Senin, 09 September 2019

My Movie Picks of August 2019

Agustus 2019 termasuk bulan yang ramai dengan film-film yang menggelitik para peminat film (not necessarily "peminat nonton"), tapi sepertinya kali ini gw hanya akan pilih empat saja yang paling melekat...walau itu juga ada faktor gwnya lagi belum sanggup nulis banyak-banyak =P. Marilah membangkitkan semangat menulis sesuatu lagi *note to self hehehe*, berikut empat film paling berkesan selama bulan kemaren.




1. Weathering With You
(2019 - Toho/CoMix Wave)
dir. Makoto Shinkai
Cast: Kotaro Daigo,  Nana Mori, Shun Oguri, Tsubasa Honda, Sakura Kiryu, Sei Hirazumi, Yuki Kaji


Kalau diperhadapkan pada karya Shinkai sebelumnya, Your Name (2016) yang bagi gw sangat high concept, Weathering With You terbilang sangat sederhana, paling nggak bagi yang sudah biasa sama kisah-kisah magical realism kayak orang-orang "ketimuran" macam kita ini. Inti utamanya adalah romansa dua remaja, tapi cakupan aspek ceritanya lumayan luas juga. Aspek yang gw paling suka adalah cara "kekinian" kedua tokoh utama kita me-monetize kemampuan si cewek untuk menghentikan hujan =), hingga pernyataan retoris tentang peradaban manusia yang meng-alter cara kerja alam. Jadi, Shinkai sekali lagi mampu menyandingkan tema-tema realistis dengan unsur mistis nan fantastis, yang mungkin memang paling works dalam format anime. Dan mustahil menyaksikan film ini tanpa berdecakkagum sama desain dan gambar-gambarnya.
My score: 8/10





2. Bumi Manusia
(2019 - Falcon)
dir. Hanung Bramantyo
Cast: Iqbaal Ramadhan, Mawar De Jongh, Sha Ine Febriyanti, Whani Darmawan, Jerome Kurnia, Bryan Domani, Giorgino Abraham, Donny Damara, Ayu Laksmi, Hans De Kraker, Chew Kin Wah, Kelly Tandiono, Dewi Irawan, Jeroen Lezer, Peter Sterk, Angelica Reitsma


Sebuah persektif: bila maksud dan tujuannya adalah menyajikan cerita dari sebuah novel panjang yang sempat dihalang-halangi penyebarannya di negeri ini karena pengarangnya dicap aliran kiri, menjadi 1 film untuk ditonton sebanyak mungkin orang Indonesia di tahun 2019, film ini berhasil. Dalam durasi 3 jam (!), garis tebalnya memang pada kisah cinta seorang pemuda dan pemudi dari dua dunia di zaman kolonial, namun kompleksitas orang-orang dan hal-hal sekitar mereka juga bisa gw tangkap--tentang identitas, budaya, kelas sosial, hukum, dst. Atau simpelnya, kisah ini tidak dituntaskan hanya pada dua orang tersebut jadian/nggak jadian. Nah, apakah semua kompleksitas itu sudah disajikan dengan matang atau paripurna atau porsinya fair, mungkin nggak, belum. Tapi, balik lagi ke kalimat awal gw, yang utama dilakukan film ini adalah menjadikan cerita nan panjang ini betah dinikmati oleh orang banyak (dan gw sih pingin memposisikan diri sebagai salah satu dari "orang banyak" itu =)), dengan ritme dan dinamika dramatisasi yang arguably terjaga. Nggak mudah, tapi buat gw, itu cukup.
My score: 7,5/10





3. Gundala
(2019 - Screenplay Films/Bumilangit/Legacy Pictures/Ideosource)
dir. Joko Anwar
Cast: Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Tara Basro, Ario Bayu, Pritt Timothy, Lukman Sardi, Arswendy Bening Swara, Donny Alamsyah, Tanta Ginting, Aqi Singgih, Muzakki Ramdhan, Marissa Anita, Rio Dewanto, Faris Fajar, Cecep Arif Rahman 


Sebagai pemerhati karya-karya Joko, gw senang doski berkesempatan bikin film dengan skup yang lebih besar sebagaimana pernah dibikin lewat Kala. Keyakinan gw dalam hal nilai produksinya kembali dibuktikan di Gundala. Sebagai bentuk pembaharuan dari tokoh komik superhero Indonesia klasik, film ini menurut gw cukup sukses membangun fondasi world-building-nya, gambaran kota Jakarta dan Indonesia dalam versi lebih suram, or maybe sama suramnya tapi lebih kamera-genik =). Pendekatan aksi superhero-nya juga mudah diterima, perpaduan kemampuan bela diri dengan tambahan kesaktian "supranatural", selera Nusantara-lah. Hanya, yang kemudian terasa cukup membebani adalah plot filmnya terlalu rumit untuk sebuah film perkenalan pertama, baik itu perkenalan universe-nya, maupun perkenalan sosok superheronya. Hal itu pula yang mungkin bikin bagian-bagian akhir film ini nggak se-intens awal dan pertengahannya. Namun, gw paling tidak masih mendapat nilai-nilai hiburannya, dan, ini penting, masih dibuat kagum pada penggarapan produksinya yang penuh perhitungan, and you know it's very rewarding jika pernah menyaksikan beberapa (upaya) film superhero Indonesia di tahun-tahun sebelumnya =P.
My score: 7/10





4. Once Upon A Time in...Hollywood
(2019 - Columbia)
dir. Quentin Tarantino
Cast: Leonardo DiCaprio, Brad Pitt, Margot Robbie, Al Pacino, Emile Hirsch, Margaret Qualley, Timothy Olyphant, Julia Butters, Dakota Fanning, Bruce Dern, Mike Moh, Damian Lewis, Lena Dunham, Kurt Russell


Tarantino mah bebas aja mau bikin apa juga. Bagi yang sering ngikutin karya-karya doi, pasti sudah tahu pada hobi dan kekagumannya pada film-film lawas dan yang obscure sekalipun, dan seringkali dia "contek" adegan-adegannya. Namun, kali ini sedikit beda, Tarantino meminjam kejadian dan tokoh-tokoh nyata dari Hollywood era 1960-an, dan menuangkannya dalam cerita(-cerita, iya jamak) yang dimainkan para bintang Hollywood zaman sekarang. Iya, gw lebih suka menganggap film ini kumpulan beberapa cerita (yang kemudian bersimpul di akhir), karena kayak nggak ada main plot yang benar-benar mempersatukan jalannya film ini, dan mungkin itu yang bikin gw merasa harus agak "berjuang'' melewati  2,5 jam durasinya. Untungnya, parade akting dan penataan adegan-adegan di film ini begitu precise dan sanggup untuk terus menarik perhatian, khususnya dalam hal penggambaran keseharian para pekerja industri film Hollywood kala itu. Ini bisa ditebak sebagai cara Tarantino memberi hormat kepada para tokoh industri Hollywood kesukaannya (baik TV maupun layar lebar), yang diwakili oleh tokoh-tokoh dan situasi rekaannya dalam filmnya ini.
My score: 7/10




Tidak ada komentar:

Posting Komentar