Rabu, 27 Juli 2016

[Movie] Star Trek Beyond (2016)


Star Trek Beyond
(2016 - Paramount)

Directed by Justin Lin
Written by Simon Pegg, Doug Jung
Based on the TV series "Star Trek" created by Gene Roddenberry
Produced by J.J. Abrams, Roberto Orci, Lindsey Weber, Justin Lin
Cast: Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban, Zoe Saldana, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Idris Elba, Sofia Boutella, Joe Taslim, Lydia Wilson, Shoreh Aghdashloo, Deep Roy, Melissa Roxburgh


Star Trek adalah one of thoses story materials yang bikin gw tertarik bukan semata-mata karena jalan ceritanya, tetapi karena dunia yang dibuatnya--istilah kerennya: world-building. Bagaimana si kreatornya menyuguhkan ide sebuah dunia lain, bukan juga asal mengarang bebas, tetapi ada konstruksinya, memerhatikan sampai ke rules, sejarah, tata letak, teknologi, sosial, budaya, pokoknya sampai ke bagian-bagian terkecil dikreasikan sehingga 'dunia' itu terkesan hidup. Biasanya yang kayak begini gampang nyantol di gw, sama halnya dengan Star Wars, The Lord of the Rings, serial Game of Thrones, bahkan Pacific Rim dan Warcraft kemarin, misalnya. Nah, khusus untuk Star Trek, mereka nggak cuma berhasil dalam world-building, tapi juga di karakter, dan itulah yang menurut tangkapan gw masih dijunjung tinggi di film-film reboot-nya, Star Trek (2009) dan Star Trek Into Darkness (2013)--yang sebenarnya lebih ke alternate universe-nya daripada reboot, makanya ada dua Spock: versi muda dan versi tua yang datang dari semesta serial aslinya.

Akan sangat dimaklumi kalau film lanjutannya, Star Trek Beyond juga masih memakai karakter sebagai jangkarnya. Tetapi, dengan ada dua film yang sudah lebih bertitikberat pada karakter, kini saatnya kru pesawat penjelajah antariksa Enterprise untuk benar-benar "menjelajah", sebagaimana setiap episode serial TV-nya dulu. Gw yang lebih duluan familier dengan serial Star Trek: The Next Generation teringat (agak samar-samar sih, dekade 1990-an 'kan gw...kayak baru lahir gitu deh =p) bagaimana pesawat besar ini menjadi semacam "rumah" bagi para krunya dengan fasilitas komplet dan hubungan antartokoh yang banyak dinamika. Lalu beberapa waktu lalu gw sempat lihat rerun serial Star Trek orisinal di saluran berlangganan *meski sering ketiduran karena alon banget lajunya ^_^; namanya juga gaya lama ye*, setiap episode membawa mereka ke sebuah planet, makhluk, benda, atau situasi baru yang kerap hadirkan gonjang-ganjing di dalam pesawat, mulai dari disusupi tokoh-tokoh manipulatif, sampai ada Captain Kirk versi jahat. Jadi, tampaknya memang sudah saatnya film-film Star Trek versi baru move on dari origin story dan merapatkan diri pada konsep petualangan dengan cerita-cerita lebih ajaib seperti yang dulu dikenal.

Dalam misi berjangka 5 tahun menjelajahi sisi ruang antariksa yang belum terjamah dan menjadi juru damai antarplanet, kru pesawat USS Enterprise pimpinan Captain James T. Kirk (Chris Pine) sudah masuk tahun ketiga, dan udah agak lelah juga. Mereka memutuskan mampir sejenak di Yorktown, sebuah stasiun luar angkasa metropolitan milik United Federation of Planets (semacam PBB antarplanet di masa depan). Tetapi, mereka nggak bisa beristirahat lama, karena ada sebuah panggilan minta tolong dari seorang alien bernama Kalara (Lydia Wilson) setelah pesawat dan krunya jatuh di planet tak terpetakan. Kru Enterprise kemudian berangkat dengan misi penyelamatan, namun ternyata di sana mereka diserang secara brutal oleh sekelompok makhluk pimpinan Krall (Idris Elba). Enterprise karam, dan para kru terdampar dan terpencar di planet asing itu. Mereka harus saling menemukan dan menyelamatkan, sementara Krall ternyata tengah merancang rencana untuk membuat serangan lebih dahsyat ke Federasi.

Salah satu hal yang gw sangat sukai dari Star Trek Beyond adalah konsepnya, bahwa nggak perlu selalu ada pesawat luar angkasa untuk membuat ceritanya jadi "terasa Star Trek". Toh, yang bikin menarik adalah dunianya dan para karakternya. Pada satu titik di sini karakternya diceraiberaikan di beberapa tempat berbeda: Kirk dengan Chekov (Anton Yelchin), Spock (Zachary Quinto) dengan Dr. 'Bones' McCoy (Karl Urban), Uhura (Zoe Saldana) dengan Sulu (John Cho), lalu yang selalu jadi penyegar suasana, Scotty (Simon Pegg) bertemu dengan karakter baru bernama Jaylah (Sofia Boutella). Meski Kirk jadi pemimpin, di sini dikedepankan bahwa semua anggota utama ini punya peran dan porsinya hampir seimbang. Si kapten--yang sering diasumsikan sebagai si jagoan utama--nggak harus ada di semua adegan untuk membuat ceritanya tetap terasa penting dan menyatu, karena tokoh-tokoh lain juga sama pentingnya. Oh, dan ini nggak cuma soal mereka terdampar di planet asing, taruhannya juga besar, yaitu keselamatan ratusan kru Enterprise yang lain serta kedamaian semesta yang akan terusik.

You know, karena udah agak lama kenal sama materi ceritanya, dan makin ter-hooked setelah Star Trek 2009, gw jadi gampang terima aja sama apa yang ditampilkan Star Trek Beyond. Soal teknologi-teknologi yang tidak belum bisa diaplikasikan sekarang bisa gw ikuti dengan pasrah, demikian pula sajian action-nya yang terus terang seru sekali. Mungkin beberapa fans lama akan menganggap Star Trek seharusnya tidak sebising ini, karena yang dar der dor duar duar itu gayanya Star Wars =P. Tapi, buat gw action yang diterapkan di Star Trek versi-versi baru ini, selain mengikuti tuntutan sebuah film blockbuster era sekarang, feel-nya bedalah sama toko sebelah, karena memang konsepnya lebih ke semangat kolektif ketimbang satu-dua orang dengan motivasi pribadi. Kerasa juga sih Star Trek Beyond ini menampilkan action yang menyerempet ke "Fast & Furious in space" berhubung sutradaranya si Justin Lin (Fast & Furious 4, 5, 6), dan masuk pula beberapa adegan pertarungan mirip The Raid--juga cukup menjelaskan kenapa ada aktor Indonesia, Joe Taslim di sana sebagai tangan kanannya Krall =). Tapi untungnya itu nggak terlalu menghilangkan sisi karakter dan ceritanya. It's fine and still exciting, dan bakal menghibur penonton secara lebih universal. 

Nah, walau demikian, gw nggak bisa bilang bahwa Star Trek Beyond melebihi (setidaknya) dua film pendahulunya. Gw perlu berpikir cukup lama kenapa begitu, dan akhirnya ketemu satu hal yang film ini kekurangan: nilai kebaruan. Star Trek 2009, meski memakai deskripsi tokoh yang lama, penyajiannya itu fresh banget dan beda dari Star Trek yang udah ada, bikin gw terpikat sama karakter-karakternya, sedangkan gaya directing dan penuturannya juga lincah dan asyik banget. Star Trek Into Darkness punya plot yang dibuat agak lebih ngejlimet *pasti gara-gara penulis Damon Lindelof =p* tapi asyiknya juga masih ada. Star Trek Beyond jadi berkurang asyiknya karena apa yang ditampilkan kayak udah pernah ditampilkan sebelumnya, semacam mau banyak easter egg dan referensi, tapi jadinya agak terlalu banyak. Enterprise jatuh udah pernah ada, katastrofi di tengah kota penuh penduduk apalagi, bahkan motivasi si Krall juga agak familiar. But it's okay, karena gw sih lihatnya semuanya diramu cukup enak dalam sebuah tontonan sinema, nggak terasa usang. Kalau digambarkan secara singkat, mungkin Star Trek Beyond ini seperti salah satu episode serial Star Trek lama tapi dengan injeksi action yang ramai seramai-ramainya dan visual mewah semewah-mewahnya.

Buat gw, Star Trek Beyond adalah kelanjutan yang oke dari dua film sebelumnya, agak lebih light tapi nggak mengecewakan. Dan, sekalipun filmnya terkesan ingar-bingar, film ini done a good job untuk masih memasukkan filosofi-filosofi yang selalu jadi unsur kebanggaan dari Star Trek, serta, again, menanamkan ide-idenya melebihi cerita yang dituturkan. Salah satunya soal asal-usul dan cara kerja si Krall yang sebenarnya menarik banget untuk diulik walau tidak diberi waktu lebih untuk dipaparkan panjang lebar--kalau gw cerita lebih dari ini bakalan spoiler hehe. Masih fun, visualnya canggih kekinian, humornya cukup oke, masih respek sama brand Star Trek, dan masih bikin gw mau menantikan petualangan dari para kru Enterprise ini di film-film selanjutnya.





My score: 7,5/10

NB: Kita kayaknya agak meng-underestimate fakta ini, tapi perlu dicatat, digarisbawahi, ditandai, dan dirayakan bahwa ADA AKTOR INDONESIA DI STAR TREK, MENNN!!!! Dan bukan cuma cameo lho *applause*.

Jumat, 22 Juli 2016

[Movie] Koala Kumal (2016)


Koala Kumal
(2016 - Starvision)

Directed by Raditya Dika
Screenplay by Raditya Dika
Based on the book by Raditya Dika
Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Cast: Raditya Dika, Sheryl Sheinafia, Acha Septriasa, Nino Fernandez, Cut Mini Theo, Anggika Bolsterli, Dwi Sasono, Dede Yusuf, Ernest Prakasa, Fero Walandouw, Adipati Dolken


Rasanya baru kemarin film Single dirilis, film yang more or less membuat gw mulai nge-set ekspektasi bagaimana Raditya Dika sebagai komedian-sutradara-penulis dapat menghasilkan film dengan production value seoke itu selanjutnya. Eh, tujuh bulan kemudian dirilislah Koala Kumal, yang lebih merupakan follow up dari film-film Raditya Dika sebagai Raditya Dika di Cinta Brontosaurus, Manusia Setengah Salmon, dan Marmut Merah Jambu--semuanya mengambil judul dari buku-buku komedi karya Dika. Tetapi, ceritanya sendiri bukan sekuel dari film-film itu, tokoh-tokohnya pun dirombak semua kecuali Dika. Dan, untungnya lagi, cerita film ini agak bergeser dari tipikal film-film Dika soal gebetan, pacar, mantan gebetan, mantan pacar, dan so on, tetapi udah bergeser ke jenjang (nyaris) menikah. Well, yea, nggak jauh beda sih, masih ada unsur mantannya--dan sepertinya kita memang harus mulai menerima bahwa Dika mungkin untuk waktu yang lama akan membuat cerita dari setiap jenjang hubungan percintaan, but at least kita bisa berharap ada unsur pendewasaan di sini.

Well, kalau dilihat Koala Kumal ini memang tidak se-"mahal" Single, tetapi itu bisa dikompensasikan dengan konsep dan materi cerita yang gw akui menarik. Nyaman aja melihat tuturan cerita film ini yang memang fokus pada satu hal, yaitu "berbagai cara untuk move on dari gagal nikah", ketimbang harus merembet ke persoalan sana-sini, sesuatu yang gw kerap temukan di film-film Dika sebelum Single.

Jadi ceritanya Dika (Raditya Dika) yang telah dalam tahap akhir perencanaan pernikahan dengan Andrea (Acha Septriasa)--bahkan udah purchase apartemen untuk tempat tinggal mereka, harus menelan pil pahit bahwa ia batal menikah, lantaran Andrea jatuh cinta dengan orang lain, seorang dokter bernama James (Nino Fernandez). Dampaknya berkepanjangan dan lumayan signifikan, Dika yang seorang penulis nggak kunjung dapat ilham untuk menulis buku terbarunya, dan ia juga nggak kunjung membuka hati untuk perempuan yang baru. Sampai suatu hari ia ditemukan oleh Trisna (Sheryl Sheinafia), seorang mahasiswi dengan kelakuan eksentrik yang mengajak Dika melakukan berbagai hal untuk menyembuhkan patah hatinya, mulai dari datang ke biro speed dating sampai balas dendam terhadap perlakuan Andrea.

Dengan filmografi Raditya Dika dan temanya yang masih berkutat di percintaan, memang agak sulit untuk meyakinkan bahwa Koala Kumal menghadirkan sesuatu yang beda. Tapi, ternyata gw sendiri melihat bahwa film ini memang menampilkan perbedaan dari film-film Dika sebelumnya, dan itu cukup menyegarkan. Yang gw maksud terutama adalah penempatan dan porsi tokoh-tokoh perempuannya, baik yang jadi love interest maupun yang lainnya, lebih dieksplor dari film-film Dika sebelumnya. Trisna sendiri adalah simply Dika dalam wujud perempuan dan versi lebih ekspresif, Andrea juga punya banyak momen kekonyolannya, sedangkan satu lagi tokoh bernama Kinara (Anggika Bolsterli) yang berpotensi jadi love interest baru Dika juga bukan dirancang bak malaikat tanpa kepribadian. Dimainkan pula oleh aktris-aktrisnya dengan asyik--Sheryl yang dikenal sebagai musisi tampil mengesankan di debut aktingnya, jadi buat gw Koala Kumal jadi terasa lebih seimbang dari film-film buatan Dika yang lain.

Dari segi humor, yah, lagi-lagi tergantung selera. Di sini belum ada yang bisa bikin gw terbahak-bahak, beberapa yang dimaksudkan lucu bahkan sama sekali nggak memancing saraf tawa gw, tapi sekadar giggle sih lumayan nggak jaranglah. Tuturannya mengalir cukup enak dan visualnya pun nggak terlalu ganggu. Ada kesan lebih mature yang dikelola dengan cukup baik, bisa bikin gw cukup terbawa dengan kegelisahan yang hendak disampaikan--khususnya dari tokoh Dika dan Trisna, bukan dengan deretan kalimat "tiba-tiba deep", tetapi juga masih bisa tampil santai dan ringan. Dan walaupun topik yang diangkat mungkin masih not big enough buat gw, gw nontonnya juga tetap enjoy tanpa banyak keluhan berarti karena disampaikan dan dikemas dengan cukup enak, dan somehow menunjukkan sedikit peningkatan Dika sebagai pembuat film. Seandainya posternya nggak kayak gitu =P.





My score: 7/10

Senin, 18 Juli 2016

[Movie] Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (2016)


Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea
(2016 - Rapi Film)

Directed by Guntur Soeharjanto
Screenplay by Alim Sudio
Based on the novel by Asma Nadia
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Bunga Citra Lestari, Morgan Oey, Giring Ganesha, Ringgo Agus Rahman, Dewi Yull, Lee Won-joo, Wawan Wanisar, Indra Bekti, Tasya Nur Medina, Ferry Ardiansyah, Jonathan Na Kwang-hoon, Lim Kyung-ae, Shim Sang-soon, Adlila Jelita


Sepertinya belakangan memang ada semacam perkawinan antara melodrama cinta dan unsur Islami, dalam artian filmnya sendiri pada dasarnya cerita cinta yang menampilkan tokoh-tokoh yang mementingkan identitas agamanya--dalam hal ini Islam, bukan film religi yang eksklusif untuk kalangan sendiri, dan not necessarily religius-religius amat, menurut gw. Salah satu nama yang lagi hits dalam cerita-cerita tersebut adalah Asma Nadia, pengarang yang karya-karyanya lagi sering-seringnya diadaptasi ke film maupun sinetron, yang semuanya memang memuat unsur Islami sekalipun genrenya bukan cuma cinta-cintaan aja. Beliau ini yang bikin cerita Emak Ingin Naik Haji, Assalamualaikum Beijing, Surga yang Tak Dirindukan, Pesantren Impian, dan the phenomenal sinetron Catatan Hati Seorang Istri. Kini giliran kisah Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea yang diadaptasi ke layar lebar.

Kalau dilihat dari permukaan, film ini memang formulaik sekali: kisah cinta, pemain rupawan dan terkenal, tokoh utama wanita berjilbab, setting di luar negeri *dan gw baru ngeh di posternya tulisan 'Korea'-nya paling gede*, berdasarkan novel yang katanya laris dan fenomenal--sekalipun gw nggak pernah tahu standar "laris" dan "fenomenal" di penerbitan Indonesia itu kayak gimana =P. Plus satu tokoh yang secara general tidak akan disangka muslim (dalam hal ini cowok Korea tampan dan bisa bahasa Indonesia) ternyata muslim. Salah satu, beberapa, atau semua unsur tersebut akhir-akhir ini sering muncul di film-film bioskop mainstream kita, yang membuat gw berkesimpulan para produser film ini menganggap inilah formula film yang dapat menarik banyak penonton kita, dengan asumsi kebanyakan dari mereka adalah wanita, muslim, dan masih remaja hingga ibu-ibu muda *entah survei-nya bagaimana tapi yah iyain aja*. Tapi, untuk membuat film ini nggak cuma alat untuk memancing audiensnya untuk rela membeli tiket bioskop semata, filmnya sendiri harus digarap dengan proper dong.

Ceritanya memang rather soapy, tapi yah aku bisa apa =p. Di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, Rania (Bunga Citra Lestari) ketemu dengan pemuda Korea Selatan, Hyun-geun (Morgan Oey, patut dipuji usahanya untuk tampilkan aksen dan gestur Koreanya, satu hal yang lebih penting daripada muka) dengan first impression yang kurang baik, debat soal negara mana yang lebih indah, sekalipun sudah dijembatani oleh Alvin (Ringgo Agus Rahman) yang memang sepertinya jadi semacam database segala sesuatu dalam cerita ini, haha. Beberapa waktu kemudian, Rania diundang sebuah proyek penulisan di Korea Selatan. Rania dan Hyun-geun bertemu lagi di sana, tapi kini dengan impresi yang berbeda, malah timbul percik-percik cinta *biar mirip sama judulnya*. Dengan hati dan keyakinan udah sejalan, keadaan jadi lebih mudah? Yaaaaa nnnggggaaaaaklaaaah. Rania ternyata sudah didesak oleh saudara-saudaranya yang resek semua untuk segera kawin dengan teman lamanya, Ilhan (Giring vokalis Nidji), sementara Hyun-geun juga somehow sudah bertunangan dengan Jeung-hwa (Lee Won-joo). But of course, komitmen Rania dan Hyun-geun masing-masing jadi semakin tegoyahkan seiring kebersamaan mereka berdua.

Terlepas dari susunan ceritanya yang demikian--gw nggak mau banyak berkomentar karena siapalah gw nge-judge fantasi milik orang =P, menurut gw Jilbab Traveler termasuk lolos sebagai film yang proper digarap dan enak ditonton. Konsep idenya cukup menarik buat gw, Rania dikisahkan sebagai seorang traveler, lalu menceritakan hasil perjalanannya dalam bentuk tulisan yang diterbitkan dan foto dari kamera mirrorless Panasonic Lumix-nya =), sekaligus menjadi semacam "duta" tentang nilai-nilai Islam di setiap tempat yang ia singgahi. Hal ini didukung penuh oleh ayahnya (Wawan Wanisar), yang tak seperti anggota keluarga yang lain, lebih mendukung Rania menjelajahi dunia ketimbang memaksa kawin cepat-cepat. Mungkin ini semacam upaya dari Asma Nadia--yang juga seorang wanita berjilbab--untuk mematahkan anggapan bahwa wanita berjilbab itu "nggak bisa ke mana-mana". Dan, walaupun di tengah cerita gw sampai terlarut bahwa memilih jodoh yang lebih dekat tentu akan lebih make sense buat Rania, which is Ilhan yang woh lelaki baik-baik suami-material banget dan menantu idaman mamah-mamah deh, tetap saja akan lebih heartwarming bila wanita mandiri seperti Rania mendapat pria yang lebih sehati sepikiran *aawww* *garuk-garuk salju di hutan Winter Sonata*.

So you see, dengan cerita yang serba melodramatik, kalimat-kalimat dialog yang (maksa) oh-so-touching, belokan-belokan cerita yang disiapkan buat bikin "meleleh"--lagi-lagi soal segala hal romantis yang dilakukan para lelaki untuk wanita yang dicintainya *aawww* *garuk-garuk gentong pasta kedelai fermentasi*, ditambah lagi menjelang akhir filmnya jadi stretchy dengan kesenduan berlebih, rupanya gw masih bisa mengunyah dan menelan film ini. Sepertinya ini berkat penuturan plot yang mengalir lembut tapi lancar, which is good karena selama ini gw memang merasa sutradara Guntur Soeharjanto termasuk penutur cerita yang baik dan mampu mengarahkan para pemainnya untuk bermain maksimal walau tampak effortless--Bunga, Morgan, Ringgo, Giring, dan Dewi Yull mainnya asyik sekali di sini. Dan, yang jadi keberuntungan terbesar buat gw yang sudah beberapa kali nonton film garapan Guntur--yang sering tertutupi oleh upaya komersialisasi produksi filmnya (99 Cahaya di Langit Eropa, Runaway, LDR, kecuali Tampan Tailor which remains his best), Jilbab Traveler didukung oleh nilai produksi yang nggak main-main. Dari desain produksi, sinematografi, kostum, suara, semuanya enak banget untuk dinikmati, sangat niat dan dirancang untuk memberikan tekstur sehingga filmnya lebih kaya secara audio visual, tanpa colong-colongan, poles-polesan darurat, ataupun keblingeran gambar pemandangan. 

Buat gw, film ini nggak sempurna, tetapi paling tidak bisa menjadi salah satu display yang pantas dari talenta orang-orang yang terlibat di dalamnya, dan memuat ide dasar yang bisa gw terima dengan nyaman, sesuatu yang jarang bisa gw dapatkan di film-film roman semacam ini. Ke sana-sananya sih jadi nggak spesial lagi, tetapi dengan penggarapan dan kemasan yang oke, film ini nggak sampai bikin kesal dan masih adalah logikanya dikit. Mungkin nggak menimbulkan spark =), tapi kalau dikatakan layak ditonton, ya layak.





My score: 7/10

Rabu, 13 Juli 2016

[Movie] The Legend of Tarzan (2016)


The Legend of Tarzan
(2016 - Warner Bros.)

Directed by David Yates
Screenplay by Adam Cozad, Craig Brewer
Story by Craig Brewer, Adam Cozad
Based on the 'Tarzan' stories created by Edgar Rice Burroughs
Produced by Jerry Weintraub, David Barron, Alan Richie, Tony Ludwig
Cast: Alexander Skarsgård, Samuel L. Jackson, Margot Robbie, Christoph Waltz, Djimon Hounsou, Jim Broadbent, Sidney Ralitsoele, Simon Russell Beale, Casper Crump


Setiap generasi yang hidup sekarang kayaknya kenal dengan setidaknya satu versi dari kisah Tarzan. Gw sendiri kenal Tarzan dari serial TV versi modern yang ditayangkan RCTI di tahun 1990-an--yang setelah gw cek Wiki ternyata judul aslinya adalah Tarzán karena diproduksi Prancis dan Kanada. Lalu kemudian ada Tarzan versi animasi Disney dan beberapa kali pemutaran film parodi Tarzan versi Benyamin S. Baru kemudian gw tahu bahwa Tarzan itu dari seri cerita klasik karya pengarang Inggris, Edgar Rice Burroughs dari tahun 1910-an, dan sudah berulang kali diadaptasi dalam bentuk apa pun media dan genre yang bisa kita bayangkan *termasuk...you know...*, jadi hampir nggak ada yang bisa disebut "versi aslinya". Dalam bayangan awal gw, proyek The Legend of Tarzan dari Warner Bros. atau waktu itu nickname-nya Tarzan 3D kayak nggak ada hal baru untuk ditawarkan, selain mungkin kemajuan efek visual. Tetapi, rupanya film pertama yang gw tonton dari sutradara David Yates di luar franchise Harry Potter ini tetap punya daya tarik, surprisingly.

Mungkin masih dalam rangka kecenderungan beberapa studio Hollywood (kecuali Disney) membuat kisah-kisah yang grounded dan gritty, lahirlah The Legend of Tarzan ini. Memang film ini nggak membuat Tarzan jadi serba realistis, toh tetap saja ini ceritanya Tarzan si pria bule yang dibesarkan oleh kawanan gorila dan mampu berkomunikasi dengan hewan serta berperilaku kebinatang-binatangan tapi somehow nggak brewokan. Tetapi, di sini ceritanya semacam napak tilas Tarzan setelah masa-masa dia tinggal di hutan dan menemukan jati dirinya sudah lewat--sekalipun film ini bukan sekuel dari film mana pun. Kini dia sudah "beradab" dan mendapat kembali identitas sejatinya sebagai anak bangsawan Inggris bernama John Clayton III alias Lord Greystoke, saat diminta kembali ke hutan Congo demi sebuah misi di awal abad ke-20. Digabungkanlah kisah Tarzan itu dengan sedikit unsur sejarah masa penjajahan bangsa Eropa di benua Afrika, lalu digabungkan dengan tema universal manusia melawan alam. 

John Clayton III (Alexander Skarsgård) kini tinggal di rumah warisan keluarganya di London bersama istrinya, Jane (Margot Robbie)--kali ini si mbaknya digambarkan sebagai orang Amerika anak dari guru asing di sebuah suku di Congo. Dilatarbelakangi oleh upaya raja Belgia untuk mempromosikan pembangunan wilayah jajahannya di belantara Congo setelah selama ini menumpuk utang, John diundang untuk mengunjungi kembali tanah tempat ia dibesarkan itu, toh dia adalah Tarzan, "seleb" yang terkenal karena kisah hidupnya sebagai raja hutan, citra yang sebenarnya banyak terdistorsi oleh sensasi media. Sebenarnya, ada sebuah rencana di balik diundangnya John ke Congo. Rupanya, orang kepercayaan raja Belgia di Congo, Kapten Léon Rom (Christoph Waltz) hendak menangkap dan menyerahkan John kepada bernama Mbonga (Djimon Honsou), kepala sebuah suku asli di Congo, demi mendapatkan kuasa atas wilayah tambang berlian opar yang legendaris dan mahal itu.

Keadaan jadi sedikit kompleks ketika John dan Jane justru nggak langsung memenuhi undangan Rom, melainkan lebih mementingkan kunjungan kembali ke sebuah pemukiman suku asli tempat dulu mereka tinggal. Dan di saat bersamaan, seorang utusan diplomasi dari Amerika, George Washington Williams (Samuel L. Jackson) turut dalam perjalanan mereka, karena hendak membuktikan praktik perbudakan tersembunyi di kawasan Congo yang dicurigai dilakukan demi menutup-nutupi kebangkrutan raja Belgia. Tak terima, Rom pun memulai taktik agar tujuan awalnya tercapai. Pertikaian antarpihak dan kepentingan ini pun membawa John kembali jadi Tarzan, kali ini pakai celana.

Satu hal yang dapat gw simpulkan dari film ini adalah semuanya diceritakan dalam "bahasa manusia", jadi kita nggak akan melihat hewan-hewan tiba-tiba bicara bahasa Inggris karena itu udah bagiannya The Jungle Book =P. Buat gw cukup menarik konsepnya, bahwa film ini hendak menunjukkan 'Tarzan di balik legenda', salah satunya adalah cara dia berkomunikasi dengan hewan dan apa yang menyebabkan Tarzan bisa memanggil hewan-hewan sesuai cue *psst..karena menirukan suara musim kawin =D*, karena agak lebih masuk akal ketimbang just-because-he-can. Unsur fantasinya jadi seperti berkurang setengahnya, tetapi untungnya bisa di-make-up dengan unsur petualangan, laga, dan plotnya yang tetap bikin film ini masih punya daya tarik.

Dengan plot yang sebenarnya agak ribet itu--apalagi dengan banyak kepentingan berbeda di satu tempat, film ini masih bisa menyajikannya dengan cukup mudah diikuti. Tidak sesederhana baik lawan jahat--karena penokohannya tetap protagonis dan antagonis, tapi nggak sampai terlalu berat-berat mikir. Melihat bagaimana peran kolonialisme dalam mengeksploitasi sebuah wilayah tentu bukan hal asing lagi, kita orang Indonesia juga tahu itu. Tetapi, di sini diletakkan konteks yang cukup berlapis, ada soal utang, perbudakan, manipulasi media, prajurit bayaran, dan ada pula adu domba orang pribumi *anggap saja Tarzan itu pribumi*, bukan sekadar ambisi satu atau sekelompok orang (atau korporasi) jahat yang tiba-tiba gusur hutan, tapi ada tahap-tahapnya. Bahkan, di sini Tarzan tidak selalu digambarkan serba heroik, walau kemampuannya masih agak-agak superhero sih. Jujur gw nggak menyangka film yang harusnya sekadar senang-senang dan biasanya jadi sasaran empuk kritikus pedes seperti ini bisa meng-handle tema-tema itu bersamaan dengan presentasi adventure keseluruhan yang, well, didn't suck.

Yah, gw merasa sih film ini mungkin tidak akan jadi kisah Tarzan paling...emm...legendaris sepanjang masa. Meski menyinggung isu-isu menarik, film ini kayak kekurangan daya magis, terutama dari orisinalitas kali ya. Visualnya bagus tapi belum sampai membelalak mata, visual efeknya oke tapi nggak groundbreaking juga *dikira bangun apartemen*, aktor-aktornya oke tapi nggak sampe brilian, dan walau gw tidak merasa terganggu dengan model selang seling flashback tentang kisah asal muasal dan masa lalu Tarzan di bagian awal dan pertengahan film ini, penuturannya pun kadang agak menjenuhkan karena mungkin agak kurang humoris untuk film jenis hiburan. Eh, tapi mungkin itu juga gara-gara adegan 'ginian' dan 'gituan'-nya disuruh dihilangin oleh LSF, padahal kayaknya nggak bakal vulgar deh kalau di Amerika-nya aja juga rating-nya remaja, tapi ya orang sensor kita sekarang aneh-aneh sih standarnya =(.

So, gw hargai bahwa The Legend of Tarzan setidaknya bisa menafikan keraguan gw bahwa keberadaan film ini percuma aja. Untuk sebuah materi cerita karakter yang telah banyak dan lama dikenal, film ini mengangkat versi yang cukup segar dari sana. Bolehlah.




My score: 7/10

Senin, 11 Juli 2016

[Movie] Sabtu Bersama Bapak (2016)


Sabtu Bersama Bapak
(2016 - Max Pictures/Falcon Pictures)

Directed by Monty Tiwa
Screenplay by Adhitya Mulya, Monty Tiwa
Based on the novel by Adhitya Mulya
Produced by Ody Mulya Hidayat
Cast: Abimana Aryasatya, Acha Septriasa, Arifin Putra, Deva Mahenra, Ira Wibowo, Sheila Dara Aisha, Ernest Prakasa, Jennifer Arnelita, Rendy Kjaernett


Baru tiga bulan lalu kita disuguhkan film garapan Monty Tiwa, drama remaja Raksasa dari Jogja, di Lebaran kali ini hadir lagi film drama terbaru dari Monty, yang bisa dibilang lebih ke lingkup dewasa muda, Sabtu Bersama Bapak. Berdasarkan novel karya Adhitya Mulya (penulis novel Jomblo yang diadaptasi jadi film di tahun 2006), dari judulnya aja sudah terdengar melankolis ya. Konsep judul ini menggambarkan sebuah keluarga kecil di Bandung yang harus kehilangan sosok bapak karena sakit parah ketika dua putranya masih kecil. Tak rela absen dari tumbuh kembang anak-anaknya, sosok bapak bernama Gunawan Garnida (Abimana Aryasatya) ini membuat serangkaian video--before vlog was cool--yang berisi nasihat-nasihat yang diucapkannya, yang akan disaksikan oleh istri dan kedua putranya setiap hari Sabtu, selepas dirinya meninggal dunia.

Dalam gulirannya, Sabtu Bersama Bapak menjadi semacam film dengan tiga jalan cerita saling silang dari Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra) serta ibu mereka, Itje (Ira Wibowo). Di usia 30-an, Satya terlihat punya kemapanan yang diinginkan banyak orang, punya istri cantik dan rajin, Rissa (Acha Septriasa) dan dua putra, bekerja di perusahaan pertambangan dan tinggal di Paris, Prancis. Akan tetapi, bukan berarti segalanya jadi lebih mudah. Satya yang bekerja keras di tempat jauh demi membangun kesejahteraan keluarganya--seperti nasihat bapak untuk selalu punya rencana dalam hidup--malah berbalik arah ketika ia kurang hadir dalam kehidupan istri dan anak-anaknya. Kisah Satya dan Rissa gw tangkap sebagai sebuah gambaran perjuangan keluarga muda, yang dari luar terlihat mapan tetapi belum tentu kesehatian dan kebahagiaan itu langsung dicapai, bagian drama-drama deh pokoknya.

Sementara kisah Cakra lebih bernuansa komedi romantis. Cakra tumbuh sama sekali tak seserius kakaknya. Sifatnya yang komikal serta karier yang lumayan mapan di Jakarta sayangnya tak mencerahkan prospek kehidupan percintaannya, sampe-sampe dia sering jadi target ledekan para bawahannya *iya, bawahannya* karena masih melajang. Namun, kali ini ia kepincut dengan seorang karyawati baru bernama Ayu (Sheila Dara Aisha). Hanya saja proses kedekatan mereka sangat tidak lancar mengingat Cakra yang selalu membuyarkan suasana dengan gelagat anehnya, dan Ayu sendiri sepertinya memang tidak tertarik pada Cakra. Kisah Cakra menjadi menu hiburan utama film ini, ditambah dengan penataan humor yang lihai khas Monty--kali ini dari interaksi Cakra dengan Firman (Ernest Prakasa) dan Wati (Jennifer Arnelita), sehingga Sabtu Bersama Bapak nggak cuma soal menye-menye aja.

Di tempat lain, walau dalam porsi yang nggak terlalu besar, adalah kisah tentang Itje dalam menjalani hidupnya ketika dua putranya sudah mandiri dan tak lagi tinggal bersamanya. Kekhawatirannya kini tinggal menunggu Cakra menemukan jodohnya, namu itu harus ditambah lagi ketika dirinya didiagnosis mengidap tumor, mirip dengan yang menimpa suaminya. Ketika Satya menangkap nasihat sang bapak untuk tak pantang menyerah dalam berusaha dan berencana, dan Cakra menangkap bahwa ia tak boleh salah langkah dalam menemukan teman hidup, Itje juga hendak menerapkan nasihat suaminya untuk tidak menyusahkan anak-anak mereka. Tentu saja, nasihat-nasihat tersebut juga harus ditantang oleh kenyataan yang sering kali meleset dari perkiraan.

Menyenangkan deh kalau bikin review sebuah film yang gw lebih banyak bahas soal ceritanya, pertanda bahwa film bersangkutan telah berhasil memikat gw pada ceritanya, bukan pada hiasan atau gimmick tambahannya. Gw memang merasa Sabtu Bersama Bapak ini punya materi yang menarik serta disusun sebagai cerita yang menarik pula, nggak terlalu biasa, plus didukung oleh deretan aktor yang performanya oke. Penuturannya pun gw rasa enak aja, ada usaha menyeimbangkan bagian yang dramatis dan komedik, dan nggak terlalu dilama-lamain. Mungkin gw nggak selalu setuju dengan nilai-nilai yang disampaikan di film ini--dan elemen-elemen kebetulan dalam kisah Cakra juga kayaknya agak gimanaaa gitu, tapi semuanya disokong oleh argumen yang cukup masuk akal dan disampaikan dengan cukup smooth. Film ini bukan cuma berisi ucapan-ucapan nasihat dari sang bapak yang harus dicatat sebagai "quotes" atau "pesan moral" buat penontonnya, tapi nasihat-nasihat itu juga diuji oleh para karakternya dalam kisah masing-masing, supaya penonton juga bisa menilai sendiri nggak langsung terima aja. Menurut gw that is what this film all about.

Tetapi, namanya film kan kerja kolaboratif ya, dan menurut gw cerita yang oke bisa menurun kesannya jika presentasi keseluruhannya nggak mendukung itu. Gw sendiri segan untuk bilang Sabtu Bersama Bapak ini presentasinya teknisnya kurang oke, tetapi kenyatannya seperti itu. Gw bisa lihat dengan jelas bahwa production value film ini tidaklah mewah, cenderung sangat sederhana, khususnya dari desain produksi yang simplisitik dan pengambilan gambar yang juga demikian, dan ini sesuatu yang kayaknya selalu gw lihat dari film-film garapan Monty selama ini. Yang gw paling nggak habis pikir adalah pemilihan warna dan pencahayaan film ini yang cenderung redup dan murung, ditangkap oleh jenis kamera yang tak jauh beda dengan yang digunakan di TV, seolah ingin menyangkal bahwa film ini punya potensi untuk jadi lebih sinematik dan punya unsur ceria di dalamnya. Parahnya lagi, sederhana dan redupnya gambar itu dicoba di-"betul"-kan dengan cara yang menurut gw keliru. 

Gw membayangkan bahwa pihak produser kaget dengan presentasi gambar filmnya yang terlalu sederhana, sehingga berusaha membuatnya jadi lebih kinclong di tahap akhir pascaproduksi. Ide ini kemudian diterjemahkan dengan penambahan lens flare secara digital (bukan betul-betul karena ada lampu menyorot langsung ke lensa kamera) di hampir setiap adegan mungkin biar kelihatan literally mengkilap--menariknya, teknik ini jadi gimmick khas film-film produksi Falcon Pictures belakangan ini kecuali My Stupid Boss, mungkin ini salah satu andil PH tersebut saat masuk dalam Sabtu Bersama Bapak yang diproduksi oleh Max Pictures yang notabene semacam pecahannya Maxima Pictures. Sayangnya, tindakan itu malah jadi merusak kualitas gambar keseluruhan karena rendering gambarnya kurang sempurna sehingga jadi terlihat nggak tajam di layar besar bioskop. Dan, entah ini pengaruh atau nggak, kesan yang timbul dari presentasi Sabtu Bersama Bapak jadi berbeda jauh dari posternya yang punya nilai artistik luar biasa. Sayang.

Gw mungkin salah besar karena gw sama sekali nggak tahu apa yang terjadi di balik produksi film ini, tetapi ya untung aja bahwa sisi cerita dan pembawaan akting para aktornya masih cukup kuat untuk bikin gw agak memaklumi, bahkan mengabaikan kekurangan teknis gambarnya itu. Tapi, mau sampai kapan cerita bagus harus "diganggu" oleh kekurangan di sisi teknis terus? Secara keseluruhan, buat gw Sabtu Bersama Bapak adalah film arahan Monty terbaik sejak Test Pack: You're My Baby. Namun, gw rasa sineas seperti Monty yang udah berkiprah lebih dari 10 tahun dan diberkahi kemampuan bercerita yang baik, sudah saatnya move on dan memberi perhatian--atau diberi kesempatan?--pada upaya memperkaya production value karya-karyanya. Kalau tidak, mungkin gw nggak akan melihat karya doi yang bisa disebut great tanpa ada embel-embel "tetapi".





My score: 7/10

Sabtu, 09 Juli 2016

[Movie] ILY from 38.000 ft (2016)


ILY from 38.000 ft
a.k.a. I Love You from 38.000 Feet
(2016 - Screenplay Films/Legacy Pictures)

Directed by Asep Kusdinar
Written by Tisa TS, Sukdev Singh
Produced by Sukdev Singh, Wicky V. Olindo
Cast: Michelle Ziudith, Rizky Nazar, Derby Romero, Tanta Ginting, Ricky Cuaca, Amanda Rawles, Verrell Bramasta, Aline Adita, Rizky Hanggono, Ira Wibowo, Amara, Ayu Dyah Pasha


Ekspektasi haruslah tepat dalam upaya menyaksikan film seperti ILY from 38.000 ft ini. Caranya sederhana, intip TV nasional sesekali di pagi atau siang hari, atau cukup Google-kan keyword dari nama-nama pemain utamanya atau rumah produksinya, maka gambarannya akan gampang ditangkap. ILY *dibaca 'ili' oleh orang-orang terkaitnya sendiri, serius* adalah upaya ketiga dari Screenplay Productions untuk membuat film layar lebar, setelah selama bertahun-tahun PH ini memasok FTV buat ditayangkan pagi-pagi atau siang-siang di SCTV, dan seringya dibintangi oleh para pemain film ILY ini. Dengan label Screenplay Films, mereka sudah menghasilkan dua roman remaja berjudul Magic Hour (2015) dan London Love Story (2016), yang tampaknya sukses memindahkan sebagian penonton FTV mereka ke bioskop karena terbukti kedua film ini menjual 800-an ribu dan 1,1-an juta tiket bioskop respectively, which is amazing--kebantu sama promosi gencar di SCTV sih berhubung Screenplay memang berafiliasi di sana.

Berhubung drama romantis menye-menye dengan kalimat berbunga-bunga dan logika cerita dan karakter sakarepne bukanlah tipe film yang ingin gw saksikan secara sukarela di bioskop, gw kebetulan hanya sempat menyaksikan dua film sebelumnya itu di TV. Hal pertama yang langsung gw tangkap adalah holy crap these are craps, komplet dengan karakter-karakter muda mengesalkan, perancangan cerita serba kebetulan, dipenuhi dialog-dialog histerikal dan tangisan dalam porsi extended, bikin sakit kepala dan membangkitkan amarah gw karena ternyata orang-orang masih bikin film kayak begini. Dalihnya--dan mungkin ini memang benar adanya--film-film ini memang dirancang khusus untuk demografi remaja pecinta roman yang lagi dilanda istilah 'baper' (terbawa perasaan, ceunah. Don't get me started...) dan masih sering menciptakan fantasi-fantasi meleset tentang kedewasaan karena belum siap dengan kompleksitas kehidupan nyata. And it worked. Kalau udah begitu, gw dan kita yang berada di luar demografi itu nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Soal berkualitas atau nggak, soal film "yang benar" atau nggak, jadi nggak relevan.

Tetapi, gw harus mengakui bahwa ada upaya dari Screenplay untuk improve di setiap rilisannya. To be fair, film-film kayak begini bukan cuma dibuat oleh Screenplay. Namun, gw bisa menangkap bahwa Screenplay tampak paling niat untuk belajar bikin "film", bukan "FTV di bioskop"--which was ironic karena FTV itu kan harusnya film kualitas seperti bioskop di TV, but anyway. Magic Hour itu FTV banget, lalu di London Love Story mereka coba formula "syuting di luar negeri" dan hasilnya dikemas not bad untuk ukuran film drama bioskop, walau yah segi cerita dan segala hal lainnya tetap bikin migrain.

ILY sendiri jadinya adalah improvement dari proses itu. Film ini seperti disuntikkan semangat bikin "film" lebih tinggi lagi, terlihat dari production value yang sangat niat untuk ukuran film yang cuma roman remaja. Dari lokasi-lokasi alam terbuka eksotis, desain produksi yang nggak kelihatan sekenanya, sampai ke special effects dan animasi CGI yang digarap serius. Belum lagi ada perancangan musik dan pemanfaatan lagu yang kena. Garis cerita masih mirip-mirip dengan yang lain-lain, tapi kemasannya tetap worthy untuk disaksikan di bioskop. Gw pun membayangkan target penontonnya akan mulai mendapat "edukasi" terhadap bedanya FTV dengan film bioskop lewat film ini dari presentasinya. Dan gw sendiri, sebagai tipe penonton yang sangat-sangat geli dengan jalan cerita seperti ini, jadi tetap bisa respek terhadap hal-hal tersebut.

Well, jalan ceritanya teteup bikin geli sih. Cewek-cowok kebetulan ketemu di pesawat pas mau ke Bali dan end-up si cowok reluctantly anterin si cewek ke hotelnya. Kebetulan si cowok yang adalah pemimpin kru program jelajah alam di Geography Channel *no, seriously*, dan kebetulan mereka lagi kehilangan presenter, jadilah si cewek jadi presenternya, diajak keliling berbagai lokasi minim fasilitas. Di tengah itu semua, poinnya adalah si cewek yang perangainya agak agresif dan sangat, sangat ngeselin itu mau menarik perhatian si cowok sekalipun kerjaan yang harusnya dia lakukan adalah pekerjaan serius--ini hebatnya ILY, gw bisa merasakan bahwa pekerjaan mereka serius sekalipun ini film roman remaja yang biasanya suka menggampangkan hal-hal beginian. Singkat cerita mereka akhirnya jadian dan harus berpisah sementara untuk menyelesaikan tugas masing-masing, tapi setelah itu si cowok tak ada kabar lagi. Masuklah itu adegan-adegan murung dan tangis dan histerikal dan serba kebetulan dan serba flashback dan flashback in a flashback dalam porsi extended yang pernah gw singgung tadi.

Jika nilai produksinya mengalami kemajuan yang oke, nyatanya dari segi cerita ILY ini nggak terlalu beda. Ya masih "kayak gitu". Tapi, gw harus memberi special mention pada berkurangnya kalimat berbunga-bunga, dan penuturan paruh awalnya lumayan enak diikuti. Lumayan, karena masih aja mengganjal dari beberapa segi, misalnya karakterisasinya yang of course balik lagi ke gaya roman remaja yang tanpa kedalaman, masih mengikuti pakem komik-komik serial cantik khususnya dalam hal cewek cute tapi clumsy "menaklukkan" sosok cowok dingin nan cuek tapi ternyata diam-diam melakukan hal-hal yang tak diduga untuk menyatakan cinta *aaaaawww* *ambil tissue* -_-. Again, mau cowoknya diam-diam romantis, atau cowok ngondek tapi lurus, atau bitchy tapi, err, cowok, atau dua tokoh cowok dan satu cewek yang digambarkan baik dan semcam jadi orang-orang ketiga tapi rela melepas potensi cinta mereka supaya kedua tokoh utama film ini bersatu hanya karena alasan "cinta", dalam lingkup roman remaja, semengesalkan dan se-silly apa pun, itu sah-sah aja.

Jadi, ILY ya seperti itu, dia masih meng-service target penontonnya yang terbukti setia itu dengan unsur-unsur yang familier dan diharapkan dalam kisah seperti ini, pokoknya bikin bagaimana supaya menyentuh perasaan dan mendorong produksi air mata dan hidung. Mengharapkan ceritanya benar-benar baru, logis, riil, ataupun menampilkan performa para aktor yang cemerlang jelas berlebihan bahkan keliru--Michelle Ziudith masih menampilkan her typical hysterical utterances sekalipun adegan-adegannya nggak sampe segitunya, tapi mungkin itu dianggap menggemaskan bagi sebagian orang, what do I know. Namun, ternyata film ini bisa melewati ekspektasi dari segi produksi dan kemasannya yang bolehlah diperhitungkan, nggak asal jadi. Siapa tahu, film roman remaja selanjutnya dari Screenplay dan krunya bisa menaikkan lagi kualitasnya, termasuk di cerita dan karakterisasinya, dan di saat bersamaan pelan-pelan meningkatkan standar kualitas tontonan bagi penonton setianya, dan in the end semua pihak akan senang. Semoga.





My score: 6/10

[Movie] Rudy Habibie (2016)


Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2)
(2016 - MD Pictures)

Directed by Hanung Bramantyo
Screenplay by Ginatri S. Noer, Hanung Bramantyo
Story by B.J. Habibie
Produced by Manoj Punjabi
Cast: Reza Rahadian, Chelsea Islan, Dian Nitami, Donny Damara, Indah Permatasari, Ernest Prakasa, Pandji Pragiwaksono, Boris Bokir, Cornelio Sunny, Paundrakarna, Millane Fernandez, Leroy Osmani, Timo Scheunemann, Verdi Solaiman, Bagas Luhur Pribadi, Fadika R., Bima Azriel, Bastion Simbolon, Manoj Punjabi


Gw punya sense bahwa yang punya film ini menganggap bahwa film tentang Habibie adalah sesuatu yang sangat dinanti-nantikan banget nget oleh khalayak ramai, padahal mungkin sebenarnya nggak. Oke, nggak bermaksud menuduh bahwa yang punya film ini terlalu berkhayal juga, gw sih yakin ada sejumlah orang yang memang menanti-nantikan film ini segitunya, tapi gw sendiri sepertinya nggak masuk dalam universe itu. Habibie & Ainun film sukses besar, iya, tapi bukan berarti sekuel-sekuelnya (yes, plural) lantas benar-benar diharapkan untuk dibuat. Apalagi kisah film sebelumnya sudah mencakup apa yang patut diketahui tentang B.J. Habibie dari muda sampai sang istri wafat, lengkap dengan kisah dia sekolah S3 di Jerman, pencapaian bikin pesawat terbang nasional, dan mengarungi perpolitikan Indonesia dari 1990-an hingga 2000-an, sebagaimana ia selama ini dikenal. Terus, apa lagi yang mau diceritakan? Kenapa gw harus menyaksikan film lanjutan dari sebuah film biografi yang relatif sudah menyeluruh? Gimana gw nggak curiga, berhubung tokohnya masih hidup, bahwa ada upaya glorifikasi sang tokoh yang dimaksud lewat film-film ini?

Okelah, Rudy Habibie merupakan sebuah kisah dengan angle agak beda, ketika Bacharuddin Jusuf Habibie menuntut ilmu penerbangan di Aachen, Jerman Barat di era 1950-an, dan segala hal yang (konon) terjadi di sana, dan ini sebelum dia melihat Ainun berubah dari gula jawa jadi gula pasir =P. Ya kalau udah nonton Habibie & Ainun pasti udah ketahuan akhirnya seperti apa: Habibie akan pulang ke Indonesia membawa ilmunya bikin industri pesawat terbang, dan kisah cinta apa pun yang terjadi di Jerman pasti akan kandas karena cinta Habibie toh nantinya hanya untuk Ainun seorang. Tapi, mungkin satu-satunya hal yang membuat gw intrigued sama Rudy Habibie adalah kisah film ini berlatar Perang Dingin, ketika ada perseteruan Blok Timur dan Blok Barat dan Indonesia semacam terjepit di tengah-tengahnya. Well, porsi itu juga sayangnya agak dimentahkan sama isi filmnya.

Jujur gw cukup kecewa dengan apa yang ditampilkan dalam keseluruhan film Rudy Habibie ini. Gw menangkap bahwa film ini punya beberapa garis cerita, yaitu impian Rudy muda (Reza Rahadian) menciptakan pesawat terbang Indonesia, kiprahnya di organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman, dan kisah cinta bound-to-be-doomed-nya bersama Ilona (Chelsea Islan). Tapi, tak satu pun dari garis cerita itu yang terbayar lunas. Semua adegan yang berkaitan dengan kisah-kisah itu semua berserakan di film ini tanpa struktur yang jelas, sampai gw pikir, "Ini film mau cerita soal apa sih?". Parahnya, durasi filmnya juga panjang, sampai 2 jam 20 menit. Tapi, saat gw balik lagi pada kecurigaan di atas, akhirnya kekacauan penuturan ini jadi make sense: Rudy Habibie ingin menggarisbawahi, dua kali, cetak tebal, tentang kualitas-kualitas terbaik sosok Habibie.

Rudy itu cuerdas, bisa berbagai bahasa, mandiri, disukai cukup banyak orang, jadi rebutan beberapa perempuan lokal maupun internasional, taat beribadah (saking taatnya adegan sembahyang ditunjukkan lebih dari the usual consensus tiga kali di layar, ada mungkin 10 kali), pantang menyerah meski dalam keadaan susah, tak mau merepotkan, sayang keluarga, setia pada negara, toleran, berpandangan ke depan, pokoknya suri tauladan luar biasa yang patut dicontoh semua orang. Satu-satunya kelemahan dia di sini adalah pandangannya terlalu ke depan sehingga nggak mudah diterima orang-orang pada masanya. Oh, dan candaannya jayus. Nevermind soal gw percaya atau tidak bahwa Rudy memang benar-benar seperti yang digambarkan di film ini--yah dari wujud dan posturnya aja dia jadi Reza Rahadian menurut ngana?--Rudy Habibie yang dalam benak gw berpotensi sebagai film yang insightful tentang orang Indonesia di luar negeri di masa Perang Dingin malah jatuhnya jadi sebuah ilustrasi pelajaran Kewarganegaraan yang, sebelumnya sudah sering ditemukan di layar bioskop kita. Atau, mungkin memang itu tujuannya.

Gw akui Rudy Habibie juga memunculkan topik-topik yang menarik dan cukup penting. Sepak terjang Rudy di PPI itu menurut gw termasuk di situ, juga soal kehidupan mahasiswa mandiri seperti Rudy dengan para mahasiswa ikatan dinas seperti teman-temannya atau para mantan tentara yang digambarkan berperangai songong, atau juga penelitian Rudy yang berada di bawah pemerintahan Jerman yang harus terbentur kepentingan politik, dan beberapa hal lain. Tapi, lagi-lagi, tidak ada yang akhirnya terbangun dengan utuh, boro-boro paid-off dalam konklusinya. Entah mungkin memang dirancang demkian--well hopefully not, para kru filmnya ini orang-orang kompeten lho harusnya--atau mungkin editing yang terlalu terburu-buru untuk film dengan modal sebesar ini dan topik-topik sepenting ini, jujur gw sulit menikmati film ini. Hell, gw bahkan nggak ngerti di bagian mana Ilona ditunjukkan "percaya pada cica-cicamu cita-citamu".

Tapi yaaaah, bukan berarti nggak ada yang bisa dinikmati dari keseluruhan presentasi film ini. Akting para pemainnya yang oke setidaknya berhasil menambal ke-random-an plotnya. Funny thing is, meski secara emosional tidak sekuat Habibie & Ainun, gw lebih nyaman melihat akting Reza sebagai Habibie di film ini, mungkin karena film ini berlatar 40 tahun sebelum bagian hidup Habibie yang gw tahu sehingga suspension of disbelief-nya lebih berhasil. Desain produksi dan tata kostumnya pun terlihat apik, kelihatanlah niatan film ini untuk memunculkan nuansa vintage, atau minimal menunjukkan bahwa film ini mahal. Dari nilai produksi, film ini amanlah, dan nggak ada product placement yang ngeselin, I'll give them credit for that.

Dan, well, jika tujuan awal film ini adalah mem-pinpoint apa saja tentang sosok B.J. Habibie yang kudu diteladani, terlepas dari penuturan cerita yang entahgimana itu, maka film ini sudah mencapainya, dan dengan dramatisasi yang diperlukan untuk itu. Lebay? Yaiyalah. Tapi kalau bisa mencapai tujuannya, ya mau bilang apa? Lalu, apakah film ini membuat gw excited terhadap film Habibie & Ainun 3 (!) yang sudah direncanakan oleh produsernya? Balik lagi ke paragraf pertama.




My score: 6/10

Senin, 04 Juli 2016

[Movie] Independence Day: Resurgence (2016)


Independence Day: Resurgence
(2016 - 20th Century Fox)

Directed by Roland Emmerich
Screenplay by Nicolas Wright, James A. Woods, Dean Devlin, Roland Emmerich, James Vanderbilt
Story by Dean Devlin, Roland Emmerich, Nicolas Wright, James A. Woods
Produced by Dean Devlin, Roland Emmerich, Harald Kloser
Cast: Liam Hemsworth, Jeff Goldblum, Jessie T. Usher, Bill Pullman, Maika Monroe, Charlotte Gainsbourg, Angelababy, Sela Ward, William Fichtner, Judd Hirsch, Brent Spiner, Travis Tope, Deobia Oparei, Nicolas Wright, Vivica A. Fox, Chin Han, Joey King, Garrett Wareing, Hays Wellford, McKenna Grace, Robert Neary


Why do we need this sequel again? Well, di tengah maraknya nostalgia karya-karya lawas, dan Independence Day (dengan nama alaynya, ID4) yang muncul di tahun 1996 jadi semacam pelopor film-film blockbuster Hollywood dengan tingkat penghancuran bumi dan bangunan skala heboh sehingga membelalak mata audiens pada masanya, keberadaan Independence Day: Resurgence sebenarnya nggak salah-salah amat. Mungkin orang-orang akan kangen dan menantikan. But that's a big emphasize on the word 'mungkin'. 'Kan kayaknya semua sudah cukup diceritakan dalam film pertamanya, alien dengan pesawat-pesawat raksasanya udah terpukul mundur dan dunia kembali tenang. Tapi ya sudahlah.

Jujur menurut gw konsep IDR ini sebenarnya boleh juga. 20 tahun sejak serangan alien, penduduk bumi meneliti para alien yang tertangkap dan bahkan mengadaptasi teknologi alien untuk berbagai kepentingan, sehingga tahun 2016 di cerita film ini punya lompatan sangat jauh dari hal kecanggihan sehari-hari. Pemerintah bumi pun memutuskan bersekutu membangun pertahanan dari potensi serangan luar angkasa yang lain, termasuk membuat markas di Bulan dan beberapa benda antariksa lainnya. Basically ceritanya para alien yang sempat menyerang bumi 20 tahun silam kembali lagi dengan pesawat literally seluas samudera dan menuntaskan misinya menyerap inti bumi. Tugas manusia adalah mencegahnya, dengan cara--masih mengikuti pola video game--hancurkan pemimpinnya maka yang lain akan mati dengan sendirinya /(-_-)\.

IDR ini menurut gw agak terjepit oleh timing. 20 tahun lalu bolehlah orang-orang terkagum sama sajian ID4 yang gegap gempita dan kita masih bisalah dibodoh-bodohin dengan logika filmnya *hehehe*. Tapi ini tahun 2016, ketika sudah ada Avatar, Transformers, reboot Star Trek, lanjutan Star Wars, Pacific Rim, Gravity, hingga Interstellar, IDR jadi kelihatan ketinggalan kelas karena penyampaian dan logikanya masih tetap kayak film pertamanya. Gw sebenarnya lelah pakai deskripsi ini tapi ya memang demikian: klise bangetlah film ini. 

Roland Emmerich udah sering memakai pola yang sama, peristiwa dahsyat mengancam bumi lalu beberapa orang dari sisi "elit" seperti pemerintah, militer, dan sains jadi sorotan utama ditambah beberapa "orang biasa". Ada cinta, persaingan, persahabatan, keluarga, humor, tapi ya kayak berulang aja gitu. Dari ID4 kemudian ke Godzilla, The Day After Tomorrow, 2012, sama aja kayak nggak ada perkembangan, ketika film-film lain dengan konsep serupa udah mulai berusaha lebih maju. Mungkin maunya jadi "ciri khas" tapi kalau perlakuan nggak digeber lebih kreatif, ya basilah. Ibaratnya IDR ndableg, dikira cara-cara yang sama masih akan membuat orang terkesima--duh capek deh masih banyak adegan "kepepet" macam pintu bentar lagi ditutup atau benda/orang kecil dikejar-kejar sesuatu yang besar, dikira cuma itu satu-satunya cara bikin tensi tegang. Jangan lupa juga sekalipun film ini sudah berusaha global dengan banyak keterlibatan China, film ini tetap Amerika-sentris dong. 

Kalaupun mau dibilang film ini ketolong sama visualnya, well, sayangnya semua film blockbuster Hollywood visualnya mirip-mirip dengan apa yang ditampilkan di sini, cuma beda di kerapihan dan pewarnaan aja. Memang gw akui ada beberapa visual yang dikonsepkan dengan oke, khususnya di gurun Area 51, dan Ratu Aliennya juga dianimasikan dengan graceful. Tapi, berhubung gw cukup sering nonton film Hollywood, ya jadi numb ajalah liat begituan, nggak wow lagi, salahkanlah film-film Marvel.

Tapi balik lagi, apa gunanya kalau gambar oke kalau ceritanya basi dan, yang paling parah, karakter-karakternya nggak ada yang bikin gw peduli. Mungkinkah ini dari segi akting--doooh itu yang pemain-pemain muda macam Liam Hemsworth, Maika Monroe, dan Jessie Usher udah kayak latihan percakapan bahasa ye bukannya akting, atau memang sejak dari penulisan, atau karena sutradara dan editing. Yang pasti gw cuma nyaman ngelihat aktris Prancis-Inggris Charlotte Gainsbourg sebagai Dr. Marceaux yang porsinya sedikit tapi tampak berkarakter dan sangat menikmati honor besarnya untuk gabung di film ini--atau mungkin karena dia bawa-bawa kamera mirrorless yang mirip dengan yang gw incar hehehe.

Dari sudut pandang gw sih IDR ini tidak se-'besar' yang dipikirkan oleh para pembuat filmnya, apalagi nggak ada sesuatu yang benar-benar inovatif dan stand-out yang ditawarkan di film ini. Sebagai sebuah tontonan sih masih cukup bisa ditonton, tapi ya nggak ada urgensi wajib tonton karena spektakel dahsyat seperti ID4 dulu. Atau, yah, mungkin sekuel ID4 memang seharusnya nggak ada aja.




My score: 6/10

Minggu, 03 Juli 2016

[Movie] Finding Dory (2016)


Finding Dory
(2016 - Disney/Pixar)

Directed by Andrew Stanton
Screenplay by Andrew Stanton, Victoria Strouse
Story by Andrew Stanton
Produced by Lindsey Collins
Cast: Ellen DeGeneres, Albert Brooks, Ed O'Neill, Hayden Rolence, Kaitlin Olson, Ty Burrell, Diane Keaton, Eugene Levy, Idris Elba, Dominic West, Sigourney Weaver


Call me mainstream, tapi Finding Nemo akan selamanya berada di himpunan khusus film-film terbaik sepanjang masa di memori gw. Kabar bahwa Pixar akan membuat sekuelnya menimbulkan ngeri sekaligus optimisme. Ngeri karena bagaimana bisa menandingi Finding Nemo, film bagus-seru-lucu-menyentuh-indah-walau-ditonton-berapa-kali-pun itu, tetapi optimis karena sejelek-jeleknya Pixar bikin film adalah A Bug's Life atau Brave yang masih lumayan seru. Andrew Stanton dan tim Pixar pun punya akal bagaimana menjadikan sekuelnya ini tetap menarik, yaitu dengan mengubah sudut pandang cerita pada tokoh pendukung pencuri perhatian di Finding Nemo, sang ikan pelupa Dory.

Jadilah Finding Dory, sebuah lanjutan Finding Nemo tapi nggak necessarily mengulang cerita yang sama. Sorotan kini tertuju pada si ikan botana/blue tang, Dory (Ellen DeGeneres), yang ternyata sudah mengalami gangguan ingatan jangka pendek sejak kecil, dan itulah yang membuatnya nyasar di lautan luas sampai akhirnya ketemu si ikan badut, Marlin (Albert Brooks) di film pertama. Setahun kemudian Dory tak lagi berkelana, kini tinggal di lingkungannya Marlin dan Nemo (Hayden Rolence), di Great Barrier Reef di perairan Australia. Ketika ia mulai settle di sini, ingatan Dory akan masa lalu mulai muncul kembali. Dory tiba-tiba terdorong untuk melacak kembali tempat asalnya, bertemu dengan orang tuanya lagi.

Petunjuknya hanyalah sebuah alamat, dan itu ternyata benar-benar ada di seberang samudera, tepatnya di California, Amerika Serikat. Meski masih panikan, Marlin dan Nemo bersedia menemani pencarian Dory, namun masalah terjadi saat mereka terpisah di sebuah pusat konservasi hewan laut. Dory kini mencoba berjuang mencari orang tuanya bersama sosok-sosok baru yang ditemuinya di pusat konservasi itu, sementara Marlin dan Nemo harus menemukan Dory sebelum ia menghilang begitu saja dan melupakan mereka sebagaimana yang sering terjadi pada Dory selama ini.

Jadi, bagaimana film ini bisa menandingi Finding Nemo? Jawabannya ya nggak bisa. Tapi, Finding Dory toh terbukti mampu jadi film dengan nyawanya tersendiri. Tokoh-tokoh utamanya udah gw kenal, tetapi petualangan yang baru ini membuat mereka tetap terasa segar, apalagi film ini lebih memperdalam tentang Dory, yang kini tak hanya jadi alat pelucu, tapi bisa bikin kasihan sekalipun tindak-tanduknya tetap ceria. Kemunculan tokoh-tokoh barunya juga menambah warna yang asyik dari cerita ini, terutama dari gurita penyamar, Hank (Ed O'Neill) yang kayaknya bakal jadi tokoh favorit baru dari Pixar, plus hiu paus *bingungin ya penyebutannya* Destiny (Kaitlin Olson) dan si paus beluga Bailey (Ty Burrell). Kisah pencarian jati asal usul Dory pun jadi meriah dengan takaran humor yang tepat dari interaksi antarkarakter ini, plus berbagai adegan "laga" yang seru. 

Film ini  juga mampu menyampaikan kuatnya kasih sayang antara orang tua dan anak, dan antarsahabat baik yang lama kenal ataupun baru, walau mungkin tidak sampai bikin terdiam haru kayak waktu gw nonton Finding Nemo. Paling nggak, dengan kemasan yang lebih meriah di sini, Finding Dory nggak mengesampingkan unsur hati dalam penyampaiannya. Biarlah materi cerita dan plotnya nggak bisa dibilang "baru" dan nggak terlihat punya subteks yang berat-berat seperti yang *kayaknya sih* banyak dituntut oleh fans Pixar sejak Wall-E hingga Inside Out =p, tapi yang penting Finding Dory berhasil menampilkan sesuatu yang tetap exciting dan menggembirakan, nggak asal jadi atau mengulang formula yang sama, dan nggak merusak citra Finding Nemo sebagai salah satu karya terbaik Pixar.




My score: 8/10

Jumat, 01 Juli 2016

[Movie] One Way Trip (2016)


글로리데이 (Glory Day)
One Way Trip
(2016 - CJ Entertainment/Bori Pictures)

Written & Directed by Choi Jung-yeol
Produced by Lim Soon-rye
Cast: Ji Soo, Ryu Jun-yeol, Kim Jun-myeon, Kim Hee-chan, Kim Dong-wan, Kim Jong-soo, Choi Joon-yung, Moon Hee-kyung, Yoo Ha-bok, Lee Joo-sil, Lee Ji-yeon, Heo Joon-seok


Terlepas dari busana dan gaya rambut para pemain di posternya, One Way Trip bukan film soal boyband Korea. Gw pikir sih memang materi promo atau posternya memang agak menyembunyikan tone film ini yang sebenarnya cukup dark dan depresif. Tapi, untungnya dark dan depresif itu tidak diterjemahkan dengan cara melankolis dan emosi meledak ke mana-mana layaknya film-film mainstream Korea biasanya, atau jadi void dan sunyi seperti film-film ala "festival".

Premis ceritanya mungkin kelihatan simpel banget dan agak generik. Empat pemuda bersahabat melakukan perjalanan ke luar kota tanpa izin orang tua/wali masing-masing, sebelum salah satu dari mereka Sang-woo (Kim Jun-myeon)--yang somehow karakternya dibikin paling polos dan dikasihani dan kebetulan pemainnya juga anggota boyband EXO =p--gabung di militer, atau basically sebelum mereka pergi ke jalur masing-masing setelah lulus sekolah. Namun, premis yang kelihatan so sweet dan mengharukan itu kemudian dibelokkan dengan sebuah kejadian yang akan membuyarkan rencana masa depan mereka. Usai mencoba melerai pertengkaran suami istri, mereka malah dikejar pihak berwajib, dan Sang-woo jadi korban tabrak lari lalu koma di rumah sakit.

Dari sini dimunculkanlah berbagai isu menarik oleh sineas Choi Jung-yeol. Mulai dari proses hukum setempat, reaksi orang tua/wali terhadap anak-anak mereka yang dituduh melakukan pelanggaran, hingga persoalan politik korporasi--semuanya yang pada akhirnya menyudutkan ketiga pemuda yang tersisa, Yong-bi (Ji Soo), Doo-man (Kim Hee-chan), dan Ji-gong *hus jangan ketawain nama ini =D* (Ryu Jun-yeol), yang kini ditahan polisi. Menariknya, dengan persoalan-persoalan yang besar itu, film ini tetap kembali pada tema persahabatan yang mengawali cerita ini. Berniat baik malah dituduh sebagai penjahat, kini bukan lagi persoalan mereka membuktikan diri tak bersalah, tetapi bagaimana mereka bisa tetap bisa bersahabat bila keadaan menuntut mereka untuk saling menyalahkan atas peristiwa kacau ini.

One Way Trip adalah mungkin adalah salah satu drama "sederhana" yang paling powerful yang gw tonton tahun ini. Satu hal yang gw suka adalah film ini seolah bersifat "anti-CJ Entertainment blockbuster film" dengan menyajikan adegan klimaks tanpa ribut-ribut heboh, tetapi masih bisa sangat emosional. Pintarnya lagi, ada unsur misteri dari film ini yang tidak menggiring gw untuk cepat memihak--karena seriously anak-anak ini buat gw ngeselin sih kelakuannya--sehingga ikatan emosi kepada penonton harus benar-benar dibangun lewat keputusan-keputusan yang mereka ambil, bukan dengan jalan pintas absolut bahwa mereka anak-anak-baik-yang-difitnah. Ini yang bikin gw merasa ini film drama yang cukup beda, apalagi yang dari Korea.

Yang bikin cukup heran lagi adalah Choi Jung-yeol sanggup meramu film yang cukup depresif dengan kedalaman cerita berlapis ini tetap bisa menghibur, ada takaran humor dan kehangatan yang seimbang dengan kegelisahan dan kesenduannya. Konklusi film ini pun dibuat penuh ironi yang memperkuat kesan emosional tanpa harus serba nangis--walau serba teriak marah-marah masih ada juga sih, hehe. Well, setelah gw belakangan hanya kebagian film-film Korea skala akbar cenderung formulaic yang sering masuk bioskop sini, kehadiran One Way Trip jadi semacam penyegaran yang mengesankan.




My score: 8/10