Kamis, 31 Agustus 2017

[Movie] Valerian and the City of a Thousand Planets (2017)

Gw makin menyadari kecenderungan gw untuk mencari, dan menyukai, film-film "mahal" yang sudah diramalkan akan flop. Karena itu, of course-lah gw sangat menantikan Valerian and the City of a Thousand Planets XD. Diangkat dari komik yang mungkin hanya terkenal di Eropah, film space opera ini menampilkan sepasang polisi antariksa, Valerian (Dane DeHaan) dan Laureline (Cara Delevigne, namanya susye-susye ye) dalam menyelesaikan misi antargalaksi. Basis mereka ada di Alpha, stasiun luar angkasa raksasa yang dihuni seluruh spesies di semesta. Kalau mau digampangin, ada dua macam petualangan besar yang dilakukan oleh Valerian dan Laureline, meskipun masih berkaitan. Pertama, misi mengambil "barang" langka dari sebuah pasar dimensi lain (yup =)), dan kedua adalah penyelamatan komandan mereka yang diculik karena "barang" yang didapatkan di pasar tadi. Bagian kedua ini seluruhnya terjadi di wilayah Alpha yang isinya memang aneka rupa.

Jika merindukan kisah petualangan fantasi futuristis yang riang dan seru, maka film ini adalah pelipurnya. Apalagi world-building-nya sangat menarik, mendetail, dan works, didukung persembahan rancangan visual yang keren-ren-ren banget. Gw juga suka bahwa film ini bisa selalu moving forward dalam hal setting dan perjalanan tokoh-tokohnya, ketemu dengan tokoh-tokoh dan tempat dan situasi yang selalu berganti, sebagaimana adventure seharusnya, jadi nggak mboseni. Hanya saja paruh keduanya itu nggak se-exciting yang awal, mungkin karena masuk dalam ranah intrik politik yang sebenarnya menarik--dan strangely sangat relevan dengan Indonesia, tapi jadi agak ngeberatin keasyikan yang sudah dibangun sebelumnya. Walau begitu, rasa senang menyaksikan film ini nggak sertamerta hilang. Valerian tetap sebuah film yang menyegarkan dan menceriakan, serta bikin kagum karena bisa secara maksimal memfungsikan muka nyolot Delevigne.


Valerian and the City of a Thousand Planets
(2017 - EuropaCorp)

Directed by Luc Besson
Screenplay by Luc Besson
Based on the comic book series "Valerian and Laureline" by Pierre Christin, Jean-Claude Mézières
Produced by Luc Besson, Virginie Besson-Silla
Cast: Dane DeHaan, Cara Delevigne, Clive Owen, Rihanna, Sam Spruell, Ethan Hawke, Herbie Hancock, Kris Wu, Ola Rapace, Alain Chabat, Sasha Luss, Aymeline Valade, Pauline Hoarau, Marilhéa Peillard
My score: 7/10

[Movie] War for the Planet of the Apes (2017)

Seri prekuel/reboot dari Planet of the Apes, kendati terkesan just another alat pengeruk uang ala Hollywood yang lagi kehabisan ide, ternyata selalu tampil mengejutkan. Rise of the Planet of the Apes (2011) yang seru abis, Dawn of the Planet of the Apes (2014) yang thoughtful, dan sekarang ada War of the Planet of the Apes. War tampaknya disiapkan untuk jadi penutup trilogi kisah yang bertumpu pada perjalanan sosok Caesar (Andy Serkis), pemimpin dari kaum primata yang berevolusi jadi bersifat dan berkemampuan seperti manusia, dan makin merapat pada asal-usul kisah Planet of the Apes (film pertamanya tahun 1968, atau mungkin ada yang tahu remake-nya tahun 2001), tentang primata yang makin manusiawi dan manusia yang makin hewani.

"War" di sini--sepenangkapan gw sih--mengacu pada perseteruan Caesar dengan kaum manusia demi bertahan hidup, padahal selama ini Caesar selalu mengupayakan damai. Adalah Colonel (Woody Harrelson) yang proaktif ingin menangkapi kaum primata, seolah menyangkal bahwa kaum manusia semakin tak sanggup lagi menaklukkan bumi. Buat gw, War tetap konsisten menyajikan tema yang provoking seperti film-film sebelumnya, dan itu yang bikin trilogi reboot Planet of the Apes ini jadi somewhat istimewa. Emang sih makin ke sini seolah makin dark dan moody dari segi penyajian--dan pacing melamban, hehe, tetapi War sukses jadi puncak pencapaian persembahan visual dari seri ini, dari sinematografinya yang keren gilak, beberapa pengadeganan yang thrilling dan rapi sekali, sampai ke animasi digital para primata yang makin mencengangkan saking realistisnya, yang juga bikin gw makin bersimpati secara emosional dengan tokoh-tokohnya meski gw berasal dari spesies berbeda =P.


War for the Planet of the Apes
(2017 - 20th Century Fox)

Directed by Matt Reeves
Written by Mark Bomback, Matt Reeves
Based on the characters created by Rick Jaffa, Amanda Silver
Inspired by the novel "Planet of the Apes" by Pierre Boulle
Produced by Peter Chernin, Dylan Clark, Rick Jaffa, Amanda Silver
Cast: Andy Serkis, Woody Harrelson, Steve Zahn, Karin Konoval, Amiah Miller, Terry Notary, Ty Olson, Michael Adamthwaite, Gabriel Chavarria
My score: 7,5/10

Rabu, 09 Agustus 2017

[Movie] Dunkirk (2017)

Kalau membaca nama Christopher Nolan pasti langsung kebayang film-film canggih dan high concept pokoknya pasti keren dsb. Gw juga berpikiran yang sama. Makanya, ada sedikit keterkejutan ketika oom Chris bikin film sejarah, yang notabene pasti udah ketahuan cerita dan endingnya kayak gimana =P. Dan memang benar, menyaksikan Dunkirk, nggak ada tuh jalan cerita yang penuh konsep meledakkan pikiran *maksudnya mindblowing* dan intrak-intrik ribet. "Hanya" soal tiga sudut pandang dalam peristiwa penyelamatan besar-besaran para tentara Inggris yang terkepung di pantai Dunkerque, Prancis pada masa Perang Dunia II, dengan inti cerita sesederhana tentang menyelamatkan dan diselamatkan. Namun, sisi antik oom Chris tetap mau ditunjukkan, yaitu bahwa tiga kisah ini berada dalam rentang waktu yang berbeda-beda. Ada yang 1 minggu, 1 hari, dan 1 jam, yang akan bersinggungan di satu titik, tetapi dituturkan berbarengan dengan gaya editing mengikuti tensi adegan di masing-masing cerita, yang langsung mengingatkan gw pada Cloud Atlas.

Sebagian besar film ini memang bertumpu pada technical marvel yang dimanfaatkan dengan baik di sini. Minim bantuan animasi digital dengan tujuan memberikan gambaran yang lebih tangible, dan tata suara yang menyatu dengan musik dibuat untuk menggiring pada sensasi berada di tengah-tengah situasi yang dirasakan tokoh-tokohnya. In a way, film ini jadinya lebih ke memberikan audio visual experience dibandingkan bernarasi--again, karena jalan ceritanya sangat lurus dan sederhana. Bercerita dalam tiga rentang waktu berbeda juga bagian dari upaya menimbulkan sensasi itu, bahwa waktu "lama" atau "sebentar" itu relatif tergantung situasinya--ibarat mobil jalan 3 kilometer dalam 5 menit terasa lebih sebentar daripada angkot ngetem 1 menit =|. Biar demikian, film ini sanggup bikin gw memetakan gambaran besar tentang apa itu peristiwa Dunkirk as a whole dan apa yang harus direfleksikan dari sana. Pada akhirnya film ini mungkin bukan karya oom Chris ter-wow buat gw, namun setidaknya sudah mencapai apa yang menjadi niatnya, ya sebagaimana karya-karyanya sebelum ini. 

NB: Sebagian besar film ini direkam menggunakan kamera IMAX, ada kali 70-an persen, dan looks really good in IMAX screen. Gw dulu pernah nulis harapan gw agar oom Chris bikin film khusus IMAX tanpa perlu yang panjang-panjang biar nggak pegel kalau ditonton di Keong Emas yang notabene gw anggap "IMAX betulan satu-satunya di Indonesia". Well, Dunkirk yang mostly IMAX dan cuma 106 menit ini yang paling mendekati harapan itu haha....walau tetep aja nggak diputar di Keong Emas T-T.


Dunkirk
(2017 - Warner Bros.)

Written & Directed by Christopher Nolan
Produced by Emma Thomas, Christopher Nolan
Cast: Fionn Whitehead, Harry Styles, Aneurin Barnard, Kenneth Branagh, James D'Arcy, Mark Rylance, Cillian Murphy, Tom Glynn-Carney, Barry Keoghan, Tom Hardy, Jack Lowden
My score: 7,5/10


Jumat, 04 Agustus 2017

[Movie] Let's Go Jets (2017)

Beda budaya kali ya. Kisah (nyata) orang atau orang-orang underdog yang meraih prestasi kelas dunia, kalau di Indonesia belum apa-apa udah dikasih beban harus "inspiratif" dan "nasionalisme". Di Jepang, jadinya film komedi =D. Sangat mungkin generalisasi gw tadi keliru, tetapi kalau merujuk pada Let's Go Jets, tampaknya buat orang-orang perpeleman Jepang sana, menyajikan cerita dengan gaya komikal akan lebih efektif dalam menyampaikan nilai-nilai yang diusung, sekalipun berdasarkan kisah nyata. Seriously, Let's Go Jets ini disusun sedemikian rupa seperti sport movies fiksi adaptasi manga ataupun J-dorama yang suka agak melebih-lebihkan, dengan watak-watak spesifik seperti ada si perfect, si ceria, si minder, si somseu yang selalu merasa lebih oke dari yang lain, dst dst., dan tentu saja dimotori oleh si pengajar yang keras dan eksentrik, dengan cita-cita yang mungkin ketinggian: menang kejuaraan cheer dance tingkat SMA di Amerika Serikat--makanya judul asli film ini "chia-dan" dari "chia-dansu" penjepangan frase cheer dance =).

Apa pun detail yang sebenarnya terjadi di kisah nyatanya, susunan karakter dan jalinan cerita di film ini terbukti sangat works menjadi tontonan yang menyenangkan. Mungkin agak klise sih jadinya, dari yang nggak bisa apa-apa jadi bisa, ada momen-momen down dan harus dimotivasi lagi biar bangkit lagi semangatnya, juga sisipan soal romansa SMA, plus tentu saja ada pertaruhan ekstrakurikuler cheer dance-nya terancam ditutup karena nggak pernah berprestasi apa-apa *yaelah ^.^'*. Namun, yang memang nggak bisa gw tolak adalah film ini bisa bikin larut di antara momen lucu, gembira, dan sisi emosionalnya--yang menurut gw bagian ini diadegankan sangat menarik dan paling nggak klise. Gw sebenarnya berharap winning performance di klimaksnya bisa lebih wow lagi--ya mungkin faktor pemain bukan yang betulan latihan keras tiga tahun hehe. Tetatpi, paling penting nilai-nilai tentang kerja keras serta kegembiraanya tetap bisa tersampaikan, so it's alright.


チア☆ダン~女子高生がチアダンスで全米制覇しちゃったホントの話~
Chia☆Dan ~Joshi Kosei ga Chia Dansu de Zenbei Seiha Shichatta Honto no Hanashi~
a.k.a. Let's Go Jets
(2017 - Toho)

Directed by Hayato Kawai
Written by Tamio Hayashi
Produced by Tamako Tsujimoto, Atsuyuki Shimoda
Cast: Suzu Hirose, Yuki Amami, Ayami Nakajo, Hirona Yamazaki, Mackenyu, Miu Tomita, Haruka Fukuhara, Yurina Yanagi, Kentaro, Saki Minamino, Hana Hizuki, Takayuki Kinoshita, Yasuhito Hida, Kitaro
My score: 7/10

[Movie] Filosofi Kopi 2: Ben & Jody (2017)

Film Filosofi Kopi (2015) bagi gw mungkin bukan yang terbaik dari deretan film-film kece buatan Angga Dwimas Sasongko, tetapi it was probably the smartest. Makanya gw sama sekali nggak keberatan ketika katanya akan dibuat sekuelnya, dengan judul yang cukup catchy, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody. Kali ini si maniak kopi Ben (Chicco Jerikho) dan sahabatnya yang berotak bisnis Jody (Rio Dewanto) berupaya membangkitkan kembali kedai Filosofi Kopi mereka, yang sempat oh-so-hipster-y jadi kedai keliling di atas VW Combi modifikasi. Peluang bikin lagi kedai tetap semakin menjanjikan dengan hadirnya Tarra (Luna Maya) yang mau berinvestasi besar, dan tidak hanya akan terhenti di satu kedai saja. Namun, bercampurnya bisnis dan persahabatan, passion mula-mula yang dibenturkan dengan tuntutan untuk evolve, dan terlibatnya orang-orang baru baik secara profesional maupun emosional, membuat Ben, Jody, dan Filosofi Kopi tidak akan bisa seperti dulu lagi.

Film-film seperti dua film Filosofi Kopi ini begitu menyegarkan, karena sekalipun premis yang diangkat mungkin biasanya dianggap kurang spektakuler--walau pada akhirnya ada porsi romance lebih kental di sekuelnya, sajian dan penuturannya tetap terasa imbang, topik-topik yang ingin disampaikan bisa ditangkap dengan mudah, bukan asal lewat ataupun asal cool aja. Gw suka film ini menyoroti keharusan sebuah usaha, sekalipun itu "proyek idealis", untuk bertumbuh ataupun beradaptasi dengan berbagai perubahan dan gagasan baru, yang kemudian paralel dengan arah perkembangan karakter-karakter utama kita. Sehingga, setidaknya Ben dan Jody nggak stuck di situ-situ aja perjalanannya dalam cerita, jadinya asyik aja ngikutinnya. Buat gw momen-momen "magis" di Ben & Jody tidak sebanyak atau sekuat film pertamanya, namun vibe yang dipancarkan tetap menyenangkan, didukung pemain yang total dan kompak serta production value yang terlihat lebih plus.


Filosofi Kopi 2: Ben & Jody
(2017 - Visinema Pictures)

Directed by Angga Dwimas Sasongko
Screenplay by M. Irfan Ramly, Jenny Jusuf, Angga Dwimas Sasongko
Story by Ni Made Frischa Aswarini, Christian Armantyo, Angga Dwimas Sasongko, Jenny Jusuf
Based on the characters created by Dewi "Dee" Lestari
Produced by Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Rio Dewanto
Cast: Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Luna Maya, Nadine Alexandra, Melissa Karim, Landung Simatupang, Whani Darmawan, Otig Pakis, Joko Anwar, Tyo Pakusadewo, Westny Dj, Aufa Assegaf, Muhammad Aga
My score: 7,5/10