Minggu, 28 Februari 2016

Tebak-Tebakan Pemenang The 88th Oscars

Better late than never. Gelaran Oscar 2016 akan dimulai sekitar satu hari sejak postingan ini diterbitkan, dan gw baru sempet bikin tebakan pemenangnya, huehuehue. Yah, selain karena kesibukan, lambatnya gw memposting tebakan tahun ini adalah betapa membingungkannya peta popularitas para nomine tahun ini. Nggak ada satu film tertentu yang benar-benar jadi frontrunner, bahkan kalau dari penghargaan-penghargaan pra-Oscar yang emang rada ngaruh seperti Screen Actors Guild (SAG) Awards, Directors Guild of America (DGA) Awards, dan Producers Guild of America (PGA) Awards, pemenanganya tuh beda-beda, sehingga semakin sulit untuk melihat para anggota Academy of Motion Pictures, Arts and Sciences (AMPAS) bakal condong ke film yang mana.

Tapi, justru karena nggak ada satu yang menonjol banget, dipastikan Oscar tahun ini bakal jadi salah satu yang paling seru, karena semua orang hampir nggak punya pegangan siapa yang nanti akan keluar sebagai pemenang. Apalagi, dalam beberapa tahun belakangan syarat-syarat untuk jadi 'big winner' semakin kabur, entah itu Argo yang nggak masuk nominasi Best Director tapi menang Best Picture, atau 12 Years a Slave menang Best Picture padahal jumlah pialanya Gravity lebih banyak, dan seterusnya dan seterusnya.

Dan, itu artinya gw tidak akan merasa terlalu gagal kalau gw banyak salah tebak, hahaha. Jadinya, tebakan gw kali ini lebih banyak random-nya, sedikit feeling dan lebih banyak wild guesses, karena kemungkinan apa pun bisa terjadi. Untuk nominasi lengkapnya bisa dilihat di sini, sementara tebakan gw bisa dilihat di bawah ini.



best picture
Film ini selalu masuk nominasi penghargaan mana pun periode ini, dan memenuhi syarat klasik pemenang Best Picture dengan masuk nominasi Directing, Writing, dan Editing. Ini juga film pilihan SAG Awards. Salah satu alasan gw lebih condong ke film ini daripada The Revenant misalnya adalah film ini 'Oscar banget', mulai dari cerita, isu, dan juga penyampaiannya yang rada konvensional, mungkin seperti film-film pemenang Oscar awal dekade 2000-an. Tapi entahlah,

pleasant surprise: oh my God, gw bakal jingkrak kegirangan kalau yang menang MAD MAX: FURY ROAD. Kalau ada film action yang benar-benar pantas dapat Best Picture di Oscar, ya ini dia.



directing
Entah AMPAS akan sudi memberi Piala Oscar kepada orang yang sama dua tahun berturut-turut--Alejandro González Iñárritu tahun lalu menang lewat Birdman. Tapi karena DGA milihnya dia, ya sudah gw ikutin aja =P

pleasant surprise: again, gw akan bahagia kalau yang menang MAD MAX: FURY ROAD.



actor in a leading role
Leonardo DiCaprio, THE REVENANT
Karena udah menang di mana-mana. Case closed.



actress in a leading role
Brie Larson, ROOM
Karena udah menang di mana-mana. Case closed.



actor in a supporting role
Mark Rylance, BRIDGE OF SPIES
Kategori ini masih cukup open karena belum ada satu nama pasti. Para kritikus memfavoritkan Sylvester Stallone dalam peran legendarisnya sebagai Rocky versi uzur di Creed, tapi doi gak masuk di SAG Awards jadi gw ragu. Maka dengan ngasal gw pilih pemenang versi British Academy Film Awards (BAFTA) ini aja.



actress in a supporting role
Alicia Vikander, THE DANISH GIRL
Kategori ini cukup sengit. Lewat peran ini Vikander kalahin Kate Winslet di Steve Jobs di SAG, sedangkan Winslet menang di BAFTA tapi Vikander-nya bukan lewat film The Danish Girl. 50-50 sih kayaknya, tapi mungkin sekarang giliran Vikander.

pleasant surprise: Kate Winslet, STEVE JOBS, karena 'two times Oscar winner Kate Winslet' sounds about right.



animated feature film
No contest. Pixar gitu.



cinematography
THE REVENANT
Emmanuel Lubezki third Oscar in a row? Well, he already deserved a fourth or a fifth, so yeah.

pleasant surprise: MAD MAX: FURY ROAD



costume design



film editing
MAD MAX: FURY ROAD

pleasant surprise: THE BIG SHORT



makeup and hairstyling
MAD MAX: FURY ROAD



original score



original song
"'Til It Happens to You", THE HUNTING GROUND
Lady Gaga bisa dapat Oscar dan mungkin saatnya Diane Warren 'pecah telor' setelah berulang kali masuk nominasi.



production design
MAD MAX: FURY ROAD

pleasant surprise: BRIDGE OF SPIES



sound editing
MAD MAX: FURY ROAD



sound mixing
THE REVENANT



visual effect



adapted screenplay

pleasant surprise: THE MARTIAN



original screenplay
SPOTLIGHT



foreign language film
SON OF SAUL (Hungary)
Asal tebak karena filmnya soal holocaust. It's the Oscars after all.



documentary feature
AMY
Tebakan paling aman untuk kategori ini adalah cari yang kira-kira filmnya nggak bikin ngantuk, mengingat mayoritas anggota AMPAS itu opa-opa.



documentary short
LAST DAY OF FREEDOM
asalaja



animated short film
BEAR STORY
asalaja



live-action short film
AVE MARIA
asalaja



Demikianlah tebakan gw, untuk hasilnya nanti bisa dibuktikan sendiri pada Senin, 29 Februari mulai 7 WIB. Excited to see the results!

Kamis, 25 Februari 2016

[Movie] Room (2015)


Room 
(2015 - A24 Films/Film4)

Directed by Lenny Abrahamson
Screenplay by Emma Donoghue
Based on the novel by Emma Donoghue
Produced by Ed Guiney, David Gross
Cast: Brie Larson, Jacob Tremblay, Joan Allen, William H. Macy, Tom McCamus, Sean Bridgers, Wendy Crewson, Cas Anvar


Saat menyimak sebuah berita kriminal, umumnya orang-orang diarahkan untuk memberi perhatian pada mengapa dan bagaimana kejahatan itu terjadi. Yang mungkin jarang diangkat dalam pembahasan adalah dampak kehidupan orang-orang yang terlibat setelah kejadian itu. Film Room arahan Lenny Abrahamson mengambil sebuah contoh kasus penculikan, penyekapan, sekaligus perkosaan terhadap seorang wanita muda, yang tak hanya membahas tentang detail kasusnya, tetapi dampaknya setelah korban bebas. Namun, kisah ini diambil dari sudut pandang seorang anak berusia lima tahun.

Sepanjang hidupnya, bocah laki-laki bernama Jack (Jacob Tremblay) tinggal bersama ibunya yang dipanggil Ma (Brie Larson) di sebuah kamar tak berjendela yang terkunci rapat. Terungkap sebenarnya bahwa Ma adalah korban penculikan saat berusia 17 tahun oleh pria yang dipanggil Old Nick (Sean Bridgers), dan kini sudah bertahun-tahun ia disekap, juga secara berkala diperkosa oleh Old Nick. Bisa ditebak, Jack adalah anak hasil perkosaan Old Nick terhadap Ma.

Lantaran koneksi mereka ke dunia luar hanya melalui Old Nick dan sebuah pesawat TV, Ma berusaha agar Jack memiliki pertumbuhan senormal mungkin, dengan mengajaknya melakukan berbagai kegiatan di ruang sempit itu, dan berusaha memberi penjelasan terhadap segala pertanyaan Jack.

Namun, suatu ketika Old Nick mengaku kehilangan pekerjaan, sehingga pasokan kebutuhan mereka akan terbatas. Setelah sekian tahun menahan diri, Ma akhirnya terpicu lagi untuk membuat rencana melarikan diri. Dengan situasi Old Nick yang juga makin melemah, rencana kali ini berhasil.

Akan tetapi, lepas dari sekapan Old Nick bukanlah akhir dari segalanya. Saat harus mencoba bangkit dari trauma, Ma juga harus menghadapi perubahan yang terjadi di lingkungannya yang dulu. Selama ia menghilang sekitar tujuh tahun, orang tuanya ternyata sudah bercerai. Nancy sang ibu (Joan Allen) kini hidup bersama kekasih barunya, Leo (Tom McCamus), sementara ayahnya, Robert (William H. Macy) pindah ke kota lain. Di saat bersamaan, Ma masih harus terus membimbing Jack untuk bisa mengenal dunia luar yang baru baginya. Masalahnya, segala hal ini belum siap ditanggungnya sekaligus.

Dalam mengangkat topik kriminalitas, film Room memilih langkah yang tepat agar tidak jatuh jadi film drama yang generik. Soalnya, jika tidak ditangani dengan kreatif, kisah yang sama bisa jadi tak ubahnya salah satu episode serial televisi Hollywood yang membahas kejahatan sejenis, seperti Criminal Minds atau Law & Order: Special Victim Unit.

Film Room sendiri merupakan adaptasi dari novel fiksi karya Emma Donoghue, penulis yang juga dipilih untuk mengadaptasinya ke dalam bentuk skenario film. Sama seperti novelnya, film ini mempertahankan sudut pandang cerita dari tokoh Jack, yang dalam beberapa bagian menjadi pemandu penonton dengan narasinya.

Dengan mengedepankan Jack maka berefek pada timbulnya ironi dari penceritaan film ini. Di satu sisi, penonton tahu betul bahwa film ini berkisah tentang sebuah dampak tindak kekerasan yang keji, khususnya secara mental, terhadap seorang wanita muda dan anaknya. Usaha Ma untuk kembali ke dunia luar jelas tidak mudah, apalagi ia harus menghadapi sorotan publik dan stigma. Padahal, jelas dalam benaknya ia ingin segalanya cepat berlalu. Rekonsiliasi hubungan Ma dengan orang tuanya, setelah ada kekosongan selama beberapa tahun, juga kerap menimbulkan cekcok, bahkan Jack kadang jadi terkena kekalutan pikirannya.

Akan tetapi, di sisi lain cerita ini juga adalah sebuah 'petualangan' bagi Jack. Dengan cara pandangnya yang masih polos, Jack pelan-pelan harus menyerap tentang segala sesuatu yang masih asing baginya, termasuk membangun hubungan dengan orang-orang selain Ma. Hal ini membuat perjalanannya bersama Ma yang seharusnya menjadi drama sedih mengharubiru bisa juga sesekali tampil manis dan jenaka.

Ditambah lagi, Jack belum mengerti bahwa selama hidupnya ia disekap oleh orang jahat, sehingga ia menjalani adaptasi ini tanpa beban. Malah ia mengaku kangen dengan kamar tempat ia disekap dulu. Tentu akan timbul rasa sedih dan iba melihat ketidaktahuan Jack, namun kepolosannya itu juga dapat dimengerti, karena selama ini ia dididik jadi optimistis oleh Ma sekalipun di dalam benaknya dunia hanya sebatas kamarnya dulu.

Setiap tahapan cerita film ini digambarkan dengan penataan adegan yang intim. Ruang dan karakter yang tidak terlalu banyak menuntut agar permainan ekspresi dan emosi para pemainnya menjadi kunci. Performa Brie Larson berhasil menunjukkan sosok Ma yang hancur dalam hatinya, namun harus tampak kuat dan punya segala jawaban bagi Jack.

Sementara Jacob Tremblay sebagai Jack juga dengan sangat baik mengimbangi Larson dengan emosi yang riil. Demikian pula para pemain pendukung seperti Joan Allen dan William H. Macy, yang walau porsinya tak sebanyak Larson dan Tremblay, berhasil meninggalkan jejak berarti.

Menggabungkan dua cara pandang dalam satu tuturan cerita bukan perkara mudah, namun film Room berhasil dengan mulus dalam menyampaikan kisah yang miris sekaligus optimis. Abrahamson selaku sutradara juga lihai dalam mempermainkan emosi penonton, dari adegan-adegan yang membuat hati terenyuh, yang menimbulkan senyum, sampai juga ketegangan—khususnya adegan percobaan Jack untuk melarikan diri.

Adegan-adegannya ditampilkan dengan dialog dan situasi yang realistis, tapi kadang-kadang juga bisa terasa fantastikal, mengikuti bagaimana cara pandang Jack. Room pun berhasil menjadi sebuah pertunjukan talenta dan keahlian berkarya yang tak hanya mumpuni, tapi sanggup menggugah hati.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Rabu, 24 Februari 2016

[Movie] Spotlight (2015)


Spotlight
(2015 - Open Road Films/Entertainment One)

Directed by Tom McCarthy
Written by Josh Singer, Tom McCarthy
Produced by Steve Golin, Blye Pagon Faust, Nicole Rocklin, Michael Sugar
Cast: Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, Liev Schreiber, John Slattery, Brian d'Arcy James, Stanley Tucci, Billy Crudup, Jamey Sheridan, Paul Guilfoyle, Len Cariou


Kreativitas teknis dan kecanggihan teknologi dalam bidang film jelas punya manfaat besar, baik terhadap bagaimana film dibuat maupun disaksikan. Akan tetapi, ada kalanya hal-hal tersebut menutupi esensi utama dari sebuah karya film, yaitu bercerita. Spotlight, sebuah film drama berdasarkan kisah nyata, terlihat bukan jenis film dengan segala gimmick mewah secara teknis. Deretan pemainnya pun, meskipun relatif terkenal, bukan termasuk bintang-bintang termahal saat ini. Namun, film ini berhasil bersinar hanya dengan satu modal: cerita.

Di bawah arahan sutradara Tom McCarthy berdasarkan skenario yang juga ditulisnya bersama Josh Singer, Spotlight menyorot kisah di balik investigasi sekelompok jurnalis dalam membongkar skandal pelecehan seksual terhadap anak yang terjadi di lingkungan gereja Katolik kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Hasil penyelidikan ini sendiri dimuat dalam harian The Boston Globe tahun 2002, dan berhasil memenangkan Pulitzer Prize—penghargaan bergengsi untuk karya tulis jurnalistik dan literatur.

Judul Spotlight sendiri diambil dari nama rubrik investigasi dalam harian tersebut, yaitu rubrik yang membutuhkan berbulan-bulan dalam melakukan wawancara investigasi dan riset sebelum akhirnya diterbitkan sebagai artikel mendalam. Saat itu, rubrik ini dikepalai oleh editor Walter "Robby" Robinson (di film diperankan Michael Keaton), yang memimpin tiga orang jurnalis: Mike Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dan Matt Carroll (Brian d'Arcy James).

Pada tahun 2001, tim rubrik Spotlight ditugaskan oleh pemimpin redaksi mereka yang baru, Marty Baron (Liev Schreiber) untuk menggali lebih dalam tentang beberapa kasus pelecehan seksual anak oleh pastur di Boston. Penyelidikan pun diarahkan ke berbagai sudut pandang. Mulai dari sisi hukum, sisi para korban, pelaku, sampai ke penelitian literatur.

Isu yang berpotensi kontroversial tersebut membuat penyelidikan ini dijegal beberapa tantangan. Tak semua narasumber mau membeberkan apa yang sebenarnya terjadi, seolah-olah ini adalah hal yang tabu dibahas sekalipun sebenarnya mereka tahu itu bentuk kriminalitas. Yang lebih mengejutkan adalah jumlah kasusnya ternyata sangat banyak, terjadi sejak lama, dan menyebar ke berbagai kota di AS, namun ditutup-tutupi secara sistematis oleh institusi terkait dan pihak berwajib, tanpa penyelesaian secara hukum.

Spotlight membahas sebuah isu yang sangat sensitif dari berbagai segi. Bukan hanya film ini menyorot sejarah gelap institusi keagamaan tertua dan terbesar di dunia, tetapi juga mengangkat kembali trauma yang pernah dialami oleh para korban. Dari sini berkembang pula topik tentang tekanan sosial, pilihan moral, kolusi di badan pemerintahan, keyakinan, krisis kepercayaan, sampai menyinggung tentang bisnis media massa. Bagusnya, film ini mengusung topik-topik tersebut dalam takaran yang sesuai dan tidak mengganggu benang merah film ini, yaitu tentang pembongkaran sebuah skandal besar yang terhubung dengan banyak anggota masyarakat.

Hal yang juga patut dipuji dari film ini adalah cara penyampaian isu-isu tersebut. Tanpa ada kesan menghakimi ataupun mengeksploitasi, film ini menyampaikan semuanya itu bagaikan jurnalis yang harus melihat segala sesuatu secara objektif dan dari berbagai sisi. Contoh yang paling terlihat adalah kepekaan film ini terhadap cerita-cerita para korban. Cerita-cerita itu diungkap cukup lugas—bahkan dijelaskan mengapa korbannya lebih banyak anak laki-laki—yang membuatnya bisa memberi efek emosional. Ini bukan hanya tentang apa yang mereka alami, tetapi bahwa film ini mewakili mereka untuk bersuara, ketika tekanan sosial selama ini memaksa mereka untuk bungkam.

Contoh lain yang juga menarik adalah pandangan terhadap agama. Memang benar bahwa para jurnalis ini sedang membongkar kejahatan yang dilakukan di dalam institusi agama, dalam hal ini gereja Katolik. Adanya kasus ini juga membuat beberapa tokoh utamanya meragukan kepercayaan mereka terhadap kegiatan keagamaan. Namun, film ini juga memberi tempat bagi mereka yang berasal dari dalam insitusi yang berani melawan, sebagaimana dicerminkan oleh oleh salah satu narasumber yang menyatakan bahwa ada perbedaan antara keyakinan dan institusi agama.

Pada akhirnya, film ini dituturkan layaknya para jurnalis dalam ceritanya: fokus pada tujuan pembongkaran kejahatan yang terjadi di dalam institusinya, bukan menyerang secara membabibuta. Tidak mempertanyakan posisi para pelaku dari keyakinannya, tetapi bagaimana sebuah sistem yang dibuat oleh para pembuat keputusan dalam institusi tersebut membuat pelaku bisa leluasa mengulangi kejahatannya lagi. Di saat bersamaan, film ini pun jadi cerminan harapan para korban untuk bisa didengarkan dan mendapat keadilan.

Dengan itu saja, film Spotlight telah berhasil mencengkeram perhatian dari awal hingga akhir. Film ini memang ditampilkan dengan sangat straightforward. Plotnya digerakkan hanya oleh proses penyelidikan yang dilakukan para jurnalis ini. Segala hal yang lain, termasuk sisi pribadi tokoh-tokohnya, juga hanya berkutat pada kasus ini, tanpa tambahan-tambahan yang dirancang untuk membuat film ini berpotensi terlampau dramatis. Namun, cerita yang dirangkai di sini tetap sukses membangun rasa penasaran akan misterinya hingga akhir durasi.

Ketimbang jadi menjenuhkan, film ini justru sukses jadi sebuah tontonan yang kuat, bertutur dengan lancar, dimainkan dengan kompak oleh para pemerannya yang cukup banyak jumlahnya, dan tetap berhasil menyampaikan topiknya dengan komprehensif dan mudah dimengerti. Tanpa visual berkilap, tanpa gaya cerita yang over the top, tanpa selipan adegan atau akting overdramatic, Spotlight tetap bisa memberi dampak, dan itu murni karena kekuatan bercerita.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Jumat, 19 Februari 2016

[Movie] Deadpool (2016)


Deadpool
(2016 - 20th Century Fox)

Directed by Tim Miller
Written by Rhett Reese, Paul Wernick
Based on the Marvel Comics character created by Fabian Nicieza, Rob Liefeld
Produced by Simon Kinberg, Ryan Reynolds, Lauren Shuler Donner
Cast: Ryan Reynolds, Morena Baccarin, Ed Skrein, T.J. Miller, Gina Carano, Brianna Hildebrand, Steven Kapicic, Leslie Uggams, Jed Rees, Karan Soni


Banyaknya tokoh superhero komik yang diangkat menjadi film, khususnya di Hollywood, sering dilihat sebagai sebuah tren baru di box office. Problemnya adalah film-film jenis ini jadi punya pola cerita yang generik: tokoh berkekuatan super berupaya menyelamatkan dunia dari musuh yang tak kalah kuat. Setiap film superhero yang kemudian muncul belakangan pun harus mulai mencari cara agar tidak terjebak pada pola cerita yang itu-itu saja. Kini hadir Deadpool, yang tampaknya mencoba mendobrak pola itu dengan cara yang cukup ekstrem.

Dirilis oleh 20th Century Fox, Deadpool menjadi tokoh superhero Marvel yang masuk dalam universe kisah X-Men—berbeda dari Marvel Cinematic Universe buatan Marvel Studios. Sosok ini pernah diperkenalkan dalam film X-Men Origins: Wolverine (2009), kala itu masih memakai identitas Wade Wilson sang tentara bayaran yang diperankan Ryan Reynolds. Kemunculannya di film itu awalnya mendapat sambutan positif, namun banyak penggemar kecewa Wade tidak sempat sepenuhnya menjadi sosok Deadpool. Bahkan di akhir film tersebut ia langsung jadi mutan super Weapon X dan dibuat bisu, sangat bertentangan dengan Deadpool yang dikenal di komiknya.

Pihak Fox seperti ingin menebus kekecewaan itu dengan merombak ulang karakter Deadpool—mumpung universe X-Men juga sudah berubah sejak X-Men: First Class (2011). Film ini adalah asal muasal sosok Deadpool, dan masih diperankan Ryan Reynolds. Wade Wilson tadinya manusia biasa berkeahlian tempur yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Suatu ketika ia menerima tawaran misterius untuk sebuah percobaan yang membuatnya jadi mutan dengan kekuatan super. Pada dasarnya percobaan ini berhasil, ia jadi punya ketangkasan tubuh dan bisa pulih dari penyakit dan luka seketika. Sayangnya, percobaan itu juga membuat seluruh kulitnya jadi melepuh.

Wade merasa terpukul dan risih ketika tampil di tempat umum, belum lagi ia takut akan reaksi Vanessa (Morena Baccarin), kekasihnya yang sudah cukup lama ia tinggalkan demi percobaan itu. Wade kemudian mencari cara untuk bisa melacak Ajax (Ed Skrein), orang yang bertanggungjawab atas efek samping percobaan itu. Ia memulainya dengan membasmi para penjahat kecil yang kemungkinan terkait dengan Ajax. Pada perjalanannya, Wade menjadi Deadpool, sosok bertopeng merah yang ditakuti para preman dan akhirnya memberinya jalan untuk menemukan Ajax.

Bisa dilihat sebenarnya film ini tidak menempatkan Deadpool sebagai penyelamat dunia. Benang merah film ini adalah upaya mengembalikan rupa seorang Wade Wilson seperti sediakala demi memenangkan kembali hati kekasihnya. Motivasi yang sangat sederhana, dan sebenarnya sangat tidak cadas untuk sebuah film yang dilabeli 'superhero'. Berangkat dari persoalan cinta dan ketakutan bahwa pasangannya tak mau menerima dia apa adanya, plot ini bisa saja dianggap kisah cinta picisan. Akan tetapi, masuknya unsur manusia super, serta kemasan yang tak mengikuti pakem film superhero umumnya, membuat Deadpool menjadi sajian yang tetap menarik.

Sutradara Tim Miller dan penulis skenario Rhett Reese dan Paul Wernick tampak memanfaatkan betul karakterisasi Deadpool yang telah ditanamkan di komiknya. Deadpool biasa dijuluki 'merc with a mouth', kemampuan supernya sama besar dengan mulutnya yang bawel. Karakter Deadpool ini kemudian diterjemahkan—juga berkat performa hebat Reynolds—dengan sifat-sifat liar, centil, humor jahat dengan mengomentari semua hal, serta segudang referensi kultur pop yang mampu membuat karakter ini jadi hidup, dan justru mudah disukai dan sukses mengundang tawa sepanjang film.

Film ini juga menerjemahkan karakter Deadpool yang 'ngawur' dalam keseluruhan filmnya. Batas antara cerita di film dan dunia penonton—sering disebut fourth wall—diacak-acak dengan menempatkan Deadpool sebagai narator kisahnya sendiri dan kerap berkomunikasi langsung dengan penonton di sepanjang film. Ini juga mencakup topik-topik yang dibicarakan, mulai dari sindiran terhadap kegagalan film superhero Green Lantern yang pernah diperankan Reynolds, sampai lawakan bahwa dari sekian banyak mutan, hanya ada dua anggota X-Men yang ikut muncul di film ini, yaitu Colossus (Stefan Kapicic) dan Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand).

Karena sejak awal film ini ditargetkan mendapat rating dewasa, terlihat jelas bahwa orang-orang yang terlibat dalam film ini cukup leluasa memanfaatkan peluang itu. Tak hanya dari segi humor yang lebih akan kena ke orang dewasa—termasuk ke pemilihan lagu-lagu soundtrack-nya, film ini juga tak tanggung-tanggung dalam menampilkan adegan laga yang fast-paced, serta kekerasan yang cukup brutal, namun masih dalam kerangka komedi.

Kemasan seperti ini bukannya hal yang baru, sudah ada film-film bertema superhero yang memakai pendekatan serupa, dengan contoh yang paling dekat adalah Kick-Ass (2010). Namun, dalam deretan film-film superhero dari Marvel dan universe X-Men, unsur-unsur tersebut membuat Deadpool tampil lebih stand-out dan menggigit.

Film Deadpool memang tak bisa seluruhnya kabur dari pakem sebuah film superhero. Dari sosok musuh berkekuatan super—Ajax juga seorang mutan—serta para anteknya, hingga klimaks yang wajib tampilkan kehancuran massal, semua masih ada di film ini. Namun, ini juga makin menguatkan bahwa cara mengemas film jadi sangat penting. Film ini membuktikan bahwa cerita yang ringan bahkan cenderung cheesy, bila digarap dengan sense yang tepat, mampu menghasilkan tontonan yang menyegarkan, meriah, dan pada akhirnya menghibur.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Selasa, 16 Februari 2016

[Movie] Aach...Aku Jatuh Cinta (2016)


Aach...Aku Jatuh Cinta
(2016 - MVP Pictures)

Written & Directed by Garin Nugroho
Produced by Raam Punjabi
Cast: Pevita Pearce, Chicco Jerikho, Annisa Hertami, Nova Eliza, Bima Azriel, Angelista


Aach...Aku Jatuh Cinta (AAJC) adalah film yang terdengar menarik terutama jika sudah mengenal reputasi sang sutradara, Garin Nugroho. Rekam jejak karyanya sejak era 1990-an seolah mencirikannya sebagai sineas yang 'berat' dan punya cita rasa artistik yang tak selalu mudah ditangkap—lihat saja Guru Bangsa Tjokroaminoto, Soegija, Opera Jawa, Daun di Atas Bantal, dan lain-lain. AAJC seakan ingin mendobrak pola itu, karena premisnya terdengar klise, ringan, dan secara kasat mata film ini sangat cerah ceria. Tetapi, dasar seorang Garin, film ini tak dibiarkan bertutur hanya dengan satu lapisan saja.

Kisah dimulai di era 1970-an, Yulia (Pevita Pearce, versi kecil diperankan Angelista) adalah gadis blasteran Belanda-Jawa yang tinggal di sebuah kota kecil, dan bertetangga dengan anak laki-laki sebayanya, Rumi (Chicco Jerikho, versi kecil diperankan Bima Azriel). Keduanya bergaul akrab, namun kenakalan dan kejahilan Rumi membuat ibu Yulia (Annisa Hertami) melarang putrinya untuk dekat-dekat dengan Rumi. Pada akhirnya, keadaan selalu dapat mempertemukan Yulia dan Rumi kembali, hanya saja benih hubungan romantis yang jelas-jelas ada di antara mereka tak pernah sampai bersemi. Sebab, salah satu dari mereka pasti akan mengacaukan segalanya.

Tentu saja akan keliru jika mengharapkan film ini akan bertutur seperti film roman biasa. Sejak awal film, cerita cinta Yulia dan Rumi dituturkan sebagai catatan kenangan dari Yulia. Dan, dalam satu bagian, film ini bertutur dari ingatan Yulia akan catatan yang ditulis Rumi tentang kehidupannya, yang disimpan di dalam botol limun rahasia milik mereka.

Dalam penyajiannya, tampak adegan-adegan film ini seolah tidak runut, bahkan sebab akibatnya tidak begitu erat. Akan tetapi, mengingat bahwa hampir seluruh film ini adalah catatan Yulia yang ditulis di tahun 1990 tentang peristiwa belasan tahun sebelumnya, hal itu boleh saja dianggap sebagai bagian dari sifat memori manusia yang kerap terdistorsi. Yang pasti, apa yang disajikan di sini, bahkan sejak montase pembukaan, adalah rekaman nostalgia Yulia tentang dirinya dan Rumi. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa yang hendak digali oleh Yulia dari kenangan-kenangannya itu?

Jika ingin melihat dari sudut pandang paling sederhana, film ini adalah kisah dua orang yang diharapkan bisa bersatu setelah melewati berbagai rintangan dan tantangan. Dengan premis seperti itu, film ini pun bisa saja jatuh sebagai roman picisan dengan visual mentereng, karakter-karakter cenderung komikal—benturkan Yulia yang rapuh dengan Rumi yang slengean, dan dialog-dialognya yang dramatis dan tidak terdengar natural. Namun, film ini tetap bisa menyajikan kedalaman yang tidak membuat kisahnya senorak kemasannya. Premisnya tetap klise, tetapi rintangan dan tantangannya tidak.

Dari sini bisa dilihat bahwa dari rangkaian nostalgianya, Yulia sedang menelusuri mengapa hubungannya dan Rumi tak pernah bisa tuntas, entah itu bersatu sepenuhnya atau berpisah sepenuhnya. Pihak Yulia lebih bersifat situasional, ekonomi keluarganya tidak mapan setelah ditinggal pergi ayahnya, sehingga kebersamaannya bersama Rumi dianggap akan mengalihkan prioritasnya.

Sementara Rumi, yang sejak awal digambarkan sebagai pembuat onar, merasa takut jadi pria ringan tangan seperti ayahnya (Joko Kamto), yang juga jadi alasan utama sang ibu (Nova Eliza) minggat. Hal-hal ini dijelaskan dengan detail tak hanya lewat dialog, tetapi juga serangkaian adegan yang ditata sangat emosional, terutama di paruh awal film ini yang banyak tampilkan hubungan Rumi dan Yulia dengan keluarga masing-masing.

Film ini kemudian diperkaya lagi lewat konteks zaman, yang juga tampak sangat ingin dikedepankan. Ada pergantian cara memperoleh informasi dari radio ke televisi, industri rumahan yang tergeser merek asing, masuknya komik dan majalah Jepang, intervensi militer ke gerakan pemuda, hingga hal-hal sekecil busana, dandanan, bioskop, dan musik yang mencakup 1970-an hingga 1990-an—meskipun perubahannya tak drastis. Ada kesan bahwa sang sutradara sedang bermain-main dengan nostalgianya. Namun, semua itu berhasil dirangkai dengan relevan terhadap cerita dan karakternya.

Dalam upayanya untuk mengangkat cerita yang lebih ringan dan mudah dicerna, AAJC terbilang sudah menjalankannya dengan baik. Film ini tidak meninggalkan teka-teki ataupun simbol yang harus dipecahkan, karena semuanya sudah dipaparkan. Namun, film ini tidak menghilangkan cita rasa sinematik khas Garin, dengan production value yang kaya dan indah, penataan adegan yang kuat, serta mengeluarkan kemampuan akting maksimal dari para pemainnya.

Kalaupun kadang beberapa adegan dan dialog tampak terlalu dramatis bak film-film Indonesia lawas—dan mungkin memang justru itu niat pembuatnya, film ini pada akhirnya bisa tampil jauh dari kesan dangkal. Film ini tetap bisa menggali emosi dari perpisahan dan trauma, pun luwes pula dalam menampilkan kekonyolan dan kenakalan yang mengundang tawa. Sebuah film yang pantas digambarkan dengan kata-kata yang sebelumnya sulit ditempelkan pada film-film karya Garin: playful dan menyenangkan.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Senin, 15 Februari 2016

[Movie] Talak 3 (2016)


Talak 3
(2016 - MD Pictures)

Directed by Hanung Bramantyo & Ismail Basbeth
Screenplay by Bagus Bramanti
Story by Salman Aristo
Produced by Hanung Bramantyo, Karan Mahrani
Cast: Laudya Cynthia Bella, Vino G. Bastian, Reza Rahadian, Hj. R.A.Y. Sitoresmi, Dodit Mulyanto, Tika Panggabean, Mozza Kirana, Totos Rasiti, Gareng Rakasiwi, Hasmi, Mo Sidik


Talak 3 itu punya segala amunisi untuk bisa jadi film yang sangat menjual, menggelitik, dan mungkin hanya bisa kepikiran sama orang Indonesia. Sebuah kisah cinta segitiga yang bersinggungan dengan salah satu aturan perkawinan dalam agama Islam, mengenai pasangan yang telah dicerai talak tiga tapi pengen rujuk tapi terbentur aturan bahwa talak tiga itu udah final. Kalau nggak salah inget premis kayak gini pernah diangkat ke FTV atau sinetron gitu, tapi kayaknya belum ada yang membawanya jadi komedi seperti yang dilakukan Hanung Bramantyo dan Ismail Basbeth di film ini. Alhasil, jadilah mereka menyajikan materi melimpah seputar topik itu, dari kisah cinta, hukum agama, sampai korupsi kantor pemerintahan.

Intisari ceritanya begini, Risa (Laudya Cynthia Bella) dan Bagas (Vino G. Bastian) sudah cerai setelah dipicu Bagas selingkuh dengan penyanyi dangdut (or pop), tapi langsung jatuhkan talak tiga. Artinya, keduanya nggak bisa rujuk lagi, kecuali pihak wanita menikah dengan pria lain dulu lalu cerai, baru bisa balik ke suami sebelumnya. Ogah se-effort itu, Bagas mencoba pakai jalan belakang dengan nyogok kantor urusan agama. Sialnya, ada sosok Basuki (Dodit Mulyanto) yang ternyata punya misi membersihkan kecurangan kantor pemerintahan--dan membuatnya selalu dipindahkan karena nggak get along dengan yang lain. Singkat cerita, Bagas terpaksa nyariin suami kontrak buat Risa, dan pilihan terakhir jatuh pada Bimo (Reza Rahadian), rekan kerja mereka sekaligus sahabat Risa sejak kecil, and by that, you can sense bahwa antara Risa dan Bimo ada celah untuk mulai jadi lebih daripada kawin kontrak.

Di atas kertas gw nggak melihat apa pun yang salah dari film ini. Dari bintangnya, sutradaranya, premisnya, topiknya, everything seemed right. Ketika gw nonton bagian awal pun gw masih optimis bahwa film ini setidak-tidaknya bakal memberikan sajian hiburan yang asyik. Tetapi, terkadang ada baiknya ekspektasi itu tidak berlebihan. Sebab, ketika film ini mau mencapai separuh cerita, gw mulai merasa bahwa ada ketidakcocokan antara mood gw dengan arah film ini.

Maksudnya begini, di bagian awal, film ini lawak banget. You know, lawak-lawak Jawa ala Srimulat gitu, plus dua tokoh utamanya yang berebutan teriak dan segala kekonyolannya, and I found many of them actually funny. Tapi, kemudian gw merasa rute dan waktu yang diambil untuk persoalan utamanya, which is cinta segitiga (or so I think), terlalu lama. Pun ketika sampai di bagian itu, tiba-tiba unsur komedi dari film ini seolah-olah menguap habis. Ini sebuah transisi yang berani, tapi inilah yang kurang cocok buat gw. Nggak bisa ya filmnya komedi dan tetap bisa lucu walau grafik emosinya sedang tinggi? Kapan Kawin tahun kemarin bisa, Ngenest kemarin pun bisa, or even Turis Romantis yang sense of humour-nya mirip dan juga diproduseri Hanung. Gw sih tidak menyangka perubahannya di film ini akan sedrastis itu--apalagi dengan gaya lawakan yang sangat-sangat konyol di awal itu. Jadi kayak merasa bersalah karena di awal telanjur ketawa keras-keras tapi di tengah disuruh diam.

Nevertheless, bahwa akting dan kelengkapan teknisnya oke, gw setuju. Gambarnya cakep, casting-nya oke, musiknya juga lumayan asik. Penyelesaian filmnya juga menurut gw bagus. Catatan khusus harus diberikan (lagi) kepada akting Reza Rahadian, karena ia bisa memberikan performa menonjol tanpa merusak bingkai karakternya yang tidak menonjol, that is master level. Dan, kalau mau ditanggapi secara polos, film ini cukup banyak memuat pesan, mulai dari pengetahuan tentang aturan perkawinan Islam, kritik terhadap korupsi justru di bidang keagamaan, kritik terhadap pasangan muda yang impulsif, sorotan terhadap kasta budaya--Bimo itu anak pembantunya keluarga Risa, dan tak ketinggalan promosi kuliner khas Jogja seperti sate klathak dan jadah tempe =P. Intinya, the film was made as it intended to be, tapi sayangnya gw belum terhibur secara paripurna, masalah selera aja sih.




My score: 6,5/10

Rabu, 10 Februari 2016

[Movie] Surat dari Praha (2016)


Surat dari Praha
(2016 - Visinema)

Directed by Angga Dwimas Sasongko
Written by M. Irfan Ramli
Produced by Angga Dwimas Sasongko, Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Handoko Hendroyono
Cast: Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Rio Dewanto, Widyawati, Jajang C. Noer, Chicco Jerikho


Film Surat dari Praha seperti meminjam sebagian dari tren yang sedang marak di perfilman Indonesia. Kisah orang-orang Indonesia berlatar luar negeri memang seolah jadi hal rutin di bioskop dalam satu, dua tahun belakangan. Film terbaru sineas Angga Dwimas Sasongko ini untungnya tak terpaku pada tren semata. Lebih daripada latar luar negeri, film ini meleburkan kisah cinta, musik, dan latar sejarah Indonesia yang jarang dibahas menjadi sebuah tontonan indah memikat.

Hubungan Laras (Julie Estelle) yang tidak baik dengan sang ibu, Sulastri (Widyawati) menyisakan perasaan campur aduk setelah Sulastri meninggal. Dalam wasiatnya, Sulastri mewariskan rumahnya kepada Laras, namun dengan syarat Laras mengantarkan sebuah kotak tua dan sepucuk surat ke seseorang di Praha, Republik Ceko. Karena kebutuhan, apalagi ia baru saja bercerai, Laras menjalankan apa yang telah diamanatkan Sulastri, dan sampailah ia di Praha, mendatangi sesosok pria paruh baya bernama Jaya (Tio Pakusadewo, dengan aksen nada bicara yang benar-benar seperti angkatan 1960-an).

Perjalanan yang tadinya sederhana menjadi runyam ketika Jaya menolak Laras dan apa yang dibawanya. Tanpa menjelaskan alasannya, Jaya mengusir Laras dari rumahnya. Tak lama kemudian Laras jadi korban perampokan di jalan, dengan hanya menyisakan kotak dan surat milik ibunya. Tak punya tempat bernaung di malam hari, Laras kembali ke rumah Jaya sambil menunggu bantuan dari kedutaan besar Indonesia di sana.

Keadaan memaksa keduanya untuk terus berinteraksi, mereka perlahan-lahan coba saling mengenal. Laras pun mulai tahu bahwa Jaya adalah pria di masa lalu Sulastri, yang tak pernah kembali ke tanah air karena status eksil politik selepas pergantian pemerintahan ke Orde Baru pada tahun 1966. Tetapi, yang jadi pertanyaan bukan tentang apa isi kotak dan surat itu, melainkan apa pentingnya bagi Sulastri mempertemukan dan memperkenalkan keduanya dengan cara seperti ini.

Masuknya unsur eksil politik, yang bermuara pada peristiwa tragedi 1965, seolah mengesankan film ini menjadi berat. Tokoh Jaya digambarkan sebagai adalah salah satu peserta Mahasiswa Ikatan Dinas (MAHID), program pemerintahan Presiden Soekarno untuk mengirim pelajar Indonesia ke luar negeri.

Saat Orde Baru pimpinan Soeharto berkuasa, Jaya termasuk dalam kelompok pemuda yang memilih setia pada Soekarno dan menolak Orde Baru. Sikap itu berbuntut pada dicabutnya kewarganegaraan, dicap komunis yang dianggap musuh negara, dan tak bisa pulang dan berhubungan lagi dengan kerabat di Indonesia. Walau tokoh Jaya adalah fiktif, kisah para eksil politik itu merupakan fakta sejarah yang selama ini jarang dibahas, bahkan ditutup-tutupi oleh rezim yang berkuasa saat itu.

Akan tetapi, Surat dari Praha jadi menarik karena meleburnya unsur sejarah itu dengan kisah utamanya, yang bertutur tentang cinta. Latar sejarah tersebut berpengaruh besar pada keadaan dan pilihan tokoh-tokohnya, khususnya Jaya dan Sulastri. Menjadi eksil politik melatari Jaya sering mengirim surat kepada Sulastri tanpa dibalas, dan berpengaruh pula hubungan Sulastri dan Laras yang tak seperti kebanyakan ibu dan anak. Unsur sejarahnya—dan Praha—bukan lagi terlihat sebagai gimmick saja, ataupun membawa agenda politis tertentu, namun menyatu dengan pencarian tokoh-tokohnya.

Memang ceritanya tidak sederhana, bahwa 'kisah cinta' di sini lebih pada bagaimana Jaya dan Laras dipertemukan oleh sisa-sisa rasa cinta Sulastri, serta—untuk kasus Laras—benci dan kecewa terhadap sang ibu. Baik Jaya maupun Laras pun masing-masing punya riwayat yang cukup kompleks dalam cerita ini. Namun, semuanya itu bisa dirangkai dan dituturkan dengan menyeluruh, dengan laju yang lancar dan lembut. Masuknya unsur plot yang 'film banget', yaitu pembuatan paspor pengganti untuk Laras yang selalu tertunda, adalah bukti film ini tidak berusaha jadi congkak dengan isu yang diusungnya, melainkan tetap bisa dilihat sebagai sebuah hiburan.

Lalu semua itu diperkuat dengan perlakuan terhadap unsur musiknya. Seperti didengungkan dalam promosinya, film ini menggunakan beberapa lagu karya Glenn Fredly sebagai bagian dari perayaan 20 tahun kariernya di dunia musik. Masuknya musik sebagai satu lagi pengikat antarkarakternya—Jaya seorang musisi dan Laras bisa bermain piano, ditampilkan dengan sangat tepat konteks dan mendetail. Lagu-lagu yang digunakan tidak secara ajaib muncul lalu tiba-tiba bisa dinyanyikan oleh tokoh-tokohnya, namun prosesnya diperlihatkan dengan logis, termasuk lagu di bagian klimaksnya yang bisa jadi salah satu adegan musikal terbaik yang pernah ada di film Indonesia.

Surat dari Praha menjadi satu lagi pembuktian Angga Dwimas Sasongko sebagai sineas yang mampu menyajikan isu yang terbilang berat dan penting menjadi sebuah sajian yang mudah dinikmati, seperti pernah dilakukannya dalam Cahaya dari Timur: Beta Maluku.

Film Surat dari Praha ini pun jadi istimewa karena isu berat dan penting itu kali ini dikemas dalam lingkup yang kecil, hanya melibatkan tokoh yang jumlahnya sedikit, namun tetap dengan intensitas dan emosi yang berdampak. Didukung lagi dengan penataan visual yang rapi dan berkelas, Surat dari Praha adalah sebuah contoh karya yang menunjukkan kualitas dan kreativitas yang mampu menjangkau kalangan luas tanpa harus sekadar ikut tren, dan inilah yang perlu dilakukan lebih sering di perfilman Indonesia.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Minggu, 07 Februari 2016

[Movie] The Revenant (2015)


The Revenant
(2015 - 20th Century Fox)

Directed by Alejandro González Iñárritu
Screenplay by Mark L. Smith, Alejandro González Iñárritu
Based in part of the novel by Michael Punke
Produced by Arnon Milchan, Steve Golin, Alejandro González Iñárritu, Mary Parent, James W. Skotchdopole, Keith Redmon
Cast: Leonardo DiCaprio, Tom Hardy, Will Poulter, Domhnall Gleeson, Forrest Goodluck, Arthur RedCloud, Melaw Nakehk'o, Lukas Haas


Kata 'revenant' diartikan sebagai orang yang datang kembali setelah sekian lama menghilang atau dianggap mati. Kata ini kemudian dipakai oleh pengarang Michael Punke untuk novelnya di tahun 2002, The Revenant. Novel ini terinspirasi dari kejadian nyata di pedalaman Amerika Utara abad ke-19, ketika Hugh Glass yang terluka parah akibat diserang beruang ditelantarkan oleh rekan-rekannya, lalu dalam keadaan tersebut ia berhasil melakukan perjalanan pulang ratusan kilometer sendirian.

Cerita dasar yang memang sangat menarik itu kemudian disulap jadi sebuah film bertema survival oleh sineas asal Meksiko, Alejandro González Iñárritu. Dalam credit-nya, versi film The Revenant diadaptasi sebagian dari novel karya Punke. Dengan klaim demikian, boleh dikatakan González Iñárritu punya kebebasan dalam mengembangkan kisah ini sesuai visinya. Kisah Hugh Glass dipindahkan dari musim panas ke musim dingin yang lebih menantang—dan film ini pun jadi sebuah eksperimen syuting sepenuhnya di lokasi pegunungan bersalju asli di Kanada dan Argentina.

Film The Revenant masih mengikuti garis besar cerita dari kisah aslinya, namun ditambahkan dengan berbagai sentuhan yang membuat kisahnya lebih menyoroti pergulatan batin tokohnya. Hugh Glass (Leonardo DiCaprio) tergabung dalam regu pemburu bulu hewan pimpinan Kapten Andrew Henry (Domhnall Gleeson) di pedalaman hutan Amerika. Hugh jadi anggota andalan dengan pengetahuan navigasi dan persenjataan yang kaya.

Malang bagi Hugh, ketika ia masuk ke sebuah hutan untuk berburu, ia diserang oleh seekor induk beruang grizzly. Serangan itu membuat Hugh sekarat, sehingga regu seperjalanannya tak sanggup untuk terus membawanya. Maka, rekannya sesama pemburu, John Fitzgerald (Tom Hardy) dan Bridger (Will Poulter) ditugaskan sang kapten untuk menjaga Hugh, dan menguburkannya dengan layak bila saatnya telah tiba. Namun, kedua orang tersebut malah mangkir dari tugas dan meninggalkan Hugh sendirian. Menolak untuk mati, Hugh bangkit dalam keadaan dingin dan sekarat, melintasi medan bersalju yang ganas menuju markasnya.

Plot film ini sebenarnya sesederhana itu, tidak ada yang bisa dikatakan istimewa karena arah dan tujuan sang tokoh sudah jelas sejak bagian awal. Namun, apa yang dilakukan oleh González Iñárritu bukan hanya memperberat perjuangan Hugh di musim salju menusuk, tetapi juga memperdalam motivasi Hugh dan tokoh-tokoh lain dalam tindakannya. Pada bagian awal, ditunjukkan jalan pemikiran yang bertolak belakang antara Hugh dan John yang memunculkan benih dengki, apalagi Kapten Henry lebih mengandalkan Hugh untuk urusan navigasi. Sehingga, saat harus menjaga Hugh yang sekarat, dorongan John untuk menelantarkannya jadi lebih beralasan.

Demikian pula dengan Hugh, yang mengerahkan segala tenaga untuk pulang, bukan cuma karena naluri dasar untuk sintas dan dendam pada orang yang berbuat jahat padanya. Ia diceritakan punya masa lalu yang cukup kelam, harus kehilangan istrinya yang berasal dari suku Indian akibat sebuah serangan bersenjata, dan akhirnya sekarang ia selalu bersama putra remajanya, Hawk (Forrest Goodluck) ke mana pun ia pergi. Ketika satu-satunya anak yang disayanginya itu juga direnggut dari dirinya, Hugh justru makin terdorong untuk menuntaskan dendamnya. Motivasi ini seakan paralel dengan induk beruang yang menyerang Hugh karena ia menodongkan senjata kepada anak-anak beruang.

Dalam durasi dua jam 30 menit, sebagian besar film ini berisi perjalanan Hugh dalam segala kesusahannya—ditambah adegan pertempuran dan baku hantam. Upaya Hugh bertahan hidup juga digambarkan cukup detail, mulai dari caranya merangkak hingga berdiri tegak dalam keadaan terluka, mencari makanan dari alam sekitarnya, hingga membuat tempat perlindungan hangat agar bisa bertahan dari badai dingin di waktu malam. Tak hanya itu, ia juga harus menghindar dari regu-regu bersenjata yang tidak ia kenal, baik dari suku Indian maupun kaum pendatang seperti dirinya.

Dengan adegan-adegan yang intens serta penataan visual yang dinamis dan presisi dalam memanfaatkan pemandangan alam, perjuangan Hugh dalam The Revenant menjadi sebuah tontonan yang membelalak mata sekaligus membuat nyeri. Beberapa adegan yang violent ditampilkan efektif dan realistis—termasuk adegan Hugh diserang beruang yang disorot cukup panjang, didukung pula dengan akting para pemain yang tak sekalipun kendor. Film ini pun sukses jadi sajian spektakuler dengan kelengkapan sinematik yang maksimal.

Hanya saja, beberapa bagian kisah film ini seperti kurang utuh, entah disengaja atau tidak. Durasi yang sangat panjang itu rupanya tidak dimanfaatkan untuk memberi gambaran lebih banyak tentang latar belakang tokoh-tokohnya, ataupun tentang kompleksitas hubungan antara warga kulit putih Amerika, Prancis, dan suku penduduk asli saat itu. Hal ini hanya diselipkan sekilas saja dalam segelintir gambar flashback dan dialog. 

Sebenarnya terlihat ada upaya dari film ini memberi konteks sosial dan budaya pada zaman itu lewat kilasan gambar dan beberapa titik yang dilewati Hugh, mungkin dengan harapan penonton sudah tahu atau nanti akan cari tahu sendiri selengkapnya. Walau niat itu baik, permasalahannya mungkin tak semua penonton bisa menangkapnya dengan penjelasan seminim itu. Kalaupun alasannya mempersingkat waktu dan laju cerita, kenapa tak diterapkan pada keseluruhan film dengan, misalnya, mempersingkat durasi perjalanan Hugh di layar?

Meski begitu, sulit untuk tidak mengagumi The Revenant sebagai sebuah pencapaian bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Plot yang sederhana tetap punya ketebalan makna lewat adegan-adegan yang memberi efek emosional, akting tak banyak bicara dan kerap tertutup kostum dan make-up tetap sanggup dibawakan dengan depth lewat gestur dan sorotan mata, hingga gambar-gambar sangat indah yang ditangkap tanpa pencahayaan buatan. Semua itu seolah jadi kompensasi yang sangat pantas, membuat durasi panjang dan lajunya yang lambat bisa dimaafkan.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Selasa, 02 Februari 2016

[Movie] The Program (2015)


The Program
(2015 - Studiocanal)

Directed by Stephen Frears
Screenplay by John Hodge
Based on the book "Seven Deadly Sins: My Pursuit of Lance Armstrong" by David Walsh
Produced by Tim Bevan, Eric Fellner, Tracey Seaward, Kate Solomon
Cast: Ben Foster, Chris O'Dowd, Denis Menochet, Guillaume Canet, Jesse Plemons, Lee Pace, Dustin Hoffman


Mungkin semuanya bermula dari film The Queen (2006), sebuah biografi modern dengan tuturan cerita "versus", jadi bukan cuma soal tokoh yang dibiografikan, tetapi ada satu sosok lain sebagai "penantang"nya. The Queen disutradarai oleh Stephen Frears dan ditulis oleh Peter Morgan, tentang relasi Ratu Elizabeth II di Inggris dan perdana menteri Tony Blair pasca-meninggalnya Lady Diana. Morgan kemudian nulis film biografi Frost/Nixon dan Rush garapan Ron Howard yang modelnya persis sama dengan The Queen. Lalu Frears, tanpa Morgan, tahun kemarin bikin The Program, tentang atlet sepeda Lance Armstrong yang ditantang jurnalis David Walsh yang mencurigainya pake doping.

Mencoba bikin sesuatu yang serupa dengan partner kerja yang berbeda jadi agak bermasalah di sini, kalau menurut gw ya. The Program secara khusus ingin menyorot resep rahasia Armstrong bisa juara kejuaraan balap sepeda tersohor dunia, Tour de France tujuh kali beturut-turut setelah sembuh dari kanker testis. Resepnya tentu saja program doping yang sophisticated dan segala siasatnya agar bisa mengakali tes doping dari penyelenggara sehingga selama lebih dari 10 tahun praktiknya itu nggak ketahuan.

Dari adegan awal, film memberi sense bahwa cerita ingin ada di dua sudut pandang, yaitu dari Lance (Ben Foster) dan David (Chris O'Dowd) si jurnalis The Sunday Times. Tapi, yang terjadi adalah ketidakseimbangan antara kedua karakter ini. Apakah mungkin kehidupan dan karakter David kurang menarik atau bagaimana, sebagian besar porsi film ini ya buntut-buntutnya tentang Lance saja, sudut pandang David pun porsinya kayak cuma seperempat, padahal dialah sosok pertama yang secara terbuka mencurigai Lance sang idola dunia bermain curang. Makanya, untuk jadi kisah "versus", film ini ya gagal.

Nah, kalau dipandang murni sebagai biografi Lance saja, well, film ini buat gw mirip dengan dramatisasi sebuah liputan berita atau acara di History Channel. Tuturannya kronologis, dengan sesekali memunculkan karakter yang di-highlight menandakan dia akan penting perannya dalam tamatnya karier Lance. Lajunya pun dibuat cepat sekali seakan niatnya hanya supaya penonton cukup tahu saja, tanpa ada penyerapan berarti. Dalam hal ini, gw merasa Frears ingin meniru gayanya Ron Howard di Rush *entah kenapa*, tapi sayangnya buat gw The Program ini nggak punya thrill yang cukup agar laju cepatnya itu bisa ada rasanya. Hambar dan lewat aja gitu.

Tapi mungkin yang bikin paling hambar adalah bahwa kisahnya udah nggak mengagetkan lagi. Semua orang yang pernah baca berita (ini baru terbongkar tahun 2012 lho) sudah paham kisah film ini akan ke mana, sehingga buat gw film ini udah nggak ada lagi elemen surprise-nya. Itu sih. Bahkan momen sepenting pengakuan Lance di Oprah juga selewat aja gitu.

Somehow, gw jadi inget sama The Big Short, film recent history yang semua orang udah tahu ending-nya. Tapi, film itu punya emphasize tinggi pada karakter-karakternya yang eksentrik, sehingga jadi sebuah tontonan yang sangat memikat dan menghibur, sekaligus bikin kesal dengan orang-orang yang tega halalkan segala cara demi uang. Di The Program, perasaan-perasaan itu nggak muncul. Sekalipun film ini memaparkan detail metode doping yang dilakukan Lance, lalu coba dimunculkan juga kemunafikan Lance di depan orang-orang yang dianggap inspirator, plus konspirasi dari industri olah raga balap sepeda dan para atlet lain yang berusaha "melindungi" penggunaan doping, perasaan terhadap itu semua ya datar saja, nggak lebih berdampak daripada mendengar beritanya yang memang terungkap belum lama itu. I'm not quite sure why, tetapi gw lihat film ini jadi bimbang antara mau dibikin drama atau komedi satir atau thriller, pun kalau memang mau semuanya hasilnya kurang terpadu dengan asyik.

Sayang sih, padahal materinya sangat potensial. Performa akting pemainnya juga bagus-bagus walau belum stand-out juga. Pengadeganan balap sepedanya sangat menarik. Belum lagi detail-detail tentang dunia olah raga sepeda profesional yang diungkap cukup banyak. Bahan-bahannya lengkap dan punya kualitas, cuma hasilnya nggak rasa apa-apa.





My score: 6/10

Senin, 01 Februari 2016

[Movie] The Dressmaker (2015)


The Dressmaker
(2015 - Universal)

Directed by Jocelyn Moorhouse
Screenplay by Jocelyn Moorhouse, P.J. Hogan
Based on the novel by Rosalie Ham
Produced by Sue Maslin
Cast: Kate Winslet, Judy Davis, Liam Hemsworth, Hugo Weaving, Sarah Snook


When it comes to Australian films, jujur aja wawasan gw sangat-sangat terbatas. Paling juga biasanya gw tahu talenta Australia yang berkarier di Hollywood, dan mereka kadang-kadang pulang kampung bikin film di negeri sendiri. Dan, yang paling gw nggak tahu adalah bagaimana mereka bikin film komedi. Lalu gw berkesempatan nonton The Dressmaker, konon salah satu film tersukses Australia tahun 2015 lalu, dan kebetulan diboyong ke Jakarta buat Festival Sinema Australia Indonesia 2016. Daya tarik film ini cukup luar biasa, karena memasang bintang-bintang internasional, namun digambarkan "sangat Australia", sebuah istilah yang sayangnya gw belum paham benar.

Sebenarnya juga gw merasa jalan cerita film ini agak aneh sih, dan mungkin memang itu tujuannya. Berlatar sebuah "desa" bernama Dungatar di era 1950-an, seorang perempuan bernama Tilly (Kate Winslet, mungkin satu-satunya aktor non-Aussie di film ini) pulang kampung setelah sekitar 25 tahun merantau. Tujuannya adalah memastikan kembali apakah dia benar-benar melakukan hal yang dituduhkan yang membuatnya diusir dari Dungatar: membunuh temannya saat masih berusia SD. Dalam bergulirnya cerita, Tilly juga mencoba settle down dengan kehidupan di sana walau masih dijauhi orang-orang sekampung. Dia musti menghadapi ibunya (Judy Davis) yang kehidupannya kacau, lalu ada juga benih cinta dengan Teddy (Liam Hemsworth), sekaligus membawa perubahan bagi para wanita di sana dengan membuka jasa jahit baju rancangannya sendiri berdasarkan ilmu yang didapatnya saat berkeliling Eropa.

Yang menurut gw agak aneh adalah tone film ini. Gw merasa overall film ini memakai nuansa fantasi, kayak film anak-anak dengan segalanya dibuat komikal--nenek-nenek masih hidup sendirian di rumah kapal pecah, main golf pasti kena rumah orang, pemain rugby meleng karena lihat perempuan cantik, kakek bungkuk kalau jalan musti didorong, Tilly yang merasa dirinya dikutuk, rivalitas tukang jahit, dan banyak lagi hingga ke bagian akhir. Tapi, temanya sendiri cukup dark, dari soal kematian, tragedi keluarga, stigma sosial, dan balas dendam. Masalahnya bukan di penggabungan dua kontras itu, tapi sepertinya eksekusinya yang menurut gw agak tanggung di kedua sisi. Komedi-dongengnya masih agak malu-malu, sementara drama gelapnya juga begitu. Weird, tapi jangan-jangan memang seperti itu taste yang cocok bagi penonton sana.

Di sisi lain film ini juga terasa sangat seperti novel, dengan ada kewajiban memberi porsi masing-masing pada orang-orang seisi desa. Memang secara keutuhan cerita mereka perlu dan pada akhirnya akan terkait, tapi dengan jalan cerita yang terlalu melebar juga bikin filmnya terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Efeknya juga terasa ketika gw melihat hubungan antara Tilly dan emaknya itu sangat-sangat menarik dan perlu banget digali, ternyata harus diselak dengan subplot-subplot tokoh lainnya, sehingga gw kayak perlu merevisi lagi beberapa kali dalam menyimpulkan film ini sebenarnya tentang apa. Sayang sih, tapi ya itulah keputusan yang diambil pembuat film untuk menuturkan cerita kehidupan Tilly yang selalu dijauhi walau teteup in style ini =D.

Tapi kalau mau fair, film ini cukup menghibur. Humornya banyak yang menurut gw lucu, larakter-karakternya yang aneh-aneh dimainkan dengan oke oleh deretan pemainnya, dan secara visual, entah itu tata artistik, kostum, sampai sinematografinya, menyenangkan untuk dilihat. Sebuah produksi film yang baik dengan materi cerita yang sangat menarik walau buat gw ya agak absurd aja sih, haha.





My score: 6,5/10