Sabtu, 30 Januari 2016

[Movie] The Boy (2016)


The Boy
(2016 - STX Entertainment)

Directed by William Brent Bell
Written by Stacey Menear
Produced by Matt Berenson, Roy Lee, Gary Lucchesi, Tom Rosenberg, Jim Wedaa
Cast: Lauren Cohan, Rupert Evans, Jim Norton, Diana Hardcastle, Ben Robson


Again, gw berkesempatan nonton film yang bukan tipe kesukaan gw banget huhuhu =|. Langsung saja, tadinya gw udah berprasangka sampah sama film ini. Boneka bisa hidup apalah itu. Tapi, rupanya The Boy nggak jelek-jelek amat. Serius. Ketika film-film horor modern sekarang lebih mure dengan adegan-adegan kecentilan supaya bikin takut doang (atau lebih tepatnya kaget) tanpa esensi, film ini paling nggak mengurangi bagian kecentilannya.

Premisnya simpel saja, seorang wanita Amerika terima pekerjaan di sebuah rumah besar pedesaan Inggris untuk mengasuh seorang anak selama orang tuanya bepergian beberapa pekan, tapi si "anak" itu ternyata hanya boneka yang diperlakukan hidup sama orang tuanya. Tertawa dan menganggap kedua orang tua itu gila itu nggak relevan, karena toh dia digaji besar. Maka ya sudah, saat cuma tinggal ada dia dan boneka, bonekanya dia abaikan dan jadinya cuma jaga rumah doang. Well, that's a mistake.

Dalam bagian besarnya, The Boy tidak jatuh jadi film horor yang mengesalkan. Memang situasinya di-setting horor, ada cewek cakep tinggal sendirian di rumah besar yang jauh dari mana-mana. Tapi, at least nggak ada upaya berlebihan untuk membuatnya seram, rumahnya aja terlihat cukup normal kok, sehingga unsur horor itu terjadi lebih karena cerita dan perilaku tokohnya, which worked really well. Unsur horor sebenarnya juga lebih ke pikiran, apa sebenarnya yang terjadi sampai-sampai boneka itu diperlakukan sebegitunya, sehingga timbul antisipasi akan adanya misteri di balik itu semua, yang menurut gw diungkapkan dengan cukup mulus juga. Sebagai film horor, film ini berhasil bikin gw tense dan ngeri-ngeri gimana gitu di beberapa bagian.

Tapi yah bukan film yang masuk kategori sangat kece juga sih--karena kece hanya milik Lauren Cohan yang jauuuh lebih cakep dari dia di The Walking Dead. Gw merasa ceritanya seperti ada yang patah, kayak nggak ada awal dan akhir yang solid, karakter-karakternya juga sama, kayak nggak utuh gitu, sehingga setelah semuanya selesai, gw masih bertanya-tanya lagi tentang asal-muasal, motivasi nya, dan sebagainya. Dan, adegan mimpi-mimpi itu berasa cuma filler aja tanpa kontribusi berarti buat ceritanya. Iseng banget.

Nevertheless, The Boy buat gw lebih baik dari beberapa horor bule yang gw tonton belakangan ini. Ada seramnya (walau bukan seram banget) yang nggak cuma dalam adegan-adegan tertentu tapi di dalam ide ceritanya, jadi film ini lolos untuk jadi hiburan. Gambarnya juga bagus-bagus. Filmnya memang sangat sederhana tapi bagusnya dia nggak trying too hard to be the scariest movie ever, bolehlah.




My score: 6,5/10

Kamis, 28 Januari 2016

[Movie] Midnight Show (2016)


Midnight Show
(2016 - Renee Pictures)

Directed by Ginanti Rona Tembang Asri
Screenplay by Husein M. Atmodjo
Produced by Gandhi Fernando, Laura Karina
Cast: Acha Septriasa, Ratu Felisha, Gandhi Fernando, Ganindra Bimo, Gesata Stella, Arthur Tobing, Ronny P. Tjandra, Boy Hasya, Ade Firman Hakim, Daniel Topan


Selama ini horor menjadi genre film yang cukup mudah menarik penonton. Karena itu pula, film-film jenis ini banyak sekali dibuat di mana pun di dunia. Terkadang muncul pertanyaan, mengapa banyak orang bisa menikmati tayangan yang pada dasarnya memuat kekerasan dan kengerian yang lazim di genre ini—dari kematian, siksaan, hingga teror. Mungkin ada yang menganggap menonton film-film genre ini sebagai pemacu adrenalin yang dapat memunculkan efek fun, semakin seram akan semakin menyenangkan. Tetapi, genre ini juga bisa jadi sebuah sarana melihat gambaran sisi tergelap manusia.

Film thriller Indonesia terbaru, Midnight Show garapan Ginanti Rona menjadi sebuah contoh menarik. Dari konsepnya, film ini jelas menampilkan darah sebagai jualan utamanya. Akan tetapi, mungkin karena terlalu royal mengumbar darah, banyak visual kekerasan yang dihilangkan atas nama sensor. Sehingga, daya tarik dan unsur fun dari film ini sebagai horor jenis slasher agak berkurang, tersisa hanya sapuan darah yang sudah tertumpah tanpa diperlihatkan prosesnya secara gamblang.

Ketika kadar darah dikurangi, Midnight Show harus benar-benar mengandalkan cerita yang mampu memberikan efek ngeri bagi penontonnya. Untungnya, film yang skenarionya ditulis Husein 'Monji' Atmodjo ini punya amunisi yang cukup untuk itu. Sebab, film ini juga menampilkan misteri yang mampu merekatkan kisah filmnya menjadi bukan cuma parade berbagai cara orang terbunuh dengan keji. 

Film ini diawali seperti lazimnya horor slasher dengan menempatkan para korban dalam posisi lemah menghadapi sosok pembunuh sadis dan unpredictable. Para korban ini adalah pengunjung dan petugas sebuah bioskop bernama Podium yang memutarkan film di jam tayang tengah malam atau midnight. Film yang diputar berjudul Bocah—film yang dibuat khusus untuk cerita Midnight Show ini—yang dicap kontroversial karena berdasarkan kisah nyata anak laki-laki yang tega membantai orang tuanya. 

Rupanya kengerian tidak hanya terjadi dalam cerita film yang mereka tonton. Di tengah pemutaran film, tiba-tiba muncul sosok bertopeng di antara kursi penonton yang hendak menghabisi nyawa semua orang yang ada di gedung itu dengan senjata tajam. Orang-orang yang belum terjerat sang pembunuh pun tak bisa segera meminta tolong, sebab gedung bioskop telah disabotase agar tak seorang pun bisa keluar maupun menghubungi pihak luar. Dan lagi, kisah ini berlatar tahun 1998, ketika belum semua orang punya alat komunikasi pribadi yang dapat mempermudah segala sesuatu.

Dalam menciptakan kengerian, film Midnight Show menggunakan jalan yang cukup efektif walaupun klise. Film ini menempatkan tokoh-tokoh utama—petugas loket karcis Naya (Acha Septriasa), petugas proyektor Juna (Gandhi Fernando), serta pengunjung bernama Sarah (Ratu Felisha)—dalam posisi serba tidak tahu, sampai akhirnya dalam satu titik terungkap semua misterinya. Keadaan tidak tahu itu juga yang menciptakan ketegangan, misalnya, ketika para tokoh utama berusaha berpindah tempat, yang berarti mereka lebih terpapar terhadap si pelaku yang bisa muncul dari mana saja. 

Hampir semua film horor atau thriller sejenis menggunakan jalan serupa, dan Midnight Show termasuk sanggup mengikuti pakem tersebut dengan cukup rapi—juga diuntungkan perfilman Indonesia jarang yang menggarap genre seperti ini. Namun, seperti disinggung tadi, adegan-adegan yang secara visual berpotensi 'berdarah' terpaksa berkurang, sehingga kengerian dan upaya membuat syok dalam film ini jadi kurang menggigit. Dan, sayangnya sisi musik latarnya juga tidak membantu membangkitkan atmosfer mencekam dan menutupi kekurangan itu.

Meski demikian, Midnight Show tetap bisa menanamkan kengerian jenis lain. Ini terlihat ketika misteri tentang siapa dan mengapa teror ini terjadi mulai terungkap. Petunjuk tentang itu sebenarnya sudah ada sejak awal, bahwa film Bocah yang diputar di bioskop dalam film ini punya kaitan erat dengan tindakan si pembunuh. Tanpa bermaksud spoiler, film ini berhasil merangkai cerita dengan pernyataan yang sangat lumrah tapi kadang luput, bahwa kekerasan melahirkan kekerasan yang lain, dan itu bukan hanya dalam konteks fisik. Cara penggambarannya dalam film ini memang ekstrem, tetapi paling tidak film ini lolos dari sekadar jadi film horor tanpa maksud dan tujuan.

Satu hal lagi yang cukup impresif dari Midnight Show adalah detail yang tampak sangat diperhitungkan. Ada bagian film ini yang menjadi semacam 'kenang-kenangan' terhadap bisnis bioskop di era 1990-an, termasuk jenis film-film yang diputar di bioskop pinggiran semacam Podium, hingga ada pula detail tentang seorang penonton yang membawa perlengkapan kamera video ke bioskop, yang disinyalir hendak membajak. 

Memang tidak semua detail bisa tereksekusi dengan sempurna, misalnya gambar di layar bioskop Podium yang tampak 'digital', hingga pembawaan Naya sebagai pegawai bioskop yang terlalu ramah untuk zaman itu. Tetapi, hal tersebut masih bisa dikompensasi dengan rancangan visual yang bercitarasa dan serta deretan pemain yang rata-rata bisa memberi performa sesuai dengan yang dibutuhkan. Ini pun menguatkan impresi bahwa film ini dibuat tidak asal jadi, dan itu patut diapresiasi.





My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Rabu, 27 Januari 2016

AJIRENJI MINDSTREAM REVIEWS 7th ANNIVERSARY


Well, well, well...kita sampai lagi pada momen ini, merayakan dua postingan pertama blog ini pada 26 Januari 2009 *maaf telat satu hari hehe*, yang ternyata sudah tujuh tahun yang lalu. Gw pernah katakan ini dan gw akan katakan lagi, gw senang dan bangga bisa terus ngeblog selama tujuh tahun ini, sebuah waktu yang lama bagi gw untuk bisa invested di satu hal, bahkan lebih lama dari SD *dan gw waktu SD juga pindah dua kali, hehe*. Terima kasih buat para pembaca yang telah sudi mampir dan menjadi penyemangat gw untuk terusin blog ini. Biarpun kliknya sampai saat ini belum sampe jejutaan =D, tapi bahwa ada yang baca dan bahkan meninggalkan komentar itu jadi sebuah motivasi postitif. So thank you, thank you so much.

Sayangnya di HUT ketujuh ini gw masih belum punya nyali untuk merayakan besar-besaran, mau mohon maaf juga nih belum bisa kasih apa-apa buat pembaca T-T. Tapi, mungkin saat ini gw ingin mengingat kembali dalam satu tahun belakangan apa yang sudah dicapai oleh blog ini. Sedikit sih, tapi lumayan signifikan, apalagi kalau ingat blog ini dibuat saat gw nganggur nunggu panggilan interview kerja yang tak datang-datang selama tujuh bulan, hahaha.

So, setahun ini terhitung jadi periode paling aktif dari blog ini, karena gw mengunggah 121 postingan, which is jumlah terbanyak yang pernah ada selama tujuh tahun ini. Well, ini juga berkaitan dengan keputusan gw untuk memposting ulang review yang gw buat untuk Muvila.com, tapi ini jadi catatan tersendiri buat gw karena waktu ngeblog-nya semakin terbatas, gw justru makin sering nulis, so that's nice =).

Namun, satu pencapaian yang mungkin benar-benar matters untuk blog ini adalah adanya nama blog ini, dan nama gw, di poster sebuah film Indonesia yang dipasang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. I mean, like, wow, it's really happening. Kalau ingat di bulan Februari 2015, dirilis film komedi romantis Kapan Kawin? garapan Ody C. Harahap, film yang kebetulan gw suka juga sekali. Saat itu gw udah termasuk blogger yang rating-nya dirangkum oleh situs Indonesian Film Critics, sehingga jadilah komentar gw (yang gw submit ke sebelum bikin review lengkap-nya) yang tercantum di situs itu dikutip oleh yang punya film dan masuk poster Kapan Kawin? versi reviews excerpts yang disebar sekitar satu minggu setelah filmnya tayang *terharu*.



I guess I can't be more grateful, menjalani blog ini sampai sekarang yang pasang surutnya seru, and I'm not planning to stop. Jadi, sampai jumpa di postingan-postingan dan anniversary selanjutnya *angkat gelas* \^o^/


Jumat, 22 Januari 2016

[Movie] The Hateful Eight (2015)


The Hateful Eight
(2015 - The Weinstein Company)

Written & Directed by Quentin Tarantino
Produced by Richard N. Gladstein, Shannon McIntosh, Stacey Sher
Cast: Samuel L. Jackson, Kurt Russell, Jennifer Jason Leigh, Bruce Dern, Michael Madsen, Tim Roth, Walton Goggins, Demián Bichir, James Parks, Channing Tatum, Dana Gourrier, Zoë Bell, Gene Jones


Bagi penggemar film, nama sineas Quentin Tarantino biasa diidentikkan dengan gaya filmnya yang unik dan eksentrik. Tarantino telah merebut perhatian dunia lewat film-film yang ditulis dan disutradarainya, seperti Pulp Fiction, dwilogi Kill Bill, Inglourious Basterds, hingga Django Unchained. Keunikan Tarantino bukan hanya pada penulisan dialog yang presisi dan unsur kekerasan yang serba dilebih-lebihkan, tetapi juga upayanya meniru gaya mirip film-film lawas bergenre khas, semacam tribute darinya terhadap film-film yang disukainya.

Film The Hateful Eight menjadi salah satu perwujudan ciri khas Tarantino, dengan mengambil latar pedalaman Amerika Serikat tak lama setelah berakhirnya Perang Sipil di pertengahan abad ke-19. Istilah gampangnya, ini adalah film berjenis Western, atau di Indonesia dikenal dengan sebutan 'film koboi'. Tarantino memang pernah bercerita kisah dari latar serupa di Django Unchained.

Namun, jika Django Unchained lebih berciri petualangan, The Hateful Eight adalah sebuah drama mencekam berisi karakter-karakter unik yang terjebak di satu ruangan yang sama dalam satu malam—walau jika mengenal kebiasaan Tarantino, tentu saja ini tak sepenuhnya drama.

Ini adalah era ketika batas antara penjahat dan penegak hukum sangat tipis, yang dibedakan hanya dari sepucuk surat. Orang-orang masih bebas memegang dan menembakkan senjata, sehingga setiap orang patut dicurigai niatnya. Di era ini juga masih marak para bounty hunter, orang-orang bersenjata yang memburu para penjahat untuk diserahkan kepada pemerintah demi imbalan uang.

Awal film ini mempertemukan dua orang bounty hunter kawakan di tengah salju tebal pegunungan Wyoming, Major Marquis Warren (Samuel L. Jackson) dan John Ruth (Kurt Russell). John sendiri tengah membawa tangkapan terbarunya, Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh) yang dibiarkannya hidup untuk nanti dihukum gantung. Marquis kemudian menumpang di kereta kuda yang disewa John menuju kota Red Rock. Tak lama, di tengah jalan mereka juga mengangkut Chris Mannix (Walton Goggins), yang mengaku sebagai sheriff—semacam kepala polisi—yang baru akan dilantik di Red Rock.

Datangnya badai salju membuat mereka terpaksa singgah di penginapan Minnie's Haberdashery. Di sana, keempat orang ini bertemu dengan empat orang lain yang juga tengah berlindung. Mereka adalah Oswaldo Mobray (Tim Roth) yang mengaku sebagai seorang algojo, Joe Gage (Michael Madsen) yang mengaku sebagai seorang gembala sapi biasa, Jenderal Sanford Smithers (Bruce Dern) dari kubu Konfederasi yang telah ditundukkan pemerintah pasca-Perang Sipil, dan Bob (Demián Bichir), orang Meksiko yang mengaku ditugaskan menjaga penginapan saat pemiliknya sedang pergi.

Kata keterangan 'mengaku' menjadi begitu penting, karena Marquis maupun John tahu betul bahwa di dalam dunia kekerasan, pasti ada pihak yang ingin menjegal mereka. Apalagi, Daisy yang ditawan John punya nilai yang sangat tinggi jika berhasil diserahkan ke pemerintah, sehingga bisa saja ada yang berniat merebutnya, atau justru ingin membebaskannya. Permainan untuk saling membongkar rahasia pun dimulai, di tengah-tengah kuatnya badai salju yang menahan mereka untuk keluar dari penginapan itu.

Patut diketahui, film ini sedikit sekali menampilkan adegan baku tembak. Sisanya adalah sajian intrik dan pembongkaran karakter yang dituturkan lewat dialog di ruangan-ruangan terbatas. Bila dihitung, adegan-adegan utama di film ini hanya berlangsung di dalam kereta kuda yang disewa John dan di dalam Minnie's Haberdashery yang tak bersekat, ditambah beberapa adegan di perjalanan, bagian luar penginapan, dan di dalam kandang kuda. Tantangannya adalah bagaimana kerangka cerita yang sederhana dan ruangan itu-itu saja tetap jadi sajian yang memaku perhatian hingga akhir.

Kuncinya ada pada karakternya. Delapan karakter yang ditempatkan sebagai utama menjadi motor dalam membangun dinamika film ini. Apalagi, sebagaimana sikap dan juga pernyataan karakter John secara lugas dalam dialognya, belum tentu semua orang ini adalah benar-benar seperti yang mereka katakan. Ketika para karakter ini ditampilkan berlaku sebagaimana adanya—duduk, makan, minum, berbincang di ruangan yang sama, penonton seolah-olah terus dipancing untuk curiga terhadap masing-masing dari mereka, dan karena itu sewaktu-waktu sesuatu pasti bisa terjadi.

Pembangunan tiap karakter tampak begitu teliti dan memang bisa saling menimbulkan konflik. Film ini jelas dibuat dengan semangat fantasi, mempertemukan berbagai karakter individu yang punya keunikan masing-masing—bounty hunter yang jarang membunuh buruannya, mantan tentara kulit hitam, jenderal yang anti-kulit hitam, algojo asal Inggris, koboi pendiam, sheriff dari keluarga pembelot, orang Meksiko yang bekerja cukup jauh negara asalnya, hingga seorang wanita yang disebut sebagai pembunuh keji yang tampak penuh rahasia dari gelagat dan tatapannya.

Pembangunan karakter itu juga ditunjang oleh referensi sejarah dan sosial sesuai zamannya. Salah satu yang ditunjukkan dengan sangat detail adalah mekanisme pemberantasan penjahat dengan bounty hunter pada saat itu, yang memang dilakukan cukup brutal. Selain itu, ada pula gambaran dampak Perang Sipil di AS yang masih terbawa bertahun-tahun sesudah usai. Meski perbudakan terhadap kaum kulit hitam sudah dihapuskan di AS, sikap bermusuhan terhadap orang-orang berbeda ras masih tertinggal.

Benang merah utama film ini tetaplah pada misterinya, tetapi bukan sekadar mengira-ngira siapa kawan siapa lawan. Bahkan, tokoh yang dianggap 'jagoan' pun akan sulit ditentukan di sini. Sebab, masing-masing tokoh punya alasan untuk disukai, dan punya alasan pula untuk dibenci, efeknya membuat penonton semakin sulit untuk mengetahui nasib mereka seiring cerita bergulir.

Akan tetapi, penuturan cerita dan pembangunan karakter yang begitu teliti ternyata punya konsekuensi. Seperti disinggung sebelumnya, ini bukan film action. Sekalipun pistol dan senapan selalu hadir dalam setiap adegan, tembak-tembakan hanya ada di saat-saat tertentu. Sebagai gantinya adalah adu dialog di antara kedelapan karakter utama ini dan karakter lainnya, yang disajikan dengan laju yang sangat hati-hati. Bagi yang mengharapkan unsur laga hanya karena ini 'film koboi', mungkin akan menganggap film ini menjemukan, belum lagi durasinya mencapai dua jam 40-an menit.

Di lain pihak, susunan cerita, karakter, dan dialognya justru jadi daya tarik yang kuat dari film ini. Mulai dari penggambaran latar, penggunaan aksen dan dialek, hingga pemilihan kata dari masing-masing karakter ditata dengan apik dan sesekali lucu, tetap mampu menyerap perhatian. Bahwa semua itu didukung dengan desain produksi, sinematografi, dan tata musik yang megah, serta tentu saja performa yang hidup dari deretan pemainnya, membuat film ini menjadi semakin sedap dinikmati seutuhnya, meski mungkin perlu upaya untuk bertahan terhadap laju dan durasinya.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Rabu, 20 Januari 2016

[Movie] The Big Short (2015)


The Big Short
(2015 - Paramount)

Directed by Adam McKay
Screenplay by Charles Randolph, Adam McKay
Based on the book by Michael Lewis
Produced by Brad Pitt, Dede Gardner, Jeremy Kleiner, Arnon Milchan
Cast: Christian Bale, Steve Carell, Ryan Gosling, Finn Wittrock, John Magaro, Brad Pitt, Hamish Linklater, Rafe Spall, Jeremy Strong, Marisa Tomei, Melissa Leo


Mungkin masih banyak orang belum mengerti dengan jelas apa sebenarnya penyebab krisis ekonomi yang melumpuhkan Amerika Serikat di tahun 2008. Padahal, dampaknya sangat besar: harga rumah jatuh, banyak perusahaan bangkrut, PHK besar-besaran, dan berbagai dampak lain yang mengikutinya. Lewat film The Big Short, sineas Adam McKay mencoba mengajak penontonnya menyelami sedikit lebih dalam tentang krisis ini dengan kemasan komedi. Sesuatu yang mungkin menuntut kreativitas tinggi untuk dieksekusi, tetapi itulah yang harus dibuktikan di film ini.

The Big Short membahas krisis dari sisi yang mungkin jarang diketahui orang, karena memang sedikit sekali yang mengalami. Ini dimulai dari pengamatan seorang manajer keuangan, Dr. Michael Burry (Christian Bale), yang memproyeksikan kejatuhan ekonomi di AS akibat kredit macet di bidang real estat. Ia pun memberanikan diri menanamkan investasi baru di beberapa bank, berupa investasi yang nilainya akan tinggi saat terjadinya krisis. Dikatakan berani karena nyaris semua orang menganggap itu spekulasi yang sangat liar dan konyol, bagi mereka ekonomi akan baik-baik saja.

Namun, proyeksi Michael itu juga menyita perhatian segelintir orang di tempat terpisah. Langkah Michael kemudian diikuti oleh Mark Baum (Steve Carell) dan timnya, serta sepasang pendiri usaha investasi pemula, Charlie Geller (John Magaro) dan Jamie Shipley (Finn Wittrock). Seiring berjalannya waktu, berbagai tantangan harus mereka hadapi karena situasi perekonomian masih terus stabil, artinya nilai investasi yang mereka telah tanam terus menurun. Namun, fakta di lapangan tak bisa ditutupi, bahwa perekonomian AS sedang menuju jurang kejatuhan.

McKay sebagai sutradara—dan ikut menulis skenarionya bersama Charles Randolph, jelas tahu betul bahwa pembahasan di film ini akan membingungkan banyak orang. Hal ini juga dinyatakan secara lugas dalam filmnya, bahwa para pelaku ekonomi selama ini memang sengaja membuat segala sesuatu terkesan rumit supaya orang lain menurut saja apa kata mereka. Mungkin dari sinilah ide untuk menyampaikan film ini dalam bentuk komedi muncul, karena ditemukan ada banyak kekonyolan di balik semua peristiwa ini.

McKay dan timnya juga tampak sadar betul bahwa penonton tak akan bisa mengikuti penuturan ceritanya tanpa memahami materi yang dibahas. Oleh karena itu, film ini mengambil langkah yang masih dalam koridor kemasan komedi: menjelaskannya langsung kepada penonton dalam adegan-adegan yang menginterupsi dan tidak ada kaitan dengan ceritanya.

Ini biasa disebut dengan istilah breaking the fourth wall, mengabaikan batas antara dunia dalam film dengan penonton. Sebuah teknik yang sudah sering digunakan, sebut saja dalam film yang sama-sama berlatar ekonomi, The Wolf of Wall Street (2013). Adapun The Big Short menggunakan cara ini untuk menjelaskan situasi dan istilah-istilah ekonomi layaknya sebuah presentasi visual.

Hal ini banyak dilakukan oleh tokoh Jared Vennett (Ryan Gosling) sebagai narator film ini, tetapi Jared juga meminta bantuan dari wajah-wajah terkenal, seperti Margot Robbie dan Selena Gomez, untuk menjelaskan tentang istilah-istilah rumit seperti hipotek berisiko, swap, obligasi, dan sebagainya. Mungkin penjelasan ini juga tak dapat seluruhnya dipahami, tapi setidaknya bisa membuat gambaran kasar yang dapat jadi pegangan saat kembali mengikuti ceritanya.

Di luar itu, film ini menjalankan fungsinya untuk menuturkan kembali sebab musabab terjadinya krisis dengan rapi. Bagian cerita Mark jadi yang paling sering digunakan untuk fungsi ini, karena dia dan timnya digambarkan melakukan penelitian lapangan—bahkan sampai ke klub tari telanjang. Dari sini bisa diketahui bahwa krisis terjadi karena banyak transaksi ekonomi dilakukan dengan gegabah, seperti meluluskan kredit rumah dengan syarat terlalu longgar, sampai adanya kongkalikong di Wall Street untuk mengondisikan seolah segala sesuatu berjalan stabil supaya harga saham tetap naik.

Sebenarnya apa yang dibahas di sini bisa dikatakan bukan hal yang patut ditertawakan. Namun, ketika dilihat kembali detik-detik yang direkam dalam film ini, ada tawa pahit yang muncul. Sebab, kita sudah tahu bahwa apa yang tokoh-tokoh ini anggap tak akan terjadi justru terjadi.

Menjadi lucu ketika semua orang menganggap bahwa investasi dengan jaminan rumah tak akan turun. Lucu ketika tokoh-tokoh di dalam film ini menertawakan Michael yang menanamkan uang ratusan juta dolar demi hal yang menurut mereka mustahil terjadi. Lucu bahwa saat itu, semua orang menganggap segala hal akan baik-baik saja sambil tertawa lepas dan menghambur-hamburkan uang yang baru akan mereka dapat.

Di tengah kekonyolan situasi yang dihadirkan, film ini tetap berhasil menyampaikan sebuah isu serius. Tawa yang timbul tidak menutupi beratnya situasi yang harus dihadapi saat itu. Ada dilema moral saat tokoh-tokoh "jagoan" di sini membawa misi untuk memperingatkan semua orang akan apa yang sedang dan akan terjadi, tapi ketika tujuan mereka tercapai, itu sama dengan meraup keuntungan di atas penderitaan orang lain. Dengan demikian, dapat dikatakan film ini berhasil menggugah emosi, baik dari sisi cerah maupun sisi gelapnya.

Namun, berkat kemasannya yang konyol, sedikit absurd, dan mengundang tawa, The Big Short masih dapat dinikmati sebagai sajian yang cukup menghibur. Kalaupun istilah perekonomian dianggap menganggu kenyamanan dalam mengikuti jalan cerita, setidaknya tindak-tanduk eksentrik dan dialog jenaka para karakternya—yang dimainkan dengan sangat apik oleh deretan pemerannya, bisa tetap mengundang perhatian.

Kepedulian terhadap karakter menjadi satu lagi unsur penting yang berhasil dibangun di film ini, sehingga alur film ini pun dibawakan dengan lancar dan cukup nyaman diikuti hingga akhir. Walau mungkin pemahaman terhadap istilah dan mekanisme sistem ekonominya tetap tidak selalu mudah diserap seutuhnya.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Rabu, 13 Januari 2016

[Movie] The Forest (2016)


The Forest
(2016 - Gramercy/Sony Pictures Releasing)

Directed by Jason Zada
Written by Nick Antosca, Sarah Cornwell, Ben Ketai
Produced by David Linde, David S. Goyer, Tory Metzger
Cast: Natalie Dormer, Taylor Kinney, Yukiyoshi Ozawa, Eoin Macken, Rina Takasaki


Walaupun film ini horor--genre yang sama sekali...emm...bukan prioritas gw, ada dua hal yang membuat gw cukup tertarik nonton The Forest ini. Pertama ada Natalie Dormer, salah satu dari penampil terfavorit gw di serial Game of Thrones yang begitu menawan dengan British accent dan bibir mencang-mencong-nya itu :-3. Kedua film ini setting-nya Jepang yang agak terhubung sama hobi gw selama ini. Maksudnya komik, musik, dan kebudayaan Jepang ya, bukan yang aneh-aneh -_-. Jadi gabungan keduanya mungkin akan jadi pelipur lara seandainya filmnya busuk.

Film ini membahas sebuah hutan yang jadi tempat terfavorit orang Jepang untuk bunuh diri, namanya Aokigahara--sesuatu yang gw sebelumnya nggak tahu karena gw kira orang sana lebih suka bunuh diri di rel kereta biar cepet sekalipun bikin macet, but anyway...Ceritanya ada mbak-mbak Amrik bernama Sara (Natalie Dormer) punya saudari kembar, Jess yang jadi guru di Jepang yang hilang di hutan itu saat lagi karya wisata sama murid-muridnya. Orang-orang sana nggak inisiatif mencari karena kepercayaan bahwa orang-orang yang hilang di sana memang sengaja nggak mau ditemukan. Tapi Sara nggak terima karena "koneksi" antarsaudara kembar menyatakan bahwa Jess masih hidup--mungkin terinspirasi dari anime Magic Girls, I don't know. Maka dia nekat masuk ke hutan itu mencari kembarannya, dibantu oleh seorang jurnalis Amrik juga (Taylor Kinney pacaranya Lady Gaga) dan seorang pemandu lokal (Yukiyoshi Ozawa, aktor Jepang kelahiran Amerika yang akhirnya unjuk kemampuan bahasa Inggris)

Mungkin perlu langsung gw ungkapkan bahwa sebagai horor, The Forest nggak sebegitu seramnya. Padahal adegan-adegannya udah kayak disengaja jadi horor, kayak kebiasaan si Sara jalan pelan-pelan di kegelapan *hahaha...heuh*, atau suasana sunyi remang-remang. Kalaupun ada jumpscare ala film horor Hollywood zaman sekarang, itu dikit banget. Kadang-kadang emang bikin kaget tapi sisanya nggak bikin bergidik atau apalah. Jadi itu.

Tapi di sisi lain, gw merasa bahwa premis dan cerita yang diangkat itu cukup menarik. Film ini bisa menjaga misterinya sehingga gw cukup terbawa juga untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada si kembaran dan sebagainya sampai di akhir. Film ini pun boleh juga caranya dalam membuat cerita ala-ala mitos lokal Jepang dengan penuturan ala Hollywood, bahwa ada demit yang pasif-agresif dengan membuat ilusi sehingga bikin orang yang masuk hutan itu mau tak mau lakukan aksi bunuh diri. Hal itu juga diterapkan ketika dalam satu titik gw diajak untuk "diperdaya" oleh si demit ini sehingga bingung kayak si tokoh utama.

Nah, sayangnya itu nggak cukup untuk membuat film ini jadi sajian yang at least menghibur. Ya itu tadi, atmosfer dan tata adegannya kurang seram untuk sebuah horor, plus adegan penutup yang maunya heboh tapi malah basi. Beberapa titik cerita juga agak bebolong dan nggak diselesaikan misterinya. Jadi ya ini seperti film dengan materi yang cukup oke tapi eksekusi dan kemasannya masih coba-coba aja. Untunglah kejepangan yang nggak terlalu ngaco dan Natalie Dormer (sayangnya tanpa British accent-nya) bisa jadi penyemangat gw untuk menyelesaikan film ini.





My score: 6/10

Selasa, 12 Januari 2016

[Movie] Life (2015)


Life
(2015 - See-Saw Films)

Directed by Anton Corbijn
Screenplay by Luke Davies
Produced by Iain Canning, Emile Sherman, Christina Piovesan, Benito Mueller, Wolfgang Mueller
Cast: Robert Pattinson, Dane DeHaan, Joel Edgerton, Ben Kingsley, Alessandra Mastronardi, Kristian Bruun, Stella Schnabel, Jack Fulton


Life adalah sebuah film kecil dengan judul sangat tidak kreatif dan beberapa nama besar yang ingin dijual, walaupun besarnya tidak dalam lingkup global sih. Ada nama Robert Pattinson *seketika langsung terdengar teriakan para penggemari Twilight*, Dane DeHaan yang belakangan makin sering dapat proyek high profile, lalu sutradara Eropah nan artsy Anton Corbijn, dan tentu saja sosok mendiang James Dean yang sekali lagi hendak diabadikan di layar lebar. Film ini menyorot proses pemotretan Dean  oleh fotografer Dennis Stock di sekitar tahun 1955, sesaat sebelum film-filmnya meledak di pasaran. Foto-foto ini nanti jadi gambaran ikonik dari Dean di luar film-filmnya yang hanya ada tiga judul itu.

So, dari konsepnya aja udah kebayang dong kalo film ini isinya ya cuma ngobrol doang. Karena pemotretan di sini bukan tipe-tipe yang elaborate dan oh-so-glamorous macam zaman sekarang. Berhubung James Dean (Dane DeHaan yang sangat tidak mirip sosok dengan aslinya) orangnya juga begajulan, maka Dennis (Robert Pattinson) pun harus agak berjuang mencari momen foto terbaik sembari berusaha nggak ketinggalan deadline dari majalah Life yang akan memuatnya *aaah dari situ toh asal judulnya =p*. Maka jadilah foto-fotonya kasual saja, James yang jalan-jalan di New York, dan James yang mudik ke Indiana. Sembari Dennis (dan penonton) menggali seperti apa pribadi James, timbul keakraban di antara mereka saat mereka sering bertukar pandangan tentang segala hal.

Jika ada satu hal yang paling berhasil dari film ini menurut gw adalah pembangunan tiap-tiap karakternya. Mulai dari James Dean yang agak kaget dengan profesi seorang bintang film di Hollywood yang tak sebebas merpati, lalu Dennis yang mencari subjek untuk memperbagus CV-nya, hingga pemimpin Warner Bros. (Ben Kingsley) yang nggak neko-neko dalam memutuskan segala sesuatu. Intinya gw nggak kesulitan untuk membaca orang-orang ini sifatnya seperti apa dan maunya apa. Infonya gw rasa cukup banget sebagai biografi, sehingga bisa move on ke angle cerita spesifik yang mau diambil di film ini. Which is...

Well, gw nggak tahu pasti sih hahaha. Gw sebenarnya udah siap bahwa film ini probably about nothing selain cerita lain di balik sosok James Dean--yang jujur nggak gw kenal-kenal amat, aku khan masih belia =p. Ya film ini soal itu aja. Dalam beberapa titik gw ingin melihat pengaruh James ke Dennis dan sebaliknya, tapi yang nggak nemu-nemu tuh. Bahkan dengan pace lambat dan gambar-gambar cakep kurang bisa membuat gw menyerap dengan mendalam statement yang hendak disampaikan film ini. Tapi, ya mungkin memang nggak ada statement apa-apa sih, sekadar ingin menunjukkan James Dean tuh orangnya kayak gini menurut si Dennis, dan sebagainya. Nothing else.

Yah, harus diakui film ini tetap punya daya tarik, khususnya dari segi deskripsi dunia showbiz saat itu--fotografer tuh ya rapi-rapi dan tertib ya dulu, hahaha. Akting pemainnya juga oke meski gw keganggu sama suara DeHaan yang terlalu boyish dan teler-ish. Dibilang jelek nggak, dibilang ngebosenin ya nggak terlalu, fine-fine aja, tapi buat gw in the end film ini jadi cuma kayak berisi caption dari foto-foto terkenal dari James Dean, tanpa substansi yang bener-bener menarik perhatian dan ada benang merahnya.





My score: 6,5/10

Rabu, 06 Januari 2016

[Movie] Ngenest (2015)


Ngenest
(2015 - Starvision)

Directed by Ernest Prakasa
Screenplay by Ernest Prakasa
Story by Ernest Prakasa, Meira Anastasia
Based on the book series "Ngenest" by Ernest Prakasa
Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Cast: Ernest Prakasa, Lala Karmela, Morgan Oey, Kevin Anggara, Brandon Salim, Budi Dalton, Ade Fitria Sechan, Olga Lydia, Ferry Salim, Fico Fachriza, Amel Carla, Ge Pamungkas, Lolox, Regina Rengganis, Adjis Doaibu, Awwe, Ardit Erwanda, Bakriyadi Arifin


Film Ngenest bisa dipandang sebagai kelanjutan dari tren film Indonesia untuk memberi ruang bagi para stand up comedian, yang kini memang tengah naik daun di dunia hiburan kita. Kali ini, ruang tersebut diberikan kepada Ernest Prakasa, yang tak hanya jadi pemain, tetapi juga mengolah materi buku komedinya yang berjudul Ngenest menjadi skenario film sekaligus melakukan debutnya sebagai sutradara. Cukup jelas bahwa film ini akan mengusung genre komedi. Akan tetapi, ada lapisan yang lebih dalam daripada sekadar deretan lelucon yang dilontarkan dalam film ini.

Bagi yang akrab dengan lelucon khas Ernest, tema film Ngenest akan sangat familier. Film ini bisa dikatakan versi komedi dari riwayat hidup Ernest dengan berbagai peristiwa uniknya sebagai seorang keturunan etnis Tionghoa, yang kerap dibawakan Ernest di panggung stand up. Disebut "versi komedi" karena sebenarnya, jika ditilik lebih seksama dan dilucuti unsur humornya, kejadian-kejadian yang diceritakan Ernest tidak bisa dibilang lucu, malah cenderung miris.

Kisah film ini disebut-sebut diangkat dari kegelisahan Ernest yang tumbuh di penghujung pemerintahan Orde Baru era 1990-an, yang kerap disebutnya sebagai masa berat untuk menjadi seorang anak bertenis Tionghoa. Dimulai dari masa kecil hingga remaja ia sering di-bully karena beretnis Tionghoa—atau secara gamblang di sini memakai istilah lama, 'China', mendorong Ernest bertekad untuk mencari istri dari kalangan pribumi. Menurutnya, dengan cara itu, ia dapat memutus rantai diskriminasi di keluarganya, dan berharap hal tersebut tidak akan dialami oleh anak-anaknya kelak.

Digambarkan dalam filmnya, ada beberapa upaya Ernest mencoba untuk membaur supaya tak lagi jadi bulan-bulanan orang sekitarnya. Ini termasuk "membayar" untuk bisa gabung di geng yang selama ini mem-bully-nya, walau itu pun tak berjalan seperti yang dibayangkan. Dampaknya pun rupanya berkepanjangan. Pada satu titik, Ernest seakan ingin menyangkal bahwa ia beretnis China, dan sisa-sisa pemikiran itu terus terbawa sampai dewasa. 

Ketika satu tekadnya sudah terwujud untuk memperistri Meira (Lala Karmela), yang memang dari kalangan pribumi, bayangan perlakuan diskriminatif terhadap orang-orang bertenis China masih menghantuinya. Ia kemudian terus menunda-nunda untuk mempunyai anak, dan ini menimbulkan prahara di rumah tangganya.

Seperti bisa dilihat, tema cerita film Ngenest sebenarnya sangat serius, tapi film ini tetap bisa berjalan sebagai sebuah komedi. Inilah yang membuat film ini jadi punya nilai lebih: tidak hanya mengajak penontonnya untuk bersama-sama Ernest menertawakan pertistiwa menyakitkan di masa lalu—sesuatu yang juga sudah sulit, tetapi juga berhasil menjadi tontonan yang memang memicu tawa. Tak hanya dalam gaya humor khas Ernest yang kerap menertawakan diri dan etnisnya sendiri, tetapi juga lewat berbagai situasi dan tabrakan karakter yang beragam—didukung oleh cameo para stand up comedian Indonesia yang mampu mencuri perhatian.

Dengan rancangan dan eksekusi unsur komedi dari skenarionya secara presisi, film Ngenest berhasil menghadirkan berbagai kelucuan dalam kapasitas yang besar, namun "sopan" sesuai porsinya. Dan, rangkaian kelucuan-kelucuan yang dihadirkan memang tidak terpisah dari ceritanya. Sebagai contoh, kegetiran Ernest sebagai korban bully berhasil disampaikan justru dalam rangkaian adegan komedi, terutama di paruh awal ketika mengisahkan dirinya masih SD dan SMP. Reaksi awal dari adegan-adegan tersebut tentu adalah tawa, tetapi di saat bersamaan kepedihan juga bisa terasa.

Sebaliknya, ketika masuk dalam adegan yang membutuhkan emosi dramatis, sisi komedinya tidak ditinggalkan begitu saja. Seiring dengan pertumbuhan usia tokoh Ernest di sini, bertumbuh pula cara bertuturnya, dan kelucuannya pun juga lebih mature—untungnya tak terjebak dalam kenakalan berlebihan. Tanpa saling menginterupsi, porsi drama dan komedinya menyatu dengan kompak sehingga film ini bisa menghibur sepanjang durasinya.

Akan tetapi, Ngenest belum bisa dikatakan memuaskan secara penyajian keseluruhan. Penataan adegan di beberapa bagian, terutama di bagian awal, masih terlihat kaku dan lebih terkesan seperti sketsa komedi biasa. Demikian pula, mungkin karena persiapan yang kurang lama, detail produksi menjadi kurang maksimal, misalnya dari kostum, tata rias dan rambut, dan tata artistiknya.

Kesempatan film ini untuk menambah production value dengan membawa penonton ke era 1990-an hingga awal 2000-an sesuai pengalaman Ernest pun jadi terlewatkan dengan kelengkapan yang seadanya. Untungnya, hal ini bisa diakali dengan berbagai teknik—misalnya tidak secara spesifik menyebutkan tahun, dan fakta bahwa film ini komedi, membuatnya jadi sedikit termaafkan.

Pada akhirnya Ngenest menjadi sebuah sajian komedi yang kekuatan utamanya ada pada ramuan berbagai elemen dalam ceritanya dengan baik. Bukan hanya menampilkan humor, tetapi juga sisi romansa, persahabatan, budaya, hingga keluarga. Dan, yang paling penting adalah caranya untuk mengangkat topik personal yang sensitif dan spesifik menjadi relevan, yang mungkin belum pernah diangkat di film Indonesia, atau setidaknya belum dalam kemasan menghibur seperti ini.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Senin, 04 Januari 2016

[Movie] Negeri Van Oranje (2015)


Negeri Van Oranje
(2015 - Falcon Pictures)

Directed by Endri Pelita
Screenplay by Titien Wattimena
Based on the novel by Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Produced by Frederica
Cast: Chicco Jerikho, Tatjana Saphira, Abimana Aryasatya, Arifin Putra, Ge Pamungkas, Maudy Koesnaedi, Arne Luiting, Agung Udijana


Ada yang ngeh nggak sih film ini tentang apa jika dilihat dari materi promosi seperti poster dan trailer-nya? Jujur gw sih nggak, karena sepertinya yang dijual film ini cukup simpel: pemain kece-kece di luar negeri.Yang mengatur promosi pun cukup pandai "menyembunyikan" apa sebenarnya yang mau disampaikan film ini selain lihat orang-orang cakep jalan-jalan di negeri cakep. I really hoped there were more to it. But, well...

Inti cerita ini adalah tebak-tebakan. Diawali pada "masa sekarang" ketika seorang wanita bernama Lintang (Tatjana Saphira) akan melangsungkan pernikahan, dan memberi petunjuk sama penonton bahwa ia akan menikahi salah satu dari empat sahabatnya satu geng dulu waktu jadi mahasiswa di Belanda. Lalu, dimulailah cerita pertemuan, keseharian, dan suka duka mereka di Belanda dulu hingga pada akhirnya ketahuan siapa yang dimaksud Lintang. Dan...ya udah begitulah filmnya.

Let's just say the ads were not misleading. Ketika dari permukaan kelihatannya bahwa film ini adalah cerita orang "jalan-jalan", ya ternyata memang cuma itu isinya. Keseluruhan film ini seperti sebuah babak perkenalan dari lima orang berbeda yang ditampilkan begitu ceria, tanpa ada konflik yang gimana gitu. Bahkan, film ini secara gamblang bermain-main dengan teknik tebak-tebakan sejak awal, ketika Lintang satu per satu memperkenalkan perbedaan keempat laki-laki sahabat dekatnya itu, supaya penonton bisa memilih jagoannya sebelum terungkap siapa nanti yang jadi "juara"-nya.

Well, angle cerita seperti itu juga sebenarnya masih menarik, tapi di film ini gw kurang bisa melihat gigitan dan excitement-nya. Okelah karakter masing-masing dibuat cukup menarik, kekompakan mereka juga masih kelihatan oke, tetapi hubungan "bilateral" Lintang dengan empat cowok, dan hubungan antarcowok-cowok itu seperti datar-datar aja. Gw nggak bisa menunjuk pasti penyebabnya apa, apakah aktingnya, apakah pengolahan konfliknya yang memang nggak menimbulkan dilema maksimal, atau emang mentok di pengembangan ide dari premisnya yang memang "begitu doang". Everything seemed woles aja tanpa dinamika, sesuatu yang cukup disayangkan mengingat tokoh utamanya udah ada lima padahal.

Tetapi, kembali lagi bahwa film ini menampilkan segala sesuatu yang enak dilihat, itu iya--walau dengan kerja keras harus mengabaikan lense flare palsu digital yang porsinya sangat sangat berlebihan itu. Pemadangan alam, bangunan, orang, gaya pakaian, makanan, diringi musik yang asyik, film ini emang cukup, apa ya, comfortable untuk ditonton dengan santai-santai. Kontennya mungkin tipis sekali dan tidak bersayap *what?*, tapi untuk memenuhi tujuan sebagai tontonan hiburan, film ini sudah menjalankan tugasnya. Cuma ya dengan cast sedemikian ramai dan kece dan jauh-jauh soting di Eropah masa isi filmnya itu doang sih. Sayang aja.





My score: 6,5/10