Senin, 31 Oktober 2016

[Movie] A Monster Calls (2016)


A Monster Calls
(2016 - Participant Media/River Road Entertainment/Focus Features)

Directed by J.A. Bayona
Screenplay by Patrick Ness
Based on the novel by Patrick Ness
Based on an original idea by Siobhan Dowd
Produced by Belén Atienza
Cast: Lewis MacDougall, Felicity Jones, Sigourney Weaver, Toby Kebbell, Liam Neeson, James Melville, Geraldine Chaplin


Sebelum me-review, gw mau cerita colongan dikit, menonton film yang penontonnya ada anak-anak kecil itu memang menarik ya. Apalagi kalau filmnya kelihatannya cocok untuk anak-anak, tapi ada aja yang nggak cocok. Yang menarik dari pengalaman gw nonton A Monster Calls di bioskop adalah berada satu studio sama seorang anak kecil yang duduk di pojok atas yang sangat aktif dan tidak malu bertanya kepada orang tuanya. Deskripsi ini mungkin pertanda positif bagi pemerhati pertumbuhan anak dan Kak Seto, tetapi dalam situasi yang menuntut sopan santun seperti di dalam bioskop, nanya setiap hal yang terjadi di layar dengan suara keras—"itu lagi nggambar apah?" "itu kenapa nangis?" "itu ibunya kenapa?" "itu suara apah?" "kok gerak-gerak?" "itu mau lari ke mana?" "kok diem?"—tentu lebih ke arah menjengkelkan daripada menggemaskan. Ya 'kan? Maksud gw, 1) mbok orang tua yang mendampingi berbuat sesuatu supaya at least dia ngomongnya berbisik, dan 2) mbok jadi bocah sing sabar gitu lhoo, nanti juga dikasih tahu sama sutradaranyaaa, hadeeeeh. Pesan moral pengalaman ini adalah, selain fakta bahwa I'm not great dealing with little kids, mungkin model tontonan yang dapat diserap dan dinikmati anak-anak zaman sekarang memang sudah bergeser kali ya. Jadi yang mellow dan emosional dan nggak ada ceria-cerianya acan macam A Monster Calls ini mungkin cocoknya buat yang udah gedean.

Anyway, A Monster Calls buat gw seperti ingin membuat gambaran menghadapi situasi yang rumit dan berat dari sudut pandang "anak". Di sebuah kabupaten di Inggris (nggak gitu juga sih tapi ya rumah di sebelah tanah lapang nggak mungkin di kota dong), hidup anak cowok usia praremaja bernama Conor O'Malley (Lewis MacDougall) memang sedang malang-malangnya. Orang tuanya bercerai, bapaknya (Toby Kebbell) sudah punya keluarga baru di Amerika, ibunya (Felicity Jones) sedang berjuang lawan kanker lewat kemoterapi, dan dia nggak suka sama neneknya (Sigourney Weaver) yang galak dan suka ngatur. Ditambah lagi di sekolah Conor sering diintimidasi dan dipukuli teman sekelas yang badannya lebih besar. Situasi menuntutnya untuk dewasa lebih cepat, bahkan ia more or less merawat ibunya yang lemah tubuh. Suatu malam, Conor didatangi oleh monster pohon (Liam Neeson) yang hendak memberi tiga cerita kepadanya, dengan balasan Conor harus membuat cerita keempat yang isinya kejujuran.

Apakah monster pohon itu nyata atau tidak itu besides the point. Yang pasti, kedatangan makhluk imajinatif bukan berarti membuat Conor punya penghiburan. Cerita-cerita yang dituturkan si monster justru merupakan cerita-cerita yang selalu berujung tragedi. Dan berkaitan dengan itu, Conor juga terlihat semakin terpukul dengan keadaannya, apalagi kondisi sang ibu, sekeras apa pun berusaha terlihat sehat, tetap semakin memburuk. Dampaknya, Conor makin bertingkah dan membuat orang-orang di sekitarnya semakin tidak mengerti apa sebenarnya yang ia mau. Well, penonton juga mungkin bertanya-tanya sih, dan memang sepertinya itulah yang dijadikan plotnya.

Bagaimana imajinasi seorang anak menjadi "pelarian" dari situasi di kehidupan nyata yang berat banyak mengingatkan gw pada beberapa film, misalnya Where the Wild Things Are (2009), atau mungkin yang paling dekat sama konsep A Monster Calls adalah Pan's Labyrinth (2007)--juga karena sama-sama melibatkan rumah produksi Spanyol =D. Nggak terlalu baru, tetapi buat gw premis ini masih sama-sama menarik sih, apalagi A Monster Calls lebih banyak memasukkan unsur kekinian. Gw cukup bisa dengan mudah masuk dalam aliran cerita film ini, baik tentang deskripsi Conor yang masih di antara anak-anak dan dewasa, maupun keberadaan si monster pohon beserta cerita-ceritanya yang divisualisasikan dengan cantik lewat animasi dan efek visual keren. Penggambaran tentang apa yang dirasakan dan diinginkan oleh Conor pun menurut gw bisa tersampaikan dengan baik dan bisa dipahami.

Jadi, dengan penceritaan serta persembahan visual demikian, secara keseluruhan film ini sudah menjalankan fungsinya untuk bercerita. Namun, seperti gw singgung di awal, gw merasa atmosfer film ini kurang bisa menarik perhatian dan hati gw lebih dari itu. Film ini sejak awal (amat) sangat di-setting untuk jadi mengharukan--coba cek lagi gambaran situasi Conor di awal cerita, dan jadi nggak mengejutkan lagi ketika filmnya juga berakhir dengan cara demikian. Sedikit keceriaan muncul beberapa kali saat muncul si monster pohon, tetapi itu ya sedikit sekali. Paham sih, baik karena ceritanya memang bukan haha-hihi, maupun karena pembawaan yang dipakai pembuat filmnya memang tidak cerah dari sononya. Cuma, somehow, gw tidak ikut terbawa pada sisi itunya, gw mungkin hanya sampai pada sebatas prihatin daripada empati--atau alasannya sesederhana gw punya hati yang lebih beku dari french fries Golden Farm =P.

Akan tetapi, gw nggak akan menampik bahwa A Monster Calls adalah sebuah film yang disajikan dengan baik dari banyak segi. Penuturannya, visualnya, akting para pemainnya, musiknya, bagian-bagian ini layak dapat jempol. Namun, ya itu tadi, filmnya mungkin tidak berbentuk complete entertainment yang bisa bikin tertawa sampai menangis, karena lebih cenderung diarahkan untuk menangis doang =D. And that's fine, gw yakin banyak orang akan terpuaskan dengan sajian yang demikian. Tapi, kalau buat gw, jadi kurang asyik dan kurang meresap sepenuhnya aja.





My score: 7/10

Selasa, 25 Oktober 2016

[Movie] Ada Cinta di SMA (2016)


Ada Cinta di SMA
(2016 - Starvision)

Directed by Patrick Effendy
Screenplay by Haqi Achmad, Patrick Effendy
Story by Salman Aristo
Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Cast: Iqbaal Dhiafakhri, Teuku Ryzki, Alvaro Maldini, Caitlin Halderman, Gege Elisa, Agatha Chelsea, Cassandra Lee, Tora Sudiro, Cut Keke, Ikang Fawzi, Wulan Guritno, Rima Melati, Reza Nangin, Epy Kusnandar, Auxilia Paramitha, Ibob Tarigan, Fandy Christian, Nikki Frazetta, Ridwan Ghany, Isabella Fawzi


Sangat mudah untuk nge-judge bahwa Ada Cinta di SMA adalah sebuah film nggak penting yang hanya mau mendompleng nama boyband remaja CJR (d/h Coboy Junior) yang pamornya juga mulai agak mereda belakangan ini. Apa sih yang bakal membedakan film ini dengan roman-roman berseragam SMA lainnya yang muncul tanpa henti di layar lebar kita sejak fenomena Ada Apa dengan Cinta 14 tahun yang lalu? Ternyata emang agak beda. Ketika film-film roman remaja SMA yang nggenah sulit dicari, Ada Cinta di SMA muncul sebagai sebuah pengecualian. Padahal sebenarnya film ini tidaklah terlalu ambisius ataupun serba mewah. Cuma, karena jadi produk yang memang digarap paling pas dan rapih di antara karya-karya sejenis yang kebanyakan bland dan bahkan asal-asalan, film ini jadi terlihat cemerlang dari yang lain-lainnya.

Yang jadi tokoh sentral film ini adalah personel CJR yang konon paling ngganteng, Iqbaal Dhiafakhri yang berperan sebagai anak SMA lincah ceria tapi suka iseng bernama...Iqbal—iya, "a"-nya dikurangin satu, serta seorang siswi judes ambisius bernama Daihastu Ayla (Caitlin Halderman). Ceritanya si senior favorit Kiki (Teuku Ryzki) akan berakhir masa baktinya sebagai ketua OSIS. Iqbal didorong oleh Kiki dan beberapa orang sekitarnya untuk calonkan diri sebagai ketua OSIS, dan lawannya adalah Ayla. Iqbal dan Ayla sudah kenal sejak kecil, tetapi hubungan mereka memang kurang akur, dan persaingan jadi ketua OSIS semakin mempertajam itu. Tetapi, yah namanya juga film roman, proses menuju kursi ketua OSIS justru bikin keduanya jadi sering ketemu dan jadi dekat lagi. Oh, btw, si Aldi (Alvaro Maldini) itu jadi sahabat dekat dan satu band-nya Iqbal yang kemudian jadi ketua "tim sukses" Iqbal, karena dengan itu anggota band-nya bakal bisa nambah =D.

Nah, terus, apa yang bikin gw bilang film ini agak beda? Somehow, gw merasakan film ini genuine, mulai dari ceritanya, penokohannya, sampai penuturannya. Okelah filmnya ternyata berformat komedi musikal dengan beberapa momen tokoh-tokohnya bernyanyi, tetapi buat gw film ini bisa menangkap esensi masa-masa SMA dengan wajar. Film ini nggak memberat-beratkan yang ringan dan nggak meringan-ringankan yang berat, dan menurut gw itu poin penting. Persoalan besar anak-anak ini adalah persaingan organisasi di sekolah, cinta-cintaan remaja, dan sedikit pergumulan di keluarga masing-masing. Tetapi pembawaannya nggak langsung tiba-tiba mellow atau overdramatic, dan masih dalam perspektif anak-anak usia segitu—atau mungkin itu hanya asumsi gw saja haha. Bahwa persoalan yang diangkat tidak dikesankan seolah-olah dunia mau kiamat, menurut gw adalah keputusan paling tepat yang diambil oleh pembuat film ini. It's just high school, so let's just sing it out =P. Ketika ada persoalan yang melibatkan perasaan, maka alasan, proses, dan reaksinya juga terbilang wajar. Ketika ada persoalan yang agak lebih berat—seperti Iqbal yang nggak pernah dianggap mampu berprestasi oleh keluarganya dan Ayla yang punya problem komunikasi dengan ibunya yang supersibuk, pun nggak sampai mendistraksi atau memaksa tokoh-tokohnya untuk jadi sok gede. Nggak serba dibikin-bikin, maka gw nontonnya pun jadi asyik.

Tapi, yah namanya juga menyesuaikan dengan genre dan target penontonnya, mungkin akan banyak yang menemukan film ini tidak memberikan kedalaman atau gebrakan yang gimana gitu. Gw juga ngerasa begitu, kadang unsur komedinya terlalu cengengesan buat gw, ada keklisean di sana-sini, juga masuknya satu dua subplot kadang terasa terlalu melebar di beberapa titik. Namun, ya nggak apa-apa juga. Film ini nggak perlu untuk jadi deep atau groundbreaking, asalkan tepat takaran dan tepat sasaran, itu rupanya sudah cukup jadi tontonan yang solid. Dan, mungkin karena dimainkan oleh pemain-pemain yang memang masih remaja dan memang bisa akting, ya itu tadi, lebih terlihat otentik, sampai ke dialog antarmereka pun mengalir dengan gaya dan intonasi yang wajar.

So yeah, buat gw Ada Cinta di SMA adalah film yang, pertama-tama, dirancang dengan baik, lalu berhasil menghibur sebagaimana adanya. Eksekusi teknisnya juga terbilang amanlah sekalipun nggak bisa dibilang wahid—can't really expect much in this part dari produk Starvision yang umumnya dibuat cepat. Dan, adanya unsur musikal nggak mengganggu gw dalam mencerna film ini secara keseluruhan. Malahan, unsur gerak dan lagu ini jadi bumbu yang mengangkat kenikmatan menyaksikan film ini, memberikan percikan hiburan yang menyenangkan dengan lagu-lagu pop ringan yang enak didengar—personal favorite gw adalah "Cinta Salah" yang dinyanyikan Ayla =)—dan tampilan visualnya pun nyaman, luwes, dan cukup exciting, didukung oleh dinamika tata kamera dan editing yang tampak terbantu banyaknya variasi angle gambar, sebagaimana musikal modern seharusnya *ini agak bermaksud nyindir film yang lain =p*. Betapapun, pelajaran dari keberadaan film ini adalah, nggak semua film yang tampaknya market-driven banget itu seburuk yang dikira.





My score: 7/10

Minggu, 23 Oktober 2016

[Movie] Wonderful Life (2016)


Wonderful Life
(2016 - Visinema Pictures/Creative & Co)

Directed by Agus Makkie
Screenplay by Jenny Jusuf
Based on the novel by Amalia Prabowo
Produced by Angga Dwimas Sasongko, Rio Dewanto, Handoko Hendroyono
Cast: Atiqah Hasiholan, Sinyo, Alex Abbad, Lydia Kandou, Arthur Tobing, Putri Ayudya, Edward Akbar, Abdurrachman Arif, Totos Rasiti, Didik Nini Thowok


Dari berbagai segi, anggapan yang timbul di gw tentang film Wonderful Life adalah betapa modest-nya film ini. Dari judul yang kurang spesifik, premis cerita yang kurang "nyubit", sampai pada sutradaranya yang debutan dan belum pernah gw dengar sebelumnya. Satu-satunya unsur yang masih membuat gw tertarik sama film ini adalah rumah produksinya, Visinema Pictures yang dipimpin sineas Angga Dwimas Sasongko—yang melahirkan film Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi, dan Surat dari Praha. Kali ini Angga menyerahkan kursi sutradara kepada Agus Makkie yang katanya berasal dari dunia iklan. Kisah Wonderful Life sendiri juga diangkat dari kisah nyata seorang ibu yang anaknya disleksia--gangguan fisik yang membuatnya kesulitan membaca.

Anak tersebut bernama Akil (Sinyo), di cerita film ini digambarkan masih kelas tiga SD. Di saat-saat ini, ibunya, Amalia (Atiqah Hasiholan) menyadari bahwa Akil tidak sama seperti anak-anak yang lain. Akil hampir tidak pernah menyimak pelajaran, belum bisa membaca, malah lebih sering menggambar. Akil didiagnosis disleksia dan autis ringan, yang secara medis tidak bisa "disembuhkan", tetapi Amalia bersikeras untuk mencari cara agar Akil sembuh dan bisa mengejar ketertinggalan dengan anak-anak lain, belum lagi ada tekanan dari ayah Amalia (Arthur Tobing_ dalam hal mendidik anak selepas Amalia berpisah dari suaminya (Edward Akbar). Maka sebagaimana orang Indonesia umumnya jikalau merasa solusi medis tak bisa dipercaya, Amalia mengajak Akil dalam sebuah perjalanan mencari pengobatan-pengobatan alternatif. Di saat-saat ini mungkin harusnya jadi momen Amalia semakin dekat dengan Akil, tetapi yang terjadi Amalia semakin tidak mengerti bagaimana mendidik Akil agar jadi anak "normal".

Satu hal yang gw cukup salut dari film ini adalah pilihannya untuk tidak bermelodrama. Biasanya jika dalam proyek cerita film sudah ada frase "perjuangan seorang ibu" pasti langsung dieksekusi dengan cara-cara memeras air mata, seperas-perasnya. Mungkin itu juga karena pembuat film memilih karakterisasi Amalia yang bukan sosok sempurna. Seorang wanita karier dengan ambisi tinggi, ambisi itu kemudian ditransfer ke Akil, tetapi ternyata ambisi itu juga punya latar belakang yang cukup panjang. Sebenarnya bisa dibaca bahwa cerita film ini bergerak ke arah Amalia dan Akil bisa berdamai dan saling memahami, khususnya dalam road trip yang mereka lakukan bersama dalam mobil terbaru Toyota Sienta =)). Dan, yah kalaupun Akil sering dipandang punya kekurangan, nyatanya dia excells di bidang lain, tetapi ini pun bagusnya tidak serba dieksploitasi untuk jadi "inspiratif", semuanya berjalan natural saja. 

Namun, gw merasa ketika film ini memang nggak serba melebih-lebihkan, kadang kala itu juga dieksekusi dengan mengurang-ngurangkan. Maksud gw, sayang banget bahwa selama road trip Amalia dan Akil, tidak pernah ada titik-titik emosi yang sampai memuncak, semua berjalan lempeng saja, walaupun situasi yang dihadapi ibu dan anak itu bermacam dan berwarna. Bukan berarti nggak tersentuh, cuma tersentuhnya kayak sampai ke depan mata saja, nggak sampai ke hati gw, ada yang kurang di-ugh-in pada adegan-adegan ini, ini termasuk salah satu adegan yang mungkin jadi titik emosi tertinggi road trip ini (hint: pasar), tetapi itu juga sayangnya happened too quickly, jatuhnya hambar. Gw baru merasakan emosi itu saat Amalia sudah kembali ke rumah, tetapi itu pun gw merasa ada set-up yang kurang ditekankan jelas sebelumnya sehingga adegan-adegan ini agak terasa tiba-tiba muncul.

Buat gw, Wonderful Life adalah film yang cukup mampu menyampaikan maksudnya dalam penuturan ceritanya, hanya saja kurang didukung oleh eksekusinya, yang baru sebatas menuturkan cerita, belum memberi "rasa" yang maksimal, atau bahasa populernya "pil-nya kurang dapet " =p. But you know, dengan segala ke-modest-annya, film ini tetap cukup bisa dinikmati secara apa adanya, bisa ditonton dengan santai tanpa beban. Toh, film ini didukung oleh akting bagus dari para pemain-pemainnya sekalipun mungkin masih bisa di-"korek" lagi sih kemampuan mereka untuk lebih menghidupkan film ini. Belum sampai wonderful, tapi cukup.





My score: 6,5/10

[Movie] Snowden (2016)


Snowden
(2016 - Open Road Films/Endgame Entertainment)

Directed by Oliver Stone
Screenplay by Kieran Fitzgerald, Oliver Stone
Based upon the book "The Time of the Octopus" by Anatoly Kucherena
Based on the book by Luke Harding
Produced by Moritz Borman, Fernando Sulichin, Philip Schulz-Deyle, Eric Kopeloff
Cast: Joseph Gordon-Levitt, Shailene Woodley, Nicolas Cage, Melissa Leo, Zachary Quinto, Ray Wilkinson, Rhys Ifans, Timothy Olyphant, Ben Schnetzer, Joely Richardson, Scott Eastwood, Logan Marshall-Green, Lakeith Lee Stanfield, Ben Chaplin


Waktu rame berita tentang pembocor rahasia intelijen Amerika, Edward Snowden sekitar tahun 2013 lalu, emang kedengeran seperti materi film banget ya. Setelah tersiar wawancara Snowden di Hong Kong yang ungkap bahwa intelijen AS punya akses ke semua kamera dan gadget di seluruh dunia untuk memata-matai, dia langsung jadi buronan. Dari Hong Kong dia tadinya mau ke negara Amerika Selatan tapi pas transit di Rusia dia stuck di bandara karena paspornya sudah dicabut masa berlakunya. Dan, well, ternyata pihak Rusia mau menampung Snowden sampai sekarang—dan berhubung Rusia juga nggak punya perjanjian ekstradisi dengan AS karena you know-lah hubungan kedua negara itu. Tak perlu waktu lama untuk menjadikan ini sebuah film fiksi layar lebar, dan sineas kawakan Oliver Stone-lah yang mendapat giliran pertama lewat Snowden.

Here's the thing, kalau kita dengar isi informasi yang disampaikan Snowden, sebenarnya agak nggak ngagetin ya. Gambaran bahwa intelijen AS yang oh so cenggih selalu punya alat untuk memata-matai targetnya sudah sering banget kita dapat dari film-film spionase. Tetapi, jadi mengejutkan bahwa itu ternyata benar-benar dilakukan di dunia nyata ini. Dan, yang di point-out oleh Snowden di sini adalah ketiadaan batasan dalam akses itu, ke siapa dan untuk apanya bisa tidak terawasi, termasuk ke warga negara AS sendiri, yang artinya melanggar prinsip dasar AS tentang kebebasan individu. Belum tentu yang diawasi itu benar-benar teroris, bisa saja hanya karena dia adalah salah satu teman dari salah satu teman dari salah satu tetangga dari salah satu saudara dari salah satu orang yang dicurigai tersangkut terorisme. Makanya, salah satu imbauan Snowden yang jadi viral adalah tutup kamera laptop kalau nggak perlu Bahkan pelawak-pelawak internet kemudian lebay dengan bilang orang kesepian ngomong aja sendiri di depan komputer atau gadget karena pasti didengerin intelijen AS =D. 

Dengan pengetahuan gw yang sebatas itu tetang Snowden, gw cukup menghargai bahwa film Snowden bisa memberikan insight lebih dalam dari semua itu, baik tentang kasusnya maupun tentang Snowden itu sendiri. Tentu ada dramatisasi, tapi untungnya tidak mendistraksi informasi yang ingin disampaikan. Ed Snowden (Joseph Gordon-Levitt) adalah geek yang konservatif dan patriotis ingin membela negara dengan masuk militer, tapi ia kemudian dikeluarkan karena cedera yang cukup parah. However, kepandaiannya yang luar biasa membawanya jadi staf di badan intelijen CIA sampai kerja kontrak dengan NSA. Dari depan komputer sampai turun ke lapangan ia coba, tetapi ada satu hal yang sangat mengganggu nuraninya, yaitu pemerintah AS bisa menggunakan semua alat elektronik yang ada di dunia untuk kepentingan intelijen, tanpa harus menunggu prosedur yang sudah ditetapkan. Profesi sebagai staf intelijen juga memengaruhi kehidupannya dengan sang pacar, Lindsay (Shailene Woodley), dan Snowden pun jadi paranoid sendiri setiap lihat kamera. Hingga suatu saat, Snowden memutuskan untuk membocorkan rahasia intelijen AS itu kepada seorang dokumentarian Laura Poitras (Melissa Leo) dan dua jurnalis Glenn Greenwald (Zachary Quinto) dan Ewen MacAskill (Tom Wilkinson).

Gw sendiri sebenarnya kurang khatam sama film-film Oliver Stone, bahkan mungkin belum pernah ada yang gw tonton utuh. Tetapi, yang gw denger Stone memang gemar menjadikan filmnya sebagai ekspresi politiknya untuk mengritik negaranya sendiri, AS—fyi berhubung sosok Snowden masih berstatus buronan pemerintah AS, film Snowden ini rupanya dibiayai oleh perusahaan film Jerman, haha. Dan gw juga merasakan itu di Snowden, dan kerasa banget bahwa Stone termasuk pro-Snowden. Nggak dipungkiri juga bahwa secara legal si Snowden itu melanggar peraturan, tapi kayaknya sih Stone nggak mau menganggap Snowden itu pengkhianat negaranya, malah bahwa pemerintah AS-lah yang duluan melanggar undang-undang dan mengkhianati rakyatnya sendiri. Bahkan ada bagian yang cukup gamblang ketika disebutkan pergantian presiden ke Barack Obama nggak mengubah apa-apa. Stone semacam ingin membongkar bahwa yang (katanya) dilakukan negaranya untuk melindungi rakyat belum tentu dilakukan dengan cara yang selalu benar, dan mempertanyakan kembali apakah AS si adidaya itu benar-benar negara terhebat di dunia, dan hebat dalam arti yang bagaimana.

Politics aside, film Snowden buat gw berhasil memperkenalkan sosok Edward Snowden dengan cukup komprehensif. Dari motivasinya dalam mengambil keputusan-keputusannya, sampai ke sifat-sifat dan pergumulan pribadinya bisa dimengerti sepanjang film ini. Tapi gw rasa ini juga ada kaitannya dengan performa akting Joseph Gordon-Levitt bersama para cast pendukung yang wajah-wajahnya familier itu—sampe-sampe gw pikir Snowden itu produksi Starvision Plus yang kebiasaan film-filmnya sampai ke pemeran tukang pos lewat aja selalu orang-orang tekenal =P. Awalnya emang agak aneh melihat Gordon-Levitt ngomong pakai suara rendah yang dibuat mirip sama Snowden asli, tetapi doi sukses membaurkan gestur dan emosinya sehingga gw nggak merasa terganggu, yakin aja bahwa dia adalah Snowden. 

Namun, as a whole movie, dengan tema yang seru dan penuturannya juga cukup menarik, film ini sebenarnya tidak sebegitunya enjoyable buat gw. Durasi lama (2 jam lebih 10 menitan) itu kerasa banget, dan memang mungkin karena banyak aspek yang ingin disampaikan atau, well, dikomentari oleh Stone, filmnya jadi agak melelahkan di beberapa titik. Adegan penutup sebelum credit-nya, misalnya, panjang amat dah ngemengnya =D. Ya untunglah gw tetap bisa nangkep maksud film ini serta informasi-informasi yang terkandung di dalamnya, dan penampilan cast-nya tetap bisa membuat film ini lebih hidup. Plus, walaupun sinematografer-nya si Anthony Dod Mantle, film ini nggak kelihatan kayak meniru gaya sienas Danny Boyle, tidak seperti seperti yang terjadi pada film-filmnya Ron Howard belakangan ini =P. Then again, gw tetap mengapresiasi bahwa film Snowden bisa menyampaikan maksud-maksudnya dengan baik, sampai ke gambaran bahwa nggak semua mata-mata CIA itu tampilan dan skill-nya kayak Jason Bourne. Filmnya sudah menang di penggambaran kisahnya yang realistis, dan tetap memunculkan emosi dan drama yang diperlukan.





My score: 7/10

Senin, 03 Oktober 2016

[Movie] Athirah (2016)


Athirah
(2016 - Miles Films)

Directed by Riri Riza
Screenplay by Salman Aristo, Riri Riza
Based on the novel by Alberthiene Endah
Produced by Mira Lesmana
Cast: Cut Mini, Christoffer Nelwan, Arman Dewarti, Jajang C. Noer, Indah Permatasari, Nino Prabowo, Tika Bravani, Andreuw Parinussa, Dimi Cindyastira


Gw udah dengar proyek film Athirah dari awal 2015--ciee sok hipster =p, dan timbul excitement sekaligus sedikit keheranan. Kiprah Riri Riza bareng Mira Lesmana dalam Miles Films udah terkenal jempolan deh, paling tidak film-film mereka punya standar kualitas yang baik, entah itu yang pasarnya luas seperti Petualangan Sherina, Laskar Pelangi, AADC, ataupun yang spesifik seperti Atambua 39° Celsius, Sokola Rimba, dan mungkin juga Gie sekalipun filmnya tergolong muahal. Ada pola yang terbaca di sini bahwa Miles nggak ragu untuk mengangkat kisah tokoh nyata dan populer. Tetapi, mungkin gw nggak mengira aja bahwa mereka sampai ke tokoh yang dikenal secara nasional sebagai pejabat pemerintahan, dan masih menjabat. Entahlah, buat gw kisah kehidupan orang-orang yang seterkenal itu, apalagi dengan embel-embel "inspiratif" itu...apa ya...kayak udah kebal aja. Sebab, biasanya film-film begini polanya sama: oke fine situ lewati masa susah sampai akhirnya sukses, biar orang yang nonton termotivasi atau sekadar kagum. Untunglah, Athirah tidak memilih rute itu.

Film ini berdasarkan kisah hidup dari Athirah, ibunya Jusuf Kalla, wakil presiden kita sekarang. Sampai di sini mungkin masih akan muncul pertanyaan, apakah film ini dibuat hanya karena dia ibunya orang terkenal. Sebenarnya, angle berbeda bisa dilihat jika mengetahui bahwa nama Athirah juga cukup terpandang di Makassar, baik sebagai bagian dari keluarga Kalla yang empunya grup usaha besar di kawasan Indonesia bagian Timur, maupun namanya yang diabadikan untuk lembaga pendidikan di sana. Namun, bukan itu juga yang diangkat di film Athirah. Lalu apa dong? Well, kehidupan orang, sesukses apa pun, kadang tak berjalan sempurna. Dalam hal ini, Riri dan Mira serta penulis Salman Aristo (hey, Laskar Pelangi reunion!) tampak ingin menyorot salah satu bagian paling personal dari keluarga ini, yaitu berkutat pada masa-masa ketika Athirah dimadu oleh suaminya.

Sulawesi Selatan tahun 1950-an, pada awalnya kepindahan Haji Kalla atau disapa Puang Ajji (Arman Dewarti) dan istrinya, Athirah (Cut Mini) ke Makassar berjalan mulus tanpa kendala. Usaha dagang Puang Ajji berjalan sukses dan membuatnya jadi tokoh terpandang, sementara Athirah setia mendukung usaha itu sekaligus mengurus rumah dan anak-anak mereka yang saking banyaknya I lost count =D. Tetapi, suatu ketika Athirah mengetahui bahwa suaminya telah menikah lagi dengan wanita lain, dan naturally diikuti dengan suaminya tidak lagi selalu pulang ke rumah yang mereka tinggali bersama. Film ini mengikuti upaya Athirah, juga Ucu (Christoffer Nelwan) a.k.a. Jusuf Kalla remaja sebagai anak laki-laki tertua dalam menghadapi perubahan ini, dan bahwa upaya itu bukan dengan tetesan air mata atau amarah histerikal, far from that. Karena ternyata dari sinilah Athirah dimampukan untuk berdikari dan justru semakin mengokohkan keluarganya.

Gw suka sekali sama pilihan kreatif film ini, mulai dari angle cerita sampai pada penyajiannya. Membuat batasan khusus bahwa ini kisah Athirah yang dilanda problem rumah tangga yang spesifik membuat gw tidak kehilangan arah sama apa yang mau diceritakan film ini. Tahapan-tahapannya bisa gw ikuti dengan baik, dari awalnya yang tampak bahagia, dibenturkan dengan masalah poligami, lalu ke fase kecewa dan pergolakan Athirah yang masih ngharep suaminya kembali seutuhnya pada dirinya--disimbolkan sarung mas kawin dari suami tetap dieman-eman, sampai ke titik balik kebangkitannya yang seolah bilang "Whatever, dude, I'm gonna make my own money out of this sarung," =D. Ketika filmnya punya subplot tentang Ucu remaja, terutama pertemuan dengan wanita yang kemudian jadi istrinya, tetap terkait pada problem yang dibahas film ini.

Gw senang bahwa selain ceritanya terfokus, film ini tidak berusaha terlalu keras untuk menunjukkan bahwa kisah ini "inspiratif", malahan gw merasa bahwa hebat juga keluarga ini mau menunjukkan secuplik kisah pribadi mereka yang kemudian didramatisasi seperti ini. Bukan serba mengagungkan, melainkan justru sisi yang menurut gw paling vulnerable, yang membuat cerita dan tokoh-tokoh ini terasa hidup dan dekat. Bukan pula soal kesusahan-kesuksesan, melainkan soal perasaan. In the end, apakah filmnya inspiratif atau nggak, pilihan tokoh-tokohnya itu benar atau salah, tetap dikembalikan ke penonton--karena pasti ada yang mempertanyakan "Kenapa sih jeung udah digituin nggak ditinggal ajah?" tapi film ini nggak nyari-nyari pembenaran untuk itu. Speaking of pembenaran, salah satu hal lagi yang gw suka dari tema yang diangkat di film ini adalah nggak ditunjukkannya alasan spesifik untuk poligami. Karena menurut gw, kenyatannya, memang tidak pernah akan ada alasan yang tepat untuk berpoligami *uhuk film-filmya Fedi Nuril*. It's just because. Ditambah lagi dalam konteks film ini, pilihan tersebut dimaklumkan secara sosial, walau nggak juga bisa lolos dari pandangan miring sih.

Jika ada yang menyempurnakan apa yang gw suka dari hal-hal di atas, adalah cara penyampaiannya yang menurut gw puitis. Meskipun cerita dan temanya termasuk dalam ranah populer alias sering banget kita dengar sehari-hari, Athirah bukanlah tipe film yang di-deliver terlalu verbal. Ini bukan film yang banyak adu dialog, melainkan dialog menjadi pelengkap dari cerita yang sedang disampaikan. Sementara, ceritanya itu lebih banyak disajikan dalam bahasa gambar: dari situasi, ekspresi, gestur, benda, yang untungnya mudah dimengerti. Bersyukurlah, ini bukan film diem-dieman aneh yang malah bikin bingung dan kesal, bukan juga film cerewet yang segala-gala musti dijelasin pakai kata-kata, namun dengan takaran yang tepat--dari penataan adegan hingga editing yang punya ritme kadang cepat kadang ngerem plus musiknya yang luar biasa indahnya, film ini menyuntikkan maksud-maksudnya dengan mulus di pemahaman gw. Toh, dengan cara penuturan yang demikian gw paham apa yang sedang melanda hati Athirah dan Ucu, tetap bisa ketawa dan terharu juga, walau mungkin tidak dalam jenis terbahak atau tersedu.

Buat gw, Athirah adalah seindah-indahnya film Indonesia. Bukan cuma soal gambar dan pemandangan, apalagi dengan reputasi Riri dan Miles Films jelas sisi production value pasti jempolan--tata artistik-kostum-suara-musik-lagu, sinematografernya pak Yadi Sugandi pula. Melainkan juga dari apa yang dituturkan dan cara bertuturnya, yang juga "kawin" dengan akting bagus para pemainnya dan unsur-unsur lainnya--even the poster is one of the most brilliant and beautiful ones I've seen in years. Keindahannya itu bahkan sanggup membuat gw sedikit, well, memaafkan kekurangannya. Yang gw maksud adalah intensitas di adegan yang menurut gw itu adalah klimaks, tetapi nggak berasa klimaks karena begitu cepat berlalunya. Seperti adegan-adegan lain di film ini, I understood the idea of that scene, cuma ya itu, kurang nge-punch aja.

Akan tetapi, kembali lagi, gw sudah cukup dipuaskan dengan keindahan film ini. Hanya dalam 81 menit durasinya, film ini sudah menceritakan apa yang perlu diceritakan, dengan tambahan pada detail-detail yang menarik untuk digali di setiap adegannya. Dan, setelah dipikir lagi, film ini tetap konsisten dalam membuatnya kisah tentang sosok Athirah, karena gw perhatiin tokoh Ucu baru terlihat bicara setelah filmnya jalan separoh, hahaha. Definitely different than the JK we know today, mungkin supaya nggak terlalu mendistraksi, ya baguslah. Film ini nggak terbebani dengan "sosok terkenal" atau "inspiratif", tetapi kembali ke persoalan personal yang tak kalah matters, yang malah menurut gw lebih terhubung dengan banyak orang. Dan, yang paling penting, memperlakukan sebuah materi kisah yang sebenarnya nggak jarang diangkat menjadi punya karakter tersendiri, berkelas dan anggun.





My score: 8/10