nggak apa-apa buat gw, lagian dialognya lucu2, nggak membosankan. Kudos buat Altman sebagai sutradara dan Julian Fellowes sebagai penulis naskah yg menang Academy Awards lewat karyanya ini.


Sebagaimana gw sebut di awal, Gosford Park menampilkan banyak karakter yang semuanya, semuanya dimainkan dengan skill berkelas dan berkualitas dari deretan aktornya yang 90% British ini. Nggak ada yang over atau under acting *istilah darimana lagi nih?*, semua sangat pas dan men-deliver performanya dengan gemilang *waduh tinggi banget tuh bahasanya*. Yang jadi bangsawan dengan keangkuhannya yang khas, sedangkan yang jadi pelayan terlihat begitu mahir meski bisa norak juga dengan kehadiran bintang film terkenal macam Ivor Novello. Kehadiran Stephen Fry sebagai polisi penyelidik pun terbilang menyegarkan dengan kekonyolannya meledek film2 misteri. Mungkin yang paling gw bilang istimewa adalah Maggie Smith sebagai Lady Constance Trentham yang bermulut usil. Satu dialognya dengan tokoh Morris Weissman yang jadi gong paling nyaring di film ini:
Morris Weissman: (tentang rencana pembuatan film detective Charlie Chan In London) "Most of it takes place at a shooting party in a country house. Sort of like this one, actually. Murder in the middle of the night, a lot of guests for the weekend, everyone's a suspect. You know, that sort of thing." (Sebagian besar latarnya di acara berburu di rumah pedesaan. Kayak rumah ini lah. Malam2 ada pembunuhan, ada banyak tamu, semuanya tersangka. Gitu deh.)
Constance: "How horrid. And who turns out to have done it?" (Serem amat. Jadi nanti siapa pelaku sebenarnya?)
Morris Weissman: "Oh, I couldn't tell you that. It would spoil it for you." (Wah, saya nggak bisa bilang. Nanti filmnya nggak seru lagi)
Constance: "Oh, but none of us will see it." (kita nggak bakalan ada yang nonton kok) (^m^)

Gosford Park makin dipercantik dengan dukungan art direction yang otentik, costum yang elegan serta sektor musik yang tepat takarannya, dilengkapi dengan editing yang mulus dan sinematografi yang lumayan menarik. Film ini contoh film yang bagus namun sepertinya kurang diminati karena cara menghiburnya yang tidak standar atau ringan. Mungkin akan banyak juga penonton yang kesal karena terlalu banyak sesuatu dalam film ini yang nggak bisa langsung diketahui maksudnya (kebanyakan anak cerita) serta kurang dramatis gimana gitu, tapi gw sendiri tidak bermasalah dengan itu. Sampai tulisan ini diposting, gw udah nonton kurang lebih 5 kali, dan sampai di kali terakhir gw masih menemukan sesuatu yang baru yang gw nggak ngeh tadinya. Film ini tampaknya cocok juga bagi yang ingin menyaksikan visualisasi feodalisme ala Inggris dalam rumah tangga bangsawan ^o^.



my score: 8/10

[Movie] Be Kind Rewind (2008)


Be Kind Rewind
(2008 - New Line Cinema)

Written & Directed by Michel Gondry
Produced by Michel Gondry, Julie Fonig
Cast: Jack Black, Mos Def, Danny Glover, Mia Farrow, Melonie Diaz, Sigourney Weaver


Melihat nama Michel Gondry sebagai penggarap film Be Kind Rewind ini, ada sedikit harapan dari gw bahwa film ini bakal setidaknya menyajikan kegilaan visual, sebab sutradara Prancis ini terkenal dengan visual imajinatif yg luar biasa, baik dalam karir awalnya sebagai sutradara video musik (terutama lagu2 Björk...go figure), maupun yg kemudian terbawa dengan sangat apik ketika ia mengarahkan film2, termasuk (satu2nya) yg gw pernah tonton, film romansa unik peraih Oscar, Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Harapan miminal itu memang terpenuhi, tapi gw nggak menyangka bahwa hanya itu saja yg bisa gw nikmati ketika aspek2 lain film ini hampir menyentuh batas menjengkelkan.

Be Kind Rewind bercerita tentang Mike (Mos Def) yg dipercayakan sang ayah angkatnya, Mr. Fletcher (Danny Glover) untuk mengurus toko penyewaan kaset videonya selama Fletcher bepergian. Suatu insiden terjadi ketika teman mereka yang ganjil, Jerry (Jack Black) yg terkena setruman tegangan tinggi, diduga kuat mecemarkan medan magnet ke sekitarnya yg menyebabkan seluruh film yg terekam di kaset video di toko penyewaan itu hilang lenyap, yang tentunya akan mengecewakan pelanggan, apalagi Mr. Fletcher kalau dia sampe tahu. Kebingungan, dan ketika stok kaset video udah nggak ada lagi (skarang jamannya DVD man), Mike dan Jerry sepakat untuk menimpa kaset video yg terhapus, dan me-reka ulang adegan2 filmnya yang dibuat dan diperankan oleh mereka sendiri dengan peralatan seadanya. Bermula dari Ghostbusters, rupanya video mereka sukses dan diminati bahkan sampe penduduk luar kota. Mike dan Jerry pun harus berusaha lebih keras untuk me-reka ulang (istilah mereka: sweded) lebih banyak film lagi, dari Rush Hour 2, Robocop, The Lion King (!), Men In Black, sampe King Kong, dan banyak lagi yg lain ..tapi sampai kapan, ketika Mr. Fletcher hampir pulang dan pihak penyelidik hak cipta mendatangi mereka...?

Eehmm...ya, kira2 begitu ceritanya. Sebenarnya premisnya cukup menarik, apalagi didukung oleh aktor2 yang berkelas lah. Cuman, gw rasa penceritaan Be Kind Rewind ini berantakan sekali, nggak jelas. Mau kasihan, mau ketawa, mau simpati, mau kagum, nggak bisa gw. Apalagi penampilan Jack Black yang oh my goodness sangat2 menyebalkan dan bikin risih membuat gw makin kesal sama film ini. Ada beberapa sub-plot yang cukup menarik tetapi pada eksekusinya menurut gw kurang enak rangkaiannya. Apa maksud film ini pun gw nggak paham, interaksi antar aktornya pun kayak gak nyambung dan kebingungan, atau justru gw yg nggak nyambung dan kebingungan, mungkin sistem otak gw juga terkontaminasi magnet Jerry. Oh, well...

Namun di luar itu, visual unik khas Michel Gondry tetep bisa dinikmati di sini. Bagaimana cara Mike, Jerry dan kawan2 berusaha membuat ulang adegan2 film terkenal dengan keterbatasan peralatan dan situasi memang luar biasa kreatif (dan tanpa CGI tentu saja), dan inilah satu2nya hal yg bisa dinikmati sepanjang film ini, entah itu mobil dari karton/kertas, bikin adegan malam hari tapi syuting siang hari pake kamera mode negatif dengan muka ditutupi kertas fotokopian wajah mereka *nice*, dan masih banyak lagi. Sektor art direction-nya masih patut diberi cendol *emangnya kaskus hehe*. Hanya itu. Sisanya, film ini jauh dari kata "oke", buat gw setidaknya. Kekacauan plot dan tingkah polah overacting dari Jack Black sayangnya menganggu usaha gw untuk menyukai Be Kind Rewind. It's seems like I ain't that kind *aihsokbahasainggris*.



my score: 4,5/10

[Movie] My Blueberry Nights (2007)



My Blueberry Nights
(2007 - The Weinstein Company/Block 2 Pictures)

Directed by Wong Kar Wai
Screenplay by Wong Kar Wai, Lawrence Block
Produced by Jacky Pang Yee Wah, Wong Kar Wai
Cast: Norah Jones, Jude Law, Rachel Weisz, David Strathairn, Natalie Portman


My Blueberry Nights adalah film berbahasa Inggris perdana dari sutradara antik asal Hong Kong, Wong Kar Wai. Pak Wong bukanlah sutradara biasa, karya2nya pasti beda banget sama film2 Hong Kong yg sering tayang di Indosiar. Beliau lebih dikenal sebagai pembuat film2 bervisual cantik untuk konsumsi festival, serta skenarionya yang selalu spontan (huhuy) di lokasi syuting. Gw sendiri gak terlalu familiar sama pak Wong, sebelum film ini gw baru nonton karyanya yg berjudul 2046 (tapi bingung), tapi gw denger2 film2 beliau punya keistimewaan tersendiri. Reputasi pak Wong plus bintang2 berkelas yg terlibat membuat gw cukup tertarik untuk menonton My Blueberry Nights ini. Bagaimanakah hasilnya? *ih ni review pembukaanya basi banget* *penulis kehabisan ide*.

Menurut segmen behind-the-scene di DVDnya, konsep film ini diambil dari film pendek pak Wong yg intinya orang2 ngobrol di diner atau bahasa Indonesianya...err...warung...oke deh, kedai, biar nggak terlalu peyoratif *=P*. Di awal adalah Elizabeth (Norah Jones, debut akting nich) yang mampir ke sebuah kedai karena curiga pacarnya ketemu cewek lain di kedai itu. Pada akhirnya emang benar, lalu putus, kemudian jadinya Elizabeth jadi curhat sama si empunya kedai, Jeremy (Jude Law). Bermula dari obrolan2, terus mesen blueberry pie yg selalu luput dipesan orang setiap harinya, jalan bareng, dan kemudian dapat ditebak bahwa antara Elizabeth dan Jeremy tumbuh benih2 udang windu cinta. Tapi karena sempat gagal dalam bercinta, Elizabeth menemukan cara "kreatif" untuk mengkonfirmasi perasaannya pada Jeremy. Elizabeth pun ceritanya berkelana ke beberapa kota di Amerika, kerja sebagai pelayan di kedai dengan memakai nama alias variasi pangilan dari namanya sendiri.

Nah di setiap kota (di dalam kedai tempat dia kerja) ini Elizabeth menyaksikan kejadian/drama manusia yang mungkin dijadikannya asupan untuk memperkaya batinnya (?). Well, dibilang berbagai kota sih padahal cuman 2 aja. Di Memphis, ia bernama Lizzie, menjadi saksi hancurnya hati seorang polisi paruh baya Arnie (David Strathairn) karena masih ngarep sama istrinya yg muda dan sudah meninggalkannya, Sue Lynne (Rachel Weisz) *kalo disebut kayak nama China*. Di Nevada, ia bernama Beth, ikut terlibat persahabatan singkat nan bermakna dengan gadis muda bernama Leslie (Natalie Portman) yang gemar berjudi, sekaligus punya masalah komunikasi dengan sang ayah yang seorang tajir di Las Vegas. Setiap menyaksikan sesuatu, tak lupa Elizabeth senantiasa ngirim "laporan" lewat surat ke Jeremy, sehingga hubungan mereka tidak serta merta putus begitu saja. Tapi, apakah pengembaraan Elizabeth akan menguatkan atau justru melemahkan perasaannya pada Jeremy?

Eventually, I don't give a damn, and I don't think anyone does, tapi ini bukan berarti positif. Gw gagal untuk care sama Elizabeth. Pengembaraannya pun tidak membawa perubahan yang gimana2 amat. Cerita film ini cukup "ngrepotin" kalo gak disebut absurd. Musti ya berkelana dulu? Seperti mempersulit sebuah love story yang sebenarnya sederhana sekali. Kalo pun memang ceritanya tentang perjalanan mencari jati diri, tampaknya dengan menampilkan cerita di 2 kota saja tidak cukup membuat kesan film ini jadi mendalam dan kaya, setidaknya bagi gw. Seperti mau jalan keliling Jawa dari Jakarta cuman sampe Bandung dan Jogja, nanggung (harusnya terusin sampe Surabaya, Probolinggo, Banyuwangi, *lha ini ngomongin apa sih* *pantesan gw keinget sama benih udang windu*). Gw pun merasa film ini agak gak punya inti dan, yah, gimana ya, gitu deh *gak jelas*. Singkat dan agak dangkal, atau memang gw yang nggak bisa melihat kedalamannya. Oh, sektor akting sebenernya biasa2 aja lho, nggak istimewa, walaupun gak terlalu jelek juga sih.

Namun bukan berarti My Blueberry Nights tidak bisa dinikmati sama sekali. Film ini berjalan cukup manis, penceritaannya lumayan enak dengan isi obrolan2 yang lumayan nggak membosankan. Enak juga mendengarkan adegan2 yg sebagian besar adalah di kedai dengan iringan lagu2 (kebanyakan jazz) cukup tepat. Poin terbesar dari film ini masih dipegang sama sektor visual yg tampak berwarna-warni gemerlap yang ditangkap dengan apik oleh sinematografinya lewat sudut2 khas.Penataan adegan dan blocking aktornya juga unik dan efektif, bukti ke-antik-an Wong Kar Wai masih "kepake" di sini. Kadang2 visualnya agak norak lebay juga sih, tapi overall, lumayan menyegarkan mata dengan cara tersendiri dan sepertinya jadi faktor utama film ini jadi nggak terlalu menjemukan. And I bet people would love the kissing scene *ups* ^_^;. Kesimpulannya, My Blueberry Nights film yang lumayan saja, bukan tipe yang gw sukai banget banget, bukan film yang akan memorable sekali, tapi usaha pak Wong untuk membuat film berbahasa Inggris masih patut dihargai, nggak terlalu kelihatan aneh kok ternyata.



my score: 6/10

Kamis, 02 September 2010

DVD BUYERS' GUIDE: Menilik 8 Distributor DVD Resmi di Indonesia

DVD, Digital Versatile Disc atau Digital Video Disc (halah, singkatannya aja rancu), tahu kan? Ini adalah format tontonan, yg sebagian besar adalah film, yang tampaknya sudah (hampir) lumrah digunakan masyarakat dunia. Untuk sekarang2 ini, tampaknya DVD masih menjadi primadona bagi konsumen home video terutama di Indonesia, tak terkecuali gw untuk urusan menonton film selain di bioskop, karena dari segi kualitas jauh lebih baik dari VCD (ya iyalah), dari segi perangkat pendukungnya masih lebih mudah dan murah, dan dari segi harga produknya lebih terjangkau daripada Blu-Ray—yg adalah generasi selanjutnya dari home video yg terjadi pula di ranah bajakan *hehehe*.



Talking-talking bajakan, gw sendiri nggak mau munafik bahwa gw pernah membeli dan menggunakan produk DVD bajakan, tapi bagi gw produk DVD yg resmi (harusnya) tetap lebih terjamin dan yg terbaik—2nd best setelah nonton di bioskop tentu saja. Kalo nggak ada yg resmi..ya..cari cara lain, toh kita bebas memilih apa yg mau kita tonton kan? *mulai plin plan*. Ya ya, gw tau kalo DVD bajakan ada kategori "masih jelek", "master", "udah ori" (kependekan dari original, =.=") dan sebagainya, terserah, tapi gw selama ini memang selalu berusaha mendapatkan DVD resmi dari film yg gw pengen, kalo memang ada barangnya dan dana juga kebetulan sedang tersedia, kenapa tidak?

Namun, membeli film dalam bentuk DVD yang dijual resmi di Indonesia merupakan sebuah dilema, terutama jika dibandingkan dengan produk bajakan. Kenapa mayoritas masyarakat kita cenderung pro-bajakan? Jelas, dari segi harga DVD resmi bisa mencapai 25 kali lipat harga bajakan. Apalagi rilisan bajakan selalu terdepan, teraktual
tapi tidak selalu terpercaya, lebih cepat dan lebih banyak judulnya. Tapi ketika sedang terpanggil untuk "bermoral" dengan cara beli produk resmi, terlepas dari harganya, nggak jarang kualitas yg didapat ternyata ngehe juga. Mending beli bajakan aja dong. Weits, tunggu dulu, emangnya bajakan aja yang ada kategori2an mutu? DVD resmi juga aada. Untuk itulah tulisan ini gw terbitkan sebagai medium sharing tentang deskripsi umum DVD resmi yang gw sebagai konsumen ketahui melalui "penelitian" independen (alias sendirian aja), tak terlalu penting dan tak berbobot tapi mudah2an tidak tak bermanfaat.

Kualitas DVD resmi di Indonesia, gw tekankan pada ketajaman gambar dan suara, memang tidak seragam, tapi dapat terindikasi dari perusahaan mana yang bertindak sebagai distributornya. Ada yang kualitasnya maksimal, ada pula yang kelihatan nggak niat jualan, dan itu ketahuan dari label distributornya. Di bawah ini, gw menyusun ranking label distributor2 DVD resmi yang ada di Indonesia berdasarkan yang paling "cihuy" sampe yang paling "iyuh". Namun untuk saat ini sampel saya kerucutkan (serasa Bab 1 skripsi) hanya dari DVD film internasional, exclude film2 Asia *modal nggak cukup*.

Gw bikin tulisan ini bukan untuk ber-snobbing ria, menjatuhkan pengguna bajakan dan mengagung-agungkan pelanggan produk resmi, nggak lah. Mau beli bajakan atau resmi itu terserah masing2 orang. Intinya pengendalian diri...bukan, intinya adalah gw mengajak teman2 semua untuk teliti sebelum membeli, supaya lebih bijak dan tidak mudah kecewa di kemudian hari *euleuh euleuh*. Efek yg gw harapkan sih supaya yang pake bajakan gak terlalu sinis dan apatis sama produk resmi terutama yg dijual di negara kita (IMHO, kalo beli murah2 dan banyak malah nanti diperlakukan asal2an dan jadi sampah, kan sayang juga), dan pengguna produk resmi agar nggak kecele sama produk2 yang "asal original" semata. Juga, mudah2an juga bisa jadi masukan bagi para distributor DVD resmi di Indonesia. Amin.

Gw mulai dari peringkat paling puncak ya, ayo di-klik read more nyah ^_^: