<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755</id><updated>2012-05-28T02:34:10.849+07:00</updated><category term='IMAX'/><category term='my chronicle of'/><category term='ken hirai'/><category term='grammy'/><category term='秦 基博'/><category term='list'/><category term='south africa'/><category term='movies'/><category term='exile'/><category term='the back horn'/><category term='IMBlog'/><category term='jiffest09'/><category term='oscar'/><category term='music'/><category term='top 100 films'/><category term='asian kung-fu generation'/><category term='india'/><category term='ayaka'/><category term='quiz'/><category term='album'/><category term='mr.children'/><category term='UK'/><category term='hollywood'/><category term='movie'/><category term='superfly'/><category term='Australia'/><category term='favorite'/><category term='anniversary'/><category term='rapid film review'/><category term='polling'/><category term='thoughts'/><category term='japan'/><category term='hata motohiro'/><category term='my j-pop'/><category term='article'/><category term='kobukuro'/><category term='china'/><category term='indonesia'/><category term='US'/><category term='review'/><category term='Europe'/><category term='Mexico'/><category term='hongkong'/><category term='Alfonso Cuaron'/><title type='text'>ajirenji mindstream reviews</title><subtitle type='html'>notes from an audience</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>302</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-5441576473150058711</id><published>2012-05-20T02:06:00.000+07:00</published><updated>2012-05-20T02:06:16.464+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my chronicle of'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='article'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>My Chronicle of Matt Damon</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;My Chronicle of... adalah fitur terbaru dari blog ini, yaitu tulisan yang khusus membahas karya-karya para pelaku film yang menjadi perhatian saya. Tulisan ini bertujuan untuk mengingat kembali film-film yang sudah saya tonton yang melibatkan pelaku film tertentu, sekaligus menggambarkan perjalanan bagaimana saya, sebagai penonton, bisa mengenal individu bersangkutan lewat karya-karyanya itu.&amp;nbsp;Saya akan membahasnya dengan pendekatan orang per orang—bisa aktor, sutradara, penulis, produser, komposer, sinematografer, dan lain sebagainya dengan alasan masing-masing—serta memberi komentar atau kesan pada setiap judul film mereka &lt;u&gt;yang sudah saya tonton&lt;/u&gt;. Oh ya, supaya sedikit lain dari yang lain, senarai film bukan disusun berdasarkan tahun produksi, tahun edar, ataupun preferensi kesukaan, melainkan dari yang saya tonton lebih dahulu (meskipun ada kemungkinan tidak akurat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai postingan perdana, saya akan membahas aktor Matt Damon, salah seorang bintang Hollywood yang saat ini masuk dalam jajaran aktor papan atas&amp;nbsp;akibat relatif sering terlibat di film-film yang terkenal. Akan tetapi, bukan itu alasan utama saya menjadikan dirinya menjadi individu film pertama yang saya bahas. Alasan yang lebih besar justru agak mengherankan, setidaknya bagi saya. Saya secara sadar tidak berpikir Damon sebagai aktor favorit, alih-alih menjadikan keterlibatannya sebagai alasan menonton sebuah film. Hingga kini sudah 17 filmnya yang sudah saya tonton, namun sebagian besar saya berniat menontonnya bukan karena faktor Damon. Kita memang punya kecenderungan untuk sengaja menonton film karena dibintangi aktor yang kita suka, bukan? Namun untuk kasus Damon, yang terjadi malah dia yang selalu muncul di film-film yang saya suka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.mattdamonfan.net/pictures/thumbnails.php?album=494" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-A-ROq2kPGT8/T7PYvZR00eI/AAAAAAAABVU/OoDLo6dL3ho/s320/mattdamonhead.jpg" width="263" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Matt Damon&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baiklah, saya perhatikan Damon&amp;nbsp;memang patut disanjung. Sejak tampil di&amp;nbsp;Courage Under Fire (1996, saya belum tonton), aktor kelahiran Boston, 8 Oktober 1970 ini mulai menarik perhatian para sineas pada paruh akhir dekade 1990-an. Namanya melesat melalui film Good Will Hunting (1997, saya belum tonton utuh) yang memberikannya nominasi Oscar untuk pemeran utama pria terbaik—ia&amp;nbsp;menerima piala Oscar untuk naskah yang ditulisnya bersama sang sobat karib, Ben Affleck. Karirnya menanjak perlahan tapi pasti, Damon membuat iri banyak rekan sejawatnya karena&amp;nbsp;kerap&amp;nbsp;menjadi pilihan sineas ternama, mulai dari Francis Ford Coppola, Steven Spielberg, Anthony Minghella, hingga Robert Redford, kebanyakan peran utama pula. Memasuki era 2000-an, ketika namanya dikenal "hanya"&amp;nbsp;sebagai&amp;nbsp;"pemain film" yang bagus, Damon secara mengejutkan meraih status "bintang film" yang menjual setelah membintangi The Bourne Identity (2002), sebuah film &lt;i&gt;thriller&lt;/i&gt; laga yang sukses secara komersial sehingga melahirkan dua film lanjutan. Membuat sosoknya sangat identik atau "terjebak" pada tokoh Jason Bourne si &lt;i&gt;assassin&lt;/i&gt; amnesia? Tidak, Damon masih terus membuktikan dapat memerankan tokoh apa saja sesuai porsi dan konteks. Alhasil, selain dikenal sebagai bintang film terkenal, Damon masih mampu menjaga bahkan meningkatkan kemampuan aktingnya sehingga masih dapat mengerjakan proyek-proyek &lt;i&gt;high-profile&lt;/i&gt; dari para sineas kelas wahid seperti&amp;nbsp;Martin Scorsese,&amp;nbsp;Clint Eastwood,&amp;nbsp;Coen bersaudara, dan Steven Soderbergh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Damon tampaknya tak perlu khawatir kekurangan proyek jika punya prestasi dan citra demikian cemerlang, dan bila melihat riwayat karyanya, Damon termasuk sangat produktif dengan paling sedikit satu film yang dibintanginya beredar setiap tahun yang rata-rata disambut hangat di pasaran.&amp;nbsp;Padahal, rasanya Damon ini tidak memiliki wajah yang termasuk dalam kategori "tampan" (ini apabila contoh "standar tampan" adalah Brad Pitt atau George Clooney, lagipula ketampanan/kecantikan itu relatif), tinggi tubuhnya juga rata-rata (menurut internet 178 cm, memang terlihat lebih pendek kalau disandingkan dengan Ben Affleck yang 189 cm), namun Damon selalu berhasil meninggalkan kesan&amp;nbsp;dalam setiap performanya, terlihat berkarakter dan keren, talentanyalah yang menjadi nilai jualnya. Baik peran utama maupun pendukung, drama, aksi, maupun komedi, ia dapat membawakannya dengan tepat, menggugah, dan meyakinkan tanpa harus terkesan berusaha terlalu keras. Ditambah lagi, Damon (dan mungkin agennya) tampak pandai dalam memilih proyek film, sehingga reputasinya sebagai aktor berkelas&amp;nbsp;sejauh ini belum benar-benar cidera oleh keterlibatannya dalam film-film tidak penting. Ia tak takut kalau bukan peran utama, tak takut berlaku konyol, tak takut didandani jelek, tak canggung dengan dialek, ia malah&amp;nbsp;selalu&amp;nbsp;tampak nyaman dengan tuntutan-tuntutan itu, akibatnya penonton pun nyaman menyaksikannya, dan produser/sutradara (saya asumsikan) senang mempekerjakannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah menyadari bahwa ia salah satu aktor yang paling banyak saya saksikan karya-karyanya, lambat laun saya mulai akui mungkin Damon memang salah satu aktor favorit saya, minimal di alam bawah sadar. Faktor premis, produksi, atau sutradara mungkin tetap jadi pertimbangan utama saya untuk mau menonton sebuah film, namun keterlibatan Damon bisa jadi memperkuat niat itu, lagipula saya tidak bosan atau terganggu dengan setiap penampilan Damon, sebuah karunia yang langka bagi seorang aktor Hollywood yang tergolong laris&lt;span style="text-align: justify;"&gt;—namun saya tetap bertekad tidak akan menonton sebuah film hanya karena dibintangi Damon kalau filmnya memang tidak menarik minat saya. Berikut adalah film-film Matt Damon yang sudah saya tonton sekaligus perjalanan saya mengenalnya sebagai aktor, dimulai dari film Damon pertama yang saya tonton hingga yang baru-baru ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #990000; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;My Chronicle of &amp;nbsp;MATT DAMON&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;1. Titan A.E. (2000)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Cale Tucker&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Gary Goldman, Don Bluth&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-az4fyo_eUMU/T7aKPYPRwsI/AAAAAAAABXQ/dLMehCkD1lg/s1600/titanae.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="138" src="http://1.bp.blogspot.com/-az4fyo_eUMU/T7aKPYPRwsI/AAAAAAAABXQ/dLMehCkD1lg/s320/titanae.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film pertama Damon yang saya saksikan ternyata adalah animasi laga fiksi ilmiah berlatar ruang angkasa, Titan A.E. Saya kira film dari para pembuat Anastasia ini lumayan seru, sangat baik menggabungkan teknik animasi gambaran tangan dengan efek-efek visual CGI (Computer-Generated Images) canggih. Sedangkan Damon sebagai pengisi suara sang tokoh utama, sebenarnya saya tidak terlalu memperhatikan keberadaan dirinya karena saat itu saya lebih mengenal pengisi suara yang lain seperti Drew Barrymore dan Bill Pullman, namun seingat saya Damon tidak jelek-jelek amat. Suara dan cara bicara Damon memang cukup khas dan berkarakter, tak pelak Titan A.E. bukanlah proyek terakhir dirinya dalam hal mengisi suara atau &lt;i&gt;voice-over&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;2. Ocean’s Eleven (2001)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Linus Caldwell&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Steven Soderbergh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-QdCyXVi9buQ/T7aKH1bJ9vI/AAAAAAAABWo/ayTI69GiABk/s1600/oceans11.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://1.bp.blogspot.com/-QdCyXVi9buQ/T7aKH1bJ9vI/AAAAAAAABWo/ayTI69GiABk/s320/oceans11.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Damon menjadi salah satu dari deretan aktor terkenal yang tergabung dalam proyek &lt;i&gt;all-stars&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Ocean's Eleven ini, sebuah buat-ulang dari film tahun 1960. Dengan jajaran pemain mulai dari George Clooney, Brad Pitt, Julia Roberts hingga Andy Garcia, Damon di tengah-tengahnya termasuk dapat menempatkan diri dengan baik...oke, pernyataan itu sedikit dusta karena saya sesungguhnya tidak terlalu ingat filmnya maupun karakter yang dimainkan Damon. Seri Ocean memang bukan favorit saya, namun yang pasti sejak Ocean's Eleven inilah Damon mulai melangkah menjadi bintang di milenium baru.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;3.&amp;nbsp;The Bourne Identity (2002)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Jason Bourne&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Doug Liman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-7wZ7AAfW5qA/T7aJ9yIqDcI/AAAAAAAABVk/Y8bDQkoQgyA/s1600/bourneidentity.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://1.bp.blogspot.com/-7wZ7AAfW5qA/T7aJ9yIqDcI/AAAAAAAABVk/Y8bDQkoQgyA/s320/bourneidentity.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat itu, keraguan muncul apakah aktor serius dengan tampilan fisik yang sekilas mudah diremehkan seperti Damon berhasil jadi jagoan dalam sebuah film laga komersial. Tetapi Damon membungkam keraguan itu lewat The Bourne Identity, peran utama pertamanya di sebuah film laga berbiaya besar. Ia ternyata sanggup tampil meyakinkan saat adu tembak, adu pukul, kejar-kejaran, berbicara dalam berbagai bahasa, namun tak meninggalkan kedalaman akting yang tepat. The Bourne Identity akhirnya mendulang sukses sepantasnya dan dilanjutkan lewat dua film sekuel yang untungnya masih dibintangi Damon.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;4. The Bourne Supremacy (2004)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Jason Bourne&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Paul Greengrass&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-p39zyoyLyJ4/T7aJ-vCDqfI/AAAAAAAABVs/LFxrbfRrK14/s1600/bournesupremacy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://3.bp.blogspot.com/-p39zyoyLyJ4/T7aJ-vCDqfI/AAAAAAAABVs/LFxrbfRrK14/s320/bournesupremacy.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film kedua Damon sebagai Jason Bourne yang diarahkan oleh sutradara baru. Terlepas dari gaya filmnya yang lebih brutal dan visualnya yang kerap membuat pening, The Bourne Supremacy adalah peningkatan dari film pertamanya, dengan kisah yang lebih gelap, laga yang lebih seru, lebih cepat dan menegangkan, bahkan seperti menjadi patokan gaya film laga generasi baru. Damon memberikan performa yang juga lebih baik dan berkembang sesuai tuntutan naskah, bukan lagi sebagai Bourne yang kebingungan, melainkan Bourne yang terluka. Sejak film ini kita tidak akan melihat Damon sebagai Bourne tersenyum.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;5. Ocean’s Twelve (2004)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Linus Caldwell&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Steven Soderbergh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Q-2z5xBM0nQ/T7aKKiJRgpI/AAAAAAAABWw/lbA72bvVheE/s1600/oceans12.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://4.bp.blogspot.com/-Q-2z5xBM0nQ/T7aKKiJRgpI/AAAAAAAABWw/lbA72bvVheE/s320/oceans12.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sama seperti Ocean's Eleven, saya juga tidak terlalu ingat bagaimana film Ocean's Twelve, kecuali bahwa film ini lebih konyol (aduh, bagian Julia Roberts menyamar sebagai Julia Roberts itu meruntuhkan keasyikan film ini) dan latar tempatnya di benua Eropa. Kini dengan status yang lebih terkenal, Damon tetap sanggup mengerjakan bagiannya dengan baik meskipun harus berbagi dengan bintang-bintang yang lainnya. Aktor yang tahu diri tanpa harus rendah diri.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;6. Saving Private Ryan (1998)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Pvt. James Francis Ryan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Steven Spielberg&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-m4EIHLewsr4/T7aKL378PII/AAAAAAAABW0/BXimsMNKTCw/s1600/savingprivateryan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://4.bp.blogspot.com/-m4EIHLewsr4/T7aKL378PII/AAAAAAAABW0/BXimsMNKTCw/s320/savingprivateryan.jpg" width="244" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya sudah tahu tentang film ini cukup lama, namun baru benar-benar menontonnya secara utuh sejak membeli DVD-nya sekitar tahun 2005. Saya terkesima akan film perang yang berinti cerita kekeluargaan ini, dengan narasi menyentuh, karakter-karakter simpatik, dan penggarapan suasana perang yang realistis nan mencekam namun mengagumkan, tak heran bila &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2009/06/rapid-film-review-schindler.html"&gt;Saving Private Ryan&lt;/a&gt; kerap didapuk sebagai salah satu film karya Steven Spielberg favorit, termasuk bagi saya pribadi. Hingga dua per tiga film berjalan, saya baru sadar bahwa ada Damon di sini (padahal di sampul DVD sudah jelas ada dia, saya memang mudah lupa...), sebagai Prajurit Ryan, orang yang harus ditemukan oleh sekelompok tentara yang dipimpin Tom Hanks sejak awal film. Dengan peran dan sisa &lt;i&gt;screen time&lt;/i&gt; yang sedikit, Damon dapat tampil maksimal sebagai seorang prajurit muda berdedikasi, dapat menyeimbangkan performa Tom Hanks yang sudah menjadi pahlawan penonton sejak film dimulai (dan kenyataan bahwa dia adalah Tom Hanks), serta menjadi pelengkap yang pantas untuk film sebesar ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;7. The Departed (2006)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Collin Sullivan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Martin Scorsese&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-SxI6srhqrBA/T7aKOd_OdOI/AAAAAAAABXI/in2UMSR1VZ4/s1600/thedeparted.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://3.bp.blogspot.com/-SxI6srhqrBA/T7aKOd_OdOI/AAAAAAAABXI/in2UMSR1VZ4/s320/thedeparted.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entah ini pikiran saya saja atau tidak, di era 1990-an Matt Damon dan Leonardo DiCaprio adalah aktor muda yang sama-sama berbakat namun berada di jalur yang berbeda. Ketika DiCaprio sudah menjadi idola dunia akibat Romeo+Juliet dan Titanic, Damon lebih banyak tampil di film-film produksi independen yang popularitasnya tidak sampai semenjulang DiCaprio. Memasuki era 2000-an, ketika DiCaprio agak vakum, giliran Damon—yang menurut saya karirnya relatif lebih mulus—yang mulai melesat. Hingga akhirnya mereka berdua dipertemukan Martin Scorsese dalam The Departed, sebuah &lt;i&gt;thriller&lt;/i&gt; kriminal buat-ulang dari film Hong Kong terkenal, Infernal Affairs. Sama seperti karir akting mereka, karakter Damon dan DiCaprio digambarkan bersejajaran namun di jalur yang berbeda. Ketika DiCaprio dituntut untuk terlihat senantiasa depresi, Damon berhasil membawakan karakter berperangai tenang dan tegas namun menyimpan rahasia kelam. Di film ini pula saya akhirnya mendengar Damon berbicara dalam dialek kota asalnya, Boston.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;8. Syriana (2005)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Bryan Woodman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Stephen Gaghan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-dfpdUuaOGn8/T7aKM5v6fTI/AAAAAAAABW8/QXtV1l3dsQQ/s1600/syriana.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://3.bp.blogspot.com/-dfpdUuaOGn8/T7aKM5v6fTI/AAAAAAAABW8/QXtV1l3dsQQ/s320/syriana.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lewat Syriana, yang menggambarkan berbagai aspek dunia pertambangan minyak bumi, menambah catatan&amp;nbsp;Damon bermain di film yang menampilkan banyak karakter (dan ini bukan yang terakhir). Seakan sudah terlatih, Damon terlihat maksimal meski terbatas oleh porsi cerita, memainkan perannya sebagai konsultan ekonomi dalam bidang migas yang mengalami tragedi, menyeimbangkan pembawaan diri sebagai profesional cerdas yang tingkah laku dan tutur katanya&amp;nbsp;terkendali, dengan statusnya sebagai kepala&amp;nbsp;keluarga penuh kasih sayang yang mengalami&amp;nbsp;kesedihan mendalam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;9.&amp;nbsp;The Bourne Ultimatum (2007)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Jason Bourne&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Paul Greengrass&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gffirAKRq4g/T7aJ_gF0dVI/AAAAAAAABV0/pCAHRovgzSE/s1600/bourneultimatum.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://3.bp.blogspot.com/-gffirAKRq4g/T7aJ_gF0dVI/AAAAAAAABV0/pCAHRovgzSE/s320/bourneultimatum.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita yang lebih berkembang, aksi yang lebih seru, lokasi yang lebih menarik, jajaran pemeran yang semakin wahid, The Bourne Ultimatum memang puncak dari seri Jason Bourne dengan segala kelengkapannya. Saya suka sekali film ini sebagaimana adanya, tidak peduli absurdnya Bourne dan tokoh-tokoh lainnya yang terlalu tahan banting. Peran Damon sebenarnya tidaklah berkembang banyak, hanya saja ia kini dituntut beradegan laga lebih banyak dan lebih intens. Namun tetap saja konsistensi Damon layak dipuji, ia tetap bisa menampilkan kedalaman gestur dan emosi pada saat dan tempat yang diperlukan di antara atraksi ketangkasan fisik yang mendominasi film ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;10. Green Zone (2010)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Roy Miller&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Paul Greengrass&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-dKxwB2TO1n8/T7aKDhGbqZI/AAAAAAAABWQ/iWRT4ACJ_Z4/s1600/greenzone.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://2.bp.blogspot.com/-dKxwB2TO1n8/T7aKDhGbqZI/AAAAAAAABWQ/iWRT4ACJ_Z4/s320/greenzone.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena bergenre aksi, disutradarai Paul Greengrass, dan dibintangi oleh Damon yang bersenjata, khalayak tak kuasa menganggap &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2010/03/movie-green-zone-2010.html"&gt;Green Zone&lt;/a&gt; sebagai film Bourne dalam &lt;i&gt;setting&lt;/i&gt; dan nama tokoh berbeda. Ternyata salah. Film yang bermuatan politis kental ini tidak sama dengan seri Bourne, bobotnya lebih kritis, dan Damon pun berhasil terbebas dari stereotip tokoh Jason Bourne yang sudah telanjur dikenal publik. Berbeda dengan Bourne, di sini tokoh Damon tahu betul siapa dirinya (tentu saja) dan apa yang diperjuangkannya, ia hanya "manusia biasa" yang memiliki keterbatasan dan banyak pertanyaan. Ia lebih manusiawi, namun kekerenan yang dipancarkan tidak kalah dari tokoh Bourne.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;11. Invictus (2009)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Francois Pienaar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Clint Eastwood&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-icy9DAXPEtc/T7aKGsclrII/AAAAAAAABWc/ScxyJrus2SQ/s1600/invictus.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://1.bp.blogspot.com/-icy9DAXPEtc/T7aKGsclrII/AAAAAAAABWc/ScxyJrus2SQ/s320/invictus.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menonton Invictus dan The Informant! inilah yang membuat saya sadar bahwa saya sering sekali melihat film-film Matt Damon, dan menyadari kehebatannya sebagai aktor. Dalam &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/04/movie-invictus-2009.html"&gt;Invictus&lt;/a&gt; yang poin utamanya adalah biografi Nelson Mandela (diperankan dengan luar biasa oleh Morgan Freeman) ini, Damon "disuruh" memerankan seorang kapten tim rugbi nasional Afrika Selatan, yang artinya dia harus membentuk tubuh, berlatih rugbi, dan berbicara dalam dialek Afrika Selatan. Betapa setimpal usaha Damon dalam memerankan atlet pendiam ini. Tak hanya sanggup bersinar bersama-sama dengan Freeman, namun juga membuahkan nominasi Oscar keduanya (untuk akting) dalam kategori pemeran pendukung pria terbaik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;12. The Informant! (2009)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Mark Whitcare&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Steven Soderbergh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-vDOna6dvOao/T7aKFSugdXI/AAAAAAAABWU/iLJWZWUonB0/s1600/informant.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://1.bp.blogspot.com/-vDOna6dvOao/T7aKFSugdXI/AAAAAAAABWU/iLJWZWUonB0/s320/informant.jpg" width="235" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun 2009 adalah tahunnya Damon untuk unjuk kebolehan dalam berakting, karena ia berperan dalam dua judul film yang berbeda jenis dan berbeda pula tokoh yang dimainkannya. Jika Invictus lebih optimistis dan simpatik, maka &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/04/movie-informant-2009.html"&gt;The Informant!&lt;/a&gt; adalah film biografi berjenis komedi satir. Damon memberikan penampilan terbaiknya dalam film ini sebagai seorang petinggi korporat yang menjadi informan amatir untuk pihak penegak hukum atas kecurigaan adanya kejahatan dalam perusahaannya sendiri. Karakter yang licik, norak, culas, berpenampilan tidak menarik namun rapuh ini dimainkan dengan luar biasa oleh Damon, sehingga merangsang penonton untuk menghina sekaligus iba. Penonton tak perlu repot untuk menghilangkan citra Jason Bourne dari Damon di film ini, ia sudah melakukannya dengan sendirinya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;13. True Grit (2010)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as LaBoeuf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Ethan Coen &amp;amp; Joel Coen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-DcX87FLZ1Xw/T7aKQXzlnLI/AAAAAAAABXY/taS1QR_ZnKo/s1600/truegrit.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://2.bp.blogspot.com/-DcX87FLZ1Xw/T7aKQXzlnLI/AAAAAAAABXY/taS1QR_ZnKo/s320/truegrit.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Damon diajak oleh Coen bersaudara bermain dalam &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/07/movie-true-grit-2010.html"&gt;True Grit&lt;/a&gt;, sebuah kisah balas dendam berlatar Amerika zaman koboi yang pernah juga difilmkan tahun 1969, sebagai seorang penegak hukum yang lurus dan sok keren bernama Ranger LaBoeuf. Lagi-lagi tampilan Damon ditata sedemikian rupa sehingga agak sulit dikenali, dan lagi-lagi Damon memerankan tokohnya dengan apik. Damon sanggup mengimbangi dan bersinergi dengan karisma aktor senior Jeff Bridges maupun kecemerlangan aktris muda Hailee Steinfeld. Keberadaannya begitu impresif sehingga ketika tokohnya sedang tidak ada di dalam cerita, saya merasa kehilangan dan mengharapkan kedatangannya kembali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;14. Contagion (2011)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Mitch Emhoff&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Steven Soderbergh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Rq47qkiDlVY/T7aKCWnkRwI/AAAAAAAABWI/O7sh7x3w2a0/s1600/contagion.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://1.bp.blogspot.com/-Rq47qkiDlVY/T7aKCWnkRwI/AAAAAAAABWI/O7sh7x3w2a0/s320/contagion.jpg" width="235" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/11/movie-contagion-2011.html"&gt;Contagion&lt;/a&gt; adalah film yang mengesankan bagi saya karena gayanya yang cukup berbeda dalam menuturkan kisah bencana global yang disebabkan sebuah virus mematikan dari berbagai sisi. Mengesankan pula karena Steven Soderbergh kembali berhasil mengajak dan meyakinkan aktor-aktor terkenal untuk rela berbagi layar dan durasi secara merata demi gaya penceritaannya itu. Keterlibatan Damon terbilang tak sia-sia. Selain karena ia sudah biasa dalam film ramai-ramai seperti ini, peran yang didapatnya sebagai suami dari pasien pertama pengidap virus baru adalah yang paling menuntut kedalaman emosi, dan Damon kembali sukses memberikan performa simpatik dan berarti, bahkan bagi saya, salah satu yang terbaik dari jajaran aktor yang ada di dalamnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;15. The Adjustment Bureau (2011)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as David Norris&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. George Nolfi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-8bHqYejbqH0/T7aJ8gA4GCI/AAAAAAAABVg/U2-O8XMkiR0/s1600/adjustmentbureau.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://2.bp.blogspot.com/-8bHqYejbqH0/T7aJ8gA4GCI/AAAAAAAABVg/U2-O8XMkiR0/s320/adjustmentbureau.jpg" width="244" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu kehebatan Damon adalah kemampuannya untuk tampil meyakinkan, membuat penontonnya percaya, apa pun peran yang dibawakannya. Entah sebagai mata-mata, tentara, orang terpelajar, atlet, orang kantoran, ataupun bapak-bapak biasa, saya percaya saja. Saya juga dapat percaya bahwa dia seorang calon gubernur yang disukai publik dalam The Adjustment Bureau ini. Perannya dalam film fiksi-ilmiah bercampur romansa ini sebenarnya agak paralel dengan peran-peran sebelumnya, tidak terlalu istimewa,&lt;span style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;namun bagaimanapun penjiwaannya sebagai seseorang yang hendak melawan suratan takdir demi orang yang dicintainya&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;demikian alami dan simpatik,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;jauh dari kata membosankan (gestur berlarinya pun tampak berbeda dengan Jason Bourne).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;16. The Brothers Grimm (2005)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as Wilhelm Grimm&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Terry Gilliam&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-J5Wc5xPlesE/T7aKAtM5M-I/AAAAAAAABV8/nWFQQ5WOsyc/s1600/brothersgrimm.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://4.bp.blogspot.com/-J5Wc5xPlesE/T7aKAtM5M-I/AAAAAAAABV8/nWFQQ5WOsyc/s320/brothersgrimm.jpg" width="244" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya agak memaksa menonton The Brothers Grimm demi tulisan ini, namun saya memang sudah memiliki DVD-nya jauh sebelum ide postingan ini tercetus, toh saya membeli film ini karena ingin melihat karya sutradara Terry Gilliam. Damon tidak tampak canggung dalam memerankan salah satu dari Grimm bersaudara yang berprofesi sebagai pengusir makhluk halus bohong-bohongan ini. Ia juga terbilang pas memerankan Wilhelm "Will" Grimm yang lebih supel dan pandai berbicara, pun terlihat kompak dan serasi dipasangkan dengan Heath Ledger—yang bagi saya berakting sedikit lebih baik—dalam film absurd namun lumayan lucu ini. Lewat film ini pula pertama kalinya saya menyaksikan Damon berbicara dalam dialek Britania, atau setidaknya menyerempet dialek Britania karena latar tempat filmnya sendiri di Jerman. Tidak buruk atau mengganggu, malah menambah jangkauan peran Damon sebagai seorang aktor.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;17. Hereafter (2010)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;as George Lonegan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;dir. Clint Eastwood&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-eem560a960M/T7fs2f2pcFI/AAAAAAAABXk/r-0zNLAAJxw/s1600/hereafter.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://2.bp.blogspot.com/-eem560a960M/T7fs2f2pcFI/AAAAAAAABXk/r-0zNLAAJxw/s320/hereafter.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu lagi film yang saya tonton demi melengkapi tulisan ini, meskipun (tetap teguh) ketertarikan saya terhadap film ini adalah Clint Eastwood yang karya-karyanya belakangan ini saya sukai. Walau memasang nama Matt Damon besar-besar di atas judul di poster atau sampul DVD, Hereafter tidaklah dikuasai oleh Damon seorang. Terdiri dari tiga cerita mengenai tiga orang tokoh di tiga tempat masing-masing yang kemudian bertemu di satu titik, Damon hanyalah salah satu dari tiga karakter tersebut,&amp;nbsp;sebagai pria penyendiri yang memiliki kemampuan paranormal namun berusaha menanggalkannya. Ini semakin menguatkan bahwa nama Damon tanpa ragu lagi sudah dianggap menjual. Selain itu,&amp;nbsp;film ini menegaskan satu lagi ciri khas Damon dalam berakting, yaitu memainkan karakter yang memiliki keistimewaan dengan wajar, tulus, dan membumi, yang dapat mengikat secara emosional dengan penontonnya .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-5441576473150058711?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/5441576473150058711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/05/my-chronicle-of-matt-damon.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/5441576473150058711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/5441576473150058711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/05/my-chronicle-of-matt-damon.html' title='My Chronicle of Matt Damon'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-A-ROq2kPGT8/T7PYvZR00eI/AAAAAAAABVU/OoDLo6dL3ho/s72-c/mattdamonhead.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-6163513238825280920</id><published>2012-05-16T17:33:00.000+07:00</published><updated>2012-05-16T17:33:07.461+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UK'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hollywood'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='US'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Dark Shadows (2012)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-hYdVpwQVNt8/T7JfvlqEuII/AAAAAAAABUk/VnltDh_YubY/s1600/darkshadows.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://1.bp.blogspot.com/-hYdVpwQVNt8/T7JfvlqEuII/AAAAAAAABUk/VnltDh_YubY/s320/darkshadows.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Dark Shadows&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - Warner Bros.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Tim Burton&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Story by John August, Seth Grahame-Smith&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Screenplay by Seth Grahame-Smith&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Based on the television series created by Dan Curtis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Christi Dembrowski, Johnny Depp, David Kennedy, Graham King, Richard D. Zanuck&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Johnny Depp, Michelle Pfeiffer, Helena Bonham Carter, Eva Green, Bella Heathcote, Jackie Earle Haley, Jonny Lee Miller, Chloë Grace Moretz, Gulliver McGrath&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai bukan penggemar Tim Burton, dan meski masih belum hilang "trauma" akan &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2010/03/movie-alice-in-wonderland-2010.html"&gt;A&lt;span id="goog_2146389719"&gt;&lt;/span&gt;lice in Wonderland versi 2010&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/"&gt;&lt;span id="goog_2146389720"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, gw masih ada niatan juga untuk menonton Dark Shadows, sebuah komedi horor yang lagi-lagi menampilkan Johnny Depp dan Helena Bonham Carter dalam riasan aneh. Dari materi-materi promo dan premis kisahnya, kita bisa mengharapkan Dark Shadows akan menampilkan riasan, kostum dan tata artistik gelap-nyentrik-&lt;i&gt;gothic&lt;/i&gt; khas film-film Burton. Namun bukan itu yang paling menarik minat gw, melainkan deretan pemainnya yang terbilang menjanjikan. Selain ada si pegawai tetap Depp dan Carter, ada nama-nama yang gw selalu suka performanya seperti Michelle Pfeiffer,&amp;nbsp;Chloë Moretz, Eva Green dan si &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2009/04/movie-watchmen-2009.html"&gt;Rorschach&lt;/a&gt;, Jackie Earle Haley, ditambah lagi bintang serial "Eli Stone"/mantan lakinya Jolie, Jonny Lee Miller serta bintang tamu mbah Christopher Lee.&amp;nbsp;&lt;i&gt;I should've seen it coming&lt;/i&gt;, tetapi memang hanya hal-hal di atas saja yang akhirnya bisa gw nikmati dari Dark Shadows ini, sisanya, &lt;i&gt;meh&lt;/i&gt;!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diangkat dari serial televisi Amerika tahun 1960-1970-an, Dark Shadows berkisah tentang Barnabas Collins (Johnny Depp) yang pada masa hidupnya di abad ke-17 dikutuk oleh penyihir Angelique (Eva Green) menjadi vampir karena cinta tak terbalas. Dengan licik Angelique memprovokasi warga untuk menistakan Barnabas dan membuatnya dikubur hidup-hidup (ya vampir emang nggak bisa mati bukan?) di peti yang digembok. Waktu berjalan hingga sampai tahun 1972, Victoria "Vicky" Winters (Bella Heathcote)—bukan nama sebenarnya =p—memenuhi lowongan kerja untuk jadi pengasuh keluarga Collins yang kini menempati puri Collinwood, tempat tinggal Barnabas dulu. Dalam waktu bersamaan, Barnabas terbebas dari peti yang telah mengurungnya selama ratusan tahun, ia menghisap darah beberapa orang saking hausnya, dan secara refleks ia kembali Collinwood hingga bertemu dengan sanak famili Collins—tentu saja udah&amp;nbsp;longkap belasan generasi darinya. Namun Barnabas hanya diizinkan membuka identitas sebagai vampir berusia ratusan tahun pada Elizabeth (Michelle Pfeiffer) yang mengelola rumah itu, sedangkan bagi penghuni yang lain—putri remaja Elizabeth, Carolyn (Chloë Grace Moretz), adik Elizabeth, Roger (Jonny Lee Miller) dan putranya, David (Gulliver McGrath), psikiater David, Dr. Julia Hoffman (Helena Bonham Carter), pengurus rumah tangga, Willie (Jackie Earle Haley) dan Bu Richardson (Ray Shirley), serta Vicky—ia diperkenalkan sebagai "sepupu jauh". Melihat keluarga Collins yang kini sedang bangkrut dalam usaha perikanan di kotanya, Barnabas pun bertekad mengembalikan kejayaan keluarganya itu (meski pake hipnotis dan sebagainya), namun masalah utamanya terletak pada perusahaan pesaing yang kini lebih dominan, karena dipimpin oleh Angel Bouchard, yang&amp;nbsp;tak lain dan tak bukan adalah&amp;nbsp;Angelique yang belum mati dan tetap muda tapi sudah berganti identitas. Permusuhan mereka pun berlanjut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dark Shadows ini diawali dengan baik, mulai dari penyampaian latar kisah Barnabas dan Angelique hingga perkenalan tokoh-tokoh "masa kini"-nya, sampai pada perkenalan perdana Barnabas di meja sarapan keluarga Collins, &lt;i&gt;it's all fine&lt;/i&gt;. Tapi ketika cerita mulai memperkenalkan kembali Angelique, beuh, mulailah adegan demi adegannya kayak disambung pake isolasi-tape dengan agak kasar dan sekedar saja, dan ini berlangsung sampai akhir. Padahal kalau diperhatikan, potongan-potongan kisah itu menarik, mulai dari identitas Vicky, juga romansanya dengan Barnabas karena wajahnya sangat mirip dengan kekasih Barnabas dahulu, David kecil yang bisa melihat hantu, Dr. Hoffman yang penasaran dengan jati diri Barnabas, Roger yang kleptomania, atau &lt;i&gt;love-hate relationship&lt;/i&gt; Barnabas-Angelique yang mulai menyentuh skala besar lewat persaingan dua usaha di kota kecil fiktif Collinsport itu. Tetapi nyatanya itu semua cuma sekedar ditampilkan saja, tanpa ada pendalaman yang dalam, kesinambungan yang nyambung, ataupun penjelasan yang menjelasakan. Sesengit apa persaingan usaha pengalengan ikan Collins vs Angel aja nggak ditekankan sama sekali. Apalagi pas klimkasnya, beuh....apaan sih cynnn...Namun untung saja gegar budaya Barnabas dengan kota kecil Amerika 1970-an masih disematkan dengan cukup oke.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Oh well&lt;/i&gt;, Dark Shadows setidaknya masih lebih baik daripada Alice in Wonderland, &lt;i&gt;less confusing&lt;/i&gt;. Deretan &lt;i&gt;cast&lt;/i&gt; yang gw nantikan itu pun tampil dengan baik meski sayangnya tidak "diperlakukan" dengan &lt;i&gt;fair &lt;/i&gt;entah&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;oleh naskah atau suntingan akhir filmnya, karakterisasinya tampak&amp;nbsp;nggak rapi. Depp tampil sebagaimana diharapkan, tidak buruk atau menyebalkan, &lt;i&gt;the makeup works&lt;/i&gt;. Pfeiffer, Moretz, Miller, Carter (yang riasannya kayak Red Queen yang belum kelar), McGrath, serta Earle Haley, aktor yang baru saja jadi favorit gw (dia aneh tapi &lt;i&gt;likeable&lt;/i&gt;, keren) tampil baik sebagai penghuni puri Collinwood modern yang misterius dan selalu mengundang tanya...sayang sampe filmnya abis juga mereka masih mengundang tanya, ya bukan salah mereka sih. Pendatang baru asal Australia, Bella Heathcote juga cukup menarik perhatian, walau kasian dia suka ilang gitu di tengah-tengah cerita =P. Nah, gongnya, sebagai &lt;i&gt;villain&lt;/i&gt;, Eva Green sekali lagi sukses mengumbar &lt;i&gt;sex appeal&lt;/i&gt; yang luar biasa dalam raga molek miliknya tanpa kehilangan kewajibannya untuk berakting jadi wanita licik dan berniat jahat. &lt;i&gt;Damn, she's steamy&lt;/i&gt; =). Sepertinya doi harus mematenkan lirikan matanya yang sesuatu banget itu. &lt;i&gt;In short&lt;/i&gt;, sekali lagi, tampilan visual dan akting menjadi hal yang membuat Dark Shadows masih bisa dinikmati, oh musiknya juga lumayan. Tetapi, ya itu saja. Ceritanya kurang tertata enak sejak babak ke-2 (a.k.a. kemunculan konflik, jika memang ada =P), dibilang lucu ya hanya kadang-kadang. Cukup aja.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;5,5&lt;/b&gt;/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-6163513238825280920?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/6163513238825280920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/05/movie-dark-shadows-2012.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/6163513238825280920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/6163513238825280920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/05/movie-dark-shadows-2012.html' title='[Movie] Dark Shadows (2012)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-hYdVpwQVNt8/T7JfvlqEuII/AAAAAAAABUk/VnltDh_YubY/s72-c/darkshadows.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-1299973552352992124</id><published>2012-05-12T16:29:00.000+07:00</published><updated>2012-05-12T16:32:55.310+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Lovely Man (2012)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-1n3vfD2HzQE/T6ua4dv3SSI/AAAAAAAABTc/o7w2o0Lx7ts/s1600/lovelyman.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://2.bp.blogspot.com/-1n3vfD2HzQE/T6ua4dv3SSI/AAAAAAAABTc/o7w2o0Lx7ts/s320/lovelyman.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Lovely Man&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - Karuna Pictures, Investasi Film Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Teddy Soeriaatmadja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Written by&amp;nbsp;Teddy Soeriaatmadja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by&amp;nbsp;Teddy Soeriaatmadja, Adiyanto Sumarjono, Indra Tamorron Musu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Donny Damara, Raihaanun, Yayu Aw Unru, Asrul Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mendengar Donny Damara berperan sebagai waria (wanita dalam pria, kali aja ada yang nggak tahu) atau banci sebetulnya familiar. Peragawan yang &lt;i&gt;hits&lt;/i&gt; di era 80-90-an ini pernah memainkan peran serupa di sebuah FTV berjudul kalo gak salah "Panggil Aku Puspa". Namun Lovely Man bukanlah versi film bioskop ataupun lanjutan dari FTV itu, melainkan film baru buah karya sutradara Teddy Soeriaatmadja yang juga menulis naskahnya, tentang pertemuan seorang waria dengan putrinya yang sudah lama ditinggalkannya. Sebuah premis yang sederhana tetapi langsung menarik perhatian karena penggambaran dua karakter utamanya yang ditabrakkan begitu kontras. Seakan menjadi &lt;i&gt;departure&lt;/i&gt; dari gaya Teddy yang biasanya memenuhi filmnya dengan gambar-gambar &lt;i&gt;picturesque&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(Banyu Biru, Ruang, &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2009/10/movie-ruma-maida-2009.html"&gt;Ruma Maida&lt;/a&gt;), Lovely Man tampak lebih &lt;i&gt;gritty&lt;/i&gt;, lebih "indie", dan sederhana, sesederhana jalan ceritanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cahaya (Raihaanun), seorang remaja putri berjilbab mengendarai kereta api sampai di Jakarta. Ia datang mencari ayahnya yang tidak pernah ditemuinya sejak kecil karena (sepengetahuannya) bekerja di Jakarta. Kita tahu bahwa ia pergi tanpa izin ibunya—diasumsikan mereka tidak tinggal di Jakarta, kali aja di Rangkasbitung atau Rengasdengklok, &lt;i&gt;who knows&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;we can't really tell from her non-accented speech&lt;/i&gt;—dan kita juga tahu selain memori masa kecil yang indah dan&amp;nbsp;secarik kertas bertuliskan alamat rumah susun yang diduga tempat ayahnya tinggal, Cahaya tidak tau apa-apa tentang sang ayah. Sesampai di alamat yang dituju, Cahaya tidak langsung bertemu dengan yang dicari, ayahnya sedang kerja, padahal hari sudah malam. Kaget dan galau berkecamuk, ketika Cahaya sampai di tempat kerja sang ayah yang di Jakarta dipanggil Ipuy (Donny Damara) itu, mangkal di pinggir jalan di bawah jalan layang, berpenampilan seperti wanita, menjajakan "jasa" untuk siapa saja yang lewat. Ipuy pun tak kalah kaget dan &lt;i&gt;upset&lt;/i&gt;&amp;nbsp;melihat anaknya datang menemui dirinya, namun ia juga nggak bisa mengusirnya begitu saja. Diawali dengan makan tengah malam bersama, semalaman itu Cahaya dan Ipuy, meski awalnya enggan dan canggung, mulai sedikit demi sedikit meng-&lt;i&gt;catch-up&lt;/i&gt; apa yang tidak mereka tau dari satu sama lain selama berpisah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lovely Man ini memang terkesan sebagai film "kecil". Baik ruang, karakter, maupun durasinya terbilang minimalis (sejam lebih seperempat), namun kesederhanaan itu tetap menyimpan kekuatan. Naskahnya terbilang jitu dalam membagi informasi tentang kedua orang karakternya secara natural, tidak dipenuhi dialog-dialog atau situasi yang terlalu mengada-ada, tidak juga berusaha ngajarin atau membela, suatu hal yang menurut gw sangat penting untuk sebuah film yang isinya "ngobrol", bikin gw percaya dan tertarik sama apa yang mereka obrolin. Konsep mempertemukan seorang waria yang juga seorang pekerja seks komersial di kerasnya kehidupan ibukota dengan putri remaja satu-satunya yang berpenampilan alim lulusan pesantren di daerah—atau mungkin dalam pandangan masyarakat kita umumnya pendosa vs saleh—&amp;nbsp;merupakan modal cerita yang punya kekayaan potensial, dan untungnya dikelola dengan baik. Apalagi, Teddy menambahkan berbagai dimensi yang membuat perkembangan obrolan ayah-anak ini menjadi lebih dalam dan tidak monoton, dramatis tetapi takarannya nggak &lt;i&gt;over&lt;/i&gt;. Cahaya tidak hanya datang karena ingin kenal ayahnya sebelum melanjutkan hidup sebagai orang dewasa, pun ia seperti butuh &lt;i&gt;shoulder to cry on&lt;/i&gt; atas sebuah kesalahan yang ia buat. Ipuy meski masih bertanggung jawab membiayai anak-istri, mengaku tidak merasa terpaksa hidup sebagai waria, sudah terbiasa dengan pandangan orang, serta punya sebuah rencana besar jangka panjang sehingga memicu dirinya menantantang risiko mengambil sejumlah uang dari pihak yang berbahaya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak hanya itu, film ini lebih diperkuat lagi oleh penampilan Donny Damara dan Raihaanun. Dalam penampilan dua aktor ini, tidak tampak paksaan atau kepura-puraan. Pembawaan dialog dari masing-masing karakter tampak tulus, nyata dan meyakinkan, tak kuasa gw pun jadi peduli terhadap mereka. Gw melihat &amp;nbsp;setidaknya 2-3 momen emosional yang menampilkan mereka berdua begitu menyentuh luar biasa (semisal di agak awal Cahaya dicecar Ipuy sampe nangis, hiks), sebuah pencapaian akting dari Donny dan Raihaanun (panggilannya apa ya ni anak?) sekaligus pencapaian pengarahan dari Teddy Soeriaatmadja. Dari karya-karya Teddy yang gw tonton, di Lovely Man inilah Teddy akhirnya bisa memberikan perlakuan tepat pada pemeran utamanya sehingga dapat mengeluarkan kemampuan terbaik mereka (di filmnya lain yang bagus malah pemain pendukungnya). Sebuah aspek krusial yang membuat film yang sederhana ini justru jadi karya&amp;nbsp;Teddy yang&amp;nbsp;terbaik dan termatang menurut gw.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gw merasa sebenarnya masih banyak yang bisa diobrolin oleh Cahaya dan Ipuy, sehingga mungkin filmnya bisa lebih panjang atau setidaknya lebih padat, kekosongan momen&amp;nbsp;nggak cuma diisi sama gambar pemandangan, liat-liatan atau renung-merenung yang panjang (masih ada nih di film ini tapi yaudahlah). Akan tetapi, Lovely Man adalah sebuah "karya kecil" yang sudah cukup sebagaimana adanya. Ia menampilkan performa prima dari para aktornya, &amp;nbsp;penceritaan dan dinamika adegan yang mudah dan enak diikuti, menyentuh, menghibur dengan sejumput porsi lucunya (terutama pada karakter-karakter komunitas waria yang punya bahasa sendiri itu), dan&amp;nbsp;cukup&amp;nbsp;&lt;i&gt;engaging&amp;nbsp;&lt;/i&gt;secara visual.&amp;nbsp;'Kecil' dan 'sederhana' mungkin tetap jadi bayangan yang tak terpisahkan dari film ini buat gw, toh film ini hanya bercerita tentang sebuah situasi unik dan tak biasa dalam rentang waktu nggak sampe 24 jam. Namun demikian, Lovely Man tetap mengusung sebuah tema besar: cinta kasih dua insan bertalian darah&amp;nbsp;tidak selalu bisa saling dekat&amp;nbsp;akibat situasi dan pilihan bertindak masing-masing. Adegan pamungkasnya menegaskan tema itu. Walaupun peristiwa-peristiwa sebelumnya mengarahkan perkiraan kita pada yang enggak-enggak, sebenarnya kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya. Pertemuan&amp;nbsp;Cahaya dan Ipuy sebagai ayah dan anak, sesederhana nyuciin piring atau pindahin ke kasur sekalipun, adalah momen-momen yang patut dirayakan bagi mereka berdua, apapun yang telah dan akan terjadi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;8&lt;/b&gt;/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-1299973552352992124?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/1299973552352992124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/05/movie-lovely-man-2012.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/1299973552352992124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/1299973552352992124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/05/movie-lovely-man-2012.html' title='[Movie] Lovely Man (2012)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-1n3vfD2HzQE/T6ua4dv3SSI/AAAAAAAABTc/o7w2o0Lx7ts/s72-c/lovelyman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-4356183926690792332</id><published>2012-05-07T18:38:00.001+07:00</published><updated>2012-05-07T18:40:05.949+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hollywood'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='US'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] The Avengers (2012)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-wEoSQ4bDDn8/T6OlYiIgZAI/AAAAAAAABSA/DN18VJ9RTvE/s1600/TheAvengers.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://1.bp.blogspot.com/-wEoSQ4bDDn8/T6OlYiIgZAI/AAAAAAAABSA/DN18VJ9RTvE/s320/TheAvengers.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;The Avengers&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - Marvel Studios/Walt Disney Studios/Paramount)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Joss Whedon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Story by Zak Penn, Joss Whedon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Screenplay by Joss Whedon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Based on the Marvel comic books by Stan Lee, Jack Kirby&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Kevin Feige&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Robert Downey Jr., Chris Evans, Mark Ruffalo, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Jeremy Renner,&amp;nbsp;Tom Hiddleston,&amp;nbsp;Samuel L. Jackson, Clark Gregg, Cobie Smulders, Stellan Skarsgård&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Iron Man, Hulk, Captain America, Thor. Dalam satu semesta, dalam satu film. Dimainkan oleh aktor-aktor kondang pula. Ini adalah &lt;i&gt;top-of-the-food-chain&lt;/i&gt; dari pemasaran sebuah film Hollywood. Bersama prajurit tangguh Nick Fury, Black Widow dan Hawkeye, para superhero "mapan" ini bergabung menjadi &lt;i&gt;supergroup &lt;/i&gt;The Avengers (konon kalo versi komik tokohnya lebih banyak lagi). Bukan, ini bukan serial spionase Inggris yang pernah difilmkan tahun 1998 dengan bintang Ralph Fiennes, Uma Thurman dan Sean Connery itu—&lt;i&gt;hey, the series used the name BEFORE Marvel did&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;The Avengers-nya Marvel ini kalo gw boleh bilang adalah semi-sekuel dari film-film superhero Marvel yang telah beredar 4 tahun terakhir:&amp;nbsp;Iron Man (2008),&amp;nbsp;The Incredible Hulk (2008), &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2010/05/movie-iron-man-2-2010.html"&gt;Iron Man 2&lt;/a&gt; (2010), &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/11/movie-thor-2011.html"&gt;Thor &lt;/a&gt;(2011) dan Captain America: The First Avenger (2011). Betul, Marvel sudah mempersiapkan proyek The Avengers ini sejak lama, bahkan bintang-bintang yang muncul di kelima film itu (kecuali dari The Incredible Hulk) memang sudah dipastikan akan gabung di The Avengers. Beruntunglah, semua film superhero itu sukses secara finansial dan nggak dibenci oleh kritikus, maka kesuksesan luar biasa The Avengers sudah bukan pertaruhan lagi, &lt;i&gt;this film is&amp;nbsp;mathematically and definitely a box office monster&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalo sampe para superhero berkekuatan luar biasa ngumpul, tentu ada persoalan yang sangat luar biasa yang harus diselesaikan.&amp;nbsp;Tesseract, sebuah sumber energi &amp;nbsp;tak terbatas&amp;nbsp;(beneran tak terbatas, nggak kayak paket &lt;i&gt;mobile internet&lt;/i&gt; di sini) diembat dari fasilitas milik organisasi S.H.I.E.L.D oleh Loki (Tom Hiddleston) asal Asgard (nirwana dalam mitologi Norse/Skandinavia, bukan 'ASli GARuD'). Tujuannya adalah menggunakan Tesseract untuk membuka gerbang penghubung antardimensi agar bumi diserang oleh tentara alien Chitauri, karena Loki ingin bumi tunduk padanya&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Dengan kekuatan "ilahi"-nya Loki bahkan berhasil menculik peneliti Tesseract, Dr. Selvig (Stellan Skarsgård) dan agen pemanah bermata super, Clint Barton a.k.a. Hawkeye (Jeremy Renner) demi terlaksananya rencana itu. Pemimpin organisasi penjaga perdamaian dunia S.H.I.E.L.D, Nick Fury (Samuel L. Jackson) terpaksa meminta bantuan beberapa "kenalan lama"-nya untuk mencari Tesseract dan melawan serangan&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;"luar dunia"&lt;i&gt; &lt;/i&gt;ini. Mereka adalah Tony Stark a.k.a. Iron Man (Robert Downey Jr.) si &lt;i&gt;billionaire&lt;/i&gt; berzirah supercanggih, Steve Rogers a.k.a. Captain America (Chris Evans) si tentara super lambang patriotisme tentara Amerika berperisai &lt;i&gt;indestructable&lt;/i&gt;, dan Dr. Bruce Banner (Mark Ruffalo) yang bisa berubah jadi makhluk hijau raksasa Hulk—meski sebenarnya tidak diharapkan, serta tak ketinggalan si mata-mata cihuy Natasha Romanoff a.k.a. Black Widow (Scarlett Johansson). Di tengah upaya mereka, datanglah dewa petir Asgard, Thor (Chris Hemsworth) yang sudi turun ke bumi demi menghentikan rencana Loki sang saudara angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersukacitalah wahai para penggemar film, komik, ataupun penggemar hal-hal apapun yang dianggap&amp;nbsp;&lt;i&gt;happening&lt;/i&gt;, sebab The Avengers adalah film yang layak mendapatkan sambutan meriah. Ini bukan sekedar film nyari laba berlipat, namun juga memberikan hasil setimpal dari pengharapan banyak orang. &lt;i&gt;Sure&lt;/i&gt;, ceritanya cukup lumrah untuk film semacam ini dan bahkan kita sudah bisa membayangkan gimana bagian akhirnya. Akan tetapi, proses adegan demi adegannya dibuat mengasyikkan. Ketimbang ditumpuk-sambung asal jadi, Joss Whedon (kreator film dan serial Buffy the Vampire Slayer) mengolah jalan cerita yang berintrik kuat, mulai dari "perekrutan" anggota, &lt;i&gt;personality clash&lt;/i&gt; antar-superhero sebelum dapat benar-benar bekerja sama, niat terselubung kepemilikan Tesseract, hingga trik licik Loki dalam menggoyahkan The Avengers, semua disusun dengan sebab-akibat yang nggak asal-asalan, logis&amp;nbsp;(dalam konteks dunia mereka sendiri ya)&amp;nbsp;dan konsisten. Ditambah lagi ritmenya enak, susunan porsi laga dan cerita disajikan seimbang, visual yang nyaman,&amp;nbsp;efek visual tepat guna, dan juga penempatan&amp;nbsp;humor-humor yang tepat waktu dan sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak ada yang lebih unggul daripada perlakuan terhadap para superhero&amp;nbsp;yang&amp;nbsp;masing-masing sudah&amp;nbsp;hebat dan terkenal ini. Selain karakterisasi yang jelas, kemunculan tokoh-tokoh ini&amp;nbsp;dibuat secara adil dan beradab sehingga semua bisa tampil penting, disayangi penonton dan tidak terasa "ilang", penempatannya nggak berantakan, jeli dan takarannya tepat.&amp;nbsp;Film ini menyajikan aksi-aksi superhero ternama yang tidak dieman-eman, unjuk kekuatan mereka disajikan dalam porsi maksimal dan penuh penghormatan. &lt;i&gt;O yeah&lt;/i&gt;, perkelahian antaranggota Avenger saat mereka belum kompak adalah contoh cara penghormatan yang sangat indah terhadap kemampuan tokoh-tokoh ini, &lt;i&gt;and it's very delightful to watch too&lt;/i&gt;. Gw yakin penggemar masing-masing superhero ini tidak akan merasa kekurangan dengan aksi dan peran mereka di sini, justru akan sorak-sorak bergembira bergembira semua, dijamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalau bukan penggemar (semisal gw) atau sama sekali belum pernah nonton film-film superhero individual yang ditampilkan di The Avengers? Kemungkinan besar akan tetap bisa menikmati, toh film ini seru, &lt;i&gt;colorful &lt;/i&gt;(baik gambar maupun karakterisasi)&amp;nbsp;dan menyenangkan. Bagian klimaksnya pasti akan memuaskan semua pihak. Tapi, karena film ini langsung tancep gas aja, mungkin masih ada sedikit ganjalan tentang latar belakang&amp;nbsp;bagaimana&amp;nbsp;tokoh-tokohnya bisa sampe di titik kemunculan mereka di film ini ataupun dialog-dialog "dapur" yang hanya mereka saja yang paham (hubungannya Bruce Banner dengan "sinar gamma", Thor bilang Dr. Selvig itu temannya, Tony Stark dan Natasha Romanoff yang saling kenal, Captain America yang bereaksi antusias soal istilah "&lt;i&gt;monkey&lt;/i&gt;", latar belakang Loki, ataupun asal muasal Tesseract), karena itu memang tidak terangkum dalam film ini. Kalau mau tau lebih dalam dan lengkap, ya "terpaksa" harus nonton 5 film pra-Avengers yang tersebut di paragraf pertama. Atau ya udah terima jadi aja, syukur-syukur kalau memang nggak mempertanyakan. Namun di sisi lain, film ini memberi penjelasan yang cukup tentang tokoh-tokoh&amp;nbsp;yang baru benar-benar "hadir" di film ini, seperti Natasha Romanoff/Black Widow dan Clint Barton/Hawkeye, sehingga mereka dapat segera disukai setara dengan tokoh-tokoh lainnya yang udah punya film sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.ifc.com/wp-content/uploads/2012/05/050412-the-avengers.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="241" src="http://www.ifc.com/wp-content/uploads/2012/05/050412-the-avengers.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan The Avengers pasti hampa kalau nggak menyinggung &lt;i&gt;ensemble cast&lt;/i&gt; yang tampil di sini. Berbekal reputasi yang terhormat, penampilan dari yang senior seperti Downey dan Sam Jackson hingga yang lebih junior&amp;nbsp;Evans dan Hemsworth&amp;nbsp;tiadalah bercela, mereka sukses menghidupi peran masing-masing dengan &lt;i&gt;presence&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berarti&amp;nbsp;dan karakter yang jelas. Penampilan &lt;i&gt;fresh&lt;/i&gt; dari Jeremy Renner juga gak kalah &lt;i&gt;cool&lt;/i&gt;, pun si "anak baru" Mark Ruffalo (yang menggantikan Edward Norton dari The Incredible Hulk) malah memberikan performa paling apik di film ini. Tetapi, karisma&amp;nbsp;dingin dan manipulatif&amp;nbsp;Tom Hiddleston serta Scarlett Johansson yang begitu ho-oh tetap jadi bagian favorit gw dari film ini. Intinya sih mereka semua bisa bersinergi dengan baik, dapat menarik perhatian dengan segera, menonjol pada waktunya tanpa saling menenggelamkan. Iya, loe emang ngeres kalo pas gw bilang 'menonjol' bayanginnya langsung Scarlett Johansson =p. Oh ya tak ketinggalan ada penampilan Clark Gregg sebagai Agent Coulson yang selalu lempeng tapi selalu dapat diandalkan, serta Cobie Smulders sebagai Agent Hill yang cukup manis tapi masih belum lepas dari bayang-bayang peran Robin di How I Met Your Mother (setidaknya buat gw).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Avengers adalah contoh film besar Hollywood yang pantas sukses, ia menyenangkan, menghibur dan menggairahkan para penonton yang haus akan aksi superhero seru nan heboh apalagi superheronya satu rombongan. Sebagai puncak dari film-film individual anggota The Avengers yang telah ada sebelumnya, memang film ini yang terbaik, yang paling nendang dan komplit.&amp;nbsp;Sejujurnya sih The Avengers belum&amp;nbsp;&lt;i&gt;outstanding&lt;/i&gt;&amp;nbsp;buat gw, tetapi,&amp;nbsp;terlepas dari kebutuhan penonton untuk mencari informasi tambahan (dari film-film anggota Avenger atau&amp;nbsp;&lt;i&gt;spoiler&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dari temen yang penggemar) agar bisa mengapresiasi secara paripurna, The Avengers&amp;nbsp;tetap sebuah contoh film&amp;nbsp;&lt;i&gt;blockbuster&amp;nbsp;&lt;/i&gt;modern yang baik dan benar, apalagi sebagai &lt;i&gt;comic book movie&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;Ekspektasi tinggi dari penonton dibayar dengan sangat sesuai. Pokoknya pas. Kalau mau diibaratkan, The Avengers adalah juara kelas, anak baik yang taat pada peraturan dan kurikulum yang berlaku, menyenangkan guru dan ortu sehingga dapat nilai bagus karena mengerjakan apapun yang ditugaskan dengan baik serta tulisannya rapi dan enak dibaca. Belum tentu jadi juara sekolah, tapi jadi anak teladan dan juara di kelas unggulan sama sekali gak jelek, bukan? (buat gw juara Marvel masih Spider-Man 2, tapi dia 'kan itungannya udah alumnus *apaseh*). Kalau senang dengan kisah pahlawan super, atau senang dengan sensasi membaca komik, semenyenangkan itulah menyaksikan The Avengers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;My score: &lt;b&gt;7,5&lt;/b&gt;/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;NB: Ini sempat membingungkan gw, untung saja ada trivia di IMDB.com. The Avengers adalah resmi film pertama Marvel Studios yang didistribusikan oleh Walt Disney Studios (Marvel sekarang perusahaan milik Disney). Namun karena selama produksi film ini (dan nantinya Iron Man 3) hak distribusinya masih dikontrak sama Paramount Pictures, maka sebagai syarat kesepakatan transfer hak distribusi ke Disney, Paramount &amp;nbsp;masih dapet persenan hasil pendapatan filmnya dan logo Paramount tetap muncul di film maupun materi promosi lainnya (poster, trailer, dll) meskipun sebenarnya mereka nggak ngapa-ngapain dalam hal distribusi ataupun &lt;i&gt;marketing&lt;/i&gt;. Bisa gitu yak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-4356183926690792332?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/4356183926690792332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/05/movie-avengers-2012.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/4356183926690792332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/4356183926690792332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/05/movie-avengers-2012.html' title='[Movie] The Avengers (2012)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-wEoSQ4bDDn8/T6OlYiIgZAI/AAAAAAAABSA/DN18VJ9RTvE/s72-c/TheAvengers.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-9197311231925175932</id><published>2012-04-27T05:59:00.001+07:00</published><updated>2012-04-27T06:01:22.704+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Modus Anomali (2012)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-PTVH5LOxbIA/T5mxvjQELcI/AAAAAAAABP8/6_pNE_Z_Yaw/s1600/modusanomali.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://2.bp.blogspot.com/-PTVH5LOxbIA/T5mxvjQELcI/AAAAAAAABP8/6_pNE_Z_Yaw/s320/modusanomali.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Modus Anomali&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - Lifelike Pictures)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Written and Directed by Joko Anwar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Sheila Timothy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Rio Dewanto, Hannah Al Rashid, Izzi Isman, Aridh Tritama, Surya Saputra, Marsha Timothy, Sadha Triyudha, Jose Gamo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;First of all&lt;/i&gt;, menonton Modus Anomali menjadi pengalaman berkesan karena gw ikut acara nonton bareng yang diorganisir oleh manager blog &lt;a href="http://databasefilm.blogspot.com/"&gt;Database Film di Bioskop&amp;nbsp;Indonesia&lt;/a&gt; barengan komunitas &lt;a href="http://moviegoersid.blogspot.com/"&gt;Moviegoers Indonesia&lt;/a&gt; (&lt;i&gt;thank you for the wonderful event, guys&lt;/i&gt;). Saking rame peminatnya, akhirnya nonton barengnya gak cuma beli tiket dan duduknya bareng-bareng, tapi jadi &lt;i&gt;booking&lt;/i&gt; satu studio untuk satu pemutaran film di Blitz Pacific Place Jakarta, hebring ye. &lt;i&gt;Excitement&lt;/i&gt;-nya bisa jadi karena berita bahwa kami akan dihampiri oleh kru dan pemain dari film ini (yang beberapa jam sebelumnya mengadakan lokakarya di gedung yang sama) yang berarti bisa tanya jawab langsung dengan orang-orang yang bertanggung jawab atas film ini—dan ini berjalan mengasyikan, ada Joko Anwar dan Sheila Timothy serta pemainnya banyak kali yang datang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun di luar itu, &lt;i&gt;excitement&lt;/i&gt; juga pastinya datang dari ekspektasi terhadap karya terbaru Joko Anwar ini sendiri. Di kalangan pecinta film, Joko Anwar adalah spesimen istimewa perfilman Indonesia generasi 2000-an, karena karya-karya-nya selalu &lt;i&gt;fresh,&lt;/i&gt;&amp;nbsp;beda, berkesan dan berkarakter, baik dari cerita maupun tampilan visualnya (yang bagi gw paling "kelihatan kayak film" daripada yang lain). Kita sudah yakin akan kualitas artistik dan naratif bang Joko sejak Janji Joni dan Kala (yang &lt;i&gt;so far &lt;/i&gt;jadi film Indonesia terbaik yang pernah gw tonton seumur hidup, terlepas statusnya yang ora payu blas), kemudian &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2009/01/movie-pintu-terlarang-2009.html"&gt;Pintu Terlarang&lt;/a&gt;&amp;nbsp;yang merupakan kolaborasi perdananya dengan produser (yang cantik) Sheila Timothy,&amp;nbsp;meskipun menimbulkan banyak pertanyaan dan diwarnai penonton&amp;nbsp;&lt;i&gt;walk out&lt;/i&gt;&amp;nbsp;sebelum filmnya habis =P,&amp;nbsp;kembali mengukuhkan bahwa Joko Anwar tahu benar cara membuat film yang memberi sensasi berkelas kepada penontonnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang hadir Modus Anomali...*helanapas*..sulit juga menekankan tentang poin penting dari film ini tanpa &lt;i&gt;spoiler&lt;/i&gt;. Menuliskan sekedar premis "seorang pria yang sedang berlibur di hutan mendapati dirinya dikejar-kejar seorang pembunuh bersenjata tajam yang juga telah membunuh istrinya" pasti bakal dianggap basix&lt;i&gt; to the max&lt;/i&gt;. Tapi ini filmnya Joko Anwar, pasti ada se-su-wa-tu yang membuatnya tidak sesederhana kedengarannya. Seorang pria berwujud Rio Dewanto mendapati dirinya terbangun dari dalam (ya, dalam, bukan atas) tanah di tengah hutan. Ia nggak tahu ada di mana dan sedang berbuat apa, lebih parah lagi ia nggak punya ingatan tentang identitas dirinya. Setelah berkeliling ia menemukan sebuah kabin (semacam vila) yang dilengkapi &lt;i&gt;handycam &lt;/i&gt;yang dilabeli tulisan Sony HD...&lt;i&gt;wait&lt;/i&gt;...oh...dan "Press Play". Tak disangka si pria ini menyaksikan rekaman pembunuhan seorang wanita hamil (Hannah Al Rashid) oleh sesosok berkostum kamar bedah, dan sesudah itu ia baru sadar ada mayat wanita tersebut di dalam kabin. Belakangan si pria menemukan bahwa dirinya bernama John Evans, dan ternyata wanita hamil itu adalah istrinya, malah ia masih punya dua anak, perempuan (Izzi Isman) dan lelaki (Aridh Tritama) yang seharusnya berlibur bersama-sama mereka di hutan itu, namun kini keberadaannya entah dimana. Sembari mencari kedua anak itu, John pun harus adu sembunyi dengan si sosok berkostum kamar bedah yang mengejarnya di tengah gelapnya hutan, pun harus mengungkap misteri kenapa ia mengalami hal-hal mengerikan ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang barusan gw tulis itu hanyalah separuh dari film ini. Jadi film ini soal apa? Bunuh-bunuhan? Pengungkapan misteri? Deuh...lagi-lagi agak susah kalo nggak &lt;i&gt;spoiler *&lt;/i&gt;tetep&lt;i&gt;*&lt;/i&gt;. Namun yang mungkin paling aman gw tuliskan di sini adalah bagaimana harus mempersiapkan diri saat menontonnya: jangan terlalu pusing bertanya hal yang rumit-rumit. Kalo gw sih agak merujuk sama judulnya. Ikuti tokoh John yang juga nggak tahu apa-apa, anggap saja sepanjang film kita sedang menyaksikan "modus", yang dengan asal aja gw anggep bermakna mirip dengan "modus operandi", yakni cara, terkhusus lagi di sini cara satu pihak membuat pihak lain menderita, seakan seperti permainan, dan ketika terungkap keseluruhan modus itu—terima kasih kepada Joko Anwar yang lewat &lt;i&gt;pacing&lt;/i&gt;-nya yang agak lambat seakan memberi waktu bagi penonton mencerna misteri yang dihadirkan, terungkaplah makna "anomali" a.k.a. yang aneh, lain dari biasanya. Makna ini buat gw sedikit menjelaskan apa sih maksud film ini (setidaknya secara mendasar), yaitu sebuah cara nyiksa orang yang emang belum pernah kepikiran, orisinil, cerdas serta "sakit". Pelakunya mungkin bisa kita tebak, tapi MODUS-nya itu yang luar biasa. Gw geleng-geleng ketika semuanya terungkap, belagak sok pintar pun ternyata nggak guna. Untung aja ya bang Joko jadi &lt;i&gt;filmmaker&lt;/i&gt; bukannya preman atau pembunuh bayaran. Emang kayak gimana sih modusnya? Aaaaaaaaaada deeeeh.....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan ide yang menurut gw brilian, Modus Anomali justru tampil sangat sederhana dibandingkan film-film Joko Anwar terdahulu. Tokohnya sedikit (80% durasi yang kelihatan hanya Rio Dewanto seorang), setingnya juga cuman di hutan mirip Purwakarta itu,&amp;nbsp;tanpa&amp;nbsp;hal-hal &lt;i&gt;vintage&lt;/i&gt; penuh warna,&amp;nbsp;durasinya yang pendek nggak nyampe 90 menit,&amp;nbsp;belum lagi kalau membahas film ini berseting di sebuah negara antah-berantah yang penduduknya berwajah Melayu/campuran dan berbahasa Inggris berlogat ke-Amerika-an (untungnya nggak menganggu)—bukan Filipina juga, soalnya mobil di film ini setirnya di kanan.&amp;nbsp;Mungkin Modus Anomali ini juga bisa disebut "anomali"-nya karya Joko Anwar, paling beda.&amp;nbsp;Namun perbedaan itu tidak mengurangi kepuasan dalam menikmatinya. Naskah yang sudah solid, intensitas ketegangannya pun sangat terjaga sehingga bikin gw betah menanti apa yang akan terjadi. Sinematografi dan desain produksinya mantaf menyanjung mata sebagaimana bisa diharapkan dari seorang Joko Anwar, plus bidang tata suaranya dahsyat. Sekali lagi bang Joko telah menghasilkan sebuah pengalaman sinematik yang sebenar-benarnya, yang bikin kita merasa memperoleh imbalan setimpal atas usaha dan dana untuk menonton di bioskop, film Indonesia pula.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;So yes&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;I think&lt;/i&gt; Modus Anomali, dengan kualitas teknis mumpuni dan olahan naskah yang sangat baik,&amp;nbsp;adalah satu lagi bukti bahwa film Joko Anwar=wajib tonton. Gw puas sama film ini, bahkan lebih puas daripada Pintu Terlarang, mungkin karena yang ini lebih simpel kali ya, dan darah-darahannya juga nggak sebanyak itu (tapi tetep ngilu, men). Kita diajak bertanya-tanya sambil terkaget-kaget dan berngeri-ngeri hingga pada satu titik dibeberkan semuanya. Bagian bertanya-tanya dan berngeri-ngerinya itu tadinya gw rasa agak menjemukan dan &lt;i&gt;dragging&lt;/i&gt;, tetapi terbayar dengan sangat pantas di &lt;i&gt;3rd act&lt;/i&gt;. Performa pemain pun cukup baik, paling suka penampilan singkat Hannah Al Rashid (di rekaman video) yang bermain sangat hidup dan &lt;i&gt;believable&lt;/i&gt; serta punya aksen paling oke =D. Boleh banget lah film ini. Nah, kalo filmnya lebih menunjukkan modus, sekarang yang sebenarnya juga menarik didiskusikan lebih lanjut adalah motifnya...tapi nggak bisa sekarang atau di sini, musti &lt;i&gt;spoiler&lt;/i&gt; gilak dulu itu mah =P.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;8&lt;/b&gt;/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-9197311231925175932?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/9197311231925175932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/movie-modus-anomali-2012.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/9197311231925175932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/9197311231925175932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/movie-modus-anomali-2012.html' title='[Movie] Modus Anomali (2012)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-PTVH5LOxbIA/T5mxvjQELcI/AAAAAAAABP8/6_pNE_Z_Yaw/s72-c/modusanomali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-2679389528629831388</id><published>2012-04-20T01:01:00.000+07:00</published><updated>2012-04-20T09:46:34.168+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hollywood'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='US'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Mirror Mirror (2012)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-NuGdKFc_1ng/T4_0MmAP1AI/AAAAAAAABNg/Ews3FT5miPk/s1600/mirrormirror.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://4.bp.blogspot.com/-NuGdKFc_1ng/T4_0MmAP1AI/AAAAAAAABNg/Ews3FT5miPk/s320/mirrormirror.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Mirror Mirror&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - Relativity Media)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Tarsem Singh Dhandwar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Story by Melisa Wallack&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Screenplay by Jason Keller, Melisa Wallack&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Original story "Snow White" by Jacob Grimm, Wilhelm Grimm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Bernie Goldmann, Ryan Kavanaugh, Brett Ratner&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Julia Roberts, Lily Collins, Armie Hammer, Nathan Lane, Jordan Prentice, Mark Povinelli, Joe Gnoffo, Danny Woodburn, Sebastian Saraceno, Martin Klebba, Ronald Lee Clark, Mare Winningham, Michael Lerner, Sean Bean&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;David Fincher, Michael Bay, dan Tarsem Singh. Mereka bertiga adalah sutradara film yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara video musik (dan iklan) terkemuka di era 80-90-an.&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Sekarang, David Fincher jadi sutradara nomine Oscar (&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2009/02/movie-curious-case-of-benjamin-button.html"&gt;The Curious Case of Benjamin Button&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/03/movie-social-network-2010.html"&gt;The Social Network&lt;/a&gt;), Michael Bay punya film-film yang laku keras di dunia (Bad Boys, Armageddon, Transgenik...eh Transformers), sedang Tarsem Singh dihina dina atas apapun hasil usahanya di bidang film bioskop: laku juga nggak terlalu. Filmografi Tarsem memang sedikit, diawali dari horor surealis The Cell, lalu &amp;nbsp;&lt;i&gt;passion project&lt;/i&gt; independen &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2009/10/movie-fall-2008.html"&gt;The Fall&lt;/a&gt; yang diputar terbatas. Kedua film itu meski tidak laris, tapi mengukuhkan gaya khas Tarsem dalam menampilkan visual yang unik nan memukau layaknya lukisan dan instalasi seni. Lalu kesempatan Tarsem untuk lebih &lt;i&gt;mainstream&amp;nbsp;&lt;/i&gt;datang lewat &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/11/movie-immortals-2011.html"&gt;Immortals&lt;/a&gt;&amp;nbsp;milik Relativity Media, dan gw sepertinya salah satu dari hanya sedikit orang yang suka filmnya (walau secara &lt;i&gt;box office&lt;/i&gt; terbilang lumayan). Relativity Media rupanya kesengsem sama Tarsem (&lt;i&gt;hey that's a rhyme&lt;/i&gt;) sehingga dipercaya untuk mengangani proyek&amp;nbsp;&lt;i&gt;re-telling&lt;/i&gt; dongeng Snow White atau Putri Salju (atau harusnya PUTIH Salju bukan sih?), diberi judul Mirror Mirror yang rilis nggak sampe 4 bulan sejak Immortals.&amp;nbsp;Berbeda dengan Immortals yang &lt;i&gt;action-adventure&lt;/i&gt; untuk dewasa, maka Mirror Mirror ini sangat ditekankan sebagai film komedi fantasi untuk semua umur. Berdasarkan sejarah, film ini juga pasti bakal tidak disukai banyak orang entah kenapa (&lt;i&gt;I really don't see it, why fellas&lt;/i&gt;?), tapi berdasarkan sejarah juga gw sih kayaknya bakal tetap suka setidaknya dengan harapan akan gambar-gambar keren khas Tarsem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah terkenal Snow White ini dirombak cukup besar.&amp;nbsp;Ratu (Julia Roberts) dan Snow White (Lily Collins) tidak "berseteru" karena masalah siapa-yang-paling-cantik lagi, namun dipicu oleh Ratu yang menyalahgunakan tahta kerajaan sampe bangkrut dan menyengsarakan rakyat, sehingga Snow protes. Perseteruan mereka meruncing karena kedatangan Pangeran Alcott (Armie Hammer) dari negeri seberang yang kaya raya. &lt;i&gt;Yes&lt;/i&gt;, Snow dan Pangeran saling jatuh cinta, tapi si Ratu&amp;nbsp;juga&amp;nbsp;naksir Pangeran&amp;nbsp;dan ingin segera menikahinya sekalian biar keuangan kerajaan pulih kembali. Untuk melancarkan rencana itu, Snow harus disingkirkan, maka Ratu menyuruh tangan kanannya, Brighton (Nathan Lane) untuk membunuh Snow di hutan, tapi karena ciut, Snow dibiarkan lari sampai akhirnya terdampar di sarang 7 perampok bertubuh kerdil.&amp;nbsp;Jadi kita tinggal tunggu Ratu kucluk-kucluk dateng ke Snow trus kasih apel beracun sampe mati suri hingga ciuman sang pangeran membangkitkan? &lt;i&gt;Not so fast&lt;/i&gt;, Snow justru dilatih oleh 7 perampok itu pelbagai keterampilan, termasuk ilmu pedang, agar dapat ikut merampok uang dan harta dari kereta kerajaan yang lewat lalu membagikannya ke rakyat, sebagai bentuk pemberontakan mereka terhadap kesewenang-wenangan Ratu. Dan ketika Snow dan 7 perampok mengacaukan pernikahan Ratu dengan menculik Pangeran (yang sudah dipelet Ratu), &lt;i&gt;well...this is war&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melihat cerita Snow White dalam Mirror Mirror ini dibuat berbeda. Perkembangan karakternya diubah, alur ceritanya pun seperti ditambahkan dimensi modern supaya poin-poin cerita yang sudah lazim diketahui terlihat punya motivasi yang nggak tiba-tiba ada—jadi si Snow White sama Pangeran nggak hayuk aja baru ketemu langsung jadian. Menurut gw sih ini cara yang lumayan efektif dalam menceritakan ulang kisah yang sangat akrab di masyarakat, biar ada &lt;i&gt;twist&lt;/i&gt; dan penyegaran dikit.&amp;nbsp;Snow White tidak dibuat lemah tak berdaya, malahan ia beraksi untuk tujuan mulia (ini sih agak minjem cerita Robin Hood ya). Percikan cintanya dengan Pangeran dibangun sejak awal film, malahan dalam keadaan Snow yang berjasa kepada Pangeran.&amp;nbsp;Yang paling beda tentu saja pendekatan terhadap tokoh Ratu yang dibuat jahat-judes-comel ala ibu-ibu sosialita, serta 7 kurcaci yang sebenarnya kumpulan orang-orang terbuang dari kota yang harus menanggung hidup dengan merampok pake &lt;i&gt;extension&lt;/i&gt; tungkai biar lebih sangar =P (ini katanya pake &lt;i&gt;stunt &lt;/i&gt;dari Cirque du Soleil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/mwUv6PCmlSRgzk0JbVlSIA--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD00MDQ7cT04NTt3PTYzMA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/mirror-mirror-2012-alily-collins-63817.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="256" src="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/mwUv6PCmlSRgzk0JbVlSIA--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD00MDQ7cT04NTt3PTYzMA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/mirror-mirror-2012-alily-collins-63817.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Snow White and her Merry Men&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Untunglah dua hal yang paling berbeda itu hasilnya menggembirakan, bahkan menurut gw mereka jadi &lt;i&gt;highlight &lt;/i&gt;film ini. Julia Roberts beruntung mendapat peran penjahat (mungkin pertama kalinya, &lt;i&gt;except if you count&lt;/i&gt; Closer) yang komikal, kuat bukan semata-mata karena sihir melainkan karena ia memang licik (rakyat segan sama dia karena ia melindungi mereka dari &lt;i&gt;beast&lt;/i&gt; di hutan, dan juga alasan mengapa negeri mereka musim salju terus-terusan), dan sering mengujarkan kalimat-kalimat &lt;i&gt;witty&lt;/i&gt;, kayaknya nyatu banget sama sosok Julia, pertama kali gw melihat Julia cocok cok sama perannya sejak Erin Brockovich (hehe). Gw pun senang sekali ketujuh kurcaci/perampok mini diberi porsi yang signifikan dan berkesan dengan karakter masing-masing yang jelas dan terarah (perhatikan Half-Pint (Mark Povinelli) yang berusaha ngerayu Snow ^_^). Mungkin kita gampang aja ketawa hanya karena mereka mini, namun pembawaan para aktor mini yang luar biasa (serius, &lt;i&gt;they're better than&lt;/i&gt; Armie Hammer =P) membuat mereka jadi &lt;i&gt;lovable&lt;/i&gt; sekaligus keren. Sedangkan pemain lainnya bermain aman, akting Lily Collins nggak jelek, nggak cuman modal tampang (&lt;i&gt;though she is pretty&lt;/i&gt; =)), Armie Hammer juga seperti udah punya setelan "Pangeran &amp;nbsp;negeri dongeng", &lt;i&gt;at least&lt;/i&gt; mereka nggak ganggu lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Overall&lt;/i&gt;, menurut gw merasa nggak ada yang perlu benar-benar dikomplain dari Mirror Mirror ini. Jika tujuannya adalah menghibur melalui kisah Snow White dengan gaya semi-parodi, memang berhasil, gw merasa terhibur kok. Tontonlah dengan lepas tanpa pretensi apa-apa. Nggak ada salahnya bersenang-senang dengan mengacak-acak kisah dongeng terkenal dengan memakaikan kostum serumit desain manga CLAMP biar lebih lucu asalkan nggak jadi kacau.&amp;nbsp;Humornya baik verbal maupun fisik bisa bikin cekikikan, &lt;i&gt;timing-&lt;/i&gt;nya pas nggak terlalu maksa, aman untuk anak-anak namun nggak kekanak-kanakan sehingga tetap menyenangkan untuk penonton remaja/dewasa. Ceritanya nggak sulit diikuti, lajunya enak, dan tokoh-tokohnya cukup meninggalkan kesan. Visual efeknya pun terbilang bagus. Komplain gw justru tertuju pada kurang memancarnya keindahan visual seperti film-film Tarsem sebelumnya. Memang kostum dan tata artistik spektakuler ganjil mencolok mata masih terlihat, tetapi tampilannya di layar tidak seindah biasanya. Apa mungkin karena waktu produksinya terlalu cepat? &lt;i&gt;O well&lt;/i&gt;, penuturan dan porsi humornya yang menyegarkan bolehlah menjadi kompensasi yang &lt;i&gt;fair&lt;/i&gt;. Gw nggak terlalu kecewa karena film ini hasilnya sesuai dengan tujuannya: menghibur, menyenangkan tanpa mencelakakan—&lt;i&gt;a kind of film Disney should have made instead of more Pirates&lt;/i&gt;. Dan apa yang lebih menyenangkan daripada menyaksikan penghuni istana menari ala Bollywood menyanyikan "&lt;i&gt;I believe I believe I believe I believe in love, love...love, love, love&lt;/i&gt;...!" =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;7&lt;/b&gt;/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-2679389528629831388?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/2679389528629831388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/movie-mirror-mirror-2012.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/2679389528629831388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/2679389528629831388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/movie-mirror-mirror-2012.html' title='[Movie] Mirror Mirror (2012)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NuGdKFc_1ng/T4_0MmAP1AI/AAAAAAAABNg/Ews3FT5miPk/s72-c/mirrormirror.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-8488945926176314549</id><published>2012-04-19T01:48:00.000+07:00</published><updated>2012-04-19T01:55:35.706+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Sanubari Jakarta (2012)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-xhrYEOlpFOo/T46dyo7w6JI/AAAAAAAABNE/z6oq-il9kvE/s1600/sanubarijakarta.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://4.bp.blogspot.com/-xhrYEOlpFOo/T46dyo7w6JI/AAAAAAAABNE/z6oq-il9kvE/s320/sanubarijakarta.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Sanubari Jakarta&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - Kresna Duta Foundation/Ardhanary Institute/Ford Foundation)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Tika Pramesti ("1/2"), Dinda Kanyadewi ("Malam Ini Aku Cantik"), Lola Amaria ("Lumba-Lumba"), Alfrits John Robert ("Terhubung"), Aline Jusria ("Kentang"), Adriyanto Dewo ("Menunggu Warna"), Billy Christian ("Pembalut"), Kirana Larasati ("Topeng Srikandi"), Fira Sofiana ("Untuk A"), Sim F. ("Kotak Cokelat")&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Written by Laila "Lele" Nurazizah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Lola Amaria, Fira Sofiana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Hernaz Patria, Irfan Guchi, Pevita Pearce, Dimas Hary CSP, Dinda Kanyadewi, Ruth Pakpahan, Agastya Kandou, Permatasari Harahap, Illfie, Gia Partawinata, Haffez Ali, &amp;nbsp;Rangga Djoned, Albert Halim, Gesata Stella, Herfiza Novianti, Deddy Corbuzier, Arswendi Nasution, Miea Kusuma, Reuben Elishama Hadju&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagi ngehit nih di&amp;nbsp;Indonesia&amp;nbsp;yang namanya film omnibus, sebuah film yang terdiri atas segmen-segmen berupa film-film pendek bertema sama, atau kalo istilah kaset tuh "kompilasi". Sebelumnya tahun ini sudah ada &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/movie-dilema-2012.html"&gt;Dilema&lt;/a&gt; yang bertema kriminalitas, lalu baru saja ada Hi5teria yang bergenre horor. Sekarang hadir lagi Sanubari Jakarta yang berisi 10 film dari 10 kru berbeda yang mengusung tema kaum LGBT (&lt;i&gt;Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender&lt;/i&gt;). Kasusnya mirip film &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-mata-tertutup-2012.html"&gt;Mata Tertutup&lt;/a&gt; kemarin, konon film ini tidak direncanakan tayang secara komersial, toh seperti terlihat di kredit produksinya film ini merupakan "proyek yayasan" yang tadinya cuman untuk ditayangkan dalam forum, komunitas dan festival-festival, eh ternyata bisa juga untuk tayang secara komersial yang artinya bisa ditonton secara lebih luas. Meskipun masih isu ini tabu dalam masyarakat dan hukum kita, LGBT bukanlah tema yang baru, malah kayaknya hampir semua film Indonesia era 2000-an pasti ada unsur ini. Sanubari Jakarta secara khusus menyampaikan rupa-rupa cerita yang berkaitan dengan kaum LGBT dengan pendekatan dan presentasi yang berbeda pula satu dengan yang lainnya, tapi rata-rata drama sih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dibuka dengan "1/2", bergaya simbolik tentang kebersamaan dua orang pemuda (Hernaz Patria, Irfan Guchi), namun secara simultan ada sosok perempuan (Pevita Pearce) menggantikan salah satu dari mereka melewati kejadian yang serupa. Gw langsung menyatakan karya Tika Pramesti inilah segmen favorit gw, karena menggunakan simbol-simbol visual yang agak ganjil tapi cantik dan punya makna di akhir cerita begitu semua terungkap, halus sekaligus jelas apa maksudnya, sangat cocok sebagai materi film pendek. Agak mirip video klip, tetapi setidaknya membuatnya jadi sebuah segmen pembuka yang nendang dan impresif. Dan benar saja, segmen-segmen selanjutnya tidak ada yang sampai mengesankan gw seperti "1/2". Mungkin yang cukup mengesankan adalah segmen kelima, "Kentang" karya Aline Jusria, tentang sepasang cowok muda (Gia Partawinata, Haffez Ali) yang niatnya bercinta&amp;nbsp;di sebuah kamar kost&amp;nbsp;tapi selalu terganggu oleh situasi serta pertengkaran mereka sendiri. Segmen ini mungkin paling diingat karena paling lucu entah dari cerita, dialog, pemain, maupun simbol yang digunakan—yang satu pake atribut "khas" tapi yang satunya lagi memakai atribut yang lazim dianggap "laki banget".&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa segmen lainnya menurut gw lumayan, nggak jelek tetapi masih kalah mengesankan dari yang dua tadi. Ada yang ceritanya biasa tapi penggarapannya menarik, atau sebaliknya. Segmen ketiga,&amp;nbsp;"Lumba-Lumba" karya Lola Amaria mengisahkan seorang guru TK (Dinda Kanyadewi) yang saling tertarik dengan seorang ibu dari muridnya (Ruth Pakpahan), diberi satu poin unik bahwa mereka bisa "klik" gara-gara sebuah fakta soal seksualitas lumba-lumba, hewan yang digambar oleh anak-anak di TK. Label unik juga perlu disematkan pada segmen ketujuh, "Pembalut" karya Billy Christian, tentang sepasang wanita yang memadu kasih terakhir kali karena salah satunya akan menikah, namun semua karakter ini dimainkan oleh satu orang aktris saja (Gesata Stella). Pendekatan berbeda juga digunakan Adriyanto Dewo dalam "Menunggu Warna", berkisah tentang perjalanan cinta pasangan pria sesama pekerja pabrik (Rangga Djoned dan Albert Halim)...&lt;i&gt;or is it&lt;/i&gt;? *hehe*. Segmen ini dipresentasikan dengan gambar hitam-putih dan menggunakan gaya kayak film 3-Iron, yaitu dua tokoh utamanya tidak terlihat berbicara. Segmen kesembilan, "Untuk A" karya Fira Sofiana &lt;i&gt;simply&lt;/i&gt; bercerita tentang seorang pria paruh baya (Arswendi Nasution) yang tiba-tiba membuka kembali mesin tik lama lalu mengetik kenangannya tentang cinta pertamanya sekaligus mengungkapkan masa lalunya.&amp;nbsp;Segmen terakhir, "Kotak Cokelat" karya Sim F. sebenarnya terlihat seperti drama romantis biasa namun kisahnya cukup menarik, tentang hubungan cinta seorang pria (Reuben Elishama) dan wanita perancang busana (Miea Kusuma) yang ternyata sewaktu kecil pernah bertemu dalam situasi yang jauh berbeda.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan tiga segmen lainnya menurut gw pribadi sih masih dalam vonis "coba lagi deh". &amp;nbsp;"Malam Ini Aku Cantik" karya Dinda Kanyadewi, tentang kegiatan seorang waria tuna susila (Dimas Hary CSP) dan rahasia dibalik identitasnya, di luar kisahnya yang provokatif tapi familiar, nggak istimewa segitunya. Segmen "Terhubung" karya&amp;nbsp;Alfrits John Robert&amp;nbsp;tidaklah kuat di cerita, hanya tentang dua perempuan dalam ruang berbeda dan pergumulan masing-masing (Permatasari Harahap, Illfie) yang di ujung cerita bertemu di tempat beli BH, tauk dah jadian atau enggak (eh &lt;i&gt;spoiler&lt;/i&gt; =P). Dan mungkin yang paling menimbulkan kernyit dahi adalah segmen "Topeng Srikandi" karya Kirana Larasati, berkisah tentang seorang wanita yang jadi pria di kantornya. Meski cukup meyakinkan dengan adanya &lt;i&gt;footage&lt;/i&gt; narasi wayang kulit, tetapi eksekusinya tidak meyakinkan, malah jadi menkhotbahi. Efek dramatisnya juga menguap, mungkin karena udah di-&lt;i&gt;spoil&lt;/i&gt; sejak awal bahwa tokoh yang dimainkan Herfiza Novianti itu wanita...dan yang paling mengesalkan adalah Deddy Corbuzier nggak mau lepas dari&amp;nbsp;&lt;i&gt;make-up&lt;/i&gt;&amp;nbsp;biasanya =b.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menarik bahwa secara keseluruhan film kembali mengingatkan bahwa kaum termarjinalkan seperti kaum LGBT sesungguhnya punya permasalahan mendasar yang nggak beda jauh sama orang-orang kebanyakan, dan bahwa LGBT itu tidak pernah terbatas pada lingkup ekonomi, profesi, usia, suku/ras, sosial atau agama...ataupun selera musik =P. Diproduseri oleh Fira Sofiana dan Lola Amaria (yang sukses unjuk kebolehan lewat &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2010/06/movie-minggu-pagi-di-victoria-park-2010.html"&gt;Minggu Pagi di Victoria Park&lt;/a&gt;), dengan masing-masing segmen berdurasi kurang dari 10 menit, secara pengurutan sih gw merasa&lt;i&gt; fine-fine&lt;/i&gt; aja dengan film ini, nggak terlalu ngebosenin, mungkin karena udah ada setelan kesadaran bahwa kalau ngebosenin pun bentar lagi abis segmennya =D. &amp;nbsp;Kecuali Lola Amaria, rata-rata sutradara tiap segmen belum dikenal publik awam, namun bukan berarti tidak dikenal sama sekali. Ada Aline Jusria, yang sebelum ini dikenal sebagai editor pemenang piala Citra dua tahun berturut-turut (Minggu Pagi di Victoria Park, &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/07/movie-catatan-harian-si-boy-2011.html"&gt;Catatan Harian Si Boy&lt;/a&gt;), lalu ada aktris Kirana Larasati serta bintang sinetron &lt;i&gt;whom people love to hate&lt;/i&gt; Dinda Kanyadewi. Jadi gw akan memberikan selamat dan salut kepada para penggarap 10 segmen film dalam Sanubari Jakarta ini karena sudah cukup baik menjalankan tugasnya, menyampaikan pesan sekalian menjadi ajang unjuk potensi dan kemampuan mereka di bidang sinema.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Not bad at all&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Big applause&lt;/i&gt; untuk kru "1/2"&amp;nbsp;khususnya penata artistik dan sinematografi-nya, keren =).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;My score: &lt;b&gt;7&lt;/b&gt;/10&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk daftar judul, pemain dan kru yang lengkap silahkan mampir ke &lt;a href="http://www.tempo.co/read/news/2012/04/14/111396964/Ketika-Kisah-Pasangan-Sejenis-Hadir-di-Jakarta"&gt;artikel di Tempo.co&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-8488945926176314549?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/8488945926176314549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/movie-sanubari-jakarta-2012.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/8488945926176314549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/8488945926176314549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/movie-sanubari-jakarta-2012.html' title='[Movie] Sanubari Jakarta (2012)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-xhrYEOlpFOo/T46dyo7w6JI/AAAAAAAABNE/z6oq-il9kvE/s72-c/sanubarijakarta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-6916713290708069086</id><published>2012-04-16T00:38:00.000+07:00</published><updated>2012-04-16T00:48:39.412+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='music'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='list'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='article'/><title type='text'>My Top 50 International Songs of the 1990's (Part 2 of 2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Halo, jek, ketemu lagi di daftar 50 lagu internasional keluaran dekade 1990-an favorit gw, dan kita sampai pada 25 teratas. &lt;i&gt;Which means&lt;/i&gt; isinya adalah 25 lagu 1990-an yang lebih &lt;i&gt;memorable &lt;/i&gt;lagi terutama buat gw dan mungkin bagi sebagian Anda, yah jelas 90-an 'kan yang &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt; pun emang mutu, gak kayak zaman sekarang (&amp;lt;-- kata-kata orang udah mulai tua). Jangan ragu untuk &lt;i&gt;play&lt;/i&gt; videonya dan menggila menyanyikan lagunya =D.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-gvyMo2w1maU/T4rs64YgeNI/AAAAAAAABMY/4RFRPgsfX5Y/s1600/90s2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="115" src="http://2.bp.blogspot.com/-gvyMo2w1maU/T4rs64YgeNI/AAAAAAAABMY/4RFRPgsfX5Y/s640/90s2.jpg" width="600" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Silahkan klik &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/my-top-50-international-songs-of-1990s.html"&gt;di sini&lt;/a&gt; untuk posisi 50-26. Oh ya, perhatikan bahwa ada beberapa lagu di daftar ini pernah diparodikan P Project =D.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;25. "The Sign" - Ace of Base (1994)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(Sweden)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Not quite the next&lt;/i&gt; ABBA tapi musik elektronika mereka cukup asik dan lagu-lagunya &lt;i&gt;catchy&lt;/i&gt;. Kaset pertama yang secara &lt;i&gt;de facto&lt;/i&gt; gw beli (karena secara &lt;i&gt;de jure&lt;/i&gt; duitnya dari ortu) adalah Happy Nation U.S. Version milik Ace of Base, salah satunya karena gw suka banget lagu ini.&amp;nbsp;&lt;i&gt;I was 8 and I still like it now. Don't you dare judge me.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="131" src="http://www.youtube.com/embed/D5fRVm3k1aY" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;24. "More Than Words" - Extreme (1991)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalo lagu "I Will Survive"-nya Cake adalah lagu wajib bagi yang belajar main bass, "More Than Words" adalah lagu wajib orang belajar main gitar =P. Saking terkenalnya lagu akustika ini gw ampe gak tau Extreme ini aliran musiknya aslinya kayak gimana.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/UrIiLvg58SY" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;23. "Over My Shoulder" - Mike + The Mechanics (1995)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(UK)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini entri paling segar, soalnya gw udah lama denger lagu ini tapi gak pernah tau siapa yang nyanyi. Gak nyangka ternyata lagu keren ini dinyanyikan oom-oom, dan nggak nyangka oom-oom itu bisa punya suara seasyik ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="131" src="http://www.youtube.com/embed/tKiLGysBO7U" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;22. "When Love &amp;amp; Hate Collide" - Def Leppard (1995)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(UK)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Rock love ballad &lt;/i&gt;selalu punya tempat di hati pendengar musik kita, kasus yang sama juga menimpa lagu dari band rock Inggris ini. Galau tetapi terdengar &lt;i&gt;grand &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;powerful&lt;/i&gt;. "&lt;i&gt;Do you have a heart of stone?...Do you have a heart at all?&lt;/i&gt;" #jleb.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/2y2aQ4D3b3I" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;21. "Carnival" - The Cardigans (1995)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(Sweden)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The Cardigans mungkin punya hit yang lebih terkenal "Lovefool" yang jadi sontrek Romeo+Juliet yang merupakan &lt;i&gt;cover&lt;/i&gt; lagunya Justin Bieber itu (KEBALIK KALIK!). &lt;i&gt;Somehow&lt;/i&gt;, gw lebih suka "Carnival" karena nggak terlalu &lt;i&gt;dragging&lt;/i&gt; sekaligus mengandung keunikan yang lebih kental. Aransemennya yang terkesan &lt;i&gt;old-school&lt;/i&gt;-nya juara.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/MFIM4HMKNY4" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;20. "I Don't Want to Miss a Thing" - Aerosmith (1998)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum lagu karya Diane Warren ini jadi favorit kontestan Country di American Idol, ini adalah lagu mengejutkan yang dikeluarkan Aerosmith, sebuah&amp;nbsp;&lt;i&gt;pop ballad&lt;/i&gt; yang bahkan porsi rock-nya sedikit sekali. Namun seperti teori umum sebagaimana FireHouse (no. 36), Extreme (no. 24) dan Def Leppard (no. 22), lagu lembut dari band "sangar" (walaupun Aerosmith sangarnya cuman di muka sih) akan sangat mudah diterima secara &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt;. Oh, gw udah bilang belum ini lagunya Diane Warren? =D&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/rKAn1HvmRXM" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;19. "To Be with You" - Mr. Big (1991)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut gw lagu ini agak setipe sama "More Than Words", cuman lagu ini lebih rancak karena lebih ceria dan melibatkan seluruh anggota band-nya (haha), apalagi dimotori vokal gila Eric Martin yang menambah keasyikan mendengarkannya sambil hentak-hentak kaki dan angguk-angguk kepala serasa gondrong.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/5QD5n98R_nk" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;18. "Heaven Knows" - Rick Price (1992)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;(Australia)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Beautifuly written and composed&lt;/i&gt; galau&lt;i&gt; song&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;&lt;i&gt;before it was cool&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/3qOrqIjWfK0" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;17. "Angels" - Robbie Williams (1997)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(UK)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan Robbie Williams yang akhirnya jadi mantan personil Take That yang paling sukses dan paling awet karir solo-nya (&lt;i&gt;and released better songs&lt;/i&gt;) dimulai dari lagu ini. Lagu dengan nada sederhana mewadahi lirik puitis namun memberi dampak yang luar biasa, terutama di Inggris sana, dan di ingatan gw di sini *halah*.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/qSs97IWzNs8" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;16. "Change the World" - Eric Clapton (1996)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(UK)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Eric Clapton yang secara &lt;i&gt;genre&lt;/i&gt; harusnya artis &lt;i&gt;blue&lt;/i&gt;s bahkan konon salah satu yang terbaik, ternyata tidak membatasi diri untuk terjun juga ke ranah pop, tapi jelas membawa karakter yang kuat: petikan gitar yang &lt;i&gt;soulful&lt;/i&gt; sebagaimana vokalnya. "Change the World" adalah sebuah lagu yang &lt;i&gt;groovy &lt;/i&gt;dan dikemas bagaikan air sejuk yang memberi ketenangan, terima kasih juga kepada Babyface yang memproduserinya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="131" src="http://www.youtube.com/embed/lAWevLsqa4M" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;15. "Waterfalls" - TLC (1995)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum ada Destiny's Child, dunia musik kehadiran trio wanita kulit hitam dengan penampilan &lt;i&gt;street-style &lt;/i&gt;yang lumayan menggemparkan tangga-tangga lagu dunia, TLC. "Waterfalls" adalah &lt;i&gt;breakthrough&lt;/i&gt; mereka. Gw sih suka sama iramanya yang asyik masyuk dan melodinya &lt;i&gt;catchy&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;And if it matters&lt;/i&gt;, TLC ini bernaung di label rekaman milik Babyface.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/faxp2PnVRNQ" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;14. "Black or White" - Michael Jackson (1991)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Michael Jackson sudah superstar sejak tahun 1980-an, namun masih aktif melahirkan hits yang dahsyat dan berpengaruh hingga pertengahan dekade 1990-an. "Black or White" mungkin lagu rilisan MJ yang paling awal yang punya pesan moral secara gamblang (sebelum dilanjutkan "Heal The World", "Earth Song" dan sebagainya) namun tentu saja dibawakan dengan sangat atraktif, baik lagunya sendiri maupun dalam video musiknya (dan tentu saja lagu aslinya jauh lebih pendek dari video musiknya ^_^;)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/F2AitTPI5U0" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;13. "True Love" - Fumiya Fujii (1993)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Japan)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entri ini sekaligus menerangkan bahwa gw nggak akan membuat senarai lagu Jepang secara terpisah, karena &lt;i&gt;to be fair&lt;/i&gt; koleksi lagu Jepang era 90-an yang gw punya tidaklah banyak. &lt;i&gt;Anyway&lt;/i&gt;, dengan kekuatan Indosiar yang saat itu merupakan stasiun televisi baru dan banyak menayangkan promo (iklan) programnya&amp;nbsp;dengan terus menerus, salah satunya program drama Jepang sore-sore, menggunakan lagu tema programnya, akhirnya banyak sekali orang yang tau lagu "True Love" ini, yang merupakan lagu tema drama berjudul "Asunaro Hakusho" atau di sini judulnya jadi "Ordinary People", bahkan mungkin jadi salah satu lagu Jepang paling terkenal (selain "Kokoro no Tomo") untuk beberapa lama sebelum kedatangan era mp3 dan VCD bajakan, dan "First Love"-nya Utada Hikaru. Terdengar syahdu, di saat yang bersamaan mengandung pernyataan keras bahwa melodi lagu ini akan &lt;i&gt;evergreen &lt;/i&gt;melewati zaman.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/TETbTGdSfOU" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;12. "What's Up?" - 4 Non Blondes (1993)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin bisa dianggap &lt;i&gt;one hit wonder&lt;/i&gt;, akan tetapi lagu ini punya dampak yang luar biasa karena ke-&lt;i&gt;unusual&lt;/i&gt;-an melodi, lirik dan gaya bernyanyinya. Sangat, sangat terkenal. Apa indikasinya? Bahkan Inul Darasista konon sering menyanyikan lagu ini sebelum terjun ke ranah dangdut. &lt;i&gt;We simply cannot get it out of our head after listening to it. &lt;/i&gt;Gw suka kesederhanaan dan spontanitas yang tercermin lewat lagu ini, bagaimana bisa bikin sapaan basa-basi "&lt;i&gt;Hey, what's going on&lt;/i&gt;?" jadi sebuah lagu fenomenal. Mungkin lagu ini adalah manual gaya penulisan Dewiq.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/6NXnxTNIWkc" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;11. "Wonderwall" - Oasis (1995)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(UK)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukan, gw bukan penggemar Oasis. Jadi sah dong kalo gw taunya cuman lagu ini =P (emm, "Don't Look Back in Anger" sama "Champagne Supernova" tau juga koook *itu doang sih*). Kayaknya sih gw jadi suka karena sering diputer di TV, efeknya sampe sekarang setiap denger nama band Oasis gw selalu ingetnya "Wonderwall". Tapi gw nggak nyalahin TV, emang lagu ini bagus kok. Di tengah datarnya melodi masih menyimpan permainan musik yang senantiasa menarik walau didengar berulang kali.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/6hzrDeceEKc" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dan inilah 10 teratasnya:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;10."Fixing a Broken Heart" - Indecent Obsession (1993)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Australia)&lt;br /&gt;Gak tau mau komen apa, dengerin deh =). Khususnya buat yang mau &lt;i&gt;move on&lt;/i&gt; *prett.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="131" src="http://www.youtube.com/embed/2KiqAXsGPtI" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;9. "I Will Be Here for You" - Michael W. Smith (1992)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Michael W. Smith krungu-krungu dulu adalah artis rock yang kemudian "tobat" menjadi artis lagu-lagu rohani atau inspirasional, namun itu nggak membatasi dirinya untuk dapat menelurkan lagu bertema universal bahkan sampe bisa diputar di gelombang arus utama sekuler. Yang paling &lt;i&gt;noteworthy &lt;/i&gt;adalah "I Will Be Here for You" ini, lagu balada pop-rock yang merupakan salah satu "lagu orang gede" terawal yang bersemayam di ingatan gw. Liriknya sudah pasti menyentuh namun melodi dan aransemennya pun turut andil dalam menciptakan nuansa menenangkan dan mencerahkan dalam lagunya. &lt;i&gt;And btw&lt;/i&gt;, lagu ini diciptakan oleh Smith bersama..., yep, Diane Warren.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/bruLafuiu80" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;8. "One of Us" - Joan Osborne (1995)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu ini sederhana tapi enak. Tapi butuh waktu untuk gw menyerap dan memahami makna lagu ini. Kalau sambil lalu terdengar provokatif, tapi sebenarnya lebih ke kontemplatif (apaaaaa pula maksudnya). "&lt;i&gt;What if God was one of us&lt;/i&gt;?", seandainya Tuhan itu ada di antara kita, bagaimana kita akan bersikap?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/USR3bX_PtU4" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;7. "Back for Good" - Take That (1995)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(UK)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keengganan gw terhadap produk &lt;i&gt;boyband &lt;/i&gt;sebenarnya udah lama, termasuk Take That, orang-nya ada lima tapi kok yang dikasih nyanyi si dia-dia doang (namanya Gary Barlow, kalo sekarang tuh Morgan-nya SM*SH lah =P). &lt;i&gt;But&lt;/i&gt;, hmmm, bersyukur gw tidak sampe anti, jadi masih bisa menimkati karya cakep "Back for Good" ini sebagaimana adanya, sebuah balada, ala &lt;i&gt;boyband&lt;/i&gt; sih, tapi punya karakter kuat di melodi maupun irama. Mungkin ini maharkarya sebuah boyband.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Lingers for good&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/4R8xTu68r54" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;6. "Always" - Bon Jovi (1994)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kembali lagi, band yang &lt;i&gt;image-&lt;/i&gt;nya "keras" menyanyikan lagu cinta. Bon Jovi punya puncak kepopuleran di arus utama Indonesia (kayaknya) karena lagu ini, sebab cukup sering pula tampil di TV, dan tak lama sesudahnya Bon Jovi bertandang konser di Jakarta. Sebuah lagu patah hati yang bikin puas banget teriakan di bagian &lt;i&gt;chorus&lt;/i&gt;-nya&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;(&lt;i&gt;you know what I mean&lt;/i&gt;). Terlalu lengket untuk dilupakan. &lt;i&gt;A very good song&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/9BMwcO6_hyA" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;5. "Stay (I Missed You)" - Lisa Loeb and Nine Stories (1994)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu ini gak punya struktur lagu pop biasa. Hanya ada sedikit perulangan nada, sisanya hanya kata-kata tumpahan hati yang dikasih nada, sekali jalan. Anehnya, semua itu begitu memikat, bikin anteng menantikan apa yang akan dikatakan mbak Lisa melalui vokal, kocokan gitar dan intsrumen band lainnya yang sederhana itu. Mungkin karena kesungguhan yang tertumpah dalam liriknya, atau juga dari cara menyanyikannya, &lt;i&gt;feeling&lt;/i&gt; yang terpancar &lt;i&gt;genuine &lt;/i&gt;sekali. Yang pasti, lagu ini unik dan terlalu bagus untuk jadi sekadar &lt;i&gt;one hit wonder&lt;/i&gt; semata.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/70PR5pinGs8" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;4. "Zombie" - The Cranberries (1994)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Ireland)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jujur gw sih dulu selalu keinget lagu ini cuman gara-gara bagian buntut &lt;i&gt;chorus-&lt;/i&gt;nya: "Zombie...ehe...ehe..." =D. &lt;i&gt;Gimmick&lt;/i&gt; yang luar biasa. Semakin ke sini gw semakin menyadari lagu jombi ini punya makna dahsyat dan pesan penting tentang kekejaman perang, selain punya kekuatan di musiknya yang agak serem. &lt;i&gt;Powerful&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/6Ejga4kJUts" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;3. "Sometimes Love Just Ain't Enough" - Patty Smyth &amp;amp; Don Henley (1992)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sama seperti nomer 9, lagu ini salah satu "lagu orang gede" terawal yang gw inget, &lt;i&gt;somehow&lt;/i&gt; masih gw anggap lagu yang sangat bagus. Dulu jelas suka karena melodi dan musiknya, minimalis tapi enak. Semakin ke sini akhirnya paham liriknya yang ternyata bagus banget, nggak mungkin nggak meletakkan lagu ini sebagai salah satu lagu favorit gw sepanjang masa. Caranya dalam menggambarkan hubungan tak sehat sangat puitis tapi mudah dipahami karena kata-kata yang digunakan lumayan sehari-hari, harmoni Patty Smyth dan Don Henley (vokalis Eagles) yang &lt;i&gt;perfectly blended&lt;/i&gt; menambah kedalaman makna dari lagunya. "&lt;i&gt;There's a danger in loving somebody too much, and it's sad when you know it's your heart you can't trust..&lt;/i&gt;" #jleb #jleb&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/qdzbjUWu2VU" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;2. "I'd Do Anything for Love (But I Won't Do That)" - Meat Loaf (1993)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Video klip "I'd Do Anything For Love" ini sering wara-wiri di televisi pada saat itu, bertema Beauty and the Beast dengan &lt;i&gt;twist&lt;/i&gt; modern, tapi nggak pernah ditayangkan benar-benar dari awal ataupun sampai tuntas, wong durasinya aja 7 menit, itu juga udah versi edit-an karena versi rekamannya berdurasi 12 menit!!&amp;nbsp;Zaman sekarang bisa dibilang lebay, tetapi demikianlah Meat Loaf yang gayanya sangat teatrikal bahkan udah dari musiknya saja, apalagi video klipnya. Diciptakan oleh Jim Steinman yang katanya wiki emang suka bikin lagu panjang-panjang (contoh lain "It's All Coming Back for Me Now"-nya Celine Dion), bisa jadi lagu ini terpatri di memori karena hal-hal heboh itu. Tapi memang lagu ini punya sebuah kualitas yang berbeda dari lagu-lagu pop/rock biasa. Dengan perubahan tempo lambat-cepat yang bolak-balik, nada yang dinyanyikan oleh Meat Loaf yang terdengar sangat nelangsa, lirik yang lirih dan agak mengecoh, menampilkan dinamika dramatis yang justru semakin memikat ketika didengarkan lagi sekarang. Mantap lah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Versi video musik (sutradaranya Michael Bay loch)&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/9X_ViIPA-Gc" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi asli&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/O-Fwsr4hYY8" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #990000; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;1. "Kiss Me" - Sixpence None The Richer (1997)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ahiy. Anak muda banget deh, hehe. Lagu ini cepat sekali tumbuh jadi kesukaan gw semenjak gw beli CD sontrek Dawson's Creek (volume 1). Terdengar ringan dan sederhana, tetapi punya daya tarik yang sulit ditolak, sampe-sampe udah berapa film/serial TV Hollywood yang memakai lagu ini. Manis, romantis. Ketika memperhatikan liriknya tambah jatuh cinta lagi gw sama lagu ini, ditulis dengan lirik yang&lt;i&gt; oh my Lord &lt;/i&gt;itu kok bisa dapet kata-kata kayak gitu, &lt;i&gt;bless you&lt;/i&gt; Matt Slocum. Sudah lebih dari sepuluh tahun lagu ini tetap juara di hati gw. Selalu menyenangkan ketika didengarkan lagi dan diulang lagi setelah itu. Dan sebagaimana syarat tak resmi bahwa lagu yang hebat nggak bisa di-&lt;i&gt;cover&lt;/i&gt; ulang, sampe sekarang gw yakin tiada barangsiapapun yang dapat membawakan "Kiss Me" selain Sixpence None The Richer, terlebih lagi se-&lt;i&gt;sincere&lt;/i&gt;, se-&lt;i&gt;effortless&lt;/i&gt;, dan se-berkarakter Leigh Nash, pun gw gak bisa membayangkan lagu ini kalau musiknya nggak seperti ini. Gak akan bisa. Lagu yang terlalu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="233" src="http://www.youtube.com/embed/8N-qO3sPMjc" width="300"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #38761d;"&gt;RECAP: My Top 50 International Songs of the 1990's&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;1. "Kiss Me" – Sixpence None The Richer&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;2. "I'd Do Anything For Love (But I Won't Do That)" – Meat Loaf&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;3. "Sometimes Love Just Ain't Enough" – Patty Smyth with Don Henley&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;4. "Zombie" – The Cranberries&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;5. "Stay (I Missed You)" – Lisa Loeb and Nine Stories&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;6. "Always" – Bon Jovi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;7. "Back For Good" – Take That&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;8. "One Of Us" – Joan Osborne&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;9. "I Will Be Here For You" – Michael W. Smith&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;10. "Fixing A Broken Heart" – Indecent Obession&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;11. "Wonderwall" – Oasis&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;12. "What's Up?" – 4 Non Blondes&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;13. "True Love" – Fumiya Fujii&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;14. "Black or White" – Michael Jackson&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;15. "Waterfalls" – TLC&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;16. "Change The World" – Eric Clapton&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;17. "Angels" – Robbie Williams&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;18. "Heaven Knows" – Rick Price&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;19. "To Be With You" – Mr. Big&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;20. "I Don't Want To Miss A Thing" – Aerosmith&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;21. "Carnival" – The Cardigans&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;22. "When Love And Hate Collide" – Def Leppard&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;23. "Over My Shoulder" – Mike + The Mechanics&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;24. "More Than Words" – Extreme&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;25. "The Sign" – Ace Of Base&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;26. "How Do I Live" – Trisha Yearwood/LeAnn Rimes&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;27. "Someday We'll Know" – New Radicals&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;28. "I Don't Want To Wait" – Paula Cole&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;29. "Because You Loved Me" – Celine Dion&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;30. "You're Still The One" – Shania Twain&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;31. "Wannabe" – Spice Girls&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;32. "Sleeping  Child" – Michael Learns To Rock&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;33. "Smooth" – Santana featuring Rob Thomas&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;34. "We Could Be In Love" – Lea Salonga &amp;amp; Brad Kane&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;35. "Close To Heaven" – Color Me Badd &lt;br /&gt;36. "I Live My Life For You" – FireHouse&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;37. "Take A Bow" – Madonna&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;38. "I Have Nothing" – Whitney Houston&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;39. "I Believe I Can Fly" – R. Kelly&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;40. "Dreamlover" – Mariah Carey&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;41. "A Whole New World" – Peabo Bryson &amp;amp; Regina Belle&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;42. "Don't Speak" – No Doubt&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;43. "Breathe Again" – Toni Braxton&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;44. "Burn" – Tina Arena&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;45. "I Still Believe In You" – Vince Gill&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;46. "Every Morning" – Sugar Ray&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;47. "In Love With You" – Jackie Cheung &amp;amp; Regine Velasquez&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;48. "Runaway" – The Corrs&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;49. "Goodbye" – Air Supply&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;50. "Shy Guy" – Diana King&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Demikianlah 50 teratas lagu internasional keluaran 1990-an favorit gw. Nantikan untuk versi lagu Indonesianya ya. &lt;i&gt;Thoughts about this list&lt;/i&gt;? &lt;i&gt;Please kindly share&lt;/i&gt; =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-6916713290708069086?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/6916713290708069086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/my-top-50-international-songs-of-1990s_16.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/6916713290708069086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/6916713290708069086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/my-top-50-international-songs-of-1990s_16.html' title='My Top 50 International Songs of the 1990&apos;s (Part 2 of 2)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-gvyMo2w1maU/T4rs64YgeNI/AAAAAAAABMY/4RFRPgsfX5Y/s72-c/90s2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-2553275803282207923</id><published>2012-04-14T14:02:00.000+07:00</published><updated>2012-04-16T00:39:22.856+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='music'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='list'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='article'/><title type='text'>My Top 50 International Songs of the 1990's (Part 1 of 2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gw udah sampai pada fase ini, sebuah fase ketika gw udah nggak terlalu &lt;i&gt;update&lt;/i&gt; lagi musik-musik terkini, merasa banyak musik-musik sekarang itu semakin aneh dan nggak menarik minat, malah semakin kuat keinginan nostalgia terhadap lagu-lagu zaman yang lebih dahulu, zaman gw bertumbuh, atau istilahnya &lt;i&gt;music I grew up with&lt;/i&gt;. Zaman itu tak lain adalah dekade 1990-an, sebab buat gw dan yang seangkatan gw, dekade 1990-an adalah periode yang pas banget untuk menyerap segala sesuatu di sekeliling. 1990 gw baru masuk TK, dan 1999 adalah tepat usia gw menginjak remaja. &lt;i&gt;So&lt;/i&gt;, itulah masa-masa gw berusaha ingin jadi cepet gede dengan dengerin musik-musik orang gede teranyar. Ya, gw termasuk anak yang nggak suka lagu anak-anak karena....kekanak-kanakan =P. Ketimbang nonton Panggung Gembira TVRI, gw lebih senang tongkrongin sekilas musik (pengisi jeda antar program) di RCTI dan SCTV, MTV Asia di ANteve, dengerin radio SK dan Sonora, juga liat-liat kaset punya kakak, kakak sepupu dan tetangga, yang jelas isinya bukan Enno Lerian atau Joshua.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka dibikinlah senarai lagu 1990-an ini sebagai wujud nostalgia itu. Setelah gw coba ingat-ingat, ataupun udah lupa tapi karena sering diputar/di-&lt;i&gt;cover&lt;/i&gt; lagi baru-baru ini (ehem JakFM) akhirnya ingat, gw berhasil mendapatkan lagu-lagu keluaran 1990-an yang jadi favorit gw, lalu gw bagi jadi lagu internasional dan lagu Indonesia. Untuk saat ini gw mulai dari yang internasional dulu. Tahun 1990-an itu memang harus diakui lebih &lt;i&gt;booming&lt;/i&gt; musik impor di ranah &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt;. Impornya juga gak pandang negara, datang dari mana saja tak hanya Amerika dan UK, musik dari negara-negara seperti Australia, Filipina, daratan Eropa dan Jepang juga muncul di radio-radio dan televisi—fyi, dulu belum ada mp3 bajakan atau YouTube, televisi juga cuman ada 6 kanal. Dari sekian yang gw inget, akhirnya gw menetapkan 50 lagu saja yang paling gw suka dan paling &lt;i&gt;memorable&lt;/i&gt;. Ini juga udah lewat saringan 1 artis 1 lagu dan bukan cover-version (jadi &amp;nbsp;"I Will Always Love You"-nya Whitney Houston atau "Torn"-nya Natalie Imbruglia atau "Love is All Around"-nya Wet Wet Wet atau "Bizarre Love Triangle"-nya Frente musti &lt;i&gt;out&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;sorry&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-czdZZ1N4APU/T4kfZljeUbI/AAAAAAAABLw/mLvrfOELWro/s1600/90s1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="115" src="http://1.bp.blogspot.com/-czdZZ1N4APU/T4kfZljeUbI/AAAAAAAABLw/mLvrfOELWro/s640/90s1.jpg" width="600" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Senarai yang Anda akan lihat di bawah ini cukup &lt;i&gt;genuine&lt;/i&gt;. Gw nggak berusaha mencitrakan diri sebagai &lt;i&gt;hipster&lt;/i&gt; dengan memaksa memasukkan lagu-lagu yang "berkelas" padahal gw nggak suka (perhatikan di daftar ini nggak ada Nirvana atau Red Hot Chilli Peppers), karena yang udah telanjur terserap di ingatan gw adalah jenis "selera rakyat" yang sangat &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;I was a kid, for crying out loud&lt;/i&gt;! Jadi kalau dilihat-lihat lagu yang ada di daftar adalah yang memang pernah nge-&lt;i&gt;hit&lt;/i&gt;, walaupun udah di-jaim-jaim-in juga sih (&lt;i&gt;no&lt;/i&gt; Aqua...&lt;i&gt;or&lt;/i&gt; Steps =_=;). &lt;i&gt;But anyway&lt;/i&gt;, mari kita bersama-sama bernostalgia pada kejayaan musik melodik nan abadi dari dekade 1990-an, dari 25 terbawah dulu ya....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;50. "Shy Guy" - Diana King (1995)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jamaica/USA)&lt;br /&gt;"&lt;i&gt;Mercy mercy mercy...&lt;/i&gt;" =D&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/_5I2Hxb9-fA" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;49. "Goodbye" - Air Supply (1993)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Australia)&lt;br /&gt;Ketika baru dapet siaran RCTI, lagu ini salah satu yang pertama dan paling sering diputar. Jadi keinget terus.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/J6qxMP3deU8" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;48. "Runaway" - The Corrs (1995)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Ireland)&lt;br /&gt;Lagu dengan melodi indah dibalut gaya tradisional Irlandia. The Corrs belum terkenal di &lt;i&gt;single &lt;/i&gt;debutnya ini tetapi lagu ini tetap &lt;i&gt;lingers&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/L5eP5OZiPME" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;47. "In Love with You" - Regine Velasquez &amp;amp; Jackie Cheung (1993)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Philippines/Hong Kong)&lt;br /&gt;Aha, diva pop Filipina dan bintang terkenal Hong Kong bersatu padu dalam sebuah lagu syahdu nan merdu.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="131" src="http://www.youtube.com/embed/PNP-qp7xFdU" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;46. "Every Morning" - Sugar Ray (1998)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Sebuah lagu ringan nan asik yang begitu&lt;i&gt; recognizable&lt;/i&gt; bahkan hanya dari intronya saja.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/3cqU1pFRqYE" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;45. "I Still Believe in You" - Vince Gill (1992)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Gw nggak tau apa itu musik Country, tetapi balada &lt;i&gt;mellow&lt;/i&gt; ini begitu menenangkan sekaligus memenangkan hati *tsaaah&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/baOz601--b0" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;44. "Burn" - Tina Arena (1997)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(Australia)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Simply because it's catchy and powerful.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="131" src="http://www.youtube.com/embed/4vgCZYnIbWs" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;43. "Breathe Again" - Toni Braxton (1993)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Salah satu karya emas Babyface yang&amp;nbsp;menggetarkan, liriknya dangdut tapi puitis.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/UX69_L96NMI" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;42. "Don't Speak" - No Doubt (1996)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Emo dan galau =)&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/TR3Vdo5etCQ" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;41. "A Whole New World" - Peabo Bryson &amp;amp; Regina Belle (1992)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Cantik banget lagu ini, baik versi film (Brad Kane &amp;amp; Lea Salonga) maupun versi pop-nya ini gw suka banget karena melodi cakep dan lirik keren khas Disney.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/BqGTb4ZFAS8" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;40. "Dreamlover" - Mariah Carey (1993)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Lagu pertama yang gw kenal dari Mariah Carey, ringan lincah tapi bisa menampilkan kelenturan vokal mbak Mar yang belum montok ini.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="131" src="http://www.youtube.com/embed/CqBtS6BIP1E" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;39. "I Believe I Can Fly" - R. Kelly (1996)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Space Jam =D&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/iBpLhbqNaKE" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;38. "I Have Nothing" - Whitney Houston (1993)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;"&lt;i&gt;I have nothing! Nothing! NOTHIIIIIING!...&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/3cjV5dTaE6U" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;37. "Take a Bow" - Madonna (1994)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Ini mungkin satu-satunya lagu Madonna yang gw benar-benar suka. Lagi-lagi ini karya Babyface =).&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="131" src="http://www.youtube.com/embed/JwdY3dpAdPc" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;36. "I Live My Life for You" - FireHouse (1995)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Prinsip 90-an: kalo loe gondrong dan tato-an tapi bisa nyanyi &lt;i&gt;love ballad&lt;/i&gt;, loe pasti terkenal di Indonesia =D.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/Ya8Ju-_oaqw" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;35. "Close to Heaven" - Color Me Badd (1993)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Gara-gara &lt;i&gt;live performance&lt;/i&gt;-nya &amp;nbsp;diputar berulang-ulang dan berulang-ulang di&amp;nbsp;RCTI. &lt;i&gt;Good song though&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/b1B5FP8LKlQ" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;34. "We Could Be in Love" - Lea Salonga &amp;amp; Brad Kane (1993)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Philippines)&lt;br /&gt;Gw tau apa itu "suara dua" lewat lagu ini =P.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/GjeojWOlsrE" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;33. "Smooth" - Santana featuring Rob Thomas (1999)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Ayo digoyang!&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/MXp413NynFk" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;32. "Sleeping Child " - Michael Learns To Rock (1993)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Denmark)&lt;br /&gt;Band yang tidak pernah bisa nge-&lt;i&gt;rock&lt;/i&gt; ini terkenal dengan &lt;i&gt;love ballad&lt;/i&gt;-nya yang &lt;i&gt;straightforward&lt;/i&gt;, tapi favorit gw tetap lagu ini =).&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/wrOOW8wwx5k" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;31.&amp;nbsp;"Wannabe" - Spice Girls (1996)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(UK)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mother of all so-called modern "girlbands"&lt;/i&gt;. Konyol tapi...pasti nyanyiin juga 'kan kalo denger =P.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/gJLIiF15wjQ" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;30. "You're Still the One" - Shania Twain (1998)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(Canada)&lt;br /&gt;"From This Moment On" itu lagu nikahan yang BASIK. Coba nyanyikan lagu ini, yang lebih menekankan pada kelanggengan. Ini juga contoh &lt;i&gt;crossover&lt;/i&gt; Country-Pop yang sangat sukses.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/KNZH-emehxA" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;29.&amp;nbsp;"Because You Loved Me" - Celine Dion (1996)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(Canada)&lt;br /&gt;Celine Dion punya suara memukau dan menggelegar, namun justru mulai mendunia lewat lagu yang kalem dan &lt;i&gt;laid-back&lt;/i&gt; tapi mencengkeram ini. &lt;i&gt;Oh, you will see a lot of Diane Warren-written songs on the list&lt;/i&gt; =).&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/ih1945e4q7I" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;28. "I Don't Want to Wait" - Paula Cole (1997)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Gw pernah denger lagu ini sebelum serial "Dawson's Creek", tetapi memang gw baru benar-benar memperhatikan dan akrab sama lagu keren ini karena jadi lagu &lt;i&gt;opening theme &lt;/i&gt;serial itu.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/hJb5RvAs4BI" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;27.&amp;nbsp;"Someday We'll Know" - Иew Radicals (1998)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Dulu cuma beli CD albumnya dengan &lt;i&gt;random&lt;/i&gt;, ternyata keren banget, dan yang paling keren jatuh kepada balada unik ini.&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/bDmA8qQKhMY" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;26. "How Do I Live" - Trisha Yearwood/LeAnn Rimes (1997)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(USA)&lt;br /&gt;Nah ini baru drama. Diane Warren membuat lagu untuk film Con Air dengan LeAnn Rimes sebagai penyanyinya, tetapi produser film memutuskan Rimes terlalu muda (15 tahun!) untuk &lt;i&gt;image&lt;/i&gt; film &lt;i&gt;action&lt;/i&gt;, jadinya versi yang diakui sebagai &lt;i&gt;soundtrack&lt;/i&gt; adalah rekam-ulang versi Trisha Yearwood. Tapi versi Rimes juga nggak ditarik dari peredaran karena sudah direstui Warren. Jadilah dua lagu ini muncul barengan bahkan konon di hari yang sama. &lt;i&gt;Nevertheless, it's a beautiful song&lt;/i&gt; siapapun yang menyanyikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi Trisha Yearwood&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="165" src="http://www.youtube.com/embed/RFnD3uwKHag" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi LeAnn Rimes&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="131" src="http://www.youtube.com/embed/90e8ryPDKWo" width="200"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ke &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/my-top-50-international-songs-of-1990s_16.html"&gt;Part 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-2553275803282207923?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/2553275803282207923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/my-top-50-international-songs-of-1990s.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/2553275803282207923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/2553275803282207923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/my-top-50-international-songs-of-1990s.html' title='My Top 50 International Songs of the 1990&apos;s (Part 1 of 2)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-czdZZ1N4APU/T4kfZljeUbI/AAAAAAAABLw/mLvrfOELWro/s72-c/90s1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-6615205227653939220</id><published>2012-04-11T19:41:00.000+07:00</published><updated>2012-04-11T19:48:28.098+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UK'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Europe'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] The Lady (2011)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-GoEMB_tgNZ0/T4Q9dE3MPHI/AAAAAAAABK0/a9pFFrtzjBA/s1600/thelady.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://4.bp.blogspot.com/-GoEMB_tgNZ0/T4Q9dE3MPHI/AAAAAAAABK0/a9pFFrtzjBA/s320/thelady.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;The Lady&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - Europa Corp.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Luc Besson&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Written by Rebecca Frayn&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Virginie Besson-Silla, Andy Harries&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Michelle Yeoh, David Thewlis, Jonathan Raggett, Jonathan Woodhouse, U Htunt Lin, Benedict Wong, Mon Mon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam dua dekade terakhir ini, tokoh perjuangan demokrasi Burma dan pemimpin partai National League for Democracy (NLD), Aung San Suu Kyi menjadi tahanan rumah (&lt;i&gt;on and off&lt;/i&gt; gitu, dibebasin eh ditahan lagi berulang kali) oleh otoritas junta militer Myanmar. Kegiatan dan keberadaan dirinya serta orang-orang pendukungnya, diawasi ketat oleh pihak pemerintah. Myanmar/Burma sendiri adalah negara yang bisa dibilang paling terisolasi di antara negara-negara ASEAN, segala sesuatu termasuk informasi dikendalikan oleh pihak berkuasa. Dapat ditebak pemerintahannya selama ini tidak punya perwakilan oposisi, mirip "demokrasi orde baru" di kita dulu lah, dan banyak juga berita soal pelanggaran HAM dan represi terhadap kebebasan berpendapat. Gw pun yakin film The Lady nggak akan bisa syuting di Myanmar/Burma langsung, apalagi film ini tentang Aung San Suu Kyi dan partai NLD yang jelas-jelas berseberangan dengan otoritas yang ada. &lt;i&gt;Oh, and if you're wondering about the country's name&lt;/i&gt;, 'Myanmar' adalah nama resminya sejak 1989, namun 'Burma' juga masih digunakan. Bahkan sebagian warganya sendiri (yang pro-demokrasi) ogah pake nama 'Myanmar' karena dianggap itu nama pemberian sepihak pemerintah junta militer yang menurut mereka tidak sah. Di The Lady sendiri kita nggak akan menemukan satu pun penyebutan 'Myanmar', selain karena dalam bahasa Inggris 'Burma' telanjur lebih dikenal, mungkin juga karena secara ideologi lebih sesuai dengan yang diperjuangkan Aung San Suu Kyi dan pendukungnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The Lady dengan secukupnya memberikan gambaran keadaan Burma yang menjadi latar perjuangan Aung San Suu Kyi. Sebelum memperoleh kemerdekaan penuh dari kolonial Inggris, Jenderal Aung San yang tergabung dalam panitia persiapan kemerdekaan Burma ditembaki secara kejam pada tahun 1947 oleh oknum-oknum berpakaian militer yang diduga adalah suruhan lawan politik Aung San cs. Beralih pada tahun 1988, putri sang Jenderal, Aung San Suu Kyi (Michelle Yeoh) yang telah lama tinggal di luar negeri bahkan menikah dengan seorang pria Inggris, Michael Aris (David Thewlis), kembali pulang ke Yangon (bacanya kalo nggak salah 'yan-gon', versi Inggrisnya jadi Rangoon), ibukota Burma demi menjenguk ibunya yang terkena &lt;i&gt;stroke&lt;/i&gt;. Padahal kota Yangon sedang bergelora karena gerakan protes mahasiswa yang tak jarang menimbulkan korban jiwa karena tindakan main tembak oleh tentara pemerintahan. Suu Kyi tergerak dengan peristiwa ini, selain melihat sendiri keadaan negerinya yang masih jauh dari sejahtera. Namun tak disangka beberapa pemrakarsa gerakan perubahan (mahasiswa dan tokoh-tokoh universitas) datang kepadanya untuk meminta dukungan dalam mewujudkan demokrasi di Burma, ini sekaligus penghormatan mereka terhadap ayah Suu Kyi yang dianggap pahlawan besar bangsa ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi fokus utama The Lady tidak hanya pada perjuangan politik Suu Kyi. Film ini justru berpakem pada hubungan Suu Kyi dan Michael Aris selama perjuangan Suu Kyi dari tahun 1988 ketika ia memulai aktivitas politiknya, hingga 1999 Aris meninggal karena kanker prostat. Menarik disimak bahwa bagaimana perjuangan Suu Kyi bisa menarik perhatian dunia adalah karena Aris. Mulai dari raihan hadiah Nobel 1991 hingga membawa isu ini ke Amerika serta PBB dilakukan Aris, bahkan Aris bersikeras agar Suu Kyi tidak menemani dirinya saat sakit di Inggris karena kalau Suu Kyi keluar dari Myanmar belum tentu ia diizinkan kembali lagi. That &lt;i&gt;is true love&lt;/i&gt;. Di tengah-tengah situasi yang mencekam, kasih sayang Suu Kyi dan Aris serta kedua putra mereka, Alexander (Jonathan Woodhouse) dan Kim (Jonathan Raggett) tetap terjalin erat, meskipun kali pertemuan mereka dalam satu dekade itu bisa dihitung dengan jari melewati dinamika politik dan sosial di Myanmar/Burma. Mereka percaya dan mengerti betul perjuangan Suu Kyi, bahkan mendukungnya dengan sepenuh hati. Mungkin inilah yang membuat Suu Kyi kuat dalam bertahan. Perjuangan agar setidaknya rakyat Burma dapat bebas memilih sendiri pemerintahannya tidak pernah surut, meskipun dihalang-halangi,&amp;nbsp;ditahan menggunakan hukum yang dibuat-buat,&amp;nbsp;dimanipulasi oleh pihak berkuasa—partainya jelas-jelas menang telak di pemilu 1990 tapi didiskualifikasi karena status dirinya tahanan, Suu Kyi justru makin tegar dalam perjuangannya yang berprinsip perlawanan tanpa kekerasan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan tema yang terdengar serius dan cukup beresiko (&lt;i&gt;I'm pretty sure&lt;/i&gt; film ini bakal di-&lt;i&gt;banned &lt;/i&gt;di Myanmar), The Lady rupanya hadir menjadi film biopik yang berhasil dalam berbagai segi, yang terutama adalah film ini tidak membosankan. Mungkin inilah yang menjadi &lt;i&gt;advantage&lt;/i&gt; dari sutradara Prancis, Luc Besson yang selama ini lebih dikenal dengan film-film aksinya (Leon/The Proffesional, The Fifth Element), ia menata berbagai &lt;i&gt;mood &lt;/i&gt;dengan lincah,&amp;nbsp;mulus&amp;nbsp;dan nggak buang-buang waktu,&amp;nbsp;dari yang tegang, mengharukan sampai yang lucu. Penggambarannya tentang junta militer juga cukup efektif, mulai dari Jenderal Ne Win (U Htut Lin) yang &lt;i&gt;supersticious&lt;/i&gt; dalam mengambil keputusan, sampai strategi cerdas membuat Suu Kyi "ditahan tapi nggak kenapa-kenapa", semacam sandera, mengingat besarnya dukungan rakyat kepadanya (kebalikan dengan para pengikut/simpatisan NLD yang dipenjarakan dengan tidak manusiawi).&amp;nbsp;Segi produksinya pun cukup meyakinkan dalam menggambarkan Burma pada masanya, budaya dan rakyatnya, seperti penampilan beberapa etnis minoritas, juga suasana kota Yangon dan Pagoda Besarnya di tengah-tengah (pastinya ini efek visual, 'kan syutingnya di Thailand). Namun yang jadi sorotan utama sudah pasti performa Michelle Yeoh yang mendapat &lt;i&gt;role of her lifetime&lt;/i&gt;. Dengan kemiripan di beberapa &lt;i&gt;angle &lt;/i&gt;wajah dengan Suu Kyi asli, Yeoh juga mampu memberi penampilan nyaris tanpa cela bahkan mencerminkan karisma seorang pemimpin sebagaimana Suu Kyi. Mungkin tidak bisa dibandingkan dengan Meryl Streep di &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/01/movie-iron-lady-2011.html"&gt;The Iron Lady&lt;/a&gt;...&lt;i&gt;well, at least &lt;/i&gt;The Lady&lt;i&gt; is a much better and less boring film &lt;/i&gt;=P.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain informatif, menghibur, dieksekusi rapi, juga menginspirasi, gw melihat &lt;i&gt;sense of admiration&lt;/i&gt; yang besar dari pembuat film ini terhadap Aung San Suu Kyi, dan cukup berhasil mengajak gw untuk merasakan hal yang sama, terlepas dari tidak semua peristiwa yang dialami Suu Kyi pada periode itu ditunjukkan seluruhnya. Dalam The Lady gw melihat impresi Suu Kyi yang lemah lembut dan berpendirian teguh. Sangat menginspirasi, meskipun jadinya kurang digali sisi kerapuhannya, semisal sifat tempramental yang disebut sendiri di dialognya tapi nggak ditunjukkan, &lt;i&gt;but I can tell she &lt;/i&gt;is&lt;i&gt; stubbron&lt;/i&gt; =D. Gw pun salut pada batasan fokus pada dekade pertama aktivitas politik Suu Kyi dan lebih khusus lagi sampai pada akhir hidup Michael Aris sang suami, karena sudah cukup mempresentasikan bagaimana sosok Suu Kyi, Aris, dan Myanmar/Burma pada masanya dengan baik (berita terbaru, tahun ini, akhirnya Suu Kyi dapat kursi di parlemen, &lt;i&gt;that's step 1&lt;/i&gt;), serta kaitan dan pengaruhnya satu sama lain dengan logis. Lebih salut lagi adalah semua itu terangkum dalam satu tema: cinta. Ketika cinta keluarga di tanah seberang sama besar dengan cinta terhadap tanah air. Gw yang dulu sebenarnya gak begitu tahu tentang Aung San Suu Kyi *malu*, akhirnya cukup mengerti mengapa sang Anggrek Baja ini dikagumi banyak orang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score &lt;b&gt;7,5&lt;/b&gt;/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-6615205227653939220?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/6615205227653939220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/movie-lady-2011.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/6615205227653939220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/6615205227653939220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/movie-lady-2011.html' title='[Movie] The Lady (2011)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-GoEMB_tgNZ0/T4Q9dE3MPHI/AAAAAAAABK0/a9pFFrtzjBA/s72-c/thelady.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-4072264092525273100</id><published>2012-04-09T03:25:00.002+07:00</published><updated>2012-04-09T03:30:28.558+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hollywood'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='US'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Titanic (1997)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-bTnvAH5pnEg/T3_OKj35jgI/AAAAAAAABJ4/E13P1fgIAFw/s1600/titanic3d.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://2.bp.blogspot.com/-bTnvAH5pnEg/T3_OKj35jgI/AAAAAAAABJ4/E13P1fgIAFw/s320/titanic3d.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Titanic&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(1997, 2012 re-release in 3D - 20th Century Fox/Paramount)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Written and Directed by James Cameron&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Jon Landau, James Cameron&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Leonardo DiCaprio, Kate Winslet,&amp;nbsp;Kathy Bates,&amp;nbsp;Gloria Stuart, Billy Zane, Frances Fisher, Bill Paxton, David Warner, Jonathan Hyde, Victor Garber, Bernard Hill, Danny Nucci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film Titanic membawa gw pada memori 14 tahun yang lalu, masih kelas 6 SD, saat itu sedang tinggal di Manila, Filipina. Gw tau ini film terkenal, &lt;i&gt;box office&lt;/i&gt;, dan (saat itu awal 1998) memenangkan banyak penghargaan, udah lebih dari 2 bulan ini film masih tayang aja di bioskop. Saat itu gw nggak nonton di bioskop karena penegakan &lt;i&gt;rating&lt;/i&gt;&amp;nbsp;di bioskop-bioskop Manila cukup tegas jadi gw yang belum berusia 13 tahun dipastikan gak boleh masuk. Tetapi saat itu lagi &lt;i&gt;booming&lt;/i&gt;-nya VCD bajakan (pinjem dari teman, bawaan dari Indonesia =D), jadi lewat media itulah gw nonton film ini pertama kali, sekaligus menandakan &lt;i&gt;first encounter&lt;/i&gt; gw dengan yang namanya VCD bajakan, hehe—&lt;i&gt;and yes&lt;/i&gt;, adegan lukisnya bukan versi sensoran =P. Rupanya beberapa bulan kemudian, Titanic semakin laris di hampir seluruh belahan dunia dan akhirnya mencapai&amp;nbsp;status sebagai film dengan penghasilan kotor nominal TERtinggi di dunia (hampir 2 milyar dolar &lt;i&gt;worlwide&lt;/i&gt;, di Amerika aja 600 jutaan dolar) selama sekitar 12 tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak sulit mengatakan bahwa Titanic adalah salah satu film paling terkenal di muka bumi, kesan awalnya saja sudah begitu epik dan bombastis.&amp;nbsp;Dana produksinya saat itu mencapai rekor termahal (200 juta dolar) untuk sebuah judul film.&amp;nbsp;Lagu temanya "My Heart Will Go On" yang dinyanyikan Celine Dion diputar secara (terlalu) &lt;i&gt;heavy rotation&lt;/i&gt; dimana-mana dan diingat oleh hampir semua orang sampe-sampe muncul versi Kenny G hingga &lt;i&gt;house music&lt;/i&gt;. Di-&lt;i&gt;boost&lt;/i&gt; lagi dengan raihan 11 Piala Oscar—termasuk&amp;nbsp;Best Picture dan Best Director, serta&amp;nbsp;menyapu bersih semua kategori teknis kecuali Make-Up—yang juga menular di ajang MTV Movie Awards (plus 4 Grammy buat lagunya itu), memperkuat kedigdayaan Titanic sebagai film komersial tersukses yang pernah ada dalam skala global. Dan kita belum bahas &lt;i&gt;home video&lt;/i&gt; dan penayangan di televisi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa sebab kesuksesan masiv dari film yang punya varian penyebutan mulai dari yang benar &lt;i&gt;tai-tæ-nik&lt;/i&gt;, sampai&amp;nbsp;&lt;i&gt;ti-ta-nik&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;tai-teu-nik&lt;/i&gt; ini? Apa sebab masa peredarannya di bioskop bisa sangat lama (di Amerika sampe 10 bulan)? Bagaimana bisa film film ini mengumpulkan pendapatan luar biasa padahal bukan sekuel atau adaptasi, tanpa 3D, dan bahkan bukan film semua umur? Apa yang bisa membuat orang banyak betah nonton film sepanjang 3 jam seperempat di bioskop, bahkan ada yang lebih dari satu kali? Terus terang seusai menyaksikannya gw nggak bisa bilang ini film terbagus yang pernah gw tonton.&amp;nbsp;Tetapi setiap kali gw meninjau kembali film ini lewat DVD (yang resmi duong *sok*), gw akui, komplain gw terhadap Titanic sangatlah sedikit. &lt;i&gt;It's a great production and an enjoyable film&lt;/i&gt;. Palingan cuma bagian tragedi cinta membara muda-mudi beda kasta yang sangat telenovela yang bagi gw bukan bagian terbaik dari film ini—yang juga tampaknya jadi alasan sebagian pecinta film agak risih untuk sama sekali suka film ini, &lt;i&gt;we call it 'denial'&lt;/i&gt; =D. Nggak ada yang salah sih dengan kisah dan intrik ala telenovela/opera sabun asalkan dieksekusi dengan baik dan nggak serba menyusahkan atau menggampangkan. Tambahkan &lt;i&gt;potrayal&lt;/i&gt; tentang sosial-budaya serta &lt;i&gt;thrill &lt;/i&gt;malapetaka dibalut efek visual efektif, izinkan gw menyatakan bahwasanya sesungguhnya Titanic adalah opera sabun yang bagus banget =D.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gw baru-baru ini menyaksikan rilis ulang film Titanic,&amp;nbsp;kali ini dengan tambahan konversi 3-dimensi,&amp;nbsp;dalam rangka memperingati 100 tahun sejak tenggelamnya RMS Titanic (tepatnya 14 April 1912), kapal pesiar termegah dan terbesar yang pernah dibuat saat itu namun langsung tenggelam di pelayaran perdananya. Terlepas dari efek 3D-nya yang nggak tridi-tridi amat (&lt;i&gt;one does not simply convert films into a fine 3D&lt;/i&gt; =P), inilah kesempatan gw untuk akhirnya nonton Titanic di bioskop. Nggak sepecicilan George Lucas, James Cameron konon tidak mengubah apa-apa dari film aslinya untuk versi ini. Baguslah, toh filmnya juga sudah &lt;i&gt;fine&lt;/i&gt; sebagaimana adanya. Titanic adalah sebuah teladan bagaimana &lt;i&gt;filmmaker&lt;/i&gt; mengerahkan segala ilmu yang mereka punya dalam berbagai aspek lalu menatanya menjadi sebuah tontonan yang apik dan berkesan. Ketelitian sejarah tentang Titanic dan segenap isinya yang ditunjukkan melalui kemegahan tata artistik+kostum dan efek visualnya—ketika animasi CGI belum "menggila" di Hollywood—adalah buktinya. Bagaimana proses tenggelamnya kapal yang bersesumbar &lt;i&gt;unsinkable&lt;/i&gt; ini dipaparkan dengan jelas sebagaimana baiknya film berlatar sejarah, dan dengan dramatis sebagaimana harusnya sebuah film tentang bencana. Meski dengan efek visual yang sedikit &lt;i&gt;outdated&lt;/i&gt;, namun ditonton sekarang pun belum terlihat konyol, masih oke banget. Yang jelas terlihat adalah dana muahal yang dianggarkan tidak habis dengan sia-sia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu hal yang gw baru ngeh seusai nonton barusan ini, adalah cara Cameron mempersembahkan film ini menjadi tontonan semua orang. Informasi soal peristiwa tenggelamnya Titanic&lt;span style="text-align: justify;"&gt;—yang btw katanya cukup mendekati data dan fakta penelitian&lt;/span&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;—disampaikan dengan sedemikian rupa sehingga&amp;nbsp;&lt;/span&gt;bisa dengan mudah diterima penonton yang nggak semuanya tau dan peduli soal sejarah, dengan cara menuturkan sebuah kisah fiksi penumpangnya, dalam hal ini lewat narasi oma Rose (Gloria Stuart) yang ceritanya salah satu penumpang yang selamat dari tragedi itu. Cara ini sangat efektif karena membuat penonton tetap memberi perhatian terhadap kisah dan sejarahnya dengan rasa, bukan sekedar tau saja. Lebih salut lagi adalah bisa-bisanya Cameron membuat ratusan adegan yang ada di dalam film ini menjadi momen-momen yang mudah diingat—ow adegan Rose (Kate Winslet) dan Jack (Leonardo DiCaprio) di ujung haluan kapal dengan "I'm flying"-nya hanya salah satu saja—dan masih mengasyikan ketika disaksikan lagi. Film ini sukses meleburkan peristiwa sejarah dengan romansa 2 anak manusia (dan pihak-pihak yang merintangi cinta mereka *tsaaah) lengkap dengan sisipan eksaminasi sosial dan keangkuhan manusia. Bukan cuma mengandalkan teknologi sinema tercanggih lalu kasih lihat "nih kapalnya tenggelem", tetapi menggunakan pendekatan manusiawi dalam bercerita, membuat seakan penontonnya merasakan apa yang para korban Titanic rasakan langsung secara emosional.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin itulah kunci sukses luar biasa Titanic, film yang dikemas apik untuk mata dan pikiran serta menyentuh hati, yang ditata dengan sangat efektif sehingga meninggalkan kesan dan dampak yang tidak mudah berlalu. Gw baru nonton sekitar kurang lebih 4 kali dan meski nggak menganggapnya sebagai favorit, gw belum bisa menemukan alasan untuk membenci film ini. &lt;i&gt;Well okay&lt;/i&gt;, lantunan nada "My Heart Will Go On" mungkin sudah lumayan bikin muak dan menggila sekalipun lagunya memang indah (&lt;i&gt;yes, I &lt;/i&gt;do&lt;i&gt; think so&lt;/i&gt;). Tetapi, menyaksikan film selama 3 jam lebih plus memakai kacamata 3D demi efek 3D yang gak terlalu ngaruh seharusnya bukan masalah kalau filmnya sudah berhasil "menenggelamkan" kita dengan sendirinya—ini sebabnya gw membahas 'Titanic' bukannya 'Titanic in 3D' =). Titanic tetaplah Titanic, sebuah karya sinema yang selalu punya tempat di ingatan dan hati banyak orang termasuk gw, dan memang pantas demikian.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;8&lt;/b&gt;/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-4072264092525273100?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/4072264092525273100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/movie-titanic-1997.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/4072264092525273100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/4072264092525273100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/movie-titanic-1997.html' title='[Movie] Titanic (1997)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-bTnvAH5pnEg/T3_OKj35jgI/AAAAAAAABJ4/E13P1fgIAFw/s72-c/titanic3d.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-2053257501455263973</id><published>2012-04-02T02:15:00.002+07:00</published><updated>2012-04-02T14:33:39.122+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='album'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asian kung-fu generation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='music'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='japan'/><title type='text'>[Album] ASIAN KUNG-FU GENERATION - BEST HIT AKG</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-wvFkJlCLwEE/T2gFqHOEwkI/AAAAAAAABGA/Mi1kK2gsrmM/s1600/BEST_HIT_AKG_.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="250" src="http://4.bp.blogspot.com/-wvFkJlCLwEE/T2gFqHOEwkI/AAAAAAAABGA/Mi1kK2gsrmM/s320/BEST_HIT_AKG_.jpg" width="255" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;ASIAN KUNG-FU GENERATION - BEST HIT AKG&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - Ki/oon Records / Sony Music Japan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Tracklist:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;1. 遥か彼方 &lt;i&gt;(Haruka Kanata)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;2. 未来の破片 &lt;i&gt;(Mirai no Kakera)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;3. アンダースタンド &lt;i&gt;(Understand)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;4. 君という花 &lt;i&gt;(Kimi to iu Hana)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;5. リライト &lt;i&gt;(Rewrite)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;6. 君の街まで &lt;i&gt;(Kimi no Machi made)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;7. ループ&amp;amp;ループ&lt;i&gt; (Loop&amp;amp;Loop)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;8. ブラックアウト &lt;i&gt;(Blackout)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;9. ブルートレイン&lt;i&gt; (Blue Train)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;10. 或る街の群青 &lt;i&gt;(Aru Machi no Gunjou)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;11. アフターダーク &lt;i&gt;(After Dark)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;12. 転がる岩、君に朝が降る &lt;i&gt;(Korogaru Iwa, Kimi ni Asa ga Furu)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;13. ムスタング &lt;i&gt;(Mustang)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;14. 藤沢ルーザー &lt;i&gt;(Fujisawa Loser)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;15. 新世紀のラブソング &lt;i&gt;(Shinseiki no Love Song)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;16. ソラニン &lt;i&gt;(Solanin)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;17. マーチングバンド &lt;i&gt;(Marching Band)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya, sebagai seorang penggemar ASIAN KUNG-FU GENERATION, turut berbangga bahwa mereka menandai 15 tahun terbentuknya band ini dengan menelurkan sebuah album "best-of" yang bertajuk BEST HIT AKG, Januari lalu. Gw pernah singgung sebelumnya bahwa artis Jepang cukup saklek dalam mendefinisikan album kompilasi mereka. Kalau ada kata-kata "complete" atau "single"&amp;nbsp;berarti isinya adalah semua lagu dari artis yang bersangkutan yang telah dirilis dalam bentuk &lt;i&gt;single&lt;/i&gt;. Penekanan pada kata "semua", dan biasanya emang lagu-lagu yang non-&lt;i&gt;single&lt;/i&gt;/cuman ada di album nggak termasuk. Nah kalau kata "best" saja, biasanya lagu-lagunya hasil seleksi, entah itu dari tema (yang paling sering tema cinta, kolaborasi, atau &lt;i&gt;cover version&lt;/i&gt;) ataupun pilihan pribadi dari si artis sendiri...yang berarti tidak selalu selaras dengan selera/pilihan penggemar. BEST HIT AKG ini jenis yang kedua, dan konon disusun berdasarkan pilihan Kensuke Kita (gitar), Takahiro Yamada (bass) dan Kiyoshi Ichiji (drum)...yup, si vokalis/gitaris Masafumi Gotoh tidak turut andil, mungkin karena pilihan doi kurang komersil, hehe (malah di blognya dia pernah bikin &lt;i&gt;tracklist&lt;/i&gt; &lt;a href="http://6109.jp/akg_gotch/?year=20120105"&gt;"Unofficial Best "IMO""&lt;/a&gt; versi dia sendiri yang emang dikit aja yang benar-benar komersil =D).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Biasanya juga, gw akan komplain pada album "best-of" yang kurang banyak atau lengkap isinya (terutama artis-artis Indonesia). Tapi untuk kali ini ada pengecualian, selain karena &lt;i&gt;biased judgment&lt;/i&gt; =P, juga karena lagu-lagu di BEST HIT AKG tidaklah sedikit. Ada 17 &lt;i&gt;track&lt;/i&gt;—termasuk 1 lagu baru—yang mewakili karir band &lt;i&gt;alternative pop-rock&lt;/i&gt; ini khususnya setelah masuk &lt;i&gt;major-label&lt;/i&gt; yang memang cukup layak dibilang "best", yaitu yang punya tingkat kepopuleran cukup signifikan, termasuk yang non-&lt;i&gt;single&lt;/i&gt; seperti "Understand" yang bahkan nggak dijadikan lagu promo (nggak ada video klip). Juga harus diakui beberapa &lt;i&gt;single&lt;/i&gt; AKG selama ini ada yang kurang &lt;i&gt;appealing&lt;/i&gt; dan akhirnya nggak dimasukkan dalam album ini, di antaranya "World Apart" dan salah satu yang terbaru "Maigo Ino to Ame no Beat", bahkan "Siren" pun terpaksa ditinggal. Sisanya adalah yang ada di album ini, yang menurut gw sih memang lebih populer, lebih menjual, juga lebih mewakili perjalanan dan pertumbuhan musik AKG hingga sekarang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyusunan &lt;i&gt;track&lt;/i&gt; di album ini sesuai dengan urutan waktu rilisnya DAN urutannya dalam album yang memuatnya (contoh yang paling jelas adalah "Rewrite", "Kimi no Machi Made", "Loop&amp;amp;Loop" yang secara tanggal rilis &lt;i&gt;single&lt;/i&gt; harusnya "Loop&amp;amp;Loop" duluan, tapi di album Sol-Fa &lt;i&gt;track&lt;/i&gt; ini memang paling bontot)...kecuali untuk "Aru Machi no Gunjou" yang ditaruh sebelum lagu-lagu dari album World World World ("After Dark", "Korogaru Iwa, Kimi ni Asa ga Furu") mungkin karena &lt;i&gt;single&lt;/i&gt;-nya emang rilis jauuuh sebelum albumnya *sotoy*. Cara penyusunan ini juga jadi semacam gambaran singkat bagaimana evolusi musik AKG selama hampir sepuluh tahun di &lt;i&gt;major-label&lt;/i&gt;, yang juga berarti cukup &lt;i&gt;beneficial&lt;/i&gt; buat yang baru dengar atau pendengar non-penggemar AKG.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lewat 17 lagu yang ada di album ini, kita bisa dengar AKG ketika masih &lt;i&gt;raw&lt;/i&gt; dalam &lt;i&gt;track &lt;/i&gt;pertama "Haruka Kanata"—yang ngehit karena jadi &lt;i&gt;opening theme&lt;/i&gt; kedua untuk anime Naruto, demikian juga "Mirai no Kakera" dan "Understand" yang bisa bikin jingkrak-jingkrak. Lalu kita bertemu pada fase "paling pop" lewat &lt;i&gt;track&lt;/i&gt; "Kimi to Iu Hana", "Rewrite"—yang juga ngehit karena jadi &lt;i&gt;opening theme&lt;/i&gt; kedua untuk anime Fullmetal Alchemist, "Kimi no Machi Made" dan "Loop&amp;amp;Loop", yang dengan irama menghentak dan melodi &lt;i&gt;catchy&lt;/i&gt; mewakili saat-saat puncak kepopuleran band ini. Beranjak ke masa-masa mereka mulai bereksperimen di lagu "Blackout" dan "Blue Train", distorsi yang lebih jinak di "Aru Machi no Gunjou"—&lt;i&gt;theme song&lt;/i&gt; film anime &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2009/02/movie-tekkon-kinkreet-2006.html"&gt;Tekkon Kinkreet&lt;/a&gt;—dan "After Dark"—&lt;i&gt;opening theme&lt;/i&gt; ke-7 anime Bleach, mulai kalem di "Korogaru Iwa, Kimi ni Asa ga Furu", balik lagi dengan &lt;i&gt;sound&lt;/i&gt; yang lebih kompleks di "Mustang", dilanjutkan dalam &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2009/01/album-asian-kung-fu-generation-surf.html"&gt;masa retrospektif mereka&lt;/a&gt; pada gaya mereka di album-album awal yang penuh distorsi lepas namun kini lebih rapi dalam "Fujisawa Loser". Kemudian album diteruskan dalam lagu AKG paling eksperimental &lt;i&gt;so far&lt;/i&gt; "Shinseiki no Love Song", yang meskipun gayanya jauh banget dari AKG yang biasa dikenal, namun ternyata cukup digemari. Akhirnya, diselingi &lt;i&gt;track&lt;/i&gt; "Solanin" yang jadi &lt;i&gt;theme song&lt;/i&gt; film berjudul sama (liriknya bukan buatan AKG tapi dari pengarang &lt;i&gt;manga&lt;/i&gt; yang jadi dasar filmnya), album ini ditutup dengan &lt;i&gt;single&lt;/i&gt; baru "Marching Band" yang, menurut gw sih, masih menyisakan kecenderungan terkini AKG untuk mencoba nuansa baru dalam musiknya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah gw terpuaskan dengan pilihan lagu di album BEST HIT AKG ini? Cukup puaslah. Kalo mau puas banget ya harusnya isinya kayak &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/01/my-top-20-asian-kung-fu-generation.html"&gt;postingan 20 lagu AKG favorit gw&lt;/a&gt; tempo hari&amp;nbsp;*&lt;i&gt;selfish fan&lt;/i&gt;*, &lt;i&gt;which is of course impossible&lt;/i&gt;. Namun, setidaknya ada 11 lagu AKG kesukaan gw hadir di sini. Gw suka hasil penyusunannya yang rapih dan seimbang antara pertimbangan popularitas, komersialitas (dengan kata lain menurut pendapat labelnya) dan &lt;i&gt;preference&lt;/i&gt; si artisnya. Gw cukup menikmati aliran &lt;i&gt;track&lt;/i&gt; demi &lt;i&gt;track&lt;/i&gt; yang nyatanya tidak membosankan, ya karena dinamika dan pergeseran gaya bermusik AKG yang semakin mengkalem itu. Pun mendengarkan album ini seolah menggambarkan bagaimana gw merespon karya-karya mereka selama ini, bahwa makin kemari karya AKG cenderung menjauh dari kesan "komersil" dan agak sulit dinikmati kalo nggak "meracuni diri sendiri" alias mendengarkannya berulang kali. Gw jelas lebih mudah suka sama "Loop&amp;amp;Loop" daripada "Shinseiki no Love Song", apalagi jika dilihat kontrasnya "Haruka Kanata" yang&amp;nbsp;&lt;i&gt;rockin'&amp;nbsp;&lt;/i&gt;dan telanjur familiar, dengan "Marching Band" yang bergitar melodik dengan hentakan drum yang (&lt;i&gt;up-beat&lt;/i&gt; sih tapi) lebih kalem dan &lt;i&gt;chorus&lt;/i&gt;nya kayak nggak mulai-mulai—tetapi sebagai penggemar, pada akhirnya gw pasti suka kok =).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir kata, BEST HIT AKG adalah album kompilasi yang &lt;i&gt;well-presented&lt;/i&gt;, tidak kumplit namun sangat representatif. Sangat direkomendasikan bagi yang baru kenal AKG, dan di saat yang sama cukup &lt;i&gt;enjoyable &lt;/i&gt;bagi penggemar seperti gw. Pastinya juga, album ini hanya penanda cukup lamanya mereka menancapkan eksistensi di blantika musik Jepang, jadi patut ditunggu karya mereka selanjutnya. &lt;i&gt;It's not over yet, but thank you for the music&lt;/i&gt;, Ajikan =)).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;7,5&lt;/b&gt;/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_RtNldSfslA/T2gFyKgneoI/AAAAAAAABGI/7F8P14siyYo/s1600/photo31.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-_RtNldSfslA/T2gFyKgneoI/AAAAAAAABGI/7F8P14siyYo/s320/photo31.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;ASIAN KUNG-FU GENERATION&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Previews &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Haruka Kanata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed height="33" src="http://www.xiami.com/widget/0_1770762614/singlePlayer.swf" type="application/x-shockwave-flash" width="257" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Understand&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed height="33" src="http://www.xiami.com/widget/0_1770762616/singlePlayer.swf" type="application/x-shockwave-flash" width="257" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Rewrite&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed height="33" src="http://www.xiami.com/widget/0_1770762618/singlePlayer.swf" type="application/x-shockwave-flash" width="257" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Loop&amp;amp;Loop&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed height="33" src="http://www.xiami.com/widget/0_1770762620/singlePlayer.swf" type="application/x-shockwave-flash" width="257" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Aru Machi no Gunjou&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed height="33" src="http://www.xiami.com/widget/0_1770762623/singlePlayer.swf" type="application/x-shockwave-flash" width="257" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Mustang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed height="33" src="http://www.xiami.com/widget/0_1770762626/singlePlayer.swf" type="application/x-shockwave-flash" width="257" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Shinseiki no Love Song&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed height="33" src="http://www.xiami.com/widget/0_1770762628/singlePlayer.swf" type="application/x-shockwave-flash" width="257" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Solanin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed height="33" src="http://www.xiami.com/widget/0_1770762629/singlePlayer.swf" type="application/x-shockwave-flash" width="257" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Marching Band&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed height="33" src="http://www.xiami.com/widget/0_1770762630/singlePlayer.swf" type="application/x-shockwave-flash" width="257" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-2053257501455263973?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/2053257501455263973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/album-asian-kung-fu-generation-best-hit.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/2053257501455263973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/2053257501455263973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/04/album-asian-kung-fu-generation-best-hit.html' title='[Album] ASIAN KUNG-FU GENERATION - BEST HIT AKG'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-wvFkJlCLwEE/T2gFqHOEwkI/AAAAAAAABGA/Mi1kK2gsrmM/s72-c/BEST_HIT_AKG_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-5653292553052761089</id><published>2012-03-28T21:03:00.001+07:00</published><updated>2012-03-28T21:07:55.447+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Roro Mendut (1982)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://4.bp.blogspot.com/-epMFrG-eBr4/T3KbT7DFQRI/AAAAAAAABIE/0xhLNteL4nU/s320/roromendurt.jpg" width="180" /&gt;&lt;span id="goog_1434296331"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_1434296332"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Roro Mendut&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(1982 - PT. Gramedia Film, PT. Sanggar Film, PT. Elang Perkasa Film)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Ami Prijono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Screenplay by Tim Produksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Hatoek Soebroto, J. Adisubrata, Tirto Yuwono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: W.D. Mochtar, Meriam Bellina, Mathias Muchus, Sunarti Rendra, Sofia W.D., Clara Sinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam alam angan-angan gw, gw ini adalah seorang &lt;i&gt;filmmaker&lt;/i&gt; yang ingin mengangkat kisah-kisah berlatar tanah Jawa masa lampau ke dalam layar sinema modern bernilai produksi tinggi dan serius, &lt;i&gt;unlike the current &amp;nbsp;TV drama&amp;nbsp;non-sense&amp;nbsp;adaptations&lt;/i&gt; =P. Salah satu yang ingin gw bikin adalah berdasdarkan sebuah novel berjudul "Rara Mendut" karya Y.B. Mangunwijaya a.k.a. Romo Mangun, hanya karena premisnya menarik dan sampul cetakan terbarunya cakep...dan gw bahkan sampe sekarang belum baca isinya, haha. Baiklah, angan-angan itu mungkin masih jauh jika melihat sekarang gw masih dalam status &lt;i&gt;totally unskilled, unnetworked, and penniless&lt;/i&gt;—namun&amp;nbsp;dengan semangat Agnes Monica&amp;nbsp;aku takkan menyerah =). Sekitar bulan lalu, gw baru tau bahwa kisah "Rara Mendut" ini sudah pernah difilmkan pada tahun 1982 dengan bintang Meriam Bellina dengan judul Roro Mendut ("a" diucapkan "o", &lt;i&gt;Javanese thing&lt;/i&gt;)...dan dalam suatu rencana kosmik, beberapa minggu kemudian gw menemukan Dewan Kesenian Jakarta dan &lt;a href="http://kineforum.org/web/"&gt;Kineforum&lt;/a&gt;&amp;nbsp;memasukkan film Roro Mendut sebagai salah satu film yang diputar dalam gelaran tahunan Bulan Film Nasional 2012: Sejarah adalah Sekarang 6. Wah, pertanda apa ini =D. Akhirnya dengan niatan dan penasaran gw datang untuk nonton, sekaligus pertama kalinya gw menyambangi &lt;i&gt;event&lt;/i&gt; BFN ini. Kapan lagi bisa nonton film lama Indonesia di bioskop.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rara Mendut aslinya adalah sebuah kisah dalam naskah Jawa kuno yang berkembang jadi cerita rakyat (&lt;i&gt;as per&lt;/i&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rara_Mendut"&gt;wikipedia&lt;/a&gt;, &lt;i&gt;what else&lt;/i&gt; =P), lalu dibuatkan dalam versi roman naratif berbahasa Indonesia oleh Romo Mangun yang dipublikasikan secara bersambung di harian Kompas tahun dari 1982 hingga 1987. Film Roro Mendut sendiri diproduksi tahun 1982, jadi sebenarnya gw agak ragu mengatakan bahwa film ini berdasarkan prosanya Romo Mangun, bahkan di film ini sendiri tidak ada kredit "berdasarkan" (&lt;i&gt;not like it really matters back then&lt;/i&gt;, penulis naskahnya aja cuman tercantum "Tim Produksi"), akan tetapi karena diproduksi oleh Gramedia (yang—kemungkinan—punya hak publikasi naskah "Rara Mendut"-nya Romo Mangun. Kompas sama Gramedia itu sekeluarga ya, &lt;i&gt;fyi&lt;/i&gt;) jadi kurang lebih pasti ada kaitannya lah, &lt;i&gt;who knows&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada zaman kesultanan Mataram (sekarang Jawa bagian tengah) pada masa kekuasaan Sultan Agung, Tumenggung (kepala daerah) Wiraguna (W.D. Mochtar) berhasil menaklukan wilayah Pati (di pantai utara Jawa) dan merampas harta benda sekaligus perempuan-perempuannya, di antaranya adalah Roro Mendut (Meriam Bellina) yang sangat cantik jelita. Karena jasanya itu, Wiraguna dihadiahi Roro Mendut oleh Sultan, sehingga Mendut dibawa dan dipersiapkan sebagai selir Wiraguna di kediamannya. Namun, Mendut bukanlah wanita yang menurut begitu saja (katanya sih pembawaan "perempuan pesisir" yang "liar" =D), ia gemar melawan aturan dan terang-terangan menolak dijadikan selir. Sikapnya yang tidak seperti wanita (di Mataram) kebanyakan malah membuat Wiraguna tambah tertarik. &lt;i&gt;Fine&lt;/i&gt;, kalau nggak mau "disinggahi", Mendut harus bayar pajak harian. Mendut rupanya tak kehabisan akal. Selepas pertama kali tampil menari di pendopo kediaman Wiraguna, Mendut memang sudah mengundang minat orang banyak akan kecantikannya. Mendut memanfaatkan itu untuk mendapatkan uang: ia menjual rokok bekas hisapannya di pasar. Wiraguna berusaha meluluhkan usaha Mendut dengan menaikkan pajak, namun Mendut selalu berhasil memenuhinya. Hingga suatu ketika Mendut bertemu dengan pemuda asal Pekalongan, Pronocitro (Mathias Muchus) dan mereka saling jatuh cinta, keduanya lalu merencanakan untuk melarikan diri dari daerah kekuasaan Wiraguna meski sangat besar risikonya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Roro Mendut ini terlihat sesuai "umur"-nya, dari penuturan, tata adegan, pengambilan gambar, ritme, &lt;i&gt;editing&lt;/i&gt;, hingga akting. Film ini berjalan sebagaimana kita biasa menikmati sebuah visualisasi cerita rakyat cara &lt;i&gt;oldies&lt;/i&gt; banget: ada narator untuk menjelaskan latar belakang dan konklusi akhir, aktingnya yang tampak teatrikal, adegan perang dan pertarungan yang terlalu hati-hati, adegan intim yang malu-malu buat syarat aja (haha),&amp;nbsp;&lt;i&gt;jokes&lt;/i&gt;-nya, juga di pengisian suara yamg suka nambah-nambah dialog yang nggak ada pas syuting, dan gw yakin yang ngisi suara Meriam Bellina bukan beliau sendiri. Kalau ini terjadi pada film produksi baru, mungkin gw akan murka. Tetapi keklasikan gaya itu begitu termaafkan untuk kasus Roro Mendut ini sehingga tak menghalangi gw menikmatinya. Roro Mendut jelas merupakan film yang digarap dengan sangat baik secara produksi. Desain produksinya yang terlihat otentik dan lengkap&lt;span style="text-align: justify;"&gt;—entah lokasi yang udah jadi atau emang set untuk film doang, tapi bangunannya dari batu bata dan kayu betulan dengan warna yang benar, bukan pake gabus/triplek dengan pewarna murahan. Segi aktingnya meski terlalu teatrikal tetapi tampil dengan penjiwaan luar biasa, dari W.D. Mochtar dan Meriam Bellina sebagai tokoh sentral, lalu ada Sunarti Rendra a.k.a. Sunarti Soewandi sebagai Nyi Ajeng, istri utama Wiraguna yang berperangai tenang dan tegas namun misterius, Mathias Muchus mungkin masih oke-oke saja, &lt;i&gt;but even the extras acted wonderfully&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Naskahnya tampil dengan penceritaan yang kuat dan utuh berikut pula karakterisasi yang teliti, dialognya pun disusun menarik kadang menggelitik, seperti yang paling gw inget adalah ketika Mendut rencananya disuruh datang ke kamar Wiraguna tapi nggak dateng-dateng juga, Nyi Ajeng berujar kira-kira "'Hidangan' masih panas. Kalau terlalu panas rasanya tidak nikmat" *juara!*.&amp;nbsp;Gw juga suka sekali dengan ketelitian yang terkesan remeh tetapi menarik, seperti perbedaan budaya "gunung" dan "pantai" yang tercermin dari sikap dan perilaku perempuannya, selir-selir Wiraguna yang dari berbagai adat, peran ajudan, dayang dan kasim yang menyertai Wiraguna dan Nyi Ajeng, lalu perkembangan ceritanya yang memang tidak sekedar cinta segitiga nan melankolis tetapi menyangkut juga dengan kehormatan tahta Wiraguna dan kesultanan Mataram vs rakyat "jajahan"-nya, karena eksekusi melarikan Mendut oleh Pronocitro memang mengandung unsur pengkhianatan dan &lt;i&gt;blasphemy&lt;/i&gt;, terlepas dari keberpihakan penonton terhadap Mendut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya banyak sekali yang dapat diekstrak dari kisahnya sendiri. Salah satunya adalah perlawanan atas adat yang merepresi hak perempuan, yaitu sikap Mendut yang menolak keras dirinya dijadikan selir Wiraguna yang selain tuwek, juga mewakili pihak yang menindas tempat asalnya. Di sisi lain kisahnya memperlihatkan bahwa ada titik di mana perempuan berkuasa atas laki-laki yang dimanfaatkan dengan baik oleh Mendut, yaitu nafsu birahi. Kita sekarang bisa punya lebih banyak kesempatan memperoleh "&lt;i&gt;a piece of our idols&lt;/i&gt;" seperti foto, poster, kliping artikel *jadul*, rekaman video, tanda tangan atau &lt;i&gt;merchandise&lt;/i&gt;, bahkan akun twitter, facebook serta BlackBerry messenger (&lt;i&gt;you stalkers&lt;/i&gt;! =P) demi memuaskan rasa kekaguman dan memenuhi hasrat kita untuk lebih intim dengan sang idola.&amp;nbsp;Jelas, zaman dahulu nggak ada TV atau radio, film atau gambar potret.&amp;nbsp;Kesempatan khalayak untuk memiliki "idola" adalah pada malam hiburan di kediaman resmi Tumenggung yang mungkin hanya beberapa kali, pada momen ini pula Mendut dikenal dan dikagumi. Lalu Mendut menawarkan "&lt;i&gt;a piece of her&lt;/i&gt;", nggak tanggung-tanggung yaitu saliva dari mulutnya sendiri, untuk dinikmati pengagumnya yang bahkan rela merogoh kocek sangat dalam. &lt;i&gt;S&lt;/i&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;ounds silly&lt;/i&gt; tetapi kalo kemarin lihat fans Justin Bieber nangis-nangis hampir rusuh di Bandara? &lt;i&gt;Yeah, silly but true&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;. Mendut memang "menjual diri" namun bukan kehormatannya. Detil lain yang gw lihat antara lain kontras tarian keraton yang syahdu dengan goyang "pesisir" oleh Mendut yang lebih rancak, atau yang cukup menggelitik karena mencerminkan masyarakat (Indonesia) sekarang adalah "aji mumpung" dari orang-orang di pasar atas kesuksesan kios rokok Mendut, dari tukang gadai hingga cewek-cewek yang coba ikut-ikutan jualan rokok bekas hisapannya. Selalu akan ada KW untuk segala sesuatu ya =D.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;So guys&lt;/i&gt;, kalau ada kesempatan, tontonlah Roro Mendut ini. &lt;i&gt;This is a&amp;nbsp;fine Indonesian film&lt;/i&gt;. Sebuah film yang digarap serius,&lt;i&gt; production value&lt;/i&gt; kelas tinggi, cerita yang mudah dipahami yang diselipkan sedikit nilai filosofi, sosial dan budaya, dengan hasil yang memuaskan serta menghibur terlepas dari beberapa cacat klasik di sana-sini, yang sesungguhnya mudah terabaikan karena intensitas narasinya. Atau mungkin tunggu &lt;i&gt;remake&lt;/i&gt;-nya buatan gw kelak *Amin aja deh* =).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;8&lt;/b&gt;/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar poster diambil dari &lt;a href="http://www.indonesianfilmcenter.com/pages/filminfo/movie.php?uid=7f73af644428&amp;amp;title=Roro%20Mendut"&gt;Indonesian Film Center&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-5653292553052761089?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/5653292553052761089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-roro-mendut-1982.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/5653292553052761089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/5653292553052761089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-roro-mendut-1982.html' title='[Movie] Roro Mendut (1982)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-epMFrG-eBr4/T3KbT7DFQRI/AAAAAAAABIE/0xhLNteL4nU/s72-c/roromendurt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-3221464790721601926</id><published>2012-03-24T22:47:00.000+07:00</published><updated>2012-03-24T22:47:15.891+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] The Raid (2012)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Zu9URHBr5MY/T2xDHkEXtlI/AAAAAAAABHE/nA5fO8moGps/s1600/theraid.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://4.bp.blogspot.com/-Zu9URHBr5MY/T2xDHkEXtlI/AAAAAAAABHE/nA5fO8moGps/s320/theraid.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;The Raid&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - PT. Merantau Films/XYZ Films/Celluloid Nightmares)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Written and Directed by Gareth Huw Evans&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Ario Sagantoro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Iko Uwais, Ray Sahetapy, Donny Alamsyah, Joe Taslim, Pierre Gruno, Yayan Ruhian, Iang Darmawan, Tegar Satrya, Eka Rahmadia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kabar mengenai The Raid—yang saat itu judulnya masih Serbuan Maut—mulai santer sejak caturwulan akhir tahun 2011, ketika film ini pertama kali diputar untuk umum di festival film internasional Toronto (itu di Kanada, kali aja ada yang nggak tau) bahkan mendapatkan penghargaan People's Choice Award (artinya paling difavoritkan pengunjung festival, kali aja ada yang baru tau =P)&amp;nbsp;dalam kategori laga/horor/fantasi yang disebut Midnight Madness. Di saat hampir bersamaan film ini dipungut Sony Pictures Classics untuk diedarkan di bioskop Amerika Utara (itu maksudnya Amerika Serikat dan Kanada, kali aja ada yang *plaakkk*). Bahkan pengulas-pengulas film internasional pun mengaminkan bahwa The Raid sebagai film yang istimewa, sampe-sampe pada mendaulatnya sebagai "&lt;i&gt;best action film in recent years&lt;/i&gt;" dan semacamnya. Bangga? Jelas, karena lewat film ini setidaknya nama Indonesia akan sering disebut dan terbaca oleh warga dunia untuk hal yang keren: film laga.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi, reaksi masyarakat Indonesia terhadap berita ini haruslah bijaksana, dalam artian jangan mengharapkan yang "iya-iya" dulu terhadap prestasi film ini. Kita tidak sedang membicarakan film yang—sebagaimana standar&amp;nbsp;"bagus"-nya&amp;nbsp;pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP—punya daya bercerita yang kuat, mengandung unsur keindonesiaan serta pesan moral yang dapat diambil oleh penontonnya *hmpft*. Kita sedang membahas film yang udah dari sononya diniatkan dan dimaksudkan sebagai film hiburan. Kalau boleh soteyu nih, The Raid adalah murni film aksi brutal yang menggabungkan adegan pencak silat dan tembak-tembakan. Tapi, supaya bisa dijadikan sebuah film, deretan adegan aksi itu juga perlu cerita lah. Nggak perlu cerita berat dan rumit, ringan saja juga gak masalah asalkan masih logis dan nyambung dari awal sampe akhir, &lt;i&gt;just as an "excuse"&lt;/i&gt;, supaya adegan-adegan laga itu tetap beralasan, nggak tiba-tiba muncul aja. &lt;i&gt;Yup&lt;/i&gt;, The Raid memang film semacam itu. Misi utamanya adalah menghadirkan adegan demi adegan kelahi yang dapat menggedor &lt;i&gt;excitement&lt;/i&gt; dan mendobrak mulut penonton dengan seruan semacam "aw!" "wuss!" "issh" atau "anjrot!". Perihal ini, The Raid berhasil dengan gilang gemilang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oke, karena sebuah ulasan harus menyertakan film ini tentang apa, maka akan gw sampaikan. Sebuah pasukan khusus kepolisian—semacam Densus—mengadakan operasi penggerebekan rahasia ke sarang gembong narkoba di sebuah rumah susun kumuh, dengan target utamanya Tama (Ray Sahetapy), yang saking berkuasanya di gedung itu punya banyak anak buah sangar bersenjata yang siap merintangi para polisi, lantai demi lantai. Dan...yah, intinya sih begitu. Nggak deing ;), ada lah perkembangan cerita di sana-sini, tapi ya udahlah, 'kan yang dicari adegan-adegan baku hantam berdarahnya. Gw nggak perlu kasih tau secara detil, tonton aja langsung, karena cerita sederhananya itu sudah sangat mudah dipahami tanpa harus dijelaskan lagi lewat ulasan atau kritik film.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;What I'm saying is&lt;/i&gt;, salah banget kalau pergi nonton The Raid dengan niat nyari cerita. Ceritanya mah biasa aja. Gareth Evans, sutradara asal Wales (itu di Inggris Raya, dempetan sama England dan Scotland, kali aja ada yang nggak tau =DD) yang begitu cintanya pada Indonesia dan pencak silat sehingga membuat film aksi Merantau lalu The Raid ini—dengan lebih banyak memanfaatkan kearifan lokal (yang bule cuma dia, sinematografer sama produser eksekutifnya), merangkaikan adegan-adegannya dengan jalinan plot ala &lt;i&gt;video game&lt;/i&gt;:&amp;nbsp;terobos segala rintangan dan musuh yang menghadang sampai target utama dapat diringkus. Ada pihak baik (anggota kepolisian) dan pihak jahat (preman gembong narkoba dan penghuni rumah susun)—walaupun pada perkembangannya nggak sesederhana itu.&amp;nbsp;Kalo ada musuh, tangkap. Kalau musuh menyerang, tembak. Kalau peluru habis, pake pisau. Pisau ilang, habisi pake silat tangan kosong dong =D. Untungnya ritme yang digunakan begitu pas, dinamis dan &lt;i&gt;exciting&lt;/i&gt;. Asyiknya lagi, di antara aksi-aksi seru-cadas-keren-banget nya itu, selalu ada kesempatan untuk bernapas dan menyerap kembali sisi manusia yang membuat film ini tidak jatuh jadi film &lt;i&gt;action&lt;/i&gt; bego nan kosong.&amp;nbsp;Sisi manusia itu adalah &lt;i&gt;hero&lt;/i&gt; kita, Rama (Iko Uwais). Ia punya motivasi jelas dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota polisi khusus dalam menggerebek &lt;i&gt;gangster&lt;/i&gt; narkoba berbahaya, namun ia juga bukan orang yang haus darah. Ia punya istri dan bayi&amp;nbsp;&lt;i&gt;on the way&lt;/i&gt;&amp;nbsp;menanti di rumah, dan juga seorang kakak berstatus DPO polisi yang harus ditemukan dan dibawa pulang. Maka dalam setiap pertarungan seseru dan sebrutal apapun, kita pasti mendukung doski.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekali lagi, pada dasarnya yang ditampilkan The Raid adalah adegan-adegan &lt;i&gt;violent&lt;/i&gt; yang cadas namun tetap keren dan &lt;i&gt;watchable&lt;/i&gt;, ditangkap dengan begitu &lt;i&gt;stylish&lt;/i&gt; sehingga menimbulkan keseruan dan kekaguman ketimbang kejijikan (toh darahnya juga kebanyakan CGI, tapi jauuuh lebih baik daripada efek di &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2009/07/movie-blood-last-vampire-2009.html"&gt;Blood: The Last Vampire&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2009/12/movie-ninja-assassin-2009.html"&gt;Ninja Assassin&lt;/a&gt; sekalipun).&amp;nbsp;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Woh, aksi tembak-tembakan yang udah kayak film perang dunia II, adegan baku hantam baik keroyokan maupun &lt;i&gt;one on one&lt;/i&gt; digarap dengan sangat sangat SANGAT maksimal, nggak tanggung-tanggung, &lt;i&gt;and&amp;nbsp;no cheap effects&lt;/i&gt;. Porsinya tidak singkat namun tidak lama juga, dan herannya, kok bisa aksi-aksi seru banget di paruh awal udah banyak tetapi di paruh akhirnya malah tambah seru.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Penataan adegan sekaligus eksekusi pengambilan gambarnya juga sangat intens dan rapi. Keseriusan penggarapan film ini adalah sebuah nilai utama. Gareth Evans dkk tidak berusaha membuat film "berbobot", namun pantang pula dibuat asal-asalan. Maka jadilah The Raid, mulai dari tata artistik, pencahayaan, sinematografi, &lt;i&gt;editing&lt;/i&gt;, tata suara, musik dan tentu saja tata laga yang semuanya tampak serasi, selaras dan serius. Film ini juga, walaupun sebenarnya nggak perlu dihiraukan sebegitunya, nyatanya juga memiliki beberapa performa akting yang baik yang memberi nilai tambah, seperti Ray Sahetapy, Yayan Ruhian dan Alfridus Godfred, semuanya adalah tokoh &lt;i&gt;villain&lt;/i&gt;. Ray Sahetapy memang udah nggak diragukan lagi, sedangkan akting dari dua nama terakhir melengkapi "kebengisan" mereka dalam bertarung: Yayan sebagai Mad Dog yang gemar adu jotos ketimbang adu tembak, Godfred sebagai preman berparang yang tampil&amp;nbsp;&lt;/span&gt;intimidatif dan&amp;nbsp;&lt;i&gt;genuine&lt;/i&gt; dengan logat Maluku-nya (tanpa mengurangi rasa hormat lho ya, ampun bang).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menonton film semacam The Raid sebaiknya nggak usah repot bawa-bawa intelejensia segala, nanti malah nyiksa diri sendiri. The Raid memang &lt;i&gt;stylized action&lt;/i&gt; yang banyak ngarangnya. Ngarang mulai dari setingan rumah susun yang meski kumuh tapi agak terlalu bagus dan besar untuk benar-benar ada di Indonesia (malah mirip film Hong Kong), disiplin dan tutur kata para polisi yang sama sekali tidak seperti anggota militer/kepolisian kita, hampir semua laki-laki penghuni rumah susun termasuk para pengemas narkoba rupanya merangkap sebagai pesilat yang lebih milih ngajak duel daripada lari kalau digerebek polisi, atau kelihatan banget&amp;nbsp;diatur&amp;nbsp;cuma tokoh utamanya yang masih hidup sampe akhir. YAK-I-YA-LAHH, namanya juga film dengan imajinasi. Setingnya pun lebih ke &lt;i&gt;alternate universe of Indonesia&lt;/i&gt; karena unsur yang benar-benar merujuk ke Indonesia cuma bahasa Indonesia, preman Ambon, AlfaMart, RCTI dan Koran Sindo. Lepaskanlah semua rujukan dunia nyata Anda, dan masukilah dunia The Raid sebagaimana yang dimau oleh pembuat filmnya, niscaya Anda akan lebih mudah menikmatinya, toh sebenarnya &lt;i&gt;set up&lt;/i&gt; dunia The Raid cukup solid dan konsisten. Gw aja masih bisa cuek dengan dialog yang banyak ungkapannya masih terdengar "terjemahan mentah bahasa Inggris ke Indonesia" tanpa melalui proses sintaksis dan pragmatika *tapi tetep disinggung, hehe*. Ini film yang seru banget kok. &lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, kecuali Anda memang nggak kuat menyaksikan adegan-adegan perkelahian, orang dibanting, ditusuk, dibacok, dipatahkan tulang, ditembak dan pelbagai pilihan terluka lainnya, atau nggak sanggup nangkep ucapan sebagian besar aktor (termasuk Iko, Joe Taslim dan Pierre Gruno) yang memang artikulasinya sering nggak jelas, ya udah nggak bisa diapa-apain lagi kalo itu, hehehe.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;7,5&lt;/b&gt;/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Jangan meragukan kemampuan perkelahian para aktor di film ini. Iko Uwais dan Yayan Ruhian adalah pesilat yang juga jadi penata laga film ini. Alfridus Godfred adalah altlet bela diri tarung derajat. Joe Taslim juga ternyata atlet judo nasional. Ayo banting!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-3221464790721601926?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/3221464790721601926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-raid-2012.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/3221464790721601926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/3221464790721601926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-raid-2012.html' title='[Movie] The Raid (2012)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Zu9URHBr5MY/T2xDHkEXtlI/AAAAAAAABHE/nA5fO8moGps/s72-c/theraid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-3135063109208604564</id><published>2012-03-24T02:25:00.001+07:00</published><updated>2012-03-24T02:42:52.470+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hollywood'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='US'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] The Hunger Games (2012)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-mlX7x4DFuS0/T2tP5tzaZVI/AAAAAAAABGw/b7TqPlN2BA4/s1600/hungergames.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://2.bp.blogspot.com/-mlX7x4DFuS0/T2tP5tzaZVI/AAAAAAAABGw/b7TqPlN2BA4/s320/hungergames.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;The Hunger Games&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - Lionsgate)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Gary Ross&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Screenplay by Gary Ross, Suzanne Collins, Billy Ray&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Based on the novel by Suzanne Collins&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Nina Jacobson, Jon Kilik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Woody Harrelson, Elizabeth Banks, Lenny Kravitz, Stanley Tucci, Wes Bentley, Donald Sutherland, Amandla Stenberg, Liam Hemsworth&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak hadirnya film-film adaptasi novel fantasi semacam Harry Potter dan The Lord of The Rings di milenium ketiga ini, sudah banyak usaha memfilmkan novel-novel fantasi terkenal, atau nggak terkenal tapi nuansanya kira-kira mirip. Kita sudah lihat ada The Chronicles of Narnia yang hasilnya &lt;i&gt;so-so&lt;/i&gt; saja ampe pindah studio di sekuel keduanya, kemudian muncul Bridge of Terabithia, Percy Jackson, The Seeker: The Dark is Rising dan Stardust yang gagal gal gal (&lt;i&gt;at least&lt;/i&gt; secara keuntungan bisnis), eh kemudian ada &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2010/05/movie-twilight-2008.html"&gt;Twilight&lt;/a&gt; yang gemerlapan membuat histeris penggemarnya (&lt;i&gt;mostly&lt;/i&gt; perempuan) di berbagai belahan dunia, sukses luar biasa padahal datang dari studio kecil independen yang belum punya nama banget (Summit). &lt;i&gt;Meanwhile&lt;/i&gt;, enam bulan belakangan ini gw mendengar ada satu lagi novel kontemporer yang punya banyak fans berjudul "The Hunger Games" karya Suzanne Collins. Nah, dengan segala hormat, karena di sekeliling gw kebanyakan fans buku ini adalah cewek, jadi syak wasangka bahwa ini "Twilight"-nya dekade 2010-an tak dapat tertahankan. Kemudian datanglah berita bahwa novel yang merupakan bagian pertama dari sebuah trilogi ini akan difilmkan, "&lt;i&gt;well, of course&lt;/i&gt;" pikir gw.&amp;nbsp;Sekarang giliran studio Lionsgate, yang juga bukan studio besar, berani coba-coba mengulang kesuksesan pendahulunya lewat The Hunger Games, tetapi dengan deretan nama pendukung cukup menjanjikan, terutama sekali karena digarap oleh sineas nomine Oscar, Gary Ross (Seabiscuit, Pleasantville). &lt;i&gt;So let's see&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semesta The Hunger Games kalo gak salah adalah di masa depan&amp;nbsp;di Amerika Utara&amp;nbsp;ketika peradaban udah gak jelas, kini segala sesuatu berada dalam pemerintahan yang disebut Panem yang berpusat di kota Capitol, serta membagi wilayah kekuasaannya menjadi 12 distrik dengan sebutan angka. Kekuasaan Panem bukannya tanpa perlawanan, sejarah menyatakan banyak pemberontakan, namun pada akhirnya Panem tetap digdaya. Sebagai bentuk usaha preventif demi "stabilitas" negara, Panem setiap tahun mengadakan "The Hunger Games", sebuah kompetisi/&lt;i&gt;reality show&lt;/i&gt; akbar yang mempertarungkan remaja-remaja usia antara 12-18 tahun dari setiap distrik masing-masing satu cowok dan satu cewek. 24 remaja ini&amp;nbsp;ditempatkan dalam satu arena &lt;i&gt;survival&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;harus saling bunuh, dan pemenangnya, &lt;i&gt;of course&lt;/i&gt;, adalah yang satu-satunya masih hidup. Sadis ye. Protagonis kita pada film ini adalah Katniss (Jennifer Lawrence), gadis tangguh &amp;nbsp;asal Distrik 12, yang disebut sebagai daerah paling miskin. Ia ikut penyelengaraan The Hunger Games ke-74 secara mengajukan-diri, sebagai ganti adiknya yang masih 12 tahun yang namanya &lt;strike&gt;beruntung&lt;/strike&gt;&amp;nbsp;ketarik di undian Reaping, sebagai cewek wakil Distrik 12, bersama Peeta (Josh Hutcherson) sebagai wakil cowoknya.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Plot point&lt;/i&gt;-nya tentu saja apakah Katniss akan memenangkan kompetisi ini sebagaimana janjinya pada sang adik dan juga cowoknya, Gale (Liam Hemsworth), yang berarti pula harus mengharapkan kematian Peeta, rekan sekampung yang juga punya perasaan ehehehem sama Katniss.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sini mungkin dirasa ceritanya kayak film sakit asal Jepang, Battle Royale, tetapi menariknya The Hunger Games membuat proses menuju dan selama Hunger Games itu menjadi semacam perumpamaan yang lebih kompleks dan luas. Buat apa sih dibikin The Hunger Games? Kalo kata presiden Snow (Donald Sutherland) kepada si PIC acara, Senecca (Wes Bentley), ini supaya rakyat mendapat tontonan yang melibatkan mereka secara emosional, meskipun acaranya kejam dan seperti menyerahkan "tumbal" rutin setiap tahun—yang menimbulkan rasa takut, pasti ada pula harapan dari rakyat bahwa wakil dari distrik mereka akan menang, yang memunculkan rasa bahwa mereka "diperhatikan", walaupun itu sekadar simbol belaka. Kita melihat bahwa di Distrik 12, khususnya Katniss dan Peeta serta sebagaimana diwanti-wanti oleh pembimbing mereka Haymitch (Woody Harrelson), mengikuti The Hunger Games&amp;nbsp;ini jelas adalah aksi keterpaksaan (daripada disikat pasukan pemerintah), sekaligus&amp;nbsp;tiket ekspres untuk mati. &lt;i&gt;But then again&lt;/i&gt;, tidak semua peserta dari distrik lain merasa begitu, sebagian malah merasa ini sebuah kebanggaan yang dijalani dengan percaya diri, wong masuk tipi dengan &lt;i&gt;rating &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;sharing&lt;/i&gt; tertinggi. Yah maklum masih labil =P. Di sisi lain, gw melihat adanya perumpamaan komersialisasi ajang ini, menjadikan penderitaan orang lain sebuah tontonan sekaligus cari keuntungan.&amp;nbsp;Ada&amp;nbsp;kebutuhan&amp;nbsp;pihak sponsor, &lt;i&gt;image consultant&lt;/i&gt; (khusus buat Katniss dan Peeta ada Cinna (Lenny Kravitz) dengan &lt;i&gt;eyeshadow&lt;/i&gt; emasnya =P), parade di depan publik dengan kostum konyol, wawacara (dengan &lt;i&gt;host&lt;/i&gt; ternama Caesar (Stanley Tucci)), juga rekayasa dalam acara yang harusnya berupa "realita". Padahal ya buntut-buntutnya mereka dipersiapkan untuk menderita, untuk saling bacok, untuk mati, &lt;i&gt;yet people seemed eager to see that anyway&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun nggak baca novelnya, kenyataan bahwa gw masih bisa ngangkep bagaimana itu dunia The Hunger Games beserta tetek bengeknya merupakan tanda keberhasilan film ini dalam bertutur kepada penonton awam seperti gw. Gw nggak perlu bertanya-tanya mengapa begini mengapa begitu, karena semua dipaparkan sedikit demi sedikit dengan rapi dan efektif, tidak terlalu sulit dicerna ataupun dinalar makna lugas dan kiasnya. Bagusnya lagi, karakterisasinya bisa berkembang lancar seiring berjalannya cerita. Gw bisa nangkep tokoh Katniss yang berwatak keras, jago bertahan hidup di hutan melebihi anggota pramuka, berani (atau dipaksa harus berani), &lt;i&gt;no non-sense&lt;/i&gt;, namun tetap cerdas dengan caranya untuk bertahan tanpa kehilangan hati nurani, &lt;i&gt;a heroine&lt;/i&gt; yang tidak letoy namun tidak super juga. Peeta, yang dengan cerdas dimunculkan nggak dari awal sebagaimana posisinya di mata Katniss, pun tumbuh menjadi tokoh yang pasti mengundang dukungan karena ketulusan dan kepintaran yang tidak disangka-sangka. Keberadaan tokoh-tokoh lain juga rasanya diberi porsi yang signifikan sesedikit apapun itu, sebagaimana peristiwa-peristiwa yang ditampilkan, pada dasarnya punya keterkaitan dengan benang merah cerita tanpa harus dipaksakan atau terabaikan. &lt;i&gt;In short&lt;/i&gt; menurut gw penulisan dan pengisahan film ini solid nyaris tanpa komplain.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang secara presentasi audio visual, The Hunger Games rupanya memang tidak dibuat main-main. Memang film ini membutuhkan &lt;i&gt;production value&lt;/i&gt; yang cukup wah mengingat seting ceritanya yang antah-berantah. Kebutuhan desain produksi yang &lt;i&gt;sophisticated&lt;/i&gt; tepat guna (misalnya kontras antara Distrik 12 yang kumuh dan ndeso dengan Capitol yang penampilan penduduknya benar-benar &lt;i&gt;fake&lt;/i&gt; seperti tokohnya Elizabeth Banks) serta penggunaan visual efek memang tak terhindarkan. Taaapiii, yang gw suka dari film ini, meskipun dengan visual yang mewah, film ini nggak terkesan pamer. Tidak ada sorotan panorama atau "lihat-lihat" yang berlangsung lebih dari 3 detik, visual efeknya bahkan seperti hanya pelengkap saja. Semua selalu cepat-cepat kembali ke cerita dan tokohnya. Dari cara pengambilan gambarnya saja terbilang lain daripada film-film sains-fiksi atau fantasi sejenis, warnanya begitu natural, penanganannya banyak yang &lt;i&gt;hand-held&lt;/i&gt;, bergerak ke berbagai &lt;i&gt;angle&lt;/i&gt; dan cukup &lt;i&gt;shaky&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(nggak bikin pusing kok), membuat film ini terkesan modern, zaman sekarang banget, ibarat percampuran gaya filmnya Paul Greengrass dan Christopher Nolan. Sebenarnya mewah namun tetap bernuansa sederhana dan &lt;i&gt;engaging&lt;/i&gt; khas produksi "independen". Didukung lagi dengan tata musik yang tidak konvensional, gak asal main orkestra, ada nuansa-nuansa &lt;i&gt;folk&lt;/i&gt; (karena ada nama produser T-Bone Burnett (O Brother Where Art Thou?, Cold Mountain, Walk The Line) di sana) yang menguatkan nuansa "beda" selama menyaksikan film ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The Hunger Games memang cukup beda dari perkiraan atau prasangka yang ada. Ini film fiksi ilmiah campur petualangan yang menargetkan penonton remaja hingga dewasa muda, yang tidak asal taruh romansa kacangan ataupun kekerasan asal berdarah aja. &lt;i&gt;Everything mixed together quite well&lt;/i&gt;, lumayan memuat bobot berarti, dan dipresentasikan dengan cermat. The Hunger Games memang memenuhi segala kriteria yang diperlukan&amp;nbsp;sebagai film hiburan, mulai dari penyusunan naskah dan penyampaian cerita yang baik nan efektif, akting yang nggak malu-maluin (gw masih lebih suka Jennifer Lawrence di &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/07/movie-x-men-first-class-2011.html"&gt;X-Men: First Class&lt;/a&gt; tapi yang di sini tetep oke kok), kelengkapan gambar dan suara yang apik, kedalaman emosi para tokohnya yang cukup, &lt;i&gt;pacing&lt;/i&gt;-nya pas-pas aja, serta dihiasi adegan-adegan laga yang seru juga....&lt;i&gt;well okay&lt;/i&gt; filmnya jelas bukan dibuat untuk memompa adrenalin sebegitunya, tetapi beberapa adegan memang seru (kesukaan gw adegan &lt;i&gt;start&lt;/i&gt; di arena Hunger Games yang &lt;i&gt;sound-&lt;/i&gt;nya diredam), kalaupun ada yang nggak terlalu seru (ehem di pertarungan akhir, hehehe) toh kemudian ditebus oleh langkah non-laga yang cakep. Satu hal lagi yang gw salut adalah kekerasan yang ditampilkan (ngebayanginnya aja udah agak gimana kan, anak belasan tahun bunuh-bunuhan), memang cukup berusaha diredam tetapi nggak&amp;nbsp;&lt;i&gt;lame, &lt;/i&gt;tetep berasa &lt;i&gt;violent&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dengan kadar yang sesuai dengan penonton remaja.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film ini memang punya ending cukup kompleks dan rada ngegantung, karena novelnya pun berupa trilogi, jadi nantikan saja sekuelnya. Namun yang pasti The Hunger Games ini sudah membungkam keraguan atas proyek yang terkesan pengen ngekor kesuksesan tetangga ini. Meskipun gw belum sampe &lt;i&gt;jumping off my seat&lt;/i&gt; (ya ngapain juga gw lompat dari kursi?), tetapi nyatanya petualangan si keren Katniss ini harus diakui digarap &lt;i&gt;nicely&lt;/i&gt; serta menjadi tontonan yang mengasyikan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;7,5&lt;/b&gt;/10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-3135063109208604564?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/3135063109208604564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-hunger-games-2012.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/3135063109208604564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/3135063109208604564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-hunger-games-2012.html' title='[Movie] The Hunger Games (2012)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-mlX7x4DFuS0/T2tP5tzaZVI/AAAAAAAABGw/b7TqPlN2BA4/s72-c/hungergames.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-8742838634566995328</id><published>2012-03-23T19:49:00.000+07:00</published><updated>2012-03-23T19:49:28.653+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hollywood'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='US'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Margin Call (2011)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-AG4aAt9sFtU/T2tOOBJbC_I/AAAAAAAABGo/DSEsG4eM-j0/s1600/margin+call.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://3.bp.blogspot.com/-AG4aAt9sFtU/T2tOOBJbC_I/AAAAAAAABGo/DSEsG4eM-j0/s320/margin+call.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Margin Call&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2011 - Myriad/Benaroya/Lionsgate/Roadside Attractions)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Written and Directed by J.C. Chandor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Robert Odgen Barnum, Corey Moosa, Michael Benaroya, Neal Dodson, Zachary Quinto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Kevin Spacey, Paul Bettany, Jeremy Irons, Zachary Quinto, Penn Badgley, Simon Baker, Demi Moore, Stanley Tucci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tau nggak seh apa yang menyebabkan krisis ekonomi Amerika yang heboh terjadi sejak tahun 2008 silam? Gw sih enggak, mau dijelasin gimana juga gw nggak paham, terutama karena gw juga nggak menguasai komponen perekonomian kapitalisme di Amerika atau di mana pun, baru nyampe belajar Koperasi aja gw =P. Jadi setelah mencerna penjelasan yang paling mudah dari Ligwina Hananto dan Suze Orman, mungkin masih ada salah persepsi jadi tolongin gw kalau ada yang salah atau kurang, kira-kira begini:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Masyarakat beli rumah, tanah atau mobil dengan cara bayar pake kredit/minjem dari perusahaan finansial. &lt;i&gt;They call it mortgage, we call it &lt;/i&gt;hipotek.&amp;nbsp;Atau meminjam uang dengan harta-harta besar itu sebagai jaminannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Perusahaan finansial udah ngeluarin duit untuk peminjam, jadi masyarakat/peminjam harus balikin duitnya dong. Caranya dicicil secara berkala plus bunga. Dari sini sih ngerti ya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Utang cicilan itu dijadikan "surat utang" yang diperjualbelikan oleh perusahaan kredit itu untuk perusahaan-perusahaan finansial lainnya, jadi semacam jaminan untuk modal. Lho kan itu utang, belum ada duitnya? Nah, karena HARAPANnya adalah utang tersebut AKAN terlunasi plus bunganya, AKAN ada uangnya, jadi yang diperdagangkan dan dijaminkan adalah nilai uang yang AKAN didapat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Masalah terjadi karena ternyata banyak sekali masyarakat/peminjam yang nggak bisa melunasi, atau nilai uang yang dikembalikan nggak sebesar yang diharapkan. Akibatnya nilai surat utangnya yang jadi jaminan jatuh atau malah gak ada nilainya. Perusahaan finansial yang meminjamkan uang harus menanggung utang tersebut kepada siapapun yang telah membeli surat utang, tetapi yang terjadi utangnya terlalu banyak sedangkan penerimaan pun nggak ada, jadi banyak perusahaan-perusahaan semacam ini, yang tadinya berlimpah uang, jatuh bangkrut (toh uangnya dari awal emang nggak ada bukan?).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Yaudah gw taunya sampe situ, hubungannya sampe bikin keuangan perusahaan-perusahaan besar jadi rontok dan banyak PHK gw belum bisa menalar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa hubungannya dengan film Margin Call? &lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, karena film ini menceritakan jam-jam pertama krisis itu. Di sebuah perusahaan fiktif yang bergerak dalam bidang, err...entahlah, anggep aja kredit finansial, mereka sudah mulai mengalami masalah entah di mana, jadi pada suatu hari memutuskan untuk mem-PHK sebagian pegawainya, termasuk di jajaran manajemen risiko (&lt;i&gt;whatever that means&lt;/i&gt;) Eric Dale (Stanley Tucci) yang sudah sangat lama bekerja di sana. Dale kesal bukan soal pengabdian lama atau posisi, tetapi Eric mengsinyalir pengenaan PHK pada dirinya disebabkan adanya ketidaksukaan beberapa atasannya, terutama Sarah Robertson (Demi Moore), setelah Eric mengemukakan prakiraan nggak enak tentang keadaan perusahaan setahun sebelumnya. Di saat-saat terakhirnya di kantor, Eric menyerahkan sebuah &lt;i&gt;flash-disk &lt;/i&gt;(yu-es-bi kalo orang sini bilangnya mah)&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;kepada seorang analis muda, Peter Sullivan (Zachary Quinto) sambil bilang "hati-hati". Peter penasaran dan segera membuka isi flash-disk yang adalah hasil pekerjaan Eric yang belum selesai. Peter menyempurnakan hitung-hitungannya dan terungkaplah apa yang dimaksud Eric, yaitu:........*geleng-geleng* entahlah cuma mereka yang tau =P. Sutradaranya sih cuman bilang pokoknya itu sebuah proyeksi yang akurat tentang kejatuhan perusahaan mereka, perusahaan ini akan merugi bahkan melebihi jumlah nilai aset yang dimiliki, mungkin bangku dan bolpen dijual juga nggak akan ngaruh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari titik itu, film ini bergerak pelan-pelan dengan memanggil karakter-karakter yang terkait satu per satu. Peter memanggil supervisornya, Will (Paul Bettany), Will manggil si bos perusahaan, Sam (Kevin Spacey), Sam memanggil dewan atasannya lagi, Jared (Simon Baker) beserta timnya Sarah Robertson yang kayaknya jadi semacam dewan penasihat gitu. Lalu karena begitu gentingnya "masalah itu", biar udah lewat tengah malam juga, didatangkanlah bos besar perusahaan induk mereka, John Tuld (Jeremy Irons). Nah kumpul dah tuh. Sekarang mereka berusaha mencari solusi bagaimana supaya tidak bangkrut, atau kalau memang harus bangkrut, gimana caranya supaya mereka bisa mundur pelan-pelan, ngambil untung semampunya, sebelum bubar. Langkah mana yang mereka ambil akhirnya juga gw nggak tau pasti. Pertentangan ada di antara Sam dan Jared plus John yang terkesan nggak berhati, Eric dan Sarah yang kesannya nggak mau menanggapi serius peringatannya dulu malah dianya dipecat, ditambahi kebimbangan pegawai yang istilahnya masih di bawah banget seperti Peter dan kawannya yang masih muda banget Seth (Penn Badgley), bebannya adalah mereka yang pertama kali tau sejak awal sebelum rekan-rekan mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film ini sesungguhnya &lt;i&gt;a well-made one&lt;/i&gt;. Presentasi akting dan gambarnya terjaga dengan rapih dan baik. Tapi, gw tuh kayak dicuekin sama filmnya. Dengan lajunya yang lambat berseting tengah malam/pagi buta di sebuah gedung pencakar langit kota New York, isinya cuman orang-orang saling ngobrol sembari menunggu. Ya, menunggu, menunggu apa langkah perusahaan, serta menunggu nasib mereka masing-masing. Atau juga menunggu sampe durasinya lebih dari 90 menit biar tidak jadi film pendek belaka. Sayangnya gw merasa mereka ngobrol dalam kalimat-kalimat&amp;nbsp;&lt;i&gt;encrypted&lt;/i&gt;. Bukan istilah susah, cuman mereka juga nggak memberikan rujukan dan gambaran jelas tentang apa yang mereka katakan, tentang masalah yang mereka hadapi itu, kesannya gak maju-maju, ya cuman buat nunggu matahari terbit aja. Terlalu banyak kata ganti, seakan menghindari hal yang teknis, terutama apa sebenarnya hitung-hitungan Eric dan Peter, tapi bahkan penjelasan mereka sebenarnya kerja di perusahaan macam apa juga nggak ada. Udah berkali-kali ada karakter minta "tolong pake bahasa sederhana", gw massih juga gagal nangkep "apaan?" (ini sih salah gw kali ya). Yang jelas, mereka akan bangkrut, gitu doang. Kirain di sini bisa mendapat &lt;i&gt;insight&lt;/i&gt; tentang apa kira-kira asal-muasal runtuhnya perekonomian Amerika 2008 sehingga gw lebih paham, nyatanya nggak. Yang diperlihat adalah (ceritanya) orang-orang di balik sebuah perusahaan (ceritanya) yang pertama menyatakan bangkrut sebelum merambat ke perusahaan yang lainnya. Reaksi dari orang-orang ini pun ya gitu-gitu aja, nggak ada yang gimana gitu *&lt;i&gt;O my God&lt;/i&gt;, gw jadi pake kata ganti kayak film ini*. Palingan yang jelas terlihat &lt;i&gt;emotionally connected&lt;/i&gt; adalah semua adegan Eric, adegan Sam yang berhubungan dengan anjingnya, serta obrolan Peter, Will dan Seth yang mungkin paling gampang dipahami karena lebih nyambung ke "dunia luar". Sisanya, err...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Overall, I did not enjoy this film&lt;/i&gt;. Kemungkinan besar karena pengetahuan gw yang terbatas, pun film ini tidak memperkayanya. Mungkin lain hal jika ditonton oleh orang-orang berlatar ekonomi atau orang-orang Amerika sendiri. Yang bisa gw lihat adalah orang-orang saling berbicara seakan tau apa yang mereka bicarakan tanpa peduli GUWEH ngerti atau enggak. Nyebelin kan? &lt;i&gt;Thanks a lot, man&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;5,5&lt;/b&gt;/10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-8742838634566995328?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/8742838634566995328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-margin-call-2011.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/8742838634566995328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/8742838634566995328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-margin-call-2011.html' title='[Movie] Margin Call (2011)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-AG4aAt9sFtU/T2tOOBJbC_I/AAAAAAAABGo/DSEsG4eM-j0/s72-c/margin+call.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-4272644867791928737</id><published>2012-03-19T01:37:00.005+07:00</published><updated>2012-03-19T02:07:14.324+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Mata Tertutup (2012)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-jrVJA6m_IwI/T2WXgQ8cgEI/AAAAAAAABFc/hVyb9-K_1_0/s1600/matatertutup.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://4.bp.blogspot.com/-jrVJA6m_IwI/T2WXgQ8cgEI/AAAAAAAABFc/hVyb9-K_1_0/s320/matatertutup.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Mata Tertutup&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - Maarif Production/SET Film)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Garin Nugroho&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Written by Tri Sasongko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Asaf Antariksa, Endang Tirtana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Jajang C. Noer, M. Dinu Imansyah, Eka Nusa Pertiwi, Kukuh Riyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mata Tertutup mungkin pada dasarnya sebuah film "titipan". Diprakarsai lembaga humaniora nasional berbasis Islam, Maarif Institute (didirikan oleh mantan ketua Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif), Mata Tertutup ingin dijadikan sarana pembelajaran dan...yah sekaligus propaganda tentang bahaya dari suatu gerakan radikal yang dikenal sebagai NII, Negara Islam Indonesia. Dengan tema dan "niatan" tersebut, sangat wajar bila film yang sudah kelar tahun 2011 ini awalnya berkeliling untuk diputar di kampus-kampus, komunitas-komunitas dan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Namun kemudian, film ini akhirnya dirilis di bioskop komersial tahun ini, wow berani banget ya....berani bukan soal temanya yang provokatif, tapi berani ambil risiko nggak laku, hehehe. Film beginian gitu loh. Pemain yang terkenal di sini cuman Jajang C. Noer, sisanya konon adalah aktor "comotan" dari teater-teater di Jogja dan Solo, pun seterkenal-terkenalnya nama sutradara Garin Nugroho, maap-maap nih, beliau terkenalnya sebagai pembuat film "nyeni" yang jarang laku secara bisnis. Tetapi melihat sendiri Mata Tertutup—dengan mata terbuka tentu saja B-)—gw mendapatkan hal yang cukup &lt;i&gt;ridiculous&lt;/i&gt;, dimana pesan titipan+pemain tak terkenal+citarasa seni Garin Nugroho malah menghasilkan sebuah karya yang mudah dicerna, berbobot dan menggugah, tanpa terlihat terpaksa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mata Tertutup menggelar 3 plot terpisah dalam satu seting ruang kota Jogjakarta, namun semuanya dituturkan secara selang-seling. Kalau gw boleh menalar, 3 plot ini mewakili 3 sisi berbeda terkait dengan NII. Dari sisi "perekrutan", ada&amp;nbsp;Jabir (M. Dinu Imansyah), sehabis DO dari pondok pesantren karena ibunya sudah tidak bisa lagi membiayai, bersama sahabatnya yang gemar ngebodor, Husni (Kukuh Riyadi) mulai coba kerja serabutan di terminal, hingga mereka bertemu dengan seorang &lt;i&gt;sales &lt;/i&gt;buku Islami, yang kemudian pelan-pelan mengajak mereka ke pengajian kelompoknya sampai menawarkan untuk berbuat "sesuatu" sebagai bakti kepada agama dan orang tua. Kemudian sisi "di dalam NII" melalui pengisahan tokoh&amp;nbsp;Rima (Eka Nusa Pertiwi), seorang pemudi aktif berpikiran cukup kritis yang sebenarnya berasal dari keluarga yang &lt;i&gt;fine-fine &lt;/i&gt;aja dan berkecukupan. Ia direkrut NII hingga dirinya menjadi kader yang berprestasi, karena dapat mengumpulkan banyak anggota baru beserta dana besar dalam waktu cepat.&amp;nbsp;Kisah Rima inilah yang menjadi &lt;i&gt;insight &lt;/i&gt;akan apa itu NII, dari cara perekrutan, cara indoktrinasi, prinsip-prinsip, ritual-ritual, hukum-hukum berlaku, dan penjabat-pejabat yang berwenang. Ketiga dari sisi dampak pada keluarga, ada seorang ibu perantau asal Minang, Asimah (Jajang C. Noer) yang mendapati putrinya yang seorang mahasiswi kedokteran bernama Aini mengambil sejumlah uang lalu kabur dari rumah tak kunjung pulang. Asimah begitu panik apalagi mengingat belum lama ini suaminya juga pergi meninggalkan anak-istrinya. Kabar kawan dan pihak kampus mengatakan Aini diduga tergabung dalam NII. Asimah nggak tau apa itu NII selain bahwa itu semacam kelompok sesat, yang pasti ia berusaha dengan segenap kekuatannya untuk dapat menemukan putrinya itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tadinya gw udah siap-siap aja memilih satu plot favorit, tetapi gagal. Kenapa? Karena ketiga kisah yang disampaikan film ini sama-sama bikin terenyuh. Terenyuh sama Jabir, wakil dari kalangan miskin yang terbentur keadaan hidup yang tenang namun keras, yang seakan nrimo banget walau sebenarnya itu karena kebingungan. Terenyuh sama Asimah yang susah payah mencari putrinya dengan keterbatasan daya upaya. Terenyuh pula pada Rima yang mencari "tempat" bagi cita-citanya, memperbaiki keadaan dan kesetaraan kesempatan pada perempuan. Lho maksudnya? Ya, terenyuh karena gw paham juga kenapa ia bisa mengira NII dapat mewadahi aspirasinya. Terlepas dari kegiatan NII yang sesat dan sebagainya, motivasi orang-orang hingga akhirnya bisa masuk jadi anggota NII sesungguhnya didasarkan pada argumen-argumen kuat. Negara kita saat ini memang tampak payah, sangat kurang rasa aman nyaman damai apalagi sejahtera, nah datangnya NII, yang mengklaim sebagai solusi&amp;nbsp;tentu tidak sukar dalam menarik perhatian dan simpati, apalagi pake bawa-bawa agama—di Indonesia 'kan masih banyak orang yang&amp;nbsp;ciut nyali berpikir kritisnya&amp;nbsp;kalo ada yang bawa-bawa agama, jadi kerap mudah terpedaya oleh pihak-pihak yang memanfaatkan itu untuk kepentingan tersendiri, &lt;i&gt;including politics and businesses&lt;/i&gt;—terutama bagi orang-orang yang sedang gundah, entah itu karena keadaan ekonomi (Jabir) dan sosial (Rima) negara ini, atau bahkan "hanya" masalah keluarga (Aini).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya akan panjang kalau membicarakan apa yang tersajikan dalam film ini. 90-an menit durasi Mata Tertutup memang mengusik perhatian dan perenungan kita terhadap keadaan di sekitar. Apalagi&amp;nbsp;isu-isu dalam Mata Tertutup terlalu nyata untuk dicuekin,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;kejadian-kejadian serta prosesnya yang ada di film ini bukan karang-karangan belaka. NII&amp;nbsp;memang ada, yang bertujuan mengambil alih pemerintahan RI yang dianggap "salah", perekrutan anak-anak kampus itu pun betulan terjadi karena teman-teman gw semasa kuliah ada yang pernah bersentuhan langsung dengan gerakan campuran separatis, kudeta, dan kultus relijius ini. Film ini memberi wawasan yang agak lebih luas dari apa yang sudah gw pernah denger. Mungkin yang paling &lt;i&gt;striking &lt;/i&gt;adalah kegiatan-kegiatan NII dalam kisah Rima. Teman-teman Muslim mungkin akan lebih berasa, karena secara gamblang ditunjukkan bahwa para pejabat dan pemimpin NII ini memanfaatkan penggalan ayat-ayat kitab suci sebagai dasar (dan pembenaran) tindakan-tindakannya, mulai dari cara mengadili sampai cara memotivasi anggotanya mengumpulkan dana sebanyak mungkin dengan cara apapun (termasuk mengambil harta milik keluarga, malah di-&lt;i&gt;encourage&lt;/i&gt; lho) untuk NII. Namun terlepas dari itu, seperti gw singgung sebelumnya, film ini bukan sekadar bilang "NII itu sesat", tetapi juga memancing pemikiran alasan mendasar kenapa gerakan-gerakan seperti ini muncul dan orang-orang yang tumbuh dalam otoritas Republik Indonesia mau saja berpindah haluan ke gerakan-gerakan ini. Ini yang membuat Mata Tertutup jauh dari kesan "menggurui" (kecuali di &lt;i&gt;end credit&lt;/i&gt;, hehe), lebih ke "mendoseni" mungkin =P.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Enough about that&lt;/i&gt; terlalu serius &lt;i&gt;stuff&lt;/i&gt; =). Apa yang sekilas disangka tak beda dari iklan layanan masyarakat, kampanye anti-separatisme atau contoh kasus dalam pelajaran Kewarganegaraan ternyata disajikan dalam 3 kisah yang masing-masing terbilang rinci, emosional, serta mengikat perhatian. Penonton memang dijejali dengan informasi-informasi (yang gw sebut "titipan" tadi), namun ini tetap "film betulan", yang mempunyai dimensi artistik yang dapat menyentuh sisi kemanusiaan, nggak sekedar ngasih tau atau "ngajarin" doang. Visual dan tata adegan khas Garin yang artistik (dan seperti tidak terpikirkan oleh sineas lain) tetaplah mencuat, tak kalah menonjol dengan konten cerita filmnya, sinematografinya bagus. Performa pemain pun sangat meyakinkan sekaligus tidak dibuat-buat, kalo istilah gw &lt;i&gt;real acting&lt;/i&gt; *halah sok banget*—konon saat syuting harus banyak improvisasi karena skenarionya cuman garis besar adegan doang. Mungkin ini keuntungan memakai aktor yang terlatih di teater, mereka selalu mengisi layar dengan sikap dan tindakan yang bebas tapi tidak di luar konteks, bukannya cuman bengong doang dengan ekspresi palsu kayak para pemain sinetron kita. Oh ya, ada juga "konten daerah" seperti (konon) kebiasaan Garin yang tercakup di sini, yaitu penggunaan bahasa Jawa (dalam berbagai variasi), juga bahasa Minang yang dibawakan dengan leluasa oleh Jajang C. Noer.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi kalo mau dibikin catatan, Mata Tertutup ini film yang hampir ideal: punya cerita yang mudah dicerna dan dipahami, eksekusi audio visual serta akting ciamik, tema penting dan aktual, penggambaran realita yang realistis, ada pengetahuan, ada pesan moral (heuheuheu), ada representasi ke-Indonesia-an yang bukan cuma ibukota, ada lucunya&amp;nbsp;juga&amp;nbsp;(tokoh Husni yang menyanyikan lagu pop Indonesia pake bahasa Jawa, sama gerak-gerik panik ala emak-emak tokoh Asimah =D) jadi yah relatif menghibur, nggak bikin ngantuk (ritmenya pelan tapi pasti), dsb dsb. &lt;i&gt;A good movie&lt;/i&gt;, sekaligus sarana pengetahuan yang efektif nan dewasa, harusnya ditonton oleh kalangan luas. Sekarang masyarakat&amp;nbsp;pada mau nggak datang untuk menonton film bertema serius kayak gini?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;8&lt;/b&gt;/10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-4272644867791928737?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/4272644867791928737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-mata-tertutup-2012.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/4272644867791928737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/4272644867791928737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-mata-tertutup-2012.html' title='[Movie] Mata Tertutup (2012)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-jrVJA6m_IwI/T2WXgQ8cgEI/AAAAAAAABFc/hVyb9-K_1_0/s72-c/matatertutup.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-6894139779989197714</id><published>2012-03-12T03:00:00.001+07:00</published><updated>2012-03-12T03:03:36.195+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Negeri 5 Menara (2012)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-lLATm1VHcs0/T1t6Mi-HiwI/AAAAAAAABE4/fZPCx9eiNsE/s1600/n5m.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://2.bp.blogspot.com/-lLATm1VHcs0/T1t6Mi-HiwI/AAAAAAAABE4/fZPCx9eiNsE/s320/n5m.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Negeri 5 Menara&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - KG Production)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Affandi Abdul Rachman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Story by Salman Aristo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Screenplay by Salman Aristo, Rino Sarjono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Based on the novel by A. Fuadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Salman Aristo, Auora Lovenson Chandra, Dinna Jasanti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Gazza Zubizzaretha, Billy Sandy, Ernest Samudera, Rizki Ramdani, Jiofani Lubis, Aris Adnanda Putra, Ikang Fawzi, Donny Alamsyah, Andhika Pratama, Sakurta Ginting, David Chalik, Lulu Tobing, Eriska Rein, Mario Irwinsyah, Rangga Djoned&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila menyangka bahwa Negeri 5 Menara sebagai satu lagi film Indonesia yang menampilkan kisah penuh inspirasi serta pesan moral dengan pemeran di bawah umur sebagai protagonisnya layaknya yang telah dilakukan dalam Laskar Pelangi, &lt;i&gt;well&lt;/i&gt;, memang bener, &lt;i&gt;it is exactly that very same formula&lt;/i&gt;. Lucunya, kedua karya ini sama-sama diangkat dari novel yang agak semi...maksudnya semi-otobiorafi (ee, yg ketawa berarti perlu disapu tuh pikirannya) dari pengarangnya sendiri, pun sama-sama mengandung pesan motivasi meraih mimpi setinggi apapun itu. Berdasarkan info-info yang beredar (&lt;i&gt;remember&lt;/i&gt;, gw nggak hobi baca buku), novel Negeri 5 Menara ditulis berdasarkan pengalaman pengarang A. (Ahmad) Fuadi, yang juga pernah menjadi wartawan di Voice of America, selama tinggal dan menuntut ilmu di sebuah pesantren ternama di Jawa Timur bernama Gontor pada akhir 1980-an, lalu dituangkannya dalam moda fiksi dengan nama-nama orang dan tempat yang di-&lt;i&gt;altered&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selepas lulus madrasah tsanawiyah (setingkat SMP), dengan keterpaksaan Alif (Gazza Zubizzaretha)&amp;nbsp;berangkat juga dari kampungnya di danau Maninjau, Sumatera Barat ke Ponorogo, Jawa Timur untuk mendaftarkan diri ke sebuah pesantren (untuk putra), atau istilahnya "pondok modern" bernama sebut saja Madani. Setelah diterima, dimulailah kehidupan Alif di rumah barunya, menjalani hari demi hari tinggal, belajar dan melakukan kegiatan lainnya, terutama bersama-sama teman sekamar asramanya: Baso (Billy Sandy)&amp;nbsp;yang berasal dari Sulawesi Selatan (&lt;i&gt;which of course explain the cameo of &lt;/i&gt;minyak tawon =D), Said (Ernest Samudera)&amp;nbsp;dari Surabaya, Atang (Rizki Ramdani)&amp;nbsp;dari Bandung, Raja (Jiofani Lubis)&amp;nbsp;dari Medan, dan Dulmajid (Aris Adnanda Putra)&amp;nbsp;dari Madura. Dari kegiatan pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler—Alif ikut di majalah internal pesantren, hingga cinta monyet, semua dialami Alif di tahun pertamanya. Akan tetapi terlepas dari segala suka duka yang dialami dan keeratan hubungan dengan "keluarga" barunya, keengganan Alif dalam menjalani pendidikan di pondok Madani yang "hanya" karena keinginan orang tuanya (David Chalik dan Lulu Tobing) masih bersarang. Keinginan itu semakin kuat ketika Alif cs diundang Atang ke rumah orang tuanya di Bandung, di sana Alif bertemu lagi dengan sahabat SMPnya (Sakurta Ginting) yang sedang menjalani apa yang diimpikan mereka berdua: SMA di Bandung lalu kuliah di ITB, seperti Habibie. Kebimbangan Alif inilah yang menjadi titik penentu arah plot film Negeri 5 Menara ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski gw sebut "plot", gw sebenarnya nggak melihat benar-benar muncul jalan cerita yang menyatukan peristiwa demi peristiwa. Film ini lebih ke penceritaan potongan-potongan kehidupan yang dijalani Alif di pesantren bersama 5 sahabatnya yang menamakan diri "geng" Sahibul Menara, yang punya perjanjian kelak akan pergi ke tempat impian masing-masing di seluruh dunia dan akan berkumpul lagi dengan membawa foto menara-menara ternama di negara-negara itu. Pun dengan cara penulisan dan penggarapan film ini, kita akan lebih banyak diperkenalkan pada karakter-karakter remaja penghuni pesantren serta perkenalan tentang kehidupan pesantren, ketimbang membuat penasaran dengan peristiwa atau konflik besar apa yang akan terjadi nanti, karena memang tidak ada yang benar-benar dinanti selain apakah Alif akan tetap di Madani atau akan pindah ke Bandung, serta berhasilkah keenam sahabat ini mewujudkan mimpi ngumpulin foto mereka di menara-menara di berbagai negara—ini pun porsinya kecil dari keseluruhan film. Akan tetapi, bukan berarti tidak menarik, justru kekuatan Negeri 5 Menara garapan Affandi Abdul Rachman ini terletak pada betapa asyik dan &lt;i&gt;enjoyable&lt;/i&gt;-nya mengintip kehidupan Alif, meskipun tanpa konflik yang benar-benar utama. Pun film ini bertabur kelucuan-kelucuan yang menghibur, kepolosan-kepolosan yang bernada nostalgia meski bukan dari memori gw sendiri, serta manisnya persahabatan 6 sekawan Sahibul Menara ini. Naik-turun&amp;nbsp;&lt;i&gt;mood&lt;/i&gt; film ini ditata dengan baik sehingga walaupun tanpa konflik besar, film ini nggak datar-datar amat, malah terkesan bersahaja dan menyenangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena tanpa plot besar pula, Negeri 5 Menara harus memperhatikan betul cara presentasi tokoh-tokohnya, karena di itulah kunci yang akan membuat penonton betah menyaksikan layar. Penokohannya terbilang baik, cukup &lt;i&gt;distinctive&lt;/i&gt; dan konsisten satu dengan yang lain, termasuk dari bawaan suku dan bahasa sampai pada sifat masing-masing, ditampilkan dalam porsi yang mencukupi. Sutradara Affandi Abdul Rachman pun menjalankan tugas lumayan beratnya&amp;nbsp;dengan cukup baik, yaitu&amp;nbsp;mengarahkan 6 sekawan kita yang dimainkan oleh aktor-aktor remaja yang baru pertama kali main film, terutama sekali&amp;nbsp;Gazza Zubizzaretha yang posisinya utama. Masih agak kaku sih, tapi yang penting&amp;nbsp;&lt;i&gt;presence&lt;/i&gt; mereka perlahan sanggup merenggut perhatian dan kepedulian penonton. Para pemeran dewasanya membawakan perannya dengan bijak dan pas, termasuk Donny Alamsyah dan Andhika Pratama yang cukup berkesan, serta Ikang Fawzi sebagai kyai kepala pondok yang bermain bagus sehingga gw serta-merta lupa akan asosiasi namanya dengan On Clinic. Oh, keseriusan tampilan visual ini juga perlu diacungi jempol dan senyum tulus lho. Oke, pesantrennya emang langsung di lokasi pesantren Gontor, Ponorogo yang namanya "cuman" tinggal diganti jadi Madani, namun tugas penata artistik yang cukup sulit adalah menampilkan seting 1989-1990-an setepat mungkin, dan itu sukses banget. Mulai dari penggunaan film buat kamera foto, lem Glukol, benda-benda pos, kaleng Susu Bendera logo jadul buat nyimpen rendang (oh sponsor ternyata =D), sampai hanya menampilkan mobil-mobil tua dalam gambar-gambar &lt;i&gt;long-shot&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;quite meticulous indeed&lt;/i&gt;. Ditangkap juga oleh sinematografi yang jernih, &lt;i&gt;editing&lt;/i&gt; enak, dan diiringi musik asik, begitu mudahnya memuji Negeri 5 Menara sebagai film yang dibuat dengan niat dan semangat yang positif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu aspek yang gw suka dalam sebuah film adalah jika film bersangkutan memberi pengetahuan yang sebelumnya nggak gw punya, dan Negeri 5 Menara ini memberikannya, terutama soal pesantren, seperti kegiatan atau tidurnya para santri bagaimana. &lt;i&gt;Boarding school&lt;/i&gt; ini, di luar citra dan prasangka khalayak bahwasanya hanya mengajarkan ajaran Islam, atau bahkan—seperti dalam percakapan orang tua&amp;nbsp;Alif di awal film—semacam "pembuangan" anak-anak badung, kehidupan yang dijalani Alif dkk itu berbeda sama sekali dari bayangan itu. &lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, pelajaran agama Islam, bahasa Arab, pencak silat, disiplin ibadah yang ketat pasti ada, tetapi mereka juga diajari ilmu eksakta, bahasa Inggris yang sesekali dipakai dalam percakapan dan media tulisan bahkan ada lomba &lt;i&gt;speech&lt;/i&gt;-nya, juga ada &amp;nbsp;kegiatan ektrakurikuler yang mungkin banyak dari kita berpikir "emang boleh ya itu di pesantren?" seperti nge-band dan majalah internal yang terorganisir baik, para ustadz pun lebih sering terlihat memakai kemeja dan dasi. Jika benar otentik seperti di gambaran film ini, pendidikan yang dijalani pondok "Madani" ini mungkin malah lebih maju daripada sekolah negeri sekalipun pada zamannya.&amp;nbsp;Mungkin ini agak promosi pondok pesantren Gontor sih, hehe, toh kayaknya juga nggak semua pesantren seperti di film ini, tetapi setidaknya ini memberikan gambaran bahwa pesantren pada dasarnya adalah lembaga pendidikan sebagaimana lembaga pendidikan formal lainnya di mana pun itu, hanya saja dengan cara berasrama dan berbasis Islam. Pada akhirnya juga ini menunjukkan bahwa lulusan pesantren nggak berarti bakal &lt;i&gt;stuck&lt;/i&gt; di situ-situ aja, mimpi mereka apapun itu pasti akan terwujud kalau bersungguh-sungguh, sebagaimana semboyan yang didengungkan oleh Ustadz Salman (Donny Alamsyah), "man jadda wa jada".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Negeri 5 Menara tidak hadir sebagai sekedar Laskar Pelangi versi pesantren semata, tetapi menjadi satu lagi film yang digarap dengan baik, menghangatkan, &lt;i&gt;a feel-good movie&lt;/i&gt;. Masih ada kesan kuat "film pendidikan", tapi menyenangkan. Pesan moralnya kadang terlalu frontal, tapi nggak menjengkelkan. Berlatar Islami tetapi bukan berarti film ini nggak bisa dinikmati oleh kalangan penonton seluas mungkin, toh ini lebih ke soal kehidupan dan persahabatan daripada soal agama, juga bukan hanya ber-&lt;i&gt;gimmick&lt;/i&gt; religius layaknya sinetron bulan puasa yang nggak beda sama sinetron biasa cuman ditambahin kostum Islami, adegan doa, dan selipan bahasa Arab di dialognya. Nggak nyangka juga sih bahwa formula yang sudah pernah dipakai film lain bisa dibuat lagi dengan kualitas dan kenikmatan yang tidak kalah oke. Dengan setitik dua titik kelemahan (kadang dialognya agak berat mengawang-awang, dan adegan penutupnya juga kayak iklan &lt;i&gt;provider&lt;/i&gt; telepon selular edisi Lebaran), namun dengan kelengkapan produksi yang sangat serius, Negeri 5 Menara dengan mudah melenggang jadi salah satu &lt;i&gt;Indonesia's better films&lt;/i&gt;. Kalo katanya film ini laris ditonton masyarakat, memanglah pantas demikian =).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;My score: &lt;b&gt;7,5&lt;/b&gt;/10&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-6894139779989197714?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/6894139779989197714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-negeri-5-menara-2012.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/6894139779989197714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/6894139779989197714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-negeri-5-menara-2012.html' title='[Movie] Negeri 5 Menara (2012)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-lLATm1VHcs0/T1t6Mi-HiwI/AAAAAAAABE4/fZPCx9eiNsE/s72-c/n5m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-5830125438347960609</id><published>2012-03-08T02:27:00.001+07:00</published><updated>2012-03-08T02:30:31.496+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UK'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hollywood'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='US'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Hugo (2011)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Wugw0Fa7mwQ/T1c8fA5icuI/AAAAAAAABEs/Yg8rOSxcCEg/s1600/hugo.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://2.bp.blogspot.com/-Wugw0Fa7mwQ/T1c8fA5icuI/AAAAAAAABEs/Yg8rOSxcCEg/s320/hugo.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Hugo&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2011 - Paramount/GK Films)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Martin Scorsese&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Screenplay by John Logan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Based on the book "The Invention of Hugo Cabret" by Brian Selznick&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Graham King, Martin Scorsese, Johnny Depp, Tim Headington&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Asa Butterfield, Ben Kingsley, Chloë Grace Moretz, Sacha Baron Cohen, Helen McRory, Christopher Lee, Frances de la Tour, Emily Mortimer, Richard Griffiths, Ray Winstone, Michael Stuhlbarg, Jude Law&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari film-film terkemuka yang dirilis beberapa waktu belakangan ini banyak yang mengangkat nostalgia sebagai bagian dari ide utamanya. Sebut saja dalam deretan nominasi Best Picture di Oscar barusan ini, sedikitnya ada &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/01/movie-midnight-in-paris-2011.html"&gt;Midnight in Paris&lt;/a&gt; yang mengangkat nostalgia zaman keemasan sastra modern tahun 1920-an, jangan lupa ada &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/08/movie-tree-of-life-2011.html"&gt;The Tree of Life&lt;/a&gt; yang mayoritas isinya adalah memori masa kecil di era 1950-an, lalu &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/movie-artist-2011.html"&gt;The Artist&lt;/a&gt; yang me-"reka ulang" sensasi menonton film bisu yang berjaya di quartir awal abad ke-20, ada pula Hugo yang bahkan menjadikan salah satu pelopor dunia sinema sebagai tokoh penting di dalamnya. Walaupun diangkat dari buku cerita anak karya Brian Selznick, Hugo rupanya bukan saja hadir sebagai visualiasi kisah petualangan kanak-kanak semata. Di tangan sutradara kawakan Hollywood, Martin Scorsese, (&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2010/03/movie-shutter-island-2010.html"&gt;Shutter Island&lt;/a&gt;, The Departed, The Aviator, Goodfellas, Raging Bull, &lt;i&gt;yeah&lt;/i&gt; gak nyangka 'kan beliau akhirnya nyoba bikin "film anak"?) film ini rupanya menawarkan lebih banyak lagi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Paris, musim dingin sekitar 1930-an, tersebutlah seorang anak malang bernama Hugo Cabret (Asa Butterfield). Ibunya telah lama tiada, ayahnya (Jude Law) pun meninggal dalam kebakaran, sedangkan ia harusnya dirawat oleh pamannya, Claude (Ray Winstone) tapi si oom minggat aja gitu. Jadilah Hugo mengerjakan apa yang harusnya jadi tanggung jawab oom Claude, yakni nyetel semua jam di stasiun kereta api (karena dulu belum ada batere buat jam, adik-adik) sekaligus tinggal di balik tembok, namun jangan sampai ketahuan, terutama oleh si kepala stasiun (Sacha Baron Cohen) jika ia tidak mau dimasukkan ke panti asuhan.&amp;nbsp;Hugo sebenarnya berusaha tetap bertahan sendirian di stasiun karena ingin selesai memperbaiki sebuah mesin peninggalan sang ayah, sebuah &lt;i&gt;automaton&lt;/i&gt; (semacam robot berbentuk manusia) yang dapat menulis. Demi itu, Hugo sering mencuri perkakas dan sukucadang di toko reparasi mainan milik bapak tua Georges Méliès (Ben Kingsley)...eh sekalinya ketahuan, buku catatan peninggalan ayah soal &lt;i&gt;automaton&lt;/i&gt;&amp;nbsp;itu pun disita Georges, yang bereaksi emosional saat melihat isi catatan itu. Hugo yang ternyata punya keahlian memperbaiki barang mekanik akhirnya dipekerjakan Georges sebagai ganti barang-barang yang telah ia curi. Selama ini pula Hugo&amp;nbsp;bergaul akrab dengan putri asuh Georges, Isabelle (Chloë Grace Moretz), dan rupanya Isabelle memiliki sebuah komponen khas yang dapat mengatifkan &lt;i&gt;automaton&lt;/i&gt; Hugo. Dan wow, &lt;i&gt;automaton&lt;/i&gt; itu berfungsi...etapi &amp;nbsp;pas dicoba si &lt;i&gt;automaton&lt;/i&gt; bukannya menulis, ia malah menggambar, lalu diakhiri tanda nama&amp;nbsp;Georges Méliès! Lho lho lho, ada apa ini ada apa dengan &lt;i&gt;automaton&lt;/i&gt; dan Papa Georges?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal pertama yang mau gw bahas adalah baiknya penulisan naskah serta presentasinya. Dengan materi dasar yang menargetkan konsumen anak, serta dengan tokoh utama berwujud anak-anak, penulis John Logan berhasil membuat kisahnya mudah dicerna serta dialog yang tidak riweuh. Subplot-subplot serta karakter tambahan yang tidak terlalu nyambung dengan benang merah plot pun tetap bisa ditampilkan tanpa harus buang waktu atau mengalihkan perhatian, pokoknya pada akhirnya semua tersimpul di satu titik yang tampak wajar dan nggak maksa, ini nggak gampang lho. Kemudian ini diolah lewat penuturan Scorsese yang kali ini tampak lebih sabar, berusaha agar presentasi filmnya nggak terlalu berat, nggak buru-buru serta mudah dinikmati. Gw bilang sih jadinya film ini aman sama penonton segala usia, hubungan antar peristiwanya jelas, tokoh-tokohnya&amp;nbsp;pun&amp;nbsp;punya &lt;i&gt;appeal&lt;/i&gt; yang khas dan mudah diingat khas film anak-anak, tetapi yah kurang tau pasti juga, kali aja ada yang menganggap paruh awal film ini bosenin, karena memang gw akui film ini agak hati-hati dalam babak perkenalan dan motivasi (tanpa narator) sebelum masuk dalam tujuan utama tokoh-tokoh kita...tapi daripada kecepetan ntar nggak ngerti lagi....&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika dari segi kisah dirasa belum cukup, maka dipastikan tampilan visual film inilah yang bikin lebih betah. &lt;i&gt;Look&lt;/i&gt; film ini luar biasa, mulai dari desain produksi, kostum, efek visual, sinematografi hingga pewarnaan gambar yang &lt;i&gt;vintage&lt;/i&gt; kuning-biru (gw nggak merasa pernah lihat warna hijau di sini =D) sekali lagi membuktikan kualitas Martin Scorsese sebagai sineas yang tau betul cara membuat tontonan memikat nan matang secara visual, bahkan yang film keluarga macam ini. Detil dan presentasi gambarnya begitu cantik, lincah dan berkelas.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Visually fantastic&lt;/i&gt; walau bukan film fantasi. Memang,&amp;nbsp;Hugo tidak bisa dibandingkan dengan film-film fantasi anak macam Narnia atau Harry Potter—apalagi hanya karena ada kereta api dan 3 orang aktor yang juga main di seri Harry Potter, plis deh =P—karena film ini TIDAK ADA&lt;i&gt; MAGIC&lt;/i&gt;-nya. &amp;nbsp;Jika mau membandingkan, Hugo ini lebih mirip film anak 1990-an macam &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/06/movie-little-princess-2005.html"&gt;A Little Princess&lt;/a&gt;, yang bertumpu pada cerita yang lebih &lt;i&gt;plausible&lt;/i&gt;, layak dikonsumsi anak namun tidak kekanak-kanakan, tanpa sihir namun masih punya &lt;i&gt;sense of wonder&lt;/i&gt;, tetapi Hugo jelas punya kelengkapan yang lebih paripurna. Penggerak film ini murni petualangan Hugo dan Isabelle dalam mencari jawaban atas misteri yang mereka temui di tengah situasi yang cukup sulit sekaligus &lt;i&gt;exciting&lt;/i&gt;, tanpa sihir, tanpa ibu peri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/7CyqdJ9oj96ulspq1YiQgw--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD00MjA7cT04NTt3PTYzMA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/hugo-stills-paramount-pictures-2011-chloe-grace-moretz-62504.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/7CyqdJ9oj96ulspq1YiQgw--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD00MjA7cT04NTt3PTYzMA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/hugo-stills-paramount-pictures-2011-chloe-grace-moretz-62504.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalaupun ada yang namanya "&lt;i&gt;magic&lt;/i&gt;" di film ini bukan semata-mata gaib, melainkan daya magis dari gambar bergerak, &lt;i&gt;the magic of the movies&lt;/i&gt;. Hal yang awalnya kayak nggak relevan tetapi justru memberi penjelasan yang mendalam terhadap misteri dibalik &lt;i&gt;automaton&lt;/i&gt; itu. Satu hal dari yang gw suka dari film ini, meskipun diproduksi dengan teknologi sinema termutakhir, Hugo memberi ruang khusus bagi pengetahuan sejarah tentang cikal bakal yang namanya film. Menarik melihat berbagai reaksi penonton saat menonton film yang saat itu belumlah lazim, lebih terpukau lagi gw ketika sampai pada segmen bagaimana film-film fantasi saat itu dibuat, dengan perlengkapan teatrikal dan teknik sangat sederhana, namun hasilnya ajaib ketika gambarnya dipertontonkan. Bagian ini bikin gw senyum-senyum girang dan tersentuh, unyuw banget ya dulu orang kalo bikin film. Semangat, ketulusan, dan kreativitas para sesepuh dulu yang luar biasa terpantul dengan baik lewat film ini, IMO&amp;nbsp;&lt;i&gt;the best part of the whole film&lt;/i&gt;, dan pasti akan menggugah keharuan para pecinta film di luar sana. Inilah sisi paling unik dari Hugo, sebuah film mutakhir dan canggih yang memberi penghormatan pada "leluhur"-nya, terhadap bagaimana film dibuat pada awalnya, yang tak dipungkiri menjadi biang inspirasi bagi dunia perfilman hingga saat ini. Eh, tapi apa hubungannya sama Hugo dkk? Aaaaada deh. Coba aja cari nama&amp;nbsp;Georges Méliès di google dan youtube, &lt;i&gt;you'll get the idea&lt;/i&gt; =).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hugo adalah sajian sinema yang menawan, menghibur, rapih, cantik luar-dalam, ada sedikit pengetahuan sejarah, eh musiknya juga cakep, serta tema universal tentang pencarian jati diri lewat Hugo sendiri, yang mempertanyakan alasan dan tujuan hidupnya ketika segala kemalangan menimpanya, boro-boro mikirin masa depan. Sebuah tontonan yang komplit. Kalau dipikir, mungkin film ini tidak segitunya "untuk anak-anak", film ini punya kedalaman makna yang mungkin hanya bisa ditangkap orang dewasa—hmm perumpamaan "orang" dan "sukucadang" sih cukup jelas ya buat gw =)—tetapi memang penyajiannya terbilang aman untuk segala usia,&amp;nbsp;setidaknya nggak ada orang berdarah di sini.&amp;nbsp;Oh ya, &lt;i&gt;my favorite part&lt;/i&gt; selain tentang "sejarah film" tadi, adalah penampilan Sacha Baron Cohen yang maksimal kocaknya. Di antara semua pemain (apalagi jika dibandingkan oleh Asa Butterfield sebagai Hugo yang masih perlu belajar lagi ya dik ya), doi yang paling mencuri perhatian, gelagatnya itu paling komikal dan "Sacha Baron Cohen" banget—dalam versi semua umur tentu saja, paling sukses lah. Adegan kepalanya pelan-pelan memenuhi layar adalah efek 3-D terbaik di film ini XD. &lt;i&gt;But overall, a delightful and meaningful film.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;8,5&lt;/b&gt;/10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-5830125438347960609?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/5830125438347960609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-hugo-2011.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/5830125438347960609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/5830125438347960609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-hugo-2011.html' title='[Movie] Hugo (2011)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Wugw0Fa7mwQ/T1c8fA5icuI/AAAAAAAABEs/Yg8rOSxcCEg/s72-c/hugo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-5869858175055520061</id><published>2012-03-03T20:47:00.000+07:00</published><updated>2012-03-03T20:47:32.269+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UK'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Europe'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Tinker Tailor Soldier Spy (2011)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5ipu7xH3VvU/T1CKhfV56SI/AAAAAAAABEg/-OyPi7UGEPE/s1600/tinkertailor.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://2.bp.blogspot.com/-5ipu7xH3VvU/T1CKhfV56SI/AAAAAAAABEg/-OyPi7UGEPE/s320/tinkertailor.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Tinker Tailor Soldier Spy&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2011 - StudioCanal/Working Title/Focus Features)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Tomas Alfredson&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Screenplay by Bridget O'Connor, Peter Straughan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Based on the novel by John le Carré&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Tim Bevan, Eric Fellner, Robyn Slovo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Gary Oldman, Benedict Cumberbacth, Colin Firth, Tom Hardy, Toby Jones, Ciarán Hinds, Mark Strong, John Hurt, David Dencik, Simon McBurney, Kathy Burke, Svetlana Khodchenkova, Konstantin Khabenskiy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mari kita mulai review ini dengan berterus terang bahwa gw nggak gitu ngerti Tinker Tailor Soldier Spy ini, &lt;i&gt;okay&lt;/i&gt;? Gw tidak akan berpura-pura paham tentang segala intrik yang terjadi sepanjang film bertema spionase Inggris semasa perang dingin ini. Film produksi UK dan Prancis ini disutradarai oleh sineas Swedia, Tomas Alfredson yang angkat nama di dunia internasional lewat drama remaja vampir Let The Right One In (yang kemudian di-&lt;i&gt;remake&lt;/i&gt; jadi &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/01/movie-let-me-in-2010.html"&gt;Let Me In&lt;/a&gt; di Hollywood). Melihat data-data bahwa film ini produksi Eropa sesungguhnya sudah jadi peringatan filmnya akan "berbeda" dari film-film spionase yang biasanya gw tonton. Berdasarkan pengalaman gw yang sedikit ini, film-film karya orang Eropa kebanyakan dipresentasikan cenderung alon-alon, jadi ya musti siap-siap. Di film ini adegan yang menampilkan &lt;i&gt;opening credit&lt;/i&gt; aja ada kali 5 menit lebih, &lt;i&gt;man&lt;/i&gt;!&amp;nbsp;Tetapi bukan cuma kelambanan laju—yang berasa banget itu—yang jadi masalahnya. Karena ternyata meski bertempo irit bukan berarti segala intrik-intrik film ini jadi lebih jelas dan mudah dipahami. Sebaliknya, cukup banyak detil tersebar di sana-sini dari awal hingga akhir yang, karena gw bukanlah termasuk penonton berotak cepat tanggap, akan mudah keselip jika tidak diperhatikan benar-benar, bila tidak jadinya kayak gw yang masih agak "hah?" sama cara penyelesaian konfliknya, malah musti liat Wikipedia yang sinopsisnya &lt;i&gt;super spoiler&lt;/i&gt; itu baru agak nyambung...dikit.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berlatar tahun 1970-an, ketika terjadi Perang Dingin antara dunia Barat dengan ideologi demokrasi-liberalnya (Sekutu, termasuk Inggris dan Amerika) vs dunia Timur dengan ideologi sosialis-komunisnya (Rusia, Jerman Timur, negara-negara Eropa Tengah dan Timur), Tinker Tailor Soldier Spy berkisah tentang usaha pensiunan pimpinan MI6—lembaga intelijen rahasia Britania Raya, George Smiley (Gary Oldman) yang ditugaskan oleh Menteri Pertahanan untuk meneruskan kecurigaan pimpinan MI6 terdahulu, berkode nama "Control" (John Hurt) akan adanya pengkhianat bagi Rusia di jajaran pimpinan tertinggi MI6, kecurigaan yang dipicu oleh kegagalan misi Jim Prideaux (Mark Strong) yang harusnya memperoleh identitas jenderal komunis yang mau beralih ke Sekutu tapi dianya malah ditembak di Hungaria. Kecurigaan tidak dapat dilepaskan dari empat pimpinan MI6 yang masih ada saat ini: Percy Alleline (Toby Jones) sang pengganti Control, Roy Bland (Ciarán Hinds), Bill Haydon (Colin Firth), dan Toby Esterhase (David Dencik).&amp;nbsp;Dengan akses yang terbatas, Smiley merekrut Peter Guillam (Benedict Cumberbatch) sebagai pegangannya di dalam kantor MI6, lalu mulai menyelidiki dari petunjuk yang ada satu per satu demi membongkar siapakah si pengkhianat itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Emm, ya, film ini memang sunyi, toh namanya juga penyelidikan orang yang kerja di DALAM KANTOR jadi ketiadaan adegan laga itu bisa dimaklumi, &lt;i&gt;done&lt;/i&gt;. Nah, dalam mengikuti jalannya film ini, positifnya adalah, setiap petunjuk yang didapat dan setiap orang yang ditemui (termasuk kemunculan si agen lepas Ricky Tarr (Tom Hardy), dan beberapa staff MI6 yang dipecat oleh Alleline) pasti bermanfaat, nggak ada yang nggak penting, dan nyambung sampe bagian akhirnya, serta ada unsur yang melibatkan hubungan emosional antar pribadi yang disematkan tanpa dipaksakan. Negatifnya adalah, gw nggak paham bagaimana itu caranya bisa nyambung, hehehe. Rasanya semuanya disampaikan terlalu banyak, terlalu &lt;i&gt;subtle&lt;/i&gt;, terlalu sambil lalu, dan butuh kerja ekstra untuk merangkai sendiri petunjuk-petunjuk dan orang-orang yang sudah ditampilkan, karena film ini tidak memberikan penjelasan lebih atau perulangan. &lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, jika ini sebuah novel, gw mudah saja tinggal balik-balik ke halaman sebelumnya, tetapi ini sebuah film, yang langkahnya tetap harus jalan terus tanpa ngerem, kalau ketinggalan ya sudah ikhlasin terima jadi aja *curhat*. Hasilnya, gw jadi kurang bisa menikmati film ini...wong nggak ngerti =P.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oke, yang itu biarkan saja. Mari membahas yang bisa gw ngerti aja, yaitu nuansa film ini. Dari gambarnya yang suram dan kurang warna mencerminkan nuansa "perang dingin" (tapi warnanya tetap natural, nggak biru), ketika segala hal tampak muram dan penuh kecurigaan, dan pas dengan seting waktunya yang Eropa 70-an, yang tentu saja merupakan bukti keseriusan dari tata artistik (eh ruang rapat pimpinan oranje-nya keren =)), sinematografi, kostum serta&lt;i&gt; makeup &amp;amp; hair&lt;/i&gt;. Pokoknya &lt;i&gt;look&lt;/i&gt; film ini begitu menjiwai ke-&lt;i&gt;vintage&lt;/i&gt;-an zamannya tanpa terkesan &lt;i&gt;fabricated&lt;/i&gt;. Selain itu, tampak sutradara dalam memunculkan nuansa emosional dari tiap karakternya, yang sebenarnya udah ketahuan dari pemilihan aktor-aktornya yang gak mungkin sekadar numpang nampang doang. Ada John Hurt, Colin Firth, Toby Jones,&amp;nbsp;Ciarán Hinds, Mark Strong juga Tom Hardy dan Benedict Cumberbatch, semua mempersembahkan &lt;i&gt;presence&lt;/i&gt; karakter dengan signifikan yang cukup membantu dalam mengingat ketika gw lupa nama-nama tokoh mereka =P. Gary Oldman tentu saja tampil gemilang, meski nggak banyak "tingkah" dan terkesan selalu meredam emosinya, tetapi di situlah letak kesuksesannya dalam menunjukkan berbagai dimensi tokohnya tanpa berlebihan,&amp;nbsp;raut serta gesturnya membuatnya mudah menarik simpati dan memang meyakinkan sebagai orang yang dapat dipercaya, tetap terkesan heroik, meski dirinya sudah...err...&lt;i&gt;an old man &lt;/i&gt;=P.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau dipikir-pikir, mungkin memang tujuan sutradaranya untuk membuat Tinker Tailor Soldier Spy ini lebih bertitikberat di karakter, karena adegan-adegan yang gw bilang lamban itu lebih banyak menunjukkan gambaran karakter dan hubungan antarkarakter, dapet banget lah kalau itunya sih, terima kasih juga pada tata musiknya yang indah yang memberi polesan berarti buat adegan-adegan itu. Nggak salah juga sih. Cuman 'kan intrik film ini agak rumit dan berat ya, kalau nggak diberi penekanan ya jadi bingung, misteri dan dramanya berasa kurang seimbang.&amp;nbsp;Di saat harus ada usaha ekstra untuk merangkai misterinya, saat bersamaan harus juga ada usaha ekstra untuk bersabar dalam menghadapi lajunya, agak &lt;i&gt;too much&lt;/i&gt; usaha ya, berat juga ya beban jadi penonton, hehe. Entahlah, mungkin perlu ditonton ulang supaya lebih paham atau lebih &lt;i&gt;enjoy&lt;/i&gt;, tapi gak tau juga deh niat nonton ulangnya bakal ada atau nggak...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;6&lt;/b&gt;/10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-5869858175055520061?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/5869858175055520061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-tinker-tailor-soldier-spy-2011.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/5869858175055520061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/5869858175055520061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-tinker-tailor-soldier-spy-2011.html' title='[Movie] Tinker Tailor Soldier Spy (2011)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5ipu7xH3VvU/T1CKhfV56SI/AAAAAAAABEg/-OyPi7UGEPE/s72-c/tinkertailor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-5778708819129212853</id><published>2012-03-01T17:56:00.002+07:00</published><updated>2012-03-01T18:09:19.667+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hollywood'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='US'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] The Ides of March (2011)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-rc4_Il-rnX8/T02TazhUPDI/AAAAAAAABEU/SgLkZMJcN8k/s1600/idesofmarch.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://1.bp.blogspot.com/-rc4_Il-rnX8/T02TazhUPDI/AAAAAAAABEU/SgLkZMJcN8k/s320/idesofmarch.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;The Ides of March&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2011 - Exclusive Media Group/Cross Creek Pictures/Sony Pictures Entertainment)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by George Clooney&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Screenplay by George Clooney, Grant Heslov, Beau Willimon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Based on the stage play "Farragut North" by Beau Willimon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Grant Heslov, George Clooney, Brian Oliver&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Ryan Gosling, George Clooney, Philip Seymour Hoffman, Paul Giamatti, Evan Rachel Wood, Marisa Tomei, Jeffrey Wright, Max Minghella, Jennifer Ehle&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;George Clooney. Dulu si oom "cuma" dikenal sebagai pemeran paling ganteng di serial medis terkenal "ER". 18 tahun, sekian belas orang kekasih, 1 piala (aktor pendukung terbaik di Syriana) dan 6 nominasi Oscar kemudian (3 akting, 2 naskah, 1 sutradara), &lt;i&gt;he's already a Hollywood elite&lt;/i&gt;. Bukan cuma tambah terkenal, tambah laris dan tambah ganteng, rambahan profesinya di luar akting pun nggak main-main, kualitasnya sangat, sangat patut diperhitungkan. Oom Clooney sejauh ini baru menyutradarai 4 judul film bioskop, dua di antaranya memperoleh nominasi Oscar, yaitu Good Night, and Good Luck (termasuk sutradara dan film terbaik loh), dan yang 2011 barusan ini The Ides of March yang "hanya" diberi jatah nominasi skenario adaptasi. Intinya adalah, di luar unsur favoritisme di Academy, terbukti&amp;nbsp;&lt;i&gt;he actually can make fine films&lt;/i&gt;. The Ides of March adalah sebuah drama politik yang cukup pelik tetapi digelar lewat intrik yang mendasar dan relevan. Berdasarkan drama panggung karya Beau Willimon, "Farragut North", oom Clooney sukses merekrut jajaran aktor kualitas wahid nan menjanjikan dalam karya terbarunya ini. Sepengelihatan gw, itu sama sekali tidak percuma.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika ada kesulitan dalam menikmati The Ides of March ini, maka itu cuma mengenai latar sistem pemilihan calon presiden Amerika Serikat yang terus terang aja nggak gw pahami betul. Jadi, kira-kira aja nih ya, dua partai politik besar di sana, Partai Demokrat (cenderung liberal, julukannya "partai biru" yang berlambang keledai) dan Partai Republik (cenderung konservatif/religius, julukannya "partai merah" yang berlambang gajah) masing-masing mengajukan satu orang calon presiden. Namun sebelum itu harus ada &lt;i&gt;primary election&lt;/i&gt;, yaitu menentukan siapa capres yang akan diajukan oleh masing-masing partai. Proses ini di masing-masing partai udah mirip persaingan pemilu presiden betulan, karena tiap kandidat (kali ini dua orang) harus berusaha memenangkan sebanyak mungkin dukungan anggota/delegasi dari partainya sendiri di tiap negara bagian—jadi bukan model musyawarah nasional/sidang raya/muktamar/kaukus/apalah namanya itu. The Ides of March menyorot pada titik ini—kisah fiktif tentu saja, khususnya soal tim sukses gubernur Mike Morris (George Clooney) dalam menghadapi rivalnya senator Pullman (Michael Mantell) untuk meraih posisi capres Partai Demokrat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stephen Meyers (Ryan Gosling) adalah kepala staff kampanye Morris yang muda nan cerdas—tugasnya kira-kira menyiapkan materi kampanye, entah pidato, argumen debat atau persiapan wawancara, musti hati-hati juga lho karena kalo salah sedikit bisa diputarbalikkan oleh pihak lawan untuk menjatuhkan. Meski sebenarnya ketua tim sukses Morris adalah Paul Zara (Philip Seymour Hoffman), banyak bagian dari bahan pidato/debat kampanye Morris disusun oleh Stephen. Tak hanya itu, Stephen menjalankan tugasnya itu dengan keyakinan bahwa kepemimpinan Morris akan membawa perubahan lebih baik bagi bangsanya.&amp;nbsp;Stephen bukan sekadar ingin memenangkan Morris karena dia bergabung di tim kampanyenya, namun ia memang&amp;nbsp;percaya akan sosok Morris yang bersih dan rasional,&amp;nbsp;tanpa cara kotor pun Morris bakal menang, tak hanya sebagai capres Partai Demokrat, tetapi juga sebagai presiden Amerika Serikat nantinya. Idealisme politik Stephen pun harus diuji ketika ketua tim sukses Pullman, Tom Duffy (Paul Giamatti) tiba-tiba mengajaknya untuk bertemu secara rahasia, ternyata untuk menawarkan posisi di tim sukses Pullman. Meskipun Stephen menolak, &lt;i&gt;still that was, of course, a mistake&lt;/i&gt;. Situasi tambah runyam, ketika Stephen tanpa sengaja menguak sebuah rahasia dari cewek magang&amp;nbsp;yang dikencaninya,&amp;nbsp;Molly (Evan Rachel Wood) yang dapat membahayakan langkah politik Morris.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gw berani bilang bahwa The Ides of March, meski berlabel seram "drama politik", sesungguhnya tidak sulit dinikmati oleh lebih banyak orang, karena intisarinya kerap terjadi di mana saja. Kita bisa begitu terpaku kagum akan satu tokoh, seperti Mike Morris di sini, dan kita berlaku setia hingga berbuat apa saja sebagai bentuk dukungan karena kekaguman itu. Namun kadang kita lupa bahwa sosok yang kita kagumi dan percayai adalah manusia juga. Morris adalah sosok pemimpin yang ideal, pemikirannya maju, argumennya meyakinkan, sikapnya tegas tanpa terkesan ambisius, dan ia tidak suka menjegal lawan dengan cara tercela...tetapi pasti ada saja satu sisi dirinya yang tidak sesuai ekspektasi semua orang, dan dari sisi inilah kerap timbul kekecewaan yang menyakitkan, kesetiaan pengagumnya tentu akan terguncang, apalagi mengingat posisi Stephen yang menyaksikan sendiri &lt;i&gt;flaw&lt;/i&gt; dari tokoh yang dikaguminya. Sebagaimana kata Dorce, kesempurnaan hanya milik Allah, kekurangan milik kita. Dan gw agak-agak merasa ini seperti "Bill Clinton: the movie" =D.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film ini menyampaikan ide tersebut dalam sebuah konstruksi plot yang rapih dan kokoh, segala motivasi dan sebab-akibatnya logis dan cukup mudah diikuti, tidak ada yang sia-sia dan mengerucut pada satu titik konflik yang krusial, yaitu ketika kekecewaan Stephen mengoyak kepercayaan dan idealismenya terhadap masa depan yang lebih baik sebagaimana diyakininya saat terjun ke dunia politik. Jadi, terlepas dari nama-nama tenar yang jadi pemerannya serta nama sutradaranya, The Ides of March adalah sebuah film yang dirangkai dengan solid, dikemas dalam kelengkapan teknis yang baik dan ritme yang intensif,&amp;nbsp;nggak terlalu cepat ataupun lambat—nuansanya mengingatkan gw sama Michael Clayton, dialognya ditata baik dan nggak terlalu mbingungin, sekaligus mengusung sebuah isu manusiawi yang cukup penting. Hal yang gw juga sukai dari film ini adalah karakterisasi yang dibangun dengan baik dan efektif, meski levelnya "pemilihan calon presiden USA" tetapi terus menjejakkan penuturannya pada tokoh-tokoh secara personal, dan inilah yang sukses membuat gw merasa terlibat dan mudah memahami apa yang terjadi pada plotnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Eksibisi kemampuan akting para pemerannya pun terakomodir dengan baik, sangat baik malah, film ini punya salah satu &lt;i&gt;ensemble cast&lt;/i&gt; terbaik yang pernah gw tonton. Kita bakal lihat akting kharismatik George Clooney (cukup menarik bahwa si oom jarang jadi peran utama di film garapannya sendiri), penjiwaan tingkat tinggi dari Philip Seymour Hoffman dan Paul Giamatti, kehadiran singkat nan signifikan dari Marisa Tomei dan Jeffrey Wright, juga penampilan manis nan rapuh dari Evan Rachel Wood. Ryan Gosling sendiri juga membuktikan dirinya pantas memikul tanggung jawab sebagai pemeran utama sekaligus disejajarkan bareng para aktor hebat tersebut, perubahannya dari sosok cerdas dan tulus ke bimbang hingga kecewa hingga sikapnya menghadapi dilema dibawakan dengan mulus tanpa cela berarti, DAN kita bahkan bisa melihat doi menyetir—&lt;i&gt;get it&lt;/i&gt;? "&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/12/movie-drive-2011.html"&gt;nyetir&lt;/a&gt;"? =P. &lt;i&gt;In the other hand&lt;/i&gt;, The Ides of March adalah satu lagi bukti kualitas dan kerja keras seorang George Clooney sang &lt;i&gt;filmmaker&lt;/i&gt; yang semakin matang, nyaman disaksikan sekaligus berkelas dan berbobot. Eh, &lt;i&gt;interestingly&lt;/i&gt; gw juga mencium colongan opini (mungkin dari oom Clooney) tentang isu-isu mutakhir di Amerika (kebebasan beragama, pajak progresif, perang di Timur Tengah, pernikahan sejenis dst.) lewat pidato dan argumen Mike Morris. Kritis nih ye...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;8&lt;/b&gt;/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;NB: setelah nyontek wiki, "&lt;i&gt;the ides of March&lt;/i&gt;" itu adalah sebutan zaman Romawi kuno untuk hari paling tengah (&lt;i&gt;idus&lt;/i&gt;) dari bulan Maret, yaitu tanggal 15 Maret. Hari ini jadi terkenal karena Julius Caesar ditikam ramai-ramai oleh dewan senat pada hari itu untuk mengakhiri kekuasaannya. 15 Maret dalam film The Ides of March mungkin merujuk pada tanggal 15 Maret (bisa jadi tahun 2011, soalnya katanya hari Selasa/Super Tuesday) yaitu ketika ceritanya akan diadakan primary election Partai Demokrat di negara bagian Ohio. Soal hubungannya sama tewasnya Caesar...kurang tau juga ya, hehehe&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-5778708819129212853?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/5778708819129212853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-ides-of-march-2011.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/5778708819129212853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/5778708819129212853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/03/movie-ides-of-march-2011.html' title='[Movie] The Ides of March (2011)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-rc4_Il-rnX8/T02TazhUPDI/AAAAAAAABEU/SgLkZMJcN8k/s72-c/idesofmarch.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-3766916784490498946</id><published>2012-02-27T13:11:00.002+07:00</published><updated>2012-02-27T18:58:43.433+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hollywood'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='oscar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='article'/><title type='text'>WINNERS of The 84th Academy Awards</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baru saja usai pembagian piala penghargaan paling bergengsi di perfilman Hollywood, The 84th Academy Awards di Hollywood and Highland Theatre d/h Kodak Theatre, tepatnya 26 Februari 2012 waktu sono alias 27 Februari 2012 pagi waktu Indonesia. Mari kita cek peraihnya sekaligus seberapa bodoh gw dalam menebak pemenang di masing-masing kategori. (O) berarti benar dan (X) berarti salah. A&lt;i&gt;nd the Oscars went to&lt;/i&gt;...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-mUa73iYSyf0/T0sS0zYvkbI/AAAAAAAABEI/Utmf81Gy6g8/s1600/84aa-poster-page.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-mUa73iYSyf0/T0sS0zYvkbI/AAAAAAAABEI/Utmf81Gy6g8/s320/84aa-poster-page.jpg" width="219" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;best picture&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/movie-artist-2011.html"&gt;The Artist&lt;/a&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (O)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Lovely film. And Harvey Weinstein.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;directing&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;"The Artist", Michel Hazanavicius&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; (O)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Well-deserved. And Harvey Weinstein.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;actor in a leading role&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Jean Dujardin in "The Artist"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (O)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Wonderful performance, &lt;/i&gt;pantas menang&lt;i&gt;. And Harvey Weinstein&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;actress in a leading role&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Meryl Streep in "&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/01/movie-iron-lady-2011.html"&gt;The Iron Lady&lt;/a&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (X)&lt;br /&gt;Akhirnya, Oscar ketiga untuk si ratu akting. Sangat pantas. &lt;i&gt;Oh, and Harvey Weinstein.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;actor in a supporting role&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Christopher Plummer in "Beginners"&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; (O)&lt;br /&gt;Mengambil quote opa Plummer kepada piala Oscar-nya saat &lt;i&gt;speech&lt;/i&gt;: "&lt;i&gt;You're only two years older than me, darling. Where have you been all my life&lt;/i&gt;?" =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;actress in a supporting role&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Octavia Spencer in "&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/movie-help-2011.html"&gt;The Help&lt;/a&gt;"&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; (O)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;The easiest guess&lt;/i&gt;, tetap agak terharu waktu Octavia menerima pialanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;writing (adapted screenplay)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"The Descendants"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (O)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;writing (original screenplay)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/01/movie-midnight-in-paris-2011.html"&gt;Midnight in Paris&lt;/a&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &amp;nbsp;(O)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;animated feature film&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/09/movie-rango-2011.html"&gt;Rango&lt;/a&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (O)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;foreign language film&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;"A Separation", Iran&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; (O)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;cinematography&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"Hugo"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (X)&lt;br /&gt;Yah, kecewa Emmanuel Lubezki gak menang. &lt;i&gt;In the other hand&lt;/i&gt;, Robert Richardson kini masuk dalam jajaran sinematografer yang menang 3 Oscar, itu sebuah prestasi gemilang, dan siapa tahu filmnya emang bagus (belum nonton).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;film editing&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"The Girl with the Dragon Tattoo"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (X)&lt;br /&gt;Tim yang sama di "The Social Network" tahun lalu kembali menang dalam film ini. Agak mengejutkan soalnya kirain Oscar nggak mau ngasih piala sama tim yang persis sama dua tahun berturut-turut, &lt;i&gt;but I don't think that matters now&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;art direction&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"Hugo"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (O)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;costume design&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;"The Artist"&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; (X)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And Harvey Weinstein.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;makeup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"The Iron Lady"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (O)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Well-deserved even without&amp;nbsp;Harvey Weinstein.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;music (score)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"The Artist"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (O)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Also well-deserved even without&amp;nbsp;Harvey Weinstein.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;music (song)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;"Man or Muppet" from "&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/movie-muppets-2011.html"&gt;The Muppets&lt;/a&gt;"&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; (X)&lt;br /&gt;Tuh salah lagi kan =|&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;sound editing&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"Hugo"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;sound mixing&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"Hugo"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (O)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;visual effects&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"Hugo"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (X)&lt;br /&gt;Ohohoho, &lt;i&gt;didn't really see this coming. but that's alright&lt;/i&gt;, setidaknya bukan Transformers =P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;documentary feature&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"Undefeated"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (X)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And Harvey Weinstein.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;documentary short subject&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"Saving Face"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;short film (animated)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;"The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore"&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; (X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;short film (live action)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;"The Shore"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Total tebakan gw hanya benar 13 dari 24 kategori, persis sama dengan tahun lalu. &lt;i&gt;O, well,&lt;/i&gt; emang saya bukan penebak yang handal. Kalau direkapitulasi, The Artist berjaya atas raihan 5 piala termasuk di kategori utama yaitu Best Picture, Best Director, Best Actor untuk Jean Dujardin selain juga di kategori Original Music Score dan Costume Design. Jumlah yang sama diraih oleh film anak 3-Dimensi karya Martin Scorsese, Hugo untuk kebanyakan kategori teknis seperti&amp;nbsp;Art Direction dan Cinematography (dua piala yang dibagikan paling awal)&amp;nbsp;selain&amp;nbsp;Sound Mixing, Sound Editing, dan Visual Effect.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Acara penganugerahan pun berlangsung cukup mulus, lebih mending daripada tahun lalu yang nggak berenergi meski &lt;i&gt;host-&lt;/i&gt;nya dua orang aktor muda. Billy Crystal justru dengan sangat nyaman dan lancar kembali membawakan acara dari awal hingga akhir untuk ke-9 kalinya, meskipun dibilang lucu banget juga nggak. Ada pertunjukan singkat dari Cirque du Soleil yang memukau, dan yang paling gw suka dari acara ini adalah tata musik pengiring acaranya yang diurus oleh Hans Zimmer (pemenang Oscar untuk The Lion King) yang kerja bareng Pharrell Williams (N.E.R.D.), terlihat ada A.R. Rahman juga di beberapa segmen, karena mereka merangkai musik yang elegan tetapi dengan sentuhan modern yang luar biasa asik. Keren. Tapi kekecewaan besar terjadi karena nggak ada performa nomine Best Original Song. Cuma dua nomine tapi tetep nggak dikasih nyanyi?! Kebangetan dah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir kata, selamat untuk para pemenang, semoga film-film yang belum beredar di bioskop kita segera tayang juga. &lt;i&gt;Thank you for the movies&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-3766916784490498946?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/3766916784490498946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/winners-of-84th-academy-awards.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/3766916784490498946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/3766916784490498946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/winners-of-84th-academy-awards.html' title='WINNERS of The 84th Academy Awards'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-mUa73iYSyf0/T0sS0zYvkbI/AAAAAAAABEI/Utmf81Gy6g8/s72-c/84aa-poster-page.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-4287985660520960526</id><published>2012-02-26T23:54:00.001+07:00</published><updated>2012-02-26T23:55:43.788+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] Dilema (2012)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-jVPH9cK-IBw/T0h21CVFomI/AAAAAAAABDM/v-yYdOkwaOI/s1600/dilema.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://3.bp.blogspot.com/-jVPH9cK-IBw/T0h21CVFomI/AAAAAAAABDM/v-yYdOkwaOI/s320/dilema.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;Dilema&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2012 - WGE Pictures/87 Films)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Directed by Robert Ronny, Adilla Dimitri, Rinaldy Puspoyo, Robby Ertanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Written by Wulan Guritno, Adilla Dimitri, Robert Ronny, Robby Ertanto, Rinaldy Puspoyo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Wulan Guritno, Adilla Dimitri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Roy Marten, Slamet Rahardjo, Reza Rahadian, Pevita Pearce, Ario Bayu, Winky Wiryawan, Baim Wong, Wulan Guritno, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Ray Sahetapi, Jajang C. Noer, Abimana Aryasatya, Kenes Andari, Verdi Solaiman, Rangga Djoned&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya gw cukup kesulitan menjabarkan ulang konsep dari film Dilema. Film ini diklaim sebagai film &lt;i&gt;omnibus&lt;/i&gt;, yang kalo gw gak salah tangkep maknanya adalah dalam durasi &lt;i&gt;full feature&lt;/i&gt; (kali ini sekitar 90 menit) terdapat beberapa segmen film pendek yang digarap terpisah—cerita dan atau pembuatnya—yang memiliki sedikit keterkaitan entah itu tema (seperti Perempuan Punya Cerita), seting (misalnya Paris Je T'aime) ataupun &lt;i&gt;genre&lt;/i&gt; (seperti horor 4Bia atau Takut), atau ada juga seperti Jakarta Maghrib yang terdiri dari beberapa segmen cerita terpisah namun digarap oleh kru yang sama. Tapi biasanya, sekat antar segmen di film &lt;i&gt;omnibus&lt;/i&gt; itu jelas dan berurut. Dilema boleh disebut &lt;i&gt;omnibus&lt;/i&gt;, ada 5 segmen yang konon dibuat terpisah, menurut laman &lt;a href="http://dilemathemovie.wikia.com/wiki/DilemaTheMovie_Wiki"&gt;wiki resmi&lt;/a&gt;nya ada segmen The Officer (sutradara Adilla Dimitri), Garis Keras/Hardline (sutradara&amp;nbsp;Robby Ertanto), The Big Boss (sutradara&amp;nbsp;Rinaldy Puspoyo), The Gambler (sutradara&amp;nbsp; Robert Ronny), dan Rendezvous yang entah siapa sutradaranya (di wiki-nya sih ditulis Yudi Datau—yang menjabat sinematografer film ini—tapi nggak tercantum resmi baik di film maupun poster). Akan tetapi, kelima segmen ini tidaklah terpisah-terpisah amat, semua segmen masih sangat berkait, malah lebih mirip film multi-plot ketimbang film &lt;i&gt;omnibus&lt;/i&gt;. Lagipula, tiap segmen disajikan random tanpa sekat segmen yang jelas, gw bahkan nggak tau judul tiap segmen sebelum liat di &lt;i&gt;credit roll&lt;/i&gt; akhir. Nah, jadinya lebih mirip film Traffic atau Babel...tapi tiap segmen dibuat oleh sutradara berbeda...mmm...yah kira-kira begitulah *segitu dulu bingungnya*.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Dilema, penonton diberi sajian 5 sisi nista kehidupan ibukota. The Officer bercerita soal polisi yang baru mulai patroli di hari pertama, Ario (Ario Bayu) mengikuti seniornya Bowo (Tio Pakusadewo) yang preman dan korup—&lt;i&gt;somehow&lt;/i&gt; gw gak yakin otentisitas polisi reserse kriminal tampilannya bisa kayak duo Lethal Weapon seperti Ario dan Bowo, ada yang bisa konfirmasi? =). Garis Keras adalah tentang runtuhnya hubungan persahabatan Ibnu (Baim Wong) dan Said (Winky Wiryawan) yang tergabung dalam gerakan kekerasan radikal atas nama agama, karena salah satu mulai menyadari ada yang salah dengan tindakan-tindakan mereka. The Big Boss mengikuti arsitek muda Adrian (Reza Rahadian) yang secara misterius dipanggil oleh Sonny Wibisono (Roy Marten), seorang pengusaha raksasa sekaligus bukan-rahasia-lagi dedengkot &lt;i&gt;organized crime&lt;/i&gt; yang berkuasa (baik ekonomi maupun aparat hukum) di Jakarta yang sudah mendekati ajal. The Gambler cukup sederhana mengisahkan seorang paruh baya, Sigit (Slamet Rahardjo) yang meski sudah lama tidak berjudi, tiba-tiba datang bernostalgia ke perjudian (tentu saja tempat ilegal) milik Gilang (Ray Sahetapi) dan kembali main demi mendapatkan jam tangan warisannya kembali. Sedang Rendezvous mungkin akan familiar bagi yang sering nonton filmnya Nayato, tentang seorang gadis muda, Dian (Pevita Pearce) yang sedang liburan galau karena kurang perhatian orang tua kemudian bertemu dengan seorang wanita tomboy, Rima (Wulan Guritno) yang menyeretnya kembali ke pergaulan bebas (&lt;i&gt;plus the "now, kiss" moment between them girls&lt;/i&gt;, fufufu).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Interrestingly&lt;/i&gt;, Dilema ini justru cukup kawin bila dinikmati sebagai satu film utuh tanpa perlu mengingat embel-embel &lt;i&gt;omnibus&lt;/i&gt; atau "kompilasi film pendek", ya karena memang kaitannya yang sangat nyambung, yang mulai ketahuan di pertengahan. Pun sebenarnya &lt;i&gt;tone&lt;/i&gt; tiap segmennya nggak beda jauh meski sutradaranya beda-beda, mungkin kerja editor serta sinematografi yang berfungsi maksimal dalam hal ini—dan memang dikerjakan oleh orang-orang yang sama untuk semua segmen, sehingga ritmenya bisa terjaga, tidak ada segmen yang terasa lebih lemah dari yang lainnya, semua bisa tampil seimbang. Dengan kata lain, Dilema bisa dibilang tontonan yang solid sebagai satu kesatuan, &lt;i&gt;pretty enjoyable&lt;/i&gt;. Mungkin masalahnya adalah di bagian cerita yang, yah gitu lagi gitu lagi. Nggak bisa dibilang terlalu ngaco sih, cuman setiap segmen punya basis plot yang tidak terlalu baru, entah itu remaja stress kena narkoba, seorang anak yatim piatu yang nggak sadar dia itu selama ini keberuntungannya sudah diatur, atau anak baru idealis vs senior korup. Garis Keras yang mengangkat isu kelompok berlabel agamayang bertindak radikal juga agak terlalu &lt;i&gt;preachy&lt;/i&gt; dan sambungan ke "segmen lain"-nya pun maksa banget. Namun lagi-lagi, penyampaiannya dibuat sewajar mungkin, pun pada bagian akhir tiap segmen akhirnya kembali pada tema "dilema", dimana karakter-karakter dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang sulit, sehingga kekurangsegaran plot dasar dapat agak tersamarkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika boleh memilih, bagian favorit gw jatuh pada segmen The Gambler. Kisahnya mungkin agak mengingatkan pada kesaksian-kesaksian di acara Solusi Life *heuheuheu*, pun properti arloji emas warisan yang dipertaruhkan tidak tampak "150 juta rupiah"—&lt;i&gt;I mean&lt;/i&gt;, bannya kulit gitu =P. Namun plot yang masuk akal dan pendekatan yang ekstensif terhadap karakter Pak Sigit (yang dimainkan cukup mengesankan oleh Slamet Rahardjo) membuat gw jadi berpihak sama Pak Sigit meskipun tindakannya haram dan motivasinya untuk kambuh berjudi juga cetek, tapi gw akan ikut merasa senewen tiap kali kartunya kalah, haha. &lt;i&gt;Merging&lt;/i&gt;-nya dengan segmen The Officer—&lt;i&gt;spoiler&lt;/i&gt; dikit, walau awalnya juga terasa &lt;i&gt;lame&lt;/i&gt; dan terlalu banget, tapi akhirnya punya &lt;i&gt;ending&lt;/i&gt; paling kuat dari yang lain. Dari segi visual pun The Gambler yang paling oke, ini mungkin karena setingnya yang hanya di tempat judi ilegal (plus toiletnya), ruang dan pencahayaannya ditata paling menarik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ngomong-ngomong soal visual, Dilema menurut gw ditangkap dengan tata kamera yang baik, pewarnaannya terjaga, hanya saja segi desain produksinya—selain The Gambler—terlihat kurang menarik dan terlalu sederhana sehingga tidak beda dengan sinetron atau FTV. &lt;i&gt;We need to improve our production designing&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;Serta satu hal yang bikin kagok adalah rentang waktu tiap segmen, apakah waktunya bersamaan atau tiap segmen ada rentang waktu tersendiri tidak terlalu jelas, ini terutama di segmen Rendezvous yang suasananya selalu malam dan pakaian orang-orangnya selalu sama.&amp;nbsp;Namun terlepas dari itu, Dilema masih bisa didapuk sebagai film yang layak tonton karena &lt;i&gt;overall&lt;/i&gt; digarap serius, tidak mencelakakan dan tidak menjemukan, setidaknya bagi gw. Penampilan para aktor ternama di dalamnya juga bukan sekadar jualan, karena mereka semua bisa tampil baik. Gw cukup terkejut ketika melihat Baim Wong ternyata bisa akting betulan setelah selama ini dirinya hanya terlihat pura-pura akting di layar kaca =P, dan patut dicatat pula Wulan Guritno dalam film yang diproduksinya sendiri bareng suaminya ini membuktikan bahwa dia selalu bisa jadi aktris andalan dalam beragam peran, &lt;i&gt;she's good&lt;/i&gt;. Sayangnya, meski berharap banyak pada Roy Marten, apalagi dengan perannya yang "serem", gw malah tidak merasakan apa yang harusnya gw rasakan pada tokoh Sonny Wibisono, mungkin harusnya oom Roy dan oom Tio tukeran peran, hehe. &lt;i&gt;But anyway, good job&lt;/i&gt; buat kru Dilema, film ini sama sekali tidak memalukan. Eh...jadi...sutradara segmen Rendezvous siapa nih?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;7&lt;/b&gt;/10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-4287985660520960526?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/4287985660520960526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/movie-dilema-2012.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/4287985660520960526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/4287985660520960526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/movie-dilema-2012.html' title='[Movie] Dilema (2012)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-jVPH9cK-IBw/T0h21CVFomI/AAAAAAAABDM/v-yYdOkwaOI/s72-c/dilema.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-2582741162561396380</id><published>2012-02-26T20:45:00.003+07:00</published><updated>2012-02-26T20:59:41.793+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IMBlog'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='article'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>The 2nd IMBlog Choice Awards Champions - Film Asing</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-uv3Zib_RBA4/TTEq_hzhKeI/AAAAAAAAAds/Ss-fry0XdHA/s1600/Imblog_banner200x200.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-uv3Zib_RBA4/TTEq_hzhKeI/AAAAAAAAAds/Ss-fry0XdHA/s1600/Imblog_banner200x200.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah melepas &lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2012/01/2nd-imblog-choice-awards-nominees-film.html"&gt;daftar nominasi&lt;/a&gt;nya bulan lalu, 25 Februari 2012 malam kemarin melalui akun Twitter resmi Indonesian Movie Bloggers Community &lt;a href="https://twitter.com/#!/IMBlogCommunity"&gt;@IMBlogCommunity&lt;/a&gt;, maka terungkaplah peraih Indonesian Movie Bloggers Choice Awards atau &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;IMBlog Choice Awards&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; tahun kedua untuk kategori &lt;b&gt;Film Asing&lt;/b&gt; (non-Indonesia), baik yang mendapat predikat &lt;b&gt;JAWARA&lt;/b&gt;—dipilih oleh para &lt;i&gt;blogger&lt;/i&gt; pembahas film anggota IMBlog Community (secara demokratis lho gak pake kongkalikong apalagi bayar-membayar =)), maupun predikat &lt;b&gt;TERSOHOR&lt;/b&gt; yang dipilih lewat &lt;i&gt;polling&lt;/i&gt; terbuka. Ajang daring apresiasi film ala &lt;i&gt;movie bloggers&lt;/i&gt; kali ini menjadi "empunya" film semi-surealis The Tree of Life yang memperoleh 6 predikat Jawara termasuk Film Jawara selain 4 predikat Tersohor. Sedangkan Black Swan berjaya merebut perhatian para &lt;i&gt;voters&lt;/i&gt; umum sehingga sukses memenangkan predikat Film Tersohor. Eh, dalam &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;IMBlog Choice Awards&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; kedua ini kembali diwarnai oleh hal menarik ketika &lt;i&gt;movie bloggers&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;voters&lt;/i&gt; umum memenangkan para pemenang yang sama persis untuk kategori Pelakon Utama Pria/Wanita dan Pelakon Pendukung Pria/Wanita, ade ape =D. &lt;i&gt;Anyway&lt;/i&gt;, berikut adalah daftar lengkap pemenang &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;The 2nd IMBlog Choice Awards&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; untuk kategori Film Asing.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;KATEGORI FILM ASING&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;JAWARA:&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;FILM JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/08/movie-tree-of-life-2011.html"&gt;The Tree of Life&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/AotlwwALgLB.q.v6J8yqzw--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD05NDU7cT04NTt3PTYzMA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/tree-life-2011-fox-searchlight-pictures-jessica-chastain-59706.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/AotlwwALgLB.q.v6J8yqzw--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD05NDU7cT04NTt3PTYzMA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/tree-life-2011-fox-searchlight-pictures-jessica-chastain-59706.jpg" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;The Tree of Life&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SUTRADARA JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terrence Malick (The Tree of Life)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;NASKAH ADAPTASI JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/12/movie-drive-2011.html"&gt;Drive&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;NASKAH ASLI JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/03/movie-another-year-2010.html"&gt;Another Year&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PELAKON UTAMA PRIA JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Colin Firth (&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/02/movie-kings-speech-2010.html"&gt;The King's Speech&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/bkf2TLnsbZgrOsaIHcRa5w--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD05NDU7cT04NTt3PTYzMA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/kings-speech-2010-weinstein-company-colin-firth-54012.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/bkf2TLnsbZgrOsaIHcRa5w--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD05NDU7cT04NTt3PTYzMA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/kings-speech-2010-weinstein-company-colin-firth-54012.jpg" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Colin Firth in The King's Speech&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PELAKON UTAMA WANITA JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Natalie Portman (&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/06/movie-black-swan-2010.html"&gt;Black Swan&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PELAKON PENDUKUNG PRIA JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Christian Bale (&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/02/movie-fighter-2010.html"&gt;The Fighter&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PELAKON PENDUKUNG WANITA JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jessica Chastain (The Tree of Life)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PELAKON BARU JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jessica Chastain (The Tree of Life) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;FILM ANIMASI JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/09/movie-rango-2011.html"&gt;Rango&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;SPECIAL EFFECT&lt;/i&gt; JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/09/movie-rise-of-planet-of-apes-2011.html"&gt;Rise of the Planet of the Apes&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/W9SFjA9M4IoLzt1O6J7xKQ--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0zNTI7cT04NTt3PTYzMA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/rise-planet-apes-2011-20th-century-fox-61806.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="178" src="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/W9SFjA9M4IoLzt1O6J7xKQ--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0zNTI7cT04NTt3PTYzMA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/rise-planet-apes-2011-20th-century-fox-61806.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Rise of the Planet of the Apes&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;LAGU TEMA JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;“A Real Hero” (Drive)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MUSIK PENGIRING JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;The Tree of Life&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;OPENING&lt;/i&gt; JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Scream 4&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;ENDING&lt;/i&gt; JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Black Swan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;POSTER JAWARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;The Tree of Life&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-10WAk4OOzz4/T0n_qyJUjBI/AAAAAAAABDc/gVp2gITUp-o/s1600/treeoflife2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-10WAk4OOzz4/T0n_qyJUjBI/AAAAAAAABDc/gVp2gITUp-o/s200/treeoflife2.jpg" width="135" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-QXRjW7lWHYA/T0n_rxUYYOI/AAAAAAAABDo/fhwRvG7oyDo/s1600/treeoflife3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nLGNKUN3yeg/TkkrwFKZ8WI/AAAAAAAAApY/AwSa2dQ_P28/s1600/tree_of_life_ver2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-nLGNKUN3yeg/TkkrwFKZ8WI/AAAAAAAAApY/AwSa2dQ_P28/s200/tree_of_life_ver2.jpg" width="126" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-BxTa6LcKYgo/T0n_p8HHm8I/AAAAAAAABDY/O1b7xoG32ds/s1600/treeoflife.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-BxTa6LcKYgo/T0n_p8HHm8I/AAAAAAAABDY/O1b7xoG32ds/s200/treeoflife.jpg" width="140" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;TERSOHOR:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;(dari 90 suara)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;FILM TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Black Swan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/jZbxsjbycVKtNUGHbajLiQ--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD03Njc7cT04NTt3PTQ5MA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/black-swan-still-fox-searchlight-2010-natalie-portman-48326.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/jZbxsjbycVKtNUGHbajLiQ--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD03Njc7cT04NTt3PTQ5MA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/black-swan-still-fox-searchlight-2010-natalie-portman-48326.jpg" width="204" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Black Swan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SUTRADARA TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terrence Malick (The Tree of Life) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;NASKAH ADAPTASI TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;127 Hours&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;NASKAH ASLI TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;The Tree of Life&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PELAKON UTAMA PRIA TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Colin Firth (The King's Speech) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PELAKON UTAMA WANITA TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Natalie Portman (Black Swan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PELAKON PENDUKUNG PRIA TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Christian Bale (The Fighter) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/TaaBo4XGiaGSx4MK3n4axg--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD00MTk7cT04NTt3PTYzMA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/fighter-paramount-pictures-2010-mark-wahlberg-christian-bale-54715.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/TaaBo4XGiaGSx4MK3n4axg--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD00MTk7cT04NTt3PTYzMA--/http://media.zenfs.com/en_us/Movies/PhotoG/fighter-paramount-pictures-2010-mark-wahlberg-christian-bale-54715.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Christian Bale (right) in The Fighter&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PELAKON PENDUKUNG WANITA TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jessica Chastain (The Tree of Life) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PELAKON BARU TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dakota Goyo (&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/11/movie-real-steel-2011.html"&gt;Real Steel&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.ropeofsilicon.com/Images/moviestills/r/realsteel/34.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://www.ropeofsilicon.com/Images/moviestills/r/realsteel/34.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Dakota Goyo in Real Steel&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;FILM ANIMASI TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/11/movie-adventures-of-tintin-2011.html"&gt;The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;SPECIAL EFFECT&lt;/i&gt; TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/07/movie-harry-potter-and-deathly-hallows.html"&gt;Harry Potter and the Deathly Hallows Part&amp;nbsp;2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;LAGU TEMA TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;“A Real Hero” (Drive)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MUSIK PENGIRING TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Drive&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;OPENING&lt;/i&gt; TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;The Tree of Life&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;ENDING&lt;/i&gt; TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Black Swan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;POSTER TERSOHOR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ajirenji.blogspot.com/2011/10/movie-super-8-2011.html"&gt;Super 8&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-bO3adx7iOW8/T0oDvb-7gjI/AAAAAAAABD8/qSYh0WQuKQA/s1600/super81.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-bO3adx7iOW8/T0oDvb-7gjI/AAAAAAAABD8/qSYh0WQuKQA/s200/super81.jpg" width="135" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Z62xhwp0TTA/T0oDuQ0t9lI/AAAAAAAABD0/nGuAn1nTUyY/s1600/super2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-Z62xhwp0TTA/T0oDuQ0t9lI/AAAAAAAABD0/nGuAn1nTUyY/s200/super2.jpg" style="cursor: move;" width="135" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-t-X0hg26-9w/TqIq09dhOyI/AAAAAAAAAyg/l14ti4NXUfk/s1600/super8.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-t-X0hg26-9w/TqIq09dhOyI/AAAAAAAAAyg/l14ti4NXUfk/s200/super8.jpg" style="cursor: move;" width="134" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat kepada para JAWARA dan TERSOHOR, serta para fans-nya =). Terima kasih juga kepada para &lt;i&gt;voters&lt;/i&gt; yang telah berpartisipasi dalam &lt;i&gt;polling&lt;/i&gt; Tersohor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ini, nantikan &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;The 2nd IMBlog Choice Awards&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; untuk kategori &lt;b&gt;Film Indonesia&lt;/b&gt; yang akan diadakan menyambut Hari Film Nasional bulan Maret nanti. &lt;i&gt;See you&lt;/i&gt;!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-2582741162561396380?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/2582741162561396380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/2nd-imblog-choice-awards-champions-film.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/2582741162561396380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/2582741162561396380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/2nd-imblog-choice-awards-champions-film.html' title='The 2nd IMBlog Choice Awards Champions - Film Asing'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-uv3Zib_RBA4/TTEq_hzhKeI/AAAAAAAAAds/Ss-fry0XdHA/s72-c/Imblog_banner200x200.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4095836883021360755.post-6523602291171958675</id><published>2012-02-22T14:02:00.000+07:00</published><updated>2012-02-22T14:02:29.230+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Europe'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>[Movie] The Artist (2011)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-x2Hi8H57wZU/T0EkCp8NWxI/AAAAAAAABC8/F_LIIgg3uQA/s1600/theartist.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://3.bp.blogspot.com/-x2Hi8H57wZU/T0EkCp8NWxI/AAAAAAAABC8/F_LIIgg3uQA/s320/theartist.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;b&gt;The Artist&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;(2011 - Warner Bros./Studio 37/La Petite Reine/The Weinstein Company)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Written and Directed by Michel Hazanavicius&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Produced by Thomas Langmann&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Cast: Jean Dujardin, Bérénice Bejo, John Goodman, James Cromwell, Penelope Ann Miller, Missi Pyle, Kevin Davitian, Malcolm McDowell, Uggie&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan dibuatnya film The Artist sudah jelas: menampilkan kembali sensasi sinema lawas, terutama Hollywood, dan terutama lagi film bisu. Apa itu film bisu? Jadi gini ya adek-adek, sebelum film itu ada teknologi 3-dimensi, sebelum film itu ada efek visual komputer, sebelum film itu gambarnya berwarna, dan sebelum film itu ada suaranya, zaman dulu yang namanya &lt;i&gt;motion picture&lt;/i&gt; atau kita kenal sebagai film bioskop itu hanya dapat merekam gambar (hitam putih pastinya). Iya...ho-oh...betul, nggak ada suaranya. Jadi di bioskop filmnya ya hanya ditampilkan gambar para aktor berakting dalam seting-seting, saling berdialog sih tapi suaranya nggak kedengeran, penjelasan cerita hanya mengandalkan mimik dan gerak pemain serta dibantu &lt;i&gt;title cards&lt;/i&gt; (tulisan di sela-sela adegan/gambar)—waktu itu teknologi yang dapat menyelaraskan rekam suara dengan gambar film belum ditemukan. Terus bener-bener nggak ada suara gituh? Bosen dong? Ya nggak juga. Setiap film bisu pasti ditemani oleh iringan musik sepanjang durasi yang menjadi unjung tombak efek dramatisasi...dan musik ini dimainkan &lt;i&gt;live&lt;/i&gt; di bioskop! The Artist, film produksi Prancis, rilisan 2011 atau sekitar 80 tahun sejak film bisu turun pamor di Hollywood, dengan berani menampilkan sebuah tontonan bernuansa tempo doeloe tersebut: hitam putih, rasio gambar seperti televisi (bukan layar lebar), &lt;i&gt;speed &lt;/i&gt;gambar yang agak cepat, dan (99%) tanpa dialog. Itu sajakah tawarannya? Apa cuma &lt;i&gt;gimmick&lt;/i&gt; doang biar dibilang &lt;i&gt;cutting edge&lt;/i&gt; gimana gituh? Eits, &lt;i&gt;no no no&lt;/i&gt;, The Artist tidak hanya dipresentasikan sebagai film bisu, tetapi ia juga bercerita tentang industri film bisu itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alkisah di akhir dekade 1920-an, George Valentin (Jean Dujardin) adalah bintang film bisu yang sangat tenar di Hollywood, film-filmnya selalu mendulang sukses, membuatnya diidolakan selain memampukannya bergaya hidup mewah. Akan tetapi, suatu ketika bos studio Kinograph tempat ia bernaung, Al Zimmer (John Goodman) memperlihatkan teknologi terbaru: film bersuara. Zimmer bilang semua film nantinya akan diproduksi bersuara, tetapi George langsung menolak dan menganggap gagasan ini konyol. Penolakan George terhadap film bersuara ternyata berakibat fatal, ia tak dapat &lt;i&gt;job&lt;/i&gt;, pamornya menurun, film (bisu) yang nekad ia produksi sendiri ketika film bersuara popularitasnya menanjak juga gagal total. Akibatnya ia bangkrut, hingga sang istri (Penelope Ann Miller) memutuskan untuk meninggalkannya, dan segala miliknya ia jual atau gadai demi bisa bertahan hidup, termasuk harus memberhentikan sopir sekaligus asistennya yang setia, Clifton (James Cromwell). Hal kebalikan terjadi pada Peppy Miller (Bérénice Bejo), wanita muda yang pernah masuk &lt;i&gt;headline&lt;/i&gt; koran karena tersandung di depan George pada sebuah premier film. Mengawali karir sebagai pemain figuran di salah satu filmnya George, bahkan ia diberi ciri khas berupa tahi lalat palsu di dekat bibir olehnya, Peppy justru semakin bersinar hingga memperoleh status &lt;i&gt;Hollywood's sweetheart&lt;/i&gt; lewat film-filmnya yang sukses besar, yang jelas sudah bersuara—istilahnya "talkies". Ketika menyaksikan sendiri keruntuhan hidup George yang dikaguminya serta telah berjasa atas karirnya, Peppy berniat membantu George kembali bangkit, namun masalahnya ego George yang mantan bintang besar sulit untuk berkompromi pada masa transisi seperti ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gw mendapatkan paket lengkap setelah menonton The Artist. Kisah yang menarik, akting menawan, drama, humor (terutama karena ada si anjing (Uggie)), musik dan tarian, serta sejumput gambaran tentang era film bisu seperti tersebut di paragraf awal, dibungkus dalam kemasan yang seharusnya ketinggalan zaman namun nyatanya tetap memiliki daya tarik yang sangat kuat.&amp;nbsp;&lt;i&gt;This film works in every way&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;Bagaimana sutradara Michel Hazanavicius membuat sebuah film gaya sangat kuno ini tetap menarik disaksikan dan diikuti hingga akhir di tengah-tengah era digital hingar-bingar sekarang ini terbilang mencengangkan,&amp;nbsp;yang pasti &lt;i&gt;he did it superbly&lt;/i&gt; (bahasa campur =P). Namun bukan hanya soal tampilannya yang lain sendiri, ceritanya yang orisinil sekaligus relevan pada segala masa juga menjadi magnet yang kuat. Cerita tentang seseorang menghadapi perubahan disampaikan dengan rapih, mendalam, sederhana, serta ritmenya tepat dan menggugah emosi, bahkan kita lihat ada &lt;i&gt;subtle romance&lt;/i&gt;&amp;nbsp;antara George dan Peppy di sana yang cukup menggemaskan.&amp;nbsp;Dinamika yang ditampilkan begitu mudahnya dirasakan, dari mulai pembukaan yang komikal hingga ke pertengahan yang begitu emosional sampe pengen puk-puk si oom George, dan ditutup kembali dengan senyum gembira, sangat &lt;i&gt;enjoyable&lt;/i&gt;, dan itu semua dilakukan (nyaris) tanpa kata terucap. Sekali lagi, pengisahan film ini hanya berdasarkan bahasa visual dan dibantu tulisan serta musik.&amp;nbsp;Caranya dalam menggambarkan karir George yang semakin menurun dan karir Peppy yang semakin menanjak sungguh pas, cerdik dan segera dapat dipahami oleh gw yang tidak punya pengalaman nonton film bisu sekalipun (kecuali "Tom &amp;amp; Jerry", heuheu).&amp;nbsp;Berani bikin beginian aja sudah luar biasa, apalagi membuatnya jadi tontonan yang memikat dan menghibur, sangat luar biasa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;As I said before&lt;/i&gt;, keberhasilan film bisu juga terletak pada performa aktor yang harus sedapat mungkin menyampaikan karakteristiknya hanya lewat gerak-gerik dan ekspresi—yang mau nggak mau harus agak berlebih (kalau istilah di film ini "&lt;i&gt;mugging&lt;/i&gt;")—tanpa wicaranya terdengar. Kehadiran aktor-aktor yang cukup dikenal seperti John Goodman, James Cromwell dan Missi Pyle yang emang tampak fisiknya sudah berkarakter dari sononya dimanfaatkan dengan baik dan akting mereka memang memberi volume yang berarti. Akan tetapi, satu keputusan Hazanavicius yang paling sempurna adalah memberi peran George Valentin pada aktor komedi Prancis Jean Dujardin. Dengan wajah dan gestur yang sangat ekspresif, Dujardin secara kharismatik menjiwai dan meragai (eh?) seluruh sisi karakter George Valentin yang berkumis ala Clark Gable di Gone with the Wind ini dengan tanpa cela, dari yang flamboyan nan menyenangkan sampai yang depresif dan &lt;i&gt;suicidal&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;we really feel him&lt;/i&gt;. Dalam sekejap saja, penonton akan menyayangi tokoh George yang sebenarnya angkuh dan keras kepala itu, rasanya akting Dujardin punya andil besar akan efek ini. &lt;i&gt;How I love the spy movie filming scenes when George worked with Peppy for the first time&lt;/i&gt; =D.&amp;nbsp;Bérénice Bejo &amp;nbsp;juga tampil tak kalah memikat dengan performanya sebagai aktris manis nan ceria namun berhati mulia, emosinya begitu natural walau dalam gerak-geriknya yang "berlebih", membuat gw percaya Peppy itu memang bintang kesayangan pemirsa di Hollywood (dalam semesta film ini tentu saja).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The Artist, terlepas dari gaya penyampaian yang tidak biasa gw saksikan, adalah tontonan yang menyenangkan serta begitu mudahnya mengambil tempat di hati sebagai salah satu film terbaik yang pernah gw tonton setahun terakhir. Tata adegan, tata visual, tata musik serta aktingnya istimewa, ceritanya dan penceritaannya pun sama istimewanya. Sebuah cara yang sensasional (dan kreatif) dalam menggambarkan sulitnya diri seseorang dalam menerima perubahan keadaan sekitarnya, meski pada akhirnya bagaimanapun perubahan tak dapat terhindarkan. Akan tetapi ada sebuah pencapaian yang patut gw catat di luar isi filmnya sendiri, bahwa The Artist menjadi bentuk penghormatan dan perayaan yang pantas untuk sebuah era sinema yang pernah jaya, karena membuat gw juga mengerti kenapa orang-orang zaman dulu tetap antusias menonton film meski nggak denger pemainnya pada ngomong apa. Jangan takut sama peringatan "Film ini hitam putih dan tanpa dialog" kalau toh filmnya bisa memikat dan menawan perhatian serta perasaan meski tanpa warna atau kata.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My score: &lt;b&gt;8,5&lt;/b&gt;/10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4095836883021360755-6523602291171958675?l=ajirenji.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajirenji.blogspot.com/feeds/6523602291171958675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/movie-artist-2011.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/6523602291171958675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4095836883021360755/posts/default/6523602291171958675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajirenji.blogspot.com/2012/02/movie-artist-2011.html' title='[Movie] The Artist (2011)'/><author><name>Reino Ezra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05013560015369769761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-SS3tKt3jLck/TvQG1IAkN7I/AAAAAAAAA7E/GbHnQGL_EUQ/s220/my-j-pop-41.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-x2Hi8H57wZU/T0EkCp8NWxI/AAAAAAAABC8/F_LIIgg3uQA/s72-c/theartist.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
