Sabtu, 30 Desember 2017

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2017


Seperti gw singgung di postingan Year-End Note sebelum ini, pola mendengarkan musik gw di tahun 2017 cukup bergeser, seiring makin ramahnya koneksi internet dan penyediaan aplikasi streaming. Ini berlaku juga saat gw mau mendengarkan sebuah album. Dalam benak gw sih sebenarnya masih ingin menganggap yang tersedia di internet adalah preview sampai gw (sanggup) membeli CD-nya. Hanya masalahnya (1) harga CD di sini sudah naik bahkan nyaris 100% dibandingkan harga lima tahun lalu; dan (2) toko CD sudah pada bertutupan. Time is changing, sehingga sambil sebisa mungkin beli CD album yang gw suka (pun kalau nemu toko yang ngejual), untuk sementara gw berdayakan yang ada dulu, heuheu.

Anyway, meneruskan tradisi, gw akan menggelar 10 album yang paling gw sukai sepanjang tahun 2017. Syaratnya nggak muluk-muluklah. Album yang bagus 'kan biasanya yang sebagian besar atau semua lagunya bagus, ditambah faktor lain seperti penyusunannya yang enak atau tema/konsep yang ditawarkan menarik. Ya gampangnya sih indikasinya kalau didenger ulang-ulang tetap enak. Dari album-album yang gw coba dengar sepanjang tahun ini, berikut 10 yang favorit.









10. RAN
RAN

RAN memberi judul album dengan nama mereka sendiri baru pada album yang kelima. Entah apa alasan di balik keputusan tersebut, namun gw juga merasa bahwa album ini seperti kompilasi dari sound yang pernah mereka hasilkan dalam empat album ke belakang, yang dituangkan dalam lagu-lagu baru. Nggak ada yang salah, toh gw suka sama album-album mereka sebelumnya (dan selalu masuk top 10 tahunan gw lho), naturally gw bisa menikmati album ini. Tetapi, yang lebih menggembirakan adalah ada perkembangan dalam penulisan lirik, yang lebih beragam diksi dan topiknya, dan lebih enak bertuturnya.







9. Superfly 10th Anniversary Greatest Hits “LOVE, PEACE & FIRE”
Superfly

Sebuah album best-of yang panjang, 39 tracks (kalau download atau streaming) dalam tiga disc (kalau beli fisik) dari band pop-rock berwarna vintage beranggota tunggal ini, mencakup 10 tahun sejak merilis rekaman bersama major label. Berulang kali gw sering ungkit bahwa album best-of dari artis-artis Jepang selalu menarik karena kontennya melimpah dan terkonsep. Tiga disc di sini juga mewakili tiga tema: Love yang banyak ballad-nya, Peace yang banyak bertema motivasi, dan Fire yang paling nge-rock menciptakan suasana "membara". Alhasil, menikmati 39 lagu dalam sekali putar jadi nggak menjemukan karena ada pembabakannya, serta sangat komprehensif mewakili Superfly, yang menurut gw adalah salah satu artis J-Pop terbaik di era milenium.







8. One More Light
Linkin Park

Kentara sekali Linkin Park mencoba ingin merefleksikan fase yang lebih dewasa dan lebih kalem. Bayangkan lagu-lagu cool down dalam album-album mereka sebelumnya (macam "Breaking the Habit", "Shadow of the Day", "The Little Things Give You Away", "Irridescent", atau, well, "My December") dan semua itu jadi satu album, maka hasilnya akan seperti One More Light ini. Terlepas unsur rock-nya yang makin diredam diganti hiphop, elektronika, pop, dan folk—yang semuanya pernah dibawakan mereka tetapi tidak semenonjol hard-rock-nya, gw nggak bisa menyangkal bahwa album ini berisi lagu-lagu yang sangat ramah di kuping. Udahlah, emang enak-enak kok lagunya, karena memang sepertinya ingin difokuskan pada nada ketimbang teriak-teriak belaka.

Liriknya sendiri masih mengenai angst dalam tata kata yang gampang dicerna seperti Linkin Park biasanya. Namun, di sisi lain, menyimak liriknya (dan lagu-lagu terdahulu mereka, basically) jadi bikin heartbroken setelah mengetahui vokalis Chester Bennington meninggal di tengah-tengah upaya melawan depresi—hanya dua-tiga bulan setelah perilisan album ini, seolah gw akhirnya benar-benar tahu makna terdalam lagu-lagu tersebut. Sedih banget sebenarnya, tetapi, gw termasuk yang tidak kecewa dengan karya terakhir Linkin Park bersama Chester ini.







7. La La Land (soundtrack)
various artists

I mean, come on. Gw suka film musikal dan La La Land adalah salah satu yang terbaik, dan tentu saja kekuatan film musikal terdapat pada lagu-lagunya. Sejujurnya, lagu-lagu La La Land yang nyaris semuanya diramu dengan cara jazz itu, meskipun catchy, sulit untuk keluar dari konteks filmnya. Cara terbaik menikmatinya selain nonton filmnya adalah menikmati soundtrack-nya secara keseluruhan. Semua musik dan lagunya (kecuali cover lagu-lagu 80's di adegan pesta =)) ada di album ini, dan cukup mampu membangkitkan memori excitement saat menonton filmnya. Nilai lebihnya, lewat album ini bikin gw lebih fokus pada keseriusan para kreatornya dalam memproduksi setiap nada dan suara musiknya. Bahkan lagu-nya John Legend yang katanya menggambarkan "jual idealisme" pun digarap serius setara lagu-lagu pop rekaman betulan.







6. ÷ (Divide)
Ed Sheeran

Ya maap deh kalau terlalu mainstream. Perlu dicatat bahwa inilah album Ed Sheeran yang gw dengarkan paling saksama, karena gw suka pilihan style lagu-lagu yang ada di dalamnya. Nggak ada yang terlalu aneh, semuanya mulus banget masuk ke kuping. Dari yang instrumen paling minimalis hingga yang full band, dari yang pop akustik sampai yang rada hiphop, dari yang nggombal cinta sampai yang menyentuh haru. Mungkin tidak orisinal, dan definitely Sheeran pernah melakukan style serupa sebelumnya, namun saat disusun dalam satu album ini, it worked really well.







5. All Time Best Hata Motohiro
Hata Motohiro

Lega bahwa sekalipun gw punya lengkap diskografinya Hata, album best-of ini nggak lantas membosankan. Berbeda dari evergreen tahun 2014 lalu yang notabene album akustik, album ini berisi total 26 lagu rekaman orisinal dari semua single milik Hata yang rilis dalam 10 tahun sejak bergabung di major label--kecuali satu single yang nggak diciptakannya sendiri, "Altair". Gw sudah suka sebagian besar lagunya, dan rekamannya sama dengan yang sudah gw punyai lewat album-album sebelumnya, tetapi magic-nya adalah ketika disusun secara kronologis persis dari single pertama sampai terbaru, bisa menghasilkan satu album utuh yang sangat enjoyable—seolah artis-artis sana itu kalau ngerilis single sudah divisikan nanti gimana kalau disusun dalam album best-of. Yang pasti, album ini sekali lagi mencerminkan artistry dan konsistensi Hata sebagai singer-songwriter. Mau tahu gimana kerennya mas Hata lebih dari lagu "Himawari no Yakusoku", album ini cukup bisa menggambarkannya.







4. Evolve
Imagine Dragons

Sekenal gw, style dan sound Imagine Dragons itu sejak awal selalu ke sana ke mari. Benang merahnya ada, tapi satu lagu ke lagu yang lain hampir selalu dikemas beda-beda, baik itu genrenya maupun jenis instrumen yang dipakai. Album ketiga mereka berjudul Evolve, tetapi lucunya justru di album ini style dan sound mereka paling konsisten dari awal sampai akhir. Lebih banyak bunyi digital-industrial *suka-suka aja bikin istilah =P*, lebih galak di beat, lebih sedikit (bahkan nyaris tiada) gonjrengan gitar berdistorsi, dan semakin mempergunakan vokal Dan Reynolds yang laki banget itu layaknya sebuah instrumen. Yang dulunya mereka bisa rock, folk, hingga dubstep, di album ini semuanya semakin teramalgamasi, membentuk bunyi yang (tampaknya akan jadi) khas Imagine Dragons. Gw bisa bilang, ini album terfavorit gw dari mereka.








3. 24K Magic
Bruno Mars

How cool is Bruno Mars? Very. Setelah memberi penghormatan pada musik era 1970-an di album sebelumnya, Bruno kemudian mengarahkan pandangan pada hiphop-R&B khas 1980 dan 1990-an, namun masih mampu disajikan segar dan relevan di masa serba digital saat ini. Rangkaian nada dan ramuan musiknya semakin terampil, setiap track punya karakter, dari yang mellow sampai yang lonjak-lonjak, dan yang penting semuanya asyik banget didengar. Total 9 track memang rasanya terlalu singkat, tetapi semua lagu ini disusun menjadi 30 menit-an yang solid, dibuka ("24K Magic") dan ditutup ("Too Good Too Say Goodbye") dengan megah. Dan, less and less gombal lyrics =D.








2. Senandung Senandika
MALIQ & D'Essentials

Semakin yakin bahwa keputusan MALIQ & D'Essentials untuk menelurkan setiap album dengan jumlah track sedikit adalah tepat, buktinya produktivitas dan kualitas band urban-pop-agak-jazzy ini tetap terjaga sampai sekarang. Buat gw, album ketujuh mereka ini lagi-lagi sebuah karya yang elok. Secara sound, album ini meneruskan karakteristik yang diperkenalkan di album Sriwedari (2013) dan Musik Pop (2014) dengan banyak menggunakan synthesizer dan instrumen digital lainnya, tentu saja tanpa meninggalkan kekuatan melodi. Namun, kekuatan terbesar dari album ini adalah lirik-liriknya yang menuturkan beragam topik menarik, dari penghormatan kepada profesi guru, orang tua, soal fenomena media sosial, sampai "simply" tentang kegelisahan batin, dituturkan dalam pilihan kata yang cantik sekali. Bisa jadi ini album dengan lirik paling puitis dari mereka.











1. Human
Rag'n'Bone Man

If there's such thing as a "male Adele", menurut gw Rag'n'Bone Man-lah orangnya. Bukan dari lirik "galau"-nya, tetapi dari style musik dan kekuatan vokal yang menurut gw bisa disetarakan. Untuk sebuah album debut, Human itu luar biasa. Jangan terkecoh oleh penampilan "ngeri" si mas bernama asli Rory Graham ini--pasti orangnya sering dikira kalau nggak rocker ya rapper. Alih-alih, yang ditunjukkan adalah suaranya yang big dan soulful, yang rough dan heartfelt. Mengusung musik persimpangan antara blues, R&B, soul, hiphop, dan pop, setiap track di album ini dipresentasikan dengan warna-warna solid dan mendukung karakter vokalnya, notasi catchy dan irama asyik, serta lirik-lirik yang relatablemostly tentang cinta tapi nggak juga soal sakit hati semua, sehingga memutar album ini berkali-kali kayak nyaman aja gitu. Ini sebuah awalan yang sangat baik, dan gw berharap si mas asal UK ini bisa terus mengeluarkan karya-karya keren di masa datang.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar