Minggu, 28 Juni 2009

Star Trek di Teater IMAX Keong Emas, TMII



Dengan mengajak bokap gw, yg membuat gw cuman bayar sedikit buat tiket masuk (hehehe, kalo sendiri rada rugi), kesampean juga gw nonton di teater IMAX di Taman Mini Indonesia Indah, khususnya nonton film komersil, bukannya dokumenter biasa. Dulu Harry Potter 3 gue skip, Spider-Man (entah 2 atau 3 atau dua2nya) gw skip...terutama karena gak tau jadwalnya. Sekarang Star Trek, secara setelah nonton pertama kali di Platinum XXI f(X) (Sudirman, Jaksel), kayaknya cocok banget kalo ditonton di layar gede, pokoknya harus gw jabanin.

Gw kira nonton di hari Sabtu (27 Juni 2009) pada masa liburan sekolah akan ada antrean sebagaimana gw pernah mengalaminya jaman dulu (gw masih digendongan bokap dan nonton dokumenter soal dinasti yg bangun tembok China, lupa euy, udah lama banget). Ternyata, gak segitu ngantri, terbilang sepi malah, mungkin karena sore2 jam 4, atau karena tiket Star Trek harganya 50rb, atau sekarang lagi euforia Transformers, jadi tanpa antre deh. Sudah jelas tim marketing Keong Emas kurang lincah dan heboh untuk mempromosikan ini, bahkan di websitenya aja gak ada informasi sama sekali...tapi yah udahlah, setidaknya gw udah pernah, situ udah belon? (^0^)

Nonton IMAX adalah pengalaman nonton di layar guede, mungkin setinggi bangunan 3 lantai, yg entah gimana caranya serasa "hampir" 3-dimensi. Posisi tempat duduk dibuat seakan dekat ke layar dan duduk di sisi manapun bisa keliatan semua gambarnya, mungkin karena faktor "stadium seat" dan layar yg rada cekung. Dan saking gedenya, ini mungkin pertama kalinya gw bisa nonton film sambil nengok2 buat melihat gambar secara keseluruhan...it was fun.

Nonton Star Trek sebenernya bukan full IMAX experience, karena screen ratio film Star Trek dan layar IMAX beda, jadi gambarnya terpotong di atas dan bawah seperti di layar TV. Alhasil ukurannya jadi sedikit lebih besar dari layar di Blitz Megaplex, tapi kalo di Blitz gw belon pernah sampe nengok2 ^^;, tetep aja beda rasanya. Soundnya juga masih kalah bening sama bioskop2 XXI, tapi cukuplah, secara akustik ruangannya bagus.

Yg gw sayangkan adalah kursinya yg kurang nyaman, mungkin tidak didesain untuk nonton film lebih dari 1 jam, dudukannya terlalu deket ke lantai dan sandarannya kurang nyaman. Lebih lagi, ini adalah wahana di TMII. Artinya, ini teater semua umur. Padahal Star Trek dapet rating "Remaja" dari LSF dan kayaknya sih diputar tanpa potongan kalo di bioskop biasa. Oleh karena itu, ketika adegan 1) Kirk lagi ML sama cewek alien warna ijo; dan 2) Spock dan Uhura ciuman lama..cuman ada suaranya doang, gambarnya item ^0^. Ya udahlah, dimaklumi, ini wahana keluarga yg biasanya muter film2 dokumenter semua umur. Mudah2an di masa yg akan datang ada bioskop IMAX yg sistemnya seperti bioskop pada umumnya (amiiiin)...

Soal filmnya sendiri, gw udah tulis reviewnya. Tapi kali ini gw lebih puas karena tanpa terhalang kepala orang di depan, dan layarnya yg jelas jauuuh lebih gede daripada Platinum XXI di f(X). Jadinya gw lebih puas, lebih merasakan actionnya, klimaksnya juga entah kenapa jadi lebih nendang. And you know what..gw mau naikin nilai gw utk film Star Trek baru ini, karena ternyata, nonton kedua kali pun tidak mengurangi kenikmatan saat nonton, malah jadi tambah suka @_@...
Sayang banget sambutan masyarakat kita buat Star Trek terutama di Jakarta kurang hangat, bahkan umurnya di bioskop lebih pendek daripada Knowing-nya Nicolas Cage yg bertahan sebulan lebih. Bagi kalian yg belum nonton, sebaiknya pertimbangkan untuk nonton, kalo perlu di IMAX, daripada kesel kehabisan tiket Transformers, hohoho.

my score, revised: 8/10



foto di depan Keong Emas..blitznya mantul nich di kacamata >_<


Star Trek

@ Teater IMAX Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur

Setiap Sabtu, Minggu, dan hari libur pukul 16:00 (sampai September, mudah2an)

Harga tiket Rp 50.000 per orang

Khusus pembayaran dengan Kartu Debit Mandiri: 1 tiket untuk 2 orang

Masuk TMII: Rp 9.000 per orang + Rp 10.000/mobil atau Rp 6.000/motor

Jumat, 26 Juni 2009

[Rapid Film Review] Schindler's List - Saving Private Ryan - Munich

Gw pengen bikin review sebanyak mungkin film2 yg gw tonton, tapi males ^_^; Karena ada yg gw udah gw review (sebelum gw punya facebook), atau gw nontonnya udah lama banget, dan nggak sempet nonton lagi. Jadi sekarang gw bikin entry model baru, Rapid Film Review, isinya review singkat dari 3 film yg punya persamaan. My score nya pun udah mengalami "perkembangan" seiiring semakin banyak film yg gw tonton (hehehe).


This is the first Rapid Film Review.
Theme: Steven Spielberg Works~War Drama



Schindler's List (1993 - Universal)


Directed by Steven Spielberg
Screenplay by Steven Zaillian
Based on the book by Thomas Keneally
Produced by Branko Lustig, Gerald R. Molen, Steven Spielberg
Cast: Liam Neeson, Ben Kingsley, Ralph Fiennes

Pada masa kekuasaan dan holocaust Nazi pada Perang Dunia II, Oskar Schindler, seorang pengusaha Jerman oportunis, mencomot orang2 Yahudi dari kamp konsentrasi untuk bekerja di pabrik peralatan perang miliknya di Polandia dengan alasan bayarannya sangat murah, tapi akhirnya tanpa disadari dirinya sendiri, Schindler menyelamatkan ribuan orang Yahudi Polandia dari kekejaman rezim Nazi.
.
Salah satu adikarya (masterpiece klo mau sok bule), bukan hanya dari Steven Spielberg, tapi perfilman dunia. Kisah humanis, bergaya dokumenter, drama yg sangat kuat, sinematografi yg luar biasa, aktor yg bagus2 banget...damn...semua numpuk di sini. Penokohan yg kuat ada, adegan thriller bikin merinding ada, adegan kejam lumayan frontal juga ada, bikin terharu ada, mungkin baru Spielberg saat itu yg berani bikin film kayak gini, yg bikin penonton merasakan apa yg dirasakan tokoh2nya. Penokohan Schindler pun menarik, dia cuman seorang kapitalis playboy yg cuman cari untung, tapi pelan2 dan agak nggak sengaja, he became a saviour of a nation. Tanpa harus bertendensi bahwa film ini membela kaum Yahudi (yah secara Spielberg kan Yahudi, gak salah juga sich), Schindler's List adalah sebuah film wajib tonton bagi yg "suka film"..bukan yg "suka nonton".

my score: 9/10


Saving Private Ryan(1998 - Paramount/DreamWorks)


Directed by Steven Spielberg
Written by Robert Rodat
Produced by Steven Spielberg, Ian Bryce, Mark Gordon, Gary Levinsohn
Cast: Tom Hanks, Tom Sizemore, Edward Burns, Barry Pepper, Adam Goldberg, Giovanni Ribisi, Jeremy Davies, Matt Damon, Vin Diesel.

Kapt. Miller memimpin pasukan kecil (entah istilahnya apa) untuk satu misi: mencari dan memulangkan Prajurit James Ryan, satu2 nya putra keluarga Ryan yg masih hidup yg tengah bertugas di perang dunia II.

Entah premisnya itu memang masuk akal atau tidak, yg pasti Steven Spielberg membuat gebrakan dengan adegan2 perang yang...yah...kayak di medan perang, berkat arahan Spielberg yg dahsyat dan sinematografi yang amat sangat mumpuni. Actionnya tetep nampol walau tokoh2 utamanya cuman pasukan kecil, sound efeknya sangat pas buat ngetes speaker DVD, tapi tetep dramanya direkat kuat dengan tokoh2 yg mengundang simpati. Kayaknya film ini jadi standar baru film2 perang: drama bagus, action realistis tapi maksimum.

my score: 8,5/10




Munich (2005 - Universal/DreamWorks)


Directed by Steven Spielberg
Screenplay by Tony Kushner, Eric Roth
Based on the book "Vengeance: The True Story of an Israeli Counter-Terrorist Team" by George Jonas
Produced by Kathleen Kennedy, Steven Spielberg, Barry Mendel, Collin Wilson
Cast: Eric Bana, Daniel Craig, Ciarán Hinds, Mathieu Kassovitz, Ayelet Zurer, Geoffrey Rush


Setelah terjadi penyanderaan dan pembantaian 11 atlet dan pelatih Israel yg sedang mengikuti Olimpiade di Munich, Jerman 1972 oleh kelompok militan PLO (Palestina) yg disebut Black September, pemerintah Israel memerintahkan badan intelijen Mossad, yg kemudian dijalankan oleh beberapa agen pimpinan Avner, untuk menjalankan misi rahasia mengeksekusi orang2 penggagas dan pelaku pembantaian itu yg kini tersebar di negara2 Eropa.

Meski berpotensi terlalu serius dan kontroversial, film ini tetap eling bahwa ini adalah sebuah film yg perlu dinikmati. Benar saja, setiap orang dalam kelompok eksekusi ini punya tugas masing2, dan misi rahasia dan eksekusi digambarkan dengan ketegangan yg tinggi, nggak kalah sama Mission Impossible. Yang gw salut adalah, meski pembuatannya ngebut banget (konon dari start syuting ampe rilis nggak sampe 6 bulan), nggak kliatan ngebut tuh...terlalu bagus untuk ukuran buru2. Selang seling kejadian nyata dan fiksinya pun waktu ditonton asik2 aja, apalagi pas pembantaian atlet itu yg thrilling to the max. Sayang karakternya kurang digali lebih dalam. Dan lagi, walaupun bersinggungan dengan peristiwa sejarah, pemerintah Israel menyangkal adanya operasi ini, dan narasumber dari buku aslinya juga ketahuan ngibul. Biar gitu, ini adalah film yg okeh secara keseluruhan, dan satu poin lagi yg bagus banget dari film ini adalah diangkatnya pertanyaan: kalo PLO dan Mossad beraksi dengan cara yg sama, yg teroris siapa?
my score: 8/10

Kamis, 18 Juni 2009

[Movie] Star Trek (2009)


Star Trek
(Paramount - 2009)


Directed by J.J. Abrams

Screenplay by Roberto Orci & Alex Kurtzman

Based on the television series created by Gene Roddenberry

Produced by Damon Lindelof, J.J. Abrams

Cast: Chris Pine, Zachary Quinto, Eric Bana, Zoe Saldana, Karl Urban, John Cho, Anton Yelchin, Simon Pegg, Bruce Greenwood, Winona Ryder, Leonard Nimoy


"Star Trek" adalah serial drama fantasi yg punya penggemar yg banyak dan nggak kalah fanatik dari Star Wars atau Persib Bandung. Gw sama sekali bukan termasuk penggemar, bahkan gw gak tau kata "Trek" itu artinya apa, tapi gw cukup menikmati tiap kali kebetulan nonton di TV (Star Trek Next Generation di RCTI dan tayang ulang Star Trek Original Series di SCTV taun 90-an dulu), kliatannya enak banget hidup di pesawat luar angkasa dengan segala kemudahan teknologi (terlalu) canggih. Setelah eksistensi Star Trek baik di televisi maupun di bisokop hampir punah, para empunya merk dagang Star Trek memutuskan membuat
re-boot kisah ini, dengan berfokus pada awal mula kapal Enterprise pimpinan Capt. Kirk, Mr. Spock dan kru2 lainnya (dari Star Trek original series). Keuntungan dari film semacam ini adalah, selain dapat memuaskan penggemar lama, juga tidak membuat bingung para penonton awam.

Sekedar informasi, Star Trek bersetting di masa depan yang jauuuuuuh di depan, ketika "manusia2" dari berbagai planet berinteraksi dan membentuk semacam PBB antar planet yg disebut The Federation. Seperti PBB punya tentara, The Federation punya korps yg disebut Starfleet yg boleh diikuti oleh manusia planet manapun. Starfleet ini punya pesawat ekpedisi luar angkasa dengan misi bermacam-macam. Di film ini tampil 2 pesawat, USS Kelvin dan USS Enterprise.


Intinya film ini menceritakan sepak terjang pertama tokoh2 yg ada di Star Trek original series, tapi lebih berfokus pada Kirk (Chris Pine) dan Spock (Zachary Quinto). Kirk adalah anak dari pasangan awak kapal Kelvin, yg lahir tepat pada saat Kelvin diserang orang2 planet Romulan pimpinan Nero (Eric Bana). Ayahnya meninggal saat itu. Lalu Kirk tumbuh (di Bumi) sebagai anak bandel yg ugal2an meski memiliki potensi yg besar sehingga menarik hati Capt. Pike untuk merekrutnya di Starfleet. Dan eit, jangan salah, dia bisa naik kapal Enterprise juga rada ilegal loh hehehe...


Lalu ada Spock yg blasteran planet Vulcan dan manusia Bumi (jgn tanya kenapa bisa..^^). Meski sering digencet karena berdarah campuran, tapi kecerdasannya luar biasa. Menolak untuk masuk ke badan negara, ia memutuskan gabung ke Starfleet, dan saat kita ketemu Spock lagi, jabatannya udah satu tingkat di bawah Capt. Pike.


Berangkat dari situ, film ini banyak diwarnai
clash antara Kirk yg manusia banget dan Spock yg logika banget (krn itu sifat Vulcan). Sebenernya bagian itulah yg paling menarik dari Star Trek baru ini. Tapi biar ceritanya gak kosong, maka tentu harus ada misinya. Misi perdana kapal Enterprise dengan kru2 muda ini ialah mencegah aksi Nero yg ingin menghancurkan planet2 anggota The Federation, termasuk Bumi. Bagaimana dan kenapa, bagian ini pun terbilang seru.

Tapi tetep yg gw suka dari ceritanya adalah penempatan tokoh2nya. Gw hampir yakin setiap orang yg nonton bakal inget terus setidaknya 5 tokoh, karena meskipun bagiannya tidak sebanyak Kirk atau Spock, tokoh2 pendukung seperti Bones McCoy (Karl Urban), Sulu (John Cho), Chekov (Anton Yelchin), Uhura (Zoe Saldana), Scotty (Simon Pegg), bidannya Kirk (hehehe) dsb memiliki
presence dan impact yg kuat banget hingga menimbulkan simpati, sekalipun pada penonton yg belum kenal Star Trek. Mereka ditempatkan di bagian2 cerita yg memang ditujukan untuk memperkenalkan karakter2 tsb, cuman nggak ada kesan dipaksakan. Salut deh para aktor yg main dengan sangat baik, tapi terutama buat yg bikin naskahnya, biar dibilang terlalu mirip Star Wars karena banyak actionnya, tapi unsur2 humanis (yang katanya) khas Star Trek sama sekali tidak diabaikan...meskipun caranya nggak sedikit yg rada ngelawak ^o^.

Secara visual, kliatan banget bahwa para pembuat Star Trek nggak pengen yg biasa2 dan menjaring penonton "zaman sekarang". Visual efek okeh, sound boleh, editing bagus, plus cinematography yg
hand-held dan menampilkan banyak kilatan flare menambah kesan mewah pada layar bioskop. Karena memang begitulah Star Trek, nggak realistis tapi yg penting sophisticated.

Ngomong2 soal realistis, ada aturan yg paling baku agar bisa menikmati Star Trek: LUPAKAN IPA!! Pertanyaan kenapa dari satu planet ke planet lain bisa ditempuh dalam beberapa menit, kenapa kapal luar angkasa bisa gravitasinya sama kayak di bumi, kenapa orang bisa pindah tempat dengan cara menghilang dan muncul lagi (namanya
transporter), kenapa semua orang bisa bernapas dengan lega di planet manapun, kenapa semua aliennya berbentuk manusia, kenapa semua makhluk di planet manapun berbahasa Inggris...pokoknya buang jauh2 akal sehat loe. Star Trek memang harus tetap pada dunianya yg serba dongeng, karena hal2 "terlalu serius" itu bukan yg paling penting dari film ini, untung aja para pembuat filmnya berpikir demikian sehingga tidak berusaha merasionalisasi segala hal.

Overall, Star Trek adalah film yg memuaskan sekaligus menghibur (mnurut gw loh ya), dengan jalan cerita seru, cukup berisi, dan tokoh2 yg menyenangkan. Kekurangannya, mungkin di misi utama yg terbilang biasa (termasuk solusinya) dan drama nya yg kurang menggugah emosi, plus detil2 mengganggu bagi loe2 yang "anak IPA", tapi memang intinya bukan itu sich. Yg pasti jelas lebih bagus dripada film yg juga sama2 prequel: Wolverine...hehehe.



my score (revised):
8/10

aku lebih suka poster yg ini A_A


Sabtu, 06 Juni 2009

[Movie] The Reader (2008)


The Reader
(The Weinstein Company - 2008)

Directed by Stephen Daldry

Screenplay by David Hare

Based on the book "Der Vorleser" by Bernhard Schlink

Produced by Donna Gigliotti, Anthony Minghella, Redmond Morris, Sydney Pollack

Cast: Kate Winslet, Ralph Fiennes, David Kross, Lena Olin


Gw nonton ini dengan motivasi pengen tahu film macam apa yg bisa mendepak "The Dark Knight" jadi jajaran nominasi Best Picture di Academy Awards kemaren, "The Reader" salah satunya. Formulanya sich emang "Oscar banget": ada sutradara Stephen Daldry yg film2 sebelumnyanya "Billy Elliott" dan "The Hours" juga nomine Oscar, ada produser alm. Anthony Minghella yg menyutradarai film paling membosankan sedunia "The English Patient" dan juga "Cold Mountain", ada aktor mantep Ralph Fiennes, dan pastinya ada Kate Winslet, langganan nomine yg akhirnya menang berkat bertelanjang ria, selain berakting luar biasa meyakinkan, di film ini.

"The Reader" berpusat pada kisah semusim tak terlupakan dari seorang remaja pria di Jerman, Michael Berg yang jatuh cinta pada seorang wanita kondektur trem berusia 30-an tahun, Hanna. Kala itu tahun 1958, setelah PD II berakhir. Hanna mau aja melayani perasaan Michael tapi ada syaratnya: Michael membacakan buku untuk Hanna, lalu Michael bisa o-yeah-o-yeah sama Hanna, begitulah masa2 berdua mereka lewati. Sampai suatu saat, Hanna mendapat promosi kerjaan dan meninggalkan apartemennya tanpa kabar untuk Michael. Beberapa tahun kemudian, Michael menjadi mahasiswa hukum dan ikut kelas khusus seorang dosen yg membawa mahasiswa2nya menyaksikan persidangan terhadap 6 wanita mantan anggota Nazi yg dituduh menewaskan 300 orang Yahudi....dan Michael ternyata kenal dengan salah satunya, Hanna. Hanna divonis menjadi orang yg paling bertanggung jawab dan berusaha menutupinya dengan menulis laporan palsu, lalu Hanna dipenjara seumur hidup (gara2 5 perempuan lainnya emang MT-makan temen tuch), padahal Michael punya rahasia yg bisa meringankan hukuman Hanna. Bukan, bukan tentang dia bersetubuh setiap hari sepanjang musim panas 1958 dengan Hanna, satu lagi, yaituuu....hal yg sering disebut di review di media2 yg sebenernya adalah spoiler tapi orang2 bodoh itu tetep masukin dalam review mereka, well i'm not like them.

Sejak awal filmnya mulai, gw udah kasih nilai plus pada bidang sinematografi. Apa yg ditangkap kamera, warnanya, cara menyorot muka orang secara closeup, cakep dah pokoknya. Lalu ada Kate Winslet, seperti gw bilang sebelumnya, yang tidak pernah setengah hati dalam berakting, nggak terkecuali hayuk ajah kalo disuruh telanjang, tapi nggak masalah karena emang dia mainnya bagus. David Kross sebagai Michael muda juga bermain bagus, padahal pas syuting umurnya baru 18 tahun (memerankan Michael usia 15 sampe skitar 20 tahun). Secara naskah juga terbilang baik, banyak kalimat2 dan gestur dari tokoh2 yg penuh makna dan nggak klise.

Ceritanya disampaikan dengan menarik di awal2 ketika Hanna-Michael lagi hot2nya, tapi mulai bikin nguap ketika Hanna ngilang. Ketika sampai pada kisah persidangan Hanna, mulailah dialog2 panjang mirip acara obrolan politik di TV (cuman yg di The Reader emang ada intinya, hehehe) yg bikin ngantuk tumpah dari mulut karakter2nya. Meskipun gw nonton di bioskop, di Indonesia, yg berarti banyak adegan "terlalur vulgar" yg disembelih sama LSF, film ini masih terasa panjang buat gw gara2 bagian tengah yg disampaikan secara lumayan membosankan. Belum lagi keanehan Ralph Fiennes sebagai Michael dewasa kayak gak bertambah tua dalam rentang setting 20 tahun (1970an sama 1990an).

Bukan berarti film ini buruk. Ada satu poin yg gw ambil bahwa "The Reader" menawarkan wacana baru dalam memandang kekejaman Nazi. Selama ini film2, terutama Hollywood selalu mengambil sisi tunggal bahwa Nazi itu jahat. "The Reader" menceritakan bahwa para anggota Nazi itu juga manusia kok. Hanna misalnya, memang ia terlibat dalam kematian 300 orang Yahudi (jadi ceritanya 300 orang itu dikunci di gereja di sebuah desa. ketika desa itu dibombardir dan gereja terbakar, nggak ada yg buka kunci dan orang2 itu nggak bisa keluar. Hanna bilang dia nggak mau buka kunci karena patuh pada tugasnya: nggak boleh ada yg kabur), tapi ia hanya terjepit pada hukum yang berlaku saat itu: kejam? memang, melanggar 'hukum'? at the time, apparently not.

Dari kisah cinta berwarna nafsu birahi, ke bagian hukum dan Nazi, ke hubungan platonik di bagian akhir, sebenernya banyak yg bisa digali dari ceritanya, andai cara penyampaiannya bisa lebih tidak datar. Overall, bagus sich, tapi tetep gw rasa film ini bisa masuk nomine Best Picture Oscar cuman karena hoki,...


my score: 7/10