Sabtu, 26 Maret 2016

[Movie] Mermaid (2016)


美人鱼 (Měi rén yú)
Mermaid
(2016 - China Film Group/Beijing Enlight Pictures/Sony Pictures)

Directed by Stephen Chow
Screenplay by Stephen Chow, Kelvin Lee, Ho Miu-kei, Lu Zhengyu, Fung Chih-chiang, Ivy Kong, Chan Hing-ka, Tsang Kan-cheung
Produced by Stephen Chow, Y.Y. Kong
Cast: Deng Chao, Jelly Lin, Show Luo, Zhang Yuqin, Lu Zhengyu, Fan Shuzhen, Yan Neng, Kris Wu


Film komedi fantasi terbaru garapan Stephen Chow, Mermaid, saat ini jadi pembicaraan karena berhasil pecahkan rekor film terlaris sepanjang masa di bioskop China. Film produksi China dan Hong Kong ini sukses meraih pendapatan lebih dari 3 miliar yuan atau 500 juta dolar AS di wilayah China saja. Ini sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi di negeri tersebut, baik oleh film lokal maupun asing. Dirancang sebagai sebuah blockbuster, kesuksesan Mermaid mungkin sudah bisa diprediksi. Namun, bukan berarti hal tersebut menutupi bahwa film ini punya sesuatu yang lebih dari sekadar film hura-hura.

Meski kali ini tak ikut sebagai pemeran, gaya Chow yang dikenal dari film-film yang dibintangi maupun digarapnya sebelum ini—sebut saja Shaolin Soccer (2001) dan Kung Fu Hustle (2004)—masih kental terlihat di Mermaid. Bahkan, dari materi-materi promosinya, sudah jelas bahwa yang ingin dijual di sini adalah humor absurd gila-gilaan khas Chow selama ini. Akan tetapi, saat filmnya disaksikan secara menyeluruh, ternyata bukan hanya itu yang ditawarkan Mermaid.

Mengadaptasi secara bebas dari dongeng The Little Mermaid, cerita film ini berpusat pada seorang putri duyung yang jatuh cinta pada seorang manusia. Plot dasar itu kemudian dikembangkan menjadi sebuah kisah modern tentang keserakahan pengusaha yang membahayakan makhluk hidup lain demi kepentingan sendiri.

Adalah Liu Xuan (Deng Chao), pengusaha muda yang mencanangkan pembangunan real estat megah di sebuah tempat bernama Teluk Hijau. Ia pun menyetujui metode dari rekannya, Ruo-lan (Zhang Yuqi), untuk memakai alat khusus mengusir makhluk hidup di lautan sekitar teluk tersebut.

Karena rencana itu, seorang putri duyung berwatak polos bernama Shan (Jelly Lin) diberi misi untuk menyamar jadi manusia darat, mendekati Liu Xuan, lalu membunuhnya. Kurang pengalaman, upaya Shan selalu menemui kegagalan. Malahan, ia jadi terlalu dekat dengan Liu Xuan, hingga mereka saling jatuh cinta. Namun, bagaimana jika Liu Xuan tahu identitas Shan sebenarnya, dan bagaimanakah cara Shan membela kaum manusia ikan yang terancam kehilangan habitat karena Liu Xuan?

Cerita Mermaid memang terkesan klise, lagi-lagi berpusat pada sebuah kisah cinta dua dunia, yang ditambahkan berbagai macam humor dan adegan-adegan spektakuler dengan bantuan animasi CGI untuk membuatnya terlihat megah. Kesederhanaan cerita Mermaid sebenarnya bukan kelemahan, karena paling tidak membuat penonton langsung punya pegangan cerita film ini akan ke mana, mengingat film-film komedi seperti ini sering menampilkan adegan-adegan absurd dan tak relevan demi memancing tawa, yang berisiko melebar ke mana-mana. Untungnya, plot utama film ini dirangkai kuat dari awal hingga akhir, sehingga sekalipun film ini penuh tawa, manisnya kisah cinta Liu Xuan dan Shan masih terus terjaga.

Dari situ, timbul lagi satu keunggulan Mermaid sebagai sebuah film hiburan. Dengan konsep yang sekilas tampak hanya untuk senang-senang, film ini tetap bisa menyatukan unsur komedi, kisah cinta, petualangan, laga, bahkan pesan lingkungan dalam sebuah tontonan yang efektif. 

Sejak awal sebenarnya sudah jelas bahwa film ini ingin menyelipkan pesan kelestarian lingkungan, namun bagian itu tak hanya dari kata-kata, melainkan juga dari caranya membangun kepedulian penonton terhadap Shan dan sesama manusia ikan yang hidupnya terancam. Bahwa sekalipun film ini fantasi dan komedi yang kelihatan ringan, unsur tentang tertindasnya tokoh-tokoh ini tidak sertamerta digampangkan.

Menariknya lagi, Mermaid juga tidak serba menggampangkan karakter-karakternya, sekalipun mereka dirancang sebagai karakter yang komikal. Di bagian awal, film ini seperti tidak ingin mengajak penonton segera membela karakter tertentu, terutama antara Liu Xian dan Sha.

Sebab, niat dan perbuatan mereka sama-sama tidak simpatik: Liu Xian yang dengan gampang menerima proyek Teluk Hijau hanya supaya bertambah kaya, sementara Shan menurut saja saat disuruh membunuh orang yang tak dikenalnya. Dalam perjalanannya, ada transisi yang dilakukan dengan mulus terhadap dua karakter ini, sehingga pada akhirnya mereka bisa merebut simpati di saat yang tepat, juga sekaligus bisa memancing tawa.

Memang secara teknis visual, Mermaid masih terlihat sangat kartun, bahkan sepertinya film ini menyiasati keterbatasan efek visual dengan tak banyak menampilkan adegan bawah laut. Tetapi, itu semua masih sejalan dengan corak film ini—sebagaimana sudah di-set sejak adegan pembuka di 'museum' hewan purba, yang absurd dan komikal. Ketika cerita, penataan adegan, dan humornya sudah mampu memaku perhatian, efek visual yang kurang sempurna sebenarnya cukup bisa terabaikan.

Bagi yang sudah kenal Stephen Chow, ekspektasi terhadap film Mermaid mungkin lebih kepada cara apa lagi yang Chow gunakan untuk membuat penonton terpingkal-pingkal. Ekspektasi ini pun terbayar dengan sangat baik di filmnya, dari yang mengharapkan humor slapstick, permainan kata, situasi, hingga humor yang menjurus ke ranah dewasa. Namun, di balik itu, Mermaid juga menunjukkan keterampilan dalam merancang cerita, menuturkannya, memperkenalkan karakter-karakternya, hingga memainkan emosi dari susunan adegannya, yang mungkin tadinya dikira tak bisa didapat dari film penuh humor absurd seperti ini.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Kung Fu Panda 3 (2016)


Kung Fu Panda 3
(2016 - DreamWorks Animation/20th Century Fox)

Directed by Alessandro Carloni, Jennifer Yuh
Written by Jonathan Aibel, Glenn Berger
Produced by Melissa Cobb
Cast: Jack Black, Bryan Cranston, Dustin Hoffman, J.K. Simmons, James Hong, Angelina Jolie, Kate Hudson, Jackie Chan, Seth Rogen, David Cross, Lucy Liu, Randall Duk Kim, Jean-Claude Van Damme


Selain jadi salah satu studio animasi terdepan Hollywood, serta kerap memakai bintang Hollywood terkenal untuk mengisi suara film-filmnya, DreamWorks Animation juga dikenal sebagai studio yang tak malu-malu berusaha menciptakan franchise. Tak mengherankan lagi bila DreamWorks gemar membuat sekuel atau spin-off, apalagi dari film-film yang sukses di pasaran, sebut saja Shrek, Madagascar, dan How to Train Your Dragon. Kadang hasil kelanjutan dari franchise tersebut menggembirakan dari segi box office, tetapi tak jarang hasilnya kurang memuaskan dari segi cerita.

Kung Fu Panda termasuk dalam franchise milik DreamWorks yang 'beruntung', karena sekuel pertamanya, Kung Fu Panda 2 (2011) masih meneruskan kesuksesan film Kung Fu Panda (2008). Sambutan terhadap kedua film tersebut termasuk positif, baik dari raihan box office yang sama-sama tinggi, maupun kualitas kontennya. Salah satunya dibuktikan oleh fakta bahwa keduanya masuk nominasi Best Animated Feature Film di Piala Oscar. Tentu saja, karena ini DreamWorks, kesuksesan itu perlu dilanjutkan dengan sekuel lagi.

Namun, mungkin sedikit prematur untuk menganggap Kung Fu Panda 3 hanyalah sebuah usaha untuk mengeruk kantong konsumen—terutama para orang tua yang bersedia menuruti keinginan anak-anaknya untuk nonton film ini di bioskop dan membeli merchandise-nya. Bila diperhatikan, para kreator film ini berhasil memanfaatkan potensi cerita dan karakternya yang memang cukup layak untuk diteruskan hingga film ketiga. Potensi yang paling utama tentu saja adalah tentang jati diri Po, panda jago makan yang belakangan juga jago kung fu.

Bila diingat kembali, unsur pencarian identitas memang jadi benang merah tema sejak Kung Fu Panda pertama, namun tema itu digali setahap demi setahap. Film Kung Fu Panda pertama memperkenalkan dunia persilatan Tiongkok kuno yang dihuni para hewan berperadaban seperti manusia. Plotnya lebih kepada pembuktian bahwa Po (diisi suara Jack Black) adalah sang Pendekar Naga, yang diramalkan akan menyelamatkan Tiongkok dari kekuatan jahat, sekalipun saat itu ia hanya anak pedagang mi yang tak punya kemampuan bela diri sama sekali.

Di film itu, kenyataan bahwa Po seekor panda dengan ayah seekor angsa (Mr. Ping, diisi suara James Hong) seakan jadi lelucon tersembunyi, apalagi digambarkan Po merasa bahwa itu hal normal saja. Pada akhirnya poin tersebut memang tidak menimbulkan pertanyaan terlalu besar, karena perhatian lebih tertuju pada akan jadi apa Po di masa depan. 'Keanehan' identitas masa lalu Po baru mulai dikupas di Kung Fu Panda 2, dan terungkap bahwa benar Po adalah anak angkat, dan kemungkinan ia adalah panda satu-satunya yang tersisa.

Kung Fu Panda 3 bisa dikatakan sebagai puncak dari dua perjalanan Po: menggali jati diri masa lalu, dan memenuhi jati diri masa depannya. Suatu ketika Po disuruh oleh sang guru, Shifu (Dustin Hoffman) untuk mulai mengajar kung fu di perguruan sebagai tahapan untuk meningkatkan ilmunya, sesuatu yang dijalankan Po dengan kewalahan karena ia masih belum meninggalkan sifat kekanak-kanakannya. Sementara itu, Po juga kedatangan Li (Bryan Cranston), seekor panda yang mengaku sebagai ayah kandungnya, dan hendak mengajaknya pulang ke desa panda yang keberadaannya dirahasiakan.

Di saat bersamaan, dunia persilatan terancam oleh kedatangan Kai (J.K. Simmons), pendekar yak—semacam sapi gunung—dari dunia arwah yang hendak mengambil kesaktian para pendekar, terutama sang Pendekar Naga. Kehadiran Kai menjadi penggerak plot film ini, sehingga unsur pertarungannya yang menjadi ciri khas film silat dan juga franchise Kung Fu Panda tetap terjaga, juga meningkatkan nilai hiburannya.

Hanya saja, fungsi Kai di sini tak lebih dari itu, kalah pamor dengan pencarian jati diri Po dan discovery-nya terhadap kehidupan sesama panda. Kurang terlibatnya sosok musuh dalam tema ceritanya menjadi salah satu kelemahan Kung Fu Panda 3. Padahal, Kai mungkin musuh tersakti yang pernah muncul di franchise Kung Fu Panda

Selain itu, Kung Fu Panda 3 memang secara keseluruhan terlihat paling ringan di antara tiga film yang sudah ada. Ini bisa dilihat dari gaya penuturan yang serba cepat, tata laga yang seru dan kreatif, dan berbagai macam lawakan yang muncul hampir di semua tempat—yang sayangnya tidak semuanya terasa segar karena mungkin tak lagi mengejutkan di filmnya yang ketiga. Di satu sisi, hal ini berhasil membuat film ini dapat dinikmati dengan santai tanpa harus dijejali dengan pemikiran-pemikiran berat.

Di sisi lain, film ini mengandung kisah Po yang harus membuktikan ia pantas disebut Pendekar Naga, melindungi tempat kelahiran yang baru ia kenal, juga pilihan di antara ayah kandung atau ayah angkat yang membesarkannya. Tema-tema ini sangat berpotensi membuat Kung Fu Panda 3 lebih emosional dari, misalnya, Kung Fu Panda pertama yang berkutat pada keyakinan tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan seseorang. Hanya saja, pembawaan sebagian besar film yang sangat ceria agak menutupi potensi itu, sehingga film ini tidak semenyentuh yang diharapkan.

Terlepas dari itu, Kung Fu Panda 3 tetap sebuah film yang pantas disandingkan dengan dua film sebelumnya, terutama dari nilai hiburannya yang masih mumpuni. Tampilan gambar dan animasi indah yang disokong oleh tata suara dan tata musik apik membuat film ini begitu nikmat untuk ditonton segala usia. Karakter-karakter lamanya masih tetap lovable, sementara karakter-karakter barunya cukup cepat untuk diakrabi. Masih ada nilai-nilai inspiratif yang bisa diambil seperti pendahulunya, membuat film yang jelas-jelas komedi ini tak cuma sambil lalu tanpa makna. Lagipula, apa yang lebih menggemaskan dari pada melihat puluhan panda gemuk berbagai ukuran bertingkah polah konyol sekaligus?




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Iseng (2016)


Iseng
(2016 - Absolute Pictures)

Directed by Adrian Tang
Screenplay by Husein M. Atmodjo, Selvinaeri Cahyani
Story by Rosman Mohamed
Produced by Rosman Mohamed
Cast: Donny Alamsyah, Donny Damara, Tio Pakusadewo, Yayan Ruhian, Viola Arsa, Melinda, Fandy Christian, Khiva Iskak, Zuli Silawanto, Dayu Wijanto, Frida Tumakaka, Kho Michael, Evelinn Kurniadi, Wulan Guritno, Fany Vanya, Manda Cello, Fauzi Baadilla, Siti Badriah, Cecep Arif Rahman


Beberapa hal yang harus diketahui dalam menyaksikan Iseng adalah, satu, ini film debutan baik bagi sutradara, produser, dan most of pemainnya. Dua, aktor-aktris terkenal yang muncul di sini semuanya dalam posisi supporting. Pernyataan terakhir jadi agak tricky karena film ini isinya beberapa kisah interwoven yang artinya porsi karakter "utama" pun nggak banyak karena harus berbagi dengan karakter di cerita lain, jadi yah silakan dibayangkan posisi "supporting" itu kayak apa. 

Katanya sih film ini berkonsep dari apa yang terjadi ketika iseng berujung tragedi, berdasarkan beberapa headline koran yang ditemukan oleh pembuat filmnya. Film ini menuturkan latar belakang tiga peristiwa kriminal dalam rentang waktu 24 jam. Ada seorang pria kaya hendak "membungkam" wanita simpenannya yang resek, ada seorang pelayan restoran lesbian yang mulai akrab dengan seorang karyawati centil, dan ada pula the classic arc of wanita dari kampung yang coba-coba terjun ke prostitusi di ibukota dibantu teman sekampungnya yang udah duluan. Mereka dan beberapa karakter lain yang mengitarinya pun tak akan menyangka bahwa hidup beberapa orang dari mereka akan berakhir malam itu.

Jadi basically, film ini drama--ada sentuhan humor tapi situasional, yang kemudian mengarah pada tragedi di akhir. Artinya, gw harus bertahan mengarungi drama-drama hingga sampai pada peristiwa-peristiwa yang dimaksud. Dan, itu yang hampir-hampir nggak bisa gw lakukan. Kenapa? Film ini menurut gue dipenuhi dengan dialog-dialog nggak penting dan dimainkan dengan cara yang, well, sinetronik, kalau nggak mau disebut annoying, oleh sebagian besar cast-nya yang masih baru-baru itu. Gw nggak mau elaborate lagi pendapat ini karena takutnya akan keluar unkind words. Tapi seriously, untuk sebuah drama kriminal multiplot multikarakter, nggak pernah sekalipun berhasil terasa gripping atau emosional, atau penting. Plus, yang bikin nggak tahan juga adalah film ini ditutup dengan rangkaian flashback (sekalian main credit) yang nggak tahu apa fungsinya. Bikin gw nggak ngerti, film ini cerita ini itu, tampilkan karakter ini itu, tapi so what?

Hal positif yang bisa gw ambil dari film ini adalah konsep dasarnya. You know, membuat pengandaian tentang bagaimana sebuah kasus kriminal bisa terjadi, dan ceritanya juga interwoven gimana gitu. Dan, jangan salah, ada upaya akting yang ternyata oke di sini, misalnya Kho Michael sebagai si freak Denis, dan melihat Yayan Ruhian akting tanpa berantem di sini juga cukup menarik. Tapi, sisanya sorry to say gw sulit untuk menikmatinya secara keseluruhan. Terlihat masih kagok dalam hal memperkenalkan karakter-karakter yang akhirnya memakan waktu, juga penyelesaiannya yang...err...nggak menyelesaikan apa-apa. Better luck next time.




My score: 6/10

Jumat, 25 Maret 2016

[Movie] Pesantren Impian (2016)


Pesantren Impian
(2016 - MD Pictures)

Directed by Ifa Isfansyah
Screenplay by Alim Sudio, Salim Bachdim
Based on the novel by Asma Nadia
Produced by Karan Mahtani, Hanung Bramantyo
Cast: Prisia Nasution, Fachri Albar, Dinda Kanyadewi, Deddy Sutomo, Sita Nursanti, Indah Permatasari, Annisa Hertami, Fuad Idris, Alexandra Gottardo, Rukman Rosadi


Waktu pertama kali dengar konsep film Pesantren Impian, ada perasaan janggal, tapi sekaligus interested juga. "Thriller religi (Islami): itu bakal seperti apa jadinya? Lebih intriguing lagi bahwa sutradaranya adalah Ifa Isfansyah, yang jelas bukan sutradara sembarangan. Dan lebih, lebih bikin curious lagi adalah film ini dibikin--atau mungkin 'diakusisi'--oleh MD Pictures yang jelas-jelas rumah produksi yang, yah, jujur ajalah, lebih banyak berorientasi komersial, yang ngaruh juga ke kontennya. Buat gw, bahkan bahwa film ini jadi dibuat dan beredar di bioskop sudah sebuah peristiwa yang patut diulik. Tapi, mari kita bahas filmnya aja ya *lah*.

Dalam premisnya, film ini mengisahkan 10 wanita dengan aneka latar belakang (gelap) yang memenuhi undangan untuk memulai hidup baru dengan ikut program di pesantren di sebuah pulau, lalu satu per satu kehilangan nyawa oleh pembunuh misterius. Pas gw nonton filmnya ternyata nggak sama persis kayak begitu. Awal cerita adalah seorang polisi bernama Dewi (Prisia Nasution) lewat berbagai penelitian membuat strategi untuk memancing pelaku pembunuhan seorang pengusaha, bekerja sama dengan pihak pesantren dalam mengundang angkatan santri baru. Melihat beberapa nama yang ia curigai sebagai terlibat dalam kasus pembunuhan menerima undangan pesantren, Dewi lalu menyamar sebagai Eni untuk menyusup di antara para santri baru, dengan tujuan memastikan dan menuntaskan pencarian tersangka. Dan, yah, ternyata bukan hanya kasus pembunuhan tersebut yang harus dipecahkan Dewi, karena berbagai kejadian misterius mulai meneror penghuni pesantren, dan orang-orang di dalamnya bisa jadi adalah pelakunya.

Pada tahap itu, film ini masih managed to be interesting. Ada misteri yang dimainkan, dan pengadeganan para santri malang yang satu per satu jadi korban pun bisa terbangun dengan mencekam, terlepas dari production value yang nggak terlalu mewah. Penempatan karakternya juga cukup oke, walau sayangnya dengan lajunya yang cukup cepat, gw nggak berkesampatan lebih dalam mengenal karakter-karakternya yang beragam. Masalah porsi durasi sih, atau mungkin penggambarannya kelewat subtle =P. Kalau nggak jeli melihat ekepresi dan gestur-gestur kecil yang mereka lakukan, ya bisa-bisa bikin bertanya-tanya kenapa dia begini dan begitu dan seterusnya.

Sayangnya lagi, gw merasakan ada unsur keburu-buruan *what?* dalam penyusunan cerita atau mungkin dalam editing. Bagian kasus yang diselidiki Dewi/Eni itu kurang nancep karena sebagian besar diceritakan pas opening title, yang lajunya cepet banget dan pake style abstrak ala-ala film Seven gitu, which is kalau orang perhatiin cuma tulisan pemain dan kru ketimbang apa yang ada di gambarnya, ya bakal ketinggalan. Maksud gw, kenapa nggak dibikin alon-alon aja sih, biar nyerap gitu, jadi bisa lebih ngerti cerita film ini jalannya dari mana. Pun gw termasuk kesal dengan bagaimana film ini diselesaikan. Okelah kasus awalnya kelar di tengah-tengah, tapi kasus di dalam pulau itu sendiri konklusinya terlalu gampangan, tanpa setup apa-apa tiba-tiba begitu. Atau, lagi-lagi, ini masalah laju filmnya yang nggak memberi waktu buat gw, dalam arti jadi gw nggak memperhatikan hal-hal yang tepat sebagai petunjuk yang mungkin mengarah pada penyelesaiannya. Gw bilang konklusinya terlalu out of nowhere pun jangan-jangan karena gw miss sesuatu di awal-awal. Entahlah.

Then again, dengan keberadaan film ini yang menarik dan unik, gw tetap merasa perlu apresiasi. Nggak gampang bikin film yang menggabungkan unsur misteri kriminal, thriller, dan ajakan untuk meng-embrace nilai-nilai agama dalam satu tontonan. Filmnya memang nggak sempurna, tapi buat gw sebagian besar masih bisa dinikmati, the big idea cerita dalam film ini gw suka, aktingnya oke--terlepas dari artikulasi Fachri Albar yang maaf maaf nih kurang enak didengar, dan terutama atmosfernya sih yang cukup berhasil dibangun sesuai yang diperlukan, paling nggak sampai sebelum masuk konklusinya. Sedikit-dikitnya menghiburlah, lantaran jarang banget film Indonesia yang angkat crime mystery sebagai tema utama, dan perlakuan terhadap tema itu di film ini nggak jelek-jelek amat sebenarnya.





My score: 7/10

Sabtu, 19 Maret 2016

[Movie] Comic 8: Casino Kings Part 2 (2016)


Comic 8: Casino Kings Part 2
(2016 - Falcon Pictures)

Directed by Anggy Umbara
Written by Fajar Umbara, Anggy Umbara
Produced by Frederica
Cast: Arie Kriting, Babe Cabiita, Bintang Timur, Ernest Prakasa, Fico Fachriza, Ge Pamungkas, Kemal Palevi, Mongol Stres, Indro Warkop, Prisia Nasution, Sophia Latjuba, Pandji Pragiwaksono, Hannah Al Rashid, Donny Alamsyah, Boy William, Agus Kuncoro, Candil, Joe P Project, Barry Prima, George Rudy, Willy Dozan, Lydia Kandou, Sacha Stevenson, Soleh Solihun, Yayan Ruhian, Agung Hercules, Nikita Mirzani, Ence Bagus, Gandhi Fernando, Bagus NTRL, Cak Lontong


Dalam satu tahun belakangan ini, mungkin tidak ada film Indonesia yang dapat diklaim sebagai yang terbesar selain Comic 8: Casino Kings. Sejak awal produksi, sekuel dari film laga komedi sukses Comic 8 (2014) ini telah mengajak puluhan orang terkenal—sebagian besar adalah stand up comedian yang tengah naik daun di Indonesia, ditambah dengan desain produksi serba spektakuler dan penggunaan teknologi visual effects.

Singkatnya, ini adalah film mahal, dengan tujuan menjangkau sebanyak mungkin penonton, ciri yang biasanya muncul dalam film-film blockbuster Hollywood. Namun, pada akhirnya penonton harus menyaksikan film ini dengan cara dicicil dalam dua bagian, lantaran ceritanya yang terbilang panjang sekalipun sebenarnya sederhana.

Casino Kings Part 1 yang rilis Juli 2015 lalu memulai cerita tak lama setelah akhir dari cerita Comic 8 pertama, yaitu penyelidikan seorang agen Interpol, Cynthia (Prisia Nasution) terhadap delapan orang yang dicurigai menjadi pelaku perampokan dan penyanderaan Bank INI. Tentu saja, sebenarnya sudah dijelaskan kepada penonton di akhir film pertama bahwa kedelapan orang yang dimaksud adalah agen rahasia pimpinan Indro (Indro Warkop) yang berupaya meringkus seorang dokter jiwa jahat, Pandji (Pandji Pragiwaksono). Hanya saja, berhubung misi mereka bersifat rahasia, para agen ini akan selalu menghilang tanpa jejak.

Para agen yang terdiri dari Arie (Arie Kriting), Babe (Babe Cabiita), Bintang (Bintang Timur), Ernest (Ernest Prakasa), Fico (Fico Fachriza), Kemal (Kemal Palevi), Mongol (Mongol Stres), dan Ge (Ge Pamungkas) kali ini diutus untuk meringkus raja judi terbesar di Asia Tenggara yang dijuluki The King. Mereka kemudian menyamar dan berbaur dengan para stand up comedian, sampai akhirnya berhasil mendapat undangan khusus ke pulau judi rahasia, dan bertemu langsung dengan The King (Sophia Latjuba). 

Namun, ternyata The King bersekongkol dengan Dokter Pandji yang hendak membalas dendam, sehingga para agen ini dijebloskan ke serangkaian permainan maut rancangan The King, dan keselamatan mereka jadi bahan taruhan judi online internasional. Sementara itu, Cynthia masih terus berupaya mengungkap identitas kedelapan agen ini, yang justru menyeretnya juga ke pulau milik The King. Bagian cerita inilah yang hendak diselesaikan dalam Casino Kings Part 2: apakah para agen Comic 8 dapat menyesaikan misinya, dan apakah kali ini mereka dapat kembali lolos dari pengejaran pihak berwajib.

Casino Kings Part 2 adalah sebuah klimaks panjang dari keseluruhan ceritanya. Inti utama ceritanya sudah dijabarkan di Casino Kings Part 1, sehingga di paruh kedua penonton tinggal menanti rentetan aksi dari para karakternya dalam mencapai tujuan masing-masing, ditambah pengungkapan satu, dua detail baru, seperti siapa sebenarnya The King.

Mungkin itu sebabnya pula penuturan Casino Kings Part 2 adalah yang paling linear dan straightforward dibandingkan dua film sebelumnya—apalagi sebagian besar karakternya yang banyak itu sudah "tereliminasi" sehingga tersisa sekitar sepertiganya. Dalam gambaran besarnya, pokok dari film ini adalah aksi tembak-tembakan, kejar-kejaran, pertarungan, serta selipan-selipan komedi di antaranya, semua atas nama entertainment.

Ketika Casino Kings Part 2 hadir dengan memaksimalkan unsur hiburannya, sulit dihindari untuk tidak menilai film ini dari segi teknisnya. Di satu sisi, perlu diapresiasi bahwa di film ini masih bisa menampilkan rancangan adegan laga digabung dengan komedi yang masih memberi efek menghibur. Ketika cerita bergulir semakin absurd dan nyeleneh, semuanya masih sejalan dengan corak keseluruhan film yang memang berniat gila-gilaan. 

Di sisi lain, karena sebagian besar adegan-adegan tersebut menggunakan efek digital, harus diakui bahwa beberapa kali adegan-adegan yang menghibur itu terganggu oleh ketidaksiapan teknologi dalam memoles film dalam porsi sebanyak itu. Kalau mau dibandingkan, Casino Kings Part 1 lebih bisa menghadirkan gambar dan efek digital yang lebih nyaman dilihat. Pada akhirnya, bagian yang ditampilkan maksimal adalah adegan-adegan seperti pertemuan para agen Comic 8 dengan para petarung senior atau duel Cynthia dan Bella (Hannah Al Rashid), yang justru tak menggunakan banyak sentuhan efek digital.

Satu lagi yang cukup disayangkan adalah film ini seperti kewalahan dalam menampilkan adegan-adegan laganya dalam porsi seimbang. Dalam satu momen di pertengahan, film ini harus menampilkan empat pertarungan serentak di empat tempat berbeda, yang kemudian diputuskan untuk ditampilkan secara selang-seling. Hanya saja, trik ini justru membuat intensitas setiap pertarungan jadi tanggung: ketika mau mencapai bagian paling seru, langsung pindah ke tempat lain. Inilah salah satu hal yang membuat ritme Casino Kings Part 2 tampak tidak se-exciting film-film sebelumnya.

Menyaksikan Comic 8: Casino Kings, baik Part 1 dan Part 2 akhirnya menimbulkan sebuah pengandaian, bagaimana jadinya jika dibuat satu film saja, dan tidak harus dirilis terlalu cepat. Cukup nyata terlihat di Casino Kings Part 1 bahwa banyak bagian yang dapat dihilangkan sehingga dapat merampingkan durasi cerita ini secara keseluruhan, bahkan mungkin tak perlu dibelah dua—meski akhirnya berisiko menghilangkan sejumlah karakter yang dimainkan orang-orang terkenal juga. 

Dan, bila diberi waktu yang lebih lama, mungkin polesan teknis film ini bisa lebih maksimal. Toh, terbukti dari penjualan tiket Casino Kings Part 2 yang bombastis di bioskop-bioskop, momentum terhadap film ini belum luntur sekalipun jaraknya sudah lebih dari dua tahun sejak film pertamanya, bahwa para penggemar film ini—atau fans para pemainnya—masih tetap antusias.

Namun, terlepas dari itu, Casino Kings Part 2 membuktikan bahwa Indonesia punya potensi dalam membuat film-film blockbuster-nya sendiri. Tentu ada banyak faktor dalam menentukan kualitas maupun kesuksesan sebuah film—Casino Kings Part 2 sendiri diketahui sangat gencar dalam berpromosi. Tetapi, kenekatan sutradara Anggy Umbara dan rumah produksi Falcon Pictures membuat sebuah film skala besar penuh adegan fantastis dengan tujuan mengejar standar seperti blockbuster Hollywood, yang jadi kesukaan sebagian besar penonton film Indonesia, paling tidak mencoba mendorong banyak pihak untuk melihat bahwa Indonesia bisa, jika diberi kesempatan.





My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Senin, 14 Maret 2016

[Movie] Crouching Tiger Hidden Dragon: Sword of Destiny (2016)


Crouching Tiger, Hidden Dragon: Sword of Destiny
(2016 - The Weinstein Company/Netflix)

Directed by Yean Woo Ping
Screenplay by John Fusco
Based on the novel Iron Knight, Silver Vase by Wang Du Lu
Produced by Peter Berg, Charlie Nguyen
Cast: Michelle Yeoh, Donnie Yen, Natasha Liu Bordizzo, Jason Scott Lee, Harry Shum Jr., Eugenia Yuan, Roger Yuan, Juju Chan, Chris Pang, Woon Young Park, Darryl Quon, Veronica Ngo, Gary Young


Pada tahun 2000, sineas kelahiran Taiwan, Ang Lee menghasilkan sebuah film silat Tiongkok yang menjadi fenomena dunia, Crouching Tiger Hidden Dragon. Film ini diangkat dari seri novel silat karangan Wang Du Lu, yang kemudian dikemas sebagai film berbahasa Mandarin dengan pemain dan tim produksi dari berbagai negara. Selain laris, salah satu pencapaian terbesar film ini adalah mempopulerkan kembali genre silat ke Hollywood. Film ini menang empat Piala Oscar, termasuk Best Foreign Language Film, bahkan masuk nominasi Best Picture di tahun bersangkutan.

Kesuksesan film tersebut rupanya masih menyisakan ruang untuk dibuat kelanjutannya. Akhirnya, setelah 15 tahun, sekuelnya yang berjudul Crouching Tiger Hidden Dragon: Sword of Destiny diproduksi, namun dengan konsep dan tim produksi yang nyaris seluruhnya baru. Aktris Michelle Yeoh jadi sebagai satu-satunya pemain dari film pertama yang kembali melanjutkan perannya di film ini.

Kursi sutradaranya kini diisi oleh sineas China, Yuen Woo Ping, yang pernah jadi penata koreografi laga untuk film pendahulunya—juga untuk film-film Hollywood terkenal sepertiThe Matrix dan Kill Bill. Film ini pun menampilkan pemain dari berbagai negara, dan diproduksi oleh studio Hollywood, The Weinstein Company, bersama situs Netflix. Film ini memang disiapkan untuk diputar eksklusif di layanan video streaming tersebut, tetapi juga diputar terbatas di bioskop format IMAX di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Pedang pusaka Green Destiny masih jadi rebutan. Demi keamanannya, pedang ini disimpan di rumah keluarga bangsawan Te di ibukota Peking. Yu Shu Lien (Michelle Yeoh) bertugas untuk menjaga pedang tersebut sepeninggal kakak seperguruan sekaligus orang yang dicintainya, Li Mu Bai (dulu diperankan Chow Yun Fat). Namun, upaya pencurian oleh Wei Fang (Harry Shum, Jr.), pemuda suruhan Hades Dai (Jason Scott Lee) dari West Lotus membuat Shu Lien terpaksa meminta bantuan. Maka datanglah lima pendekar sakti yang sudi menjaga pedang tersebut, temasuk salah satunya Silent Wolf (Donnie Yen), mantan tunangan Shu Lien yang tadinya dianggap sudah mati.

Tetapi, lagi-lagi pedang Green Destiny tak hanya menarik satu pihak saja. Seorang gadis misterius bernama Snow Vase (Natasha Liu Bordizzo) juga terlihat tertarik dengan pedang tersebut, karena ia punya dendam pribadi pada Hades Dai. Melihat potensinya, Shu Lien pun mulai melatihnya. Tetapi, mereka harus berpacu dengan waktu karena Hades Dai dan suruhannya mulai berani mengarah ke ibukota secara terang-terangan, dan tega menyingkirkan siapa pun yang menghalanginya merebut Green Destiny.

Sebagai sebuah kelanjutan dari Crouching Tiger Hidden Dragon yang telanjur terkenal, Sword of Destiny adalah film yang sangat berbeda dari berbagai segi. Perbedaan yang kasatmata adalah dari cara produksinya. Film ini memang dibuat dengan mindset Hollywood, produksinya dilakukan sebagian besar di Selandia Baru, dialognya diucapkan dalam bahasa Inggris—untuk versi bioskop Indonesia disulih suara bahasa Mandarin, serta lebih banyak polesan animasi CGI.

Jika film pertamanya lebih beratmosfer realis dengan bantuan efek visual Hollywood, maka gaya visual Sword of Destiny lebih dekat kepada film-film silat fantasi produksi China dan Hong Kong yang marak di era milenium. Bukan berarti jelek, apalagi efek visualnya termasuk rapi, tetapi memang akan sangat berbeda dari film pertamanya.

Tak hanya itu, dari segi cerita film ini punya daya tarik yang berbeda. Bila dibandingkan, salah satu hal yang membuat film pertamanya berbeda dari film-film silat sejenis adalah penekanan pada sisi drama dan karakternya yang mendalam, selain dari pameran aksi laga fantastisnya. Sementara Sword of Destiny tidak dapat mengulangi hal yang sama. Film ini praktis hanya terfokus pada perebutan Green Destiny, karena penggalian karakternya yang tidak sedalam film pertama.

Sword of Destiny kemudian menjadi sebuah film silat yang nyaris tak berbeda dengan film-film sejenis. Film ini menampilkan hal-hal klise dari segi cerita dan latar belakang karakter, plot digerakkan oleh dendam dan kekuasaan yang dilambangkan dengan benda pusaka, hubungan kompleks guru dan murid, hingga adanya adegan pertarungan para pendekar lawan preman di warung makan. Pengulangan subplot dari film pertamanya, yaitu adanya percikan romansa antara sepasang pendekar senior dan sepasang pendekar juniornya juga tidak bisa memberi dampak yang sama di film ini.

Meski seperti kehilangan benang merah dari film pertamanya, baik dari segi visual maupun kualitas cerita, Sword of Destiny sebenarnya tetap mampu tampil sebagai tontonan yang memikat. Daya tarik utama film ini tentu saja tertuju pada adegan-adegan pertarungan silatnya. Film ini tetap sanggup memunculkan beberapa adegan pertarungan yang atraktif dan berpotensi ikonik, khususnya pertarungan antara Silent Wolf, Wei Fang, dan Iron Crow (Roger Yuan) di atas lempengan es. Dan, untungnya film ini masih bisa mengendalikan diri dalam adegan pertarungan besar pamungkasnya sehingga tidak jadi berantakan atau berlebihan.

Pada akhirnya, Sword of Destiny memang tidak bisa menyamai level pencapaian film pertamanya, khususnya dalam menghadirkan cerita yang lebih dari soal perebutan pedang, dendam, dan pertarungan. Akan tetapi, film ini tetap punya daya pikat tersendiri sebagai tontonan yang mampu menghibur lewat cerita yang ringan dan penataan adegan yang apik.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Gods of Egypt (2016)


Gods of Egypt
(2016 - Summit/Lionsgate)

Directed by Alex Proyas
Written by Matt Sazama, Burk Sharpless
Produced by Basil Iwanyk, Alex Proyas
Cast: Nikolaj Coster-Waldau, Brenton Thwaites, Gerard Butler, Elodie Yung, Chadwick Boseman, Geoffrey Rush, Courtney Eaton, Rufus Sewell, Emma Booth


Eksistensi film Gods of Egypt mungkin dianggap hanya mengekor film-film laga fantasi petualangan yang sering dibuat Hollywood, sebut saja Clash of the Titans, The Mummy, sampai The Lord of the Rings. Belum lagi film ini memasang aktor dan aktris berbagai bangsa tanpa satu pun yang berdarah Mesir. Seolah film ini tidak dibuat dengan serius, hanya mencari bahan cerita yang bisa digunakan untuk pamer efek visual CGI dan dinikmati secara ringan. Tetapi, sutradara Alex Proyas—sineas Australia yang kebetulan berlatar keluarga Mesir keturunan Yunani—seperti tidak membiarkan hasil akhir film ini hanya jadi seperti demikian.

Gods of Egypt dituturkan dalam bentuk fantasi berdasarkan konsep mitologi Mesir kuno. Artinya, jangan harap ada realisme di sini, apalagi berhubungan dengan sejarah. 'Bumi' dalam kisah ini hanya sebatas tanah Mesir, dan bentuknya pun datar, terdiri dengan dua sisi: sisi dunia orang hidup dan dunia orang mati. Kisah ini berlatar ketika manusia dan dewa-dewi hidup berdampingan, dengan dewa-dewi ukuran tubuhnya lebih besar, berumur panjang, berdarah emas, sakti—dapat juga berubah menjadi bentuk hewan, dan bertahta sebagai raja dan bangsawan dengan wilayah kekuasaan masing-masing.

Kisah film ini sendiri terambil dari mitos tentang perebutan tahta kerajaan Mesir antara Horus, sang dewa udara, dan Set, sang penguasa gurun. Set (Gerard Butler) menyatakan terang-terangan ambisinya untuk mengambil tahta raja Mesir saat upacara penobatan Horus (Nikolaj Coster-Waldau) sebagai raja. Disaksikan oleh dewa-dewi dan rakyat manusia, Set bertarung dengan Horus demi merebut mahkota. Horus alami kekalahan, bahkan kedua matanya dicungkil oleh Set. Set naik menjadi raja Mesir, yang tak hanya membuat rakyat menderita, tetapi juga dewa-dewi yang hendak melawan akan disingkirkannya.

Di sisi lain, seorang manusia pencuri muda bernama Bek (Brenton Thwaites) mencari cara agar mendiang kekasihnya, Zaya (Courtney Eaton), tidak musnah di dunia orang mati. Bek datang kepada Horus di pengasingan, lalu mengadakan perjanjian agar Horus dapat menolong Zaya, dengan imbalan Bek menolong Horus merebut tahtanya kembali dari Set, dimulai dari mencuri kembali mata Horus yang disimpan Set. Tentu saja, Set tak akan tinggal diam, karena ia masih terus ingin menjadi dewa terbesar dan paling berkuasa di alam raya.

Satu hal yang harus diapresiasi dari Gods of Egypt adalah nilai kebaruan. Sekalipun plot tentang kerja sama dewa dan manusia seperti sudah pernah didengar, film ini termasuk berhasil dalam memperkenalkan mitologi Mesir kuno yang relatif jarang dikenal dengan cara yang menyenangkan. Memang kelihatan bahwa Proyas dan tim penulis skenario Matt Sazama dan Burk Sharpless banyak melakukan pengembangan sendiri dari tokoh-tokoh dan ceritanya, tetapi mereka menampilkannya masih dalam koridor yang dekat dengan mitologi aslinya—dan ini juga diuntungkan oleh sifat mitologi yang bebas interpretasi karena bukan literatur konkret.

Lewat film ini, penonton diperkenalkan pada konsep kepercayaan dan dewa-dewi Mesir kuno, tak hanya Set dan Horus, tetapi juga dewi cinta Hathor (Elodie Yung), dewa pengetahuan Thoth (Chadwick Boseman), dewa kematian Anubis (suara oleh Goran D. Kleut), hingga sang dewa matahari, Ra (Geoffrey Rush), ayah dari Set dan kakek dari Horus. Gambaran posisi dan fungsi mereka pun disampaikan dengan cukup mudah dimengerti dan dideskripsikan dengan visualisasi yang menarik berkat desain produksi, kostum, dan efek visualnya. Maka, bisa jadi akan banyak yang jadi tertarik mencari tahu tentang mitologi Mesir kuno selepas menyaksikan film ini.

Sebelum Gods of Egypt, Proyas selaku sutradara dikenal sebagai sineas yang memiliki visi yang cukup unik, khususnya dalam genre sci-fi. Sebut saja film The Crow, Dark City, I Robot, juga film kiamat Knowing yang terhitung sukses di pasaran. Namun, ciri khas Proyas bukan hanya pada visi cerita dan visual, tetapi juga subteks yang dalam lewat penceritaannya. Hal ini rupanya masih ada dalam Gods of Egypt, sekalipun tampilannya sekilas seperti film yang main-main.

Film Gods of Egypt seolah membuat refleksi tentang kemanusiaan, termasuk untuk manusia yang ada pada masa kini. Salah satu contoh adalah ketika Set membuat hukum bahwa orang yang ingin hidup tenang di alam baka harus mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan dipersembahkan kepada dewa. Hal ini membuat yang bisa mencapai 'surga' hanyalah orang-orang kaya yang mampu memberi harta—yang dampaknya membuat mereka jadi hidup tamak, sementara yang tak memberi apa-apa akan musnah. Bagian ini seperti komentar dari pembuat film ini tentang dunia yang terlalu berorientasi materi.

Hal itu juga tersambung dengan sifat Set, yang terobsesi menguasai semua yang ada di bumi, termasuk kesaktian dari dewa-dewi lainnya. Padahal, ketika ia dihadapkan pada Ra yang posisinya lebih tinggi, terbukti semua hal yang ada di bumi bukanlah segalanya. Set terlalu terpatok pada apa yang ada di bumi, sementara itu hanya bagian kecil dari alam yang luas.

Tak hanya itu, masih ada beberapa contoh yang bisa ditarik sebagai refleksi hubungan antara manusia dan kedewaan. Mulai dari sosok Thoth yang mengatakan Bek tak akan sanggup menyerap seluruh pengetahuan tentang alam semesta, atau Hathor yang harus berkorban diri sesuai fungsinya sebagai dewi cinta. Adapun Bek yang tak memiliki rasa percaya terhadap dewa-dewi terlepas bahwa mereka hidup berdampingan, kebalikan dari Zaya yang selalu berdoa pada Horus sekalipun tak kunjung dijawab. Ini seakan mencerminkan hubungan yang kompleks antara manusia dengan konsep ketuhanan, baik yang percaya maupun yang tidak.

Jadi, menganggap bahwa Gods of Egypt sedangkal tampilan luarnya adalah keliru. Memang, sisi action dan petualangan film ini tampil meriah dan mudah untuk diterima sebagai sebuah sajian hiburan ringan semata. Bahkan, ada kesan bahwa pembuat filmnya sendiri sengaja membuat filmnya terlihat absurd seperti kartun—latar tempatnya memang hampir seluruhnya CGI, ditambah dengan humor-humor yang bisa dianggap lucu dan bisa juga tidak. Namun, film ini tetap punya sesuatu di balik sekadar bersenang-senang hampa. Gods of Egypt bukanlah film yang layak diremehkan, asalkan mau dibaca dengan saksama.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Minggu, 13 Maret 2016

[Movie] Jingga (2016)


Jingga
(2016 - Lola Amaria Production)

Directed by Lola Amaria
Written by Gunawan Raharja, Lola Amaria
Produced by Lola Amaria
Cast: Hifzane Bob, Qausar Harta Yudhana, Hany Valery, Aufa Assegaf, Keke Soeryokusumo, Ray Sahetapy, Joshua Pandelaki, Isa Raja Loebis, Nina Tamam


Buat gw film-filmnya Lola Amaria selalu menarik temanya. Dari romantika kehidupan TKI di Minggu Pagi di Victoria Park hingga satir soal korupsi di pemerintahan di Negeri Tanpa Telinga. Terlepas dari hasil akhirnya gw suka atau nggak, gw harus apresiasi bahwa mbak Lola punya sense yang oke dalam memilih tema. Tahun ini dia bikin kisah kehidupan remaja tunanetra di Jingga, lagi-lagi membuktikan itu. Tentu saja kalau mau dirunut, ini bukan film Indonesia pertama yang mengangkat soal keseharian remaja tunanetra--tahun 2013 udah ada What They Don't Talk About When They Talk About Love yang menyorot kehidupan asrama SLB. Tapi Lola sendiri sering statement bahwa Jingga akan jadi filmnya yang paling light dan ceria, karena nggak cuma soal remaja tunanetra, tapi soal remaja tunanetra yang nge-band. Hmmm, we'll see about that.

Jingga (Hifzane Bob) adalah nama seorang remaja laki-laki  yang berbakat bermain drum. Hanya saja dia sejak kecil punya kondisi yang rapuh di bagian penglihatannya, sehingga saat dia kena pukul temannya, akhirnya dia jadi buta total. Awalnya situasi ini diterima cukup berat oleh Jingga dan keluarganya, tapi keputusan untuk pindah ke SLB rupanya berangsur-angsur dapat membalikkan keadaan. Jingga kemudian bergaul erat dengan tiga teman yang sudah tunanetra sejak lahir: Marun (Qausar H.Y.), Nila (Hany Valery), dan Magenta (Aufa Assegaf)--yeah, namanya dari warna semua, khususnya karena mereka bikin band =D. Jadi dimulailah kehidupan baru Jingga, membiasakan diri dengan kondisinya, juga menjalanai pertemanan baru, dan cinta baru.

Menurut gw film ini cukup baik dalam menggambarkan keseharian Jingga dkk, semacam representasi bahwa walau dalam kekurangan mereka tetap bisa menjalani hidup dengan positif dan seterusnya. Masalah yang mereka hadapi pun bukan soal mereka buta, tapi yah masalah khas ABG seperti soal cita-cita dan perih-perih ketika naksir teman nggak dibalas =P. Ada satu momen yang menurut gw menarik ketika ketiga teman Jingga nanya dia soal bagaimana bentuk kota Bandung (setting cerita ini) atau soal warna. Pertanyaan yang sebenarnya polos dan di-deliver dengan polos juga, tapi gw ngeliatnya deep-deep gimana gitu =P. Dan, gw rasa salah satu keberhasilan film ini adalah permainan para aktornya yang menurut gw cukup meyakinkan, you know, untuk jadi seperti penyandang tunanetra yang sudah biasa dengan kondisi mereka, lengkap dengan sisi emosinya, kerenlah.

Ada lagi yang menarik perhatian gw dari konten film ini, karena gw masih merasakan unsur aktivisme dari seorang Lola tentang isu sosial. Ini terutama bisa dilihat dari latar belakang tokoh Marun dan Magenta. Magenta itu ceritanya asal Maluku yang jadi buta karena waktu bayi sakit dan salah pengobatan, buat gw adalah hint tentang jaminan kesehatan yang masih kurang diperhatikan di negara ini terutama di daerah. Tapi yang lebih lantang adalah soal Marun, yang berasal dari daerah kawasan industri--spesifically disebut Karawang--yang banyak penduduk desanya jadi buta karena dampak limbah pabrik. Bahkan, si kondisi si Marun ini diteruskan dengan kondisinya yang sering mimisan yang eventually mengarah ke dampak kesehatan yang lain. Untuk sebuah film yang katanya ringan dan ceria, paling nggak ada sedikit pengetahuan yang bisa dipetik dari film ini.

Nah, masalahnya, gw merasa cerita film ini kayak "nggak diselesaikan". Seriously, gw mengira bahwa selain soal Jingga yang menerima kondisinya, plot soal band mereka akan diteruskan, macam tampil di panggung mana kek atau apa. Nggak tuh. Film ini malah memilih untuk mengakhirinya dengan melankolis, dan nggak menyelesaikan apa-apa. Jujur gw merasa being kaget dan kecewa dengan bagaimana film ini ditutup, atau "dipotong", karena rasanya ada yang nggak utuh. Too bad.

Pada dasarnya gw udah cukup menikmati bagaimana film ini disajikan, baik dari penuturan, akting, maupun segi teknis yang oke, bahkan lagu-lagu yang ditampilkan lumayan enak juga. Well, walau dialognya kadang preachy juga sih tapi karena ceritanya film maunya inspiratip jadi ya sudahalah. Film ini sebenarnya digarap dengan baik, cuma ya itu tadi, tutupannya kurang memberi...emm, satisfaction-lah buat gw. Yah, paling nggak sisi positifnya masih bisa meninggalkan kesan yang baik di gw terhadap film ini secara keseluruhan, dan ada anjing lucu =D.




My score: 7/10



Kamis, 10 Maret 2016

[Movie] I Am Hope (2016)


I Am Hope
(2016 - Alkimia Production/Kaninga Pictures)

Directed by Adilla Dimitri
Written by Adilla Dimitri, Renaldo Samsara
Produced by Wulan Guritno, Ananda Soekasah, Janna Soekasah Joesoef
Cast: Tatjana Saphira, Tio Pakusadewo, Fachri Albar, Alessandra Usman, Feby Febiola, Kenes Andari, Ray Sahetapy, Ariyo Wahab


Dari gerilya promosi film ini sejak tahun lalu, first and foremost, I Am Hope adalah sebuah "film amal", karena ini ditujukan untuk awareness tentang penderita kanker dengan kampanye 'gelang harapan'-nya. Di sisi lain, film ini juga jadi proyek pertama suami istri Wulan Guritno-Adilla Dimitri, dengan sang suami lakukan debut film panjang sebagai sutradara. Well, tanpa harus malu-malu, film ini memang tampak seperti sebuah kisah melankolis tentang seseorang dan penyakitnya yang mematikan, nothing new. Tapi, menarik juga bahwa ada unsur fantasy di dalamnya, yang sudah diisyaratkan dari judulnya.

Film ini berkisah tentang Mia (Tatjana Saphira), anak dari keluarga seniman yang bercita-cita menggarap produksi pertunjukan teater pertamanya. Tapi, di justru di saat ini ia divonis kanker, satu hal yang membuat dia dan ayahnya (Tio Pakusadewo) terpukul, karena ibunya (Feby Febiola) dulu juga kena kanker dan tidak bertahan. Namun, Mia tetap melanjutkan proyeknya, sembari menjalani pengobatan yang belum pasti juga akan berhasil atau tidak. Di tengah-tengah proses ini ia bertemu seorang aktor bernama David (Fachri Albar) yang sanggup membantunya memperlancar produksi pertunjukan teaternya. Selama berbulan-bulan, well, producing a theatre play is hard, chemotherapy is also hard, apakah Mia sanggup mengatasi keduanya, itu yang jadi penggerak cerita film ini. 

Gw respek sama niat baik film ini. Kalau lihat ceritanya, pokok film ini ingin memberi secercah semangat bagi pengidap kanker, bahwa vonis penyakit tersebut bukan berarti berhenti berkarya dan berhenti berjuang untuk survive. Dan mungkin dalam konteks film-film Indonesia yang angkat soal penyakit, film ini menunjukkan penyakit mematikan bukan berarti terus-terusan sedih dan depresi. Seperti yang gw mention sebelumnya, film ini juga masukkan unsur fantasi dengan kehadiran Maya (Alessandra Usman) yang dari awal *jadi bukan spoiler dong* digambarkan sebagai sosok yang selalu ada bagi Mia saat dibutuhkan, yah bisa dibilang interaksi Mia dengan Maya adalah antara Mia dan dirinya sendiri untuk terus menjalani hidup, dan seterusnya dan seterusnya.

The problem I have with this film, terlepas dari niatnya yang baik itu, gw nggak merasakan semangat yang terpancar dari film ini. Untuk sebuah film yang mau menggugah semangat, well, terlalu mellow, yang didukung oleh adegan-adegannya yang banyak sekali dibikin draggy, macam buka pagar atau jalan dari teras ke pintu rumah, yang gw nggak paham kenapa musti begitu panjang ditampilkannya. Dari segi musik juga menurut gw kurang membantu karena komposisinya yang monoton dari sejak awal film. Aktingnya cukup fine, apalagi bagian Tatjana dan Tio dalam kegalauan mereka, tapi kembali lagi most of the time gw kurang merasakan 'semangat hidup' dari karakter-karakter ini. Mungkin karena tone filmnya yang memang lembut dan mellow tadi, tapi emosi sedihnya tak sampai benar-benar menusuk, unsur lucu sikit pun tak ada. Apakah film tentang penyakit harus begini caranya? Well, sialnya gw nonton film ini setelah ada Bidadari Terakhir tahu lalu, sebuah film roman dengan tema serupa tapi nyaris 2/3 film gw nggak sadar bahwa film itu soal penyakit saking asyiknya penuturannya. Mungkinkah juga karena karakter Mia itu not lively enough to make her more interesting selain dari cita-cita dan penyakitnya? 

I Am Hope pada akhirnya kurang berhasil jadi film yang nikmat ditonton untuk gw, kurang unsur 'ugh' gitu, sehingga dampaknya bikin gw jenuh menantikan bagaimana kisah ini akan berakhir sekalipun durasinya nggak panjang juga. Tetapi, untuk message yang disampaikan, film ini boleh dibilang berhasil. Ada ketakutan yang ditunjukkan dari sepasang ayah-anak yang punya riwayat kanker dalam keluarga, menunjukkan ini memang bukan penyakit yang diremehkan, tetapi kemudian itu dibayar dengan, misalnya, adegan konseling para penyintas kanker. Paling nggak ada informasi komprehensif yang disampaikan, bukan asal sebut kanker dan tokoh dokter bilang hidup tinggal berapa bulan terus mati gitu aja. 





My score: 6,5/10

Rabu, 09 Maret 2016

[Movie] Terjebak Nostalgia (2016)


Terjebak Nostalgia
(2016 - Oreima Films/Kaninga Pictures)

Directed by Rako Prijanto
Written by Anggoro Saronto
Produced by Reza Hidayat
Cast: Raisa Andriana, Chicco Jerikho, Maruli Tampubolon, Khiva Iskak, Dewi Irawan, Robby Sugara


Gw nggak yakin gw nyaman dengan keberadaan film ini. Kayak sekadar ingin nebeng ketenaran Raisa, tapi gw juga tahu Rako Prijanto bukan sineas yang asal-asalan. Akhirnya gw berkesempatan menonton film ini--terlepas berbagai permasalahan yang membuat film ini nggak bisa tayang luas di bioskop jaringan dari jadwal seharusnya, dan gw tetap masih merasa ada perasaan gimana gitu sama keseluruhan film ini. What's the purpose, really? Ini mungkin pertanyaan yang sama gw ajukan buat film yang memasang musisi terkenal macam Rock N Love-nya Kotak tahun lalu. Gw berharap jawaban yang diberikan Terjebak Nostalgia akan lebih memuaskan.

Kisahnya sendiri roman rada fantasi gitu, begitu mellow syahdu sabar sederhana, tapi paling nggak ada ide menarik yang disampaikan. Di sini ceritanya Raisa (Raisa Andriana, obviously) sudah hampir menikah dengan sosok musisi bernama Sora (Maruli Tampubolon), tapi sebelumnya Sora mau mengambil beasiswa di New York. Sayang, Sora tak kunjung pulang karena ia dinyatakan hilang waktu terjadi badai Sandy di sana. Beberapa waktu kemudian Raisa udah dekat dengan Reza (Chicco Jerikho), tapi--sesuai judulnya--ia masih belum melupakan Sora. Diperparah lagi ia menerima sepucuk surat baru (iya, surat, namanya juga film romantis =P) yang pengirimnya mengaku...*jengjeng*...Sora. Bingung, Raisa nekat berangkat ke New York untuk memastikan keadaan Sora, apakah dia nyata atau hanya....err....jebakan nostalgia *denting piano berkumandang*.

Jujur, tanpa Raisa pun ide ceritanya udah cukup menarik. Surat dari orang yang harusnya udah nggak ada, lalu penelusurannya sama sosok yang ngharep banget bisa jadian, very interesting. Apalagi dengan perlakuan visualnya yang agak dreamy-fantasi gitu. Untuk urusan production value, tampaknya Rako itu adalah salah satu sineas yang bisa diandalkan. Semuanya nyaman di mata, melengkapi penampilan Raisa yang emang dari sononya udah enak dilihat secara tampilan fisik. 

Nah, masalahnya apakah Terjebak Nostalgia ini secara penuturan bisa seenak kelihatannya? Well, lumayan. Gw cukup suka di awal film ini nggak buang waktu, tapi makin ke sana gw merasa makin draggy saja, sesuatu yang sebenarnya expected dari film mellow syahdu seperti ini tapi ya mungkin gw nggak sabaran aja kali ya. Berhubung nggak seru kalo spoiler, gw cuma bisa gambarin perasaan gw pas nonton kayak, 'ayo dong ngapain lagi nih? masa gitu-gitu doang perjalanannya,' macam itu. Dan gw belum mention ragam service buat sponsor-sponsornya ya, haha (untungnya nggak semengganggu Mantan Terindah). Sementara kalau dari akting, Raisa debutnya lumayanlah, nggak terlalu malu-maluin, dan nggak trying too hard, which is good. Nggak terlalu kelihatan jomplang juga dengan pemain-pemain lain yang lebih punya pengalaman akting. Nggak spesial, tapi gw rasa sang sutradara done this part right-lah.

Tapi, di situ gw juga mulai bertanya, kenapa harus Raisa? Pada akhirnya, film ini nggak terlalu music-driven, dan ceritanya hampir nggak ada hubungannya sama Raisa sebagai seorang penyanyi dan karya-karyanya di kehidupan nyata. Toh lagu-lagu yang ada di sini baru semua. Maksud gw, kenapa nggak sekalian Raisa namanya diganti? Menurut gw itu akan lebih safe dan nggak terkesan nebeng ketenaran Raisa, dan malah akan menunjukkan bahwa Raisa emang serius mencoba akting sebagai karakter yang not necessarily berdasarkan karakter asli dirinya. So, menurut gw, se-cute dan semenarik apa pun, film ini nggak akan berpengaruh banyak sama karier Raisa, entah di musik atau di akting. Dan sayang juga, kesannya ide cerita yang sebenarnya menarik ketutupan sama label ini film pertama Raisa sebagai Raisa yang bukan Raisa. Which is weird. Ya untung aja filmnya enak dipandang.





My score: 6,5/10

Sabtu, 05 Maret 2016

[Movie] Zootopia (2016)


Zootopia
(2016 - Disney)

Directed by Byron Howard, Rich Moore
Screenplay by Jared Bush, Phil Johnston, 
Story by Byron Howard, Jared Bush, Rich Moore, Phil Johnston, Jennifer Lee, Josie Trinidad, Jim Reardon
Produced by Clark Spencer
Cast: Ginnifer Goodwin, Jason Bateman, Idris Elba, Jenny Slate, Nate Torrence, Bonnie Hunt, Don Lake, Alan Tudyk, Shakira, Tommy Chong, J.K. Simmons, Octavia Spencer, 


Setelah tahun 2015 vakum merilis film, Walt Disney Animation Studios akhirnya hadir lagi lewat persembahan terbarunya. Lewat Zootopia, Disney mencoba kembali membuat film fabel—dunia hewan yang berlaku seperti manusia—sejak terakhir membuat Chicken Little (2005). Diarahkan oleh Byron Howard dan Rich Moore, Zootopia tampil sebagai sebuah kisah yang cerah dengan karakter hewan lucu yang akan membawa keceriaan. Namun, selain memberikan nilai hiburan, Zootopia juga mampu memberikan lapisan cerita yang tak membuatnya jadi film yang numpang melawak saja.

Satwa mamalia telah berevolusi dengan peradaban modern. Mereka telah meninggalkan naluri liar mereka dan menjalankan fungsi masing-masing di masyarakat. Akan tetapi, batasan-batasan tetap saja dirasakan. Ini dialami oleh Judy Hopps (diisi suaranya oleh Ginnifer Goodwin), kelinci yang bercita-cita menjadi polisi. Masalahnya, belum pernah ada dalam sejarah satwa anggota polisi dari kaum kelinci, mengingat ukuran tubuh mereka yang kecil. Orang tua Judy pun berusaha meyakinkannya bahwa kelinci pada hakikatnya seharusnya jadi petani saja.

Namun, Judy tetap bersikeras meraih cita-citanya. Meski diremehkan, ia berhasil jadi lulusan terbaik di akademi kepolisian, dan menjadikannya kelinci pertama yang jadi polisi. Tak hanya itu, ia juga ditugaskan di kota terbesar dunia mamalia, Zootopia. Sayangnya, bekal itu tak membuat anggapan orang terhadapnya berubah. Di kepolisian, ia hanya bertugas sebagai tukang tilang.

Kesempatan untuk membuktikan kemampuan diri datang ketika Judy ditugaskan menyelidiki salah satu kasus hewan hilang. Ketika pihak kepolisiannya tak memberi bantuan yang memadai, Judy terpaksa bekerja sama dengan Nick Wilde (Jason Bateman), rubah penipu yang memegang petunjuk pertama tentang hilangnya berang-berang bernama Mr. Otterton. Judy dan Nick kemudian alami berbagai petualangan seru demi mengungkap kebenaran di balik rangkaian kasus hewan hilang ini, namun mereka harus dipacu oleh sempitnya waktu.

Sebagaimana film animasi Disney pada umumnya, Zootopia disiapkan sebagai tontonan yang dapat dinikmati seluruh keluarga dengan memasukkan nilai-nilai pendidikan. Salah satu nilai yang sudah bisa ditebak sejak awal—dan sangat khas Disney, adalah mengenai tekad kuat dan usaha keras yang dapat membuat seseorang mencapai cita-citanya, dan seterusnya. Namun, bila diperhatikan, Zootopia juga memasukkan berbagai lapisan cerita yang membuatnya jadi tontonan yang bernas bagi penonton manusia dewasa sekalipun.

Salah satu nilai yang diusung adalah mengenai prasangka terhadap orang lain. Meski disebutkan para satwa ini sudah berevolusi, masih tersisa prasangka-prasangka terhadap sifat bawaan hewan lain. Orang tua Judy sangat tidak mau berurusan dengan kaum rubah, karena dalam benak mereka rubah tetaplah makhluk yang berniat jahat. Bagian ini juga paralel dengan prasangka yang menimpa Judy yang selalu dianggap tak kompeten karena ia kelinci 'imut' dan lemah.

Tema prasangka ini terus dikembangkan dengan menghadapkannya pada pernyataan 'baik buruknya seseorang tergantung kepribadian, bukan bawaan atau tampilan luar.'Zootopia tidak menuturkannya dengan cara segampang satu kalimat bijak dapat menyelesaikan masalah. Isu prasangka terus dimainkan sehingga alur ceritanya tetap dinamis dan menarik, terutama saat sifat optimistis Judy sering bertabrakan dengan Nick yang lebih berpandangan realistis. Kerap kali saat Judy hendak berprasangka baik terhadap sesuatu atau seseorang, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.

Di balik keceriaan dan warna-warninya, film ini terbukti menyimpan kedalaman makna yang tidak terlalu sulit untuk ditangkap, menjadi refleksi yang relevan terhadap kemanusiaan sekalipun diumpamakan dalam dunia hewan. Di lain pihak, sebagai sebuah film, Zootopia untungnya tak hanya menjejali ceritanya pesan-pesan penuh makna. Film ini juga berhasil tampil dalam hakikatnya sebagai tontonan yang menghibur.

Secara visual, konsep dunia mamalia modern ditampilkan dengan matang dan jenaka. Sebut saja kota Zootopia yang terbagi dalam tiga macam distrik berdasarkan iklim habitat hewan-hewannya—tropis, gurun, dan tundra, pembedaan pekerjaan dan pemukiman berdasarkan ukuran hewan, hingga kehadiran bintang pop Gazelle (Shakira) yang menjadi panutan warga Zootopia. Sebuah replika dunia manusia modern yang diterjemahkan dengan tanpa cela ke dalam dunia satwa.

Film ini juga berhasil menyatukan unsur komedi dan misteri. Sisi komedinya, baik fisik maupun verbal, ditampilkan dengan timing yang tepat tanpa harus bersifat nakal. Lawakannya pun lebih bersifat situasional dan sindiran—seperti cara Nick menipu bak penjual saham bodong, atau kantor layanan pemerintah yang sangat lambat prosesnya—ketimbang berusaha keras untuk jadi lucu dan menggemaskan, sebab bagian itu sudah cukup dari desain karakternya saja.

Sedangkan sisi misterinya ditata dengan apik dan efektif mendorong jalannya plot. Tanpa terkesan hanya main-main, penyelidikan Judy dan Nick mampu membuat penasaran lewat petunjuk demi petunjuk yang mereka temukan. Semua itu pun diperkuat dengan penataan adegan yang mampu tampil emosional, serta didukung kualitas teknis sebagaimana bisa diharapkan dari studio sebesar dan selegendaris Disney.

Nilai-nilai perjuangan meraih cita-cita, persahabatan dua karakter berbeda, dan harmoni bermasyarakat di tengah perbedaan, lalu dibungkus dengan petualangan dan kisah misteri, tampaknya memang agak sulit untuk memuat semua itu dalam satu film yang nyaman dinikmati. Namun, Zootopia berhasil mengatasinya dengan keceriaan dan keseriusan yang kadarnya seimbang, dan bisa dinikmati segala usia.





My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Jumat, 04 Maret 2016

[Movie] A Copy of My Mind (2016)


A Copy of My Mind
(2016 - Lo-Fi Flicks/CJ Entertainment)

Written & Directed by Joko Anwar
Produced by Tia Hasibuan, Uwie Balfas
Cast: Tara Basro, Chicco Jerikho, Paul Agusta, Ario Bayu, Maera Panigoro, Ronny P. Tjandra


Kalau ada sineas Indonesia yang gw khatam nonton karyanya, maka itu adalah Joko Anwar. Well, paling nggak untuk film-film panjang yang disutradarainya. Gw rata-rata suka film-filmnya Joko, dari Janji Joni sampai Modus Anomali, terutama karena film-filmnya selalu kelihatan "kayak film" dengan production value yang cool dan edgy, namun masih dengan cerita dan penuturan yang asyik. Lalu datanglah A Copy of My Mind, sebuah film yang katanya 'kecil' dan jadi pertama kali Joko melepaskan semua elemen fantastikal. Artinya, menyaksikan ini agak gambling buat gw, apakah bakal suka atau nggak dengan pergantian gaya yang cukup drastis dari Joko di sini.

A Copy of My Mind ini menyorot dua orang yang hidup di dunia bawah Jakarta, yang cewek Sari pegawai salon kecil, yang cowok Alek jadi penerjemah DVD bajakan--which is not necessarilly a 'job' but hey ada duitnya jadi ya udahlah. Kerasnya lingkungan kayak bikin mereka nggak punya aspirasi apa-apa selain cita-cita kecil, seperti ingin nonton film dengan cara lebih proper selain dengan alat elektronik KW buatan China di kos-kosan dan DVD bajakan. Nevertheless, pertemuan sederhana Sari dan Alek akibat Sari protes terjemahan DVD-nya berantakan berujung pada jalinan cinta sederhana dan passionate dari mereka berdua. Tapi, kebahagiaan itu terusik ketika Sari nyolong DVD dari salah satu pelanggannya. Ternyata, DVD itu berisi rekaman bukti korupsi dari beberapa orang yang saat ini mendukung salah satu calon presiden. Nggak ingin dapat masalah, Sari berusaha kembalikan DVD itu, tapi pihak-pihak misterius lebih dahulu meneror mereka.

Ketika gw bilang gayanya Joko berubah drastis di sini, itu emang benar-benar berubah, kayak hampir nggak ada jejak-jejak 'Joko' kecuali beberapa dialog witty dan dekorasi DVD di tembok kostan Alek. Mulai dari visualnya yang raw dan tampak tidak di dressed-up, sampai penuturannya yang lamban (terutama di bagian perkenalan karakter) dan keputusan tanpa ilustrasi musik selain lagu-lagu yang terdengar di mana pun adegan berada. Gw menyimpulkan bahwa setelah lama Joko lebih bermain di genre-genre spesifik dan flashy, di sini mencoba jadi agak 'artsy' gitu. Did it work? Tergantung.

Di sini seperti ingin ditekankan tentang realisme kehidupan tokoh-tokohnya, dengan dialog natural dan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini mungkin nggak mau diaku sebagai bagian dari 'orang Jakarta', ditambah lagi meminjam euforia pemilihan presiden dua tahun lalu. Atmosfer riilnya sih bisa terasa. Tapi saking riilnya gw agak lost sama film ini ceritanya mau ke mana. Di paruh awal fokusnya begitu intim pada hubungan Sari dan Alek, yang memang dibangun dengan sangat baik, then what? Si DVD kontroversial itu baru masuk di paruh kedua, dan itulah menurut gw film ini mulai bergerak lagi, walau kemudian buntutnya jadi 'artsy' lagi dengan silent, long, dreamy takes dan sebagainya. This part, I'm not really fond of.

Tapi, gw setidaknya masih melihat bahwa se-riil-riil-nya film ini, paling nggak masih ada cerita si DVD itu, yang jadi semacam MacGuffin sehingga ceritanya masih ada arahnyalah walau agak telat =p. Okelah film ini ingin memotret tentang kerasnya hidup di Jakarta terutama bagi mereka yang duitnya nggak seberapa gara-gara opportunity terbatas, tapi untunglah film ini nggak sebatas deskripsi, ada jalinan cerita yang bisa diikuti. Film ini juga mungkin mau mencerminkan ironi bahwa bisnis DVD bajakan berjalan sangat lancar dibanding yang asli karena konsumennya cuma sanggupnya beli yang itu, tapi buat gw film ini jadi lebih ada gigitannya pas ada unsur thriller-nya itu. Memang in the end unsur thriller itu *sayangnya* nggak di-emphasize, karena keseluruhan film ini jadinya ya tadi, artsy drama gitu kan, tapi at least Joko tidak benar-benar meninggalkan cirinya dalam menyusun cerita yang interesting dan unik.

Jadi kalau mau disimpulkan, it's a nice change and all, tapi kayaknya untuk gw bilang 'suka' masih agak sulit sih.




My score: 7/10

Rabu, 02 Maret 2016

WINNERS of the 88th Oscars


Telat dikit nggak apa-apa ya =D. Perhelatan Oscar ke-88 sudah kelar, saatnya memeriksa hasil tebakan gw kemarin. Sama kayak yang lalu-lalu, ini adalah daftar lengkap pemenang Oscar tahun ini, ditambahi dengan tanda O yang artinya tebakan gw kemarin benar dan X salah. Mari.


best picture
SPOTLIGHT (O)

Agak gak percaya ternyata tebakan gw bener. Tapi ya senang juga karena memang filmnya bagus.


directing
THE REVENANT (O)

No surprise here.


actor in a leading role
Leonardo DiCaprio, THE REVENANT (O)

No surprise here either


actress in a leading role
Brie Larson, ROOM (O)

Again, no surprise, dan suka setidaknya film Room dapat perhatian.


actor in a supporting role
Mark Rylance, BRIDGE OF SPIES (O)

Damn! Nggak nyangka di kategori yang paling terbuka ini tebakan gw benar. Kudos buat Rylance yang akting subtle tanpa banyak tingkah itu memang keren.

actress in a supporting role
Alicia Vikander, THE DANISH GIRL (O)

Mbak cakep menang Oscar =).


animated feature film
INSIDE OUT (O)

Pixar will always win this one. Sebuah ungkapan yang sebenarnya masih akan cool seandainya tahun 2013 yang menang bukan Brave =\.


cinematography
THE REVENANT (O)

Yeaaaa....


costume design
MAD MAX: FURY ROAD (O)

Karena salah satu film terfavorit tahun 2015 lalu, setiap ini disebut pemenang pasti bersorak \^o^/


film editing
MAD MAX: FURY ROAD (O)

...dan ini...


makeup and hairstyling
MAD MAX: FURY ROAD (O)

...dan ini juga.


original score
THE HATEFUL EIGHT (O)

Received by the legendary Ennio Morricone. Gw waktu lihat speech-nya kayak ikut mata berkaca-kaca gitu...


original song
"Writing's On the Wall", SPECTRE (X)

Deuh, ini salahnya nggak ngenakin nih, masak yang menang ini =/


production design
MAD MAX: FURY ROAD (O)

ahhh....sorak-soraklah lagi.


sound editing
MAD MAX: FURY ROAD (O)
 
...dan lagi...


sound mixing
MAD MAX: FURY ROAD (X)
Nah ini salah tapi tetap bikin sorak-sorak lagi =D.


visual effect
EX MACHINA (X)
Wah ini nih yang paling nggak disangka-sangka, padahal lawannya berat-berat. Still quite happy, filmnya bagus juga soalnya.


adapted screenplay
THE BIG SHORT (O)

Yup


original screenplay
SPOTLIGHT (O)

Yup


foreign language film
SON OF SAUL (Hungary) (O)
Of course it is.


documentary feature
AMY (O)
Toldja


documentary short
A GIRL IN THE RIVER: THE PRICE OF FORGIVENESS (X)
oh well, meneketehe.


animated short film
BEAR STORY (O)
Wah bener tebakannya, hahaha *padahal ngasal*


live-action short film
STUTTERER (X)

oh well, meneketehe.


Oh wow. Kabar baik buat gw karena gw berhasil menebak dengan benar 19 dari 24 kategori, itu kayak 80%. THAT. IS. A. PERSONAL. RECORD. Gw nggak pernah menebak dengan benar sebanyak itu, padahal ini tahun yang agak sulit ditebak sebenarnya. Tapi ya, senang sekali hasilnya begini, artinya gw boleh merasa ada progres sebagai pengikut berita-berita film, hahaha. 

It was a fun Oscar, gelarannya juga cukup menyenangkan dengan Chris Rock banyak nyinggung soal ras yang jadi topik panas dalam beberapa bulan belakangan ini. Pemenangnya memuaskan, acaranya juga masih atraktif, dengan penampil favorit gw adalah The Weeknd nyanyi "Earned It", lagu yang jelas lebih pantas menang Oscar daripada si "Writing's On the Wall" apalah itu =p. 

Baiklah, sampai bertemu di Oscar tahun depan. Cheers.