Senin, 20 Februari 2017

[Movie] Man Down (2016)


Man Down
(2016 - Lionsgate Premiere/Binary Light/Mpower Pictures/Krannel Pictures)

Directed by Dito Montiel
Screenplay by Adam G. Simon, Dito Montiel
Story by Adam G. Simon
Produced by Dawn Krantz, Stephen McEveety
Cast: Shia LaBeouf, Kate Mara, Jai Courtney, Gary Oldman, Clifton Collins Jr., Charlie Shotwell, Tory Kittles


Man Down adalah one of those films yang skalanya kecil tetapi menimbulkan harapan buat penonton karena dimainkan oleh pemeran yang cukup bereputasi, bahwa sekalipun nggak heboh, bisa saja nggak buruk-buruk amat. Mengumpulkan Shia LaBeouf, Jai Courtney, Kate Mara, dan Clifton Collins Jr. dalam satu produksi merupakan sebuah bukti either kemampuan pedekate produser yang hebat, atau dana kuat, atau materinya memang patut ditengok—dan gw ragu dana adalah kekuatan utama proyek ini, we'll get to that later. Namun, kuncian gw ada pada Gary Oldman, masakkan seorang aktor senior hebat seperti dia terlibat di produksi abal-abal, minimal pasti ada sesuatu di film ini. Honestly, usai menonton Man Down, gw melihat sesuatu itu, namun proses untuk menemukan sesuatu itu terbilang melelahkan.

Premisnya film ini agak misterius. Ini kisah seorang marinir AS, Gabriel Drummer (Shia LaBeouf), veteran perang di Afghanistan yang kembali ke kotanya untuk mencari keluarganya pascaperistiwa seperti kiamat yang membuat kotanya itu sepi dan mati. Namun, film ini sendiri bertutur dalam tiga "saluran". Selain kisah tadi, dituturkan pula kisah wawancara Drummer dengan seorang konsuler militer, Peyton (Gary Oldman) di sebuah markas setelah sebuah tugas yang dijalani Drummer, dan perjalanan sebelum Drummer ditugaskan ke Afghanistan, yang memperlihatkan hubungannya dengan sang istri Natalie (Kate Mara) dan sang putra satu-satunya Jonathan (Charlie Shotwell), plus sahabatnya Devin Roberts (Jai Courtney) yang selalu jadi cs-annya selama pelatihan dan nanti di penugasan. Paparan awalnya ini menunjukkan kejadian sebelum dan sesudah "peristiwa" yang menyebabkan Drummer sampai di kota mati itu, sementara "peristiwa"-nya sendiri itu apa, itu yang diniatkan sebagai titik plot terpenting, yang diungkap belakangan. Sangat jauh belakangan.

Nah, itu juga yang membuat gw agak bingung gimana membahas film ini tanpa terlalu give away too much, sementara topiknya nggak terlalu luas kalau nggak dibahas revelation-nya. Di sisi lain, gw juga merasa film ini terlalu terlena dalam menunda pengungkapan itu dengan selang-seling adegan yang masing-masing hanya memberikan seiprit kemajuan dalam plot, jatuhnya film ini malah terasa stretchy, dipanjang-panjangin nggak tahu maunya apa, sok misterius padahal nggak bikin penasaran-penasaran amat. Namun, gw harus akui bahwa ketika "peristiwa" itu diungkap saat klimaks, serta alasan kenapa film ini dituturkan nonlinear akhirnya terjelaskan, film ini mencapai titik intensitas tertingginya. Adegannya digarap dengan baik dan dimainkan cukup baik pula. Tapi ya tetep capek nunggunya.

Isunya sendiri termasuk penting, berhubungan dengan seorang tentara yang terdampak oleh perang, terutama secara psikologis. Ide konsep dalam menggambarkan dan menyampaikan isu tersebut pun gw bilang menarik karena ada post-apocalyptic fantasy-nya, sehingga tampil agak beda dengan film-film drama perang yang sudah ada. Ini yang gw bilang "sesuatu", yakni niatnya yang baik. Para pemain juga lumayanlah, cuma gw personally selalu merasa LaBeouf kurang bikin simpati sejak kelakuannya di muka publik suka ajaib—tetapi somehow itu malah bikin perannya di sini makin cocok hahaha. 

Akan tetapi, walau maunya tampil agak beda, sayang sekali kemasan dan delivery film ini nggak lebih baik dari film-film drama perang yang sudah ada. Apalagi elemen-elemen ceritanya itu semacam daur ulang dan mix and match saja dari cerita-cerita yang sudah pernah diangkat sebelumnya—bisa gw sebut dari American Sniper, sampai ke, err, Sucker Punch =P. Maksudnya oke, tapi nggak ada yang baru, nggak ada yang spesial juga. Belum lagi, filmnya kelihatan sekali hemat bujet dan sangat dibantu oleh editing dan pewarnaan/digital coloring biar tampilannya agak wah dikit, tetapi itu yang justru makin kuat mengesankan film ini kualitas produksinya lebih cocok jadi FTV Hollywood untuk konsumsi TV kabel atau video streaming saja.





My score: 6/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar