Selasa, 28 Februari 2017

[Movie] Salawaku (2017)


Salawaku
(2017 - Kamala Films)

Directed by Pritagita Arianegara
Written by Iqbal Fadly
Produced by Ray Zulham, Mike Julius
Cast: Elko Kastanya, Karina Salim, Raihaanun, JFlow Matulessy, Shafira Umm


Salawaku adalah sebuah proyek film kecil yang beruntung mendapat perhatian berbagai festival film di Indonesia, dengan masuk nominasi dan atau menang di ajang-ajang penghargaan nasional, plus tayang perdana di muka publik di Tokyo International Film Festival 2016. Film yang bolak-balik masuk festival jelas belum tentu pasti bagus menurut pemirsa di luar festival—tanpa mengurangi rasa hormat buat yang bolak-balik masuk festival baik yang beneran maupun abal-abal *eh*, tetapi buat gw film-film sederhana macam Salawaku ini tak jarang punya daya tarik tersendiri, yang bahkan bisa lebih berdampak daripada film-film "besar". Namun, seperti biasanya, ketika banyak yang bilang bahwa sesuatu bagus atau apalah, akan berbahaya bila kita menerimanya mentah-mentah, justru ekspektasi harus diturunkan supaya jangan sampai kita mengharapkan yang enggak-enggak. Itu trik yang harus(nya) selalu gw lakukan setiap nonton film…tapi fakta bahwa kalangan perfilman kita sayang banget sama film ini tetap nggak bisa gw abaikan. Makin lagi ketika gw merasa sepertinya mereka melihat sesuatu yang gagal gw lihat dari film ini.

Di sebuah desa di Pulau Seram ('e'-nya seperti pada kata 'meja'), Maluku, siswa SD Salawaku (Elko Kastanya) tiba-tiba ditinggal minggat oleh kakak perempuannya, Binaiya (Raihaanun). Suatu ketika Salawaku ingat Binaiya pernah mau ke sebuah tempat bernama Piru, lalu Salawaku memutuskan mengambil sebuah perahu dan mencari kakaknya seorang diri. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang wanita muda asal Jakarta, Saras (Karina Salim) yang termenung tersesat sendirian di tengah liburannya. Karena simpati, Saras memutuskan menemani Salawaku ke Piru. Pemuda anak kepala desanya Salawaku, Kawanua (JFlow Matulessy) yang ditugaskan untuk mencari dan membawa pulang Salawaku juga pada akhirnya memutuskan untuk membantu Salawaku mencari Binaiya. Pencarian ini tak hanya soal Binaiya ada di mana, namun mengapa dia pergi meninggalkan adik dan desanya.

What you see is what you get adalah deskripsi yang lebih kurang menggambarkan seperti apa film Salawaku ini. Filmnya tentang seorang anak kecil menyusuri berbagai jalan dan medan mencari kakaknya bersama dua orang yang lebih dewasa darinya. Dan, ya udah itu aja. Penataan adegan serta tangkapan sinematografi yang menyegarkan mata seolah menggiring gw untuk menantikan suatu hal yang besar dan lebih menarik akan terjadi selama perjalanan itu, tapi ternyata nggak kunjung datang sampai durasi berakhir. Salah? Ya nggak sih, film ini bercerita apa adanya, ya nggak apa-apa. Nothing new dari isu yang diangkat (bahkan sangat tidak new), ya nggak apa-apa juga. Tetapi, gw melihat ada kecanggungan saat film ini bercerita, masih takut-takut untuk ekslporasi apa lagi yang bisa dikeluarkan dan dikembangkan dari ceritanya maupun karakternya yang cuma beberapa itu. Gw seakan hanya diizinkan melihat dari permukaan saja dan nggak bisa lebih jauh, ya ceritanya, ya karakternya, ya "potret budaya"-nya.

Menurut gw, problem terawal film ini adalah pemilihan sudut pandang. Mengangkat tema permasalahan orang dewasa, film ini memberi judul sesuai tokoh utama yang masih SD, Salawaku. Film bisa saja menawarkan angle menarik dari seorang anak kecil yang mungkin malah memberi pelajaran berharga bagi karakter-karakter dewasanya. Sayang, kesempatan itu nggak diambil, film ini berjalan biasa saja, Salawaku hanyalah tokoh dalam cerita, bukan penjuru cerita ini. Pun kalau niatnya menekankan Salawaku sebagai tokoh utama, perkenalan akan karakternya begitu kilat sehingga gw nggak bisa menganggap dia tokoh yang lebih utama dari Saras dan Kawanua, misalnya. Problem selanjutnya adalah nggak ada "kehidupan" dalam kebersamaan Salawaku dan Saras dalam perjalanan, padahal mereka dua orang saling asing, beda usia, beda motif dan tujuan, beda budaya, beda cara pikir. Mereka baru kenal lalu barengan terus, tetapi seperti nggak ada itikad dari yang manapun untuk mengenal pihak satunya lebih jelas, dan apa pengaruh kepada satu sama yang lain selain daftar kata gaul ibukota. "Kehidupan" itu baru muncul ketika Kawanua mulai gabung, tapi itu pun baru benar-benar menarik ketika mulai terkuak alasan Binaiya minggat, which is like 1 hour into the movie. Yang lebih banyak gw dapat di sana akhirnya cuma pemandangan eksotis, and that's it.

Begitulah, gw memang baru bisa klik sama film ini ketika di sepertiga terakhir, ketika akhirnya cerita ini mulai kelihatan maunya apa. Meski begitu, gw tetap nggak bisa menemukan sesuatu yang matters dari ceritanya, gw nggak nangkep what it actually wanted to say, dan ujaran "quoatable quote" di paling akhir itu malah memperburuk karena gw nggak tahu persis apa hubungannya sama cerita yang barusan gw saksikan dan apa konteksnya harus diujarkan di adegan tersebut. Beruntunglah film ini didukung kelengkapan produksi yang proper dan pemain-pemain yang tampil prima, termasuk si aktor cilik Elko, sehingga film ini bisa mengompensasi cerita amat sangat terlalu sederhana itu dengan penggarapan yang berkualitas. Nggak terlalu impresif tapi masih tahan buat ditontonlah.





My score: 6,5/10

Senin, 27 Februari 2017

WINNERS of the 89th Oscars

Tanpa disangka-sangka rebek banget Oscars tahun ini. Kali ini bukan persoalan film apa atau siapa dapat berapa piala, atau siapa yang "layak", tetapi ada sebuah human error terjadi di pembacaan kategori pamungkas, Best Picture, yang more or less akan jadi skandal baru yang dibahas di pemberitaan film sampai beberapa hari ke depan. Hollywood dan Oscar dengan segala kemegahan, keglamoran, dan prestisenya, untuk pertama kalinya (?) mengalami peristiwa salah amplop pemenang. Salah amplop lho! SALAH AMPLOP! Baru sadarnya pas isinya udah dibacakan, bahkan, sudah pidato kemenangan. Mending kalau ternyata pemenangnya dari film yang sama, lha ini enggak.

What the hell actually happened mungkin baru bisa dikupas nanti-nanti. Beberapa orang mungkin akan mentertawakan ini, tetapi buat gw ini menyedihkan, baik yang pihaknya keliru disebut (La La Land) karena jelas dipermalukan, maupun yang sesungguhnya menang (Moonlight) yang selebrasinya jadi nggak sentosa karena teralihkan oleh kekacauan ini. Bagus kalau dua pihak ini akur, tapi ini 'kan juga bikin dua pembaca amplopnya--aktor-aktris senior Warren Beatty dan Faye Dunaway, pihak akuntan publik (penghitung hasil suara voting) yang konon nyerahin langsung ke pembaca amplopnya, dan penyelenggara acaranya secara keseluruhan juga kena noda malu. Para pemenang mau sukacita haha-hihi juga nggak enak hati. Ini Oscar lho. Acara mahal, disaksikan jutaan orang di ratusan negara, live. And we think FFI is the only one that stinks. Semoga ini bukan drama rekayasa, karena itu justru akan lebih memalukan. Good job for making Oscars being actually fussed about again =_=.



Baiklah kita langsung ke pokok bahasan. Dari segi tebak-tebakan pemenang, setelah tahun lalu memecahkan rekor pribadi 19 dari 24 benar, tahun ini gw kembali ke prestasi rata-rata, terima kasih kepada sejumlah kejutan terutama di kategori teknis. Seperti biasanya, banyak film nomine Oscar yang belum gw tonton jadi gw nggak bisa memberi komentar apakah gw setuju dengan hasil voting Academy kali ini--walau, again, siapa kita atur-atur award orang 'kan, tapi gw senang juga bahwa lebih dari 50 persen pemenang Oscar tahun ini udah gw tonton, jadi PR-nya gak terlalu banyak heuheu.

Yuk kita cek satu persatu tebakan gw dengan hasil Oscar yang diumumkan 27 Februari 2017 pagi tadi waktu Indonesia, tanda (O) artinya gw bener dan (X) artinya gw salah.




best picture
MOONLIGHT (X)
Di luar bagaimana piala di kategori ini diberikan, gw termasuk surprised film ini berhasil mendapat poin tertinggi dari anggota Academy, apalagi melihat film ini nggak selalu menang penghargaan utama di ajang pra-Oscar yang matters seperti SAG (Screen Actors Guild), PGA (Producer's Guild of America), hingga DGA (Directors Guild of America) Awards, dan hanya berjaya di Writers Guild Awards. Tetapi, seperti yang gw pernah sebut di postingan sebelumnya, film ini termasuk kuat lobi politiknya perihal diversity--filmnya tentang perjalanan hidup seorang pemuda kulit hitam gay dari keluarga kurang harmonis, sehingga mungkin banyak menarik perhatian anggota Academy, dan akhirnya berhasil menerima piala. Jujur gw sedih La La Land kesayangan gw kalah di sini (dan bahwa tebakan gw salah =D), kalahnya kayak begitu lagi caranya. Tapi, gw belum nonton Moonlight jadi belum bisa menentukan sikap mendukung atau gimana sama kemenangan ini. Saat ini gw lebih merasa kasihan momen kemenangan mereka yang sepatutnya dirayakan karena cukup bersejarah--filmnya berbujet murah banget, deretan pemerannya semua berkulit hitam, dan pemenang Best Picture pertama yang menyorot tema LGBT--menjadi sangat, sangat awkward gara-gara SALAH AMPLOP!



directing
Rumus untuk kategori sutradara (dicerminkan DGA Awards) memang jarang banget gagal. Dan pemenangnya film ini =')).



actor in a leading role
Casey Affleck, MANCHESTER BY THE SEA (O)
yea bener.



actress in a leading role
Emma Stone, LA LA LAND (O)
yea bener lagi.



actor in a supporting role
Mahershala Ali, MOONLIGHT (O)
yea bener lagi lagi.



actress in a supporting role
Viola Davis, FENCES (O)
yea bener lagi lagi dan lagi =).



animated feature film
ZOOTOPIA (O)
Senang karena menang dan karena filmnya gw suka juga.



cinematography
LA LA LAND (O)
Sehari sebelum Oscar gw sempat nonton Silence dan jadi berharap emang akan jadi pleasant surprise di sini. Tetapi, ternyata yang menang La La Land and of course I'm totally fine with that.
Salah satu kategori yang diumumkan di awal acara yang bikin kaget juga, berhubung pesaingnya cukup berat-berat. Btw, ini Oscar pertama yang diraih oleh franchise Harry Potter lho.



film editing
Salah tapi nggak apa-apa, ternyata Academy masih care sama filmnya Mel Gibson ini. I accept.



makeup and hairstyling
Surpriiiiiiisee =))) . Sebagai salah satu dari (sedikit?) orang yang senang dan menikmati film ini, I can't be happier to brag "Suicide Squad is an Oscar-winning movie". Makan noh heters muahahahahahahahaha.



original score
LA LA LAND (O)
Gw kata juga apa, nggak ada yang bisa escape dari musiknya film ini, yang benci sekalipun nggak bisa =).



original song
"City of Stars", LA LA LAND (O)
yeaa



production design
LA LA LAND (O)
yeaaaa



sound editing
ARRIVAL (X)
Gw lupa mempertimbangkan bawa film sci-fi juga sering jadi favorit di kategori sound. I'm happy with this result though.



sound mixing
HACKSAW RIDGE (X)
Dugaan meleset, tapi nggak apa-apalah filmnya oke.



visual effects
ye 'kan.



adapted screenplay
MOONLIGHT (O)
bullseye.



original screenplay
MANCHESTER BY THE SEA (O)
bullseye.



foreign language film
THE SALESMAN (Iran) (O)
Wah ternyata bener. Piala Oscar kedua untuk Iran di kategori yang sama setelah film A Separation (2011), dan dari sutradara yang sama, Asghar Farhadi, yang urung hadir di acara sebagai respons atas "pencekalan" pemerintahan Donald Trump terhadap orang-orang dari Iran dan beberapa negara mayoritas muslim lainnya. Farhadi titip pidatonya sama dua orang antariksawan Amerika berdarah Iran. Burrrnnnn.



documentary feature
O.J.: MADE IN AMERICA (X)
damn, harusnya pilih yang paling populer aja.



documentary short
THE WHITE HELMETS (X)
Tumben yang menang bukan soal holocaust. Film ini tentang tenaga kesehatan berjibaku di kecamuk perang Suriah. Produsernya dari Inggris bernama Joanna Natasegara, kayak orang sini ya namanya, haha.



animated short film
PIPER (O)
sip.



live-action short film
SING (X)
Bukan film animasi itu ya, tapi film pendek dari Hungaria. Berhubung ini kategori bioskop ya meneketehe kalau ternyata salah tebak, asal nggak SALAH AMPLOP 'kan. =p





Sebagaimana gw sebut tadi, hasil tebakan gw tahun ini rata-ratalah, benar 15 dari 24 kategori, jadi sekitar 60 persen. Yah, nggak cupu-cupu bangetlah *bela diri*.

Gw sebenarnya termasuk senang dengan Oscars tahun ini, baik hasilnya maupun persembahan acaranya. Tahun ini surprisingly termasuk Oscar yang cukup unpredictable hasilnya, terutama di kategori teknis dan Best Picture-nya, sehingga sekalipun nggak sesuai tebakan maupun harapan, jadi lebih seru. Gw juga suka sama semua performance musik untuk para yang nomine Best Original Song tanpa kecuali--di-kick-off dengan rancak oleh Justin Timberlake untuk lagu "Can't Stop the Feeling" dari Trolls di awal acara banget, lalu penampilan Lin-Manuel Miranda & Auli'i Cravalho untuk Moana, Sting untuk dokumenter Jim: The James Foley Story, dan John Legend yang ambil alih dua lagu ternominasi dari La La Land, so that's nice. Gw juga ternyata menikmati pembawaan host-nya, Jimmy Kimmel, yang punya ciri khas kombinasi antara santai, lempeng, dan usil di saat bersamaan, plus jagoan banget dalam mengatasi situasi scandalous di akhir acara dengan tetap menghidupkan suasana. Dan ongoing jokes tentang "perseteruan"-nya dengan Matt Damon--bermula dari acara talk-show-nya, Jimmy Kimmel Live *nge-YouTube gih* ternyata nggak basi pas dibawa di acara ini. Kimmel rupanya pas banget untuk bawain Oscar, my favorite in modern times along with Whoopi Goldberg and Ellen DeGeneres.

The thing is, Oscar tahun ini bisa saja jadi penyelenggaraan yang keren, dari kemasan acara maupun dari barisan pemenangnya yang "ceritanya" cerminkan sikap politik Hollywood saat ini (Moonlight, The Salesman, O.J.: Made in America, The White Helmets, etc.), tapi kadung dihiasi kekacauan memalukan di akhir banget jadinya yang keingat ya bakal itu aja. Shame.

Jadi begitulah. Congratulations for all winners. Cheers.

Sabtu, 25 Februari 2017

[Movie] Moammar Emka's Jakarta Undercover (2017)


Moammar Emka's Jakarta Undercover
(2017 - Grafent Pictures/Demi Istri Production)

Directed by Fajar Nugros
Screenplay by Piu Syarif, Fajar Nugros
Based on the book "Jakarta Undercover" by Moammar Emka
Produced by Susanti Dewi
Cast: Oka Antara, Baim Wong, Tiara Eve, Ganindra Bimo, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Richard Kyle, Agus Kuncoro, Nikita Mirzani, Edo Borne, Ucok Baba


Sekitar satu dekadean lalu, Jakarta Undercover jadi sebuah sensasi blantika perbukuan Indonesia, karena mengorek berbagai tempat "aneh-aneh" di Jakarta, yang berhubungan dengan dugem and beyond-lah. Buku nonfiksi itu pernah jadi basis film berjudul Jakarta Undercover (yang belum pernah gw tonton) arahan Lance dan menampilkan Luna Maya serta Fachri Albar, dan kini buku yang sama kembali difilmkan dengan judul Moammar Emka's Jakarta Undercover. Kayaknya sih judul ini sengaja untuk membedakannya dengan film satunya--karena secara produksi dan cerita nggak berkaitan sama sekali, sekaligus mungkin menegaskan ceritanya yang lebih mendekati konsep bukunya. Benar sih film ini masih akan berlatar underworld Jakarta yang tak lepas dari seks, mafia, dan transaksi gelap lainnya. Namun, premis ceritanya lebih kurang meminjam konsep bagaimana buku Jakarta Undercover itu dibuat, yaitu soal penulis yang terjun langsung dan mengamati dunia anuan tersebut.

Pras (Oka Antara) sedang mandeg saat dikejar-kejar oleh redakturnya, Djarwo (Lukman Sardi) untuk membuat tulisan terbaru di majalah tempat ia bekerja. Suatu ketika, persinggungannya dengan tetangganya yang seorang waria, Awink (Ganindra Bimo) membawanya ke underworld Jakarta, terlebih lagi saat ia menolong seorang pria yang babak belur di luar sebuah klub. Pria tersebut ternyata adalah Yoga (Baim Wong), yang disebut-sebut sebagai raja pesta dunia malam Jakarta, yang tentu dekat dengan pelbagai transaksi ilegal yang menopang usahanya. Yoga yang tempramental ternyata sangat menghargai jasa Pras sampai-sampai sering mengajaknya ke berbagai pesta eksotis di seputaran Jakara. Di saat itulah Pras terdorong membuat sebuah tulisan tentang dunia Yoga, dengan diam-diam menggali informasi tentang jaringan kerja Yoga. Di saat hampir bersamaan, Pras bertemu dengan seorang model bernama Laura (Tiara Eve). Ada ketertarikan dan keterikatan tersendiri antara Pras dengan Laura, meski Pras belum sadar bahwa Laura juga berada dalam lingkaran yang sangat dekat dengan Yoga.

Jujur gw awalnya agak ragu sama film ini, bukan hanya karena film ini lagi-lagi angkat sisi binal Jakarta--yang menurut gw agak kelewat sering diangkat, tetapi memang gw belum pernah diyakinkan sama film-filmnya Fajar Nugros. You know, film-film beliau yang pernah gw tonton biasanya bertema ringan dan atau kurang memuaskan hasil akhirnya buat gw. That being said, gw merasa Jakarta Undercover ini mungkin film buatan beliau yang paling enak ditonton buat gw, surprisingly. Film ini bukan hendak mengeksploitasi topik-topik khas Lampu Hijau, nggak juga cuma sindir-menyindir susahnya hidup di ibukota, tetapi cukup kuat berpegang pada ceritanya intinya--you know, sampai kapan Pras nggak ketahuan sedang mengorek Yoga. Plus, gw juga senang film ini cukup oke dalam ngolah dialognya, khususnya setiap Pras dan Laura janjian di Family Mart itu =P, juga adu argumen Pras dengan Djarwo tentang situasi media massa, yang nggak terasa out of place juga. Meski temanya kayak ngulang-ngulang--party lagi narkoba lagi pelacur lagi--setidaknya di beberapa segi film ini cara pandangnya lumayan peka zaman. Dan, filmnya ternyata nggak vulgar--versi bioskop umum at least--tetapi masih sanggup sampaikan yang perlu disampaikan mengenai topik kegemerlapan ibukota dan hal-hal lainnya itu. 

Gw melihat film ini berkonsentrasi ke drama, yang berarti juga konsentrasi ke performa pemainnya, dan I must say bagian ini dijalankan dengan baik, bahkan buat gw departemen akting jadi bagian terbaik film ini. Di sini bisa lihat akting yang kece dari Oka, Baim, Lukman, dan Bimo, serta Tiara sebagai pendatang baru yang bukan cuma soal sensualitas, tetapi terlihat luwes dan meyakinkan saat beradu dialog. She's a good discovery. Mereka bukan hanya kelihatan bagus karena dikasih bagian yang meledak-ledak, tetapi juga bisa menyampaikan emosi yang intens saat adegan yang tenang sekalipun, sesuatu yang mungkin nggak semua pemain bisa, atau nggak semua sutradara mau mengeksplorasinya. Jadi, menurut gw, seragu-ragunya terhadap film ini, perkara akting ini mungkin bisa jadi jaminan bikin tetap betah menyaksikan film ini.

Di satu sisi sebenarnya buat gw film ini sudah punya jalan cerita yang cukup jelas. Baik motivasi, tujuan, maupun belokan ceritanya bisa gw tangkap tanpa halangan yang gimana gitu, sekalipun laju editing-nya termasuk cepat hampir random seperti ensemble drama macam Traffic gitu deh. Akan tetapi, di sisi lain buat gw film ini punya sedikit problem di set-up ceritanya. Keakraban dan kepercayaan Yoga terhadap Pras merupakan simpul terpenting dalam plot film ini, tetapi bangunannya lemah, entah karena terlalu cepat atau kurang stok adegan yang mendukung ikatan itu. Akibatnya, pada adegan-adegan selanjutnya dilema yang dialami Pras dan Yoga pun nggak terasa segenting itu. Demikian halnya ketika menyorot hubungan Pras dan Laura. Timbul respons yang aneh di benak gw saat melihat ini, pemainnya sudah bermain oke banget, emosional, tetapi tetap berjarak buat gw, ya gara-gara bond antarkarakter ini bagi gw belum sekencang itu. Of course, ini juga berimbas ke bagian klimaksnya yang jadi tawar rasanya.

Terlepas dari itu, gw tetap rela memberi poin film ini karena sajiannya di atas ekspektasi gw. Materi film kayak gini, biasanya akan jatuh jadi murahan banget atau cuma sok nekad jualan seksualitas dengan dalih "'kan kenyataannya emang gini" atau "lembaga sensor kita yang bapuk". Ya lembaga sensor kita emang bapuk, tapi film ini membuktikan--again, setidaknya yang ditampilkan di bioskop--tetap bisa menyampaikan ceritanya, tanpa perlu gimmick sok nekad ngelawan sensor atau jatuh jadi murahan. Yang penting 'kan ceritanya bisa sampai atau nggak. In short, dengan performa para aktor dan teknis yang bikin enak dilihat, serta pengemasan tema intriguing yang nggak sembrono, film ini setidaknya nggak gw benci =).





My score: 7/10

Jumat, 24 Februari 2017

Tebak-Tebakan Pemenang The 89th Oscars


Hello. It's me. Hampir tiba di hari yang telah jadi hari penting bagi penggemar film selama hampir sembilan dekade, Piala Oscar, yang dihelat pada 26 Februari 2017 waktu sono, atau 27 Februari pagi waktu sini. Sebagai orang yang suka ngikut arus, tentu saja gw akan membuat tebakan siapa saja yang akan membawa pulang piala di semua kategori, seperti yang gw lakukan setiap tahun. Dan tidak jauh berubah dengan tahun-tahun sebelumnya, modal gw dalam menebak hanya sekadar baca-baca serta rujukan penghargaan-penghargaan pra-Oscar. Ini berhubung gw belum berkesempatan menonton semua film yang masuk nominasi, dan menurut gw agak gak guna kalau gw memasukkan penilaian pribadi gw semacam "who should win" karena siape gue ngatur-ngatur award orang.

Sebenarnya gw masih terbawa suasana setelah tahun lalu gw berhasil menebak 19 dari 24 kategori dengan benar. Entah gw bisa menyamai atau melebihi rekor tersebut. Tapi, yah, nikmati saja dulu. Untuk yang belum tahu, nominasinya bisa dilihat di sini, dan berikut adalah tebakan gw untuk pemenang The 89th Oscars.



best picture
Bukan hanya karena gw cinta film ini, tapi hampir semua award penting pra-Oscar juga mengarah ke sana. Film ini menang di PGA (Producers Guild of America) Awards, DGA (Directors Guild of America) Awards, juga asosiasi editor, suara, musik, kostum, desain produksi, bahkan raih Best Film di British Academy Film Awards (BAFTA). Yang ini kayaknya udah sure thing.



directing
LA LA LAND
Dari tahun ke tahun rumusnya sama: pemenang DGA Award=pemenang Oscar.



actor in a leading role
Casey Affleck, MANCHESTER BY THE SEA
Kategori ini termasuk yang masih bimbang karena versinya beda-beda. The younger Affleck ini lumayan jadi unggulan sejak akhir tahun lalu sebelum tiba-tiba ada Denzel Washington di film Fences menang di SAG (Screen Actors Guild) Award, dan agak mengubah peta probabilitas kategori ini. Tetapi, sebagaimana trik yang kadang berhasil tahun-tahun lalu dalam menebak kategori akting, when in doubt, tengoklah BAFTA--karena tak sedikit aktor anggota BAFTA yang orang Inggris itu juga jadi anggota Academy. Maka tebakan gw akan tetap di Affleck.



actress in a leading role
Emma Stone, LA LA LAND
Secara matematis ini udah sure thing, yaitu menang SAG dan BAFTA. Saingan terberatnya mungkin aktris kawakan Prancis, Isabelle Huppert di film Elle, tapi gw cari amannya aja deh.



actor in a supporting role
Mahershala Ali, MOONLIGHT
Lagi-lagi tahun ini kategori ini yang paling bikin stress nebaknya. Media Hollywood mengesankan Ali adalah kontender pasti, menang di SAG pula. Tetapi, BAFTA lebih memilih Dev Patel di film Lion ketimbang Ali, tapi komposisi nominasi di Oscar lebih mirip SAG. Puyenglah. Tetapi berhubung film Moonlight itu politiknya kuat banget (banngggetttt) di media karena perkara diversity, bisa jadi kemenangan yang tembus ada di sini.

pleasant surprise: ngomong-ngomong diversity, Dev Patel di LION juga termasuk dong, orang Inggris berdarah India main jadi orang Australia. Dan gw rasa gak ada salahnya talenta aktingnya divalidasi sekarang.



actress in a supporting role
Viola Davis, FENCES
Kategori paling gampang ditebak karena semua, SEMUA piala di manapun dimenangkan sama ibu ini. It's about time.



animated feature film
Dengan absennya Pixar, film Disney ini paling berpeluang meraih Oscar, dan mungkin kemenangan yang lebih layak ketimbang Big Hero 6 dua tahun lalu *ditimpuk*

pleasant surprise: KUBO AND THE TWO STRINGS mungkin nggak terkenal tapi film ini indah sekali, alangkah girangnya daku bila film ini bisa merebut Oscar.



cinematography
LA LA LAND
Ooookay...kategori ini juga tricky karena dari tahun ke tahun kategori ini termasuk paling nggak sinkron dengan penghargaan pra-Oscar-nya--kali ini asosiasi sinematografi Amerika (American Society of Cinematographers) memilih Lion tapi sepertinya pengaruh mereka di Academy nggak terlalu besar. La La Land gw rasa jadi pilihan teraman karena melihat kecenderungan film ini kedapatan pujian dari segi teknis visual selama ini.

pleasant surprise: SILENCE, karena seru aja film yang dapat satu nominasi terus menang, hehe.



costume design
JACKIE
Ini mungkin wildest guess gw (selain nanti di kategori non-fiksi/non-bioskop), karena pemenang di kategori ini kayak nggak ada yang sepakat. BAFTA memilih Jackie, sementara asosiasi penata kostum Amerika (Costume Designers Guild) menangkan La La Land di kategori kontemporer, Doctor Strange di kategori fantasi, dan Hidden Figures di kategori sejarah. Doctor Strange dan Hidden Figures nggak masuk nominasi Oscar, maka La La Land dan Jackie jadi pilihan yang paling memungkinkan. Dan entah kenapa insting gw agak mengarah ke Jackie, berhubung Academy selama ini lebih condong pilih kostum fantastikal atau sejarah. So yeah, kalau bener ya untung, kalau salah ya maaf.

pleasant surprise: LA LA LAND, meski nggak over the top tapi sangat menjelaskan tentang karakter dan dunia mereka.



film editing
LA LA LAND
Kategori ini sering sinkron dengan Best Picture, plus editing dari film yang berkaitan dengan musik sering dapat perhatian dari Academy, jadi ini pilihan teraman.

pleasant surprise: ARRIVAL, karena bikin konsep yang agak rumit jadi enak diikutin.



makeup and hairstyling
This is tough, karena nominenya sama kuat dan kategori ini seringkali pemenangnya random. Kalau dijejerin pun, Suicide Squad, Star Trek Beyond, dan A Man Called Ove (film Swedia) ini terlihat sama-sama effort-nya berat. Tetapi, kalau dijejerin juga buat gw Sucide Squad terlihat "paling berat" karena banyak variasinya dan semuanya dalam porsi utama. Tapi ya ngga tahu jugalah. Walau terdengar seperti hanya pengulangan kemenangan Star Trek (2009) di tahun 2010, Star Trek Beyond juga punya peluang menang bila berasumsi para anggota Academy lebih familier sama brand Star Trek ketimbang Suicide Squad apalagi A Man Called Ove yang nontonnya musti pakai subtitel.

pleasant surprise: SUICIDE SQUAD karena akan menyenangkan melihat para pembenci film ini mencak-mencak bahwa film yang mereka benci menang Oscar =D.



original score
LA LA LAND
Rasanya nggak ada yang bisa escape dari musiknya La La Land.

pleasant surprise: LION punya theme yang cantik dan berperan besar dalam bagian-bagian minim dialog. 



original song
"City of Stars", LA LA LAND
Ini menebak atas azas popularitas aja, lagu ini jadi identitas filmnya yang diputar di trailer dan klip-klip adegan untuk promosi. 

pleasant surprise: ya LA LA LAND juga sih, haha. Gw juga akan senang bila "Audition (The Fool Who Dreams)" menang karena message-nya yang lebih straightforward.



production design
LA LA LAND
Gw termasuk suka dengan nominasi kategori ini--walau belum nonton Hail, Caesar! sih, karena masing-masing punya konsep visual yang berkarakter. Lagi-lagi pilihan teraman adalah La La Land karena juga menang di asosiasi desainer produksi a.k.a. tata artistik (Art Directors Guild) kategori kontemporer, dan akan sinkron dengan Best Picture.



sound editing
HACKSAW RIDGE
Kategori ini biasanya dimenangkan oleh film-film laga, perang, atau fantasi, berhubung pengertiannya adalah "perancang suara"--semacam membuat suara baru untuk benda-benda atau gerakan yang ada di cerita/layar. But, gw rasa juga sebagian besar anggota Academy nggak ngeh juga sama pengertiannya jadi bakal memilih yang suaranya paling "berasa" aja, dan tampaknya akan jatuh ke Hacksaw Ridge. Dan if it matters, film ini juga menang di asosiasi sound editors (Motion Pictures Sound Editors)



sound mixing
LA LA LAND
Kategori ini untuk hasil akhir suara yang kita dengar di bioskop--keseimbangan suara, dialog, musik, dll dan keterkaitannya dengan cerita dan filmnya. Again, gw rasa sebagian besar anggota Academy akan lebih berpikir simpel dan milih film yang paling "berasa" ada suaranya aja daripada pusing =D. Hacksaw Ridge termasuk berpeluang di kategori ini, tapi ada kecenderungan bahwa film yang berkaitan erat dengan musik sering diprioritaskan kategori ini (contoh Chicago, Dreamgirls, Ray, Les Misérables, Whiplash), jadi La La Land akan jadi natural successor. Oh, ditambah dia juga menang di asosiasi penata suara (Cinema Audio Society).



visual effects
Gw agak tersentak tahun lalu ketika pemenang kategori ini adalah film kecil non-blockbuster, Ex-Machina ketimbang Star Wars: The Force Awakens atau Mad Max: Fury Road, sehingga tahun ini gw perlu hati-hati dalam menebak kategori ini. Or not. Semua kalau udah nonton The Jungle Book pasti tahulah ini film nggak ada lawan.

pleasant surprise: Tapi kalau KUBO AND THE TWO STRINGS menang lucu juga sih, hehe.



adapted screenplay
MOONLIGHT
Tekanan politik bahwa film tentang pria kulit hitam homoseksual dari broken home ini harus menang penghargaan besar kayaknya bakal tembus di sini selain di Supporting Actor. Itu aja sih alasannya.


pleasant surprise: ARRIVAL yang elegan atau HIDDEN FIGURES yang tengah sukses di box office juga akan bisa gw terima jika menang.



original screenplay
MANCHESTER BY THE SEA
Meski biasanya dibikin sinkron dengan Best Picture, yang gw baca-baca film La La Land kurang difavoritkan di segi skenario di sana, berbeda jauh dengan Manchester by the Sea. Tapi gw kembali bimbang karena popularitas La La Land agak tak terbendung sehingga kemungkinan anggota Academy akan cenderung memilih film yang sama dengan pilihan Best Picture mereka--yang gw asumsikan di atas akan banyak pilih La La Land. Gw agak terbelah di sini, jadi dengan semangat fifty-fifty gw akan tebak Manchester by the Sea.

pleasant surprise: ya gw akan senang jika LA LA LAND yang menanglah =P.



foreign language film
THE SALESMAN (Iran)
Berhubung tema film-film nominenya nggak ada soal holocaust, jadi agak bingung nebaknya. Film komedi drama Toni Erdmann (Jerman) termasuk populer di kancah festival Eropa--bahkan sudah akan dibuat remake-nya di Hollywood, tapi durasinya yang 2 jam 40 menit mungkin akan berat bagi opa-opa anggota Academy. Durasi paling ringkas itu 90 menit film Land of Mine (Denmark) soal Perang Dunia II, tapi film Tanna (Australia berlatar suku-suku di kepulauan Vanuatu) dan komedi A Man Called Ove (Swedia) juga nggak beda jauh di bawah dua jam. Atas nama politik, mungkin pilihan jatuh kepada The Salesman, yang cukup terimbas kebijakam terkait imigrasi di bawah pemerintahan presiden baru AS, Donald Trump, yang bikin perwakilan filmnya yang dari Iran nggak bisa hadir di Oscar, dan pemberitaannya cukup santer. Tapi, seriously, peluang semua film ini tergolong sama, gw udah siap kalau salah.



documentary feature
13th
O.J.: Made in America salah satu dokumenter terpopuler di Amerika sana tahun lalu, dan berdasarkan sebuah peristiwa hukum terkenal era 1990an, yaitu atlet American football, O.J. Simpson yang didakwa membunuh istrinya. Ditambah kemenangan di PGA dan DGA, kemungkinan besar film ini juga akan dapat Oscar...Tapiii....film itu puanjang banget durasinya, total hampir 8 jam (!), dan gw ragu anggota Academy sanggup menilai film tersebut dan memilihnya jadi pemenang--sebagaimana gw sering berasumsi bahwa film dokumenter yang katanya bagus sekalipun nggak akan guna kalau bikin ngantuk voters yang kebanyakan opa-opa =P. Maka, wild guess gw condong ke film populer satunya, sama-sama singgung tentang isu ras dan relevan dengan Amerika saat ini, dan durasinya di bawah 2 jam, 13th.



documentary short
JOE'S VIOLIN
Kalau ada soal holocaust, tebaklah yang itu. I could be wrong, melihat nomine lain ada yang membahas perang Suriah, pengungsi, dan layanan kesehatan, but we all know Academy have a soft spot about holocaust.



animated short film
PIPER
Film pendek Pixar yang dibundel di depan Finding Dory, dan kayaknya itu memperbesar kemungkinannya menang Oscar.



live-action short film
TIMECODE
Kategori ini bisa aja dilewatin dengan asal tebak, tapi gw tetap tertarik lihat sinopsis para nominenya yang ternyata keren-keren. Yang paling menarik perhatian gw adalah kisah dua orang satpam beda shift yang jadi akrab dengan komunikasi lewat kamera CCTV, jadi gw tebak ini aja, heuheu.



Jadi demikianlah tebakan gw tahun ini. Kini tinggal menantikan seberapa banyak tebakan gw tepat pada acara penganugerahannya, Senin, 27 Februari 2017 jam 7 pagi WIB.

Kamis, 23 Februari 2017

[Movie] Surga yang Tak Dirindukan 2 (2017)


Surga yang Tak Dirindukan 2
(2017 - MD Pictures)

Directed by Hanung Bramantyo
Screenplay by Alim Sudio, Hanung Bramantyo, Manoj Punjabi
Based on the novel by Asma Nadia
Produced by Manoj Punjabi
Cast: Laudya Cynthia Bella, Fedi Nuril, Raline Shah, Reza Rahadian, Sandrinna Michelle Skornicki, Nora Danish, Kemal Palevi, Tanta Ginting, Muhadkly Acho, Keefe Bazli Ardiansyah, David Chalik


Tampaknya gw nggak perlu melapis-gulakan (maksudnya sugarcoating =P) pandangan dan perasaan gw terhadap Surga yang Tak Dirindukan 2. You can see why dari review gw untuk film pertamanya, Surga yang Tak Dirindukan (2015). Dari denger pengumuman bahwa akan ada yang kedua aja udah gatel ingin bikin plesetan judulnya jadi "sekuel yang tak dibutuhkan". I mean, sekalipun gw nggak simpati sama film pertamanya, setidaknya film itu ditutup dengan bijak dan understandable. Sekuelnya mau cerita apa lagi? Menurut gw kalau bukan bikin cerita anak si istri pertama dan anak si istri kedua ternyata pacaran pas udah remaja, mending nggak usah *demen sensasi*. Tapi apa boleh buat, bagaikan kisah di film pertama bahwa sebenarnya si laki tidak bermaksud punya istri kedua tapi "telanjur" -_-, film ini ya sudah telanjur jadi. Mungkin fascination orang-orang terhadap isu poligami memang belum habis ya. Interestingly, sekuel ini digarap oleh Hanung Bramantyo, setelah film pertamanya kursi sutradara diberikan kepada salah satu anak didiknya, Kuntz Agus--pola yang sama dengan Habibie & Ainun dan sekuelnya Rudy Habibie. One can hope a better result when handled by the mentor right? Riiight

Surga yang Tak Dirindukan 2 terjadi tiga tahun setelah Meirose (Raline Shah), istri-kedua-tapi-nggak-sengaja dari Pras (Fedi Nuril) memutuskan memulai hidup baru sendiri jauh dari Pras dan istri sah pertamanya, Arini (Laudya Cynthia Bella). Di masa kini, Arini sudah punya karya buku anak-anak yang diterbitkan sampai ke luar negeri, dan suatu hari dia diminta datang ke Budapest, Hungaria untuk beberapa kegiatan terkait bukunya itu serta mencari inspirasi karya baru tentang Islam di negeri itu. But of course namanya film, di tempat paling unlikely itulah Arini tanpa sengaja bertemu lagi dengan Meirose dan putranya, Akbar, yang sudah menetap di sana. Di saat yang sama, Arini berjumpa dengan dokter keturunan Indonesia, Syarif (Reza Rahadian), yang menemukan bahwa Arini mengidap suatu penyakit. And we all know where this goes.

Ummm, ya bebaslah pokoknya. Gw merasa cerita film ini dibuat karena yang bikin cerita merasa ada "tuntutan" bahwa Pras harus memilih satu orang istri saja. Padahal mah ya udah kalau ternyata memang bertiga itu ikhlas hidup rukun bahkan saling cinta, dan poligami itu nggak ilegal, biarin aja atuh, hidup hidup orang ini. Tapi ya kalau nggak diribet-ribetin nggak akan jadi film, ya nggak? Sepertinya juga gw mendapat "pesan" terselubung bahwa pembuat filmnya ini mengajak yang nonton nggak serius-serius amat menanggapi cerita film ini, berhubung 5-7 menit pertamanya itu adalah callback film pertama sekaligus self-mocking yang menurut gw lucu—dan agak berharap seluruh filmnya punya tone begitu tapi ya nggak mungkinlah ya.

Anyway, meski dengan cerita dan sutradara berbeda, anehnya menyaksikan Surga yang Tak Dirindukan 2 punya sensasi serupa dengan film pertamanya. Jika di film pertama itu bikin gw emosi jiwa karena karakter-karakternya itu buodoh banget setiap ngambil keputusan, nonton film ini juga bikin emosi serupa, walau targetnya mengerucut pada satu karakter saja. Gw bisa saja menanggapi negatif hal ini, karena pembangunan karakter tersebut seperti dirancang untuk jadi protagonis tapi malah dibangun keliru karena nggak bikin simpati. Karakter ini luar biasa egois sampai ke ngatur-ngatur perasaan orang lain, seolah kehidupan orang lain itu harus dia yang memutuskan dan semua harus nurut maunya dia sekalipun itu menghalangi kebahagiaan orang lain, mentang-mentang sedang punya daya tawar tinggi. Hih, nggak mikir apa tuh orang *lah emosik*. 

Nah, di sisi lain, gw merasa bahwa film ini memang direkayasa sedemikian rupa sehingga keberpihakan gw jadi, well, lebih mudah, bikin gw makin melihat pihak satunya itu definitely deserve better—walau menurut gw tetapi si egois itu nggak punya hati dengan ngatur-ngatur pilihan hidup orang. You see, sekalipun gw kesal dengan filmnya, toh ternyata gw tetap memperhatikan isi filmnya, tetap aja terlibat secara (bikin) emosi sama film ini. Mirip ibu-ibu kita saat nonton sinetron atau sidang pengadilan live. Sebuah trik klasik tapi gw masih teperdaya, boleh juga film ini ckckck.

Jadi, sama seperti film pertamanya, banyak hal yang gw nggak setuju dari film ini, mulai dari bahwa film ini ada =_=', sampai ke bagian-bagian ceritanya, durasinya sampai 2 jam pula. Yang sudah pasti gw setuju, juga sama kayak film pertamanya, adalah sinematografi dan tata produksi yang memaksimalkan bagian mereka dengan baik, sebagaimana yang bisa diharapkan dari tim pimpinan Hanung—memilih lokasi rumah sakit yang serba bundar itu brilian sekali =). Tetapi gw juga perlu akui bahwa sekalipun film ini agak lambat dalam membangun konfliknya, film ini termasuk nggak serba cengeng, setidaknya nggak tiap saat ada musik dramatis dan ekspresi histeris. Dan, jika ada satu hal yang menurut gw paling stand out di film ini adalah performa Raline Shah, yang makin lama makin articulate, dan ekspresi serta gesturnya makin natural, dan mungkin berpengaruh pula untuk gw condong berpihak sama karakter dia haha *yah ketauan deh siapa tadi yang gw maksud*.





My score: 6/10

Rabu, 22 Februari 2017

[Movie] Lion (2016)


Lion
(2016 - Screen Australia/The Weinstein Company/See-Saw Films)

Directed by Garth Davis
Screenplay by Luke Davies
Based on the book "A Long Way Home" by Saroo Brierley
Produced by Iain Canning, Angie Fielder, Emile Sherman
Cast: Dev Patel, Sunny Pawar, Nicole Kidman, Rooney Mara, David Wenham, Abishek Bharate, Priyanka Bose, Tannishtha Chatterjee, Nawazuddin Siddiqui, Deepti Naval, Divian Ladwa


Bukan sombong bukan pamer, gw sudah mendengar proyek film Lion sejak sekitar dua tahun lalu, saat itu sudah menetapkan Nicole Kidman sebagai salah satu pemerannya, yang cukup make sense berhubung proyek ini memang diinisiasi oleh rumah produksi Australia—fyi negera asal Kidman. Tentu saja bukan cuma itu daya tariknya. Lion diangkat dari sebuah kisah nyata tentang anak hilang di India yang kemudian diadopsi keluarga Australia, lalu berhasil menemukan ibu kandungnya kembali sekitar 25 tahun kemudian. Film ini terdengar seperti Slumdog Millionaire tetapi berdasarkan cerita nyata, apalagi sama-sama dibintangi Dev Patel—fyi doi asal Inggris tapi keturunan India. Namun, bahwa film ini digarap oleh sutradara yang belum pernah mengarahkan film layar lebar, keraguan tentu muncul di benak gw. Akan tetapi, keraguan itu cukup mudah disirnakan oleh hasil akhir filmnya. 

Film dimulai dari awal latar belakang keluarga Saroo kecil (Sunny Pawar) yang miskin di sebuah desa bergunung di Khandwa, India tahun 1986, berlanjut ke "petualangan" Saroo yang nyasar di dalam sebuah kereta api antarprovinsi yang membawanya tiba di kota padat penduduk Kolkata (d/h Calcutta), lebih dari 1500 kilometer jaraknya dari rumah. Dasar masih kecil, Saroo kekurangan modal untuk mencoba pulang. Bukan cuma soal biaya, ia juga nggak tahu ke mana arah pulang, nggak tahu nama ibunya selain panggilan "ibu", dan orang-orang sekitar nggak mengerti ucapannya karena beda bahasa—Kolkata berbahasa Bengali, sementara Saroo hanya tahu bahasa Hindi. Bener-bener anak ilang. Menggelandang di jalanan dan rumah singgah di Kolkata, Saroo akhirnya diadopsi oleh Sue (Nicole Kidman kriting) dan John Brierley (David Wenham) di Tasmania, Australia. Dua dekade kemudian, Saroo dewasa (Dev Patel) terdorong kembali untuk mengetahui asal usulnya, menggunakan memori masa kecilnya yang terbatas dan sebuah teknologi baru yang dapat digunakan oleh siapa pun, Google Earth =).

Karena ini kisah nyata, cerita film ini sebenarnya sudah bisa diketahui cukup mudah di media, bahkan ending-nya udah gw singgung di atas. Maka tugas terberat pembuat film Lion adalah menunjukkan proses semuanya itu dengan cara sedemikian rupa sehingga tetap layak diikuti. Film ini pada akhirnya nggak memilih jalan yang terlalu heboh gimana gitu, melainkan benar-benar fokus pada langkah demi langkah perjalanan Saroo. Namun, itu nggak berarti film ini jadi biasa saja. Gw termasuk kagum pada penggarapan bagian pertama film ini yang lugas tapi nggak banyak omong, fokus pada Saroo kecil yang masih usia sekitar lima tahun dan harus berjuang sendirian di sisi-sisi kota besar yang kurang membanggakan. Di sini terpampang nyata keterampilan dalam penggarapan adegan demi adegannya, juga performa akting yang begitu polos dan memikat dari si Sunny yang baru pertama kali main film itu.

Babak selanjutnya ketika Saroo akhirnya diadopsi oleh pasangan Brierley, juga masih memikat buat gw. Setelah ikut mengalami kerasnya kehidupan Saroo di awal, film ini berhasil mentransfer rasa lega (sementara) akan nasib Saroo di tempat baru yang lebih aman sejahtera, apalagi ditunjukkan pasangan Brierley sangat menyayangi Saroo dengan tulus. Dari babak Saroo dewasa, gw paling salut pada penggambaran poin hubungan antara Saroo dan Sue yang menunjukkan ikatan yang sangat kuat tanpa harus berbalas dialog serba dramatis, thanks to permainan apik dari para pemainnya. Dengan penceritaan yang cukup straightforward, film ini tetap bisa menyampaikan rasa yang seharusnya dirasakan, dan menurut gw itu bentuk keberhasilan.

Walau demikian, gw sampai juga pada titik jenuh ketika film ini seperti keteteran saat menangani kebimbangan batin Saroo dewasa dalam menelusuri kembali identitasnya. Set-up-nya sih menarik, ketika Saroo kuliah dia ketemu teman-teman asing dari India, which is harusnya nggak "asing" buat dia. Ditunjukkan pula bahwa dia overthinking terhadap pilihan menemukan keluarga kandungnya dan apakah itu berarti meninggalkan keluarga angkat yang membesarkannya--yang berhubungan pula pada dilema apakah dia rela hidup enak-enak di kemapanan sementara ibu dan saudara-saudaranya di India belum jelas nasibnya. Cuma, film ini juga kayaknya stuck di overthinking itu, sehingga filmnya lebih menunjukkan Saroo galau bengong sana-sini ketimbang upaya step-by-step-nya dalam menemukan rumah asalnya, yang sebenarnya berpotensi lebih exciting tanpa harus kehilangan unsur frustrasinya. Walau nggak sampai merusak, buat gw ini semacam kesempatan yang terlewatkan, yang pada akhirnya berakibat babak Saroo dewasa di Australia ini nggak semenarik babak Saroo kecil di India, dan terasa sekali pergerakan filmnya terlalu melambat.

Untungnya, hingga adegan paling akhir, Lion nggak kehilangan unsur yang membuatnya begitu memikat, yaitu rasa. Tanpa harus terlalu meringis atau depresif, film ini tetap berhasil menimbulkan kepedulian pada cerita dan karakternya, apa yang terjadi dan dirasakan Saroo bisa turut gw pahami, nggak terlalu ada pertentanganlah. Dan, gw pikir itulah hal terpenting yang bisa diambil dari Lion, karena hal itu pula yang membuatnya menarik disaksikan sekalipun poin-poin ceritanya sudah diketahui sebelum nonton film ini. Senyum dan haru tetap nggak akan terelakkan.





My score: 7,5/10

Senin, 20 Februari 2017

[Movie] Man Down (2016)


Man Down
(2016 - Lionsgate Premiere/Binary Light/Mpower Pictures/Krannel Pictures)

Directed by Dito Montiel
Screenplay by Adam G. Simon, Dito Montiel
Story by Adam G. Simon
Produced by Dawn Krantz, Stephen McEveety
Cast: Shia LaBeouf, Kate Mara, Jai Courtney, Gary Oldman, Clifton Collins Jr., Charlie Shotwell, Tory Kittles


Man Down adalah one of those films yang skalanya kecil tetapi menimbulkan harapan buat penonton karena dimainkan oleh pemeran yang cukup bereputasi, bahwa sekalipun nggak heboh, bisa saja nggak buruk-buruk amat. Mengumpulkan Shia LaBeouf, Jai Courtney, Kate Mara, dan Clifton Collins Jr. dalam satu produksi merupakan sebuah bukti either kemampuan pedekate produser yang hebat, atau dana kuat, atau materinya memang patut ditengok—dan gw ragu dana adalah kekuatan utama proyek ini, we'll get to that later. Namun, kuncian gw ada pada Gary Oldman, masakkan seorang aktor senior hebat seperti dia terlibat di produksi abal-abal, minimal pasti ada sesuatu di film ini. Honestly, usai menonton Man Down, gw melihat sesuatu itu, namun proses untuk menemukan sesuatu itu terbilang melelahkan.

Premisnya film ini agak misterius. Ini kisah seorang marinir AS, Gabriel Drummer (Shia LaBeouf), veteran perang di Afghanistan yang kembali ke kotanya untuk mencari keluarganya pascaperistiwa seperti kiamat yang membuat kotanya itu sepi dan mati. Namun, film ini sendiri bertutur dalam tiga "saluran". Selain kisah tadi, dituturkan pula kisah wawancara Drummer dengan seorang konsuler militer, Peyton (Gary Oldman) di sebuah markas setelah sebuah tugas yang dijalani Drummer, dan perjalanan sebelum Drummer ditugaskan ke Afghanistan, yang memperlihatkan hubungannya dengan sang istri Natalie (Kate Mara) dan sang putra satu-satunya Jonathan (Charlie Shotwell), plus sahabatnya Devin Roberts (Jai Courtney) yang selalu jadi cs-annya selama pelatihan dan nanti di penugasan. Paparan awalnya ini menunjukkan kejadian sebelum dan sesudah "peristiwa" yang menyebabkan Drummer sampai di kota mati itu, sementara "peristiwa"-nya sendiri itu apa, itu yang diniatkan sebagai titik plot terpenting, yang diungkap belakangan. Sangat jauh belakangan.

Nah, itu juga yang membuat gw agak bingung gimana membahas film ini tanpa terlalu give away too much, sementara topiknya nggak terlalu luas kalau nggak dibahas revelation-nya. Di sisi lain, gw juga merasa film ini terlalu terlena dalam menunda pengungkapan itu dengan selang-seling adegan yang masing-masing hanya memberikan seiprit kemajuan dalam plot, jatuhnya film ini malah terasa stretchy, dipanjang-panjangin nggak tahu maunya apa, sok misterius padahal nggak bikin penasaran-penasaran amat. Namun, gw harus akui bahwa ketika "peristiwa" itu diungkap saat klimaks, serta alasan kenapa film ini dituturkan nonlinear akhirnya terjelaskan, film ini mencapai titik intensitas tertingginya. Adegannya digarap dengan baik dan dimainkan cukup baik pula. Tapi ya tetep capek nunggunya.

Isunya sendiri termasuk penting, berhubungan dengan seorang tentara yang terdampak oleh perang, terutama secara psikologis. Ide konsep dalam menggambarkan dan menyampaikan isu tersebut pun gw bilang menarik karena ada post-apocalyptic fantasy-nya, sehingga tampil agak beda dengan film-film drama perang yang sudah ada. Ini yang gw bilang "sesuatu", yakni niatnya yang baik. Para pemain juga lumayanlah, cuma gw personally selalu merasa LaBeouf kurang bikin simpati sejak kelakuannya di muka publik suka ajaib—tetapi somehow itu malah bikin perannya di sini makin cocok hahaha. 

Akan tetapi, walau maunya tampil agak beda, sayang sekali kemasan dan delivery film ini nggak lebih baik dari film-film drama perang yang sudah ada. Apalagi elemen-elemen ceritanya itu semacam daur ulang dan mix and match saja dari cerita-cerita yang sudah pernah diangkat sebelumnya—bisa gw sebut dari American Sniper, sampai ke, err, Sucker Punch =P. Maksudnya oke, tapi nggak ada yang baru, nggak ada yang spesial juga. Belum lagi, filmnya kelihatan sekali hemat bujet dan sangat dibantu oleh editing dan pewarnaan/digital coloring biar tampilannya agak wah dikit, tetapi itu yang justru makin kuat mengesankan film ini kualitas produksinya lebih cocok jadi FTV Hollywood untuk konsumsi TV kabel atau video streaming saja.





My score: 6/10

Kamis, 16 Februari 2017

[Movie] The Lego Batman Movie (2017)


The Lego Batman Movie
(2017 - Warner Bros./Warner Animation Group)

Directed by Chris McKay
Screenplay by Seth Grahame-Smith, Chris McKenna, Erik Sommers, Jared Stern, John Whittington
Story by Seth Grahame-Smith
Batman created by Bob Kane, Bill Finger
Superman created by Jerry Siegel, Joe Shuster
Produced by Dan Lin, Roy Lee, Phil Lord, Christopher Miller
Cast: Will Arnett, Michael Cera,Rosario Dawson,  Ralph Fiennes, Zach Galifianakis, Jenny Slate, Hector Elizondo, Mariah Carey, Zoe Kravitz, Doug Benson, Channing Tatum, Jonah Hill, Adam Devine, Ellie Kemper, Siri


Ternyata film animasi The Lego Movie itu udah tiga tahun lalu ya, nggak kerasa. Baik kesuksesan maupun kualitas film besutan duo Phil Lord dan Chris Miller itu cukup di atas ekspektasi gw, karena film itu sangat cerdas dalam "memfilmkan" prinsip bermain Lego dan mengolahnya dalam cerita yang sangat kocak tapi berisi, yang sepertinya akan sulit untuk diulangi. Mungkin karena itu kali ya Warner Bros. nggak langsung bikin sekuelnya (tapi sedang dipersiapkan), melainkan terlebih dahulu bikin film spin-off dari salah satu karakter paling populer dan paling absurd di film tersebut, Lego Batman (diisi suara Will Arnett). Hence, The Lego Batman Movie. Nah, apakah ini termasuk film Lego atau film Batman, rasanya nggak perlu terlalu dipikirkan. Ibarat main Lego edisi Batman yang semua tokohnya lengkap ditambah ribuan keping balok Lego yang bisa dibentuk jadi apa aja, ya terserah mau bagaimana bentuknya film ini, hehe, asalkan in the end film ini tetap punya cerita yang layak diceritakan.

Dari kemasannya, jelas The Lego Batman Movie masih sedarah sama The Lego Movie. Jika di film pendahulunya banyak self-mocking terhadap karakter Batman, pahlawan super yang identik dengan segala yang gelap-gelap dan depresif tetapi juga narsis, maka di The Lego Batman Movie semuanya semakin menjadi-jadi. Setiap sifat dan kebiasaan Batman, sejarah Batman--termasuk yang serial era 1960-an itu beserta para villain-nya yang kerap berkonsep why-the-hell-did-they-even-come-up-with-that, dan rujukan kultur pop yang melimpah menjadi bahan ampuh dalam menciptakan guyonan demi guyonan. Gw menebak, ketika penonton cilik bisa menikmati sajian warna-warni serta aksinya, orang-orang dewasa juga nggak akan kalah terhibur dengan bejibun rujukan yang terletak di cerita, dialog, hingga karakter-karakter numpang lewat yang dihadirkan. Bukan hanya dari Batman, tetapi juga sampai ke intelectual properties Warner Bros. lain yang mungkin nggak asyik kalau gw beberkan di sini ;).

Akan tetapi, apakah kemasannya demikian membuat The Lego Batman Movie mengaburkan identitas "Batman" yang kita kenal? Semata-mata tidak. Malahan, film ini sukses menemukan satu elemen Batman yang memang kurang dibahas di format-format lain, dan hebatnya lagi bisa dikembangkan menjadi sebuah sajian animasi komedi untuk keluarga. Yang gw maksud adalah tentang kesendirian Batman, yang di sini digambarkan dia nggak mau punya "hubungan" terlalu mendalam, entah itu positif ataupun negatif, dengan siapa pun. Film ini diawali dengan serangan Joker (Zach Galifianakis) untuk lagi-lagi menghancurkan Gotham dan lagi-lagi digagalkan Batman. Namun, terjadi sesuatu di tengah-tengah aksi itu, yaitu Batman mengatakan bahwa Joker bukan musuh terbesarnya, dan tanpa Joker dia akan tetap jadi Batman. Joker yang baper akhirnya membuat rencana baru yang tak seperti biasanya untuk mengalahkan Batman, dengan melibatkan hampir semua musuh reguler Batman, dan meminjam momen terpilihnya komisaris kepolisian baru, Barbara Gordon (Rosario Dawson)--yang kita tahu adalah nama alias dari Batgirl. Di saat yang sama, Batman ternyata tanpa sengaja telah mengadopsi Dick Grayson (Michael Cera)--yang kita tahu adalah nama alias Robin, padahal Batman berulang kali menegaskan hanya ingin hidup sendirian saja.

Jadi kalau diperhatikan sebenarnya The Lego Batman Movie ini nggak bercerita Batman melawan si X atau Y, melainkan Batman melawan egonya sendiri, yang berusaha keras menghapus trauma masa kecilnya--orang tuanya dibunuh perampok, dengan berupaya preventif as in nggak mau punya hubungan dekat dengan siapa pun, which is pretty touching. Gw lumayan akrab dengan karakter Batman dari serial animasi 1990-an hingga film-film bioskopnya, dan gw merasa yang diangkat di film ini nggak melenceng dari karakterisasi Batman yang gw kenal, cuma diberi penekanan di sebuah sisi yang lain dan disajikan dengan lebih humoris dan gesrek aja. Once again, franchise animasi Lego berhasil melampaui ekspektasi gw dari segi konten dan esensi, karena dengan tema kesendirian serta arti keluarga, film ini tetap bisa disajikan dengan cerah ceria, dan juga tetap "Batman".

That being said, gw juga sempat bilang bahwa formula The Lego Movie agak sulit diulangi, dan gw agak merasakan itu di The Lego Batman Movie ini. Meski punya jalinan cerita yang keren dan kemasan yang sangat menghibur, ritmenya pun hampir serupa cepat dan lancarnya, The Lego Batman Movie buat gw nggak se-surprising pendahulunya. Masih lucu, banget, cuma karena film ini muncul belakangan, freshness-nya jadi agak berkurang, mungkin karena konsepnya yang tetap sama--bikin cerita sesuai imajinasi pakai balok-balok Lego--tetapi nggak terlalu signifikan dalam jalan ceritanya. Satu contoh, efek suara tembakan pakai suara mulut di sini nggak ada fungsinya, cuma buat lucu-lucuan aja. Hal ini bikin gw jadi agak khawatir sama film-film Lego selanjutnya, mereka harus punya cara untuk tak hanya tampil lucu, tetapi juga di luar ekspektasi yang nonton supaya bisa tetap segar *ngatur aja*. Tapi...ya...itu hanya sekadar ganjalan kecil aja dari gw, karena kalau secara garis besar film ini tetap sangat menghibur.

Film ini memuat dua brand besar sekaligus dikemas dalam bentuk komedi yang lumayan "kacau". Jadi sebenarnya pas nonton ya lemesin aja, nikmati lelucuan-lelucuan yang dilemparkan film ini, yang diikat dengan sebuah cerita yang ternyata cukup solid, and you'll be fine. Kalau selama ini kita tahu Batman di layar lebar itu selalu diselubungi kegelapan dan keseriusan, maka ini adalah platform yang tepat untuk melihat Batman versi lebih menggembirakan dan menceriakan, nyerempet parodi, tetapi nggak meninggalkan atau merendahkan esensi karakter Batman dan karakter-karakter sekitarnya. Not everything is awesome, tetapi gw sudah cukup puas dengan segala yang disampaikan di film ini. Film mana lagi yang bisa dari sejak kemunculan logo production house di awal film udah ngelawak dengan suksesnya.





My score: 7,5/10

Minggu, 12 Februari 2017

[Movie] Boven Digoel (2017)


Boven Digoel
(2017 - Foromoko Matoa Indah Film)

Directed by F.X. Purnomo
Screenplay by Jujur Prananto, F.X. Purnomo
Based on the book "Catatan Seorang Dokter dari Belantara Boven Digul" by John Manangsang
Produced by John Manangsang
Cast: Joshua "JFlow" Matulessy, Christine Hakim, Edo Kondoligit, Ira Dimara, Lala Suwages, Ellen Aragay, Maria Fransisca Tambingon, Henry W. Muabuay, Denny Imbiri, Juliana Rumbarar, Echa Raweyai


Sekilas film Boven Digoel mungkin dianggap salah satu proyek yang disebut "film daerah", karena mengangkat kisah dari suatu wilayah atau provinsi, diinisiasi oleh rumah produksi asal daerah tersebut, dan dituturkan sebagian besar dalam dialek lokal—dalam hal ini adalah Papua. Akan tetapi, kisah yang diangkat di film ini juga setahu gw pernah diproduksi dalam lingkup lebih kecil, dengan judul Silet di Belantara Digoel Papua arahan Henry W. Muabuay (beliau kemudian jadi pemeran mantri Thomas di versi baru ini), yang berhasil mendapat gelar Film Daerah Terpilih di Piala Maya 2015. Sementara film dengan judul Boven Digoel yang sekarang ini, mungkin bisa dibilang semacam remake ataupun pengembangannya, jadi semacam proyek semi-daerah, karena melibatkan juga kru dan pemain dari circle film nasional, selain tentu saja diedarkan pula di bioskop seluruh Indonesia. Dengan latar demikian, sebenarnya menarik untuk melihat apa yang akan ditawarkan film ini, apalagi sampai bela-belain merangkul jasa sineas kawakan Indonesia seperti Jujur Prananto (AADC, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara, dll.) di skenario, Yudi Datau (Denias Senandung di Atas Awan, 5 cm.) di sinematografi, Wawan I. Wibowo di editing, hingga Christine Hakim sebagai salah satu pemeran pendukungnya.

Nama Boven Digoel sendiri sebelumnya dikenal sebagai salah satu tempat pengasingan buat pejuang kemerdekaan, letaknya di dekat kota Merauke—kota paling ujung Timur wilayah Indonesia, kali ada yang lupa. Namun, film ini nggak membahas itu, melainkan lebih ingin menyorot satu sisi kehidupan di wilayah yang kemudian dikenal dengan nama Tanah Merah, yang masih terbilang terpencil, at least di awal tahun 1990-an yang jadi setting film ini. Film ini juga semacam semibiografi dari sang tokoh utama, John Manangsang, seorang dokter yang dibesarkan di tanah Papua dan kemudian ditempatkan di Tanah Merah. Basic ceritanya sih tentang suka duka John (diperankan JFlow tanpa right here, yang gw baru tahu di sini ternyata nama benernya adalah Joshua Matulessy), bersama tim perawat—disapa suster untuk yang perempuan dan mantri untuk yang laki, fyi—dan bidan di Puskesmas Tanah Merah, yang harus melintasi berbagai medan untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat setempat, di tengah keterbatasan fasilitas apalagi infrastruktur.

Gw sih cukup bisa menerima apa yang ditawarkan di film ini, ini salah satu cerita yang sering gw dengar tetapi jarang digambarkan dengan nggenah dan otentik di layar lebar. Di sini kelihatan bahwa ada misi untuk menyiarkan kabar tentang mereka yang kurang diperhatikan kebutuhan dasar hidupnya, dan ada segelintir orang di lapangan yang berjuang sebisanya untuk melayani pemenuhan kebutuhan itu. Film ini gw tangkap lebih seperti deskripsi ketimbang narasi, dalam artian gw cukup pahamlah apa yang ingin digambarkan dan disampaikan baik dalam maupun di luar cerita. Entah itu cara hidup masyarakat di sana, pemandangan dan situasi lokasinya, maupun kesukaan dan kesulitannya—ya dari sekian desa yang berjauh-jauhan jaraknya hanya ada satu Puskesmas dan hanya satu dokter bertugas. Dan, enaknya adalah semua itu disampaikan dengan cara apa adanya, nggak aneh-aneh, tetapi cukup kena, dan masih bisa memunculkan humor juga.

Namun, film ini rupanya masih terlihat keder dengan penuturan ceritanya. Film ini sebenarnya cukup fokus, plot yang on-going sepanjang film ini terletak pada penanganan seorang penduduk yang kesulitan dalam bersalin (diperankan Echa Raweyai, suaminya diperankan Edo Kondologit), dikontraskan dengan the inevitable problem bahwa John kurang memberi waktu untuk keluarganya sendiri. Set up semuanya itu sudah diletakkan dengan baik sejak awal. Masuknya unsur "dukungan moral dan doa dari ibu" juga buat gw masih terkait erat sama ceritanya. Masalahnya, penyelesaiannya nyaris tidak ada. Kalaupun ada, kurang di-handle dengan rapi, tiba-tiba selesai aja gitu. Sayang banget sebenarnya, seandainya lebih rapi atau ditambal dengan adegan-adegan tambahan yang menunjukkan prosesnya lebih mendalam, khususnya di babak akhir, film ini pasti bakal berdampak lebih. Gw nggak bisa mengabaikan pula bahwa karakterisasinya ternyata kurang seimbang. Banyak karakter pendukung yang berpotensi menarik dan dimainkan pemain yang berbakat akhirnya nggak dimaksimalkan, baik itu dari ragam watak para petugas Puskesmas, hingga ke Yvonne (Ira Dimara) istri John dan even Mama Manangsang (Christine Hakim), yang terasa come and go aja gitu. Well, presence ibu Christine tetap nggak ada yang ngalahin sih, dan salah satu adegan one-on-one-nya dengan karaker John juga jadi salah satu bagian paling emosional di film ini.

Walau begitu, untuk sebuah proyek yang bukan digagas sineas pulau Jawa, Boven Digoel menurut gw sudah mengarah ke arah yang baik. Dari penataan adegan hingga dukungan teknisnya terbilang proper untuk sebuah film, dan itu adalah tanda bahwa film ini dibuat dengan kesungguhan, alih-alih asal yang penting jadi. Satu hal lagi yang juga buat gw menarik adalah film ini pada akhirnya bisa mengurangi kadar klise "film inspiratif". Meski masih ada beberapa ujaran kalimat mutiarawi yang tak terhindarkan, termasuk keterlibatan iman di sana, kadarnya agak bisa ditolerir buat gw. Gw juga respek bahwa overall film ini bukan soal kesuksesan dan kehebatan John dkk, nggak sedang berusaha terlalu keras "menginspirasi" tentang orang susah yang jadi orang kaya atau atau ke luar negeri atau sukses dapat penghargaan atau apa, tetapi cukup bahwa mereka tak berhenti berjuang dalam keterbatasan untuk kebaikan orang banyak. Yah, termasuk "inspiratif" juga sih itu, hehe, tetapi minimal nggak muluk-muluklah. Atau setidaknya itulah yang gw harapkan, mengingat filmnya kayak unfinished sebagaimana gw singgung tadi.





My score: 6,5/10

Sabtu, 11 Februari 2017

[Movie] John Wick: Chapter 2 (2017)


John Wick: Chapter 2
(2017 - Summit Entertainment/Lionsgate/Thunder Road Pictures)

Directed by Chad Stahelski
Written by Derek Kolstad
Based on the characters created by Derek Kolstad
Produced by Basil Iwanyk, Erica Lee
Cast: Keanu Reeves, Common, Riccardo Scamarcio, Ian McShane, Lance Reddick, Laurence Fishburne, Ruby Rose, Claudia Gerini, John Leguizamo, Peter Stormare, Franco Nero, Thomas Sadoski, Bridget Moynahan


Kemunculan film John Wick (2014) sebagai film action keras non-blockbuster sepertinya menimbulkan dampak yang di atas ekspektasi. Film tersebut nggak hanya sukses di pasaran, tetapi juga semacam memberi standar baru lagi bagi genre laga kriminal untuk dewasa buatan Hollywood, serta menaikkan lagi pamor Keanu Reeves yang sudah menuju parubaya itu dalam sebuah karakter badass terbaru, sesuatu yang nggak segitunya tercapai di film blockbuster doi sebelumnya, 47 Ronin (2013) misalnya. Gw bukan penggemar terberat film yang sering diledek premisnya "seorang pria balas dendam karena anjingnya dibunuh" itu, tetapi gw tetap punya impresi yang masih melekat pada John Wick, sebuah film action brutal yang dibangun dalam sebuah dunia layaknya sebuah komik, atau bisa dilihat juga sebuah dunia persilatan dengan setting masa kini. Makanya, saat muncul John Wick: Chapter 2, gw rela aja datang ke bioskop untuk menyaksikannya segera.

Seperti biasanya dalam sebuah sekuel, Chapter 2 memang dirancang lebih besar skalanya. John Wick (Keanu Reeves), seorang mantan pembunuh bayaran termasyur akan "kesaktian"-nya, tapi sebenarnya sangat sangat ingin pensiun, kini tak lagi memburu dan membunuhi orang demi kepentingan pribadi semata. Kali ini ia benar-benar dipaksa tidak pensiun karena masih terikat utang budi terhadap seorang anggota mafia Italia, Santino D'Antonio (Riccardo Scamarcio). Supaya lunas utangnya, D'Antonio menuntut jasa John untuk membunuh sang kakak, Gianna (Claudia Gerini) demi sebuah kursi di dewan sindikat kejahatan internasional, of course =)). Tak ada pilihan lain, John harus kembali turun ke dunia persilatan—kali ini ke Roma, Italia, demi mendapatkan kebebasannya kembali, sekalipun kali ini harus berurusan dengan jaringan kejahatan tingkat tinggi internasional.

Jangan mengira bahwa Chapter 2 hanyalah pengulangan film pertama. Yang berulang cuma aktingnya Reeves: keren saat olah fisik tapi waktu berkata-kata kayak minta ditimpuk velg ban  T-T. Ada dua hal mendasar yang dilakukan di film yang ini. Pertama adalah memperluas universe cerita John Wick. Gw tadi bilang bahwa film John Wick seperti komik dan cerita silat, nggak ada realistis-realistis-nya acan—padanannya mungkin dwilogi The Raid dan film-film crime martial arts Hong Kong. Chapter 2 makin menegaskan kesan tersebut, dengan lebih banyak eksplorasi mengenai aturan main blantika kekerasan, semakin banyak ragam ahli bunuh sejenis John dengan keahlian masing-masing, dan masih ada hotel khusus kaum "pendekar", Continental yang tentu saja punya cabang di mana-mana =D. Hasilnya bisa saja sangat norak dan kacau, namun itu nggak terjadi di sini. Gw bahkan dengan sangat rela menerima segala ide yang ditawarkan film ini, karena kadung dipresentasikan dengan begitu terampil, didukung oleh production design yang kelihatan lebih bermodal sehingga bisa tertuang imajinasi-imajinasi paling ajaib sekalipun, yang belum bisa ditampilkan di film pertamanya. Menempatkan dunia persilatan di belantara metropolitan yang penuh sesak orang dan bertaburan butir-butir sinar LED, menggantikan pedang dengan pistol dan pisau, bahkan ada semacam "partai pengemis" (jadi inget Condor Heroes 'kan =P), konsep yang sepertinya sederhana sekaligus ridiculous, tetapi berhasil dieksekusi dan dikembangkan dengan apik.

Di sinilah yang kemudian nyambung ke hal mendasar kedua, yaitu menaikkan sensasi yang sudah punya standar cukup tinggi di film pertama. Anggap saja bahwa adegan berkelahi-sambil-menembakkan-senjata-tanpa-benar-benar-membidik-tapi-pasti-kena di film pertama adalah pemanasan. Chapter 2 melanjutkan itu dengan memperbanyaknya dan menempatkannya di ruangan-ruangan lebih terang, jadi ngilu-nya juga jadi lebih berasa. Itu satu contoh aja. Rasanya gw nggak usah sebut contoh-contoh lain, selain karena ada banyak lagi ragam adegan laga yang ditampilkan—basic-nya sih tetap berkelahi dan kejar-kejaran, penjelasan apa pun yang gw tulis di sini sepertinya nggak akan cukup menggambarkan betapa sensasionalnya adegan-adegan itu. Dan gw bukannya bermaksud permisif terhadap konten yang violent ya, toh film ini memang konsepnya agak melebih-lebihkan demi menunjukkan keahlian John dan rekan-rekan seprofesinya yang memang nggak kayak manusia biasa. Film ini juga nggak nyiksa penonton dengan visual terlalu gory dilama-lamain, tapi nggak juga membuat sensasinya jadi loyo. Lagi-lagi, didukung oleh production value yang lebih tinggi serta visual lebih imajinatif dan warna-warni, adegan-adegan laga yang sudah dirancang dengan sedemikian rupa kerennya itu jadi tak terbuang percuma, malah jadi tambah mengagumkan untuk dipandang.

Nggak bisa ngeles sih kalau John Wick: Chapter 2 ini, seperti juga John Wick pertama, memang dirancang sebagai pemuas hasrat penggemar film action yang cuma maunya ada action terus dari awal sampai akhir, nggak banyak cingcong atau perenungan atau muatan apalah. Akan tetapi, nyatanya semakin dibuktikan di Chapter 2 bahwa seri ini bisa memberikan sesuatu yang lebih selain rentetan adegan laganya itu, tanpa harus menghentikan lajunya. Dari worldbuilding-nya yang berdampak pada plotnya sehingga tak lagi seputar balas-balasan dendam atau konspirasi biasa, hingga kesanggupan memasukkan dark humor di mana-mana bahkan di adegan paling intens sekalipun—clue: John vs karakternya Common adu peluru di keramaian itu bangke sih XD. Dan, ditunjukkan pula keterampilan teknik audio visual yang lebih mengesankan dibandingkan film-film action sejenis, atau bahkan semua film action belakangan ini. Well, andai saja, andaaai saja, gw bisa mengabaikan wicara Reeves yang sedatar tol Cikampek-Palimanan itu, gw mungkin bisa terlarut dalam film ini secara paripurna. Padahal dia dialognya dikit, tapi ngomong dua kata aja kayak udah lelah banget gitu, heran gw. Biarpun begitu, buat gw tetap saja John Wick: Chapter 2 adalah salah satu item istimewa di ranah action Hollywood, mau lanjut terus bentuk sekuel lagi pun hayuk aja gw mah.





My score: 7,5/10

Kamis, 09 Februari 2017

[Movie] Split (2017)


Split
(2017 - Universal)

Written & Directed by M. Night Shyamalan
Produced by Jason Blum, M. Night Shyamalan, Mark Bienstock
Cast: James McAvoy, Anya Taylor-Joy, Betty Buckley, Haley Lu Richardson, Jessica Sula, Izzie Cofey, Brad William Henke, Sebastian Arcelus, Neal Huff


Walaupun gw nggak membenci karya-karya blockbuster-nya beberapa tahun lalu, gw termasuk yang juga excited ketika sineas M. Night Shyamalan (pembuat The Sixth Sense, in case ada yang lupa) kembali ke ranah thriller. Sayangnya film kerja sama pertamanya dengan produser spesialis film horor-thriller bujet hemat, Jason Blum (Paranormal Activity, Insidious), berjudul The Visit (2015) nggak tayang di bioskop Indonesia. Padahal—untung masih rilis DVD resminya—menurut gw film tentang kondisi kejiwaan misterius pasangan kakek-nenek yang membahayakan dua cucu mudanya itu adalah film Shyamalan yang paling menggigit sejak Signs (2002), which is quite a while. Karena The Visit pula, gw juga ikut semangat ketika Shyamalan dan Blum kembali hadir lewat proyek thriller terbaru yang konsepnya tak kalah menarik, dan somehow masih berhubungan dengan kondisi kejiwaan, Split.

Tiga gadis remaja, Casey (Anya Taylor-Joy), Claire (Haley Lu Richardson), dan Marcia (Jessica Sula) tiba-tiba diculik dari sebuah mal, kemudian disekap di sebuah ruang tertutup oleh seorang pria misterius berkepala plontos (James McAvoy). Entah apa motif penculikan tersebut, namun yang lebih mengherankan dan bikin frutrasi adalah pria tersebut mengidap kepribadian jamak: kadang mengaku namanya Dennis yang kaku dan suka bebersih, kadang jadi ibu-ibu bernama Patricia, kadang jadi anak kecil bernama Hedwig, padahal orangnya dia-dia juga. Sehingga, setiap upaya ketiga gadis malang itu untuk meloloskan diri tak bisa dijalankan dengan sempurna lantaran sikap dan langkah si penculik sulit diduga. Di sisi lain, pria tersebut juga ternyata rajin mendatangi seorang psikiater, Dr. Karen Fletcher (Betty Buckley), orang yang percaya pada pengakuan pria tersebut bahwa ia memiliki 23 kepribadian berbeda. Masalahnya, kepribadian-kepribadian yang baik tak selalu yang memegang kendali atas tubuhnya itu.

As always, sulitnya mengulas film thriller misteri adalah gimana caranya jangan sampai terlalu banyak mengungkap misterinya demi keasyikan kita bersama, terutama yang belum nonton. Untuk film-film macam ini, ketidaktahuan adalah kenikmatan *aaiih*. Split bukan pengecualian, awalnya gw mengira arahnya ke mana tetapi kemudian belokan-belokannya tak selalu sesuai kiraan. Yang pasti, buat gw film ini menuturkan misterinya dengan enak. Gw nggak merasa jalan cerita filmnya sok misterius atau terlalu berusaha keras membuat penonton kecele, malah semuanya sudah in plain sight, hanya ternyata di baliknya ada "lebihan" yang semakin lama semakin bikin penasaran untuk digali. Salah satu bagian tersebut yang mungkin paling aman gw bocorkan di sini bahwa film ini nggak menyorot kondisi split personality hanya sekadar sambil lalu, dan bukan cuma itu satu-satunya persoalan psikologis/psikiatri/apapun itu yang diangkat dan dimasukkan dalam ceritanya.

Hal lain yang mungkin juga agak aman gw ungkap di sini adalah bagaimana film ini "dibawakan". Film ini dilabeli thriller, namun menurut gw film ini nggak termasuk "murah thrill", nggak setiap berapa detik ditaruh adegan-adegan bikin panik, dan gw rasa inilah yang akan membuat Split terkesan nggak se-"menghibur" The Visit. Meski demikian, Split buat gw berhasil memunculkan thrill itu dari konsepnya yang "sakit", dan bagaimana konsep itu diolah sembari menggulirkan kisah karakter-karakternya dengan sensibilitas. Sama seperti ketiga gadis yang disekap, gw sebagai penonton nggak tahu pasti apa yang akan ditemui selanjutnya dalam cerita, dan buat gw itu tetap sebuah thrill, yang bikin perhatian gw terpaku terus ke layar. Apalagi, film ini menampilkan pemain yang oke-oke, dengan McAvoy, Taylor-Joy, dan Buckley yang jadi dedengkotnya—sayang dua korban penculikan lainnya nggak bisa mengimbangi. Plus, seperti film-film Shyamalan sebelumnya, film ini kembali menunjukkan keterampilan doi dalam mengarahkan adegan-adegan yang simpel-minimalis dan andalkan dialog, tanpa harus menggunakan pilihan dan susunan kata yang ketinggian.

Jika The Visit kembali mengingatkan akan kemampuan Shyamalan dalam bikin thriller yang memang mencekam, maka Split mengingatkan gw bahwa dia punya ide dan konsep yang keren-keren, yang bisa dieksekusi juga dengan baik asalkan punya faktor-faktor pendukung yang tepat. Menurut gw itulah sisi Shyamalan yang seharusnya lebih banyak disorot, bukan soal twist lagi twist lagi—kalau demennya cuma twist ya tonton aja film-film roman remajanya Screenplay Films yang twist-nya nggak mau kalah sama donat plintir. So, di manakah posisi Split di antara karya-karya Shyamalan lain yang unik-unik itu? Buat gw, film ini bukan The Sixth Sense, Unbreakable, atau Signs—trinitas film terbaik Shyamalan dalam catatan gw =). Dari production value-nya aja ketahuan Split ini jauh lebih sederhana, dan cuma ada McAvoy satu-satunya pemain terkenal (yang kemumpuniannya paling terjamin) di film hemat biaya ini. But, it's quite up there. Film ini tetap bisa memaksimalkan dampak dalam kesederhanaannya, dengan masih memberi perhatian pada karakterisasi serta pembangunan sebuah dunia yang utuh dan nggak sulit dipahami, sehingga gw pun bisa menikmati film ini hingga detik terakhirnya. Iya, termasuk credit title-nya yang konsepnya remeh tapi keren itu =).





My score: 7,5/10