Selasa, 22 September 2009

[Movie] Atonement (2007)



Atonement
(2007 - Universal)

Directed by Joe Wright
Screenplay by Christopher Hampton

Based on the novel by Ian McEwan

Produced by Tim Bevan, Eric Fellner, Paul Webster
Cast: James McAvoy, Keira Knightley, Saoirse Ronan, Romola Garai, Vanessa Redgrave


Masuk top 10 film paling berkesan buat gw taun 2008 berdasarkan dua kali nonton dengan DVD pinjaman, beberapa waktu lalu gw akhirnya beli sendiri, dan baru2 ini gw nonton lagi. Atonement adalah drama setting jadul (tepatnya sekitar perang dunia ke II) yg paling keren yg pernah gw tonton, baik dari segi cerita maupun gaya penceritaannya. Kalau dilihat dari poster/cover DVDnya ini hanya romansa melankolis biasa, tapi
nooo...it's nothing like that.

Film ini terbagi jadi 3 babak (plus babak "bonus" di akhir, udah kayak kuis yak? hehe). Mulanya biasa saja: rumah besar Inggris bak istana di tanah pribadi, ada keluarga majikan dan pembokat2nya. Kita pertama kenal dengan Briony (Saoirse Ronan), si bungsu keluarga Tallis yg gemar sastra berusia 13 tahun. Hari itu di musim panas, kakak tertuanya, Leon (Patrick Kennedy) akan pulang dari kota bersama seorang teman pengusaha cokelat, Paul Marshall (Benedict Cumberbatch). Briony punya kakak kedua, Cecilia (Keira Knightley) yg disayanginya. Briony memperhatikan Cecilia jarang ngobrol lagi dengan anak
housekeeper (emm kepala pembantu?) mereka, Robbie (James McAvoy), yg karena kedermawanan ayah mereka bisa kuliah dan malah seangkatan dengan Cecilia. Briony (dan kita) pasti bisa membaca bahwa ada "apa2" antara Robbie dan Cecilia. Di babak pertama ini, kita diperkenalkan pada kejadian2 dari sudut pandang Briony dan sudut kenyataannya. Ketika Cecilia dan Robbie mengobrol biasa di air mancur, Briony yg melihat dari jauh mengira mereka bertengkar. Hingga suatu ketika Briony membaca surat (yg seharusnya) permohonan maaf Robbie ke Cecilia --tapi ternyata itu versi yg "salah" yg mirip stensilan hahaha, Briony yg dulu naksir Robbie, pun terlanjur ngecap Robbie sebagai "sex maniac", apalagi ketika Briony nge-gep Robbie lagi "menclok" di tubuh Cecilia di ruang baca sebelum makan malam (padahal mau sama mau kok, ini anak terlalu suuzon deh heuheu). Perasaan jijik Briony pun memuncak, malamnya ketika sedang mencari sepupu2nya yg hilang di kebun, Briony melihat sepupunya yg lain, Lola (Juno Temple, funny name ^^) sedang diperkosa oleh seorang pria. Entah apa yg dipikirkan Briony, ia langsung menuduh Robbie lah pelakunya. Robbie lalu ditangkap, dan selesai lah babak pertama.

Babak kedua adalah tentang Robbie yg terpisah dari pasukannya di Prancis bersama 2 rekannya.
Yup, Robbie gabung dalam pasukan Sekutu setelah dipenjarakan. Ia kini dalam perjalanan mencari cara supaya bisa pulang ke Inggris, karena Cecilia menunggunya. Setengah tahun sebelumnya ternyata Robbie bisa bertemu Cecilia yg bekerja sebagai perawat, dengan itu mereka bisa meneruskan cinta mereka meski sejenak (dan bisa saling kirim surat) sebelum Robbie harus bertugas ke medan perang. Dengan sebuah luka tembakan di dada dan kekurangan minum apalagi makan, Robbie sampai di sebuah kota pelabuhan dan gabung dengan sisa pasukan Inggris yg siap hengkang dari Prancis, tapi yah musti ngantri. Ini akhir babak ke 2...sort of.

Babak ketiga, kita kembali bertemu dengan Briony (Romola Garai), 5 tahun sejak kejadian di rumahnya. Sekarang ia mengikut jejak Cecilia jadi perawat, dan dikenal sebagai Suster Tallis . Di sela2 pekerjaannya, ia tetap ngetik bikin novel atau apapun itu. Tapi di saat yg sama ia juga berusaha mencari alamat Cecilia, untuk minta maaf atas perbuatannya dulu. Ia berhasil ketemu dengan Cecilia, dan juga Robbie yg kini hidup bersama. Dengan menunjukkan rasa bersalah yg amat sangat, Briony memohon ampun kepada pasangan itu, bahwa ia sebenarnya tau betul siapa pelaku pemerkosaan itu, tapi hanya karena kebodohan sesaat ia telah membuat hidup Robbie dan juga Cecilia menderita.
That's the end of act 3...sort of.

Lalu ada babak "bonus"nya. Kita sedang melihat Briony tua (Vanessa Redgrave) sedang diwawancarai mengenai novel terakhirnya, "Atonement". Briony mengaku, ini mengenai kisah hidupnya yg paling jujur, bahkan namanya sendiri tidak disamarkan. Tapi, ia pun juga menciptakan beberapa bagian cerita yg menurutnya akan lebih memuaskan pembacanya, yg tidak sesuai dengan kenyataannya...*aduh kalo gw terusin bisa spoiler nich*


Singkatnya, gw salut sama jalan ceritanya yg sedikit non-linear.Ceritanya sendiri berpotensi kunoisme, tapi untungnya di
deliver dengan cara yg cukup modern. Pembagian 3 babak cerita ini tidak membingungkan, tapi justru mengesankan. Dan ketika ditonton ulang, ada detil2 yg cukup menarik, misalnya potensi incest Cecilia dan Leon, kecurigaan pada salah satu pelayan bernama Danny (Alfie Allen, adiknya Lily Allen...yes, the song "Alfie" was about him ^_^') yg memang tidak tanduknya mencurigakan, dan juga beberapa adegan yg terlalu melodramatik seperti film2 jadul, krn mungkin itu hanya penggambaran Briony semata *ups*. Ada pula sedikit sentilan mengenai kerugian perang (yg ditunjukkan lewat sekitar 5 menit adegan one-take shot nan apik) dan kekonyolan propaganda saat masa perang. Pokoknya salut dah buat penulis naskah dan sutradaranya, top bangeut.

Segi teknisnya jangan ditanya. Sinematografi (yg senang bermain zoom kayak di Pride and Prejudice, film Joe Wright sebelumnya), tata artistik, kostum, make-up, editing, dan musiknya (yg menang Oscar 2008) sangat patut dikagumi. Aktor2nya bermain bagus (aktor2 Inggris emang jarang bermain jelek). Meski dengan
ending yg agak gimanaa gitu --duh sulitnya membahas tanpa spoiler, tapi maknanya dalam sekali. Sejauh apa kita akan bertindak untuk menebus rasa penyesalan atas tindakan yg membuat orang lain --yg kita kasihi-- menderita? Film ini tidak seperti yg dikira, dan berakhir dengan menanamkan sedikit perenungan pada penontonnya. It's beautiful, it's sophisticated, yet it's far from boring. Wajib tonton buat penggemar film.


my score:
8,5/10

Selasa, 15 September 2009

[Movie] Great Expectations (1998)


Great Expectations
(1998 - 20th Century Fox)


Directed by Alfonso Cuarón
Screenplay by Mitch Glazer
Based on the novel by Charles Dickens
Produced by Art Linson
Cast: Ethan Hawke, Gwyneth Paltrow, Anne Bancroft, Robert De Niro, Hank Azaria, Chris Cooper



Entah ada berapa orang yg seperti gw: lulus kuliah dengan pengutamaan sastra, tapi jarang membaca, boro2 sastra, Goosebumps aja ngantuk. Akibatnya gw kurang aware bahwa film Great Expectations tahun 1998 (yg terkenal dengan “jilatan” di pancuran minuman dan lagu “Life in Mono”) adalah adaptasi modern dari konon karya terbaik sastrawan besar Inggris, Charles Dickens, yg juga mengarang Oliver Twist dan.........lain-lain ^^’-- gw nggak pernah baca satupun karya Dickens (tapi menurut mbak Wikipedia, Great Expectations adalah salah satu karya Dickens yg paling sering diangkat ke drama atau film). Jadinya ketika gw nonton, gw nggak bisa membandingkan filmnya yg bersetting Amerika modern dengan novelnya yg bersetting Inggris jaman revolusi industri. Yang bisa gw bandingkan adalah, ini salah satu karya awal dari sutradara yg sepertinya akan jadi favorit gw, Alfonso Cuarón, dan dalam rangka mendalami karya2 dia sajalah gw membeli dan menonton DVD stok lama ini.

Film ini dikisahkan lewat sudut pandang Finn (“not the way it happened, but the way I remembered it”,
nice) makanya setiap adegan dari awal sampe abis pasti ada dianya. Finn kecil adalah anak yg baik hati. Hidup miskin bersama kakak perempuannya, Maggie (yg kemudian minggat nggak bilang2) dan pacarnya, yg dipanggil Finn Uncle Joe (Chris Cooper). Film diawali dengan Finn merasakan rasa bersalah yg begitu besar karena pernah menolong seorang misterius (Robert De Niro) berbaju oranye dan kakinya terbelenggu (get it?), yg ternyata seorang buronan yg kemudian tertangkap dan beritanya disiarkan di TV –-belakangan diketahui namanya Lustig...Tapi biarlah itu berlalu, suatu saat Finn ikut Uncle Joe untuk menata taman istana milik wanita terkaya di Florida, seorang perawan tua rada sinting, Ms. Nora Dinsmoor (Anne Bancroft). Saat berada di taman (yg ampun deh berantakannya), Finn bertemu sepintas dengan gadis cantik seumurannya. Bukannya menata taman, Finn kemudian malah diminta dan dibayar oleh Ms. Dinsmoor untuk bermain bersama keponakannya, Estella, yg tak lain adalah gadis kecil di taman itu, yg ternyata jutek bener. Finn yg gemar melukis pun sedikit banyak belajar mengenai kehidupan orang “kelas atas” (well, cuman diajarin dansa sich sama Ms. Disnmoor) meski belum sampai jadi bagian dari dunia itu.

Singkat cerita Finn dan Estella tumbuh bersama. Finn naksir Estella sejak awal, tapi Ms. Dinsmoor udah bilang, Estella sudah dididik untuk menyakiti hati setiap pria yg jatuh cinta padanya (sebagai bentuk dendam Ms. Dinsmoor yg dicampakkan saat hari pernikahannya). Dan memang itu yg terjadi, ketika mereka remaja, suatu malam Esetella (Gwyneth Paltrow) seakan “mengizinkan” Finn (Ethan Hawke) utk mencintainya….tapi keesokan harinya, eh..si Estella udah minggat ke Paris. Sakit hati dong. Ia pun memutuskan berhenti melukis –-karena selama ini Estella adalah inspirasinya, kemudian bekerja serabutan bareng Uncle Joe untuk bertahan hidup. Sampai suatu saat, seorang pengacara datang, bilang ada sponsor yg tertarik dengan lukisan2 karyanya (padahal udah lama nggak ngelukis) dan meminta Finn untuk membuat pameran tunggal.....di sebuah galeri prestis......di New York! Akomodasi, kebutuhan hidup, publisitas dan kebutuhan lainnya juga udah ditanggung. Finn mengira ini kerjaan Ms. Dinsmoor agar Finn bisa ketemu lagi dengan Estella yg sekarang ada di New York--bagi yg pernah baca novelnya pasti paham bagian ini. Dengan kehidupan yg “naik kelas” (karena tampaknya jadi pelukis muda berbakat adalah tiket untuk masuk dunia
socialite) Finn pun berharap bisa menjalin lagi cintanya dengan Estella, dengan membuktikan dia juga bisa jadi orang hebat dan tidak pantas dicampakkan begitu saja…ah love, one would do anything for ^_^’, but one should have known…kenyataan seringkali tidak sesuai dengan harapan, ya kan?

Kisah cinta kaya-miskin dan social-climbing ternyata relevan untuk jaman apapun. Dua unsur yg (sepertinya) jadi poin utama novel aslinya, disampaikan kembali dalam versi modern tanpa ada ganjalan yg terlalu mengganggu, semua tampaknya bisa diterima dengan akal sehat, hanya saja film ini memang lebih fokus pada kisah cintanya. Inti ceritanya bagus dan intrik2nya jelas lebih menarik daripada telenovela, antara kepolosan Finn vs sifat “penakluk” Estella yg tindakannya tak terduga, awalnya manis, trus sepah dibuang, manis lagi, trus sepah dibuang dan diinjek-injek. Finn tulus mengharapkan cinta Estella, apalagi ketika ia merasa sudah pada level layak bersanding dengan Estella, tapi tak ada yg tau apa isi hati si cewek yg sebenarnya. "What is it like not to feel anything?" tanya Finn ke Estella, wah nusuk banget tuh.

Seperti yg gw sampaikan di atas, gw nonton film ini karena disutradarai oleh Alfonso Cuarón, yg sebelumnya gw kenal lewat Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, Children of Men, dan segmen “Parc Monceau” di Paris Je T’aime, yg menurut gw, punya visualisasi dan
storytelling yg cantik. Great Expectations mungkin satu2nya karya Cuarón yg paling “Hollywood”, keliatan dari bintang2 nya yg terbilang lagi hot pada zamannya (akhir 90-an Gwyneth Paltrow hampir ada di semua film..hehe nggak sih, pokoknya filmnya banyak bener dah dalam waktu berdekatan). Tapi kekhasan Cuarón sudah bisa dilihat: adegan one-take shot, adegan “seolah-olah” one-take shot, jarang close-up, dan tata artistik yg agak kelam dan detil. Ada pula adegan2 yg mengejutkan (bagi gw), misalnya, itu tadi, jilatan di pancuran air minum, adegan Estella "menyentuh" jari Finn dengan ************nya, lalu ketika di New York Estella bersedia jadi model lukisan Finn, dengan mencopot satu2 pakaiannya dan Finn spontan bikin beberapa lukisan (I’ve never seen a horny scene so artistic fufufu). Agak jorki sih memang, tapi itulah yg menunjukkan tanpa harus berkata-kata “modus operandi” Estella ketika mempermainkan hati pria--lagi2 menurut cara pandang Finn.

Kekurangan Great Expectations setting modern ini menurut gw terletak pada akting aktornya, atau mungkin malah beberapa bagian skenarionya. Gw mengerti bagaimana Finn sakit hati, tapi gw kurang yakin, sebesar itukah cinta Finn kepada Estella? Ekspresi Ethan Hawke kurang keluar kayaknya. Cocok tidaknya Gwyneth Paltrow sebagai Estella si penghancur hati para pria juga bisa diperdebatkan (
God, she was bloody skinny!)--atau mungkin itu masalah selera saja. Tapi ketika sinematografi dan desain artistik sudah baik, justru sang perusak mood adalah musiknya yg rasanya terlalu kuno untuk sebuah film yg sudah berusaha dimodernkan, untungnya lagu2 soundtracknya cukup okeh. Kelemahan yg lain adalah eksekusi endingnya yg kayaknya kok cepet banget, gw kurang dapet dramanya, efek ke gw-nya kurang nendang dan meresap.

Secara keseluruhan film ini mungkin bukan yg terbaik dibandingkan film2 Cuarón yg lebih dulu gw tonton, yg notabene lebih baru, tapi gw tetap suka gambar dan alir ceritanya, biasa tapi nggak biasa (bingung kan loe? ^.^'). Entah kenapa poster filmnya harus "kayak gitu", padahal sensualitas di filmnya gak segitunya amat (gw inget dulu di poster dan cover album soundtrack yg dijual di Indonesia, ada "tambahan" seperti baju renang pink di badannya Gwyneth Paltrow hihihi, konyol). Cuarón semakin dekat menjadi sutradara paling favorit gw...sekarang musti nyari DVD A Little Princess dan Y Tu Mamá También yg kayaknya sudah susah didapat...yg original pastinya. Ada yg bisa bantu?




My score 7/10

Jumat, 11 September 2009

[Album] RAN - FRIDAY



RAN – FRIDAY

(2009 - Universal Music Indonesia)

Tracklist:

1. T.G.I. Friday
2. Karena Kusuka Dirimu
3. Tunjukkan Cintamu feat. Shila
4. Jadi Gila
5. Bosan
6. GOD
7. Budak Cinta feat. Dewi Sandra
8. Ratu Lebah
9. P.S.K.
10. Piano feat. Andi Rianto



RAN muncul di akhir tahun 2007 sebagai kejutan manis. Pertama, lagu debutnya “Pandangan Pertama” jadi semacam sleeper hit di radio. Lalu, album debut mereka RAN For Your Life menjadi salah satu dari sedikit album Indonesia terfavorit gw karena sangat enjoyable dan –yg selalu jadi ukuran gw untuk sebuah album bagus- enak didengerin pas nyetir. Musiknya mungkin tidak original, tapi ramuannya sangat segar. RAN yang masih muda-muda -dan tidak berusaha menjadi lebih tua- ini pun perlahan tumbuh menjadi idola anak2 ABG dan sekaligus (sepertinya) di-respek oleh orang2 dewasa. Musik mereka pop, lirik mereka soal cinta, sama saja seperti semua artis yg muncul di negeri ini, tapi khusus RAN, mereka nggak kacangan. Inilah citra RAN bagi gw, yg harus siap diuji di album kedua mereka bertajuk (rencanaa kali tajuk) FRIDAY.

Musik RAN yg fun dan catchy diteruskan dalam album ini. Masih berpegang pada pop, r&b, rap dan sedikit jazz (agak berkurang juga sich di sini), album ini hampir sama enjoyable-nya dengan RAN For Your Life. Perbedaan pada liriknya, kalau album pertama 91% soal keceriaan cinta, di album ini turun jadi cuman 50%. Ada juga soal putus cinta (“Bosan”, “Budak Cinta”, “P.S.K.”), soal having fun (“T.G.I. Friday”) dan juga ucapan syukur pada Yang Kuasa (“GOD”), tapi bukan berarti semuanya tidak dibungkus dengan mood yg fun juga. Soal vokal yg sempet jadi ganjelan gw di album sebelumnya, sudah sedikit terpoles, Nino gak terlalu pake idung, suara “treble” Rayi juga dimanfaatkan lebih efektif (maap kalo tersinggung, I’m just a consumer).

Album ini jadi makin terasa akrab karena dua lagu di antaranya sudah bisa dinikmati jauh sebelum dirilisnya album ini, "Tunjukkan Cintamu feat. Shila" yg sweet jadi image song iklan es krim, lalu "Ratu Lebah" jadi lagu tema film Queen Bee beberapa bulan lalu. Sedangkan sebagai lagu promo album utk radio2 adalah "Jadi Gila" yg asik beat nya. Dibuka dengan cukup dahsyat dengan lagu “T.G.I. Friday” (katanya jadi lagu promo utk konsumsi international) yg komposisinya bisa jadi sulit ditandingi oleh musisi lokal lainnya, melodi catchy dengan aransemen padat nan ceria bikin gw yg denger jadi semangat juga, very nice. Selanjutnya lagu demi lagu mengalir mulus di telinga gw, nggak ada yg jelek. Buat gw, highlight pada FRIDAY ada di “T.G.I. Friday”, “Ratu Lebah” (tapi lagu ini liriknya agak aneh, ratu lebah dan "akankah ku jadi rajamu". Sejak kapan lebah ada rajanya? oh well, mungkin bukan itu maksudnya) dan “Piano”. Nggak hanya dari segi nada ramah dan enak, tapi aransemennya juga mantahp surantap. Lagu “Piano” yg berbahasa Inggris dan hanya berbalut vokal RAN dan permainan piano Andi Rianto, setelah abis sedikit bikin gw tepuk tangan dalem hati (kalo tepuk tangan sendiri kan malu kali). Tapi ada satu ganjalan bagi gw yaitu lagu “Budak Cinta feat. Dewi Sandra” yg menonjolkan riff gitar ala rock dan vokal yg dikasih efek. Mungkin maunya “mencoba sesuatu yg beda” tapi menurut gw lagu ini rada maksa, walaupun sebenernya nggak terlalu ngerusak suasana album secara keseluruhan, just okay.

Jika dibandingkan dengan album pertama, FRIDAY bukanlah penurunan karena tidak kentara ada pengulangan, dibilang peningkatan juga nggak terlalu, tapi bukan berarti itu salah. Sah2 aja kok me- “lanjutkan!” ^_^ apa yg sudah baik, ya kan? Fans pasti akan tetap suka dan mungkin sekali akan tambah fans2 baru. Tapi bagaimanapun dengan album kedua ini, kualitas bermusik RAN yg cuman bertiga membuat band2 pop lain yg beranggotakan lebih banyak seakan cuman sekadar kumpul2 nggak jelas (anehnya dalam Anugerah Musik Indonesia kmaren, mereka kalah pamor dari ST-12 dan Hijau Daun...kuping dewan jurinya pasaran amat). RAN sekali lagi membuktikan bahwa musik mereka bisa enak dan bergizi sekaligus, dan yg penting sanggup memanjakan kuping gw. I think they're still the best of their generation (termasuk generasi gw gak yah? hehehe). Go international? Sok atuh silahkeun...


My score 7,5/10


RAN





Previews
courtesy of YouTube


Tunjukkan Cintamu feat. Shila






Ratu Lebah





T.G.I. Friday






Senin, 07 September 2009

[Album] Angela Aki - ANSWER



アンジェラ・アキ Angela Aki - ANSWER
(2009 - Epic Records Japan/Sony Music Japan)

Tracklist:
1.手纸 ~拝啓 十五の君へ~
Tegami~Haikei Jugo no Kimi e~
2. Knockin' On Heaven's Door

3. ANSWER

4. Somebody Stop Me

5. ダリア
Dahlia
6. Final Destination

7. Our Story

8. 黄昏
Tasogare
9. We're All Alone

10. リフレクション
Reflection
11. レクイエム
Requiem
12. Black Glasses

13. ファイター
Fighter


Angela Aki, penyanyi/pianis/pencipta lagu blasteran Jepang-Amerika berkacamata, baru muncul secara major tahun 2005 di Jepang, tapi impact nya cukup menggembirakan karena dengan merilis 3 album, termasuk ANSWER ini, tiga-tiganya sempat mengecap no.1 di Jepang dalam ranking mingguan untuk album terlaris (menurut Oricon). Musik, lirik dan vokal Angela memang senantiasa padu dan sebenernya mudah disukai, tapi mungkin lebih ke segmen Adult Contemporary (yah kan di Jepang segmen ini yg paling banyak populasinya bukan? Hahaha). Dengan basis piano dan aransemen akustik lengkap, musik pop yg agak ke arah tipikal singer/songwriter Amerika, dan lirik yg mengena (bagi yg ngerti, gw cuman ngerti dikit2) memang cenderung standout dari musik pop Jepang kebanyakan.

Nggak seperti 2 album sebelumnya, Home dan TODAY yang beberapa singlenya jadi tie-up film/anime/drama (sinetron)/iklan, ANSWER cuman punya 1 lagu andalan yg dirilis sebelumnya dalam bentuk single, yaitu “Tegami” yg jadi lagu resmi lomba paduan suara untuk SMP tingkat nasional Jepang taun 2008 (arti sub judulnya “Dear, 15-year-old you”). Lagu yg unik karena isinya tulisan surat seorang anak 15 tahun untuk dikirimkan kepada dirinya yg dewasa, lalu yg dewasa membalas surat itu (absurd? Nggak ah, keren konsepnya. Ini beneran pengalaman Angela loh). Sedangkan untuk versi internasionalnya, yg jadi andalan adalah lagu berbahasa Inggris “Black Glasses”, yg lagunya dibikin dan diaransemen bareng singer/songwriter/pianist berkacamata dari Amerika, dan juga idola Angela, Ben Folds. Lagu ini lucu sekali ^_^.

Lagu-lagu yg catchy seperti di album2 sebelumnya agak berkurang di sini, tapi gw akui, ciri khas Angela udah saklek dan tetep enak2 aja. Aransemennya masih terbilang berbobot, nggak semuanya slow. ANSWER juga kayaknya lebih idealis, keliatan di lagu 10 menit “Requiem” yg ekperimental tapi okeh, lalu ada juga versi Jepang dari hit Bob Dylan “Knockin’ On Heaven’s Door”. Angela juga coba2 ber-reaggae lewat lagu “Reflection”. Ini akan menarik bagi fans, tapi mungkin bagi bukan penggemar agak membosankan dan maksa…untungnya gw termasuk fans hohoho.

Dari album ini, gw paling suka lagu “Tegami”, “ANSWER” yang ceria, “Somebody Stop Me” yg rada emo liriknya ^^’, “Dahlia”, dan “Black Glasses”. Yg lain cukup aman saja memenuhi album ini. Gw masih lebih suka album pertama dan kedua, tapi yg ini juga nggak masalah. Lagian, ini album Angela Aki pertama yg gw beli CD hardcopynya, karena dirilis oleh Sony Music Indonesia seharga Rp 75rb. Sebelumnya? Yah..you know lah…^m^.


My score 7/10




Angela Aki


Previews, courtesy of YouTube


Tegami ~Haikei Juugo no Kimi e~
(Versi yg ada paduan suara, gak ada di album)



Black Glasses
(cuman nemu versi yg ada suara Ben Folds, yg versi album ANSWER cuman ada suara Angela ajah, tapi musik dan liriknya sama kok ^o^)


Jumat, 04 September 2009

[Album] Endah N Rhesa - nowhere to go



Endah N Rhesa - nowhere to go
(2009 - demajors)


Tracklist:
1. I Don’t Remember
2. Dreams Interlude
3. Blue Day
4. When You Love Someone
5. Living with Pirates
6. Catch the Windblows
7. A Thousand Candles Lighted
8. Uncle Jim
9. Baby It’s You
10. Before You Sleep
11. Take Me Home

Gw pertama kali "dikenalkan" dengan duo akustik ini lewat siaran salah satu radio, dimana mereka menyanyikan lagu2 dengan sangat original (walau lagu cover) dan seperti rekaman, padahal live! Rupanya Endah N Rhesa namanya cukup harum di dunia perkafean Jakarta, for a good reason. Endah N Rhesa, seperti yg kita bayangkan, terdiri dari Endah (vokal dan gitar) dan Rhesa (bass). Aliran mereka mnurut gw adalah pop akustik yg nyerempet ke folk, dengan musik dan lagu2 yg sama sekali tidak akan bisa ditemukan pada artis lain di negeri Indonesia ini, padahal katanya lagu2 di album ini direkam di studio pribadi a.k.a. kamar dengan segala kesederhanaannya.

Keseluruhan lagu di album ini diciptakan oleh Endah N Rhesa, dengan lirik berbahasa Inggris dan berkonsep lagu2 yang merupakan cerita2 dari negeri ciptaan mereka, ada yg lucu ("Living With Pirates"), ada juga yg mengharukan ("Uncle Jim"). Musik mereka murni akustik, hanya gitar dan bas dan beberapa instrumen non-listrik lainnya sebagai tambahan, tapi entah kenapa musik mereka terkesan lebih berbobot dan mahal daripada artis2 berkonsep full band milik perusahaan rekaman besar yg berjamuran muncul belakangan ini (*sindir mode: on*). Less is more, indeed. Vokal Endah gw bilang berkarakter walau bukan jenis "diva", gabungan antara Dolores-nya The Cranberries, Jewel, dan Bonnie Pink (penyanyi Jepang), dan permainan gitarnya sangat oke. Peran Rhesa mungkin agak "di belakang" tapi di track pertama, "I Don't Remember" dia maennya cihuy juga.

Dibuka dengan lagu "I Don't Remember" yg rada nge-soul, cukup tepat untuk membuka album dan menggambarkan artis macam apa Endah N Rhesa itu. Lagu yg gw suka selain yg barusan adalah "Blue Day", "Catch The Windblows", "A Thousand Candles Lighted" (ini keren), dan yang paling nampol dan siap meluncur mudah di kuping banyak orang, balada "When You Love Someone" yg rada mendayu-dayu tapi liriknya pasti gampang nusuk. Lagu lain mungkin bukan favorit gw tapi kalo denger CD ini, rasanya malas meng-skip lagu (^o^).

Lagu2nya punya melodi yg enak dalam tempo beragam berkat pemanfaatan instrumen yg ada terbilang maksimal. Mungkin moodnya terlalu mellow di 2 track terakhir, tapi sebagai sebuah album secara keseluruhan, this is impressive. Enaak banget didengerin sambil nyetir. Artis yg punya originalitas dan karya yg bagus kayak gini yg patut dibanggakan, dilestarikan (lebay dah ^.^'), dan patut juga diekspor. Dan kabar baiknya adalah, CD nya cuman Rp 25 ribu!!!!


my score: 8/10





Endah N Rhesa


Previews
courtesy of YouTube

I Don't Remember

@IndieAsia: Indonesia at Waterfront Stage-Esplanade, Singapore, 2009




When You Love Someone
(audio)



Blue Day



Living With Pirates (live @ demajors)



Rabu, 02 September 2009

[Movie] cin(T)a (2009)


cin(T)a

(2009 - Moonbeam/Sembilan Matahari)


Directed by Sammaria Simanjuntak

Screenplay by Sally Anom Sari, Sammaria

Produced by M. Adi Panuntun, M. Budi Sasono, Sammaria

Cast: Sunny Soon & Saira Jihan (
yup, only them…and some other faceless people we won’t care about)

Cina yg memang China dan Annisa yg memang perempuan sama-sama mencinta Tuhan, dan Tuhan mencintai mereka, tapi mereka berdua tidak dapat saling mencintai karena memanggil Tuhan dengan nama yang berbeda. Itu kira2 sinopsis resmi film independen ini. Kalau terdengar terlalu puitis dan abstrak, ternyata filmnya sendiri kira2 sama abstraknya. Tidak ada penyesatan di sini, kecuali bahwa ternyata ini bukan film romansa. Jadi film ini soal apa?...Taauk…


Ada Cina (itu namanya, nama di akte katanya, gara2 petugas aktenya salah nulis….apaan sih? ^_^’), anak China dari Sumut, Katolik, lulusan SMA di Singapur, sendirian di Bandung buat kuliah arsitektur di ITB (gak disebut sih, tapi lokasinya emang gak lain dan gak bukan adalah ITB), musti cari duit sendiri utk kuliah dan biaya hidup meski keluarganya kaya di kampung, cita2 jadi gubernur setelah provinsi Tapanuli terbentuk (entah kapan ya). Ada Annisa, Jawa, cantik, Islam, angkatan jebot, mantan artis (makanya kuliah nggak kelar-kelar, tapi kaya), sedang bikin tugas akhir yg selalu gagal pas sidang, ibunya di kampung halaman kawin lagi dengan seorang yg Annisa enggan panggil “papa”, pengen jadi sutradara.


Suatu saat Cina menabrak dan ngrusak maket tugas akhir buatan Annisa. Maket diperbaiki sama Cina, hasilnya bagus, tapi tetep gagal sidang. Akhirnya Annisa minta bantuan Cina untuk bantu bikin tugas akhir lagi (anak baru lulus SMA di Singapur ngajarin arsitektur ke mahasiswa ITB tingkat akhir..?
oh well nevermind the details). Lalu lama2 mereka pacaran. Tidak mudah karena mereka beda agama, dan Annisa sudah dijodohkan dengan seorang pria di kampung halamannya (“China, tapi Islam” katanya…lha emangnye kenape? Laksamana Cheng Ho salah satu pewarta besar agama Islam di Jawa, dan dia China…), lalu Cina siap hengkang dapet beasiswa di Singapur setelah gagal berusaha dapet beasiswa di Bandung (ya iyalah, keluarga loe kan gak miskin…ah lagi2 nevermind the details).

Idenya bolehlah. Ceritanya sendiri nggak beda jauh sama sinetron (didukung ekspresi Annisa dan musik latar) dan chicklit untuk segi percintaannya, tapi mungkin agar nggak terlalu biasa, dihajarlah penonton dengan banyak kalimat2 aneh nan ajaib dan (maunya) filosofis yg meluncur dari dua orang tokoh utama kita. Dari latar belakang tokoh yg gw sebut di atas, mereka manusia, tapi selama mereka pacaran, obrolan mereka yg memang difokuskan pada yg berkaitan dengan perbedaan iman, membuat gw berpikir “mereka makhluk dari mana?” Selain latar belakang tokoh dan isu SARA, tidak ada lagi di film ini yg membumi. Maunya “beda” tapi jatuhnya terlalu cerewet, dialognya pake campur bahasa Inggris lagi. Seakan-akan Cina dan Annisa hanya diperalat naskah agar serangkaian pertanyaan2 tentang agama dan pemeluknya bisa muncul dan diujarkan, bukannya berfokus pada hubungan cinta mereka. Emang orang pacaran ngobrolnya kayak wawancara politik di Metro TV gitu yah? Okeh, mungkin memang banyak kalimat2 yg pasti mengena dan bikin kita terdiam, terutama soal ketuhanan dan agama karena memang mewakili masing2 pikiran kita mengenai topik itu (
which is good, setidaknya film ini berani), tapi kalo terlalu banyak dan nggak pada tempatnya, jadinya pretensius (sok penting, dapet istilah dari sinema-indonesia.com). Tambah lagi, konflik di klimkasnya entah datang dari mana. Alhasil, gw jadi bingung film ini mau menyampaikan apa selain pelajaran filsafat bab konsep ketuhanan.

Sebenarnya gw akan memaafkan kekurangan (atau malah blunder) di naskah hanya karena niat baiknya, maklum film independen, seandainya secara visual baik2 saja…tapi visual cin(T)a tidak baik2 saja. Dengan kamera digital, sudut fotografinya sebenernya bagus2 banget (mendukung adegan2 “simbolis” –yg mnurut gw tetep kebanyakan), dan lucu juga sih bahwa hanya Cina dan Annisa yg wajahnya terlihat jelas, yg lain paling dari belakang atau leher ke bawah (kecuali sesi wawancara dengan pasangan2 beda agama yg “sukses”), tapi semua itu dirusak sama editing ala video klip, sejak menit pertama, hasilnya: nggak ngeresep, pengecualian di dialog terakhir Cina dan Annisa. Kalo kata temen gw yg nonton bareng, tata gambarnya “kecentilan” utk ukuran film indie. Sunny Soon (sbg Cina,
of course) bermain bagus sekali, lebih bagus daripada aktor2 lokal “profesional” yg rajin nampang di bioskop kita. Sebaliknya Saira Jihan (sbg Annisa, sapa lagi) seperti abis belajar akting dari Shireen Shunkar, that’s not a compliment. Musiknya, mohon maaf buat Homogenic, kurang pas.

cin(T)a punya ide besar (udah beda agama, beda suku, beda usia, beda kemampuan akademis, beda banyaknya kekayaan, knapa gak sekalian ajah fanatik sama klub sepakbola yg beda…oh itu film lain yah hahaha ^_^’), tapi mungkin ide itu terlalu besar sehingga nggak cocok untuk disederhanakan meskipun udah ditempel dengan tema cinta (krn memang menurut gw, apapun yg berkaitan dengan agama, nggak mungkin sederhana). Wajib tonton? Emm…mnurut gw lebih ke “boleh ditonton” (masak nggak boleh ^_^), asalkan emang lagi pengen denger pertanyaan2 manusia tentang agama dan ketuhanan, bukan untuk nonton cinta2an. Ada dua orang dari film ini yg buat gw siap berkembang lebih lanjut di dunia film: Sunny Soon dan tukang sinematografi nya. Yang lain…coba lagi lain kali ya,
you’re half way there.



My score:
5/10