Senin, 23 Mei 2016

[Movie] The Angry Birds Movie (2016)


The Angry Birds Movie
(2016 - Columbia/Rovio Animation)

Directed by Clay Kaytis, Fergal Reilly
Written by Jon Vitti
Produced by John Cohen, Catherine Winder
Cast: Jason Sudeikis, Josh Gad, Danny McBride, Bill Hader, Maya Rudolph, Sean Penn, Keegan-Michael Key, Peter Dinklage, Kate McKinnon, Tony Hale


Pengembangan mobile game asal Finlandia, Angry Birds, ke dalam berbagai format sepertinya tak terhindarkan. Tak hanya dalam bentuk game berbagai versi, popularitas Angry Birds belakangan didukung lewat merchandise, buku, animasi pendek, hingga akhirnya tiba juga dalam bentuk film animasi layar lebar. Rovio Entertainment selaku pemilik hak cipta Angry Birds menggandeng studio Hollywood, Sony Pictures untuk membuat The Angry Birds Movie, di bawah arahan sutradara Clay Kaytis dan Fergal Reilly, serta skenario dari Jon Vitti.

The Angry Birds Movie bisa dikatakan punya premis dasar seperti game-nya. Game Angry Birds adalah kisah perseteruan kaum burung warna-warni tak bisa terbang melawan babi hijau yang mencuri telur-telur mereka. Lalu, burung-burung yang geram ini mencoba merebut kembali hak mereka dengan menabrakkan diri pada benteng-benteng buatan para babi hijau. Premis ini kemudian dikembangkan jadi sebuah kisah asal muasal perseteruan itu dalam The Angry Birds Movie.

Tokoh utama film ini adalah Red (diisi suara oleh Jason Sudeikis), burung berwarna merah yang dikucilkan penduduk negeri burung karena sifatnya yang pemarah dan bermulut pedas. Sebuah kelalaian yang dilakukan Red membuatnya dihukum untuk mengendalikan amarahnya dalam sebuah terapi. Di sana, ia bertemu dengan Chuck (Josh Gad) si burung kilat, Bomb (Danny McBride) yang bisa meledak saat kaget atau marah, serta Terence (Sean Penn) si raksasa pendiam. Pertemanan baru pun dimulai.

Kedamaian negeri burung tiba-tiba terinterupsi dengan merapatnya sebuah kapal milik para kaum babi hijau. Lantaran tak pernah mengetahui ada negeri lain selain negeri burung, penduduk pun menyambut hangat para babi hijau ini. Tetapi, hanya Red yang curiga ada maksud lain di balik kedatangan mereka—selain karena kapal mereka menyenggol rumahnya. 

Red pun harus meyakinkan teman-teman dan para penduduk bahwa para babi hijau ini tak bermaksud baik, tetapi reputasinya yang buruk membuatnya tak dipercaya. Akhirnya, Red memutuskan untuk minta tolong pada sosok legendaris, Mighty Eagle (Peter Dinklage), yang sudah lama tak pernah muncul di negeri itu.

The Angry Birds Movie cukup sanggup membuat pengembangan menarik dari karakter-karakter yang selama ini hanya diketahui wujud dan fungsinya dalam game. Dari permainan yang dasarnya adalah menembak dan menumpas babi hijau jahat, diubah menjadi sebuah film komedi petualangan yang cukup riuh. Karakterisasinya juga dibuat menarik dan tanpa harus benar-benar menyimpang dari gambaran aslinya. Ini terutama berlaku bagi Red, Chuck, Bomb, bahkan Terrence, karena watak yang khas dan komikal yang ditanamkan membuat mereka bisa mudah untuk disukai.

Dilihat dari visual dan inti cerita, juga sebagai adaptasi game populer, The Angry Birds Movie termasuk sebuah tontonan yang mudah dicerna. Walau harus diakui ceritanya agak tipis dan mudah ditebak, film ini memasukkan benang merah cerita yang cukup konsisten sejak awal hingga akhir, yaitu bagaimana sosok Red yang dikucilkan—atau mengucilkan diri—karena sifat-sifat buruknya, dapat berubah dan mendapatkan kembali kepercayaan dari sekelilingnya. Cerita seperti ini memang cukup sering ditemukan, terutama dari film-film animasi dan keluarga produksi Hollywood. Namun, film ini sanggup meleburkannya dalam karakter-karakter Angry Birds dengan cukup lancar.

Bahkan, gimmick khas Angry Birds dalam menyerang para babi hijau dengan menerbangkan diri memakai ketapel juga ditampilkan cukup sesuai dengan kebutuhan cerita, lengkap dengan kemampuan masing-masing karakter—seperti meledak atau menggelembung, dalam penataan adegan yang seru. Jadi, meski tidak sama persis dengan memainkan game-nya, dan kendali tidak lagi ada di tangan si pemain, film ini tetap bisa memiliki sisi fun tersendiri.

The Angry Birds Movie jelas terlihat ditujukan untuk semua umur, dan maksud itu bisa diakomodasi dengan baik lewat penataan visualnya yang penuh warna, laju penuturan cerita yang sederhana, karakter-karakter kocak, serta musik yang rancak. Artinya juga, film ini harus bisa menarik minat orang berumur dewasa agar tidak jadi tontonan numpang lewat semata, dan upaya itu sebenarnya cukup terlihat di film ini.

Ada semacam metafora dari gambaran penduduk negeri burung yang kelewat nyaman sampai tak bisa mencapai potensi maksimalnya—misalnya terbang. Ditambah tak mengenal dunia luar, mereka pun jadi sasaran empuk pihak-pihak jahat. Demikian juga kedatangan para babi hijau yang bak penjajah kolonial: berkedok sebagai penghibur dan membangun negeri burung dengan teknologi dan industrialisasi, mereka ternyata mencuri telur-telur milik penduduk negeri burung. Hanya saja unsur-unsur yang bersifat satir itu memang agak tertutupi dengan pembawaan filmnya yang serba ceria dan humoris, mungkin supaya tidak jadi terlalu berat.

Akan tetapi, timbul ganjalan lain. Sebagian besar humor yang ditampilkan film ini tampaknya akan lebih kena ke penonton yang sudah berumur dewasa. Walau tidak sampai pada tahap ofensif, cukup banyak humor yang cenderung kasar, setara dengan humor-humor khas kartun Looney Tunes buatan Warner Bros. dahulu atau film-film awal DreamWorks Animation. Mungkin masih bisa membuat tertawa sebagian penontonnya, tetapi berpotensi membuat sebagian penonton lain tak nyaman. Ini lagi-lagi tergantung selera.

Dengan segala keberadaannya, The Angry Birds Movie sedikitnya bisa ikut menopang popularitas merek Angry Birds yang mendunia. Film ini tidak menyimpang jauh dari materi asalnya, sekaligus bisa juga diikuti walau penontonnya mungkin belum kenal game-nya. Belum sempurna, tidak juga sangat istimewa, tetapi bila hiburan yang dicari, film ini menyediakannya.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

[Movie] Midnight Special (2016)


Midnight Special
(2016 - Warner Bros.)

Written & Directed by Jeff Nichols
Produced by Brian Kavanaugh-Jones, Sarah Green
Cast: Michael Shannon, Joel Edgerton, Kirsten Dunst, Jaeden Lieberher, Adam Driver, Bill Camp, Scott Haze, Sam Shepard, Paul Sparks, David Jensen


Searching nama sutradaranya di Google, Jeff Nichols ini ternyata lebih banyak bergerak di film independen dengan cerita selalu di pedalaman Amerik non-metropolitan. Cukup menarik ketika dia kali ini membuat sebuah film yang digambarkan sebagai sci-fi, apalagi plotnya melibatkan pengejaran oleh pihak pemerintah. Wah, rame nih kayaknya...eh nyatanya Midnight Special bukan film kejar-kejaran atau alien-alienan Hollywood biasa, karena toh filmnya balik lagi ke drama, dan lagi-lagi menjelajah Amerika yang pedalaman, macam pantura gitulah.

Bisa dibilang Midnight Special itu agak pelit dalam memberikan detil cerita. Sejak awal ceritanya udah menyorot dua pria bernama Roy (Michael Shannon) dan Lucas (Joel Edgerton) sedang dalam perjalanan bersama seorang bocah, Alton Meyer (Jaeden Lieberher) menuju ke suatu tempat. Mereka berjalan sembunyi-sembunyi dan hanya pergi ke tempat orang-orang yang dipercaya, karena mereka dituduh menculik Alton. Mereka kemudian dijadikan buronan oleh pihak berwenang dari pemerintah.

Motivasi dan penjelasan lain mengenai mereka kemudian diungkit sambil jalan selama mungkin separoh durasi film *serius*, lewat berbagai metode, entah dialog antara Roy cs ataupun penyelidikan yang dilakukan agen NSA Paul Sevier (Adam Driver). Kesimpulannya, Alton adalah anak kandung Roy yang kemudian diadopsi orang lain dalam sebuah komunitas religius fanatik. Alton jadi anak yang penting bagi komunitas itu karena memiliki kemampuan ajaib, menyuarakan hal-hal yang harusnya ia tidak tahu sehingga dianggap pewahyuan, tapi dia cuma bisa keluar rumah kalau nggak ada matahari. Pihak pemerintah ternyata mencari Alton bukan karena diculik, tapi karena dia bisa mengetahui kode-kode pemerintah yang seharusnya rahasia. Sampai suatu ketika Roy memutuskan melarikan Alton, sementara Alton sendiri memang menyatakan merasa terpanggil untuk pergi ke suatu tempat, dan mencari dari mana sebenarnya kekutan ajaibnya itu.

Buat gw Midnight Special adalah treatment yang menarik untuk genre ini. Meskipun lingkupnya sederhana, pengungkapan-pengungkapan cerita dilakukan dengan adegan-adegan yang lumayan antik, contohnya yang berkesan buat gw adalah saat Alton dapat 'wahyu' lalu Roy menunjukkan Alton sebenarnya menangkap sebuah sinyal radio, atau saat Alton berada di ruang pemeriksaan dan memanipulasi berbagai alat yang ada di sana. Pretty much apa pun yang berhubungan dengan kekuatan Alton itu ditunjukkan dengan menarik, soalnya nggak serba CGI.

Tapi harus diakui bahwa mengikuti Midnight Special agak butuh energi. Laju lambat dan detail cerita yang dieman-eman itu bisa aja bikin bosan sampai kesal yang nonton. Nggak ada penjelasan yang benar-benar komplit disampaikan dalam satu waktu, semua informasinya tercecer di berbagai adegan, dan penonton musti jeli untuk mengumpulkan itu jadi satu informasi yang utuh sebelum babak pamungkas film ini, agak pe-er sih ya. Untungnya sih buat gw film ini nggak menyingkirkan humor dan saat ada adegan kejar-kejaran kendaraan itu juga cukup seru, cuma memang porsinya nggak banyak. 

Satu lagi hal yang buat gw film ini jadi lebih menarik adalah tentang metafora yang gw tangkap bernada spiritual. Menarik bahwa sosok Alton mengingatkan gw pada cerita Yesus, yang diharapkan jadi penyelamat bagi orang-orang komunitasnya saja, padahal ada maksud lain yang lebih besar dan belum dipahami termasuk oleh orang-orang terdekatnya, serta konsep bahwa dia bukan berasal dari 'dunia' ini. Gw juga terkelitik pada gambaran bahwa dunia spiritual ya memang sifatnya alien alias tidak seperti yang dikenal atau dibayangkan oleh manusia yang ada di 'sebelah' sini. Untuk bagian ini, gw kasih jempol deh,

So, Midnight Special mungkin belum spesial buat gw, yah karena masih agak berat untuk mengikuti laju dan cara bertuturnya yang perlu kesabaran. Tapi dari konsep ceritanya gw suka, emang sesuatu yang cukup beda, dan paling nggak filmnya bisa menunjukkan visi sutradaranya sekalipun musti ada kompromi sana-sini--adegan kejar-kejaran bombastis harus ada dong hehe. Interesting-lah pokoknya.





My score: 7/10

Minggu, 22 Mei 2016

[Movie] The Window (2016)


The Window
(2016 - Triximages/Dash Pictures)

Directed by Nurman Hakim
Written by Nurman Hakim, Nan T. Achnas
Produced by Nurman Hakim, M. Rochadi, Nan T. Achnas
Cast: Titi Rajo Bintang, Landung Simatupang, Karlina Inawati, Eka Nusa Pertiwi, Yoga Pratama, Haydar Salish


Film The Window mengikuti sosok Dewi (Titi Rajo Bintang), seorang perantau di Jakarta yang bekerja freelance di bidang survei. Suatu ketika, ia menerima kabar dari kampungnya di Yogyakarta, bahwa kakaknya, Dee (Eka Nusa Pertiwi), yang berkondisi cacat mental dan tak pernah keluar rumah, sedang hamil. Dewi memutuskan pulang ke rumahnya—setelah 10 tahun tak pernah pulang—dengan tujuan mengungkap siapa yang bertanggung jawab atas kehamilan Dee, berhubung sang ibu, Sri (Karlina Inawati), malah menganggap itu mukjizat bak Bunda Maria.

Dengan pengalaman melakukan survei, Dewi pelan-pelan menanyai para tetangganya petunjuk tentang kehamilan Dee. Di saat yang sama, Dewi bertemu lagi dengan teman masa kecilnya yang gemar bergaya koboi, Joko (Yoga Pratama), serta seorang tetangga yang baru dikenalnya, pelukis bernama Priyanto (Haydar Salish). Kedua pria ini awalnya termasuk dalam orang-orang yang Dewi curigai, tetapi Dewi justru makin akrab dengan Priyanto, sekalipun kabar menyebutkan pria itu bermasalah dan menjadikan kampung itu sebagai persembunyian.

Akan tetapi, kehamilan Dee bukanlah satu-satunya masalah yang harus diselesaikan Dewi. Pulang ke kampung halamannya berarti mempertemukannya lagi dengan ayahnya, Dharsono (Landung Simatupang). Tak seperti hubungan antarkeluarga yang biasanya, ada jarak dan kecanggungan di antara mereka. Ini rupanya berkaitan dengan alasan Dewi pergi dari rumahnya sejak remaja tanpa pernah pulang.

Seiring perkenalan terhadap tokoh-tokoh keluarga Dewi, film ini mulai memberi sorotan pada tatanan tradisi patriakal—khususnya dari keluarga di budaya Jawa, yang menempatkan laki-laki sebagai kepala keluarga dengan segala wewenangnya. Salah satu bagian yang paling mewakili ini adalah Dharsono selalu meminta dibuatkan kopi oleh Sri: ketika ramuannya kurang sesuai ia akan protes, tetapi ketika ramuannya benar ia tak akan bilang apa-apa.

Dewi hadir dengan membawa nilai berbeda di tengah keluarganya. Ia wanita yang hidup mandiri dan tak mau di bawah kuasa laki-laki. Ia proaktif mencari kebenaran tentang kakaknya. Ia menolak saat Priyanto mencoba memberi ciuman lebih dahulu. Ia juga tak mau menahan sakit hati pada ayahnya yang tak pernah merasa salah, ataupun kegeraman terhadap ibunya yang menganggap tekanan yang diterima dari suami itu hal biasa dan sudah seharusnya.

Kisah pun berkembang tak cuma soal mengungkap misteri kehamilan Dee, tetapi juga sebagai refleksi terhadap tradisi yang menekan perempuan, terlebih secara psikis. Ada sebentuk perlawanan dari tokoh Dewi untuk bisa keluar dari tekanan itu, tetapi ia juga belakangan sadar bahwa tak bisa melakukannya dengan emosi gegabah ataupun tindakan fisik. Musuh Dewi maupun Sri bukanlah sosok Dharsono, melainkan pride dan egonya sebagai laki-laki, dan itulah yang jadi kunci perlawanan mereka.

Keseluruhan presentasi The Window adalah sebuah ramuan menarik yang dapat menimbulkan kesan beragam. Dari judul, gaya pengambilan gambar, ataupun beberapa simbol yang digunakan, film ini memang terkesan dikemas untuk konsumsi arthouse--yang biasanya identik dengan penekanan pada artistik daripada hiburan. Tetapi, The Window sebenarnya sebuah film yang tidak terlalu rumit untuk diikuti. Ide dasar film ini berhasil diterjemahkan ke dalam adegan-adegan yang cukup komunikatif. Kenyataannya, film ini lebih mengedepankan penuturan cerita ketimbang berkutat pada banyak simbol.

Simbol-simbol memang masih ada—dari jendela dengan lukisan berganti, patung manusia menutup muka, boneka bebek karet, hingga Dewi yang gemar menyebut nama-nama negara dunia secara alfabetis. Namun, itu menjadi lapisan penopang yang melengkapi film ini, bukan pembahasan utama. Film ini juga tidak segan memberitahukan apa yang harus diketahui penonton dalam mengikuti cerita dan memahami karakternya, semuanya dipaparkan dengan cukup jelas lewat dialog dan adegannya.

Malah, timbul kesan playful dan komikal dalam pengarahan Nurman Hakim di film ini. Film ini sepertinya memang tidak dimaksudkan tampil serba realistis, yang juga menjelaskan mengapa film berlatar kampung Yogyakarta ini tidak memakai bahasa Jawa. Pengadegannya terkesan operatic—seakan mengikuti gaya film drama keluarga era 1970-an dan 1980-an, sisi humornya pun tidak sedikit. Untungnya, dengan pembawaan yang tepat dari para pemeran, hal tersebut tidak terkesan palsu, dan emosinya tetap bisa terpancar tanpa harus meledak-ledak.

Mungkin yang masih jadi problem dalam The Window adalah ceritanya yang dijejali terlalu banyak isu. Di luar isu gender dalam plot utamanya, masih ada subplot cinta segitiga Dewi, Priyanto, dan Joko, perubahan sosial dan ekonomi, hingga isu pergantian ke era reformasi tahun 1998, yang jadi latar waktu film ini. Durasi sepanjang 122 menit film ini disajikan dalam tempo yang tak terlalu lambat, namun ada kalanya terkesan kehilangan arah di tengah-tengah karena banyaknya muatan yang ingin disampaikan sekaligus dalam satu film. Bahkan, bisa dibilang topik besar film ini—tentang perlawanan perempuan terhadap tradisi yang menekan kaumnya—baru ditunjukkan konteksnya secara jelas di sepertiga akhir film.

Meski demikian, film ini termasuk mampu memberikan pay-off yang layak terhadap babak demi babak yang sudah dilewati sepanjang film ini. Film ini juga termasuk berhasil dalam mempertahankan benang merah plot misterinya—yang agak mengarah ke thriller, sebagai pegangan bagi penonton untuk mengikuti kisahnya dari awal hingga akhir. Minimal, tak banyak tersisa pertanyaan mengganjal tentang jalan ceritanya seusai menyaksikan film ini.





My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Senin, 16 Mei 2016

[Movie] Mars: Mimpi Ananda Raih Semesta (2016)


Mars: Mimpi Ananda Raih Semesta
(2016 - Multi Buana Kreasindo)

Directed by Sahrul Giban
Screenplay by John De Rantau
Based on the novel by Aisworo Ang
Produced by Andy Shafik, Sahrul Gibran
Cast: Kinaryosih, Acha Septriasa, Chelsea Riansy, Teuku Rifnu Wikana, Cholidi Asadil Alam, Fuad Idris, Egi Fedly, Ence Bagus, Jajang C. Noer, Yati Surachman, Retno Yunitawati, Krisno Bossa


Satu hal yang gw bisa tangkap dari bertahun-tahun menonton dan memerhatikan film, serta belakangan berkecimpung di bidang pemberitaan film, adalah bahwa bikin film itu nggak gampang, obviously *yeah you know where this is going*. Mars adalah sebuah film yang dibuat dengan niat baik, mau mengangkat tentang perjuangan untuk mendapatkan pendidikan yang kemudian berbuah indah--yang lagi-lagi dilambangkan dengan anak dari kampung yang mampu mencapai pendidikan luar negeri. Film ini juga punya modal yang cukup untuk produksinya, pemain-pemain terkenal, setting yang cukup niat, dan teknis yang proper untuk jadi sebuah film bioskop. Tapi, ya apa gunanya itu semua kalau seolah-olah yang punya film nggak tahu bagaimana caranya bercerita dengan baik.

First of all, gw bukannya nggak nangkep apa yang mau disampaikan film ini. Gw nangkep banget kok, soal seorang ibu dari kampung--dalam hal ini di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta, yang tak berpendidikan dan harus banyak berkorban supaya putri satu-satunya bisa sekolah. Sekalipun itu harus malu karena ketahuan nggak bisa baca tulis, menempuh jarak yang jauh untuk mengantar ke sekolah, salah waktu pendaftaran karena nggak ngerti, punya suami kerja pas-pasan, dsb dsb. Gw juga nangkep si anaknya juga nggak demen-demen banget sekolah karena jauh dari rumah dan nggak semua teman di sekolahnya seneng sama dia. Tapi kemudian melihat pengorbanan ibunya tidak sia-sia, dia bisa sekolah sampai kuliah dan tidak bernasib seperti kebanyakan anak sebayanya yang mentok di kawin.

Tapi film dengan materi yang sebenarnya sangat acceptable itu bisa-bisanya sangat painful untuk disaksikan karena penceritaannya yang buruk. Terlalu banyak adegan yang bisa dipersingkat malah dipanjang-panjangkan, padahal isinya cuma aneka rupa ekspresi klise, seperti menangis, balas-balasan dialog merenyuhkan hati, berdoa dengan mengeluarkan suara (!) di lorong sekolah kayak setiap sinetron Ramadan, bahkan adegan perjalanan rumah-sekolah pp juga kayak diulang-ulang mulu--gw ngerti maksudnya gambarkan beratnya perjuangan mereka ke sekolah biar orang-orang perkotaan yang nonton merasa malu dan bersalah, tapi nggak setiap jalan ke sekolah adegan perjalanannya disajikan 1 menit sendiri dong. Mungkin itu menurut mereka menimbulkan rasa 'mendayu-dayu', jika itu yang memang jadi tujuannya. Film yang durasinya cuma 1,5 jam jadi berasa tiga kali lipatnya gara-gara ceritanya kayak nggak maju-maju.

Parahnya, panjangnya adegan-adegan seperti itu jadi memakan tempat adegan-adegan yang seharusnya ada, tapi malah nggak ada! Pokoknya tiba-tiba si anak udah masuk SD, tiba-tiba nggak mau sekolah, tiba-tiba bisa kuliah, dan tiba-tiba bisa di S2 di Oxford, Inggris. Masih kurang? Film ini juga mencoba colek-colek tema religi dengan memperlihatkan warga kampung masih praktik kepercayaan tradisional sementara si anak versi gede saat wisuda di Oxford sering menyelipkan ayat-ayat Islami, padahal sepanjang film itu nggak ada relevansinya selain ada ustaz yang kerap membantu keluarga mereka.

Tapi salah satu titik fatal yang bikin gw geleng-geleng nggak percaya adalah bagaimana Kinaryosih bisa bertambah 30 tahun lebih tua dalam cerita yang lompatan waktunya cuma 10 tahun. Seriously, sebagai si ibu dia dalam usia 'normal' saat pertama muncul, tapi 10 tahun kemudian dia jadi kayak nenek-nenek 70 tahun dengan tubuh yang payah--dan dirias dengan ridiculously bad makeup effects, tanpa dibilang dia umurnya berapa atau punya sakit apa. Pokoknya gw menemukan banyak absurditas dari film ini yang berasal dari kurangnya visi, kurangnya ketelitian, atau bahkan mungkin simply ketidakmampuan dalam bercerita lewat medium film panjang.

Jadinya nonton film ini gw gemes sendiri, sekaligus kasihan. Kasihan sama niat baik untuk 'menginspirasi dan memotivasi'-nya. Kasihan sama para aktornya yang sudah bermain dengan penuh dedikasi--biar makeup tuanya jelek, Kinaryosih mainnya bagus. Filmnya bukan hanya bercerita sedih, tapi bikin gw sedih kenapa hasil akhir filmnya harus kayak gini. Gw nggak tahu pasti letak problemnya di mana, apakah dari sutradaranya yang emang masih baru--yang tergambar juga dari naifnya pengadeganan, atau dari skenarionya yang mungkin kurang ringkas, atau *yang paling gw curigai* editornya yang didn't really know what they're doing sehingga bingung sendiri bagaimana menyajikan film ini dengan flow yang enak tapi jelas saat ditonton. Seperti yang biasa gw sampaikan, kalau yang bikin film aja bingung, gimana yang nonton.




My score: 5,5/10

Minggu, 15 Mei 2016

[Movie] Modus (2016)


Modus
(2016 - Rapi Film)

Directed by Fajar Bustomi, Adhe Dharmastriya
Written by Jovial Da Lopez, Reza Aditya Irawan
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Andovi Da Lopez, Jovial Da Lopez, Melayu Nicole Hall, Kemal Palevi, Reza Oktovian, Tommy Limmm, Rayi Putra, Marlo Ernesto, Rani Ramadhany, Natasya Farani Attamimi, Listia Magdalena, Mo Sidik, Monica Oemardi, Erlin Sarintan


Film-film seperti Modus ini yang bikin gw khawatir sama masa depan "industri" film Indonesia. Ide seadanya, cerita seadanya, pemain seadanya, pengadeganan seadanya, humor seada-adanya, asalkan pemainnya udah punya basis fans yang terjamin akan datang ke bioskop, ya bikin aja. Dan ini didukung sama rumah produksi yang udah established pula. Dan, memang nyatanya laku. Mungkin bukan karena filmnya, toh para pemain yang tampil di sini sudah bangun popularitas sebagai "YouTube content creator" lewat video-video mereka yang memang terkenal di kalangan anak-anak hingga remaja tanggung--because you know, internet is the new TV.

Sebenarnya, mengingat-ingat film ini agak menimbulkan kesan yang nggak enak buat gw. Okelah ceritanya sesimpel soal pemuda yang bingung mau deketin cewek cantik lalu dikasih beberapa saran dari teman-temannya lewat berbagai trik atau sekarang disebut 'modus', well, '#modus' lebih tepatnya. Iya, pakai hash tag. Okelah juga humorya buat gw nggak ada yang lucu mungkin karena faktor umur gw. Gw nonton sebelahan sama anak-anak umur belasan dan mereka kayaknya senang dengan humornya--tapi anehnya itu termasuk humor pura-pura jadi banci yang menurut gw terlalu old school untuk anak sekarang, tren memang selalu berulang ya. 

Anehnya humor 'dewasa'-nya juga nggak ngena ke gw, kayak nama panggilan Andovi dan Jovial dari sang ibu yang anehnya adeknya dulu yang dipanggil dengan penggalan depan namanya, 'An', baru kakaknya dengan penggalan belakang namanya, 'Al', dan diserukan sebagai satu kata tanpa penggalan. This joke did not make sense as it was not funny. Ya, film ini bikin gw bingung sebenarnya gw masuk kalangan umur berapa untuk bisa menikmati humor dan ketawa. Sial.

Tapi yang bikin gw khawatir adalah bagaimana film yang seadanya ini bisa 'lolos' jadi film bioskop. Gw ngga masalah dengan cerita tipis, gw nggak masalah dengan kekonyolan, gw nggak masalah dengan tokoh-tokoh yang jadi terkesan 'bodoh' saking absurdnya. Tapi semua itu nggak teramu dengan enak di film ini, kayak asal jadi aja, serasa program kejar tayang yang ditulis dan syuting kemarin, diedit tadi pagi, dan tayang malam ini. Kalau udah di bioskop paling nggak 'kan cara bikin adegannya bisa beda dengan video YouTube atau sketsa komedi di TV 'kan ya? Tapi nggak tuh, yang bikin ini jadi 'bioskop' ya cuma aspect ratio gambar layar lebar 2.40:1. Dari penulisan (atau mungkin editing) pun gw nggak habis pikir gimana akhirnya bisa begini amat hasilnya. Gw sangat tersinggung bahwa karakter si cewek utama, anak kuliahan aktivis lingkungan, dibuat sangat clueless dan bodoh dengan percaya aja dengan segala tipu-tipu cowok-cowok sekitarnya--beda halnya kalau dari awal emang dia digambarkan lemot. Yang paling jadi blunder adalah ketika sejak awal kita disajikan bahwa ini kisah Andovi kejar cewek, tapi tiba-tiba di ujung ada tokoh lain juga ikutan ngejar dan itu tanpa bangunan sama sekali dari awal, dan diselesaikan dengan mentah sekali.

Intinya, gw nggak mendapat value apa-apa dari film ini kecuali bahwa ini cuma platform perpanjangan popularitas para kreator YouTube ini, dan sayangnya buat gw belum bisa mengangkat mereka ke level lebih dari itu. Bahaya kalau mereka--pemain, sutradara, bahkan production house-nya--merasa puas dengan hasil film ini, baik untuk mereka sendiri maupun untuk penontonnya (apalagi targetnya masih muda-muda). Mudah-mudahan jangan sampai ada pikiran, 'Yang kayak gini aja laku, jadi nggak usah effort-effort amat kalau bikin film,' karena itulah yang akan menghancurkan film Indonesia secara keseluruhan karena udah nggak ada yang mau bikin yang bener dan bagus.

I mean seriously, semua orang percaya bahwa Dipa (Kemal Palevi) itu banci? What the--




My score: 5/10

Minggu, 08 Mei 2016

[Movie] Ada Apa dengan Cinta? 2 (2016)


Ada Apa dengan Cinta? 2
(2016 - Miles Film/Legacy Pictures)

Directed by Riri Riza
Screenplay by Mira Lesmana, Prima Rusdi
Story by Mira Lesmana
Produced by Mira Lesmana
Cast: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Adinia Wirasti, Sissy Prescillia, Titi Kamal, Dennis Adishwara, Ario Bayu, Dimi Cyndiastira, Sarita Thaib, Christian Sugiono, Chase Kuertz, Lei-Lei Bavoil


Kesuksesan film roman remaja Ada Apa dengan Cinta? atau AADC (2002) tidak hanya bisa dilihat dari jumlah penjualan tiketnya yang tercatat melebihi dua juta lembar. Film ini nyatanya memberi pengaruh besar pada kultur pop dan keseharian generasi yang pernah menontonnya. Ini lebih dari sekadar potongan dialog dan adegan yang terus diingat, atau memulai tren film dan sinetron yang menampilkan tokoh utama remaja berseragam SMA di Indonesia. Yang akhirnya tahan uji oleh waktu dari AADC adalah kedekatan penontonnya terhadap karakter-karakter di dalamnya.

Kedekatan inilah yang kemudian menjadi amunisi utama Miles Film dalam mengolah sekuelnya, Ada Apa dengan Cinta? 2 (AADC 2). Bahkan, mungkin hanya inilah benang merah film ini dengan film pertamanya. Kini di bawah arahan sutradara Riri Riza, baik cerita, setting, maupun penggarapan AADC 2 punya pola jauh berbeda dari pendahulunya, yang mungkin bisa ditafsirkan sebagai hasil pendewasaan dari gap waktu yang panjang antara produksi kedua film ini.

14 tahun lalu di film AADC, kita diperkenalkan pada karakter-karakter khas yang dianggap mewakili komposisi pergaulan anak SMA Jakarta pada saat itu. Ada Cinta (Dian Sastrowardoyo), yang dengan kepribadian penuh percaya diri menjadi batu penjuru di antara teman segengnya. Lalu ada Milly (Sissy Prescillia) yang polos, Maura (Titi Kamal) yang centil, Karmen (Adinia Wirasti) yang tomboi, lalu ada Alya (Ladya Cheryl) yang rapuh. Ditambah lagi ada Mamet (Dennis Adishwara) yang culun, serta Rangga (Nicholas Saputra), sosok pendiam dan sinis penggemar sastra yang kemudian merebut hati Cinta.

AADC 2 menyorot kembali karakter-karakter ini saat memasuki usia 30-an—kecuali Alya yang tak ditampilkan karena pemerannya urung bergabung. Seiring perubahan yang terjadi pada karakter-karakternya, tak heran bila kisah AADC 2 digulirkan dengan cara yang berbeda pula. Bukan lagi masalah pilihan antara teman atau pacar, atau persaingan si populer dengan si penyendiri—masalah-masalah yang mungkin dianggap seberat-beratnya masa SMA. Sebagaimana seharusnya, persoalan yang diangkat di AADC 2 jadi lebih mendalam, yaitu pilihan antara berkutat di masa lalu atau melangkah ke apa yang disebut kehidupan mapan.

Tuturan AADC 2 memang terlihat paralel dengan alasan film ini dibuat, dan alasan penggemarnya ingin menyaksikannya: nostalgia. Kisahnya diawali dengan Cinta mengumpulkan kembali teman-teman segengnya semasa SMA, Milly, Maura, dan Karmen untuk belibur bersama ke Yogyakarta. 'Geng Cinta' ini seperti ingin membangkitkan kembali keceriaan mereka di masa lalu, sebelum mereka kembali melanjutkan kehidupan dan hadapi permasalahan masing-masing di masa yang kini.

Akan tetapi, tak semua nostalgia itu menyenangkan. Di saat yang sama pula diperlihatkan Cinta masih teringat sosok Rangga dalam hatinya. Padahal, Rangga yang diketahui tinggal di New York, sudah tak bersama Cinta lagi, lantaran hubungan mereka telah kandas di tengah jalan dengan cara yang tak tuntas. Karena itu pula, kemunculan tiba-tiba Rangga di Yogyakarta menciptakan gejolak dalam diri Cinta dan kawan-kawannya, apalagi Cinta sudah merencanakan pernikahan dengan pria lain.

Jika disarikan, premis AADC 2 sebenarnya sama sekali tidak baru, sesimpel 'kehadiran mantan kekasih yang menggoyahkan rencana masa depan'. Namun, premis ini menjadi sesuatu yang penting, karena begitu dekatnya penonton—yang diasumsikan telah menyaksikan AADC pertama—dengan tokoh-tokoh ini. Setelah tak diketahui kabarnya selama lebih kurang 14 tahun, apa yang menjadi keputusan tokoh-tokoh ini, khususnya Cinta dan Rangga, menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan.

Hal ini menarik karena AADC 2 mengangkat nostalgia ini dengan cara yang berbeda, dan bisa dibilang berkelas. Penonton bahkan tidak akan dimanjakan dengan adegan kilas balik atau flashback. Film ini lebih memilih cara layaknya sebuah reuni di kehidupan nyata, ketika kisah hidup seseorang yang sudah lama tak ditemui bisa ditangkap hanya dengan menyimaknya berbicara.

Sebagian dari cerita AADC 2 pun pada akhirnya adalah sebuah wadah bagi penonton untuk catch up tentang apa yang terjadi terhadap karakter ini selama 14 tahun belakangan, sebuah periode yang cukup panjang sehingga ketika disebutkan beberapa karakternya mengalami keberhasilan atau tragedi, itu tidak sampai melecehkan logika. Upaya catch up ini mungkin terasa terburu-buru di bagian awal lewat beberapa dialog yang terlalu diatur untuk memberi informasi pada penonton. Namun, seiring durasi bergulir, film ini terus ditata sedemikian rupa agar perhatian dan kepedulian tetap tertuju pada para karakter ini, mengundang penonton untuk menyimak cerita mereka dengan saksama.

Bagian ini juga didukung oleh performa para pemainnya yang tak hanya sekadar mengulang peran, dan tidak juga berubah total, tetapi membawa karakter lama mereka dalam versi yang sudah dimatangkan. Rangga masih sinis, Cinta masih sok tangguh, Maura masih pesolek, Karmen masih protektif, Milly masih lebih polos—tetapi mungkin yang paling mewakili nalar. Tetapi, karakteristik mereka ini hadir dalam level yang lebih dewasa dan punya depth. Adanya beberapa karakter baru terbilang cukup mengimbangi dan berfungsi sebagaimana mestinya walau tak menonjol.

Ketika daya tarik utama film ini bertumpu pada karakternya, di sisi lain film ini terlihat tidak memaksa untuk menampilkan berbagai gimmick agar berdampak sama seperti film pertamanya. Memang film ini menampilkan puisi, adegan musik, sampai lagu-lagu soundtrack, tetapi pada akhirnya memang tidak semenonjol ataupun se-memorable film pertamanya. Bahkan, hampir tidak ada dialog yang langsung bisa dijadikan 'quote' ikonik yang akan mudah diulang di pergaulan sehari-hari seperti dari film pertamanya.

Namun, mungkin memang tak perlu begitu. Film ini sudah berhasil mengarahkan perhatian pada Cinta dan Rangga serta orang-orang sekitarnya, sampai pada titik kepasrahan bahwa apa pun yang mereka lakukan ataupun mereka katakan, sebiasa atau sedramatis apa pun itu, tetap akan captivating dan mengena. Dialog-dialognya dibuat dan diujarkan sealami mungkin, tata visualnya pun tidak termasuk mewah atau mentereng. Namun, dengan penuturan cerita yang mengalir lancar disertai letupan-letupan emosi—baik yang subtil maupun yang frontal—yang tepat pada tempatnya, AADC 2 menjadi sebuah sajian memikat dalam 120-an menit durasinya.

Tak mudah untuk bilang film ini lebih baik atau tidak dari yang pertama, sebab keduanya mengambil pendekatan dan dikemas dengan cara berbeda. Agak sulit juga untuk menilai apakah film ini akan berhasil bagi mereka yang belum menonton AADC pertama, mengingat pembangunan karakter di AADC 2 cukup banyak bergantung pada film tersebut. Namun, yang pasti AADC 2 jadi sebuah sekuel yang mampu memperlakukan brand AADC dengan layak, dewasa, serta tak mengkhianati kedekatan yang sudah terbangun dengan para penontonnya, mungkin malah justru makin merekatkannya.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Jumat, 06 Mei 2016

[Movie] Captain America: Civil War (2016)


Captain America: Civil War
(2016 - Marvel Studios)

Directed by Anthony Russo & Joe Russo
Screenplay by Christopher Markus, Stephen McFeely
Produced by Kevin Feige
Cast: Chris Evans, Robert Downey Jr., Scarlett Johansson, Sebastian Stan, Daniel Brühl, Anthony Mackie, Don Cheadle, Chadwick Boseman, Paul Bettany, Elizabeth Olsen, Jeremy Renner, Emily VanCamp, Frank Grillo, Paul Rudd, Tom Holland, William Hurt, Martin Freeman, Marissa Tomei, John Kani, John Slattery, Hope Davis, Alfre Woodard


Captain America adalah contoh superhero dengan popularitas yang awalnya semenjana, namun semakin terangkat berkat konsep shared-universe yang diusung oleh Marvel Studios, atau disebut Marvel Cinematic Universe (MCU). Indikasi ini dilihat dari film pertamanya, Captain America: The First Avenger (2011) yang jadi film produksi Marvel dengan angka box office terendah. Namun, seiring penampilannya bersama superhero Marvel lain di film The Avengers (2012), perhatian terhadap Captain America melesat di film keduanya, Captain America: The Winter Soldier (2014), yang lebih sukses di box office maupun di mata kritikus.

Di sisi lain, karena berkonsep shared-universe, film-film MCU sedikit banyak akan saling terkait antara yang satu dengan yang lain. Sehingga, jika suatu film disebut sekuel dari satu sosok superhero Marvel, bukan berarti ceritanya langsung melanjutkan film sebelumnya. Gambaran ini sangatlah nyata untuk Captain America, yang film-film solonya nyaris tak bisa dikaitkan secara langsung, karena selalu 'bergantung' pada plot film-film Avengers. Plot film ketiganya, Captain America: Civil War pun pada dasarnya adalah lanjutan dari Avengers: Age of Ultron (2015), ditambah kaitannya dengan The Winter Soldier.

Setelah organisasi pertahanan S.H.I.E.L.D. kolaps di klimaks The Winter Soldier, para superhero kini bergabung dalam tim Avengers yang bekerja independen dalam melindungi dunia. Akan tetapi, setelah beberapa kali upaya menyelamatkan dunia, termasuk yang terjadi di Sokovia pada klimaks film Age of Ultron, pemerintah dunia mulai waswas dengan keberadaan para superhero ini. Sebuah perjanjian pun hendak diresmikan PBB, agar para superhero hanya dapat beraksi di bawah pengawasan pemerintah-pemerintah.

Tony Stark alias Iron Man (Robert Downey Jr.) adalah yang pertama menyetujui perjanjian ini, setelah melihat dampak dari aksi tim Avengers menimbulkan kerusakan dan korban dari warga sipil. Namun, ide ini ditentang oleh Steve Rogers sang Captain America (Chris Evans), karena itu berarti ruang gerak mereka dibatasi oleh pemerintah-pemerintah, yang belum tentu punya niat dan kepentingan yang memihak orang-orang membutuhkan.

Di tengah silang pendapat ini, terjadi penyerangan dalam rapat pengesahan perjanjian tersebut, dan sosok Bucky Barnes alias Winter Soldier (Sebastian Stan) dituduh sebagai dalangnya. Steve ragu akan tuduhan ini, karena sekalipun Bucky dirancang jadi mesin pembunuh untuk organisasi jahat HYDRA, Bucky pernah membuktikan masih punya hati nurani dengan menyelamatkan nyawa Steve–di bagian akhir film The Winter Soldier. Pencarian Steve terhadap Bucky membuatnya melanggar ketentuan yang telanjur berlaku untuk para superhero. Berhubung tak mungkin mengandalkan kekuatan manusia biasa, dikerahkanlah Iron Man dan tim Avengers lainnya untuk meringkus Steve.

Dari segi penggarapan dan dasar cerita, Civil War kembali melanjutkan corak yang sukses ditampilkan dalam The Winter Soldier, yang memang diarahkan sutradara yang sama, Anthony dan Joe Russo. Tak terlalu bergantung pada elemen out of this world, film ini mengusung tema konspirasi dan perang prinsip yang humanis, dengan mengangkat dua pandangan berlawanan yang sama-sama beralasan, ditambah motivasi-motivasi personal lainnya. Gaya penataan adegan laga yang cenderung keras, grounded, dan berlaju kencang, yang sebelumnya sukses memukau di The Winter Soldier, juga kembali ditampilkan di Civil War dengan skala yang lebih besar.

Akan tetapi, daya jual utama dari film ini tentu saja kehadiran para superhero dalam jumlah banyak sekaligus di luar film-film Avengers. Selain yang sudah disebut di atas, film ini dijejali tokoh-tokoh berkeahlian khusus dari MCU lainnya, seperti Black Widow (Scarlett Johansson), Hawkeye (Jeremy Renner), War Machine (Don Cheadle), Vision (Paul Bettany), Falcon (Anthony Mackie), hingga Ant-Man (Paul Rudd). Film ini juga jadi perkenalan dua superhero yang baru bergabung di MCU, yaitu Black Panther (Chadwick Boseman) dan Spider-Man (Tom Holland). Tetapi, dengan banyaknya 'bintang tamu', bagaimanakah film ini tetap jadi filmnya Captain America?

Di atas kertas, film ini memang tetap berpegang pada sudut pandang sang kapten. Bagian awal dan akhir kisah film ini pun digerakkan pada pencarian Steve terhadap Bucky, sahabat terbaiknya sejak kecil dan satu-satunya penghubung yang tersisa bagi Steve ke kehidupan yang ia kenal di masa lalu—perlu diingat Steve sempat tertidur beku dalam es di masa Perang Dunia II lalu dibangunkan lagi 70 tahun kemudian oleh S.H.I.E.L.D. Kemudian datanglah Tony yang mempertanyakan keberpihakan Steve, sebab Bucky jelas adalah antek HYDRA yang berbahaya. Di sinilah masuk konflik batin di antara karakter-karakter ini, yang membuat pertarungan mereka pun jadi terasa emosional, dan ini dipresentasikan dengan sangat baik terutama di bagian akhir filmnya.

Namun, sulit untuk tak melihat bahwa garis cerita utama tersebut banyak terdistraksi oleh berbagai peristiwa dan karakter yang muncul di antaranya. Penuturan film ini kemudian menjadi terulur-ulur dengan terlalu banyak memutar dan terlalu ramainya karakter yang wajib dimunculkan, terlepas dari benar-benar perlu atau tidaknya mereka untuk dimunculkan. Ini termasuk upaya 'numpang promosi' dari dua superhero baru yang akan dibuatkan filmnya sendiri, Black Panther dan Spider-Man, serta menambah eksistensi dari superhero lain yang mungkin tak akan dibuatkan filmnya sendiri.

Memang jadinya ramai, tapi potensi maksimal dari film ini harus tertunda akibat kewajiban tersebut. Salah satu korban paling terkena imbasnya adalah tokoh antagonisnya, Zemo (Daniel Brühl) yang hanya muncul sesekali dan tidak memberikan dampak mengancam yang signifikan. Mungkin akan muncul dalih bahwa memang modus Zemo harus low profile di saat para superhero sedang ribut sendiri. Tetapi, dengan skema jahat berskala besar dan kompleks yang dibuatnya, sayang sekali kehadirannya tampak terlalu dilemahkan.

Civil War pada akhirnya menjadi film dengan rangkaian spectacle yang menghibur dan memanjakan mata serta telinga, tetapi belum kuat sebagai satu penuturan cerita yang utuh—membuatnya tidak seimpresif The Winter Soldier yang bertutur kuat dari awal sampai akhir. Untung saja adegan-adegan laga dan humornya mampu memberikan kesegaran. Apalagi, para penonton dan penggemar akan digirangkan dengan pameran kekuatan para superhero lewat adegan pertarungan akbar dua kubu yang disajikan apik dan menyenangkan. Jadi, setidaknya film ini sudah menunaikan tugasnya untuk menghibur, dan sekali lagi memperkuat brand Marvel yang akan penting untuk kesuksesan film-film MCU selanjutnya.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Senin, 02 Mei 2016

[Movie] Surat Cinta untuk Kartini (2016)


Surat Cinta untuk Kartini
(2016 - MNC Pictures)

Directed by Azhar 'Kinoi' Lubis
Screenplay by Vera Varidia
Story by Toha Essa, Fatmaningsih Bustamar
Produced by Toha Essa, Rina Harahap
Cast: Chicco Jerikho, Rania Putrisari, Ence Bagus, Christabelle Grace Marbun, Donny Damara, Ayu Diah Pasha, Keke Soeryokusumo, Melayu Nicole Hall, Fernandito Raditya, Oktavia Owe, Nina Syaheda, Vanda Mutiara, Maya Putri


Hari Kartini mungkin jadi salah satu peringatan paling rancu di antara hari-hari nasional lain yang sudah lama dicanangkan di Indonesia. Sosok Raden Ajeng Kartini selama ini digambarkan sebagai pahlawan wanita Indonesia yang berjuang di bidang pendidikan. Tetapi, lucunya, tradisi Hari Kartini kebanyakan hanya terbatas pada lomba busana daerah yang bahkan tak ada hubungannya dengan penyebab Kartini dijadikan pahlawan nasional dan diperingati dalam hari khusus. Seperti ada miskomunikasi antara sejarah dengan rakyat Indonesia saat ini tentang sosok Kartini.

Terlepas dari perdebatan tentang bagaimana cara memperingati Hari Kartini, ataupun tentang asal-usul status pahlawan nasional Kartini yang konon politis, ada sebuah niat baik yang ingin diungkapkan dalam film terbaru tentang Kartini yang diproduksi MNC Pictures, Surat Cinta untuk Kartini. Memang jika dilihat dari judulnya saja, seperti ada yang keliru dari film ini, sebab belum ditemukan bahwa Kartini pernah membuat atau menerima surat cinta, ia menikah pun karena dijodohkan. Tetapi, film arahan Azhar 'Kinoi' Lubis ini sebenarnya bisa jadi gerbang awal untuk kenal lagi tentang Kartini.

Jauh-jauh hari film ini sudah diumumkan sebagai sebuah kisah fiksi berlatar sejarah, dengan melihat sosok Kartini dari sudut pandang seorang tokoh rekaan yang ada di sekitar Kartini. Sudut pandang ini pun kembali dipertegas di awal filmnya, bahwa kisah ini diceritakan seorang guru kepada murid-murid SD yang mengeluh bosan mendengar cerita Kartini yang begitu-begitu saja.

Kemudian dimulailah cerita tentang Sarwadi (Chicco Jerikho), seorang duda asal Semarang yang mulai bekerja sebagai tukang pos di Jepara, Jawa Tengah pada era kolonial Belanda tahun 1901. Suatu ketika ia mengantarkan surat ke kediaman Bupati Jepara, Sarwadi berkesempatan melihat sang putri tertua, Kartini (Rania Putrisari), juga mendengar sekilas pendapatnya tentang pentingnya kaum pribumi untuk belajar. Kagum akan sosok dan pemikiran Kartini, Sarwadi pun bersemangat menyuruh putri tunggalnya, Ningrum (Christabelle Grace Marbun) untuk jadi murid pertama dari sekolah yang didirikan Kartini dan adik-adiknya.

Tentu saja, ini juga kesempatan Sarwadi lebih dekat dengan Kartini. Status bahwa Sarwadi rakyat biasa dan Kartini seorang ningrat sudah jelas membuat keduanya akan terus berjarak, tetapi Sarwadi tak gentar untuk menunjukkan cintanya dengan berusaha membantu mewujudkan cita-cita Kartini, agar rakyat pribumi, terutama perempuan yang selama ini terkungkung tradisi, memperoleh pendidikan yang diperlukan. Namun, batin Sarwadi kemudian bergejolak, ketika Kartini seolah-olah mengkhianati cita-citanya sendiri dengan menikahi seorang pejabat yang sudah beristri tiga.

Bahwa Surat Cinta untuk Kartini ingin memperkenalkan Kartini dari sudut pandang yang paling mendasar adalah sesuatu yang patut dihargai. Lewat film ini, apa yang disebut 'perjuangan Kartini' bisa dilihat lebih jelas secara visual serta konteks zaman, sosial, dan budaya yang diberikan. Dengan latar tradisi Jawa saat itu yang mengarahkan perempuan hanya untuk 'cepat kawin', juga terbatasnya pendidikan hanya bagi orang Belanda dan pribumi ningrat, sekolah yang didirikan Kartini menjadi pendobrak. Ruang lingkupnya mungkin memang kecil, tetapi digambarkan pula bahwa Kartini mendorong munculnya orang-orang lain dengan perjuangan serupa.

Kekuatan terbesar dari film ini memang terletak pada gambaran besar situasi di sekitar Kartini, serta dampak pemikiran dan tindakannya bagi lingkungannya, dengan Sarwadi sebagai penuntun penonton. Bagian ini juga sangat dibantu oleh desain produksinya, sekalipun mungkin tak sepenuhnya otentik, yang memberi efek kembali ke masa lalu dengan sangat baik. Sekarang, tinggal bagaimana film ini bisa membawakan plot utamanya, yaitu kekaguman dan cinta Sarwadi terhadap Kartini.

Dengan motivasi karakter Sarwadi yang cukup innocent, film ini pun dibawakan dengan lembut, selangkah demi selangkah dan cukup mudah dipahami—mungkin karena lagi-lagi sejak awal film ini ceritanya dituturkan untuk anak-anak. Ini pula yang jadi permakluman bahwa semua bahasa lokal diganti dengan bahasa Indonesia, sekalipun itu jadi mengurangi otentisitas perbedaan kasta Sarwadi dengan Kartini, yang akan lebih bisa ditunjukkan dalam bahasa Jawa.

Namun, yang terjadi kemudian gaya bertutur ini malah backfired di beberapa bagian. Upaya untuk bertutur semudah dan selembut mungkin seringkali diwujudkan dengan penataan adegan yang terkesan cheesy, terlalu diatur, dan kurang tulus. Ditambah lagi, ritme paruh kedua film ini jadi lebih diseret dengan banyak 'kegalauan', seolah tak rela film dengan effort sebesar ini ceritanya dapat selesai hanya dalam durasi satu setengah jam saja.

Beruntung bahwa kekuatan unsur-unsur lain lumayan bisa jadi kompensasi akan hal tersebut. Selain dari sisi desain produksi, film ini juga sangat terbantu dengan kostum dan sinematografi yang menangkap pemandangan-pemandangan yang indah—dibantu juga dengan efek digital yang tak mendistraksi. Penataan musik yang beratmosfer klasik, romantis, sekaligus megah juga jadi salah satu poin yang membuat film ini secara keseluruhan lebih nyaman dinikmati.

Dari segi pemeranan, Chicco sekali lagi menunjukkan dedikasinya sebagai aktor lewat aksen dan gesturnya. Pembawaan yang impresif juga diberikan para pemain pendukung seperti Ence Bagus sebagai Mujur sahabat Sarwadi, dan Ayu Diah Pasha sebagai ibu kandung Kartini. Sedangkan Rania sanggup terlihat anggun sebagai Kartini, walaupun mungkin belum bisa memancarkan karisma sekuat potret dan tulisan-tulisan Kartini.

Pada akhirnya, film Surat Cinta untuk Kartini mungkin belum benar-benar komprehensif dalam mengedepankan sosok Kartini. Film ini memang lebih bertitikberat pada apa yang Kartini perbuat dan dampaknya bagi rakyat sekitarnya. Akan tetapi, jika tujuannya adalah untuk memperkenalkan lagi sosok Kartini lebih dari tampilan sanggul dan kebaya, film ini sudah menggenapinya.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Eye in the Sky (2016)


Eye in the Sky
(2016 - Entertainment One)

Directed by Gavin Hood
Written by Guy Hibbert
Produced by David Lancaster, Colin Firth, Ged Doherty
Cast: Helen Mirren, Alan Rickman, Aaron Paul, Barkhad Abdi, Phoebe Fox, Jeremy Northam, Iain Glen, Aisha Takow, Faisa Hassan, Armaan Haggio, Richard McCabe, Monica Dolan, Kim Engelbrecht, Babou Ceesay, Vusi Kunene


Berbagai film bertema perang telah dibuat dengan berbagai sudut pandang, baik dari latar masa lalu atau kontemporer, dari yang menunjukkan proses pertempuran hingga ke dampak-dampaknya. Kemunculan film Eye in the Sky mungkin dianggap sekadar menambah panjang daftar film bertema perang yang sudah ada. Akan tetapi, film ini ternyata mampu menunjukkan diri sebagai film yang relevan, mencakup banyak sisi, memuat cerita yang kaya, dan digarap dengan kuat. Padahal, kisahnya hanya berkutat pada satu peristiwa yang terjadi dalam rentang hitungan jam.

Eye in the Sky menuturkan upaya pemberantasan teroris dari kelompok bernama Al-Shabaab di Afrika bagian Timur. Intelijen Inggris dan Kenya bekerja sama dalam operasi penangkapan dua warga negara Inggris dan satu warga negara AS yang telah bergabung ke kelompok tersebut, saat ketiganya tiba di Nairobi, ibukota Kenya. Operasi ini melibatkan Inggris, Kenya, dan Amerika Serikat (AS), yang sebagian besar dijalankan dari jarak jauh menggunakan teknologi termutakhir.

Operasi ini dipimpin dari Inggris oleh Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren), disaksikan oleh panglima militer Letnan Jenderal Frank Benson (Alan Rickman), Menteri Pertahanan Brian Woodale (Jeremy Northam), Jaksa Agung George Matherson (Richard McCabe), dan staf relasi benua Afrika Angela Northman (Monica Dolan). Sementara operasi di lapangan melibatkan agen asal Somalia, Jama Farah (Barkhad Abdi), dan pesawat kendali jarak jauh atau drone yang dikendalikan dari Las Vegas, Amerika Serikat oleh pilot Steve Watts (Aaron Paul) dan Carrie Gershon (Phoebe Fox).

Misinya cukup sederhana: pesawat drone akan jadi pengintai untuk mendapatkan konfirmasi identitas ketiga target. Setelah itu, militer Kenya akan meringkus saat ketiganya berada di tengah kota. Akan tetapi, misi jadi berantakan ketika ketiga target dibawa pergi ke kampung pinggiran kota yang dikuasai oleh milisi Al-Shabaab. Di sana, para target disiapkan untuk memakai rompi bom bunuh diri.

Situasi ini membuyarkan rencana penangkapan langsung, karena ditakutkan akan menimbulkan baku tembak terbuka dengan milisi di kampung tersebut, yang artinya juga akan menimbulkan korban jiwa dari warga sipil. Satu-satunya cara paling efektif adalah menembakkan peluru kendali dari pesawat drone, yang berarti mengubah misi penangkapan ini menjadi misi pembunuhan. Namun, pilihan ini justru menimbulkan konsekuensi politik dan moral yang lebih besar.

Plot Eye in the Sky bisa dibilang hanya penjabaran sebuah operasi militer dari awal hingga akhir. Namun, kisahnya menjadi dinamis dengan banyaknya pihak yang terlibat dalam operasi ini, mulai dari pihak militer, pemerintah, pelaku lapangan, hingga dari sisi warga sipil—diwakili gadis kecil penjual roti bernama Alia (Aisha Takow), dan masing-masing tidak dalam ruangan yang sama. Sutradara kelahiran Afrika Selatan, Gavin Hood (X-Men Origins: Wolverine, Ender's Game) berhasil menata porsi dan ritme dari masing-masing bagian sehingga terlihat menyatu sekaligus intens.

Film ini memang minim peluru dan ledakan, karena ceritanya lebih berkonsentrasi pada proses pengambilan keputusan yang butuh pertimbangan berlapis. Ketegangan dari operasi yang tengah berjalan disajikan apik, berpadu dengan kegemasan akan proses keputusan yang harus melewati banyak prosedur, yang seakan semakin menunda keberhasilan operasi ini. Lewat cara itu, film ini tetap menghadirkan nilai entertainment sekalipun hanya dari pertukaran dialog dan perpindahan lokasi, yang makin menunjukkan keterampilan sutradara serta kecermatan skenario yang disusun Guy Hibbert.

Peristiwa yang diangkat Eye in the Sky memang fiktif. Akan tetapi, apa yang diangkat berhasil mencerminkan keadaan yang masih terjadi saat ini di berbagai belahan dunia. Kelompok Al-Shabaab menjadi cermin berbagai milisi radikal yang tumbuh subur di negara-negara berdaulat seperti Timur Tengah dan Afrika, dan turut menyeret negara-negara Eropa dan AS. Operasi peringkusan teroris yang dilakukan di film ini juga mencerminkan kerja sama pertahanan antarnegara yang kini dipermudah dengan berbagai macam teknologi, bahwa jarak tak lagi jadi penghalang.

Di saat yang sama, film ini juga menunjukkan dampak politik dan sosial dari perang tersebut, sekalipun dilabeli 'melawan terorisme'. Pihak militer tentu ingin para target ini dihabisi saja, demi mencegah aksi teror yang menyebabkan lebih banyak korban. Tetapi, konsekuensi politik menghalangi itu. Sekalipun bisa diloloskan sebagai pengorbanan untuk hal yang lebih besar, pilihan untuk membombardir sebuah rumah berisi teroris di desa yang banyak dihuni penduduk sipil akan dianggap sebuah sebuah kejahatan kemanusiaan. Alhasil, ketika teknologi semakin mempermudah, kebijaksanaan dalam memanfaatkannya justru semakin berat dijalankan.

Dilema yang dimunculkan pun diperkuat dengan pembangunan karakter-karakternya. Kecuali para target yang mutlak dianggap jahat tanpa dibahas motivasinya, tidak ada pihak yang benar-benar absolut di film ini. Tiap karakter melemparkan argumen-argumen yang berdasar kuat, yang dapat membuat penonton ikut setuju, sekalipun beberapa di antaranya bisa saling bertentangan. Argumen-argumen tidak hanya datang dari pemikiran taktis dan politis, tetapi juga dari hati nurani. Hampir tidak ada karakter yang patut dibenci di film ini karena pilihan yang mereka ambil sama-sama masuk akal.

Segala hal tersebut pada akhirnya dikemas dan disajikan secara berkelas dalam film ini, tanpa jadi terlalu keras atau justru terlalu cengeng. Kecermatan dalam penuturan cerita yang mudah diikuti dan dipahami, didukung dengan akting memikat dari para pemain lintas negara dan tata visual yang engaging, membuat film ini jadi tontonan yang komplet dan padat berisi dalam durasinya yang cukup ringkas, hanya 102 menit. Sebuah thriller yang bisa tampil menghibur sekaligus mengusik pikiran dan hati, serta ikut memperluas wawasan dan memberi penyataan bahwa perang tak pernah sederhana, baik bagi yang terlibat langsung maupun yang hanya terkena imbasnya.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Minggu, 01 Mei 2016

[Movie] Fan (2016)


Fan
(2016 - Yash Raj Films)

Directed by Maneesh Sharma
Screenplay by Habib Faisal, Sharat Katariya
Produced by Aditya Chopra
Cast: Shah Rukh Khan, Shriya Pilgaonkar, Waluscha de Sousa, Yogendra Tiku, Deepika Amin, Sayani Gupta


Mohon jangan diketawain, tapi faktanya Fan adalah film India kedua yang gw tonton di bioskop seumur hidup gw setelah 3 Idiots di tahun 2009. Gw sadar gw sudah ketinggalan banyak soal sinema Bollywood, tapi Fan ini buat gw semacam perwakilan yang pas untuk melihat udah sampai level mana bangsa produsen film terbanyak sedunia itu. Sebagaimana di-tease dalam posternya, film Fan ini memasang sang baginda Bollywood, Shah Rukh Khan (biar cepet gw singkat SRK aja ya) dalam dua peran dari dua pihak berbeda: idola dan penggemarnya. Premisnya juga menarik, seorang penggemar--thus the title =p--yang kecewa pada idolanya, dan mendorong mereka berdua berseteru, dalam bentuk action thriller.

Film ini kisahkan Gaurav (SRK) yang sangat mengidolakan Aryan Khanna (SRK juga), dan sering jadi peniru Aryan di pasar malam, karena kebetulan mukanya emang mirip Aryan versi KW. Ketika Aryan lagi kena skandal pemukulan dengan seorang aktor muda, Gaurav kemudian berupaya memulihkan citra sang idola dengan cara yang melanggar etika. Tindakan ini memang berhasil menarik perhatian Aryan, tetapi Gaurav merasa kecewa dengan sikap Aryan yang justru menolak (yang dia pikir) jasa yang sudah diperbuatnya. Gaurav pun mulai membuat rencana menjatuhkan Aryan.

Satu hal yang pasti paling pertama diperhatikan saat menonton film ini adalah bagaimana cara menyulap SRK jadi Gaurav yang ceritanya usianya masih 20-an, sementara SRK umurnya udah 50 tahun sekarang. Kalau mendengar frase "film India" memang biasanya tak ekuivalen dengan visual effects, tetapi Fan jelas membuat gebrakan baru. Teknologi make-up dan efek digital yang dipasangkan di muka SRK sebagai Gaurav itu flawless, coba aja bandingkan SRK yang nggak diapa-apain sebagai Aryan dengan muka Gaurav, gak cuma kerutan yang dikurangi, tapi hidung muancung-nya SRK aja bisa dipesekkin (!). Didukung akting asyik dari SRK, benar-benar terasa bahwa Gaurav dan Aryan itu dua orang yang berbeda.

Di sisi lain, mungkin Fan memang tidak seperti film Bollywood kebanyakan. Sepertinya film ini mulai memasukkan "formula internasional" dan mengurangi kadar keklisean Bollywood pada umumnya. Adegan action-nya nggak terlalu gaib tapi tetap dahsyat--kalau nggak salah mereka pakai jasa stunt coordinator dari Korea,a palagi mengingat SRK harus peran ganda. Film ini juga nggak ada tarian dan nyanyian, bagian-bagian itu lebih ditampilkan sebagai bagian dari kehidupan si Aryan dan nggak benar-benar bagian dari cerita, sekilas aja. Desain produksinya pun ada sense yang berbeda, tetap akbar dan penuh warna, tapi bukan semata-mata agar meriah saja, malahan jadi kontras menarik dari tema filmnya yang cukup dark.

Namun, yang bikin gw impressed sejak awal adalah sama rancangan cerita film ini. Ada semacam meta references yang ditarik dari ke-superstar-an SRK di kehidupan nyata. Sosok Aryan jelas terinspirasi dari SRK sendiri, seorang superstar yang jadi idola di segala pelosok, termasuk di negara-negara lain. Setiap jam tertentu Aryan akan manjat ke balkon rumahnya buat dadah-dadah sama penggemar yang berkerumun di luar kayak rebutan sembako, sesuatu yang kalau nggak salah memang kerap dilakukan oleh para bintang Bollywood. Siklus kehidupannya sebagai seorang superstar Bollywood--dibantu beberapa footage lama yang kayaknya diambil dari kehidupan nyata SRK--juga direpresentasikan cukup oke, termasuk soal skandal setting-an. Very interesting, bahwa film ini juga semacam tribute terhadap industri Bollywood dalam sajian yang agak realistis.

Nah, dengan segala materi menarik itu, tinggal bagaimana dibawakannya dan bagaimana diterimanya. Film ini pada akhirnya lebih kental thriller-nya ketimbang lucu-lucuannya, dan itu juga kayaknya bikin durasinya yang sampe 2 jam 20 menit jadi terasa lebih puanjang, dengan pembabakan yang agak banyak kayak nggak abis-abis. Dan, well, dengan tema seserius ini tampilannya agak uneven dengan beberapa bagian yang masih ridiculous, tapi mungkin di situlah yang dianggap sebagai unsur fun-nya, entahlah. Buat gw sendiri, sekalipun gw terkesan sama ide dan teknisnya, gw belum bisa menikmatinya secara paripurna, kurang compact untuk sebuah film yang mood-nya memang ke drama dan thriller, bukan seperti umumnya film Bollywood yang sanggup gabungkan drama-komedi-action-nyanyian dengan lihai sehingga durasi panjang masih bisa dibawa asyik aja. 

Terlepas dari itu, bagi gw Fan menjadi sebuah penanda yang baik untuk beberapa hal. Pertama yang gue singgung tadi, dari segi teknis, efek, sampai art direction dan pewarnaan visual yang siap banget diadu sama film-film Hollywood. Kedua, adalah pengingat SRK yang kayaknya sudah berkarier sejak selama-lamanya bukannya sekadar bintang yang terkenal, tetapi aktor yang hebat dan mau terima tantangan sampai segininya. Dari temanya juga cukup dalem, soal hubungan idola dan penggemar yang kadang bisa sampai bersifat violent, yang anehnya memang kerap terjadi di kehidupan nyata di mana pun di dunia. 




My score: 7/10