Rabu, 09 Agustus 2017

[Movie] Dunkirk (2017)

Kalau membaca nama Christopher Nolan pasti langsung kebayang film-film canggih dan high concept pokoknya pasti keren dsb. Gw juga berpikiran yang sama. Makanya, ada sedikit keterkejutan ketika oom Chris bikin film sejarah, yang notabene pasti udah ketahuan cerita dan endingnya kayak gimana =P. Dan memang benar, menyaksikan Dunkirk, nggak ada tuh jalan cerita yang penuh konsep meledakkan pikiran *maksudnya mindblowing* dan intrak-intrik ribet. "Hanya" soal tiga sudut pandang dalam peristiwa penyelamatan besar-besaran para tentara Inggris yang terkepung di pantai Dunkerque, Prancis pada masa Perang Dunia II, dengan inti cerita sesederhana tentang menyelamatkan dan diselamatkan. Namun, sisi antik oom Chris tetap mau ditunjukkan, yaitu bahwa tiga kisah ini berada dalam rentang waktu yang berbeda-beda. Ada yang 1 minggu, 1 hari, dan 1 jam, yang akan bersinggungan di satu titik, tetapi dituturkan berbarengan dengan gaya editing mengikuti tensi adegan di masing-masing cerita, yang langsung mengingatkan gw pada Cloud Atlas.

Sebagian besar film ini memang bertumpu pada technical marvel yang dimanfaatkan dengan baik di sini. Minim bantuan animasi digital dengan tujuan memberikan gambaran yang lebih tangible, dan tata suara yang menyatu dengan musik dibuat untuk menggiring pada sensasi berada di tengah-tengah situasi yang dirasakan tokoh-tokohnya. In a way, film ini jadinya lebih ke memberikan audio visual experience dibandingkan bernarasi--again, karena jalan ceritanya sangat lurus dan sederhana. Bercerita dalam tiga rentang waktu berbeda juga bagian dari upaya menimbulkan sensasi itu, bahwa waktu "lama" atau "sebentar" itu relatif tergantung situasinya--ibarat mobil jalan 3 kilometer dalam 5 menit terasa lebih sebentar daripada angkot ngetem 1 menit =|. Biar demikian, film ini sanggup bikin gw memetakan gambaran besar tentang apa itu peristiwa Dunkirk as a whole dan apa yang harus direfleksikan dari sana. Pada akhirnya film ini mungkin bukan karya oom Chris ter-wow buat gw, namun setidaknya sudah mencapai apa yang menjadi niatnya, ya sebagaimana karya-karyanya sebelum ini. 

NB: Sebagian besar film ini direkam menggunakan kamera IMAX, ada kali 70-an persen, dan looks really good in IMAX screen. Gw dulu pernah nulis harapan gw agar oom Chris bikin film khusus IMAX tanpa perlu yang panjang-panjang biar nggak pegel kalau ditonton di Keong Emas yang notabene gw anggap "IMAX betulan satu-satunya di Indonesia". Well, Dunkirk yang mostly IMAX dan cuma 106 menit ini yang paling mendekati harapan itu haha....walau tetep aja nggak diputar di Keong Emas T-T.


Dunkirk
(2017 - Warner Bros.)

Written & Directed by Christopher Nolan
Produced by Emma Thomas, Christopher Nolan
Cast: Fionn Whitehead, Harry Styles, Aneurin Barnard, Kenneth Branagh, James D'Arcy, Mark Rylance, Cillian Murphy, Tom Glynn-Carney, Barry Keoghan, Tom Hardy, Jack Lowden
My score: 7,5/10


Jumat, 04 Agustus 2017

[Movie] Let's Go Jets (2017)

Beda budaya kali ya. Kisah (nyata) orang atau orang-orang underdog yang meraih prestasi kelas dunia, kalau di Indonesia belum apa-apa udah dikasih beban harus "inspiratif" dan "nasionalisme". Di Jepang, jadinya film komedi =D. Sangat mungkin generalisasi gw tadi keliru, tetapi kalau merujuk pada Let's Go Jets, tampaknya buat orang-orang perpeleman Jepang sana, menyajikan cerita dengan gaya komikal akan lebih efektif dalam menyampaikan nilai-nilai yang diusung, sekalipun berdasarkan kisah nyata. Seriously, Let's Go Jets ini disusun sedemikian rupa seperti sport movies fiksi adaptasi manga ataupun J-dorama yang suka agak melebih-lebihkan, dengan watak-watak spesifik seperti ada si perfect, si ceria, si minder, si somseu yang selalu merasa lebih oke dari yang lain, dst dst., dan tentu saja dimotori oleh si pengajar yang keras dan eksentrik, dengan cita-cita yang mungkin ketinggian: menang kejuaraan cheer dance tingkat SMA di Amerika Serikat--makanya judul asli film ini "chia-dan" dari "chia-dansu" penjepangan frase cheer dance =).

Apa pun detail yang sebenarnya terjadi di kisah nyatanya, susunan karakter dan jalinan cerita di film ini terbukti sangat works menjadi tontonan yang menyenangkan. Mungkin agak klise sih jadinya, dari yang nggak bisa apa-apa jadi bisa, ada momen-momen down dan harus dimotivasi lagi biar bangkit lagi semangatnya, juga sisipan soal romansa SMA, plus tentu saja ada pertaruhan ekstrakurikuler cheer dance-nya terancam ditutup karena nggak pernah berprestasi apa-apa *yaelah ^.^'*. Namun, yang memang nggak bisa gw tolak adalah film ini bisa bikin larut di antara momen lucu, gembira, dan sisi emosionalnya--yang menurut gw bagian ini diadegankan sangat menarik dan paling nggak klise. Gw sebenarnya berharap winning performance di klimaksnya bisa lebih wow lagi--ya mungkin faktor pemain bukan yang betulan latihan keras tiga tahun hehe. Tetatpi, paling penting nilai-nilai tentang kerja keras serta kegembiraanya tetap bisa tersampaikan, so it's alright.


チア☆ダン~女子高生がチアダンスで全米制覇しちゃったホントの話~
Chia☆Dan ~Joshi Kosei ga Chia Dansu de Zenbei Seiha Shichatta Honto no Hanashi~
a.k.a. Let's Go Jets
(2017 - Toho)

Directed by Hayato Kawai
Written by Tamio Hayashi
Produced by Tamako Tsujimoto, Atsuyuki Shimoda
Cast: Suzu Hirose, Yuki Amami, Ayami Nakajo, Hirona Yamazaki, Mackenyu, Miu Tomita, Haruka Fukuhara, Yurina Yanagi, Kentaro, Saki Minamino, Hana Hizuki, Takayuki Kinoshita, Yasuhito Hida, Kitaro
My score: 7/10

[Movie] Filosofi Kopi 2: Ben & Jody (2017)

Film Filosofi Kopi (2015) bagi gw mungkin bukan yang terbaik dari deretan film-film kece buatan Angga Dwimas Sasongko, tetapi it was probably the smartest. Makanya gw sama sekali nggak keberatan ketika katanya akan dibuat sekuelnya, dengan judul yang cukup catchy, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody. Kali ini si maniak kopi Ben (Chicco Jerikho) dan sahabatnya yang berotak bisnis Jody (Rio Dewanto) berupaya membangkitkan kembali kedai Filosofi Kopi mereka, yang sempat oh-so-hipster-y jadi kedai keliling di atas VW Combi modifikasi. Peluang bikin lagi kedai tetap semakin menjanjikan dengan hadirnya Tarra (Luna Maya) yang mau berinvestasi besar, dan tidak hanya akan terhenti di satu kedai saja. Namun, bercampurnya bisnis dan persahabatan, passion mula-mula yang dibenturkan dengan tuntutan untuk evolve, dan terlibatnya orang-orang baru baik secara profesional maupun emosional, membuat Ben, Jody, dan Filosofi Kopi tidak akan bisa seperti dulu lagi.

Film-film seperti dua film Filosofi Kopi ini begitu menyegarkan, karena sekalipun premis yang diangkat mungkin biasanya dianggap kurang spektakuler--walau pada akhirnya ada porsi romance lebih kental di sekuelnya, sajian dan penuturannya tetap terasa imbang, topik-topik yang ingin disampaikan bisa ditangkap dengan mudah, bukan asal lewat ataupun asal cool aja. Gw suka film ini menyoroti keharusan sebuah usaha, sekalipun itu "proyek idealis", untuk bertumbuh ataupun beradaptasi dengan berbagai perubahan dan gagasan baru, yang kemudian paralel dengan arah perkembangan karakter-karakter utama kita. Sehingga, setidaknya Ben dan Jody nggak stuck di situ-situ aja perjalanannya dalam cerita, jadinya asyik aja ngikutinnya. Buat gw momen-momen "magis" di Ben & Jody tidak sebanyak atau sekuat film pertamanya, namun vibe yang dipancarkan tetap menyenangkan, didukung pemain yang total dan kompak serta production value yang terlihat lebih plus.


Filosofi Kopi 2: Ben & Jody
(2017 - Visinema Pictures)

Directed by Angga Dwimas Sasongko
Screenplay by M. Irfan Ramly, Jenny Jusuf, Angga Dwimas Sasongko
Story by Ni Made Frischa Aswarini, Christian Armantyo, Angga Dwimas Sasongko, Jenny Jusuf
Based on the characters created by Dewi "Dee" Lestari
Produced by Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Rio Dewanto
Cast: Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Luna Maya, Nadine Alexandra, Melissa Karim, Landung Simatupang, Whani Darmawan, Otig Pakis, Joko Anwar, Tyo Pakusadewo, Westny Dj, Aufa Assegaf, Muhammad Aga
My score: 7,5/10