Senin, 25 April 2016

[Movie] Juara (2016)


Juara
(2016 - Magma Entertainment)

Directed by Charles Gozali
Written by Hilman Hariwijaya, Charles Gozali
Produced by Hendrick Gozali
Cast: Bisma Karisma, Tora Sudiro, Cut Mini Theo, Anjani Dina, Ciccio Manassero, Cecep Arif Rahman, Mo Sidik, Ronny P. Tjandra, Qausar Harta Yudhana, Dicky Difie, Arthur Stefano


Dalam menghadapi film Indonesia yang menyatakan diri sebagai "film remaja", artinya gw harus siap tahan sama berbagai cheesiness yang kemungkinan besar akan ditampilkan. Iya, somehow gw selalu menemukan film remaja itu artinya ceritanya akan membesar-besarkan hal nggak penting yang solusinya pun gitu-gitu aja. Jadi saat muncul film Juara, gw harus prepare sekalipun sedari awal film ini ingin memberi sentuhan berbeda dengan memasukkan unsur martial arts di dalamnya. Oh ya, ini film juga built around Bisma Karisma, salah satu anggota SM*SH, jadi harap maklum juga kalau banyak "joke internal" antara Bisma dan fans-nya yang diharapkan nonton film ini.

First of all, gw mau bilang bahwa Juara adalah film remaja yang cukup well-made, mungkin lebih dari pada film-film remaja yang muncul belakangan, dan mungkin karena ini lebih dari sisi cowok. Garis ceritanya agak mirip-mirip dengan banyak kisah drama remaja: ada cowok underdog jatuh cinta sama mahasiswi tercantik di kampus yang sudah punya pacar yang "berkuasa". Kurang "film remaja" apa coba? Kemudian garis besar itu ditambahkan dengan karakter si cowok underdog yang pecicilan--mungkin banyak yang anggap itu menggemaskan tapi gw sendiri lama-lama merasa ini orang kayak emang cari mati =p--dan si rivalnya ternyata terkait dengan preman. Tapi, Juara bolehlah tampil agak beda, penuturannya cukup rapi dan mudah diikuti, pembagian porsi karakter-karakternya juga seimbang. Pun film ini nggak bisa dibilang membesar-besarkan hal nggak penting, karena perisakan a.k.a. bullying, sekalipun alasannya rebutan pacar, nggak bisa dianggap ringan juga.

Di sisi lain, apa yang gw wanti-wanti terjadi juga. Gw masih melihat pengadeganan yang masih "rasa" sinetron dan FTV, dialog-dialog rada gombal dan cheesy--khususnya ketika film ini seakan terlalu menggebu-gebu dalam membuat memorable quotes tapi kurang ter-deliver sempurna. Pokoknya gw merasa film ini masih agak plain untuk bisa dinikmati secara asyik di layar bioskop, misalnya, sekalipun idenya dalam menggabungkan beberapa genre jadi satu sebenarnya oke.

Namun, mungkin yang jadi masalah gw adalah bagaimana film ini tidak menekankan pada sebuah unsur cerita yang buat gw justru paling menarik. Somehow mungkin pembuat filmnya menganggap ini sebuah spoiler, tapi gw pikir kenapa harus dianggap begitu? Gw coba deh rombak premisnya jadi begini: seorang pemuda yatim dalam perjuangan cinta dan mencari jati diri tiba-tiba mendapat sebuah kesaktian misterius yang dimanfaatkannya untuk melindungi diri dan orang-orang terdekatnya dari intimidasi orang-orang jahat. Yup, Juara ini bisa dipandang sebagai sebuah film superhero, ada unsur fantasi juga di sini yang didukung bantuan efek digital yang lumayan okeh. 

Gw cukup heran kenapa bagian ini kurang dieksplor, dan bahkan kurang dijual dalam promonya. Padahal, unsur fantasinya yang ditambah dengan penggarapan action serius adalah bakal jadi alasan lebih kuat untuk mendorong gw nonton ini di bioskop, instead of lagi-lagi cerita dilema cinta dan keluarga yang mending gw saksikan di TV, misalnya--because you know, adegan orang nendang orang udah nggak boleh tayang di TV sekarang =.=. Gw berpikir bahwa Juara akan lebih terasa nggigitnya kalau bertumpu dari sana, lalu ditopang dengan kisah cinta remaja, keluarga, komedi, dan lain-lainnya, plus kisah coming of age. Dan, penekanan pada unsur fantasi juga bakal jadi excuse yang masuk akal kalau-kalau film ini masih punya beberapa solusi plot yang instan dan klise, hehehe.

That being said, gw masih cukup menikmati penyajian Juara secara keseluruhan. Bagi gw film ini paling kuat di sisi keluarganya, mostly because of the remarkable performance by Cut Mini sebagai ibunya Bisma, bisa-bisanya melucu dan juga menggetarkan tanpa jadi bermuka dua. Humornya masih gw nikmati, sehingga filmnya masih mengeluarkan aura menyenangkan, dan sebagaimana gw singgung, action dan visual effects-nya emang ngefek dan terkalkulasi dengan cukup baik. Bisma sendiri menurut gw nggak jelek, cuma masih kurang depth dan likeability yang universal aja *aishh istilahnya*. Not necessarily a "champ", tapi paling nggak berhasil jadi sebuah tawaran yang menarik.

Oh, ya, ada beberapa porsi adegan film ini syutingnya di kota saya, Bekasi, so thanks for that =P.




My score: 6,5/10

Senin, 18 April 2016

[Movie] The Jungle Book (2016)


The Jungle Book
(2016 - Disney)

Directed by Jon Favreau
Screenplay by Justin Marks
Produced by Jon Favreau, Brigham Taylor
Cast: Neel Sethi, Ben Kingsley, Bill Murray, Idris Elba, Lupita Nyong'o, Christopher Walken, Scralett Johansson, Giancarlo Esposito, Brighton Rose, Garry Shandling


Menganggap bahwa studio Disney mentok ide dengan banyak membuat remake live action dari film-film animasi klasiknya mungkin ada benarnya. Tetapi, harus diingat pula bahwa perlakuan terhadap cerita-cerita tersebut memang tidak asal-asalan. Alice in Wonderland (2010), Maleficent (2014), hingga Cinderella (2015) membuktikan bahwa Disney sanggup mengolah kisah lawas menjadi tontonan masa kini, yang sedikit banyak terbantu oleh teknologi sinema yang semakin mutakhir.

Tentang hal itu, mungkin tidak ada bukti yang lebih nyata daripada yang terbaru, The Jungle Book. Diarahkan oleh Jon Favreau, film ini mentransformasikan animasi Disney klasik The Jungle Book (1967) menjadi sebuah film layar lebar 'live-action' yang sarat akan kekuatan teknologi.

Bagaimana tidak, sebagian besar yang tampak di layar adalah animasi digital yang dibuat tampak nyata, kecuali sang tokoh utama, bocah laki-laki bernama Mowgli (diperankan Neel Sethi). Yang jelas, kecanggihan serta keindahan visual The Jungle Book versi baru ini akan sangat mudah dan memang patut dikagumi.

Meski demikian, film ini pun tidak lalai dari tugas utamanya, yaitu bercerita. Dengan skenario yang ditulis Justin Marks berdasarkan kumpulan cerita karangan Rudyard Kipling, The Jungle Book versi terbaru ini disusun sebagai sebuah cerita petualangan pencarian jati diri dengan tuturan yang terbilang sederhana, namun tetap bermakna.

Seperti premis dalam kisah The Jungle Book aslinya, film ini kisahkan tentang Mowgli, anak manusia yang terlantar di hutan saat bayi, lalu dibesarkan oleh kawanan serigala. Anak ini pun kemudian menjadi bagian dari penghuni hutan belantara India layaknya para satwa lain yang ada di sana.

The Jungle Book versi baru ini tidak terlalu berkutat pada asal muasal Mowgli, melainkan langsung bertutur tentang petualangan Mowgli yang hidup menyatu dengan kawanan satwa di sekitarnya—di sini digambarkan mereka berkomunikasi dalam satu bahasa yang sama, sekalipun ia jelas-jelas berbeda dari yang lain.

Suatu ketika, perbedaan itu pula yang memaksanya meninggalkan hutan karena ancaman dari harimau Shere Khan (diisi suara Idris Elba), yang sangat membenci spesies manusia. Ditemani oleh panther Bagheera (Ben Kingsley), Mowgli memulai perjalanan melintasi hutan belantara untuk menemukan kaumnya sendiri yang tak pernah dikenalnya. Berbagai tantangan dan rintangan harus ia hadapi, sebab ternyata Shere Khan tak hanya ingin Mowgli pergi, tetapi juga mengincar nyawanya. Niat keji Shere Khan itu pula yang membuat kehidupan satwa lain ikut terancam.

Di atas kertas memang sepertinya film ini tidak berubah dari kisah sebelumnya: Mowgli protagonis, Shere Khan antagonis, lalu ada Bagheera yang bijak dan beruang Baloo (Bill Murray) yang kocak sebagai penyeimbang, ditambah si ular Kaa (Scarlett Johansson) dan orang utan Louie (Christopher Walken) yang licik sebagai penambah warna petualangan Mowgli. Pemetaan yang cukup jelas tersebut membuat film ini sangat mudah diikuti arahnya.

Namun, film ini juga berhasil memuat sebuah bobot lebih sehingga film ini tak jatuh jadi dangkal. Setidaknya ada dua tema kuat yang ditampilkan sepanjang film ini. Yang pertama adalah langkah-langkah Mowgli mengenali jati dirinya sebagai manusia. Terbiasa hidup di antara satwa, Mowgli pun perlahan mengenal tentang manusia dari sudut pandang hewan, yang bisa juga menjadi cermin bagi para manusia yang menonton film ini.

Tema kedua adalah pembuktian Mowgli yang memiliki kelebihan dalam hal kreativitas melebihi spesies lain. Ia tidak menjadikan kemampuannya itu alasan untuk menindas dan berkuasa, sebab ia memiliki ikatan persaudaraan kuat, sebagaimana ia telah dibesarkan oleh hewan-hewan di sekitarnya dengan kasih sayang. Hutan akan selalu jadi rumahnya, dan para hewan ini akan selalu jadi keluarganya.

Dari semua itu, terlihat ada upaya dari Favreau dan timnya untuk menuturkan kisah klasik dengan cara modern, namun masih khas Disney. Hasilnya, film ini dituturkan layaknya dongeng imajinatif, namun dengan set-up dan sebab akibat yang logis dan rapi. Film ini juga tanpa malu-malu memasukkan lagu-lagu dari versi animasinya untuk dinyanyikan beberapa tokohnya, yang tak hanya memberi nilai nostalgia, tetapi juga memaksimalkan sisi fun film ini. 

Cukup menarik bahwa tampilan visual yang lebih nyata tak lantas memaksa Favreau membuat filmnya jadi terlampau kompleks dan gelap. Film ini justru menunjukkan kesanggupan mengolah semua sumber daya yang ada menjadi sajian yang bisa dinikmati semua umur. Sebuah film yang berkisah sederhana namun believable, dengan mempertahankan unsur fantasi, humor, serta nilai-nilai keluarga yang menggugah, tanpa terlihat kewalahan dalam menyatukannya dengan dimensi realistis visualnya. Disney lagi-lagi membuktikan bahwa sumber ceritanya boleh saja tak orisinal, tetapi kreativitas dalam bertutur dan mengemasnya tetap bisa menyegarkan.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] 10 Cloverfield Lane (2016)


10 Cloverfield Lane
(2016 - Paramount)

Directed by Dan Trachtenberg
Screenplay by Josh Campbell, Matt Stuecken, Damien Chazelle
Story by Josh Campbell, Matt Stuecken
Produced by J.J. Abrams, Lindsey Weber
Cast: Mary Elizabeth Winstead, John Goodman, John Gallagher Jr., Bradley Cooper


10 Cloverfield Lane adalah contoh film yang sulit diulas tanpa menyentuh ranah spoiler, dan itu karena film ini menjadikan unsur misteri sebagai penggerak ceritanya. Sejak awal hingga akhir, penonton diajak untuk bertanya-tanya, dan itulah yang ingin dijadikan daya tarik utama film ini. Dalihnya adalah semakin tidak tahu detail film ini, maka—mudah-mudahan—akan semakin menikmati jalannya cerita.

Yang mungkin bisa disampaikan secara terang-terangan adalah set-up ceritanya. Michelle (Mary Elizabeth Winstead) meninggalkan kota tempat tinggalnya dengan mengendarai mobilnya sendiri. Di kegelapan jalan pedesaan, Michelle alami kecelakaan hingga tak sadarkan diri. Saat sadar, Michelle sudah berada di sebuah bungker berbentuk rumah tinggal di bawah tanah milik pria paruh baya bernama Howard (John Goodman), dan turut dihuni pemuda lokal bernama Emmett (John Gallagher Jr.).

Michelle tentu panik dan ingin segera mengabari kerabatnya. Namun, Howard meyakinkannya bahwa mereka bertiga tidak bisa keluar dari bungker, karena telah terjadi penyerangan yang menewaskan banyak orang layaknya kiamat di luar sana. Masalahnya, apakah Howard dan Emmett bisa dipercaya, ataukah mereka punya maksud lain terhadap Michelle?

Nyatanya, 10 Cloverfield Lane adalah sebuah film yang dibuat dengan terampil. Unsur misteri yang dijadikan andalan tetap bekerja dengan baik sekalipun penonton mungkin sudah punya bekal pengetahuan tentang apa sebenarnya yang ingin diceritakan film ini. Pasalnya, semisterius apa pun film ini, bagi yang pernah menonton atau rajin mencari informasi tentang film, maka film yang diproduseri J.J. Abrams ini pasti akan langsung dikaitkan dengan film Cloverfield (2008), yang sudah ada lebih dulu.

Film Cloverfield yang digarap Matt Reeves ditampilkan dengan gaya found footage, seolah-olah direkam oleh karakter yang ada dalam ceritanya, tentang sekelompok muda-mudi yang berusaha mencari selamat dari serangan monster raksasa di kota besar. Film tersebut bukan hanya mengangkat gaya tampilan yang cukup segar—walaupun memusingkan karena posisi kamera tak stabil, tetapi juga sudut pandang cerita yang berbeda, yaitu dari para korban sipil dalam skop kecil yang tak biasanya disorot di film-film tema sejenis.

Pembuat 10 Cloverfield Lane sendiri tidak mau disebut sebagai sekuel atau spin-off dari Cloverfield, demikian pula presentasinya tak lagi dengan gaya found footage. Film debut sutradara Dan Trachtenberg ini hanya disebut sebagai "saudara" dari Cloverfield. Lagi-lagi, para pembuat film ini seperti ingin melemparkan sebuah misteri kepada calon penontonnya: jika 10 Cloverfield Lane bukan lanjutan dan tak berkaitan dengan film Cloverfield, pasti tetap ada persamaan yang ingin dikedepankan. Persamaannya di mana? Itu pula yang digunakan untuk mendorong penontonnya untuk mengikuti cerita ini hingga akhir.

Akan tetapi, yang mungkin bisa dibahas sekarang adalah persamaan dari skop ceritanya. Baik Cloverfield maupun 10 Cloverfield Lane sama-sama menyorot segelintir karakter awam di tengah sebuah situasi yang besar, dalam hal ini bencana. Pada akhirnya, kedua film tidak bertumpu pada cara mengatasi bencana—yang biasa dilakukan tokoh-tokoh militer atau ilmuwan dalam film-film bencana lain, tetapi lebih ke upaya orang-orang biasa ini untuk bisa survive.

Dalam 10 Cloverfield Lane, skop cerita yang kecil itu kemudian diolah dengan apik di sisi hubungan antarkarakternya, yang masing-masing karakternya juga dibangun dengan mulus dalam waktu yang terbilang singkat. Ancaman tidak hanya dari bencana yang konon ada di luar bungker, tetapi juga dari karakter-karakter mencurigakan di dalam bunker. Penonton diposisikan pada sudut pandang Michelle yang tidak tahu apa-apa, namun saat semakin tahu, perasaan terancam juga semakin kuat.

Bagaimana film ini mampu mengelem sisi psikologis Michelle dengan penonton adalah salah satu keunggulan utama. Keunggulan itu membuat film ini tampil mencekam sekaligus menghibur, padahal situasi dan lokasinya hanya di situ-situ saja, pun film ini tidak terlalu penuh sesak dengan dialog. Memang pada beberapa bagian film ini terasa stagnan, tetapi cukup terbayar oleh rentetan kejadian tak terduga selanjutnya, yang diolah dengan baik oleh Tratchtenberg dan tim penulis skenario Josh Campbell, Matthew Stuecken, dan Damien Chazelle, didukung pula oleh permainan kuat dari ketiga tokoh utamanya.

Pada akhirnya, 10 Cloverfield Lane bukan soal bagaimana calon penonton sebisa mungkin tidak terkena spoiler sebelum menonton. Film ini lebih menunjukkan sebuah keterampilan menyajikan cerita dalam keterbatasan ruang dan jumlah karakter, lalu membungkusnya dalam sebuah tontonan yang thrilling, seru, sesekali lucu, tampak sederhana, tetapi tak kalah gempita dengan film-film berbiaya raksasa.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Get Up Stand Up (2016)


Get Up Stand Up
(2016 - KG Studio)

Directed by Teezar Sjamsuddin
Written by Bagus Bramanti
Produced by Argalaras
Cast: Babe Cabiita, Abdur Arsyad, Acha Sinaga, Dicky Difie, Rahman, David Nurbianto, Wira Nagara, Indro Warkop, Virnie Ismail, Mo Sidik, Torro Margens, Dzawin, Rahmet, Sri Rahayu, Deni Suhendi, Uus, Hifdzi, Insan Nur Akbar, Ungu


You know, gue pun mungkin akan merasa kecolongan kalau punya acara pendorong tren dan pencetak bintang tapi pihak lain mengolahnya lebih duluan dan sukses. Setahu gue, selain acara Stand Up Comedy Show di Metro TV, adalah kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) di Kompas TV yang berjasa mengangkat stand up comedy ke panggung hiburan mainstream Indonesia, serta jadi awalan bagi beberapa komika yang saat ini wara-wiri di TV ataupun layar lebar 2-3 tahun belakangan ini. Grup Kompas Gramedia (KG) mungkin agak telat untuk memberdayakan para talenta ini dalam format lain--kecuali beberapa episode sketsa di TV yang kurang berdampak, sampai-sampai kebanyakan dari mereka sudah lebih sukses "digarap" oleh pihak luar. Alas, kesannya saat KG Studio mengumpulkan para komika lulusan SUCI di film berjudul Get Up Stand Up seperti mengikuti tren semata, asem juga sih.

Tapi gw cukup menghargai usaha film ini untuk cari jalan supaya nggak sekadar menampilkan komika dalam cerita yang sekadarnya. Yah, mungkin cerita soal usaha mendapatkan cinta lewat prestasi dan bumbu cinta segitiga bukan cerita yang spesial juga. Cuma bisa kelihatan banget bahwa Get Up Stand Up adalah sebuah meta, dengan banyak referensi ke format dan gimmick kompetisi SUCI, ditambah pemainnya sebagian besar lulusan SUCI yang menonjolkan karakter khas masing-masing, pun memunculkan beberapa wajah in-house-nya Kompas TV. Plotnya menggunakan kompetisi SUCI sebagai salah satu penggeraknya, baik di depan layar maupun di balik layar, walau jelas semua rancangan ceritanya adalah fiksi--di sini Babe dan Abdur jadi seangkatan dan bersaing ketat.

Bagian ini gw cukup enjoy, karena dikaitkan dengan cukup menarik. Ada Babe (Babe Cabiita) yang menggunakan hubungannya dengan mantan pacarnya, Fatiya (Acha Sinaga) sebagai bahan stand up sekaligus menggunakan stand up biar menunjukkan pada Fatiya dia bisa berprestasi. Lalu bahwa teman akrabnya di kompetisi, Abdur (Abdur Arsyad) ternyata ditaksir Fatiya, dan itu pun jadi bahan stand up mereka. Sebuah ide menarik yang dikelola cukup baik dan tampilannya nggak terlihat maksa, dan semacam memberi contoh bagaimana bahan stand up itu dibuat. Bahkan dari sini juga jadi bisa muncul unsur konflik seputar persahabatan dan asmara yang cukup matters-lah buat ceritanya, bisa memunculkan sisi emosional.

Namun, bagian yang gw suka mungkin hanya sampai di situ. Karena gw merasa bahwa untuk sebuah film yang menampilkan banyak sekali komika, film ini nggak lucu, atau at least nggak selucu itu. Memang sepertinya film ini ingin emphasize tentang drama yang terjadi di antara para komika, jadi komedi itu muncul hanya dari perilaku dan dialog, bukan dari situasi atau ceritanya. Ini pilihan langkah yang menurut gw boleh-boleh aja, asal dramanya kuat, dan komedinya memang bisa lucu banget. Get Up Stand Up sayangnya belum bisa sampai di keduainya. Nggak bisa nggak kelihatan bahwa para komika ini belum sepenuhnya prepared untuk berakting dramatis. Nggak gagal, cuma memang telihat pemula sekali. Nanggunglah jadinya, terutama untuk sajian di layar lebar. Dalam beberapa bagian, gw merasa bahwa satu-satunya alasan film ini bukan jadi FTV hanyalah karena beberapa jokes-nya yang mungkin terlalu nakal untuk KPI.

But then again, salah satu yang exceed expectation gw adalah film ini cukup well-made. Gw melihat desain produksinya cukup baik, beberapa pengadeganan menyiratkan taste--misalnya dalam satu frame bisa lihat dua lapis adegan, sudut Jakarta yang diambil sangat grounded serta karakter-karakternya yang nggak Jakarta-sentris--tiga tokoh utamanya bukan orang Jakarta dan nggak ngomong lo-gue, sajian gambarnya juga cukup enak dilihat. Dan in the end, film ini jadi semacam tribute yang lumayan bagi mereka yang kenal sama SUCI dan para komika yang ada di dalamnya. Overall film ini mungkin belum bisa memaksimalkan potensinya, tapi nggak gue pungkiri bahwa idenya masih oke dan mungkin yang paling baik dalam merepresentasikan stand up comedy di Indonesia dalam format film panjang.





My score: 6,5/10

PS: Ada adegan Fatiya dan Abdur bilang suka baca novel Haruki Murakami yang bahasa Inggris karena nggak enak kalau baca terjemahan. Well, tanpa bermaksud mengguncang keyakinan kalian, yang bahasa Inggris pun ternyata terjemahan karena Murakami aslinya nulis dalam bahasa Jepang -_-'

Sabtu, 09 April 2016

[Movie] Raksasa dari Jogja (2016)


Raksasa dari Jogja
(2016 - Starvision)

Directed by Monty Tiwa
Screenplay by Ben Sihombing, Monty Tiwa
Based on the novel by Dwitasari
Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Cast: Karina Salim, Abrar Adrian, Ridwan Ghany, Dwi Sasono, Unique Priscilla, Dewi Irawan, Stella Cornelia, Ray Sahetapy, Sahila Hisyam, Marcell Darwin, Adinda Thomas


Kisah roman dengan target remaja pada umumnya dibuat sangat ringan, tak terlalu kompleks, sampai-sampai tak jarang terjebak dalam logika dan solusi serba instan. Inilah yang mungkin membuat film jenis ini jarang ditanggapi dengan serius, lantaran formulanya cenderung berulang. Lalu hadir Raksasa dari Jogja, film garapan Monty Tiwa yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Dwitasari. Film ini sekilas akan mengulangi formula film roman remaja yang sudah ada, tetapi upayanya untuk tampil lebih realistis juga tak bisa diabaikan.

Raksasa dari Jogja merupakan kisah Bian (Karina Salim), gadis muda yang mengalami banyak kekecewaan di saat ia hendak memulai jenjang baru sebagai mahasiswa. Ia diultimatum ayahnya yang seorang politikus (Ray Sahetapy) untuk mendaftar kuliah di kampus yang sudah ditetapkan, atau diusir dari rumah. Lalu, kekasihnya, Pras (Kiki Farell) diam-diam menjalin hubungan dengan Letisha (Adinda Thomas), sahabat Bian sendiri. Dan, ternyata itu semua hanyalah pelengkap dari kesengsaraan Bian, yang selama ini melihat sang ibu (Unique Priscilla) kerap dianiaya oleh sang ayah tanpa perlawanan.

Bian pun memutuskan meninggalkan semua itu, keluar dari rumah untuk kuliah seni rupa di Yogyakarta, dengan tinggal bersama sang bude (Dewi Irawan) dan sepupunya, Kevin (Ridwan Ghany). Selagi mencoba memulai hidup baru di tempat yang juga baru, Bian bertemu dengan sosok Gabriel (Abrar Adrian), mahasiswa tingkat akhir berpostur tinggi besar, berperangai tanpa basa-basi, dan tampak tak punya teman. Gabriel juga ternyata seorang wartawan muda di sebuah media yang cukup berpengaruh. 

Lambat laun kedekatan mereka mendorong keduanya untuk mulai saling terbuka satu sama lain. Itu berarti mereka juga saling mengungkapkan masa lalu yang kurang menyenangkan untuk didengar. Bahkan, Bian pun sempat melihat bagaimana Gabriel bisa berlaku brutal saat emosinya naik, sesuatu yang justru jadi alasan ia meninggalkan rumah orang tuanya.

Sebagai sebuah kisah tentang cinta remaja—atau masa peralihan menuju dewasa, film Raksasa dari Jogja mungkin sedikit lebih kelam. Latar belakang kedua tokoh utamanya terbilang tragis, dibangun di atas air mata dan sakit hati. Bagaimana keduanya dapat saling membuka hati dan menyemangati kemudian menjadi penggerak dasar kisah ini.

Untungnya, film ini tidak menampilkan semua itu dalam porsi yang eksploitatif. Penyusunan dialog-dialognya pun terkesan wajar tanpa harus berbunga-bunga. Pembangunan karakter-karakternya berhasil disampaikan dengan alami dan believable, tetapi bisa tetap seimbang dengan tujuan film ini sebagai kisah roman yang manis dan tidak terlalu berat.

Ya, walau memasukkan tragedi dalam latar belakang tokoh-tokohnya, Raksasa dari Jogja tetaplah sebuah roman yang, suka atau tidak, harus disajikan secara ringan dan menyampaikan harapan akan kebahagiaan protagonisnya. Tak dipungkiri pula bahwa kisah ini masih menyimpan berbagai situasi yang diromantisasi khas film-film sejenis, sehingga masih terkesan klise.

Banyak hal dari film ini yang mengingatkan pada pola kisah buku teenlit ataupun komik roman Jepang. Seorang gadis mungil yang tampak rapuh, disayangi dan dilindungi oleh orang-orang sekitarnya, lalu jatuh cinta pada sosok penolong yang sulit untuk dicintai tetapi diam-diam punya kualitas yang patut dikagumi. Beberapa tokohnya pun punya kebiasaan antik, misalnya Gabriel yang menggunakan mesin tik mekanik untuk tulisan-tulisan yang akan diterbitkan di media cetak ataupun online. Itu mungkin terkesan romantis, tetapi jelas-jelas tidak realistis dan merepotkan—untungnya itu kemudian dijadikan bahan humor di film ini. 

Pola klise tersebut kemudian berimbas pada keseluruhan cerita yang jadi tidak istimewa, dan 'tertular' juga ke beberapa pengadeganan yang terkesan kaku untuk sebuah film layar lebar. Akan tetapi, perlu dihargai pula bahwa film ini berupaya menyampaikan ceritanya dengan cara yang membumi dan tidak terlalu melankolis. Bahkan, ketika film ini memasukkan unsur politik, kekerasan rumah tangga, hingga komedi—terutama dari tokoh kepala redaksi Angkola (Dwi Sasono), semuanya terlihat menyatu dengan porsi yang tepat dan tidak gegabah.

Pada akhirnya, Raksasa dari Jogja punya modal untuk bisa mencapai target penontonnya. Romansa yang ditampilkan mampu menimbulkan kesan manis, didukung dengan keserasian Karina Salim dan Abrar Adrian sebagai Bian dan Gabriel—meskipun masih kelihatan Abrar yang baru pertama kali berakting belum sanggup imbangi Karina yang performanya sangat baik. Unsur tersebut kemudian berbaur baik dengan karakterisasi yang membumi. Walau pada dasarnya ceritanya tak beda jauh dengan roman remaja yang sudah banyak dibuat, minimal film ini tidak memberikan solusi instan terhadap segala sesuatu, dan itu cukup untuk membuat Raksasa dari Jogja jadi berbeda.




My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Minggu, 03 April 2016

[Movie] Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)


Batman v Superman: Dawn of Justice
(2016 - Warner Bros.)

Directed by Zack Snyder
Written by Chris Terrio, David S. Goyer
Based on the characters from DC Comics
Produced by Charles Roven, Deborah Snyder
Cast: Ben Affleck, Henry Cavill, Jesse Eisenberg, Amy Adams, Jeremy Irons, Holly Hunter, Gal Gadot, Diane Lane, Laurence Fishburne, Scoot McNairy, Tao Okamoto, Callan Mulvey, Harry Lennix, Lauren Cohan, Michael Shannon, Jeffrey Dean Morgan


Mungkin sedikit terlambat—sehingga kerap dianggap meniru sang rival Marvel yang melakukannya lebih dulu, tetapi kini para superhero dari penerbitan DC Comics akhirnya dipersatukan di layar lebar lewat rangkaian film dalam semesta yang sama (shared universe). Disebut sebagai DC Extended Universe (DCEU), DC dan studio Warner Bros. telah memulainya lewat reboot kisah Superman dalam Man of Steel (2013). Tanpa berlama-lama, film tersebut langsung dilanjutkan dengan Batman v Superman: Dawn of Justice, yang mempertemukan Superman dengan superhero tenar lainnya, Batman.

Seperti judulnya, film arahan Zack Snyder ini menaruh sosok Batman dan Superman dalam sebuah konflik, sehingga pada titik tertentu mereka harus bertarung. Tetapi, semua orang pun akan tahu bahwa pada akhirnya mereka akan bersekutu. Apalagi bila mengetahui proyek besar dari DCEU selanjutnya adalah Justice League, film yang menyatukan para superhero DC Comics membela keselamatan bumi. Maka, sebuah tugas yang tidak mudah bagi Snyder, juga Chris Terrio dan David S. Goyer selaku penulis skenario, dalam merancang cerita Batman v Superman agar kedua superhero populer tersebut punya alasan yang kuat untuk bertikai, dan alasan yang kuat juga untuk akhirnya berdamai.

Pada dasarnya, Batman v Superman bisa dipandang sebagai 'perayaan' akan kontras dua sosok yang sudah dikenal sejak lama lewat berbagai media dan versi tersebut. Dalam film ini, Batman alias Bruce Wayne (Ben Affleck) adalah sosok yang tumbuh dengan dendam dan tragedi, sesuatu yang tak kunjung pupus sekalipun ia sudah beraksi sekitar dua dekade. Metodenya taktis dan tanpa ampun terhadap para penjahat, sehingga Batman jadi sosok yang ditakuti. Ia adalah lambang sisi gelap dari pemberantasan kejahatan yang seakan tak pernah habis.

Sebaliknya, Superman alias Clark Kent (Henry Cavill) adalah sosok baik-baik, tumbuh secara sederhana dan dididik dengan cinta kasih. Ia menjadi sorotan karena statusnya sebagai makhluk asing dari planet Krypton dengan kekuatan dahsyat, telah menyelamatkan bumi dari kepunahan. Dalam film ini, Superman digambarkan sering melakukan penyelamatan setiap ia mendengar atau melihat orang-orang tak berdaya butuh pertolongan—walaupun gimmick khas Clark melepas samarannya menjadi Superman absen di sini. Ia pun jadi sosok yang dipuja-puja dan harapan banyak orang, khususnya Lois Lane (Amy Adams) yang dicintainya.

Namun, Batman memandang Superman tetap sebagai makhluk asing yang terlalu berbahaya, karena kekuatannya yang besar punya konsekuensi besar pula. Ini dibuktikan dari pertarungan Superman dengan General Zod (Michael Shannon) di klimaks film Man of Steel, yang menimbulkan kehancuran dan korban tak sedikit. Sementara Superman melihat Batman sebagai sosok brutal dan bukan pahlawan sejati. Dua superhero dari latar belakang, tumbuh kembang, dan motivasi berbeda pun berseteru, saling mencegah satu sama lain dalam menyalahgunakan kemampuannya, dan kehadiran Lex Luthor (Jesse Eisenberg) yang manipulatif juga turut memperkeruh suasana.

Sebenarnya, Batman v Superman mengandung cukup banyak poin cerita yang dipadatkan dalam durasi sekitar dua setengah jam. Ini termasuk membangun kembali karakter Batman versi baru, pertanyaan apakah Superman perlu dipuja atau ditolak, Lex Luthor yang getol membuat senjata anti-Superman, hingga beberapa adegan yang seakan tak berkaitan langsung namun mungkin jadi dasar untuk film-film DCEU selanjutnya. Ini termasuk hadirnya sosok Diana Prince alias Wonder Woman (Gal Gadot).

Banyaknya poin yang harus diceritakan sebenarnya cukup memenuhi niat Batman v Superman sebagai sebuah film berskala besar, hendak menyentuh berbagai sisi, dan diperkuat dengan berbagai adegan yang dirancang riuh dan kolosal. Tetapi, belakangan film ini seakan overwhelmed dengan besarnya skala ceritanya sendiri, sementara filmnya hendak dibuat seringkas mungkin dalam satu kali tontonan. Hasilnya, mungkin akan timbul kebingungan mana bagian plot paling utama untuk dijadikan pegangan, dan mana yang hanya sampingan.

Mungkin hal itu terjadi dengan dasar pemikiran bahwa jika plot tidak relevan dalam cerita film ini, mungkin akan relevan di film-film DCEU selanjutnya. Karena itu pula, tak bisa disalahkan jika Batman v Superman dianggap hanya seperti prolog terhadap film-film yang akan datang kemudian. Namun, sebenarnya itu tak terlalu masalah. Paling tidak, proses bersatunya para superhero ini bisa ditampilkan dengan runut dan tidak tiba-tiba, serta secara komersial bermanfaat membangun awareness untuk film-film DCEU selanjutnya.

Bukan berarti Batman v Superman tak bisa diapresiasi sebagai film yang mandiri. Yang paling mudah adalah melihat penataan visualnya, menggabungkan komposisi dramatis bak komik dengan atmosfer realis dan gritty. Gaya ini lebih mengingatkan pada film Watchmen (2009) yang juga digarap Synder, ketimbang Man of Steel yang seolah ingin meniru gaya realis sineas Christopher Nolan dengan trilogi The Dark Knight-nya. Ini membuat Batman v Superman punya corak berbeda dari film superhero lainnya: tak mengusung keceriaan namun tak menghilangkan unsur fantastikalnya.

Terlihat juga bahwa film ini punya cara unik dalam menggambarkan karakter-karakter baru, termasuk Batman yang versinya berbeda dari dua jenis inkarnasi layar lebar sebelumnya. Bukan ditunjukkan lewat dialog terlalu banyak, watak dan histori mereka bisa terpantul dari ekspresi dan gestur. Misalnya Bruce Wayne yang di sini tak hanya lebih berumur, tetapi juga tampak lelah dan jenuh dengan segala aksinya sebagai Batman, yang tak kunjung membuatnya pulih dari rasa kehilangan.

Demikian pula Wonder Woman, yang bahkan di film ini hanya diberi ujaran beberapa kalimat saja. Ia dapat terbaca sebagai karakter yang sudah banyak pengalaman, dan ekspresi puasnya saat beraksi melawan musuh menunjukkan kegembiraan bisa unjuk kekuatan lagi setelah sekian lama. Yang juga cukup mencuri perhatian adalah Lex Luthor, dengan gayanya yang berusaha supel tetapi tampak jelas menyimpan kemarahan tak terkendali. Pemilihan pemain yang tepat sepertinya berkontribusi besar untuk keberhasilan poin-poin ini.

Pada akhirnya, walau agak keteteran dalam penuturannya, Batman v Superman terbilang sukses melakukan tugasnya dalam menanamkan gambaran karakter-karakternya, konsep, serta tone-nya, khususnya sebagai bagian dari DCEU, yang konon memang dirancang tidak se-'terang' rivalnya, Marvel Cinematic Universe. Film ini memang bertema serius, bahkan sampai menyentuh pada pertanyaan moral tentang seseorang yang punya kuasa dan kekuatan lebih dari orang lain. Tetapi, film ini juga masih menampilkan kualitas-kualitas yang dapat memberikan hiburan, serta jadi sebuah awalan yang baik untuk kelangsungan DCEU di layar lebar.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Sabtu, 02 April 2016

[Movie] Abdullah v Takeshi (2016)


Abdullah v Takeshi
(2016 - MVP Pictures)

Written & Directed by Kemal Palevi
Produced by Raam Punjabi
Cast: Kemal Palevi, Dion Wiyoko, Nasya Marcella, Karina Nadilla, Mike Lucock, Natali Sarah, Lolox, Abdur Arsyad, David Nurbianto, Chef Harada, Ayumi Harada


Everything about this film never sound serious, is it? Premisnya absurd sekali, tentang tertukarnya anak Arab dan anak Jepang lalu baru ketemu waktu kuliah saat suka sama cewek yang sama. Kalau didengar awal-awal sih emang lucu dan menarik untuk dilihat. Padahal, kalau digali secara seksama, tertukarnya keluarga juga bisa masuk ke ranah budaya, sosial, psikologi, bahkan hukum. Lucu, tapi bisa juga memunculkan aspek-aspek yang serius. Nah....itulah yang nggak terlalu digali di Abdullah v Takeshi.

Dari awal sudah di-setup bahwa film ini akan konyol, dua bayi beda negara lahir di waktu dan tempat yang sama, lalu perlahan-lahan penonton melihat ada perbedaan mencolok antara anak dengan keluarga masing-masing. Abdullah yang dari keluarga Arab-Indonesia tapi mukanya Dion Wiyoko, Takeshi yang dari keluarga ekspatriat Jepang di Indonesia tapi mukanya Kemal Palevi. Seumur hidup mereka yakin mereka berasal dari keluarga yang wajar, sampai teman-teman kuliah, terutama si Indah (Nasya Marcella) yang jadi rebutan kedua orang ini ingin menyelidiki jangan-jangan Abdullah dan Takeshi tertukar sejak lahir.

Gw sih nggak masalah bahwa film ini akan lebih menonjolkan guyonan. Gw terhitung banyak ketawa selama nonton film ini, walau ada juga yang miss sih--the penis jokes are just too much. It's fine, tapi agak sayang aja bahwa aspek-aspek potensial yang membuat film ini bisa lebih "isi" tidak ditindaklanjuti. Solusi dari tertukarnya kedua anak itu semacam digampangkan, dan eventually solusi semua cerita film ini juga terkesan digampangkan, udahan aja gitu. Gw pun menyayangkan Kemal tidak sampai berusaha lebih keras untuk bikin kita percaya dia dibesarkan di keluarga Jepang, padahal yang jadi orang tuanya si Chef Harada yang orang Jepang asli, yah bahasa Jepangnya bisa kali dibagusin dikit.

Untungnya, penataan sisi emosionalnya masih bisa terangkat di paruh akhir filmnya, dan tidak terlalu jomplang dengan komedi-komedi absurd yang sudah diberikan di depan, karena juga masih ada sedikit jokes berkadar sopan di tengah adegan-adegan emosional itu. Dan, cast-nya oke-oke juga, mereka kayak nyaman memainkan peran masing-masing yang tentu saja sangat karikatural tapi nggak sampai ngeselin. Kalau memang awalnya ini film hore-hore, ya hasilnya pun cukup bikin hore-hore, menghibur, alurnya masih enak diikuti, dan untung production value-nya juga nggak asal-asalan. Tapi, bahwa film ini melewatkan kesempatan untuk go deeper dengan ceritanya, nggak bisa nggak kelihatan.




My score: 6,5/10