Sabtu, 05 Januari 2019

Year-End Note: My Top 10 Films of 2018

Bagian terakhir untuk catatan akhir tahun 2018 adalah untuk sinema. Nah, untuk senarai yang ini gw masih pakai prasyarat yang lama, supaya gw nggak terlalu ribet juga nyortirnya, yaitu berisi film-film yang rilis di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2018--jadi agak beda dengan senarai bulanan yang setahunan ini gw bikin. 

Perlu ditekankan pula bahwa pengurutan atau ranking di sini tidak selalu sesuai dengan ponten yang gw berikan ke masing-masing film, tetapi lebih menunjukkan tingkat experience yang gw rasakan saat nonton film tersebut, yang seringkali nggak ada hubungannya sama bagus-nggak-nya kualitas konten film tersebut. Karena film itu sifatnya abstrak yang value-nya berbeda-beda bagi tiap orang, yekan?





HONOURABLE MENTIONS
Berikut gw gelar dulu lima runner-ups yang sempat dipertimbangkan untuk masuk 10 besar. Filmnya nggak kalah berkesan sih, cuma yah agak tersenggol dikit dari lapisan teratas. Dalam urutan abjad.


Bad Times at the El Royale, dir. Drew Goddard
Kisah misteri karakter jamak yang digarap bak film klasik namun tetap terasa modern, yang kadang mencekam kadang lucu-pahit.

Crazy Rich Asians, dir. Jon M. Chu
Komedi romantis yang menyegarkan dengan penempatan benturan budaya dan pemikiran yang lumayan dekat.

Hereditary, dir. Ari Aster
Penuturan misterinya yang rapat kalah menyebalkan dari pembangunan horornya yang ganggu abis, sampe sempet kebawa ngeri kalau ada di ruangan tanpa lampu.

Logan Lucky, dir. Steven Soderbergh
Semacam versi "daerah" dari seri Ocean's-nya Soderbergh, yang hasilnya nggak hanya lebih sederhana skalanya, tapi malah lebih lucu dan lebih human.

Searching, dir. Aneesh Chaganty
Bisa menegangkan lalu menyentuh sebagai cerita utuh. Bukti bahwa gimmick visual--dalam hal ini semua pengisahan seolah terjadi di layar komputer--nggak boleh menghalangi penuturan cerita.







MY TOP 10 FILMS OF 2018



10. Aruna & Lidahnya
dir. Edwin
Kisah jalan-jalan dan makan-makan empat orang dewasa yang ringan nan memikat, terutama berkat padu akting dari para pemerannya, bawaannya jadi ikut senang. Oh, dan pengambilan gambar makanan-makanannya memang tampak kurang ajar jika ditonton dalam keadaan lapar.






9. Christopher Robin
dir. Marc Forster
Membenturkan innocence memori masa kecil dengan keribetan hidup sebagai orang dewasa, mungkin tema dan tampilan Pooh-bear dkk di sini agak terlalu "realistis". Tetapi, buat gw film ini berhasil menyajikan sebuah kisah untuk keluarga yang tampil hangat, menyentuh, mudah dicerna, dan tetap adventurous sekalipun tidak serba magical.







8. Aquaman
dir. James Wan
Beruntunglah generasi yang hidup saat ini bisa melihat sosok Aquaman menjelma menjadi sangat keren di layar lebar--bukan versi Super Friends =p, dibalut dengan kisah petualangan bawah dan atas laut yang megah. Gw masih kagum bagaimana mereka bisa berhasil men-deliver kehidupan bawah laut tanpa muncul terkesan, you know, silly. Sebagai film superhero bagian dari DC Universe, Aquaman adalah sebuah persembahan paling imajinatif, dan dalam berbagai hal menjadikannya salah satu yang paling bikin terkesan.






7. Avengers: Infinity War
dir. Anthony Russo, Joe Russo
Kulminasi visi ambisius yang digarap selama sekitar satu dekade, mengumpulkan puluhan karakter dari semesta film superhero Marvel. Kita sama-sama tahu ini proyek yang sangat gila, sampai-sampai jadi semacam hajatan tersendiri setara hari raya. Akan tetapi, gw sendiri tidak mengira bahwa hasilnya sanggup merangkul (hampir) semua karakter tersebut dengan porsi dan posisi tepat guna. Keakbaran ceritanya terasa, nggak sampai keblenger, namun momen-momen tiap karakter tidak sampai terhilang. Well done, indeed.






6. The Post
dir. Steven Spielberg
Kecanggihan teknologi film masa kini memang keren tetapi classic filmmaking yang dilakukan Spielberg kok ya tetap saja memukau. Sekilas memang cerita film ini tampak berat, namun mata nggak akan bisa berpaling dari kepiawaian para pemeran, gambar, pengadeganan, dan segala sesuatu yang terjadi di layar, yang mampu membawa sebuah momen dalam sejarah (yang gw sendiri kurang familier) dengan topik-topik tentang kemerdekaan pers menjadi terasa penting dan genting.






5. Sebelum Iblis Menjemput
dir. Timo Tjahjanto
Menonton film ini adalah salah satu pengalaman langka gw sangat menikmati film horor, and if you know me, that's quite something. Nilai produksinya yang wahid dimanfaatkan sedemikian baik dalam menyajikan sebuah experience horor yang mencekam dan meresahkan, komplet dari setan-setanan hingga darah-darahan, yang ditempatkan dengan presisi sehingga menghasilkan sensasi menonton yang heeeeboh.






4. Love for Sale
dir. Andibachtiar Yusuf
Gw udah expect bahwa nggak mungkin film ini akan lawak-lawak biasa. Konsepnya cukup besar, tetapi pendekatannya nggak ribet, dekat dengan keseharian, ritme-nya nyaman, witty namun nggak bawel, lugas tapi bersahaja, hingga kemudian tersadar bahwa ketimbang mencoba meng-impress dengan adegan-adegan yang wah, film ini telah memaksa gw untuk mengalami rasa yang dirasakan tokoh-tokohnya, dan sampe bikin kepikiran beberapa waktu setelah nonton.






3. The Shape of Water
dir. Guillermo Del Toro
Kalau dilihat lebih dekat, film ini seperti tumpahan berbagai ide dan topik--dan genre cerita, yang bisa berjalan secara terintegrasi dengan kisah cinta dua insan terpinggirkan yang ingin bahagia. Ini juga salah satu film yang mempan ditonton berulang-ulang, karena setiap gambar punya simbol-simbol visual yang mungkin terlewat kalau hanya nonton sekali, atau, yah, sekadar mengagumi keindahan film ini berkali-kali juga boleh.






2. One Cut of the Dead
dir. Shin'ichiro Ueda
Film ini jelas dan wajib gw catat sebagai pengalaman menonton paling "rusak" yang gw alami di tahun 2018. Hanya berbekal rekomendasi orang-orang yang bilang film horor-komedi ini wajib tonton, yang gw dapatkan adalah sebuah film yang akan susah banget gw hilangkan dari ingatan, saking luar biasanya film ini dalam memanipulasi ekspektasi gw. Lihat posternya yang berdarah begitu tapi ngecek LSF ternyata rating-nya "hanya" 13+ adalah salah satu indikasi keabsurdannya. A new classic for Japanese cinema.












1. Ready Player One
dir. Steven Spielberg
And then there's this movie. Di tahun yang riuh dengan berbagai film blockbuster dengan brand terkenal dan bujet raksasa, Ready Player One buat gw adalah yang paling memberikan kepuasaan di semua lini. I mean, se-mu-a. Jalan cerita, world-building, karakter, audio visual, ritme, animasi, laga, sampai ke detil referensi kultur pop berbagai zamannya, film inilah yang gw ingat paling bikin gw girang saat nonton di bioskop sepanjang 2018. Jika melihat isinya satu persatu, film ini mudah sekali terjebak jadi convoluted dan ke mana-mana. Namun, yang terjadi adalah di tangan dewata Spielberg film ini jadi begitu kaya, megah, dan exciting, relevan, namun tetap bermakna dan punya hati. Seolah bilangin "gini lho cara bikin film" dan I think everyone should pay attention.




Demikianlah senarai akhir tahun 2018 dari saya. Happy 2019!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar