Sabtu, 11 Februari 2017

[Movie] John Wick: Chapter 2 (2017)


John Wick: Chapter 2
(2017 - Summit Entertainment/Lionsgate/Thunder Road Pictures)

Directed by Chad Stahelski
Written by Derek Kolstad
Based on the characters created by Derek Kolstad
Produced by Basil Iwanyk, Erica Lee
Cast: Keanu Reeves, Common, Riccardo Scamarcio, Ian McShane, Lance Reddick, Laurence Fishburne, Ruby Rose, Claudia Gerini, John Leguizamo, Peter Stormare, Franco Nero, Thomas Sadoski, Bridget Moynahan


Kemunculan film John Wick (2014) sebagai film action keras non-blockbuster sepertinya menimbulkan dampak yang di atas ekspektasi. Film tersebut nggak hanya sukses di pasaran, tetapi juga semacam memberi standar baru lagi bagi genre laga kriminal untuk dewasa buatan Hollywood, serta menaikkan lagi pamor Keanu Reeves yang sudah menuju parubaya itu dalam sebuah karakter badass terbaru, sesuatu yang nggak segitunya tercapai di film blockbuster doi sebelumnya, 47 Ronin (2013) misalnya. Gw bukan penggemar terberat film yang sering diledek premisnya "seorang pria balas dendam karena anjingnya dibunuh" itu, tetapi gw tetap punya impresi yang masih melekat pada John Wick, sebuah film action brutal yang dibangun dalam sebuah dunia layaknya sebuah komik, atau bisa dilihat juga sebuah dunia persilatan dengan setting masa kini. Makanya, saat muncul John Wick: Chapter 2, gw rela aja datang ke bioskop untuk menyaksikannya segera.

Seperti biasanya dalam sebuah sekuel, Chapter 2 memang dirancang lebih besar skalanya. John Wick (Keanu Reeves), seorang mantan pembunuh bayaran termasyur akan "kesaktian"-nya, tapi sebenarnya sangat sangat ingin pensiun, kini tak lagi memburu dan membunuhi orang demi kepentingan pribadi semata. Kali ini ia benar-benar dipaksa tidak pensiun karena masih terikat utang budi terhadap seorang anggota mafia Italia, Santino D'Antonio (Riccardo Scamarcio). Supaya lunas utangnya, D'Antonio menuntut jasa John untuk membunuh sang kakak, Gianna (Claudia Gerini) demi sebuah kursi di dewan sindikat kejahatan internasional, of course =)). Tak ada pilihan lain, John harus kembali turun ke dunia persilatan—kali ini ke Roma, Italia, demi mendapatkan kebebasannya kembali, sekalipun kali ini harus berurusan dengan jaringan kejahatan tingkat tinggi internasional.

Jangan mengira bahwa Chapter 2 hanyalah pengulangan film pertama. Yang berulang cuma aktingnya Reeves: keren saat olah fisik tapi waktu berkata-kata kayak minta ditimpuk velg ban  T-T. Ada dua hal mendasar yang dilakukan di film yang ini. Pertama adalah memperluas universe cerita John Wick. Gw tadi bilang bahwa film John Wick seperti komik dan cerita silat, nggak ada realistis-realistis-nya acan—padanannya mungkin dwilogi The Raid dan film-film crime martial arts Hong Kong. Chapter 2 makin menegaskan kesan tersebut, dengan lebih banyak eksplorasi mengenai aturan main blantika kekerasan, semakin banyak ragam ahli bunuh sejenis John dengan keahlian masing-masing, dan masih ada hotel khusus kaum "pendekar", Continental yang tentu saja punya cabang di mana-mana =D. Hasilnya bisa saja sangat norak dan kacau, namun itu nggak terjadi di sini. Gw bahkan dengan sangat rela menerima segala ide yang ditawarkan film ini, karena kadung dipresentasikan dengan begitu terampil, didukung oleh production design yang kelihatan lebih bermodal sehingga bisa tertuang imajinasi-imajinasi paling ajaib sekalipun, yang belum bisa ditampilkan di film pertamanya. Menempatkan dunia persilatan di belantara metropolitan yang penuh sesak orang dan bertaburan butir-butir sinar LED, menggantikan pedang dengan pistol dan pisau, bahkan ada semacam "partai pengemis" (jadi inget Condor Heroes 'kan =P), konsep yang sepertinya sederhana sekaligus ridiculous, tetapi berhasil dieksekusi dan dikembangkan dengan apik.

Di sinilah yang kemudian nyambung ke hal mendasar kedua, yaitu menaikkan sensasi yang sudah punya standar cukup tinggi di film pertama. Anggap saja bahwa adegan berkelahi-sambil-menembakkan-senjata-tanpa-benar-benar-membidik-tapi-pasti-kena di film pertama adalah pemanasan. Chapter 2 melanjutkan itu dengan memperbanyaknya dan menempatkannya di ruangan-ruangan lebih terang, jadi ngilu-nya juga jadi lebih berasa. Itu satu contoh aja. Rasanya gw nggak usah sebut contoh-contoh lain, selain karena ada banyak lagi ragam adegan laga yang ditampilkan—basic-nya sih tetap berkelahi dan kejar-kejaran, penjelasan apa pun yang gw tulis di sini sepertinya nggak akan cukup menggambarkan betapa sensasionalnya adegan-adegan itu. Dan gw bukannya bermaksud permisif terhadap konten yang violent ya, toh film ini memang konsepnya agak melebih-lebihkan demi menunjukkan keahlian John dan rekan-rekan seprofesinya yang memang nggak kayak manusia biasa. Film ini juga nggak nyiksa penonton dengan visual terlalu gory dilama-lamain, tapi nggak juga membuat sensasinya jadi loyo. Lagi-lagi, didukung oleh production value yang lebih tinggi serta visual lebih imajinatif dan warna-warni, adegan-adegan laga yang sudah dirancang dengan sedemikian rupa kerennya itu jadi tak terbuang percuma, malah jadi tambah mengagumkan untuk dipandang.

Nggak bisa ngeles sih kalau John Wick: Chapter 2 ini, seperti juga John Wick pertama, memang dirancang sebagai pemuas hasrat penggemar film action yang cuma maunya ada action terus dari awal sampai akhir, nggak banyak cingcong atau perenungan atau muatan apalah. Akan tetapi, nyatanya semakin dibuktikan di Chapter 2 bahwa seri ini bisa memberikan sesuatu yang lebih selain rentetan adegan laganya itu, tanpa harus menghentikan lajunya. Dari worldbuilding-nya yang berdampak pada plotnya sehingga tak lagi seputar balas-balasan dendam atau konspirasi biasa, hingga kesanggupan memasukkan dark humor di mana-mana bahkan di adegan paling intens sekalipun—clue: John vs karakternya Common adu peluru di keramaian itu bangke sih XD. Dan, ditunjukkan pula keterampilan teknik audio visual yang lebih mengesankan dibandingkan film-film action sejenis, atau bahkan semua film action belakangan ini. Well, andai saja, andaaai saja, gw bisa mengabaikan wicara Reeves yang sedatar tol Cikampek-Palimanan itu, gw mungkin bisa terlarut dalam film ini secara paripurna. Padahal dia dialognya dikit, tapi ngomong dua kata aja kayak udah lelah banget gitu, heran gw. Biarpun begitu, buat gw tetap saja John Wick: Chapter 2 adalah salah satu item istimewa di ranah action Hollywood, mau lanjut terus bentuk sekuel lagi pun hayuk aja gw mah.





My score: 7,5/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar