Sabtu, 31 Desember 2016

Year-End Note: My Top 10 Films of 2016

10 film yang akan gw sebut adalah yang paling favorit, berkesan, dan sometimes paling "racun" buat gw (yang menyebabkan skor yang gw beri per film kadang jadi nggak ngaruh di sini), yang dirilis di bioskop komersial Indonesia sepanjang tahun 2016. No time to waste, mari kita mulai.


Eh sebelum itu =P, gw coba mention film-film yang hampir masuk 10 besar, kali ini dalam urutan abjad:

Ada Apa dengan Cinta? 2, directed by Riri Riza
Film yang memuat pesona yang sama dengan film pertamanya, bahkan lebih lagi dengan cerita yang mendewasa dan lebih matters.

Dangal, directed by Nitesh Tiwari
Film yang moving dalam kemasan menghibur khas Bollywood, tetapi yang paling mengesankan buat gw film ini menampilkan adegan-adegan pertandingan yang sama serunya seperti menonton pertandingan langsung.

Deadpool, directed by Tim Miller
Plotnya remeh banget, tetapi diramu sebagai laga komedi yang violent sekaligus sukses mengocok perut lewat humor-humor self-conscious-nya.

Mermaid directed by Stephen Chow
Film komedi fantasi absurd produksi China yang salah satu adegannya sukses bikin gw tertawa yang saking kerasnya sampai nggak sanggup bersuara.

One Way Trip directed by Choi Jung-yeol
Mengangkat sebuah kisah ujian persahabatan empat remaja di tengah tuduhan tindak kriminal, film ini sukses menghindar dari pakem-pakem klise film Korea--sejauh yang gw tahu ya.




Kalau begitu, silahkan simak 10 teratas film terfavorit gw di tahun 2016.




10. Finding Dory
directed by Andrew Stanton

Memang tidak gampang untuk mengulang rasa yang timbul saat dulu menyaksikan Finding Nemo (2003), namun Finding Dory tetap berhasil mencuri hati. Dengan petualangan baru yang berfokus pada pencarian orang tua si ikan pelupa Dory, film animasi Pixar ini mampu memunculkan kelucuan yang setara dengan pendahulunya, ditambah dengan kemunculan karakter-karakter baru yang sama lovable-nya dengan karakter-karakter lama. 






9. Warcraft
directed by Duncan Jones

Nonton kali pertama merasa nggak bagus-bagus amat tapi masih terhibur. Terus terpanggil lagi untuk nonton lagi, kok jadi tambah tertarik pada cerita dan dunianya. Eh terus jadi pengen nonton lagi dan akhirnya gw melihat kerennya film adaptasi game online ini. Salah satu ciri film dengan label "favorit" adalah yang ngangenin--atau mungkin ngeracunin, dan Warcraft sangat masuk dalam kelompok itu. Kompleksitas ceritanya mampu disajikan bersamaan dengan konsep visual dan laga yang oke, dan kelihatan bahwa yang bikin film punya kecintaan sama materi aslinya, sehingga hasilnya pun juga menyenangkan. 







8. Your Name.
directed by Makoto Shinkai

Belum terkikis kekaguman gw sama cara penuturan film anime Jepang bertema romansa remaja dengan sentuhan fantasi ini. Ketika romansa yang berkisar pada "takdir mempertemukan kita" nggak berakhir gombal, melainkan jadi kisah yang punya daya magis karena diiringi konsep yang sangat imajinatif namun terjelaskan dengan terampil. Film ini juga menampilkan makna baru tentang "saling kenal luar dalam". 







7. Room
directed by Lenny Abrahamson

Film yang amazingly mampu menuturkan kisah getir bersamaan dengan kepolosan anak sebagai sudut pandang utamanya. Getir itu kuat terasa, karena berkisah tentang wanita (dulunya) remaja korban penculikan yang disekap di sebuah ruang selama bertahun-tahun sampai dihamili oleh penculiknya. Namun, kelembutan dan kepolosan itu pun tetap mencuat berkat karakterisasi Jack, si anak yang selama ini hanya tahu dunia sebatas ruang sempit kemudian akhirnya bisa keluar dan mengalami dunia luar yang sesungguhnya.
Review di sini







6. Eye in the Sky
directed by Gavin Hood

Inilah film thriller di tahun 2016 yang paling bikin gw deg-degan dan terkuras emosi saat nonton di bioskop. Berpusat pada upaya pemberantasan teroris di sebuah negara Afrika lewat teknologi drone, film ini memperkenalkan bahwa aksi ini melibatkan berbagai macam pihak di tempat berbeda-beda (kali ini Inggris dan AS dan sekutunya), dengan keruwetan birokasi serta dilema moral yang setiap detik muncul. Meskipun fiksi, film ini juga dengan sangat baik menyatakan statement-nya tentang perang terhadap terorisme yang tidak sesederhana hitam dan putih. 







5. Sully
directed by Clint Eastwood

Tak hanya tentang peristiwa nyata pendaratan darurat sebuah pesawat berpenumpang di atas sungai besar di New York, film ini membawa gw menyelami psikologis Sully sang pilot dengan cukup menyeluruh, serta penggarapan adegan-adegannya yang mungkin sebenarnya tampak biasa, tidak serba dramatis, namun mampu menimbulkan rasa yang semestinya. Adegan detail pendaratan dan penyelamatan itu juara sekali. 





4. Athirah
directed by Riri Riza

Dari sebuah episode kisah hidup tokoh pemerintahan Indonesia saat ini, ditambah isu poligami, film ini akan mudah jatuh jadi pemujaan tokoh, jualan motivasi, menye-menye, dan sejenisnya. Untunglah film ini jatuh ke tangan Miles Films dan Riri Riza, yang mampu mengolah kisah melodrama ini tanpa mengkompromikan sense artistik mereka. Hanya dalam 80-an menit, film ini menyajikan apa yang perlu disajikan dengan komplet, ikut mengalami pergulatan batin tokoh-tokohnya, yang tentu saja dibungkus dalam presentasi yang amat sangat menawan. 







3. Zootopia
directed by Byron Howard & Rich Moore

Film ini masih belum keluar dari lingkaran nilai-nilai kekeluargaan dan motivasi untuk jadi yang terbaik sekalipun banyak rintangan, yang selalu ada di film-film Disney, khususnya yang animasi. Heran juga ketika film tentang peradaban modern hewan mamalia ini, yang plotnya digerakkan pada sebuah misteri kriminal, tetap mampu menyampaikan nilai-nilai itu, dan lebih lagi. Bahwa film ini disajikan dengan laju yang exciting, keseimbangan laga, humor, dan drama menyentuh, serta karakter-karakter yang mudah disukai dan wujudnya menggemaskan, semakin memantapkannya sebagai salah satu film animasi Hollywood terbaik dalam tahun-tahun belakangan. 







2. Spotlight
directed by Tom McCarthy

Ini mungkin adalah the truest form of film. Berdasarkan kisah nyata investigasi jurnalistik skandal pelecehan anak di lingkungan gereja di Boston, film ini hanya melakukan satu tugasnya dengan tepat: bercerita. Dengan susunan dan penuturan cerita yang solid, nggak pakai yang fancy-fancy, film ini sukses bikin gw fokus terus pada ceritanya, yang bikin emosi naik turun saat menyaksikan fakta demi fakta digulirkan dan tantangan demi tantangan menghimpit. Performa luar biasa dari deretan aktornya pun bukannya berusaha saling pamer kebisaan, semuanya tampil sama kuat dalam menyokong topik dan kisah yang hendak disampaikan, sebagaimana sebuah film semestinya. 
Review di sini










1. Surat dari Praha
directed by Angga Dwimas Sasongko

Film ini muncul di Januari 2016, dan setelah nonton pertama kali gw tahu film ini akan masuk daftar 10 teratas akhir tahun gw. Sekarang gw ingat-ingat lagi, sepanjang tahun ini belum ada yang bikin gw bereaksi seperti nonton Surat dari Praha. Film yang membuai gw dengan cerita tentang cinta yang tak terbereskan--baik sebagai kekasih, keluarga, ataupun rakyat, juga memberi perlakuan tepat porsi dan terintegrasi tentang episode kelam sejarah politik Indonesia. Dibungkus dalam persembahan visual yang sederhana namun penuh estetika, dan musiknya sebagai bagian dari cerita yang dieksekusi dengan efek menggetarkan. Buat gw adegan duet dadakan Laras dan Jaya adalah salah satu adegan terbaik tahun ini, dan salah satu movie music moment terbaik di film Indonesia manapun. Pukauan film ini pun ternyata sangat awet saat gw nonton beberapa kali--di bioskop, di streaming, hingga saat tayang di TV, sehingga gw merasa punya tanggung jawab kepada diri sendiri untuk menaruh film ini di posisi teratas tahun ini. 



Demikian bagian akhir catatan akhir tahun gw, semoga kiranya berkenan adanya. Selamat menyongsong tahun yang baru. Cheers.

Year-End Note Special: The 10 (+1) Indonesian Films of 2016


Tidak menyangka bahwa artikel spesial ini bisa ditulis lagi hanya selang satu tahun setelah yang terakhir. Year-end note spesial film Indonesia baru dua kali gw posting di blog ini, terakhir di tahun 2015 lalu, dan sebelumnya tahun 2012. Gw memang biasanya akan melebur film luar dan Indonesia dalam satu list Top 10--dan gw maunya tetap begitu, tetapi ketika dalam satu tahun gw merasa banyak film Indonesia yang berkesan dan sampai 10 judul, postingan ini musti dibuat. Dan gw pikir akan banyak yang setuju, bahwa 2016 adalah tahun yang luar biasa untuk film Indonesia.

Pertama dari kuantitas dulu, 2016 terbukti jadi tahun rekor film Indonesia dari penjualan tiket di bioskop. Tahun ini kita akhirnya menemukan film pemecah rekor penjualan tiket bioskop tertinggi sepanjang sejarah, yang diraih Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 dengan 6,8 juta (!) lembar tiket. Angka yang diraih film-film di bawahnya juga menggembirakan, Ada Apa dengan Cinta 2 jual 3,6 juta tiket, My Stupid Boss 3 juta tiket, dan Rudy Habibie 2 juta tiket. Tak berhenti di sana, hingga akhir tahun 2016, sudah ada 9 film (!!) Indonesia yang menjual tiket di atas 1 juta lembar. Mau kabar menyenangkan lagi? Dari 15 film Indonesia terlaris 2016 sejauh ini, hanya satu film horor, dan itu pun bukan horor murahan. In fact semua film yang laku tak ada satu pun yang cheap. Maka, anggapan bahwa film Indonesia lebih banyak horor murahan esek-esek kini hanyalah mitos belaka. Mungkin otak situ yang esek-esek, film Indonesia sih udah lama move on *lah malah nyindir pembaca*.

Kenapa gw kasih tanda seru pada data-data di atas, karena perbandingannya cukup jauh dari tahun-tahun belakangan. Ngintip website filmindonesia.or.id, tahun 2015 hanya ada 3 film yang mencapai penjualan di atas 1 juta (Surga yang Tak Dirindukan, Comic 8: Casino Kings Part 1, Single), itu pun digit depannya cuma 1 juta. Apalagi lihat tahun 2014, cuma ada dua film (Comic 8 dan The Raid 2: Berandal), dan itu juga "mentok" di angka 1,6 juta tiket. Jadi jangan tahan diri, silahkan merayakan 2016 sebagai tahun homecoming film Indonesia, dan mari saling menjaga agar para filmmaker tidak mengkhianati kepercayaan penonton ya.

Anyway, tentu saja untuk daftar yang gw bikin tidak berhubungan dengan kelarisan, melainkan dari penilaian pribadi, baik karena kualitasnya gw anggap baik, atau ada nilai-nilai lain yang bikin film-film ini begitu berkesan. Dari sekian puluh film Indonesia yang gw tonton sepanjang tahun 2016, judul-judul di bawah ini memiliki kesan yang paling paling buat gw. Sengaja gw bikin dalam urutan abjad, bukan peringkat, demi menekankan gw sama-sama respek terhadap film-film ini, yang sukses membuat gw tetap percaya bahwa film Indonesia bisa bagus. Dan, khusus kali ini gw menyebut 11 ketimbang 10 seperti biasa, karena gw ingin memasukkan special mention terhadap salah satu judulnya (tapi bukan ILY from 38.000 Ft., sorry =P). 

Baiklah, berikut ini 11 film Indonesia paling berkesan buat gw di tahun 2016.





3 Srikandi
sutradara Iman Brotoseno

Film olahraga bukannya jarang dibuat di Indonesia, tetapi yang disajikan semenghibur ini memang nggak banyak. Film ini tidak hanya mengingatkan kembali pada pembuka sejarah prestasi atlet Indonesia di Olimpiade--dalam hal ini tentang regu pemanah putri yang sukses raih medali perak di Olimpiade Seoul 1988, tetapi memberikan sajian zero-to-hero yang sangat menghibur. Lewat film ini dikisahkan perjuangan empat orang dengan motivasi dan latar berbeda tetapi mengarah pada mimpi yang sama, namun juga tidak meninggalkan sisi cerah dan humornya, sehingga bikin rela mengikuti perjalanan cerita mereka hingga akhir. Review di sini.





Aach...Aku Jatuh Cinta
sutradara Garin Nugroho

Entah harus memuji sutradaranya atau justru gw sendiri, ini adalah film Garin Nugroho yang paling bisa bikin gw terhibur. No kidding. Seakan membangkitkan kembali gaya drama percintaan dan rumah tangga di film-film Indonesia era lampau, film yang konon memang sengaja dibuat "lebay" ini mampu mempersembahkan rangkaian adegan yang mencolek emosi dan saraf senyum, selain dengan nilai produksi yang indah serta penataan musik yang keren. Review di sini.





Ada Apa dengan Cinta 2
sutradara Riri Riza

Jeda 14 tahun dari film pertamanya yang fenomenal membuahkan sebuah pendewasaan yang layak dinantikan. Gw pribadi pasti akan menyatakan lebih suka sekuelnya ini, berkat jalan cerita yang tidak se-cheesy pendahulunya, pertaruhan yang lebih berbobot, serta permainan emosi yang lebih pas takarannya, semuanya naik kelas. Namun, film ini juga masih mempertahankan charm dari karakter-karakternya, performa para pemain yang masih sanggup membangkitkan karakter masing-masing dengan sangat baik, sehingga faktor fun-nya nggak hilang. Review di sini.





Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara
sutradara Herwin Novianto

Ini adalah contoh film "baik-baik" (dalam artian ingin memberi tontonan "mendidik dan inspiratif dengan kearifan lokal dan membangun karakter bangsa" =D) yang untungnya ditangani oleh keterampilan yang baik pula. Kemasan luarnya memang seperti kurang menarik, menurut gw materi promonya nggak ada yang beres, seakan mengaburkan bahwa kualitas film ini lebih daripada itu. Dengan tema yang berpotensi sensitif--seorang guru muslim berjilbab ditugaskan mengajar sendiri di desa terpencil NTT yang mayoritas Katolik, film ini ditangani dengan sensitivitas yang lembut namun pesannya mengena, tanpa harus terlalu verbal. Bicara soal kebhinnekaan dan toleransi, film ini adalah contoh yang paling tepat saat ini. Review di sini.





Athirah
sutradara Riri Riza

Selalu ada tempat untuk film seperti ini di hati gw. Film yang indah, artistik, puitis, namun tetap komunikatif dan jelas apa yang mau disampaikan. Menonton film ini membuat gw terkagum-kagum atas pilihan-pilihan artistiknya dalam cerita, dalam beradegan (yang jarang dialog terujar), dalam performa aktornya, dalam visualnya, dalam musiknya, dan yang paling mendasar adalah pemilihan topik yang diangkat. Belum ada film tentang kisah nyata tokoh besar dan topik poligami yang dibuat seberkelas ini. Review di sini.





Catatan Dodol Calon Dokter
sutradara Ifa Isfansyah

Gw nggak tahu pasti apa yang terjadi sama film ini sehingga kayak gampang banget terlewatkan dari radar, padahal gw merasa ini adalah salah satu yang paling menghibur di tahun ini. Tata visual yang bagus serta pembawaannya yang ringan dan humoris membalut sebuah kisah romantika para calon dokter, baik dalam hal pencapaian profesi--dengan detail yang informatif--maupun cinta. Plus performa yang baik dari para aktor bahkan oleh mereka yang sebelumnya gw ragukan kemampuannya. Review di sini.





Cek Toko Sebelah
sutradara Ernest Prakasa

Sudah menarik sejak dari premisnya yang orisinal, film drama komedi ini pun dieksekusi dengan baik, malah sukses jadi salah satu film yang paling menghibur dan menyentuh, dan jadi penutup tahun 2016 yang menyenangkan. Kisahnya mungkin tampak spesifik, soal manula etnis Tionghoa yang hendak mewariskan usaha keluarga kepada anak-anaknya, yang sayangnya responsnya tak seperti yang diharapkan. Namun, kisah ini juga dituturkan sedemikian rupa sehingga mampu berbicara kepada hampir semua kalangan, dan itu bertumpu pada karakterisasi yang simpatik, serta dibumbui parade humor dari pada stand up comedian yang sedang naik daun. Review di sini.





Ngenest
sutradara Ernest Prakasa

Apakah ini salah satu praktik cheat gw setiap bikin senarai di blog? Bisa jadi. Sebagai pembelaan, gw nggak cukup waktu untuk mempertimbangkan film ini untuk masuk dalam daftar tahun 2015, lah rilisnya aja tanggal 30 Desember 2015 dan itu sudah lewat deadline (yang gw bikin-bikin sendiri, heuheu), makanya gw memutuskan masukkan ke 2016, dan rupanya bertahan hingga akhir. Film ini mengangkat sebuah isu sensitif tentang diskriminasi ras di Indonesia yang dengan brilian dibahas dari sudut pandang humor, tanpa menghilangkan seruan kegelisahannya. Debut penulisan dan penyutradaraan film dari Ernest Prakasa ini mampu memikat perhatian sejak awal, baik karena kelucuannya yang cerdas, maupun karena tema penting yang dibawakannya, yang sukses bikin gw memaafkan buruknya rambut palsu yang dipakai pemerannya. Review di sini.





Surat dari Praha
sutradara Angga Dwimas Sasongko

Ternyata film yang dirilis awal tahun banget ada benefitnya dari segi penilaian. Film ini adalah salah satu dari sedikit film Indonesia yang gw tonton ulang-ulang lewat berbagai medium, dan terbukti masih memancarkan kesan dan keindahan yang sama kuatnya dengan pertama kali nonton. Film ini tak hanya cerdas dalam mengolah "gimmick" sejarah kelam bangsa, lokasi luar negeri, dan lagu-lagu Glenn Fredly menjadi kesatuan yang utuh sehingga sama sekali tak lagi berfungsi gimmick. Tuturan cerita, pengadeganannya, aktingnya, tata visualnya, musik dan lagunya, begitu menyihir gw sampai-sampai bikin kangen dan ingin terus menonton lagi. Review di sini.





The Window
sutradara Nurman Hakim

Ini bisa jadi item paling unlikely di sini. Awalnya gw tertarik sama film ini lantaran ini comeback aktingnya Titi Rajo Bintang. Kisahnya sendiri bergerak dari upaya seorang wanita mencari tahu bagaimana adiknya yang cacat mental dan tak pernah keluar rumah bisa tiba-tiba hamil, tetapi bergulir menjadi upaya bertindak atas trauma masa lalu, serta melawan psychological abuse dari sosok yang harusnya jadi panutan. Namun, film yang sekilas tampak nyeni-nyenyi Jogja gimana gitu ini rupanya menampilkan kejanggalan dan quirkiness yang justru menghibur buat gw, baik dari adegan maupun karakternya, seakan mengolok ciri-ciri "film nyeni" itu sendiri. Mungkin itulah yang bikin film ini tetap bertahan di ingatan gw hingga akhir tahun ini. Review di sini.





Uang Panai'
sutradara Asril Sani & Halim Gani Safia

Dan inilah film ke-11 pilihan gw, yang tadi gw sebut-sebut sebagai special mention. Ini adalah roman komedi berdasarkan adat Bugis-Makassar, yang benar-benar memuat kisah cinta anak muda, komedi, dan penjelasan adat, yang lebih kurangnya berhasil memberikan hiburan yang segar. Kalau mau bicara jujur, kualitas film ini memang masih jauh dari sempurna, jalan cerita masih ke mana-mana, pemain pun masih kaku-kaku. Tetapi, apa yang dicapai oleh film ini patut disorot. Pertama, film ini berhasil dengan tepat menangkap apa yang diinginkan (atau dibutuhkan) oleh target penontonnya, yaitu konten yang sangat connect dengan orang Makassar maupun perantau asal Makassar, dan karena itu pula film ini sanggup menjual lebih dari setengah juta lembar tiket bioskop (!!!), sebagian besar didapat dari bioskop di Sulawesi. Kedua adalah penggarapannya, nilai produksi, dan teknisnya sangat proper, standar nasional, sehingga enak sekali disaksikan di bioskop, bahkan mungkin lebih bagus dari sebagian film buatan Jakarta yang katanya pusat segalanya itu. Buat gw, Uang Panai' patut dijadikan panutan dan penyemangat bagi film-film produksi daerah lain di Indonesia, asalkan know what you're doing and doing it properly, pasti nggak akan sia-sia. Review di sini.




Jumat, 30 Desember 2016

[Movie] Cek Toko Sebelah (2016)


Cek Toko Sebelah
(2016 - Starvision)

Written & Directed by Ernest Prakasa
Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Cast: Dion Wiyoko, Chew Kinwah, Ernest Prakasa, Adinia Wirasti, Gisella Anastasia, Tora Sudiro, Budi Dalton, Yeyen Lydia, Dodit Mulyanto, Adjis Doaibu, Awwe, Arafah Rianti, Yusril Fahriza, Ayuncadel, Asri Welas, Liant, Gita Bhebhita, Edward Suhadi, Abdur Arsyad, Sylvester Aldes, Nino Fernandez


Di tengah booming-nya stand up comedy, terutama yang masuk TV dan film dalam 5 tahun belakangan ini, Ernest Prakasa adalah salah satu comedian yang paling gw sukai materi-materinya. Waktu dia diajak Starvision untuk bikin film—menulis, menyutradarai, dan membintangi—Ngenest yang dirilis di ujung tahun 2015 lalu, itu juga turned out to be film komedi Indonesia yang paling gw favoritkan dari antara yang dibuat oleh rekan-rekan sejawatnya. Menurut gw, selain film ini punya cerita yang fokus, tema yang diangkat itu riil dan matters, bukan sekadar ketawa-ketiwi belaka atau angkat hal-hal remeh yang dibuat seolah-olah deep-deep gimana gitu. Nggak terlalu lama kemudian, Ernest hadir lagi dengan film Cek Toko Sebelah, sebuah komedi drama dengan cerita orisinal yang lagi-lagi menurut gw punya tema dan premis cerita yang intriguing.

Berfokus pada sebuah keluarga etnis Cina di Jakarta, Koh Afuk (Chew Kinwah) adalah pemilik toko sembako Jaya Baru yang sudah cukup berumur, dan juga sudah cukup lama ditinggal wafat oleh sang istri. Ingin segera pensiun, tiba saatnya Koh Afuk merasa harus mewariskan usahanya itu kepada salah satu dari dua putranya, yang sama-sama sudah besar dengan kehidupan sendiri-sendiri. Rupanya, Koh Afuk lebih rela bila tokonya itu diwariskan ke si putra bungsu, Erwin (Ernest Prakasa), yang kariernya justru sedang naik di bidang bisnis perusahaan multinasional, ketimbang si sulung Yohan (Dion Wiyoko) yang kini bekerja sebagai fotografer freelance, dan punya sejarah bermasalah di keluarga. Harapan Koh Afuk pun kemudian berbenturan dengan keengganan Erwin dan kenggakterimaan Yohan akan keputusan ini.

Topik mewariskan usaha di keluarga etnis Cina--bahkan kepada anak yang "sekolah tinggi-tinggi sampai luar negeri"--sudah cukup sering gw dengar. Karena itu, film Cek Toko Sebelah menjadi semacam insight buat gw tentang bagaimana pergumulan yang dihadapi di dalamnya sampai muncul kisah-kisah semacam itu. Situasi keluarga yang di-present dalam film ini pun bisa dibilang langsung akan relate dengan banyak orang, baik yang mengalami langsung atau yang menyaksikan di sekitarnya, atau mungkin paralel dengan keadaan banyak keluarga dalam konteks berbeda. Dimulai dari bagaimana orang tua memandang anak-anaknya, atau anak-anak memandang orang tuanya, saudara memandang saudaranya, hingga diangkat pula kenapa usaha yang "cuma" toko sembako itu penting bagi masing-masing mereka. 

Kalau gw lihat penuturan Cek Toko Sebelah ini terbagi rata antara kisah Yohan dan kisah Erwin yang sesekali bersinggungan dengan situasi ayah mereka dan tokonya. Bangunan karakterisasinya juga menurut gw sangat realistis sekalipun memang dramatis. Si Yohan yang serabutan dan sempat bandel banget serta pernikahannya dengan Ayu (Adinia Wirasti) yang berdarah Jawa membuat hubungannya dengan Koh Afuk jadi dingin, ingin membuktikan diri bahwa dia sudah move on dan layak dipercaya. Erwin juga kehidupannya tampak lancar-lancar saja sampai permintaan ayahnya tercetus dan cukup mengancam masa depan kariernya yang lagi bagus-bagusnya dan hubungannya dengan kekasihnya, Natalie (Gisella Anastasia). Namun, yang menurut gw sangat baik digambarkan di film ini adalah gw jadi nggak pro atau pun kontra ke Yohan atau Erwin. Ketika mengikuti kisah mereka masing-masing, gw merasa yang manapun ngurusin toko Koh Afuk ya nggak masalah, I sympathized with them both, apalagi ini bukan cuma soal toko, tetapi juga soal langkah membangun kembali ikatan sebagai keluarga. Untuk yang ini, gw angkat jempol.

Nah, dengan bangunan cerita yang demikian kuat dan pretty much serius, Cek Toko Sebelah hendak mengangkatnya dalam kemasan komedi. Karena itu, dimasukkanlah berbagai dialog dan adegan komedik, terutama oleh ramainya penampilan komedian dan stand up comedian yang mengisi berbagai peran dan situasi, paling banyak sebagai pegawai toko Jaya Baru. Tak hanya itu, unsur komedi juga disisipkan ke parodi nama produk dan perusahaan XD. Terus terang gw sangat terhibur dengan sisi komedinya, materinya emang beneran lucu dan disampaikan dalam timing yang tepat pula, sehingga filmnya juga nggak melulu berada di sisi dramatis dan melankolisnya. Bisa jadi ini film Indonesia sepanjang tahun 2016 yang bikin gw ketawa paling banyak, humornya banyak yang cocok sama gw.

Namun, hubungan antara sisi drama dan komedi inilah yang menurut gw sedikit problematik. Dari segi penuturan, film ini sebenarnya berhasil menyeimbangkan antara lucu dan haru dengan baik, saat adegan serius pun humornya bisa masuk dengan cara yang sopan. Hanya saja buat gw ada satu hal yang missing sehingga komedi dan dramanya tidak selalu terintegrasi mulus. Gw rasa ini berangkat dari temanya yang sebenarnya sangat serius untuk dijadikan komedi, apalagi ini menyangkut pride dan kultur. Berbeda dengan Ngenest yang temanya serius tetapi ironically di situ juga titik lucunya—seorang keturunan Cina yang nggak mau jadi Cina, Cek Toko Sebelah lebih berupa cerita drama serius yang ditambahi komedi. Nggak ada masalah dengan itu, namun perlakuannya juga harusnya bisa lebih baik. Ketika ada suatu titik Yohan dan Erwin berbaikan demi tujuan bersama, eksekusinya kayak kurang believable untuk satu permasalahan yang terbilang serius, terlalu komikal, atau paling nggak terlalu cepat, nggak seperti yang gw expect dari karakter mereka. Menurut gw ini penyebabnya cuma satu: kedua karakter utamanya nggak dibuat lucu sejak awal. Beneran, Yohan dan Erwin adalah dua karakter yang sangat serius. Kalau nggak ada para komedian di sekitar mereka, mungkin film ini bakal jadi drama betulan. Padahal kalau keduanya dibuat agak gesrek sedikit aja mungkin kekomikalan di titik tersebut akan lebih mudah diterima. Atau, dan ini sih pe-er banget emang, harus dicari cara lain yang lebih sesuai dengan karakter serius mereka tetapi situasinya tetap harus lucu. Seandainya ada waktu lebih dalam penggarapannya, gw rasa sih bagian ini bisa banget diperbaiki.

Meski demikian, buat gw Cek Toko Sebelah tetap mampu memberikan tontonan menghibur dan bermakna. Dari cerita yang menurut gw begitu orisinal serta permasalahan yang riil dan actually penting, diangkat menjadi film yang mudah diterima oleh banyak kalangan. Dan, mungkin yang paling menarik buat gw adalah melihat beyond the story, yang menunjukkan bahwa Ernest berpotensi jadi filmmaker yang diperhitungkan, minimal di penggarapan cerita. Performa pemainnya juga oke, terutama Dion dan Chew Kinwah plus para komedian yang mampu memberi impresi setiap muncul di layar, walau memang beberapa saat terasa terlalu fanservice-ing dengan durasi lawak yang extended. Desain produksinya jauh lebih baik dari Ngenest, serta mampu memberikan penekanan di momen drama dan di komedinya dengan oke, sehingga filmnya terasa dinamis sekaligus berisi. Malahan, jika memang mau, menurut gw film ini menunjukkan Ernest bisa saja suatu saat menggarap cerita film drama atau mungkin black comedy. Looking forward to that.





My score: 7,5/10

Kamis, 29 Desember 2016

[Movie] Assassin's Creed (2016)


Assassin's Creed
(2016 - 20th Century Fox)

Directed by Justin Kurzel
Screenplay by Michael Lesslie, Adam Cooper, Bill Collage
Based on the video game series by Ubisoft
Produced by Jean-Julien Baronnet, Gérard Guillemot, Frank Marshall, Patrick Crowley, Michael Fassbender, Conor McCaughan, Arnon Milchan
Cast: Michael Fassbender, Marion Cotillard, Jeremy Irons, Brendan Gleeson, Charlotte Rampling, Michael K. Williams, Ariane Labed, Denis Ménochet, Khalid Abdalla, Carlos Bardem, Callum Turner, Hovik Keuchkerian, Matias Varela, Essie Davis


Tak jarang kita menemukan sebuah proyek film yang exciting dengan bintang dan kru berkelas sehingga berpikir "What possibly could go wrong?". Tetapi, bahkan orang-orang yang sangat murah, eh mudah terhibur seperti gw—yang menganggap Speed Racer, Mirror Mirror, Jupiter Ascending, dan The Last Airbender itu nggak jelek, bisa saja keliru. Sekarang, what possibly could go wrong dengan sutradara yang filmnya pernah masuk Cannes (Macbeth versi 2015) serta deretan bintang elit langganan festival film internasional ketika menggarap adaptasi salah satu video game paling terkenal saat ini, Assassin's Creed? Jawabannya: it can go wrong

Gw bukan termasuk gamer dan judul Assassin's Creed hanya gw pernah dengar saja, jadi basically pengetahuan gw nol soal franchise ini. Waktu menyaksikan filmnya, gw sebenarnya cukup tertarik dengan premis ceritanya. Sebuah fiksionalisasi sejarah tentang perseteruan kaum yang disebut Templars dengan Assassins di zaman pertengahan Eropa. Diceritakan Assassins melindungi sebuah artefak misterius yang disebut Apple of Eden, berisi informasi tentang kehendak bebas (free will) manusia, yang juga ingin direbut Templars. Perseteruan ini berlangsung hingga masa modern ke keturunan-keturunannya. Nah, adalah Callum Lynch (Michael Fassbender), seorang kriminal yang diboyong oleh ilmuwan Dr. Sofia Rikkin (Marion Cotillard) untuk sebuah eksperimen organisasi Abstergo. Menggunakan peta DNA dan mesin virtual reality bernama Animus, Cal disuruh mengalami kehidupan leluhurnya, Aguilar de Nerha (Fassbender juga), seorang Assassin di Spanyol abad ke-15, untuk menemukan Apple of Eden. Cal sebenarnya enggan, apalagi ia baru mengetahui bahwa statusnya sebagai keturunan Assassin-lah yang membuat kehidupannya berantakan sejak kecil, lah ini lagi musti nurutin keinginan orang pasang mesin di badan yang nyambung ke otak dan sarafnya. Namun, Abstergo tak kehabisan cara agar Cal menuruti kemauan mereka.

Seandainya cerita film ini se-straightforward itu, gw mungkin masih akan tertarik. Akan tetapi, film ini seperti menyusahkan diri sendiri dengan bertutur sok misterius dan sok pelan-pelan seolah-olah penuh misteri, padahal nggak. Motivasi Cal atau Abstergo atau Sofia tidak pernah diberikan utuh sampai hampir filmnya habis, padahal kalau udah diberesin di awal, paling nggak salah satunya aja, 'kan tinggal ikutin aja proses selanjutnya. Gw bayangkan ceritanya bisa saja begini: "Cal, lo gw minta jadi si Aguilar dan lihat di mana dia sembunyiin Apple of Eden-nya, imbalannya catatan kriminal lo bersih," terus baru deh konfliknya antara si Cal fascinated sama teknologi dan visualisasi kehidupan abad lampau, tetapi nggak kuat menjalani proses ini karena dipaksa, nggak etis, atau mesinnya punya efek samping mematikan. Atau apa kek. Bahwa ternyata filmnya berdurasi hampir dua jam tapi plotnya kalau disimpulkan cuma cariin Apple of Eden yang kemudian digunakan untuk hal-hal yang nggak baik, ngapain juga mesti selama itu? Sepertinya sih film ini kesulitan mencari reason yang tepat untuk menunjukkan aksi abad pertengahan dan aksi zaman kontemporer seperti game-nya, tetapi jadinya sekenanya aja, kurang imajinatif, dan kurang makna.

Hal yang lebih mengesalkan lagi adalah bagaimana film ini dikemas. Ooooh my God...mau dibilang film action, sci-fi, atau thriller pun film ini kayak nggak nyampe di sisi manapun. Problem pertama gw adalah lajunya yang kurang greget, semua dilambat-lambatin, emosinya pun (kalau ternyata harusnya memang ada) tidak keluar. Ingat gw bilang tadi, film ini dibintangi pemain langganan festival bergengsi, berharap dramanya bisa nggigit dong, tetapi yang terjadi mereka nggak bisa berbuat apa-apa bila skenario, atau pengarahan, atau mungkin editing-nya nggak memberi mereka kesempatan untuk at least live up to their reputations. Soal production design atau visual effects atau action-nya, gw yakin film ini oke di sana. Tapi justru si yang bikin film yang kayaknya nggak yakin. Saking nggak yakinnya, segala sesuatu di film ini harus disorot dalam cahaya temaram, atau ketutup asap, atau ketutup debu, atau ketutup backlight, baik asli ataupun bikinan digital, buram aja semua. Gila ye, misalkan setiap adegan panorama kota, yakali satu kota bakar sampah bareng-bareng sampe berasap semua gitu. Aneh-aneh aja deh. Apa sih yang ditutupi? Apa sih yang mau dicapai dari segala siluet dan asap dan debu itu? Estetika? Dikira wayang kulit? Jika memang itu sudah visi atau style sutradaranya, gw putuskan nggak akan mau nonton filmnya dia lagi. It's even worse than J.J. Abrams' lens-flares.

Yang bisa gw simpulkan dari hasil akhir film Assassin's Creed ini adalah orang-orang yang terlibat kurang passionate di sini. Setelah sekian dekade berbagai video games dibuat jadi film layar lebar, tim produksi film ini rupanya masih termasuk kelompok yang nggak tahu bagaimana mengangkat video game yang exciting jadi film yang sama exciting-nya, mereka nggak tahu ini materi terkenal yang terlanjur dimiliki ini musti diapain gitu lho. Jadinya kelihatan sekali di mood filmnya secara keseluruhan, maksa, semuanya terlihat murung, nggak ada warna jelas, musiknya terdengar malas, dan apalah adegan-adegan berkelahi di zaman apapun pokoknya harus ada asapnya bagaimana pun caranya. Dodol.




My score: 5/10

[Movie] Dangal (2016)


दंगल
Dangal
(2016 - UTV Motion Pictures/Aamir Khan Productions/Disney India)

Directed by Nitesh Tiwari
Written by Nitesh Tiwari, Piyush Gupta, Shreyas Jain, Nikhil Meharotra
Produced by Aamir Khan, Siddharth Roy Kapoor, Kiran Rao
Cast: Aamir Khan, Sakshi Tanwar, Fatima Sana Shaikh, Zaira Wasim, Sanya Malhotra, Suhani Bhatnagar, Aparshakti Khurrana, Ritwik Sahore, Girish Kulkarni, Anurag Arora


Walau wawasan Bollywood gw sangat-sangat bapuk, gw mengamati bahwa Aamir Khan adalah sosok bintang yang tidak seperti rekan-rekan selevelnya dalam hal karya. Selain filmnya palingan satu dalam satu tahun, dia juga hampir selalu mengambil proyek-proyek yang lebih dari sekadar hiburan hura-hura. Dari dua (iya dua doang *malu*) film Aamir Khan yang gw tonton, Lagaan dan 3 Idiots misalnya, sudah terlihat kecenderungan itu. Sekarang datang Dangal, film berdasarkan kisah kesuksesan atlet gulat putri India pertama yang memenangkan medali emas di kejuaraan internasional Commonwealth Games—olimpiadenya negara-negara persemakmuran atau bekas persemakmuran Inggris Raya. Kisah tersebut kemudian dirangkai dengan berbagai tambahan bumbu sehingga tampak sebagai "film". Akan tetapi, yang cukup mengejutkan adalah bagaimana film ini benar-benar berfokus pada kisah ayah dan putri-putrinya dengan tekad mereka menjadi juara, nggak ke hal-hal lain.

Ini adalah kisah yang begitu sering kita dengar perihal dunia olahraga, cukup dekat juga dengan kita di Indonesia. Mahavir Singh Phogat (Aamir Khan) adalah mantan juara nasional gulat India, yang kini hidup di kampung halamannya di Haryana, kerja kantoran biasa, dan anaknya ada empat. Cita-citanya menang di kejuaraan internasional belum kesampaian, dan keinginan untuk memiliki penerus yang dapat berprestasi lebih baik darinya seolah sirna, soalnya anak-anaknya perempuan semua. Sampai suatu hari putri nomor satu Geeta (Zaira Wasim) dan nomor dua Babita (Suhani Bhatnagar) ketahuan memukuli dua orang anak cowok sampai bonyok. Peristiwa ini bagaikan jawaban atas cita-cita Mahavir dalam bentuk yang berbeda. Mahavir kemudian mendidik kedua putrinya itu untuk jadi pegulat, pertama-tama gulat tradisional di atas pasir, kemudian gulat romawi format olimpiade. Tak hanya menghadapi sulitnya meraih gelar juara, mereka juga harus berjuang dalam menghadapi tekanan sosial sekitarnya, sampai ke ruwet dan kurang-proaktifnya birokrasi ketika Geeta dan Babita dewasa (Fatima Sana Shaikh dan Sanya Malhotra) masuk level profesional.

Secara plot, tak perlu disangkal bahwa Dangal adalah a straight zero-to-hero story. Akan tetapi, dasar Bollywood, tahapan demi tahapannya bisa disajikan dengan begitu mengikat perhatian dan menghibur sekalipun durasinya terbilang panjang untuk standar kita (film ini total 2 jam 40 menit). Perjalanannya ditunjukkan cukup jelas, mulai dari motivasi Mahavir hingga ke detail pelatihan dan pertandingan yang membentuk karakter-karakter ini, semuanya disusun sedemikian rupa sehingga yang nonton nggak ketinggalan apa pun, dan akan paid-off hingga akhir. Tawa, haru, sedih khas Bollywood juga tentu saja diselipkan, sehingga meskipun nggak mengangkat tema cerita terpopuler seperti percintaan--dan adegan tari-nyanyinya cuma satu itu pun di pesta pernikahan jadi ya bukan musical dream-sequence juga, Dangal masih sama nikmatnya disaksikan sebagaimana film-film Bollywood pada umumnya, yang tak pernah membiarkan perhatian penonton teralihkan. Belum lagi film ini disokong oleh production value yang keren banget, dari desain produksi dan sinematografi yang bernuansa realis namun "bertekstur", juga ke musiknya, dan yang paling gw suka adalah dari make-up-nya, bahwa gw jadi exactly know si tokohnya Aamir Khan dan istrinya ini sedang fase-fase umur berapa dari mukanya saja, keren banget. 

Namun, salah satu hal yang paling megang dari film ini adalah kekompakkan elemen drama dengan elemen laga olahraganya yang luar biasa. Dangal punya adegan-adegan olahraga paling seru yang gw saksikan dalam beberapa tahun belakangan, mungkin terakhir sejak gw tonton The Fighter. Bukan cuma greatly choreographed, tetapi juga greatly captured oleh kamera, didukung oleh tata suara kece, dan juga dari penulisan, yang memberikan knowledge tentang peraturan pertandingan sehingga gw ngerti dan merasakan apa yang sedang terjadi (pokoknya dapat poin kalau badan lawan nempel rata ke lantai), serta karena jauh sebelumnya sudah menabur benih kepedulian gw terhadap karakter-karakternya. Tension-nya benar-benar terasa bagaikan nonton langsung, padahal 'kan semuanya udah terjadi dan relatively udah tahu hasilnya kayak apa.

Oke, tadi gw sempat singgung soal ceritanya yang gw bilang sangat terfokus. Terfokus di sini bukan berarti cuma menceritakan satu hal aja ya, tetapi apa yang ditampilkan benar-benar diarahkan untuk benang merah ceritanyanya. Jadi nggak ada subplot-subplot tak penting demi hiburan, not even romance, melainkan dituturkan berbagai peristiwa yang memperkaya plot utamanya. Hubungan ayah dan putri-putrinya yang atlet dan memiliki mimpi bersama ditunjukkan dalam kompleksitas yang masuk akal. Terutama yang gw paling suka saat tiba di episode ketika Geeta dan Babita harus masuk pelatnas di kota besar dengan pelatih dan disiplin berbeda, saat itu pula ikatan antarmereka yang bermuara di gulat dipaksa untuk berubah. Selain itu disinggung pula soal pembinaan olahraga di India yang kurang akomodatif baik di lini bawah maupun atas, pandangan soal peran perempuan di masyarakat yang masih tradisional, hingga sesimpel seruan kalau sanggup jadi juara kenapa nggak dilatih untuk jadi juara.

Meski begitu, gw rupanya tetap merasakan beberapa titik yang kurang sreg, atau kalau mau bahasa kasarnya: India klasik banget. Film ini masih lebih sering menyatakan segala sesuatunya secara terlalu verbal. Gw sih nggak terlalu masalah dengan kalimat-kalimat motivasi yang mungkin klise, namun kalau tiba-tiba ada flashback, atau ada tokoh-tokoh "jahat"-nya mengujarkan kalimat yang menunjukkan betapa jahatnya diri mereka dengan muka sengak, it was just not what I expected dari sebuah film berdasarkan kisah nyata dengan kemasan kontemporer seperti ini, "terlalu too much" kalau kata princess Syahrini dulu. Make-believe yang sudah dibangun baik di awal jadi sedikit ternodai, makin kelihatan "film banget". Bisa lho jalan cerita dan adegannya tetap sama tanpa ada ujaran-ujaran itu, nggak harus segala sesuatu dijelasin pakai kalimat 'kan. 

Untung saja, film ini tetap bisa membungkus akhirannya dengan hangat dan, seperti gw bilang sebelumya, membayar lunas perjalanan panjang mengikuti kisah karakter-karakter ini. Dan pada akhirnya, buat gw Dangal tetaplah sebuah film bertema olahraga yang well-crafted, baik dalam hal penuturan cerita yang dengan baik memasukkan emosi dan pengetahuan, maupun dalam kemasan keseluruhannya. Film ini juga sangat well-acted, dimotori Aamir Khan yang sangat berdedikasi dan ber-layer tanpa harus meledak-ledak (Oscar-worthy kalau bahasa para reviewer mah), dan dapat diimbangi oleh pemain-pemain lainnya, termasuk para aktris remajanya yang luar biasa, mau-maunya tampil kotor dan lusuh dan meyakinkan pula dalam adegan-adegan gulat--kudos buat action director dan koreografernya. Bahwa film ini mampu menarik gw untuk mengalami kehidupan karakter-karakternya dan memahami pilihan-pilihan mereka, serta sejenak jadi sangat tertarik dengan cabang olahraga gulat putri, itu adalah sebuah bentuk keberhasilan. 





My score: 7,5/10

Selasa, 27 Desember 2016

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2016


Kita lanjut dengan senarai 10 teratas album musik tahun 2016 versi gw. "Versi gw"-nya ini kayaknya benar-benar ditekankan lebih dari yang lain, berhubung "10 teratas" ini juga gw dapat dari, like, 13 items =p. Yah, berhubung kalau album itu harus melewati beberapa uji kelayakan, bukan cuma lagu-lagunya bisa diterima kuping saat pertama kali didenger, tetapi juga bisa tetap begitu saat didengarkan berulang-ulang di berbagai situasi (di kamar atau di jalan, di portable music player/iPod atau di mobil dst) yang berhubungan juga dengan bagaimana tracklist-nya disusun, lalu apakah album ini menunjukkan sesuatu dari si artisnya. It's not as serious as it sounds, namun ya itulah kriteria gw agar sebuah album bisa berkesan, dan makanya gw cukup jarang mengulik sebuah album kalau dari single-nya saja gw nggak suka, hehe. Oh ya, ini juga senarai gw yang paling banyak cheating-nya, karena ada beberapa yang tanggal rilis aslinya akhir tahun 2015, tapi ya karena segala sesuatu butuh "proses", gw memutuskan masukin ke tahun ini =). Anyway, setidaknya tahun ini dapet juga 10 teratas, dan inilah mereka.






10. 青の光景 (Ao no Koukei)
秦 基博 (Hata Motohiro)

Setiap albumnya Hata Motohiro layak didengar karena yang nyanyi adalah Hata Motohiro. Ini terdengar seperti fandom akut, tetapi itu kembali terbukti di album orisinalnya yang kelima ini. Materinya sendiri gw nggak bisa bilang suka semua, yah 60 persenlah, karena di sini mulai terasa kayak ada "filler" (maksudnya lagu yang nggak seberapa oke tapi tetep dipakai buat menuhin album), tetapi gw cukup suka dengan beberapa hal coba-coba yang dilakukan di segi aransemen. Mungkin mengikuti judul, mood keseluruhan album ini agak menggambarkan warna "biru", bahkan lebih sendu dari album-album sebelumnya—"Himawari no Yakusoku" itu cuma satu dari sekian track yang begitu. Nevertheless I still rather enjoy it.





9. Get Weird
Little Mix

Ini termasuk yang paling cheating di daftar ini, karena rilis sekitar akhir bulan November 2015—ya bolehlah ya *maksa*. Gw juga baru terdorong untuk dengar satu album pertengahan tahun 2016, and oh boy selama berpekan-pekan album ini selalu gw putar di mobil saking asyiknya sebagian besar isi album ini. Walau girlband Inggris ini udah ada lama, dalam pengamatan gw mereka dan khususnya album ini bagaikan angin segar, karena masih condong ke pop murni yang mengandalkan nada dan beat enak dan mengakomodasi vokal keren keempat personelnya (dan dalam porsi yang adil), bukan berusaha terlalu pengen sok mencampurkan bunyi-bunyian terlalu aneh hanya karena sedang ngetren—yang justru bakal menghilangkan kekuatan melodi dan harmoni mereka. 





8. YELLOW DANCER
星野 源 (Gen Hoshino)

Penyanyi kerempeng dengan tone vokal yang agak berat ini sepertinya cinta sekali dengan warna musik soul 1970-an dan Motown, lalu diaplikasikan dalam melodi dan belokan chord khas pop Jepang yang terkadang terdengar quirky namun menyenangkan juga. Dari deskripsi yang agak ribet dari gw tersebut itulah lagu-lagu dalam album terbaru Hoshino ini meluncur, dari yang style disko lawas sampai ballad yang smooth, dengan bunyi-bunyian yang terdengar vintage tapi juga segar. Nggak salah sih kalau popularitasnya di Jepang makin naik.





7. CIGARETTE & ALCOHOL
LUCKY TAPES

"Perjumpaan" gw dengan band Jepang ini bener-bener kekinian deh: nemu single "Lady Blues" di YouTube, lalu mengulik dan pada akhirnya menikmati album ini di Spotify. LUCKY TAPES ini ketahuan masih indie banget, tetapi album ini cukup menunjukkan kematangan mereka akan musik apa yang mau mereka berikan. Kental unsur rock dan jazz, sekalipun vokalnya kurang "hidup" untuk selera gw, namun lagu-lagu yang dimuat di sini termasuk solid, nyala, dan tentunya sangat enjoyable. Gw bahkan sampai jauh membayangkan mungkin seperti inilah musik Maroon 5 sekarang andai mereka nggak memutuskan berubah =p.





6. 両成敗 (Ryouseibai)
ゲスの極み乙女。(Gesu no Kiwami Otome)

I really wanted this band to be the new Tokyo Incidents, gara-gara percampuran rock-funk-jazz serta skill permainan instrumen yang sama-sama gila, walau akhirnya Gesu no Kiwami Otome belum se-sakit jiwa itu sih =). Apa pun itu, karena sudah tertarik dengan karakter tersebut, gw jadi ngikutin aja apa yang disajikan dalam 17 track di album ini. Walau banyak dibuat chorus yang enak dan gampang diingat, ini jelas bukan pop, pun nada-nada dan bunyi-bunyian "ganjil" kerap muncul, tetapi kerasa betul energi dan passion mereka dalam memainkan setiap lagunya, dengernya pun kebawa seneng.





5. Collage
The Chainsmokers

Gw nggak tahu apakah mereka akan ngeluarin full-length album, tetapi gw harus menempatkan EP berisi lima lagu ini di sini. Belakangan ini kita nggak bisa kabur dari electronic dance music (EDM) yang makin menjajah ranah mainstream, diputar di semua radio, TV, restoran, toko, ITC, sampai acara pesta kantoran, dan sebagian besar dari mereka hanya fungsinya ya untuk itu: meramaikan suasana. Makanya gw senang ketika muncul The Chainsmokers dengan lagu-lagunya yang basisnya EDM tetapi digarap sebagai lagu pop yang utuh, dengan melodi dan lirik, nggak dipanjang-panjangin di interlude. Dari lima lagu di sini, dari yang memang dance abis sampai yang ballad, gw nggak merasa ini EDM yang cuma buat joget-joget maksiat nggak jelas, tetapi ini sebuah album pop yang ramah di kuping kalangan luas. Mungkin mereka Linkin Park-nya ranah EDM.





4. THE STILL LIFE 
平井 堅 (Ken Hirai)

2016 seperti jadi tahun comeback-nya artis-artis J-Pop yang booming di akhir 1990-an/awal 2000-an dengan karya terbaru. Album ini sendiri berjarak lima tahun sejak album orisinal terakhir Hirai di tahun 2011, dan untunglah waktu panjang itu digunakan untuk mengumpulkan materi yang oke-oke. Sejak awal seperti sudah diset dengan mood ceria, album ini menampilkan berbagai variasi bunyi dari basic musik Hirai yang bergerak di pop dan R&B. Yang mellow sih masih ada, bagus-bagus pula, tetapi yang grande, yang groovy, sampai ke yang rock nyeleneh gaya Tokyo Incidents juga tak kalah menarik, dan diramunya juga enak. Seneng deh kalau ada album yang isinya macam-macam rasa tanpa menghilangkan karakter si artisnya seperti ini.





3. Cleopatra
The Lumineers

Gw merasa terlalu sedikit hype untuk album ini. Album kedua trio folk-rock ini memang masih setipe dengan album pertama mereka, namun bukan berarti nggak digarap dengan baik, malah buat gw album ini just as good. Lagu-lagunya yang diberi judul-judul indah dirangkai dalam nada-nada yang ramah di telinga, dan liriknya masih berisi kisah-kisah menarik, dibawakan dengan sincerity baik dari vokalnya maupun sampai ke kecepatan dan intensitas dalam menggenjreng gitar, menekan piano, dan menghentak drum-nya. Mungkin terlalu American untuk sebagian orang, namun buat gw album yang cukup ringkas ini nikmat sekali didengarkan track demi track-nya.





2. Fantôme
宇多田ヒカル (Utada Hikaru)


Ada gap yang lumayan lama dari rekaman terakhir Utada di tahun 2008(!), dan kalau ngikutin beritanya sih lumayan banyak yang terjadi sama doi. Jadi selain vakum dari nyanyi, Utada juga harus kehilangan ibunya yang wafat, lalu dia juga menikah lagi sama orang Italia lalu punya seorang putra. Mungkin itu pula yang memengaruhi musik yang dibawakan dalam album comeback-nya ini, kayak mendewasa. Bukan lagi bunyi-bunyi eksperimental yang mendominasi album-album Utada sebelum ini, Fantôme mungkin mirip dengan album-album awal Utada yang lebih "normal", namun versi lebih kalemnya. Saking segitunya, gw kaget bahwa sebuah karya Utada bisa terdengar semanis, semelodik, dan semelankolis ini. Yah nada-nada dan chord nonstandar juga masih ada, dan berhubung aransemennya tidak terlalu ramai, lagu-lagu gloomy-nya juga terdengar lebih nusuk.








1. Solina
LALA

Buat gw album yang bagus adalah yang simply bisa gw nikmati tanpa keluhan dan tidak terdorong untuk melongkap lagu dari awal sampai ke akhirnya, sekalipun berulang-ulang. Sepanjang tahun ini, yang paling memenuhi itu adalah album dari artis yang juga dikenal dengan nama Lala Karmela ini. Beneran dari lagu pertama sampai kedelapan, yang kali ini banyak diberi sentuhan bunyi pop elektronik ke arah 1980-an (dan berhubung produsernya Widi Puradiredja jadi agak mirip style tiga album terakhir MALIQ & D'Essentials), nggak ada yang gw nggak suka, dan ada rasa gembira setelah mendengar keseluruhannya. Tetapi, kesukaan gw terhadap album ini mungkin juga karena album inilah yang gw nanti-nantikan datang dari Lala, setelah agak let down dengan album Indonesia pertamanya yang kurang berkarakter atau album keduanya yang…gw belum sempat dengar, hehe. Album ini buat gw menunjukkan potensi asli Lala, seorang singer-songwriter dengan suara merdu berbobot dan bakat besar menghasilkan lagu-lagu pop keren nan enak, serta tepat dalam memilih kemasan musik yang pas untuk lagu-lagu tersebut, sehingga jauh dari kesan cari aman.






Year-End Note: My Top 10 Songs of 2016 (Japan)


Kita sampai pada senarai 10 teratas lagu Jepang tahun 2016 versi gw. Untuk yang ini, mau mainstream atau nggak kayaknya nggak ngaruh, berhubung di kita J-Pop statusnya selalu cult nggak pernah mainstream heuheu =(. Seperti yang gw posting di My J-Pop 48, lagu-lagu Jepang yang menurut gw enak sepanjang tahun ini sudah gw kompilasikan di sana, sehingga top 10 ini cuma ambil 10 lagu dari situ. Yah perlu upaya keras penuh keringat dan air mata sih untuk mengeliminasi tujuh lagu lain *padahal nggak*, sehingga terpilihlah lagu-lagu berikut ini.




10. "YAMABIKO" – NakamuraEmi

Gw nggak bisa menjelaskan dengan pasti apa yang diusung dalam lagu ini, pasti ada istilahnya kalau di majalah-majalah musik. Kalau gw sih nangkepnya lagu ini adalah akustik rock, groove, dengan singtalk (?). Anyway, dengan suara bening, lantang, dan enerjik dari artis yang tergolong baru ini, perpaduan tersebut terdengar segar walau sekilas kayak ngomel-ngomel pake bahasa Jepang.






9. "Let It Fly" – Leola

Jika ada keadilan di blantika J-Pop, Leola ini harusnya jadi next best thing. Suaranya yang emang merdu-nggak-ngeselin turut andil dalam memengaruhi gw memasang lagu pop uplifting yang catchy ini cukup sering, selain mbaknya juga enak dilihat sih.






8. "レイディ・ブルース (Lady Blues)" – LUCKY TAPES

Lagu ini "menemukan" gw lewat suggestion di YouTube yang ternyata klop gitu dengan selera gw. Campuran rock dan jazz dari Jepang memang selalu memikat, dan lagu yang kali ini lebih banyak jazz-nya ini juga demikian. Cenderung kalem karena lebih konsen di keys ditambah iringan brass section, tapi lucunya ada segmen riff gitar rock-nya. Lumayan buat angguk-angguk kecil.






7. "TIME" – 平井 堅 (Ken Hirai)

Ini adalah kembali ke bentuk pop klasiknya Hirai, seperti "Life Is…", "Hitomi wo Tojite", atau paling dekat dengan "Gaining Through Losing"—yang di sini lebih terkenal versinya F4, "Meteor Rain" =). Entah karena mengingatkan gw pada lagu-lagu itu atau memang lagunya memang dari sananya enak dengan unsur gospel kental dan orkestra, either way gw sangat menikmati lagu ini.






6. "ブラッドサーキュレーター (Blood Circulator)" – ASIAN KUNG-FU GENERATION

Diminta lagi buat isi opening title-nya anime Naruto Shippuden tahun ini, band favorit gw ini nggak sia-siakan kesempatan membuat sebuah lagu baru yang enerjik, dan kini ditambah dengan permainan melodi gitar dan beat yang makin rapi tapi tetap lincah.






5. "産まれた理由" – 高橋 優 ("Umareta Wake" – Yu Takahashi)

Dari dulu penyanyi dan pencipta lagu ini emang kurang kinclong kemasan luarnya, termasuk di vokalnya yang seringkali dibuat cempreng. Namun, itu harusnya nggak menghalangi bakat serta keterampilannya bercerita lewat lagu dan lirik yang sederhana (sampe gw yang bahasa Jepangnya udah keropos pun langsung ngerti) untuk terlihat. Lagu ini dirancang katanya sih untuk persembahan kepada para orang tua di acara-acara pernikahan. Dari nada hingga cara bernyanyinya tercermin earnestness yang menggugah dan mengharukan.






4. "Maybe" – Brian the Green

Salah satu temuan terbaru gw di J-Pop tahun ini adalah band pop-rock ini, dengan lagu yang begitu laid back tetapi masih ada hentakannya. Lebih dari sekadar catchy, lagu ini juga "diam-diam" memperlihatkan skill personelnya tanpa jadi terkesan pamer, dan semakin memperkuat kecurigaan gw bahwa anak band di sana itu seperti disuruh belajar jazz dulu sebelum main genre apa pun.






3. "スミレ" – 秦 基博 ("Sumire" – Hata Motohiro)

Karena bisanya Hata itu bagusnya di lagu slow, maka setiap ada lagunya dia yang upbeat dan bagus, harus dirayakan =D. Lama sejak "Goodbye Isaac" Hata akhirnya bikin lagi lagu ceria yang bikin semangat, melodi dan chorus yang juga sangat catchy, dan dibungkus dengan permainan instrumen band yang makin ramai dengan string section-nya tanpa jadi berisik. Cuma J-Pop yang bisa begini.






2. "Mint" – 安室奈美恵 (Namie Amuro)

Praduga gw bahwa Amuro itu tukang comot style musik dan artis terkenal (terutama Amerika) agak terpatahkan di single ini—maksudnya gw belum menemukan lagu ini mirip style-nya siapa hehe. Lagu ini jelas pop dance seperti sebagian besar rilisan Amuro, cuma unsur R&B-nya hanya tersisa sedikit dan digeser dengan rock yang bagian electric guitar-nya lumayan serius, dibungkus temponya yang dinamis dan pumping, mancing banget yang denger buat jogedan.








1. "花束を君に" – 宇多田ヒカル ("Hanataba wo Kimi ni" – Utada Hikaru)

Dia akhirnya kembali, namun mungkin tidak seperti yang disangka-sangka. Setelah vakum sekian lama, Utada langsung melempar single yang lembut, syahdu, hangat, dan…simple. Ini seperti stripped down version of her, lagunya dalam medium-tempo dibungkus instrumen-instrumen analog, walau tetap muncul susunan nada dan chord "miring" yang sangat Utada. Lagu ini akan begitu mudah disukai oleh siapa pun, apalagi kalau menyelami liriknya, yang sebenarnya didedikasikan untuk sosok ibu tanpa perlu terlalu berharu-haru ria.





Year-End Note: My Top 10 Songs of 2016 (Indonesia)


Selanjutnya gw akan melempar senarai 10 teratas lagu Indonesia terfavorit gw di tahun 2016. Sama seperti lagu-lagu internasional--dan practically semua top 10-top 10-an gw sih =P, biasanya gw juga akan go mainstream untuk lagu-lagu Indonesia. Mungkin yang jadi agak beda adalah gw menemukan lagu-lagu ini bukan hanya dari radio, tetapi juga dari soundtrack film dan juga berkat rajin keliling YouTube. Inilah mereka.






10. "Dunia Maya" – Ari Lasso

Emang agak corny sih liriknya, tetapi emang secara tepat menggambarkan gimana perilaku era digital dan media sosial saat ini dengan cara yang fun. Dan bahwa lagu ini dibawakan Ari Lasso dengan melodi dan musik pop-rock yang kayak sederhana namun masih berkelas.






9. "Tundukkan Dunia" – Bunga Citra Lestari

Lagu ini seharusnya nggak hanya berhenti jadi soundtrack film 3 Srikandi, tetapi jadi lagu tema event olahraga manapun di negeri ini. Didesain supaya anthemic dengan aransemen megah dan punya efek menggetarkan seperti lagu-lagu wajib nasional, lagu ini did exactly that.






8. "Dari Mata" – Jaz

Jadi ternyata penyanyi ini berasal dari Brunei, yang baru-baru ini memulai rekaman di Indonesia. Tetapi itu tak perlu jadi masalah jika single pertamanya ini sukses menyamankan kuping lewat sentuhan R&B dan ritme dinamis yang sangat menyejukkan.






7. "Memulai Kembali" – Monita Tahalea

Mungkin yang bikin gw begitu tertarik sama lagu ini adalah seperti masih ada ikatan batin tersisa antara Monita dan J-Pop—kalau nggak salah dulu dia audisi Indonesian Idol nyanyinya pun lagu tema kartun Mojacko =D. Lagu ini sangat mengingatkan gw sama style-nya Kiroro atau Lisa Ono, tapi in the end yang penting lagunya lembut seger chilling enak cihuy seperti vokal Monita.






6. "Terang, Berpijar Harapan" – DDHEAR

Salah satu hasil kolaborasi Dialog Dini Hari dan Endah N Rhesa, dua band yang terkenal banget di kalangan hipster indie ini, menghasilkan sebuah lagu yang begitu puitis baik dari lirik maupun dari tiap titinada dan permainan instrumennya. That's all I'm gonna say.






5. "I Don't Care" – Rendy Pandugo

Temuan paling anyar di senarai ini, awalnya gw tahu penyanyi ini meng-cover "Kisah Klasik untuk Masa Depan" yang buat gw kurang impresif, tetapi kemudian doi keluarkan single sendiri yang jauhhh lebih enak. Pop catchy yang blues-y, mungkin inilah karya yang paling soulful dan nggenah dari sekian banyak artis cowok bergitar John-Mayer-esque di Indonesia.






4. "Cinta Cinta Cinta" – Wizzy feat. Sandhy Sondoro

Wizzy, atau dulu dikenal sebagai Williana "Mamamia", saat ini mungkin masih mencari breakout record-nya, tetapi yang dia rilis belakangan ini arahnya udah oke. Wizzy dipercaya untuk membawakan lagunya Sandhy Sondoro dan jatuhnya cocok sekali dengan soul dan groove-nya. This is my only favorite thing from the film Negeri Van Oranje.






3. "Luar Biasa" – Yuka Tamada

Yuka arguably adalah peserta paling berbakat di babak utama Indonesian Idol 8, karena selain di vokal dia juga punya sense bagus dalam gaya bermusik. Makanya ketika dia "menyusup" ke ranah mainstream lewat karya musiknya sendiri, dan hasilnya adalah lagu medium-tempo contemporary pop yang enak banget ini, gw senang bahwa bakatnya itu tidak tersia-siakan terlalu lama. 






2. "Mimpi" – Isyana Sarasvati

Lagu ini menunjukkan the most traditional form dari Isyana, seorang artis yang terdidik secara klasik. Lagunya tetap pop ballad, tetapi bisa banget dirasakan sentuhan klasik dari pemilihan nada dan cara bernyanyinya, yang justru bikin lagu ini semakin menonjol keindahannya.








1. "Ruang Bahagia" – Endah N Rhesa


Lagu indah dari film Athirah yang indah, yang dibawakan dengan indah juga. Meskipun belum menyamai karya-karya ballad terbaik dari duo akustik suami istri, lagu ini mungkin yang paling emosional dari mereka. Lirik-lirik pendek (berbahasa Indonesia) yang penuh makna tentang keluarga, dialirkan bersama melodi dan aransemen sederhana yang melarutkan. Simply beautiful.