Minggu, 12 Februari 2017

[Movie] Boven Digoel (2017)


Boven Digoel
(2017 - Foromoko Matoa Indah Film)

Directed by F.X. Purnomo
Screenplay by Jujur Prananto, F.X. Purnomo
Based on the book "Catatan Seorang Dokter dari Belantara Boven Digul" by John Manangsang
Produced by John Manangsang
Cast: Joshua "JFlow" Matulessy, Christine Hakim, Edo Kondoligit, Ira Dimara, Lala Suwages, Ellen Aragay, Maria Fransisca Tambingon, Henry W. Muabuay, Denny Imbiri, Juliana Rumbarar, Echa Raweyai


Sekilas film Boven Digoel mungkin dianggap salah satu proyek yang disebut "film daerah", karena mengangkat kisah dari suatu wilayah atau provinsi, diinisiasi oleh rumah produksi asal daerah tersebut, dan dituturkan sebagian besar dalam dialek lokal—dalam hal ini adalah Papua. Akan tetapi, kisah yang diangkat di film ini juga setahu gw pernah diproduksi dalam lingkup lebih kecil, dengan judul Silet di Belantara Digoel Papua arahan Henry W. Muabuay (beliau kemudian jadi pemeran mantri Thomas di versi baru ini), yang berhasil mendapat gelar Film Daerah Terpilih di Piala Maya 2015. Sementara film dengan judul Boven Digoel yang sekarang ini, mungkin bisa dibilang semacam remake ataupun pengembangannya, jadi semacam proyek semi-daerah, karena melibatkan juga kru dan pemain dari circle film nasional, selain tentu saja diedarkan pula di bioskop seluruh Indonesia. Dengan latar demikian, sebenarnya menarik untuk melihat apa yang akan ditawarkan film ini, apalagi sampai bela-belain merangkul jasa sineas kawakan Indonesia seperti Jujur Prananto (AADC, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara, dll.) di skenario, Yudi Datau (Denias Senandung di Atas Awan, 5 cm.) di sinematografi, Wawan I. Wibowo di editing, hingga Christine Hakim sebagai salah satu pemeran pendukungnya.

Nama Boven Digoel sendiri sebelumnya dikenal sebagai salah satu tempat pengasingan buat pejuang kemerdekaan, letaknya di dekat kota Merauke—kota paling ujung Timur wilayah Indonesia, kali ada yang lupa. Namun, film ini nggak membahas itu, melainkan lebih ingin menyorot satu sisi kehidupan di wilayah yang kemudian dikenal dengan nama Tanah Merah, yang masih terbilang terpencil, at least di awal tahun 1990-an yang jadi setting film ini. Film ini juga semacam semibiografi dari sang tokoh utama, John Manangsang, seorang dokter yang dibesarkan di tanah Papua dan kemudian ditempatkan di Tanah Merah. Basic ceritanya sih tentang suka duka John (diperankan JFlow tanpa right here, yang gw baru tahu di sini ternyata nama benernya adalah Joshua Matulessy), bersama tim perawat—disapa suster untuk yang perempuan dan mantri untuk yang laki, fyi—dan bidan di Puskesmas Tanah Merah, yang harus melintasi berbagai medan untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat setempat, di tengah keterbatasan fasilitas apalagi infrastruktur.

Gw sih cukup bisa menerima apa yang ditawarkan di film ini, ini salah satu cerita yang sering gw dengar tetapi jarang digambarkan dengan nggenah dan otentik di layar lebar. Di sini kelihatan bahwa ada misi untuk menyiarkan kabar tentang mereka yang kurang diperhatikan kebutuhan dasar hidupnya, dan ada segelintir orang di lapangan yang berjuang sebisanya untuk melayani pemenuhan kebutuhan itu. Film ini gw tangkap lebih seperti deskripsi ketimbang narasi, dalam artian gw cukup pahamlah apa yang ingin digambarkan dan disampaikan baik dalam maupun di luar cerita. Entah itu cara hidup masyarakat di sana, pemandangan dan situasi lokasinya, maupun kesukaan dan kesulitannya—ya dari sekian desa yang berjauh-jauhan jaraknya hanya ada satu Puskesmas dan hanya satu dokter bertugas. Dan, enaknya adalah semua itu disampaikan dengan cara apa adanya, nggak aneh-aneh, tetapi cukup kena, dan masih bisa memunculkan humor juga.

Namun, film ini rupanya masih terlihat keder dengan penuturan ceritanya. Film ini sebenarnya cukup fokus, plot yang on-going sepanjang film ini terletak pada penanganan seorang penduduk yang kesulitan dalam bersalin (diperankan Echa Raweyai, suaminya diperankan Edo Kondologit), dikontraskan dengan the inevitable problem bahwa John kurang memberi waktu untuk keluarganya sendiri. Set up semuanya itu sudah diletakkan dengan baik sejak awal. Masuknya unsur "dukungan moral dan doa dari ibu" juga buat gw masih terkait erat sama ceritanya. Masalahnya, penyelesaiannya nyaris tidak ada. Kalaupun ada, kurang di-handle dengan rapi, tiba-tiba selesai aja gitu. Sayang banget sebenarnya, seandainya lebih rapi atau ditambal dengan adegan-adegan tambahan yang menunjukkan prosesnya lebih mendalam, khususnya di babak akhir, film ini pasti bakal berdampak lebih. Gw nggak bisa mengabaikan pula bahwa karakterisasinya ternyata kurang seimbang. Banyak karakter pendukung yang berpotensi menarik dan dimainkan pemain yang berbakat akhirnya nggak dimaksimalkan, baik itu dari ragam watak para petugas Puskesmas, hingga ke Yvonne (Ira Dimara) istri John dan even Mama Manangsang (Christine Hakim), yang terasa come and go aja gitu. Well, presence ibu Christine tetap nggak ada yang ngalahin sih, dan salah satu adegan one-on-one-nya dengan karaker John juga jadi salah satu bagian paling emosional di film ini.

Walau begitu, untuk sebuah proyek yang bukan digagas sineas pulau Jawa, Boven Digoel menurut gw sudah mengarah ke arah yang baik. Dari penataan adegan hingga dukungan teknisnya terbilang proper untuk sebuah film, dan itu adalah tanda bahwa film ini dibuat dengan kesungguhan, alih-alih asal yang penting jadi. Satu hal lagi yang juga buat gw menarik adalah film ini pada akhirnya bisa mengurangi kadar klise "film inspiratif". Meski masih ada beberapa ujaran kalimat mutiarawi yang tak terhindarkan, termasuk keterlibatan iman di sana, kadarnya agak bisa ditolerir buat gw. Gw juga respek bahwa overall film ini bukan soal kesuksesan dan kehebatan John dkk, nggak sedang berusaha terlalu keras "menginspirasi" tentang orang susah yang jadi orang kaya atau atau ke luar negeri atau sukses dapat penghargaan atau apa, tetapi cukup bahwa mereka tak berhenti berjuang dalam keterbatasan untuk kebaikan orang banyak. Yah, termasuk "inspiratif" juga sih itu, hehe, tetapi minimal nggak muluk-muluklah. Atau setidaknya itulah yang gw harapkan, mengingat filmnya kayak unfinished sebagaimana gw singgung tadi.





My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar