Sabtu, 18 Juni 2016

[Movie] The Conjuring 2 (2016)


The Conjuring 2
(2016 - New Line Cinema/Warner Bros.)

Directed by James Wan
Screenplay by Chad Hayes, Carey W. Hayes, James Wan, David Leslie Johnson
Story by Chad Hayes, Carey W. Hayes, James Wan
Produced by Peter Safran, Rob Cowan, James Wan
Cast: Vera Farmiga, Patrick Wilson, Frances O'Connor, Madison Wolfe, Simon McBurney, Franka Potente, Maria Doyle Kennedy, Simon Delaney, Lauren Esposito, Benjamin Haigh, Patrick McAuley, Bob Adrian, Bonnie Aarons, Javier Botet


Dirilis tahun 2013, The Conjuring arahan James Wan tumbuh jadi salah satu film horor Hollywood yang sukses besar di box office—total 137,4 juta dolar AS, bahkan sanggup menyaingi film-film blockbuster di tahun tersebut. Ketika belakangan genre horor di Hollywood lebih identik dengan biaya murah dan dibintangi pemain-pemain baru, atau berbiaya besar tapi flop di box office, The Conjuring mampu tampil sebagai film horor dengan nilai produksi yang pantas sekaligus sukses di pasaran.

Kisah The Conjuring pada dasarnya berkutat pada rumah berhantu. Namun, kisah ini juga punya sesuatu yang membuatnya bukan film hantu-hantuan semata. Kisah yang disusun oleh Chad Hayes dan Carey Hayes tersebut diangkat dari kisah nyata pasangan suami istri Lorraine dan Ed Warren, penyelidik paranormal di Amerika Serikat yang pada era 1970-an kerap dimintai tolong untuk mengatasi berbagai kasus gangguan supernatural.

The Conjuring 2 kembali menyorot salah satu kasus besar yang ditangani Lorraine (Vera Farmiga) dan Ed (Patrick Wilson). Usai menangani kasus rumah di Amityville—yang dalam kehidupan nyata menginspirasi franchise horor The Amityville Horror, Lorraine dan Ed jadi sering disorot oleh media massa, termasuk dihadapkan oleh pihak-pihak yang sangsi bahwa aktivitas paranormal yang mereka lakukan adalah sungguhan. Di saat bersamaan, Lorraine yang dikaruniai indera keenam kerap mendapat penglihatan tentang kematian suaminya, juga sosok iblis berpakaian biarawati yang belakangan gencar mengusiknya. Lorraine menganggap itu adalah pertanda ia dan Ed harus berhenti menerima kasus lagi.

Sementara itu, di wilayah Enfield di kota London, Inggris, gangguan supernatural menimpa sebuah keluarga miskin Hodgson. Janet (Madison Wolfe), anak kedua dari empat bersaudara Hodgson, kerap diganggu oleh arwah misterius, mulai dari memindahkannya dari kamar terkunci ke ruang tamu, sampai membuatnya kerasukan. Berbagai peristiwa supernatural lainnya pun disaksikan oleh ketiga saudaranya dan sang ibu, Peggy (Frances O'Connor), sampai ke tetangga dan polisi, bahkan kasus ini jadi sorotan media lokal.

Akhirnya, seorang penyelidik paranormal Maurice Grosse (Simon McBurney) memutuskan untuk membantu keluarga ini, menghubungkan mereka dengan Lorraine dan Ed, yang bersedia memeriksa kasus ini walau awalnya enggan. Lorraine dan Ed mendatangi keluarga Hodgson, khususnya Janet yang seperti 'terpilih' untuk jadi alat sang arwah. Anehnya, terlepas dari berbagai kejadian supernatural yang terjadi di rumah itu, Lorraine dan Ed justru kesulitan untuk membuktikan bahwa arwah ini benar-benar ada, membuat mereka juga kebingungan bagaimana harus menolong keluarga malang ini.

Ekspektasi terhadap film horor belakangan ini adalah dari tingkat kengerian yang ditampilkan, sampai-sampai unsur cerita pun dikesampingkan. The Conjuring 2—seperti The Conjuring—beruntung memiliki dasar cerita yang menarik, yaitu keberadaan Lorraine dan Ed yang memang ada di dunia nyata. Para pembuat film ini pun tampak menangkap satu hal penting dari kedua tokoh ini yang kemudian dieksplorasi di layar. Bukan pada kemampuan paranormal mereka, melainkan hubungan mereka sebagai pasangan yang memang berbeda dari pasangan lain.

Dengan segala adegan seramnya, bila diperhatikan The Conjuring 2 melandaskan ceritanya pada kekhawatiran Lorraine kehilangan Ed, satu-satunya orang yang percaya dan mau mendukungnya, bahkan bersama-sama berjuang di bidang aktivitas paranormal. Film ini pun menambahkan beberapa adegan melankolis yang sanggup memberi warna berbeda, tanpa harus mengganggu mood keseluruhan film. Hubungan unik kedua karakter ini semakin diperkaya dengan permainan apik dari Farmiga dan Wilson.

Di sisi lain, film ini juga memberi porsi yang cukup besar untuk keluarga Hodgson sebagai korban dalam kasus ini. Mulai dari situasi keluarga yang sulit—Peggy harus mengurus keempat anaknya sendirian setelah bercerai, ditambah anak bungsu mereka yang bicaranya gagap, sampai keputusasaan mereka menghadapi gangguan yang makin menjadi-jadi di rumah mereka sendiri. Simpati pun mudah muncul bagi penonton karena gangguan yang dialami Hodgson bukan karena kebodohan mereka sendiri, melainkan korban pelampiasan si arwah. Toh, rumah mereka pun sebuah rumah biasa yang sedikit lapuk karena kesulitan penghuninya untuk mengurusnya, bukan yang terlalu dikondisikan seram.

Namun, The Conjuring 2 tetap setia pada hakikatnya sebagai sebuah film horor yang bertujuan menakuti penonton. Walau kisahnya, 'aturan' keberadaan arwahnya, hingga penyelesaiannya cenderung klasik, film ini masih memunculkan kengerian dalam berbagai metode. Mulai dari berbagai penampakan makhluk dengan tampang seram, jump scares yang mengagetkan, atmosfer menggelisahkan, hingga komunikasi manusia dengan arwah yang mampu menimbulkan ketakutan psikologis. Semua unsur itu disajikan dengan piawai tanpa terkesan murah, didukung dengan tata adegan, artistik, gambar, dan ekspresi para pemain, dan dijamin dapat menggirangkan para penggemar horor.

Meski demikian, di situ pula terletak kelemahan film ini. Secara penuturan cerita, film ini mengambil waktu terlalu lama, bahkan sampai separuh durasi film, dalam memperkenalkan karakter-karakternya lewat berbagai adegan seram, sebelum masuk pada inti cerita penyelidikan Lorraine dan Ed terhadap misterinya. Adegan-adegan ini memang berpotensi sukses membuat penonton 'terhibur', tetapi membuat ceritanya jadi tersendat dan terasa terlalu dipanjang-panjangkan, sebelum akhirnya berjalan lebih lancar di paruh kedua.

Terlepas dari itu, The Conjuring 2 tetap berhasil menghadirkan sebuah film horor yang tak hanya sekadar menakut-nakuti, tetapi juga bercerita. Ada kengerian yang memberi efek maksimal, tetapi juga ada keheranan dan kehangatan, dan diterjemahkan dengan baik dan rapi dalam adegan-adegannya. Ketika tak banyak film horor yang menyajikan semua itu dalam satu tontonan, The Conjuring 2 justru mampu menunjukkannya dalam ramuan yang relatif memuaskan.





My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Jumat, 17 Juni 2016

[Movie] Dubsmash (2016)


Dubsmash
(2016 - MD Pictures)

Directed by Indrayanto Kurniawan
Written by Aviv Elham
Produced by Karan Mahtani
Cast: Jessica Mila, Teejay Marquez, Verrell Bramasta, Rina Hasyim, Dicky Wahyudi, Karina Suwandi, Amanda Rawles, Denira Wiraguna, Natasha Manapa, James Thomas, Kenny Austin


Everything, and everyone, is too old for this. Entah siapa yang punya ide untuk membuat film berdasarkan aplikasi lipsync/dubbing Dubsmash yang ketenarannya luar biasa singkat itu, dan berani menjadikanya sebuah judul, sementara ceritanya nggak memasukkan itu sebagai unsur penting. Gw pun melihat Dubsmash sebagai sebuah film yang dari awal sudah keliru langkah, dan merembet ke unsur-unsur lainnya ke belakang.

Film Dubsmash ini isinya lagi-lagi cerita cinta SMA, seorang cewek populer yang pacaran sama cowok populer tapi kemudian datang siswa baru yang menarik hati, lalu penonton diyakinkan bahwa si cowok yang lama itu sebenarnya brengsek sehingga perlu mengarahkan dukungan pada hubungan si cewek dengan si anak baru. Dan, kebetulan si anak baru adalah bintang Dubsmash terkenal dari Filipina yang konon ganteng banget. Lalu ditambah si cewek  masuk geng majalah dinding (!!) dan punya bapak suka mukulin ibunya. Film ini semestinya adalah kisah orisinal berlatar 2016 tapi ya begitulah jadinya.

Dari tampang para pemain yang terlalu tua untuk jadi SMA, kisah yang usang, karakterisasi dan pengadeganan standar, humor bikin males, sweetness yang ibarat pemanis buatan bikin eneg, hingga dimasukkannya tren teknologi yang hampir lenyap, ada begitu banyak yang wrong di film ini. Bisa jadi karena gwnya yang terlalu tua untuk menonton film ringan logika ini, tapi pemainnya aja tua-tua tanpa usaha untuk membuat mereka terlihat lebih muda, berarti yang salah bukan di gw dong? Nggak ngerti lagi deh gw.

Jika ada hal yang bikin film ini agak watchable adalah hasil post-production--terutama di coloring--yang mampu memoles teknis gambar film ini sehingga nggak bikin sakit mata. Dan, dari ceritanya sendiri gw kasih apresiasi pada bagian si cowok populer nantangin si anak baru main basket, which is ridiculous tapi memang masih masuk akal karena mungkin banyak yang nggak tahu, termasuk si cowok populer itu, bahwa bola basket adalah olahraga rakyat Filipina, kayak badmintonlah kalau 
di sini *tadinya sebut sepak bola tapi 'kan cabang itu prestasinya belum cihuy-cihuy amat ya* *eh*. 

Tapi dengan eksekusi yang lagi-lagi begitu doang, ya nggak ada kesan lain lagi. Pertanyaan itu pun muncul lagi di benak gw: buat apa ada film ini, ketika syarat minimal untuk menghibur saja film ini alpa. Paling banter gw bisa anggap film ini cuma untuk excercise buat siapa pun yang terlibat, buat yang pemain-pemain baru biar nambah CV, buat yang lama biar tetap eksis, termasuk muka-muka lawas seperti Karina Suwandi dan Dicky (tanpa konspirasi) Wahyudi. Gw sih nggak masalah dengan itu, tapi kalau hasil filmnya kurang asyik ya males juga lihatnya.




My score: 5/10

Senin, 13 Juni 2016

[Movie] Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows (2016)


Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows
(2016 - Paramount)

Directed by Dave Green
Written by Josh Applebaum, André Nemec
Based on the characters created by Peter Laird, Kevin Eastman
Produced by Michael Bay, Andrew Form, Brad Fuller, Galen Walker, Scott Mednick
Cast: Megan Fox, Will Arnett, Laura Linney, Stephen Amell, Noel Fisher, Jeremy Howard, Pete Ploszek, Alan Ritchson, Tyler Perry, Brian Tee, Sheamus, Gary Anthony Williams, Tony Shaloub, Brad Garrett


Gw lupa-lupa ingat bagaimana kesan film live action/motion capture Teenage Mutant Ninja Turtles yang pertama tahun 2014 kemarin, kecuali satu hal yang penting bahwa film itu ada Megan Fox. Gw sama sekali nggak menganggap film itu penting, gw sangat tidak excited bahwa film itu ada sekuelnya, tapi kalau masih ada Megan Fox, how bad could it be? Well, it could, kalau ternyata penampilan Megan Fox-nya pun nggak dibuat sekece film pertama. Matilah film ini.

Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows adalah sebuah film yang punya semua amunisi sebagai tontonan yang asyik. Filmnya juga disajikan besar, bising, humoris, enerjik, dan sebagainya. Kecanggihan teknologi animasi dan visual effects jelas ada, laga ada, karakter-karakter (relatif) lucu dan kartunis ada, bahkan ceritanya punya potensi deep-deep gimana gitu--menyinggung prinsip para kura-kura ninja untuk tak terlihat oleh publik dalam membasmi kejahatan tapi artinya mereka nggak hidup bebas karena wujud mereka yang aneh.

Tetapi, hampir sama dengan film pendahulunya, gw nggak merasakan apa-apa dari film ini. Kesannya semacam...kosong. Hiburan sesaat, nggak signifikan, lewat aja gitu. Adegan-adegan besarnya nggak lebih memorable dari film pertamanya, potensi ceritanya nggak dikembangkan lebih jauh--tapi ngerti sih supaya filmnya tetap buat senang-senang saja. Tapi untuk ukuran film senang-senang, sayangnya gw nggak bisa ikutan karena...apa ya...nggak klik aja di gw. Oh, adegan laga puncak saat penjahat yang kelihatannya sakti kalah mudah sama orang-orang tak berkekuatan istimewa juga nggak menambah simpati gw untuk gabung dalam 'senang-senang' ala film ini.

Gw sebenarnya emang nggak berharap banyak dari film ini, tapi males juga bahwa udah nggak berharap banyak eh yang didapat kurang dari itu. Mungkin juga karena gw nggak punya ikatan nostalgia yang kuat sama tokoh-tokohnya, yang cuma gw samar-samar ingat dari kartun di TV tahun 1990-an dulu karena waktu itu aku masih batita ;-3. Dan, faktor paling fatalnya, Megan Fox-nya agak berkurang pesonanya di film ini, jangan-jangan karena keseringan melahirkan atau perawatan wajahnya makin aneh metodenya atau pencahayaan dari sinematografinya yang nggak tahu cara memperlakukan Megan Fox dengan benar. Terus buat apa ada film ini?




My score: 5,5/10

Minggu, 12 Juni 2016

[Movie] Sundul Gan: The Story of Kaskus (2016)


Sundul Gan: The Story of Kaskus
(2016 - 700 Pictures)

Directed by Naya Anindita
Written by Ilya Sigma, Priesnanda Dwisatria
Produced by Putrama Tuta, Ade Sulistioputra
Cast: Dion Wiyoko, Albert Halim, Pamela Bowie, Melissa Karim, Richard Oh, Baim Wong, Richard Kyle, Ronny P. Tjandra, Elkie Kwee, Abdurrahman Arif, Petra "Jebraw" Gabriel, Karina Nadila


Ketika melihat sebuah film Indonesia dilabelkan sebagai biografi, lalu dikaitkan lagi dengan unsur 'kisah sukses' dan 'menginspirasi', mungkin tidak terbayang kemasan seperti yang dilakukan film Sundul Gan: The Story of Kaskus. Digarap oleh Naya Anindita sebagai debut penyutradaraan film panjangnya, Sundul Gan dikemas dengan ringan dan lincah, seakan mematahkan kebiasaan bahwa film yang 'menginspirasi' haruslah melodramatis menggetarkan hati, berisi kata-kata berat makna, atau bahwa film biografi harus menunjukkan hanya sisi-sisi terbaik subjeknya.

Sundul Gan memang masih berpegang pada sebuah kisah sukses, dalam hal ini upaya sepasang sahabat dalam membesarkan Kaskus, salah satu situs forum terpopuler di Indonesia. Film ini pun sajikan beberapa highlight bagaimana Kaskus yang tadinya hanya proyek tugas kuliah di tahun 1999, menjadi sebuah perusahaan rintisan (start up) yang menarik minat para pemodal besar di era 2000-an.

Namun, jelas kisah tersebut jadi kurang menarik ketika umumnya penonton sudah tahu akhirnya akan seperti apa: Kaskus kini sudah aktif selama 17 tahun dengan jutaan pengguna. Mungkin karena itu pula, Naya bersama penulis skenario Ilya Sigma dan Priesnanda Dwisatria lebih berfokus pada pasang surut persahabatan sekaligus kemitraan bisnis dari dua sosok penting di Kaskus: Andrew "Mimin" Darwis (Albert Halim) dan Ken Dean Lawadinata (Dion Wiyoko).

Di film ini, Andrew diperkenalkan sebagai seorang yang passionate terhadap teknologi informasi, dia juga yang turun langsung mengurusi Kaskus dan dikenal para penggunanya dengan sapaan Mimin—berasal dari kata administrator. Sementara Ken diperkenalkan sebagai pemuda pemalas maniak video game yang melihat peluang bisnis besar dari Kaskus. Andrew dan Ken ternyata masih punya hubungan keluarga, dan itulah yang membuat mereka cepat akrab saat sama-sama kuliah di Seattle, Amerika Serikat. Tahun 2008, Ken mengajak Andrew untuk kembali ke Jakarta untuk membangun Kaskus jadi lebih besar.

Di Jakarta, mereka berbagi tugas. Andrew masih terus mengembangkan Kaskus dari segi teknologi dan kontennya, sementara Ken yang ke sana ke mari mencari investor potensial. Di sinilah persahabatan mereka diuji. Andrew kerap merasa ditinggal sendirian dalam mengurusi Kaskus, dan Ken berusaha seimbangkan cita-citanya untuk Kaskus, serta rencana pernikahannya dengan Tika (Pamela Bowie) yang berjalan bersamaan. Siapa yang paling pantas dalam mewakili Kaskus ke luar pun ikut menambah kompleksitas hubungan Ken dan Andrew. 

Cerita dan karakterisasi Sundul Gan sepertinya memang dirancang untuk lebih dekat dengan kalangan dewasa muda usia 20-an hingga 30-an, khususnya yang akrab dengan teknologi. Ini terutama timbul dari karakterisasi dan interaksi hubungan antara Ken dan Andrew, serta problem-problem yang diangkat. Film ini juga tak segan memasukkan umpatan dan makian, baik yang diucapkan serius ataupun bercanda, tetapi masih dalam porsi tak berlebihan.

Bahkan, ditunjukkan pula sifat dan sikap dari kedua tokoh yang mungkin sulit dikatakan terpuji—sebut saja Andrew yang terkesan tak acuh pada kehidupan sosial dan sempat besar kepala dengan kepopuleran Kaskus, atau Ken yang jago ngeles dan sempat 'memperdaya' Andrew supaya mau kembali ke Jakarta.

Terlepas itu benar atau hanya dramatisasi, unsur-unsur tersebut berperan penting dalam membuat film ini terkesan lebih hidup serta nyata. Film ini tak berusaha mengglorifikasi kehebatan dan keberhasilan kedua tokohnya, melainkan menunjukkan mereka memang manusia biasa seperti penontonnya. Ini menarik karena kedua sosok aslinya juga turut terlibat di produksi film ini, namun membiarkan beberapa hal yang berisiko menurunkan image personal mereka untuk ditampilkan di film. Ini justru berdampak baik dalam mengikis kesan palsu dari cerita yang diangkat, sehingga film ini pun jadi terasa jujur.

Believability ini pula yang membuat film ini cukup mudah dinikmati tuturannya, terlepas dari kemasannya yang cukup komikal dan bercorak komedi. Film ini dibuka dengan perkenalan oleh tokoh Ken dan Andrew berbicara langsung kepada penonton, lalu ada pula berbagai animasi grafis khas video game yang seakan menjelaskan adegan-adegan yang sedang ditampilkan. Penggunaan efek digital dan CGI di sini mungkin memang belum sempurna, tetapi karena dibangun sebagai komedi, ditambah penataan gambar yang cerdik, kekurangan ini tak sampai merusak ceritanya.

Film ini pun memasukkan berbagai trivia yang mungkin akrab bagi para pengguna Kaskus, termasuk bahwa awalnya banyak pengguna menggunakan Kaskus untuk bertukar materi pornografi, jenis-jenis komunitas di Kaskus yang kadang absurd, hingga titik dramatis ketika situs ini diretas. Inilah cara yang digunakan film ini untuk membuat kisah ini jadi hip dan fun, menarik bagi generasi target penontonnya, khususnya yang kenal Kaskus.

Di sisi lain, bahwa film ini berpotensi akan lebih terkoneksi dengan kaum muda pengguna teknologi menjadi salah satu problem utama dari Sundul Gan. Film ini jadi berpotensi asing bagi demografi di luar kelompok tadi. Dengan fokus cerita pada persahabatan Ken dan Andrew, timbul kesan bahwa pembuat film ini mengasumsikan semua penontonnya sudah kenal apa itu Kaskus dan berbagai istilah teknologi informasi lainnya, sehingga hanya dijelaskan sambil lalu. 

Meski beberapa kali ditunjukkan juga dampak keberadaan Kaskus, film ini tidak terlalu menjelaskan apa maksud dari 'gedein Kaskus' selain kantornya jadi lebih besar, demikian pula apa yang bisa didapat oleh investor sehingga mereka tertarik untuk terlibat. Memang tak harus detail, tapi gambaran besarnya tetap diperlukan, sekaligus untuk memperdalam seberapa pentingnya Kaskus bagi Andrew dan Ken, sehingga keduanya tidak saling meninggalkan sekalipun sering terjadi adu debat.

Terlepas dari itu, Sundul Gan tetaplah sebuah film yang mampu tampil fresh untuk jenis biografi. Fokus penceritaan pada persahabatan Ken dan Andrew juga disampaikan dengan cukup utuh dan dituturkan dengan lancar. Performa pemainnya juga mendukung ini, baik dari Dion yang tampil prima seakan tanpa beban, juga Albert—walau kadang masih terlihat seperti impersonating—mampu menyampaikan emosinya dengan wajar. Film ini memang belum sempurna, tetapi tidak berarti gagal, terutama dalam menyajikan materi cerita yang terkesan klise menjadi cukup berbeda dan tetap menarik.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Jumat, 10 Juni 2016

[Movie] Warcraft (2016)


Warcraft
a.k.a. Warcraft: The Beginning
(2016 - Universal/Legendary Pictures)

Directed by Duncan Jones
Screenplay by Charles Leavitt, Duncan Jones
Based on thhe video game series created by Blizzard Entertainment
Produced by Thomas Tull, Jon Jashni, Charles Roven, Alex Gartner, Stuart Fenegan
Cast: Travis Fimmel, Paula Patton, Toby Kebbell, Ben Foster, Ben Schnetzer, Dominic Cooper, Rob Kazinsky, Daniel Wu, Ruth Negga, Anna Galvin, Clancy Brown, Burkely Duffield, Glenn Close


Mengadaptasi video game ke dalam bentuk film layar lebar sebenarnya cukup riskan. Sebab, pada dasarnya film menghilangkan salah satu kenikmatan utama dari video game, yaitu kendali yang dipegang pengguna atau pemirsanya. Karena itu, mengadaptasinya ke film naratif butuh kejelian, agar mampu mengeluarkan daya tarik yang minimal setara dengan memainkan game-nya walau kendali ada pada si pembuat film.

Film Warcraft—dengan judul lengkap Warcraft: The Beginning—adalah contoh yang tahu aspek apa dari game-nya yang dapat diangkat jadi cerita film. Beruntung bahwa seri game Warcraft sendiri berdiri atas cerita, karakter, dan konsep universe yang memang menarik untuk difilmkan.

Seri game Warcraft yang dimainkan dengan perangkat komputer adalah permainan strategi perang antarkubu, melibatkan makhluk-makhluk fantasi, sihir, dan rupa-rupa taktik. Alih-alih membuat sebuah film yang disederhanakan menjadi baik melawan jahat, film arahan Duncan Jones ini berani mengangkat kompleksitas sebuah peperangan. Malahan, pihak yang disebut 'protagonis' dan 'antagonis' sama-sama ada di masing-masing kubu, dengan motivasi dan tujuan tersendiri.

Inti utama kisah Warcraft adalah awal mula peperangan antara manusia dan makhluk yang disebut orc. Orc memang tampak mengerikan, baik dari tampang, bentuk dan ukuran tubuh, sampai segala sesuatu yang mereka pakai dan gunakan. Apalagi, setelahnya mereka menyeberang ke negeri Azeroth yang dihuni manusia, mendudukinya demi memberi ruang bagi sekutu kaum orc yang disebut Horde untuk pindah dan menetap di sana. Jika melihat hanya dari sisi ini, akan wajar bila penonton yang manusia akan lebih membela kaum manusia, dan anggap orc sebagai agresor yang jahat.

Akan tetapi, film ini justru dibuka dengan perkenalan tokoh Durotan (Toby Kebbell) dan istrinya, Draka (Anna Galvin), sepasang orc yang ditampilkan simpatik. Sejak awal seolah-olah penonton diajak untuk tidak menghakimi mana pihak yang harus dibela hanya dari tampilan luarnya. Durotan menjadi pemandu penonton untuk melihat bahwa kepindahan para orc ke Azeroth punya alasan, mereka juga berhak untuk bertahan hidup, mengingat negeri asal mereka di ambang kematian. Yang jadi masalah adalah kedatangan mereka difasilitasi oleh orc penyihir bernama Gul'dan (Daniel Wu) dan ilmu sihir mautnya yang disebut Fel.

Fel adalah sihir kegelapan terkuat, namun butuh nyawa makhluk hidup sebagai 'bahan bakar'-nya. Gul'dan memutuskan untuk mengambil nyawa manusia-manusia di Azeroth sebagai bahan bakar yang paling tepat untuk membuka gerbang dimensi selama mungkin, agar seluruh kaum orc bisa pindah ke negeri yang hijau dan permai itu. Tetapi, Durotan menyadari bahwa sihir Fel itulah yang selama ini membawa kehancuran, dan tinggal menunggu waktu kaum orc akan jadi korbannya. Ia pun bertekad Gul'dan harus dihentikan.

Secara silih berganti, penuturan Warcraft juga menunjukkan sisi kaum manusia di Stormwind, salah satu kerajaan di Azeroth—keseluruhan negeri ini tampak dihuni oleh beberapa kaum termasuk dwarves dan elves. Dalam posisi bertahan, panglima perang bernama Lothar (Travis Fimmel) ditunjuk Raja Llane (Dominic Cooper) untuk mengatasi serangan kaum orc. Tertangkapnya seorang budak kaum orc, Garona (Paula Patton) dimanfaatkan oleh Lothar untuk mencari tahu maksud kedatangan para orc dan cara menghentikan serangan mereka.

Di sisi lain, seorang penyihir muda bernama Khadgar (Ben Schnetzer) menemukan bahwa kehadiran para orc dibantu oleh Fel, sihir maut yang dilarang keberadaannya di Azeroth. Situasi ini membuat raja harus memanggil kembali penyihir sakti yang dijuluki The Guardian, Medivh (Ben Foster). Khadgar sendiri kemudian menemukan sebuah kejanggalan dari cara orc bisa sampai ke Azeroth, negeri yang selama bertahun-tahun hanya dilanda perdamaian.

Terlepas dari materi sumbernya yang berasal dari video game, film Warcraft rupanya tampil cukup beda dari film-film bergenre epic fantasy yang sudah ada. Memang gambaran dunia dan makhluk-makhluknya lagi-lagi terinspirasi mitologi Eropa kuno—seperti yang dipopulerkan dalam franchise The Lord of the Rings. Namun, Warcraft mampu tampilkan dengan intrik cerita dan karakter yang tidak sederhana, tetapi tetap menarik, sembari memperkenalkan tentang 'mitologi'-nya sendiri. Ini mencakup konsep sihir yang digunakan kedua kubu serta detail budaya dan tata cara hidup yang diterapkan masing-masing kaum.

Sebenarnya semua hal yang diperlukan untuk mengikuti dan memahami kisah Warcraft sudah tersedia dalam sekitar 120 menit durasi film ini. Namun, mungkin masih terlalu singkat untuk muatan cerita film ini yang cukup kompleks. Memang dimaklumi, sebagai film dengan brand baru, durasi yang terlalu panjang akan tampak kurang menarik bagi penonton yang baru kenal. Tetapi, dengan banyak hal yang harus disampaikan dan diperkenalkan, sedangkan waktu yang dipakai hanya sampai dua jam, film ini tak bisa langsung ditangkap dan dicerna seluruhnya dalam satu waktu, akibat penuturannya yang gegas di banyak titik.

Beberapa momen yang berpotensi menarik jadi terkesan sambil lalu. Ini terutama terlihat dari kurangnya atmosfer genting dari serangan orc terhadap Azeroth. Sebagian besar tokoh hanya membahas dampaknya, ketimbang penonton melihat sendiri kengerian dan kepanikan yang timbul. Sempitnya waktu makin tampak di paruh akhir, ketika keputusan-keputusan penting dari para tokohnya harus berbagi jatah dengan penuturan sisa mitologi yang masih harus diperkenalkan, sementara pertarungan besar sudah di depan mata. Akibatnya, banyak adegan dalam bagian ini yang harusnya bisa emosional, menjadi kering.

Meski begitu, bukan berarti Warcraft kehilangan daya tariknya sebagai sebuah tontonan yang menghibur. Film ini tetap mampu menampilkan berbagai kemegahan adegan, khususnya adegan perang dan pertarungan, yang dibantu dengan tata visual effects kelas wahid serta iringan musik yang hidup. Banyaknya selipan humor yang tak menghentikan laju cerita dan berada di titik-titik yang tak terduga juga mampu memercikkan kesegaran di balik plot besar peperangannya. Paling tidak film ini masih tahu cara bersenang-senang ketimbang anggap segala sesuatu terlalu serius layaknya serial Game of Thrones, misalnya.

Yang akhirnya jadi bagian istimewa dari film Warcraft adalah konsep dunia dan ceritanya mampu menjadi bahasan yang menarik, setara atau bahkan lebih dari pada membahas teknologi sinema yang dipergunakan. Kecanggihan animasi CGI-nya jelas memukau, terutama ditunjukkan dari ekspresi hidup dari tokoh-tokoh orc yang dimainkan lewat teknologi motion capture. Tetapi, yang lebih penting film ini sudah menjalankan tugasnya memperkenalkan sebuah dunia yang baru, dan menyampaikan cerita dan karakter dalam dimensi yang cukup berbeda, tidak sekadar mengekor yang sudah ada.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Kamis, 09 Juni 2016

[Movie] Money Monster (2016)


Money Monster
(2016 - TriStar/Sony Pictures)

Directed by Jodie Foster
Screenplay by Jamie Linden, Alan DiFiore, Jim Kouf
Story by Alan DiFiore, Jim Kouf
Produced by Daniel Dubiecki, Lara Alameddine, George Clooney, Grant Heslov
Cast: George Clooney, Julia Roberts, Jack O'Connell, Caitriona Balfe, Dominic West, Giancarlo Esposito, Christopher Denham, Lenny Venito, Emily Meade, Condola Rashad, Aaron Yoo


Film Money Monster udah cukup menggemaskan sejak lihat posternya saja. Ada dua bintang besar Hollywood main bareng (lagi) dengan ekspresi panik dan tegang, lalu sutradaranya adalah salah satu sosok aktris paling dijunjung tinggi, Jodie Foster. Untungnya film thriller satir ini nggak cuma mengandalkan itu. Cerita yang diangkat juga sangat menarik, mungkin terinspirasi dari kolapsnya ekonomi Amerika beberapa tahun lalu, ditambah dengan unsur penyanderaan, investigasi, media penyiaran, keterlibatan tokoh-tokoh berbagai negara, dan, oh, sebagian besar cerita dituturkan real time alias emang durasi kejadiannya segitu.

Hari itu, sebuah program TV seputar keuangan dan saham berjudul Money Monster seharusnya kedatangan seorang narasumber dari IBIS Clear Capital, perusahaan keuangan yang beberapa waktu lalu menyatakan bangkrut karena kesalahan sistem alogaritma, sehingga uang yang ditanamkan para investor pun lenyap. Lee Gates (George Clooney) si host eksentrik mengharapkan CEO IBIS, Walt Camby (Dominic West) untuk hadir di acara tersebut, tapi dengan alasan masih di perjalanan dari Eropa, Walt digantikan direktur humasnya, Diane Lester (Caitriona Balfe). The show must go on, dibantu oleh produsernya, Patty (Julia Roberts), mereka harus tayang live segera.

Tetapi, tiba-tiba seorang pria menyusup dan menembakkan pistol di dalam studio Money Monster saat sedang siaran. Mengaku bernama Kyle (Jack O'Connell), ia juga memasangkan rompi bom kepada Lee, mengancam akan meledakkannya jika pihak IBIS tak segera menjelaskan apa alasan sebenarnya yang membuat uang yang telah ditanamnya lenyap begitu saja, dan ia melarang siaran acara tersebut dihentikan, sehingga seluruh dunia pun menyaksikan penyanderaan ini secara live. Sementara Lee berusaha mengulur waktu, Patty dari ruang kendali studio mulai usahakan untuk menghubungi pihak IBIS, yang kemudian malah mendorongnya untuk membongkar permainan rahasia yang dilakukan IBIS dalam mengelola uang para investornya.

Hal pertama yang gw bisa respons dari film ini adalah Jodie Foster can handle a thriller quite well. Walau awalnya cukup rasanya masih agak jinak dan slow, film ini berangsur-angsur menunjukkan situasi genting dari berbagai sisi dengan cukup rapi dan jelas, ditambah oleh performa akting yang asyik. Film ini juga nggak terlalu ngeribetin soal istilah ekonomi, tinggal bilang zaman sekarang investasi bukan di batangan emas lagi, tapi di sistem elektronik yang akan menaruh nilai uang itu ke tempat-tempat yang paling memungkinkan--misalnya perusahaan yang potensial.

Tapi nggak cuma di sisi itu, film ini juga menunjukkan sisi awam dari sistem ekonomi yang agak ribet itu, yaitu dari Kyle yang tahunya dia taruh duit di IBIS supaya nanti bisa nambah, dan ternyata duitnya hilang, tapi IBIS kok ya masih bisa jalan dan orang-orangnya masih bisa ke sana ke mari pakai fasilitas mewah. Hih. Lalu dimasukkan pula unsur pengaruh media massa yang jatuhnya cukup bikin tertawa getir. Penyanderaan ini kan berbahaya dan melanggar hukum ya, tapi malah jadi tontonan yang bikin orang tune-in, malah ada yang bersimpati sama Kyle. Hell, bahkan Patty masih bisa berusaha ngatur-ngatur kamera di studio harus nyorot ke mana to make a show walau dalam situasi darurat, berhubung acara ini juga di saat bersamaan meroketkan rating stasiun TV-nya. Orang-orang emang suka nontonin penderitaan orang lain =|.

Anyway, Money Monster sebenarnya bukan tontonan yang seserius itu kok, karakteristik Lee dan hubungannya yang akrab--ditandai dengan sering cela-celaan =D--dengan Patty menjadi dinamika yang berhasil mengangkat nilai hiburan film ini, yah sebagaimana diharapkan dari pertemuan Clooney dan Roberts, sekalipun mereka cuma tampil satu frame dalam dua adegan saja, sisanya mereka komunikasi via audio saja. Ceritanya juga diolah menarik, dengan perubahan keberpihakan di cerita seiring mulai terungkapnya berbagai fakta di balik kasus ini. Walau bagian akhirnya terkesan agak komikal atau 'film banget' tapi toh keseluruhan film ini memang semacam panggung satir--dengan humor yang lumayan renyah--terhadap hubungan manusia dengan uangnya. Gw respek juga bahwa ketika gw dibawa untuk mendukung pihak yang dikesankan"protagonis", pihak "antagonis"-nya masih mampu melemparkan argumen yang masuk akal. So that's fun.




My score: 7/10

Senin, 06 Juni 2016

[Movie] My Stupid Boss (2016)


My Stupid Boss
(2016 - Falcon Pictures)

Directed by Upi
Screenplay by Upi
Based on the books by Chaos@work
Produced by Frederica
Cast: Bunga Citra Lestari, Reza Rahadian, Alex Abbadd, Bront Palarae, Atikah Suhaime, Chew Kinwah, Iskandar Zulkarnain, Melissa Karim, Nadiya Nissa, Shamaine Othman, Sherry Al Hadad, Richard Oh


My Stupid Boss awalnya adalah seri buku kumpulan cerita karya penulis anonim Indonesia, Chaos@work, tentang berbagai pengalamannya bekerja untuk seorang bos berkelakuan ajaib—yang identitasnya juga tidak diungkap. Dari judulnya saja yang menyiratkan emosi, mungkin bisa dibayangkan bagaimana ajaibnya bos tersebut di mata sang penulis, sampai-sampai cukup untuk ditulis dan dikumpulkan jadi beberapa jilid buku.

Berangkat dari gagasan tersebut, dibuatlah versi film layar lebar My Stupid Boss, diproduksi Falcon Pictures bersama sutradara Upi yang juga menulis skenarionya. Sekalipun bukunya sendiri diaku sebagai kumpulan pengalaman nyata, film My Stupid Boss mengangkatnya dalam sebuah komedi dengan visualisasi yang absurd dan komikal. Ini sangat jelas ditunjukkan dengan taburan warna-warna menyala namun tertata dari desain produksi dan sinematografinya, hingga penataan adegan dan bangunan karakter yang absurd.

Setiap tokoh yang ditampilkan pun dirancang dengan tampilan dan karakteristik yang khas, khususnya dari dua tokoh utamanya, Bossman (Reza Rahadian) dan kepala administrasi alias kepala kerani di kantornya, Diana (Bunga Citra Lestari), didukung oleh tata rias dan kostum yang hampir mustahil diaplikasikan di dunia nyata. Dengan perlakuan demikian, My Stupid Boss bisa dengan leluasa menuturkan ceritanya yang memang terdiri dari rangkaian adegan-adegan komedi absurd, dengan maksud mengajak penontonnya bersenang-senang.

Film ini mengikuti kisah Diana, yang tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia bersama suaminya, Dika (Alex Abbad) yang sedang bekerja di sana. Untuk mengisi waktunya, Diana memutuskan untuk bekerja di sebuah kantor perusahaan bidang manufaktur. Kebetulan perusahaan itu dipimpin sesama orang Indonesia dan merupakan teman dekat Dika saat kuliah di Amerika Serikat.

Akan tetapi, Diana seakan belum siap bahwa sang pemimpin perusahaan yang hanya mau dipanggil Bossman itu ternyata menguji kesabarannya dengan berbagai kelakuan nyeleneh dan mengesalkan. Mulai dari pelit, pelupa, ngotot, sembarang bicara, suka pamer, tak mau disalahkan, sampai menyelewengkan aturan negara. Seringkali Diana terjebak dalam konsekuensi kelakuan bosnya itu, karena jabatannya memang langsung di bawah si bos, dan sedikit banyak jadi andalan satu-satunya bagi sang bos.

Tuturan cerita My Stupid Boss kemudian digerakkan lewat berbagai kejadian unik dan memancing tawa seputar hubungan Bossman dengan para pegawainya—kecuali Diana, semuanya merupakan orang Malaysia dan kerap timbul kesalahpahaman karena perbedaan bahasa dan budaya.

Bagusnya, sekalipun ditampilkan dengan gaya komikal dan dilebih-lebihkan di beberapa titik—bahkan sampai tampilkan adegan musikal, film ini bisa menampilkan konflik-konflik yang masih believable dan bisa dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, karena hanya reaksi tokohnya yang berlebihan, bukan konfliknya.

Namun, bila diperhatikan, film ini seperti hanya berisi rangkaian fragmen tanpa ada sebuah garis cerita yang jadi perekatnya. Hal ini membuat film ini sempat tak terbaca arahnya ke mana, karena baik waktu, tempat, maupun event yang diangkat terbilang acak, tanpa pengikat untuk menjadi jalinan cerita yang utuh. Paling kentara adalah sebuah belokan dari karakter Bossman di bagian akhir film yang terasa tiba-tiba, karena belum sempat dibangun dalam adegan-adegan sebelumnya, seakan fragmen ini dipaksakan ada supaya filmnya bisa segera dituntaskan.

Meski demikian, terlihat sebuah usaha dari pembuat film untuk mengelompokkan fragmen-fragmen itu menjadi beberapa babak. Diawali dari perkenalan dan ketidakberdayaan Diana menghadapi Bossman, lalu upaya Diana 'bangkit' dan melawan Bossman, sampai ditutup dengan rekonsiliasi mereka berdua. Disampaikan dengan dinamika emosi yang baik dari adegan dan performa para pemain, pembabakan itu cukup mampu membuat film ini menarik diikuti, minimal tidak sampai menjenuhkan.

Terlepas dari itu, My Stupid Boss terlihat sadar akan amunisi utama yang menghidupkan film ini, yaitu para pemainnya. Baik itu dari Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari yang bermain lepas sebagai Diana yang outspoken, maupun para aktor-aktris asal Malaysia sebagai pegawai Bossman di kantornya—antara lain Bront Palarae, Chew Kinwah, Atikah Suhaime, dan Iskandar Zulkarnain—yang mampu bermain kompak dan menonjol dengan karakterisasi komikal yang diberikan. Ketika dikira dandanan dan performa eksentrik Reza akan mendominasi, pemain lainnya terbukti berhasil mengimbanginya.

Pada akhirnya, dalam kapasitasnya sebagai sebuah film hiburan, My Stupid Boss mampu menunaikannya. Kalaupun masih terganjal pada lemahnya cerita atau lawakannya yang mungkin tak selalu bisa kena ke semua selera, film ini masih mampu menarik perhatian dari nilai produksi yang serius dan penampilan asyik para pemerannya. Bahkan, mungkin bagi beberapa orang film ini bisa mewakili rasanya memiliki atasan ajaib seperti Bossman.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Sabtu, 04 Juni 2016

[Movie] Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara (2016)


Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara
(2016 - Film One Productions)

Directed by Herwin Novianto
Screenplay by Jujur Prananto
Story by Gunawan Raharja
Produced by Hamdhani Koestoro
Cast: Laudya Cynthia Bella, Dionisius Rivaldo Moruk, Agung Isya Almasie Benu, Arie Kriting, Ge Pamungkas, Lydia Kandou, Deky Liniard Seo, Surya Sahetapy


Dari judulnya saja, film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara seperti sebuah 'surat terbuka' yang tak punya rahasia lagi. Terlalu jelas apa yang ingin disampaikan, bahkan akan seperti apa akhir ceritanya, hanya dari gambaran aktris Laudya Cynthia Bella beratribut hijab muslim di tengah-tengah anak-anak SD Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur yang diketahui mayoritas menganut Katolik, dan diperjelas lagi lewat berbagai materi promosinya. Berbeda tetapi hidup dengan rukun, sebuah pesan sederhana dan sudah terlalu lama didengar di negeri Indonesia, tetapi entah kenapa tak pernah terwujud sempurna.

Namun, bagaimana film Aisyah kemudian dikemas menjadi satu hal yang patut ditengok. Film ini back to basics dengan cerita yang ingin menyampaikan pesan perdamaian tanpa muatan serba bombastis. Kisah, konflik, dan karakternya pun dibuat sesederhana mungkin, bahkan mungkin menyentuh ranah klise di beberapa tempat. Akan tetapi, terlihat juga sebuah keahlian dari sutradara Herwin Novianto, penulis Jujur Prananto dan Gunawan Raharja, beserta tim lainnya, dalam memperlakukan materi cerita sederhana dan sebuah pesan yang berpotensi (sangat) menggurui, menjadi sebuah film yang disajikan sehalus mungkin, berimbang, nyaman disaksikan, dan tetap bermakna.

Film Aisyah menyorot tentang perbedaan, bagaimana Aisyah (Laudya Cynthia Bella) yang awalnya tinggal di kawasan perkebunan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, bersama keluarganya di lingkungan yang diasumsikan dihuni sesama muslim. Kemudian ia pindah untuk jadi guru kelas jauh di Dusun Derok, Kabupaten Timor Tengah Utara—di dekat Atambua, perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Tak hanya jauh jaraknya dari rumah, daerah itu juga berkondisi panas dan kering, dan mungkin untuk pertama kalinya, ia dalam posisi sebagai penganut agama yang minoritas. 

Kesulitan dan tantangan yang kemudian dihadapi Aisyah sebenarnya hal-hal yang sangat sederhana dan obvious, tetapi cukup krusial dan nyata. Mulai dari kekeliruan terhadap identitas Aisyah karena sulitnya infrastruktur dan telekomunikasi di desa, kebingungan penduduk desa pada makanan untuk Aisyah lantaran mereka sehari-harinya makan babi—walau tak satu pun babi dan segala bentuknya ditunjukkan di gambar film ini, kesulitan air bersih, hingga melayani pertanyaan murid-muridnya tentang perbedaan di antara mereka, yang memang sensitif tetapi harus dijawab. 

Tantangan terbesar dan jadi pengikat utama film ini adalah Aisyah yang diboikot oleh salah seorang muridnya, Lordis Defam (Agung Isya Almasie Benu), karena di benaknya telanjur tertanam bahwa umat Islam dan Kristen bermusuhan. Inilah yang dipakai sebagai sisi dramatis film ini, yang memotivasi Aisyah untuk mencari cara membangun kepercayaan dari murid-muridnya.

Sesuai misinya, film ini terus menampilkan pesan perdamaian antara Aisyah dan murid-muridnya. Mulai dari simbol yang gamblang lewat saling peduli terhadap ibadah hari raya masing-masing agama, sampai penggambaran yang subtil dari tahap demi tahap keakraban Aisyah dengan lingkungan sekitarnya. Ia juga ditunjukkan memberi kontribusi, bukan berupaya memengaruhi. Dengan pengadeganan yang tak terlalu mengada-ada, tetapi juga tidak ofensif dan tidak menggampangkan, pemandangan ini berhasil menimbulkan kesan menyenangkan, sebuah pencapaian yang jarang bisa dilakukan dengan baik.

Ada juga satu tema menarik yang mungkin hanya tampak sekilas, yaitu persepsi tentang NTT sebagai wakil dari kawasan Indonesia bagian Timur dari sudut pandang yang tinggal di wilayah Barat atau Pulau Jawa. Di awal film, ibu Aisyah (Lydia Kandou) punya reaksi otomatis menolak putrinya berangkat ke desa di NTT. Ia khawatir, seolah memang telah tertanam di benaknya melalui media, bahwa itu daerah yang terlalu sulit untuk dihadapi Aisyah. Atau secara kasarnya, itu wilayah yang 'asing' sekalipun masih dalam teritori Republik Indonesia.

Namun, film ini justru menunjukkan bahwa sebenarnya penduduk desa Derok tidak meratapi diri. Sulit air, tak ada listrik, tetapi kehidupan tetap berjalan. Mereka masih bisa bermain, bercanda, dan bercengkerama sekalipun ditantang oleh minimnya fasilitas dari negara. Pemenuhan kebutuhan tak semudah di kota—atau pulau Jawa—namun ada saja cara untuk memenuhinya. Aisyah pun, walau berasal dari kehidupan yang terbilang nyaman, ditampilkan tidak terlalu kesulitan mengikuti ritme tersebut, bahkan ia menemukan keluarga baru di tempat yang dianggap 'asing' itu.

Film Aisyah tidak melulu soal tema-tema besar. Film ini juga masih bisa bertumpu pada kisah pada tokoh yang jadi judulnya. Menarik menyaksikan Aisyah yang di awal tampak naif, berangsur berubah menjadi sosok yang lebih teguh dan dewasa lewat pengalamannya sebagai guru di Derok. Kebersamaan Aisyah dengan murid-muridnya berhasil melesapkan motivasi awalnya yang lebih didorong oleh pembuktian diri di hadapan ibu dan teman dekat prianya, Jaya (Ge Pamungkas), berakhir jadi sebuah pengabdian seutuhnya, dan memenuhi cita-cita darinya sendiri.

Memang masih terselip beberapa titik yang terasa kendor, mulai dari pengadeganan porsi Ciwidey yang terlalu komikal, penyelesaian hubungan Aisyah dan Jaya yang cenderung menggelikan, sampai penempatan musik yang terlampau lantang di beberapa bagian—untungnya tidak banyak. Namun, mungkin itulah yang diperlukan agar film ini bisa menyeimbangkan tema yang sebenarnya sangat serius menjadi lebih ringan dan mudah diserap.

Itu tak sampai menutupi bahwa film ini punya tuturan yang baik, laju yang nyaman diikuti, porsi ceria, humor, dan haru yang tepat, ditopang juga dengan kekompakan para pemainnya—khususnya antara Bella dengan para pemain lokal NTT serta komedian Arie Kriting yang tampil segar tanpa melawak. Film ini juga mampu mengusung pesan tanpa harus menyusunkan kalimat pesan tersebut kepada penonton, karena semua sudah diterapkan dalam bentuk cerita dan adegan-adegan. Itu adalah sesuatu yang butuh kepekaan dan keterampilan, dan film Aisyah mampu menunjukkannya, lebih dari film-film berlabel 'inspiratif' yang terlalu banyak dibuat belakangan ini.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] X-Men: Apocalypse (2016)


X-Men: Apocalypse
(2016 - 20th Century Fox)

Directed by Bryan Singer
Screenplay by Simon Kinberg
Story by Bryan Singer, Simon Kinberg, Michael Dougherty, Dan Harris
Produced by Simon Kinberg, Bryan Singer, Lauren Shuller Donner
Cast: James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, Oscar Isaac, Nicholas Hoult, Rose Byrne, Evan Peters, Tye Sheridan, Sophie Turner, Kodi Smit-McPhee, Olivia Munn, Alexandra Shipp, Ben Hardy, Lucas Till, Josh Helman, Lana Condor


Sebagai salah satu pelopor kesuksesan film-film superhero Hollywood era milenium, franchise X-Men versi layar lebar terbukti sukses bertahan sampai 16 tahun. Bahkan, bisa dibilang semua film di franchise ini—di luar dua spin-off Wolverine dan Deadpool—masih melibatkan tenaga kreatif yang sama. Ini terutama berlaku bagi sineas Bryan Singer, yang kini kembali menyutradarai film terbarunya, X-Men: Apocalypse, film keenam sejak X-Men (2000) atau yang ketiga sejak reboot X-Men: First Class (2011).

Karena usia franchise X-Men yang lumayan panjang, dalam Apocalypse sudah tak banyak dijelaskan lagi apa itu yang disebut mutan—notabene manusia-manusia yang memiliki kekuatan super karena mutasi genetik alias 'sudah dari sananya', ataupun latar belakang sebagian tokoh yang sudah muncul di hampir setiap episode franchise ini. Apocalypse bisa dibilang diuntungkan dengan bangunan universe yang sudah dimulai terutama dari First Class dan X-Men: Days of Future Past (2014). Latar belakang universe kisah ini otomatis hanya ditampilkan sekilas di Apocalypse.

Bila disimpulkan, semua film dari franchise X-Men bertumpu pada pembahasan tentang posisi mutan di antara manusia. Mutan umumnya ditakuti dan ditindas lantaran dianggap aneh dan berbeda. Dari sana timbul pertentangan pendapat dari dua mutan bersahabat, Professor Charles Xavier dan Erik Lensherr tentang bagaimana menyikapinya. Charles punya keyakinan manusia dan mutan bisa hidup berdampingan dengan damai asal ada saling pengertian. Erik lebih melihat bahwa manusia penindas mutan tak akan mengerti dan harus disingkirkan. Tema besar ini masih dijadikan dasar untuk Apocalypse.

Berlatar era 1980-an, kisah Apocalypse mengambil waktu sekitar 10 tahun sejak akhir film Days of Future Past. Keberadaan para mutan sudah jadi rahasia umum, terutama sejak upaya pembunuhan presiden AS oleh Erik Lensherr alias Magneto (Michael Fassbender) yang berhasil dicegah oleh sesama mutan, Raven alias Mystique (Jennifer Lawrence). Ini menjadi titik perubahan besar terhadap keberadaan mutan: para mutan lain tak lagi harus takut akan jati dirinya, dan manusia pun makin tahu cara menghadapi, mengatasi, bahkan mengontrol mutan. Ya, nyatanya manusia dan mutan belum bisa benar-benar hidup membaur.

Plot Apocalypse sendiri digerakkan oleh kemunculan En Sabah Nur (Oscar Isaac)—yang dalam versi komiknya juga disebut dengan nama Apocalypse. Di awal film digambarkan bahwa En Sabah Nur menjadi sembahan bak dewa bagi penduduk Mesir kuno, karena memiliki berbagai kekuatan dahsyat. Ternyata, dia sebenarnya adalah sang mutan pertama di bumi, yang kerap mengambil berbagai kekuatan dari mutan lainnya dan mampu berumur panjang. Namun, sebuah pemberontakan dari tentara Mesir membuatnya terkubur di dasar sebuah piramida hingga ribuan tahun.

Sampai akhirnya, En Sabah Nur dibangkitkan lagi di tahun 1983 oleh sebuah kultus. Kebangkitannya pun menimbulkan petaka baru, karena ia ingin menghancurkan bumi yang dianggap telah menyimpang dari yang seharusnya, lalu membangun tatanan baru menurut kemauannya. Untuk mencapai tujuannya, ia merekrut empat mutan yang menjadikannya mutan terkuat: Storm (Alexandra Shipp), Psylocke (Olivia Munn), Archangel (Ben Hardy), dan Magneto.

Keadaan ini memaksa Professor Charles Xavier (James McAvoy) untuk bertindak. Ia masih percaya pada jalan damai, namun kekuatan En Sabah Nur yang dahsyat membuatnya kehabisan pilihan. Kehadiran kembali Mystique mendorong rekan-rekan dan anak-anak didik Charles untuk siap melawan En Sabah Nur demi kelangsungan bumi. Para personel X-Men senior seperti Hank McCoy alias Beast (Nicholas Hoult) dan Alex Summer alias Havoc (Lucas Till) bergabung dengan para mutan muda: Peter Maximoff alias Quicksilver (Evan Peters), Jean Grey (Sophier Turner), Scott Summers alias Cyclops (Tye Sheridan), hingga Kurt Wagner alias Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee).

Di antara film-film superhero yang selama ini dibuat, X-Men memang punya karakteristik tersendiri. Selain karena tokoh-tokoh berkekuatan supernya lebih banyak, bangunan cerita-cerita X-Men tak sesederhana si baik melawan si jahat. Konflik-konflik yang ditampilkan hampir selalu berkaitan dengan perang prinsip, dan itu seringkali membuat tokoh yang tadinya baik bisa berbuat jahat dan sebaliknya—ini terutama terlihat pada Magneto dan Mystique sejak First Class.

Apocalypse tampaknya masih bergerak pada bingkai tersebut, bagaimana para mutan ini mencari jalan mana yang ingin dipilih, antara menguasai bumi atau melindunginya. Namun, agak berbeda dari film-film pendahulunya, film yang skenarionya dikerjakan Simon Kinberg ini kelihatan lebih menyorot ke sisi personal. Taruhannya masih keselamatan dunia, namun tak seperti First Class yang berupaya mendorong para mutan untuk lindungi dunia, atau Days of Future Past yang bertujuan mengubah persepsi terhadap kaum mutan, perubahan keadaan yang diupayakan di Apocalypse lebih condong pada Charles dan Mystique membuat Magneto berbalik dari kejahatan.

Angle ini sebenarnya mampu membuat film ini menjadi menarik, bahwa sekalipun dijejali dengan rangkaian aksi dan visual riuh rendah, serta pameran kekuatan para mutan secara bergilir, film ini berpegang pada sesuatu yang dekat dan sederhana, tentang dinamika hubungan antarkarakter ini. Akan tetapi, dari segi ide, kesederhanaan ini membuat Apocalypse jadi tidak lebih kuat dari para pendahulunya. Apa yang diperjuangkan para X-Men di sini tak memberikan dampak perubahan sebesar dua film sebelumnya yang lebih principle bagi universe-nya.

Kemunculan En Sabah Nur yang seharusnya mahadahsyat jadi seolah kurang mengancam, hanya seorang penjahat yang harus dibasmi lalu selesai. Keberadaan sebagian tokoh mutannya pun jadi lebih banyak diam menunggu giliran disorot kamera ketimbang berbuat sesuatu yang signifikan—kecuali Magneto yang punya banyak momen menarik dan emosional. Tidak membantu juga bahwa film ini jadi terlalu panjang karena banyaknya potongan cerita yang ingin disampaikan dari karakter-karakternya yang cukup banyak itu, dan kurang berenerginya adegan laga pamungkasnya sekalipun didesain megah.

Meski demikian, Apocalypse tidak bisa dibilang gagal dalam melanjutkan bangunan cerita X-Men versi layar lebar, memperpanjang 'mitos' tentang superhero yang disebut mutan tersebut. Apocalypse juga masih dihiasi oleh karakterisasi yang menarik sekalipun porsinya terbagi-bagi, baik dari tokoh lama, tokoh baru, maupun tokoh lama yang diperbarui, serta masuknya unsur humor yang bisa jadi melebihi film-film sebelumnya, yang membuat film ini tetap menghibur secara keseluruhan. Tidak memberi pengembangan yang hebat, tapi paling tidak film ini masih menunjukkan konsistensi tema yang selama ini diusung. Bukan film X-Men yang kuat, tetapi bukan berarti lemah juga.





My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Green Room (2016)


Green Room
(2016 - Broad Green Pictures/A24)

Written & Directed by Jeremy Saulnier
Produced by Neil Kopp, Victor Moyers, Anish Savjani
Cast: Anton Yelchin, Imogen Poots, Alia Shawkat, Patrick Stewart, Joe Cole, Callum Turner, Macon Blair, Mark Webber, David W. Thompson, Taylor Tunes, Jake Kasch, Samuel Summer, Eric Edelstein, Brent Werzner


Green Room ini mungkin se-indie-indie-nya film Amerika ya. Well bukan berarti murah juga, tapi dari ide dan tuturan ceritanya yang memang skala kecil dan menampilkan kehidupan yang mungkin tak banyak disorot dalam film-film Hollywood. Jadi film ini adalah thriller, semacam gabungan penyanderaan dan horor home invasion, tapi settingnya sebuah klub yang sering jadi tempat manggung band punk, yang kebetulan jadi sarang kelompok fasis radikal. Sesuatu yang belum pernah gw lihat sebelumnya nih. Biasanya kalau horor kan ceritanya antara sekelompok anak muda kejebak di rumah hantu dan mati satu-satu, atau terjebak di hutan dikepung monster atau milisi atau suku kanibal lalu mati satu-satu. Nah, ini dikepung kelompok radikal, kayak gimana tuh ngerinya?

Band empat orang beraliran punk The Ain't Rights menyetujui tawaran untuk main di sebuah klub yang ternyata adalah tempat kongkownya kelompok neo-Nazi--yang anggap ras kulit putih adalah yang paling unggul dan sebagainya. Tapi ya sebenarnya simpel aja, mereka cuma band, main berapa lagu, terima duit, keluar. Pas udah mau cabut, ehhhh, ada aja yang ketinggalan. 

Si bassis Pat (Anton Yelchin) mau ngambil handphone-nya si gitaris Sam (Alia Shawkat) di green room--istilah ruang tunggu buat yang akan manggung. Ternyata, Pat masuk pada saat yang salah, ia melihat ada seorang wanita tertusuk di kepala. Sebagai warga negara yang baik, Pat mau telepon nomor darurat, tapi dilarang-larang sama manajer klub, Gabe (Macon Blair), dan Pat sama satu bandnya malah disuruh masuk green room sama orang dalem yang namanya Amber (Imogen Poots) dan bouncer bernama Big Justin (Eric Edelstein). Mencium ada yang tidak beres dan sadar nggak punya posisi tawar, Pat berakal untuk mengunci diri mereka bersama mayat korban dalam green room, dan baru akan keluar kalau polisi sudah datang. Jadi kayak menyandera diri mereka sendiri, ya nggak sih?

Anyway, gw cukup impressed dengan apa yang digagas di film ini dari segi ceritanya. Walau agak meraba-raba di awal, pada akhirnya gw nangkep sebuah skema yang cukup brilian, terutama kenapa si kelompok neo-Nazi ini anggap penting banget untuk polisi tidak sampai datang ke tempat mereka. Apa sih yang disembunyikan? Yah, namanya kelompok bawah tanah, sekalipun ada di negara bebas macam Amerika yang tidak melarang mereka berkumpul, menyatakan pendapat, dan beraktivitas, kalau udah nyangkut kriminal, mereka bakal kena ciduk juga. So basically ini film soal kelompok neo-Nazi putar-putar strategi melawan sekelompok anak band yang nggak tahu apa-apa.

Cuma mungkin penyampaiannya yang nggak bikin terlalu nyaman. Selain karena ruang-ruangnya gelap, tensions-nya agak lamban, dan tuturannya yang banyak meraba-raba tadi, gw agak terganggu sama akting sebagian protagonisnya yang kayak teler. Ngerti sih mungkin mereka muda-mudi panik, tapi ya bikin males aja gitu lihatnya kalau ngomong diseret-seret dan sebagainya. Dan sayangnya, kalau versi bioskop sini, unsur-unsur violence yang mungkin dapat mengimbangi gelagat agak teler karakter-karakternya semacam diamputasi dari filmnya karena lembaga sensor. Yah jadi kurang berdarah gitulah, literally.

Tapi, at least dari konsep dan idenya, film ini mampu tampil beda, quite original-lah istilahnya, dan itu penting untuk sebuah film "kecil-kecilan" gini. 





My score: 6,5/10