Sabtu, 28 Februari 2009

[Album] EXILE - EXILE BALLAD BEST



EXILE - EXILE BALLAD BEST
(2008 - Rhythm Zone/Avex)

Tracklist:

1. Ti Amo

2. Lovers Again

3. Your eyes only〜曖昧なぼくの輪郭〜 (
Aimai na Boku no Rinkaku)
4. song for you

5. We Will〜あの場所で〜-Orchestra Version- (
Ano Basho de)
6. 運命のヒト-Orchestra Version- (
Unmei no Hito)
7. HOLY NIGHT -A Capella Version-

8. LAST CHRISTMAS

9. ただ…逢いたくて (
Tada...Aitakute)
10. 僕へ (
Boku e)
11. 変わらないモノ (
Kawaranai Mono)
12. 道 (
Michi)
13. One love-Piano Version-

14. Love Dream & Happiness (performed by EXILES)


Album ini masuk di My Top Albums 2008 (Japanese) gue (di facebook), tapi baru sekarang gue sempet nulis reviewnya. Album ini isinya lagu2 ballad nan-mellow dari dance-vocal group paling populer di Jepang saat ini, EXILE. Sekedar gambaran, meski mereka ada 7 personel, vokalisnya cuman dua, sisanya dancer (jadi backingvocal pun tidak). Apanya jadinya jika group dance kayak gini harus perform lagu mellow? Ya mau gimana lagi, demi tuntutan pasar, yg namanya artis pop kudu harus ada lagu mellownya dong.

Lagu2 di album "BEST" ini terdiri atas beberapa lagu ballad stok EXILE sejak debut mereka di tahun 2001 hingga yg terbaru. Cuman, mengingat EXILE udah rombak personel, kecuali lagu yg baru (Ti Amo dan LAST CHRISTMAS), semua lagu di album ini udah di re-recorded sesuai dengan personel EXILE sekarang, jadi versinya beda dengan yg pernah ada di album2 mereka sebelumnya.

Lagu2 hit yg perlu gue highlight adalah chorus2 maut di "Ti Amo" yg R&B berat, "Lovers Again" yg agak meng-Ne-Yo (but this is my favourite EXILE song ever), "Your Eyes Only", "HOLY NIGHT", "Tada...Aitakute", "Michi", dan "One Love".... Lagu-lagu lainnya cukup safe untuk dinikmati, apalagi lagu ballad memang diciptakan untuk mudah diterima banyak orang.

Tapi mungkin agak bahaya kalau denger satu album sambil tiduran, nanti pas lagu ke-5 udah zzzzzz....saking satu album isinya slow dan slow-medium beat. Ada satu lagu yg gue kurang suka, yaitu versi Jepang dari LAST CHRISTMAS-nya Wham!, EXILE nggak menawarkan sesuatu yg baru kecuali liriknya berbahasa Jepang, kurang fresh.

2 vokalis EXILE (namanya Atsushi dan Takahiro) punya suara yg terbilang bagus untuk ukuran orang Jepang, bahkan mungkin lebih bagus daripada duo Chemistry. Pas-lah sama lagu2nya, meskipun mereka bernyanyi dengan cara ganti2an tanpa harmoni, but that's okay. Personel yg lain mah nggak usah dipikirin...khan gak nyanyi...mungkin mereka ikut joged2 waktu rekaman, who knows...

Album yg udah jadi yg terlaris dari rilisan EXILE selama berkarir ini (sekitar 2 jutaan kopi dalam 3 bulan) memang mudah nyelusup masuk ke kuping, tapi mungkin mudah juga nyelusup keluar bagi yang mungkin kurang kuat dengan suasana yang seragam sepanjang album. Tapi lumayan enak didenger waktu nyetir panas2, atau waktu suasana hati lagi gimanaaaa gitu.


my score: 6,5/10

EXILE (2008)

preview, courtesy of YouTube

EXILE - Ti Amo


EXILE - Lovers Again


EXILE - Tada..Aitakute


EXILE - Michi




Kamis, 26 Februari 2009

81st Annual Academy Awards: The MOTHER of All Awards Shows

Malam penganugerahan insan perfilman (di) Amerika, Academy Awards atau nama mesranya "Oscar", adalah pakem dari semua acara award-award-an sejenis yg muncul kemudian. Mungkin karena banyak pengikutnya (termasuk di Indonesia yg semuanya merupakan versi gagal total), panitia Oscar dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membuat upacara bagi2 piala menjadi tayangan layar kaca yg menarik dan tidak membosankan. Hasilnya, acara-acara Oscar selalu terdepan dari segi pertunjukan. Tahun ini, 22 Februari 2009 lalu (23 Februari WIB), bisa dibilang yang terbaik dari dekade ini. Rapih dan menarik, dan terlihat indah di layar kaca, mungkin karena memang dibuat oleh orang2 yg berkompeten, yang tau caranya membuat pertunjukkan dengan baik dan benar (produsernya adalah produser film "Dreamgirls")...berikut screencapnya. This is the Oscars, everybody.



Set panggung Oscar tahun ini, pastinya ganti2, tapi kristal2 Swarovski-nya senantiasa menghiasi, dan bisa gonta ganti warna...jelas karena efek lam
pu.



Panggungnya nggak terlalu gede, tapi yah....lihatlah sendiri...beautiful!!!

Posisi pentonton dibuat deket banget sama panggung depan.




Hugh Jackman dengan pertunjukkan musikal pembuka, tribut untuk film2 2008 tapi dengan dana terbatas, jadi propertinya dari karton ^o^





Here's something new. Untuk kategori akting, tidak dibacakan oleh pemenang gender seberang tahun sebelumnya, tidak juga ada footage akting para nomine. Lima orang pemenang Oscar sebelum2nya dari kategori yg sama rame2 mempresentasikan penghargaan.




Masing2 presenter memberikan kalimat2 salut dan selamat kepada setiap nomine, semacam penjelasan kenapa mereka memang pantas diunggulk
an.




Kategori teknis dibuat sesuai dengan urutannya dalam membuat film. Pertama adalah naskah (original dan adaptasi), kedua adalah persiapan praproduksi (tata artistik, kostum, makeup), lalu sinematografi, kemudian pascaproduksi (visual effect, sound editing, sound mixing, film editing), dan terakhir adalah musik (score dan song).





Ada segmen 'salute to musicals' karya Baz Luhrmann (Moulin Rouge), menampilkan Hugh Jackman & Beyonce, Zac Efron & Vanessa Hudgens (dari High School Musicals), dan Amanda Seyfried & Dominic Cooper (dari Mamma Mia!). Lagu2nya campur2 dari film2 musikal terkenal...tapi lipsync semua. ^.^;



Medley untuk kategori Best Original Song, menampilkan A.R. Rahman dkk (Slumdog Millionaire) dan John Legend yang menyanyikan lagunya Peter Gabriel (Wall-E)....di ending lagu "Down To Earth" dan "Jai Ho" dimashed-up gitu ^-^





Segmen "In Memoriam", Queen Latifah nyanyi lagu "I'll Be Seeing You" sembari antrian footage para almarhum tampil.



Biarlah konon katanya rating acara Oscar semakin menurun (taun ini agak naik sich)...tapi Oscar masih jadi rajanya penghargaan film dunia, dan acara malam penganugerahannya masih tetap tidak bisa dikalahkan oleh acara TV apapun juga. Sayang acara ini tidak ditayangkan di TV lokal, padahal bisa jadi bahan pembelajaran, terutama untuk orang2 broadcast. We must learn from the best, right?



Selasa, 24 Februari 2009

[Movie] 20th Century Boys (2008)


20世紀少年 (Nijuu-Seiki Shounen) Twentieth Century Boys (Toho - 2008)

Directed by: Yukihiko Tsutsumi

Screenplay by: Yasushi Fukuda, Takashi Nagasaki, Naoki Urasawa, Yusuke Watanabe

Based on the comic series by: Naoki Urasawa

Produced by: Yoshinobu Kosugi, Seiji Okuda

Cast: Toshiaki Karasawa, Etsushi Toyokawa, Takako Tokiwa, Teruyuki Kagawa, Hidehiko Ishitsuka, Kurannosuke Sasaki, Tsuyoshi Ukaji, Katsuhisa Namase, Hiroyuki Miyasako, Hitomi Kuroki


Salah satu proyek film (trilogi) termahal di Jepang, diadaptasi dari salah satu serial manga paling favorit gue. Layaknya Hollywood, perfilman Jepang akhir2 ini memang lagi gatel buat memfilmkan komik. Dan layaknya Hollywood juga, hasilnya pun bervariasi. Ada yg sukses seperti "ALWAYS Sunset on the Third Street", "Death Note" atau "Nana", ada juga yg hambar (sehambar sebagian besar masakan Jepang) misalnya "Honey & Clover" dan "Touch". Bagaimana dengan hasil "20th Century Boys"? We'll get to that later.

Jepang tahun 1997 cukup dihebohkan dengan mencuatnya sekte "Tomodachi" (kalo versi Level Comic, terjemahannya "Sahabat"). Sekte ini menggunakan sebuah simbol yg sangat familiar bagi Kenji Endo dan beberapa teman se-SDnya. Ia lebih terkejut lagi setelah mengetahui bahwa permainan kepahlawanan diri dan teman2nya waktu SD, yang sedianya hanya main2 belaka, ternyata menjadi kejadian betulan ketika mereka dewasa. Penyebaran virus mematikan di berbagai negara sampai aksi teror di Tokyo (meledakkan bandara), semuanya yg dijadikan aksi musuh khayalan mereka untuk menguasai dunia, benar2 menjadi kenyataan. Padahal yg mengetahui permainan mereka yg tertuang di "Yogen no Sho" (Buku Ramalan) itu hanya beberapa orang. Berarti salah satu dari teman kecil Kenji adalah pelakunya, yang jelas berkaitan langsung dengan sekte "Tomodachi" yang telah "mencuri" lambang kepahlawanan mereka. Dengan mengandalkan ingatan mereka semasa kecil, sesuai dengan Buku Ramalan, Kenji dkk berusaha membasmi "kejahatan" di malam milenium baru, hanya untuk mengetahui musuh mereka, "Tomodachi" yg telah sukses menyusup di dunia politik Jepang, punya rencana yg lebih dahsyat daripada yg mereka bayangkan. Demikian inti kisah bagian pertama dari trilogi ini.

Kalo gue boleh cerita sedikit tentang komiknya, cerita misteri campur sci-fi ini memiliki alur yg cukup rumit dan karakter yang sangat banyak. Hal yg sangat appealing dari komik ini adalah setiap chapter disampaikan lewat perspektif salah satu karakter (khas Urasawa). Urutan waktunya pun dibuat acak, maju mundur, dari zaman kecil, lompat ke masa depan, kembali ke masa kini, demikian seterusnya. Inilah salah satu nilai top dari komik ini. Gaya brilian tersebut menciptakan efek misteri yang bikin gregetan...mungkin sama dengan efek yg diberikan serial "Lost".

Lalu, apakah filmnya menciptakan efek yg sama? Nope, not at all. Meski Urasawa-sensei ikut terlibat dalam naskahnya, tapi tampaknya para penulis kebingungan bagaimana film mahal ini dibuat se-"komersil" mungkin. Nggak ada yg namanya kedalaman karakter, nggak ada kegalauan Kenji yg merasa bertanggung jawab atas kejadian2 yg terjadi di sekitarnya, apalagi efek misteri seperti di komik. Alurnya cuman di tahun 1997 sampe 2000 dan beberapa flashback. That's it. Padahal, belajar dari serial "Lost" (atau mungkin film2nya Alejandro Gonzalez Inarittu seperti "21 Grams" dan "Babel"), kalau dibuat gaya lompat2 seperti di komik menurut gue adalah cara yg tepat membuat film menjadi lebih megang, meski mungkin tidak disukai sebagian besar penonton awam. Flat, adalah kata yg tepat untuk menilai "20th Century Boys part 1" ini. Meski secara visual effect cukup spektakuler, tapi teknis yg lain (sinematografi dan editing) nggak beda sama dorama2 di TV. Musiknya pun seringkali out of place. Sutradaranya cukup pandai membuat adegan2 yg cukup lucu, tapi masih lemah dalam membangun ketegangan dan aksi. Jadinya adegan2 yang muncul sangat kuno seperti film2 disaster Amerika zaman dulu, klise, padahal versi komiknya tidak se-klise itu.

Hal-hal positif yg dapat diambil adalah jelas ide ceritanya, visual effect, casting yg tidak salah, dan kenyataan bahwa film ini cukup berhasil merangkum first act dari kisah epik kolosal akhir zaman ini (meski intensitas dan suspense jadinya terabaikan).

Okelah, filmnya mahal, aktor2nya cukup dikenal, para pembuat filmnya juga punya CV yg cukup menjanjikan, tapi karya Urasawa-sensei ini pantas untuk mendapat perlakuan yg lebih serius dan lebih kreatif lagi (harus sama briliannya dengan sang sensei).


my score: 5/10

Senin, 23 Februari 2009

WINNERS of The 81st Academy Awards



Sudah terjadi, pemenang Academy Awards ke 81….berikut para pemenangnya, sekaligus gue tandain dengan (O) kalau tebakan gue sebelumnya bener dan (X) kalau salah.


best picture
“Slumdog Millionaire”
(O)

directing

“Slumdog Millionaire”, Danny Boyle (O)


actor in a leading role
Sean Penn in “Milk” (O)

actress in a leading role

Kate Winslet in “The Reader” (O)


actor in a supporting role

Heath Ledger in “The Dark Knight” (O)

yes he can!

actress in a supporting role

Penelope Cruz in “Vicky Christina Barcelona” (X)

writing (adapted screenplay)

“Slumdog Millionaire” (O)

writing (original screenplay)

“Milk” (O)


animated feature film
“WALL-E” (O)

foreign language film

“Departures (Okuribito)” (X)

hahaha!... salah tebak yang menyenangkan (it’s Japanese ^.^ V), ini film ada Ryoko Hirosue-nya…and she looked lovely at the Oscars.


cinematography
“Slumdog Millionaire” (O)


film editing

“Slumdog Millionaire” (O)


art direction

“The Curious Case of Benjamin Button"(O)

costume design

“The Duchess” (O)

makeup

“The Curious Case of Benjamin Button” (X)

damn!

music (score)

“Slumdog Millionaire” (O)

music (song)

“Jai Ho” from “Slumdog Millionaire” (X)

kayaknya gue bakal jadiin ringtone deh ^o^


sound editing
“The Dark Knight” (O)


sound mixing

“Slumdog Millionaire”(X)

oh..nggak papa deh hehehe

visual effects

“The Curious Case of Benjamin Button” (O)


documentary feature
“Man on Wire” (O)

documentary short subject

“Smile Pinki” (X)

short film (animated)

“La Maison en Petit Cubes” (X)

short film (live action)

“Spielzeugland” (X)


Humanitarian Award

Jerry Lewis


Congragulations to all winners. Senangnya “Slumdog Millionaire” sukses besar (walaupun bekas kesedihan krn “The Dark Knight” disepelein masih ada T-T).

Lumayan tebakan gue, bener 16 dari 24 (66,67%), my best so far.

Lagian beberapa yg salah tebak juga tetep menyenangkan hatiku.


Bagi yg punya TV berlangganan, 81st Academy Awards akan ditayangkan di Star Movies, hari Rabu 25 Februari 2009 pukul 19.00 WIB.

Senin, 16 Februari 2009

Tebak-tebakan Pemenang 81st Academy Awards ~siap-siap malu~

Haruskah gue membuat prediksi buat pemenang Oscar minggu depan? Sama sekali nggak. Tapi sejak beberapa tahun terakhir gue selalu membuat tebak2an sok tau, padahal paling cuma 4-5 film nomine yang udah pernah gue tonton sebelum malam penganugerahan (gue bukan tipe maksa yg musti repot cari DVD bajakan buat bikin prediksi yang lebih afdol). Biasanya pilihan gue berdasarkan penghargaan yang diperoleh sebelumnya, atau feeling gue ketika melihat cuplikan atau trailer filmnya (see? nggak kredibel sama sekali). Dan biasanya, pilihan2 gue cuman bener kurang dari separohnya aja. Biasanya juga gue membuat tebakan "yang akan menang" dan "yang menurut gue harusnya menang", dan itu pun masih banyak salahnya juga. Tapi ya udah deh...berikut ramalan gue yang pastinya akan meleset jauh dari hasilnya nanti (seperti tebak2an gw taun2 lalu).

best picture

“Slumdog Millionaire”

It's a picture that stands out. Beda dari nomine lain yang lebih "konvensional".
Sebuah clash antara fairy tale dan realita (mengutip dari Amel: Jamal- "I love you"; Latika-"So what..?"). but unless you die, you DON'T give up.

actor in a leading role

Sean Penn in “Milk”

Gue dulu menganggap bahwa zaman sekarang jarang orang dapet Oscar lebih dari satu dalam waktu berdekatan...tapi Hilary Swank mematahkan semuanya itu, jadi Sean Penn juga punya peluang besar, dan biasanya anggota Academy suka dengan aktor yang mengambil peran biopic (tokoh nyata) dengan baik.


actor in a supporting role

Heath Ledger in “The Dark Knight”

Any objection?


actress in a leading role

Kate Winslet in “The Reader”

Sudah waktunya bagi Kate yang selalu bermain bagus...apalagi di sini dia banyak telanjang. Telanjang sudah terbukti jadi tiket final Oscar, sebagaimana Gwyneth Paltrow di "Shakespeare In Love" dan Halle Berry di "Monster's Ball".


actress in a supporting role

Viola Davis in “Doubt”

Gue cuman liat cuplikan Davis di Tonight Show With Jay Leno...dan dari beberapa detik itu pun kayaknya udah ada bau piala pakle botak emas.


animated feature film

“WALL-E”
Personally gue lebih suka "Kung-Fu Panda", tapi "WALL-E" sedikit lebih unggul di message dan teknis.

art direction

“The Curious Case of Benjamin Button"
Bagus dan niat.

cinematography

“Slumdog Millionaire”

Awas aja klo nggak menang..!


costume design

“The Duchess”

Busana zaman baheula selalu butuh perhatian khusus, dan biasanya yang kayak begitu bisa menang Oscar.


directing

“Slumdog Millionaire”, Danny Boyle

This guy is visionary!


documentary feature

“Man on Wire”

Posternya bagus. (-_-;)


documentary short subject

“The Witness - From the Balcony of Room 306”

Judulnya panjang, mungkin aja menang (-_-;)


film editing

“Slumdog Millionaire”

Ribet tapi rapih, awas aja kalo nggak menang!!

foreign language film
“Waltz with Bashir” , Israel

Ide cerita yang semi-dokumenter, dan teknik animasi capture, sekaligus relevan dengan keadaan sekarang dan mungkin untuk selamanya (film ini mempertanyakan perang yang kerap terjadi di Israel/Palestina), formula yang cukup pantas menang Oscar.


makeup

“Hellboy II: The Golden Army”

Mungkin sebagian besar rooting ke Benjamin Button, tapi mnurut gue makeupnya Benjamin Button lebih banyak "dirapihin" sama Visual Effect. "Hellboy II", dengan kru yg sama dengan "Pan's Labyrinth", hadir dengan makeup sangat kreatif, baru dan meyakinkan.


music (score)

“Slumdog Millionaire”

Pas dengan mood filmnya yang naik turun, musiknya pun jenisnya bermacam-macam.


music (song)

“Down to Earth” from “WALL-E”

Kalo ada satu film dapet lebih dari satu nominasi (tahun ini "Slumdog Millionaire"), pasti kalah (vote-nya kebagi). Lagian lagu ini lumayan asik.


short film (animated)

“Lavatory - Lovestory”

Kayaknya lucu (asmara toilet). (-_-;)


short film (live action)

“Auf der Strecke (On the Line)”

entah kenapa gue meramal ini yg menang. (-_-;)


sound editing

“The Dark Knight”

harus menang!!!


sound mixing

“The Dark Knight”

harus menang!!!!!!


visual effects

“The Curious Case of Benjamin Button”

Kepala Benjamin Button yg "masih kecil tapi tua" emang dahsyat, bener2 riil.


writing (adapted screenplay)

“Slumdog Millionaire”

alurnya kuat banget.


writing (original screenplay)

“Milk”

don't know why....
maybe because gay rights is a hot topic in the US? (-_-;)


81st Academy Awards @ February 22 (February 23, WIB)

Kamis, 12 Februari 2009

[Movie] Slumdog Millionaire (2008)

Slumdog Millionaire (Warner Bros./Fox Searchlight - 2008)

Directed by: Danny Boyle

Co-Directed (India) by: Loveleen Tandan

Screenplay by: Simon Beaufoy

Based on the novel "Q & A" by: Vikas Swarup

Produced by: Christian Coulson

Cast: Dev Patel, Freida Pinto, Anil Kapoor, Irrfan Khan


Ini dia salah satu film paling dipuji di tahun 2008. Mau tau kenapa? Yah tonton aja ^.^...

Jamal Malik sedang diperiksa di kantor polisi karena dianggap curang dalam Who Wants To Be A Millionaire? versi India. Ia hanya seorang asisten merangkap OB (office boy) di Call Centre provider telekomunikasi, tapi ia berhasil sampai babak paling akhir...tinggal satu pertanyaan menuju hadiah terbesar: 20 Juta rupee (bacanya: rupii). Jamal bukan cuman seorang pekerja yg dianggap rendah, ia adalah produk kawasan kumuh di Mumbai/Bombay. Film ini menceritakan kisah hidup Jamal dari kecil yang ibunya tewas di tawuran warga, hingga pada keadaannya sekarang. Ia bersama kakaknya, Salim dan seorang cewek bernama Latika harus berjuang pasca kehilangan orang tua, dan nasib membawa mereka kepada berbagai macam hal di dunia kelas bawah Mumbai, mulai dari jadi anak2 pengemis/pengamen, jualan di kereta, nyolong, prostitusi, tour guide ilegal, sampe berhadapan langsung dengan preman tajir yg paling disegani. Ternyata, karena dari momen2 tak terlupakan dari pengalaman hidupnya itulah ia dapat lancar menjawab pertanyaan demi pertanyaan di kuis yang versi Indonesianya sempet dibawakan Dian Sastro dengan bodohnya itu...Kehidupan keras sejak kecil menempa Jamal jadi seorang yang pantang menyerah, termasuk tujuan utamanya ikut kuis...and the reason is not the money...

Film ini sama sekali nggak mengumbar melodrama meminta belas kasihan atau terlalu fokus pada kekerasan, tapi lebih pada perjuangan melewati tantangan hidup dengan gigih untuk menggapai tujuan. Pretty inspiring *thumbs up*, serta memuat potret kehidupan yang cukup nyata hingga sekarang (termasuk di negara kita). Kisah perjuangan dari kelas bawah semacam ini katanya mirip dengan karya2 Charles Dickens, tapi krn gw nggak familiar sama sastrawan Inggris itu, jadi yah menegetehe deh. Film ini punya happy ending dan ditutup dengan ceria seiring credit: tarian ala Bollywood ^o^...

Meski ceritanya sudah cukup baik, "Slumdog" semakin di-boost kualitasnya lewat visi sutradara Danny Boyle yang sangat edgy, tidak tradisional. Ceritanya pun dituturkan dengan tidak linear tapi rapih, kayak mengalir di 3 kanal yang selang-seling di tampilkan lewat editing yang sangat sangat mantap: Ada pemeriksaan di polisi, kemudian kuis Who Wants To..., dan perjalanan hidup Jamal dkk dari kecil. Sebuah perjalanan hidup yang cukup panjang ternyata berhasil dikemas dalam durasi 2 jam yang sangat berisi. Sinematografinya jangan ditanya...miring, secara harafiah. Sebenarnya situasi di setiap adegan tidak ada yang dilebihin atau dikurangi bahkan cenderung sangat realistis (termasuk betapa ramai dan mumetnya Mumbai), tapi cara pengambilannya begitu tepat dan efek dramatisnya terasa. Entah sejak kapan daerah kumuh jadi sangat fotogenik, tapi yang pasti begitulah kesan gue ketika menonton "Slumdog". Pokoknya dari segi visual film ini maknyuss top-markotop endang bambang gulindang makblegenderr deh (credit to Bondan Winarno). Aktor2nya, termasuk versi kecil dan tanggung dari Jamal, Salim, dan Latika, semuanya bermain baik, termasuk si pembawa acar kuis yang ternyata tidak semenyenangkan yang dikira (dimainkan Anil Kapoor, satu2nya muka yang cukup familiar di film ini...pasti yg suka film India kenal lah).

Berkat cerita yang cukup unik dan visual yang stunning, membuat adegan demi adegan yang muncul, dan otomatis film ini secara keseluruhan, punya kecenderungan untuk tidak bisa hilang dari ingatan. At least in mine...

"Jai hoooo......"


my score 8,5/10


Note:
- Ada adegan kamera nge-shoot gedung tempat kerja Jamal, tapi ada security ngomong ke depan kamera "Hey, no filming!"...^O^...itu beneran gak ya...? hahaha

- Gue nonton di Blitzmegaplex Mall Of Indonesia, Klp Gading dengan layar besar kebanggaan mereka. Tapi, kenapa sich sandaran kursinya harus nggak statis? pegel tauk...

[Movie] The Curious Case of Benjamin Button (2008)


The Curious Case of Benjamin Button 
(Warner Bros./Paramount - 2008)

Directed by: David Fincher
Screenplay by: Eric Roth
Screenstory by: Eric Roth & Robin Swicord

Based on the short story by: F. Scott Fitzgerald

Produced by: Ceán Chaffin, Kathleen Kennedy, Frank Marshall

Cast: Brad Pitt, Cate Blanchett, Julia Ormond, Taraji P. Henson, Tilda Swinton, Jared Harris


Premisnya memang sangat curious, seorang pria yang terlahir tua dan tumbuh menjadi muda. Alih2 jadi objek penelitian iptek, film bersetting di New Orleans dari tahun 1918 sampe 2003 ini lebih merupakan semacam biografi fiktif seseorang bernama Benjamin Button dengan pendekatan humanis. Cukup menjanjikan bukan?

Sulit menintisarikan cerita film 2jam40menit ini, karena dituturkan layaknya biografi, gak ada inti ceritanya. Ada seorang nenek di rumah sakit bernama Daisy, meminta Caroline anaknya membacakan sebuah jurnal, yang ternyata ditulis oleh Benjamin Button tentang kisah hidupnya. Benjamin lahir sebagai bayi keriput dengan keadaan tubuh layaknya orang tua berumur 80-an (katarak, rematik, osteoporosis, tuli, siap mati dst). Karena ibunya mati waktu melahirkan, Mr. Button sang ayah akhirnya membuang Benjamin di rumah jompo yang diurus Queenie. Dengan kasih sayang Queenie dan orang2 jompo lain, Benjamin tetap hidup dan malah tumbuh makin besar (tapi tua)...dan semakin muda. Pertemuan Benjamin dan Daisy terjadi sejak "kecil" dan menjadi sahabat baik meski jarang bertemu. Dalam perjalanan hidup, Benjamin mengalami berbagai hal dan bertemu banyak orang yang meninggalkan kesan mendalam bagi dirinya, mulai dari kerja di kapal di usia remaja (tapi tampangnya masih kakek2), pengalaman seks pertama, cinta pertama dengan seorang wanita yg lebih tua (tapi dari tampang ya si Benjamin nya lah yg tua). Lalu bertemu kembali dengan Daisy, yang kemudian mereka saling jatuh cinta ketika "usia fisik" mereka hampir sama (usia 40-an) yang tetap berkesan meskipun mereka setelah itu berpisah.

Sangat menarik untuk mengetahui lebih jauh film ini sebelum nonton. Tapi setelah nonton gue merasakan sensasi aneh...ini film punya lubang non-sense yg kecil tapi ganggu, logika dan rasio gw menggeliat selama nonton. Okelah, film ini fiktif dan fantasi. Tapi kalo emang begitu, kenapa juga sang penulis cerita harus "merasionalkan" keadaan fisik Benjamin Button? Bukannya "usianya mundur" seperti dalam premisnya, tapi Benjamin Button di film ini malah "bayi kecil tapi tua, tumbuh semakin besar, kemudian semakin muda dan semakin kecil lagi". Kalo usianya mundur bukannya harusnya dia dari besar terus mengecil? Kenapa para penulis malah kurang "berfantasi" membuat Benjamin Button lahir besar lalu memuda baru mengecil (kalo di cerita aslinya emang begitu). Terus kenapa juga waktu Benjamin usia 70-an malah pikun, padahal badannya remaja...bukannya harusnya dia pikun waktu lahir? Sayangnya lagi, secara psikologis Benjamin Button seperti tidak berumur, sama aja. Ketika dia masih kecil bertampang tua, kelakuannya nggak beda dengan waktu dia berusia tua bertampang Brad Pitt muda nan rupawan (yang ML sama Cate Blanchett yg ceritanya berumur 60-an...silahkan bayangin)...Padahal mnurut gw akan lebih menarik kalau Benjamin berupa remaja tapi berlaku kayak kakek2...aargh, untuk sebuah kisah fantasi film ini masih kurang berani. Sedikit spoiler, Benjamin mati sebagai bayi normal....padahal waktu lahir juga bayi.... Goblok ah.

Nevertheless, eksekusi David Fincher terbilang indah. Gue bisa tuch nggak ngantuk selama 2jam40menit. Ceritanya mengalir seperti "Forrest Gump" (krn penulis naskahnya sama) sehingga tidak membosankan. Dua adegan paling memorable bagi gue adalah ketika Benjamin Button menceritakan kronologi kecelakaan yg menimpa Daisy di Paris, dan adegan terakhir ketika Benjamin mengingat kembali orang2 yang meninggalkan kesan mendalam sepanjang hidupnya. Para aktornya bermain sesuai porsi. Cate Blanchett masih konsisten, tapi yg paling berkesan buat gue adalah Tilda Swinton yg jadi cinta pertama Benjamin, cuman sebentar tapi screen presence nya kuat banget, mukanya itu loh. Si Brad Pitt malah biasa aja. Satu jam pertama, ketika Benjamin bertampang kakek2, kepalanya itu CGI yang dicapture dari muka Brad Pitt dengan tubuh yg dimainkan aktor lain.

Ngomong2 soal CGI, visual effect nya bisa dibilang canggih banget. Muka tua Benjamin hampir terlihat nyata (senyata Gollum di LOTR). Penghilangan kerutan di muka Brad Pitt dan Cate Blanchett juga sukses, selain special make-up nya yang cukup meyakinkan.

Overall, film ini dibuat dengan cukup bagus, tidak membosankan dan enak diikuti. Cuman karena satu hal goblok yang kecil tapi vital itu aja, gue nggak bisa bilang film ini bagus banget. Sayang. It's good, but kinda wrong...


my score: 7/10

[Movie] Pride & Prejudice (2005)


Pride & Prejudice 
(Universal Pictures/Studio Canal - 2005)

Directed by: Joe Wright
Screenplay by: Deborah Moggach
Based on the novel by: Jane Austen
Produced by: Tim Bevan, Eric Fellner, Paul Webster
Cast: Keira Knightley, Matthew Macfadyen, Rosamund Pike, Donald Sutherland, Brenda Blethyn, Judi Dench


Gw bukan penggemar romantic comedy, dalam arti gw nggak akan bela2in harus nonton setiap rom-com terbaru yang mampir di bioskop. Tapi jujur gw nggak nolak nonton kalo misalnya kebetulan ada rom-com diputer di TV, atau kalo masuk nominasi Oscar, boleh deh gw cicip dari VideoEzy. "Pride & Prejudice" versi 2005 bukan adaptasi pertama karya novelis Inggris abad 19, Jane Austen (juga yang bikin "Emma"), tapi yang ini ternyata hasilnya terbilang memuaskan, bahkan bisa dapet 4 nominasi Academy Awards termasuk untuk Keira Knightley, si pemeran utama. Setting boleh jadul, Inggris taun 1800-an, tapi yang istimewa adalah eksekusi modern dari sutradara Joe Wright yang sepertinya ingin filmnya ringkas, mendalam, serta terlihat indah di layar bioskop (atau TV).


Kisahnya bertumpu pada Elizabeth Bennet, anak kedua dari 5 bersaudari keluarga kelas menengah, dan pertemuannya dengan Mr.Darcy, seorang dari keluarga bangsawan yang sikap maupun tutur katanya sangat angkuh menurut Lizzie. Lizze yang outgoing dan pintar ngomong, setiap ketemu Mr.Darcy, adanya perang mulut terus (tapi dengan rangkaian kata2 yg santun, lucu dan nggak emosional...emangnya sinetron). Mereka bertemu dan berpisah berulang kali, banyak kejadian terjadi yg membuat Lizzie benci pada Mr.Darcy, sampe akhirnya Lizzie pun luluh karena hampir tak percaya apa saja yg diperbuat Mr.Darcy secara sembunyi2, sebagai bentuk cintanya pada Lizzie...hey, it's a romantic comedy, what do you expect?


Meski intinya romance, tapi film ini juga sukses mengangkut subplot2 dengan pas tanpa mengganggu plot utama dalam durasi 2 jam saja. Kedekatan keluarga Bennet juga porsinya cukup intens. Film ini diwarnai dialog2 yang cerdas dan lucu yang (katanya) mencerminkan gaya penulisan Jane Austen yang cenderung komikal. Setiap percakapan dan perilaku pun tampaknya diusahakan senatural mungkin, agar lebih believable a.k.a. realistis, nggak terlalu dongeng. Karakter2nya juga sangat gampang diingat dan dibawakan dengan baik tanpa beban oleh aktor2nya.


Selain pamer kostum, rumah2 mewah dan pemandangan indah, gw paling suka dengan tata kameranya. Sinematografinya sangat kreatif, terutama saat2 nge-shot muka pemain2nya zoom in dan zoom out dalam satu adegan, membawa efek dramatis yang unik dan berkelas, sama sekali nggak mboseni.


A fine romantic comedy.


my score:
7/10

NB: Gw sebenernya pernah nonton film ini sekitar 2 taun lalu lewat VCD sewaan. Tapi gara2 seorang temen gw nge-SMS nanyain soal film ini, gw jadi kepikiran dan keinget bahwa DVDnya lagi didiskon di Piramax Mangga 2 (dari 98rb jadi 35rb)...akhirnya gw beli dan nonton lagi. Ternyata bonus featuresnya OK juga. ^^

Senin, 09 Februari 2009

51st Grammy Awards / 2009




Acara Grammy Awards tahun ini mungkin yang paling boooooooring yang pernah gue tonton. Performance nya nggak ada yang istimewa banget, opening dan endingnya pun sama sekali nggak nendang....sepi....apalagi pas ada pemenang naik panggung suara background musiknya nggak sampe ke audio TV. Gue yang nonton jadi awkward nggak enak gimana gitu. Panggungnya tetep khas Grammy: dua sayap, tapi yah cuman gitu doang. Probably the lamest Grammy show I've ever seen. Ampe ngantuk (huaaaam).

Ada sich beberapa
performance yang cukup bagus dari Sugarland/Adele, Katy Perry, dan tribut untuk Motown kolaborasi Jamie Foxx+Smokey Robinson+Ne-Yo+Abdul "Duke" Fakeer. Tapi jangan harap ada preforma spektakuler seperti mash-up Black Eyed Peas+Gwen Stefani feat. Eve+Los Lonely Boys+Maroon5+Franz Ferdinand di 2005, atau kolaborasi heboh Tina Turner+Beyonce tahun 2008 lalu.

huh...

Some Winners:

Album of The Year:
Raising Sand / Robert Plant & Alison Krauss
Record of The Year
: Please Read The Letter / Robert Plant & Alison Krauss
Song of The Year
: Viva La Vida / Coldplay
Best New Artist
: Adele

Best Pop Vocal Album
: Rockferry / Duffy
Best Female Pop Vocal Performance
: Chasing Pavements / Adele
Best Male Pop Vocal Performance
: Say / John Mayer
Best Pop Performance By A Duo Or Group With Vocals
: Viva La Vida / Coldplay
Best Pop Collaboration With Vocals
:
Rich Woman / Robert Plant & Alison Krauss

Best Rock Album
: Viva La Vida Or Death And All His Friends / Coldplay
Best Rock Song
:
Girls In Their Summer Clothes / Bruce Springsteen
Best Solo Rock Vocal Performance
:
Gravity / John Mayer
Best Rock Performance By A Duo Or Group With Vocals
:
Sex On Fire / Kings Of Leon

Best Alternative Music Album
: In Rainbows / Radiohead

Best R&B Album
:
Jennifer Hudson / Jennifer Hudson
Best Contemporary R&B Album
:
Growing Pains / Mary J. Blige
Best R&B Song
:
Miss Independent / Ne-Yo
Best Female R&B Vocal Performance
:
Superwoman / Alicia Keys
Best Male R&B Vocal Performance
:
Miss Independent / Ne-Yo
Best R&B Performance By A Duo Or Group With Vocals
: Stay With Me (By The Sea) / Al Green Featuring John Legend

Best Rap Album
: Tha Carter III / Lil Wayne
Best Rap Song
:
Lollipop / Lil Wayne Featuring Static Major
Best Rap Solo Performance
:
A Milli / Lil Wayne
Best Rap Performance By A Duo Or Group
:
Swagga Like Us / Jay-Z & T.I. Featuring Kanye West & Lil Wayne
Best Rap/Sung Collaboration
:
American Boy / Estelle Featuring Kanye West

Best Compilation Soundtrack Album For Motion Picture, Television Or Other Visual Media
:
Juno / Various Artists
Best Score Soundtrack Album For Motion Picture, Television Or Other Visual Media
:
The Dark Knight
Best Song Written For Motion Picture, Television Or Other Visual Media
: Down To Earth (From Wall-E) / Peter Gabriel

Best Short Form Music Video
:
Pork And Beans / Weezer



complete winners @ grammy.com

Kamis, 05 Februari 2009

[Movie] Tekkon Kinkreet (2006)



鉄コン筋クリート 
Tekkon Kinkreet 
(Asmik Ace Entertainment/Aniplex - 2006)

Directed by: Michael Arias

Screenplay by: Anthony Weintraub

Based on the comic by: Taiyo Matsumoto

Produced by: Eiichi Kamagata, Eiko Tanaka, Masarou Toyoshima, Fumio Ueda

Cast (Voice): Kazunari Ninomiya, Yu Aoi, Yusuke Iseya, Kankuro Kudo


Ini adalah film animasi Jepang (nama kerennya: anime) yang digarap sama orang Amerika, baik sutradara maupun penulis naskahnya, tapi ternyata hasilnya nggak jauh beda sama buatan WNJ (warganegara Jepang ^.^). Kalau pernah nonton dua dari sekian episode "The Animatrix", atau video klip Linkin Park "Breaking The Habit", kira-kira seperti itulah tone film ini, karena dibuat oleh studio yg sama. Berwarna tapi suram, baik dari cerita maupun karakterisasi.


Ada sebuah kota bernama Takara-machi/Treasure yang merupakan distrik merah dan dikuasai yakuza dan anak2 jalanan. Kuro/Black adalah remaja yg paling ditakuti di sana karena tindakannya yang brutal. Ia punya adik, Shiro/White yang autis. Mereka yatim piatu dan tinggal di sebuah VW kodok rongsokan. Ceritanya?...........apa ya.....?....hmmmm......au' ah. Setelah berusaha melawan kantuk, bahkan gw tonton dalam dua bagian (sejam nonton, pause, 2 minggu kemudian baru resume), kantuk pun tak tertahankan. Pokoknya ada sesuatu yg berhubungan dengan si Kuro diincer sama orang yang ingin berkuasa di Takara-machi, ada Itachi/Minotaur yg misterius dan kuat, krisis hubungan Kuro dan Shiro....entahlah.....yang pasti endingnya happy dan waktu credit mengalun lagu dari band favorit gw, ASIAN KUNG-FU GENERATION. (^_^)


Entah mau mengulas apalagi kalo gw bingung dan ngantuk waktu nonton (kalo bingung tapi tetep melotot sich gak papa). Pokoknya begini: ceritanya bingungin, karakter kurang lovable, animasinya
sich edgy tapi tetep kurang indah di mata gue. Tapi gue simpen pujian buat sound-nya yang sangat oke. Intsead of sophisticated animation, we actually need more storytellers, like Hayao Miyazaki.

my score
4/10

Q: ソコカラ ナニガ ミエル?
A: べつに...^o^

Selasa, 03 Februari 2009

Antara "Music Station" dan music shows di TV nasional

Berkat nganggur selama lebih dari 6 bulan sejak lulus kuliah, selain pada akhirnya gue bikin blog (^.^), gue jadi sering banget nonton TV, dari pagi (well, paling pagi jam 9 WIB sich) sampe tengah malem. Dan inilah salah satu akibat gue keseringan nonton TV: ibarat keseringan makan nasi goreng ampe bisa tau mana nasi goreng yang enak mana yang nggak, keseringan nonton TV membuat gue sedikit awas sama mana tayangan yang enak ditonton mana yang nggak.

Yang paling sering jadi perhatian gue adalah music show, acara pentas atau panggung musik yang dibuat dan ditayangkan oleh TV, terutama yang live. Mungkin contoh yang gampang adalah acara "Hits" di RCTI, "Music By Request" di SCTV atau acara ultah stasiun-stasiun TV. Bukan soal siapa yang tampil, tapi gue jadi perhatian sama yang namanya set panggung, lighting, kamera, dan editing.

Biang kerok dari kebiasaan baru gue ini adalah acara "Music Station" produksi TV AsahiJepang (gw nonton dulu lewat Animax. skarang, yah..donlot-donlot ajah). Gue menganggap acara siaran langsung mingguan ini the best music show i've ever seen on television: lighting, kamera, set yang diganti-ganti...bahkan ketika artis yang nyanyi itu "nggak banget" sekalipun, kemasannya di layar kaca selalu menarik. "American Idol" season manapun kayaknya masih kalah. Teknologi mungkin satu hal, tapi yang penting adalah para kru tahu caranya membuat tayangan yang enak dilihat di layar TV. Agak menarik kalau gue perhatiin, music show Amerika banyak pake pixel screen (yang ditiru oleh kebanyakan TV kita), sedangkan Jepang lebih main di lampu/lighting.

screencaps from TV Asahi's "Music Station"

 



 



Bagaimana dengan TV nasional kita? Kalau gue lihat, jujur, kita masih harus belajar. Gue selalu merasa ada sesuatu yang salah dari cara setiap penayangan pentas musik di TV, apalagi kalau acaranya adalah produksi stasiun TV (bukan dokumentasi konser). Selama ini kebanyakan music show, terutama yang live, ditayangkan nggak beda kayak liputan berita. Yang kameranya posisi statis tapi goyang-goyang lah, yang nyorot ke penonton kelamaan lah, yang lampunya nggak sesuai dengan mood musik lah....lots of stuff...nggak enak ditonton.

Bukannya sok tau, krn gue memang nggak ada latar belakang broadcast atau sejenisnya. Seperti ibarat nasi goreng tadi, gue cuman penonton, dan penonton berhak mendapat tayangan yang terbaik bukan? Berikut gue mendaftar stasiun TV nasional berdasarkan segi teknis terbaik atas penayangan
music show atau pentas musik, yang dilansir dari observasi 6 bulan lebih gue nongkrong di depan TV...kalau nggak sanggup pelatihan di Jepang, then they should learn from each other:

BEST STAGE SET DESIGN: Global TV. Nggak cuma bagus, tapi harus "terlihat bagus di layar kaca", sejauh ini Global TV juaranya, bisa diliat di MTV Ampuh Minggu dan acara ultah yang selalu spektakuler. Yang bikin gue hampir speechless adalah panggung malam pemilihan Abang None Jakarta 2008. That's art.


BEST LIGHTING: RCTI dan TVRI. RCTI lampunya bervariasi dan canggih. TVRI pake lighting bukan sekedar penerangan, tapi juga bagian dari set panggung yang terlihat nice di layar kaca. Seharusnya kedua syarat ini digabung. Tapi satu hal yang masih jadi kekurangan mereka: "gerakan" lighting belum kompak sama lagu-lagunya, seakan operatornya belum punya sense of music. Untuk soal lighting ini, malaikat juga tau "Music Station" masih juaranya.


BEST CAMERA-WORK/VIDEOGRAPHY: TVRI. Yup, you read that right. Ya, gw masih mau nonton TVRI walaupun jarang. Dan ya, music show di TVRI punya teknik kamera yang benar: stabil tapi senantiasa bergerak seiring musik yang mengalir. Set panggung dan lighting boleh sederhana dan ketinggalan dari TV-TV swasta, tapi bisa ditolong angle-angle yang terlihat nyaman dan bagus. Coba tonton acara macem "Orkestra", "Panggung Gaul" (
lame title huh), dan ..ehem.."Gebyar Keroncong". Isi acara mungkin nggak menarik, tapi menurut gue, camera-work TVRI dalam music show adalah yang terunggul di layar kaca kita.

BEST EDITING: TPI. Gue baru merhatiin di acara ultah TPI kmaren, mereka memakai editor yang suka musik. Editingnya klop sama musik2nya, editornya tau kapan harus pindah angle sesuai lagu (cukup simple sih: ganti angle tiap satu baris lirik, tapi ada juga editing cepat sesuai beat). Unsur ini cukup penting untuk membawa penonton ikut larut dalam lagu, tapi sepertinya editor di stasiun TV lain belum memperhatikan ini.


BEST SOUND: Trans TV. Indoor maupun outdoor, suara vokal dan musiknya seimbang...setidaknya di speaker TV gue ^_^




NB: Meskipun TV-TV di atas gw kasih predikat "Best", tapi tetep gw menyarankan para kru music show di stasiun-stasiun TV Nasional untuk nonton sebanyak mungkin "Music Station"..
Oh, jgn lupa selalu pake steadycam kalo mau nyorot dari atas panggung
(^o^)