Jumat, 08 Februari 2019

My Movie Picks of January 2019

Yuklah mari kita mulai 2019 ini dengan postingan daftar film-film terkece yang berhasil gw tonton selama bulan Januari. Sebagaimana gw pernah jelaskan, dalam senarai bulanan gw mengumpulkan film-film paling berkesan dalam urutan preferensi, baik yang gw tonton di bioskop maupun media lain dalam bulan bersangkutan, tapi yang memang gw baru pertama kali tonton alias bukan nonton ulang. Dan, bulan Januari ternyata memunculkan judul-judul yang termasuk kuat, a good way to start the new year.






1. Roma
(2018 - Netflix/Participant Media/Esperanto Filmoj)
dir. Alfonso Cuarón
Cast: Yalitza Aparicio, Marina de Tavira, Diego Cortina Autrey, Carlos Peralta, Marco Graf, Daniela Demesa, Nancy García García, Verónica García, Fernando Grediaga, Jorge Antonio Guerrero, José Manuel Guerrero Mendoza


Melanjutkan keyakinan dan keimanan bahwa Yang Mulia Baginda Cuarón nggak pernah mengecewakan diriku, film ini hadir sebagai sebuah sajian yang lagi-lagi tampil berbeda, namun sekaligus menampilkan unsur-unsur yang pernah ditampilkan di film-film doski sebelumnya--serius, bahkan ada astronot (Gravity?) dan mainan sulap (Harry Potter? =P). Di antara kecermatan audio visual yang tiada banding, akting yang mengalir natural, dan unsur-unsur ekstrinsik *aihh* yang menopang komplet kisahnya--berlatar Meksiko 1970-an dengan gejolak politik dan sosialnya, bagian yang paling mengena buat gw justru pada sudut pandang yang dipilih. Seluruh kisah ini bertumpu pada Cleo, gadis berlatar belakang ras asli tanah Meksiko, yang kerja dan tinggal sebagai asisten rumah tangga di rumah sebuah keluarga kelas menengah di Mexico City. Tentang keseharian menjalani hidup merantau, dengan separuh--atau lebih--hidupnya diberikan untuk keluarga yang jadi majikannya itu. Biasanya, banyak kisah rumah tangga dituturkan hanya dari si majikan yang cuma ngeh hal-hal tertentu tentang kehidupan si ART--nggak usah di dalam cerita-cerita, di kehidupan nyata juga gitulah. Di film ini kayak ditukar bahwa penonton akan tahu banyak detail soal Cleo, tetapi kejadian-kejadian (yang terheboh pun) di keluarga majikannya hanya diketahui potongan-potongannya. Mau ngulik detail juga segan, karena meski akrab dan "dianggap" bagian dari keluarga, tinggal di rumah yang sama, sering berbagi ruang yang sama, bahkan sebenarnya ada kasih sayang tulus di antara mereka, tetapi pembatas antara dunia mereka akan selalu ada, dan mungkin tak akan pernah hilang. Bahwa film ini mampu menyelipkan pemikiran-pemikiran tersebut, dan banyak banget lagi pemikiran lainnya sepanjang film, tanpa nggurui "harusnya lo begini" atau "harusnya lo jangan begini", adalah bukti kinerja seorang maestro.
My score: 8,5/10






2. The Mule
(2018 - Warner Bros.)
dir. Clint Eastwood
Cast: Clint Eastwood, Bradley Cooper, Michael Peña, Dianne Wiest, Taissa Farmiga, Alison Eastwood, Laurence Fishburne, Ignacio Serricchio, Andy Garcia, Clifton Collins Jr.


Walau mungkin film-filmnya opa Eastwood nggak semuanya gw demen, tapi bersyukur bisa nonton yang satu ini di bioskop. Straightforward drama terinspirasi kisah nyata yang nggak neko-neko, namun bertutur lancar jaya, mampu memikat dari awal hingga akhir. Ini adalah pertama kali sejak 10 tahun terakhir opa Eastwood membintangi film yang disutradarainya sendiri (terakhir Gran Torino yang juga baguss), dan apa peran yang paling tepat di masa tuanya selain jadi seorang kakek-kakek pengantar narkoba selundupan, yekan =D. Sudut kriminal aparat AS vs mafia narkoba Meksiko mungkin rutin saja sih tampilannya di sini, tetapi bisa diimbangi dengan sisi tenderness yang dahsyat tentang persoalan keluarga si kakek, plus performa simpatik penuh karisma dari opa Eastwood.
My score: 8/10






3. Keluarga Cemara
(2019 - Visinema Pictures)
dir. Yandy Laurens
Cast: Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Zara JKT48, Widuri Puteri, Asri Welas, Abdurrahman Arif, Yasamin Jasem, Kafin Sulthan, Maudy Koesnaedi, Gading Marten, Ariyo Wahab


Ada dua hal yang bisa gw tarik kesimpulan dari film ini. Pertama, sebagai produk pengembangan IP (intellectual property), dalam hal ini dari seri cerita+serial TV lawas karya Arswendo Atmowiloto, film ini adalah adaptasi dan pemutakhiran yang efektif. Menghormati apa yang sudah pernah diterbitkan jauh sebelumnya, yakni kisah-kisah sederhana dari tokoh-tokoh yang sederhana, namun bisa tetap masuk dengan pola pikir zaman kini. Gw merasa nggak ada yang terlalu ujug-ujug nghayal di sini, termasuk brand placement-nya yang lumayan gede ya =P. Well, mungkin terkecuali pada upaya si skenario dalam "menutup-nutupi" nama asli Abah dan Emak, hehe. Kedua, dan yang paling matters, adalah pembangunan emosi yang luar bisa kena. Tanpa harus di-boost dengan akting histerikal ataupun musik ngegas, film ini sukses mengalir kalem, menghangatkan hati, dan sesekali menggelitik, nyelekit, hingga pada saatnya menampilkan momen-momen menonjok emosi.
My score: 8/10






4. Green Book
(2018 - Universal/Participant Media/DreamWorks Pictures/Amblin Partners)
dir. Peter Farrelly
Cast: Viggo Mortensen, Mahershala Ali, Linda Cardellini, Dimiter D. Marinov, Mike Hatton, Sebastian Maniscalco


Sari ceritanya sih agak standar, dua orang dengan latar belakang berseberangan yang dipersatukan oleh suatu keadaan dan kepentingan, dan dalam perjalanannya saling memberi pengaruh perubahan. Namun, yang bikin menarik adalah kompleksnya dua karakter yang dipertemukan di sini, apalagi dengan latar Amerika era 1960-an yang masih kental sentimen ras. Ada Tony Lip yang semacam ngikut aja apa yang ada di lingkungannya, jadi bouncer hayuk, jadi sopir hayuk, gaul sama mafia hayuk, berlaku rasis sama orang berkulit hitam ya hayuk juga, asal bisa survive. Lalu ada Dr. Don Shirley, musisi jenius (bukan nama bank ya) dan bergelar akademik tinggi, kaya, namun tetap banyak benturan sana-sini karena ia berkulit hitam. Hasilnya adalah film yang mengusung isu penting tetapi mampu menonjolkan kehangatan bahkan kejenakaan. Walau buat gw tone dan lajunya agak terlalu nyantai dan kelihatan banget "pesan moral" yang ingin ditekankan sejak awal, toh film berdasar kisah nyata ini berhasil merangkai diri jadi tontonan yang menyenangkan, apalagi dengan interaksi antara Mortensen dan Ali sebagai Tony dan Dr. Shirley yang jadi sumber energi terbesarnya.
My score: 7,5/10






5. Glass
(2019 - Universal/Buena Vista International)
dir. M. Night Shyamalan
Cast: James McAvoy, Bruce Willis, Samuel L. Jackson, Sarah Paulson, Anya Taylor-Joy, Spencer Treat Clark, Charlayne Woodard, Luke Kirby, Adam David Thompson


Jujur gw salah satu yang girang ketika pada bagian ujung film Split (2017) terungkap bahwa film itu masih terkait sama film Unbreakable (2000), dan bahwa akhirnya kedua film tersebut dibuatkan satu "sekuel gabungan" dalam Glass. Benang merah kedua film yang gw sebut di awal adalah menyorot tokoh-tokoh yang kita kenal sebagai superhero dan supervillain, tapi dalam pendekatan yang lebih realis dan kemasan genre yang berbeda-beda--Unbreakable itu drama supranatural, Split itu horor-thriller. Glass adalah rangkuman atas benang merah itu, tetapi lagi-lagi dari sisi yang nggak biasa. Gw juga nggak yakin genre yang ingin diusung di sini--apakah thriller kriminal, drama psikologis, atau murni aksi superhero, yang jelas ini semacam upaya Shyamalan "mengacak-ngacak" cara menuturkan kisah sejenis. Walau isi ceritanya nggak baru-baru amat, jujur lagi, gw tetap merasakan gembira ketika menonton ini. Gw kayak mau aja "dibodohin" sama Shyamalan dan segala twist-and-turns bertuturnya. Mungkin karena jasa para aktornya yang keren-keren (banget) mainnya, atau karena ketidakstandaran gayanya, atau mungkin karena gw, yang menganggap The Last Airbender (2010) dan After Earth (2013) masih ada nilai baiknya, memang nggak pernah benci-benci amat sama film-film Shyamalan =P.
My score: 7,5/10



Tidak ada komentar:

Posting Komentar